tutup Eksternal hardisk kajian video islam
cashflow laporan keuangan software akutansi terbaik
Tags Posts tagged with "surga"

surga

Pertanyaan:

Assalamu ‘alaikum.

Beberapa waktu yang lalu istri saya meninggal setelah operasi cesar saat melahirkan anak kedua akibat pendarahan pasca operasi. Anak pertama saya perempuan berusia 2 tahun 4 bulan. Saya sudah sabar dan tabah dan sudah mengikhlaskan kematian isteri saya, tetapi saya sering menangis kalau melihat kedua buah hati saya yang dalam usia sekecil itu sudah kehilangan ibunya. Saya merasa kasihan. Apalagi kalau anak yang pertama menangis memanggil ibunya. Saya terus berusaha untuk tetap tabah dengan memperbanyak berdoa, membaca Alquran, shalat sunnah, tetapi semakin lama semakin terasa kesedihan saya. Terkadang dalam doa saya memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala supaya diberikan petunjuk agar anak saya bisa mendapatkan kembali kasih sayang ibunya.

1. Apakah kesedihan saya itu berlebihan?

2. Apa saya berdosa berdoa seperti itu?

3. Bagaimana menerangkan kepada anak saya tentang ibunya?

Terima kasih.

Wassalaamu ‘alaikum.

Pertanyaan:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mempunyai tiga anak perempuan kemudian ia sabar atasnya, memberikan makanan dan pakaian maka mereka menjadi hijab (penghalang) dari neraka.” Apakah penghalang dari neraka ini untuk kedua orang tuanya saja ataukah termasuk di dalamnya pula ibu asuhnya (selain ibu kandung)?

Pertanyaan:

Saya pernah berkhutbah Jumat dengan menggunakan bonus khutbah yang ada dalam satu edisi majalah As-Sunnah. Kemudian, dalam khutbah itu -sebagaimana dalam bonus tersebut- saya tidak membaca shalawat Nabi. Seusai khutbah, salah satu jamaah menegur saya, dan mengatakan khutbah saya tidak sah. Sebabnya, karena tidak membaca shalawat Nabi. Sehingga hal itu sempat menjadikan keributan. Bagaimana keterangan sebenarnya?

Pertanyaan:

Sepanjang yang saya ketahui, sudah menjadi keyakinan yang pasti dari aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah, walau bagaimanapun besar dosanya asalkan masih punya iman meskipun sebesar biji zarrah, dia tidak akan kekal di neraka, pada saatnya nanti dia akan dikeluarkan dan dimasukkan ke surga. Sedangkan yang tetap tinggal di neraka selama-lamanya adalah orang kafir, munafik, musyrik, iblis dan setan. Dan adzab neraka bagi mereka yang kafir tersebut bersifat kekal, tidak akan musnah atau sirna sebagaimana kenikmatan surga yang kekal abadi. Dan i’tiqad (keyakinan -ed.) ini sudah menjadi keyakinan yang mantap bagi semua kaum muslimin. Tetapi ada keanehan yang saya jumpai dalam kitab Dr. Yusuf Qardhawi (هدي الإسلام فتاوى معاصرة) yang edisi bahasa Indonesianya berjudul “Fatwa-Fatwa Kontemporer Jilid 2” terbitan Gema Insani Press halaman 265-274, bahwa disebutkan tentang pendapat Ibnul Qayyim yang berbeda dengan aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah tentang kekalnya adzab neraka. Dr. Yusuf Qardhawi menyebutkan kitab dari Ibnul Qayyim Arwah al Afrah halaman 254-280 dan kitab Syifa’al ‘alil fi Masa il al Qadha’wa al Qadar wa at Ta’lil halaman 252-264, dalam kitab-kitab beliau tersebut Ibnul Qayyim menguatkan pendapat yang mengatakan bahwa neraka mempunyai batas waktu dan ia akan berkesudahan sampai di sana, kemudian dimusnahkan oleh Tuhan yang menciptakannya. Beliau ber-hujjah dengan ayat-ayat al-Quran yaitu surat an- Naba’ ayat 23, surat al-An’am ayat 128, surat Hud ayat 107, dan pendapat dari para sahabat yaitu Umar, Ibnu Mas’ud, Abdullah bin Amr bin Ash, Abu Hurairah, Abu Sa’id al-Khudri, Ibnu Abbas, serta pendapat dari kalangan tabi’in seperti as-Sya’bi, Abu Miljaz, Ishaq bin Rahawaih.

Beliau (Ibnu Qayyim) juga menyangkal adanya pendapat yang mengatakan bahwa kekalnya adzab neraka itu sudah merupakan ijma’. Dan pada akhir pembahasannya Ibnu Qayyim cenderung menyerahkan masalah ini kepada kehendak Allah. Maka, beliau tidak menetapkan fananya (akan binasanya) neraka dan tidak pula menetapakan kekalnya. Demikian kurang lebih pendapat Ibnu Qayyim yang panjang lebar, untuk lebih jelas dewan redaksi (majalah -ed.) As-Sunnah bisa mengeceknya pada kita Dr. Yusuf Qardhawi atau langsung kepada kitab dari Ibnu Qayyim. Yang saya tanyakan bagaimana yang benar dari permasalahan ini menurut aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Apakah benar adzab neraka itu tidak bersifat kekal? Kalau memang benar lalu apa bedanya orang Islam dengan orang kafir kalau sama-sama akan keluar atau terbebas dari adzab neraka. Kalau memang benar maka orang kafir akan tetap memilih pada kekafirannya, orang musyrik tetap memilih pada kemusyrikannya, tidak mau masuk Islam, karena toh akan keluar juga atau terbebas dari adzab neraka. Benarkah perkataan Ibnul Qayyim adalah seorang ulama Ahlus Sunnah yang besar. Mengapa pendapatnya bias berbeda dari aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah yang sepanjang yang saya ketahui mengatakan adanya kekekalan adzab neraka kekal bagi orang-orang kafir, orang-orang munafiq, orang-orang musyrik, dan bagi iblis, serta setan. Saya mohon agar dewan redaksi bisa menjawabnya melalui rubrik soal-jawab atau kalau perlu membahasnya secara khusus agar bisa hilang segala macam syubhat dan kerancuan tentang permasalahan ini.

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Saya akhwat berusia 31 tahun. Di usia ini saya betul-betul sedih, cemas dan gelisah karena belum menikah. Saat masih kulaih saya mempunya teman dekat lelaki Katolik, sebenarnya banyak yang menegur pilihan saya. Saya sangat setia dengannya, bahkan banyak lamaran ikhwan yang saya tolak, ada juga dari luar negeri yang bersedia menjadi muallaf.

Saya tak bergeming dan tetap jalan dengannya hingga selesai kuliah dan dia kembali ke negeri seberang. Kami punya komitmen untuk menikah di KUA. Kemudian, dia datang dengan keluarganya untuk melamar saya, tapi dengan syarat menikah di gereja. Keluarga saya menolak mentah-mentah dan marah besar, kalau saya tetap nekad, maka saya tak akan diakui oleh keluarga. Saya jelas tidak berani menentang keluarga disamping telah kecewa dan waspada dengan trik-trik dari keluarga lelaki teresbut. Saya lebih memilih mempertahankan akidah, walau setelah itu sempat shock berat dan mulai pesismis dan putus asa menghadapi hidup. Berkat dorongan keluarga dan merenungkan arti hidup, saya mulai bisa menerimanya dan berusaha semakin mendekat kepada Allah. Saya memperbanyak dzikir, doa dan memperdalam Islam. Pertanyaan saya:

Apa yang dimaksud dengan jodoh dan apabila Allah telah menetapkannya, namun apakah jika tanpa usaha tak akan mendapatkannya? Apakah jika beda agama bukan jodoh, lalu bagaimana yang telah terlanjur menikah?

Bila ingat masa lalu, begitu banyak penyesalan. Bagaimana cara menghilangkannya dan tetap optimis?

Apakah saya masih bisa mendapatkan jodoh? Dan apakah belum menikahnya saya karena kesalahan nsaya masa lalu atau memang sebuah takdir?

Demikian pertanyaan saya, terima kasih atas jawabannya. Semoga bisa menegaskan hati saya bahwa Allah mempunyai rencana lebih baik juga sebagai pelajaran tentang misi kristenisasi.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

SOCIAL

8,194FansLike
3,855FollowersFollow
29,917FollowersFollow
61,086SubscribersSubscribe

RAMADHAN