tutup Eksternal hardisk kajian video islam
cashflow laporan keuangan software akutansi terbaik
WANITA

gambar wanita mandi wajib

Mandi Wajib Hari Jum’at Bagi Wanita

Tanya:

Apakah wanita juga diwajibkan mandi setiap hari jumat? Meskipun dia tidak jumatan.

Nuwun.

Dari: N.A Yogya

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Pertama, para ulama menegaskan, siapapun mukmin yang hendak menghadiri jumatan, baik lelaki maupun wanita, dia disyariatkan untuk mandi jum’at. Kesimpulan ini berdasarkan hadis dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمُ الجُمُعَةَ، فَلْيَغْتَسِلْ

”Apabila kalian hendak jumatan, mandilah (terlebih dahulu).” (HR. Bukhari 877, Muslim 844, dan yang lainnya).

Hadis di atas juga dikuatkan oleh riwayat Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya,

مَنْ أَتَى الْجُمُعَةَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ فَلْيَغْتَسِلْ , وَمَنْ لَمْ يَأْتِهَا فَلَيْسَ عَلَيْهِ غُسْلٌ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ

”Siapa yang menghadiri jumatan, lelaki maupun wanita, maka hekdaknya dia mandi, dan siapa yang tidak mendatanginnya, maka tidak ada kewajiban mandi baginya, baik lelaki maupun wanita.” (Shahih Ibnu Khuzaimah 1752, al-Baihaqi dalam al-Kubro dan sanadnya dinilai shahih oleh al-A’dzami)

An-Nawawi mengatakan,

والجمهور يسن لكل من أراد حضور الجمعة سواء الرجل والمرأة والصبي والمسافر والعبد وغيرهم لظاهر حديث ابن عمر ولأن المراد النظافة وهم في هذا سواء

Mayoritas ulama berpendapat, dianjurkan bagi orang yang hendak menghadiri jumatan, baik lelaki, perempuan, anak-anak, musafir, budak, maupun yang lainnya. Berdasarkan kandungan hadis Ibnu Umar. Disamping itu, tujuan utama mandi adalah untuk kebersihan. Dan status mereka semua sama. (al-Majmu’ Syarh Muhadzab, 4/533).

Kedua, Dari keterangan di atas, kita mendapat kesimpulan bahwa setiap orang yang hendak menghadiri jumatan, dia disyariatkan mandi jumat. Kemudian berbeda pendapat apakah wanita yang tidak menghadiri jumatan juga dianjurkan untuk mandi pada hari jumat?

Terdapat sebuah hadis dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الغُسْلُ يَوْمَ الجُمُعَةِ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ

”Mandi hari jumat hukumnya wajib bagi setiap orang yang telah baligh.” (HR. Bukhari 858 dan Muslim 846).

Hadis ini maknanya umum, setiap orang yang baligh, dia disyariatkan mandi pada hari jumat. Baik lelaki maupun wanita. An-Nawawi dalam al-Majmu’ menyebutkan 4 pendapat ulama tentang hukum mandi jumat. Salah satu yang beliau sampaikan,

(والرابع ): يسن لكل أحد سواء من حضرها وغيره، لأنه كيوم العيد, وهو مشهود ممن حكاه المتولي وغيره

”Pendapat keempat, dianjurkan bagi setiap orang (untuk mandi jumat), baik yang hendak menghadiri jumatan maupun tidak. Karena hari jumat sebagaimana hari raya. Pendapat ini dipilih oleh beberapa ulama yang telah disebutkan oleh al-Mutawalli dan yang lainnya.”

Pendapat ini merupakan pendapat kedua dalam madzhab syafiiyah. Al-Iraqi (w. 806 H) mengatakan,

والوجه الثاني لأصحابنا أنه يستحب لكل أحد سواء حضر الجمعة أم لا كالعيد وهو مذهب الحنفية … ومذهب أهل الظاهر وجوب الاغتسال ذلك اليوم على كل مكلف مطلقا لأنهم يرونه لليوم.

Pendapat kedua dalam madzhab kami (syafiiyah), bahwa dianjurkan untuk mandi jumat bagi semua orang, baik dia hendak menghadiri jumatan atau tidak, sebagaimana ketika hari raya. Dan ini pendapat Hanafiyah. … kemudian dzahiriyah berpendapat, wajib mandi jumat bagi setiap mukallaf (muslim baligh) seluruhnya. Karena mereka menganggap, kewajiban mandi ini terkait hari jumatnya. (Tharhu at-Tatsrib, 4/50).

Tarjih:

Pendapat yang lebih kuat – allahu a’lam – adalah pendapat mayoritas ulama, bahwa mandi jumat hanya disyariatkan bagi mereka yang hendak mendatangi jumatan. Dan semua hadis tentang mandi pada hari jumat, dipahami bahwa itu terkait dengan jumatan. Kesimpulan ini berdasarkan hadis dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

”Siapa yang menghadiri jumatan, lelaki maupun wanita, maka hekdaknya dia mandi, dan siapa yang tidak mendatanginnya, maka tidak ada kewajiban mandi baginya.”

Al-Hafidz al-Iraqi menjelaskan,

مفهوم قوله: من جاء منكم الجمعة فليغتسل. أنه لا يستحب الغسل لمن لم يحضرها وقد ورد التصريح بهذا المفهوم في رواية البيهقي المتقدمة في الفائدة قبلها من حديث ابن عمر: ومن لم يأتها فليس عليه غسل من الرجال والنساء. وإسناده صحيح وهذا أصح الوجهين عند الشافعية وهو مذهب مالك وأحمد

Kandungan dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ”Siapa yang menghadiri jumatan, hendaknya dia mandi..” menunjukkan bahwa tidak dianjurkan untuk mandi bagi orang yang tidak menghadiri jumatan. Makna semacam ini telah ditegaskan dalam riwayat Baihaqi yang telah disebutkan, dari hadis Ibnu Umar, ”siapa yang tidak mendatanginnya, maka tidak ada kewajiban mandi baginya, baik lelaki maupun wanita.” sanadnya shahih. Dan ini merupakan pendapat yang kuat diantara ulama Syafiiyah, dan merupakan pendapat Imam Malik & Imam Ahmad. (Tharhu at-Tatsrib, 4/50).

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)

Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

mandi wajib ketika puasa ramadhan

Lupa Mandi Janabah

Assalamu’alaikum

Saya sedang hamil, usia kehamilan saya 8 minggu. kadang2 mengalami mual. ketika sehabis melakukan hubungan intim saya lupa mandi janabah, hanya mandi biasa. kejadiannya pagi, setelah mandi saya melakukan sholat dzuha, kemudian sholat dzuhur dan ashar. ketika hendak sholat maghrib saya baru teringat akan rambut saya yang masih kering dan belum di sisir. dari situ saya merasa kalo tadi pagi saya lupa mandi janabah. begitu ingat langsung mandi dan melaksanakan sholat maghrib karna sudah masuk waktu maghrib. bagaimana dengan sholat yang sebelumnya saya lakukan? apa saya harus mengulang atau bagaimana?jaket muslim yufid tv

Mohon petunjuknya… jazakallahu khoiron katsiron

Wassalamu’alaikum

Dari: I. M. (via Tanya Ustadz for Android)

Jawaban:

Wa alaikumus salam

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Diantara syarat sah shalat adalah suci dari hadats besar maupun kecil.

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا تُقْبَلُ صَلَاةٌ بِغَيْرِ طُهُورٍ

”Shalat tidak akan diterima yang dikerjakan tanpa bersuci.” (HR. Muslim 224, Nasai 139, Abu Daud 59, dan yang lainnya).

Kemudian, ulama sepakat, orang yang shalat dalam keadaan berhadas, shalatnya tidak sah, baik dia sadar maupun tidak sadar.

An-Nawawi  menegaskan,

أجمع المسلمون على تحريم الصلاة على المحدت وأجمعوا على أنها لا تصح منه سواء إن كان عالما بحدثه أو جاهلا أو ناسيا لكنه إن صلى جاهلا أو ناسيا فلا إثم عليه وإن كان عالما بالحدث وتحريم الصلاة مع الحدث فقد ارتكب معصية عظيمة

Kaum muslimin sepakat haramnya shalat bagi orang yang berhadats. Mereka juga sepakat shalat yang dikerjakan orang yang hadats tidak sah, baik dia sadar dirinya hadats atau dia tidak sadar, atau dia lupa. Hanya saja, jika dia shalat karena tidak tahu dirinya berhadats atau karena lupa, dia tidak berdosa. Dan jika dia tahu sedang berhadats dan tahu haramnya shalat dalam keadaan hadats, berarti dia telah melakukan dosa besar. (al-Majmu’ Syarh Muhadzab, 2/67).

Hal yang sama juga ditegaskan oleh al-Mardawi – ulama hambali – (w. 885 H),

لو انتبه بالغ أو من يحتمل بلوغه. فوجد بللا، جهل أنه مني: وجب الغسل مطلقا على الصحيح من المذهب

Ketika ada orang baligh terbangun dan dia menjumpai ada yang basah, sementara dia tidak tahu bahwa itu mani, maka dia wajib mandi secara mutlak menurut pendapat yang kuat dalam madzhab hambali. (al-Inshaf, 1/228)

Shalat yang Telah Dikerjakan, Wajib Diulangi

Mengingat shalat yang dikerjakan ketika junub statusnya batal, maka dia wajib mengulangi setelah mandi.

Al-Mardawi menegaskan,

وحيث وجب عليه الغسل فيلزمه إعادة ما صلى قبل ذلك

“Karena dia wajib mandi, maka dia harus mengulangi semua shalat yang telah dia kerjakan.” (al-Inshaf, 1/228)

Mengenai Teknis qadha shalatnya, telah dijelaskan Lajnah Daimah, ketika menjawab pertanyaan yang diajukan, bahwa ada orang yang mengalami hadats kemudian dia lupa. Dalam kondisi lupa junub tersebut, dia telah melaksanakan shalat 5 waktu. Dia baru ingat, ketika menjelang zuhur di hari berikutnya. Apa yang harus dilakukan orang ini?

Jawaban Lajnah Daimah,

إذا كان الواقع كما ذكر فصلاته الصلوات الخمس وهو جنب باطلة لكنه لا إثم عليه؛ لأنه معذور بسهوه، وعليه أن يغتسل من الجنابة حين تذكر، ويعجل بقضائها مرتبة ‏.

Jika realitanya seperti yang anda tanyakan, maka semua shalat 5 waktu yang telah dia kerjakan dalam keadaan junub statusnya batal. Hanya saja dia tidak berdosa. Karena dia memiliki udzur, yaitu lupa. Dia wajib segera mandi besar ketika ingat, dan segera mengqadha semua shalat yang telah dia kerjakan secara berurutan.

(Fatawa Lajnah Daimah, no. 7223)

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)

Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

pinjam sisir wanita haid

Hukum Meminjami Sisir Teman yang Lagi Menstruasi

Assalamualaikum…

Saya boleh diinformasikan tentang :

1. Hukum memberi pinjaman sisir kepada teman yang lagi menstruasi…
Karena takut rambutnya rontok, dan rambut orang yang menstruasi Khan dlm keadaan kotor…

2. Untuk melakukan sholat malam…dari bangun tidur, itu kita harus mandi atau boleh langsung berwudlu untuk melakukan sholat tahajud…
Terima kasihvideo kajian wanita muslimah

Wassalamualaikum Wr.Wb…
Sent from my iPhone

Dari: Neni

Jawaban:

Wa alaikumus salam

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Mari kita perhatikan beberapa hadis berikut,

Dari Maimunah radhiyallahu ‘anha, beliau menceritakan

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُبَاشِرُ نِسَاءَهُ فَوْقَ الْإِزَارِ وَهُنَّ حُيَّضٌ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bercumbu dengan istrinya di daerah di atas sarung, ketika mereka sedang haid. (HR. Muslim 294)

Kemudian dari A’isyah radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,

قَالَ لِيْ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله و عليه و سلم: نَاوِلِيْنِى الْجُمْرَةَ مِنَ الْمَسْجِدِ. فَقُلْتُ: إِنِّيْ حَائِضٌ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: إِنَّ حَيْضَتَكِ لَيْسَتْ فِى يَدِكِ.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruhku, “Ambilkan khumroh (sajadah kecil) di masjid.”

“Sesungguhnya aku sedang haid”, jawab ‘Aisyah.

Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya haidmu itu tidak di tanganmu” (HR. Muslim no. 298).

Aisyah radhiallahu anha juga menceritakan,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَتَّكِئُ فِي حَجْرِي وَأَنَا حَائِضٌ ثُمَّ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ

“Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersandar di pangkuanku sementara saya dalam keadaan haidh, lalu beliau membaca Al-Qur`an.“ (HR. Al-Bukhari no. 297 dan Muslim no. 301)

Semua hadis di atas merupakan dalil sangat tegas bahwa badan wanita haid, sama sekali tidak najis. Karena badan mereka tidak najis, rambut mereka juga tidak najis.

Jika jasad mereka najis, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menghindarinya atau bahkan menempatkan mereka di rumah khusus untuk wanita haid, agar badannya tidak bersentuhan dengan benda suci lainnya.

Rambut Rontok Wanita Haid

Tidak ada kewajiban untuk merawat rambut rontok wanita haid, kemudian dimandikan bersamaan ketika dia suci. Anjuran semacam ini sama sekali tidak memiliki dasar, dari al-Quran maupun hadis. Keterangan selengkapnya, bisa anda pelajari di: Bolehkan Memotoh Kuku Saat Haid

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)

Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

Sunnah Rosulullah Bagi Wanita

Assalamualaikum,

Saya mau tanya tentang sunnah rosulluah bagi kaum wanita sedangkan Nabi Muhammad adalah laki-laki. Demikian dan atas perhatiannya saya ucapkan terimakasih.

Wassalamualaikum, wr, wbr.

Dari: Abdul Mahmud

Jawaban:

Wa alaikumus salam

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Dalam hadis dari A’isyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا النِّسَاءُ شَقَائِقُ الرِّجَالِ

”Sesungguhnya wanita adalah bagian dari laki-laki.” (HR. Ahmad 26195, Abu Daud 236, Turmudzi 113, dan dihasankan Syuaib al-Arnauth. Syaikh al-Albani juga menilai hadis ini sebagai hadis shahih).

Ibnul Atsir (w. 606 H) menjelaskan tentang hadis ini,

أي نظائرهم وأمثالهم كأنهن شققن منهم ولأن حواء خلقت من آدم عليه الصلاة والسلام

“Maknanya wanita seperti lelaki, seolah para wanita saudara bagi lelaki. Karena Hawa diciptakan dari Adam ’alaihis shalatu was salam.” (Tuhfah al-Ahwadzi, 1/312).

Hadis ini menjadi kaidah baku bagi para ulama bahwa semua ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berlaku bagi lelaki dan wanita. Sunah yang beliau contohkan, juga berlaku bagi wanita, sekalipun beda jenis kelamin. Karena semua yang berlaku bagi lelaki, juga berlaku bagi wanita, kecuali jika ada dalil yang menjelaskan bahwa itu khusus bagi lelaki atau khusus bagi wanita.

Imam Al-Khithabi (w. 388 H) menjelaskan,

وفيه من الفقه إثبات القياس وإلحاق حكم النظير بالنظير فإن الخطاب إذا ورد بلفظ المذكر كان خطابا للنساء إلا مواضع الخصوص التي قامت أدلة التخصيص فيها

Dalam hadis ini terdapat kesimpulan fikih, tentang keberadaan qiyas dan menyamakan hukum suatu kasus dengan kasus yang semisal. Karena semua aturan syariah yang ditujukan bagi lelaki, juga berlaku bagi wanita. Kecuali untuk aturan khusus yang dijelaskan berdasarkan dalil yang mengkhususkan hal itu. (Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abu Daud, 1/275).

Demikian pula yang ditegaskan Imam Ibnu Baz, tentang makna hadis ini,

والمعنى والله أعلم أنهن مثيلات الرجال إلا ما استثناه الشارع؛ كالإرث والشهادة وغيرهما مما جاءت به الأدلة

“Makna hadis, bahwa para wanita itu seperti lelaki, kecuali untuk aturan yang dikhususkan syariat, seperti masalah warisan, persaksian, atau aturan lainnya yang dijelaskan oleh beberapa dalil. Allahu a’lam”

Sumber: www.binbaz.org.sa/mat/3427

Sebagai tambahan referensi, anda bisa pelajari:

Cara Sujud Wanita dalam Shalat

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)
Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

ingin hidup melajang

Memilih Hidup Melajang

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum wr wb,

mohon penjelasannya bagaimana jika seorang perempuan yang sudah berusia matang lebih memilih untuk hidup melajang, dengan alasan belum merasa siap menikah dan khawatir berlebihan tidak mampu menjadi pasangan yang baik dan mampu bersikap ikhlas bagi pasangannya kelak, apakah hukumnya secara syariat Islam jika seorang muslimah bersikap demikian, saya mohon penjelasannya, jazakallah khairanvideo kajian wanita muslimah

wassalamu’alaikum wr wb

Dari: Akhwat berinisial E.

Jawaban:

Wa ‘alaikumus salam

Alhamdulillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Allah berfirman,

وَالْقَوَاعِدُ مِنَ النِّسَاءِ اللَّاتِي لَا يَرْجُونَ نِكَاحًا فَلَيْسَ عَلَيْهِنَّ جُنَاحٌ أَنْ يَضَعْنَ ثِيَابَهُنَّ غَيْرَ مُتَبَرِّجَاتٍ بِزِينَةٍ وَأَنْ يَسْتَعْفِفْنَ خَيْرٌ لَهُنَّ

Dan para wanita tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin menikah, tidaklah berdosa menanggalkan pakaian luar mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan aurat, dan menjaga kehormatan adalah lebih baik bagi mereka (QS. An-Nur: 60)

Kemudian, dalam sebuah hadis, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan daftar orang yang mati syahid, di luar medan jihad. Diantaranya,

وَالْمَرْأَةُ تَمُوتُ بِجُمْعٍ شَهَادَةٌ

”Wanita yang mati dalam keadaan jum’in, termasuk mati syahid.” (HR. Ibnu Majah 2803, dan dishahihkan al-Albani).

Diantara makna ’mati dalam keadaan jum’in’ mati dalam keadaan masih gadis. Sebagaimana keterangan al-Hafidz Ibnu Hajar (w. 852 H) dalam Fathul Bari (6/43).

Ibnu Hazm (w. 456 H) dalam kitabnya al-Muhalla menegaskan bahwa menikah hukumnya wajib bagi para pemuda. Akan tetapi beliau mengecualikan kewajiban itu bagi wanita. beliau menegaskan bahwa wanita tidak wajib menikah. Dua dalil di atas, menjadi alasan beliau untuk mendukung pendapatnya. Setelah membahas hukum nikah bagi pemuda, Beliau menegaskan,

وليس ذلك فرضا على النساء، لقول الله تعالى عز وجل: {والقواعد من النساء اللاتي لا يرجون نكاحا}، وللخبر الثابت عن رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم… فيها: والمرأة تموت بجمع شهيدة» . قال أبو محمد: وهي التي تموت في نفاسها، والتي تموت بكرا لم تطمث.

“Menikah tidak wajib bagi wanita. berdasarkan firman Allah ta’ala, ‘Dan para wanita tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin menikah’ dan berdasarkan hadis shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyatakan, ‘Wanita yang mati dalam keadaan jum’in, dia mati syahid’. Abu Muhammad (Ibnu Hazm) mengatakan, Yaitu wanita yang mati ketika nifas atau yang mati ketika masih gadis, yang belum digauli.” (al-Muhalla, 9/5).

Pendapat Ibnu Hazm ini dikuatkan oleh Syaikh Mustofa al-Adawi – seorang ulama ahli hadis d Mesir –. Dalam buku beliau, Jami’ Ahkam an-Nisa (kumpulan hukum tentang wanita), beliau menegaskan,

لا يجب على النساء أن يتزوجن، وذلك لأنني لا أعلم دليلا صريحا يوجب عليها ذلك

“Tidak wajib bagi wanita untuk menikah, karena saya tidak menjumpai adanya dalil tegas yang menunjukkan kesimpulan wajibnya menikah bagi mereka.” (Jami’ Ahkam an-Nisa, 5/287).

Kemudian Syaikh Musthofa menyebutkan dalil yang menguatkan pendapat beliau, sebuah hadis dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِابْنَةٍ لَهُ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذِهِ ابْنَتِي قَدْ أَبَتْ أَنْ تَتَزَوَّجَ، فَقَالَ لَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “أَطِيعِي أَبَاكِ” فَقَالَتْ: وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ لَا أَتَزَوَّجُ حَتَّى تُخْبِرَنِي مَا حَقُّ الزَّوْجِ عَلَى زَوْجَتِهِ؟ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “حَقُّ الزَّوْجِ عَلَى زَوْجَتِهِ أَنْ لَوْ كَانَتْ قَرْحَةٌ فَلَحَسَتْهَا مَا أَدَّتْ حَقَّهُ”. قَالَتْ: وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ لَا أَتَزَوَّجُ أَبَدًا، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “لَا تَنْكِحُوهُنَّ إِلَّا بإذنهن”

Ada seorang sahabat yang datang menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama putrinya. ‘Putriku ini menolak untuk menikah.’ Kata orang itu.

Nasehat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ’Taati bapakmu.’

”Demi Dzat yang mengutus anda dengan membawa kebenaran, saya tidak akan menikah sampai anda sampaikan kepadaku, apa hak suami yang menjadi kewajiban istrinya?” tanya si wanita.

Si wanita itupun mengulang-ulang pertanyaannya.

Sabda beliau, ”Hak suami yang menjadi kewajiban istrinya, bahwa andaikan ada luka di badan suami, kemudian dia jilati luka itu, dia belum memenuhi seluruh haknya.”

” Demi Dzat yang mengutus anda dengan membawa kebenaran, saya tidak akan menikah selamanya.”

Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Janganlah kalian menikahkan putri kalian, kecuali dengan izin mereka.” (HR. Ibnu Hibban 4164, Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf 17122, al-Hakim dalam Mustadrak 2767, ad-Darimi dalam Sunannya 3571. Hadis ini dinilai hasan Syuaib al-Arnauth)

Anda bisa perhatikan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyalahkan perkataan wanita tersebut, yang bersumpah tidak akan menikah selamanya. Menunjukkan bahwa prinsip itu tidaklah bertentangan dengan syariat.

Boleh bukan Berarti Dianjurkan

Boleh bukan berarti dianjurkan. Karena secara umum, bagi seluruh kaum muslimin, menikah jauh lebih baik dari pada melajang. Ada sejuta manfaat dan kebaikan yang didapatkan seseorang melalui jalan menikah. Manfaat dunia dan akhirat. Dalam al-Quran menceritakan tentan para rasul-Nya, bahwa diantara ciri mereka adalah memiliki istri dan keluarga,

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِنْ قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ أَزْوَاجًا وَذُرِّيَّةً

Sungguh Aku telah mengutus banyak rasul sebelum kamu, dan Aku jadikan untuk mereka, istri dan keluarga…(QS. Ar-Ra’du: 38).

Kita memahami, sifat terpuji yang dimiliki para rasul sangat banyak. Karena mereka adalah manusia pilihan yang Allah tunjuk sebagai utusannya. Segala kelebihan dzahir dan batin ada pada mereka. Baik yang diceritakan dalam al-Quran maupun yang tidak diceritakan. Terlebih ciri dan sifat yang diceritakan yang disebutkan dalam al-Quran, umumnya memiliki nilai yang lebih istimewa, atau setidaknya bisa dijadikan panutan bagi manusia lainnya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim, bahwa Sa’d bin Hisyam pernah menemui Aisyah radhiyallahu ‘anha dan berkata, “Saya ingin melajang sampai mati.” Seketika itu, Aisyah langsung menyanggah,

لَا تَفْعَلْ، أَمَا سَمِعْتَ اللَّهَ يَقُولُ: وَلَقَدْ أَرْسَلْنا رُسُلًا مِنْ قَبْلِكَ وَجَعَلْنا لَهُمْ أَزْواجاً وَذُرِّيَّةً

“Jangan kau lakukan. Tidakkah kau mendengar firman Allah (yang artinya), ‘Sungguh Aku telah mengutus banyak rasul sebelum kamu, dan Aku jadikan untuk mereka, istri dan keluarga…’.” (Fathul Qadir, 3/106).

Meskipun semuanya akan memberikan konsekuensi, yang manis maupun pahit. Karena semua pilihan dalam hidup pasti mengandung manfaat sekaligus resiko. Namun bagi muslim yang sabar, segala bentuk resiko itu, justru akan menjadi sumber pahala baginya.

  • Repotnya istri melayani suami, menjadi sumber pahala baginya.
  • Muncul konflik keluarga, bisa menjadi penghapus dosa jika disikapi dengan benar.
  • Repotnya sang ibu ketika hamil dan melahirkan, menjadi sumber pahala baginya.
  • Repotnya sang ibu mengurus anak, menjadi sumber pahala baginya.
  • Karena semua kesedihan yang dialami muslim, tidak akan disia-siakan oleh Allah,

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا يُصِيبُ المُسْلِمَ، مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ، وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidak ada satu musibah yang menimpa setiap muslim, baik rasa capek, sakit, bingung, sedih, gangguan orang lain, resah yang mendalam, sampai duri yang menancap di badannya, kecuali Allah jadikan hal itu sebagai sebab pengampunan dosa-dosanya.” (HR. Bukhari 5641).

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)

Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

Hak Istri Terhadap Suaminya yang Telah Mati

Apakah Istri Punya Hak terhadap Suami Setelah Suaminya Meninggal?

Assalamu’alaikum….
ustadz apakah istri tidak memiliki hak lg terhadap suaminya yg telah meninggal?

Dari: Nuke Hardiyati

Jawaban:

Wa alaikumus salam
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Menjadi janda merupakan pilihan yang sangat berat bagi kebanyakan wanita. Tidak hanya beban berat bagi dirinya, termasuk bagi keluarganya. Masa-masa indah bersama suami yang telah meninggal dunia, kini tinggal kenangan yang tak mungkin lagi berulang. Terlebih ketika tidak ada lagi harapan untuk membangun keluarga baru dengan suami yang baru.shirt polo muslim

Di sebagian suku india, beberapa wanita membakar diri bersama mayat suaminya. Bahkan ini menjadi doktrin agama Brahma yang mereka anut. Tradisi ini juga terjadi di suku Inka di Peru, kepulauan Fiji, dan beberapa suku di Cina.

Islam tidak mewajibkan apapun kepada wanita yang ditinggal mati suami, selain ihdad (menjalani masa berkabung). Dimana sang istri tidak diperkenankan untuk berdandan dan menerima lamaran nikah selama masa iddah. Batas masa iddah untuk wanita yang tidak sedang hamil adalah 4 bulan 10 hari, sementara untuk wanita hamil, batasnya sampai dia melahirkan. Setelah masa ini, sang janda boleh berdandan selama tidak keluar batas syariah, dan boleh menikah lagi.

Istri Dunia, Istri Akhirat

Adanya ikatan iman pada pasangan suami istri di dunia, akan Allah abadikan sampai kiamat. Karena ikatan iman ini, Allah pertemukan mereka kembali, dan Allah jadikan mereka sebagai suami istri di surga. Dan setiap wanita, akan dikumpulkan bersama suaminya yang terakhir. Dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أيما امرأة تُوفي عنها زوجها ، فتزوجت بعده ، فهي لآخر أزواجها

“Wanita mana pun yang ditinggal mati suaminya, kemudian si wanita menikah lagi, maka dia menjadi istri bagi suaminya yang terakhir.” (HR. Thabrani dalam al-Ausath 3248 dan dinilai sahih oleh al-Albani).

Karena itulah, para istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak diperbolehkan untuk dinikahi oleh lelaki yang lain, sepeninggal beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah berfirman,

وَمَا كَانَ لَكُمْ أَنْ تُؤْذُوا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا أَنْ تَنْكِحُوا أَزْوَاجَهُ مِنْ بَعْدِهِ أَبَدًا إِنَّ ذَلِكُمْ كَانَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمًا

Kalian tidak boleh menyakiti hati Rasulullah dan tidak pula menikahi istri-istrinya selama-lamanya sesudah dia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah Amat besar (dosanya) di sisi Allah. (QS. Al-Ahzab: 53)

Diantara hikahnya, mereka akan menjadi istri-istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kelak di surga. Dan tidak ada manusia yang surganya lebih mulia dibanding beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Nailah bintu al-Farafishah adalah istri Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu. Beliau menjadi saksi sejarah pembunuhan Utsman yang dilakukan oleh para pemberontak. Seusai masa iddah, beliau dilamar oleh Muawiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhuma.

Namun Nailah menolaknya. Nailah pernah mengatakan,

إنى رأيت الحب يبلى كما يبلى الثوب ، وقد خشيت أن يبلى حزن عثمان من قلبى، والله لا قعد أحد منى مقعد عثمان أبدا

”Aku merasa rasa cintaku bisa luntur sebagaimana baju yang luntur. Namun aku khawatir, kesedihanku terhadap Utsman akan luntur dari hatiku. Demi Allah, tidak ada yang bisa menggantikan kedudukan Utsman untuk diriku selamanya.” (al-Aqdu al-Farid, 3/199).

Hujaimah bintu Hay, Ummu Darda as-Sughra pernah dilamar oleh seseorang sepeninggal Abu Darda radhiyallahu ‘anhu. Namun beliau menolak dan mengatakan,

سمعت أبا الدرداء يقول : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ” المرأة لآخر أزواجها” ولست أريد بأبى الدرداء بديلا

”Saya mendengar Abu Darda meriwayat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ’Wanita akan dikumpulkan bersama suami yang terakhir.’ Dan saya tidak ingin ada yang menggantikan posisi Abu Darda.” (al-Mathalib al-Aliyah, Ibn Hajar, 5/274).

Keterangan di atas menunjukkan bahwa sang istri yang ditinggal mati suami, masih memiliki hak terhadap suaminya. Hak mereka tidak menjadi putus sama sekali, setelah berakhirnya masa iddah. Selama mereka tidak menikah dengan lelaki yang lain. Karena itu, Allah abadikan ikatan pernikahan mereka sampai di akhirat. Allah pertemukan mereka dan menjadi suami istri di surga.

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)

Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

hukum memakai celana panjang bagi wanita

Memakai Celana Panjang Bagi Wanita

Pertanyaan:

Apakah hukumnya memakai celana panjang yang banyak dipakai wanita di zaman sekarang?

Jawaban:

Segala puji bagi Allah Subhanahuwata’alla Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya serta yang mengikuti mereka hingga hari pembalasan.aplikasi konsultasi syariah

Sebelum menjawab pertanyaan ini, saya memberi nasehat kepada laki-laki yang beriman: Hendaklah mereka menjadi pemimpin bagi orang-orang yang berada di bawah tanggung jawabnya, seperti anak laki-laki dan wanita, istri, saudari dan selain mereka. Hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah Subhanahuwata’alla dalam kepemimpinan ini. Hendaklah mereka tidak melepaskan tali ikatan kepada wanita, yang Nabi Muhammad salallahu’alihi wassalam bersabda pada diri mereka:

قال رسول الله : (ماَ رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِيْنٍ أَذْهَبَ لِلُبِّ الرَّجُلِ الْحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ )

Rasulullah salallahu’alihi wassalam bersabda: “Aku tidak melihat dari wanita-wanita yang kurang akal dan agama yang lebih mempengaruhi bagi hati laki-laki yang bijaksana selain dari salah seorang dari kalian.” [HR. Al-Bukhari 304, 1462 dan Muslim 79]

Dan saya berpendapat agar kaum muslimin jangan berjalan mengikuti mode ini, berupa berbagai jenis pakaian yang muncul dan banyak dijumpai yang diadaptasi dari trend mode budaya barat, dan kebanyakan darinya tidak sesuai dengan pakaian islami yang harus menutup semua tubuh wanita, seperti pakaian-pakaian pendek, ketat atau tipis. Termasuk di antaranya adalah celana panjang, sesungguhnya ia menggambarkan bentuk kaki wanita, demikian pula perut, pinggang, kedua payudaranya dan bentuk dari anggota tubuh lainnya. Maka memakainya termasuk dalam hadits Nabi Muhammad salallahu’alihi wassalam:

قال رسول الله : (صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا: قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُوْنَ بِهَا النَّاسَ, وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ, مُمِيْلاَتٌ مَائِلاَتٌ, رُؤُوْسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ, لاَيَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَيَجِدْنَ رِيْحَهَا, وَإِنَّ رِيْحَهَا لَيُوْجَدُ مِنْ مَسِيْرَةِ كَذَا وَكَذَا)

Rasulullah bersabda: ‘Ada dua golongan penghuni neraka yang belum aku lihat: Orang-orang yang memiliki cemeti seperti ekor sapi yang dengannya mereka memukul manusia. Dan wanita yang berpakaian seperti telanjang, berlenggang-lenggok dan menggoyang-goyangkan pundaknya, kepala mereka seperti punuk unta yang bergoyang-goyang. Mereka tidak masuk surga dan tidak mencium aromanya, dan sesungguhnya aromanya bisa tercium dari jarak seperti ini dan seperti ini.” [HR. Muslim 2128.]

Nasehat saya bagi laki-laki dan wanita yang beriman: hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah Subhanahuwata’alla, bersungguh-sungguh memakai pakaian islami yang menutup tubuh dan janganlah mereka menyia-nyiakan harta mereka untuk mengoleksi seperti pakaian ini. Wallahul muwaffiq.

Pertanyaan 2:

Syaikh, alasan mereka bahwa celana panjang ini lebar dan luas, di mana sudah menutup (semua tubuh)?

Jawaban 2:

Sekalipun luas dan lebar karena membedakan engkau dari laki-laki yang cenderung tidak menutup rapat. Kemudian, dikhawatirkan juga termasuk wanita yang menyerupai laki-laki karena celana panjang termasuk pakaian laki-laki.

Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin – Dakwah, edisi 1/1476 – 18-8-1415 H.

Sumber: Islamhouse.com (publish ulang www.KonsultasiSyariah.com)

apa hamil anggur

Hamil Anggur

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum.

Aku mau tanya Dok. Apa itu hamil anggur? Bagaimana bisa terjadi? Dan bagaimana cara menanggulanginya?

Trim’s

Dari: Ana

Jawaban:

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh.

Terima kasih atas pertanyaan yang Saudara berikan kepada kami.

Hamil anggur, atau istilah medisnya mola hydatidiformis, adalah pertumbuhan jaringan hasil pembuahan tak normal di dalam rahim tanpa disertai adanya janin. Kondisi ini merupakan jenis jinak dari penyakit trofoblastik gestasional.

Hamil anggur atau disebut juga kehamilan molar terjadi ketika:

– 1 sel sperma membuahi sel ovum yang tidak memiliki materi genetik (kromosom). Pada sebagian besar kasus, tidak akan terbentuk embrio dan hasil pembuahan akan luruh keluar (keguguran spontan). Namun pada sebagian wanita, hasil pembuahan akan terus bertahan dan menempel di dinding rahim, tanpa embrio, namun hanya berisi sel-sel trofoblas. Sel-sel ini berkembang pesat, disertai dengan terbentuknya plasenta dan produksi hormon hCG yang berlebih, sehingga ibu mengira masih hamil. Hasil pembuahan sperma dan ovum kosong adalah mola hidatidiformis komplit.

– 2 sperma membuahi 1 sel telur normal, sehingga terjadi penumpukan terlalu banyak materi genetik. Embrio berkembang beberapa waktu, namun akan tertekan dan mati akibat perkembangan sel trofoblas yang lebih pesat. Tanda-tandanya juga menyerupai kehamilan normal di awalnya, sebab produksi hormon hCG terus berlangsung. Jenis pembuahan ini menghasilkan mola hidatidiformis parsial. Jumlah hormon hCG pada kehamilan molar sangat tinggi jika dibandingkan kehamilan biasa, dan merupakan indikator pertama adanya kehamilan molar sebelum USG dan pemeriksaan jaringan dilakukan.

Beberapa tanda kehamilan molar antara lain adalah:

  • Gejala kehamilan seperti mual dan muntah, rasa nyeri pada payudara, terhentinya menstruasi, dan pembesaran rahim. Namun pada kehamilan molar, pembesaran rahim lebih besar dibandingkan besar seharusnya untuk usia kehamilan, karena pertumbuhan jaringan molar yang lebih pesat dibanding janin biasa.
  • Pendarahan pada awal kehamilan, yang sering dikelirukan dengan keguguran.
  • Pada kasus yang jarang, kehamilan molar dapat menyebabkan mual dan muntah berlebihan (hiperemesis gravidarum).

Terkadang kehamilan molar juga tidak menimbulkan gejala, dan diketahui melalui USG rutin pada pemeriksaan antenatal.

Wanita yang mengalami kehamilan molar harus menjalani prosedur pengeluaran produk kehamilan, baik dengan kuret, suction, maupun operasi jika diperlukan. Setelah itu, karena sebagian kecil mola hidatidiformis dapat berkembang menjadi keganasan trofoblastik (kanker yang timbul dari jaringan sel trofoblas), maka dokter akan meminta Ibu untuk kontrol rutin selama beberapa waktu, dengan tujuan memastikan jaringan molar tidak berubah menjadi ganas.

Semoga bermanfaat.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh

Dijawab oleh dr. Hafid N (Pengasuh Rubrik Kesehatan KonsultasiSyariah.com)

Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

belum hamil

Hamil Keluar Banyak Darah

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum.

Saya Tia, perempuan usia 17 tahun. Saya punya masalah tntang mens saya, terakhir saya mens Februari tanggal 12. Pada bulan Maret saya tidak mens, saya coba tes kehamilan ternyata positif. Sebelumnya saya konsumsi obat pelancar haid, 1 minggu telat baru saya tes.

Nah tanggal 26 April saya mens tapi hari pertama dan kedua darah keluar sedikit-sedikit terpaksa saya menggunakan pantyliner. Pada hari ketiga sore, perut saya mulai seperti kram dan mngeluarkan darah sangat deras, malahan kadang deras seperti pipis, kepala juga pusing brkunang-kunang saat perut kram. Malam itu sudah ganti pembalut hingga 4x, terdapat gumpalan darah yang terus keluar. Saya coba ke WC terdapat gumpalan yang cukup besar sedkit keras dan banyak. Alhamdulillah, setelah itu perut tidak begitu sakit lagi dan sedikit bisa tidur nyenyak. Setelah itu gumpalan juga tidak keluar banyak.

Pertanyaan saya, kenapa bisa terjadi hal demikian?

Terima kasih

Dari: Tia

Jawaban:

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh.

Terima kasih atas pertanyaan yang diberikan kepada kami.

Dari riwayat yang Saudari sebutkan, yakni adanya riwayat terlambatnya menstruasi disertai tes kehamilan yang positif, kemungkinan besar pada saat pemeriksaan tersebut memang benar bahwa Saudari sedang mengandung, kecuali jika sebelumnya Saudari belum pernah melakukan hubungan suami istri; karena pada tes kehamilan jarang dijumpai hasil positif palsu, yang biasanya terjadi akibat adanya hormon lain dalam urin yang menyerupai hormon beta-hCG pada kehamilan.

Akan tetapi, jika melihat dari riwayat keluarnya darah dan gumpalan setelahnya, diiringi rasa nyeri dan kram yang berkurang setelah gumpalan keluar, kemungkinan besar telah terjadi abortus / keguguran spontan, dan produk kehamilan telah dikeluarkan oleh rahim, karena rahim telah berhenti berkontraksi (yang dirasakan pemilik rahim sebagai rasa kram). Namun demikian, untuk memastikan rahim sudah benar-benar bersih, kami sarankan Saudari beserta suami untuk memeriksakan diri ke dokter kandungan, sehingga jika ada sisa jaringan produk kehamilan yang masih menetap di dalam rahim dapat dibersihkan misalnya melalui proses kuret, dan rahim dapat pulih dengan lebih baik.

Semoga bermanfaat.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh

Dijawab oleh dr. Hafid N (Pengasuh Rubrik Kesehatan KonsultasiSyariah.com)

Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

beda mani dan keputihan wanita

Beda Mani dan Keputihan bagi Wanita

Apa bedanya mani perempuan dan keputihan?

Dari: Dewi

(Dikirim melalui Aplikasi Tanya Ustadz untuk Windows Phone)

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du

Ada beberapa cairan yang keluar dari wanita, selain darah, diantaranya: mani, madzi, dan keputihan.

Berikut ciri khas masing-masing dan perbedaannya,

Pertama, mani

Diantara ciri mani wanita,

1. Encer kekuningan

Sebagaimana yang disebutkan dalam hadis, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إن ماء الرجل غليظ أبيض ، وماء المرأة رقيق أصفر

“Mani laki-laki itu kental putih, sedangkan mani wanita agak encer berwarna kuning.” (HR. Muslim, no.311)

Meskipun terkadang ada wanita yang air maninya berwarna putih.

2. Memiliki bau khas seperti bau mayangnya kurma, yang jika kena air seperti bau putih telur.

3. Disertai orgasme dan terkadang rasa lemas setelah mani keluar.

Ketiga hal ini tidak disyaratkan harus ada secara bersamaan. Sehingga, meskipun yang muncul hanya salah satu ciri, sudah cukup untuk menetapkan bahwa cairan itu statusnya mani. Demikian keterangan An-Nawawi dalam Al-Majmu’ Syarh Muhadzab (2/141).

Satu lagi, termasuk ciri mani,

4. Keluar dengan cara memancar, bukan merembes. Allah berfirman tentang penciptaan manusia,

فَلْيَنْظُرِ الْإِنْسَانُ مِمَّ خُلِقَ ( ) خُلِقَ مِنْ مَاءٍ دَافِقٍ

Hendaknya manusia memperhatikan, dari mana dia diciptakan ( ) dia diciptakan dari air mani yang memancar. (QS. At-Thariq: 5 – 6)

Karakter ‘memancar’ pada mani ini mencakup mani lelaki maupun mani wanita. (Tafsir Al-Qurthubi, jilid 20, hlm. 4)

Kedua, madzi

Cairan bening agak kental yang keluar ketika syahwat naik, namun tidak sampai orgasme. Baik karena membayangkan sesuatu atau ketika bercumbu. Ketika cairan ini keluar, tidak sampai disertai lemas.

Ketiga, keputihan

Cairan bening yang keluar dari rahim, tanpa ada mukadimah syahwat sedikitpun, bahkan terkadang si wanita tidak merasakan keluarnya cairan tersebut.

Mengenai perbedaan hukum antara mani dan madzi, bisa anda pelajari di Perbedaan Air Mani Madzi dan Wadi

Sementara perbedaan antara mani dan keputihan,

Secara hukum, mani statusnya tidak najis, hanya saja jika keluar, wajib mandi. Sementara keputihan, pendapat yang kuat tidak najid, namun membatalkan wudhu.

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)

Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

SOCIAL

9,951FansLike
4,525FollowersFollow
33,427FollowersFollow
61,951SubscribersSubscribe

RAMADHAN

Dukung KonsultasiSyariah.com
dengan Donasi!

BNI SYARIAH
0381346658
a.n. Yufid Network Yayasan
***
BANK SYARIAH MANDIRI
7086882242
a.n. Yayasan Yufid Network
***
PAYPAL
finance@yufid.org
Konfirmasi via email: finance@yufid.org

Powered by WordPress Popup