Kesedihan yang Mendalam Setelah Istri Meninggal

Kesedihan yang Mendalam Setelah Istri Meninggal

Pertanyaan:

Assalamu ‘alaikum.

Beberapa waktu yang lalu istri saya meninggal setelah operasi cesar saat melahirkan anak kedua akibat pendarahan pasca operasi. Anak pertama saya perempuan berusia 2 tahun 4 bulan. Saya sudah sabar dan tabah dan sudah mengikhlaskan kematian isteri saya, tetapi saya sering menangis kalau melihat kedua buah hati saya yang dalam usia sekecil itu sudah kehilangan ibunya. Saya merasa kasihan. Apalagi kalau anak yang pertama menangis memanggil ibunya. Saya terus berusaha untuk tetap tabah dengan memperbanyak berdoa, membaca Alquran, shalat sunnah, tetapi semakin lama semakin terasa kesedihan saya. Terkadang dalam doa saya memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala supaya diberikan petunjuk agar anak saya bisa mendapatkan kembali kasih sayang ibunya.

1. Apakah kesedihan saya itu berlebihan?

2. Apa saya berdosa berdoa seperti itu?

3. Bagaimana menerangkan kepada anak saya tentang ibunya?

Terima kasih.

Wassalaamu ‘alaikum.

Jawaban:

Jalan hidup senantiasa bertabur ujian dan cobaan, keinginan dan harapan tidak semua tergapai namun tidak seluruhnya kandas, karena “dunia surga buat orang kafir dan penjara buat orang mukmin.” Terutama romantika berumah tangga tidak lepas dari tantangan dan hambatan dalam rangka mendidik masing-masing pasangan agar lebih dewasa. Sementara watak dunia tidak ada yang kekal, semua akan mengalami kematian dan tabiat hidup sering berganti layar maka sang penyair mengatakan,

Delapan perkara yang senantiasa berjalan dalam kehidupan manusia, yang manusia tidak mampu mengelaknya
Pertemuan bergandeng dengan perpisahan, kesulitan bergandeng dengan kemudahan, kesedihan bergandengan dengan kegembiraan, dan sakit bergandeng dengan sehat.

Demikian itu, menunjukkan bahwa manusia hanyalah seorang hamba yang lemah yang membutuhkan lentera rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga usaha apapun selalu butuh kesabaran dan ketawakalan karena kemampuan manusia terbatas, sedangkan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala mengungguli seluruh kemampuan manusia. Bila Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki, maka pasti akan terjadi dan bila Allah Ta’ala tidak menghendaki, maka tidak mungkin terjadi. Maka, siapa yang berusaha melawan arus takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti memetik kegundahan dan kekufuran, karena menentang takdir Allah Ta’ala akan menghasilkan sikap berprasangka buruk kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hidup senantiasa dipenuhi kegalauan dan kurang sabar dalam menghadapi segala ujian dan cobaan serta kurang teguh dalam menapaki rintangan dan tantangan.

Sebaiknya anda lebih menatap ke depan daripada hanya larut dalam kesedihan sambil memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala ampunan untuk sang isteri tercinta dan rahmat untuk sang buah hati tersayang, karena pada akhirnya dia milik Allah Ta’ala, Dialah yang memberi dan berhak untuk mengambilnya. Bersabar dan mencari pahala atas musibah kematian sang isteri merupakan langkah paling tepat sebagaimana yang dilakukan oleh Ummu Salamah radhiallahu ‘anha saat sang suami tersayang meninggal dunia maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada Ummu Salamah doa yang indah untuk kebahagiaan dunia dan akhiratnya  dalam rangka menapaki hidup dan mengusir kesedihan, beliau  radhiallahu ‘anha dianjurkan berdoa, “Sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kami akan kembali kepada-Nya. Ya Allah berilah pahala dari musibahku dan berilah ganti dengan suatu yang lebih baik.”

Ketahuilah cobaan hidup bagi seorang mukmin bukan merupakan penghinaan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepadanya bahkan pertanda cintanya Allah ‘Azza wa Jalla kepadanya, sehingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda,“Sesungguhnya bila Allah Ta’ala mencintai sekelompok kaum maka Allah menguji mereka.

Oleh karena itu, manusia yang paling berat ujiannya adalah para utusan Allah Ta’ala maka ujian anda masih dalam katagori normal bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman  (yang artinya), ”Dan sesungguhnya ,Kami akan berikan cobaan kepadamu semua dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al Baqarah: 155).

Adapun kesedihan Anda masih diambang normal dan doa Anda juga masih tidak berlebihan, namun lebih baik Anda sering membaca doa yang dianjarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Ummu Salamah.

Dijawab oleh Ustadz Zainal Abidin, Lc.
Artikel www.KonsultasiSyariah.com