Kesehatan Wanita: Bintil di Vagina

Kesehatan Wanita: Bintil di Vagina

rubrik kesehatan seputar wanita

Kesehatan Wanita: Bintil di Vagina

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum

Saya wanita berusia 26 tahun, sudah menikah dan belum memiliki momongan.

Saya pernah mempunyai riwayat penyakit keputihan yang disebabkan oleh bakteri (GO) sekitar 2 tahun lalu, tapi sudah dinyatakan bersih (sembuh). Tapi sudah hampir 1 bulan ini, keputihan saya abnormal kembali, setelah melalui browsing sana sini saya meyakini 99% bahwa keputihan saya disebabkan oleh jamur, karena saya melihat gejalanya sama: keputihan keluar seperti keju, tidak berbau, tidak sakit di bagian vagina atau saat berhubungan intim, tapi saya merasakan gatal yang sangat, juga sedikit pembengkakan!

Selain itu ada unek-unek lain nih Dok: menurut suami saya, di bagian vagina (masuk ke dalam sedikit sebelum cervix) terdapat bintik-bintik kecil seperti biang keringat pada punggung. Kata suami saya, memang terkadang ada bintik-bintik tersebut dan suka hilang dengan sendirinya tapi 1 bulan terakhir ini bintik-bintik tersebut tidak hilang. Tapi bintik-bintik tersebut tidak sakit dan tidak mengganggu saat berhubungan intim.

Sejauh ini saya belum melakukan pengobatan memakai obat, hanya melakukan hal-hal untuk mengurangi efek keputihan ini, seperti lebih rajin membersihkan daerah kewanitaan, dsb.

Yang ingin saya tanyakan :

1. Bintik-bintik tersebut apa? Mengapa bisa ada? Dan apa solusi pengobatannya?

2. Setelah browsing, ada banyak obat yang disarankan untuk mengatasi keputihan diakibatkan jamur seperti: butoconazole, klotrimazol, mikonazol, tikonazol, ekonazol, fentikonazol, nystatin, terkonazol, ketokonasol, itrakonazol, dan flukonazol. Menurut saran dokter, sebaiknya obat mana yang lebih baik manfaatnya?

Mohon segera direspon Dok.. terimakasih.

Wassalamu’alaikum!

Dari: Alma

Jawaban:

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh.

Terima kasih atas pertanyaan yang Ibu berikan kepada kami.

Langsung saja pada jawaban pertanyaan Ibu:

1. Mengenai bintil kecil tersebut, mohon maaf kami tidak mengetahuinya, karena kondisi demikian memerlukan pemeriksaan seksama, dalam hal ini oleh dokter spesialis kandungan atau spesialis kulit dan kelamin. Perbedaan lokasi, bentuk, warna, dan kondisi sekeliling bintil/bintik tersebut, dapat mempengaruhi diagnosis, sehingga paling baik dilakukan oleh ahlinya.

2. Dari gejala yang Ibu sebutkan, memang menyerupai infeksi akibat jamur, tepatnya Candida albicans. Namun untuk memastikan, kami sarankan sebaiknya tetap diperiksakan ke ahli kesehatan. Umumnya pengobatan infeksi candidiasis adalah dengan menggunakan obat jamur topikal (dioleskan di daerah yang sakit), dengan regimen terapi yang beragam, seperti mikonazol yang berupa cream, atau terkonazol (krim, supositoria/dimasukkan lewat dubur), dan sebagainya seperti yang Ibu sebutkan. Pilihan lainnya adalah obat oral, berupa flukonazole 150 mg, dosis tunggal (sekali minum). Masing-masing jenis obat memiliki kelebihan kekurangan sendiri, dan pemilihan obat didasarkan pada banyak faktor, seperti kenyamanan, ada tidaknya alergi, bisa mentolerir efek samping/tidak, kesesuaian dengan aktivitas harian, pertimbangan ekonomi, dan sebagainya, yang tidak dapat kami uraikan disini. Sehingga kami tidak dapat mengatakan jenis mana yang mutlak paling bermanfaat dibanding lainnya. dilihat dari 1 segi, yakni kenyamanan, obat oral seperti flukonazol lebih mudah digunakan dan durasi pengobatan juga singkat, namun perlu diingat bahwa obat oral memiliki efek samping yang lebih besar dibanding obat topikal.

Semoga bermanfaat.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Dijawab oleh dr Hafidz (Penasehat Rubrik Kesehatan www.KonsultasiSyariah.com)

dr. Hafidz, salah satu pembina konsultasi kesehatan di situs KonsultasiSyariah.com Beliau adalah alumni fakultas kedokteran UGM, dan saat ini sedang menyelesaikan Pendidikan Dokter Spesialis jantung dan pembuluh darah.

NO COMMENTS

Leave a Reply