tutup Eksternal hardisk kajian video islam
cashflow laporan keuangan software akutansi terbaik
Darah Wanita

cairan putih setelah haid

Cairan Putih Setelah Haid

Assalamu’alaikum. Ustadz, maaf sebelumnya. Saya ingin bertanya. Setelah beres haid dan saya mandi besar, keluar cairan bening, terkadang keluarnya terasa seperti air yang mengalir terkadang tidak terasa. Kalau menempel di (maaf) CD, bekasnya tepat seperti kain yang diperciki air, tidak berwarna, tidak juga kental, hanya basah. Saya bingung apakah ini termasuk madzi atau bukan. Ketika saya telah berwudhu, dan mendapati di CD saya ada bekas seperti yang disebutkan di atas, apakah membatalkan wudhu dan harus dicuci? Mohon penjelasannya, saya bingung, Ustadz. Jazakallahu khayran.

Dari: Ummu Rubayyi
(Dikirim melalui Aplikasi Tanya Ustadz untuk Windows Phone)

Jawaban:

Wa ‘alaikumus salam

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Cairan putih pasca-haid diistilahkan dengan al-Qasshah al-Baidha. Dan cairan ini menjadi batas berhentinya haid. Meskipun tidak semua wanita mengalaminya. Anda bisa mempelajari selengkapnya di: Cara Mengetahui Berhentinya Haid

Selanjutnya, bagaimana status hukum cairan putih ini?

Ada dua pembahasan yang bisa kita singgung tentang status cairan ini,

Pertama, apakah keluar cairan ini mewajibkan mandi, layaknya orang yang keluar mani atau selesai haid?

Kita simak keterangan dalam Fatawa Syabakah Islamiyah,

فأما أن خروج القصة لا يستوجب الاغتسال: فهذا لا شك فيه، فلو استمر نزول هذه القصة بعد الاغتسال لم يجب إعادة الغسل بلا شك

Keluarnya al-Qasshah al-Baidha tidak mengharuskan orang untuk wudhu. Kita semua yakin itu. Sekalipun sering keluar cairan itu setelah mandi, tidak wajib mengulangi mandi, tanpa ragu. (Fatwa Syabakah Islamiyah, no. 209176).

Kedua, apakah cairan ini najis?

Dalam Tuhfatul Muhtaj – kitab fiqh Syafiiyah – disebutkan nukilan dari Ibnu Hajar al-Makki,

وتردد ابن العماد في طهارة القصة البيضاء وهي التي تخرج عقب انقطاع الحيض والظاهر أنه إن تحقق خروجها من باطن الفرج أو أنها نحو دم متجمد فنجسة وإلا فطاهرة

Ibnul Imad ragu tentang kesucian al-Qasshah al-Baidha’, cairan yang keluar setelah berhentinya haid. Dan yang nampak lebih benar, bahwa jika cairan ini keluar dari dalam kemaluan atau cairan ini seperti darah beku, maka statusnya najis. Jika tidak, hukumnya suci. (Tuhfatul Muhtaj, 3/305).

Akan tetapi batasan yang disampaikan terkesan masih bias. Karena cairan bening ini jelas keluar dari dalam kemaluan. Sementara hukum asal segala sesuatu adalah suci, selama tidak ada dalil bahwa itu najis.

Dalam Fatawa Syabakah Islamiyah, menyikapi keterangan Ibnu Imad dikembalikan kepada keyakinan masing-masing. Dalam Fatawa Syabakah dinyatakan,

وعليه؛ فما لم يتيقن ما ذكر فهي طاهرة، لأن الأصل هو الطهارة فيستصحب حتى يحصل اليقين بخلافه

Oleh karena itu, siapa yang tidak yakin apa yang beliau sebutkan, maka cairan ini suci baginya. Karena hukum asal segala sesuatu adalah suci. Dan hukum ini dipertahankan sampai dia yakin bahwa yang benar sebaliknya. (Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 209176)

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

thawaf

Haid Sebelum Thawaf Ifadhah

Apa yang harus dilakukan, ketika seorang wanita mengalami haid, sementara dia belum thawaf ifadah?.

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Dari A’isyah radhiyallahu ‘anha, beliau menceritakan bahwa ketika haji, A’isyah mengalami haid. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menemuinya ketika A’isyah sedang menangis,

”Kamu kenapa, apa kamu haid?” tanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

”Ya.” jawab A’isyah

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ ذَلِكِ شَيْءٌ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَى بَنَاتِ آدَمَ، فَافْعَلِي مَا يَفْعَلُ الحَاجُّ، غَيْرَ أَنْ لاَ تَطُوفِي بِالْبَيْتِ حَتَّى تَطْهُرِي

Sesungguhnya haid adalah perkara yang telah Allah tetapkan untuk putri Adam. Lakukan seperti yang dilakukan jamaah haji, hanya saja kamu tidak boleh thawaf di Ka’bah sampai kamu suci. (HR. Bukhari 294 dan Muslim 1211)

Dalam hadis yang lain juga dari A’isyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapat laporan, bahwa Shafiyah radhiyallahu ‘anha mengalami haid. Kemudian beliau bersabda,

عَقْرَى أَوْ حَلْقَى، إِنَّكِ لَحَابِسَتُنَا، أَكُنْتِ أَفَضْتِ يَوْمَ النَّحْرِ؟

”Waduh! Kamu bakal jadi sebab kami menunnggu. Apakah kamu sudah thawaf ifadah di hari raya (10 Dzulhijjah)?

”Sudah.” jawab Shafiyah.

”Silahkan pulang.” (HR. Bukhari 5329 & Muslim 1211).

Hadis ini menunjukkan bahwa andai Shafiyah belum melakukan thawaf ifadhah sebelum mengalami haid, tentu ini menjadi sebab beliau tertahan untuk tinggal di Mekah hingga suci. Sehingga hadis ini menjadi dalil mayoritas ulama, diantaranya Imam Malik, Imam as-Syafii, dan Ahmad dalam salah satu riwayat, bahwa suci dari hadats termasuk syarat sah thawaf. Karena itu, bagi wanita yang mengalami haid, dan memungkinkan baginya untuk menunggu hingga suci, misalnya karena haidnya sebentar atau dia tinggal di sekitar Mekah, atau kepulangan dia masih lama, maka dia harus menunnggu suci untuk melakukan thawaf ifadhah.

Bolehkah Thawaf dalam Kondisi Haid karena Terpaksa

Yang menjadi masalah adalah, bagaimana jika tidak memungkinkan baginya untuk menunggu? Bolehkah dia thawaf dalam keadaan haid?

Sebelumnya, di samping pendapat mayoritas ulama, di sana ada ulama yang berpendapat bahwa suci dari hadats, bukan syarat sah thawaf. Diantara yang menguatkan pendapat ini adalah Imam Abu Hanifah, dan Imam Ahmad dalam salah satu riwayat.

Syaikhul Islam pernah ditanya tentang wanita yang mengalami haid sebelum thawaf ifadhah. Kemudian beliau menyebutkan perbedaan pendapat di atas, selanjutnya beliau mengatakan,

فعند هؤلاء لو طاف جنبا أو محدثا أو حاملا للنجاسة أجزأه الطواف وعليه دم؛ لكن اختلف أصحاب أحمد: هل هذا مطلق في حق المعذور الذي نسي الجنابة؟ وأبو حنيفة يجعل الدم بدنة إذا كانت حائضا أو جنبا: فهذه التي لم يمكنها أن تطوف إلا حائضا أولى بالعذر.

Menurut mereka – yang memilih pendapat kedua – mengatakan bahwa jika ada orang yang thawaf dalam keadaan junub, berhadats, atau membawa najis, maka thawafnya sah, namun dia wajib membayar dam (menyembelih). Hanya saja, para ulama madzhab hambali berbeda pendapat, apakah ini berlaku umum untuk semua orang yang memiliki udzur karena lupa sedang junub? Sementara itu, Abu Hanifah mewajibkan adanya dam berupa sapi, apabila thawaf dalam kondisi haid atau junub. Oleh karena itu, wanita yang tidak mungkin melakukan thawaf kecuali dalam keadaan haid, lebih layak untuk mendapatkan udzur (thawaf dengan haid). (Majmu’ Fatawa, 26/242)

Kemudian beliau menyebutkan beberapa alasan, mengapa wanita boleh thawaf dalam keadaan haid karena terpaksa.

  1. Haji termasuk amal wajib, dan tidak ada satupun ulama yang mengatakan bahwa wanita haid tidak wajib haji. Dan bagian dari prinsip syariah, kewajiban tidak menjadi gugur disebabkan karena tidak mampu memenuhi salah satu syaratnya. Sebagaimana orang yang tidak mampu bersuci ketika hendak shalat, dia tetap wajib shalat meskipun dengan tayamum atau bahkan tanpa wudhu dan tayamum, seperti orang yang lumpuh dan tidak ada yang membantunya.
  2. Haid yang dialami para wanita, sama sekali bukan kesalahannya. Murni ketetapan dari Allah. Karena itu, pendapat yang mengatakan bahwa dia harus kembali ke rumahnya dan melakukan qadha haji di tahun berikutnya adalah pendapat yang tidak benar. Karena berarti mewajibkan wanita ini dua kali safar haji disebabkan sesuatu yang itu bukan berasal dari kesalahannya. Dan ini tidak sejalan dengan prinsip syariah
  3. Wanita tidak mungkin berangkat haji kecuali bersama rombongan. Sementara rutinitas haid datang pada waktu yang dia terkadang tidak tahu. Sehingga bisa jadi, ketika dia berangkat di tahun berikutnya, dia juga mengalami haid. Sehingga sangat sulit baginya untuk bisa thawaf dalam kondisi suci.
  4. Bagian dari prinsip syariat bahwa orang yang tidak mampu memenuhi semua syarat ibadah, maka syarat itu menjadi gugur baginya. Sebagaimana ketika seseorang tidak bisa berjalan atau naik kendaraan, dia boleh ditandu untuk thawaf. Karena Allah berfirman,

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

”Bertaqwalah kepada Allah semampu kalian.” (QS. at-Thaghabun: 16)

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ

Apabila aku perintahkan kalian untuk melakukan sesuatu, maka kerjakanlah semampu kalian. (HR. Bukhari 7288).

(Majmu’ Fatawa, 26/242)

Keterangan Imam Ibnu Utsaimin

Imam Ibnu Utsaimin menjadikan keterangan Syaikhul Islam di atas sebagai landasan fatwa beliau, bahwa diperbolehkan seorang wanita melakukan thawaf ifadhah dalam kondisi haid karena terpaksa. Hanya saja, beliau memberikan solusi sebelumnya, dengan menggunakan obat pencegah haid. Jika darah tetap keluar, dia bisa thawaf dalam keadaaan haid. Beliau mengatakan,

امرأة لم تطف طواف الإفاضة وحاضت ويتعذر أن تبقى في مكة أو أن ترجع إليها لو سافرت قبل أن تطوف، ففي هذه الحالة يجوز لها أن تستعمل واحداً من أمرين فإما أن تستعمل إبراً توقف هذا الدم وتطوف وإما أن تتلجم بلجام يمنع من سيلان الدم إلى المسجد وتطوف للضرورة وهذا القول الذي ذكرناه هو القول الراجح والذي اختاره شيخ الإسلام ابن تيمية

Seorang wanita belum thawaf ifadhah dan dia mengalami haid, sementara dia tidak mungkin menetap di Mekah atau tidak mungkin kembali ke Mekah jika dia pulang sebelum thawaf, maka dalam kondisi ini, dia boleh menggunakan solusi salah satu dari dua pilihan:

(1)   Dia menggunakan suntik untuk menghentikan haid, sehingga dia bisa thawaf

(2)   Dia menggunakan pembalut penyumbat untuk menghalangi tetesan darah menempel di masjid, dan dia boleh thawaf karena terpaksa

Dan pendapat ini adalah pendapat yang kuat dan yang dipilih Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. (Fatawa Islamiyah, 2/517)

Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

keramas saat haid

Bolehkah Keramas Ketika Haid?

Apakah benar kalo wanita haid itu dilarang keramas ?

Dari Novi via Tanya Ustadz for Android

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Kami tidak menjumpai satupun dalil yang melarang wanita haid mandi keramas. Sementara kita tahu bahwa mandi keramas termasuk kebutuhan manusia. Andai ini dilarang untuk dilakukan ketika haid, tentu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan melarangnya.

Mungkin alasannya adalah, kramas bisa menyebabkan rambut rontok. Dan menurut mereka menyebabkan rambut rontok secara sengaja hukumnya terlarang. Padahal aturan semacam ini tidak memiliki landasan dalil. Sebagaimana keterangan yang pernah kita bahas di: Bolehkah Memotong Kuku dan Rambut Ketika Haid?

Kemudian, di sana terdapat fatwa ulama yang menegaskan bahwa wanita haid dibolehkan melakukan kramas. Imam Ibnu Utsaimin pernah ditanya tentang hukum wanita haid melakukan kramas ketika haid. Jawaban beliau,

غسل الحائض رأسها أثناء الحيض لا بأس به‏.‏ وأما قولهم لا يجوز فلا صحة له، بل لها أن تغسل رأسها وجسدها

Wanita haid yang membilas kepalanya dengan air (keramas) ketika haid hukumnya tidak terlarang. Adapun pendapat mereka yang menyatakan bahwa tidak boleh wanita haid mandi keramas, ini pendapat yang tidak benar. Wanita haid boleh mencuci kepalanya (keramas) dan badannya.

Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibnu Utsaimin, jilid 11, Bab: haid

Demikian,

Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

keputihan wanita

Najiskah Keputihan?

Saya ingin bertanyan ustadz, saya masih bingung tentang cairan keputihan karena tempo hari saya dengar orang bilang keputihan itu najis. Mohon penjelasaannya, terima kasih.

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Keputihan (ifrazat) adalah lendir yang umumnya bening, keluar dari organ reproduksi wanita, namun bukan madzi dan mani. Baik karena syahwat maupun ketika aktivitas normal. Baik yang bersifat normal maupun karena penyakit. Para ulama menjelaskan hukum keputihan (ifrazat) sebagaimana ruthubah (lendir yang selalu membasahi organ reproduksi wanita).

Ada dua kajian yang akan kita bahas untuk masalah keputihan bagi wanita,

Kajian pertama tentang status cairan keputihan, apakah termasuk benda najis ataukah bukan?

Kedua, apakah keluar keputihan menyebabkan batalnya wudhu.

Di bagian ini, akan kita fokuskan untuk pembahasan, apakah cairan keputihan termasuk najis ataukah suci.

Ulama berbeda pendapat apakah keputihan itu najis ataukah suci,

Pertama, keputihan statusnya najis.

Ini pendapat Imam as-Syafii menurut salah satu keterangan, as-Saerozi; ulama madzhab Syafiiyah, al-Qodhi Abu Ya’la; ulama madzhab hambali, dan beberapa ulama lainnya.

Kedua, keputihan termasuk cairan suci.

Ini pendapat hanafiyah, pendapat imam as-Syafii menurut keterangan yang lain, al-Baghawi, ar-Rafii; ulama madzhab Syafiiyah, dan Ibnu Qudamah; ulama madzhab hambali.

Ibnu Qudamah – ulama madzhab hambali – menjelaskan,

وفي رطوبة فرج المرأة احتمالان : أحدهما , أنه نجس ; لأنه في الفرج لا يخلق منه الولد , أشبه المذي . والثاني : طهارته ; لأن عائشة كانت تفرك المني من ثوب رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو من جماع , فإنه ما احتلم نبي قط , وهو يلاقي رطوبة الفرج , ولأننا لو حكمنا بنجاسة فرج المرأة , لحكمنا بنجاسة منيها ; لأنه يخرج من فرجها , فيتنجس برطوبته . وقال القاضي : ما أصاب منه في حال الجماع فهو نجس ; لأنه لا يسلم من المذي , وهو نجس . ولا يصح التعليل , فإن الشهوة إذا اشتدت خرج المني دون المذي , كحال الاحتلام

“Dalam permasalahan keputihan yang keluar dari organ reproduksi wanita, ada dua pendapat,

[1] keputihan statusnya najis karena berasal dari kemaluan yang bukan unsur terciptanya seorang anak. Sebagaimana madzi.

[2] keputihan statusnya suci. Karena ‘Aisyah pernah mengerik mani dari baju Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bekas jima’. Mengingat tidak ada seorang nabi pun yang mengalami mimpi basah. Sehingga makna air mani tersebut adalah cairan yang bercampur dengan cairan basah farji istri beliau. Karena jika kita menghukumi keputihan sebagai benda najis, seharusnya kita juga berpendapat najisnya mani wanita. Mengingat mani wanita juga keluar dari kemaluannya, sehingga bisa menjadi najis karena ada keputihan di leher rahim.

Sementara al-Qadhi Abu Ya’la berpendapat, semua yang terkena cairan basah dari kemaluan ketika jima’ statusnya najis. Karena tidak lepas dari madzi, sementara madzi hukumnya najis.

Ibnu Qudamah mengomentari, alasan al-Qodhi tidak benar. Karena syahwat ketika memuncak, akan keluar mani tanpa madzi, sebagaimana ketika mimpi basah.

(al-Mughni, 2/65).

Keterangan dari Imam an-Nawawi – ulama syafiiyah –,

رطوبة الفرج ماء أبيض متردد بين المذي والعرق , فلهذا اختلف فيها ثم إن المصنف رحمه الله رجح هنا وفي التنبيه النجاسة , ورجحه أيضا البندنيجي وقال البغوي والرافعي وغيرهما : الأصح : الطهارة، وقال صاحب الحاوي في باب ما يوجب الغسل : نص الشافعي رحمه الله في بعض كتبه على طهارة رطوبة الفرج

Keputihan yang keluar dari farji bentuknya cairan putih. Diperselisihkan sifatnya, antara disamakan dengan madzi dan al-irq (cairan kemaluan). Karena itu, ulama berbeda pendapat mengenai hukumnya. Kemudian, penulis (as-Saerozi) dalam kitab al-Muhadzab ini dan kitab at-Tahbih, keputihan hukumnya najis. Ini juga pendapat yang dipilih al-Bandaniji. Sementara al-Baghawi dan ar-Rafii serta yang lainnya berpendapat bahwa yang benar adalah suci.

Penulis kitab al-Hawi mengatakan, ‘Imam as-Syafii menegaskan dalam sebagian kitab-kitabnya bahwa keputihan wanita statusnya suci.’ (al-Majmu’, 2/570).

Antara Hadis Aisyah dan Hadis Utsman radhiyallahu ‘anhuma

Mengapa ini dikhususkan, karena dua hadis ini yang menjadi titik tolak pembahasan.

Pertama, hadis A’isyah radhiyallahu ‘anha, tentang air mani yang menempel di baju Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kata A’isyah,

كُنْتُ أَفْرُكُهُ مِنْ ثَوْبِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Aku mengerik mani itu dari baju Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (HR. Muslim 288, Nasai 296, dan yang lainnya).

Yang dipahami dari hadis ini (sebagaimana keterangan Ibnu Qudamah di atas),

  1. Mani yang ada di baju Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah bekas hubungan badan, dan bukan mani mimpi basah. Karena para nabi tidak mengalami mimpi basah.
  2. Karena mani itu bekas dari hubungan badan, bisa dipastikan cairan yang nempel di situ bercampur dengan cairan yang ada di farji wanita.
  3. A’isyah radhiyallahu ‘anha mengeriknya, dan yang namanya mengerik bisa dipastikan tidak akan bersih sempurna.

Kedua, hadis Ustman bin Affan

Dulu, orang yang melakukan hubungan badan, namun tidak sampai keluar mani, tidak diwajibkan mandi junub. Namun cukup berwudhu.

Zaid bin Khalid pernah bertanya kepada Utsman bin Affan, ‘Apa hukumnya orang yang berhubungan, tapi tidak keluar mani?’ jawab Utsman,

يَتَوَضَّأُ كَمَا يَتَوَضَّأُ لِلصَّلاَةِ وَيَغْسِلُ ذَكَرَهُ؛ قَالَ عُثْمَانُ سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Dia berwudhu dengan sempurna dan dia cuci kemaluannya.” Kata Utsman, ‘Aku dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ (HR. Bukhari 179 dan Muslim 347).

Yang dipahami dari hadis ini,

  1. Orang yang berhubungan dan tidak orgasme, dia tidak wajib mandi, tapi cukup wudhu. Dan hukum ini telah dinasakh (dihapus) dengan hadis Abu Hurairah yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim
  2. Adanya perintah mencuci kemaluan sehabis hubungan meskipun tidak keluar mani. Artinya itu perintah membersihkan cairan yang menempel di kemaluan karena hubungan badan.
  3. Perintah mencuci kemaluan di situ tidak mansukh, hukumnya tetap berlaku.

Ulama yang berpendapat bahwa keputihan tidak najis, mereka berdalil dengan hadis A’isyah radhiyallahu ‘anha. Sementara ulama yang menilai najis berdalil dengan hadis Utsman. Dan jika kita perhatikan, masing-masing dalil tidaklah tegas menunjukkan demikian. Karena masing-masing pendapat menyimpulkan hadis di atas berdasarkan makna, yang tidak tercantum dalam teksnya.

Kemudian, Syaikh Musthofa al-Adawi – dai dari Mesir –, setelah membawakan perselisihan pendapat ulama dalam masalah ini, beliau mengatakan,

وبإمعان النظر فيما سبق؛ يتضح أنه لم يرد دليل صريح على أن رطوبة فرج المرأة نجسة. وأما ما أورده البخاري من حديث وفيه: يتوضأ كما يتوضأ للصلاة ويغسل ذكره؛ فليس بصريح في أن غسل الذكر إنما هو من رطوبة فرج المرأة، ولكن محتمل أن يكون للمذي الذي خرج منه كما أمر النبي صلى الله عليه وسلم المقداد لما سأله عن المذي؛ فقال: توضأ واغسل ذكرك

Dengan melihat lebih mendalam terhadap keterangan di atas, dapat disimpulkan bahwa tidak ada dalil tegas yang menunjukkan bahwa keputihan wanita hukumnya najis. Sementara hadis yang dibawakan Bukhari, yang ada pernyataan, “Dia harus berwudhu sempurna dan mencuci kemaluannya..” tidaklah menunjukkan dengan tegas bahwa mencuci kemaluan dalam kasus itu, disebabkan keputihan wanita. Namun bisa juga dipahami karena madzi. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan al-Miqdad ketika dia bertanya tentang madzi, jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Dia harus berwudhu dan mencuci kemaluannya.’

Kemudian beliau menyimpulkan,

فعلى ذلك تبقى رطوبة فرج المرأة على الطهارة

Oleh karena itu, keputihan yang ada di organ reproduksi wanita, statusnya suci. (Jami’ Ahkam an-Nisa, 1/66).

Disamping itu, cairan keputihan yang keluar dari organ reproduksi wanita, adalah hal yang wajar terjadi di masa silam. Meskipun demikian, kita tidak menjumpai adanya riwayat dari para sahabat wanita (shahabiyat) yang menanyakan hal itu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Padahal umumnya mereka hanya memiliki satu pakaian. Jika ini najis, tentu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan mengingatkannya.

Sehingga kembali ke hukum asal, bahwa segala sesuatu hukum asalnya adalah suci.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

gambar masjid indah

Wanita Haid Ikut Kajian di Masjid

 Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Tnya ustadz..
Bagaimna bila seorang wanita sedang haid..kmudian dia mnghadiri pengajian d masjid..it gmn ustadz..??
Mhon pnjlasanya.. trimakasih
wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh..

Dari Prisaekada Putra via Tanya Ustadz for Android

Jawaban:

Wa alaikumus salam warahmatullahi wabarakatuh

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Tidak ada yang melarang manusia untuk beribadah. Sampaikan dia dalam kondisi berhalangan karena haid atau nifas. Karena bagian dari sifat Pemurahnya Allah, Dia syariatkan beraneka ragam jenis ibadah bagi hamba-Nya. Diantara hikmah adanya hal ini,

  1. Mereka bisa melakukan banyak ketaatan kepada Allah secara bergantian. Sehingga bolak-baliknya manusia, selalu dalam keataatan kepada Allah.
  2. Manusia tidak bosan karena melakukan satu jenis ibadah.
  3. Bagi orang yang berhalangan ibadah tertentu, dia bisa melakukan ibadah lainnya.

Haid dan nifas bukan penghalang untuk melakukan ibadah. Ada banyak aktivitas ibadah yang bisa dilakukan oleh wanita yang sedang haid atau nifas. Keterangan selengkapnya bisa anda pelajari di: Amalan Wanita Haid

Mendengarkan kajian islam, atau mendengarkan bacaan (murattal) al-Quran, terasuk ibadah. Dan mendengarkan kajian atau murattal, tidak disyaratkan harus suci dari hadats besar maupun kecil. Orang bisa melakukannya sekalipun dalam kondisi haid atau nifas.

Bagaimana jika di masjid?

Bagian ini yang diperselisihkan ulama. Mayoritas ulama melarang wanita haid duduk lama di masjid, meskipun untuk kajian islam. Sementara sebagian ulama membolehkan wanita masuk masjid. Diantara alasannya,

Dalil pertama: Disebutkan dalam hadis riwayat Bukhari, bahwa di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ada seorang wanita berkulit hitam yang tinggal di masjid. Sementara, tidak terdapat keterangan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan wanita ini untuk meninggalkan masjid ketika masa haidnya tiba.

Dalil kedua: Ketika melaksanakan haji, Aisyah mengalami haid. Kemudian, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan beliau untuk melakukan kegiatan apa pun, sebagaimana yang dilakukan jamaah haji, selain tawaf di Ka’bah. Sisi pengambilan dalil: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya melarang Aisyah untuk tawaf di Ka’bah dan tidak melarang Aisyah untuk masuk masjid. Riwayat ini disebutkan dalam Shahih Bukhari.

Dalil ketiga: Disebutkan dalam Sunan Sa’id bin Manshur, dengan sanad yang sahih, bahwa seorang tabi’in, Atha bin Yasar, berkata, “Saya melihat beberapa sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk-duduk di masjid, sementara ada di antara mereka yang junub. Namun, sebelumnya, mereka berwudhu.” Sisi pemahaman dalil: Ulama meng-qiyas-kan (qiyas:analogi) bahwa status junub sama dengan status haid; sama-sama hadats besar.

Dalil keempat: Diriwayatkan dari Aisyah radhiallahu ‘anha bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata kepadanya, “Ambilkan sajadah untukku di masjid!” Aisyah mengatakan, “Saya sedang haid.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya, haidmu tidak berada di tanganmu.” (HR. Muslim). Sebagian ulama menjadikan hadis ini sebagai dalil tentang bolehnya wanita haid masuk masjid.

Imam al-Albani pernah ditanya tentang hukum mengikuti kajian di masjid bagi wanita haid. Jawaban beliau,

نعم يجوز لهن ذلك ، لأن الحيض لا يمنع امرأة من حضور مجالس العلم ، ولو كانت في المساجد ، لأن دخول المرأة المسجد ، في الوقت الذي لا يوجد دليل يمنع منه

Ya, mereka boleh kajian di sana. Karena haid tidak menghalangi wanita untuk menghadiri majlis ilmu, meskipun di masjid. Karena masuknya wanita ke dalam masjid di satu waktu, tidak ada dalil yang melarangnya. (Silsilah Huda wa an-Nur, volume: 623).

Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

memotong kuku saat junub

Memotong Kuku ketika Junub

Pertanyaan :

Dalam kondisi junub, apakah boleh mencukur rambut, menggunting kuku, atau meludah?
Dari Suharyono

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Diantara keyakinan yang tersebar di masyarakat, bahwa orang junub tidak boleh potong kuku, gunting rambut, atau mengeluarkan darah, atau kegiatan apapun yang menyebabkan sebagian badannya terpisah. Karena semua anggota badannya akan dikembalikan di akhirat, dan kembali dalam kondisi junub. kemudian semua anggota badan itu akan menuntut untuk dimandikan.

Keyakinan semacam ini tidak hanya tersebar di Indonesia, tapi menyebar di tengah kaum muslimin di berbagai penjuru dunia. Terkait keyakinan ini, ketua lembaga fatwa al-Azhar Mesir masa silam, Syaikh Athiyah Shaqr, telah membantah keyakinan ini dalam kitabnya Ahsanul Kalam fi al-Fatwa wa al-Ahkam. Beliau menegaskan,

لكن هذا الكلام لا دليل فيه على منع ذلك أثناء الجنابة، ولا في مطالبة الجزء المفصول بجنابته يوم القيامة

Keyakinan semacam ini sama sekali tidak ada dalilnya, yang melarang orang untuk potong kuku atau rambut ketika junub. Tidak pula ada dalil yang menyebutkan bahwa anggota badan yang terpisah akan menuntut dimandikan pada hari kiamat.

Kemudian, Syaikh Athiyah menyebutkan beberapa alasan bahwa keyakinan ini justru bertentangan dengan dalil shahih. Diantaranya, sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang orang junub,

إن المؤمن لا يُنَجس حيًّا ولا ميتًا

Sesungguhnya orang mukmin itu tidak najis, baik ketika masih hidup maupun sudah mati.

Kemudian, keterangan ulama tabiin, Atha bin Abi Rabah,

يحتجم الجنب، ويقلم أظفاره، ويحلق رأسه، وإن لم يتوضأ

Orang junub boleh bekam, memotong kuku, memotong rambut, meskipun belum berwudhu. (Shahih Bukhari, 1/65).

Sumber: http://www.onislam.net/arabic/ask-the-scholar/8240/44100-2004-08-01%2017-37-04.html

Dalil lainnya adalah hadis dari A’isyah radhiyallahu ‘anha, bahwa ketika Aisyah mengikuti haji bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau mengalami haid di Mekkah. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya,

دعي عمرتك وانقضي رأسك وامتشطي

“Tinggalkan umrahmu, lepas ikatan rambutmu dan ber-sisir-lah…” (HR. Bukhari 317 dan Muslim 1211)

Kita bisa perhatikan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan A’isyah yang sedang haid untuk menyisir rambutnya. Padahal beliau baru saja datang dari perjalanan. Sehingga kita bisa memastikan akan ada rambut yang rontok. Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyuruh A’isyah untuk menyimpan rambutnya yang rontok untuk dimandikan setelah suci haid.

Karena itu, tidak masalah memotong kuku, rambut, atau bagian tubuh manapun ketika junub. Lebih-lebih jika hanya sebatas meludah.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

ibu menyusui

Apakah Menyusui Membatalkan Wudhu?

Ustdaz, Apakah ibu yang menyusui itu membatalkan wudhu? Terima kasih
Dari Radja

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Kaidah penting yang perlu kita garis bawahi, bahwa pembatal wudhu itu sifatnya tauqifiyah, artinya harus berdasarkan dalil. Jika tidak terdapat dalil, maka kita tidak bisa menyebutnya sebagai pembatal wudhu.

Berkaitan dengan menyusui, ibu mengeluarkan ASI. Yang menjadi pertanyaan, apakah keluarnya ASI bisa membatalkan wudhu?

Kaum muslimin sepakat, ASI termasuk benda suci. Karena manusia tidak boleh secara sengaja memasukkan benda najis ke dalam tubuhnya, apalagi dikonsumsi. Sementara ASI diberikan kepada bayi sebagai konsumsi utamanya.

Kaitannya dengan ini, ulama sepakat bahwa mengeluarkan benda suci, selain dari kemaluan depan dan belakang, tidak membatalkan wudhu. Seperti meludah, keluar ingus dari hidung, atau air mata ketika menangis. Termasuk dalam hal ini adalah mengeluarkan ASI, baik ketika menyusui maupun di luar menyusui.

Dalam Ensiklopedi Fikih dinyatakan,

الخارج من غير السبيلين إذا لم يكن نجسا لا يعتبر حدثا باتفاق الفقهاء. واختلفوا فيما إذا كان نجسا

Benda yang keluar dari selain dua kemaluan depan dan belakang, jika bukan benda najis, tidak dianggap sebagai hadats (pembatal wudhu) dengan sepakat ulama. Hanya saja mereka berbeda pendapat, apabila benda yang keluar itu adalah benda najis. (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 17/113).

Allahu a’lam.

Dijawab oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

masa haid wanita

Batas Masa Haid

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Mayoritas ulama – madzhab Maliki, Syafii, dan Hambali – berpendapat bahwa batas maksimal waktu haid adalah 15 hari. Sedangkan menurut Hanafiyah, batas maksimal haid adalah 10 hari.

Imam Al-Baji – ulama Malikiyah – (w. ) mengatakan,

وأما المسألة الثانية وهو معرفة أكثر الحيض.. فذهب مالك والشافعي إلى أن أكثر الحيض خمسة عشر يوماً، وقال أبو حنيفة: أكثر الحيض عشرة أيام. وقال الأوزاعي: أكثر الحيض سبعة عشر يوما وبه قال داود

Masalah yang kedua, batas maksimal haid.. Imam Malik, dan Imam Syafii berpendapat bahwa batas maksimal haid adalah 15 hari. Sementara Abu Hanifah mengatakan, batas maksimal haid adalah 10 hari. Kemudian al-Auza’i mengatakan, maksimal haid adalah 17 hari, dan ini merupakan pendapat Daud az-Zahiri. (al-Muntaqa Syarh al-Muwatha’, 1/124).

Berikut keterangan dalam masing-masing kitab madzhab yang menyatakan batas maksimal haid 15 hari,

1. Madzhab Mailiki

Dalam al-Mudawanah ‘ala al-Fiqh al-Maliki dinyatakan,

قال ابن نافع عن عبد الله بن عمرو عن ربيعة ويحيى بن سعيد وعن أخيه عبد الله أنهما كانا يقولان: أكثر ما تترك المرأة الصلاة للحيضة خمسة عشرة ليلة ثم تغتسل وتصلي

Ibnu Nafi mengatakan dari Abdullah bin Amr dari Rabi’ah dan Yahya bin Said, dari saudaranya Abdullah bin Said, keduanya mengatakan,

“Batas maksimal seorang wanita boleh meninggalkan shalat karena haid adalah 15 hari, kemudian dia harus mandi dan shalat.” (al-Mudawanah, 1/151).

2. Madzhab Syafiiyah

Dalam Matan Ghayah wa Taqrib (Matan Abi Syuja’) dinyatakan,

وأقل الحيض : يوم وليلة وأكثره : خمسة عشر يوما وغالبه : ست أو سبع

Batas minimal haid adalah sehari semalam, sedangkan batas maksimalnya adalah 15 hari, dan umumnya haid terjadi selama 6 atau 7 hari. (Matan Ghayah wa Taqrib, Abi Syuja’, hlm. 51)

3. Madzhab Hambali

Dalam Kasyaful Qana’ dinyatakan

(وأكثره) أي: الحيض (خمسة عشر يوماً) بلياليهن؛ لقول علي: ما زاد على الخمسة عشر استحاضة

Maksimal haid adalah 15 hari/malam, berdasarkan keterangan dari Ali bin Abi Thalib, “Yang lebih dari 15 hari, statusnya mustahadhah.” (Kasyaful Qana’, 1/203).

Hal yang sama juga disampaikan Ibnu Qudamah,

وأقل الحيض يوم وليلة، وأكثره خمسة عشر يوماً. هذا الصحيح من مذهب أبي عبد الله، وقال الخلال: مذهب أبي عبد الله لا اختلاف فيه، أن أقل الحيض يوم، وأكثره خمسة عشر يوماً

Batas minimal haid adalah sehari semalam, dan maksimal waktu haid adalah 15 hari. Inilah pendapat yang benar dalam madzhab Imam Ahmad (Abu Abdillah). Al-Khallal mengatakan, ‘Pendapat Abu Abdillah – Imam Ahmad’ – bahwa batas minimal haid sehari semalam, dan batas maksimalnya 15 hari. (al-Mughni, 1/224)

Pendapat jumhur berdalil dengan keterangan dari seorang tabiin, Atha bin Abi Rabah yang diriwayatkan oleh Bukhari secara muallaq.

وَقَالَ عَطَاءٌ: الحَيْضُ يَوْمٌ إِلَى خَمْسَ عَشْرَةَ

Atha mengatakan, ”Haid minimal sehari hingga 15 hari.” (HR. Bukhari secara muallaq).

Kasus Darah Haid yang Keluar Sedikit-sedikit

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk kasus darah haid yang keluar sedikit-sedikit dan cukup lama,happy call murah untuk masak

  1. Batas haid selama 15 hari berlaku jika darah haid terus keluar secara bersambung.
  2. Jika haid sudah putus sebelum 15 hari, kemudian keluar lagi lendir darah sedikit atau flek, maka darah yang keluar kedua ini tidak dihitung sebagai haid.
  3. Cairan keruh atau kekuningan yang keluar bersambung haid, dihitung haid
  4. Cairan keruh atau kekuningan yang keluar setelah darah haid putus, tidak dihitung haid.

Keterangan selengkapnya bisa anda pelajari di:

Allahu a’lam

Ditulis oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)

Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

membakar darah haid

Membakar Bekas Darah Haid

Assalamuallaikum.

Apakah membakar darah haid atau darah biasa itu diperbolehkan? Lalu apa setelah haid kita wajib mencuci rambut yang rontok
saat kita haid?

Mohon pencerahannya, terima kasih

Wa’alaikumussalam

Dari: Wulanbuku panduan nikah sesuai syariah

Jawaban:

Wa alaikumus salam wa rahmatullah

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Kaum muslimin sepakat, darah haid statusnya najis. Dan sesuatu yang najis, bisa dibuang dimanapun dengan cara apapun, selam tidak mengganggu lingkungan.

Allah ta’ala menyebut darah haid sebagai kotoran,

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ

“Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: “Haidh itu adalah suatu kotoran”. oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh.” (QS. Al-Baqarah: 222)

Sementara itu, kami tidak menjumpai adanya dalil yang menjelaskan tata cara khusus membuang darah haid. Karena itu, tidak masalah ketika darah haid dimusnahkan dengan cara dibakar atau dikubur atau cara lainnya, dengan syarat, tidak mengganggu lingkungan.

Dalam Fatawa Syabakah Islamiyah ditegaskan,

فحرق دم الطمث ورميه في سلة النفايات أو في الصناديق المعدة للقمامة ليس في أي شيء من ذلك من حرج، إذ لا يوجد دليل بالنهي عنه، ولأن دم الحيض أذى، كما قال تعالى: وَيَسْأَلونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذىً {البقرة:222}. وشأن الأذى أن يوضع في مثل تلك الأماكن، أو يتلف بأية وسيلة من وسائل الإتلاف التي منها حرقه. والله أعلم.

Membakar darah haid atau membuangnya di keranjang sampah, semuanya dibolehkan. Karena tidak dijumpai dalil yang melarang hal itu. Lebih dari itu, darah haid adalah kotoran, sebagaimana yang Allah tegaskan,

وَيَسْأَلونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذىً

Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: “Haidh itu adalah suatu kotoran”

Yang namanya kotoran, dia bisa dibuang di tempat yang layak untuknya atau dihilangkan bekasnya dengan cara apapun, diantaranya dengan cara dibakar. (Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 77095)

Sementara untuk hukum rambut rontok ketika haid, atau memotong kuku ketika haid, bisa dipelajari di: Bolehkan Memotong Kuku dan Rambut ketika Haid

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembinawww.KonsultasiSyariah.com)

Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

r

flek darah haid wanita

Flek BUKAN Haid

Assalamualaikum.
Saya ingin menanyakan, apabila pada waktu mau masuknya waktu zuhur, ada keluar flek haid (dan saya meninggalkan sholat zuhur); tapi pada waktu masuknya waktu ashar tidak ada flek lagi, apakah saya boleh sholat ashar? Atau seharusnya saya tidak boleh meninggalkan sholat zuhur tsb ?happy call murah untuk masak

Dari: Ria

Wa alaikumus salam

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Mayoritas ulama, diantaranya syafiiyah dan hambali menegaskan bahwa batas minimal haid adalah sehari semalam. Jika darah yang keluar kurang dari 24 jam, tidak terhitung haid. Sehingga flek sekali – dua kali, tidak terhitung sebagai haid.

An-Nawawi as-Syafii menyatakan,

نص الشافعي رحمه الله في العدد أن أقله يوم ، ونص في باب الحيض من مختصر المزني وفي عامة كتبه أقله يوم وليلة

Imam as-Syafii rahimahullah menegaskan tentang bilangan haid, bahwa batas minimal haid adalah sehari. Kemudian ditegaskan pula dalam Bab Haid, di Mukhtashar al-Muzanni dan di umumnya karya beliau, bahwa batas minimal haid adalah sehari semalam. (al-Majmu’ Syarh Muhadzab, 2/375).

Ibnu Qudamah al-Hambali juga menegaskan,

وأقل الحيض: يوم وليلة، وأكثره خمسة عشر يوما. هذا الصحيح من مذهب أبي عبد الله، وقال الخلال: مذهب أبي عبد الله لا اختلاف فيه، أن أقل الحيض يوم

Batas minimal haid adalah sehari semalam. Batas maksimal 15 hari. Inilah pendapat yang kuat dalam madzhab Abu Abdillah (Imam Ahmad). Al-Khalal mengatakan, Pendapat Abu Abdillah (Imam Ahmad), yang tidak ada perselisihan di dalamnya bahwa minimal haid adalah satu hari. (al-Mughni, 1/224).

Pendapat ini berdalil dengan riwayat dari seorang tabiin, Atha bin Abi Rabah yang diriwayatkan oleh Bukhari secara muallaq.

وَقَالَ عَطَاءٌ: الحَيْضُ يَوْمٌ إِلَى خَمْسَ عَشْرَةَ

Atha mengatakan, ”Haid minimal sehari hingga 15 hari.” (HR. Bukhari secara muallaq).

Kemudian, terdapat riwayat dalam Mushannaf Ibn Abi Syaibah, dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

إِذَا رَأَتِ الْمَرْأَةُ بَعْدَ مَا تَطْهُرُ مِنَ الْحَيْضِ مِثْلَ غُسَالَةِ اللَّحْمِ، أَوْ قَطْرَةِ الرُّعَافِ، أَوْ فَوْقَ ذَلِكَ أَوْ دُونَ ذَلِكَ، فَلْتَنْضَحْ بِالْمَاءِ، ثُمَّ لِتَتَوَضَّأْ وَلْتُصَلِّ وَلَا تَغْتَسِلْ، إِلَّا أَنْ تَرَى دَمًا غَلِيظًا

“Apabila seorang wanita setelah suci dari haid, dia melihat seperti air cucian daging, atau flek, atau lebih kuran seperti itu, hendaknya dia cuci dengan air, kemudian wudhu dan boleh shalat tanpa harus mandi. Kecuali jika dia melihat darah kental.” (HR. Ibnu Abi Syaibah no. 994)

Keterangan:

  • Makna ‘air cucian daging’ (Ghusalah Lahm) adalah warna darah merah pucat, layaknya air cucian daging.
  • Flek atau darah yang keluar statusnya najis, dan membatalkan wudhu. Karena itu, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu memerintahkan agar dicuci dan berwudhu jika hendak shalat.

Berdasarkan keterangan di atas, flek atau darah yang keluar hanya beberapa saat, kurang dari sehari, tidak terhitung haid.

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembinawww.KonsultasiSyariah.com)

Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

SOCIAL

9,526FansLike
4,525FollowersFollow
32,378FollowersFollow
61,951SubscribersSubscribe

RAMADHAN