tutup Eksternal hardisk kajian video islam
cashflow laporan keuangan software akutansi terbaik
WANITA

perempuan naik motor laki

Wanita Naik Motor Laki

Apa hukum wanita naik motor laki? Krn banyak beberapa wanita naik motor laki, sehingga terlihat gagah perkasa. Nuwun.

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Pertama, pada prinsipnya, wanita dibolehkan menunggang kendaraan, seperti onta. Dan kebiasaan wanita naik onta, satu hal yang wajar di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُ نِسَاءٍ رَكِبْنَ الْإِبِلَ نِسَاءُ قُرَيْشٍ

”Sebaik-baik wanita yang menunggang onta adalah wanita Quraisy.” (HR. Bukhari 5365 & Muslim 2527).

Yang dimaksud ‘wanita menunggang onta’ adalah wanita arab. Sehingga makna hadis, sebaik-baik wanita arab adalah wanita Quraisy. Sehingga hadis ini mengisyaratkan bahwa naik onta bagi wanita arab adalah satu hal yang biasa. Dan seperti yang kita tahu, onta jalannya lambat dan umumnya wanita yang naik onta, mereka duduk di dalam sekedup. Yang ini berbeda dengan naik kuda.

Kedua, sebagian ulama melarang wanita naik kuda. Mereka berdalil dengan sebuah hadis yang menyatakan,

لعن الله الفروج على السروج

”Allah melaknat farji yang berada di atas sarji”

Farji adalah kemaluan wanita, dan sarji adalah pelana kuda.

Berdasarkan hadis ini, sebagian ulama hanafiyah melarang wanita naik kuda, kecuali jika ada kebutuhan mendesak.

Dalam ad-Durrul Mukhtar – kitab madzhab hanafi – dinyatakan,

لا تركب مسلمة على سرج ، للحديث . هذا لو للتلهي . ولو لحاجة غزوٍ أو حج أو مقصد ديني أو دنيوي لا بد لها منه فلا بأس به

Seorang muslimah tidak boleh naik pelana kuda, berdasarkan hadis di atas. Ini jika untuk bermain. Namun jika karena kebutuhan perang atau haji atau kebutuhan agama atau dunia yang mengharuskannya naik kuda, hukumnya tidak masalah. (ad-Dur al-Mukhtar, al-Hasfaki, 5/745).

Hanya saja, banyak ahli hadis menyebutkan bahwa hadis ini statusnya laa ashla lahu. Itulah hadis yang tidak pernah dijumpai dalam kitab-kitab hadis. Sebagaimana keterangan Mula Ali al-Qori dalam al-Asrar al-Marfu’ah fi al-Akhbar al-Maudhu’ah. Keterangan yang sama juga disampaikan oleh Ibnu Abidin dalam Hasyiahnya (6/423).

Kesimpulannya, berdalil dengan hadis di atas untuk melarang wanita menunggang kuda tidak bisa diterima.

Ketiga, beberapa ulama melarang wanita naik kuda, namun bukan karena alasan hadis tidak jelas di atas. Mereka melarang wanita naik kuda, karena faktor menampakkan aurat dan lekuk tubuh, disamping kuda merupakan hewan tunggangan yang umumnya digunakan lelaki. Karena naik kuda menampakkan kesan gagah, dan pemberani.

Sementara wanita dilarang meniru gaya laki-laki.

Ibnu Abidin – ulama hanafi – (w. 1252 H) menjelaskan keterangan di atas,

(قَوْلُهُ لِلْحَدِيثِ) وَهُوَ “لَعَنَ اللَّهُ الْفُرُوجَ عَلَى السُّرُوجِ” ذَخِيرَةٌ. لَكِنْ نَقَلَ الْمَدَنِيُّ عَنْ أَبِي الطَّيِّبِ أَنَّهُ لَا أَصْلَ لَهُ اهـ. يَعْنِي بِهَذَا اللَّفْظِ وَإِلَّا فَمَعْنَاهُ ثَابِتٌ، فَفِي الْبُخَارِيِّ وَغَيْرِهِ” {لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُتَشَبِّهِينَ مِنْ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنْ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ}”

Keterangan penulis, ‘wanita dilarang naik kuda karena ada hadisnya’ maksudnya adalah hadis: ’Allah melaknat farji yang berada di atas sarji’ (Dzakhirah). Hanya saja, al-Madani mengutip keterangan dari Abu Thayib bahwa hadis itu la ashla lahu. Maksudnya, dengan redaksi semacam ini, tidak ada di kitab hadis. Akan tetapi, secara makna, diakui syariat. Diriwayatkan Bukhari dan lainnya sebuah hadis: ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat lelaki yang meniru gaya wanita dan wanita yang meniru gaya lelaki.’

Kemudian Ibnu Abidin menyebutkan dalil lainnya,

وَلِلطَّبَرَانِيِّ “أَنَّ امْرَأَةً مَرَّتْ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُتَقَلِّدَةً قَوْسًا فَقَالَ : لَعَنَ اللَّهُ الْمُتَشَبِّهَاتِ مِنْ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ وَالْمُتَشَبِّهِينَ مِنْ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ”

Dalam riwayat Thabrani, bahwa ada seorang wanita yang melewati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sambil berkalung busur panah. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah melaknat setiap wanita yang meniru gaya laki-laki dan lelaki yang meniru gaya wanita.

Ibnu Abidin juga memberi catatan ketika wanita terpaksa harus naik kuda,

(قوله ولو لحاجة غزوٍ إلخ) أي بشرط أن تكون متسترة وأن تكون مع زوج أو محرم

Keterangan penulis: ‘wanita boleh naik kuda untuk kebutuhan perang…’ artinya dengan syarat, tertutup, harus bersama suami atau mahram. (Hasyiah Ibnu Abidin, 6/423)

Dengan memahami keterangan di atas, kita bisa menarik kesimpulan untuk kasus wanita naik motor laki. Bagi masyarakat kita, wanita naik motor laki dianggap sebagai hal tabu. Karena masyarakat memahami, motor itu didesain khusus untuk lelaki. Memberikan kesan gagah, perkasa, gentle, pembalap, dst.

Sehingga wanita yang memakai motor laki, jelas terkena hadis larangan tasyabbuh, meniru dan menyerupai lawan jenis. ”Allah melaknat setiap wanita yang meniru gaya laki-laki dan lelaki yang meniru gaya wanita.”

Terlebih jika mereka yang naik motor semacam ini dengan mengenakan pakaian ketat, celana ketat atau menampakkan lekuk tubuh. Kasus semacam ini tidak kita bahas, karena hukumnya sudah jelas.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

status harta istri

Status Harta Istri yang Bekerja

Tanya:

Jika istri bekerja, apakah suami berhak menikmati penghasilan istri?. Misal, istri baru mendapat insentif dari perusahaan d luar gaji. Kmd suami minta sebagian uang istri utk beli iPad. Trim’s

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Tanggung jawab terbesar suami yang menjadi hak istri adalah memberikan nafkah.

Terdapat banyak dalil yang menunjukkan tanggung jawab memberi nafkah istri, diantaranya,

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ

“Lelaki adalah pemimpin bagi wanita, disebabkan kelebihan yang Allah berikan kepada sebagian manusia (lelaki) di atas sebagian yang lain (wanita) dan disebabkan mereka memberi nafkan dengan hartanya ….” (Q.S. An-Nisa':34)

Allah juga berfirman,

وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Merupakan kewajiban bapak (orang yang mendapatkan anak) untuk memberikan nafkah kepada istrinya dan memberinya pakaian dengan cara yang wajar ….” (Q.S. Al-Baqarah:233)

Dalam hadis dari Muawiyah bin Haidah radhiyallahu ‘anhu, beliau bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

‘Ya Rasulullah, apa hak istri yang menjadi tanggung jawab kami?’

Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَنْ تُطْعِمَهَا إِذَا طَعِمْتَ وَتَكْسُوَهَا إِذَا اكْتَسَيْتَ أَوْ اكْتَسَبْتَ وَلَا تَضْرِبْ الْوَجْهَ وَلَا تُقَبِّحْ وَلَا تَهْجُرْ إِلَّا فِي الْبَيْتِ

“Engkau memberinya makan apabila engkau makan, memberinya pakaian apabila engkau berpakaian, janganlah engkau memukul wajah, jangan engkau menjelek-jelekkannya (dengan perkataan atau cacian), dan jangan engkau tinggalkan kecuali di dalam rumah.” (HR. Ahmad 20013, Abu Daud no. 2142, Ibnu Majah 1850, dan dihasankan Syuaib al-Arnauth).

Nafkah Suami kepada Istri Bernilai Sedekah

Nafkah yang diberikan suami kepada istrinya, merupakan ibadah terbesar suami terhadap keluarganya. Karena memberikan nafkah keluarga merupakan beban kewajiban syariat untuk para suami.

Dari Abu Mas’ud al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا أَنْفَقَ المُسْلِمُ نَفَقَةً عَلَى أَهْلِهِ، وَهُوَ يَحْتَسِبُهَا، كَانَتْ لَهُ صَدَقَةً

”Apabila seorang muslim memberikan nafkah kepada keluarganya dan dia mengharap pahala darinya maka itu bernilai sedekah.” (HR.Bukhari 5351).

Dalam hadis lain dari Sa’d bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّكَ مَهْمَا أَنْفَقْتَ مِنْ نَفَقَةٍ، فَإِنَّهَا صَدَقَةٌ، حَتَّى اللُّقْمَةُ الَّتِي تَرْفَعُهَا إِلَى فِي امْرَأَتِكَ

“Semua nafkah yang engkau berikan, itu bernilai sedekah. Hingga suapan yang engkau ulurkan ke mulut istrimu.” (HR. Bukhari 2742 dan Muslim 1628).

Apa Cakupan Nafkah?

Dalam Fatawa Islam ditegaskan,

والنفقة تشمل : الطعام والشراب والملبس والمسكن ، وسائر ما تحتاج إليه الزوجة لإقامة مهجتها ، وقوام بدنها

Nafkah mencakup: makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, dan segala sarana yang menjadi kebutuhan istri untuk hidup dengan layak. (Fatawa Islam no. 3054).

Harta Istri

Berdasarkan keterangan di atas, kita menyimpulkan bahwa dari setiap penghasilan yang diperoleh suami, di sana ada jatah nafkah istri yang harus ditunaikan.

Ini berbeda dengan harta istri. Allah menegaskan bahwa harta itu murni menjadi miliknya, dan tidak ada seorangpun yang boleh mengambilnya kecuali dengan kerelaan istri. Dalil kesimpulan ini adalah ayat tentang mahar,

وَآتُوا النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً فَإِنْ طِبْنَ لَكُمْ عَنْ شَيْءٍ مِنْهُ نَفْسًا فَكُلُوهُ هَنِيئًا مَرِيئًا

Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya. (QS. An-Nisa: 4)

Fatawa Syabakah Islamiyah menjelaskan tafsir ayat ini,

والآية الكريمة علقت جواز أخذ مال الزوجة على أن يكون بطيب النفس وهو أبلغ من مجرد الإذن، فإن المرأة قد تتلفظ بالهبة والهدية ونحو ذلك بسبب ضغط الزوج عليها مع عدم رضاها بإعطائه، وعلم من هذا أن المعتبر في تحليل مال الزوجة إنما هو أن يكون بطيب النفس

Ayat di atas menjelaskan bahwa suami boleh mengambil harta istri jika disertai kerelaan hati. Dan kerelaan hati itu lebih dari sebatas izin. Karena terkadang ada wanita yang dia menghibahkan atau menghadiahkan hartanya atau semacamnya, disebabkan tekanan suami kepadanya. Sehingga diberikan tanpa kerelaan. Disimpulkan dari sini, bahwa yang menjadi acuan tentang halalnya harta istri adalah adanya kerelaan hati. (Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 32280)

Jika harta mahar, yang itu asalnya dari suami diberikan kepada istrinya, tidak boleh dinikmati suami kecuali atas kerelaan hati sang istri, maka harta lainnya yang murni dimiliki istri, seperti penghasilan istri atau warisan milik istri dari orang tuanya, tentu tidak boleh dinikmati oleh suaminya kecuali atas kerelaan istri juga.

Dalam Fatwa Islam ditegaskan,

وأما بخصوص راتب الزوجة العاملة : فإنه من حقها ، وليس للزوج أن يأخذ منه شيئاً إلا بطِيب نفسٍ منها

”Khusus masalah gaji istri yang bekerja, semuanya menjadi haknya. Suami tidak boleh mengambil harta itu sedikitpun, kecuali dengan kerelaan hati istrinya.” (Fatwa Islam, no. 126316) .

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)

Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

Suami Menyuruh Istri Bekerja

Menurut islam, seorang istri apakah wajib bekerja, saat ini istri bekerja tetapi pingin resign karena tidak cocok dengan pekerjaannya,
bagaimana jika suami menyuruh istri tetap bekerja?

Dari: Lin

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Bagian dari keadilan syariat, Allah bebankan tugas setiap hamba sesuai kodratnya. Kodrat yang ada pada setiap makhluk ini, menjadi jati dirinya dalam menelusuri kehidupan. Itulah keadaan paling ideal yang ada pada diri setiap makhluk dalam meniti jalan hidupnya. Layaknya SOP (stadard operating procedure) bagi setiap makhluk yang ingin meniti kehidupan yang nyaman di dunia. Istilah lain untuk menyebut “kodrat” yang saya maksud adalah “fitrah”. Para ulama bahasa, mendefinisikan “fitrah” dengan ‘ibtida’ul khilqah’ (kondisi asal penciptaan).

Fitrah antara satu jenis manusia tentu berbeda dengan fitrah jenis manusia lainnya. Fitrah lelaki jelas berbeda dengan fitrah wanita. Karena itu, masing-masing mengemban tugas yang berbeda. Hal ini telah Allah tegaskan dalam Alquran, melalui firman-Nya,

وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْأُنْثَى

“Laki-laki tidaklah sama dengan wanita ….” (Q.S. Ali Imran:36)

Bagi Anda yang ingin hidup normal, jangan coba-coba melawan fitrah Anda. Dijamin, hidup Anda akan mengalami kegelisahan dan perasaan tidak nyaman lainnya. Bagi Anda yang ditakdirkan menjadi seorang wanita, jalanilah kehidupan yang feminin, dan jangan sampai punya keinginan untuk mengubah diri, dengan berupaya menyerupai lelaki atau bergaya maskulin. Demikian juga sebaliknya, Anda yang ditakdirkan menjadi laki-laki, tunjukkan gaya hidup maskulin, karena Anda tidak memiliki plihan lain selain menjadi laki-laki. Berusaha mengubah diri, bergaya banci, atau bahkan trans-seksual, berusaha menyalahi kodrat, apa pun tujuannya, akan memberikan dampak buruk bagi kehidupan Anda. Mengingat bahaya besar mengubah fitrah kelamin, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat lelaki yang meniru gaya wanita atau wanita yang meniru gaya lelaki,

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma,

لَعَنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ المُخَنَّثِينَ مِنَ الرِّجَالِ، وَالمُتَرَجِّلاَتِ مِنَ النِّسَاءِ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat lelaki yang bergaya wanita dan wanita yang bergaya lelaki. (HR. Bukhari 5886, Abu Daud 4930, dan yang lainnya)

Cara Mengenal Fitrah

Acuan utama untuk mengetahui fitrah manusia adalah wahyu dan informasi dari Allah, dengan bahasa lain: Alquran dan Sunah. Karena yang paling tahu tentang kodrat dan fitrah kita adalah Dzat yang menciptakan kita. Keterangan tentang fitrah tersebut, terkadang Allah tuangkan dalam bentuk perintah atau berita.

Di antara fitrah yang Allah tetapkan untuk laki-laki adalah mencari nafkah untuk keluarga.

Dalil tentang masalah ini banyak sekali. Saya sebutkan yang inti saja.

Allah berfirman,

وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Merupakan kewajiban bapak (orang yang mendapatkan anak) untuk memberikan nafkah kepada istrinya dan memberinya pakaian dengan cara yang wajar ….” (Q.S. Al-Baqarah:233)

Allah juga berfirman,

لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ

“Agar orang yang memiliki kekayaan memberikan nafkah kepada (istri yang dicerai) dengan kekayaannya, sementara barang siapa yang rezekinya disempitkan, hendaknya dia memberi nafkah sesuai karunia yang Allah berikan kepadanya.” (Q.S. Ath-Thalaq:7)

Di surat an-Nisa, Allah berfirman,

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ

“Lelaki adalah pemimpin bagi wanita, disebabkan kelebihan yang Allah berikan kepada sebagian manusia (lelaki) di atas sebagian yang lain (wanita) dan disebabkan mereka memberi nafkan dengan hartanya ….” (Q.S. An-Nisa':34)

Berdasarkan ayat di atas, ada dua sebab sehingga Allah jadikan lelaki memiliki kodrat memimpin rumah tangga. Pertama, kelebihan yang Allah berikan kepada lelaki. Kedua, lelaki menanggung nafkah untuk istri dan keluarganya.

Konsekuensi hal ini, fitrah seorang istri adalah merawat anak, dan mendapatkan nafkah dari sang suami. Memahami hal ini, bekerja mencari nafkah keluarga adalah kewajiban suami dan bukan kewajiban istri.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)

Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

masa haid wanita

Batas Masa Haid

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Mayoritas ulama – madzhab Maliki, Syafii, dan Hambali – berpendapat bahwa batas maksimal waktu haid adalah 15 hari. Sedangkan menurut Hanafiyah, batas maksimal haid adalah 10 hari.

Imam Al-Baji – ulama Malikiyah – (w. ) mengatakan,

وأما المسألة الثانية وهو معرفة أكثر الحيض.. فذهب مالك والشافعي إلى أن أكثر الحيض خمسة عشر يوماً، وقال أبو حنيفة: أكثر الحيض عشرة أيام. وقال الأوزاعي: أكثر الحيض سبعة عشر يوما وبه قال داود

Masalah yang kedua, batas maksimal haid.. Imam Malik, dan Imam Syafii berpendapat bahwa batas maksimal haid adalah 15 hari. Sementara Abu Hanifah mengatakan, batas maksimal haid adalah 10 hari. Kemudian al-Auza’i mengatakan, maksimal haid adalah 17 hari, dan ini merupakan pendapat Daud az-Zahiri. (al-Muntaqa Syarh al-Muwatha’, 1/124).

Berikut keterangan dalam masing-masing kitab madzhab yang menyatakan batas maksimal haid 15 hari,

1. Madzhab Mailiki

Dalam al-Mudawanah ‘ala al-Fiqh al-Maliki dinyatakan,

قال ابن نافع عن عبد الله بن عمرو عن ربيعة ويحيى بن سعيد وعن أخيه عبد الله أنهما كانا يقولان: أكثر ما تترك المرأة الصلاة للحيضة خمسة عشرة ليلة ثم تغتسل وتصلي

Ibnu Nafi mengatakan dari Abdullah bin Amr dari Rabi’ah dan Yahya bin Said, dari saudaranya Abdullah bin Said, keduanya mengatakan,

“Batas maksimal seorang wanita boleh meninggalkan shalat karena haid adalah 15 hari, kemudian dia harus mandi dan shalat.” (al-Mudawanah, 1/151).

2. Madzhab Syafiiyah

Dalam Matan Ghayah wa Taqrib (Matan Abi Syuja’) dinyatakan,

وأقل الحيض : يوم وليلة وأكثره : خمسة عشر يوما وغالبه : ست أو سبع

Batas minimal haid adalah sehari semalam, sedangkan batas maksimalnya adalah 15 hari, dan umumnya haid terjadi selama 6 atau 7 hari. (Matan Ghayah wa Taqrib, Abi Syuja’, hlm. 51)

3. Madzhab Hambali

Dalam Kasyaful Qana’ dinyatakan

(وأكثره) أي: الحيض (خمسة عشر يوماً) بلياليهن؛ لقول علي: ما زاد على الخمسة عشر استحاضة

Maksimal haid adalah 15 hari/malam, berdasarkan keterangan dari Ali bin Abi Thalib, “Yang lebih dari 15 hari, statusnya mustahadhah.” (Kasyaful Qana’, 1/203).

Hal yang sama juga disampaikan Ibnu Qudamah,

وأقل الحيض يوم وليلة، وأكثره خمسة عشر يوماً. هذا الصحيح من مذهب أبي عبد الله، وقال الخلال: مذهب أبي عبد الله لا اختلاف فيه، أن أقل الحيض يوم، وأكثره خمسة عشر يوماً

Batas minimal haid adalah sehari semalam, dan maksimal waktu haid adalah 15 hari. Inilah pendapat yang benar dalam madzhab Imam Ahmad (Abu Abdillah). Al-Khallal mengatakan, ‘Pendapat Abu Abdillah – Imam Ahmad’ – bahwa batas minimal haid sehari semalam, dan batas maksimalnya 15 hari. (al-Mughni, 1/224)

Pendapat jumhur berdalil dengan keterangan dari seorang tabiin, Atha bin Abi Rabah yang diriwayatkan oleh Bukhari secara muallaq.

وَقَالَ عَطَاءٌ: الحَيْضُ يَوْمٌ إِلَى خَمْسَ عَشْرَةَ

Atha mengatakan, ”Haid minimal sehari hingga 15 hari.” (HR. Bukhari secara muallaq).

Kasus Darah Haid yang Keluar Sedikit-sedikit

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk kasus darah haid yang keluar sedikit-sedikit dan cukup lama,happy call murah untuk masak

  1. Batas haid selama 15 hari berlaku jika darah haid terus keluar secara bersambung.
  2. Jika haid sudah putus sebelum 15 hari, kemudian keluar lagi lendir darah sedikit atau flek, maka darah yang keluar kedua ini tidak dihitung sebagai haid.
  3. Cairan keruh atau kekuningan yang keluar bersambung haid, dihitung haid
  4. Cairan keruh atau kekuningan yang keluar setelah darah haid putus, tidak dihitung haid.

Keterangan selengkapnya bisa anda pelajari di:

Allahu a’lam

Ditulis oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)

Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

tabarruj

Istri Disuruh Memakai Bedak dan Lipstik

Assalamualaikum ustad

Jika suami memberi saya saran agar memakai bedak dan lipstik jika pergi keluar bersamanya, apakah termasuk tabarruj?

Dari : Ibu D.

Jawaban:

Wa alaikumus salam wa rahmatullah

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Apa itu Tabarruj?

Kata tabarruj Allah sebutkan dalam al-Quran di surat al-Ahzab,

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى

”Hendaklah kalian (para wanita) tetap di rumah kalian dan janganlah kalian bertabarruj dan seperti tabarruj orang-orang Jahiliyah yang dahulu…” (QS. Al-Ahzab: 33)

Al-Qurthubi menjelaskan makna at-tabarruj secara bahasa, beliau mengatakan,

وَالتَّبَرُّجُ: التَّكَشُّفُ وَالظُّهُورُ لِلْعُيُونِ، وَمِنْهُ: بُرُوجٌ مُشَيَّدَةٌ. وَبُرُوجُ السَّمَاءِ وَالْأَسْوَارِ، أَيْ لَا حَائِلَ دُونَهَا يَسْتُرُهَا

Tabarruj artinya menyingkap dan menampakkan diri sehingga terlihat pandangan mata. Contohnya kata: ’buruj musyayyadah’ (benteng tinggi yang kokoh), atau kata: ’buruj sama’ (bintang langit), artinya tidak penghalang apapun di bawahnya yang menutupinya. (Tafsir al-Qurthubi, 12/309).

Sementara makna tabbaruj seperti yang disebutkan dalam ayat, Ibnul Jauzi dalam tafsirnya menyebutkan dua keterangan ulama tentang makna tabarruj,

Pertama, Abu ubaidah,

التبرُّج: أن يُبْرِزن محاسنهن

“Tabarruj: wanita menampakkan kecantikannya (di depan lelaki yang bukan mahram).”

Kedua, keterangan az-Zajjaj,

التبرُّج: إِظهار الزِّينة وما يُستدعى به شهوةُ الرجل

“Tabarruj: menampakkan bagian yang indah (aurat) dan segala yang mengundang syahwat lelaki (non mahram).”

[Zadul Masir fi Ilmi at-Tafsir, 3/461].

Berdasarkan keterangan di atas maka segala upaya wanita menampakkan kecantikannya di depan lelaki lain yang bukan mahram, termasuk bentuk tabarruj yang dilarang dalam ayat di atas. Karena itu, memakai pakaian ketat, pakaian transparan, atau menutup sebagian aurat, namun aurat lainnya masih terbuka, atau obral make up ketika keluar rumah, semuanya termasuk bentuk tabarruj yang dilarang dalam syariat.

Kecantikan wanita bukan untuk diumbar, sehingga dinikmati banyak mata lelaki jelalatan, namun kecantikan menjadi hak suami, sang imam bagi istrinya.

Dan bagi anda para suami, jadilah suami yang memiliki rasa cemburu, karena itu bukti bahwa anda mencintai istri anda.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)

Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

membakar darah haid

Membakar Bekas Darah Haid

Assalamuallaikum.

Apakah membakar darah haid atau darah biasa itu diperbolehkan? Lalu apa setelah haid kita wajib mencuci rambut yang rontok
saat kita haid?

Mohon pencerahannya, terima kasih

Wa’alaikumussalam

Dari: Wulanbuku panduan nikah sesuai syariah

Jawaban:

Wa alaikumus salam wa rahmatullah

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Kaum muslimin sepakat, darah haid statusnya najis. Dan sesuatu yang najis, bisa dibuang dimanapun dengan cara apapun, selam tidak mengganggu lingkungan.

Allah ta’ala menyebut darah haid sebagai kotoran,

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ

“Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: “Haidh itu adalah suatu kotoran”. oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh.” (QS. Al-Baqarah: 222)

Sementara itu, kami tidak menjumpai adanya dalil yang menjelaskan tata cara khusus membuang darah haid. Karena itu, tidak masalah ketika darah haid dimusnahkan dengan cara dibakar atau dikubur atau cara lainnya, dengan syarat, tidak mengganggu lingkungan.

Dalam Fatawa Syabakah Islamiyah ditegaskan,

فحرق دم الطمث ورميه في سلة النفايات أو في الصناديق المعدة للقمامة ليس في أي شيء من ذلك من حرج، إذ لا يوجد دليل بالنهي عنه، ولأن دم الحيض أذى، كما قال تعالى: وَيَسْأَلونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذىً {البقرة:222}. وشأن الأذى أن يوضع في مثل تلك الأماكن، أو يتلف بأية وسيلة من وسائل الإتلاف التي منها حرقه. والله أعلم.

Membakar darah haid atau membuangnya di keranjang sampah, semuanya dibolehkan. Karena tidak dijumpai dalil yang melarang hal itu. Lebih dari itu, darah haid adalah kotoran, sebagaimana yang Allah tegaskan,

وَيَسْأَلونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذىً

Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: “Haidh itu adalah suatu kotoran”

Yang namanya kotoran, dia bisa dibuang di tempat yang layak untuknya atau dihilangkan bekasnya dengan cara apapun, diantaranya dengan cara dibakar. (Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 77095)

Sementara untuk hukum rambut rontok ketika haid, atau memotong kuku ketika haid, bisa dipelajari di: Bolehkan Memotong Kuku dan Rambut ketika Haid

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembinawww.KonsultasiSyariah.com)

Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

r

flek darah haid wanita

Flek BUKAN Haid

Assalamualaikum.
Saya ingin menanyakan, apabila pada waktu mau masuknya waktu zuhur, ada keluar flek haid (dan saya meninggalkan sholat zuhur); tapi pada waktu masuknya waktu ashar tidak ada flek lagi, apakah saya boleh sholat ashar? Atau seharusnya saya tidak boleh meninggalkan sholat zuhur tsb ?happy call murah untuk masak

Dari: Ria

Wa alaikumus salam

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Mayoritas ulama, diantaranya syafiiyah dan hambali menegaskan bahwa batas minimal haid adalah sehari semalam. Jika darah yang keluar kurang dari 24 jam, tidak terhitung haid. Sehingga flek sekali – dua kali, tidak terhitung sebagai haid.

An-Nawawi as-Syafii menyatakan,

نص الشافعي رحمه الله في العدد أن أقله يوم ، ونص في باب الحيض من مختصر المزني وفي عامة كتبه أقله يوم وليلة

Imam as-Syafii rahimahullah menegaskan tentang bilangan haid, bahwa batas minimal haid adalah sehari. Kemudian ditegaskan pula dalam Bab Haid, di Mukhtashar al-Muzanni dan di umumnya karya beliau, bahwa batas minimal haid adalah sehari semalam. (al-Majmu’ Syarh Muhadzab, 2/375).

Ibnu Qudamah al-Hambali juga menegaskan,

وأقل الحيض: يوم وليلة، وأكثره خمسة عشر يوما. هذا الصحيح من مذهب أبي عبد الله، وقال الخلال: مذهب أبي عبد الله لا اختلاف فيه، أن أقل الحيض يوم

Batas minimal haid adalah sehari semalam. Batas maksimal 15 hari. Inilah pendapat yang kuat dalam madzhab Abu Abdillah (Imam Ahmad). Al-Khalal mengatakan, Pendapat Abu Abdillah (Imam Ahmad), yang tidak ada perselisihan di dalamnya bahwa minimal haid adalah satu hari. (al-Mughni, 1/224).

Pendapat ini berdalil dengan riwayat dari seorang tabiin, Atha bin Abi Rabah yang diriwayatkan oleh Bukhari secara muallaq.

وَقَالَ عَطَاءٌ: الحَيْضُ يَوْمٌ إِلَى خَمْسَ عَشْرَةَ

Atha mengatakan, ”Haid minimal sehari hingga 15 hari.” (HR. Bukhari secara muallaq).

Kemudian, terdapat riwayat dalam Mushannaf Ibn Abi Syaibah, dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

إِذَا رَأَتِ الْمَرْأَةُ بَعْدَ مَا تَطْهُرُ مِنَ الْحَيْضِ مِثْلَ غُسَالَةِ اللَّحْمِ، أَوْ قَطْرَةِ الرُّعَافِ، أَوْ فَوْقَ ذَلِكَ أَوْ دُونَ ذَلِكَ، فَلْتَنْضَحْ بِالْمَاءِ، ثُمَّ لِتَتَوَضَّأْ وَلْتُصَلِّ وَلَا تَغْتَسِلْ، إِلَّا أَنْ تَرَى دَمًا غَلِيظًا

“Apabila seorang wanita setelah suci dari haid, dia melihat seperti air cucian daging, atau flek, atau lebih kuran seperti itu, hendaknya dia cuci dengan air, kemudian wudhu dan boleh shalat tanpa harus mandi. Kecuali jika dia melihat darah kental.” (HR. Ibnu Abi Syaibah no. 994)

Keterangan:

  • Makna ‘air cucian daging’ (Ghusalah Lahm) adalah warna darah merah pucat, layaknya air cucian daging.
  • Flek atau darah yang keluar statusnya najis, dan membatalkan wudhu. Karena itu, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu memerintahkan agar dicuci dan berwudhu jika hendak shalat.

Berdasarkan keterangan di atas, flek atau darah yang keluar hanya beberapa saat, kurang dari sehari, tidak terhitung haid.

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembinawww.KonsultasiSyariah.com)

Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

gambar wanita mandi wajib

Mandi Wajib Hari Jum’at Bagi Wanita

Tanya:

Apakah wanita juga diwajibkan mandi setiap hari jumat? Meskipun dia tidak jumatan.

Nuwun.

Dari: N.A Yogya

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Pertama, para ulama menegaskan, siapapun mukmin yang hendak menghadiri jumatan, baik lelaki maupun wanita, dia disyariatkan untuk mandi jum’at. Kesimpulan ini berdasarkan hadis dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمُ الجُمُعَةَ، فَلْيَغْتَسِلْ

”Apabila kalian hendak jumatan, mandilah (terlebih dahulu).” (HR. Bukhari 877, Muslim 844, dan yang lainnya).

Hadis di atas juga dikuatkan oleh riwayat Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya,

مَنْ أَتَى الْجُمُعَةَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ فَلْيَغْتَسِلْ , وَمَنْ لَمْ يَأْتِهَا فَلَيْسَ عَلَيْهِ غُسْلٌ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ

”Siapa yang menghadiri jumatan, lelaki maupun wanita, maka hekdaknya dia mandi, dan siapa yang tidak mendatanginnya, maka tidak ada kewajiban mandi baginya, baik lelaki maupun wanita.” (Shahih Ibnu Khuzaimah 1752, al-Baihaqi dalam al-Kubro dan sanadnya dinilai shahih oleh al-A’dzami)

An-Nawawi mengatakan,

والجمهور يسن لكل من أراد حضور الجمعة سواء الرجل والمرأة والصبي والمسافر والعبد وغيرهم لظاهر حديث ابن عمر ولأن المراد النظافة وهم في هذا سواء

Mayoritas ulama berpendapat, dianjurkan bagi orang yang hendak menghadiri jumatan, baik lelaki, perempuan, anak-anak, musafir, budak, maupun yang lainnya. Berdasarkan kandungan hadis Ibnu Umar. Disamping itu, tujuan utama mandi adalah untuk kebersihan. Dan status mereka semua sama. (al-Majmu’ Syarh Muhadzab, 4/533).

Kedua, Dari keterangan di atas, kita mendapat kesimpulan bahwa setiap orang yang hendak menghadiri jumatan, dia disyariatkan mandi jumat. Kemudian berbeda pendapat apakah wanita yang tidak menghadiri jumatan juga dianjurkan untuk mandi pada hari jumat?

Terdapat sebuah hadis dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الغُسْلُ يَوْمَ الجُمُعَةِ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ

”Mandi hari jumat hukumnya wajib bagi setiap orang yang telah baligh.” (HR. Bukhari 858 dan Muslim 846).

Hadis ini maknanya umum, setiap orang yang baligh, dia disyariatkan mandi pada hari jumat. Baik lelaki maupun wanita. An-Nawawi dalam al-Majmu’ menyebutkan 4 pendapat ulama tentang hukum mandi jumat. Salah satu yang beliau sampaikan,

(والرابع ): يسن لكل أحد سواء من حضرها وغيره، لأنه كيوم العيد, وهو مشهود ممن حكاه المتولي وغيره

”Pendapat keempat, dianjurkan bagi setiap orang (untuk mandi jumat), baik yang hendak menghadiri jumatan maupun tidak. Karena hari jumat sebagaimana hari raya. Pendapat ini dipilih oleh beberapa ulama yang telah disebutkan oleh al-Mutawalli dan yang lainnya.”

Pendapat ini merupakan pendapat kedua dalam madzhab syafiiyah. Al-Iraqi (w. 806 H) mengatakan,

والوجه الثاني لأصحابنا أنه يستحب لكل أحد سواء حضر الجمعة أم لا كالعيد وهو مذهب الحنفية … ومذهب أهل الظاهر وجوب الاغتسال ذلك اليوم على كل مكلف مطلقا لأنهم يرونه لليوم.

Pendapat kedua dalam madzhab kami (syafiiyah), bahwa dianjurkan untuk mandi jumat bagi semua orang, baik dia hendak menghadiri jumatan atau tidak, sebagaimana ketika hari raya. Dan ini pendapat Hanafiyah. … kemudian dzahiriyah berpendapat, wajib mandi jumat bagi setiap mukallaf (muslim baligh) seluruhnya. Karena mereka menganggap, kewajiban mandi ini terkait hari jumatnya. (Tharhu at-Tatsrib, 4/50).

Tarjih:

Pendapat yang lebih kuat – allahu a’lam – adalah pendapat mayoritas ulama, bahwa mandi jumat hanya disyariatkan bagi mereka yang hendak mendatangi jumatan. Dan semua hadis tentang mandi pada hari jumat, dipahami bahwa itu terkait dengan jumatan. Kesimpulan ini berdasarkan hadis dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

”Siapa yang menghadiri jumatan, lelaki maupun wanita, maka hekdaknya dia mandi, dan siapa yang tidak mendatanginnya, maka tidak ada kewajiban mandi baginya.”

Al-Hafidz al-Iraqi menjelaskan,

مفهوم قوله: من جاء منكم الجمعة فليغتسل. أنه لا يستحب الغسل لمن لم يحضرها وقد ورد التصريح بهذا المفهوم في رواية البيهقي المتقدمة في الفائدة قبلها من حديث ابن عمر: ومن لم يأتها فليس عليه غسل من الرجال والنساء. وإسناده صحيح وهذا أصح الوجهين عند الشافعية وهو مذهب مالك وأحمد

Kandungan dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ”Siapa yang menghadiri jumatan, hendaknya dia mandi..” menunjukkan bahwa tidak dianjurkan untuk mandi bagi orang yang tidak menghadiri jumatan. Makna semacam ini telah ditegaskan dalam riwayat Baihaqi yang telah disebutkan, dari hadis Ibnu Umar, ”siapa yang tidak mendatanginnya, maka tidak ada kewajiban mandi baginya, baik lelaki maupun wanita.” sanadnya shahih. Dan ini merupakan pendapat yang kuat diantara ulama Syafiiyah, dan merupakan pendapat Imam Malik & Imam Ahmad. (Tharhu at-Tatsrib, 4/50).

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)

Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

mandi wajib ketika puasa ramadhan

Lupa Mandi Janabah

Assalamu’alaikum

Saya sedang hamil, usia kehamilan saya 8 minggu. kadang2 mengalami mual. ketika sehabis melakukan hubungan intim saya lupa mandi janabah, hanya mandi biasa. kejadiannya pagi, setelah mandi saya melakukan sholat dzuha, kemudian sholat dzuhur dan ashar. ketika hendak sholat maghrib saya baru teringat akan rambut saya yang masih kering dan belum di sisir. dari situ saya merasa kalo tadi pagi saya lupa mandi janabah. begitu ingat langsung mandi dan melaksanakan sholat maghrib karna sudah masuk waktu maghrib. bagaimana dengan sholat yang sebelumnya saya lakukan? apa saya harus mengulang atau bagaimana?jaket muslim yufid tv

Mohon petunjuknya… jazakallahu khoiron katsiron

Wassalamu’alaikum

Dari: I. M. (via Tanya Ustadz for Android)

Jawaban:

Wa alaikumus salam

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Diantara syarat sah shalat adalah suci dari hadats besar maupun kecil.

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا تُقْبَلُ صَلَاةٌ بِغَيْرِ طُهُورٍ

”Shalat tidak akan diterima yang dikerjakan tanpa bersuci.” (HR. Muslim 224, Nasai 139, Abu Daud 59, dan yang lainnya).

Kemudian, ulama sepakat, orang yang shalat dalam keadaan berhadas, shalatnya tidak sah, baik dia sadar maupun tidak sadar.

An-Nawawi  menegaskan,

أجمع المسلمون على تحريم الصلاة على المحدت وأجمعوا على أنها لا تصح منه سواء إن كان عالما بحدثه أو جاهلا أو ناسيا لكنه إن صلى جاهلا أو ناسيا فلا إثم عليه وإن كان عالما بالحدث وتحريم الصلاة مع الحدث فقد ارتكب معصية عظيمة

Kaum muslimin sepakat haramnya shalat bagi orang yang berhadats. Mereka juga sepakat shalat yang dikerjakan orang yang hadats tidak sah, baik dia sadar dirinya hadats atau dia tidak sadar, atau dia lupa. Hanya saja, jika dia shalat karena tidak tahu dirinya berhadats atau karena lupa, dia tidak berdosa. Dan jika dia tahu sedang berhadats dan tahu haramnya shalat dalam keadaan hadats, berarti dia telah melakukan dosa besar. (al-Majmu’ Syarh Muhadzab, 2/67).

Hal yang sama juga ditegaskan oleh al-Mardawi – ulama hambali – (w. 885 H),

لو انتبه بالغ أو من يحتمل بلوغه. فوجد بللا، جهل أنه مني: وجب الغسل مطلقا على الصحيح من المذهب

Ketika ada orang baligh terbangun dan dia menjumpai ada yang basah, sementara dia tidak tahu bahwa itu mani, maka dia wajib mandi secara mutlak menurut pendapat yang kuat dalam madzhab hambali. (al-Inshaf, 1/228)

Shalat yang Telah Dikerjakan, Wajib Diulangi

Mengingat shalat yang dikerjakan ketika junub statusnya batal, maka dia wajib mengulangi setelah mandi.

Al-Mardawi menegaskan,

وحيث وجب عليه الغسل فيلزمه إعادة ما صلى قبل ذلك

“Karena dia wajib mandi, maka dia harus mengulangi semua shalat yang telah dia kerjakan.” (al-Inshaf, 1/228)

Mengenai Teknis qadha shalatnya, telah dijelaskan Lajnah Daimah, ketika menjawab pertanyaan yang diajukan, bahwa ada orang yang mengalami hadats kemudian dia lupa. Dalam kondisi lupa junub tersebut, dia telah melaksanakan shalat 5 waktu. Dia baru ingat, ketika menjelang zuhur di hari berikutnya. Apa yang harus dilakukan orang ini?

Jawaban Lajnah Daimah,

إذا كان الواقع كما ذكر فصلاته الصلوات الخمس وهو جنب باطلة لكنه لا إثم عليه؛ لأنه معذور بسهوه، وعليه أن يغتسل من الجنابة حين تذكر، ويعجل بقضائها مرتبة ‏.

Jika realitanya seperti yang anda tanyakan, maka semua shalat 5 waktu yang telah dia kerjakan dalam keadaan junub statusnya batal. Hanya saja dia tidak berdosa. Karena dia memiliki udzur, yaitu lupa. Dia wajib segera mandi besar ketika ingat, dan segera mengqadha semua shalat yang telah dia kerjakan secara berurutan.

(Fatawa Lajnah Daimah, no. 7223)

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)

Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

pinjam sisir wanita haid

Hukum Meminjami Sisir Teman yang Lagi Menstruasi

Assalamualaikum…

Saya boleh diinformasikan tentang :

1. Hukum memberi pinjaman sisir kepada teman yang lagi menstruasi…
Karena takut rambutnya rontok, dan rambut orang yang menstruasi Khan dlm keadaan kotor…

2. Untuk melakukan sholat malam…dari bangun tidur, itu kita harus mandi atau boleh langsung berwudlu untuk melakukan sholat tahajud…
Terima kasihvideo kajian wanita muslimah

Wassalamualaikum Wr.Wb…
Sent from my iPhone

Dari: Neni

Jawaban:

Wa alaikumus salam

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Mari kita perhatikan beberapa hadis berikut,

Dari Maimunah radhiyallahu ‘anha, beliau menceritakan

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُبَاشِرُ نِسَاءَهُ فَوْقَ الْإِزَارِ وَهُنَّ حُيَّضٌ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bercumbu dengan istrinya di daerah di atas sarung, ketika mereka sedang haid. (HR. Muslim 294)

Kemudian dari A’isyah radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,

قَالَ لِيْ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله و عليه و سلم: نَاوِلِيْنِى الْجُمْرَةَ مِنَ الْمَسْجِدِ. فَقُلْتُ: إِنِّيْ حَائِضٌ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: إِنَّ حَيْضَتَكِ لَيْسَتْ فِى يَدِكِ.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruhku, “Ambilkan khumroh (sajadah kecil) di masjid.”

“Sesungguhnya aku sedang haid”, jawab ‘Aisyah.

Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya haidmu itu tidak di tanganmu” (HR. Muslim no. 298).

Aisyah radhiallahu anha juga menceritakan,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَتَّكِئُ فِي حَجْرِي وَأَنَا حَائِضٌ ثُمَّ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ

“Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersandar di pangkuanku sementara saya dalam keadaan haidh, lalu beliau membaca Al-Qur`an.“ (HR. Al-Bukhari no. 297 dan Muslim no. 301)

Semua hadis di atas merupakan dalil sangat tegas bahwa badan wanita haid, sama sekali tidak najis. Karena badan mereka tidak najis, rambut mereka juga tidak najis.

Jika jasad mereka najis, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menghindarinya atau bahkan menempatkan mereka di rumah khusus untuk wanita haid, agar badannya tidak bersentuhan dengan benda suci lainnya.

Rambut Rontok Wanita Haid

Tidak ada kewajiban untuk merawat rambut rontok wanita haid, kemudian dimandikan bersamaan ketika dia suci. Anjuran semacam ini sama sekali tidak memiliki dasar, dari al-Quran maupun hadis. Keterangan selengkapnya, bisa anda pelajari di: Bolehkan Memotoh Kuku Saat Haid

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)

Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

SOCIAL

8,237FansLike
3,912FollowersFollow
30,010FollowersFollow
61,352SubscribersSubscribe

RAMADHAN