Perbedaan Nabi dan Rasul

Perbedaan Nabi dan Rasul

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum
Afwan, ana mau masuk ke konsultasi tidak bisa maka lewat komentar. Ana mau bertanya tentang pengertian rosul dan nabi, karena pengertian yang diajarkan di sekolah keliatannya kurang pas. Ana udah nyari di internet belum ketemu. Mohon diberikan penjelesan dan dikirim ke email ana. Jazakumullah khoir. Syukron katsiran. Wassalamu’alaikum.

Jawaban Ustadz:

Berikut kami sampaikan penjelasan Syaikh Shalih Alu Syaikh hafizhahullah yang kami terjemahkan dengan bebas dari kitab Syarah Tsalatsatul Ushul.

Terdapat perbedaan antara seorang nabi dan rasul, karena tidak semua nabi adalah rasul, namun setiap rasul adalah nabi. Perbedaannya adalah, Rasul adalah utusan Allah yang mendapatkan wahyu/risalah atau kitab suci dan diperintahkan untuk menyampaikannya kepada kaum yang menentang dan mengingkari risalah yang diembannya. Sedangkan nabi adalah seorang yang mendapatkan wahyu untuk menjalankan syari’at bagi dirinya sendiri atau untuk disampaikan kepada suatu kaum yang tidak mengingkarinya, atau dengan kata lain kaum tersebut telah menjalankan syariat yang bersesuaian dengan risalahnya. Hal ini sebagaimana yang terjadi pada nabi-nabi Bani Israil, ketika para nabi tersebut wafat maka mereka digantikan oleh seorang nabi yang menyampaikan risalah kepada kaum Bani Israil yang telah menjalankan syariat nabi sebelumnya sehingga nabi yang datang kemudian hanya meneruskan syariat yang lalu atau melengkapi syariat nabi sebelumnya.

Namun terkadang risalah yang diwahyukan kepada seorang nabi hanya diperuntukkan bagi dirinya sendiri, berdasarkan hal ini para ulama menjelaskan di antara sebab seorang nabi tidak memiliki pengikut sebagaimana yang ditunjukkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أن النبي يأتي يوم القيامة و ليس معه أحد

“Dan akan datang seorang nabi pada hari kiamat kelak tanpa seorang pun yang mengikutinya.”

Adalah karena tidak ada seorang pun dari kaumnya yang menerima seruannya atau karena risalah yang dia terima hanya diperuntukkan bagi dirinya sendiri.

***

Penanya: Puryanto
Dijawab oleh: Ust. Sa’id (Pengajar Pondok Jamilurrahman, Bantul)

Sumber: muslim.or.id

SIMILAR ARTICLES

hukum makan tulang