Rubrik Kesehatan: Bayi Sering Muntah

Rubrik Kesehatan: Bayi Sering Muntah

mendambakan anak sehat dan shalih

Kenapa Anak Saya Sering Muntah?

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Dokter, saya mau menanyakan anak saya yang baru berusia 2 bulan sering muntah, akan tetapi muntahnya anak saya ini terjadi jika ia terlalu banyak asupan ASInya. Anak saya menangis jika dibatasi pemberian ASI oleh ibunya, sementara menurut dokter bahwa seringnya muntah setelah diberi ASI anak saya ini adalah proses yang wajar karena mungkin organ tubuhnya belum tumbuh sempurna. Lalu bagaimana solusinya menurut syariat Islam? Apakah ada perlakuan khusus terhadap konsumsi ibunya bayi maupun terhadap bayi itu sendiri?

Sebagai informasi tambahan, bahwa setelah diberi ASI anak saya dianjurkan dokter agar digendong dengan posisi badannya berdiri sampai dengan sendwawa telah pernah kami coba, ternyata masih muntah juga. Sekarang muncul sedikit kekhawatiran ketika digendong berdiri, apakah akan semakin merangsang untuk terjadinya muntah karena menggendong dengan posisi anak berdiri membuat perutnya tertekan. Mohon penjelasannya ya Dokter. Barakallahu fik.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Dari: Abu ‘Aisyah

Jawaban:
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Terima kasih kami haturkan pada Saudara yang mulia atas pertanyaan yang diajukan. Memiliki putra tentunya adalah kebahagiaan dalam setiap rumah tangga muslim. Semoga si kecil dapat tumbuh menjadi anak yang sholeh dan berbakti kepada kedua orang tuanya, serta menjadi barokah bagi umat ini.

Muntah pada bayi usia 0-6 bulan. Pertama-tama, harus dibedakan dari regurgitasi atau ‘gumoh’. Secara klinis, muntah diartikan sebagai pengeluaran isi lambung dengan tenaga yang kuat, yang disebabkan oleh kontraksi involunter (tanpa sadar) dari otot-otot perut dan sekitarnya, dalam kondisi bagian atas lambung dan sekat (sfingter) kerongkongan bagian bawah tengah relaksasi (cenderung tidak ada tahanan sehingga mudah membuka). Adapun regurgitasi adalah pengeluaran kembali isi lambung tanpa disertai mual atau kontraksi otot perut yang kuat.

Kedua kondisi ini penting untuk dibedakan, sebab regurgitasi adalah kondisi yang cukup wajar terjadi pada bayi usia 0-6 bulan, tidak memerlukan penanganan medis yang khusus, dan biasanya akan membaik seiring dengan bertambahnya usia bayi. Adapun muntah biasanya disebabkan rangsangan yang menyebabkannya, bisa jadi akibat kelainan pada saluran cerna bayi, ataupun luka atau infeksi pada daerah kerongkongan. Berikut ini beberapa perbedaan antara regurgitasi dan muntah:

Rentang usianya. Regurgitasi banyak terjadi pada bayi baru lahir, sekitar 0-6 bulan, dan akan menghilang seiring bertambahnya usia. Muntah dapat timbul pada beberapa minggu setelah lahir, kecuali pada abnormalitas pertumbuhan saluran cerna yang berat seperti pada atresia esofagus (kerongkongan tidak tumbuh sempurna hingga tidak bersambung dengan lambung).

Penyebabnya. Regurgitasi dapat terjadi saat kebanyakan minum ASI, adanya udara yang ikut tertelan saat menghisap susu, atau disebabkan oleh belum sempurnanya perkembangan organ pencernaan sekitar mulut dan kerongkongan (terutama pada bayi prematur). Adapun muntah disebabkan oleh luka atau peradangan di sepanjang saluran cerna terutama daerah mulut hingga lambung, atau kelainan pertumbuhan saluran cerna yang berat, atau adanya racun atau bahan iritan pada makanan atau minuman.

Bentuk dan kondisi muntahan. Pada regurgitasi, cairan yang dikeluarkan biasanya murni berupa yang diasup, misalnya ASI, dengan jumlah yang tidak terlalu banyak (sekitar 10 cc). Adapun pada muntah, cairan yang dikeluarkan juga yang diasup, namun volumenya lebih banyak (> 10 cc), keluar dengan kuat seperti didorong, dan terkadang berwarna kehijauan (pada kondisi kelainan saluran cerna), atau disertai bercak darah jika terdapat luka pada saluran cerna.

Gejala saat muntah. Cairan regurgitasi umumnya keluar melalui mulut saja, tanpa disertai kontraksi otot perut, dan bayi cenderung tidak begitu rewel setelahnya. Tidak pula disertai demam, mencret, atau gejala lainnya. Pada muntah, cairan dapat keluar melalui hidung dan mulut, disertai kontraksi perut, bayi biasanya merasa tidak nyaman hingga disertai dengan gelisah dan rewel, dan dapat disertai mual, demam, diare, dan gejala lainnya.

Cara penanganan. Umumnya gejala regurgitasi dapat diringankan dengan menyendawakan bayi, seperti yang dianjurkan oleh dokter anak Saudara sebelumnya. Sedangkan muntah memerlukan penanganan medis yang lebih serius.

Cara membuat bayi bersendawa diantaranya:

– Dengan mendudukkannya. Perlahan angkat bayi hingga berada pada posisi duduk di atas pangkuan Ibu atau ayah, kemudian tahan dadanya dengan satu tangan, dan gunakan tangan satunya untuk mengusap atau menepuk pelan sekeliling bahu dan punggungnya.

– Dengan menyandarkannya pada bahu. Angkat si kecil hingga kepalanya berada di bahu penggendong, dengan kepala menghadap ke samping. Gunakan satu tangan untuk menahan pantat dan berat tubuhnya, dan tangan yang lain untuk mengusap atau menepuk pelan punggungnya.

– Dengan melintangkannya di atas paha. Rebahkan bayi melintang di atas pangkuan, dengan kepala menghadap ke depan atau ke arah lain selama mulutnya tidak terhalang, kemudian usap dan tepuk perlahan punggungnya dengan satu atau dua tangan. Alternatifnya, pada posisi melintang, tahan atau sangga bagian dada bayi dengan salah satu lengan sehingga kepalanya lebih tinggi dari badan, kemudian usap punggungnya agar bersendawa.

Perlu diperhatikan agar ketika memberikan ASI, sebaiknya melapisi bagian dada bayi dengan celemek, misalnya dari bahan handuk, untuk melindungi pakaian dan kulitnya dari cairan regurgitasi atau muntah. Sebaiknya tidak menghentikan saat menyusu bayi untuk membuatnya bersendawa, namun tunggu hingga bayi berhenti menyusu dengan sendirinya.

Untuk konsumsi bayi maupun Ibu, dalam mengatasi regurgitasi ini, sepengetahuan kami tidak begitu banyak membantu. Namun hendaknya bayi hanya diberikan ASI saja hingga usia 6 bulan, dan Ibu hendaknya mengonsumsi makanan yang bervariasi dengan gizi yang lengkap. Jika Ibu atau ayah diketahui mengidap alergi pada makanan tertentu, atau misalnya bayi muntah setelah ibu mengonsumsi satu jenis makanan tertentu, hendaknya makanan tersebut dihindari.

Adapun kekhawatiran Saudara jika menggendong bayi dalam posisi tegak dapat menekan perutnya hingga membuatnya muntah, sepengetahuan kami tidaklah demikian. Karena diperlukan tekanan yang kuat untuk membuat bayi muntah, sebab adanya otot yang menyekat antara lambung dengan kerongkongan, sehingga normalnya bayi tidak akan mudah muntah hanya dengan sedikit tekanan. Menggendong pada posisi tegak diperkirakan justru dapat membantu bayi untuk mengeluarkan udara dari dalam lambungnya, sebab kita tahu bahwa udara cenderung bergerak ke arah atas.

Jika pada bayi Saudara terdapat tanda-tanda regurgitasi, menurut kami Saudara tidak perlu terlalu risau, penuhi kebutuhan ASI bayi dan usahakan menangani muntahannya dengan menyendawakan. Insya Allah seiring dengan perkembangan dan penyempurnaan fungsi organ tubuhnya, keluhan ini akan berkurang. Adapun jika muntah, kami sarankan untuk membawanya ke dokter untuk penanganan lebih lanjut.
Semoga bermanfaat bagi Saudara dan keluarga, wa fik barakallahu.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Jawaban dr. Hafidz N. (Pengasuh Rubrik Kesehatan Konsultasi Syariah)
Artikel www.KonsultasiSyariah.com

dr. Hafidz, salah satu pembina konsultasi kesehatan di situs KonsultasiSyariah.com Beliau adalah alumni fakultas kedokteran UGM, dan saat ini sedang menyelesaikan Pendidikan Dokter Spesialis jantung dan pembuluh darah.

NO COMMENTS

Leave a Reply