tutup Eksternal hardisk kajian video islam
cashflow laporan keuangan software akutansi terbaik
Tags Posts tagged with "anak"

anak

Tidak Boleh Puasa Syawal Sebelum Qadha Ramadhan

Pertanyaan:

Assalamu ‘alaikum. Ustadz, saya mau bertanya. Bagi kaum hawa, puasa wajib di bulan Ramadan sangat sulit untuk dipenuhi dalam satu bulannya. Pertanyaan saya, jika setelah Ramadan, kita ingin melaksanakan puasa enam hari di bulan Syawal, apakah kita wajib membayar puasa Ramadan dahulu, baru (setelah itu) mengerjakan puasa enam hari (puasa Syawal) atau boleh langsung mengerjakan puasa enam hari baru (kemudian) membayar puasa Ramadan?

Selain itu, saya juga pernah mendengar sekilas tentang pembahasan tentang membayar puasa Ramadan dan puasa enam hari dalam satu niat. Apakah memang ada ketentuan seperti itu, Ustadz? Bagaimana niatnya? Mohon dijelaskan, dan jika memang ada dalil, sunah, dan lain-lain, mohon dicantumkan, Ustadz.

Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum warahmatullah wabarakatuh.

Dyanti (vieXXXX@yahoo.com)

doa agar punya anak

Suami tidak Mengakui Anaknya

Tanya

Apabila seorang laki-laki tetap bersikeras menyatakan anak yang lahir dari istrinya bukan anaknya, apa yang harus dia lakukan? Trim’s

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Ketika seorang suami tidak mengakui anak yang dikandung istrinya sebagai anaknya, berarti suami telah menuduh istrinya berzina.

Dalam islam menuduh orang lain berzina tanpa mendatangkan 4 saksi adalah dosa besar, dan mendapatkan hukuman cambuk 80 kali.

وَالَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوا بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فَاجْلِدُوهُمْ ثَمَانِينَ جَلْدَةً وَلَا تَقْبَلُوا لَهُمْ شَهَادَةً أَبَدًا وَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ . إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ وَأَصْلَحُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik telah berbuat zina dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka cambuklah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. dan mereka itulah orang-orang yang fasik. Kecuali orang-orang yang bertaubat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya), Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. An-Nur: 4 – 5)

Hanya saja, Allah memberikan aturan khusus untuk kasus suami yang menuduh istrinya berzina dengan proses mula’anah, dimana sang suami bisa lepas dari hukuman cambuk, jika dia bersedia melakukan li’an.

وَالَّذِينَ يَرْمُونَ أَزْوَاجَهُمْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُمْ شُهَدَاءُ إِلَّا أَنْفُسُهُمْ فَشَهَادَةُ أَحَدِهِمْ أَرْبَعُ شَهَادَاتٍ بِاللَّهِ إِنَّهُ لَمِنَ الصَّادِقِينَ . وَالْخَامِسَةُ أَنَّ لَعْنَتَ اللَّهِ عَلَيْهِ إِنْ كَانَ مِنَ الْكَاذِبِينَ

Orang-orang yang menuduh isterinya (berzina), padahal mereka tidak ada mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah atas nama Allah, bahwa sesungguhnya dia adalah jujur. Dan (sumpah) yang kelima: bahwa laknat Allah akan menimpanya, jika dia berdusta. (QS. An-Nur: 6 – 7).

Sebaliknya, sang istri bisa lepas dari hukuman rajam, jika dia bersedia melakukan li’an.

وَيَدْرَأُ عَنْهَا الْعَذَابَ أَنْ تَشْهَدَ أَرْبَعَ شَهَادَاتٍ بِاللَّهِ إِنَّهُ لَمِنَ الْكَاذِبِينَ. وَالْخَامِسَةَ أَنَّ غَضَبَ اللَّهِ عَلَيْهَا إِنْ كَانَ مِنَ الصَّادِقِينَ

Istrinya itu dihindarkan dari hukuman (rajam) dengan dia bersumpah empat kali atas nama Allah bahwa sesungguhnya suaminya itu benar-benar berdusta. Dan (sumpah) yang kelima: bahwa laknat Allah menimpa dirinya jika (tuduhan) suaminya itu benar. (QS. An-Nur: 8 – 9)

Ayat tentang li’an di atas, turun berkaitan dengan kasus sahabat Hilal yang menuduh istrinya telah berzina dengan Syarik bin Sahmak. Lalu Allah menurunkan ayat di atas, sebagai penyelesaian kasus suami yang menuduh istrinya berzina. (HR. Bukhari 4747)

Status Anak Dinasabkan ke Ibunya

Kemudian dalam riwayat lain, kasus li’an juga dialami sahabat Uwaimir. Diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim dan yang lainnya dari Sahl bin Sa’d dan beberapa sahabat lainnya Radhiyallahu Anhum bahwasanya pada zaman Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, Uwaimir menuduh istrinya berselingkuh dan tidak mengakui kalau anak yang ada dikandungannya. Lantas beliau menyuruh keduanya untuk melakukan li’an (saling melaknat) sebagaimana yang tercantum dalam Firman Allah di surat an-Nur ayat 6 – 10. Akhirnya beliau memisahkan keduanya selamanya.

Kata Sahl bin Sa’d,

فَكَانَتْ حَامِلًا، فَكَانَ ابْنُهَا يُدْعَى إِلَى أُمِّهِ، ثُمَّ جَرَتِ السُّنَّةُ أَنَّهُ يَرِثُهَا وَتَرِثُ مِنْهُ مَا فَرَضَ اللهُ لَهَا

“Wanita itupun hamil, dan anaknya dinisbahkan kepada ibunya. Hingga berlaku aturan bahwa anak itu bisa mendapatkan warisan dari ibunya dan ibunya bisa mendapat warisan darinya.” (HR. Bukhari 4745 dan Muslim 1492).

Dalil lain disebutkan dalam shahih Bukhari dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَعَنَ بَيْنَ رَجُلٍ وَامْرَأَتِهِ فَانْتَفَى مِنْ وَلَدِهَا، فَفَرَّقَ بَيْنَهُمَا، وَأَلْحَقَ الوَلَدَ بِالْمَرْأَةِ

Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi saksi li’an antara seorang lelaki dengan istrinya, dan beliau memutuskan nasab anak itu dengan bapaknya, memisahkan kedua suami istri itu, serta menasabkan anak kepada ibunya. (HR. Bukhari 5315).

Ketika menjelaskan hadis ini, Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan,

واستدل بهذا الحديث على مشروعية اللعان لنفي الولد وعن أحمد ينتفي الولد بمجرد اللعان ولو لم يتعرض الرجل لذكره في اللعان

“Hadits ini menjadi dalil disyariatkannya li’an untuk meniadakan hubungan nasab anak dengan bapaknya. Menurut Imam Ahmad, hubungan nasab anak dengan bapak menjadi hilang hanya dengan melakukan li’an. Meskipun sang suami tidak menyebutkan hal itu dalam proses li’annya.” (Fathul Bari, 9/460).

Bagaimana Jika Suami tidak bersedia Li’an?

Ketika suami tidak mengakui anak yang ada di rahim istrinya sebagai anaknya, dia wajib mendatangkan saksi atau melakukan li’an. Jika suami tidak bersedia melakukan li’an, maka dia berhak mendapatkan hukuman had qadzaf (menuduh orang lain berzina) berupa cambuk 80 kali, atau hukuman ta’zir yang ditentukan oleh pemerintah.

Penulis Dalil at-Thalib, Mar’i bin Yusuf al-Karmi mengatakan,

إذا رمى الزوج زوجته بالزنى فعليه حد القذف أو التعزير إلا أن يقيم البينة أو يلاعن

Ketika suami menuduh istrinya berzina maka dia berhak diberi hukuman had tuduhan zina atau dita’zir, kecuali jika dia memiliki bukti atau bersedia melakukan li’an. (Dalil at-Thalib, 2/183).

Sekalipun di tempat kita kasus semacam ini tidak diadili secara hukum perdata, namun suami yang menuduh istrinya jangan merasa lega. Karena menuduh orang lain berzina termasuk dosa besar, kecuali jika pelakunya bertaubat.

Allahu A’lam

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

menceraikan istri

Telaah Hadis: Menceraikan Istri Jahat

Seseorang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya istriku…,” lalu ia menyebutkan kejahatan-kejahatan istrinya.

فَقَالَ: طَلِّقْهَا

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ceraikanlah dia!”

Lalu, dia berkata, “Sesungguhnya, dia mempunyai teman dan anak.”

قَالَ:مُرْهَا وَقُلْ لَهَا، فَإِنْ يَكُنْ فِيْهَا خَيْرٌ فَسْتَفْعَلْ، وَلاَ تَضْرِبْ ظَعِيْنَتَكَ ضَرْبَكَ أَمَتَكَ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Panggillah dia dan bicaralah dengannya. Jika kebaikan padanya, maka tentu dia akan lakukan. Dan jangan memukul istrimu seperti memukul budakmu.” (HR. Ahmad).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah ditanya, “Sesungguhnya, istriku tidak menolak tangan penyentuh.”

قَالَ: غَيِّرْهَا إِنْ شِئْتَ، وَفِيْ لَفْظٍ: طَلِّقْهَا

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pilihlah dia jika kamu mau (antara menceraikan atau tidak).” Dalam lafal riwayat yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ceraikan dia.”

Lalu, ia berkata, “Saya takut, nafsu menginginkannya.”

قَالَ: فَاسْتَمْتِعْ بِهَا

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kalau begitu, bersenang-senanglah dengannya.”

Para ulama berbeda pendapat dalam memadukan antara nash-nash yang membolehkan dan hadits-hadits yang melarang menikahi perempuan pelacur. Sebagian kelompok mengatakan bahwa yang dimaksud dengan “al-lamis” (penyentuh) adalah “pemberi sedekah” bukan untuk berbuat dosa.

Sebagian lain berkata, “Ini untuk kelangsungan rumah tangga yang tidak harmonis. Adapun larangan tersebut berlaku untuk akad atas perempuan pelacur, dan ini yang diharamkan.”

Kelompok lain berpendapat, “Ini merupakan keharusan untuk memilih di antara dua hal negatif untuk menghilangkan yang paling jelek, karena ketika seorang suami diperintahkan untuk menceraikan, dikhawatirkan dia tidak bisa bersikap sabar, lalu berbuat sesuatu yang dilarang. Oleh karena itu, manakala dia diperintahkan untuk menahannya, hal tersebut adalah agar risiko berbuat keburukannya bisa lebih kecil.”

Kelompok lain justru berpendapat bahwa hadits di atas mengandung kelemahan, yang berarti kandungan haditsnya tidak bisa dipakai.

Ada juga yang berpendapat bahwa hadits di atas tidak jelas menunjukkan bahwa wanita yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah seorang pelacur, karena dia hanya tidak menolak bersentuhan biasa dengan orang lain, seperti bersalaman atau yang semisalnya. Ini berarti kemaksiatan kecil, bukan dosa besar. Akan tetapi, tidak berarti dia membolehkannya berbuat dosa. Oleh karena itu, sang lelaki diperintahkan untuk menceraikannya supaya yakin dan meninggalkan keraguan terhadap istrinya. Ketika dia menyatakan bahwa dirinya masih menginginkannya, dan dia tidak sabar terhadapnya, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat bahwa menahannya (tidak menceraikan sang istri, ed) akan lebih baik daripada menceraikannya. Oleh karena itu, beliau memerintahkan sang lelaki untuk menahan istrinya.

Inilah barangkali jalan keluar yang paling tepat dalam memahami nash-nash di atas. Wallahu a’lam.

Sumber: Fatawa Rasulullah: Anda Bertanya Rasulullah Menjawab, Tahqiq dan Ta’liq oleh Syaikh Qasim ar-Rifa’i, Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Pustaka As-Sunnah, Cetakan Ke-1, 2008

wdfkkdg

kesehatan ibu dan anak

Anak Telat Bicara

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.

Saya mempunyai seorang anak perempuan (baru satu orang) usianya sekarang sudah 2 tahun 10 bulan, namun sampai sekarang anak saya belum bisa bicara dan kalau dipanggil namanya tidak ada respon. Tapi tingkah laku dan gerak geriknya saya rasa normal sama seperti anak-anak lain, bisa bermain bersama, bergelut,  dan tertawa (bisa berinteraksi).

Pertanyaan:

Assalamu ‘alaikum. Saya seorang ibu, memiliki 2 orang anak yang masih balita. Apakah puasa saya sah jika saya mencicipi masakan untuk anak-anak saya hanya sebatas lidah, dan kemudian saya keluarkan kembali karena saya takut keasinan atau kurang garam? Dan karena saya harus memasak bekal untuk anak-anak saya di pagi hari dan kemudian berangkat kerja.

Netty (hsb**@***.com)

taat suami

Pertanyaan:

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Apa yang harus dilakukan oleh seorang istri jika dia ditinggal mati oleh suaminya dalam keadaan suaminya tidak ridha kepada istrinya? Si suami meninggal dalam keadaan kecewa terhadap perilaku istri terhadap suami. Si suami mengeluhkan hal tersebut ke anaknya. Si istri (ibu si anak) tersebut hanya bilang, “Tolong mintakan maafku pada ayahmu (suaminya),” sambil menangis dan menyesal dikarenakan si ayah tersebut sakit kemudian dengan sangat cepat meninggal dan si istri belum sempat minta maaf kepadanya. Apa yang harus dilakukan istri dan anaknya tersebut? Jika si anak memberitahu kepada ibunya, dikhawatirkan jiwa si ibu akan terpukul. Mudah-mudahan Allah subhanahu wa ta’ala membalas kebaikan Anda.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarkatuh.

Hermawan Fajar Nugraha (HNugr**@***.com)

Jawaban:

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.

Hendaknya istri banyak-banyak istigfar, mendoakan suami, dan bersedekah dengan meniatkan pahalanya untuk suami.

Dijawab oleh Ustadz Aris Munandar, M.A. (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).
Artikel www.KonsultasiSyariah.com

Pertanyaan:

السلام عليكم ورحمةالله وبركاته

Ustadz, maaf saya mohon penjelasannya mengenai apakah shalat tarawih dengan shalat tahajud itu sama? Dalam arti, kalau sudah shalat tarawih tidak perlu melakukan shalat tahajud? Terima kasih, Ustadz.

Kakha Aku (kakha**@***.com)

SOCIAL

9,453FansLike
4,525FollowersFollow
32,250FollowersFollow
61,951SubscribersSubscribe

RAMADHAN