tutup Eksternal hardisk kajian video islam
cashflow laporan keuangan software akutansi terbaik
Tags Posts tagged with "isa"

isa

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum. Ustadz, suami saya menyukai benda-benda pusaka yang bertuah (keramat) dan meyakini dapat mendatangkan berkah. Dia juga belajar ilmu gaib, memakai jimat, cincin juga sangat taklid buta pada gurunya seorang paranormal yang katanya ilmunya berasal dari malaikat, sehingga sering terjadi perselisihan dalam rumah tangga kami dan akhirnya saya menggugat cerai. Benarkah tindakan saya tersebut? Jika suami saya bertaubat, apakah kami bisa bersatu meski sudah talak 3? Bagaimana pula hukum talak yang dijatuhkan suami saya? Mengingat saya pernah membaca, bahwa syirik akbar dapat membatalkan keislaman dan pernikahan kami.

Pertanyaan:

Aku telah menikah beberapa tahun lamanya, dan merasa sreg dengan pernikahanku pada dua tahun pertama, dan aku pun mencintai istriku. Akan tetapi, sesudah itu aku merasakan sedikit kebencian dalam diriku kepada istriku. Bukan karena agamanya, karena dia adalah wanita yang beragama dan berakhlak agung, alhamdulillah. Namun, karena kecantikanya yang rasanya tidak cukup bagiku dan tidak bisa menundukkan pandanganku. Aku taku menzaliminya, karena kondisi kejiwaanku terkadang membuatku merasa susah bersamanya, dan pada beberapa waktu aku bermuka masam kepadanya tanpa sebab.

Masalahnya, aku tidak mampu menikah dengan wanita lain, karena aku tidak mampu secara materi. Aku pernah berpikir untuk menikah dengan cara mencari pinjaman, tetapi aku akan hidup dalam keadaan fakir gara-gara pinjaman tersebut. Seringkali aku berpikir untuk menceraikannya dengan cara yang baik, dan menggantinya dengan wanita lain. Namun, darinya aku mempunyai beberapa anak dan dia pun amat mencintaiku. Memikirkan hal itu membuatku payah dan tidak bisa tidur, karena aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Apakah yang harus kulakukan, semoga Allah memberikan pahala kepada Anda.

Pertanyaan:

Sepanjang yang saya ketahui, sudah menjadi keyakinan yang pasti dari aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah, walau bagaimanapun besar dosanya asalkan masih punya iman meskipun sebesar biji zarrah, dia tidak akan kekal di neraka, pada saatnya nanti dia akan dikeluarkan dan dimasukkan ke surga. Sedangkan yang tetap tinggal di neraka selama-lamanya adalah orang kafir, munafik, musyrik, iblis dan setan. Dan adzab neraka bagi mereka yang kafir tersebut bersifat kekal, tidak akan musnah atau sirna sebagaimana kenikmatan surga yang kekal abadi. Dan i’tiqad (keyakinan -ed.) ini sudah menjadi keyakinan yang mantap bagi semua kaum muslimin. Tetapi ada keanehan yang saya jumpai dalam kitab Dr. Yusuf Qardhawi (هدي الإسلام فتاوى معاصرة) yang edisi bahasa Indonesianya berjudul “Fatwa-Fatwa Kontemporer Jilid 2” terbitan Gema Insani Press halaman 265-274, bahwa disebutkan tentang pendapat Ibnul Qayyim yang berbeda dengan aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah tentang kekalnya adzab neraka. Dr. Yusuf Qardhawi menyebutkan kitab dari Ibnul Qayyim Arwah al Afrah halaman 254-280 dan kitab Syifa’al ‘alil fi Masa il al Qadha’wa al Qadar wa at Ta’lil halaman 252-264, dalam kitab-kitab beliau tersebut Ibnul Qayyim menguatkan pendapat yang mengatakan bahwa neraka mempunyai batas waktu dan ia akan berkesudahan sampai di sana, kemudian dimusnahkan oleh Tuhan yang menciptakannya. Beliau ber-hujjah dengan ayat-ayat al-Quran yaitu surat an- Naba’ ayat 23, surat al-An’am ayat 128, surat Hud ayat 107, dan pendapat dari para sahabat yaitu Umar, Ibnu Mas’ud, Abdullah bin Amr bin Ash, Abu Hurairah, Abu Sa’id al-Khudri, Ibnu Abbas, serta pendapat dari kalangan tabi’in seperti as-Sya’bi, Abu Miljaz, Ishaq bin Rahawaih.

Beliau (Ibnu Qayyim) juga menyangkal adanya pendapat yang mengatakan bahwa kekalnya adzab neraka itu sudah merupakan ijma’. Dan pada akhir pembahasannya Ibnu Qayyim cenderung menyerahkan masalah ini kepada kehendak Allah. Maka, beliau tidak menetapkan fananya (akan binasanya) neraka dan tidak pula menetapakan kekalnya. Demikian kurang lebih pendapat Ibnu Qayyim yang panjang lebar, untuk lebih jelas dewan redaksi (majalah -ed.) As-Sunnah bisa mengeceknya pada kita Dr. Yusuf Qardhawi atau langsung kepada kitab dari Ibnu Qayyim. Yang saya tanyakan bagaimana yang benar dari permasalahan ini menurut aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Apakah benar adzab neraka itu tidak bersifat kekal? Kalau memang benar lalu apa bedanya orang Islam dengan orang kafir kalau sama-sama akan keluar atau terbebas dari adzab neraka. Kalau memang benar maka orang kafir akan tetap memilih pada kekafirannya, orang musyrik tetap memilih pada kemusyrikannya, tidak mau masuk Islam, karena toh akan keluar juga atau terbebas dari adzab neraka. Benarkah perkataan Ibnul Qayyim adalah seorang ulama Ahlus Sunnah yang besar. Mengapa pendapatnya bias berbeda dari aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah yang sepanjang yang saya ketahui mengatakan adanya kekekalan adzab neraka kekal bagi orang-orang kafir, orang-orang munafiq, orang-orang musyrik, dan bagi iblis, serta setan. Saya mohon agar dewan redaksi bisa menjawabnya melalui rubrik soal-jawab atau kalau perlu membahasnya secara khusus agar bisa hilang segala macam syubhat dan kerancuan tentang permasalahan ini.

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum, saya ingin bertanya tentang hadits pada edisi bulan April tentang hadits bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menziarahi kubur ibunya lalu menangis dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku meminta izin kepada Rabb-ku untuk memohonkan ampun bagi ibuku, tetapi aku tidak diberi izin. Dan aku meminta izin kepada-Nya untuk menziarahi kuburnya, maka aku di beri izin. Maka hendaklah kamu berziarah kubur, karena ziarah kubur itu bisa mengingatkan kepada kematian.

Apakah perempuan boleh menangis pada waktu berziarah kubur?

Menurut pengertian saya, bila berziarah kubur, kita tidak boleh memohonkan ampun atau mendoakan. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan untuk berziarah kubur untuk mengingat kematian. Apakah pengertian saya benar? Terima kasih. Wasalam.

Pertanyaan:

Saya tinggal di sebuah rumah yang letaknya jauh dari masjid, dan saya merasa berat jika harus naik mobil untuk pergi ke masjid. Jika saya berjalan kaki, kadang-kadang saya ketinggalan jamaah. Perlu diketahui, bahwa saya mendengar adzan dari rumah lewat pengeras suara. Dalam keadaan seperti ini, bolehkah saya shalat di rumah atau di rumah tetangga dengan berjemaah bersama tiga atau empat orang? Berikanlah fatwa kepada kami. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas Anda dengan kebaikan.

SOCIAL

8,213FansLike
3,884FollowersFollow
29,971FollowersFollow
61,240SubscribersSubscribe

RAMADHAN