tutup Eksternal hardisk kajian video islam
cashflow laporan keuangan software akutansi terbaik
Tags Posts tagged with "bagaimana"

bagaimana

Pertanyaan:

Assalamu ‘alaikum tim redaksi. Apakah  benar media koran  dan website Republika milik kaum Syiah? bagaimana hukumnya bila membeli, membaca media tersebut. Jika benar milik kaum Syiah? berdosakah? jika hanya ambil yang positif saja yang sesuai ahlus sunnah bagaimana? syukron atas jawabannya. Mohon dibalas dikirim ke e-mail ana.
jazakalloh khoir.

MuhaXXXXXXX <nirwanaXXXXX@XXXXX.com>

Pertanyaan:

Assalammu ‘alaikum.

Ustadz, maaf menganggu. Saya ada satu soalan. Boleh tak Ustadz terangkan, jika tidak keberatan, tentang kemushkilan saya ini.

Apakah makanan yang sudah terkena (tersentuh) atau dimakan cicak masih boleh dimakan? Bagaimana pula dengan lipas?

Saya dahului dengan terima kasih serta semoga Allah membalas jasa baik Ustadz.

Zul (zulworxz**@***.com)

Pertanyaan:

Assalamu ‘alaikum, Ustadz. Bagaimana pada saat saya shalat, saya merasakan ragu: kentut atau tidak. Namun, saya tidak hiraukan perasaan itu hingga saya selesai shalat. Pada saat saya selesai shalat, saya berusaha mengingat rasa yang saya rasakan pada saat saya shalat tadi, untuk membuat saya yakin, namun saya sudah lupa/tidak ingat secara pasti yang saya rasakan tadi. Apakah yang saya harus lakukan, Ustadz?

Ilham (ilhamz**@yahoo.***)

Jawaban:

Wa’alaikumussalam warahmatullah.

Syekh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin menyebutkan, ada tiga jenis keraguan yang tidak perlu dihiraukan:

1. Sebatas was-was yang tidak ada hakikatnya, misalnya: kekhawatiran, perasaan “jangan-jangan …,” atau semacamnya.
2. Ragu yang terlalu sering muncul, di setiap melakukan ibadah pasti diiringi keraguan, baik terkait dengan gerakan, bacaan, atau dalam melakukan pembatal ibadah. Keraguan semacam ini adalah penyakit dan bagian dari was-was setan agar seseorang merasa berat dalam beribadah. Contoh keraguan semacam ini adalah keraguan seseorang dalam melakukan takbiratul ihram. Biasanya, orang tersebut melakukan takbir berkali-kali.
3. Keraguan setelah selesai melakukan ibadah. Keraguan ini tidak perlu diperhatikan, selama kurang meyakinkan. Akan tetapi, jika meyakinkan, semacam adanya indikator tertentu, maka kita ambil kemungkinan yang lebih meyakinkan. (Lihat Risalah fi Sujud Sahwi, hlm. 4)

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).
Artikel www.KonsultasiSyariah.com

Pertanyaan:

Assalamu ‘alaikum.

Kepada Bapak Ustadz Yth.

Saya seorang yang terjerumus dalam dosa. Banyak hal-hal yang saya lakukan, yang menyimpang dari ajaran agama, seperti: “main perempuan”, miras, dan narkoba. Terkadang, saya menyesali semua itu, namun sulit bagi saya ‘tuk benar-benar menjauh dan menghilang dari kebiasaan buruk saya. Ada saja godaan di waktu saya ingin meninggalkannya. Yang menjadi pertanyaan saya, apa cara atau tindakan yang harus saya lakukan agar terhindar dari semua itu, dan menjadi orang yang benar-benar bertobat di jalan Allah dan mempunyai niat yang tak tergoyahkan?

Atas jawabannya, terima kasih banyak.

NN (**@ymail.com)

Pertanyaan:

Assalamu ‘alaikum. Ustadz, masih hangat kabar tentang berbagai aksi teror bom di negeri kita. Mohon penjelasannya:
1. Bagaimana sebenarnya pandangan Islam mengenai hal tersebut?
2. Apakah pelaku bom bunuh diri bisa dikatakan mati syahid atau malah bunuh diri?
3. Kebanyakan pelaku teror berpenampilan sunnah, lantas apa hukumnya seorang muslim memanggil saudaranya yang menegakkan sunnah dengan sebutan “teroris”?

Mohon penjelasannya. Barakallahu fik.

Rohis SMAN 9 Bandar Lampung (**setya04@***.co.id)

Pertanyaan:

Saya mempunyai masalah keluarga yang agak berat. Rumah tangga orang tua saya, khususnya kedua orang tua saya, sering kali cekcok. Padahal, usianya sudah sangat uzur (keduanya berusia di atas 60 tahun). Ayah saya mudah sekali marah. Sekecil apa pun penyebabnya bisa menyebabkan dia marah. Parahnya, kalau dia sudah marah, dia sering sekali bertindak kasar kepada ibu saya.

Bapak saya sekarang ini sudah agak pikun. Menurut cerita, dulu, bapak saya pernah mempelajari ilmu yang bertentangan dengan agama. Saya kurang tahu ilmu apa yang dipelajari oleh bapak saya dulu. Sekarang, dia tidak bisa melepaskan diri dari ilmu itu. Entah benar atau tidak, saya sendiri tidak paham. Kata ibu saya, pengaruh ilmu itulah yang membuat bapak saya gampang sekali marah dan suka bertindak kasar.

Ibu saya sudah shalat dan puasa, walaupun buta huruf. Tetapi bapak saya tidak shalat dan puasa karena kondisinya sakit-sakitan. Bapak saya juga buta huruf.

Redaksi yang terhormat, tolonglah saya. Bagaimana menyelesaikan masalah ini.

Pertanyaan:

Assalamu ‘alaikum. Ustadz, bagaimana pandangan hukum Islam apabila harta warisan–sebelum dibagi ke ahli waris–disisakan dahulu untuk:
1. upah haji badal orang tua yang sudah meninggal;
2. komisi penjual tanah warisan 2,5% dari 800 juta;
3. santunan anak yatim;
4. infak/wakaf ke masjid;
5. pengurusan surat ahli waris ke kelurahan?

Demikianlah pertanyaan saya. Semoga Ustadz dapat secepatnya menjawabnya. Jazakumullah khairan katsiran.

Akbar (shobri**@***.com)

SOCIAL

9,039FansLike
4,525FollowersFollow
31,329FollowersFollow
61,951SubscribersSubscribe

RAMADHAN