Istri Menuntun Suami Menuju Manhaj Ahlis Sunnah

Istri Menuntun Suami Menuju Manhaj Ahlis Sunnah

Pertanyaan:

Saya seorang istri muslimah, tetapi saya tidak tahu apa arti/pengertian ahlus sunnah. Bagaimana menjadi istri yang berpaham ahlus sunnah? Bagaimana menuntun suami menuju pemahaman ahlus sunnah?

Jawaban:

As-sunnah menurut bahasa artinya “jalan”, sedangkan jalan itu ada yang baik dan ada yang jelek. Adapun makna as-sunnah menurut istilah syar’i ialah petunjuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik yang berupa perkataannya, perbuatan (yang bukan dikhususkan untuk dirinya sendiri), atau ketetapannya ketika melihat sahabatnya berbuat baik, atau akhlaknya.

Karena itulah, ketika istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bernama Aisyah ditanya oleh sahabat, “Bagaimana akhlak Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam?” Dia menjawab, “Akhlaknya ada di dalam Al-Quran.” Maksudnya, bila kita ingin melihat sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka sumbernya ada dalam Al-Quran dan hadits yang shahih.

Adapun makna ahlus sunnah ialah orang yang mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabatnya, sebagaimana disebut di dalam hadits shahih,

عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَ سُنَّة اَلْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ بَعْدِيْ

Kamu wajib mengikuti sunnahku dan sunnah sahabat Khulafaur Rasyidin yang diberi petunjuk sesudahku.” (HR. Ath-Thabrani, dinilai shahih oleh Al-Albani: 6/243)

Sedangkan kebalikan dari ahlus sunnah adalah ahlul bid’ah, yaitu orang yang membuat keyakinan atau syariat baru dan ingin menandingi syariat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ancamannya adalah akan ditolak amalnya dan juga akan diancam dimasukkan ke dalam neraka.

Ahlus sunnah ini mempunyai nama lain, seperti ahlus sunnah wal jama’ah, as-salaf, al-firqatun najiyah, ath-thaifah al-manshurah, ahli atsar, dan ahli hadits.

Adapun cara agar istri dan suami berpaham ahlus sunnah, maka hendaknya menuntut ilmu dari kalangan para ulama salaf yang dahulu dan sekarang, yang mana ciri pengajiannya adalah senantiasa menyebut ayat Al-Quran dan hadits yang shahih dengan pemahaman sahabat radhiyallahu ‘anhum, serta senantiasa menyebut ahli hadits.

Isi kajiannya senantiasa menyebut tauhid dan memberantas syirik, menyampaikan amal ibadah menurut sunnah, memberantas bid’ah dan kemaksiatan, memberantas ilmu kalam, tasawuf dan tarikat sesat. Lalu mengamalkan ilmu yang diperoleh dan bila mampu mendakwahkan as-sunnah ini kepada umat.

Dari Utsman bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَ عَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari: 15/439)

Sumber: Majalah Mawaddah, Edisi 12, Tahun 1, Jumadil Tsaniyah-Rajab 1429 H (Juli 2008).
(Dengan beberapa pengubahan tata bahasa oleh redaksi www.konsultasisyariah.com)