tutup Eksternal hardisk kajian video islam
cashflow laporan keuangan software akutansi terbaik
Tags Posts tagged with "pernikahan"

pernikahan

Tenaga Kerja Indonesia

Lama Merantau, Apakah Pernikahannya Masih Sah?

Asalamu’alaikum.,
Ma’af sblmny n trimaksh. Bgni, ana mewakili pkerja ato TKI yg bkerja di luar negri,n sngt ingn tau pmahaman n hukum syariah bgi pasangan suami istri yg sdah lama berpisah krn merantau ke LN, Ad yg 3thn ,bhkan 6thn lbh….apakah pnikahan it msh syah,ato kta hrus ijab ghobul lg,ato istilah ny mbangun nikah…….kami sangat2 mhon pnjelasan nya………
Mturnuwun….
Wassallam…

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Pertama, sesungguhnya talak termasuk akad lazim, yang dia sah jika dijatuhkan oleh pihak suami. Karena itu tidak ada istilah talak otomatis, baik karena suami istri berpisah lama untuk bekerja, atau karena sudah tidak cinta, atau sebab lainnya. Selama suami tidak mengucapkan kata talak, cerai, pegat, atau ucapan semacamnya, maka tidak ada talak.

Imam Ibnu Baz menjelaskan, kapan seorang wanita bisa dianggap telah ditalak,

تعتبر المرأة طالقاً إذا أوقع زوجها عليها الطلاق ، وهو عاقل مختار ليس به مانع من موانع الطلاق كالجنون والسكر ، ونحو ذلك . وكانت المرأة طاهرة طهراً لم يجامعها فيه أو حاملاً أو آيسة

Seorang wanita berstatus ditalak apabila

  • Suami menjatuhkan talak kepadanya
  • Ketika menjatuhkan talak, suami sehat akal, tidak dipaksa, tidak gila, tidak mabuk, atau semacamnya
  • Istrinya sedang suci (tidak sedang haid) dan belum digauli, atau sedang hamil, atau sudah menapause.

(Fatawa at-Talak Ibnu Baz, 1/35).

Oleh karena itu, semata berpisah lama – apapun sebabnya – tidaklah otomatis terjadi perceraian. Dalam Fatawa Syabakah Islamiyah dinyatakan,

مجرد غياب الزوج عن زوجته لا يحصل به الطلاق مهما طالت المدّة

Semata-mata berpisah antara suami dan istri, belum terjadi talak, meskipun waktunya lama. (Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 122967).

Sudah Ada Sejak Masa Silam

Perpisahan antara suami istri dalam waktu lama, sudah lazim terjadi sejak masa silam. Kebiasaan sahabat, tabiin yang berangkat perang, atau merantau belajar, atau merantau berdagang, biasanya dilalui dalam kurun waktu yang sangat lama.

Dalam sebuah keterangan yang diriwayatkan Baihaqi, dinyatakan,

كتب عمر إِلى أُمراء الأجناد في رجال غابوا عن نسائهم يأمرهم أن يُنفقوا أو يُطلّقوا، فإِنْ طلَّقوا بعَثوا بنفقة ما مضى

Umar radhiyallahu ‘anhu, mengirim surat kepada para pemimpin pasukan, memerintahkan untuk para suami yang meninggalkan istrinya, agar mereka memberikan nafkah atau mentalaknya. Jika mereka mentalak istrinya, mereka harus mengirim jatah nafkah selama dia tinggalkan dulu.

Ibnul Mundzir mengatakan bahwa surat ini shahih dari Umar bin Khatab.

(HR. Baihaqi dan dishahihkan al-Albani dalam al-Irwa’, 2158).

Bahkan salah satu murid Imam Malik yang bernama Ibnul Qosim, beliau meninggalkan istrinya di Mesir, untuk belajar kepada Imam Malik di Madinah.

Berapa lama Ibnul Qosim berpisah dengan istrinya?

Kurang lebih selama 17 tahun. Berpisah dengan istrinya untuk belajar hadis kepada Imam Malik. Dan mereka tetap suami istri, meskipun itu perpisahan mereka tanpa komunikasi sama sekali.

Kedua, keterangan di atas, sama sekali bukan memotivasi suami atau mengizinkan suami untuk meninggalkan istrinya tanpa sebab yang dibenarkan syariat. Jangan pula dipahami sebaliknya bahwa istri boleh meninggalkan suaminya. Keterangan di atas hanya menjelaskan hukum bahwa perpisahan suami istri dalam waktu lama, seperti yang terjadi pada para TKI, tidak otomatis terjadi talak.

Karena itu, jangan sampai dijadikan motivasi untuk saling berpisah, dengan alasan: ”Yang pentingkan gak cerai”. Dan kami sama sekali tidak menganjurkan perpisahan semacam ini. Sebaliknya, islam sangat menganjurkan untuk mempertahankan kebersamaan keluarga. Allah perintahkan para suami untuk selalu bersikap baik kepada istrinya,

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

Pergaulilah mereka dengan cara yang baik. kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai satu sifat, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak. (QS. An-Nisa: 19).

Islam juga memerintahkan agar istri taat kepada suami, selama tidak memerintahkan maksiat. Dari Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا: ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ

Apabila wanita melaksanakan shalat 5 waktu, menjalankan puasa ramadhan, menjaga kehormatannya, dan mentaati suaminya, maka dibisikkan kepadanya, ’Silahkan masuk ke dalam surga dari pintu mana saja yang anda inginkan.’ (HR. Ahmad 1661, Ibnu Hibban 4163, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Bukankah ini bisikan yang sangat indah, ’Silahkan masuk ke dalam surga dari pintu mana saja yang anda inginkan.’

Suami menjaga istri dan istri mentaati suami, hanya bisa terjadi dengan sempurna ketika mereka hidup bersama.

Ketiga, Istri yang ditinggal pergi oleh suami, dan dia merasa keberatan karena pisah lama dengan suami, dia berhak untuk melakukan gugat cerai ke pengadilan agama.

Dalam Fikih Sunah dinyatakan,

للمرأة أن تطلب التفريق إذا غاب عنها زوجها ولو كان له مال تنفق منه، بشرط:

1 – أن يكون غياب الزوج عن زوجته لغير عذر مقبول.

2 – أن تتضرر بغيابه.

3 – أن تكون الغيبة في بلد غير الذي تقيم فيه.

4 – أن تمر سنة تتضرر فيها الزوجة.

Istri dibolehkan untuk gugat cerai ketika ditinggal oleh suaminya, meskipun suami telah memberikan nafkah untuknya, dengan syarat:

  1. Kepergian suami meninggalkan istri tanpa udzur yang bisa diterima
  2. Adanya madharat yang memberatkan istri karena kepergian suami.
  3. Kepergian suami ke luar daerah yang ditinggali istri
  4. Telah berlalu selama setahun sehingga menyebabkan istri tersiksa.

Penulis Fikih Sunah juga mengatakan,

وكذلك لها الحق في أن تطلب التفريق للضرر الواقع عليها لبعد زوجها عنها لا لغيابه. ولابد من مرور سنة يتحقق فيها الضرر بالزوجة وتشعر فيها بالوحشة، ويخشى فيها على نفسها من الوقوع فيما حرم الله. والتقدير بسنة قول عند الامام مالك

Demikian pula, istri berhak gugat cerai karena madharat (keadaan memberatkan) yang dialami istri, disebabkan keberadaan suami yang jauh. Dan kondisi memberatkan istri harus dilalui selama setahun, yang membuat dia sangat sedih, dan khawatir dirinya akan terjerumus ke dalam apa yang Allah haramkan. Dan ukuran satu tahun merupakan pendapat Imam Malik. (Fikih Sunah, Sayid Sabiq, 2/291 – 292).

Namun jika istri ridha berpisah jauh dengan suami dalam kurun waktu lama, dan dia sanggup bersabar untuk tidak melakukan gugat cerai, insyaaAllah akan menjadi pahala bagi sang istri.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

مَا يَزَالُ الْبَلَاءُ يَنْزِلُ بِالْمُؤْمِنِ وَ الْمُؤْمِنَةِ فِي نَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَمَالِهِ حَتَّي يَلْقَي الله وَمَا عَلَيْهِ مِنْ خَطِيْئَةٍ

Musibah akan terus-menerus menimpa seorang mukmin laki-laki dan mukmin perempuan: pada dirinya, anaknya dan harta bendanya, hingga nanti bertemu Allah tidak tersisa kesalahan sama sekali. (HR. Ahmad 7859 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Keempat, jika istri mengajukan gugat cerai ke PA karena jauh dari suami dan PA tidak memutuskan cerai, maka pernikahan belum batal. Karena yang berhak memutuskan dalam gugat cerai ini adalah hakim.

Dalam Ensiklopedi Fikih dinyatakan,

اتفق الفقهاء القائلون بالتفريق للغيبة على أنه لا بد فيها من قضاء القاضي لأنها فصل مجتهد فيه، فلا تنفذ بغير قضاء

Para ulama yang berpendapat bolehnya memisahkan pernikahan karena ditinggal suami, mereka sepakat bahwa memisahkan pernikahan ini harus ditetapkan berdasarkan keputusan hakim. Karena masalah ini area mujtahid. Karena itu, tidak boleh ditetapkan tanpa keputusan hakim. (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah, 29/64)

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)

Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

tidak gadis ketika menikah

Ketika Menikah Mengaku “Gadis” Apakah Termasuk Penipuan?

Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokaatuh

Ustadz,apabila seorang wanita menyembunyikan aibnya (pernah berzina) kepada calon suaminya, lalu mereka menikah dengan terpenuhi syarat dan rukun-rukunnya, tetapi sebelumnya saat mengurus administrasi di KUA, pada isian di atas berkas yang berbunyi ” Status perkawinan, jika wanita, terangkan perawan atau janda”…lalu ditulis perawan oleh orang tuanya/pihak yang berwenang, kemudian hari wanita ini akhirnya jujur kepada suaminya dan suaminya tetap menerimanya, apakah sah nikahnya? Apakah ini bukan termaksud penipuan, maksudnya si wanita dan keluarganya ingin menutup aib masa lalu kepada semua pihak, apalagi waktu itu calon suami tidak pernah menanyakan hal tersebut, dan itu hanya di tulis perawan, karena untuk mengurus administrasi di KUA yang pertanyaannya tentang Status perkawinan (yang mungkin dimaksudkan adalah pernh melaksanakan akad nikah atau belum).

Mohon jawabannya ustadz

Jawaban ustadz Abu Abdillah Addariny, MA:

Insya Allah nikah anda tetap sah… yang dimaksud dengan perawan di situ adalah lawan dari janda… bukan lawan dari orang yang hilang keperawanannya… (hilangnya keperawanan juga bisa karena hal lain)… makanya yang tertulis “status”, maksudnya: ‘Apakah anda terikat tali pernikahan dengan orang lain, atau tidak” wallahu a’lam.

Sebenarnya kita lebih baik menutupi maksiat yang kita lakukan semampunya. Hal itu diterangkan dalam banyak hadis. Yang harus kita lakukan adalah memohon ampun dan bertaubat dari kesalahan dan dosa yang pernah kita lakukan…

Ingatlah, kita memohon ampun kepada-Nya adalah karena dua hal:

  1. Karena kita tahu siksa Alloh yg sangat pedih, sehingga kita takut kepada-Nya dan siksa-Nya.
  2. Karena kita tahu sifat-Nya yg maha menerima taubat, dan maha penyayang. Sehingga kita berharap Alloh mengampuni dosa dan menerima taubat kita.

Itulah perwujudan dari sikap khouf (takut) dan roja’ (berharap) dalam ibadah… kita harus seimbang dalam memposisikan keduanya.

Jadi, lebih baik masa lalu kita yg buruk, tidak usah kita ceritakan kepada orang lain, tapi teruslah meminta ampun kepada-Nya.

Wallahu a’lam.

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

Pertanyaan:

Assalamu ‘alaikum, Ustadz.

Saya sekarang sedang bingung dengan masalah yang saya hadapi dan saya mohon bimbingannya, Ustadz. Begini, saya telah terjerumus ke dalam dunia liwath dan itu sudah terjadi sejak lama. Sampai sekarang, sudah pantas rasanya saya untuk membina rumah tangga karena umur saya sudah kepala tiga. Tapi karena liwath itu, saya sampai saat ini tidak ada semangat untuk menjalani pernikahan karena keraguan dalam diri saya akan kemampuan saya menjalani peran sebagai suami kelak. Saya sangat ingin bisa bebas dari pengaruh liwath ini, Ustadz. Mohon petunjuk, apa yang harus saya lakukan? Terima kasih atas bantuan Ustadz sebelumnya. Saya tunggu jawabannya, Ustadz.

NN (**@yahoo.com)

Pertanyaan:

Assalamu ‘alaikum warahmatullah, Ustadz. Bagaimana sababul wurud dan syarah hadis berikut, “Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu, kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (H.R. Muslim, no. 6925)

Apakah yang dimaksud dengan zina di dalam hadis tersebut, sebab kalau kita definisikan berdasarkan bahasa Indonesia, zina adalah perbuatan bersenggama antara laki-laki dan perempuan yang tidak terikat oleh hubungan pernikahan?

Mohon penjelasannya, Ustadz. Syukran. Jazakumullahu khairan katsira.

Anwar (**rhee_plus@***.com)

Pertanyaan:

Assalamu ‘alaikum. Saya menikah–kurang-lebih–satu tahun yang lalu. Sudah enam bulan ini, kami pisah, tidak ada komunikasi lagi, karena istri saya dibawa oleh orang tuanya pindah ke kota lain.

Sejak awal pernikahan kami, acap kali terjadi pertengkaran di antara kami, disebabkan karena kami bekerja beda kota. Istri saya, waktu itu, tinggal dengan orang tuanya. Awalnya, istri saya mau ikut saya jika di kota tempat saya mencari nafkah (dia bisa, red.) dapat pekerjaan, tetapi (ketika, red.) pekerjaan tersebut didapat (oleh, red.) istri saya, (dia, red.) tidak mau pindah ke tempat saya tinggal, dengan berbagai alasan, dan orang tua istri saya selalu menahan istri saya untuk tidak boleh saya bawa ke tempat saya tinggal, dengan berbagai alasan.

Pada suatu saat, terjadi pertengkaran hebat antara kami, dan istri saya meminta cerai kepada saya tetapi saya tidak kabulkan. Dan saya tidak habis pikir; ibu mertua saya menyarankan di antara kami berpisah saja.

Yang menjadi pertanyaan saya :
1. Apa yang harus saya lakukan? Di satu sisi, saya ingin mempertahankan keluarga saya. Di sisi lain, saya kecewa dengan istri saya.
2. Apakah saat ini sudah jatuh talak saya kepada istri saya, sedangkan istri pergi meninggalkan saya?
3. Termasuk istri yang durhakakah istri saya ini; dia lebih memilih ikut orang tuanya dibanding suaminya?
4. Berdosakah mertua saya ini yang memisahkan saya dan istri saya dan membawa pergi istri saya?
5. Langkah terbaik apakah yang harus saya lakukan ?

Terima kasih atas jawaban dan nasihatnya.

NN (**@***.com)

Pertanyaan:

Assalamu ‘alaikum. Sekarang, saya dalam posisi yang sangat galau, karena saya harus dihadapkan dengan yang namanya “perceraian”. Jujur, berat sekali untuk menerima ini semua. Tapi, apa boleh buat saya harus menjalankan proses ini demi menyenangkan hati orang tua saya.

Sebenarnya, selama 3 bulan terakhir ini, hubungan saya dengan suami dalam keadaan baik. Selama menikah, saya tinggal berjauhan bersama suami. Suami pulang sebulan sekali, dan saya beserta anak saya tinggal di rumah orang tua saya. Memang, selama awal pernikahan kami selalu di warnai dengan ribut, yang diketahui oleh orang tua saya. Tapi, kami bisa menyelesaikan itu semua berdua.

Bulan lalu, karena orang tua saya merasa dibohongi oleh suami saya (adapun masalahnya yang tidak dapat saya ceritakan), akhirnya orang tua saya, terutama ibu saya, menginginkan kami bercerai. Sebenarnya, kami tidak ingin bercerai karena masalah ini dapat diselesaikan secara kekeluargaan. Tapi, ibu saya merasa telah dibohongi. Rencana itu pun tidak berhasil.

Ketika suami saya datang ke rumah ortu saya, akhirnya dia menjatuhkan talak 1, dengan saksi keluarga saya. Dua hari kemudian, suami saya mengajak rujuk tapi saya tidak menjawab apa-apa. Dalam hati kecil, saya ingin sekali kembali rujuk, tetapi teringan omongan ibu saya yang mengatakan jika saya tetap bersama dengan suami saya maka ibu saya tidak akan menganggap saya sebagai anaknya lagi.

Sebenarnya, posisi saya berada dalam keadaan yang sulit. Satu sisi, suami; dan sisi lain, ibu kandung saya. Karena saya takut di anggap anak durhaka, akhirnya, saya mengikuti semua kemauan ibu saya.

Sebenarnya, suami saya tidah menginginkan cerai, tapi apa boleh buat, dengan desakan ibu saya, suami saya beberapa hari kemudian menjatuhkan talak 3. Jujur, itu membuat saya shock. Tapi, hati kecil saya sangat sayang sama suami saya, terutama ada anak saya yang masih berusia 6 bulan.

Saya ingin sekali rujuk dengan suami saya, tapi bagaimana dengan status yang telah dijatuhkan oleh suami saya, yaitu talak 3? Saya sangat ingin sekali tetap bersama suami saya, berkumpul lagi. Karena kami bercerai (atas, red.) desakan dari orang tua.

Mohon bantuannya untuk di carikan solusi. Terima kasih. Mohon bantuannya.

NN (**@yahoo.com)

Pertanyaan:

Assalamu ‘alaikum.

Pernikahan kami sudah 10 tahun lebih, tapi sampai saat ini, saya merasa kalau rumah tangga kami masih belum menjadi keluarga yang bahagia. Kami pun sering bertengkar, dari masalah banyaknya utang, mulai Suami yang tidak punya pekerjaan, maupun Suami yang punya tabiat jelek yaitu masalah wanita.

Sebenarnya, Suami tahu apa kewajibannya sebagai Suami. Yang sangat tidak saya suka dari dia adalah dia selalu meminta saya menempatkannya sebagai suami menurut Islam, yang harus selalu ditaati! Dia selalu bilang, “Kalau belum punya suami, harus patuh (kepada, red.) orang tua, tapi setelah bersuami, harus tunduk dan patuh kepada suami; apa pun yang dikatakan suami harus dilakukan, kecuali jika menyuruh berbuat munkar. Dia tahu agama tapi tidak bisa menjalankannya.

1. Dosakah saya kalau meninggikan suara saat bertengkar? Suami juga sering bermesraan dengan wanita lewat hp, makanya dia melarang saya membuka-buka hp-nya.
2. Dosakah saya jika saya melanggarnya? Sebagai istri, jelas saya selalu pengin tahu (tentang pertemanannya dengan orang lain, red.)? Suami juga sering bilang, “Kamu itu seharusnya mengabdi dan pasrah terhadap suami karena kalau jadi istri penurut maka yang masuk surga bukan cuma kamu tapi juga ibumu!”
3. Apakah saya harus menuruti apa pun yang dikatakan Suami (selain perbuatan mungkar) meski saya sendiri tidak terima dengan perbuatannya yang selalu menyakiti hati saya? Dia selalu minta (agar saya, red.) mendoakan dia semoga dia bisa berubah.

Mohon nasihatnya, Ustadz. Saya sudah tidak betah rumah tangga sperti ini, saya pernah minta cerai tapi dia tidak mau. Matur nuwun.

NN (**@yahoo.com)

SOCIAL

10,038FansLike
4,525FollowersFollow
33,555FollowersFollow
61,951SubscribersSubscribe

RAMADHAN

Dukung KonsultasiSyariah.com
dengan Donasi!

BNI SYARIAH
0381346658
a.n. Yufid Network Yayasan
***
BANK SYARIAH MANDIRI
7086882242
a.n. Yayasan Yufid Network
***
PAYPAL
finance@yufid.org
Konfirmasi via email: finance@yufid.org

Powered by WordPress Popup