Kitab Suci Agama Syiah

Kitab Suci Agama Syiah

ajaran syiah

Kitab Suci Syiah

Beberapa waktu yang lalu terjadi kerusuhan di Sampang sedikit banyak memancing animo masyarakat untuk mengetahui ajaran Syiah. Seperti apa sebenarnya ajaran Syiah ini sampai difatwakan sesat oleh ulama-ulama Jawa Timur.

Di antara ajaran Syiah yang sangat kontradiktif dengan ajaran Islam adalah mengenai Alquran. Di buku-buku rujukan utama Syiah, Alquran yang berada di tangan kita sekarang ini adalah Alquran palsu atau telah mengalami perubahan, silahkan baca artikel kami sebelumnya, Al-Quran Menurut Syiah. Kenyataan ini memang tidak diakui oleh tokoh-tokoh Syiah di negeri Sunni, seperti Indonesia, kalau mereka mengakui hal ini, maka tidak satu pun umat Islam yang menyangsikan akan kesesatan Syiah, sekalipun orang yang paling awam.

Doktrin perubahan Alquran ini belum layak didakwahkan di negeri-negeri mayoritas Sunni. Berbeda ceritanya dengan negeri mayoritas Syiah semaca Irak dan Iran, ulama-ulama mereka berani terang-terangan menyatakan Alquran telah berubah seperti pernyataan Murtadha al-Qazwini berikut ini:

Kalau orang-orang Syiah tidak meyakini Alquran, apakah mereka memiliki kitab suci? Berikut sedikit kami nukilkan dari buku hadis Syiah, al-Kafi. Pada bagian pokoknya atau Ushul al-Kafi 1:240 kemudian juga Bihar al-Anwar, 26:44, dan Bashair ad-Darajat, Hal. 43. termaktub sebuah riwayat yang menyatakan,

“Tatkala Allah Ta’ala mewafatkan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Fathimah merasakan kesedihan yang sangat, yang kadar kesedihan tersebut tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah ‘Azza wa Jalla. Lalu Allah mengutus seorang malaikat untuk menanyakan perihalnya. Fathimah pun mengadukan kejadian ini kepada Amirul Mukminin (Ali bin Abi Thalib) radhiallahu ‘anhu. Ali mengatakan, “Jika engkau mempercayai kabar (berita yang dibawa malaikat) tersebut, dan engkau mendengar suatu ucapan, maka katakanlah kepadaku. Kemudian Fathimah mengabarkan berita yang ia dengar. Amirul Mukminin pun mencatat setiap yang ia dengar sehingga tersusunlah sebuah mushaf. Di dalamnya tidak ada pembahasan mengenai yang halal dan yang haram, akan tetapi mushaf tersebut memuat apa yang akan terjadi di masa mendatang.”

Dalam riwayat lain,

عَلِيُّ بْنُ الْحَكَمِ عَنْ هِشَامِ بْنِ سَالِمٍ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ عليه السلام قَالَ إِنَّ الْقُرْآنَ الَّذِي جَاءَ بِهِ جَبْرَئِيلُ عليه السلام إِلَى مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وآله سَبْعَةَ عَشَرَ أَلْفَ آيَةٍ

Ali bin al-Hakam, dari Hisyam bin Salim, dari Abu Abdillah (‘alaihis-salaam), ia berkata, “Sesungguhnya Alquran yang diturunkan melalui perantaraan Jibril ‘alaihissalaam kepada Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa aalihi adalah 17.000 ayat.” (al-Kafi, 1:643)

Dalam satu riwayat yang lain,

عِدَّةٌ مِنْ أَصْحَابِنَا عَنْ أَحْمَدَ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَجَّالِ عَنْ أَحْمَدَ بْنِ عُمَرَ الْحَلَبِيِّ عَنْ أَبِي بَصِيرٍ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ  عليه السلام قَالَ ………. وَ إِنَّ عِنْدَنَا لَمُصْحَفَ فَاطِمَةَ عليها السلام وَ مَا يُدْرِيهِمْ مَا مُصْحَفُ فَاطِمَةَ عليها السلام قَالَ قُلْتُ وَ مَا مُصْحَفُ فَاطِمَةَ عليها السلام قَالَ مُصْحَفٌ فِيهِ مِثْلُ قُرْآنِكُمْ هَذَا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ وَ اللَّهِ مَا فِيهِ مِنْ قُرْآنِكُمْ حَرْفٌ وَاحِدٌ قَالَ قُلْتُ هَذَا وَ اللَّهِ الْعِلْمُ قَالَ إِنَّهُ لَعِلْمٌ وَ مَا هُوَ بِذَاكَ

Beberapa orang shahabat kami dari Ahmad bin Muhammad, dari Abdullah bin Hajjaaj, dari Ahmad bin Umar al-Halabi, dari Abu Bushair, dari Abu Abdillah ia berkata : “……Sesungguhnya pada kami terdapat Mushhaf Fathimah ‘alaihassalaam. Dan tidaklah mereka mengetahui apa itu Mushhaf Faathimah”. Aku berkata: “Apakah itu Mushhaf Faathimah ‘alaihassalaam?”. Abu ‘Abdillah menjawab: “Mushhaf Faathimah itu, di dalamnya tiga kali lebih besar daripada Alquran kalian. Demi Allah, tidaklah ada di dalamnya satu huruf pun dari Alquran kalian”. Aku berkata : “Demi Allah, ini adalah ilmu” (al-Kafi, 1:239-240).

Demikian orang Syiah menyejajarkan kedudukan Alquran di sisi Sunni dengan Mushaf Fathimah di sisi mereka.

NO COMMENTS

Leave a Reply