tutup Eksternal hardisk kajian video islam
cashflow laporan keuangan software akutansi terbaik
Tags Posts tagged with "bagaimana"

bagaimana

Pertanyaan:

Berkenaan dengan rambut atau bulu, bagian terakhir dari dua tulisan pada Majalah As-Sunnah, edisi 02/IX/1426 H/2005, yaitu masalah hukum menyemir rambut. Saya ingin bertanya, apa boleh menyemir rambut dengan warna merah atau kuning, tapi rambutnya belum putih, masih hitam sebagaimana pemuda atau pemudi yang kita lihat sekarang ini?

nishab zakat emas

Pertanyaan:

Assalamu ‘alaikum, Ustadz. Saya mau bertanya masalah zakat emas. Saya mempunyai emas perhiasan, kurang-lebih 500 gram, kira-kira sudah 7 tahun. Selama ini, saya hanya menzakatkan sekali saja, karena waktu itu saya pernah tanya lewat ibu saya dan Ibu bertanya pada guru “ngaji” Ibu. Beliau berkata, emas perhiasan cukup sekali saja zakatnya, kecuali saya membeli lagi (bila melebihi 85 gram). Tapi, setelah saya sering membaca dan membuka-buka internet, ternyata zakat emas harus setiap tahun …. Bagaimana pendapat Ustadz? Saya sangat mengharapkan penjelasan secepatnya dari Ustadz karena sebentar lagi sudah mau bulan Ramadhan lagi, sehingga kalau memang perlu dizakati tahun ini saya bisa mengeluarkan zakatnya. Mohon penjelasannya, Ustadz.

Riny Andriani (riny**@***.com)

Wudhu Sambil Bicara

Pertanyaan:

Assalamu ‘alaikum. Pak Ustadz, apakah boleh kita berwudhu sambil bicara? Jazakumullah khairan.

Ramadhany (rdhany**@***.**)

Jawaban:

Bismillah.

Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh.

Madzhab Malikiyah menegaskan dimakruhkannya berbicara tanpa dibutuhkan, yang isinya selain dzikir kepada Allah. Sementara menurut madzhab Syafi’iyah, Hanafiyah, dan Hambali, berbicara ketika wudhu di luar kebutuhan hukumnya kurang utama. Artinya lebih diutamakan diam.

Imam al-Buhuti Al-Hambali dalam Kasyaful Qana’ mengatakan:

ولا يسن الكلام على الوضوء، بل يكره؛ قاله جماعة، قال في الفروع: والمراد بغير ذكر الله، كما صرح به جماعة، والمراد بالكراهية ترك الأولى…مع أن ابن الجوزي وغيره لم يذكروه فيما يكره

“Tidak dianjurkan untuk berbicara ketika berwudhu, bahkan dimakruhkan. Ini adalah pendapat sekelompok ulama. Maksud makruhnya berbicara di sini adalah berbicara yang isinya bukan dzikir kepada Allah, sebagaimana keterangan sekelompok ulama. Dan makna makruh dalam masalah ini adalah: kurang afdhal… Sementara itu, Ibnul Jauzi dan beberapa ulama lainnya, menganggap berbicara ketika wudhu sebagai perbuatan yang tidak dimakruhkan. (Lihat  Kasyaful Qana’, 1:103)

Sebagai catatan penting, tidak ada satupun ulama yang mengharamkan berbicara ketika wudhu. Dalam Fatawa Syabakah Islamiyah ditegaskan:

ولم يحرم الحديث أثناء الوضوء أحد، فهو جائز مع الكراهة وتركه أولى

“Tidak ada satupun ulama yang mengharamkan berbicara ketika wudhu. Karena itu, berbicara pada saat wudhu dibolehkan, hanya saja hukumnya makruh, kurang utama.” (Fatawa Syabakah, no. 14793)

Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Pertanyaan:

Assalamu ‘alaikum warahmatullah, Ustadz. Bagaimana sababul wurud dan syarah hadis berikut, “Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu, kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (H.R. Muslim, no. 6925)

Apakah yang dimaksud dengan zina di dalam hadis tersebut, sebab kalau kita definisikan berdasarkan bahasa Indonesia, zina adalah perbuatan bersenggama antara laki-laki dan perempuan yang tidak terikat oleh hubungan pernikahan?

Mohon penjelasannya, Ustadz. Syukran. Jazakumullahu khairan katsira.

Anwar (**rhee_plus@***.com)

Pertanyaan:

Assalamualaikum wr. wb.

Pertanyaan dari sahabat saya (seorang akhwat):
Dulu dia pernah khilaf/berpacaran, namun sekarang sudah tidak lagi karna memang tidak ada kecocokan, walaupun pihak lelaki masih menyimpan perasaan.
Beberapa bulan selanjutnya, sahabat karibnya (melalui perantara) datang dan ingin melamar dia melalui jalan ta’aruf lebih dulu.

Pertanyaan dia, “Bagaimana pandangan islam tentang hal sosial yang akan menyakitkan hati temannya (mantan dia dulu) jika dia menerima ta’aruf sahabat karib mantannya itu, sementara setelah istikharah dia mendapatkan keyakinan dengan orang itu?”

Dia bingung, walaupun seandainya sang mantan datang dalam bentuk ta’aruf kembali, dia sudah tidak bisa menerima lagi (karna tidak punya keyakinan), sedangkan ketika dia yakin dengan seseorang (setelah banyak yang mengirim biodata namun terpaksa dia tolak karna faktor keyakinan) untuk menerima ta’aruf, dia harus memikirkan hati mantan dia dan kawan-kawan lain yang mengetahui mereka pernah punya hubungan khusus, dia akan sangat merasa bersalah pada dirinya dan juga yang ingin melamar dia jika alasannya menolak adalah karena beliau “seorang sahabat dari mantan dia”, sedangkan dia punya keyakinan.

Mohon pencerahan dari ustaz-ustaz konsultasisyariah.com
Wassalamujalaikum wr. wb.

Aisyah < contactsmilingXXXXX@XXXXX.com >

SOCIAL

9,037FansLike
4,525FollowersFollow
31,306FollowersFollow
61,951SubscribersSubscribe

RAMADHAN