Luka Tertusuk Paku

Luka Tertusuk Paku

Luka Tertusuk Paku Mengakibatkan Tetanus?

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum

Maaf langsung saja ke pertanyaan:
Dua minggu yang lalu, kaki saya tertusuk paku berkarat dengan luka kedalaman 0,5cm. Setelah tertusuk paku, luka tersebut saya biarkan selama 3 jam sambil menunggu perjalanan pulang untuk dibersihkan dari tanah yang masuk ke kaki.

Setelah saya bersihkan dan diberi betadine, 4 hari kemudian rasa sakitnya berkurang, tapi 1 minggu berikutnya kaki saya terasa pegal dan kaku. Yang sya tanyakan:
1. apa saya kena tetanus?
2. jika benar, apa obatnya atau tindakan apa yang harus saya lakukan?
atas jawabannya kami ucapkan terima kasih. Wassalam

Dari: Koko Pramono

Jawaban:
Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh

Saudaraku yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala, semoga Allah Asy Syaafi memberikan kesembuhan yang tiada meninggalkan bekas bagi Anda. Kami mohon maaf atas keterlambatan dalam memberikan jawaban ini, namun semoga masih dapat membantu.

Sekelumit Tentang Tetanus
Untuk memberikan pemahaman yang lebih baik, marilah kita menelaah kembali istilah tetanus itu sendiri. Tetanus adalah kondisi keracunan tubuh akut akibat adanya neurotoxin (racun yang menyerang sistem saraf) yang diproduksi oleh bakteri berbentuk basil, Clostridium Tetani. Spora bakteri ini dapat ditemukan di banyak tempat, terutama di tanah yang pernah ditanami atau digarap, debu rumah, dan kotoran hewan tertentu, misalnya: kuda. Spora ini juga dapat bertahan hidup hingga bertahun-tahun, bahkan hingga 40 tahun.

Infeksi oleh bakteri C.Tetani ini dapat terjadi jika spora tersebut masuk ke dalam luka yang menembus lapisan kulit, dan mencapai bagian yang tidak dapat dialiri oleh oksigen dari luar tubuh. Spora tersebut kemudian mengalami proses germinasi dan mengeluarkan racun (toksin) yang memasuki aliran darah dan menimbulkan gejala. Racun C.Tetani merupakan salah satu racun dari mikroba yang paling poten. Racun ini masuk ke dalam sel saraf dari aliran darah dan bergerak menuju saraf tulang belakang.

Infeksi C.Tetani dapat terjadi dengan perantaraan gigitan serangga atau binatang tertentu. Pada luka bedah dan lokasi injeksi/suntikan yang tidak steril, luka bakar, luka patah tulang, ulkus, dan tali pusar yang terinfeksi pada bayi. Juga ketika tertusuk paku berkarat maupun berbagai jenis benda kotor lainnya yang kemungkinan besar telah berkontak dengan tanah.

Tetanus merupakan penyakit yang dapat dicegah dan diobati, namun tidak selalu efektif dan memiliki tingkat fatalitas yang tinggi pada individu yang belum diimunisasi. Pada usia lanjut dengan sistem imun yang menurun dan pada bayi dan anak yang belum divaksin.

Kaki Kaku, Benarkah Gejala Tetanus?
Setelah spora memasuki tubuh dan tumbuh di lingkungan tanpa oksigen (anaerob), individu yang mengalaminya disebut mengalami masa inkubasi yang lamanya bervariasi antara 3-21 hari, dengan rata-rata 5-10 hari. Setelah masa inkubasi ini, akan tampak gejala dan tanda tetanus, seperti:

– Kekakuan pada leher, rahang, dan otot-otot lainnya, dan sering disertai dengan ekspresi wajah yang aneh, seperti meringis. Terkadang gejala paling awal adalah nyeri dan spasme minimal otot-otot sekitar luka.

– Berliur dan kesulitan menelan.

– Sulit istirahat, nafsu makan menurun.

– Iritabilitas alias sensitif terhadap rangsangan apapun, seperti suara yang ribut, cahaya, maupun sentuhan. Akibatnya antara lain spasme otot tubuh yang nyeri selama beberapa menit.

– Spasme rahang yang tidak terkontrol (lockjaw), dan spasme otot-otot leher.

– Terkadang gejala dapat timbul tanpa didahului adanya luka yang dapat diingat.

Beberapa gejala lainnya antara lain:
– Demam
– Berkeringat sangat banyak
– Peningkatan tekanan darah
– Denyut jantung menjadi lebih cepat

Kondisi fatal akibat toksin tetanus yang menyebar luas dalam tubuh, menyerang otot dan sistem saraf:
– Gagal nafas, merupakan penyebab kematian tersering akibat kekakuan otot pernafasan.

– Menurunnya oksigen dalam darah dapat memicu terjadinya henti jantung.

– Kekakuan otot sekitar faring dapat menyebabkan masuknya cairan daerah mulut ke dalam paru-paru (aspirasi), menimbulkan radang paru berat (pneumonia), dan menyebabkan kematian akibat kekurangan oksigen.

Lalu, Bagaimana Jika Timbul Gejala Demikian?
Jika terdapat gejala seperti diatas, maka dianjurkan untuk segera mencari pertolongan medis. Penanganan pertama yang dapat dilakukan, terutama jika gejala belum menyebar luas antara lain adalah:

– Pembersihan luka dengan seksama dan menyeluruh, menggunakan air mengalir dan bahan pembersih luka. Penting juga untuk dilakukan pembuangan jaringan mati dan membuat luka menjadi terbuka sehingga dialiri oksigen, sebab C.Tetani tidak dapat berkembang pada kondisi teroksigenasi.

– Penggunaan antibiotik untuk bakteri anaerob, seperti metronidazol 500 mg per infus (Intravena) tiap 6-8 jam. Tindakan ini harus dilakukan di rumah sakit.

– Menetralkan toksin diluar sistem saraf dengan imunoglobulin tetanus manusia (human tetanus immune globulin) dan toxoid tetanus.

Pengontrolan kekakuan atau spasme dapat dikurangi dengan menggunakan obat penenang seperti Diazepam, Midazolam, atau Lorazepam. Pada kasus yang lebih berat, obat-obatan yang digunakan lebih kompleks dan penderita mungkin membutuhkan perawatan khusus di Ruang Intensif.

Sebelum Terkena Adakah Cara Pencegahannya?
Pencegahan dapat dilakukan di antaranya dengan pembersihan dan perawatan luka dengan seksama dan menyeluruh dan imunisasi tetanus.

Imunisasi tetanus ada 2 jenis; aktif dan pasif.

Pada anak-anak, vaksin diberikan pada usia 2, 4, dan 6 bulan, disusul antara 15-18 bulan, dan pada usia antara 4-6 tahun. Para ahli di bidang ini menyarankan booster vaksinasi setiap 10 tahun untuk tetanus dan difteri.

Jika seseorang menderita luka yang menembus kulitnya, maka ia berpotensi untuk menderita tetanus. Jika luka bersih, namun penderita belum mendapat booster tetanus selama 10 tahun terakhir, maka sebaiknya penderita diberikan booster saat itu juga. Namun jika luka kotor dan rentan tetanus, booster sebaiknya diberikan pada mereka yang belum mendapatkannya dalam 5 tahun terakhir. Luka yang sangat kotor memerlukan toxoid tetanus dan antibodi anti tetanus secara bersamaan. Pada penderita yang belum pernah divaksin sebelumnya, pemberian dosis vaksin pertama dapat dilakukan pada saat pemeriksaan, dilanjutkan 4 minggu setelahnya, kemudian 6 bulan setelah pemberian yang kedua.

Adapun kepada Saudara penanya, jawaban untuk pertanyaan Anda menurut kami adalah sebagai berikut:

1. Apakah Saudara terkena tetanus. Kami tidak dapat memastikan, juga karena kami tidak mengetahui riwayat imunisasi Saudara. Namun dari gejala dan bahan yang menimbulkan luka, ada kemungkinan ke arah tetanus, dan sebaiknya Saudara segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan untuk tindak lanjutnya.

2. Tindakan dan obat. Seperti yang kami kemukakan di atas, Saudara dapat melakukan pembersihan luka lagi dengan seksama dan membuang jaringan mati. Namun umumnya proses ini menimbulkan rasa nyeri dan membutuhkan bantuan paramedis, sehingga lebih baik jika dilakukan di fasilitas kesehatan. Sebagai seorang muslim, Saudara juga kami anjurkan untuk memperbanyak meruqyah bagian yang sakit dengan doa-doa yang disyariatkan. Adapun penggunaan perban madu, meski memiliki efek antimikroba yang sangat baik, belum dapat kami anjurkan di sini karena keterbatasan pengetahuan dan pengalaman kami.
Semoga bermanfaat.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Dijawab oleh dr. Hafidz N. (Pengasuh Rubrik Kesehatan Konsultasi Syariah)
Artikel www.KonsultasiSyariah.com

dr. Hafidz, salah satu pembina konsultasi kesehatan di situs KonsultasiSyariah.com Beliau adalah alumni fakultas kedokteran UGM, dan saat ini sedang menyelesaikan Pendidikan Dokter Spesialis jantung dan pembuluh darah.

NO COMMENTS

Leave a Reply