tutup Eksternal hardisk kajian video islam
cashflow laporan keuangan software akutansi terbaik
Tags Posts tagged with "ramadhan"

ramadhan

maksiat dibulan ramadan

Maksiat di Bulan Ramadhan, Dosanya Lebih Besar

Sy mendengar, maksiat sekali, dicatat dosa sekali. Beramal sekali, dicatat pahala 10 kali. Apa itu benar?

Lalu apa maksud maksiat yang dilakukan di bulan ramadhan, dosanya lebih besar??

Mhn pencerahannya tadz…

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Apa yang anda sampaikan, disebutkan dalam hadis dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ ، ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً ، فَإِنْ هُوَ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيرَةٍ ، وَمَنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً ، فَإِنْ هُوَ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ سَيِّئَةً وَاحِدَةً

“Sesungguhnya Allah mencatat berbagai kejelekan dan kebaikan lalu Dia menjelaskannya. Barangsiapa yang bertekad untuk melakukan kebaikan lantas tidak bisa terlaksana, maka Allah catat baginya satu kebaikan yang sempurna. Jika ia bertekad lantas bisa ia penuhi dengan melakukannya, maka Allah mencatat baginya 10 kebaikan hingga 700 kali lipatnya sampai lipatan yang banyak.” (HR. Ahmad, 2881, Bukhari 6491 dan Muslim 130)

Dalam masalah pahala, memang tidak bisa kita hitung secara matematis. Namun dalam hadis di atas, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memastikan bahwa maksiat yang dilakukan hamba sekali, tidak digandakan dosanya. Tapi ditulis sekali. Sebagai pembenar bahwa Allah tidak mendzalimi hamba-Nya.

وَمَا اللَّهُ يُرِيدُ ظُلْمًا لِلْعَالَمِينَ

Allah sama sekali tidak berkehendak untuk mendzalimi seluruh alam. (QS. Ali Imran: 108)

Manusia yang tinggal di dunia, termasuk bagian dari alam itu.

Maksiat Di bulan Ramadhan, Dosanya Lebih Besar?

Ada kuantitas, ada kualitas.

Si A dan si B melakukan satu maksiat yang sama. Masing-masing mendapatkan satu dosa.

Apakah kita bisa memastikan bahwa nilai dosa keduanya sama?

Tentu saja tidak. Ada banyak faktor yang menyebabkan nilai dosanya berbeda. Sehingga bisa jadi yang satu mendapatkan dosa sebesar mobil, sementara satunya mendapat dosa seukuran kerikil. Semua kembali kepada latar belakang masing-masing ketika berbuat dosa.

Kita meyakini amal soleh di bulan ramadhan, pahalanya dilipat gandakan. Dan kita juga perlu sadar bahwa perbuatan maksiat yang dilakukan manusia di bulan ramadhan, dosanya juga lebih besar dibandingkan di luar ramadhan. Bisa jadi, tetep dapat satu dosa, tapi nilainya lebih besar dibandingkan ketika maksiat itu dilakukan di luar ramadhan.

Al-Allamah Ibnu Muflih dalam kitabnya Adab Syar’iyah menuliskan,

فصل زيادة الوزر كزيادة الأجر في الأزمنة والأمكنة المعظمة

Pembahasan tentang kaidah, bertambahnya dosa sebagaimana bertambahnya pahala, (ketika dilakukan) di waktu dan tempat yang mulia.

Selanjutnya, Ibnu Muflih menyebutkan keterangan gurunya, Taqiyuddin Ibnu Taimiyah,

قال الشيخ تقي الدين: المعاصي في الأيام المعظمة والأمكنة المعظمة تغلظ معصيتها وعقابها بقدر فضيلة الزمان والمكان

Syaikh Taqiyuddin mengatakan, maksiat yang dilakukan di waktu atau tempat yang mulia, dosa dan hukumnya dilipatkan, sesuai tingkatan kemuliaan waktu dan tempat tersebut. (al-Adab as-Syar’iyah, 3/430).

Ada banyak dalil yang mendukung kaidah ini. Diantaranya, firman Allah,

وَمَنْ يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ

“Siapa yang bermaksud di dalamnya (kota Mekah) untuk melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih.” (QS. al-Hajj: 25)

Kita bisa perhatikan, baru sebatas keinginan untuk melakukan tindakan dzalim di tanah Haram Mekah, Allah beri ancaman dengan siksa yang menyakitkan. Sekalipun jika itu dilakukan di luar tanah haram, tidak akan diberi hukuman sampai terjadi kedzaliman itu.

Alasannya, karena orang ini melakukan kedzaliman di tanah haram, berarti bermaksiat di tempat yang mulia. Yang dijaga kehormatannya oleh syariat. (Tafsir as-Sa’di, hlm. 535).

Demikian pula, ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan keutamaan kota Madinah. Beliau mengatakan,

الْمَدِينَةُ حَرَمٌ ، مَا بَيْنَ عَائِرٍ إِلَى كَذَا ، مَنْ أَحْدَثَ فِيهَا حَدَثًا ، أَوْ آوَى مُحْدِثًا ، فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلاَئِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ ، لاَ يُقْبَلُ مِنْهُ صَرْفٌ وَلاَ عَدْل

“Madinah adalah tanah haram, dengan batas antara bukit Ir sampai bukit itu. Siapa yang berbuat kriminal di sana atau melindungi pelaku kriminal, maka dia akan mendapat laknat Allah, para Malaikat, dan seluruh manusia. Tidak diterima amal sunah maupun amal wajibnya.” (HR. Ahmad 1049 dan Bukhari 1870)

Beliau memberikan ancaman sangat keras, karena maksiat ini dilakukan di tanah haram, yang dimuliakan oleh syariat.

Kita kembali kepada dosa di bulan ramadhan. Mengapa dosanya lebih besar?

Orang yang melakukan maksiat di bulan ramadhan, dia melakukan dua kesalahan,

Pertama, melanggar larangan Allah

Kedua, menodai kehormatan ramadhan dengan maksiat yang dia kerjakan.

Ini memberikan kita pelajaran agar semakin waspada dengan yang namanya maksiat di bulan ramadhan. Di samping maksiat itu akan merusak puasa yang kita kerjakan, sehingga menjadi amal yang tidak bermutu.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

logo mui majelis ulama indonesia

Fatwa MUI Tentang Penentuaan Puasa Ramadhan dan 1 Syawal

Alhamdulillah.

Rasa syukur sepatutnya kita nyatakan dengan keluarnya fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam Ijtima Ulama Komisi Fatwa Se-Indonesia yang ditetapkan pada 16 Desember 2003 lalu

(Ditetapkan sebagai Fatwa Nomor 2/2004, 24 januari 2004).

Walau pun media massa lebih tertarik pada fatwa bunga bank, sebenarnya fatwa MUI tersebut juga memuat hal penting, yaitu tentang penentuan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah. Sangat disayangkan kurangnya minat media massa memberitakannya, termasuk ketika sosialisasinya sebelum sidang itsbat penentuan awal Dzulhijjah dan Idul Adha 1424 di Depag. Padahal fatwa itu telah membuka jalan menuju penyatuan awal Ramadhan dan hari raya yang didambakan ummat Islam.

Keseragaman awal Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha 1424 semata-mata karena posisi bulan dan matahari memungkinkan untuk terjadinya keseragaman, bukan berarti telah terpecahkannya masalah perbedaan pendapat yang sering kali muncul tentang penentuan awal-awal bulan qamariyah. Masih ada hal-hal yang harus diselesaikan dalam upaya penyatuan ummat yang seharusnya kita mulai pada masa tenang ini, bukan saat terjadi perbedaan. Fatwa MUI tersebut mempunyai makna sangat penting dalam upaya tersebut. (Prof. Thomas Djamaluddin – Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN dan Anggota Badan Hisab Rukyat, Kementerian Agama RI)

Berikut lampiran Fatwa MUI

fatwa-mui-tentang-ramadhan

fatwa-mui-tentang-ramadhan2

fatwa-mui-tentang-ramadhan3

walimah nikah

Menikah di Bulan Ramadhan

Apa hukum menikah di bulan ramadhan? Trim’s

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Dalam masalah muamalah, kaidah yang berlaku adalah semua dibolehkan, selama itu bermanfaat dan tidak ada larangan dalam syariat. Termasuk diantaranya penentuan tanggal pernikahan atau tanggal hajatan lainnya. Kami tidak menjumpai adanya satupun dalil yang melarang pernikahan di bulan Ramadhan.

Dan inilah yang menjadi landasan Fatwa Lajnah Daimah ketika ditanya mengenai hukum menikah di bulan Ramadhan. Jawaban Lajnah,

لا يكره الزواج في شهر رمضان؛ لعدم ورود ما يدل على ذلك

Tidak dimakruhkan menikah di bulan Ramadhan, karena tidak adanya dalil yang menunjukkan hal itu.

Fatwa Lajnah Daimah, no. 8901.

Sumber: http://www.alifta.net/fatawa/fatawaDetails.aspx?View=Page&PageID=6759&PageNo=1&BookID=3

Hanya saja, ada dua catatan yang perlu diperhatikan bagi mereka yang menikah di bulan Ramadhan,

Pertama, tidak boleh diyakini bahwa menikah di bulan Ramadhan memiliki nilai keutamaan khusus dibandingkan bulan lainnya, kecuali jika di sana ada dalil yang menyebutkan keutamaan khusus menikah di bulan Ramadhan.

Kedua, pasangan suami istri yang menikah di bulan Ramadhan harus bisa memastikan bahwa mereka tidak akan membatalkan puasa melalui jalur syahwat, dalam bentuk hubungan badan atau mengeluarkan mani dengan melakukan mukadimah jima’. Karena mengeluarkan mani dengan sengaja, termasuk pembatal puasa.

Adapun batasan bercumbu di siang hari Ramadhan, telah kita bahas di: Batasan Mencumbu Istri Ketika Puasa

Demikian,

Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

hijab ramadhan

Hisab Ramadhan itu Hanya Prediksi

Mengapa orang harus melakukan rukyah, padahal sudah ada hisab. Bahkan sdh ada teknologi canggih utk melakukan hisab lebih akurat. Bukankah rukyah berarti orang itu gagap teknologi?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Bagian dari kaidah pokok dalam agama, bahwa ibadah yang dilakukan umat islam, dibangun di atas prinsip yakin. Karena itu, Allah melarang Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengikuti pendapat mayoritas manusia, yang sebagian besar mereka hanya mengikuti prasangka dan tebak-menebak saja.

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ

Jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah menebak-nebak dusta. (QS. Al-An’am: 116)

Karena itu pula, Allah perintahkan kita agar melandasi setiap kegiatan kita dengan ilmu yang membuahkan yakin, bukan hanya dugaan dan prediksi.

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

Janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai ilmu tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (QS. Al-Isra’: 36)

Hisab itu Hanya Prediksi

Jika kita perhatikan dengan baik, kita akan menyimpulkan bahwa hisab hanyalah prediksi. Karena hakekat hisab adalah perhitungan, sementara apakah hasil perhitungan ini benar ataukah tidak, jelas perlu dibuktikan secara empiris di lapangan.

Lebih dari itu, ada beberapa bukti yang menunjukkan bahwa hisab bersifat predisksi, dzanni (dugaan),

Pertama, bahwa kemampuan hisab tidak hanya dimiliki satu ormas. Bahkan ormas yang diklaim anti-hisab, juga memiliki ahli hisab. Hanya saja, mengingat pengguna hisab hampir merata di setiap ormas besar, metode yang ditetapkan berbeda. Setidaknya ada 5 metode yang digunakan para ahli hisab di tempat kita,

  1. Hisab Urfi. Urfi artinya sesuai kebiasaan. Metode hisab urfi merupakan metode penentuan kalender yang paling kuno adalah hisab urfi, hanya berdasarkan periodik, 30 dan 29 hari berulang-ulang, yang kini digunakan oleh beberapa kelompok kecil di Sumatera Barat dan Jawa Timur, yang hasilnya berbeda dengan metode hisab atau rukyat modern.
  2. Hisab Taqriby. Taqriby artinya pendekatan (aproksimasi). Metode ini telah melibatkan prinsip astronomi dan matematis. Hanya saja masih menggunakan rumus sederhana, sehingga akurasinya masih rendah.
  3. Hisab Haqiqi. Haqiqi artinya realita. Metode ini menggunakan prinsip astronomi dan rumus matematis, dilengkapi dengan data-data astronomi terbaru, sehingga memiliki tingkat ketelitian yang tinggi.
  4. Hisab Haqiqi Tahqiqi. Tahqiq artinya pasti. Metode ini sebenarnya pengembangan dari metode pertama, yang diklaim memiliki tingkat akurasi sangat pasti. Meskipun demikian, dalam perhitungannya, tetap menggunakan toleransi standar deviasi (faktor koreksi ketidak tepatan).
  5. Hisab Kontemporer & Astronomi modern. Metode ini dibantu dengan komputerisasi untuk perhitungan, sehingga dianggap memiliki algoritma dengan akurasi tinggi. Hanya saja, untuk metode terakhir ini dimiliki orang non-muslim. Beberapa sofware dan kalender yang dikembangkan, hanya bisa kita ambil (download) dari mereka, seperti almanac nautica, astronomical almanac, stellarium, atau starrynight.

Ketika kita mendapatkan data hasil hisab, apa pertanyaan pertama yang perlu kita ajukan? Tentu kita akan bertanya, ini hisab dengan metode apa? Ada banyak metode, dan jelas hasilnya akan berbeda antara satu dengan lainnya. Dan semuanya sama-sama hisab. Adanya banyak metode ini menunjukkan bahwa hisab sangat prediktif. Hanya saja, masing-masing predisksi memiliki tingkat akurasi yang berbeda.

Kedua, disamping ada sekian metode yang berbeda dalam menggunakan hisab, para ahli hisab juga berbeda pendapat dalam menentukan kriteria tanggal baru.

Sebagian menggunakan kriteria ijtima’ qablal ghurub, ada juga ijtima’ qablal fajri, kemudian kriteria wujudul hilal yang dipertahankan Muhammadiyah, dan kriteria imkanur rukyat yang digunakan oleh pemerintah. Disamping itu, ada juga perbedaan dalam menentukan pedoman. Ada yang berpedoman ufuk hakiki dan ada yang berpedoman ufuk hissi.

Pengukuran ufuk hakiki adalah mengukur ketinggian hilal hissi ditarik dari titik pusat bumi, sementara pedoman ufuk hissi diukur dari permukaan bumi.

Dan tentu saja, semua kriteria ini dibangun atas dasar asumsi. Terlalu jauh jika orang menyebut hisab seabagai kepastian.

Ketiga, bahwa dalam perhitungan secanggih apapun pasti di sana akan ada standar deviasi. Angka toleransi terjadinya kesalahan perhitungan. Semakin kasar perhitungan, semakin besar nilai standar deviasi. Sehingga faktor kesalahannya juga semakin besar.

Termasuk algoritma perhitungan yang digunakan dalam software. Bagaimanapun, yang namanya rancangan manusia, akan ada toleransi penyimpangan.

Kami sendiri tidak tahu, metode apa yang digunakan ormas di tempat kita dalam melakukan hisab. Apakah sudah sampai metode kontemporer ataukah masih klasik. Namun melihat latar belakang pendidikan ahli hisab dari beberapa ormas yang umumnya dari pesantren atau jurusan ilmu non eksak, kemungkinan besar metode yang digunakan adalah metode klasik dengan tingkat akurasi di bawah kontemporer.

Ini berbeda dengan hisab yang digunakan kementrian agama RI, diantaranya Prof. Thomas Djamaluddin, Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN, yang menggunakan pendekatan astronomi modern dalam perhitungan. Meskipun demikian, beliau tetap mengakui bahwa hisab harus dibuktikan secara empiris.

Namun apapun itu, jika secara perhitungan saja masih memungkinkan terjadinya penyimpangan dan kesalahan, bagaimana mungkin hisab bisa disebut pasti??

Semua Sepakat, Hisab hanya Prediksi

Sekali lagi, terlalu jauh jika ada orang yang mengatakan bahwa hisab itu pasti. Selain karena dorongan arogansi. Bahkan ahli hisan di masa silam sendiri sepakat bahwa hisab hanya prediksi.

Syaikhul Islam mengatakan,

فاعلم أن المحققين من أهل الحساب كلهم متفقون على أنه لا يمكن ضبط الرؤية بحساب بحيث يحكم بأنه يرى لا محالة أو لا يرى ألبتة على وجه مطرد وإنما قد يتفق ذلك أو لا يمكن بعض الأوقات

Ketahuilah, para peneliti di kalangan ahli hisab sepakat bahwa tidak mungkin menetapkan terlihatnya hilal dengan ilmu hisab. Dimana, (semata dengan hisab) bisa dihukumi akan terlihat hilal atau tidak akan terlihat sama sekali. Namun yang tepat, terkadang hasil hisab bertepatan dengan terlihat hilal dan kadang tidak mungkin bertepatan, dalam sebagian waktu. (Majmu’ Fatawa, 25/182-183).

Puasa itu Yakin, Bukan Prediksi

Dalam masalah penetapan awal ramadhan, Allah ta’ala menjadikan sesuatu yang meyakinkan sebagai acuan, yaitu menyaksikan hilal. Bukan sesuatu yang sifatnya prediksi.

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

Siapa diantara kalian yang telah menyaksikan hilal, maka hendaknya dia berpuasa. (QS. Al-Baqarah: 185).

Dan orang disebut menyaksikan, ketika dia melihat kejadian terbitnya hilal, bukan sebatas memprediksi. Tentu bukan sikap yang tepat ketika ada orang yang mengaku bahwa hilal telah terbit. Ketika dia ditanya, ’Mana buktinya?’ kemudian dia hanya menunjukkan hasil perhitungannya di atas kertas, ’Ini bukti hisab saya.’

Seperti ini persaksian yang bisa diterima??

Jelas masyarakat akan menolaknya. Karena ini bukan bukti, tapi prediksi. Sehingga mereka yang melakukan puasa atau berhari raya berdasarkan hisab, berarti dia beribadah berdasarkan dugaanprediksi, dzan, dan bukan keyakinan. Meskipun bagi mereka penggemar hisab, ini dipaksakan meyakinkan.

Karena tidak ada pilihan, selain harus melibatkan rukyah sebagai pembuktian.

Syaikhul Islam mengatakan,

وليس لأحد منهم طريقة منضبطة أصلا بل أية طريقة سلكوها فإن الخطأ واقع فيها أيضا فإن الله سبحانه لم يجعل لمطلع الهلال حسابا مستقيما بل لا يمكن أن يكون إلى رؤيته طريق مطرد إلا الرؤية

Tidak ada seorang ahli hisab-pun yang memiliki ketetentuan pasti. Bahkan cara apapun yang mereka tempuh, pasti akan ada unsur kesalahan. Karena Allah ta’ala tidaklah menjadikan adanya perhitungan baku untuk munculnya hilal. Bahkan tidak mungkin ada cara untuk bisa melihat hilal, selain dengan melakukan rukyah. (Majmu’ Fatawa, 25/182-183).

Demikian,

Allahu a’lam…

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

keramas saat puasa

Puasa Dilarang Keramas

Assalamualaikum

Ustadz saya ingin bertanya apakah benar orang yg sedang berpuasa dilarang utk keramas?

syukron

Dari Dewi Octavia

Jawaban:

Wa alaikumus salam wa rahmatullah

Orang yang puasa boleh melakukan keramas. Selama dia bisa menjamin tidak akan menghirup air ketika keramas.

Dari Abu Bakr bin Abdur Rahman, dari salah seorang sahabat, beliau menceritakan perjalanan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika Fathu Mekah, yang pada saat itu beliau puasa.

كان صلى الله عليه وعلى آله وسلم يصب الماء على رأسه وهو صائم من العطش أو من الحر

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyiramkan air ke atas kepala Beliau ketika sedang puasa, karena kehausan atau terlalu panas. (HR. Ahmad 16602, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Kemudian riwayat dari Ibnu

وكان ابْنُ عُمَرَ -رضى الله عنهما- بَلَّ ثَوْبًا ، فَأَلْقَاهُ عَلَيْهِ، وَهُوَ صَائِمٌ.

Ibn Umar radliallahu ‘anhuma pernah membasahi pakaiannya dan beliau letakkan di atas kepalanya ketika sedang puasa. (HR. Bukhari secara muallaq, 3/30)

Semakna dengan hadis ini adalah orang yang berenang atau berendam di air ketika puasa.

Keterangan selengkapnya bisa anda pelajari di: Hukum Berenang Ketika Puasa

demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Pertanyaan:

Assalamu ‘alaikum. Ustadz, saya ingin bertanya perihal puasa. Pada musim panas di Eropa, waktu puasa Ramadhan sangatlah panjang, yaitu dimulai dari pukul 03:00 sampai dengan 21:30 waktu setempat. Sebagaimana yang saya tahu, puasa lebih dari 12 jam adalah makruh. Bagaimana pendapat Ustadz? Apakah saya harus mengikuti syariat Islam atau mengikuti waktu puasa setempat (berdasarkan waktu terbit dan terbenam matahari)?

Susanna (imut_c**@***.co.id)

Pertanyaan:

السلام عليكم ورحمةالله وبركاته

Ustadz, maaf saya mohon penjelasannya mengenai apakah shalat tarawih dengan shalat tahajud itu sama? Dalam arti, kalau sudah shalat tarawih tidak perlu melakukan shalat tahajud? Terima kasih, Ustadz.

Kakha Aku (kakha**@***.com)

SOCIAL

9,094FansLike
4,525FollowersFollow
31,438FollowersFollow
61,951SubscribersSubscribe

RAMADHAN