Karena Doa, Utang Jadi Kekayaan

Karena Doa, Utang Jadi Kekayaan

Usaha Gagal, Hutang Banyak

Pertanyaan:

Saya punya utang yang cukup banyak, salah satunya karena usahanya gagal. Saya tidak berniat sedikit pun untuk lari dari utang. Saya takut kalau suatu saat saya meninggal namun utang saya belum dilunasi.

Satu-satunya usaha yang sekarang sedang saya jalani ikut bisnis online. Pertimbangannya: sudah ada internet dan komputer.

Usia saya 45 tahun. Tentunya tidak memungkinkan melamar kerja, karena kerja di manapun pasti usianya dibatasi, maksimal 30 tahunan.

Mau usaha dagang ini butuh modal yang tidak sedikit, dan butuh tempat. Ini juga tidak memungkinkan. Disamping tenaga saya juga lemah.

Kira-kira bagaimana solusinya ya Ustadz?

Mohon doanya juga agar masalah saya cepat selesai.

Dari: Adi

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, wa ba’du,

Dalam shahihnya, Imam Bukhari meriwayatkan dari Abdullah bin Zubeir radhiyallahu anhu, katanya,  “Di hari Perang Jamal, Zubeir sempat memanggilku. Setelah aku berdiri di sampingnya, ia berkata kepadaku, “Hai putraku, yang akan terbunuh hari ini hanyalah orang zalim atau yang terzalimi. Dan kurasa aku akan terbunuh hari ini sebagai pihak yang terzalimi. Akan tetapi beban pikiran terberatku di dunia ini ialah utangku. Apakah menurutmu utang kita akan menyisakan harta kita walau sedikit?”

“Wahai putraku, jual-lah aset yang kita miliki untuk menutup utang-utangku,” kata Zubeir kepada Abdullah. Zubeir lalu berwasiat kepada anaknya agar sepersembilan hartanya yang tersisa diperuntukkan bagi anak-anak Abdullah, atau cucu-cucunya. Waktu itu ada dua anak Abdullah seusia dengan anak-anak Zubeir. Yakni Khubaib dan Abbad. Zubeir sendiri waktu itu meninggalkan sembilan anak laki-laki dan sembilan anak perempuan.

Kata Abdaullah, Zubeir berpesan kepadanya. “Hai puteraku, jika engkau tak sanggup melakukan sesuatu demi melunasi utang ini, minta tolonglah kepada tuanku,” kata Zubeir.

“Demi Allah, aku tidak paham apa maksudnya. Maka aku bertanya kepadanya,” kata Abdullah bin Zubeir. “Wahai Ayah, siapakah tuanmu itu?”

“Allah,” jawab Zubeir.

“Sungguh demi Allah, setiap kali aku terhimpit musibah dalam melunasi utang tersebut, aku selalu berkata, “Wahai tuannya Zubeir, lunasilah utang-utangnya”… dan Allah pun melunasinya, kata Abdullah.

Tak lama berselang, Zubeir radhiyallahu anhu terbunuh. Ia tak meninggalkan sekeping dinar maupun dirham. Peninggalannya hanyalah dua petak tanah, yang salah satunya ada di Ghabah (Madinah), 11 unit rumah di Madinah, dua unit rumah di Basrah, satu unit di Kufah, dan satu lagi di Mesir. Sedangkan utang-utangnya timbul karena Zubeir sering dititipi uang oleh orang-orang.

“Anggap saja ini sebagai utang, karena aku takut uang ini hilang,” kata Zubeir.

Zubeir tidak pernah menjabat sebagai gubernur maupun pengumpul zakat atau yang lainnya. Ia hanya mendapat bagian dari perangnya bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, Umar bin Khattab atau Utsman bin Affan radhiyallaahu ‘anhum.

“Maka kuhitung total utang yang ditanggungnya, dan jumlahnya mencapai 2,2 juta dirham!” Hakim bin Hizam pernah menemui Abdullah bin Zubeir dan bertanya, “Wahai putera saudaraku, berapa utang yang ditanggung saudaraku?”

Ibnu Zubeir merahasiakannya, dan hanya mengatakan “seratus ribu.”

Hakim berkomentar, “Demi Allah, harta kalian takkan cukup untuk melunasinya menurutku.”

“Lantas bagaimana menurutmu jika utang tadi berjumlah 2,2 juta?!” tanya Ibnu Zubeir.

“Kalian takkan sanggup melunasinya. Dan jika kalian memang tidak sanggup, maka minta tolonglah kepadaku,” jawab Hakim.

Abdullah lantas mengumumkan, “Siapa yang pernah mengutangi Zubeir, silakan menemui kami di Ghabah.” Maka datanglah Abdullah bin Ja’far yang dahulu pernah mengutangi Zubeir sebesar 400 ribu dirham.

Ibnu Ja’far berkata kepada Ibnu Zubeir, “Kalau kau setuju, utang itu untuk kalian saja.”

“Tidak”, jawab Ibnu Zubeir.

“Kalau begitu, biarlah ia utang yang paling akhir dilunasi,” kata Ibnu Ja’far.

“Jangan begitu,” jawab Ibnu Zubeir.

“Kalau begitu, berikan aku sekapling tanah dari yang kalian miliki,” pinta Ibnu Ja’far.

“Baiklah. Kau boleh mengambil kapling dari sini hingga sana,” kata Ibnu Zubeir.

Ibnu Ja’far lantas menjual bagiannya dan mendapat pelunasan atas utangnya. Sedangkan tanah tersebut masih tersisa 4,5 kapling. Ibnu Zubeir lantas menghadap Mu’awiyah yang kala itu sedang bermajelis dengan ‘Amru bin Utsman, Mundzir bin Zubeir, dan Ibnu Zam’ah.

Mu’awiyah bertanya, “Berapa harga yang kau berikan untuk tanah Ghabah?”

“Seratus ribu per kapling,” jawab Ibnu Zubeir.

“Berapa kapling yang tersisa?” tanya Mu’awiyah.

“Empat setengah kapling,” jawab Ibnu Zubeir.

‘Amru bin Utsman berkata, “Aku membeli satu kapling seharga seratus ribu.” Sedangkan Mundzir bin Zubeir dan Ibnu Zam’ah juga mengatakan yang sama. Mu’awiyah bertanya, “Berapa kapling yang tersisa?”

“Satu setengah kapling” jawab Ibnu Zubeir.

“Kubeli seharga 150 ribu,” kata Mu’awiyah.

Sebelumnya, Abdullah bin Ja’far menjual kaplingnya kepada Mu’awiyah seharga 600 ribu dirham. Dan setelah Ibnu Zubeir selesai melunasi utang ayahnya. Datanglah anak-anak Zubeir kepadanya untuk minta jatah warisan. Tapi kata Ibnu Zubeir, “Tidak, demi Allah. Aku takkan membaginya kepada kalian sampai kuumumkan selama empat tahun di musim haji, bahwa siapa saja yang pernah mengutangi Zubeir hendaklah mendatangi kami agar kami lunasi.” Maka Ibnu Zubeir pun mengumumkannya selama empat tahun.

Setelah berlalu empat tahun, barulah Ibnu Zubeir membagi sisa warisannya. Ketika itu, Zubeir meninggalkan empat istri, dan setelah dikurangi sepertiganya, masing-masing istrinya mendapatkan 1,2 juta. Dan setelah ditotal, nilai total harta peninggalannya mencapai 50,2 juta! (HR. Bukhari No. 3129)

Sungguh luar biasa memang pengaruh doa. Tak hanya menolak musibah dan meringankan bencana. Namun doa membalik itu semua menjadi karunia yang tak terhingga. Walau secara matematis jumlah hartanya takkan cukup untuk melunasi 10% dari utangnya, tapi lewat doa, itu semua teratasi. Kalaulah Zubeir mengajarkan doa tersebut kepada puteranya, doa apa kiranya yang harus kita baca agar bebas dari lilitan utang?

Dalam Sahih Muslim disebutkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan agar kita membaca doa berikut setiap hendak tidur,

اللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَوَاتِ السَّبْعِ وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ مُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ أَنْتَ الْأَوَّلُ لَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ وَأَنْتَ الْآخِرُ لَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ وَأَنْتَ الظَّاهِرُ لَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ وَأَنْتَ الْبَاطِنُ لَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ اقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ وَأَغْنِنَا مِنْ الْفَقْرِ

Wahai Allah Penguasa Langit, ‘Aasy Yang Agung, dan Penguasa Segalanya. Wahai Yang Menurunkan Taurat, Injil dan Al-Quran. Wahai Yang Membelah Biji dan Benih (menjadi tanaman). Tiada ilah selain Engkau. Aku berlindung kepada-Mu dari setiap kejahatan manusia yang jahat, sebab Engkau-lah yang menguasai ubun-ubunnya. Engkaulah yang pertama, yang tiada apa pun sebelum-Mu; dan Engkau-lah yang terakhir, yang tiada apa pun setelah-Mu. Engkau-lah yang dhahir, yang tiada apa pun di atas-Mu; dan Engkau-lah yang batin, yang tiada apa pun yang menghalangi-Mu. Lunasilah utang kami dan entaskan kami dari kefakiran.” (HR. Muslim No. 2713, sahih)

Tulisan di atas merupakan artikel yang ditulis oleh Ustadz Sufyan Fuad Baswedan, M.A. yang diterbitkan oleh Majalah Pengusaha Muslim edisi 33. Secara khusus, Ustadz Sufyan Fuad Baswedan, M.A. merupakan kolumnis Majalah Pengusaha Muslim untuk rubrik adab dan doa. Ada banyak hal baru yang bisa anda dapatkan dari tulisan beliau. Sederhana, namun sarat makna.

Ustadz Sufyan Baswedan, Beliau adalah Mahasiswa Pascasarjana Jurusan Ulumul Hadits, Islamic University of Medina, KSA.

NO COMMENTS

Leave a Reply