Hukum Menjawab Adzan di Radio dan Televisi

Hukum Menjawab Adzan di Radio dan Televisi

lafadz adzan ketika hujan

Menjawab Adzan di Radio dan Televisi

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum Ustadz.

Barakallahufik..

Ustadz, saya mau tanya, apakah diwajibkan menjawab adzan yang didengar di televisi atau radio?

Terima kasih atas jawabannya Ustad, jazakallahu khairan..

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Dari: Muhammad

Jawaban:

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

Alhamdulillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Pertanyaan semacam ini pernah disampaikan kepada Syaikh Dr. Abdul karim al-Hudhair. Berikut jawaban yang beliau sampaikan,

الحمد لله وحده والصلاة والسلام على من لا نبي بعده. وبعد.
الأذان الصادر من خلال الآلات إما أن يكون حياً ينقل، أذان الحرم ينقل عبر الإذاعة، أو أذان الجامع الكبير في الرياض مثلاً ينقل عبر إذاعة القرآن مثلاً، فهذا أذان حقيقي له أحكام الأذان فيجاب، غاية ما هنالك أنه بُلِّغ من لم يسمعه كالمكبر، كمكبر الصوت.

Alhamdulillah wahdah was shalatu was salamu ‘ala man la nabiyya ba’dah, amma ba’du,

Adzan yang dikumandangkan melalui alat tertentu ada dua macam:

Pertama, adzan yang disiarkan secara langsung, seperti adzan Masjidil Haram yang disiarkan langsung melalui radio, atau adzan Masjid Jami’ di Riyadh, yang disiarkan langsung melalui Radio Alquran, adzan semacam ini adalah adzan hakiki, yang dihukumi sebagaimana layaknya adzan, sehingga disyariatkan untuk dijawab. Paling tidak, adzan ini dikumandangkan agar didengar oleh orang yang tidak bisa mendengar langsung, sebagaimana pengeras suara.

أما إذا كان على شريط وليس بحيّ، سجل والمؤذن غير موجود، وقد يكون المؤذن ميتاً! يؤذن المنشاوي الآن في بعض الإذاعات، والمنشاوي مات من سنين، محمود رِفْعت يؤذن وهو ميت من أربعين سنة، مثل هذا لا يجاب ولا يأخذ حكم الأذان.
والله أعلم.
وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم.

Kedua, adzan rekaman kaset, dan bukan siaran langsung adzan seseorang, hasil rekaman dan tidak ada muadzinnya, dan bahkan bisa jadi muadzin yang direkam sudah meninggal! Misalnya adzannya Shiddiq al-Minsyawi yang dikumandangkan melalui beberapa radio, padahal al-Minsyawi sudah meninggal beberapa tahun silam, atau adzannya Mahmud Rif’at padahal beliau sudah meninggal 40 tahun silam, adzan rekaman semacam ini tidak perlul dijawab dan tidak dihukumi sebagai adzan.

Allahu a’lam

Wa shallallahu ‘ala nabiyyinaa muhammadin wa ‘ala aalihi wa shahbihi wa sallam.

Syaikh Dr. Abdul Karim al-Hudhair adalah anggota Lajnah Daimah KSA.

Catatan:

Diantara ulama ada yang memberikan alasan, bahwa sesungguhnya adzan yang disyariatkan untuk dijawab adalah adzan yang dilakukan dengan niat. Sementara adzan rekaman, baik yang disiarkan melalui radio atau televisi, dikumandangkan tanpa niat. Karena tidak dihukumi adzan yang disyariatkan untuk dijawab.

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)

Ustadz Ammi Nur Baits Beliau adalah Alumni Madinah International University, Jurusan Fiqh dan Ushul Fiqh. Saat ini, beliau aktif sebagai Dewan Pembina website PengusahaMuslim.com, KonsultasiSyariah.com, dan Yufid.TV, serta mengasuh pengajian di beberapa masjid di sekitar kampus UGM.

NO COMMENTS

Leave a Reply