tutup Eksternal hardisk kajian video islam
cashflow laporan keuangan software akutansi terbaik
Tags Posts tagged with "doa"

doa

suami-istri kena sihir

Dzikir Penangkal Gangguan Jin dan Sihir (Bagian 02)

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Pada artikel sebelumnya (Dzikir Penangkal Gangguan Jin dan Sihir), kita telah menyebutkan banyak keutamaan merutinkan dzikir setiap pagi dan sore.

Kita juga telah menyebutkan beberapa dzikir yang memiliki keutamaan luar biasa jika dirutinkan setiap pagi dan sore. Masih ada beberapa dzikir yang manfaatnya tidak kalah besar dengan dzikir sebelumnya.

Berikut rincian selengkapnya,

Keenam, dzikir pangkuan keagungan Allah

اللّهُمَّ إِنِّي أَصْبَحتُ أُشْهِدُكَ وَأُشْهِدُ حَـمَلَـــةَ عَـرْشِكَ ، وَمَلَائِكَتَكَ وَجَـمِيْعَ خَلْقِكَ ، أَنَّكَ أَنتَ اللهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ وَحْدَكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ ، وَأَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُكَ وَرَسُولُكَ

“Ya Allah! Sesungguhnya aku di waktu pagi ini bersaksi kepada-Mu, malaikat yang memikul ‘arsyMu, seluruh malaikat-Mu dan seluruh makhlukMu, bahwa sesungguhnya Engkau adalah Allah, tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, semata-mata Engkau, tiada sekutu bagiMu dan sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan utusan-Mu.” (Dibaca 4 kali waktu pagi dan sore)

Keterangan:

  • Malaikat yang memikul arasy: mereka disebut dalam Al Qur’an melalui firmanNya (artinya): “Dan pada hari ini (qiyamat), yang memikul ‘Arsy TuhanMu ada delapan.” (QS. Al Haqah: 17).

Ibn Abbas radliallahu ‘anhuma mengatakan: Maksudnya adalah delapan barisan Malaikat, tidak ada yang tahu jumlah mereka kecuali Allah.

  • …. dan seluruh makhlukMu: para Malaikat disebut secara khusus di awal, kemudian diikuti ‘semua makhluq’. Padahal para Malaikat termasuk makhluq. Ini menunjukkan keistimewaan Malaikat dibanding makhluq yang lain. Penyebutan ‘Malaikat’ secara khusus pada dzikir ini, karena konteks isi dzikirnya berupa persaksian keesaan Allah dan kerasulan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga mereka lebih layak untuk menjadi bukti persaksian dari pada makhluq yang lain. Karena merekalah makhluq yang pertama kali mengetahui keesaan Allah dan kerasulan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Keutamaan:

Disebutkan dalam hadis dari Anas bin Malilk radliallahu ‘anhu, bahwa barangsiapa ketika pagi membaca: Allahumma innii ashbahtu usyhiduka…dst. Maka Allah membebaskan ¼ dirinya dari neraka. Siapa yang membacanya 2 kali maka Allah bebaskan ½ dirinya dari neraka. Siapa yang membacanya 3 kali maka Allah bebaskan ¾ dirinya dari neraka, dan siapa yang membacanya 4 kali maka Allah bebaskan seluruh badannya dari neraka. (HR. Abu Daud & Bukhari dalam Adabul Mufrad dan sanadnya dihasankan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz dalam Tuhfatul Ahyar)

Ketujuh, Dzikir Syukur

اللَّهُمَّ مَا أَصْبَحَ بِي مِنْ نِعْمَةٍ أَوْ بِأَحَـدٍ مِنْ خَلْـقِـكَ فَمِـنْـكَ وَحْـدَكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ، فَلَكَ الْـحَمْدُ وَلَكَ الشُّكْــرُ

Ya Allah! Nikmat yang kuterima atau yang diterima oleh seseorang di antara makhlukMu di pagi ini, semuanya adalah dariMu semata, tiada sekutu bagi-Mu. Karena itu, hanya bagiMu segala puji dan hanya kepadaMu rasa syukur (dari seluruh makhluk-Mu).

Keutamaan:

Disebutkan dalam hadis dari Abdullah bin Ghannam Al Bayadli radliallahu ‘anhu, bahwa orang yang di pagi hari membaca: Allahumma maa ash-baha bii min ni’matin…berarti dia telah memanjatkan syukurnya pada hari tersebut. (HR. Abu Daud & Ibn Sunni dan sanadnya dihasankan Syaikh Ibn Baz dalam Tuhfatul Ahyar)

Kedelapan, minta keselamatan untuk semua anggota badan

اللَّهُمَّ عَافِـنِـي فِـي بَدَنِــيِ، اللَّهُمَّ عَافِــنِـي فِـي سَـمْعِي، اللَّهُمَّ عَافِــنِـي فِـي بَصَرِي، لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، اللَّهُمَّ إِنِّـي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الكُفْرِ وَالْفَقْرِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْـرِ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ

Ya Allah! Selamatkan tubuhku, Ya Allah, selamatkan pendengaranku, Ya Allah, selamatkan penglihatanku (dari segala cacat dan penyakit). Tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau. Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari kekufuran dan kefakiran. Aku berlindung kepadaMu dari siksa kubur, tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau.” (Dibaca 3 kali di waktu pagi dan sore)

Keterangan:

Di awal dzikir disebutkan badan, kemudian disebutkan pendengaran dan penglihatan, padahal pendengaran dan penglihatan termasuk anggota badan. Ini menunjukkan keutamaan pendengaran dan penglihatan. Karena kedua indra tersebut merupakan jalan masuknya ilmu

Hadis selengkapnya:

Dari Abdurrahman bin Abi Bakrah, bahwa dia bertanya kepada bapaknya: Wahai ayahku, aku selalu mendengar engkau membaca: Allahumma ‘afinii fii…dst. Dan engkau mengulanginya 3 kali setiap pagi dan 3 kali setiap sore. Kemudian Abu Bakrah radliallahu ‘anhu mengatakan: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca do’a ini, dan aku senang meniru sunnah beliau. (HR. Abu Daud, Ahmad, dan sanadnya dihasankan Syaikh Ibn Baz dalam Tuhfatul Ahyar)

Kesembilan, minta keselamatan dunia akhirat

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَ الْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَ اْلآخِرَةِ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَ الْعَافِيَةَ فِي دِيْنِيْ وَ دُنْيَايَ وَ أَهْلِيْ وَ مَالِيْ. اَللَّهُمَّ احْفَظْنِيْ مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ، وَ مِنْ خَلْفِيْ، وَ عَنْ يَمِيْنِيْ وَ عَنْ شِمَالِيْ، وَ مِنْ فَوْقِيْ، وَ أَعُوْذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِيْ

Ya Allah! Sesungguhnya aku memohon ampunan dan terbebas dari masalah di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon ampunan dan terbebas dari masalah dalam urusan agama, dunia, keluarga dan hartaku. Ya Allah, tutupilah auratku dan tenangkanlah aku dari rasa takut. Ya Allah! Jagalah aku dari arah muka, belakang, kanan, kiri dan dari atasku, dan aku berlindung dengan kebesaranMu, agar aku tidak dihancurkan dari bawahku

Keterangan:

Auratku: mencakup aurat badan, cacat, aib dan sesuatu yang tidak layak dilihat orang lain

dihancurkan dari bawahku: dihancurkan sementara aku lengah. Bisa dengan tenggelam atau di telan bumi.

Keutamaan:

Dari Ibn Umar radliallahu ‘anhuma, bahwa beliau mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca wirid ini ketika pagi dan sore, dan beliau tidak pernah meninggalkannya sampai beliau meninggal dunia: “Allahumma inni as-alukal ‘afwa…dst.” (HR. Abu Daud, Ibn Majah dan dishahihkan Al Albani)

Dari Abbas bin Abdul Muthallib, beliau bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Ya Rasulullah, ajarilah aku do’a yang harus aku panjatkan kepada Allah? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wahai Abbas, mintalah al afiyah (terbebas dari masalah) kepada Allah.” Kemudian, setelah tiga hari, Abbas datang lagi dan mengatakan: Ya Rasulullah, ajarilah aku do’a yang harus aku panjatkan kepada Allah? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wahai Abbas, wahai pamanku, mintalah kepada Allah al afiyah (terbebas dari masalah) di dunia dan akhirat.” (HR. Al Bukhari dalam Adabul Mufrad dan dishahihkan Al Albani)

Dari Anas bin Malik radliallahu ‘anhu, bahwasanya ada seorang yang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya: Ya Rasulullah, do’a apa yang paling afdhal? Beliau menjawab: “Mintalah kepada Allah al afiyah (terbebas dari masalah) di dunia dan akhirat.” Kemudian besoknya dia datang lagi dan bertanya: “Wahai Nabi Allah, do’a apa yang paling afdhal? Beliau menjawab: “Mintalah kepada Allah al afiyah (terbebas dari masalah) di dunia dan akhirat. Karena jika engkau diberi al afiyah di dunia dan akhirat berarti kamu beruntung.” (HR. Al Bukhari dalam Adabul Mufrad dan dishahihkan Al Albani)

Kesepuluh, Ridha kepada Allah

رَضِيتُ بِاللهِ رَبّاً، وَ بِالإِسْلاَمِ دِيْــناً، وَبِــمُحَمَّدٍ نَــبِــياً

Aku rela Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai Nabi. (Dibaca 3 kali).

Keterangan:

Aku rela Allah sebagai Tuhan: Aku cukupkan diriku untuk hanya meminta kepadaNya, beribadah kepadaNya, tiada Tuhan yang berhak disembah selain Dia

rela islam sebagai agama: aku tidak menempuh jalan hidup kecuali yang sesuai dengan syariat islam

Keutamaan:

Dari Tsauban bin Bujdud radliallahu ‘anhu, Pelayan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila seorang hamba di pagi dan sore hari membaca do’a ini tiga kali: radliitu billaah..dst. Maka telah menjadi kewajiban Allah untuk meridlainya pada hari kiamat.” (HR. Ahmad, Abu Daud, Ibn Majah dan sanadnya dihasankan Syaikh Ibn Baz dalam Tuhfatul Ahyar)

(Makna: menjadi kewajiban Allah adalah Allah wajibkan diriNya sendiri untuk melaksanaknnya)

Kesebelas, pasrah kepada Allah

يَا حَيُّ يَا قَـــيُّومُ بِرحْـمَتِكَ أَسْتَـــغِــيثُ أَصْلِحْ لِـي شَأْنِـي كُــلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِـي إِلَى نَفْسِي طَرْفَــةَ عَينٍ

Wahai Tuhan Yang Maha Hidup, wahai Tuhan Yang Berdiri Sendiri (tidak butuh segala sesuatu), dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan janganlah pasrahkan jiwaku kepada diriku sendiri sekalipun hanya sekejap mata

Hadis selengkapnya:

Dari Anas bin Malik radliallahu ‘anhu, bahwa beliau mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Fatimah: “Apa yang menghalangimu untuk mendengarkan nasehatku, bacalah ketika pagi dan sore hari: Ya hayyu ya qayyuum birahmatika….dst.” (HR. Al Hakim dan dishahihkan Al Albani)

Kedua belas, Perlindungan terhadap keburukan pribadi

اللَّهُمَّ عَالِـمَ الغَــيبِ وَالشَّهَادَةِ فَاطِـرَ السَّمَـوَاتِ وَالأَرْضِ، رَبَّ كُلِّ شَيْءٍ وَمَلِـيكَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَـــرِّ نَــــفْسِي وَ مِنْ شَـــرِّ الشَّـــيْطَانِ وَشِرْكِــهِ، وَأَنْ أَقْـــــتَــــرِفَ عَلَى نَفْسِي سُوءاً، أَوْ أَجُـــرَّهُ إِلَى مُسْلِمٍ

Ya Allah! Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, wahai Tuhan pencipta langit dan bumi, Tuhan segala sesuatu dan Yang merajainya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau. Aku berlindung kepadaMu dari kejahatan diriku, setan dan bala tentaranya, dan aku (berlindung kepadaMu) dari berbuat kejelekan terhadap diriku atau menimpakannya kepada seorang muslim

Keterangan:

Ghaib: Segala sesuatu yang tidak kelihatan manusia

Hadis Selengkapnya:

Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu, bahwa Abu Bakr As Siddiq berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Tunjukkanlah aku beberapa kalimat, yang aku baca setiap pagi dan sore. Kemudian beliau bersabda: “Bacalah: Allahumma faathiras samaawati…dst. Baca do’a ini setiap pagi, sore, dan ketika hendak tidur.” (HR. Abu Daud, At Turmudzi dan dishahihkan Al Albani)

Ketiga belas, Tabir dari gagguan yang membahayakan

بِسْمِ اللهِ الَّذِي لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْـمِهِ شَيْءٌ فِـي الأَرْضِ وَلاَ فِي السَّـمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ العَلِيمُ

Dengan nama Allah, dimana segala sesuatu di bumi dan langit tidak akan berbahaya bersama dengan namaNya, dan Dia-lah Dzat Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Dibaca 3 kali)

Keterangan:

…bersama dengan namaNya: menunjukkan diantara keberkahan nama Allah

Keutamannya:

Dari Utsman bin Affan radliallahu ‘anhu, beliau mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Siapa yang setiap pagi dan sore membaca do’a ini tiga kali: Bismillahi alladzi…dst. Maka dia tidak ada sesuatupun yang membahayakan dirinya.” (HR. Abu Daud, At Turmudzi dan dishahihkan Al Albani)

Catatan:

Suatu ketika Aban bin Utsman salah satu sisi tubuhnya mengalami kelumpuhan. Tiba-tiba ada seseorang yang melihatnya (keheranan). Aban marah: Kenapa lihat-lihat. Hadis tentang bacaan di atas telah aku sampaikan, namun hari ini aku lupa mengucapkannya, agar takdir Allah ini mengenai diriku.

Keempat belas, Masuk waktu pagi dengan doa

أَصْــبَحْنَا  وَأَصْبحَ الْمُلْكُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، اللَّهُمَّ إِنِّــي أَسْأَلُكَ خَيْرَ هَذَا الْيَوْمِ: فَــتْحَهُ، وَنَصْـرَهُ، وَنُــورَهُ، وَبَــرَكَتَهُ، وَهُدَاهُ، وَأَعُــوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِيْهِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهُ

Kami telah memasuki waktu pagi dan kerajaan milik Allah selalu abadi, Tuhan seluruh alam. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadaMu agar memperoleh kebaikan hari ini: pembukanya, pertolongannya, cahayanya, berkahnya dan petunjuknya. Aku berlindung kepadaMu dari kejelekan apa yang ada di dalamnya dan kejahatan sesudahnya.

Keterangan:

  • Pembukanya: kemudahan untuk mendapatkan apa yang diinginkan
  • Cahayanya: hidayah untuk mendapatkan ilmu dan beramal
  • Berkahnya: mudah dalam mencari rizki yang halal

Hadis Selengkapnya:

Dari Abu Malik Al Asy’ari radliallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila kalian di pagi hari, bacalah: Ashbahnaa wa ashbahal mulku….dst….” (HR. Abu Daud, Thabrani dan sanadnya dihasankan Syu’aib Al Arnauth)

Kelima belas, Masuk pagi di atas fitrah

أَصْـــــبَحْــنــَـــا عَلَى فِطْــرَةِ الإِسْلاَمِ وَ عَلَى كَلِمَةِ الإِخْلاَصِ، وَعَلَى دِينِ نَـــبِـــيـِّـــــنـــَـا مُـحَمَّدٍ صَلى الله عليه و سَلم، وَعَلَى مِلَّـــةِ أَبِـــــيـــنــَــا إِبْــــــرَاهِيمَ حَـــنِـــــيْــــفاً مُــسْــلِماً وَمَا كَانَ مِنَ الْـمُشْــــرِكِينَ

Di waktu pagi, kami tetap di atas fitrah Islam, kalimat ikhlas, agama Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan agama bapak kami Ibrahim, dengan hanif, dengan tetap memegang agama islam dan tidak tergolong orang-orang musyrik

Keterangan:

  • Fitrah islam: Agama yang benar. Terkadang kata fitrah bermakna sunnah (ajaran)
  • Kalimat ikhlas: dua kalimat syahadat
  • Hanif: condong kepada tauhid dan meninggalkan syirik

Hadis selengkapnya:

Dari Abdurrahman bin Abu Abza radliallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika pagi dan sore, beliau membaca: “Ashbahnaa ‘alaa fithratil islam…dst.” (HR. Ahmad & dishahihkan Al Albani)

Keenam belas, Tasbih

سُــــبْحَانَ اللهِ  وَ بِـحَمْدِهِ

Maha Suci Allah dan aku memujinya (100 kali)

Keutamannya:

Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa di waktu pagi dan sore membaca: ‘subahanallah wa bihamdihi’ 100 kali maka tidak ada seorangpun yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala yang lebih baik dari pahala yang dia bawa, kecuali orang yang membaca seperti yang dia baca atau lebih banyak.” (HR. Muslim).

Keterangan:

Dibolehkan menambah bacaan ini lebih dari 100 kali

Ketujuh belas, Tahlil

لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَـــــهُ ، لَـــــــــــهُ الْــمُـــــــــلْــكُ وَلَـــــــــــــهُ الْـــحَمْــدُ ، وَهُــــوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, semata-mata Dia, tiada sekutu baginya, semua kerajaan hanya milikNya, segala puji hanya milikNya, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu (sekali, 10 kali, atau 100 kali)

Keutamannya:

Kalimat ini bisa dibaca sekali, 10 kali, atau 100 kali.

Keutamaan dibaca sekali

Dari Abu Ayyasy radliallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa di waktu pagi membaca: Laa ilaaha illallaah wahdahu…dst. Nilainya seperti seorang budak keturunan Nabi Ismail, dicatat baginya 10 kebaikan, dihapuskan darinya 10 kesalahan, dan diangkat derajatnya 10 tingkatan, serta dia dalam perlindungan setan sampai sore. Demikian pula ketika sore, dia membacanya dan dijaga sampai pagi.” (HR. Ahmad, Abu Daud, Ibn Majah dan dishahihkan Al Albani)

Keutamaan dibaca 10 kali

Dari Abu Ayyub Al Anshari radliallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa di waktu pagi membaca: Laa ilaaha illallaah wahdahu…dst, sepuluh kali. Nilainya seperti 4 budak, dicatat untuknya 10 kebaikan, dihapuskan darinya 10 kesalahan, diangkat derajatnya 10 tingkatan, dan bacaan itu menjadi perlindungan baginya dari setan sampai sore. Dan jika ada orang yang membacanya setelah maghrib, dia juga mendapatkan hal yang sama.” (HR. Ahmad, Abu Daud, An Nasa’i dan dishahihkan Al Albani)

Keutamaan dibaca 100 kali

Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam besabda: “Barangsiapa yang membaca Laa ilaaha illallaah wahdahu…dst. 100 kali dalam sehari, maka itu senilai 10 budak, dicatat untuknya 100 kebaikan, dihapuskan darinya 100 kesalahan, dan bacaan itu menjadi perlindungan dari setan pada hari itu sampai sore, serta tidak ada seorangpun yang datang (pada hari kiamat) dengan membawa pahala yang lebih baik dari pahala yang dia bawa, kecuali orang yang membaca lebih banyak.” (HR. Al Bukhari & Muslim)

Keterangan:

100 kali dalam sehari: Imam An Nawawi mengatakan:

Zahir  hadis menunjukkan bahwa pahala yang disebutkan bisa didapatkan oleh orang yang membaca dzikir ini 100 kali dalam sehari, baik dia baca 100 sekaligus atau terpisah-pisah di beberapa tempat, atau dia baca sebagian di pagi hari dan sebagian di sore hari. Namun yang afdhal, dia baca 100 sekaligus di pagi hari, agar bisa menjadi perlindungan baginya dari setan sehari penuh. Demikian pula jika dia baca di awal malam maka menjadi perlindungan baginya semalam penuh. (Tuhfatul Ahwadzi)

Senilai sekian budak: senilai membebaskan budak

Keturunan Nabi Ismail: merupakan keturunan terbaik

orang yang membaca lebih banyak: An Nawawi mengatakan: Ini dalil bahwa orang yang membaca tahlil lebih dari 100 dalam sehari maka dia mendapatkan pahala 100 tahlil sebagaimana disebutkan dalam hadis, disamping dia mendapat pahala tahlil tambahannya. (Tuhfatul Ahwadzi)

Kedelapan belas, Ringan berpahala besar

سُــــــــبْحَانَ اللهِ  وَ بِـــــحَمْــــــــــدِهِ؛ عَدَدَ خَـــلْـــــــــــقِـــــهِ ، وَ رِضَا نَفْسِهِ ، وَ زِنَــــــــةَ عَــــرْشِـــهِ ، وَ مِـــدَادَ كَـــــــــــلِـــــــــمَاتِـــــــــــهِ

Maha Suci Allah, aku memujiNya sebanyak makhlukNya, sesuai dengan keridlaan-Nya, seberat timbangan arasyNya dan sebanyak kalimatNya.” (3 kali setiap pagi saja)

Keutamannya:

Dari Ummul Mukminin, Juwairiyah binti Harits radliallahu ‘anha, bahwa suatu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar dari rumahnya untuk shalat subuh, sementara Juwairiyah berada di tempat shalatnya. Setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali di waktu dluha, Juwairiyah masih tetap duduk di tempat semula. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya: “Apa kamu tetap berada dalam kondisi seperti ini sejak aku tinggalkan subuh tadi?” Juwairiyah menjawab: Iya. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Saya telah mengucapkan 4 kalimat sebanyak tiga kali, jika ditimbang dengan dzikir yang kamu baca sejak pagi, akan lebih berat bacaan ini: subhaanallahi wa bi hamdihi ‘adada kholqihi….” (HR. Muslim)

Kesembilan belas, Dibaca seusai salam shalat subuh

اللَّــــــــــــــــــــهُمَّ  إِنِّـــــــــي أَسْــأَ لُكَ عِــــــــــلْــــــــمًا نَـــــــــــافِـــعاً، وَ رِزْ قًا طَـــــيــــِّـــــــــــــــــــباً ، وَ عَمَلاً مـُـــــــــتَـــــــــــــــقَـــــــــــــبـــَّـــــــــلاً

Ya Allah, sungguh aku memohon kepadaMu ilmu yang manfaat, rizki yang halal dan amal yang diterima. (Dibaca sekali setelah salam shalat subuh).

Hadis Selengkapnya:

Dari Ummu Salamah radliallahu ‘anha, bahwa setiap selesai salam shalat subuh, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca: “Allahumma innii as-aluka ilman…” (HR. Ibn Majah dan dishahihkan Al Albani)

Kedua puluh, Istighfar

أَسْـــــــــــتَــــــــــــغْــــــــــــــــفِـــــــــــــــــرُ اللهَ وَ أَ تُـــــــوبُ إِ لَــــــــــــــــــْيهِ

Saya memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepadaNya (100 kali)

Hadis Selengkapnya:

Dari Aghor bin Yasar Al Muzanni radliallahu ‘anhu, bahwa beliau mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wahai para manusia, bertaubatlah kepada Allah!! sesungguhnya aku bertaubat kepadaNya 100 kali dalam sehari.” (HR. Al Bukhari & Muslim)

Kedua puluh satu, membaca shalawat

اللّــــــــهُمَّ صَـــلِّ وَسَــــــــــــــلِّــــــــمْ عَلَى نَــــــــبِـــــــــــــــــيِّـــــنَا  مُــحَـــــمَّـــــدٍ

Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada Nabi kami Muhammad. (Dibaca 10 kali).

Keutamaannya:

Dari Abu Darda’ radliallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang memberikan shalawat kepadaku ketika subuh 10 kali dan ketika sore 10 kali maka dia akan mendapat syafaatku pada hari qiyamat.” (HR. At Thabrani dan dishahihkan Al Albani)

Demikian, semoga bermanfaat.

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

dosa yang terus mengalir

Dosa Yang Terus Mengalir

Assalamualaikum,  dosa apa yg trus mengalir meski qt sudah meninggal??

Dari: Devi Suherna

Jawaban:

Wa alaikumus salam

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Kita sering mendengar istilah sedekah jariyah. Itulah sedekah yang pahalanya akan terus mengalir, meskipun kita telah meninggal dunia. Kita akan tetap terus mendapatkan kucuran pahala, selama harta yang kita sedekahkan masih dimanfaatkan oleh kaum muslimin untuk melakukan ketaatan. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Apabila manusia meninggal, amalnya akan terputus, kecuali 3 hal: ‘Sedekah Jariyah, Ilmu yang bermanfaat, dan anak soleh yang mendoakannya.’ (HR. Nasa’i 3651, Turmudzi 1376, dan dishahihkan Al-Albani).

Sebagai orang beriman, yang sadar akan pentingnya bekal amal di hari kiamat, tentu kita sangat berharap bisa mendapatkan amal semacam ini. Di saat kita sudah pensiun beramal, namun Allah tetap memberikan kucuran pahala karena amal kita di masa silam.

Dosa Jariyah

Disamping ada pahala jariyah, dalam islam juga ada dosa yang sifatnya sama, dosa jariyah. Dosa yang tetap terus mengalir, sekalipun orangnya telah meninggal. Dosa yang akan tetap ditimpakan kepada pelakunya, sekalipun dia tidak lagi mengerjakan perbuatan maksiat itu.

Betapa menyedihkannya nasib orang ini, di saat semua orang membutuhkan pahala di alam barzakh, dia justru mendapat kucuran dosa dan dosa. Anda bisa bayangkan, penyesalan yang akan dialami manusia yang memiliki dosa jariyah ini.

Satu prinsip yang selayaknya kita pahami, bahwa yang Allah catat dari kehidupan kita, tidak hanya aktivitas dan amalan yang kita lakukan, namun juga dampak dan pengaruh dari aktivitas dan amalan itu. Allah berfirman di surat Yasin,

إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ

“Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Yasin: 12)

Orang yang melakukan amal dan aktivitas yang baik, akan Allah catat amal baik itu dan dampak baik dari amalan itu. Karena itulah, islam memotivasi umatnya untuk melakukan amal yang memberikan pengaruh baik yang luas bagi masyarakat. Karena dengan itu dia bisa mendapatkan pahala dari amal yang dia kerjakan, plus dampak baik dari amalnya.

Sebaliknya, orang yang melakukan amal buruk, atau perbuatan maksiat, dia akan mendapatkan dosa dari perbuatan yang dia lakukan, ditambah dampak buruk yang ditimbulkan dari kejahatan yang dia kerjakan. Selama dampak buruk ini masih ada, dia akan terus mendapatkan kucuran dosa itu. – wal’iyadzu billah.. –, itulah dosa jariyah, yang selalu mengalir. Sungguh betapa mengerikannya dosa ini.

Mengingat betapa bahayanya dosa jariyah ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan umatnya agar berhati-hati, jangan sampai dia terjebak melakukan dosa ini.

Sumber Dosa Jariyah

Diantara sumber dosa jariyah yang telah diperingatkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

Pertama, mempelopori perbuatan maksiat.

Mempelopori dalam arti dia melakukan perbuatan maksiat itu di hadapan orang lain, sehingga banyak orang yang mengikutinya. Meskipun dia sendiri tidak mengajak orang lain untuk mengikutinya. Dalam hadis dari Jarir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً، كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْء

“Siapa yang mempelopori satu kebiasaan yang buruk dalam islam, maka dia mendapatkan dosa keburukan itu, dan dosa setiap orang yang melakukan keburukan itu karena ulahnya, tanpa dikurangi sedikitpun dosa mereka.” (HR. Muslim).

Orang ini tidak mengajak lingkungan sekitarnya untuk melakukan maksiat yang sama. Orang ini juga tidak memotivasi orang lain untuk melakukan perbuatan dosa seperti yang dia lakukan. Namun orang ini melakukan maksiat itu di hadapan banyak orang, sehingga ada yang menirunya atau menyebarkannya.

Karena itulah, anak adam yang pertama kali membunuh, dia dilimpahi tanggung jawab atas semua kasus pembunuhan karena kedzaliman di alam ini. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تُقْتَلُ نَفْسٌ ظُلْمًا إِلَّا كَانَ عَلَى ابْنِ آدَمَ الأَوَّلِ كِفْلٌ مِنْ دَمِهَا

“Tidak ada satu jiwa yang terbunuh secara dzalim, melainkan anak adam yang pertama kali membunuh akan mendapatkan dosa karena pertumpahan darah itu.” (HR. Bukhari 3157, Muslim 4473 dan yang lainnya).

Anda bisa bayangkan, orang yang pertama kali mendesain rok mini, pakaian you can see, kemudian dia sebarkan melalui internet, lalu ditiru banyak orang. Sekalipun dia tidak ngajak khalayak untuk memakai rok mini, namun mengingat dia yang mempeloporinya, kemudian banyak orang yang meniru, dia mendapatkan kucuran dosa semua orang yang menirunya, tanpa dikurangi sedikitpun.

Tak jauh beda dengan mereka yang memasang video parno atau cerita seronok di internet, tak terkecuali media massa, kemudian ada orang yang nonton atau membacanya, dan dengan membaca itu dia melakukan onani atau zina atau bahkan memperkosa, maka yang memasang di internet akan mendapat aliran dosa dari semua maksiat yang ditimbulkan karenanya.

Termasuk juga para wanita yang membuka aurat di tempat umum, sehingga memancing lawan jenis untuk menikmatinya, maka dia mendapatkan dosa membuka aurat, plus dosa setiap pandangan mata lelaki yang menikmatinya. Meskipun dia tidak mengajak para lelaki untuk memandanginya.

Kedua, mengajak melakukan kesesatan dan maksiat

Dia mengajak masyarakat untuk berbuat maksiat, meskipun bisa jadi dia sendiri tidak melakukan maksiat itu. Merekalah para juru dakwah kesesatan, atau mereka yang mempropagandakan kemaksiatan.

Allah berfirman, menceritakan keadaan orang kafir kelak di akhirat, bahwa mereka akan menanggung dosa kekufurannya, ditambah dosa setiap orang yang mereka sesatkan,

لِيَحْمِلُوا أَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ أَلَا سَاءَ مَا يَزِرُونَ

Mereka akan memikul dosa-dosanya dengan penuh pada hari kiamat, dan berikut dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikitpun (bahwa mereka disesatkan). (QS. an-Nahl: 25)

Imam Mujahid mengatakan,

يحملون أثقالهم: ذنوبهم وذنوب من أطاعهم، ولا يخفف عمن أطاعهم من العذاب شيئًا

Mereka menanggung dosa mereka sendiri dan dosa orang lain yang mengikutinya. Dan mereka sama sekali tidak diberi keringanan adzab karena dosa orang yang mengikutinya. (Tafsir Ibn Katsir, 4/566).

Ayat ini, semakna dengan hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ، كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ، لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

“Siapa yang mengajak kepada kesesatan, dia mendapatkan dosa, seperti dosa orang yang mengikutinya, tidak dikurangi sedikitpun.” (HR. Ahmad 9398, Muslim 6980, dan yang lainnya).

Anda bisa perhatikan para propagandis yang menyebarkan aliran sesat, menyebarkan pemikiran menyimpang, menyerukan masyarakat untuk menyemarakkan kesyirikan dan bid’ah, menyerukan masyarakat untuk memusuhi dakwah tauhid dan sunah, merekalah contoh yang paling mudah terkait hadis di atas.

Sepanjang masih ada manusia yang mengikuti mereka, pelopor kemaksiatan dan penghasung pemikiran menyimpang, selama itu pula orang ini turut mendapatkan limpahan dosa, sekalipun dia sudah dikubur tanah. Merekalah para pemilik dosa jariyah.

Termasuk juga mereka yang mengiklankan maksiat, memotivasi orang lain untuk berbuat dosa, sekalipun dia sendiri tidak melakukannya, namun dia tetap mendapatkan dosa dari setiap orang yang mengikutinya.

Semoga Allah memudahkan kita untuk melakukan amal jariyah dan menjauhkan kita dari dosa jariyah. Amin…

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

sakit ketika shalat

Doa Orang Sakit Mustajab?

Apakah doa orang yang sakit itu pasti dikabulkan? Saya pernah mendengar hadis, doa mereka seperti doa malaikat. Apa benar?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Dinyatakan dalam sebuah hadis dari Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu secara marfu’,

إذا دخلتَ على مريضٍ فَمُرْه يدعو لك فإن دعاءَه كدعاءِ الملائكةِ

Apabila kamu menjenguk orang sakit, minta dia untuk mendoakanmu. Karena doanya seperti doa Malaikat.

Status Hadis:

Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Sunni dalam Amal Yaum wa lailah (hlm. 207) dan Ibnu Majah no. 1441 dari jalur Katsir bin Hisyam dariJa’far bin Burqan, dari Maimun bin Mihran, dari Umar.

Dalam as-Silsilah ad-Dhaifah ditegaskan bahwa jalur sanad hadis ini lemah sekali (dhaif jiddan), karena dua alasan:

Pertama, Terputus antara Maimun bin Mihran dengan Umar. Karena Maimun tidak pernah mendengar dari Umar.

Kedua, bahwa antara perawi Katsir bin Hisyam dengan Ja’far bin Burqan ada satu perawi yang tidak disebutkan. Perawi itu adalah Isa bin Ibrahim al-Hasyimi. Sehingga jalur sanad yang lengkap:

Dari Katsir bin Hisyam dari Isa bin Ibrahim dari Ja’far bin Burqan.

Keberadaan Isa bin Ibrahim menjadi cacat sanad hadis ini. Karena para ulama mendhaifkannya. Imam Bukhari dan an-Nasai mengatakan, ‘Munkarul Hadis.’ Sementara Abu Hatim mengatakan, ‘Matrukul Hadis.’ Karena alasan ini, Ibnul Jauzi dalam kitab al-Ilal al-Mutanahiyah menilai hadis ini dengan pernyataan: ’La yasih,’ tidak shahih.

Kesimpulannya, hadis ini adalah hadis yang lemah sekali, sehingga tidak bisa dijadikan acuan dalil.

Doa Orang Sakit itu Mustajab

Diantara doa yang mustajab adalah doa yang dipanjatkan dari seseorang ketika dalam kondisi lemah, kepepet, terdesak, yang sangat membutuhkan pertolongan dari Allah. Karena itu, doa mereka lebih mustajab dibandingkan doa mereka yang sehat dan dalam keadaan longgor. Allah berfirman,

أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ

Siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan.. (QS. An-Naml: 62)

Dan kita semua tahu, orang sakit termasuk diantara mereka. Ibnu Allan menjelaskan mengapa doa orang sakit lebih mustajab,

وذلك لأنّه مضطر ودعاؤه أسرع إجابةً من غيره

Karena orang sakit termasuk orang yang terdesak. Dan doanya lebih cepat diijabahi dari pada yang lainnya. (al-Futuhat ar-Rabbaniyah, Syarh al-Adzkar an-Nawawiyah, 4/92).

Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

buku kumpulan doa dzikir ramadhan

Buku Kumpulan Doa dan Dzikir Ramadhan

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, buku kumpulan doa dan dzikir seputar ramadhan telah diterbitkan oleh pustaka muslim.

Sebagaimana judulnya, buku ini mengupas doa dan dzikir selama ramdhan, baik yang terkait amalan puasa maupun amalan qiyam lail. Buku ini tidak hanya mengupas doa dan dzikir yang shahih, namun juga mengupas doa dan dzikir yang tidak shahih, akan tetapi tersebar dan banyak dipraktekkan di masyarakat.

Pada kajian mengenai doa dan dzikir yang tidak shahih, penulis membahas secara ilmiah dan sederhana, melalui pendekatan ilmu hadis dengan mengutip keterangan para ahli hadis. Sehingga menghasilkan kesimpulannya yang bisa dipertanggung-jawabkan.

buku doa dzikirpuasa ramadhan

Identitas Buku

Ukuran           : ¼ A4 (10.5 x 14.8) cm

Tebal               : 82 halaman

Penyusun       : Ammi Nur Baits

Penerbit          : Pustaka Muslim Yogyakarta

Harga                : Rp 7.000;

Berikut daftar isi buku:

1. Doa Ketika Melihat Hilal

2. Doa Ketika Menyambut Ramadhan

3. Anjuran Memperbanyak Istighfar di Waktu Sahur

  • Nabi Ya’kub mengakhirkan permohonan ampunnya di waktu sahur
  • Lafadz Istighfar

4. Doa Ketika Berbuka

  • Kapan doa berbuka diucapkan
  • Anjuran memperbanyak berdoa ketika berbuka
  • Doa yang bisa dibaca ketika hendak berbuka
  • Doa berbuka yang tidak benar

5. Doa Berbuka di Tempat Orang Lain

  • Doa pertama
  • Doa kedua
  • Doa ketiga

6. Doa Taraweh dan Witir

Doa witir

  • Doa witir pertama
  • Tambahan ‘ Rabbil malaaikati war ruuh
  • Kalimat ‘Subbuuhun qudduusun
  • Doa witir kedua
  • Waktu membaca doa witir kedua

Doa Taraweh

  • Adakah doa di sela-sela taraweh
  • Status hadisnya

7. Doa Qunut Witir

  • Anjuran mengakhiri doa qunut dengan shalawat
  • Qunut witir ramadhan
  • Doa qunut witir yang dibaca sahabat saat ramadhan
  • Contoh doa qunut ramadhan

8. Doa Ketika Lailatul Qadar

  • Adakah tambahan ‘Kariimun’
  • Doa lain ketika Lailatul Qadar

9. Doa Khatam Alquran

  • Status hadis khatam Alquran
  • Keterangan ulama tentang doa khatam Alquran di sampul Alquran
  • Kesimpulan tentang doa khatam Alquran

10. Doa Setiap Selesai Membaca Alquran

  • Beda doa seusai baca Alquran dengan doa khatam Alquran

11. Kesimpulan kumpulan Dzikir & Doa Ramadhan

Pemesanan Buku Kumpulan Doa dan Dzikir Ramadhan:

Pemesanan bisa melalui

  • HP: 081326333328
  • PIN BB: 32516447
  • Email: store@yufid.com
  • Atau web www.store.yufid.com, akan dilayani CS kami.

Lakukan pembayaran ke salah satu rekening Yufid berikut:

Bank Central Asia (BCA):

Nama: Hendri Syahrial SE
No Rekening: 8610185593

Bank Mandiri:

Nama: Hendri Syahrial
No Rekening: 1370006372474

Bank BNI:

Nama: Hendri Syahrial
No Rekening: 0293860017

Bank Syariah Mandiri:

Nama: Hendri Syahrial
No Rekening: 7051601496

Konfirmasi kembali bahwa Anda sudah membayar, melalui

HP: 081326333328

PIN BB: 32516447

Demikian, semoga bermanfaat.

berlebihan dalam berdoa

Mengaminkan Doa Orang Kafir

Bolehkah mengaminkan doa orang non muslim? Misalnya mereka mengucapkan di samping kita, semoga kamu cepet lulus?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Pertama, ulama berbeda pendapat tentang status doa orang kafir. Mungkinkah doa mereka dikabulkan?

Sebagian ulama menyatakan doa mereka mungkin saja dikabulkan dan ada yang menyatakan, doa orang kafir tidak mungkin dikabulkan. Dan kami menguatkan pendapat bahwa doa orang kafir mungkin saja dikabulkan di dunia, bukan karena Allah menyayangi mereka, namun sebagai penundaan atas hukuman yang Allah berikan kepada mereka.

Kajian tentang ini telah kita bahas di Mungkinkah Doa Orang Kafir Dikabulkan?

Kedua, para ulama yang berpendapat doa orang kafir tidak mungkin dikabulkan, mereka menegaskan tidak boleh mengamini doa orang kafir. Karena percuma mengamini doa mereka, sementara bisa dipastikan bahwa Allah tidak akan mengabulkannya.

Imam Umairah menukil keterangan ar-Ruyani (w. 307 H), yang melarang mengaminkan doa orang kafir, karena doa mereka tidak mungkin dikabulkan.

قال الشيخ عميرة : قال الروياني: لا يجوز التأمين على دعاء الكافر ؛ لأنه غير مقبول

Syaikh Umairah menukil, bahwa ar-Ruyani mengatakan, ‘Tidak boleh mengaminkan doa orang kafir, karena doa mereka tidak dikabulkan.’ (Hasyiyah al-Jamal, 3/576).

Ketiga, sebagian ulama yang berpendapat bahwa doa orang kafir mungkin dikabulkan, memberikan rincian untuk hukum mengaminkan doa orang kafir.

Jika mengaminkan doa orang kafir ini dianggap sebagai penghormatan kepada orang kafir, atau menimbulkan salah paham di tengah orang awam agama, sehingga menganggap apa yang dilakukan orang kafir itu benar, maka dalam kondisi ini mengaminkan doa mereka dilarang.

Dalam Hasyiyah Nihayah al-Muhtaj dinyatakan,

ولو قيل : وجه الحرمة أن في التأمين على دعائه تعظيما له وتغريرا للعامة بحسن طريقته لكان حسنا

”Jika ada orang beralasan, pertimbangan terlarangnya mengaminkan doa orang kafir karena mengagungkan orang kafir atau menimbulkan salah paham orang awam sehingga menilai ibadah mereka benar, tentu ini alasan yang bisa diterima. (Hasyiyah Nihayah al-Muhtaj, 7/473).

Jika doa yang mereka baca tidak bisa kita pahami maknanya, misalnya dengan menggunakan bahasa Ibrani atau bahasa sansekerta seperti yang dilakukan orang hindu, atau berupa bacaan mantra yang kita tidak memahaminya, atau isi doanya adalah doa keburukan, maka dilarang untuk mengaminkannya.

Jika doa yang diucapkan orang kafir adalah doa kebaikan atau doa agar dirinya mendapat hidayah, atau mendoakan kaum muslimin agar mendapatkan kemenangan, maka boleh mengaminkannya.
Keterangan al-Adzru’i yang dinukil dalam Hasyiyah Nihayah al-Muhtaj,

ثم رأيت الأذرعي قال : إطلاقه بعيد ، والوجه جواز التأمين بل ندبه إذا دعا لنفسه بالهداية ولنا بالنصر مثلا ومنعه إذا جهل ما يدعو به ؛ لأنه قد يدعو بإثم أي بل هو الظاهر من حاله.

”Kemudian saya pernah melihat al-Adzru’i mengatakan, ’Menilai semua doa orang kafir tidak boleh diaminkan, terlalu jauh. Terdapat pendapat bahwa boleh mengaminkan doa orang kafir, bahwa dianjurkan, jika doa yang mereka panjatkan adalah permohonan hidayah untuk dirinya, atau doa permohonan pertolongan untuk kita (kaum mukminin). Dan dilarang apabila kita tidak mengetahui apa yang mereka doakan, karena bisa jadi dia memanjatkan doa yang isinya dosa. Bahkan itu yang paling mungkin terjadi, melihat latar belakang agamanya. (Hasyiyah Nihayah al-Muhtaj, 7/473).

Dalam Fatawa Syabakah Islamiyah dinyatakan,

ويجوز التأمين على دعاء الكافر لنفسه بالهداية وللمؤمنين بالنصرة ونحوه؛ بل يجوز الدعاء للكافر الذمي بالشفاء والصحة كما نص على ذلك جمع من أهل العلم، وإنما الحرام الدعاء له بالمغفرة لقول الله تعالى: مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

Boleh mengaminkan doa orang kafir untuk dirinya agar mendapatkan hidayah. Atau doa orang kafir untuk kaum mukminin agar mereka mendapat pertolongan atau semacamnya. Bahkan boleh mendoakan kebaikan untuk orang kafir Dzimmi agar mereka mendapatkan kesembuhan atau kesehatan. Sebagaimana yang ditegaskan oleh sekelompok ulama. Yang dilarang adalah mendoakan orang non muslim dengan doa ampunan. Berdasarkan firman Allah,

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum Kerabat (Nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam. (QS. At-Taubah: 113)

Sumber: Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 29836

Demikian,

Allahu a’lam.

Dijawab oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

mungkinkah doa orang kafir dikabulkan Allah

Mungkinkah Doa Orang Kafir Dikabulkan Allah?

Apakah doa orang kafir dikabulkan oleh Allah? Karena terkadang mereka meminta yg mereka butuhnya dlm kehidupan dunia. Trim’s

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,
Pertama, ulama berbeda pendapat tentang status doa orang kafir, apakah mungkin dikabulkan oleh Allah ataukah tidak mungkin dikabulkan, alias sia-sia.
Pendapat pertama menyatakan, doa orang kafir adalah doa sia-sia, yang tidak mungkin dikabulkan oleh Allah. Pendapat pertama ini berdalil,
1. Firman Allah ta’ala,

وَمَا دُعَاء الْكَافِرِينَ إِلاَّ فِي ضَلاَلٍ

”Tidak ada doa orang-orang kafir itu, kecuali hanyalah sia-sia belaka.”
Ayat di atas, Allah sebutkan di dua tempat, di surat ar-Ra’du ayat 14 dan surat Ghafir ayat 50.
Ayat ini bermakna umum, karena susunannya mufrad (kata tunggal) yaitu kata [دُعَاء] dan mudhaf (disandarkan) kepada kata makrifat (definitif) yaitu kata [الْكَافِرِينَ]. Sehingga ayat ini dipahami umum, bahwa semua doa orang kafir tidak akan diijabahi oleh Allah.
2. Keterangan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma,
Diriwayatkan oleh ad-Dhahak bahwa Ibnu Abbas pernah menjelaskan ayat ini,

أي أصوات الكافرين محجوبة عن الله فلا يسمع دعاءهم

”Suara orang kafir itu tertutupi maka tidak sampai kepada Allah. Sehingga doa mereka tidak didengar.” (Tafsir al-Qurthubi, 9/301).
3. Disamakan dengan orang yang makan yang haram, doanya tidak mustajab. Dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan orang yang doanya tidak mustajab,

ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ، يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ، يَا رَبِّ، يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ؟

Kemudian beliau menyebutkan orang yang melakukan perjalanan jauh, rambutnya kusut dan berdebu. Dia mengangkat kedua tangannya ke langit seraya berdoa: ”Ya Rabku, ya Rabku”, sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan (perutnya) dikenyangkan dengan makanan haram, maka bagaimana mungkin orang seperti ini doanya dikabulkan.” (HR. Ahmad 8348, Muslim 1015, dan yang lainnya).
Ibnu Asyura – ulama ahli tafsir bermadzhab Maliki – (w. 1393 H) dalam tafsirnya mengatakan,

وكيف يستجاب دعاء الكافر وقد جاء عن النبي صلى الله عليه وسلم استبعاد استجابة دعاء المؤمن الذي يأكل الحرام ويلبس الحرام

Bagaimana mungkin doa orang kafir dikabulkan, sementara Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa mustahil untuk dikabulkannya doa orang mukmin yang makan makanan yang haram, dan memakai pakaian yang haram… (at-Tahrir wa at-Tanwir, 12/454).
4. lebih jauh, Ibnu Asyura juga menegaskan,
”Jika ada doa orang kafir dan cita-cita mereka yang sukses mereka raih, itu bukan karena doa mereka dikabulkan, namun karena Allah mentakdirkan mereka untuk mendapatkan dunia sesuai dengan jatahnya atau doa mereka bertepatan dengan doa orang yang beriman. (at-Tahrir wa at-Tanwir, 12/454).
Selain Ibnu Asyura, diantara ulama yang berpendapat bahwa doa orang kafir tidak akan dikabulkan adalah ar-Ruyani (w. 307 H). Dan karena alasan ini, beliau melarang mengaminkan doa orang kafir.
Imam Umairah menukil keterangan beliau,

قال الشيخ عميرة : قال الروياني: لا يجوز التأمين على دعاء الكافر ؛ لأنه غير مقبول

Syaikh Umairah menukil, bahwa ar-Ruyani mengatakan, ‘Tidak boleh mengaminkan doa orang kafir, karena doa mereka tidak dikabulkan.’ (Hasyiyah al-Jamal, 3/576).

Pendapat kedua, doa orang kafir mungkin saja dikabulkan oleh Allah. Diantara dalil yang digunakan pendapat ini,
1. Inti doa adalah permohonan. Dan Allah kuasa untuk mengabulkan permohonan siapapun yang Dia kehendaki. Baik muslim maupun kafir. Karena Dia Pencipta dan Pengatur seluruh makhluk-Nya. Sehingga bukan hal mustahil, ketika Allah mengabulkan doa mereka tanpa pandang status agama, dan itu bagian dari pengaturan Allah kepada makhluk-Nya.
Syaikhul Islam menjelaskan,

وأما إجابة السائلين فعام فإن الله يجيب دعوة المضطر ودعوة المظلوم وإن كان كافرا

Mengabulkan permintaan orang yang berdoa, sifatnya umum. Karena Allah mengabulkan doa orang yang terjepit masalah, dan doa orang yang didzalimi, meskipun dia orang kafir. (Majmu’ Fatawa, 1/223)
2. Iblis yang merupakan gembong para musuh Allah pernah meminta kepada Allah dan permintaannya dikabulkan. Setelah Iblis dicap kafir dan diusir dari surga, dia meminta kepada Allah,

.{قَالَ فَاخْرُجْ مِنْهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٌ {34} وَإِنَّ عَلَيْكَ الْلَّعْنَةَ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ {35} قَالَ رَبِّ فَأَنظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ {36} قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ الْمُنظَرِينَ {37} إِلَى يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُومِ {38}

Allah berfirman: “Keluarlah dari surga, karena Sesungguhnya kamu terkutuk, (34 ) dan Sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai hari kiamat”. (35 ) berkata Iblis: “Ya Tuhanku, (kalau begitu) Maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan, (36 ) Allah berfirman: “(Kalau begitu) Maka Sesungguhnya kamu Termasuk orang-orang yang diberi tangguh, ( 37) Sampai hari (suatu) waktu yang telah ditentukan.”(38) (QS. Al-Hijr: 34 – 38)
Ketika menyebutkan keterangan ar-Ruyani yang mengatakan bahwa doa orang kafir tidak maqbul, beliau memberikan kritik,

ونوزع فيه بأنه قد يستجاب لهم استدراجا كما استجيب لإبليس

”Pendapat ini bisa dibantah, bahwa mungkin saja, doa orang kafir itu dikabulkan sebagai bentuk istidraj (ditangguhkan), sebagaimana permintaan iblis dikabulkan.” (Hasyiyah al-Jamal, 3/576).
3. Allah menceritakan dalam al-Quran bahwa Allah mengabulkan doa orang kafir yang dihimpit ketakutan oleh gelombang lautan,

قُلْ مَن يُنَجِّيكُم مِّنْ ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ تَدْعُونَهُ تَضُرُّعًا وَخُفْيَةً لَئِنْ أَنْجَانَا مِنْ هَذِهِ لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ {63} قُلِ اللهُ يُنَجِّيكُم مِّنْهَا وَمِنْ كُلِّ كَرْبٍ ثُمَّ أَنتُمْ تُشْرِكُونَ {64

Katakanlah: “Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencana di darat dan di laut, yang kamu berdoa kepada-Nya dengan rendah diri dengan suara yang lembut (dengan mengatakan: “Sesungguhnya jika Dia menyelamatkan Kami dari (bencana) ini, tentulah Kami menjadi orang-orang yang bersyukur”. (63 ) Katakanlah: “Allah menyelamatkan kamu dari bencana itu dan dari segala macam kesusahan, kemudian kamu kembali mempersekutukan-Nya.”(64) (QS. Al-An’am: 63 – 64).
Di ayat lain, Allah berfirman,

فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ

Apabila mereka naik kapal mereka mendoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Allah; Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah) (QS. Al-Ankabut: 65)
Al-Alusi (w. ) menjelaskan dalam tafsirnya,

أن الكافر قد يقع في الدنيا ما يدعو به ويطلبه من الله تعالى أثر دعائه كما يشهد بذلك آيات كثيرة

Terkadang, doa dan permintaan yang dipanjatkan orang kafir kepada Allah ketika di dunia, ada pengaruhnya. Sebagaimana hal itu ditunjukkan dalam banyak ayat. (Ruh al-Ma’ani, 24/76).
4. Sedangkan ayat yang menjadi dalil di atas,

وَمَا دُعَاء الْكَافِرِينَ إِلاَّ فِي ضَلاَلٍ

”Tidak ada doa orang-orang kafir itu, kecuali hanyalah sia-sia belaka.”
Ayat ini tidak ada hubungannya dengan doa dan permohonan orang kafir kepada Allah ketika di dunia. karena konteks ayat ini sama sekali tidak menunjukkan doa mereka kepada Allah ketika di dunia.
Ayat ini disebutkan di dua tempat:
Di surat ar-Ra’du ayat 14, ayat selengkapnya,

وَالَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ لَا يَسْتَجِيبُونَ لَهُمْ بِشَيْءٍ إِلَّا كَبَاسِطِ كَفَّيْهِ إِلَى الْمَاءِ لِيَبْلُغَ فَاهُ وَمَا هُوَ بِبَالِغِهِ وَمَا دُعَاءُ الْكَافِرِينَ إِلَّا فِي ضَلَالٍ

Berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat mengabulkan apapun bagi mereka, melainkan seperti orang yang membuka kedua telapak tangannya ke dalam air supaya sampai air ke mulutnya, padahal air itu tidak dapat sampai ke mulutnya. dan doa (ibadat) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka.

Kita bisa perhatikan, ayat ini berbicara tentang perumpamaan doa dan ibadah orang kafir kepada berhala mereka, yang sama sekali tidak akan memberikan manfaat bagi mereka. Layaknya orang yang kehausan, ingin minum, namun setiap kali mengambil air dengan tangannya, air itu jatuh dan jatuh. Inilah tafsir yang disampaikan Ibnu Katsir. Beliau mengatakan,

فكذلك هؤلاء المشركون الذين يعبدون مع الله إلها غيره، لا ينتفعون بهم أبدا في الدنيا ولا في الآخرة ولهذا قال: وما دعاء الكافرين إلا في ضلال

Demikian pula orang-orang musyrik yang beribadah kepada tuhan selain Allah, sama sekali tidak memberi manfaat bagi mereka ketika di dunia, tidak pula di akhirat. Karena itu, Allah menegaskan, ”doa (ibadat) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka.” (Tafsir Ibnu Katsir, 4/446).

Di surat Ghafir ayat 50, ayat selengkapnya,

وَقَالَ الَّذِينَ فِي النَّارِ لِخَزَنَةِ جَهَنَّمَ ادْعُوا رَبَّكُمْ يُخَفِّفْ عَنَّا يَوْمًا مِنَ الْعَذَابِ ( ) قَالُوا أَوَلَمْ تَكُ تَأْتِيكُمْ رُسُلُكُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا بَلَى قَالُوا فَادْعُوا وَمَا دُعَاءُ الْكَافِرِينَ إِلَّا فِي ضَلَالٍ

Orang-orang yang berada dalam neraka berkata kepada penjaga-penjaga neraka Jahannam: “Mohonkanlah kepada Tuhanmu supaya Dia meringankan azab dari Kami barang sehari”. ( ) penjaga Jahannam berkata: “Dan Apakah belum datang kepada kamu rasul-rasulmu dengan membawa keterangan-keterangan?” mereka menjawab: “Benar, sudah datang”. penjaga-penjaga Jahannam berkata: “Berdoalah kamu”. dan doa orang-orang kafir itu hanyalah sia-sia belaka.
Konteks ayat ini berbicara tentang keadaan orang kafir ketika di neraka. Mereka selalu memohon kepada Allah melalui penjaga neraka, agar mereka diringankan siksanya. Namun harapan mereka pupus, karena waktunya sudah terlambat. Dan doa orang-orang kafir itu hanyalah sia-sia belaka.
Makna inilah yang lebih mendekati untuk memahami keterangan Ibnu Abbas, bahwa doa orang kafir itu mahjub (tertutupi), sehingga tidak sampai kepada Allah. Itulah harapan dan doa mereka di hari kiamat.
Memahami keterangan di atas, pendapat yang lebih kuat adalah pendapat yang menyatakan, doa orang kafir mungkin saja dikabulkan oleh Allah. Karena Dia Maha Kuasa untuk memberikan keinginan makhluk-Nya sesuai apa yang Dia kehendaki.
Syaikhul Islam mengatakan,

والخلق كلهم يسألون الله مؤمنهم وكافرهم وقد يجيب الله دعاء الكفار فإن الكفار يسألون الله الرزق فيرزقهم ويسقيهم وإذا مسهم الضر في البحر ضل من يدعون إلا إياه فلما نجاهم إلى البر أعرضوا

Semua makhluk meminta kepada Allah, yang mukmin maupun yang kafir. Terkadang Allah mengabulkan doa orang kafir. Karena orang kafir juga meminta rizki kepada Allah, kemudian Allah beri mereka rizki dan Allah beri mereka minum. Ketika mereka dalam keadaan terjepit pada saat di laut, mereka hanya berdoa kepada Allah. Tatkala Allah selamatkan mereka ke daratan, mereka berpaling.. (Majmu’ Fatawa, 1/206).

Kedua, catatan yang penting diperhatikan, bahwa dikabulkannya doa orang kafir oleh Allah ketika di dunia, sama sekali tidaklah menunjukkan bahwa Allah merestui keyakinannya atau setuju dengan kekufuran mereka. Karena dikabulkannya doa bagi orang mukmin adalah rahmat dari Allah, dan dikabulkannya doa orang kafir bagian dari istidraj (diberi kenikmatan agar semakin kafir. Orang jawa menyebutnya ’diujo’).
Ibnul Qoyim mengatakan,

فليس كل من أجاب الله دعاءه يكون راضيا عنه ولا محبا له ولا راضيا بفعله فإنه يجيب البر والفاجر والمؤمن والكافر

Tidak semua orang yang Allah kabulkan doanya, bisa menjadi bukti bahwa Allah meridhainya, tidak pula mencintainya, tidak pula Allah meridhai perbuatannya. Karena orang jabaik maupun orang jahat, orang mukmin maupun kafir, mungkin saja doa dikabulkan. (Ighatsah al-Lahafan, hlm. 215).

Lalu bagaimana hukum mengaminkan doa orang kafir, insyaa Allah akan ada pembahasan tersendiri.

Allahu a’lam

Dijawab oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

doa nabi

Doa Ketika Dihadang Perampok

Jika kita dihadang orang, perampok atau pencuri, doa apa yang bisa kita baca agar bs selamat dr kejahtannya. Trima kasih pencerahanya.

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang kisah ashabul ukhdud dan perjalanan perjalanan pemuda soleh bersama raja yang zalim. Dalam kisah itu, sang pemuda soleh ini berkali-kali diancam oleh raja agar meninggalkan ajaran islam dan hendak dibunuh oleh sang raja dengan beraneka macam cara, namun semuanya gagal.

Yang pertama, raja menyuruh prajuritnya untuk membawa pemuda ini ke puncak gunung. Setelah sampai di puncak, lemparkan dia jika tidak mau keluar dari islam. Sesampainya di puncak gunung, pemuda soleh ini berdoa,

اللهُمَّ اكْفِنِيهِمْ بِمَا شِئْتَ

Ya Allah, cukupkanlah aku dari kejahatan mereka dengan cara sesuai yang Engkau kehendaki.

Gunung itupun berguncang, hingga para prajurit itu berjatuhan. Sang pemuda selamat dan dia mendatangi raja sendirian. Kemudian sang raja menyuruh beberapa prajuritnya untuk membawa anak ini di atas perahu dan dibawa ke tangah lautan. Jika sampai di tengah, ceburkan dia ke laut.

Setelah sampai di tengah laut, sang pemuda ini berdoa dengan doa yang sama,

اللهُمَّ اكْفِنِيهِمْ بِمَا شِئْتَ

Ya Allah, cukupkanlah aku dari kejahatan mereka dengan cara sesuai yang Engkau kehendaki.

Perahu itupun terbalik dan semua tenggelam, namun Allah selamatkan pemuda ini.

(HR. Muslim 3005).

Diantara pelajaran yang bisa kita ambil dari hadis di atas adalah doa ketika kita dihadang orang jahat atau mendapat ancaman dari orang yang hendak bertindak jahat kepada kita.

اللهُمَّ اكْفِنِيهِمْ بِمَا شِئْتَ

ALLAHUMMA IKFINIIHIM BIMA SYI’TA

Ya Allah, cukupkanlah aku dari kejahatan mereka dengan cara sesuai yang Engkau kehendaki.

Kisah Ulama dan Perampok

Diceritakan oleh Ummul Malik bintu Hisyam,

Suatu ketika Imam Atha’ al-Azraq keluar menuju tanah lapang dan melakukan shalat malam. Tiba-tiba dia dihadang perampok. Beliaupun berdoa,

اللهم اكفنيه

Ya Allah, cukupkanlah aku dari kejahatannya.

Tiba-tiba tangan dan kaki perampok itu menjadi kaku. Diapun menangis dan berteriak, ’Demi Allah, saya tidak akan merampok lagi.’

Kemudian Imam Atha’ mendoakannya, sehingga dia bisa lepas. Ketika beliau pergi, perampok itu selalu ikut.

’Saya mohon dengan sangat, siapakah kisanak?’ tanya perampok.

’Saya Atha’.’ Jawab sang imam.

Kemudian keduanya berpisah. Sementara perampok itu belum mengenali wajah sang Imam Atha al-Azraq.

Di pagi harinya, perampok taubat itu bertanya-tanya kepada masyarakat sekitar.

’Kalian tahu, siapa orang soleh yang keluar ke tanah lapang melakukan shalat malam?’

’Kami tahu, dia Atha’ as-Sulami.’ Jawab penduduk.

Orang inipun segera menemui Atha as-Sulami.

’Aku menemui anda untuk bertaubat dari perbuatan burukku.’ Mantan perampok itu mulai cerita kejadiannya.

Kemudian Atha as-Sulami mengangkat tangannya ke atas dan berdoa. Beliau menangis, kemudian menyampaikan kepada si mantan perampok,

’Kamu salah. Itu bukan saya. Itu Atha al-Azraq.’

Sumber: kitab at-Tawwabin, Ibnu Qudamah, hlm. 167

Allahu a’lam.

Dijawab oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

doa nabi

Kumpulan Doa Nabi

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Berikut beberapa doa yang dibaca Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Semoga bisa kita amalkan,

1. Ditetapkan hati dalam Iman

اَللَّهُمَّ يا مُصَرِّفَ الْقُلُوْبِ، صَرِّفْ قُلُوْبُنَا عَلَى دِينِكَ

“Wahai Tuhan yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku pada agamaMu.” (HR. Muslim 2654)

2. Ampunan dalam segala hal

اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ خَطِيْئَتِيْ، وَجَهْلِيْ، وَإِسْرَافِيْ فِي أَمْرِيْ، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّيْ. اللّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ جَدِّيْ وَهَزْلِيْ، وَخَطَئِيْ وَعَمْدِيْ، وَكُلُّ ذلِكَ عِنْدِيْ، اللّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ مَا قَدَّمْتُ، وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ، وَمَا أَعْلَنْتُ، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّيْ، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ، وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ، وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.

“Ya Allah, ampunilah kesalahanku, kebodohanku, keberlebih-lebihan dalam perkaraku, dan apa yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah diriku dalam kesungguhanku, kelalaianku, kesalahanku, kesengajaanku, dan semua itu adalah berasal dari sisiku. Ya Allah, ampunilah aku dari segala dosa yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan, segala dosa yang aku sembunyikan dan yang aku tampakkan, dan dosa yang Engkau lebih mengetahui daripadaku, Engkaulah Yang Maha Mendahulukan dan Yang mengakhirkan, dan Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu. (HR. Bukhari 6398 dan Muslim 2719).

3. Mohon Diperbaiki Segala Urusan

اَللَّـهُـَّم أَصْلِحْ لِي دِينِي الّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِي، وَأَصْلِحْ لِي دُنْيَايَ الّتِي فِيهَا مَعَاشِي، وَأَصْلِحْ لِي آخِرَتِي الّتِي فِيهَا مَعَادِي، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِي فِي كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لِي مِنْ كُلِّ شَرٍّ

Ya Allah mohon kebaikan pada urusan agamaku karena itu adalah penjaga semua urusanku. Aku mohon kebaikan pada urusan duniaku karena itu tempat hidupku. Aku mohon kebaikan pada urusan akhiratku karena itu tempat kembaliku. Jadikanlah hidup ini tambahan kebaikan bagiku, dan jadikanlah kematianku waktu istirahat bagiku dari segala keburukan. (HR. Muslim 2720)

4. Perlindungan dari Fitnah Kaya dan Fitnah Miskin

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الكَسَلِ وَالهَرَمِ، وَالمَأْثَمِ وَالمَغْرَمِ، وَمِنْ فِتْنَةِ القَبْرِ، وَعَذَابِ القَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ النَّارِ وَعَذَابِ النَّارِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الغِنَى، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الفَقْرِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الَمسِيحِ الدَّجَّال

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan dan usia jompo, perbuatan dosa dan hutang, fitnah kubur dan azab kubur, fitnah neraka dan azab neraka, keburukan fitnah kekayaan; aku berlindung kepada-Mu dari fitnah kemiskinan dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah Masih Dajjal. (HR. Bukhari 6368)

5. Perlindungan Dicabutnya Nikmat Lahir Batin

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari hilangnya kenikmatan yang telah Engkau berikan, dari berubahnya kesehatan yang telah Engkau anugerahkan, dari siksa-Mu yang datang secara tiba-tiba, dan dari segala kemurkaan-Mu. (HR. Muslim 2739).

6. Agar Dijauhkan dari Sifat Pengecut & Tidak Pikun

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari sikap pengecut, aku berlindung kepada-Mu kepada serendah-rendahnya usia (pikun), aku berpindung kepada-Mu dari fitnah dunia, dan aku berlindung berlindung kepada-Mu dari adzab kubur. (HR. Bukhari 2822)

7. Berlindung dari Keburukan Amal

اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا عَمِلْتُ، وَشَرِّ مَا لَمْ أَعْمَلْ

Ya Allah, aku berlindung dari keburukan yang telah aku perbuat dan keburukan yang belum aku perbuat. (HR. Muslim 2716)

8. Agar Jiwanya Bertaqwa & Berlindung dari Ilmu yang tidak Manfaat

اللهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا، اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ، وَمِنْ دَعْوَةٍ لَا يُسْتَجَابُ لَهَا

Ya Allah karuniakan ketakwaan pada jiwaku. Sucikanlah ia, sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik yang mensucikannya, Engkau-lah Yang Menjaga serta Melindunginya. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari Ilmu yang tidak manfaat, hati yang tidak khusyu, dan doa yang tidak diijabahi. (HR. Muslim 2722).

9. Mohon Bisa Melihat Wajah Allah

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ، وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ فِي غَيْرِ ضَرَّاءَ مُضِرَّةٍ، وَلَا فِتْنَةٍ مُضِلَّةٍ

Ya Allah, Aku mohon kepada-Mu kenikmatan memandang wajah-Mu (di Surga), rindu bertemu dengan-Mu tanpa penderitaan yang membahayakan dan fitnah yang menyesatkan. (HR. Nasai 1305 dan dishahihkan al-Albani)

10. Dimudahkan Berbuat Baik & Mencintai Orang Miskin

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ وَحُبَّ الْمَسَاكِينِ وَأَنْ تَغْفِرَ لِى وَتَرْحَمَنِى وَإِذَا أَرَدْتَ فِتْنَةَ قَوْمٍ فَتَوَفَّنِى غَيْرَ مَفْتُونٍ

Ya Allah, aku memohon kepada-Mu untuk mudah melakukan kebaikan dan meninggalkan kemungkaran serta aku memohon pada-Mu supaya bisa mencintai orang miskin,ampunilah (dosa-dosa)ku, rahmatilah saya, jika Engkau menginginkan untuk menguji suatu kaum maka wafatkanlah saya dalam keadaan tidak tenggelam dalam ujian. (HR. Tirmidzi no. 3235 dan Ahmad 5: 243, dan Dishahihkan al-Albani)

11. Mohon Agar Bisa Mencintai Orang yang Mencintai Allah

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُ إِلَى حُبِّكَ

Saya memohon agar dapat mencintai-Mu, mencintai orang-orang yang mencintai-Mu dan mencintai amal yang dapat mendekatkan diriku kepada cinta-Mu. (HR. Tirmidzi no. 3235 dan Ahmad 5: 243, dan Dishahihkan al-Albani).

12. Mohon Kebaikan dalam Segala Hal yang Pernah Diminta Nabi

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا عَاذَ بِهِ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ، وَأَسْأَلُكَ أَنْ تَجْعَلَ كُلَّ قَضَاءٍ قَضَيْتَهُ لِي خَيْرًا

Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadaMu seluruh kebaikan yang segera (dunia) dan yang tertunda (akhirat), kebaikan yang aku ketahui dan yang tidak aku ketahui. 
Dan aku berlindung kepadaMu dari segala keburukan yang segera (dunia) dan yang tertunda (akhirat), yang aku ketahui dan yang tidak aku ketahui.
Aku meminta kepada-Mu kebaikan semua doa yang pernah diminta oleh hamba dan nabi-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan, yang hamba dan nabi-Mu pernah berlindung darinya.
Aku memohon surga kepadaMu dan segala perkataan dan perbuatan yang mendekatkan kepadanya. Aku berlindung kepadaMu dari neraka dan segala perkataan dan perbuatan yang mendekatkan kepadanya.
Aku meminta segala sesuatu yang telah Engkau takdirkan untukku, hendaklah Engkau jadikan kebaikan bagiku.
(HR. Ahmad 25019, Ibnu Majah 3846 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth)

Semoga bermanfaat.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)

Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

berlebihan dalam berdoa

Agar Terbebas dari Masalah

Tiada hidup tanpa masalah. Karena musibah dan masalah, lahir maupun batin, merupakan gawan bayi manusia. Ada yang bisa diatasi lebih cepat, dan ada yang membutuhkan waktu lebih lama. Di sisi lain, kita mendampakan agar bisa hidup nyaman tanpa masalah. Sekalipun ini cita-cita yang tidak mungkin diwujudkan seutuhnya, setidaknya kita berusaha meminimalisir terjadinya masalah. Salah satu usaha itu adalah doa.

Diantara doa yang selayaknya kita rutinkan adalah doa agar kita mendapat ampunan dunia akhirat dan terbebas dari segala masalah dunia akhirat. Teks doanya sebagai berikut,

اللَّهُمَّ إنِّي أَسْأَلُكَ العَفْوَ وَالعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، اللَّهُمَّ إنِّي أَسْأَلُكَ العَفْوَ وَالعَافِيَةَ فِي دِينِي وَدُنْيَايَ وَأَهْلِي وَمَالِي، اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِي، وَآمِنْ رَوْعَاتِي، اللَّهُمَّ احْفَظْنِي مِنْ بَيْنَ يَدَيَّ، وَمِنْ خَلْفِي، وَعَنْ يَمِينِي، وَعَنْ شِمَالِي، وَمِنْ فَوْقِي، وَأَعُوذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِي

ALLAHUMMA INNII AS-ALUKAL ‘AFWA WAL ‘AAFIYAH FID DUN-YAA WAL AAKHIRAH. ALLAHUMMA INNII AS-ALUKAL ‘AFWA WAL ‘AAFIYAH FI DIINI WA DUNYAA-YA WA AHLII WA MAALII.

ALLAHUMMAS-TUR ‘AU-RAATII WA AAMIN RAU-’AATII.

ALLAHUMMAH-FADZ-NII MIN BAINI YADAYYA WA MIN KHALFII WA ‘AN YAMIINII WA ‘AN SYIMAALII WA MIN FAUQII.

WA A-’UUDZU BI ‘ADZMATIKA AN-UGHTAALA MIN TAHTII.

Ya Allah! Sesungguhnya aku memohon ampunan dan terbebas dari masalah di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon ampunan dan terbebas dari masalah dalam urusan agama, dunia, keluarga dan hartaku. Ya Allah, tutupilah auratku dan tenangkanlah aku dari rasa takut. Ya Allah! Jagalah aku dari arah muka, belakang, kanan, kiri dan dari atasku, dan aku berlindung dengan kebesaranMu, agar aku tidak dihancurkan dari bawahku

Keterangan:

Auratku: mencakup aurat badan, cacat, aib dan sesuatu yang tidak layak dilihat orang lain

dihancurkan dari bawahku: dihancurkan sementara aku lengah. Bisa dengan tenggelam atau di telan bumi.

Keutamaan:

Ada beberapa hadis yang menyebutkan keutamaan doa ini,

  1. Dari Ibn Umar radliallahu ‘anhuma, bahwa beliau mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca wirid ini ketika pagi dan sore, dan beliau tidak pernah meninggalkannya sampai beliau meninggal dunia: “Allahumma inni as-alukal ‘afwa…dst.” (HR. Ahmad 4785, Abu Daud 5074, Ibn Majah 3871, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).
  2. Dari Abbas bin Abdul Muthallib, beliau bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Ya Rasulullah, ajarilah aku do’a yang harus aku panjatkan kepada Allah? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wahai Abbas, mintalah al afiyah (terbebas dari masalah) kepada Allah.” Kemudian, setelah tiga hari, Abbas datang lagi dan mengatakan: Ya Rasulullah, ajarilah aku do’a yang harus aku panjatkan kepada Allah? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wahai Abbas, wahai pamanku, mintalah kepada Allah al afiyah (terbebas dari masalah) di dunia dan akhirat.” (HR. Al Bukhari dalam Adabul Mufrad dan dishahihkan Al Albani)
  3. Dari Anas bin Malik radliallahu ‘anhu, bahwasanya ada seorang yang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya: Ya Rasulullah, do’a apa yang paling afdhal? Beliau menjawab: “Mintalah kepada Allah al-afiyah (terbebas dari masalah) di dunia dan akhirat.” Kemudian besoknya dia datang lagi dan bertanya: “Wahai Nabi Allah, do’a apa yang paling afdhal? Beliau menjawab: “Mintalah kepada Allah al afiyah (terbebas dari masalah) di dunia dan akhirat. Karena jika engkau diberi al-afiyah di dunia dan akhirat berarti kamu beruntung.” (HR. Al Bukhari dalam Adabul Mufrad dan dishahihkan Al Albani)

Rutinkan doa ini setiap pagi dan sore. Pagi antara subuh hingga terbit matahari, sore antara asar sampai terbenam matahari. Jika kelupaan atau tidak sempat, boleh dibaca di luar rentang waktu itu.kaos polo muslim

Allahu a’lam

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Pengasuh KonsultasiSyariah.com)

Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

doa nabi

Ketika Doaku Tak Kunjung Dikabulkan

Bismillah …

Allahumma yassir wa a’in

Dalam rubrik tanya jawab di www.konsultasisyariah.com, ada satu pertanyaan yang menarik. Meskipun ketertarikan itu sifatnya relatif, setidaknya, kita bisa menjadikannya sebagai bahan kajian untuk catatan akhir pekan. Barangkali, Anda juga pernah mengalami permasalahan yang sama.shirt polo muslim

Teks pertanyaanya, “Assalamu’alaikum Ustadz. Saya mau bertanya,,,kalau mau tanya ketika ada pengajian, saya malu ustadz, makanya saya tanya di forum-forum dunia maya. Pertanyaan : Kenapa do’a saya tidak langsung dikabulkan oleh Allah, sementara saya juga sudah semaksimal mungkin bertakwa kepada-Nya? Do’a saya yaitu minta agar mendapatkan harta kekayaan melimpah.”

Saya yakin, setiap orang menginginkan kehidupan bahagia. Hanya saja, standardnya berbeda-beda. Namun, umumnya, kekayaan biasanya menjadi standard baku utama menurut umumnya masyarakat. Karena itu, banyak orang yang mencantumkan kekayaan dalam doa-doa mereka.

Ada beberapa hal yang bisa kita jadikan catatan penting terkait kasus yang disampaikan penanya.

Pertama, banyak orang yang mempertanyakan, “Bukankah Allah telah berjanji bahwa Dia akan mengabulkan setiap doa yang dipanjatkan hamba-Nya? Mengapa masih banyak orang yang berdoa kepada-Nya, dan tak kunjung dikabulkan?”

Pertanyaan di atas merupakan bukti keimanan kita kepada firman Allah,

أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ

Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa, ketika dia berdoa kepada-Ku ….” (Q.S. Al-Baqarah:186)

Atau firman-Nya,

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Rabb kalian (Allah) berfirman, ‘Mintalah kepada-Ku, niscaya aku memberi ijabah kepada kalian. Sesungguhnya, orang-orang yang bersikap sombong dalam beribadah (maksudnya: tidak mau berdoa) kepadaku, mereka akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina.'” (Q.S. Ghafir:60)

Satu prinsip penting yang harus kita pegang, bahwa semua firman Allah adalah benar, janji Allah benar, dan Dia tidak akan menyelisihi janji-Nya. Kita harus yakini hal itu, apa pun keadaannya. Selanjutnya, terkait janji Allah pada ayat di atas dan realita yang kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari, para ulama telah memberikan jawaban:

Pada ayat di atas, Allah berjanji kepada orang yang berdoa dengan ijabah atau istijabah, bukan dengan i’tha. Perlu dibedakan antara istijabah (استجابة) atau ijabah (إجابة) dengan i’tha (إعطاء). Padanan kata “ijabah” atau “istijabah” yang lebih tepat dalam bahasa kita bukan ‘memberi’ atau ‘mewujudkan sesuai dengan sesuatu yang diinginkan’, namun lebih umum dari itu. Kata “merespon” merupakan padanan yang lebih tepat untuk menerjemahkan dua kata tersebut. Yang kita pahami dari kata “merespon”, tidak selalu dalam bentuk memberikan seseuatu yang diinginkan. Sebatas memberikan perhatian yang baik, sudah bisa dinamakan “merespon”.

Terkait makna di atas, terkadang, Allah telah memberikan ijabah untuk doa kita, namun kita tidak tahu hakekat dan bentuk ijabah tersebut. Karena “respon baik” terhadap doa bentuknya bermacam-macam. Disebutkan dalam hadis, dari Abu Said radhiallahu ‘anhu Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ما من مسلم يدعو الله بدعوة ليس فيها مأثم و لا قطيعة رحم إلا أعطاه إحدى ثلاث : إما أن يستجيب له دعوته أو يصرف عنه من السوء مثلها أو يدخر له من الأجر مثلها

“Tidaklah seorang muslim yang berdoa, dan doanya tidak berisi perbuatan dosa atau memutus silaturahim, kecuali Allah akan memberikan salah satu di antara tiga balasan: (1) Allah kabulkan doanya, (2) Allah hindarkan dirinya dari musibah yang senilai dengan isi doanya, dan (3) Allah simpan dalam bentuk pahala untuknya di akhirat.” (H.R. Ahmad, Turmudzi, dan Hakim; dinilai sahih oleh Musthafa Al-Adawi)

Sebagian ulama mengatakan bahwa yang dimaksud “doa” di atas adalah ‘ibadah’. Allah berjanji untuk mengabulkan ibadah hamba-Nya dengan memberikan pahala dari setiap ibadah yang diterima.

Jika kita perhatikan, sesungguhnya janji yang Allah berikan adalah janji bersyarat. Artinya, hanya doa-doa yang memenuhi syarat yang akan dikabulkan oleh Allah. Selain itu, bisa jadi, Allah tidak mengabulkannya.

Kedua, umumnya orang berkeyakinan bahwa sesuatu yang dia minta adalah hal terbaik untuknya.

Padahal, belum tentu hal itu baik untuknya, dalam pengetahuan Allah ta’ala. Karena itulah, terkadang, Allah menahan doa kita, karena hal itu lebih baik bagi kita, daripada Allah memberikan sesuatu yang kita inginkan. Allah berfirman,

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Bisa jadi, kalian membenci sesuatu, padahal itu baik bagi kalian. Terkadang pula, kalian mencintai sesuatu, padahal itu buruk bagi kalian. Allah mengetahui dan kalian tidak mengetahui.” (Q.S. Al-Baqarah:216)

Bagian ini penting untuk dipahami, agar kita tidak berburuk sangka kepada Allah, ketika merasa doa kita tidak kunjung dikabulkan. Kita harus selalu yakin bahwa Allah lebih tahu hal terbaik untuk kita, karena Dialah yang menciptakan manusia dan Dia adalah Dzat yang Mahasempurna ilmu-Nya. Sebagaimana layaknya produsen sebuah produk, umumnya, dia lebih tahu bentuk perlakuan terbaik untuk produknya, dibandingkan pengguna.

Percayalah, Allah Maha Sayang dengan hamba-Nya. Hanya saja, tidak semua bentuk kasih sayang Allah telah kita ketahui. Tidak semua kasih sayang-Nya, Dia wujudkan dalam bentuk rezeki. Tidak pula dalam bentuk doa yang dikabulkan sesuai apa yang diminta. Bersabarlah … barangkali, belum saatnya kesempatan itu Anda dapatkan.

Ketiga, jangan putus asa dalam berdoa.

Umumnya, manusia tidak sabar dengan keinginannya. Semua berharap, sebisa mungkin, keinginannya bisa terwujud secara instan. Atau minimal, tidak menunggu waktu yang lama. Prinsip semacam ini memberikan dampak buruk ketika kita berdoa kemudian tidak kunjung dikabulkan. Biasanya, muncul rasa bosan dan putus asa. Padahal, perlu Anda tahu, putus asa merupakan salah satu sebab doa Anda tidak dikabulkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يُسْتَجَابُ لأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ يَقُولُ دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِى

“Doa kalian akan dikabulkan selama tidak tergesa-gesa. Dia mengatakan, ‘Saya telah lama berdoa, tetapi tidak kunjung dikabulkan.’” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat Muslim, beliau bersabda,

لا يَزَالُ يُسْتَجابُ لِلْعَبْدِ مَا لَمْ يَدْعُ بإثم أو قَطِيعَةِ رَحِمٍ ما لم يستعجلْ ، قيل : يا رَسول الله ، ما الاستعجال ؟ قال : يقول : قد دعوتُ ، وقد دَعَوتُ فلم أرَ يستجيب لي ، فَيَسْتَحْسِرُ عند ذلك ، ويَدَعُ الدعاءَ

“Tidak hentinya doa seorang hamba akan dikabulkan, selama bukan doa yang mengandung maksiat atau memutus silaturahim, dan doa yang tidak tergesa-gesa.” Para sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apa yang dimaksung tergesa-gesa dalam berdoa?’ Beliau menjawab, ‘Orang itu mengatakan, ‘Saya telah berdoa …, saya telah berdoa…, namun saya merasa belum pernah dikabulkan.’ Kemudian, dia putus asa dan meninggalkan doanya.” (H.R. Muslim)

Keempat, jangan terlalu berharap untuk mendapatkan dunia dengan ibadah yang kita lakukan.

Meskipun kita yakin bahwa di antara balasan yang Allah berikan bagi orang yang beribadah terkadang diwujudkan di dunia. Akan tetapi, jangan jadikan ini sebagai tujuan utama Anda untuk melakukan ketaatan. Jika tidak, Anda bisa tertuduh sebagai orang yang tendensius dalam beribadah. Allah berfirman,

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَى حَرْفٍ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انْقَلَبَ عَلَى وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ ذَلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ

“Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah di pinggiran. Ketika ia memperoleh kebaikan (harta), dia semakin yakin dengan ibadahnya, dan jika ia ditimpa bencana, berbaliklah ia ke belakang (murtad). Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang jelas. ” (Q.S. Al-Hajj:11)

Tentunya, kita tidak ingin termasuk orang yang Allah sindir dalam ayat di atas. Orang yang melakukan ketaatan karena tendensi dunia dan dunia. Sungguh, sangat disayangkan, ketika ibadah yang kita lakukan hanya dibayar dengan balasan sekilas di dunia. Karena itu, ingatlah balasan yang lebih berharga di akhirat.

Semoga Allah memberikan keadaan terbaik bagi kehidupan kita. Amin.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)

Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

SOCIAL

9,526FansLike
4,525FollowersFollow
32,378FollowersFollow
61,951SubscribersSubscribe

RAMADHAN