tutup Eksternal hardisk kajian video islam
cashflow laporan keuangan software akutansi terbaik
Tags Posts tagged with "zakat"

zakat

kotak infaq

Menzakati Dana Sosial

Apakah infaq yang diperoleh masjid wajib dizakati?

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Salah satu diantara syarat harta yang wajib dizakati adalah al-Milku at-Tam (kepemilikan sempurna).

Al-Mawardi menukil keterangan Imam as-Syafii.

قَالَ الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : ” وَتَجِبُ الصَّدَقَةُ عَلَى كُلِّ مَالِكٍ تَامِّ الْمِلْكِ مِنَ الْأَحْرَارِ ، وَإِنْ كَانَ صَغِيرًا أَوْ مَعْتُوهًا أَوِ امْرَأَةً لَا فَرْقَ بَيْنَهُمْ فِي ذَلِكَ

Imam as-Syafii Radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

Zakat hukumnya wajib bagi setiap orang yang memiliki harta dengan kepemilikan sempurna (Tam al-Milki), dari pemilik orang merdeka (bukan budak), meskipun anak kecil atau orang gila atau wanita. Tidak ada beda antar mereka dalam kewajiban zakat. (al-Hawi al-Kabir, 3/329).

Keterangan disebutkan dalam al-Mughni,

أن الزكاة لا تجب إلا على حر مسلم تام الملك وهو قول أكثر أهل العلم ولا نعلم فيه خلافا إلا عن عطاء و أبي ثور فانهما قالا على العبد زكاة ماله

Bahwa zakat tidak wajib kecuali bagi orang merdeka, muslim, pemilik sempurna. Dan ini merupakan pendapat mayoritas ulama. Kami tidak mengetahui adanya perbedaan dalam masalah ini, selain pendapat Atha dan Abu Tsaur. Keduanya berpendapat bahwa budak berkewajiban membayar zakat hartanya. (al-Mughni, 2/488).

Ada 4 syarat dimana harta itu berstatus sebagai al-Milku at-Tam,

  1. Dimiliki secara pribadi perorangan
  2. Dalam lingkup kekuasaan pribadi. Artinya, tidak sedang dikuasai orang lain. Seperti piutang macet
  3. Ada hak untuk memanfaatkannya secara bebas. Jika belum bisa digunakan secara bebas, seperti tanah masih sengketa, bukan al-Milku at-Tam.
  4. Manfaat dari harta itu kembali kepadanya.

(al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, ad-Durar as-Saniyah: http://www.dorar.net/enc/feqhia/2185)

Diantara dalil bahwa harta yang hendak dizakati harus dimiliki secara pribadi adalah firman Allah,

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, yang akan membersihkan dan mensucikan mereka dengan zakat itu.” (QS. at-Taubah: 103)

Dalam ayat ini, Allah menyebut harta yang wajib dizakati dengan ‘harta mereka’. Artinya dikembalikan kepada pemiliknya. Dan harta tidak disebut milik seseorang, kecuali jika harta itu berstatus ‘Milik Sempurna’ (al-Milku at-Tam).

Berdasarkan keterangan di atas, dana sosial, infaq masjid atau harta appaun yang sifatnya umum, tidak wajib dizakati, meskipun jumlahnya jauh melebihi nishab.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

duit untuk membayar zakat

Hukum Memberikan Zakat ke Paman, Bibi atau Kerabat lainnya?

Tadz, apakah paman boleh menerima zakat dari kita? Trima kasih.

Pak Edi Sleman

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Allah telah menjelaskan siapa saja yang boleh menerima zakat  di surat at-Taubah: 60,

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. at-Taubah: 60)

Dan orang yang telah membayar zakat, tidak boleh sedikitpun mengambil manfaat dari zakat yang dia bayarkan. Karena itulah, zakat tidak boleh diberikan kepada orang yang wajib dinafkahi oleh Muzakki.

Dinyatakan dalam Fatwa Dar al-Ifta’,

نص الفقهاء على أن المزكي لا يدفع زكاته إلى أصله وإن علا أو إلى فرعه وإن سفل أو إلى زوجته؛ لأن المنافع بينهم متصلة فلا يتحقق التمليك على الكمال

Ulama menegaskan bahwa orang yang zakat tidak boleh menyerahkan zakatnya kepada orang tuanya dan seterusnya ke atas, atau kepada anaknya dan seterusnya ke bawah atau kepada istrinya. Karena pemanfaatan di tengah mereka masih nyambung. Sehingga perpindahan hak milik secara sempurna tidak terwujud.

(Dar al-Ifta’ al-Mishriyah, no. 6695).

Secara umum, keluarga di sekitar kita, selain ortu, anak, dan istri, bukan orang yang wajib kita nafkahi. Kita bisa sebutkan, seperti saudara, paman, bibi, sepupu, bukanlah daftar orang yang wajib kita nafkahi. Namun terkadang ada diantara mereka yang tinggal bersama kita, ikut kita, sehingga dia menjadi tanggungan kita. Di posisi ini, mereka menjadi orang yang wajib kita nafkahi.

Karena itu, jika keberadaan paman, bibi atau saudara kandung, bukan termasuk orang yang wajib kita tanggung kehidupannya, maka mereka berhak mendapatkan zakat dari kita.

Masih dalam Fatwa Dar al-Ifta’,

ويجوز له أن يدفع زكاته إلى من سوى هؤلاء من القرابة كالإخوة والأخوات والأعمام والعمات والأخوال والخالات الفقراء، بل الدفع إليهم أولى؛ لما فيه من الصلة مع الصدقة

Muzakki boleh menyerahkan zakatnya kepada keluarga selain ortu, anak, dan istri, seperti saudara laki atau perempuan, paman, bibi, yang mereka kurang mampu. Bahkan menyerahkan zakat ke mereka nilainya lebih utama. Karena di sana ada unsur membangun jalinan silaturahmi. (Dar al-Ifta’ al-Mishriyah, no. 6695).

Diantara dalil bolehnya memberikan zakat kepada kerabat yang tidak wajib kita nafkahi adalah hadis dari Salman bin Amir Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الصَّدَقَةُ عَلَى الْمِسْكِينِ صَدَقَةٌ وَالصَّدَقَةُ عَلَى ذِى الرَّحِمِ اثْنَتَانِ صَدَقَةٌ وَصِلَةٌ

Zakat kepada orang miskin nilainya zakat biasa. Zakat kepada kerabat, nilainya dua: zakat dan menyambung silaturahmi. (HR. Ahmad 16668, Nasai 2594, Turmudzi 660, dan yang lainnya).

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi nilai lebih, ketika zakat itu disalurkan kepada kaum muslimin yang masih kerabat, karena ada nilai menyambung silaturahmi. Tentu saja, ini berlaku bagi kerabat yang tidak wajib dinafkahi muzakki.

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

fikih zakat

Zakat Orang Non Muslim

Saat ini ada seorang pejabat non muslim yang menyerahkan gajinya sebagai zakat. Kita sendiri tidak tahu apa motifnya. Dugaan masyarakat, besar kemungkinan tdk lepas dr motif politik. Tapi ini berita yg sdg hangat d dunia online. Bagaimana tanggapan ustaz. Trima Kasih

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Diantara syarat wajib zakat adalah status orang yang membayar zakat, harus orang yang beragama islam. Karena itu, zakat orang kafir tidak boleh diambil, dan tidak diterima oleh Allah ta’ala.

Hal ini Allah tegaskan dalam al-Quran,

وَمَا مَنَعَهُمْ أَنْ تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلَّا أَنَّهُمْ كَفَرُوا بِالله وَبِرَسُولِهِ

Tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka infaqnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan RasulNya. (QS. At-Taubah: 54)

Sebanyak apapun harta yang dikeluarkan orang non muslim, tidak akan diterima oleh Allah. Karena itu, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus beberapa sahabatnya untuk mendakwahkan islam, beliau meminta agar yang pertama kali diajarkan adalah tentang syahadat dan bagaimana mereka masuk islam. Baru selanjutnya, beliau mengajarkan rukun islam lainnya, seperti shalat, zakat dan puasa.

Beliau pernah mengutus Muadz ke Yaman. Kala itu, penduduk Yaman mayoritas beragama nasrani. Beliau berpesan,

إنك تأتي قوماً من أهل الكتاب: فادعهم إلى شهادة أن لا إله إلا الله، وأني رسول الله، فإن هم أطاعوا لذلك فأعلمهم أن الله افترض عليهم خمس صلوات في كل يوم وليلة، فإن هم أطاعوا لذلك فأعلمهم أن الله افترض عليهم صدقة تؤخذ من أغنيائهم فترد في فقرائهم

Kamu akan mendatangi kaum ahli kitab. Karena itu, dakwahi mereka bersyahadat laa illaha illallaah dan bahwa aku utusan Allah. Jika mereka mau mengikuti ajakan itu, ajarkan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan mereka shalat 5 kali dalam sehari. Jika meraka mau mengikuti, ajarkan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan mereka zakat, diambil dari orang kaya diantara mereka dan diberikan kepada orang miskin di kalangan mereka. (HR. Bukhari 1395 dan Muslim 19).

Kita bisa perhatikan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan masuk islam sebagai syarat wajibnya zakat.

Mau berbuat Baik kok Ditolak?

Barangkali ada yang mencoba memberikan pembelaan, ini ada orang mau beramal kok ditolak. Dia berbuat baik, dia memberi zakat, mengapa divonis tidak diterima?

Orang yang memiliki anggapan semacam ini, mungkin membayangkan hidup ini ibarat permainan monopoli. Semua bisa melibatkan diri dalam permainan, begitu selesai bubar tanpa bekas. Tidak ada beban moral sama sekali. Dan sejatinya, ini pola pikir kapitalis.

Setiap agama punya aturan, yang dengan aturan ini manusia tidak bisa sembarangan mempermainkan agama. Nasrani, yahudi, hindu, budha, bahkan aliran kepercayaan, semuanya punya aturan. Mereka mengikat pengikutnya, mendoktrin mereka dengan berbagai aturan itu. Dan karena keberadaan aturan inilah, agama itu dihormati dan dimuliakan oleh masing-masing penganutnya. Dengan adanya aturan yang sakral, orang memiliki beban moral.

Kita kembali kepada kasus zakat.

Adanya syarat ’berstatus muslim’ dalam pembayaran zakat adalah bagian dari aturan dalam islam. Dan syarat ini juga berlaku untuk semua ibadah yang lainnya. Karena islam agama yang mulia, sehingga menghalangi yang bukan umat islam, untuk turut mengikuti kegiatan ibadah dalam islam.

Sebagai ilustrasi,

Ada dua kampus, kampus A dan kampus B.

Kampus memiliki aturan ketat. Mahasiswa yang boleh ikut kegiatan kuliah dan ujian, hanya mereka yang telah resmi lulus ujian seleksi mahasiswa. Dengan aturan ini, tidak sembarang orang boleh masuk dan mengikuti kegiatan kuliah di kampus A.

Berbeda dengan kampus B. Siapapun boleh ikut, sekalipun dia bukan mahasiswa. Bisa anda bayangkan, kira-kira betapa semrawutnya kegiatan yang ada di sana.

Kampus A lebih bonafit, lebih bagus, sehingga dia menetapkan aturan, membatasi orang yang boleh belajar di sana dengan syarat tertentu. Sementara kampus B karena murahan, dia mengizinkan siapapun untuk bergabung, sekalipun tanpa ikatan moral apapun. Orang bisa seenaknya keluar masuk, tanpa beban sama sekali.

Selanjutnya, anda bisa menyimpulkan, mengapa islam tidak menerima zakat mereka?

Karena islam agama mulia yang dilindungi dengan aturan. Sehingga mereka yang tidak memiliki ikatan moral dengan islam, karena masih kafir, tidak diterima amal perbuatannya.

Manusia tidak boleh seenaknya keluar masuk tanpa syarat yang musti dia penuhi.

Anda bisa bandingnya dengan agama yang aturannya dibuat manusia. Dengan mudahnya agamanya dipermainkan orang lain. Dengan mudahnya orang keluar masuk agamanya tanpa beban sama sekali.

Mengapa Mereka Bayar Zakat?

Sebenarnya kasus ini bukan hal yang baru. Kami yakin, anda pernah mendengar orang-orang non muslim, terutama yang beragama nasrani, mereka dengan nyaman melakukan kegiatan shalat berjamaah, ada yang ikut puasa, bahkan ada yang ikut i’tikaf.

Kita tidak tahu pasti, apa motivasi mereka melakukan semacam itu. Padahal jelas-jelas itu amalan dalam islam. Dugaan yang bisa kita berikan,

Pertama, Cinta islam

Bisa jadi mereka tertarik dengan ajaran islam. Lalu mereka ingin merasakan kesejukan dengan ibadah seperti yang dilakukan kaum muslimin. Mereka ingin mencari ketenangan dan kebahagiaan yang semacam ini tidak difasilitasi dalam agama mereka. Ini bisa anda saksikan terjadi pada beberapa orang yang ingin masuk islam.

Kedua, Karena mereka tidak memiliki jati diri

Ini kemungkinan terburuk yang terjadi. Beberapa orang kafir, melakukan kegiatan peribadatan dalam islam, namun sama sekali bukan karena mencintai islam. Mereka lakukan itu, untuk memata-matai orang islam atau karena ingin mencari simpati dari kaum muslimin. Mungkin anda masih ingat nama Snouck Hurgronje. Bertahun-tahun dia pura-pura masuk islam, untuk memata-matai kaum muslimin. Dan semacam ini, tidak lebih sedikit dari pada yang pertama.

Mengingat mayoritas masyarakatnya muslim, kadang ada pejabat kafir malu menampakkan dirinya sebagai non muslim. Di saat yang sama, dia berusaha menutupi identitas agamanya. Mengelabui massa, untuk menarik simpati mereka.

Anda bisa saksikan, betapa mereka adalah manusia yang sama sekali tidak memiliki jati diri dan kebanggaan terhadap agamanya. Namun anehnya, para tokoh agamanya membanggakannya dan justru mendukungnya untuk melakukan hal tersebut. Yang penting, mereka diuntungkan.

Kita bisa bandingkan dengan islam. Ketika ada pejabat muslim yang melakukan kegiatan peribadatan agama lain, apa yang terjadi? Akan ada banyak tokoh agama, lembaga maupun ormas islam ramai-ramai menudingnya. Sekalipun tidka menjatuhkan vonis murtad, setidaknya mereka kompak menyalahkan tindakan pejabat itu. Karena kaum muslimin punya jati diri. Punya kebanggaan dengna agamanya.

Orang kafir bisa saja melakukan kegiatan ibadah kaum muslimin, tanpa beban moral, tanpa ada perasaan bersalah, bahkan merasa bangga, karena dalam agama mereka tidak diajarkan untuk menghormati keyakinannya.

Berbeda dengan islam. Orang islam yang melakukan kegiatan keagamaan orang lain, akan menjadi ancaman tersendiri bagi kehormatannya.

Allahu a’lam

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

zakat buat bayar hutang

Melunasi Utang Orang Lain dengan Zakat

Tanya:

Assalamu’alaikum. Tanya Pak : Seseorang A mempunyai hutang kepada B. Karena miskin si A tidak mampu membayar hutangnya.Kemudian ada si C yang melunasi hutang si A kepada si B, namun uang si C itu berupa zakat. Jadi Si C langsung membayar zakat kepada si B, dg peruntukan melunasi hutang si A. Bolehkah yang demikian? Ataukah Si C harus memberikan kepada si A terlebih dahulu?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Dalam Fatawa Syabakah Islamiyah dinyatakan,

فلا مانع من صرف الزكاة إلى المدين لسداد دينه لأنه من صنف الغارمين المستحقين للزكاة، وأما إعطاء الزكاة إلى الدائن، فإن كان ذلك بإذن المدين (الغارم) فلا إشكال، وإن كان بدون إذنه فمحل خلاف بين الفقهاء، فذهب الحنفية الشافعية إلى أن ذلك لا يجزئ، وذهب الحنابلة إلى إجزائه، قال في الإنصاف: لو وضع المالك إلى الغريم بلا إذن الفقير فالصحيح من المذهب أنه يصح.

Tidak masalah menyerahkan zakat kepada orang yang memiliki utang untuk melunasi utangnya. Karena dia termasuk golongan al-Gharimin (orang yang memiliki beban utang), yang berhak menerima zakat.

Adapun menyerahkan zakat itu langsung kepada orang yang menghutangi (kreditor), maka di sana ada rincian,

  1. Jika pelunasan utang ini atas izin orang yang memiliki utang (debitor), maka tidak ada masalah.
  2. Jika pelunasan ini tanpa izin dari orang yang berhutang, maka ulama berbeda pendapat.

Hanafiyah dan Syafiiyah berpendapat zakatnya tidak sah. sementara ulama hambali berpendapat zakatnya sah.

Dalam kitab al-Inshaf – kitab fiqih hambali – dinyatakan,

لو وضع المالك إلى الغريم بلا إذن الفقير فالصحيح من المذهب أنه يصح

Jika pemilik harta langsung menyerahkan uang ke pemberi utang (kreditor) tanpa izin si fakir (debitor), pendapat yang kuat dalam madzhab, zakatnya sah.

Sementara dalam Fatawa Hindiyah – kitab fikih madzhab hanafi – dinyatakan,

ولو قضى دين الفقير بزكاة ماله: إن كان بأمره يجوز، وإن كان بغير أمره لا يجوز، وسقط الدين

Untuk kasus orang melunasi utang orang fakir dengan zakat hartanya, jika dengan izin si fakir, hukumnya boleh. Jika tanpa izin dari si fakir, hukumnya tidak boleh, meskipun utang tetap lunas.

An-Nawawi dalam al-Majmu’ mengatakan,

ولا يجوز صرفه إلى صاحب الدين إلا بإذن من عليه الدين، فلو صرف بغير إذنه لم يجزئ الدافع عن زكاته، ولكن يسقط من الدين بقدر المصروف

Tidak boleh memberikan zakat kepada pemilik utang (kreditor) kecuali dengan izin orang yang berutang. Jika dia menyerahkannya tanpa izin orang yang berutang, zakatnya tidak sah, meskipun utangnya lunas sebesar yang telah dibayarkan.

Komentar Lembaga Fatawa Syabakah Islamiyah, setelah membawakan perbedaan pendapat para ulama di atas,

فالأحوط هو إخبار المدين واستئذانه في قضاء الدين عنه، أ وتسليمه المال ليسدد دينه بنفسه

Yang lebih hati-hati, memberi tahu pihak yang berutang (debitor) dan meminta izin kepadanya untuk melunasi utangnya. Atau kita serahkan zakat itu kepadanya, agar dia melunasi utangnya sendiri.

Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 43511.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

sedekah untuk palestina

Zakat untuk Donasi Palestina

Bolehkah membayar zakat untuk rakyat Palestina?. Trim’s

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Allah ta’ala telah menjelaskan semua golongan yang berhak mendapatkan zakat,

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, Para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. At-Taubah: 60)

Dan semua golongan di atas, harus orang yang beragama islam. Berdasarkan hadis dari Muadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus beliau ke Yaman. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan agar Muadz mengajarkan tauhid dan syahadat. Setelah mereka masuk islam, beliau minta Muadz mengajarkan shalat. Selanjutnya mengajarkan zakat. Beliau bersabda,

فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً فِي أَمْوَالِهِمْ تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ وَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ

Kemudian ajarkan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan kepada mereka zakat harta mereka yang diambil dari orang kaya di antara mereka dan diberikan kepada orang miskin di antara mereka. (HR. Bukhari 1395 dan Muslim 19).

Hadis di atas menunjukkan bahwa syariat zakat dan serah terima harta zakat, diberlakukan setelah masyarakat masuk islam. Dalam Fatwa Lajnah dinyatakan

وكلما كان المُعطى من الفقراء والمساكين أتقى وأكثر طاعة فهو أولى من غيره

Semakin soleh dan semakin bertaqwa orang miskin yang mendapatkan zakat, dia semakin berhak mendapatkan zakat dari pada lainnya.

Kemudian, Lajnah juga menegaskan,

والأصل في الزكاة أن تصرف في فقراء البلد التي بها المال للحديث المذكور ، وإن دعت حاجة إلى نقلها ، كأن يكون فقراء البلد التي ينقلها إليه أشد حاجة ، أو أقرباء للمزكي بجانب أنهم فقراء ، أو نحو ذلك : جاز النقل

Pada prinsipnya, zakat diserahkan kepada orang fakir miskin di daerah di mana harta yang dizakati berada, berdasarkan hadis di atas. Namun jika ada kebutuhan untuk dipindahkan ke negeri lain, misalnya orang miskin di negeri lain lebih membutuhkan, atau ada keluarga muzakki yang membutuhkan di daerah lain, atau sebab lainnya, maka boleh memindahkan harta zakat. (Fatawa Lajnah Daimah, 9/10).

Kemudian, lembaga Fatwa Syabakah Islamiyah menegaskan, boleh menyerahkan zakat ke Palestina,

ومما لا شك فيه أن إخواننا في فلسطين في أرض الرباط مجاهدون داخلون تحت مصرف من مصارف الزكاة، ومنهم الفقراء والمساكين الذين لا يجدون مأوى ولا طعاماً ولا علاجاً.

Tidak diragukan bahwa saudara kita di Palestina, yang berjuang di daerah perbatasan, termasuk salah satu yang berhak menerima zakat. Di antara penduduknya juga ada orang-orang fakir miskin yang mereka tidak memiliki tempat tinggal, makanan, maupun obat-obatan. (Fatwa Syabakah Islamiyah no. 16143)

Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

KonsultasiSyariah menggalang donasi peduli Palestina. KLIK DONASI PEDULI PALESTINA

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

zakat harta haram

Harta Haram Menjadi Halal setelah Dizakati

Ustadz mau tanya, apakah benar semua harta apabila sudah zakat menjadi suci atau halal? walaupun itu hasil dari korupsi, rampok, mencuri dan sebagainya

Dari D. Setiawan via Tanya Ustadz for Android

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Beberapa orang meyakini bahwa harta haram, jika dizakati akan menjadi halal. Alasan mereka, harta haram itu kotor, dan zakat berfungsi menyucikan harta. Setelah dizakati, harta akan menjadi suci dan halal. Demikian ’logika’ sederhana mereka.

Yang memprihatinkan, ternyata logika ini tidak hanya dalam dataran teori, tapi hingga menjadi praktek. Ada salah satu penanya di konsultasisyariah.com yang pernah mengingatkan temannya agar keluar dari bank riba. Tapi dia mengelak dan beralasan, tidak masalah berpenghasilan riba, toh nanti kalo sudah dizakati jadi halal.

Inna lillahi wa inna ilaihi raajiun…

Awas! Setan Membisikkan..

Bagian penting yang perlu kita sadari, tidak ada kemaksiatan di alam ini yang dilakukan tanpa alasan.

Ketika Allah mengharamkan bangkai, orang-orang musyrik beralasan, bagaimana mungkin bangkai yang disembelih Allah kalian haramkan, sementara hewan yang kalian sembelih sendiri kalian halalkan.??

Di sebuah kompleks kos-kosan orang Indonesia timur, beberapa anak kos menangkapi ayam tetangga dan menyembelihnya. Ketika diminta tanggung jawab, mereka beralasan, Inikan milik tuhan, dan tuhan ciptakan ini untuk dinikmati bersama, mengapa kamu larang.?? (ini kisah nyata)

Ketika orang diilarang onani, mereka beralasan, onani itu menyehatkan organ reprosuksi, karena jika tidak dibuang akan terjadi tumpukan sperma yang bisa membahayakan tubuh.

Ketika khamr diharamkan, mereka beralasan, khamr bisa menghangatkan badan dan bisa untuk jamu. ??

Ketika nonton porno dilarang, mereka beralasan, ini untuk berbagi cara berfantasi, menyegarkan kehidupan rumah tangga.??

Ketika syirik dilarang, mereka koar-koar, ini bagian kearifan lokal, yang selayaknya kita pertahankan dan kita lestarikan.??

Ketika mereka dilarang mencari penghasilan yang haram, mereka beralasan, nanti kalo sudah dizakati kan jadi halal.??

Dan masih ada sejuta alasan lainnya, sebagai pembelaan terhadap kemaksiatan.

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ . وَلِتَصْغَى إِلَيْهِ أَفْئِدَةُ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ وَلِيَرْضَوْهُ وَلِيَقْتَرِفُوا مَا هُمْ مُقْتَرِفُونَ

Demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, yaitu setan dari jenis manusia dan  jin, satu sama lain saling membisikkan perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu manusia. Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, Maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan. Dan (juga) agar hati kecil orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat cenderung kepada bisikan itu, mereka merasa senang kepadanya dan supaya mereka mengerjakan apa yang mereka (syaitan) kerjakan. (QS. Al-An’am: 112 – 113)

Para ulama menyebut bisikan-bisikan ini sebagai syubhat. Alasan yang merusak pemikiran manusia, sehingga mereka bisa menikmati yang halal tanpa beban dosa.

Zakat dan Harta Haram

Allah menyatakan bahwa fungsi zakat adalah mensucikan harta dan jiwa orang yang menunaikannya,

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka (QS. At-Taubah: 103)

Dan kita tahu, suatu benda bisa dibersihkan dan disucikan, jika asal benda itu adalah suci, kemudian kecampuran sedikit kotoran. Bagian kotoran ini yang kita bersihakan.

Berbeda dengan benda yang sejak awalnya kotor atau dia sumber kotoran, dibersihkan dengan bagaimanapun caranya, akan tetap kotor.

Sebagai ilustrasi – tapi mohon maaf, agak jorok – Tinja kering, meskipun dibersihkan dan digosok sampai mengkilap, statusnya tetap najis. Karena tinja seluruhnya najis dan bahkan sumber najis. Sehingga treatment apapun tidak akan mengubahnya menjadi suci.

Harta haram, seluruhnya kotoran dan ini sumber kotoran. Jika dicampur dengan harta yang halal, justru mengotori harta yang halal itu. Karena ituah, zakat dari harta haram tidak diterima.

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا تُقْبَلُ صَلَاةٌ بِغَيْرِ طُهُورٍ وَلَا صَدَقَةٌ مِنْ غُلُولٍ

Shalat tidak akan diterima tanpa bersuci, dan tidak pula sedekah dari harta ghulul (HR. Muslim 224, Nasai 139, dan yang lainnya).

Karena Allah hanya menerima zakat dari harta yang baik dan halal.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَصَدَّقَ بِعَدْلِ تَمْرَةٍ مِنْ كَسْبٍ طَيِّبٍ، وَلاَ يَقْبَلُ اللَّهُ إِلَّا الطَّيِّبَ، وَإِنَّ اللَّهَ يَتَقَبَّلُهَا بِيَمِينِهِ، ثُمَّ يُرَبِّيهَا لِصَاحِبِهِ، كَمَا يُرَبِّي أَحَدُكُمْ فَلُوَّهُ، حَتَّى تَكُونَ مِثْلَ الجَبَل

Siapa yang bersedekah dengan sebiji korma yang berasal dari  usahanya yang halal lagi baik, Allah tidak menerima kecuali dari yang halal lagi baik, maka sesungguhnya Allah menerima sedekah tersebut dengan tangan kanan-Nya kemudian Allah menjaga dan memeliharnya untuk pemiliknya seperti seseorang di antara kalian yang menjaga dan memelihara anak kudanya. Hingga sedekah tersebut menjadi sebesar gunung”. (Muttafaq ’alaih).

Dalam Ensiklopedi Fikih dinyatakan, ‏

والمال الحرام كله خبث لا يطهر، والواجب في المال الحرام رده إلى أصحابه إن أمكن معرفتهم وإلا وجب إخراجه كله ‏عن ملكه على سبيل التخلص منه لا على سبيل التصدق به، وهذا متفق عليه بين أصحاب المذاهب

Harta haram semuanya kotor, sehingga tidak bisa dibersihkan. Yang wajib dilakukan terhadap ‎harta haram adalah mengembalikan harta itu kepada pemiliknya, jika memungkinkan untuk ‎mengetahui siapa pemiliknya. Jika tidak, wajib mengeluarkan semua harta haram itu dari‎wilayah kepemilikannnya, dalam rangka membebaskan diri dari harta haram, dan bukan ‎diniatkan untuk bersedekah. Ini yang disepakati diantara semua ulama dari berbagai madzhab. ‎(al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 23/249)

Demikian,

Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

zakat fitrah untuk keluarga

Bolehkah Memberikan Zakat Kepada Orang Tua?

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum.

Mohon meluruskan mengenai hal zakat. Saya pernah mendengar bahwa kita boleh memberikan zakat kita untuk orang tua akan tetapi ada pula yang menyebutkan orang tua adalah kewajiban kita jadi tidak selayaknya zakat diberikan pada orang tua.

Mohon bantuannya informasi mana dan jika ada dalil mana yg lebih kuat?

Terima kasih

Wassalamu’alaikum

Dari: Deded

Jawaban:

Wa alaikumus salam

Salah satu kaidah yang berlaku terkait penerima zakat,

“Tidak boleh memberikan zakat kepada orang yang wajib dinafkahi oleh muzakki”

Penjelasannya:

Ketika kita memberikan zakat kepada orang yang wajib kita nafkahi, seperti anak, istri, atau orang tua, maka mereka menjadi tidak butuh nafkah dari kita. Sehingga ada sebagian harta kita yang seharusnya menjadi jatah nafkah untuk anak atau orang tua, tidak jadi kita berikan, karena mereka sudah memegang harta dari zakat kita. Dengan demikian, ada manfaat dari zakat yang kita bayarkan, yang kembali kepada kita sebagai muzakki.

Kesimpulan di atas merupakan kesepakatan ulama, sebagaimana yang ditegaskan oleh Ibnul Mundzir. Dalam bukunya Al-Ijma’ (Kumpulan konsensus ulama), beliau mengatakan,

وأجمعوا على أن الزكاة لا يجوز دفعها إلى: الوالدين، فى الحال التي يجبر الدافع إليهم على النفقة عليهم

“Para ulama sepakat bahwa zakat tidak boleh diberikan kepada kedua orang tua, pada keadaan di mana zakat itu akan menutupi kewajiban muzakki untuk memberikan nafkah kepada mereka.” (Al-Ijma’, hlm. 48)

Ibnul Mundzir juga mengatakan,

وأجمعوا على أن الرجل لا يعطي زوجته من الزكاة؛ لأن نفقتها عليه، وهي غنية بغناه

“Para ulama sepakat bahwa seorang suami tidak boleh memberikan zakat kepada istrinya. Karena nafkah istri menjadi kewajiban suami. Dan istri dianggap kaya, dengan kekayaan suami.” (Al-Ijma’, hlm. 49)

Ibnu Qudamah setelah menyebutkan keterangan Ibnul Mundzir di atas, beliau menjelaskan,

ولأن دفع زكاته إليهم تغنيهم عن نفقته، وتسقطها عنه، ويعود نفعها إليه، فكأنه دفعها إلى نفسه، فلم تجز، كما لو قضى بها دينه

Karena orang yang memberikan zakat kepada orang yang wajib dinafkahi, menyebabkan mereka tidak butuh untuk dia nafkahi, sehingga gugur tuntutan nafkah darinya, sehingga ada manfaat zakat yang kembali kepadanya. Seolah-olah dia memberikan sebagian zakat itu kepada dirinya sendiri, dan ini tidak boleh. Sebagaimana ketika ada orang yang melunasi utangnya dengan zakat. (Al-Mughni, 2/482).

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembinawww.KonsultasiSyariah.com)

Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 8610185593 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

ijab kabul amalan zakat

Ijab Kabul Zakat

Assalamualaikum. .

Ustadz, apakah ketika membayar zakat fitrah ada kaidah tertentu seperti ada ijab kabul dan jabatan tangan?

Tolong kirimkan dalil tentang afdolnya membayar zakat mendekati Idul Fitri.

Syukron

Dari: Syofrion Hendri

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

As-Suyuthi – ulama syafiiyah – dalam karyanya tentang kaidah fikih, Al-Asybah wa An-Nadzair, membagi beberapa akad muamalah berdasarkan ada tidaknya ijab qabul menjadi 5 bagian. Beliau mengatakan,

تقسيم ثالث من العقود ما لا يفتقر إلى الإيجاب ، والقبول لفظا . ومنها : ما يفتقر إلى الإيجاب والقبول لفظا . ومنها : ما يفتقر إلى الإيجاب لفظا ، ولا يفتقر إلى القبول لفظا . بل يكفي الفعل . ومنها : ما لا يفتقر إليه أصلا ، بل شرطه : عدم الرد ومنها : ما لا يرتد بالرد . فهذه خمسة أقسام

“Pembeagian yang ketiga dalam akad;

  • Akad yang tidak membutuhkan ijab qabul dengan dilafalkan
  • Akad yang membutuhkan ijab qabul dengan dilafalkan
  • Akad yang membutuhkan ijab dengan dilafalkan dan tidak membutuhkan qabul dengan dilafalkan, namun cukup tindakan.
  • Akad yang tidak membutuhkan ijab qabul sama sekali, bahkan syaratnya, tidak bisa dibatalkan
  • Akad yang tidak bisa kembali, meskipun dibatalkan.

Itulah lima pembagian akad”

Kemudian beliau menyebutkan contohnya masing-masing. Diantara contoh yang beliau sebutkan,

فالأول منه : الهدية ، فالصحيح أنه لا يشترط فيها الإيجاب والقبول لفظا ، بل يكفي البعث من المهدي ، والقبض من المهدى إليه… ومنه : الصدقة قال الرافعي : وهي كالهدية ، بلا فرق

Contoh yang pertama, hadiah. Pendapat yang benar, tidak disyaratkan adanya ijab qabul dengan dilafalkan. Namun cukup memberikan hadiah dari si pemberi, dan diterima oleh orang yang mendapatkannya… termasuk juga; sedekah. Ar-Rafii mengatakan, ‘Sedekah seperti hadiah, tidak ada perbedaan.’

(Al-Asybah wa An-Nadzair, 1/468)

Berdasarkan keterangan di atas, zakat tidak dipersyaratkan harus ada ijab qabul, apalagi saling jabat tangan. Karena zakat termasuk akad searah, sebagaimana hadiah dan sedekah, seperti yang disebutkan As-Suyuthi. Sehingga statusnya sah dengan diserahkan kepada yang berhak, sekalipun tidak ada kesepakatan.

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)

Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 8610185593 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

zakat beras

Zakat

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum Ustadz.

Bagaimana cara menghitung zakat profesi suami dan istri yang mempunyai utang?

Jazakallah. Wassalamu’alaikum.

Dari: Abu Afra

Jawaban:

Wa’alaikumussalam.

Cara Menghitung Zakat Keluarga

Prinsip ‘harta bersama’ dalam keluarga, menyebabkan kebingungan dalam perhitungan zakat. Yang benar, perhitungan zakat harta suami atau istri tetap dipisahkan.

Kehidupan berkeluarga berpengaruh banyak terhadap pola hidup seseorang. Banyak hal terlihat berubah dari statusnya sebagai bujangan menjadi seorang suami atau istri.

Antara suami istri seperti ada yang memberi pengaruh satu ke lainnya. Mulai dari sikap, tingkah laku, tutur kata, selera makan dan lain-lain. Semuanya akan saling memberi dan menerima.

Begitu juga perihal keuangan. Sampai tersirat istilah “hartaku adalah hartamu” atau “seluruh milikku adalah juga milikmu”. Mungkin, inilah yang dimaksud dengan kehidupan super-harmonis antara suami istri.

Tapi, alangkah sayang seribu kali sayang, begitu bahtera keluarga ini terhempas badai ombak yang besar, sehingga perahu itu tenggelam ke dasar lautan. Perceraian, malapetaka itu terjadi. Barulah “mantan” suami dan istri itu mulai menghitung-hitung harta mereka untuk dibawa pergi. Perdebatan terjadi antara mereka. Harta gono-gini pun menjadi pembicaraan di pengadilan.

Akhirnya, harta yang dahulu menjadi milik “kita berdua” sekarang menjadi rebutan “kita berdua”, semua mengaku berhak memilikinya. Begitulah kenyataan yang banyak terjadi.

Pembahasan kita kali ini adalah mengenai hukum zakat harta keluarga, atau lebih konkritnya adalah harta suami-istri.

Kembali kami sampaikan syarat wajibnya zakat harta, yaitu:

1. Harta simpanan berupa Emas, perak dan mata uang.

2. Harta tersebut adalah harta milik pribadi dan dimiliki secara sempurna.

3. Jumlahnya sudah mencapai nishob, (nishob emas: 85 gr emas murni, nishob perak: 595 gr perak murni, dan nishob mata uang: seharga 85 gram emas murni).

4.  Jumlah tersebut sudah tersimpan selama satu tahun Hijriyah. (disebut dengan haul).

Yang erat kaitannya dengan pembahasan ini adalah di syarat no 2. Yaitu, apakah harta suami-istri dianggap satu harta, seakan-akan pemiliknya hanya satu orang, ataukah ia harta yang terpisah antara harta suami dan harta istri?

Islam Mengakui Kepemilikan Harta Setiap Orang

Islam menghargai harta seseorang. Mengakui keabsahannya, selama harta itu diperoleh dengan jalan halal.

Baik itu harta milik pria maupun wanita, milik suami maupun istri. Semua orang mempunyai hak kepemilikan penuh terhadap harta pribadinya.

Dalam Alquran, Allah Ta’ala telah membedakan antara harta suami dan harta istri. Hal tersebut diungkapkan dalam pembahasan pembagian warisan. Allah Ta’ala berfirman, yang maknanya:

Kalian wahai para suami, berhak mendapatkan warisan seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh para istri, jika istri tidak mempunyai anak. Namun, Jika istrimu itu mempunyai anak, maka kamu berhak mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya. Warisan itu dibagi sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat dan sesudah dibayar utangnya. Para istrimu berhak memperoleh warisan seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Namun, jika kamu mempunyai anak, maka istrimu hanya berhak memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan. Warisan itu dibagi sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat dan sesudah dilunasi utang-utangmu.” (QS. An Nisa: 12)

Dalam ayat tersebut, Allah Ta’ala membedakan antara harta suami dan harta istri. Si suami baru berhak menguasai harta istrinya kalau istrinya sudah meninggal itupun dalam jumlah tertentu yang ditetapkan syariat. Begitu juga si istri.

Tidak bisa dipungkiri bahwa Istri juga memiliki harta yang dapat diperoleh dari bekerja, ataupun dari mas kawin, atau warisan orang tuanya dan sumber-sumber lainnya.

Bahkan Allah Ta’ala melarang para suami untuk mengambil kembali harta yang pernah diserahkan kepada istrinya, seperti pemberian berupa maskawin.

Allah Ta’ala berfirman, yang artinya:

Dan jika kamu ingin mencerai istrimu dan menikahi wanita lainnya, sedang kamu telah memberikan kepada istrimu itu harta yang banyak, maka janganlah kamu mengambil kembali dari istrimu itu sedikit pun dari harta yang sudah kamu berikan.” (QS. An Nisa: 20)

Karena harta itu sudah sepenuhnya milik si istri. Istri-lah yang berhak membelanjakannya atau mensedekahkannya sesuai keinginannya walaupun tanpa seizin suami. Suami hanya berhak mencicipi harta istrinya, itupun jika si istri ridho memberikannya pada suami.

Allah Ta’ala berfirman, yang artinya:

Berikanlah maskawin kepada wanita yang kamu nikahi berupa pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika istrimu menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka silahkan makan (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.” (QS. An Nisa: 4)

Kewajiban Menafkahi Keluarga adalah dari Harta Suami

Kewajiban menafkahi keluarga adalah murni diembankan kepada suami. Sebanyak apapun harta istri dan sekaya apapun status istri, si suami lah yang berkewajiban menafkahi dan memenuhi kebutuhan istrinya tersebut.

Si istri hanya menjadi pengelola uang si suami, dan istri tersebut harus mengemban tanggung jawab dalam pengelolaan itu, ia kelak akan dimintai pertanggung jawaban.

Dalam nafkah keluarga, boleh-boleh saja si suami menyerahkan uang penghasilannya kepada si istri untuk dikelola demi kebutuhan keluarga. Namun, perlu diingat bahwa harta tersebut adalah tetap dalam hitungan kepemilikan suami. Istri hanya sekedar pengelola. Oleh karena itu, istri harus berusaha erat memegang amanah, tidak boleh dipergunakan di luar batas kebutuhan kecuali dengan izin dari suami.

Bila Suami-istri Menggabungkan Harta Mereka Dalam Satu Tabungan

Pembahasan semisal ini dibahas oleh ulama dalam masalah “zakat harta syarikah” atau harta gabungan.

Yaitu, bila dua orang atau lebih menggabungkan harta mereka. Kalau dihitung harta perorang dari mereka maka nishob belum tercapai. Namun, karena digabungkan, maka hasilnya mencapai nishob. Kemudian harta ini dikelola dan diperlakukan seakan-akan harta yang satu. Maksudnya, ketika harta ini dikelola oleh pihak ketiga misalnya, setiap pengeluaran dan keuntungan yang mengalir dianggap harta gabungan juga.

Dalam hal ini, terdapat perbedaan pendapat antara para ulama. Apakah harta gabungan yang sudah mencapai nishob dikenakan zakat? ataukah tidak wajib zakat, jikalau harta perorang yang ikut andil dalam gabungan tersebut belum sampai nishobnya.

Dengan kata lain, sampai tidaknya nishob harta, apakah ditinjau dari sisi jumlah harta yang terkumpul atau dari sisi pemilik harta tersebut?

Pendapat yang kuat menurut hemat kami adalah, yang menyatakan bahwa nishob harta zakat selain dari hewan ternak, maka dihitung dari jumlah yang dimiliki oleh pemilik harta tersebut.

Contoh: apabila kita perkirakan nishob zakat harta adalah 50 juta rupiah. Bila ada 3 orang menghimpun modal untuk usaha masing-masing 20 juta rupiah, maka gabungan harta tersebut yang berjumlah 60 juta. Walaupun tampaknya sudah lebih dari nishob, namun jika ditilik dari masing-masing pihak yang bergabung, uang mereka belum sampai nishob, maka gabungan harta tersebut belum terkena wajib pajak, karena belum sampai nishob.

Pendapat ini yang dinilai kuat oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh Utsaimin, disebutkan oleh beliau dalam kitabnya Syarh Mumti’ jilid 6 hal 66.

Dengan demikian, bila suami dan istri keduanya mempunyai penghasilan tetap, kemudian menggabungkan uang mereka berdua dalam satu tabungan. Maka wajib tidaknya zakat dalam harta tabungan itu tergantung sampai tidaknya nishob dari harta masing-masing mereka.

Idealnya, seharusnya mereka berdua menghitung pemasukan harta mereka masing-masing. Mungkin saja pemasukan suami lebih banyak daripada si istri. Sehingga kemungkinan besar harta suami lebih cepat mencapai nishob dibandingkan harta istri.

Ketahuilah bahwa dalam harta peninggalan suami maupun istri ada harta yang diwarisi oleh orang lain, seperti orang tua suami atau istri. Untuk itu, jalan terbaik adalah dengan mengetahui jumlah harta masing-masing walaupun tidak terlalu mendetil, asalkan penghitungan ini tidak melahirkan sengketa dan pertikaian antar keluarga.

Jangan sampai terjadi penguasaan istri terhadap harta suaminya ketika suaminya sudah meninggal. Begitu juga sebaliknya jika istri meninggal, jangan sampai suami menguasai seluruh harta istri. Dengan dalih harta ini adalah milik bersama. Karena, harta bersama pun bisa diketahui prosentase harta dari andil masing-masing anggota.

Peringatan

Ada suatu bentuk akal-akalan yang dikenal dalam masyarakat. Yaitu, yang mereka sebut dengan strategi agar tidak membayar zakat.

Contohnya: seorang suami yang telah memiliki harta mencapai nishob. Sebelum genap mencapai satu tahun (haul) ia serahkan hartanya itu untuk istrinya, dengan persyaratan dimiliki oleh istrinya sampai waktu tidak mencapai satu tahun (haul) kemudian diserahkan kembali untuk suaminya. Dan begitu seterusnya.

Secara lahiriah saja, strategi ini hanyalah bentuk akal-akalan ingin lari dari kewajiban zakat, yaitu dengan cara memutus haul.

Karena, kita sudah membaca arti dari surat An-Nisa, ayat 20, bahwasanya bila harta sudah diserahkan pada istri, maka itu menjadi hak milik istri sepenuhnya tidak berhak si suami memintanya kembali.

Namun, dalam kasus “strategi menghindari zakat” di atas, pastilah suami itu akan marah jika uang yang diserahkan pada istrinya digunakan sekehendak hati istri. karena, memang pada hakikatnya suami itu bukan menyerahkan kepemilikan penuh hartanya pada istri. Namun, “strategi” itu hanyalah lahir dari sifat kikir dan pelit, lari dari kewajiban zakat.

Kita semua beriman, bahwa Allah Ta’ala mengetahui apa yang tersirat dan terbersit dari niat hati kita. Hendaknya kita takut, jika kita berhasil lari dari kewajiban zakat, namun finishnya dalam api neraka. Naudzubillahi min Dzalik.

Wallahu a’lam bish showab

Catatan:

Keterangan di atas merupakan artikel rubrik zakat yang diterbitkan dalam majalah pengusaha muslim edisi 36. Majalah ini tidak diterbitkan dalam edisi cetak, namun disediakan dalam edisi e-Mag. Anda bisa mendapatkannya di http://shop.pengusahamuslim.com/

Semoga bermanfaat.

Dijawab oleh Ustadz Muhammad Yasir, Lc. (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)
Artikel www.KonsultasiSyariah.com

Artikel terkait zakat:

  1. Menghitung Zakat Perdagangan
  2. Zakat Tanah dan Zakat Profesi
  3. Solusi atas Pemaksaan Zakat Profesi
  4. Zakat Penghasilan dalam Timbangan Syariat [Video]
  5. Kriteria Fakir Miskin Penerima Zakat
  6. Apakah Membayar Zakat Mal di Bulan Ramadhan Lebih Utama?
  7. Zakat dari Harta Hasil Menipu

SOCIAL

10,018FansLike
4,525FollowersFollow
33,536FollowersFollow
61,951SubscribersSubscribe

RAMADHAN

Dukung KonsultasiSyariah.com
dengan Donasi!

BNI SYARIAH
0381346658
a.n. Yufid Network Yayasan
***
BANK SYARIAH MANDIRI
7086882242
a.n. Yayasan Yufid Network
***
PAYPAL
finance@yufid.org
Konfirmasi via email: finance@yufid.org

Powered by WordPress Popup