tutup Eksternal hardisk kajian video islam
cashflow laporan keuangan software akutansi terbaik
Tags Posts tagged with "yahudi"

yahudi

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum,
Ustadz bolehkah jika seseorang yang bukan berprofesi sebagai pedagang motor namun punya modal lebih?
Kemudian jika ada orang lain yang kebetulan butuh motor meminta padanya untuk membelikan dulu. Adapun pembayarannya (yang butuh motor tesebut), dilakukan secara kredit dan harganya tidak sama dengan harga motor secara kontan.

Fulan-Solo

Tanya:

Assalamu’alaikum, Barakallahu fikum ustadz
Ana mohon penjelasan bagaimana cara kita bermuamalah dengan tetangga orang kristen/kafir misalkan pada saat:

  1. Mereka meninggal, apakah kita boleh takziyah, dan jika boleh apa yang harus kita ucapkan?
  2. Mereka mengundang untuk acara pernikahan keluarga mereka apakah kita boleh memenuhi undangannya?
  3. Mempunyai/melahirkan anak, apakah kita boleh memberikan selamat?

Jazaakallah khoiron

(Abu Panji)

Tanya:

Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuhu.

Pak Ustadz, ada yang bertanya: Sejak kapan kita masuk islam? Saya katakan: Wallahu a’lamu.

Karena kalau dibilang sejak lahir, maka kapan syahadatnya, sedangkan syahadat adalah salah satu dari pondasi/dasar, atau pokok islam, tidak mungkin dikatakan muslim kalau tidak atau belum bersyahadat, iya kan Pak Ustadz? Mohon penjelasannya, Jazakallahu khairan.

(0553029483)

Tanya:

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.

Ustadz, saya mau tanya masalah khitan/sunatan, apakah ini ajaran islam atau sebelum islam juga sudah ada perintah Allah tentang berkhitan khususnya bagi laki-laki. Dan bagaimana dengan wanita? Tolong sebutkan dalil-dalilnya. Terima kasih ustadz.

Jawab:

Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuhu.

Khitan merupakan sesuatu yang difithrahkan untuk manusia. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْفِطْرَةُ خَمْسٌ أَوْ خَمْسٌ مِنْ الْفِطْرَةِ الْخِتَانُ وَالِاسْتِحْدَادُ وَنَتْفُ الْإِبْطِ وَتَقْلِيمُ الْأَظْفَارِ وَقَصُّ الشَّارِبِ

Artinya: “Fithrah itu ada lima: Khitan, mencukur rambut kemaluan, mencabut bulu ketiak, memotong kuku, dan memotong kumis. (HR. Al-Bukhary Muslim)

Oleh karena itu khitan ini merupakan syari’at umat-umat sebelum kita juga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang khitannya Nabi Ibrahim:

اخْتَتَنَ إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلَام وَهُوَ ابْنُ ثَمَانِينَ سَنَةً بِالْقَدُومِ

Ibrahim ‘alaihissalam telah berkhitan dengan qadum(nama sebuah alat pemotong) sedangkan beliau berumur 80 tahun.” (HR. Al-Bukhary Muslim)

Khitannya Nabi Ibrahim juga tercantum di dalam kitabnya orang yahudi (Perjanjian Lama, Kejadian 17/ 11 ), dan ini merupakan syari’atnya Nabi Musa. Oleh karena itu Nabi Isapun berkhitan karena beliau mengikuti syari’atnya Nabi Musa. (Injil Lukas 2/ 21).

Ada perbedaan pendapat tentang hukum khitan. Namun pendapat yang kami anggap lebih kuat adalah yang mengatakan bahwa khitan wajib bagi laki-laki selama tidak ditakutkan meninggal atau sakit , dan sunnah bagi wanita.

Dalil-dalil atas wajibnya khitan bagi laki-laki, diantaranya:

1. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan orang yang masuk islam untuk berkhitan. Dan asal perintah adalah wajib. Beliau bersabda:

أَلْقِ عَنْكَ شَعْرَ الْكُفْرِ وَاخْتَتِنْ

Artinya: “Hilangkan darimu rambut kekafiran (yang menjadi alamat orang kafir) dan berkhitanlah.” (HR. Abu Dawud, dan dihasankan oleh Syeikh Al-Albany)

2. Khitan membedakan antara orang islam dengan orang kafir.
3. Khitan adalah memotong sebagian tubuh, sedangkan memotong sebagian tubuh adalah haram, dan sesuatu yang haram tidak diperbolehkan kecuali dengan sesuatu yang wajib.
4. Khitan bagi laki-laki berkaitan dengan syarat diantara syarat-syarat shalat yaitu thaharah (bersuci).

Dalil-dalil atas sunnahnya khitan bagi wanita, diantaranya:

1. Di dalam sebuah hadist Ummu ‘Athiyyah bahwasanya di Madinah ada seorang wanita yang (pekerjaannya) mengkhitan wanita, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا تُنْهِكِي فَإِنَّ ذَلِكَ أَحْظَى لِلْمَرْأَةِ وَأَحَبُّ إِلَى الْبَعْلِ

Artinya: “Jangan berlebihan di dalam memotong, karena yang demikian itu lebih nikmat bagi wanita dan lebih disenangi suaminya.” (HR. Abu Dawud, dan dishahihkan oleh Syeikh Al-Albany).

2. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا الْتَقَى الْخِتَانَانِ وَتَوَارَتْ الْحَشَفَةُ فَقَدْ وَجَبَ الْغُسْلُ

Artinya: “Kalau bertemu dua khitan dan tenggelam khasyafah (ujung dzakar), maka wajib untuk mandi.” (HR. Ibnu Majah, dan dishahihkan oleh Syeikh Al-Albany)

Ini menunjukkan bahwa wanitapun berkhitan.
Khitan bagi wanita hanya berkaitan dengan sebuah kesempurnaan saja yaitu pengurangan syahwat.

لَا تُنْهِكِي فَإِنَّ ذَلِكَ أَحْظَى لِلْمَرْأَةِ وَأَحَبُّ إِلَى الْبَعْلِ

Wallahu a’lamu.

Ustadz Abdullah Roy, Lc.

Sumber: tanyajawabagamaislam.blogspot.com

Tanya:

Assalaamu’alaikum.

Ustadz, ada sebuah kasus: A meminjam uang kepada B.
A menjadikan barangnya sebagai jaminan, sedangkan barang tersebut dibeli oleh A secara kredit dan belum lunas pembayarannya. Apakah hal tersebut diperbolehkan? Jazaakumullohu khoiron

(Ummu Saif)

Jawab:

Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu.
Barang tersebut sudah menjadi miliknya dan menjadi tanggungannya, baik sudah lunas pembayarannya atau belum. Dengan demikian boleh baginya menjadikannya barang jaminan.

Wallahu a’lam.

Ustadz Abdullah Roy, Lc.

Sumber: tanyajawabagamaislam.blogspot.com

***

Keterangan:

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum jual beli kredit, dan pendapat yang insya Allah lebih kuat/rajih adalah BOLEH, dengan syarat tidak ada tambahan pembayaran apabila pembayaran angsurannya terlambat. Dan realitanya, banyak sekali praktek jual beli kredit yang ada sekarang ini (terutama di negara kita) TIDAK SESUAI dengan syariah Islam, oleh karena itu seyogyanya kita sebagai seorang muslim harus meneliti dan mencermati setiap akad yang akan kita jalankan.

Berikut ini kami kutip sebagian dari tulisan ustadz Muhammad Arifin Badri, M.A. tentang Jual Beli Kredit:

Hukum Perkreditan Langsung

Perkreditan yang dilakukan secara langsung antara pemilik barang dengan pembeli adalah suatu transaksi perniagaan yang dihalalkan dalam syari’at. Hukum akad perkreditan ini tetap berlaku, walaupun harga pembelian dengan kredit lebih besar dibanding dengan harga pembelian dengan cara kontan. Inilah pendapat -sebatas ilmu yang saya miliki-, yang paling kuat, dan pendapat ini merupakan pendapat kebanyakan ulama’. Kesimpulan hukum ini berdasarkan beberapa dalil berikut:

Dalil pertama: Keumuman firman Allah Ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمّىً فَاكْتُبُوهُ. البقرة: 282

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.” (Qs. Al Baqarah: 282)

Ayat ini adalah salah satu dalil yang menghalalkan adanya praktek hutang-piutang, sedangkan akad kredit adalah salah satu bentuk hutang, maka dengan keumuman ayat ini menjadi dasar dibolehkannya perkreditan.

Dalil kedua: Hadits riwayat ‘Aisyah radhiaalahu ‘anha.

اشترى رسول الله صلى الله عليه و سلم من يهوديٍّ طعاماً نسيئةً ورهنه درعَه. متفق عليه

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membeli sebagian bahan makanan dari seorang yahudi dengan pembayaran dihutang, dan beliau menggadaikan perisai beliau kepadanya.” (Muttafaqun ‘alaih)

Pada hadits ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membeli bahan makanan dengan pembayaran dihutang, dan sebagai jaminannya, beliau menggadaikan perisainya. Dengan demikian hadits ini menjadi dasar dibolehkannya jual-beli dengan pembayaran dihutang, dan perkreditan adalah salah satu bentuk jual-beli dengan pembayaran dihutang.

Dalil ketiga: Hadits Abdullah bin ‘Amer bin Al ‘Ash radhiallahu ‘anhu.

أن رسول الله صلى الله عليه و سلم أمره أن يجهز جيشا قال عبد الله بن عمرو وليس عندنا ظهر قال فأمره النبي صلى الله عليه و سلم أن يبتاع ظهرا إلى خروج المصدق فابتاع عبد الله بن عمرو البعير بالبعيرين وبالأبعرة إلى خروج المصدق بأمر رسول الله صلى الله عليه و سلم. رواه أحمد وأبو داود والدارقطني وحسنه الألباني

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkanku untuk mempersiapkan suatu pasukan, sedangkan kita tidak memiliki tunggangan, Maka Nabi memerintahkan Abdullah bin Amer bin Al ‘Ash untuk membeli tunggangan dengan pembayaran ditunda hingga datang saatnya penarikan zakat. Maka Abdullah bin Amer bin Al ‘Ashpun seperintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membeli setiap ekor onta dengan harga dua ekor onta yang akan dibayarkan ketika telah tiba saatnya penarikan zakat. Riwayat Ahmad, Abu Dawud, Ad Daraquthni dan dihasankan oleh Al Albani.

Pada kisah ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan sahabat Abdullah bin ‘Amer Al ‘Ash untuk membeli setiap ekor onta dengan harga dua ekor onta dengan pembayaran dihutang. Sudah dapat ditebak bahwa beliau tidak akan rela dengan harga yang begitu mahal, (200 %) bila beliau membeli dengan pembayaran tunai. Dengan demikian, pada kisah ini, telah terjadi penambahan harga barang karena pembayaran yang ditunda (terhutang).

Dalil keempat: Keumuman hadits salam (jual-beli dengan pemesanan).

Diantara bentuk perniagaan yang diijinkan syari’at adalah dengan cara salam, yaitu memesan barang dengan pembayaran di muka (kontan). Transaksi ini adalah kebalikan dari transaksi kredit. Ketika menjelaskan akan hukum transaksi ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mensyaratkan agar harga barang tidak berubah dari pembelian dengan penyerahan barang langsung. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya bersabda:

من أسلف فليسلف في كيل معلوم ووزن معلوم إلى أجل معلوم. متفق عليه

“Barang siapa yang membeli dengan cara memesan (salam), hendaknya ia memesan dalam takaran yang jelas dan timbangan yang jelas dan hingga batas waktu yang jelas pula.” (Muttafaqun ‘Alaih)

Pemahaman dari empat dalil di atas dan juga lainnya selaras dengan kaedah dalam ilmu fiqih, yang menyatakan bahwa hukum asal setiap perniagaan adalah halal. Berdasarkan kaedah ini, para ulama’ menyatakan bahwa: selama tidak ada dalil yang shahih nan tegas yang mengharamkan suatu bentuk perniagaan, maka perniagaan tersebut boleh atau halal untuk dilakukan.

Adapun sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

من بَاعَ بَيْعَتَيْنِ في بَيْعَةٍ فَلَهُ أَوْكَسُهُمَا أو الرِّبَا. رواه الترمذي وغيره

“Barang siapa yang menjual jual penjualan dalam satu penjualan maka ia hanya dibenarkan mengambil harga yang paling kecil, kalau tidak, maka ia telah terjatuh ke dalam riba.” Riwayat At Tirmizy dan lain-lain, maka penafsirannya yang lebih tepat ialah apa yang dijelaskan oleh Ibnul Qayyim dan lainnya([1]) , bahwa makna hadits ini adalah larangan dari berjual beli dengan cara ‘inah. Jual beli ‘Innah ialah seseorang menjual kepada orang lain suatu barang dengan pembayaran dihutang, kemudian seusai barang diserahkan, segera penjual membeli kembali barang tersebut dengan dengan pembayaran kontan dan harga yang lebih murah.

Hukum Perkreditan Segitiga

Agar lebih mudah memahami hukum perkreditian jenis ini, maka berikut saya sebutkan contoh singkat tentang perkreditan jenis ini:

Bila pak Ahmad hendak membeli motor dengan pembayaran dicicil/kredit, maka ia dapat mendatangi salah satu showrom motor yang melayani penjualan dengan cara kredit. Setelah ia memilih motor yang diinginkan, dan menentukan pilihan masa pengkreditan, ia akan diminta mengisi formulir serta manandatanganinya, dan biasanya dengan menyertakan barang jaminan, serta uang muka.([2]) Bila harga motor tersebut dangan pembayaran tunai, adalah Rp 10.000.000,-, maka ketika pembeliannya dengan cara kredit, harganya Rp 12.000.000,- atau lebih.

Setelah akad jual-beli ini selesai ditanda tangani dan pembelipun telah membawa pulang motor yang ia beli, maka pembeli tersebut berkewajiban untuk menyetorkan uang cicilan motornya itu ke bank atau ke PT perkreditan, dan bukan ke showrom tempat ia mengadakan transkasi dan menerima motor yang ia beli tersebut.

Praktek serupa juga dapat kita saksikan pada perkreditan rumah, atau lainnya.

Keberadaan dan peranan pihak ketiga ini menimbulkan pertanyaan di benak kita: mengapa pak Ahmad harus membayarkan cicilannya ke bank atau PT perkreditan, bukan ke showrom tempat ia bertransaksi dan menerima motornya?

Jawabannya sederhana: karena Bank atau PT Perkreditannya telah mengadakan kesepakatan bisnis dengan pihak showrom, yang intinya: bila ada pembeli dengan cara kredit, maka pihak bank berkewajiban membayarkan harga motor tersebut dengan pembayaran kontan, dengan konsekwensi pembeli tersebut dengan otomatis menjadi nasabah bank, sehingga bank berhak menerima cicilannya. Dengan demikian, seusai pembeli menandatangani formulir pembelian, pihak showrom langsung mendapatkan haknya, yaitu berupa pembayaran tunai dari bank. Sedangkan pembeli secara otomatis telah menjadi nasabah bank terkait.

Praktek semacam ini dalam ilmu fiqih disebut dengan hawalah, yaitu memindahkan piutang kepada pihak ketiga dengan ketentuan tertentu.

Pada dasarnya, akad hawalah dibenarkan dalam syari’at, akan tetatpi permasalahannya menjadi lain, tatkala hawalah digabungkan dengan akad jual-beli dalam satu transaksi. Untuk mengetahui dengan benar hukum perkreditan yang menyatukan antara akad jual beli dengan akad hawalah, maka kita lakukan dengan memahami dua penafsiran yang sebanarnya dari akad perkreditan segitiga ini.

Bila kita berusaha mengkaji dengan seksama akad perkreditan segitiga ini, niscaya akan kita dapatkan dua penafsiran yang saling mendukung dan berujung pada kesimpulan hukum yang sama. Kedua penafsiran tersebut adalah:

Penafsiran pertama: Bank telah menghutangi pembeli motor tersebut uang sejumlah Rp 10.000.000,- dan dalam waktu yang sama Bank langsung membayarkannya ke showrom tempat ia membeli motornya itu. Kemudian Bank menuntut pembeli ini untuk membayar piutang tersebut dalam jumlah Rp 13.000.000,-. Bila penafsiran ini yang terjadi, maka ini jelas-jelas riba nasi’ah (riba jahiliyyah). Dan hukumnya seperti yang disebutkan dalam hadits berikut:

عن جابر قال: لعن رسول الله صلى الله عليه و سلم آكل الربا وموكله وكاتبه وشاهديه، وقال: هم سواء. رواه مسلم

Dari sahabat Jabir radhiallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melaknati pemakan riba (rentenir), orang yang memberikan/membayar riba (nasabah), penulisnya (sekretarisnya), dan juga dua orang saksinya. Dan beliau juga bersabda: “Mereka itu sama dalam hal dosanya.” (Muslim)

Penafsiran kedua: Bank telah membeli motor tersebut dari Show Room, dan menjualnya kembali kepada pembeli tersebut. Sehingga bila penafsiran ini yang benar, maka Bank telah menjual motor yang ia beli sebelum ia pindahkan dari tempat penjual yaitu showrom ke tempatnya sendiri, sehingga Bank telah menjual barang yang belum sepenuhnya menjadi miliknya. Sebagai salah satu buktinya, surat-menyurat motor tersebut semuanya langsung dituliskan dengan nama pembeli tersebut, dan bukan atas nama bank yang kemudian di balik nama ke pembeli tersebut. Bila penafsiran ini yang terjadi, maka perkreditan ini adalah salah satu bentuk rekasaya riba yang jelas-jelas diharamkan dalam syari’at.

عن ابن عباس رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم: من ابتاع طعاما فلا يبعه حتى يقبضه. قال ابن عباس: وأحسب كل شيء بمنزلة الطعام. متفق عليه

“Dari sahabat Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhu, ia menuturkan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang membeli bahan makanan, maka janganlah ia menjualnya kembali hingga ia selesai menerimanya.” Ibnu ‘Abbas berkata: “Dan saya berpendapat bahwa segala sesuatu hukumnya seperti bahan makanan.” (Muttafaqun ‘alaih)

Pendapat Ibnu ‘Abbas ini selaras dengan hadits Zaid bin Tsabit radhiallahu ‘anhu berikut:

“Dari sahabat Ibnu Umar ia mengisahkan: Pada suatu saat saya membeli minyak di pasar, dan ketika saya telah selesai membelinya, ada seorang lelaki yang menemuiku dan menawar minyak tersebut, kemudian ia memberiku keuntungan yang cukup banyak, maka akupun hendak menyalami tangannya (guna menerima tawaran dari orang tersebut) tiba-tiba ada seseorang dari belakangku yang memegang lenganku. Maka akupun menoleh, dan ternyata ia adalah Zaid bin Tsabit, kemudian ia berkata: “Janganlah engkau jual minyak itu di tempat engkau membelinya hingga engkau pindahkan ke tempatmu, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari menjual kembali barang di tempat barang tersebut dibeli, hingga barang tersebut dipindahkan oleh para pedagang ke tempat mereka masing-masing.” (Riwayat Abu dawud dan Al Hakim)([3])

Para ulama’ menyebutkan beberapa hikmah dari larangan ini, di antaranya ialah, karena kepemilikan penjual terhadap barang yang belum ia terima bisa saja batal, karena suatu sebab, misalnya barang tersebut hancur terbakar, atau rusak terkena air dll, sehingga ketika ia telah menjualnya kembali, ia tidak dapat menyerahkannya kepada pembeli kedua tersebut.

Dan hikmah kedua: Seperti yang dinyatakan oleh Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma ketika muridnya yang bernama Thawus mempertanyakan sebab larangan ini:

قلت لابن عباس: كيف ذاك؟ قال: ذاك دراهم بدراهم والطعام مرجأ.

Saya bertanya kepada Ibnu ‘Abbas: “Bagaimana kok demikian?” Ia menjawab: “Itu karena sebenarnya yang terjadi adalah menjual dirham dengan dirham, sedangkan bahan makanannya ditunda.”([4])

Ibnu Hajar menjelaskan perkatan Ibnu ‘Abbas di atas dengan berkata: “Bila seseorang membeli bahan makanan seharga 100 dinar –misalnya- dan ia telah membayarkan uang tersebut kepada penjual, sedangkan ia belum menerima bahan makanan yang ia beli, kemudian ia menjualnya kembali kepada orang lain seharga 120 dinar dan ia langsung menerima uang pembayaran tersebut, padahal bahan makanan yang ia jual masih tetap berada di penjual pertama, maka seakan-akan orang ini telah menjual/ menukar (menghutangkan) uang 100 dinar dengan pembayaran/harga 120 dinar. Dan sebagai konsekwensi penafsiran ini, maka larangan ini tidak hanya berlaku pada bahan makanan saja, (akan tetapi berlaku juga pada komoditi perniagaan lainnya-pen).”([5])

Dengan penjelasan ini, dapat kita simpulkan bahwa pembelian rumah atau kendaraan dengan melalui perkreditan yang biasa terjadi di masyarakat adalah terlarang karena merupakan salah satu bentuk perniagaan riba.

Solusi

Sebagai solusi dari perkreditan riba yang pasti tidak akan diberkahi Allah, maka kita dapat menggunakan metode perkreditan pertama, yaitu dengan membeli langsung dari pemilik barang, tanpa menyertakan pihak ketiga. Misalnya dengan menempuh akad al wa’du bis syira’ (janji pembelian) yaitu dengan meminta kepada seorang pengusaha yang memiliki modal agar ia membeli terlebih dahulu barang yang dimaksud. Setelah barang yang dimaksud terbeli dan berpindah tangan kepada pengusaha tersebut, kita membeli barang itu darinya dengan pembayaran dicicil/terhutang. Tentu dengan memberinya keuntungan yang layak.

Dan bila solusi pertama ini tidak dapat diterapkan karena suatu hal, maka saya menganjurkan kepada pembaca untuk bersabar dan tidak melanggar hukum Allah Ta’ala demi mendapatkan barang yang diinginkan tanpa memperdulikan faktor keberkahan dan keridhaan ilahi. Tentunya dengan sambil menabung dan menempuh hidup hemat, dan tidak memaksakan diri dalam pemenuhan kebutuhan. Berlatihlah untuk senantiasa bangga dan menghargai rizqi yang telah Allah Ta’ala karuniakan kepada kita, sehingga kita akan lebih mudah untuk mensyukuri setiap nikmat yang kita miliki. Bila kita benar-benar mensyukuri kenikmatan Allah, niscaya Allah Ta’ala akan melipatgandakan karunia-Nya kepada kita:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ . إبراهيم 7

“Dan ingatlah tatkala Tuhanmu mengumandangkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Qs. Ibrahim: 7)

Artikel lengkap dapat dibaca pada link: Hukum Jual Beli Kredit di PengusahaMuslim.com

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Afwan ana mau berkonsultasi, ana benar – benar sedang bingung, rubrik tanya jawab pada www.muslim.or.id sementara ditutup.

Ustadz, saya seorang akhwat, sekarang duduk di bangku kuliah. Sejak kecil saya tidak pernah menyukai laki-laki, saya lebih tertarik kepada sesama jenis, saya sendiri tidak tahu apa penyebabnya. Yang pasti saya lebih tertarik melihat perempuan daripada laki-laki, keluarga saya tidak ada yang tahu. Saya tahu ini dosa besar, dan saya tersiksa dengan ini, saya ingin menjadi wanita yang solehah, saya takut akan siksa Allah. Alhamdulillah kakak-kakak saya ahlussunnah, saya pun mulai ikut mengaji (baru waktu tingkat 2 ini), tapi saya sudah lama mengenakan jilbab.

Yang ingin saya tanyakan, apa solusi masalah saya? sekarang yang ada di pikiran saya adalah menikah, saya ingin ada yang membimbing sepenuhnya, dan saya berharap bisa mencintai suami saya karena Allah semata. Kebetulan semua kakak-kakak saya telah menikah, jadi tidak banyak waktu untuk berkumpul, dan tidak setiap saat mereka bisa membimbing saya. Tapi masalah yang kedua yang saya hadapi adalah kalau saya menikah, orang tua saya menuntut saya untuk menyelesaikan kuliah terlebih dahulu, tapi ustadz itu tidak mungkin, saya takut saya akan melakukan maksiat. Saya ingin sembuh ustadz, saya benar-benar ingin menjadi ahlussunnah, saya terganggu dengan perasaan ganjil pada diri saya, karena setiap saya ingin melangkah pada kebenaran saya selalu ingat perasaan ini dan akhirnya saya jadi malas untuk menuntut ilmu syar’i (karena setiap ingat saya hati saya selalu berkata “percuma kalau ngaji, tapi masih punya perasaan ganjil”) terlalu lama jika harus menunggu selesai kuliah. Ustadz saya berencana tetap menikah, tapi sementara saya kuliah saya tidak tinggal serumah dengan suami saya, hubungan jarak jauh, karena saya ingin menyelesaikan kuliah dulu, minimal ketemu suami 1 kali dalam sepekan. Ya mungkin hanya berbicara via telepon itu cukup (saya ingin pacaran tanpa ada zina, terikat pernikahan), tapi ustadz apakah boleh menikah dengan menunda untuk jima’? dan apakah boleh saya merahasiakan ini dari calon suami saya, karena saya terlalu malu untuk mengatakan ini, karena ini aib terbesar dalam hidup saya dan saya takut suami saya kecewa. Demikian ustadz pertanyaan dari saya, jawaban dari ustadz sangat ana nantikan. Jazakallah khairan katsiran.

Jawaban Ustadz:

بسم الله الرحمن الرحيم

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam, keluarga sahabat dan seluruh pengikutnya hingga hari qiyamat.

Selanjutnya, membaca problem yang sedang anti hadapi, saya dapat memahami perasaan dan pikiran anti, semoga Allah Ta’ala senantiasa melimpahkan kerahmatan dan hidayah-Nya kepada anti dan kita semua, sehingga kita dapat menempuh jalan-jalan yang diridhoi-Nya. Dan semoga Allah Ta’ala mensucikan anti dan juga jiwa kita semua, sehingga tidaklah timbul dari diri kita kecuali kebaikan dan tidaklah muncul dari jiwa kita selain pikiran yang baik dan diridhoi-Nya.

Ukhti yang semoga senantiasa mendapatkan taufiq dan hidayah dari Allah, dalam mengarungi bahtera kehidupan di dunia ini, setiap manusia tidak boleh terlepas dari keimanan kepada Allah Ta’ala. Segala yang kita hadapi, kita rasakan, dan kita dapatkan datangnya dari Allah semata. Segala kenikmatan, kesembuhan dan kemudahan, hanya milik Allah Ta’ala.

Oleh karena itu seorang yang beriman kepada Allah Ta’ala akan senantiasa berjiwa besar dan bertekad baja dalam menghadapi apapun yang terjadi di dunia ini. Ketika ia menghadapi kenikmatan, ia tidak akan lupa daratan, dan ketika ia menghadapi cobaan ia tidak akan pernah putus asa dan menyerah kepada kegagalan.

عجبا لأمر المؤمن إن أمره كله خير وليس ذاك لأحد إلا للمؤمن إن أصابته سراء شكر فكان خيرا له وإن أصابته ضراء صبر فكان خيرا له رواه مسلم

“Amat mengherankan urusan seorang mukmin, sesungguhnya urusannya itu semuanya baik, dan ini tidaklah dimiliki melainkan oleh seorang yang beriman. Bila ia ditimpa kesenangan, maka ia bersyukur, maka urusannya itu menjadi baik baginya, dan bila ia ditimpa kejelekan, maka ia bersabar, maka urusannya itu akan menjadi baik baginya.” (Muslim)

Benar-benar jiwa besar dan mental baja, sehingga dalam kesenangan ia dapat bersyukur dan tidak menjadi lupa daratan, sehingga dengan kenikmatannya itu ia tetap istiqamah pada jalan Allah, beribadah kepada-Nya, dan tetap mengamalkan syari’at Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam.

Dalam kesusahan ia bersabar, sehingga tidak putus asa, dan menyeleweng dari syari’at. Bila seorang mukmin ditimpa kesusahan berupa musibah, kesusahan, maka ia bersabar dengan menerima takdir tersebut tanpa keluh kesah, dan ia tetap yakin dengan sepenuhnya bahwa kemudahan hanya akan dapat dicapai bila kita tetap istiqomah dalam kebenaran, dan kemudahan hanya milik Allah, sehingga hanya kepada-Nya kita memohon kemudahan. Oleh karena itu dahulu Nabi shollallahu’alaihiwasallam mencontohkan kepada kita untuk berdoa:

اللَّهُمَّ لاَ سَهْلَ إِلاَّ مَا جَعَلْتَهُ سَهْلاً وَأَنْتَ تَجْعَلُ الْحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلاً. رواه ابن حبان

“Ya Allah tiada kemudahan melainkan sesuatu yang Engkau jadikan mudah, dan Engkau menjadikan kesusahan bila Engkau kehendaki menjadi mudah.” (Ibnu Hibban)

Seorang muslim bila dihadapkan kepada kesusahan ia tetap berjiwa besar dan berkeyakinan kokoh lebih kokoh dari pada gunung yang menjulang tinggi ke langit, bahwa amat mudah dan ringan bagi Allah untuk memberikan jalan keluar kepada hambanya. Tidak ada kata susah dan sulit bagi Allah Ta’ala, semuanya mudah dan ringan bagi-Nya.

Bila ia dihadapkan dengan kemaksiatan, ia bersabar dengan cara menahan diri darinya sehingga ia dapat mnenjaga keimanan dan katqwaannya dari noda-noda kemaksiatan dan syahwat. Oleh karena itu tatkala Allah Ta’ala menceritakan kisah Nabi Yusuf ‘alaihissalam Allah berfirman:

إنه من يتق ويصبر فإن الله لا يضيع أجر المحسنين

“Sesungguhnya barang siap yang bertaqwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (Yusuf: 90)

Ibnul Qayyim berkata: “Dengan kesabaran, bisikan syahwat dapat ditinggalkan, dan dengan keyakinan berbagai syubhat dapat ditepis.” (I’ilamul Muwaqi’in 1/137)

Dan bila sedang menjalankan keta’atan, ia bersabar, sehingga tidak luntur semangat dan keimanannya karena berbagai aral dan rintangan yang menghadang setiap sepak terjangnya.

عن خباب بن الأرت رضي الله عنه قال: شكونا إلى رسول الله صلى الله عليه و سلم وهو متوسد بردة له في ظل الكعبة، قلنا له: ألا تستنصر لنا؟ ألا تدعو الله لنا؟ قال: كان الرجل فيمن قبلكم يحفر له في الأرض، فيجعل فيه، فيجاء بالمنشار فيوضع على رأسه، فيشق باثنتين وما يصده ذلك عن دينه، ويمشط بأمشاط الحديد ما دون لحمه من عظم أو عصب، وما يصده ذلك عن دينه. والله ليتمن هذا الأمر حتى يسير الراكب من صنعاء إلى حضرموت، لا يخاف إلا الله أو الذئب على غنمه، ولكنكم تستعجلون.) رواه البخاري

“Dari sahabat Khabab bin Al Arat rodiallahu’anhu, ia menuturkan: Kami mengeluh kepada Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, sedangkan beliau dalam keadaan berebah dengan berbantalkan bajunya di bawah Ka’bah, kami berkata kepadanya: Tidakkah engkau memohonkan pertolongan untuk kami? Tidakkan engkau berdoa kepada Allah untuk kami? Beliau menjawab: Dahulu salah seorang sebelum kalian, digalikan untuknya lubang di bumi, kemudian ia ditanam di dalamnya, kemudian didatangkan untuknya gergaji, dan kemudian diletakkan di kepalanya, kemudian kepalanya dibelah menjadi dua, akan tetapi hal itu tidaklah dapat menghalang-halangainya dari agamanya, dan (yang lain) disisir dengan sisir besi dari bawah daging, sehingga nampaklah tulang belulangnya atau urat-uratnya, dan itu tidaklah dapat menghalang-halanginya dari agamanya. Sungguh demi Allah, urusan ini (agama ini) akan menjadi sempurna hingga akan ada seseorang yang mengendarai kendaraannya dari San’a’ hingga Hadraumaut, sedangkan ia tidak takut kecuali dari Allah atau serigala yang akan menerkam kambingnya. Akan tetapi kalian terburu-buru.” (Bukhori)

Allah Ta’ala berfirman:

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ

“Dan Kami jadikan diantara mereka para pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, tatkala mereka bersabar dan mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (As Sajdah: 24)

Ibnu Taimiyyah berkata: “Maka dengan kesabaran dan keyakinan, kepemimpinan dalam urusan agama dapat dicapai.” (Majmu Fatawa 3/358)

Ibnul Qayyim juga berkata: “Allah mengabarkan bahwa Ia telah menjadikan dari mereka (pengikut Nabi Musa ‘alaihissalam) sebagai para pemimpin yang dijadikan sebagai panutan oleh orang setelah mereka; berkat kesabaran dan keyakinan mereka; karena hanya dengan kesabaran dan keyakinanlah kepemimpinan dalam urusan agama dapat dicapai.” (I’ilamul Muwaqi’in 4/135)

Itulah hal pertama yang harus anti lakukan dalam menghadapi permasalahan anti ini.

Kedua: Anti harus senantiasa dan banyak-banyak berlindung kepada Allah Ta’ala dari godaan setan dan bisikannya, yaitu dengan cara membaca ta’awudz:

أَعُوْذُ باللهِ مِنَ الشَّيطَانِ الرَّجِيْمِ

“Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.”

Sebab bisikan dan godaan untuk bermaksiat itu datangnya adalah dari setan, sehingga dengan kita banyak-banayk berlindung kepada Allah dari godaannya, yaitu dengan membaca ta’awudz semacam ini, niscaya kita akan terjauhkan dari godaan dan kejahatannya.

Allah Ta’ala berfirman:

وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللّهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Dan bila engkau ditimpa sesuatu godaan setan, maka berlindunglah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.” (Al A’araf: 200)

Ketiga: Senantiasa membaca dzikir pagi dan sore, dan sebelum dan sesudah tidur, sebelum makan, setelah makan, ketika menutup dan membuka pintu rumah, masuk WC dan keluar darinya dst. Untuk mengetahui bacaan-bacan dzikir yang dimaksud dan diajarkan oleh Nabi shollallahu’alaihiwasallam silahkan membeli buku (Do’a & Wirid Mengobati Guna-Guna dan Sihir Menurut Al Qur’an dan As Sunnah) yang disusun oleh Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawwas.

Diantara yang seyogyanya anti lakukan ialah senantiasa membaca ayat kursi sebelum tidur dan seusai sholat fardhu.

Sebagaimana saya anjurkan agar anti senantiasa membaca Al Qur’an di rumah tempat tinggal anda, karena dengan cara ini setan tidak akan dapat masuk ke rumah kita.

Keempat: banyak-banyak berdoa kepada Allah agar diberi kesucian jiwa, dan dijauhkan dari akhlaq yang tercela, diantara doa-doa yang diajarkan Nabi shollallahu’alaihiwasallam adalah sbg:

اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الْأَخْلاَقِ وَالْأَعْمَالِ وَالْأَهْوَاءِ. رواه الترمذي والحاكم والطبراني

“Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari akhlaq, amalan, dan hawa nafsu yang buruk.” (Riwayat At Tirmizy, Al Hakim, dan At Thabrani)

Dan akan lebih efektif bila anti senantiasa melakukan sholat malam, dan setelahnya berdoa kepada Allah Ta’ala agar diberikan kesucian jiwa dan dikaruniai keistiqomahan dalam beragama, dan dikaruniai seorang suami yang sholeh yang dapat membimbing anti kepada kehidupan seorang muslimah yang sejati.

Kelima: Senantiasa bersahabat dengan wanita-wanita yang sholihah, dan jangan sekali-kali pernah menyendiri atau berkawan dengan wanita yang kurang baik. Jangan sampai bisikan yang ada di hati anti ini malah menjadikan anti menyendiri, karena semakin anti menyendiri, maka godaan ini akan semakin kuat, dan semakin anti berkawan dengan wanita-wanita baik yang senantiasa berbicara dengan hal-hal baik, dan tidak sekedar omong kosong, maka dengan izin Allah godaan setan akan semakin berkurang. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:

ما من ثلاثة في قرية فلا يؤذن ولا تقام فيهم الصلوات الا استحوذ عليهم الشيطان عليك بالجماعة فإنما يأكل الذئب من الغنم القاصية. رواه أحمد وأبو داود وغيرهما وصححه الألباني

“Tidaklah ada tiga orang manusia di suatu desa kemudian tidak dikumandangkan azan dan tidak juga didirikan sholat berjama’ah, melainkan mereka itu telah dikuasai oleh setan. Hendaknya engkau senantiasa bersama jama’ah (jama’ah sholat) karena srigala hanyalah memakan kambing yang menyendiri.” (Riwayat Ahmad, Abu dawud dll, dan dishahihkan oleh Al Albani)

Anti harus yakin bahwa bagi seorang yang beriman kepada Allah Ta’ala dan hari akhir tidak dibenarkan untuk merasa bahwa dirinya itu kotor dan tidak layak menjadi orang baik. Sebab setiap manusia diciptakan di dunia ini telah dibekali kesiapan untuk menjadi orang baik (dalam keadaan fitrah/suci), hanya saja lingkungan dan pendidikan serta godaan setanlah yang telah merusak fitrah baiknya.

عن أبي هريرة رضي الله عنه أنه كان يقول: قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : (ما من مولود إلا يولد على الفطرة فأبواه يهودانه وينصرانه ويمجسانه، كما تنتج البهيمة بهيمة جمعاء، هل تحسون فيها من جدعاء) متفق عليه

“Dari sahabat Abu Hurairah rodiallahu’anhu, ia menuturkan: Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam: Tidaklah ada seorang yang dilahirkan melainkan dilahirkan dalam keadaan fitrah (muslim) maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya yahudi, atau nasrani, atau majusi. Perumpamaannya bagaikan seekor binatang yang dilahirkan dalam keadaan utuh anggota badannya, nah apakah kalian mendapatkan padanya hidung yang dipotong?” (Muttafaqun ‘alaih)

Jadi sebenarnya anti memiliki fitrah yang baik, dan normal, akan tetapi karena pengaruh pendidikan atau mungkin lingkungan atau lainnya yang mempengaruhi cara berfikir anti. Oleh karena itu Anti harus mengobarkan tekad dan semangat anti untuk mengembalikan fitrah anti sebagai seorang wanita yang sempurna.

Bila Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam mengambarkan bahwa pada mulanya setiap orang dilahirkan dalam keadaan beragama islam, mengakui keesaan Allah, akan tetapi karena pengaruh lingkungan, ia menjadi yahudi, nasrani, dan majusi, padahal dosa berpindah agama lebih besar dari pada dosa melakukan perilaku kaum Nabi Luth ‘alaihissalam, maka demikian jugalah yang menimpa diri anti, anti telah terpengaruh dengan faktor luar dari diri anti sehingga menjadikan anti lebih suka kepada sesama jenis dari pada lawan jenis.

Bila orang yang telah berubah fitrahnya sehingga beragama yahudi, nasrani atau majusi dapat berubah dan kembali kepada fitrahnya, yaitu dengan belajar, dakwah, dan memohon hidayah dari Allah, maka anti lebih memungkinkan untuk kembali kepada fitrah anti yang semula. Kuncinya hanya ada di hati anti, bila anti serius memohon petunjuk kepada Allah, dan disertai dengan upaya yang serius, maka dalam waktu yang amat singkat fitrah anti akan kembali suci dan bersih.

Keenam: Lakukanlah kegiatan-kegiatan yang bersifat feminim/keibuan, misalnya mengasuh anak kecil (keponakan, atau adik, atau lainnya), memasak, berdandan mempercantik diri (khusus ketika berada di dalam rumah), menjahit, membuat karangan bunga, dll. Serta hindari segala perbuatan dan perilaku yang biasa dilakukan oleh lawan jenis, misalnya mengendarai motor, mengenakan celana panjang walaupun di rumah, sendal laki-laki, atau yang serupa.

Ketujuh: Kenali betapa bahagianya kehidupan seorang wanita yang telah berumah tangga, telah dikaruniai anak keturunan yang sholeh, pandai, cakep, berbakti pada orang tua. Tidakkah anti iri dengan keadaan wanita tersebut yang hidup penuh dengan kebahagiaan sebagai ibu rumah tangga, istri, pengasuh anaknya sendiri bukan anak angkat. Dan betapa bangganya dan berbuanga-bunganya hati anti bila suatu saat di hari yang cerah, anak anti pulang dari sekolah dengan membawa berita gembira berupa kenaikan kelas anak anda dengan prestasi yang memuaskan, misalnya rangking satu di kelas, atau yang serupa.

Kedelapan: Diantara jalan yang harus anti tempuh guna membentengi diri anti ialah dengan cara mengetahui dan memikirkan dampak jelek dan buruk yang akan menimpa orang yang menyelisihi fitrahnya, baik dampak buruk yang akan timbul dalam tempo dekat atau jauh, diantaranya: betapa besarnya rasa malu yang akan anti dan keluarga anti hadapi bila perbuatan maksiat itu diketahui orang lain. Bagaimanakah masa depan anti kelak, baik masa depan secara sosial, atau kejiwaan, dimana bila seorang wanita tidak menikah dengan lelaki maka ia tidak akan pernah punya anak keturunan yang akan menjaga dan melayaninya di masa tua, dan mendoakan untuknya sepeninggalnya kelak. Belum lagi betapa besarnya dosa yang akan anti tanggung bila anti hanyut dengan godaan setan ini.

Sebagai gambarannya: Dalam syari’at islam, orang yang melakukan penyelewengan fitrah semacam ini hukumannya adalah dibunuh, dan pembunuhannya dengan cara dilempar dari gedung yang tinggi hingga mati, sebagian ulama’ berpendapat dibunuh dengan cara dijatuhi dinding hingga mati, sebagian lain dengan cara dipenggal lehernya. Dan saya yakin anti tahu bagaimana Allah mengazab kaum Nabi Luth ‘alaihissalam, yaitu dengan cara diangkat bumi mereka, sehingga sampai ke langit dunia, kemudian dibalikkan, sehingga mereka semua binasa tertimpa bumi mereka sendiri, sampai-sampai hingga saat ini bumi yang dahulu menjadi tempat tinggal mereka dikenal dengan laut mati, sebuah laut yang tidak ada kehidupannya sedikitpun, tidak ada ikan, tidak ada binatang laut lainnya.

Belum lagi azab yang amat pedih yang telah Allah siapkan kelak di akhirat bagi pelaku kemaksiatan semacam yang pernah dilakukan oleh kaum Nabi Luth ‘alaihissalam.

Ukhti fillah, besarkan hati anti, bulatkan tekad anti dan kobarkan semangat anti untuk kembali kepada fitrah. Gantungkanlah harapan anti hanya kepada Allah Ta’ala. Angkatlah kedua telapak tangan anti seusai anti sholat dan pada malam hari guna memohon hidayah dan perlindungan kepada Allah Ta’ala dari godaan setan yang terkutuk dan bisikan nafsu yang tidak baik.

Kesembilan: Adapun rencana anti untuk menikah tapi tidak hidup serumah dengan calon suami anti, maka menurut hemat saya itu tidak perlu dilakukan, sebab saya khawatir bila anti dikecewakan oleh calon suami anti, malah semakin memperburuk keadaan dan perasaan anti. Cobalah kiat-kiat yang telah saya jabarkan di atas dengan sepenuh hati, semoga anti berhasil mengusir belenggu setan yang telah melilit dalam sanubari anti.

Tak lupa, saya juga turut berdoa untuk anti, semoga Allah Ta’ala mensucikan jiwa anti dan menjaga kehormatan anti serta melindungi anti dari godaan setan dan bisikan hawa nafsu yang dimurkai Allah. Wallahu a’lam bis showab.

***

Penanya: Seorang Hamba Allah
Dijawab oleh: Ustadz Muhammad Arifin Badri
(Doktor Universitas Islam Madinah, Madinah, Saudi Arabia)

Sumber: muslim.or.id

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh,
Segala puji bagi Alloh Rabb semesta alam. Tidak ada Ilah yang berhak disembah dengan benar kecuali hanya Alloh subhanahuwata’ala. Sholawat dan salam semoga terlimpah kepada nabi Muhammad shalallohu ‘alaihi wasallam, juga kepada seluruh keluarga, sahabat beliau dan kaum Muslimin yang mengikuti beliau dengan benar hingga hari kiamat tiba.

Langsung saja,
Alhamdulillah ana telah mengerti mengenai hukum sholat di masjid yang ada kuburnya, yaitu makruh (yang tidak sampai pada haram) namun sholatnya tidak sah. Yang menjadi masalah bagi ana kemudian adalah keadaan yang tidak memungkinkan bagi ana untuk mencari masjid lain.

Untuk sebagai gambaran, bahwa masjid itu ada di desa ana di Riau. Letak desa ana terpisahkan oleh sungai-sungai. Sehingga satu-satunya transportasi adalah melalui air yaitu berupa speedboat, kapal/perahu, atau sampan (sejenis kano). Dan alat-alat transportasi inipun tidak setiap saat ada dan siap mengangkut penumpang, melainkan ada jadwalnya, (kecuali jika dimiliki sendiri). Oleh karena geografis desa ana itu tersendiri, maka untuk pergi ke tempat lain (misalnya ke desa lain apalagi ke kota) harus menempuh perjalanan yang menurut ana menyulitkan. Yang menjadi masalah bagi ana adalah saat ingin mendirikan sholat berjama’ah di masjid (terutama sholat jum’at), ana terhalangi oleh keadaan masjid di tempat ana yang dikelilingi kuburan. Sementara masjidnya hanya itu saja dan untuk mencari masjid lain sangat menyilitkan. Baik karena kendala geografis, transportasi, maupun keadaan. Apalagi rasanya ana tidak mungkin pergi (keluar dari desa) pada hari jum’at, karena hari jum’at di desa ana merupakan hari pasaran. Dan pada hari jum’at keberadaan ana dibutuhkan oleh orang tua untuk membantu perdagangan mereka.

Seandainyapun ana mampu mencari masjid lain di luar desa ana, itupun tidak menjamin masjidnya bebas dari kuburan. Sebab pada umumnya di daerah ana sudah menjadi hal wajar bila masjid didampingkan dengan kuburan (na’udzubillah).

Jika ana tidak melaksanakan sholat (khususnya jum’atan) di masjid itu, namun menggantinya dengan sholat dzuhur di rumah, ana sangat khawatir akan timbul fitnah besar di masyarakat terhadap ana dan keluarga ana. Dan ana sangat yakin itu akan terjadi jika ana melakukannya (tidak sholat di masjid itu).

Jadi ana mohon antum membantu ana. Apa yang dapat ana lakukan dan sebaiknya ana lakukan ketika nanti ana kembali di sana (desa) setelah selesai studi di Yogya ini. Jazakumullahukhair atas jawaban dan bantuan antum. Semoga Alloh membalas kebaikan antum dengan sebaik-baik balasan di sisi-Nya, amin.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Jawaban Ustadz:

بسم الله الرحمن الرحيم
إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونتوب إليه ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله

Akhi yang semoga dimuliakan Allah, Rasulullah shallahu’alaihi wasallam telah melarang ummatnya untuk shalat menghadap kearah kuburan dalam hadistnya,

لا تصلوا إلى قبر ولا تصلوا على قبر

“Janganlah kalian shalat mengarah ke kuburan dan diatas kuburan.” (HR. Muslim 3/62, Abu Dawud 1/71)

Artinya Rosulullah melarang ummatnya shalat menghadap ke arah kiblat yang di sana ada kuburannya, tidak ada bedanya antara kuburan itu satu saja atau lebih, dan ini merupakan penyerupaan dengan orang yahudi ataupun nashara, karena merupakan kebiasaan mereka sujud menghadap kuburan Nabi-Nabi mereka, menjadikannya sebagai kiblat dalam rangka pengagungan atas mereka dan menjadikannya sebagai berhala yang mereka sembah, oleh sebab itu Nabi shallallahu’alaihi wa sallam melarang ummatnya melakukan hal yang serupa dengan mereka dan Allah malaknati bagi yang melakukannya:

عن زيد بن ثابت أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال لعن الله ( وفي رواية : قاتل الله ) اليهود اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد

“Allah melaknati orang-orang yahudi yang menjadikan kuburan para Nabi mereka sebagai masjid.” (HR. Ahmad 5/184,186)

Adapun sah tidaknya shalat di masjid yang ada kuburannya, maka disini ada khilaf diantara para Ulama’ ada yang membatilkan secara mutlak seperti Imam Ahmad, Ibnu Taimiyyah dan ada yang memperincinya, karena seorang yang shalat di masjid yang ada kuburannya tidak keluar dari dua keadaan:

  1. Meniatkan shalat di situ karena ada kuburannya dan bertabarruk dengannya sebagaimana yang dilakukan sebagian besar masyarakat, jelas ini adalah terlarang dan tidak ragu lagi tentang kebatilannya, karena larangan dari sesuatu, menunjukan batilnya sesuatu yang dilarang.
  2. Adapun shalat di masjid tersebut tanpa disertai dengan niat di atas maka ini makruh hukumnya karena untuk mengatakan shalatnya batil membutuhkan dalil khusus adapun dalil bagi keadaan pertama tidak mungkin bisa ditarik untuk menghukumi keadaan ke dua, karena dibangunnya masjid di atas kuburan atau menghadap ke arahnya diniatkan untuk shalat menghadapnya dan bertabarruk dengannya, oleh karena itulah dilarang shalat ke arahnya, karena ini membawa kepada bentuk pengagungan, mungkin karena inilah jumhur ulama’ menghukumi makruhnya shalat di masjid yang ada kuburannya, lebih lagi kalau kuburannya di arah kiblat. (Lihat kitab Tahdzir Sajid Min Ittikhad al-Qubur Masajid karya Syaikh Albani Rahimahullahu hal. 121).

Dan sesuai dengan pertanyaan antum, kalau memungkinkan bagi antum shalat di tempat lainnya, maka shalatlah di tempat lainnya, kalau tidak, bertakwalah kepada Allah semampu antum, Wallahu a’lam.

***

Penanya: Nidzom Bin Satari Al-Lajawy
Dijawab Oleh: Ustadz Abu Sa’ad Muhammad Nur Huda, Lc., M.A.

Sumber: muslim.or.id

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum,
Ustadz tolong dijelaskan tentang hukum Keluarga Berencana, cara mendakwahkannya, dan berikan permasalahan KB terkini. Sebelumnya ana ucapkan terima kasih.

Jawaban Ustadz:

Bismillahirrahmanirrahim.
Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga terlimpahkan kepada nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, sahabat dan seluruh orang yang mengamalkan sunnahnya hingga hari kiamat.

Langsung saja, KB (Keluarga Berencana, yaitu membatasi jumlah anak, hanya dua saja, atau tiga atau lainnya), suatu kata-kata manis, indah, nan menggiurkan, akan tetapi sebenarnya merupakan makar dan perangkap yang dipropagandakan oleh musuh-musuh Alloh, dan kemudian diikuti oleh banyak kaum muslimin yang kurang menyadari akan maksud dan kandungannya.

Untuk sedikit mengetahui batu di balik udang dari alasan program KB ini, maka saya harapkan kepada para pembaca untuk mengingat kemudian merenungkan alasan yang senantiasa dijadikan dasar bagi program ini: yaitu alasan takut tidak mampu membiayai anak-anak, dan takut tersibukkan dengan mendidik mereka. Saudara-saudaraku yang semoga senantiasa dirahmati Alloh, renungkanlah firman Alloh Ta’ala berikut ini:

“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepada kamu.” (QS. Al Isra’: 31)

Saudara-saudaraku, kita sebagai umat yang beriman kepada Alloh ta’ala, Dzat Yang Maha Memberi rezeki, hendaknya juga percaya bahwa ketika Alloh menciptakan manusia, Alloh Ta’ala juga telah mempersiapkan untuknya segala yang akan ia dapatkan selama hidup di dunia, sehingga tidaklah ada sesuap makanan yang masuk ke dalam mulutnya, melainkan sebagian dari rezeki yang telah Alloh tuliskan untuknya. Alloh ta’ala tidak pernah menciptakan satu manusia pun tanpa jatah rezeki, bahkan semenjak kita masih di dalam perut ibu kita masing-masing, Alloh telah mengutus seorang malaikat untuk menuliskan jatah rezeki kita:

“Sesungguhnya penciptaan setiap orang dari kamu di dalam perut ibunya selama 40 hari dalam bentuk air mani, kemudian berubah menjadi segumpal darah semasa itu juga (selama 40 hari), kemudian menjadi segumpal daging semasa itu juga (selama 40 hari), kemudian Alloh mengutus seorang malaikat, dan ia diperintahkan dengan empat hal, dan dikatakan kepadanya: tuliskanlah amalannya, rezekinya, ajalnya, dan bahagia atau sengsara.” (Muttafaqun ‘Alaih)

Inilah kejadian yang sebenarnya terjadi, yaitu masing-masing kita telah mendapat jatah rezeki, yang tidak mungkin berkurang atau bertambah, oleh karena itu tidak ada alasan untuk khawatir akan kekurangan rezeki karena memiliki banyak anak. Masing-masing anak kita lahir dengan membawa jatah rezekinya sendiri-sendiri. Kita tidak akan mengurangi jatah rezeki anak kita, sebagaimana anak kita tidak akan mengurangi jatah rezeki kita. Bahkan tidaklah ada orang yang mati, melainkan bila jatah rezekinya telah ia dapatkan semuanya dengan sempurna:

“Sesungguhnya Ar Ruh Al Amin (Malaikat Jibril) telah membisikkan dalam kalbuku, bahwasanya tidaklah ada seorang jiwa pun yang mati, hingga ia benar-benar telah mengenyam seluruh rezekinya, maka hendaknya kalian membaguskan permohonan.” (As Syafi’i, Ibnu Majah, Al Bazzar, At Thabrany, dan Al Baihaqi, dan dishahihkan oleh Al Albani)

Sehingga alasan program KB bertentangan atau bertujuan mengikis habis dan tuntas keimanan kepada Alloh, dan takdir bahwa rezeki telah diatur dan ditentukan oleh Alloh ta’ala.

Apalagi bila kita menelusuri sejarah awal mulanya program KB di dunia, dan penerapan program ini di berbagai negara. Program ini dicetuskan untuk membatasi dan menghambat pertumbuhan umat islam, sehingga melemahkan kekuatan mereka. Oleh karena itu program ini dengan keras ditentang oleh gereja, dan tidak diterapkan di kebanyakan negara-negara Nasrani dan Yahudi.

“Nikahilah olehmu wanita yang penyayang dan subur (dapat melahirkan banyak anak) karena aku akan berbangga-bangga dengan kalian di hadapan umat-umat lain.” (Ahmad, Abu Dawud dan disahihkan oleh Al Albani)

Jumlah kaum muslimin yang besar merupakan salah sumber kekuatan dalam menghadapi musuh-musuh agama Islam, oleh karena itu kita berkewajiban menumbuhkan generasi penerus dan pejuang yang memperjuangkan agama, baik melalui pendidikan aqidah, atau melalui memperbanyak jumlah generasi penerus umat islam.

Adapun teori yang mengatakan bahwa perkembangan manusia lebih cepat dibanding perkembangan ekonomi, sampai-sampai perbandingannya 1 berbanding 2 atau lebih, ini merupakan kedustaan belaka. Sebab bila kita amati, kenyataan masyarakat di sekitar kita, niscaya kita dapatkan bahwa teori ini dusta dan tidak sesuai dengan kenyataan. Sebab betapa banyak jumlah orang kaya yang hartanya melimpah ruah, sedangkan orang-orang miskin jumlahnya lebih sedikit dibanding mereka. Akan tetapi karena orang-orang kaya tidak mau menjalankan kewajiban menyantuni orang miskin, baik melalui zakat yang wajib atau shadaqoh sunnah, maka terjadilah kesenjangan sosial yang tidak berbanding. Seandainya kewajiban zakat ditunaikan dengan baik, niscaya berbagai kemiskinan dan permasalahan terkait akan terkendalikan.

“Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa dan menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.” (QS. Al A’raf: 156)

Pada ayat di atas Alloh menegaskan bahwa salah satu syarat diturunkannya rahmat dan kemurahan Alloh ta’ala ialah menunaikan zakat. Sehingga bila seluruh kaum muslimin yang memiliki kekayaan sudi menunaikan zakat mereka, pasti rahmat Alloh ta’ala akan senantiasa menyertai kehidupan kita. Dan bila rahmat Alloh telah menyertai kehidupan kita, niscaya kemiskinan dan berbagai problematika akan dapat dituntaskan.

Akan tetapi pada kenyataannya, kita enggan untuk menunaikan zakat, sehingga yang turun dari langit bukanlah rahmat dari Alloh, akan tetapi bencana dan petaka. Hujan yang turun dari langit bukannya membawa kebaikan, akan tetapi membawa bencana, berbagai bencana alam yang diakibatkan oleh hujan sering menimpa negeri kita. Dan di lain kesempatan, petaka kekeringan sering menimpa berbagai daerah di negeri kita, padahal, dahulu negeri kita terkenal sebagai negeri yang subur dan makmur. Fenomena ini seakan-akan membuktikan sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam:

“Tidaklah mereka enggan menunaikan zakat harta mereka, melainkan mereka akan dihalangi untuk mendapatkan hujan dari langit, dan kalau bukan karena binatang ternak, niscaya mereka tidak akan pernah diberi hujan.” (HR. Ibnu Majah dan Al Baihaqi, dan disahihkan oleh Al Albani)

Kita semua dapat membayangkan berapa besar jumlah zakat yang akan terkumpul dari seluruh kaum muslimin, dan berapa banyak kaum fakir dan miskin yang akan terentaskan dari kemiskinan.

Dan bila kita, menginginkan kemakmuran yang sejati, maka hendaknya kita menyingkirkan ajaran syirik, kemaksiatan, dan menggantikannya dengan keimanan, tauhid dan amal saleh. Bila hal ini telah terwujud, maka kita -insya Alloh- akan dapat menggapai janji Alloh ta’ala berikut:

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al An’am: 82)

Dan janji berikutnya:

“Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al A’raf: 96)

Saudara-saudaraku semuanya, hendaknya kita senantiasa mengembalikan segala urusan kita kepada ajaran syariat kita, agar kita tidak terperangkap oleh jaring-jaring setan dan pengikutnya.

Sebelum jawaban ini saya tutup, saya akan mengingatkan para pembaca bahwa hakikat KB adalah seperti yang telah saya isyaratkan dengan ringkas di atas, yaitu membatasi jumlah anak. Dan telah saya jelaskan bahwa ini tidak boleh dan bertentangan dengan syariat Islam. Akan tetapi walau demikian, para ulama’ membedakan antara membatasi dengan mengatur jarak kelahiran, dengan tujuan agar lebih ringan dalam mengatur dan merawat mereka, atau karena alasan medis, misalnya karena ada gangguan dalam rahim atau yang serupa, (ingat sekali lagi: bukan untuk membatasi jumlah anak). Bila yang dilakukan adalah semacam ini, yaitu mengatur jarak kelahiran anak, dan dengan tujuan seperti disebutkan, maka para ulama’ membolehkannya, dan tidak haram. Karena tidak bertujuan untuk memutus keturunan, atau membatasi jumlahnya. Wallohu’ a’lam bisshowab.

***

Penanya: Agung DN.
Dijawab Oleh: Ustadz Muhammad Arifin Badri

Sumber: muslim.or.id

Tanya jawab ini merupakan lanjutan dari pembahasan sebelumnya mengenai Hukum Memakan dan Jual Beli Ular. Redaksi menerima cukup banyak tanggapan dari pembaca, terutama dari member Pengusaha Muslim di Facebook. Beberapa tanggapan tersebut kami pilih untuk kami ajukan kembali ke ustadz. Berikut ini adalah jawaban ustadz terhadap berbagai tanggapan tersebut:

Tanggapan 1:

Kalau dibikin obat gimana?

Jawaban 1:

Sebelum saya menjawab hukum menggunakan ular sebagai bahan pengobatan, maka ada hal lain yang sepantasnya anda camkan baik-baik. Dengan memahami permasalahan ini, saya harapkan anda dapat memahami hikmah berbagai syari’at Islam, agama yang anda cintai ini.

Saudaraku, dalam mengarungi kehidupan di dunia ini, anda dituntut untuk dapat selalu mengklasifikasi berbagai urusan anda berdasarkan kemanfaatannya. Dan kemudian berdasarkan klasifikasi tersebut, anda bersikap. Bila hal ini gagal anda lakukan dengan baik, nisaya anda akan terjerumus dalam perbuatan sia-sia atau bahkan kebinasaan.

Bila anda memikirkan dengan jernih segala urusan anda, maka secara teori anda dapat mengklasifikasikannya ke dalam enam kelompok besar.

Pertama: Suatu hal yang baik seratus persen dan padanya tidak ada keburukan sedikitpun dari segala sisi pandang dan pertimbangan. Bila anda mencari contoh nyata dari bagian pertama ini, niscaya anda hanya menemukan satu contoh nyata, yaitu Allah Ta’ala. Hanya Allah-lah yang bersifat baik dari segala pertimbangan dan sisi pandang. Tiada kejelekan sedikitpun pada diri Allah, sifat dan perbuatan-Nya. Oleh karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan dalam salah satu doa iftitahnya:

وَالْخَيْرُ كُلُّهُ في يَدَيْكَ وَالشَّرُّ ليس إِلَيْكَ. رواه مسلم

“Dan seluruh kebaikan berada di Kedua Tangan-Mu, sedangkan tiada kejelakan sedikitpun pada-Mu.” (Riwayat Muslim)

Segala kebaikan yang ada, baik di dunia dan akhirat adalah cerminan dari kebaikan Allah Ta’ala. Kepadanya seluruh makhluk memohon kebaikan dan kerahmatan. Darinyalah seluruh kabiakan berasal dan hanya kepada-Nyalah seluruh kebaikan akan kembali.

Kedua: Suatu hal yang buruk seratus persen, tanpa terdapat kebaikan sedikitpun padanya, dari segala pertimbangan dan sisi pandang. Bila anda berusaha mencari contoh nyata dari bagian kedua ini, niscaya tidak akan pernah berhasil. Mungkin ada yang berkata: bukankah Iblis adalah sumber dan penggagas segala kejelekan? Maka anda perlu ingat bahwa keberadaan iblis di dunia ini mendatangkan berbagai hikmah dan manfaat yang sangat besar. Diantaranya adalah adanya jihad, terbuktinya kebenaran dari kebatilan, dan terbuktinya berbagai sifat Allah Ta’ala, misalnya sifat Pengampun, Maha pedih siksa-Nya dan masih banyak hikmah di balik penciptaan Iblis.

Mungkin juga anda akan berkata: neraka adalah contohnya. Akan tetapi bila kembali merenungkannya dengan seksama, niscaya anda akan mengetahui bahwa pada neraka terdapat banyak kebaikan, misalnya: neraka sebagai pembalasan atas orang-orang yang berbuat jahat, menjadi motivator orang-orang mukmin untuk beramal kebajikan, dan juga sebagai bagian dari perwujud nyata sifat Allah Yang Maha pedih siksa-Nya.

Kehidupan dunia dan juga akhirat adalah ciptaan Allah Ta’ala, dan urusan yang buruk tanpa ada kebaikannya sama sekali dari segala sisi pandang merupakan hal yang sia-sia. Dengan demikian, tidak mungkin hal itu terwujud di dunia ini, terlebih-lebih di akhirat. Yang demikian itu karena Allah Ta’ala menciptakan dunia beserta isinya, sarat dengan hikmah:

وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ بِالْحَقِّ

“Dan Dia-lah Yang menciptakan langit dan bumi dengan benar.” (Qs. Al An’aam: 73)

Ketiga: Suatu hal yang padanya tidak ada kebaikan dan juga tidak ada kejelekan sedikitpun. Bila anda berusaha mencari contoh konkrit dari bagian ini, niscaya anda tidak akan pernah mendapatkannya. Karena sesuatu yang tidak mengandung kebaikan dan juga tidak mengandung kejelekan adalah sia-sia. Sedangkan Allah Ta’ala tidaklah menciptakan sesuatu dengan sia-sia.

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاء وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا لاعِبِينَ

“Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya dengan bermain-main.” (Qs. Al Anbiya': 16)

Keempat: Suatu hal yang padanya tercampur kebaikan dan kejelekan, akan tetapi kebaikannya lebih banyak dibanding kejelekannya.
Contoh konkrit dari bagian ini sangatlah banyak dan mudah bagi anda untuk menemukannya. Misalnya perniagaan yang anda geluti, padanya terdapat keuntungan dan kerugian, lelah, dan pengorbanan.

Kelima: Suatu hal yang padanya tercampur kebaikan dan kejelekan, akan tetapi kejelekannya lebih banyak dibanding kebaikannya. Bagian ini dapat dicontohkan dengan minuman khamer, sebagaimana Allah Ta’ala firmankan pada ayat berikut:

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِن نَّفْعِهِمَا

“Mereka bertanya kepadamu tentang khamer dan perjudian. Katakanlah: Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, sedangkan dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.” (Qs. Al Baqarah: 219)

Dan berbagai kemaksiatan di dunia ini adalah contoh nyata darinya. Betapa tidak, kemaksiatan yang ada biasanya selaras dengan hawa nafsu dan kepuasan jiwa manusia, akan tetapi di balik kepuasan dan kenikmatan tersebut terdapat kesengsaraan dan penderitaan yang lebih besar. Dimulai dari kesengsaraan dunia hingga akhirat.

Keenam: Suatu hal yang padanya tercampur kebaikan dengan kejelekan, sedangkan kadar kebaikannya seimbang dengan kejelekannya. Bila anda berusaha mencari contoh konkrit dari bagian ini, niscaya anda tidak akan pernah menemukannya, bagian ini hanya ada pada persepsi manusia semata. Keterbatasan ilmu kitalah, yang menjadikan kita tidak mampu memilah antara kebaikan dan kejelekan suatu urusan, sehingga sekilas terkesan sama. Padahal bila dipikirkan dan diteliti lebih lanjut, niscaya akan terbukti manakah yang lebih dominan dari keduanya. (Baca Syifaa’ul ‘Alil karya Ibnul Qayyim 183 dst.)

Bila kita telah mengklasifikasi setiap urusan kita demikian ini halnya, niscaya kita tidak mudah terkecoh dengan kemanfaatan suatu barang tanpa membandingkannya dengan kemadharatan yang ada padanya. Dengan klasifikasi demikian ini, kita dapat menentukan sikap yang benar dalam segala urusan kita. Sebagaimana dengan klasifikasi ini, kita tidak akan terkejut lalu salah tingkah bila di kemudian hari menemukan secuil kebaikan pada hal-hal yang diharamkan Allah Ta’ala.

Saudaraku! Ketahuilah, bahwa Allah Ta’ala menurunkan Syari’at Islam ini sepenuhnya demi kemasalahatan anda. Tidak ada sedikitpun dari Syari’at Islam yang mengakibatkan kesengsaraan bagi anda. Karenanya tidaklah ada kebutuhan atau kepentingan yang anda butuhkan, melainkan pada hal-hal yang dihalalkan dan disyari’atkan Allah telah terdapat jawaban yang memuaskan anda. Hanya saja yang menjadi kendala ialah: sejauh manakah penguasaan anda terhadap syari’at agama anda? Jangan-jangan anda bersikap salah akibat dari: tak kenal maka tak sayang.

Pemaparan singkat ini menjadi dasar bagi saya untuk menjawab pertanyaan pertama anda ini.

Ketahuilah bahwa setiap penyakit yang ada di dunia dan menimpa manusia, Allah menurunkan penawarnya, hanya kebodohan kitalah yang menjadi penyebab belum ditemukannya penawar tersebut.

Sahabat Jabir radhiallahu ‘anhu meriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda:

لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ فَإِذَا أُصِيبَ دَوَاءُ الدَّاءِ بَرَأَ بِإِذْنِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Setiap penyakit ada obatnya, dan bila telah ditemukan dengan tepat obat suatu penyakit, niscaya akan sembuh dengan izin Allah Azza wa Jalla.” (Riwayat Muslim )

Pada hadits lain riwayat Ibnu Mas’ud radhiallallahu ‘anhu,  beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ما أَنْزَلَ الله دَاءً إلا قد أَنْزَلَ له شِفَاءً عَلِمَهُ من عَلِمَهُ وَجَهِلَهُ من جَهِلَهُ. رواه أحمد والطبراني وصححه الحاكم

“Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit, melainkan telah menurunkan untuknya obat, hal itu diketahui oleh orang yang mengetahuinya dan tidak diketahui oleh orang yang tidak mengetahuinya.” (Riwayat Ahmad, At Thobrany dan dishohihkan oleh Al Hakim)

Berdasarkan dalil-dalil di atas, dan juga lainnya, sahabat Abdullah bin Mas’ud merangkumkan hukum Islam tentang pengobatan dengan berkata:

إِنَّ اللَّهَ لَمْ يَجْعَلْ شِفَاءَكُمْ فِيمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ

“Sesungguhnya Allah tidak pernah meletakkan kesembuhan/pengobatan kalian pada hal-hal yang telah Ia haramkan.” (Riwayat  Al Bukhari)

Bila demikian adanya, maka tidak dibenarkan bagi anda untuk berobat dengan hal-hal yang diharamkan termasuk ular. Karena sebagai seorang muslim yang beriman kepada Allah dan hari akhir, anda pasti beriman bahwa segala penyakit dan kesembuhan hanyalah Allah Yang menakdirkannya:

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ

“Dan bila aku sakit, maka hanya Dia-lah yang menyembuhkanku.” (Qs. As Syu’ara': 80)

Disamping itu, ketahuilah saudaraku, bahwa sebenarnya berbagai penyakit yang menimpa kita adalah akibat langsung dari ulah kita sendiri.

Qotadah berkata: “Telah sampai kepada kami bahwa tidaklah ada seseorang yang tergores oleh ranting, atau tergelincir kakinya atau terpelintir uratnya, melainkan akibat dari dosa yang ia perbuat. (Tafsir Ibnu Jarir 27/234, dan Tafsir Ibnu katsir 4/314.)

Kerenanya tidak pantas bila kita berusaha menyingkirkan akibat dari dosa kita dengan dosa lainnya.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dalam kitab tafsirnya bahwa Abul Bilaad merasa keheranan tatkala membaca firman Allah Ta’ala:

وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ

“Dan musibah apapun yang menimpamu, maka itu adalah akibat dari ulah tanganmu sendiri.” (Qs. As Syura: 30). Ia bertanya-tanya, bagaimana penerapan ayat ini pada dirinya, yang telah menderita buta mata sejak ia dilahirkan. Karena rasa herannya inilah ia bertanya kepada Al ‘Ala’ bin Bader: “Bagaimana penafsiran firman Allah Ta’ala:

وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ

“Dan musibah apapun yang menimpamu, maka itu adalah akibat dari ulah tanganmu sendiri,” padahal aku ditimpa kebutaan sejak aku masih bayi? Maka Al ‘Ala’ menjawab: “Itu adalah akibat dari dosa kedua orang tuamu.” (Tafsir Ibnu Abi Hatim 10/3279 & Tafsir Al Baghowi 7/355.)

Jelaslah bahwa ular atau lainnya tidak sepatutnya menjadi alternatif dalam pengobatan anda.

Saudaraku! ilmu kedokteran yang ada di masyarakat kita ini kebanyakannya datang dari orang-orang yang tidak memperdulikan hal dan haram, maka tidak heran bila produk pengobatannyapun tidak mengindahkan halal-haram. Oleh karena itu tidak sepantasnya anda yang beriman kepda Allah dan hari akhir, untuk mudah terperdaya dengan propaganda mereka bahwa pada ular terdapat khasiat demikian dan demikian.

Sudah saatnya keimanan anda berkobar untuk mengatakan bahwa kesembuhan hanyalah milik Allah, maka saya tidak akan menggapai kesembuhan Allah dengan melanggar kemurkaannya.

Bila anda janganlah anda tergiur dengan propaganda sebagian orang yang berkata: telah terbukti banyak pasien yang menggunakan pengobatan sari ular atau yang serupa, dan ternyata sembuh. Ada satu pengobatan yang saya yakin belum sepenuhnya anda gunakan. Apakah itu? Pengobatan itulah adalah doa di kegelapan sepertiga akhir malam. Angkatlah kedua tanganmu ke langit, mohonlah kesembuhan dari Allah, dan temukan jawabannya.

Tanggapan 2:

Bila kita dalam posisi dalam tidak menguntungkan dan hanya ada ular yang bisa kita makan bagaimana itu hukumnya, apabila kita dalam keadaan yang serba susah, semisal perut lapar dan tersesat di hutan?

Jawaban 2:

Bila yang dimaksud dengan kesusahan adalah benar-benar tidak ada makanan lain yang dapat dimakan, selain ular, dan bila tidak makan maka akan celaka alias binasa, maka pada keadaan semacam ini dibolehkan memakan barang haram, babi, bangkai, dan yang serupa.

إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنزِيرِ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللّهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلاَ عَادٍ فَلا إِثْمَ عَلَيْهِ إِنَّ اللّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang (yang ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al Baqarah: 173)

Akan tetapi bila yang dimaksud adalah susah mencari makanan yang lebih enak, maka tidak halal memakan barang haram, termasuk ular. Bila anda di hutan belantara, maka anda dapat memakan buah-buahan yang anda temui di sana, umbi-umbian atau dedaunan yang ada. Selama masih ada barang halal yang dapat anda gunakan untuk mempertahankan hidup, maka anda tidak dibenarkan untuk memakan barang haram.

Dan perlu diketahui bahwa dalam pengobatan penyakit, tidak ada yang disebut dengan keadaan darurat, sebab terlalu banyak obat alternatif yang halal. Terlebih-lebih tidak ada obat yang memberikan kesembuhan pasti, berbagai obat hanyalah memberikan efek kesembuhan yang bersifat praduga. Betapa banyak obat yang diyakini mampu mengobati suatu penyakit, akan tetapi betapa banyak pasien yang tidak sembuh dengannya.

Tanggapan 3:

Syeikh Sayyid Sabiq juga menyebutkan bahwa tidak boleh memperjual-belikan serangga, ular dan tikus kecuali apabila dapat memberikan manfaat.

Jawaban 3:

Ucapan syeikh Sayyid Sabiq di atas perlu dipahami dengan baik, sebab pada persyaratan pertama barang yang halal dijual, beliau menyebutkan bahwa barang yang boleh diperjual-belikan ialah barang yang suci. Dengan demikian memperjual-belikan barang najis tidak dibenarkan. Perlu diketahui bahwa bangkai ular, baik disembelih atau tidak adalah najis, karena ular termasuk binatang yang haram dimakan, sehingga bangkainya pasti najis, karena penyembelihan itu hanya berguna dan mensucikan binatang yang halal dimakan. Oleh karena itu, anjing atau harimau atau kucing atau babi yang disembelih tetap saja najis.

Terlebih-lebih telah jelas dalil yang menghalalkan untuk membunuh ular. Ini sebagai bukti bahwa ular termasuk binatang yang tidak dihargai alias tidak halal dimakan.

Saudaraku! anda mengetahui sepenuhnya bahwa keumuman sahabat dan bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang-orang miskin, sering menghadapi kekurangan bahan makanan, akan tetapi tidak pernah ada izin untuk memakan ular atau tikus atau yang serupa.

Tanggapan 4:

Pernah ana mendengar suatu hadits bahwa suatu waktu pernah ada ular yang masuk ke kediaman Rosulullah shallallahu alayhi wa alihi wasallam…, tetapi beliau mengusirnya.., bukan membunuhnya…, apakah benar ada hadits tersebut…,? kalau itu hadits shohih… apakah seluruh ular boleh di bunuh…, atau ada kriteria ular yang boleh di bunuh dan tidak boleh di bunuh?

Jawaban 4:

Perlu diingat bahwa hadits-hadits yang saya bawakan tentang izin membunuh ular, tidak berarti serta merta semua ular harus dibunuh, apalagi selanjutnya kita merasa berkewajiban untuk memburu seluruh ular dan memunahkannya. Coba kembali dibaca hadits-hadits tersebut.

Yang diperintahkan untuk dibunuh, setiap kali kita melihatnya ialah ular yang berwarna hitam, karena ular jenis ini senantiasa menyerang manusia dan bisanya sangat berbahaya, dapat mematikan manusia.

اقتلوا الأسودين في الصلاة الحية والعقرب

“Bunuhlah dua binatang berwarna hitam walaupun engkau sedang mendirikan sholat, yaitu ular dan kalajengking.” (Riwayat Abu Dawud)

Adapun hadits yang saudara sebutkan, maka itu adalah kasus khusus di madinah, dan memiliki alasan tersendiri:

إِنَّ بِالْمَدِينَةِ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ قَدْ أَسْلَمُوا فَمَنْ رَأَى شَيْئًا مِنْ هَذِهِ الْعَوَامِرِ فَلْيُؤْذِنْهُ ثَلاَثًا فَإِنْ بَدَا لَهُ بَعْدُ فَلْيَقْتُلْهُ فَإِنَّهُ شَيْطَانٌ. رواه مسلم

“Sesungguhnya di Madinah terdapat beberapa orang jin yang telah masuk Islam, maka barang siapa dari kalian menyaksikan seekor ular yang biasa berada/menghuni rumah, hendaknya ia memberinya peringatan sebanyak tiga kali atau tiga hari, bila setelah diberi peringatan tiga kali/hari, dan ia tidak jugaberanjak pergi, maka silahkan ia membunuhnya, karena itu adalah setan.” (Riwayat Muslim)

Dengan demikian tidak ada pertentangan antara hadits yang saudara sebutkan dengan apa yang saya sampaikan berupa dibolehkannya membunuh ular.

Tanggapan 5:

Kalau dirasa manfaatnya lebih banyak dari pada kemadharatanya “boleh” asalkan demi kemaslahatan dan kebaikan seperti membuat serum dan pelestariaan binatang karena semua yg dicipta Allah pasti demi keseimbangan alam yg lebih harmonis. Persoalan hadis yg dipakai dalil utk pengharaman kita harus memahami konteks masyarakat pd saat itu kemajuan budaya n ilmu pengetahuanya, dimana hadis tersebut muncul kata rasul “antum a’lamu bi umuuri duunyakum”.

Jawaban 5:

Apa  yang saudara sebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kalian lebih mengetahui tentang urusan dunia kalian”, maka itu juga harus dipahami bahwa sebagaimana mestinya. Karena hadits itu berkaitan dengan hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan syari’at atau yang hukumnya tidak dijelaskan  dalam syari’at. Karena hadits itu disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkaitan metode menggarap dan mengawinkan pohon kurma, sehingga hanya berlaku pada urusan yang semakna dengannya, tidak untuk semua urusan dunia. Buktinya, saya yakin saudara sepakat dengan saya bahwa urusan pernikahan, perniagaan, makanan dan lainnya adalah urusan dunia, walau demikian didapatkan banyak dalil yang memberikan batasan yang tidak boleh dilanggar.

Misalnya dalam hal pernikahan, lelaki wajib memberi mahar, bukan sebaliknya, pernikahan harus atas persetujuan wali wanita, tidak dibenarkan memperniagakan babi, khamer, dan juga tidak dibenarkan memakan bangkai, daging manusia dan lainnya.

Masalah pelestarian alam, maka itu bukanlah kewajiban anda. Asalkan anda mengindahkan syari’at Allah dalam segala aspek kehidupan anda, niscaya alam semesta akan lestari. Terjadinya kerusakan di alam semesta hanyalah akibat dari ulah manusia yang melanggar syari’at Allah, bukan dari ulah orang-orang yang mengamalkan syari’at. Dengan demikian tidaklah ada pelestarian alam yang sejati selain mengamalkan syari’at Allah dengan baik dan benar.

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan Allah).” (Qs. Ar Rum: 41)

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُواْ وَاتَّقَواْ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاء وَالأَرْضِ وَلَـكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ

“Andaikata penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Qs. Al A’raf: 96)

Masalah konteks kehidupan masyarakat dahulu, hanyalah dapat dijadikan dasar hukum dalam permasalahan-permasalahan yang ada kaitannya dengan adat istiadat. Adapun permasalahan yang tidak ada kaitannya dengan adat istiadat, maka kita tidak disyariatkan untuk mempertimbangkan adat-istiadat, baik yang berlaku pada zaman dahulu atau sekarang. Masalah aurat misalnya, tidak ada bedanya antara aurat orang arab dahulu dengan sekarang, sehingga walaupun saudara berada di Kuta Bali atau di Eropa, saudara harus menutup aurat sebagaimana ketika saudara berada di tengah-tengah umat Islam. Khamer adalah haram, dan tidak akan menjadi halal, walaupun saudara menetap di Rusia di musim dingin, dan demikianlah seterusnya.

Bahkan bila saudara benar-benar memikirkan adat dan konteks kehidupan zaman dahulu, niscaya saudara semakin yakin bahwa ular adalah haram, karena dalam keadaan susah, kekurangan bahan makanan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengizinkan sahabatnya untuk memakan ular. Terlebih-lebih di zaman sekarang ini yang segala bentuk makanan halal dan baik sangat banyak dan beraneka ragam.

Satu catatan yang semestinya ada pada benak setiap muslim, adalah standar manfaat dan madharot. Manfaat bagi seorang muslim ialah manfaat yang dibenarkan atau diperhitungkan dalam agama, demikian juga halnya dengan madharat. Adapun manfaat yang tidak dibenarkan atau tidak dianggap maka tidak ada pengaruhnya dalam menentukan hukum halal haram.

Saya yakin saudara mengetahui bahwa khamer banyak memiliki manfaat, akan tetapi manfaat itu tidak dibenarkan untuk dipertimbangkan.

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِن نَّفْعِهِمَا

“Mereka bertanya kepadamu tentang khamer dan perjudian. Katakanlah: Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, sedangkan dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.” (Qs. Al Baqarah: 219)

Bahkan dalam hal perniagan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan hukum berbagai manfaat yang didapat pada barang-barang haram:

عن جابر رضي الله عنه أنه سمع النبي صلى الله عليه و سلم عام الفتح وهو بمكة يقول: إن الله عز وجل ورسوله، حرما بيع الخمر والميتة والخنزير والأصنام. فقيل: يا رسول الله، أرأيت شحوم الميتة، فإنه يطلى بها السفن، ويدهن بها الجلود، ويستصبح بها الناس؟ قال: لا، هو حرام. ثم قال رسول الله صلى الله عليه و سلم عند ذلك: قاتل الله اليهود، إن الله حرم عليهم الشحوم، فأجملوه، ثم باعوه، فأكلوا ثمنه. خرجه البخاري ومسلم

Dari sahabat Jabir radhiallahu ‘anhu bahwasannya ia pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada saat fathu Makkah (penakhlukan kota Makkah), di saat beliau masih berada di kota Makkah, bersabda: “Sesungguhnya Allah Azza Wa jalla dan Rasul-Nya, telah mengharamkan jual-beli khamer, bangkai, khinzir (babi) dan berhala (patung)” Lalu dikatakan kepada beliau: “Ya, Rasulullah, bagaimanakan halnya dengan lemak bangkai, karena ia digunakan untuk melumasi perahu, dan meminyaki (melumuri) kulit, juga digunakan untuk bahan bakar lentera?” Beliaupun menjawab: “Tidak, hal itu (menjual lemak bangkai) adalah haram.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Semoga Allah membinasakan orang-orang Yahudi, sesungguhnya tatkala Allah mengharamkan atas mereka untuk memakan lemak binatang, merekapun mencairkannya, kemudian menjualnya, dan akhirnya mereka memakan hasil penjualan itu.” (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)

Para sahabat -semoga Allah meridhai mereka- mengajukan pertanyaan: “Wahai Rasulullah! Apakah hukumnya menjual lemak bangkai, karena sesungguhnya lemak bangkai digunakan untuk melumasi perahu, melumuri kulit, dan digunakan oleh masyarakat sebagai bahan penerangan?”

Perahu yang terbuat dari kayu, biasanya dilumasi dengan lemak, agar lemak tersebut mencegah air meresap ke dalam kayu, karena bila air masuk ke dalam kayu, niscaya perahu akan menjadi berat. Dan digunakan untuk melumuri kulit, dan ini jelas alasannya, yaitu agar kulit menjadi lunak. Lemak juga dijadikan bahan penerangan, karena pada zaman dahulu masyarakat sering menggunakan lemak sebagai bahan bakar lentera.

Menanggapi pertanyaan sahabatya ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda:

لا، هو حرام

“Tidak, hal itu adalah haram.”

Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Tidak, hal itu haram,” berkaitan dengan hukum penjualan, karena inilah tema hadits di atas, dan itulah yang sedang disabdakan: “Sesungguhnya Allah mengharamkan jual-beli bangkai,” sehingga para sahabat merasa perlu untuk meminta penjelasan lebih lanjut tentang kegunaan lemak bangkai, yang menurut pertimbangan para pedagang tidak semestinya disia-siakan begitu saja. Sudah seyogyanya kemanfaatan itu dikomersialkan. Akan tetapi pola pikir para pedagang ini tidak disetujui oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, makanya beliau bersabda: “Tidak, hal itu  adalah haram.”

Tanggapan 6:

Mohon penjelasan: HARAMKAH?: anggap aja ular HARAM, tp beberapa org muslim memuliakannya dengan memelihara dan mengembangbiakannya sehingga menjadikan orang lain suka bahkan sayang, dan bahkan lebih mengimankan kita karena kebesaran dan keindahan ciptaan-NYA dan kemudian terjadi jual beli…

Jawaban 6:

Saudaraku, anjing dan kucing yang jelas-jelas memiliki kegunaan sejak zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu untuk berburu, menjaga rumah, ladang, hewan ternak dan memburu serangga; tikus dan yang serupa, tidak dibolehkan untuk diperjual-belikan, maka kegunaan ular yang hanya sekedar untuk main-main atau koleksi, lebih layak untuk tidak dipertimbangkan.

أن النبي صلى الله عليه و سلم نهى عن بيع الهر

“Bahwasannya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang penjualan kucing.” (Riwayat Muslim)

Pada hadits lain dinyatakan:

عن أبي الزبير قال سألت: جابرا عن ثمن الكلب والسنور؟ قال:  زجر النبي عن ذلك. رواه مسلم

“Abu Az Zubair, menuturkan: saya pernah bertanya kepada sahabat Jabir tentang hasil penjualan anjing dan kucing? Ia menjawab: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencela hal itu.” (Riwayat Muslim)

Saudaraku! di zaman sekarang, banyak dari umat Islam yang kebingungan mengisi waktunya dan membelanjakan hartanya. Daripada mengisi waktunya untuk hal-hal yang berguna dalam urusan dunia dan akhiratnya, sholat, membaca al Qur’an, menghadiri pengajian di masjid-masjid, dan berbakti sosial, ia malah menghabiskan waktunya bersama anjing, kucing, ular atau binatang serupa.

Daripada ia membelanjakan hartanya di jalan Allah, membantu fakir miskin, yatim piatu, ia malah membelanjakan hartanya untuk menghidupi ular, harimau, dan binatang lainnya yang tidak ada gunanya selain untuk mencari sensasi, mengikuti tren masyarakat, dan menghambur-hamburkan harta semata. Tidakkah kita sadar dan terketuk hati kita menyaksikan betapa banyak dari saudara kita seiman dan seakidah yang kelaparan, mengemis, dan lebih membutuhkan terhadap harta yang kita belanjakan untuk menghidupi binatang-binatang tersebut?

Camkanlah baik-baik saudaraku, janganlah kita sebagai orang yang berakal sehat dan beriman hanyut oleh arus tren masyarakat yang kurang mencerminkan iman dan ketakwaan. Hendaknya kehidupan kita mencerminkan iman dan katakwaan kita.

Tanggapan 7:

Bagaimana dengan hasil dari ular, misalnya tas yg atau sepatu apakah haram juga?

Jawaban 7:

Para ulama’ berselisih tentang hukum kulit ular, harimau dan hewan serupa, apakah menjadi suci bila disamak atau tetap najis. Imam As Syafi’i menyatakan bahwa kulit binatang yang haram dimakan dagingnya tidak akan pernah suci walaupun disamak. Berdasarkan sabda nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut:

دِبَاغُ الأَدِيمِ ذَكَاتُهُ. رواه أحمد والبيهقي وغيرهما

“Penyamakan kulit bermaknakan penyembelihannya.” (Riwayat Ahmad, Al baihaqi dan lainnya)

Imam As Syafi’i menegaskan bahwa penyamakan hanyalah berguna pada kulit bangkai binatang yang halal dimakan dagingnya. Adapun binatang yang haram dimakan dagingnya maka tidak akan menjadi suci, walaupun telah disamak. Karena pada hadits di atas, Nabi menyamakan kedudukan “penyamakan” dengan penyembelihan. Padahal penyembelihan tidaklah menjadikan binatang yang haram dimakan menjad suci, maka demikian juga halnya dengan penyamakan. (Al Umm oleh As Syafi’i 1/72 & As Sunan Al Kubra oleh Al Baihaqi 1/21)

Bila demikian adanya, maka tidak dibenarkan memperjual belikan barang yang najis, sebagaimana dijelaskan oleh As Sayyid As Sabiq dalam kitab fiqihnya pada persyaratan pertama barang-barang yang halal diperjual-belikan. Silakan saudara baca kembali.

Tanggapan 8:

Disinggung serangga termasuk hewan yg menjijikan sehingga termasuk haram. Padahal ada hadits lain yg menjelaskan Artinya: Dari Ibnu Umar berkata: “Dihalalkan untuk dua bangkai dan dua darah. Adapun dua bangkai yaitu ikan dan belalang, sedang dua darah yaitu hati dan limpa.” (Shahih. Lihat takhrijnya dalam Al-Furqan hal 27 edisi 4/Th.11]. Hadis riwayat Abdullah bin Abu Aufa radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Aku ikut perang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebanyak tujuh peperangan dan kami selalu makan belalang.”)

Jawaban 8:

Tidak ada pertentangan antara yang saudara sebutkan dengan apa yang saya sampaikan tentang hukum ular, karena belalang nyata-nyata dihalalkan, walaupun masyarakat menggolongkannya ke dalam serangga. Ditambah lagi, belalang tidak menjijikkan.

Tanggapan 9:

Tolong kalo membahas halal-haramnya hukum jual-beli (berbisnis) barang yg dianggap haram, jgn hanya dilihat dari 1 jenis pemanfaatannya saja (semisal utk dikonsumsi/ makan dan minum). Tapi bgmn hukumnya jual-beli (berbisnis barang yg di anggap haram tapi untuk keperluan lain (misalnya berbisnis al kohol utk keperluan medis atau desinfektan… atau sterilisasi). Alangkah bijaknya menetapkan suatu hukum tidak hanya pada satu kondisi saja, sebagai contoh kehalalan khamar yg sdh berubah menjadi cuka (kehalalan cuka yg diproduksi dari alkohol).

Jawaban 9:

Saudaraku! Coba simak sabda Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam berikut:

عن جابر رضي الله عنه أنه سمع النبي صلى الله عليه و سلم عام الفتح وهو بمكة يقول: إن الله عز وجل ورسوله، حرما بيع الخمر والميتة والخنزير والأصنام. فقيل: يا رسول الله، أرأيت شحوم الميتة، فإنه يطلى بها السفن، ويدهن بها الجلود، ويستصبح بها الناس؟ قال: لا، هو حرام. ثم قال رسول الله صلى الله عليه و سلم عند ذلك: قاتل الله اليهود، إن الله حرم عليهم الشحوم، فأجملوه، ثم باعوه، فأكلوا ثمنه. خرجه البخاري ومسلم

Dari sahabat Jabir radhiallahu ‘anhu bahwasannya ia pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada saat fathu Makkah (penakhlukan kota Makkah), di saat beliau masih berada di kota Makkah, bersabda: “Sesungguhnya Allah Azza Wa jalla dan Rasul-Nya, telah mengharamkan jual-beli khamer, bangkai, khinzir (babi) dan berhala (patung)” Lalu dikatakan kepada beliau: “Ya, Rasulullah, bagaimanakan halnya dengan lemak bangkai, karena ia digunakan untuk melumasi perahu, dan meminyaki (melumuri) kulit, juga digunakan untuk bahan bakar lentera?” Beliaupun menjawab: “Tidak, itu (menjual lemak bangkai) adalah haram.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Semoga Allah membinasakan orang-orang Yahudi, sesungguhnya tatkala Allah mengharamkan atas mereka untuk memakan lemak binatang, merekapun mencairkannya, kemudian menjualnya, dan akhirnya mereka memakan hasil penjualan itu.” (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)

Andai saudara berhadapan dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, apakah saudara juga berani mengatakan ucapan di atas?

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُّبِينًا

“Dan tidaklah patut bagi lelaki mukmin dan tidak pula bagi perempuan mukminah apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya, maka sesungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (Qs. Al Ahzaab: 36)

Saudaraku! Coba saudara pikirkan matang-matang, mengapa umat Yahudi dikutuk atau dilaknat? Bukankah karena memikirkan hukum Allah dari berbagai sisi pandang. Nyata-nyata lemak diharamkan, mereka malah memandangnya dari sisi ekonomisnya, maka mereka menjualnya, dan akibatnya seperti yang anda baca sendiri?

Saudaraku! saya memahami kebingungan saudara tentang hukum memperjual-belikan alkohol untuk keperluan disinfektan atau keperluan medis lainnya?

Kebingungan saudara ini adalah salah saudara sendiri. Betapa tidak, saudara mengartikan khamer dengan alkohol, bukankah demikian? Padahal khamer tidak dapat diartikan secara spontan (disamakan -ed) dengan  alkohol. Akan tetapi sebaliknya alkohol yang memabukkan adalah salah satu betuk dari khamer. Sedangkan alkohol yang tidak memabukkan maka bukan khamer, misalnya alkohol yang kadarnya 100%. Karena yang meminumnya –insya Allah- tidak akan mabuk, tapi tidur dan tidak akan pernah bangun lagi alias mati.

Saudaraku, bila saudara bertanya tentang arti khamer yang sebenarnya dalam syari’at Islam, maka simaklah langsung definisinya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

كُلُّ مُسْكِرٍ خَمْرٌ وَكُلُّ مُسْكِرٍ حَرَامٌ. رواه مسلم

“Setiap yang memabokkan adalah khomer, dan setiap yang memabokkan adalah haram.” (HR Muslim)

Inilah hakekat khamer, apapun bentuk dan asal usulnya.

Dan perlu diingat bahwa alkohol yang kadarnya hanya 0 – 35 % sebatas yang saya ketahui tidak digunakan untuk disinfektan atau kebutuhan medis lainnya, kecuali oleh perusahaan obat yang mencampurkannya pada obat  batuk sirup atau serupa, sebagai zat pembangkit aroma belaka. Saudara pasti tahu bahwa di sana didapatkan bahan lain yang dapat digunakan sebagai pencair tanpa harus menggunakan alkohol.

Tanggapan 10:

“Sesungguhnya bila Allah telah mengharamkan atas suatu kaum untuk memakan sesuatu, pasti Ia mengharamkan pula atas mereka hasil penjualannya.” (Riwayat Ahmad, Abu Dawud dan dinyatakan sebagai hadits shohih oleh Ibnu Hibban)

Sesunggunya merujuk pada pada dalil ini: Qs. Al An’am: 145, dan Qs. Al Maidah: 3 (kedua dalil tersebut hanya meyebutkan daging babi yang Allah haramkan), maka sangat lucu menetapkan dalil haram buat daging binatang yg lain selain babi berdasarkan tingkat perasaan manusia. Halal Haram hanyalah Allah yang menentukan bukan berdasar perasaan manusia.

Jawaban 10:

Saudaraku, mohon dibaca ulang jawaban saya dengan baik. Saya membawakan ayat-ayat  yang anda sebutkan hanyalah untuk membuktikan bahwa kata “fasik” identik dengan keharaman. Adapun masalah hukum ular sendiri, saya telah bawakan dalil khusus tentangnya, yaitu yang menyebutkan bahwa ular adalah salah satu binatang yang disebut dengan binatang fasik. Dan selanjutnya saya bahas bahwa kata fasik dalam Al Qur’an dan As Sunnah pemahamannya berati haram. Coba baca kembali dengan seksama niscaya jelas duduk permasalahannya.

Demikian yang dapat saya sampaikan, semoga bermanfaat bagi saya dan juga pembaca, mohon maaf bila ada yang kurang berkenan dan bila ada kesalahan maka itu adalah dari kejahilan dan bisikan setan, dan bila ada kebenaran maka itu datangnya dari Allah Ta’ala. Wallahu a’alam bisshawab.

Ustadz Muhammad Arifin Badri, M.A.

Sumber: www.pengusahamuslim.com

SOCIAL

8,208FansLike
3,879FollowersFollow
29,960FollowersFollow
61,201SubscribersSubscribe

RAMADHAN