tutup Eksternal hardisk kajian video islam
cashflow laporan keuangan software akutansi terbaik
Tags Posts tagged with "wudhu"

wudhu

wudhu dan bersuci

Tangan Terkena Lem, Bagaimana Wudhunya?

Assalamu’alaikum warohmatullah.
ana nasir, dari sampit, kalteng.
Ustadz mau tanya, tangan ana pernah terkena lem yang tidak bisa dihilangkan atau lem alteco, apakah wudhu tetap sah..
Terimakasih

Jawaban:

Wa alaikumus salam warohmatullah

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Diantara yang harus diperhatikan ketika wudhu, air harus mengenai permukaan kulit anggota wudhu. Karena itu, dua hal yang harus dilakukan sebelum wudhu,

Pertama, jamin keselamatan anggota wudhu, jangan sampai tertempel benda yang sulit dihilangkan.

Kedua, bersihkan lem  itu jika tertempel di anggota wudhu, semampu yang bisa kita lakukan.

Imam Ibnu Utsaimin ditanya tentang lem yang sulit dibersihkan, jawaban beliau,

أولاً: ادفع، بمعنى: قبل أن تستعمل هذا الغراء اجعل على يدك قفازين من البلاستيك، فما دمت تعرف أنك سوف تمارس هذه المهنة فاجعل قفازين من البلاستيك، وهذه تمنع أن يعلق بك شيء من هذا الغراء.

Pertama, jauhkan, maksudnya, sebelum memakai lem ini, gunakan sarung tangan plastik. Ketika hendak menangani pekerjaan ini, gunakanlah kaos tangan dari plastik. Ini akan menghalangi ada lem yang menempel.

ثانياً: إذا قدر أنك لم تلبس القفازين فهل الغراء لا يذوب بأي شيء، أم له أشياء تذيبه؟ له أشياء تزيله وهو البنزين أو القاز ـ الكيروسين ـ لكن ذكر لي بعض الناس: أن بعض الغراء لا يزيله بنزين ولا قاز، وأنه لا يذهب إلا إذا ذهب شيء من الجلد معه، فمثل هذا لا تلزم إزالته، ويكفي أن يمر عليه الماء، وإن حصل أن تمسحه مع مرور الماء عليه فهذا أحسن

Kedua, ketika anda tidak memakai sarung tangan, apakah lem yang menempel tidak bisa dihilangkan ataukah tidak bisa dihilangkan?

Jawabannya, bisa dihilangkan, dengan bensin atau minyak tanah.

Hanya saja, ada sebagian orang yang menyampaikan informasi kepada saya, ada beberapa lem yang tidak bisa dihilangkan dengan bensin maupun minyak tanah. Lem ini bisa hilang jika permukaan kulit mengelupas. Lem semacam ini, tidak wajib dihilangkan. Cukup menyiramkan air ke permukaanya. Jika diusap sambil disiramkan air di atasnya, ini lebih baik.

(al-Liqa as-Syahri, 5/67).

Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

hukum berwudhu

Berwudhu dengan Sekali Basuh

Mohon dijelaskan tentang hukum wudhu 3 kali melalui kran. Krn ada salah satu tokoh nasional yg melarang hal itu, dg alasan pemborosan.

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Pertama, Salah satu kebiasaan wudhu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau mengulangi setiap gerakan sebanyak 3 kali, kecuali mengusap kepala.

Terdapat banyak dalil mengenai hal ini, diantaranya hadis dari Abdullah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, beliau mempraktekkan cara wudhu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

فَأَكْفَأَ عَلَى يَدِهِ مِنَ التَّوْرِ، فَغَسَلَ يَدَيْهِ ثَلاَثًا، ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فِي التَّوْرِ، فَمَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ وَاسْتَنْثَرَ، ثَلاَثَ غَرَفَاتٍ، ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فَغَسَلَ وَجْهَهُ ثَلاَثًا، ثُمَّ غَسَلَ يَدَيْهِ مَرَّتَيْنِ إِلَى المِرْفَقَيْنِ، ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فَمَسَحَ رَأْسَهُ، فَأَقْبَلَ بِهِمَا وَأَدْبَرَ مَرَّةً وَاحِدَةً

Beliau menuangkan air di wadah ke tangannya, lalu beliau cuci tangan 3 kali. Lalu beliau memasukkan tangan ke wadah, kemudian digunakan berkumur dan menghirup air ke dalam hidung dengan 3 kali cidukan satu telapak tangan. Beliau mengambil air, lalu beliau gunakan untuk mencuci wajah 3 kali. Kemudian beliau mencuci kedua tangannya sampai ke siku sebanyak 2 kali. Kemudian beliau memasukkan tangannya ke air, beliau usap kepalanya dari depan ke balakang, lalu balik lagi ke depan, sekali….(HR. Bukhari 186).

Dalil lain adalah hadis dari Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu,

دَعَا بِوَضُوءٍ فَتَوَضَّأَ فَغَسَلَ كَفَّيْهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ مَضْمَضَ وَاسْتَنْثَرَ، ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ غَسَلَ يَدَهُ الْيُمْنَى إِلَى الْمِرْفَقِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ غَسَلَ يَدَهُ الْيُسْرَى مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ مَسَحَ رَأْسَهُ، ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَهُ الْيُمْنَى إِلَى الْكَعْبَيْنِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ غَسَلَ الْيُسْرَى مِثْلَ ذَلِكَ

Beliau meminta air lalu digunakan untuk berwudhu. Beliau mencuci kedua telapak tangannya 3 kali. Kemudian berkumur dan menghirup air ke dalam hidung 3 kali. Kemudian beliau mencuci wajah 3 kali. Kemudian mencuci tangan kanan sampai ke siku 3 kali, lalu mencuci tangan kiri sampai ke siku, seperti itu juga. Kemudian beliau mengusap kepala. Kemudian beliau mencuci kaki kanan sampai ke mata kaki 3 kali, lalu kaki kiri seperti itu juga.. (HR. Bukhari 164 & Muslim 226).

Ibnu Syihab – ulama tabi’in – mengatakan,

وَكَانَ عُلَمَاؤُنَا يَقُولُونَ: هَذَا الْوُضُوءُ أَسْبَغُ مَا يَتَوَضَّأُ بِهِ أَحَدٌ لِلصَّلَاةِ

Para guru kami mengatakan, ’Wudhunya Utsman merupaka wudhu paling sempurna untuk shalat.’ (Shahih Muslim, keterangan hadis no. 226).

Wudhu Sekali-Sekali atau Dua Kali-Dua Kali

Selain kebiasaan berwudhu 3 kali-3 kali, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga terkadang berwudhu sekali-sekali atau dua kali-dua kali.

Ibnu Abbas menceritakan,

تَوَضَّأَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّةً مَرَّةً

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu sekali-sekali. (HR. Bukhari 157)

Kemudian dari Abdullah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَوَضَّأَ مَرَّتَيْنِ مَرَّتَيْنِ

Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu dua kali-dua kali. (HR. Bukhari 158).

Berdasarkan hadis-hadis di atas, bahwa mencuci anggota wudhu sekali-sekali hukumnya wajib. Sementara mencuci 2 kali atau 3 kali, hukumnya anjuran. Inilah pendapat mayoritas ulama.

Kedua, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajarkan kepada kita untuk bersikap tidak boros dalam menggunakan air ketika berwudhu. Dan itu menjadi praktek wudhu beliau. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menceritakan,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَوَضَّأُ بِالْمُدِّ، وَيَغْتَسِلُ بِالصَّاعِ، إِلَى خَمْسَةِ أَمْدَادٍ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu dengan air satu mud, dan mandi dengan air satu sha’, hingga 5 mud. (HR. Muslim 325)

Dalam riwayat lain, Anas radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَغْتَسِلُ بِخَمْسِ مَكَاكِيكَ وَيَتَوَضَّأُ بِمَكُّوكٍ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mandi dengan 5 makuk dan wudhu dengan satu makuk. (HR. Muslim 325).

Keterangan:

  • Ukuran 1 mud: ukuran volume sebesar satu cakupan dua telapak tangan orang dewasa, yang digabungkan.
  • Ukuran 1 sha’ = 4 mud.
  • ’Makuk’ adalah takaran volume, seperti gantang. An-Nawawi menjelaskan, bahwa yang dimaksud ’makuk’ dalam hadis ini adalah ukuran satu mud. (Syarh Shahih Muslim, 4/7).

Kemudian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melarang seseorang berwudhu dengan mencuci lebih dari 3 kali. Dalam hadis dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma,

جَاءَ أَعْرَابِيٌّ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْأَلُهُ عَنِ الْوُضُوءِ، فَأَرَاهُ الْوُضُوءَ ثَلَاثًا ثَلَاثًا، ثُمَّ قَالَ: «هَكَذَا الْوُضُوءُ، فَمَنْ زَادَ عَلَى هَذَا فَقَدْ أَسَاءَ وَتَعَدَّى وَظَلَمَ»

Ada seorang badui yang menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya tentang tata cara wudhu. Beliaupun mengajarkan wudhu 3 kali- 3 kali. Kemudian, beliau bersabda,

“Seperti ini wudhu yang benar. Siapa yang lebih dari 3 kali, dia telah berbuat jelek, melampaui batas, dan zalim.” (HR. Nasai 140 dan dishahihkan al-Albani).

Beliau sampaikan demikian, agar umatnya tidak boros dalam menggunakan air ketika wudhu.

Sebagai hamba yang baik, selayaknya kita berusaha mengikuti apa yang disarankan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan tidak boros dalam menggunakan air ketika berwudhu. Baik untuk wudhu sekali-sekali, dua kali- dua kali, atau tiga kali-tiga kali. Namun bukan berarti kita melarang orang berwudhu 3 kali, karena pertimbangan boros. Karena wudhu sekali-pun bisa saja bersikap boros. Sebaliknya, orang bisa wudhu 3 kali, tanpa harus boros menggunakan air.

Dengan demikian, kita tidak menolak sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengajarkan wudhu 3 kali, dan tetap mengajarkan agar masyarakat tidak boros dalam menggunakan air ketika wudhu.

Allahu a’lam

Dijawab oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Qadha shalat tahajud:

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ustadz, bagaimana tata cara mengqadha shalat tahajud di waktu dhuha? Bagaimana niatnya dan berapa rakaat? Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Ita Oechsin (**echsin@***.com)

sholat dhuha

Bolehkah sholat jamaah tanpa iqamah?

Assalamu ‘alaykum, Ustadz. Saya mau tanya sebenarnya hukum iqamah sebelum shalat itu bagaimana ya?

Pernah saya (wanita) ingin menunaikan ibadah shalat di suatu restoran, dan saya dapati ada seorang lelaki yang hendak menunaikan shalat juga. Ia mengajak berjamaah dan saya setuju, namun ketika kami sudah membentuk shaf, ia langsung takbiratul ihram tanpa iqamah terlebih dahulu. Sementara, jika berjamaah di rumah, ayah saya selalu iqamah sebelum takbiratul ihram

Saya belum paham mengenai hukum atau dalil terkait tentang iqamah ini. Mohon penjelasannya. Jazakumullah khairan katsiran.

Nisa (futurach**@***.com)

Nyanyian Islami

Bolehkah memakai senandung nyanyian islami (tanpa musik) untuk anak-anak. Misalnya dipakai untuk pengajaran atau ketika bermain dan sebagainya, tanpa bermaksud melalaikan dari Alquran (bukan diajarkan secara khusus senandung-senandung tertentu untuk dihafal). Yang terjadi bahkan sebaliknya, terkadang senandung itu digunakan untuk mempermudah pengajaran, seperti mengajarkan huruf alfabet, hijaiah, atau urutan wudhu, dan sebagainya. Mohon diberikan dalilnya, Ustadz, jika memang senandung nyanyian islami (tanpa musik tersebut) diperbolehkan. Jika diperbolehkan, batasan pembolehannya itu seperti apakah?

Ummahat

Pertanyaan:

Assalamu ‘alaikum, Ustadz. Saya mau bertanya tentang wudhu. Saya pernah mendengar seseorang mengatakan, “Berkumur-kumur pada saat berwudhu dalam keadaan berpuasa itu tidak boleh karena memasukkan sesuatu ke lubang bisa membatalkan puasa.” Apakah itu benar? Yang kedua, apakah benar bahwa mengusap kepala saat berwudhu yang lebih benar itu cuma sekali?

Fadly (fadly.**@***.com)

SOCIAL

7,674FansLike
3,328FollowersFollow
28,790FollowersFollow
57,944SubscribersSubscribe

RAMADHAN