Habib Cabul

Habib Cabul

Fenomena Habib Cabul

Fenomena habaib atau habib di negeri ini bukanlah sesuatu yang baru, dengan “merk” sebagai keturunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mereka pun berhasil menarik banyak simpati masyarakat, terutama dari kalangan awam. Apalagi setelah diliputnya pengjian Habib Munzir oleh salah satu stasiun swasta, nama para habib pun semakin terkenal dan akrab di masyarakat Indonesia.

Akhir-akhir ini berita mengenai para habib ini pun semakin riuh dan semakin membuat mereka dikenal. Namun sayang, pemicunya adalah hal yang dianggap tabu dan merusak citra para habib. Habib Hasan bin Ja’far As Segaf dituduh melakukan perbuatan cabul (Homosexual) terhadap beberapa jamaahnya. Kontan hal ini direspon cepat oleh awak media, berbagai majalah dan situs-situs berita menjadikannya sebagai topik utama. Artikel-artikel yang membahas berita perbuatan cabul sang habib pun terus dibahas media dalam beberapa hari ini.

Pada kesempatan kali ini, kami tidak akan mengadakan justifikasi terhadap kesalahan yang dituduhkan kepada Habib Hasan bin Ja’far As Segaf dan kami pun tidak mengkhususkan artikel ini sebagai pembelaan terhadap beliau. Bisa jadi kabar tersebut benar dan bisa jadi kabar tersebut juga sebuah fitnah, kami sepenuhnya mengikuti perkembangan proses penyelidikan oleh pihak-pihak yang berwenang. Namun, menyikapi seseorang yang berbuat salah dan terjerumus dalam kenistaan kami hendak menyampaikan beberapa catatan:

Pertama: Setiap Hamba Pasti Melakukan Dosa
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عن أنس قال : قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم – : كل بني آدم خطاء ، وخير الخطائين التوابون

Dari Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap anak Adam adalah orang-orang yang pernah melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang pernah melakukan kesalahan adalah orang yang bertaubat.” (HR. Tirmidzi, no. 2499, Ibnu Majah, no. 4251, dan Ahmad, 3:198)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa sebuah keniscayaan bagi anak Adam melakukan perbuatan dosa, mereka pasti pernah melakukan kesalahan. Namun pernyataan Nabi ini jangan disalahartikan bahwasanya melakukan perbuatan dosa itu adalah seseuatu yang dimaklumi dan dipahami sebagai perbuatan manusiawi yang harus ditolerir. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan harus adanya taubat dan berlepas diri dari perbuatan dosa untuk menjadi hamba yang baik.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, seandainya kalian tidak pernah berbuat dosa, niscaya Allah akan mengganti kalian dengan mendatangkan suatu kaum yang kemudian kaum tersebut berbuat dosa, kemudian mereka meminta ampun kepada Allah, dan Allah akan mengampuni mereka” (HR. Muslim).

Syaikh Abdul Aziz bin Baz mengatakan, “Allah Subhanahu wa Ta’ala menakdirkan seorang hamba pasti terjerumus dalam perbuatan dosa sehingga terasalah baginya ampunan dan maaf dari Allah (bagi yang bertaubat). Dan di antara nama Allah adalah Maha Penerima Taubat, Maha Pengampun, dan Maaf Pemaaf.” (Nurun ‘ala Darb) Inilah hikmah adanya syariat taubat.

Kedua: Ketika Tokoh Agama Berbuat Nista

Tokoh agama merupakan panutan bagi umat. Idealnya, mereka adalah figur yang menuntun umat baik dalam perkataan maupun perbuatan. Merekalah penyeru manusia ke jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, mereka memiliki ilmu yang menjadi pijakan untuk beramal dan berdakwah.

Namun tokoh agama ini pun adalah manusia, sebagaimana kami jelaskan di atas, manusia pasti melakukan perbuatan dosa. Akan tetapi ada hal-hal yang membedakan antara orang awam dan tokoh agama berkaitan dengan dosa. Orang yang berilmu sangat takut akan perbuatan dosa, kesalahan kecil di mata mereka adalah aib besar yang membinasakan. Ibnu Mas’ud mengatakan, “Sesungguhnya seorang mukmin memandang dosa-dosanya seakan-akan ia sedang duduk di bawah gunung dan ia takut gunung tersebut jatuh menimpanya. Dan seorang fajir memandang dosa-dosanya seperti seekor lalat yang lewat di hidungnya lalu ia berkata demikian (mengipaskan tangannya di atas hidungnya) untuk mengusir lalat tersebut.” (Riwayat Bukhari no.5949)

Dengan demikian sangat tidak pantas seorang yang dianggap sebagai tokoh agama berlaku homoseksual, cabul, melihat video porno, dan dosa-dosa lainnya yang orang awam pun jijik dan enggan untuk melakukannya.

Dosa dan celaan terhadap mereka pun lebih besar dibandingkan orang-orang awam, karena tokoh agama adalah panutan yang diikuti banyak orang dan orang-orang mengikuti apa yang ia katakana. Allah berfirman mencela tokoh-tokoh Yahudi,

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنسَوْنَ أَنفُسَكُمْ وَأَنتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَـابَ أَفَلاَ تَعْقِلُونَ

Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?” (QS. Al Baqarah: 44)

مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِئَايَاتِ اللهِ وَاللهُ لاَيَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.” (QS. Al Jumu’ah: 5)
Dan Allah memurkai orang-orang Yahudi secara umum karena mereka berilmu namun tidak mengamalkan apa yang mereka ketahui.

Ketiga: Bersikap Bijak dan Tidak Mengeneralisir
Tidak diragukan lagi, media merupakan sarana yang sangat efektif untuk membentuk opini publik. Media bisa menjatuhkan seorang raja yang bertahta dengan kalimat-kalimat mereka, media mampu menjadikan yang putih menjadi hitam dan hitam menjadi putih. Intensnya kasus cabul yang diangkat oleh media, sangat mungkin menimbulkan stigma negativ atau paling tidak memudarkan respect seseorang terhadap tokoh agama Islam dan citra Islam itu sendiri.

Tokoh agama yang baik, yang benar-benar berilmu dan berdakwah kepada umat dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya bisa jadi terkena imbas dari prilaku segelintir orang dari tokoh agama, dan pencitraan negativ yang diberikan awak media. Lebih jauh lagi hal ini dikaitkan dengan Islam dan umat Islam secara keseluruhan.

Kita telah mengetahui, bagaimana Islam dicitrakan sebagai agama yang ofensif, teroris, dan berbahaya oleh media Barat. Sehingga orang-orang Eropa dan Amerika begitu phobia dan benci ketika mendengar segala sesuatu yang berhubugan dengan Islam dan umat Islam.

Oleh karena itu, hendaknya kita tidak terjebak dan latah mengeneralisir permasalahan, dan berpikir homogen (semuanya sama) dalam menyikapi permasalahan ini.

Ditulis oleh Nufitri Hadi (Tim Konsultasi Syariah)
Artikel www.KonsultasiSyariah.com

Nurfitri Hadi. Editor dan staf pengajar Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

NO COMMENTS

Leave a Reply