tutup Eksternal hardisk kajian video islam
cashflow laporan keuangan software akutansi terbaik
Tags Posts tagged with "surga"

surga

Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarakatuh

Saya mendapatkan pernyataan dari teman, sebagai berikut :

“Beruntunglah kita dilahirkan sudah beragama islam karena orang tua kita kebetulan juga beragama islam. Yang menjadi pertanyaan saya adalah bagaimana Tuhan memberikan kelahiran kepada seseorang yg hidup dipelosok ujung dunia, katakan ujung dunia indonesia yg sangat terpencil, misalnya di Wamena (Irian Jaya) yang kita nggak ngerti bahasa orang wamena, mereka masih pake koteka dan nggak pernah tahu akan agama Islam sampe mereka meninggal lalu apakah mereka kita bilang kafir?”

Mohon tanggapannya dari Bapak atas pernyataan dari temen saya tersebut. Terimakasih. Wassalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh

Wisnu
Alamat: Prabumulih – Sumatera Selatan
Email: wisxxxx@yahoo.com

Al Akh Yulian Purnama menjawab:

Wa’alaikumussalam Warahmatullah Wabarakatuh

Banyak kaum muslimin yang bingung menghadapi pertanyaan semacam ini, tidak jarang pula yang akhirnya meragukan Islam dan menganggap semua agama benar. Padahal andaikan mereka sedikit berusaha mempelajari Islam dengan benar, mereka akan menemukan para ulama kita sudah menjelaskan dengan panjang-lebar jawaban dari pertanyaan semacam ini. Berikut ini kami kutipkan penjelasan bagus dari Syaikh Muhammad bin Abdillah Al Wuhaibi dalam kitabnya, Nawaqidhul Iman Wa Dhawabitut Takfir ‘Indas Salaf (1/294):

Perbedaan pendapat dalam masalah ini adalah tentang hukum di akhirat, bukan hukum di dunia. Tidak ada satupun para ulama yang mengatakan bahwa orang yang tidak pernah mendengar Islam itu adalah muslim, atau pada mereka diberlakukan hukum orang muslim di dunia. Oleh karena itu, perbedaan pendapat yang ada bukanlah tentang hukum di dunia. Al Imam Ibnu Qayyim rahimahullah berkata: “Wajib bagi setiap orang untuk meyakini bahwa setiap manusia yang tidak beragama dengan agama Islam adalah kafir. Namun wajib juga meyakini bahwa Allah Ta’ala (di akhirat) tidak akan mengadzab orang yang belum disampaikan hujjah. Ini secara umum. Adapun secara khusus per individu, hanya Allah yang mengetahuinya. Ini semua berkaitan dengan balasan dan hukuman di akhirat. Sedangkan hukum di dunia, diterapkan berdasarkan apa yang nampak. Oleh karena itu, anak-anak kecil orang kafir dan orang gila yang kafir, di dunia diberlakukan hukum orang kafir kepada mereka” (Thariqul Hijratain, 384).

Pembahasan mengenai nasib orang yang belum pernah mendengar Islam di akhirat, adalah permasalahan ijtihadiyah yang banyak dibahas para ulama. Namun bahasan ini tidak termasuk ushuluddin (pokok agama) dan bukan ‘ijma. Oleh karena itu tidak dibahas pada kebanyakan kitab aqidah yang terkenal. Ada beberapa pendapat ulama dalam permasalahan ini:

Pendapat pertama: Orang yang mati dalam keadaan belum pernah mendengar Islam, masuk surga

As Suyuthi rahimahullah berkata: “Para imam Asy ‘ariyah yang termasuk ahlul kalam dan ahlul ushul, serta ulama ahli fiqih madzhab Syafi’i berpendapat bahwa orang yang mati dalam keadaan belum pernah mendengar Islam, ia masuk surga” (Al Haawi Lil Fatawa, 2/202). Sebagian ulama juga berpendapat bahwa anak-anak kecil orang musyrik masuk surga, sebagaimana pendapat Ibnu Hazm, beliau berkata: “Mayoritas ulama berpendapat bahwa anak-anak kecil orang musyrik masuk surga, dan saya juga berpendapat demikian” (Al Fashl, 4/73). Juga Imam An Nawawi (Syarh Shahih Muslim, 16/208), Ibnu Hajar Al Asqalani juga mengatakan bahwa pendapat ini adalah pilihan Al Bukhari (Fathul Baari, 3/246), juga Imam Al Qurthubi (At Tadzkirah, 612) dan Imam Ibnul Jauzi (Majmu’ Fatawa Syaikhil Islam, 24/372).

Pendapat kedua: Orang yang mati dalam keadaan belum pernah mendengar Islam, masuk neraka

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Ini adalah pendapat dari sejumlah ulama ahlul kalam, ulama ahli tafsir, juga salah satu pendapat dari murid-murid Imam Ahmad. Al Qadhi membawakan riwayat dari Imam Ahmad tentang hal ini, namun telah dibantah oleh guru kami (Syaikhul Islam)” (Thariqul Hijratain, 362). Pendapat ini juga diambil oleh sejumlah murid Abu Hanifah (Jam’ul Jawami’ Imam As Subki, 1/62).

Pendapat ketiga: Tawaqquf (Abstain), dan menyatakan nasib mereka terserah pada kehendak Allah

Ini adalah pendapat Al Hamidain, Ibnul Mubarak, Ishaq Ibnu Rahawaih. Ibnu Abdil Barr berkata: “Nasib mereka tergantung kepada keputusan Al Malik, dan dalam hal ini tidak ada nash yang menjelaskan, kecuali riwayat dari para sahabat yang menegaskan bahwa anak-anak kecil muslim akan masuk surga dan anak-anak kecil kafir tergantung pada keputusan Allah” (At Tamhid, 18/111-112).

Pendapat keempat: Mereka akan dites di depan pintu neraka.

Allah memerintahkan mereka masuk ke dalamnya. Jika mereka patuh, mereka akan merasakan hawa dingin dan mereka selamat. Namun yang enggan masuk, berarti ia telah membangkang kepada Allah Ta’ala dan dimasukkan ke dalam neraka.

Pendapat ini adalah pendapat mayoritas para ulama salaf, sebagaimana disampaikan oleh Abul Hasan Al Asy’ari (Al Ibanah, 33). Pendapat ini dipilih oleh Muhammad bin Nashir Al Marwazi, Al Baihaqi, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan murid-muridnya, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, dan Ibnu Katsir. Syaikhul Islam berkata: “Manusia yang belum ditegakkan hujjah padanya, seperti anak-anak kecil, orang gila, ahlul fathrah, nasih mereka sebagaimana terdapat pada banya atsar, yaitu mereka akan dites pada hari qiamat. Ada yang diutus untuk memerintahkan mereka pada ketaatan. Jika mereka taat, mereka diberi surga. Jika mereka enggan taat, diberi neraka”. Imam Ibnu Qayyim setelah menjelaskan perbedaan pendapat dan dalil-dalilnya, beliau berkata: “Pendapat ke delapan, mereka berpendapat bahwa anak-anak kecil orang kafir akan dites di sebuah dataran di hari kiamat. Setiap orang dikirimkan Rasul (utusan). Orang yang mematuhi utusan tersebut, akan dimasuk surga. Yang membangkang akan masuk neraka. Dengan kata lain, sebagain mereka ada yang masuk surga dan sebagiannya ada yang masuk neraka. Pendapat ini yang mencakup dalil-dalil yang ada, dan didukung oleh banyak hadits” (Thariqul Hijratain, 369). Kemudian Ibnu Qayyim memaparkan dalil-dalil yang mendukung pendapat ini, lalu berkata: “Hadits-hadits ini saling menguatkan. Dikuatkan juga dengan ushul dan kaidah syariat. Dan pendapat yang sesuai dengan hadits-hadits ini adalah mazhab salafush shalih, sebagaimana dinukil oleh Al ‘Asy’ari rahimahullah” (Thariqul Hijratain, 371)

Al Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Para ulama terdahulu dan ulama masa sekarang berbeda pendapat mengenai anak kecil yang meninggal dalam keadaan kafir, bagaimana statusnya? Demikian juga orang gila, orang tuli, orang tua yang pikun dan ahlul fatrah yang belum pernah mendengar dakwah, terdapat beberapa hadits yang membahas status mereka. Dengan inaayah dan taufiq Allah, akan saya sampaikan kepada anda”. Kemudian beliau memaparkan hadits-hadits tersebut, lalu menjelaskan pendapat-pendapat yang ada, dan memilih pendapat yang menyatakan bahwa mereka akan dites kelak di hari kiamat. Beliau berkata: “Pendapat inilah yang mencakup semua dalil yang ada. Dan hadits-hadits yang telah saya sebutkan pun menegaskannya dan saling menguatkan” (Tafsir Ibni Katsir, 3/30).

Syaikh Muhammad Al Amin Asy Syinqithi, setelah menyatakan memilih pendapat ini, beliau berkata: “Ulama bersepakat bahwa selagi masih mungkin, wajib hukumnya untuk menggabungkan dalil-dalil yang ada. Karena mengamalkan dua dalil lebih utama daripada beramal dengan salahsatu saja. Dan tidak ada pendapat yang bisa mencakup seluruh dalil kecuali pendapat ini, yaitu mereka akan diberi udzur lalu dites” (Adhwa’ul Bayan, 3/440)

Dalil penting yang mendasari pendapat ini ada 2 macam:

1. Dalil Al Qur’an

Para ulama yang berpegang pada pendapat yang terakhir ini berdalil dengan keumuman ayat-ayat tentang tidak adanya azab sebelum disampaikan hujjah. Contohnya firman Allah Ta’ala:

كُلَّمَا أُلْقِيَ فِيهَا فَوْجٌ سَأَلَهُمْ خَزَنَتُهَا أَلَمْ يَأْتِكُمْ نَذِيرٌ. قَالُوا بَلَى قَدْ جَاءَنَا نَذِيرٌ فَكَذَّبْنَا

Setiap kali dilemparkan ke dalamnya sekumpulan (orang-orang kafir), penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka: “Apakah belum pernah datang kepada kamu (di dunia) seorang pemberi peringatan? Mereka menjawab: “Benar ada”, sesungguhnya telah datang kepada kami seorang pemberi peringatan, lalu kami mendustakan(nya)” (QS. Al Mulk: 8-9)

Juga firman Allah Ta’ala:

وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولاً

Sungguh Kami tidak akan mengadzab sebelum mengutus seorang Rasul” (QS. Al Isra: 15)

Dan ayat-ayat yang lain yang menunjukkan adanya udzur bagi ahlul fatrah, karena utusan yang memberi peringatan belum datang kepada mereka (Dalil Al Qur’an yang lain silakan lihat Adhwa’ul Bayan, 3/429-433). Syaikh Abdurrahman As Sa’di rahimahullah menafsirkan ayat ini: “Allah Ta’ala Maha Adil. Allah tidak akan mengadzab seseorang, kecuali orang tersebut sudah ditegakkan hujjah padanya lalu ia menentang. Sedangkan orang yang belum disampaikan hujjah, maka ia tidak akan diadzab. Ayat ini dijadikan dalil bahwa Ahlul Fatrah dan anak-anak kecil kafir tidak akan diadzab oleh Allah, sampai seorang utusan datang kepada mereka. Karena Allah tidak mungkin berbuat zhalim” (Tafsir As Sa’di, 4/266)

2. Dalil Hadits

Para ulama yang berpegang pada pendapat ini berdalil dengan hadits-hadits yang tegas menunjukkan bahwa orang yang belum pernah disampaikan hujjah akan dites kelak di hari kiamat. Hadits yang paling terkenal dalam hal ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Al Aswad bin Sari’, bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

يكون يوم القيامة رجل أصم لا يسمع شيئاً، ورجل أحمق، ورجل هرم ورجل مات في فترة فأما الأصم فيقول: رب لقد جاء الإسلام وما أسمع شيئاً، وأما الأحمق فيقول: رب لقد جاء الإسلام والصبيان يحذفونني بالبعر، وأما الهرم فيقول: رب لقد جاء الإسلام وما أعقل شيئاً، وأما الذي مات في الفترة فيقول: رب ما أتاني لك رسول، فيأخذ مواثيقهم ليطيعنه، فيرسل إليهم أن ادخلوا النار، قال: فوالذي نفس محمد بيده لو دخلوها لكانت عليهم برداً وسلاماً

Di hari kiamat ada seorang yang tuli, tidak mendengar apa-apa, ada orang yang idiot, ada orang yang pikun, ada yang mati pada masa fatrah. Orang yang tuli berkata: ‘Ya Rabb, ketika Islam datang saat itu aku tuli, tidak mendengar Islam sama sekali’. Orang yang idiot berkata: ‘Ya Rabb, ketika Islam datang, saat itu anak-anak nakal sedang memasung aku di dalam sumur’. Orang yang pikun berkata: ‘Ya Rabb, ketika Islam datang aku sedang hilang akal’. Orang yang mati pada masa fatrah berkata: ‘Ya Rabb, tidak ada utusan yang datang untuk mengajakku kepada Islam’. Lalu diuji kecenderungan hati mereka pada ketaatan. Diutus utusan untuk memerintahkan mereka masuk ke neraka. Nabi bersabda: ‘Demi Allah, jika mereka masuk ke dalamnya, mereka akan merasakan dingin dan mereka mendapat keselamatan‘” (HR. Ahmad no. 16344, Thabrani 2/79. Di-shahih-kan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah no. 1434)

Terdapat juga hadits semisal yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, namun lafadz akhirnya berbunyi:

فمن دخلها كانت عليه برداً وسلاماً، ومن لم يدخلها سحب إليها

Diantara mereka yang patuh memasuki neraka akan merasakan dingin dan akhirnya selamat. Sedangkan yang enggan memasukinya justru akan diseret ke dalamnya” (HR. Ahmad no. 16345)

Pendapat yang didasari hadits ini merupakan pendapat yang mencakup keseluruhan dalil, sebagaimana nukilan dari para imam. Syaikhul Islam berkata: “Dengan penjelasan hadits ini, maka tuntaslah perdebatan yang berupa pembicaraan panjang lebar sampai menimbulkan perdebatan. Karena bagi yang berpendapat bahwa mereka semua masuk neraka, terdapat nash yang menyalahkannya. Dan bagi yang berpendapat bahwa mereka semua masuk surga, juga terdapat nash yang menyalahkannya” (Dar’ut Ta’arudh, 8/401). Syaikh Asy Syinqithi rahimahullah setelah memilih pendapat ini ia berkata: “Hadits in shahih dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Dan keshahihan hadits adalah solusi dari perdebatan. Maka tidak ada lagi sisi yang dapat didebat dengan adanya hadits ini” (Adhwa’ul Bayan, 3/438).

Sebagian ulama membantah pendapat ini, semisal Ibnu Abdil Barr, Al Qurthubi dan Al Hulaimi, ringkasnya mereka mengatakan bahwa hadits-hadits tentang hal ini tidak shahih, dan ini bertentangan dengan prinsip pokok bahwa akhirat bukan lagi tempat manusia diuji (At Tadzkirah, 611-612, At Tamhiid, 18/130).

Namun sanggahan ini dijawab dengan 2 poin:

1. Hadits-hadits tentang hal ini shahih dan diriwayatkan dari jalur yang banyak. Telah kami paparkan sedikit penjelasannya.
2. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Takliif (beban syariat) berakhir di alam pembalasan, yaitu di neraka atau di surga. Sedangkan mereka yang dites di halaman akhirat itu sebagaimana pertanyaan di alam barzakh. Yaitu mereka ditanya: Siapa Rabb-mu? Apa agamamu? Siapa Nabimu? Dan Allah Ta’ala berfirman:

يَوْمَ يُكْشَفُ عَن سَاقٍ وَيُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ فَلا يَسْتَطِيعُونَ خَاشِعَةً أَبْصَارُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ وَقَدْ كَانُوا يُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ وَهُمْ سَالِمُونَ

Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud; maka mereka tidak kuasa. (Dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah, lagi mereka diliputi kehinaan. Dan sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud, dan mereka dalam keadaan sejahtera.” (QS. Al Qalam: 42-43)

At Thibbi berkata: “Jangan menetapkan bahwa dunia itu alam ujian dan akhirat itu alam pembalasan. Karena tidak ada pengkhususan seperti itu. Buktinya di alam kubur, yang merupakan pintu gerbang akhirat, terdapat ujian dan terdapat kesulitan dengan adanya pertanyaan” (Fathul Baari, 11/451). Ibnul Qayyim pun membuat telaah singkat dalam membantah sanggahan ini, beliau berkata: “Jika ada yang berkata bahwa akhirat adalah alam pembalasan bukan lagi alam pembebanan, maka bagaimana mungkin mereka dites di akhirat? Jawabannya, pembenanan itu berhenti jika telah memasuki darul qarar (surga dan neraka). Sedangkan di barzakh dan di halaman akhirat, pembebanan belum berhenti. Ini dapat dipahami dengan mudah walau tanpa menelaah, dengan adanya pertanyaan malaikat di alam barzakh dan ini merupakan takliif (pembebanan). Sedangkan di halaman akhirat, Allah Ta’ala berfirman:

يَوْمَ يُكْشَفُ عَن سَاقٍ وَيُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ فَلا يَسْتَطِيعُونَ

Dan ini jelas sekali. Karena Allah Ta’ala menyuruh makhluk-Nya untuk bersujud di hari kiamat kelak dan orang kafir ketika itu dihalangi oleh Allah sehingga tidak mampu bersujud” (Thariqul Hijratain, 373).

Dan hadits-hadits banyak menyebutkan tentang adanya pembebanan di hari kiamat, sebagaimana pada hadits-hadits yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim dan Ibnu Katsir, serta ulama yang lain.
[Sampai di sini kutipan dari Kitab Nawaqidhul Iman Wa Dhawabitut Takfir ‘Indas Salaf (1/294)]

Kesimpulannya, di dunia mereka tetap dianggap sebagai orang kafir. Jika meninggal tidak dimandikan, tidak dishalatkan dan tidak boleh dikubur di pemakaman kaum muslimin. Namun tentang nasib mereka di akhirat kelak, pendapat yang paling kuat, mereka akan diuji. Jika dapat melewati ujian tersebut mereka akan masuk surga, jika tidak akan masuk neraka. Sebagaimana telah dipaparkan di atas.

Demikian, semoga dapat dipahami. Semoga Allah menetapkan hati kita di jalan-Nya.

Penulis: Yulian Purnama
Sumber: UstadzKholid.Com

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum

  1. Bagaimana mematahkan subhat para salibis: Alloh itukan tidak boleh disamakan dengan makhluk-Nya, tapi di Al-qur’an, diceritakan nabi Musa bertemu Alloh yang berwujud cahaya?

Jazakumullah Khairan Katsiran

Jawaban Ustadz:

Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh

Jika kita simak baik-baik QS. Al-A’raf: 143, maka kita tentu akan berkesimpulan bahwa nabi Musa itu tidak melihat Allah, Allah hanya dilihat oleh orang-orang beriman di mauqif/mahsyar dan di surga.

Ibnu Abdil ‘Iz mengatakan, “Seluruh umat Islam bersepakat bahwa tidak ada seorang pun yang melihat Allah di dunia dengan kedua mata kepalanya. Umat Islam tidak berselisih tentang hal tersebut, kecuali yang berkenaan dengan Nabi kita shollahu’alaihiwasallam.” (Syarh Al-Aqidah Ath-Thahawiyah, cet. Muassasah Ar-Risalah 1/222).

***

Penanya: Sugeng
Dijawab Oleh: Ustadz Abu Ukkasyah Aris Munandar

Sumber: muslim.or.id

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum warahmatullahi,

Ustadz Ana ini lagi cemburu sekali dengan para ustadz dan pendakwah. Dengan ilmu yang pas-pasan ini tidak mungkin ana berdakwah. Adakah amalan yang bisa membuat ana menyusul mereka para pendakwah ini. Kalaulah saya menjalankan rukun islam mereka juga menjalankan, kalaulah saya shadaqah, infaq, wakaf, dan beramal yang lain, mereka juga. Lalu bagaimana saya bisa menyusul mereka (para ust.) sedangkan saya tidak ingin (jika Allah menjadikan saya ahli surga) hanya dapat surga dibawah. Sedangkan saya selalu merasa tidak aman dari api neraka. Jangankan membayangkan surga, saya masih ketakutan jika mengingat neraka. Tolong ust. adakah dalil yang menunjukkan amalan yang mana ana bisa menyusul amalan para ust yang berdakwah. salahkah saya berharap surga yang paling tinggi di sisi Alloh? Jazakallahu khairon katsiran.

Jawaban Ustadz:

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Sesungguhnya Alloh telah memudahkan bagi setiap orang untuk mendapatkan surga, oleh sebab itu Alloh memberikan banyak jalan untuk ke surga, sehingga jumlah pintu surga lebih banyak dari jumlah pintu neraka, ada orang masuk surga dengan sebab ilmunya, ada dengan sebab harta, dengan sebab jihad, ada lagi dengan sebab puasa, ada lagi karena husnul khuluk (berbudi pekerti yang baik), ada pula sebab berbakti kepada kedua orang tuanya dan seterusnya, tidak mungkin kita sebutkan jalan kebaikan tersebut satu persatu di sini. Ada sebagian kita mampu untuk melakukan banyak kebaikan, ada pula yang kurang, mungkin karena dibatasi oleh situasi atau kondisi yang berada di setiap kita, juga tergantung himmah (kesungguh-sungguhan kita dalam beramal).

Bila jalan-jalan kebaikan tersebut sangat banyak di hadapan kita, di sini kita dituntut untuk memilih dan menempuh yang paling utama dan paling cocok dengan situasi dan kondisi, contoh bila kita punya harta, tetapi di segi kemampuan ilmu kurang, maka yang sesuai dengannya adalah memperjuangkan Islam dengan hartanya, jika ia seorang yang terhormat dan disegani, maka ia memperjuangkan Islam melalui kedudukannya, adapun besar kecilnya pahala tergantung dari manfaat yang ditimbulkan oleh perjuangannya tersebut, belum tentu orang yang memiliki ilmu lebih besar pahalanya dari orang yang memperjuangkan Islam dengan cara lain, jadi ustadz-ustadz belum tentu mereka itu lebih tinggi kedudukannya di sisi Alloh, karena semuanya berbalik kepada dua hal; ikhlas dan bobot kemanfaatan yang ditimbulkan amal tersebut, ini bila amal yang bermanfaat muta’adi (menyebar kepada orang lain), adapun bila amal tersebut manfaatnya tidak muta’adi (khusus untuk pelakunya) juga kelebihan nilainya kembali kedua hal; yaitu ikhlas dan muwafaqatus sunnah (sesuai dengan sunnah).

Contoh bila seseorang berpangkat mampu memperjuangkan Islam dengan pangkatnya sehingga Islam tegak dan tersebar dengan sebab yang dilakukannya, maka pahalanya sangat besar sekali, berapa jumlah orang yang mendapat petunjuk dengan melalui usahanya, ia akan menerima balasan sebanyak jumlah pahala orang-orang tersebut. Berbeda dengan ustadz yang hanya berceramah di hadapan bilangan terbatas, mungkin ustadz tersebut berdakwah lancar berkat dari usaha orang tersebut yang telah memberi fasilitas untuk berdakwah dengan aman dan lancar. Contoh untuk bentuk kedua; dalam hal melakukan sholat belum tentu sholat ustadz lebih besar pahalanya dari orang yang bukan ustadz, kalau keikhlasan dan kekhusyukan orang tersebut melebihi keikhlasan dan kekhusyukan seorang ustadz.

Begitu pula dalam hal berinfak sekalipun jumlahnya sama, tetapi nilainya berbada di sisi Alloh, pertama dari segi kondisi dan situasi si pemberi dan si penerima, kedua dari tingkat keikhlasan si pemberi. Begitulah seterusnya dalam amal-amal yang lain. Jadi tidak benar bila berasumsi bila ustadz kedudukannya akan jauh lebih tinggi dari surga karena ke”ustadz”annya tetapi semuanya kembali kepada amal dan keikhlasan seseorang, tidakkah antum dengar hadits yang menerangkan tiga orang yang pertama kali ditarik ke neraka, di antara mereka seorang ‘alim yang tidak beramal dengan ilmunya, na’uzubillahi minzdzaalik. Disebutkan pula dalam sebuah hadits, yang mana sebagian sahabat yang fakir berkata kepada Nabi; orang-orang kaya telah merebut semua pahala wahai Rosululloh, mereka sholat sebagaimana kami sholat, mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa, lalu mereka berinfak dengan kelebihan harta mereka, kemudian Rosululloh berkata; “Maukah kalian aku tunjukan suatu amalan yang bila kamu lakukan, kamu akan dapat menandingi mereka?” Lalu Rosululloh mengajarkan kepada mereka tentang berzikir selesai sholat lima waktu. Namun orang-orang kaya turut melakukan apa yang mereka lakukan, lalu sahabat yang fakir tadi datang lagi kepada Rosululloh untuk mengadukan keadaan mereka, maka Rosululloh bersabda, “Itu keutamaan yang diberikan Alloh kepada siapa saja yang Dia kehendaki.”

Maka yang perlu kita lakukan dalam hal berlomba-lomba dalam kebaikan adalah beramal dengan ikhlas dan sungguh-sungguh sesuai kemampuan kita masing-masing, dalam segala kesempatan, kapan dan di mana pun kita berada, kita beramal dan memperjuangkan Islam di situ. Sekalipun hanya mengajak teman sekantor, teman sekuliah, teman sekampung untuk menghadiri pengajian yang diadakan oleh ustadz-ustadz kita, ini sudah amal yang amat besar.

***

Penanya: Abdullah
Dijawab Oleh: Ustadz Ali Musri

Sumber: muslim.or.id

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum,
Langsung aja, ana mau tanya: boleh ga ikut terapi hipnotis untuk menghilangkan kebiasaan buruk seperti merokok, dll. Jazakallah Khairan Katsiran.

Jawaban Ustadz:

Hal ini diharamkan, karena hal itu dilakukan dengan kekuatan batin melalui bantuan setan. Wallahu a’lam.

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam telah melarang kita berobat dengan cara yang haram, apalagi dengan terapi yang berbau kesyirikan, melalui bantuan setan, dsb.

Untuk menghilangkan kebiasan buruk seperti merokok, dll. bisa dilakukan dengan cara berikut:

Kebiasaan buruk itu biasanya ditimbulkan oleh dua hal; adakalanya oleh syahwat (hawa nafsu) dan ada kalanya oleh syubuhat (paham sesat).

Setelah kita tau sebab-sebabnya maka dari situ kita bisa mencari terapinya:

Pertama,
dengan ilmu agama, karena kita jauh dari ilmu agama, menyebabkan kita sering mendahulukan hawa nafsu di atas apa yang dicintai Allah, kita tidak yakin bahwa segala kebahagian adalah dengan mengindahkan perintah Allah. Oleh sebab itu para sahabat rodhiallahu ’anhum yang sudah begitu candu denga khamar, tatkala turun perintah diharamkannya khamar, dengan spontan mereka meninggalkannya dan menghancurkan segala kendi-kendi yang berisi khamar, bahkan yang sudah dalam mulut sekalipun tidak jadi mereka telan tapi mereka muntahkan, sehingga got-got di jalan kota madinah dipenuhi oleh khamar, mereka tidak mencoba untuk mencari solusi lain, seperti berpikir bagaimana kalau khamar itu diolah menjadi bahan lain sehingga tidak rugi. Begitu pula salah seorang yang datang untuk masuk Islam tapi dengan syarat ia diizin untuk berzina, para shabat yang mendengar menjadi marah, namun Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dengan santai menjawab, “Apakah kamu juga ridho bila orang lain menzinai keluargamu yang perempuan?”, dengan sendirinya ia meninggalkan keinginannya.

Kenapa mereka para sahabat begitu enteng dan ringan meninggalkan maksiat yang kalau di mata kita amat berat sekali? jawabnya karena ilmu mereka tentang Allah, tentang surga, dan tentang neraka. Mereka tahu bahwa Allah selalu memberikan yang terbaik untuk hamba-Nya yang ta’at, mereka merindukan surga yang yang nikmatnya tidak bisa dibayangkan, mereka takut akan neraka yang azabnya juga tidak bisa dibayangkan.

Kedua,
Banyak berdo’a supaya Allah menolong kita dalam melakukan keta’atan dan meninggalkan segala kemaksiatan.

Ketiga,
Berteman dengan orang yang berilmu dan beramal sholeh. Karena teman sangat berpengaruh terhadap kepribadian seseorang, oleh sebab itu Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam berpesan supaya melihat siapa yang harus menjadi teman.

***

Penanya: Bima
Dijawab Oleh: Ustadz Ali Musri

Sumber: muslim.or.id

Pertanyaan:

Assalamualaykum,
Saya ditawari oleh teman untuk kerjasama dalam usaha, sebut saja teman saya si A. Si A mempunyai konsep usaha tapi tidak punya modal. Dia menawari saya jadi investor selama jangka waktu setahun. Bagi hasilnya adalah 35% untuk saya dan 65% untuk si A dari keuntungan tiap bulan. Maksud jangka waktu setahun adalah setelah setahun, kerjasama berakhir dan modal saya dikembalikan dan usaha diteruskan/dijalankan si A sendiri, dan saya sudah tidak mendapat bagi hasil lagi (karena modalnya sudah dikembalikan). Asset usaha yang berupa barang menjadi milik si A. Jadi saya mendapat bagi hasil selama 12 bulan dan pada akhir tahun modal yang saya setor dikembalikan lagi.

Pertanyaan saya:

  1. Bolehkah kerjasama semacam itu menurut syariat Islam? kalau tidak boleh bagaimana solusinya?
  2. Dalam konsep Mudhorobah, misalnya saya dengan si A tadi, siapa pemilik usaha, apakah saya sebagai investor atau si A yang mengelola dan yang punya konsep usahanya?
  3. Apakah ada ketentuan berapa porsi bagi hasil antara investor dengan pengelola?

Demikian pertanyaan saya Ustadz,

Jazakallahu Khairan

Probo

Jawab:

Alhamdulillah, shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Saudara Probo, semoga Allah melimpahkan kerahmatan dan hidayah-Nya kepada saudara dan juga keluarga saudara.

Syari’at Islam tidak pernah mengajarkan kepada saudara semboyan “HABIS MANIS SEPAH DIBUANG”. Sebaliknya, Islam mengajarkan agar anda senantiasa bersikap ksatria dan berbudi luhur.  Karenanya, Islam mengajarkan agar anda senantiasa berterimakasih kepada setiap orang yang telah berbuat baik kepada saudara. Bukan hanya berterimakasih, akan tetapi sudah sepantasnya bila saudara membalas budi baiknya dengan yang setimpal atau lebih baik.

وَمَنْ صَنَعَ إِلَيْكُمْ مَعْرُوفًا فَكَافِئُوهُ فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا مَا تُكَافِئُونَهُ فَادْعُوا لَهُ حَتَّى تَرَوْا أَنَّكُمْ قَدْ كَافَأْتُمُوهُ. رواه أحمد وأبو داود وغيرهما

“Barang siapa berbuat baik kepadamu, hendaknya engkau membalasnya. Bila engkau tidak mendapatkan sesuatu yang dapat digunakan untuk membalas kebaikannya, hendaknya engkau mendoakan kebaikan untuknya hingga engkau merasa telah cukup membalasnya.” (Riwayat Ahmad, Abu Dawud dan lainnya)

Syari’at membalas budi baik orang lain ini bukan hanya berlaku dalam hal materi, bahkan berlaku pula dalam ucapan salam. Karenanya, bila ada saudara anda mengucapkan salam kepada anda, hendaknya anda menjawabnya dengan yang setimpal atau dengan yang lebih sempurna.

وَإِذَا حُيِّيْتُم بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّواْ بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَسِيبًا. النساء 86

“Apabila kamu dihormati (mendapat ucapan salam) dengan suatu penghormatan (ucapan salam), maka balaslah penghormatan (ucapan salam) itu dengan lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu.” (Qs. An Nisa': 86)

Abu Ja’far At Thabari menjelaskan maksud ayat ini dengan berkata: “Bila engkai didoakan agar mendapat karunia panjang umur, dan keselamatan, maka hendaknya engkau membalas doanya dengan balik mendoakannya dengan yang lebih baik. Kalau engkau enggan mendoakan dengan yang lebih baik, maka paling kurang engkau membalas doanya dengan doa yang sama.” (Tafsir At Thabari 5/586)

Dalam urusan utang-piutang, bila anda mendapatkan uluran tangan dari saudara anda dalam bentuk piutang, maka syari’at ini juga berlaku padanya. Anda dianjurkan untuk mengembalikan dengan yang lebih baik, asalkan pengembalian ini tidak dipersyaratkan ketika akad, dan atas inisiatif ana sendiri.

عن أبي رافع رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم اسْتَسْلَفَ من رَجُلٍ بَكْرًا، فَقَدِمَتْ عليه إِبِلٌ من إِبِلِ الصَّدَقَةِ، فَأَمَرَ أَبَا رَافِعٍ أَنْ يَقْضِيَ الرَّجُلَ بَكْرَهُ، فَرَجَعَ إليه أبو رَافِعٍ، فقال: لم أَجِدْ فيها إلا خِيَارًا رَبَاعِيًا، فقال: أَعْطِهِ إِيَّاهُ إِنَّ خِيَارَ الناس أَحْسَنُهُمْ قَضَاءً. رواه مسلم

Abu Rafi’ radhiallahu ‘anhu mengisahkan: Bahwa pada suatu saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berhutang seekor anak unta dari seseorang, lalu datanglah kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam unta-unta zakat, maka beliau memerintahkan Abu Raafi’ untuk mengganti anak unta yang beliau hutang dari orang tersebut. Tak selang beberapa saat, Abu Raafi’ kembali menemui beliau dan berkata: “Aku hanya mendapatkan unta yang telah genap berumur enam tahun.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya: “Berikanlah unta itu kepadanya, karena sebaik-baik manusia adalah orang yang paling baik pada saat melunasi piutangnya.” (Muttafaqun ‘alaih)

Bila demikian adanya, layakkah bagi seorang pengusaha muslim, setelah ia mendapatkan kepercayaan dari saudaranya untuk mengelola modal usaha miliknya, akan tetapi setelah ia mampu, ia mendepak pemberi kepercayaan itu? Di saat ia mulai melihat tanda-tanda keberhasilan, bukannya ia berterimakasih kepada saudaranya, ia malah menendang saudaranya yang telah memberinya kepercayaan. Dahulu saudaranya memberinya kepercayan, dan sekarang ia malah tidak murka bila saudaranya turut mencicipi keberhasilan usahanya. Mengapa ulah semacam ini bisa terjadi? Hanya badai ambisi dan keserakahanlah yang telah menutup hati nuraninya, sehingga ia dengan mudah melupakan saudaranya yang telah memberinya kepercayaan.

Dapatkah hati nurani anda menerima perlakuan tidak mulia semacam ini? Bila anda tidak suka, maka janganlah anda memperlakukan saudara anda dengan cara-cara semacam ini.

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُزَحْزَحَ عَنِ النَّارِ وَيَدْخُلَ الْجَنَّةَ فَلْتَأْتِهِ مَنِيَّتُهُ وَهُوَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَلْيَأْتِ إِلَى النَّاسِ الَّذِى يُحِبُّ أَنْ يُؤْتَى إِلَيْهِ. رواه مسلم

“Barang siapa mendambakan dirinya dijauhkan dari api neraka, dan dimasukkan ke surga, hendaknya ia mati dalam keadaan beriman kepada Allah dan hari akhir. Dan hendaknya ia memperlakukan orang lain dengan perilaku yang ia suka untuk diperlakukan dengannya.” (Riwayat Muslim)

Demikianlah bila kita mengkaji masalah ini dari sisi akhlaq.

Adapun bila kita pandang dari sisi hukum mu’amalah, maka perbuatan ini nyata-nyata haram dan termasuk memakan harta orang lain dengan cara-cara yang tidak terpuji.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ. النساء: 29

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu.” (Qs. An Nisa': 29), dan makna firman Allah Ta’ala “perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka” ialah perniagaan yang didasari oleh rasa suka sama suka sesama kalian.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menegaskan hal yang sama:

لاَ يَحِلُّ مَالُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ إِلاَّ بِطِيبِ نَفْسٍ مِنْهُ. رواه أحمد والدارقطني والبيهقي، وصححه الحافظ والألباني

“Tidaklah halal harta seorang muslim kecuali dengan  dasar kerelaan jiwa darinya.” (Riwayat Ahmad, Ad Daraquthny, Al Baihaqy dan oleh Al Hafizh Ibnu Hajar dan Al Albany hadits ini dinyatakan sebagai hadits shahih)

Penjelasannya sebagai berikut:

Diantara permasalahan yang perlu didudukkan selalu sebelum anda memulai suatu usaha atau akad, ialah masalah status kepemilikan barang. Permasalahan ini sangat penting untuk diperjelas pada saat akad: milik siapakah barang atau unit usaha yang akan dijalankan?

Dengan kejelasan status kepemilikan barang dan unit usaha, maka akan jelas pulalah hak dan tanggung jawab masing-masing pihak terkait.

Kejadian-kejadian semacam yang ditanyakan di sini adalah salah satu dampak langsung dari tidak diperjelasannya status kepemilikan unit usaha ketika akad.

Sering kali, akad kerjasama usaha, baik itu dengan konsep mudharabah, salam, atau  syarikah atau lainnya hanya didasari oleh asas saling mempercayai dan gambaran ideal tentang seorang muslim yang berbudi luhur dan jauh dari ambisi dan keserakahan.

Tapi apa daya, bila ternyata ketika di kemudian hari setelah usaha berhasil atau sebaliknya yaitu merugi, mulailah wajah yang asli dari masing-masing pihak nampak dengan jelas. Masing-masing pihak hanyut dalam ambisi masing-masing, sedangkan gambaran ideal seorang muslim redup dan akhirnya sirna. Yang tersisa hanyalah ambisi dan keserakahan.

Para ulama’ ahli fiqih telah menjelaskan tentang status kepemilikan barang dalam akad mudharabah atau yang semisal. Sebagian ulama’ menegaskan hal ini dengan menyatakan:

المَالُ وَنَمَاؤُهُ لِصَاحِبِ الْمَالِ

“Harta benda beserta seluruh turunannya adalah hak pemilik harta.”

Berikut ini beberapa hukum mudharabah yang membuktikan hal tersebut:

Pertama:

Para ahli fiqih menjelaskan bahwa di antara ketentuan akad mudharabah ialah dengan menyebutkan bagian pelaksana usaha dari hasil/keuntungan yang diperoleh. Adapun bagian pemodal dari keuntungan yang diperoleh tidak wajib disebutkan. Yang demikian itu dikarenakan pelaksana usaha berhak mendapatkan bagian dari keuntungan karena adanya persyaratan, sedangkan pemodal, berhak mendapatkan bagian dari keuntungan karena keuntungan yang diperoleh adalah keturunan/hasil dari modal miliknya. (Silahkan baca: Nihayatul Mathlab oleh Al Juwaini 7/455, Al Wasith oleh Al Ghazali 4/111-112, Al Mughni oleh Ibnu Qudamah 7/140)

Ibnu Qudamah berkata:

وإن قدر نصيب العامل فقال : ولك ثلث الربح أو ربعه أو جزءا معلوما أي جزء كان فالباقي لرب المال لأنه يستحق الربح بماله لكونه نماءه وفرعه والعامل يأخذ بالشرط فما شرط له استحقه وما بقي فلرب المال بحكم الأصل

“Bila pada saat akad, bagian pelaksana usaha dari keuntungan telah ditentukan, misalnya pemodal berkata: Engkau berhak mendapatkan 1/3, atau 1/4 atau berapa persen yang jelas dari keuntungan, maka sisa keuntungannya menjadi hak pemodal. Yang demikian itu dikarenakan pemodal berhak menerima bagian dari keuntungan karena keutungan yang ada merupakan hasil dan keturunan dari modalnya. Sedangkan pelaku usaha, maka ia berhak mendapatkan bagian dari keuntungan karena adanya persyaratan. Dengan demikian, seberapapaun bagian yang dipersyaratkan untuknya, maka hanya itulah haknya, sedangkan sisanya milik pemodal berdasarkan kaedah/hukum asal (yaitu modal beserta hasilnya adalah milik pemodal-pen).” (Al Mughni 7/140)

Dengan demikian, bila bagian pelaksana usaha tidak disebutkan, maka akad mudharabah mengandung gharar (ketidak pastian). Dan sudah barang tentu hal itu –menurut banyak ulama’- menjadikan akad mudharabah antara keduanya tidak sah dan terlarang. (baca referensi di atas).

Kedua:

Di antara hal yang membuktikan bahwa kepemilikan unit usaha pada akad mudharabah adalah milik pemodal ialah: Pelaku usaha tidak berhak mendapatkan bagian dari keuntungan kecuali setelah modal secara utuh dikembalikan kepada pemodal, yaitu setelah tutup buku. Dan keuntungan usaha sebelum tiba saatnya tutup buku merupakan cadangan bagi modal usaha. Dengan demikian bila setelah mendapat keuntungan terjadi kerugian, maka keuntungan yang telah diperoleh wajib digunakan untuk menutupi kerugian yang terjadi setelahnya. Demikianlah seterusnya hingga tiba saatnya tutup buku. Saat itulah, pelaku usaha berhak mengambil bagi hasil yang telah disepakati. (Baca: Nihayatul Mathlab oleh Al Juwaini 7/505-506, Al Wasith oleh Al Ghazali  4/122, Al Mughni Ibu Qudamah 7/165, Raudhatut Thalibin oleh An Nawawi 5/136, Az Zakhirah oleh Al Qarafi 6/89, & Mughnil Muhtaj oleh As Syarbini 2/318)

Ketiga:

Para ulama’ juga telah menegaskan bahwa status dan wewenang pelaku usaha dalam akad mudharabah  hanyalah sebagai seorang perwakilan. Dengan demikian, wewenangnya terbatas. Karenanya, para ulama’ menyebutkan bahwa pelaku usaha tidak dibenarkan untuk menghibahkan sebagian harta mudharabah, atau menjualnya dengan harga lebih murah dari harga pasar, atau membeli dengan harga lebih mahal dari harga pasar. Sebagaimana wewenangnya juga dibatasi oleh berbagai persyaratan pemilik modal.

Bila pelaku usaha melanggar kewenangannya, semisal menghibahkan sebagian harta mudharabah tanpa izin, atau membeli dengan harga yang lebih mahal dari harga pasar, maka ia wajib menggantinya. (Baca: Al Wasith oleh Al Ghazali 4/116, Al Mughni oleh Ibnu Qudamah 7/150-151, & Bada’ius Shana’i oleh Al Kasani 6/87)

Keempat:

Bila terjadi kerugian, maka kerugian yang berbentuk finansial (materi) maka sepenuhnya menjadi tanggung jawab pemodal. Dan bila pada akad dipersyaratkan agar pelaku usaha turut menanggung kerugian materi/finansial, maka persyaratan ini tidak sah.

Ibnu Qudamah berkata:

متى شرط على المضارب ضمان المال أو سهما من الوضيعة فالشرط بالطل لا نعلم فيه خلافا

“Bila disyaratkan agar pelaku usaha agar menjamin modal atau turut menanggung sebagian dari kerugian, maka persyaratan ini batal (tidak sah). Kami tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat tentang hukum ini.” (Al Mughni oleh Ibnu Qudamah 7/176)

Keempat hukum diatas membuktikan bahwa unit usaha yang didirikan dengan dana dari pemodal dengan skema mudharabah ialah milik pemodal.

KESIMPULAN

Bila demikian adanya, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Sikap sebagian orang yang “habis manis sepah dibuang” tidak dibenarkan dalam Islam.
  2. Unit usaha dalam akad mudharabah adalah milik pemodal dan bukan milik pelaksana usaha.
  3. Wewenang untuk menjual unit usaha adalah milik pemodal, dengan demikian hanya pemodal yang berhak memutuskan, apakah unit usaha tersebut akan ia jual atau tidak. Dan bila ia jual, maka penentuan harganya sepenuhnya terserah kepadanya.
  4. Setiap unit usaha memiliki hak-hak non materi, berupa merek dagang, pasaran (pelanggan) dan lain sebagainaya. Tentu berbagai hal ini mempengaruhi harga jual unit usaha. Karenanya sebagai bentuk kelaliman bila pada saat tutup buku, pelaku usaha hanya mengembalikan dana pemodal apa adanya, karena itu (biasanya-) lebih sedikit dari nilai jual unit usaha yang telah berjalan lancar, dengan merek dagang, pelanggan, dan lainnya.
  5. Bila ketentuan ini tidak dapat diterima oleh pelaku usaha, maka sikapnya ini hanya memiliki dua penafsiran: (A). Ia telah mengambil hak pemodal dengan paksa, dan ini adalah perbuatan haram. (B). Akad yang terjalin antaranya dengan pemodal sebenarnya adalah akad hutang-piutang, karena diantara perbedaan antara akad hutang-piutang dari akad mudharabah ialah status kepemiliki unit usaha.

Wallahu a’alam bisshowab, semoga Allah Ta’ala melimpahkan kepada kita semua rizqi yang halal dan akhlaq yang terpuji. Dan semoga praktek-praktek “habis manis sepah dibuang” segera sirna dari tengah-tengah kita.

Ustadz Muhammad Arifin Badri, M.A.
Sumber: www.pengusahamuslim.com

***

Dan berikut perbedaan antara Akad Piutang dengan Akad Mudharabah:

akad mudharabah

Pertanyaan:

Bagaimana kita jika menjual barang-barang kebutuhan harian, menjual produk jadi, seperti pisau, meja, lampu, dsb… dimana kita tahu jelas pembelinya adalah pabrik khomer, atau pembelinya adalah gereja, bank ribawi (menjual kertas untuk mencetak billing, menjual mesin ATM, komputer), dst… Dimana jika menggunakan kaidah penjual pisau kita tidak tahu akan digunakan untuk apa maka itu tidak mengapa, dan kita tidak diwajibkan untuk bertanya untuk apa pisau ini anda beli, namun dalam perusahaan yang cukup besar, maka data pelanggan akan dicatat dan jelas siapa mereka, bidang kerja mereka apa. Seperti toko bangunan menjual batu bata untuk pembangunan gereja (mereka tahu jelas karena bata akan dikirim ke gereja dan untuk membangun gereja). [Penanya 1]

***

Alhamdulillah perusahaan saya tidak menjual software pesanan, tapi menjual produk jadi (software yang siap pakai), namun ternyata banyak juga gereja, sekolah-sekolah kristen dan lembaga ribawi yang membelinya), mereka membeli begitu saja tanpa meminta modifikasi atau penambahan.

Juga dalam kondisi, tukang becak atau supir taksi yang dinaiki penumpang untuk diantar ke gereja. Bagaimana sikap mereka, apakah dilayani atau tidak?

Intinya apakah mutlak kita tidak boleh bermuamalah dengan mereka atau masih ada area/bidang yang kita boleh berjual beli dengan mereka, selama produk yang dijual bukan inti kegiatan mereka? [penanya 2]

Jawaban:

Alhamdulillah, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Apa yang dipertanyakan di sini tidak ada bedanya dari apa yang telah di jawabkan sebelumnya. Karenanya dasarnya ialah asas diharamkan ta’awun/kerjasama dalam kemungkaran. Dan tidak diragukan bahwa menjalin hubungan yang langsung memberikan kontribusi positif dalam perbuatan mungkar, baik dengan jual-beli, sewa-menyewa, atau lainnya adalah menyelisihi prinsip ini.

Berikut saya sertakan jawaban Al Lajnah Ad Da’imah Lil Ifta’ Kerajaan Saudi Arabia yang semakna dengan apa yang Anda tanyakan di atas:

الفتوى رقم  20507

س: لدينا عمارة في موقع ممتاز، وعلى أفضل الشوارع في مدينة الطائف بحمد الله، والآن يتردد علينا مدير البنك السعودي البريطاني، وذلك لاستئجار المعارض التي تحت هذه العمارة لجعل الفرع الرئيس للبنك بالطائف بها، بمبلغ مغر جدا، ولمدة عشر سنوات، وسوف يدفع خمس سنوات مقدما، ونحن -أصحاب العمارة- في حاجة ماسة إلى السيولة في الوقت الحاضر لسداد بعض الديون التي ترتبت على هذه العمارة، وديون أخرى للغير أحرجنا منهم من كثرة ترددهم علينا، البعض منا يريد تأجيرها على البنك لسداد تلك الديون، والبنك إثمه عليه، ولا إثم علينا؛ لأننا لم نتعامل معه بالربا، ولا مع غيره بحمد الله، وهو مستأجر كغيره من المستأجرين. والبعض منا يقول: إن في ذلك إثما من باب: (وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ) سورة المائدة الآية 2  والآن نحن في حيرة من أمرنا، أفتونا مأجورين. هل نؤجر على البنك وإثمه عليه، أم نحن أصحاب العمارة آثمون إذا أجرنا عليه تلك المعارض؟ حتى نتمكن من الرد على البنك المستعجل على إجابتنا.

ج: لا يجوز تأجير المحلات للبنوك؛ لأنها تتخذها محلات للتعامل بالربا، وقد لعن رسول الله -صلى الله عليه وسلم- آكل الربا وموكله وشاهديه وكاتبه. والمؤجر يدخل في ذلك؛ لأنه أعان على أكل الربا بأخذ الأجرة في مقابل ذلك، والله تعالى يقول: (وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ) سورة المائدة الآية 2،  وفي الحلال غنية عن الحرام. وقد قال الله سبحانه: (وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ  مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ) سورة الطلاق الآية 2-3

وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.

اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء

عضو … عضو … عضو … نائب الرئيس … الرئيس

بكر أبو زيد … صالح الفوزان … عبد الله بن غديان … عبد العزيز آل الشيخ … عبد العزيز بن عبد الله بن باز

Fatwa no: 20507

[Pertanyaan]

“Alhamdulillah, kami (sekelompok orang yang berserikat) memiliki gedung di tempat yang strategis dan di jalan yang paling bagus pula. Dan sekarang, direktur Saudi British Bank terus menerus mendatangi kami, ingin menyewa ruko yang terletak di bagian bawah bangunan tersebut, untuk dijadikan sebagai kantor cabang pusat bank itu di kota Taif. Ia menawarkan harga sewa yang benar-benar menggiurkan untuk tempo 10 tahun. Dengan ketentuan uang sewa lima tahun pertama akan ia bayarkan di muka. Sedangkan -sekarang ini- kami; pemilik gedung sangat membutuhkan dana untuk melunasi piutang kami selama membiayai pembangunan gedung ini dan juga piutang lainnya. Sekarang ini kami merasa kikuk ketika menghadapi para kreditor, karena mereka telah berkali-kali menagih kami. Sebagian dari kami menginginkan agar gedung itu disewakan kepada bank tersebut, agar kami bisa segera melunasi piutang. Menurutnya dosa bank adalah tanggung jawab pengelola bank, sedangkan kami tidak turut menanggungnya; karena kami –segala puji hanya milik Allah- tidak menjalin akad riba, baik dengan bank atau dengan lainnya. Dan status bank adalah sebagai penyewa layaknya penyewa lainnya.

Akan tetapi sebagian dari kami berpendapat:  bahwa menyewakan gedung kepada bank adalah perbuatan dosa, karena tercakup oleh firman Allah Ta’ala:

وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ. المائدة 2

“Dan janganlah kamu tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan.” (Qs. Al Maidah: 2)

Dan sekarang kami kebingungan, karenanya kami mohon diberi fatwa, semoga Allah melimpahkan pahala kepada bapak: Apakah kami boleh menyewakan ruko itu kepada bank dan hanya merekalah yang menanggung dosanya? Ataukah kami para pemilik gedung juga turut menanggung dosanya, bila menyewakan ruko kami kepada bank? Harap pertanyaan kami dijawab sesegera mungkin, agar kami berdasarkan fatwa bapak, dapat memberikan jawaban kepada pihak bank.

[Jawaban]

Tidak boleh menyewakan ruko kepada bank, karena mereka akan menjadikan ruko itu sebagai tempat untuk menjalankan riba. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melaknat pemakan riba, pemberi riba, dua orang saksinya dan penulisnya. (Riwayat Ahmad, Abu Dawud, An Nasai, Ibnu Majah, Ad Darimi)

Dan orang yang menyewakan gedung tercakup ke dalam hadits ini, karena ia telah turut mendukung terjadinya riba, yaitu dengan menyewakan gedung kepada mereka. Padahal  Allah Ta’ala telah berfirman:

وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan janganlah kamu tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Pedik siksa-Nya.” (Qs. Al Maidah: 2)

Dan pintu-pintu rizqi yang halal cukuplah banyak, sehingga tidak ada alasan untuk menempuh yang haram.

Dan Allah Ta’ala juga berfirman:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ  مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Dan barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah jadikan baginya jalan keluar, dan Allah melimpahkan kepadanya rizi dari jalan-jalan yang tidak ia duga-duga.” (Qs. At Thalaq: 2-3)

Wabillahit Taufiq, semoga shalwat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Anggota Tetap Komite Riset Ilmiyyah dan Fatwa

Ketua: Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz

Wakil ketua: Abdul Aziz Alus Syeikh

Anggota: Bakar Abu Zaid

Anggota: Shaleh Fauzan

Anggota: Abdullah Ghudaiyyan

***

NIAT DALAM MUAMALAH

Masalah niat yang baik tidak cukup untuk menjadikan suatu amalan dianggap baik. Orang-orang Hindu, Budha, dan Nasrani juga berniat baik ketika mereka beribadah dan menyembah tuhan-tuhan mereka. Tapi niat itu tidak cukup, makanya mereka tetap dikatakan kafir, dan kelak di akhirat mereka bakal menjadi penghuni neraka.

Sebagaimana niat dalam mu’amalah juga belum cukup, dan harus diiringi oleh amalan nyata yang benar pula. Gambarannya: bagaikan orang yang berniat baik dengan memudahkan urusan orang lain, tapi dengan menerima suap. Semua orang sepakat bahwa pejabat yang menerima uang suap itu telah bertindak kejahatan, walaupun niatnya baik, memudahkan urusan orang lain dan juga ingin mencukupi kebutuhan keluarganya dan niat baik lainnya. Perbuatan tersebut jelas melanggar syari’at, dan dapat merugikan orang lain. Demikian juga halnya menjual barang ke gereja: Melanggar syari’at karena turut melancarkan perbuatan maksiat, dan dapat menimbulkan kerugian pada umat islam lainnya. Karena bisa saja saat ini kegiatan mereka internal, tapi mereka menjadi bisa menjalankan kegiatannyan, sehingga keberadaan mereka tentu meresahkan setiap orang yang benar-benar beriman, terlebih-lebih telah terbukti bahwa mereka/gereja senantiasa berusaha menyebarkan kesesatan dan kekafirannya kepada umat Islam. karenanya tidak sepantasnya sebagai orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk bersikap acuh tak acuh menghadapi kemungkaran dan kekufuran disekitarnya.

Mengapa kita tidak bersikap yang lebih terpuji yaitu dengan aktif berdakwah dan berusaha memberikan tekanan atau mengkondisikan (menciptakan kondisi yang bagus) sehingga para pemeluk agama lain menjadi terseret untuk masuk Islam, minimal meninggalkan agamanya.

Tidakkah hadits berikut cukup untuk memotivasi kita untuk berbuat sesuatu:

عَجِبَ اللَّهُ مِنْ قَوْمٍ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ فِى السَّلاَسِلِ. رواه البخاري

“Allah heran dengan orang-orang yang masuk surga dengan dirantai.” (Riwayat Bukhari)

Dan pada riwayat lain disebutkan:

لَقَدْ عَجِبَ رَبُّنَا عَزَّ وَجَلَّ مِنْ قَوْمٍ يُقَادُونَ إِلَى الْجَنَّةِ فِى السَّلاَسِلِ. رواه أحمد وأبو داود

“Sungguh Allah heran dengan orang-orang yang ditarik untuk masuk ke surga dengan menggunakan rantai.” (Riwayat Ahmad, dan Abu Dawud)

Saudaraku! Tidakkah anda merasa terpanggil untuk turut menjadi orang-orang yang mampu menarik sebagian orang agar bisa masuk surga dengan menggunakan rantai? Kondisikanlah sedemikian rupa masyarakat anda, agar mereka itu menjadi “mau-tidak mau” “sadar atau tidak sadar” masuk Islam, beribadah, taat dan meninggalkan maksiat.

Selamat berjuang dan menjadi para penuntut umat untuk masuk surga, baik dengan suka rela atau dengan rantai baja.

***

Ustadz Muhammad Arifin Badri, M.A.

Sumber: www.pengusahamuslim.com

Pertanyaan:

Gambaran bisnisnya sebagai berikut:
Ada seseorang atau sebuah perusahaan yang memberi pinjaman, sebut saja A, memberi pinjaman kepada seseorang atau perusahaan, sebut saja B. Si A, dengan alasan bahwa si B belum melunasi hutang sesuai dengan perjanjian (ngemplang hutang), menyewa seseorang atau perusahaan, sebut saja C sebagai penagih hutang. Akhirnya si C yang bertugas menagih hutang kepada si B. Si C dibayar oleh si A sesuai perjanjian. Bisa berupa prosentasi uang yang didapat dari si B, atau sejumlah uang yang sudah ditentukan sebelumnya.

Kenyataan yang sering terjadi di lapangan (tambahan dari saya):
Biasanya Debt Collector disewa oleh Bank atau perusahan pembiayaan, karena mereka memang bisnisnya dalam hutang-menghutang. Debt Collector (si C) biasanya identik dengan kekerasan, karena memaksa si penghutang (si B) untuk melunasi hutangnya. Bahkan dengan cara menerornya. Karena memang dia dibayar untuk mendapatkan uang pinjaman yang masih ditunggak peminjam. Banyak sekali laporan tentang hal ini.

Andi S
Jl. Baladewa Depok

Jawaban:

Alhamdulillah, shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya. Amiin.

Sebagaimana telah dijelaskan pada beberapa kesempatan bahwa hutang piutang adalah salah satu bentuk akad yang bertujuan memberikan santunan atau uluran tangan kepada orang yang membutuhkannya. Karenanya, pihak pertama yang berperan sebagai pemberi uluran tangan atau yang biasa disebut dengan kreditur tidak dibenarkan untuk mengeruk keuntungan dari uluran tangan. Kreditur hanya dibenarkan mencari keuntungan dari balasan Allah; berupa pahala, keberkahan hidup, dan keridhaan-Nya.

Dan bahkan bila saudara anda pihak kedua belum mampu membayar piutangnya, maka anda sebagai kreditur berkewajiban untuk menundanya hingga ia berkelapangan, sehingga mampu menunaikan kewajibannya:

وَإِن كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَةٍ

“Dan jika (orang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan…” (Qs. Al Baqarah: 280)

Dan kalaupun debitur mampu melunasinya tepat waktu, maka Islam masih membuka pintu surga bagi kreditur, yaitu dengan memaafkan sebagian atau bahka seluruh piutangnya:

وَأَن تَصَدَّقُواْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

“Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (Qs. Al Baqarah: 280)

Demikianlah bila syari’at Allah dan iman kepada Allah serta hari akhir telah menjadi lentera setiap derap langkah kreditur:

مَنْ طَلَبَ حَقّاً فَلْيَطْلُبْهُ فِي عَفَافٍ وَافٍ أَوْ غَيْرَ وَافٍ. رواه الترمذي وابن ماجه وابن حبان والحاكم


“Barang siapa yang menagih haknya, hendaknya ia menagihnya dengan cara yang terhormat, baik ia berhasil mendapatkannya atau tidak.”
(Riwayat At Tirmizy, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Al Hakim)

Demikianlah saudaraku, agama Islam yang anda cintai mengajarkan akhlaq yang luhur nan terpuji kepada anda. Apa pendapat anda tentang syari’at yang demikian indah nan luhur ini?

Dengan demikian, pihak kreditur akan senantiasa menjadi pihak yang berjasa luhur, baik piutangnya dilunasi tepat waktu atau sebaliknya, pihak kedua sebagai penerima uluran tangan dan yang biasa disebut dengan debitur, sudah sepantasnya untuk menghargai dan mensyukuri uluran tangan saudaranya.

لاَ يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ. رواه أبو داود وغيره

“Tidak dianggap mensyukuri Allah, orang yang tidak mensyukuri orang (yang telah berbuat kebaikan padanya).”

Demikianlah sepantasnya anda bersikap dengan saudara anda yang telah melapangkan dadanya untuk menolong dan memberikan uluran tangan kepada anda. Karenanya dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa diantara indikasi bahwa anda berjiwa luhur dan mulia ialah bila anda sadar diri atas jasa saudara anda dan selanjutnya membalasnya dengan yang lebih baik.

إِنَّ خِيَارَ الناس أَحْسَنُهُمْ قَضَاءً. رواه مسلم

“Sebaik-baik manusia adalah orang yang paling baik pada saat melunasi piutangnya.” (Muslim)

Andai anda tidak mampu mebalas jasa dan uluran tangan saudara anda dengan yang lebih baik, paling kurang anda mendoakan kebaikan untuknya:

مَنْ صَنَعَ إِلَيْكُمْ مَعْرُوفًا فَكَافِئُوهُ فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا مَا تُكَافِئُونَهُ فَادْعُوا لَهُ حَتَّى تَرَوْا أَنَّكُمْ قَدْ كَافَأْتُمُوهُ. رواه أحمد وأبو داود وصححه الألباني

“Barang siapa yang telah berbuat kebaikan kepadamu, maka balaslah kebaikannya, bila engkau tidak memiliki sesuatu yang dapat digunakan untuk membalas kebaikannya, maka doakanlah kebaikan untuknya hingga engkau merasa telah cukup membalas kebaikannya tersebut.” (Riwayat Ahmad, Abu Dawud dan dinyatakan sebagai hadits shahih oleh Al Albani)

Demikianlah hubungan yang ideal menurut Syari’at Islam dalam hal hutang-piutang.

Akan tetapi, karena agama Islam bukanlah agama orang-orang pemalas dan rakus, maka Syari’at Islampun menutup segala pintu di hadapan mereka dari menjalankan kejahatannya. Sebagaimana Syari’at menutup segala pintu terjadinya riba, maka demikian juga Islam menutup segala jalan bagi terjadinya kejahatan orang-orang yang tidak tahu diri, dan bermuka badak.

Karenanya, Islam mengharamkan atas debitur perbuatan menunda-nunda piutang.

مَطْلُ الْغَنِىِّ ظُلْمٌ وَإِذَا أُتْبِعَ أَحَدُكُمْ عَلَى مَلِىءٍ فَلْيَتْبَعْ. متفق عليه

“Penunda-nundaan orang yang telah kecukupan adalah perbuatan zhalim, dan bila tagihanmu dipindahkan kepada orang yang berkecukupan, maka hendaknya iapun menurutinya.” (Muttafaqun ‘alaih)

Pada riwayat lain Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan ancaman kepada orang-orang rakus yang tidak tahu membalas budi baik saudaranya:

مَنْ أَخَذَ أَمْوَالَ النَّاسِ يُرِيدُ أَدَاءَهَا أَدَّى اللَّهُ عَنْهُ ، وَمَنْ أَخَذَ يُرِيدُ إِتْلاَفَهَا أَتْلَفَهُ اللَّهُ. رواه البخاري

“Barang siapa yang mengambil harta orang lain, sedangkan ia berniat untuk menunaikannya, niscaya Allah akan memudahkannya dalam menunaikan harta tersebut, dan barang siapa mengambil harta orang lain sedangkan ia berniat untuk merusaknya, niscaya Allah akan membinasakannya.” (Riwayat Bukhari)

Dan di antara syari’at Islam yang berfungsi menutup jalan-jalan orang-orang yang bermuka badak ialah disyari’atkannya penulisan, dan mempersaksikan setiap akad piutang serta dibolehkannya pergadaian.

Ketiga hal ini untuk memberikan rasa aman bagi pemilik hak, yaitu kreditur dari ulah jahat debitur, sebagaimana memberikan rasa aman bagi debitur dari ketamakan kreditur. Sebagaimana dijelaskan pada dua ayat berikut:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِذَا تَدَايَنتُم بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى فَاكْتُبُوهُ وَلْيَكْتُب بَّيْنَكُمْ كَاتِبٌ بِالْعَدْلِ وَلاَ يَأْبَ كَاتِبٌ أَنْ يَكْتُبَ كَمَا عَلَّمَهُ اللّهُ فَلْيَكْتُبْ وَلْيُمْلِلِ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ وَلْيَتَّقِ اللّهَ رَبَّهُ وَلاَ يَبْخَسْ مِنْهُ شَيْئًا فَإن كَانَ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ سَفِيهًا أَوْ ضَعِيفًا أَوْ لاَ يَسْتَطِيعُ أَن يُمِلَّ هُوَ فَلْيُمْلِلْ وَلِيُّهُ بِالْعَدْلِ وَاسْتَشْهِدُواْ شَهِيدَيْنِ من رِّجَالِكُمْ فَإِن لَّمْ يَكُونَا رَجُلَيْنِ فَرَجُلٌ وَامْرَأَتَانِ مِمَّن تَرْضَوْنَ مِنَ الشُّهَدَاء أَن تَضِلَّ إْحْدَاهُمَا فَتُذَكِّرَ إِحْدَاهُمَا الأُخْرَى وَلاَ يَأْبَ الشُّهَدَاء إِذَا مَا دُعُواْ وَلاَ تَسْأَمُوْاْ أَن تَكْتُبُوْهُ صَغِيرًا أَو كَبِيرًا إِلَى أَجَلِهِ ذَلِكُمْ أَقْسَطُ عِندَ اللّهِ وَأَقْومُ لِلشَّهَادَةِ وَأَدْنَى أَلاَّ تَرْتَابُواْ إِلاَّ أَن تَكُونَ تِجَارَةً حَاضِرَةً تُدِيرُونَهَا بَيْنَكُمْ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَلاَّ تَكْتُبُوهَا وَأَشْهِدُوْاْ إِذَا تَبَايَعْتُمْ وَلاَ يُضَآرَّ كَاتِبٌ وَلاَ شَهِيدٌ وَإِن تَفْعَلُواْ فَإِنَّهُ فُسُوقٌ بِكُمْ وَاتَّقُواْ اللّهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللّهُ وَاللّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ {282} وَإِن كُنتُمْ عَلَى سَفَرٍ وَلَمْ تَجِدُواْ كَاتِبًا فَرِهَانٌ مَّقْبُوضَةٌ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkannya, maka hendaklah dia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah dia bertakwa kepada Allah Rabbnya, dan janganlah dia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tak ada dua orang lelaki, maka (boleh seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka seorang lagi mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih dapat menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah mu’amalahmu itu), kecuali jika mu’amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit-menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu’amalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperolah seorang penulis, maka hendaklah ada barang gadaian yang diserahkan (kepada kreditur).” (Qs. Al Baqarah: 282-283)

Dengan adanya ketiga hal di atas kedua belah pihak tidak dapat memanipulasi nominasi piutang, atau menunda atau mengajukan tempo pembayaran dan perilaku serupa lainnya.

Dengan adanya pergadaian, kreditur merasa aman atas hak-haknya, Betapa tidak, barang gadaian dapat ia jual/lelang bila pada tempo yang telah disepakati, pihak debitur tidak mampu atau merakayasa alasan guna menunda kewajibannya.

Karenanya, pada keadaan seperti sekarang ini, dimana amanah seakan telah sirna dari hati masyarakat, rasa takut kepada Allah sekan telah lenyap, dan halal-haram tidak lagi digubris, maka menerapkan ketiga hal di atas, atau salah satunya, terutama pergadaian, terasa semakin penting.

Akan tetapi coba anda sedikit mencermati fenomena yang terjadi di masyarakat pada kedua belah pihak kreditur dan debitur:

Kreditur berambisi besar untuk dapat menghutangkan dananya kepada debitur, guna mendapatkan bunganya alias riba. Karenanya, mereka begitu nekat dalam berspekulasi mengucurkan dananya. Perbankan dan badan keuangan berlomba-lomba mengucurkan piutang. Mereka tidak suka untuk mempersyaratkan barang gadai kepada calon debitur, karena itu hanya akan mengurangi jumlah debiturnya sehingga keuntungan/bunganyapun akan berkurang. Para debitur merasa tidak suka dengan persyaratan gadai, karena biasanya kreditur berusaha mengeruk keuntungan lain dengan cara berbuat sewenang-wenang ketika melelang barang gadaiannya, sehingga pihak debitur merasa dirugikan dua kali.

Sebaliknya debitur berambisi besar untuk mengeruk harta kekayaan dengan segala cara, sehingga tidak perduli dengan haramnya riba. Walaupun ia mengetahui sepenuhnya bahwa riba/bunga adalah haram, ia tidak perduli. Yang penting baginya adalah usaha semakin besar, keuntungan semakin menggunung, harta kekayaannya semakin melimpah ruah. Bila riba yang dosanya sedemikian besarnya, sampai-sampai dosa riba yang paling ringan bagaikan dosa menzinahi ibu kandung sendiri, akankah orang semacam itu dapat dipercaya akan melunasi hutangnya  dengan baik? Prinsip mereka: selama hutang dapat ditunda-tunda, maka mengapa harus menulasinya tepat waktu?

Tidak heran, bila fakta di lapangan, kedua belah pihak saling mengakali lawan akadnya.

Sebagai salah satu solusi sementara yang ditempuh oleh para kreditur ialah dengan menyewa jasa debt collector, yang terbiasa menempuh cara-cara kekerasan dalam mendapatkan tagihannya. Dan sikap para debt collector semacam ini adalah satu hal pasti terjadi. Betapa tidak, pihak kreditur tidaklah merasa perlu untuk menggunakan jasa debet collector melainkan setelah merasa jenuh dengan kegiatan melayangkan surat tagihan kepada debitur. Dan untuk menempuh jalur hukum yang resmi, maka itu prosesnya panjang, membutuhkan biaya yang tidak murah, dan membuka peluang bagi kejahatan para mafia peradilan.

Saya harap anda jujur! Mungkinkah perbankan atau perusahaan finansial menyewa jasa debt collector bila debitur melunasi piutangnya tepat waktu atau bahwa sebelum jatuh tempo?

Demikianlah gambaran kehidupan masyarakat yang jauh dari keimanan, tuntunan syari’at Allah dan dipenuhi oleh keserakahan. Allah Ta’ala membalas perilaku jahat sebagian orang dengan perilaku jahat sebagian yang lainnya. Demikianlah fenomenanya yang jauh-jauh hari digambarkan oleh Hasan Al Basri:

يُعَذِّبُ الله الظَالِمَ بِالظَالِمِ ثُمَّ يُدْخِلُهُمَا النَارَ جَمِيعاً

“Allah akan mengazab orang yang zhalim dengan perbuatan orang zhalim lainnya, dan selanjutnya kedua-duanya akan diceburkan ke dalam neraka.”

Andai masyarakat kita mengindahkan syari’at islam, niscaya tidak akan ada jasa debt collector, karena pengadilan tegak, amanah ditunaikan, harta haram dijauhi dan tindak kezhaliman diperangi.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa usaha debt collector yang biasa diwarnai dengan kekerasan adalah usaha yang tidak selaras dengan Syari’at Islam. Karenanya, tidak sepantasnya anda sebagai orang yang beiman kepada Allah dan hari akhir untuk turut menodai tangan-tangan anda dengannya.

Saudaraku! Bila anda merasa jenuh dengan keadaan yang menyebalkan ini, maka apa yang akan anda lakukan? Mungkinkah anda akan berdiam diri, berpangku tangan dan menyerah kepada keadaan? Bila itu pilihan anda, maka yakinlah anak-cucu anda akan terus mewarisi keadaan menyebalkan ini dan bahkan mungkin malah mengembangkannya menjadi semakin menyebalkan atau minimal menambah panjang daftar korban keadaan ini.

Saudaraku! Sadarilah bahwa kunci perubahan keadaan ini ada di tangan anda. Mulailah menggunakan kunci tersebut untuk sedikit demi sedikit merubah keadaan ini?

Bangunlah kepercayaan, amanah, kesadaran untuk membalas jasa baik orang dengan yang setimpal atau lebih sebagaimana tumbuh suburkanlah semangat untuk mencari keridhaan Allah dalam setiap perniagaan yang anda jalin dengan orang lain.

Kobarkanlah semangat untuk menjadikan kehidupan dunia ini sebagai ladang untuk menyemai benih-benih kehidupan di akhirat.

Yakinlah, bila anda telah mulai menggunakan kunci perubahan yang ada di tangan amnda, tak lama lagi apa yang anda impikan akan segera terwujud, Kehidupan yang penuh dengan nuansa iman dan ketakwaan kepada Allah, perniagaan yang bebas dari riba, dan rizki yang berkah benar-benar terwujud dalam kehidupan anda.

Saudaraku! jangan pernah anda meremehkan peran diri anda dalam menentukan masa depan masyarakat anda. Anda memiliki peran yang sangat besar, karena masyarakat tidak akan terbentuk kecuali dengan anda dan teman-teman anda. Bukankah anda menyadari bahwa anda memiliki arti dan peran yang besar dalam kehidupan keluarga, kerabat,teman-teman dan masyarakat anda?

Ketahuilah bahwa setiap perubahan itu biasanya dimulai dari satu atau beberapa gelintir orang yang berjiwa besar.

مَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَىْءٌ . رواه مسلم

“Barang siapa memulai mengamalkan suatu metode/amalan baik dalam agama Islam, maka baginya pahala amalannya itu, dan pahala seluruh orang yang menirunya, tanpa sedikitpun mengurangi pahala mereka.” (Riwayat Muslim)

Jadilah anda sebagai orang tersebut.

Caranya: Bila anda berhutang, maka tepatilah janji, bayarlah tepat waktu atau bahkan lebih cepat, dan jangan lupa balaslah jasa baik saudara anda dengan yang serupa atau lebih. Dan bila anda sebagai kreditur, dan saudara anda mengalami kesulitan pada waktu jatuh tempo, maka tundalah tagihan tanpa memungut bunga. Jangan kawatir uang anda akan hilang, asalkan anda tulus dan berniat baik, niscaya Allah tidak akan menyianyiakan amal dan niat baik anda.

Ketahuilah bahwa perilaku saudara anda terhadap diri anda dalam setiap aspek kehidupan adalah balasan atas perilaku anda sendiri. Abu Qilabah, salah seorang ulama’ berpetuah:

البِرُّ لاَ يَبْلَى وَالذَّنْبُ لاَ يُنْسَى وَالدَّيَّانُ لاَ يَمُوتُ، اعْمَلْ مَا شِئْتَ كَمَا تَدِيْنُ تُدَانُ

“Kebajikan itu tak kan pernah lekang, dosa tak kan pernah dilupakan, sedangkan Allah Maha Pembalas tak kan pernah mati. Lakukanlah apa yang engkau suka, sebagaimana engkau berlaku, maka demikianlah balasan yang akan engkau rasakan.”

Selamat memulai dan selamat menuai hasil perjuangan anda.

Semoga Allah Ta’ala melimpahkan rizki halal kepada kita semua dan memberkahi rizki yang telah Ia limpahkan kepada kita. Wallahu a’alam bisshowab.

Ustadz Muhammad Arifin Badri, M.A.

Sumber: www.pengusahamuslim.com

Surga Yang Pernah Ditempati Nabi Adam Alaihissalam

Pertanyaan:

Assalamualaikum warahmatullah wabaraktuh.
Pertanyaan saya mengenai surat Al A’raf ayat 19. Ketika disebutkan setelah diciptakan Adam as berdiam di surga, yang dimaksud surga itu apakah surga yang dijanjikan Allah subhanahu wa ta’ala, atau surga di tempat lain? ada beberapa pendapat yang menyatakan bahwa surga itu tempat yang sangat indah di bumi. Terima kasih. Wassalamualaikum warahmatullah wabaraktuh.

SOCIAL

8,148FansLike
3,806FollowersFollow
29,786FollowersFollow
60,748SubscribersSubscribe

RAMADHAN