Jodoh, Antara Takdir dan Usaha

Jodoh, Antara Takdir dan Usaha

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Saya akhwat berusia 31 tahun. Di usia ini saya betul-betul sedih, cemas dan gelisah karena belum menikah. Saat masih kulaih saya mempunya teman dekat lelaki Katolik, sebenarnya banyak yang menegur pilihan saya. Saya sangat setia dengannya, bahkan banyak lamaran ikhwan yang saya tolak, ada juga dari luar negeri yang bersedia menjadi muallaf.

Saya tak bergeming dan tetap jalan dengannya hingga selesai kuliah dan dia kembali ke negeri seberang. Kami punya komitmen untuk menikah di KUA. Kemudian, dia datang dengan keluarganya untuk melamar saya, tapi dengan syarat menikah di gereja. Keluarga saya menolak mentah-mentah dan marah besar, kalau saya tetap nekad, maka saya tak akan diakui oleh keluarga. Saya jelas tidak berani menentang keluarga disamping telah kecewa dan waspada dengan trik-trik dari keluarga lelaki teresbut. Saya lebih memilih mempertahankan akidah, walau setelah itu sempat shock berat dan mulai pesismis dan putus asa menghadapi hidup. Berkat dorongan keluarga dan merenungkan arti hidup, saya mulai bisa menerimanya dan berusaha semakin mendekat kepada Allah. Saya memperbanyak dzikir, doa dan memperdalam Islam. Pertanyaan saya:

Apa yang dimaksud dengan jodoh dan apabila Allah telah menetapkannya, namun apakah jika tanpa usaha tak akan mendapatkannya? Apakah jika beda agama bukan jodoh, lalu bagaimana yang telah terlanjur menikah?

Bila ingat masa lalu, begitu banyak penyesalan. Bagaimana cara menghilangkannya dan tetap optimis?

Apakah saya masih bisa mendapatkan jodoh? Dan apakah belum menikahnya saya karena kesalahan nsaya masa lalu atau memang sebuah takdir?

Demikian pertanyaan saya, terima kasih atas jawabannya. Semoga bisa menegaskan hati saya bahwa Allah mempunyai rencana lebih baik juga sebagai pelajaran tentang misi kristenisasi.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Jawaban:

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillah. Karena pada akhirnya Ukhti lebih memilih langkah yang dapat menentukan keselamatan Ukhti, membebaskan diri dari bencana yang amat menakutkan, hidup dalam pelukan lelaki kafir. Sebuah kondisi yang paling buruk bagi seorang wanita muslimah. Para ulama, dari madzhab dan golongan manapun, sepekat mengharamkan wanita muslimah menikah dengan pria kafir, dalam kondisi dan dengan alasan apapun.

Apa yang Ukhti alami tidak lain adalah petualangan panah iblis, yakni saat syahwat cinta menggoda hati seorang anak manusia terhadap lawan jenisnya. Disebut panah iblis atau syahwat cinta, karena cinta kasih itu muncul sebelum sepasang manusia dihalalkan untuk berduaan, hidup bersama, karena mereka belum terikat tali pernikahan.

Petualangan panah iblis ini memang sebuah perangkap setan yang amat halus, namun memiliki hasil menakjubkan, membuat seseorang bisa melakukan apa saja demi cinta. Karena, ia sudah seperti yang digambarkan al-Quran yang artinya, “Orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya.” (Qs. al-Furqan: 43).

Syahwat dan hawa nafsu itulah yang dia sebut sebagai cinta dan yang dia jadikan sebagai Tuhannya.

Tapi biarlah, semuanya sudah terlewati. Ukhti sudah berhasil selamat, dengan taufiq dari Allah. Semoga Allah memberikan ketahanan dalam jiwa Ukhti, untuk tetap bersabar menghadapi segala godaan syahwat tersebut, sehingga betul-betul selamat di dunia dan di akhirat.

Masalah jodoh, memang rahasia ilahi. Seperti disebutkan dalam hadits Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu, di saat manusia masih berada dalam perut ibunya, “Kemudian diperintahkan malaikat untuk menuliskan rezekinya, ajalnya, amal perbuatannya, kebahagiaan atau kesengsaraannya…”

Jodoh, termasuk rezeki seseorang. Jadi memang sudah ditentukan oleh Allah semenjak manusia belum diciptakan, dan sudah ditulis di Lauh Mahfuzh. Dalam hal ini, kita tidak diperintahkan untuk memikirkan tentang takdir tersebut, tapi hanya diperintahkan untuk berusaha. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Beramallah, masing-masing akan dimudahkan melakukan apa telah dituliskan baginya.” (Riwayat Muslim).

Sebenarnya, berusaha atau tidak berusaha, jodoh sudah ditetapkan. Tapi masalahnya bukan itu. Bahwa kita tetaplah dianggap berbuat keliru, bila kita tidak berusaha. Yang dituntut oleh Allah dari kita adalah upaya, ikhtiar dan niat baik. Jodoh tetap Allah yang menentukan. Jadi soal jodoh, rezeki dan takdir kita tidak berhak mengurusnya, tapi kita hanya diperintahkan untuk berusaha. Dengan upaya yang benar dan niat yang bersih itulah, kita akan diberi pahala. Hasilnya, Allah yang menentukan.

Penyesalan terhadap kekeliruan masa lalu, justru harus tetap ada. Karena hakikat taubat adalah penyesalan. Salah satu syarat taubat adalah menyesali perbuatan dosa yang dilakukan. Dan penyesalan itu muncul, karena adanya rasa takut terhadap siksa dan murka Allah. Tapi, jangan biarkan penyesalan itu mengganggu pikiran, sehingga mengganjal kreativitas. Selain rasa takut, kita juga harus memiliki rasa berharap-harap, atau rajaa. Yakinlah bahwa Allah akan mengampuni segala dosa-dosa Ukhti, dosa-dosa kita semua. Sambutlah hari esok dengan penuh rasa percaya diri. Lakukanlah perbaikan diri secara bertahap, mulai keyakinan, ibadah, hingga adab pergaulan. Semakin dekat dengan Allah, Ukhti akan semakin memperoleh ketenangan batin yang sejati.

Sekali lagi, persoalan jodoh berada di tangan Allah, kita hanya diperintahkan untuk berusaha. Selama Ukhti menjaga kehormatan dan berupaya memperbaiki diri, insya Allah, Ukhti akan mendapatkan jodoh yang sesuai dengan harapan. Wanita baik akan dipertemukan dengan pria yang baik. Asalkan niat tulus selalu dijaga. Peliharalah kualitas ibadah, dan tingkatkan dari waktu ke waktu. Sehingga saat pernikahan tiba, Ukhti dalam kondisi iman terbaik, dan pilihan Ukhti juga lebih didasari oleh luapan iman, bukan desakan nafsu dan syahwat.

Ketika seseorang terlambat mendapatkan jodoh, semua sudah suratan dari Allah. Soal kekeliruan, kelalaian, atau keteledoran, itu semua hanya jalannya saja. Jalan yang menyebabkan kita kesulitan mendapatkan jodoh. Kalau itu kita lakukan dengan sengaja, kita berkewajiban bertaubat. Taubat itu sudah menghapus segalanya, bila dilakukan dengan tulus. Dan dengan taubat, pengalaman masa lalu (meskipun pengalaman maksiat) menjadi pelajaran berharga. Setidaknya, agarUkhti lebih berhati-hati terhadap bujuk rayu iblis. Agar Ukhti juga menjaga anak-anak Ukhti kelak, untuk tidak terjerumus ke dalam kesalahan yang sama. Dan bisa jadi, Allah menyimpan jodoh yang paling layak untuk Ukhti, yang paling mampu memberikan kebahagiaan di dunia dan akhirat, yang jodoh itu tidak bisa didapatkan kalau Ukhti mencarinya di waktu dulu. Artinya, keterlambatan itu bisa jadi membawa hikmah besar. Hikmah yang muncul, karena Ukhti bertaubat. Artinya, segala kekeliruan itu tetap saja kekeliruan. Tapi dengan taubat, seseorang mampu mengambil hikmah di balik kekeliruan itu. Kalau tanpa taubat, semua tidak berarti apa-apa.

Itu terbukti, bahwa pengalaman itu memberitahukan salah satu dari bahaya laten kaum Nasrani yang menyebarkan misi kristenisasi. Betapa wanita-wanita muslimah, menjadi target paling utama dalam misi tersebut. Di antaranya melalui perkawinan dengan pria-pria Kristen. Demikian juga kaum prianya. Saat seorang muslim atau muslimah yang berpacaran dengan wanita atau pria Kristen masih beranggapan bahwa ia memperjuangkan cinta sejati, pihak Nasrani malah sedang berkeyakinan bahwa mereka sedang menjalankan misinya. Betapa amat sengsaranya muslim atau muslimah yang terperangkap dalam perang pemikiran ini! Oleh sebab itu, bersyukurlah, karena Allah telah menyelamatkan Ukhti dari bahaya tersebut. Kini, bukalah lembaran baru. Soal jodoh, setidaknya di Surga nanti sudah menanti pasangan cinta abada untuk wanita muslimah yang taat. (Abu Umar Basyir)

Sumber: Majalah Nikah, Vol.04/No.07/2005
Dipublikasikan dengan pengubahan tata bahasa seperlunya oleh redaksi www.konsultasisyariah.com