Kapan Wajib Membayar Diyat?

Kapan Wajib Membayar Diyat?

Pertanyaan:

Kapan diwajibkan membayar diyat (denda) dan seberapa besar diyat yang harus dibayar?

Jawaban:

Tidak ada perselisihan pendapat di kalangan para ulama mengenal kasus seseorang yang memukul seorang wanita hamil, lalu janin dalam kandungannya gugur dalam keadaan hidup namun tak lama kemudian meninggal akibat pukulan tersebut. Mereka sepakat, untuk kasus seperti ini si pelaku dikenakan sangsi hukum dengan membayar diyat sama seperti diyat orang dewasa, karena si pelaku telah menewaskan satu jiwa yang hidup. Janin tersebut keluar dalam keadaan hidup maka hukumnya sama seperti apabila tindakan itu ia lakukan terhadap orang yang sudah dewasa.

Ibnu Munzir rahimahullah berkata, “Sepanjang pengetahuan kami, para ulama sepakat bahwa janin yang gugur dalam keadaan hidup, lalu meninggal akibat pukulan, memiliki diyat yang sama seperti diyat orang dewasa.

Ibnu Abdil Bar rahimahullah berkata, “Di antara hukum janin yang telah disepakati oleh para ulama adalah hukuman bagi seseorang yang memukul seorang ibu yang sedang hamil hingga janinnya gugur dalam keadaan hidup, lantas beberapa saat kemudian janin itu meninggal. Dengan demikian, dapat dipastikan bahwa meninggalnya si janin adalah akibat pulukan tersebut. Sangsi hukum yang diberikan kepada si pelaku adalah membayar diyat seperti diyatnya orang dewasa, dan besar diyat sesuai dengan jenis kelamin si janin apakah laki-laki atau perempuan.”

Demikianlah pendapat para ahli fikih yang tersebar di berbagai negeri. An-Nawawi rahimahullah berkata, “Adapun apabila bayi gugur dalam keadaan hidup, lantas beberapa saat kemudian bayi tersebut meninggal, maka diyat yang harus dibayar penuh seperti diyat orang dewasa, dan ini sudah menjadi kesepakatan para ulama. Hanya saja, Mazhab Maliki memberikan syarat, yaitu dengan mengambil sumpah keluarga si janin bahwa janin tersebut memang benar-benar meninggal dikarenakan pukulan tersebut, sehingga mereka dapat menerima bayaran diyat. Apabila mereka tidak mau bersumpah maka si pelaku dikenakan sangsi hukum dengan membayar ghurrah (seorang hamba kepada keluarga korban). Alasannya, mungkin saja kematiannya disebabkan perkara lain dan bukan akibat tindakan si terdakwa.

Pendapat yang rajih adalah bahwa hukuman ini dijatuhkan tanpa disertai syarat apapun, karena untuk menetapkan sumpah terhadap keluarga si janin harus berdasarkan dalil dan ternyata tidak ada dalil yang menyebutkan syarat tersebut, sebab pada asalnya hukum apa pun itu tidak dianggap kecuali ada dalil.

Sementara itu, Mazhab Hambali dan Al-Muzani dari kalangan Mazhab Syafi’i mensyaratkan wajibnya membayar satu diyat penuh apabila si janin sudah berusia enam bulan atau lebih. Namun, apabila usia janin kurang dari enam bulan maka si pelaku wajib membayar ghurrah dan tidak wajib membayar diyat.

Zahir permasalahan ini adalah sebagaimana pendapat mayoritas ulama bahwa standar ukuran yang dapat dipegang adalah berkaitan dengan hidupnya janin tersebut ketika terlahir kemudian ,meninggal walaupun usianya belum sampai enam bulan. Hidupnya janin dapat diketahui apabila di saat lahir ia sempat menangis, atau sempat disusui, bernapas, merasa haus dan lain-lain.

Besarnya diyat dalam masalah ini sesuai dengan jenis kelamin si janin. Apabila janin tersebut laki-laki maka diyat yang diberikan sebanyak satu diyat penuh, dan apabila janin tersebut perempuan maka diyat-nya sebesar diyat seorang perempuan, yakni setengah diyat laki-laki.

Kemudian, diyat yang dibayar juga disesuaikan dengan jumlah janin yang meninggal. Apabila seorang wanita menggugurkan dua atau tiga janin maka ia wajib membayar diyat dua kali lipat atau tiga kali lipat. Apabila janin yang digugurkan ada dua, yang satu terlahir dalam keadaan hidup dan yang satu lagi gugur dalam keadaan hidup lalu meninggal, maka si pelaku wajib membayar satu ghurrah untuk janin pertama dan satu diyat untuk janin kedua.

Sumber: Ensiklopedi Anak, Abu Abdillah Ahmad bin Ahmad Al-Isawi, Darrus Sunnah.
(Dengan beberapa pengubahan tata bahasa oleh redaksi www.konsultasisyariah.com)