Khutbah Jumat Tanpa Shalawat, Sahkah?

Khutbah Jumat Tanpa Shalawat, Sahkah?

Pertanyaan:

Saya pernah berkhutbah Jumat dengan menggunakan bonus khutbah yang ada dalam satu edisi majalah As-Sunnah. Kemudian, dalam khutbah itu -sebagaimana dalam bonus tersebut- saya tidak membaca shalawat Nabi. Seusai khutbah, salah satu jamaah menegur saya, dan mengatakan khutbah saya tidak sah. Sebabnya, karena tidak membaca shalawat Nabi. Sehingga hal itu sempat menjadikan keributan. Bagaimana keterangan sebenarnya?

Jawaban:

Masalah di atas berkaitan dengan rukun-rukun khutbah Jumat. Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini. Di dalam kitab Al-Fiqh ‘Alal Madzhabil Arba’ah (Fiqih Menurut Madzhab Empat) I/390-391, karya Abdurrahman al-Jaziri, disebutkan pendapat empat madzhab tentang rukun-rukun khutbah Jumat. Ringkasnya sebagai berikut:

1. Hanafiyyah.

Mereka berpendapat, bahwa khutbah memiliki satu rukun saja. Yaitu dzikir yang tidak terikat atau bersyarat. Meliputi dzikir yang sedikit ataupun banyak. Sehingga untuk melaksanakan khutbah yang wajib, cukup dengan ucapan hamdalah atau tasbih atau tahlil. Rukun ini untuk khutbah pertama. Adapun pada khutbah kedua, hukumnya sunnah.

2. Syafi’iyyah.

Mereka berpendapat, bahwa khutbah memiliki lima rukun:

a. Hamdalah, pada khutbah pertama dan kedua.

b. Shalawat Nabi, pada khutbah pertama dan kedua.

c. Wasiat takwa, pada khutbah pertama dan kedua.

d. Membaca satu ayat al-Quran, pada salah satu khutbah.

e. Mendoakan kebaikan untuk mukminin dan mukminat dalam perkara akhirat pada khutbah kedua.

3. Malikiyyah.

Mereka berpendapat, bahwa khutbah memiliki satu rukun saja. Yaitu, khutbah harus berisi peringatan atau kabar gembira.

4. Hanabilah.

Mereka berpendapat, bahwa khutbah memiliki empat rukun.

a. Hamdalah, pada awal khutbah pertama dan kedua.

b. Shalawat Nabi.

c. Membaca satu ayat al-Quran.

d. Wasiat takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Demikianlah keterangan yang ada alam kitab al-Fiqh ‘Alal Madzhabil Arba’ah. Akan tetapi, berkaitan dengan madzhab Hanafiffyah dan Malikiyyah ada keterangan lain. Yaitu sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Muhammad dalam kitab Imamatul Masjid, Fadhluha Wa Atsaruha Fid Dakwah, hal. 82. Beliau berkata, “Adapun (para ulama) Hanafiyyah dan Malikiyyah, mereka tidak menjadikan rukun, rukun untuk khutbah Jum’at. Para ulama Hanafiyyah berkata. ‘Jika (khatib) mencukupkan dengan dzikrullah, (maka) hal itu boleh. Tetapi dzikir ini harus panjang yang dinamakan khutbah.’” (Lihat al-Ikhtiyar, I/83, karya al-Maushuli al-Hanafi).

Adapun para ulama Malikiyyah mengatakan, “Tidaklah khutbah mencukupi, kecuali apa yang dapat disebut dengan nama khutbah.” (Lihat al-Kafi, karya al-Qurthubi, I/251).

Dengan keterangan di atas nampaklah, bahwa madzhab Hanafiyyah dan Malikiyyah dalam hal ini sama.

Kemudian -sebagaimana telah kita ketahui– bahwa sebagian umat Islam di Indonesia ini menyatakan mengikuti madzhab -kebanyakan mengikuti madzhab Syafi’iyyah. Sehingga mereka berkeyakinan, bahwa membaca shalawat Nabi dalam khutbah Jumat merupakan rukun. Jika ditinggalkan khutbahnya menjadi tidak sah! Namun, benarkah keyakinan demikian?

Dalam masalah ini, cukuplah kami nukilkan dari sebagian perkataan ulama yang telah dikenal konsistennya dalam berpegang kepada al-Kitab dan as-Sunnah.

Syaikh al-Imam Shidiq Hasan Khan rahimahullah berkata, “Ketahuilah, bahwa khutbah (Jumat) yang disyariatkan ialah yang biasa dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Yaitu berupa menganjuran (kebaikan) kepada manusia dan mengancam mereka (dari keburukan). Sebenarnya inilah yang merupakan ruh khutbah. Atas landasarn inilah khutbah disyariatkan.

Adapun mensyaratkan dengan hamdalah atau shalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau membaca suatu ayat al-Quran, maka semuanya itu keluar dari tujuan maksimal disayariatkannya khutbah Jumat. Dan kebetulan, yang semisal dengan hal itu terdapat dalam khutbah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidaklah berarti menunjukkan bahwa hal itu merupakan tujuan yang wajib dan syarat yang harus ada. Orang yang insyaf tidak akan ragu, bahwa tujuan maksimal (khutbah Jumat) adalah nasihat, bukan yang dilakukan sebelumnya yang berupa hamdalah dan shalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Telah menjadi kebiasaan bangsa Arab yang terus berlaku, bahwa jika seseorang di antara mereka berkehendak berdiri pada suatu tempat dan mengatakan suatu perkataan, maka dia memulai dengan memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan ber-shalawat kepada Rasul-Nya. Alangkah bagusnya hal ini dan alangkah utamanya! Akan tetapi, hal seperti itu bukanlah tujuan, bahkan tujuannya adalah apa yang ada setelahnya.

Nasihat di dalam khutbah Jumat itulah yang dimaksudkan oleh hadits. Maka, jika seorang khatib telah melakukannya, berarti ia telah melakukan perbuatan yang disyariatkan. Tetapi, jika ia membuka khutbahnya dengan sanjungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan shalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau dalam nasihatnya ia membawakan ayat-ayat al-Quran yang menyentuh hati, maka hal itu lebih sempurna dan lebih baik.

Adapun membatasi kewajiban apalagi persyaratan (yakni rukun -red.) pada hamdalah dan shalawat, dan menjadikan nasihat (dalam khutbah) termasuk perkara-perkara yang dianjurkan saja, maka ini membalik pembicaraan dan mengeluarkan dari bentuk yang diterima oleh orang-orang yang agung.

Kesimpulannya, bahwa ruh khutbah (Jumat) adalah nasihat yang baik; baik dari Al-Quran ataupun lainnya. Kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam khutbahnya, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam membawakan (yakni mengucapkan) hamdalah, shalawat kepada Rasul-Nya, syahadatain (dua kalimat syahadat -ed.), dan satu surat yang lengkap. Tujuannya adalah nasihat dengan al-Quran dan menyampaikan larangan-larangan al-Quran. Dan hal itu tidak dikhususkan dengan satu surat yang lengkap.

Tetapi perkataan Imam Shidiq Hasan Khan di atas tentang shalawat yang berbunyi: Kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam khutbahnya, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam membawakan (yakni mengucapkan) hamdalah, shalawat kepada Rasul-Nya, telah diberi catatan kaki oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani dengan kalimat: Aku katakan, “Yang telah maklum, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa menyebutkan namanya yang mulia dalam syahadat ketika khutbah. Adapun beliau menyebut shalawat atas beliau, maka aku tidak mengetahuinya, walaupun dalam satu hadits.”

Dari nukilan perkataan Imam Shidiq Hasan Khan tersebut jelaslah, bahwa perkara-perkara yang sering dianggap rukun khutbah Jumat itu tidak tepat. Hal ini dikuatkan oleh pendapat Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah. Beliau berkata, “Adapaun mensyaratkan dengan syarat-syarat itu (yakni rukun-rukun khutbah Jumat -red.) dalam dua khutbah (Jumat), yang berupa hamdalah dan shalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta membaca satu ayat dari kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka mensyaratkan itu tidak ada dalilnya. Yang benar, jika seseorang berkhutbah dengan satu khutbah, yang tujuan dan nasihat telah tercapai, maka hal itu cukup, walaupun tidak menetapi apa-apa (syarat-syarat) yang disebutkan tersebut.

Memang benar, memuji Allah dan Rasul-Nya dalam khutbah termasuk kesempurnaan khutbah. Dan hendaklah khutbah itu memuat bacaan sesuatu ayat dari kitab Allah. Tetapi (anggapan), bahwa hal-hal itu merupakan syarat-syarat atau rukun-rukun, yang khutbah itu – dianggap – tidak sah bila tanpa semuanya itu, baik (khatib) meninggalkannya dengan sengaja, lupa, atau salah, maka anggapan seperti itu perlu kajian yang nyata. Demikian juga, bahwa semata-mata melakukan empat rukun tersebut (sebagaimana madzhab Hambali -red.) tanpa ada nasihat yang menggerakkan hati -dianggap- cukup dan kewajiban (khutbah) telah gugur, padahal tujuan kewajiban itu tidak tercapai, maka (anggapan seperti itu) tidak benar.” (Al-Mukhtarat al-Jaliyyah, hal. 70; dinukil dari Imamatul Masjid, hal. 85, karya Syaikh Abdul Aziz bin Muhammad).

Setelah kita mengetahui, bahwa tidak ada dalil yang menyatakan perkara-perkara di atas sebagai rukun khutbah Jumat, maka khutbah yang tidak ada shalawat Nabi – sebagaimana yang ditanyakan – tidak ragu lagi tentang sahnya.

Sebagai tambahan di sini, kami sampaikan keterangan berkaitan dengan cara khutbah Nabi – dengan keyakinan kita – bahwa khutbah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang paling baik dan utama.

Di antara petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam berkhutbah, bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan salam kepada hadirin ketika naik mimbar.

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ أَنْ الـنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا صَعِدَ الْمِنْبَرِ سَلَّمَ

Dari Jabir bin Abdullah, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam jika telah naik mimbar biasa mengucapkan salam.” (HR. Ibnu Majah, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih Ibni Majah).

Demikian juga beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membuka khutbah dengan mengucapkan hamdalah, pujian kepada Allah, syahadatain, bacaan ayat-ayat takwa, dan perkataan amma ba’d. Hal ini antara lain ditunjukkan hadits di bawah ini.

عَنْ عَبْدِ اللهِ قَالَ عَلَّـمَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خُطْبَةُ الْحَاجَّةِ أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ (نَحْمَدُهُ وَ) نَسْـتَعِيْنُهُ وَنِتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِهِ مِنْ شُـرُورِ أَنْفُسِـنَا (وَ سَـيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا) مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ (وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ) وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ (يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْـكُمْ رَقِيْبًا) (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا التَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَـدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكَمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا) (أَمَّا بَعْدُ)

“Dari Abdullah, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajari kami khutbah untuk keperluan:

Alhamdulillah, artinya Segala puji bagi Allah (kami memuji-Nya), mohon pertolongan kepada-Nya, dan memohon ampunan kepada-Nya. Serta kami memohon perlindungan kepada-Nya dari kejahatan jiwa kami dan dari keburukan amal kami.

Barangsiapa yang diberikan petunjuk oleh Allah, tidak ada seorang pun yang menyesatkannya. Dan barangsiapa yang disesatkan, maka tidak ada yang memberinya petunjuk.

Saya bersaksi, bahwa tidak ada yang diibadahi secara benar kecuali Allah (semata, tidak ada sekutu bagi-Nya), dan saya bersaksi, bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba dan utusan-Nya.

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan ber-taqwa-lah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (Qs. an-Nisa: 1).

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (Qs. al-Imran: 102).

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (Qs. al-Ahzab: 70-71). (Amma ba’du).” (HR. Ahmad dan lainnya. Syaikh al-Albani mengumpulkan sanad-sanad hadits ini di dalam sebuah kitab kecil dengan judul Khutbah Hajah).

Setelah memaparkan sanad-sanad hadits khutbah hajah, Syaikh Al-Albani berkata dalam penutup kitab Khutbah Hajah tersebut, “Dari hadits-hadits yang telah lalu, menjadi jelaslah bagi kita bahwa khutbah ini (yaitu perkataan “innal hamda lillah…”) digunakan untuk membuka seluruh khutbah-khutbah, baik khutbah nikah, khubah Jumat, atau lainnya.” (Khutbah Hajah, hal. 31, karya Syaikh al-Albani). Walaupun membuka khutbah Jumat dengan khutbah hajah sebagaimana di atas hukumnya bukan wajib, namun pastilah merupakan keutamaan, karena diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari khutbah hajah itu kita tahu, bahwa khutbah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dibuka dengan hamdalah, pujian kepada Allah, shallallahu ‘alaihi wa sallam, bacaan ayat-ayat takwa, dan perkataan amma ba’d.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Tidaklah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah, kecuali beliau membukanya dengan hamdalah, membaca syahadat dengan dua kalimat syahadat, dan menyebut diri beliau sendiri dengan nama diri beliau.” (Zadul Ma’ad, I/189). Tentang membaca syahadat ketika khutbah, ditegaskan juga dalam hadits lain, sebagaimana di bawah ini.

Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Tiap-tiap khutbah yang tidak ada tasyahhud (syahadat) padanya, maka khutbah itu seperti tangan yang terpotong.” (HR. Abu Dawud, kitab al-Adab, Bab di Dalam Khutbah. Dishahihkan al-Albani dalam Shahih Abu Dawud).

Hadits di atas jelas menunjukkan syariat membaca syahadat di dalam khutbah. Namun anehnya, Syafi’iyyah dan Hambaliyyah tidak memasukkannya sebagai salah satu dari rukun khutbah Jumat. Sementara itu, mereka memasukkan membaca shalawat Nabi di dalam rukun-rukun itu. Padahal, dalil yang menyatakan sebagai rukun tidak ada, sebagaimana penjelasan para ulama yang kami nukilkan di atas.

Walaupun demikian, kami tidak mengingkari keutamaan membaca shalawat Nabi dalam khutbah. Yang kami ingkari ialah menganggapnya sebagai rukun khutbah. Membaca shalawat di dalam khutbah merupakan sunnah dan keutamaan, sebagaimana hal itu dilakukan oleh Ali bin Abi Thalib dalam khutbah beliau. Berikut kami sebutkan riwayat tentang hal tersebut.

عَنْ عَوْنِ بْنِ أَبِي جُحَيْفَةَ قَالَ كَانَ أَبِي مِنْ شُرَطِ عَلِيِّ رَضِي اللهُ عَنْهُ وَكَانَ تَحْتَ الْـمِنْبَرِ فَحَدَّثَنِي أَبِي أَنَّهُ صَعِدَ الْمِنْبَرَ يَعْنِي عَلِيًّا رَضِي اللهُ عَنْهُ فَحَمِدَ اللهُ تَعَالَـى وَأَثءنَى عَلَيْهِ وَصَلَّى عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ خَيْرُ هَذِهِ اْلأُمَّةِ بَعْدَ نَبِيِّهَا أَبُو بَكْرٍ وَالثَّانِي عُمَرُ رَضِي اللهُ عَنْهُ وَقَالَ يَجْعَلُ اللهُ تَعَالَى الْخَيْرَ حَيْثُ أَحَبَّ

Dari Aun bin Abi Juhaifah, dia berkata, ‘Dahulu bapakku termasuk pegawai Ali radhiallahu ‘anhu, dan berada di bawah mimbar. Bapakku bercerita kepadaku, bahwa Ali radhiallahu ‘anhu naik mimbar, lalu memuji Allah Ta’ala dan menyanjung-Nya, dan bershalawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan berkata, ‘Sebaik-baik umat ini setelah Nabinya, ialah Abu Bakar, yang kedua ialah Umar radhiallahu ‘anhu,’ Ali radhiallahu ‘anhu juga berkata, ‘Allah menjadikan kebaikan di mana Dia cintai’.” (Riwayat Ahmad di dalam Musnad-nya, I/107 dan dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir).

Dan tentu saja, khutbah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berisi tentang nasihat-nasihat yang sangat berharga, Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Dan pokok khutbah-khutbah Nabi adalah pada bacaan hamdalah, sanjungan kepada Allah atas nikmat-nikmat-Nya, sifat-sifat kesempurnaan-Nya, dan pujian-pujian kepada-Nya. Juga pengajaran kaidah-kaidah Islam, menyebutkan jannah (surga -ed.), naar (neraka -ed.), hari Kiamat, perintah taqwa, penjelasan sebab-sebab kemurkaan Allah, dan tempat-tempat keridhaann-Nya. Di atas sinilah pokok khutbah-khutbah beliau.” (Zadul Ma’ad, I/188). Harapan kami, semoga penjelasan ini dapat menjadi petunjuk dan bermanfaat bagi kita. Wallahu a’lam.

Sumber: Majalah As-Sunnah, Edisi 4 Tahun VII, 1424 H – 2003 M
Dipublikasikan oleh www.KonsultasiSyariah.com dengan pengubahan tata bahasa seperlunya.