tutup Eksternal hardisk kajian video islam
cashflow laporan keuangan software akutansi terbaik
WANITA

cara i'tikaf

Wanita Itikaf di Mushola Rumah

Bolehkah wanita itikaf d mushola rumah? Bukankah utk wanita shalat lebih baik dkerjakan d rumah? Apakah berarti itikaf jg bs dikerjakan d mushola rumah? Trim’s

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Perbedaan yang menjadi pertimbangan antara lelaki dan wanita adalah status wanita yang tidak wajib shalat berjamaah 5 waktu. Berangkat dari sini, para ulama mengatakan bahwa wanita tidak harus itikaf di masjid jami’ atau masjid jamaah. Hanya saja mereka berbeda pendapat, apakah wanita boleh itikaf di mushola rumahnya atau bagaimana?

Sebelumnya, kita perlu samakan pemahaman tentang pengertian masjid jami’, masjid jamaah, dan mushola. Agar tidak mengulang pembahasan, anda bisa pelajari artikel sebelumnya di: I’tikaf di Mushola Kantor 

Apakah wanita boleh itikaf di mushola rumahnya, di sana ada 2 pendapat,

Pertama, wanita boleh itikaf di mushola apapun di luar rumahnya – sekalipun tidak ada jamaah shalat 5 waktu –, namun tidak boleh itikaf di mushola rumahnya.

Ini merupakan pendapat mayoritas ulama dari madzhab malikiyah, hambali (al-Mughni, 4/464), dan pendapat yang shahih dalam madzhab syafiiyah.

Dalam Mawahib al-Jalil – kitab fikih Maliki – dikutip keterangan Ibnu Rusyd,

قال ابن رشد وأما الاعتكاف في مساجد البيوت فلا يصح عند مالك لرجل ولا امرأة خلاف قول أبي حنيفة في أن المرأة تعتكف في مسجد بيتها

Ibnu Rusyd mengatakan, ’Itikaf di mushola rumah, tidak sah menurut Imam Malik. Baik bagi lelaki, maupun wanita. Berbeda dengan pendapat Abu Hanifah yang membolehkan wanita itikaf di mushola rumahnya.’ (Mawahib al-Jalil, 6/448).

Sementara Imam as-Syafii memiliki dua pendapat dalam hal ini. Antara membolehkan dan melarang. Dan pendapat beliau yang terbaru (qoul jadid), itikaf di mushola rumah tidak boleh. Kita simak keterangan dalam kitab al-Muhadzab dan penjelasan an-Nawawi,

لا يصح الاعتكاف من الرجل ولا من المرأة إلا في المسجد ولا يصح في مسجد بيت المرأة ولا مسجد بيت الرجل وهو المعتزل المهيأ للصلاة

Tidak sah itikaf lelaki maupun wanita kecuali di masjid. Tidak sah itikaf di mushola rumah bagi wanita maupun lelaki. Mushola rumah adalah tempat yang disediakan khusus untuk shalat (di rumah).

Selanjutnya an-Nawawi menegaskan,

هذا هو المذهب وبه قطع المصنف والجمهور من العراقيين وحكى الخراسانيون وبعض العراقيين فيه قولين (أصحهما) وهو الجديد هذا

Inilah pendapat resmi madzhab Syafiiyah, sebagaimana yang ditegaskan penulis al-Muhadzab dan mayoritas ulama syafiiyah dari iraq. Menurut ulama khurasan dan sebagian ulama iraq, ada 2 pendapat Syafii. Yang lebih kuat, adalah melarang, dan ini pendapat terakhir. (al-Majmu’, 6/480)

Kedua, wanita boleh itikaf di mushola rumah

Ini merupakan  pendapat lama dari Imam as-Syafii, dan pendapat resmi hanafiyah. Bahkan mayoritas hanafiyah menilai makruh ketika wanita itikaf di masjid luar rumah.

Dalam kitab al-Mabsuth – kitab madzhab hanafi – dinyatakan,

وأبو حنيفة  قال : ولا تعتكف المرأة إلا في مسجد بيتها

Abu Hanifah mengatakan, ”Wanita tidak boleh itikaf kecuali di mushola rumahnya.”

Penulis al-Mabsuth – as-Sarkhasi – memberi alasan,

ولنا أن موضع أداء الاعتكاف في حقها الموضع الذي تكون صلاتها فيه أفضل كما في حق الرجال وصلاتها في مسجد بيتها أفضل

Kami beralasan bahwa tempat pelaksanaan itikaf bagi wanita adalah tempat paling afdhal bagi mereka untuk shalat. Sementara shalat wanita di mushola rumahnya lebih afdhal.

(al-Mabsuth, 4/175).

Tarjih

Pendapat yang lebih kuat dalam hal ini adalah pendapat pertama, bahwa wanita boleh itikaf di mushola manapun, tapi tidak boleh di mushola rumahnya.

Ada bebrapa alasan yang mendukung hal ini,

Pertama, Allah tetapkan tempat itikaf adalah di masjid. Dan ulama sepakat, itikaf hanya boleh di masjid.

Allah berfirman,

وَلاَ تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

“Janganlah kalian menggauli istri kalian ketika kalian sedang itikaf di masjid.” (QS. al-Baqarah: 187).

Ibnul Qatthan mengatakan,

أجمعوا على أن الاعتكاف لا يكون إلا في المسجد

“Ulama sepakat bahwa itikaf hanya bisa dilakukan di masjid.” (al-Iqna fi Masail Ijma’, Ibnul Qatthan, 1/242)

Sementara mushola rumah bukan termasuk masjid. Dengan alasan,

  1. Mushola ini milik pribadi tuan rumah. Sementara masjid milik umat.
  2. Pemilik rumah boleh saja melakukan aktivitas jual beli, tidur dalam keadaan junub di mushola rumahnya. Yang ini tidak boleh dilakukan di masjid.
  3. Boleh saja mushola rumah dibongkar dan difungsikan yang lain.

Dalam Ensiklopedi Fiqh dinyatakan,

مسجد البيت ليس بمسجد حقيقةً ولا حكماً ، فيجوز تبديله ، ونوم الجنب فيه

Masjid rumah (tempat shalat di rumah), bukan masjid yang hakiki, tidak pula dihukumi masjid. Sehingga boleh diubah menjadi ruang lainnya atau boleh juga orang junub tidur di dalamnya. (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 5/212)

Kedua, alasan terbesar hanafiyah adalah qiyas (analogi) antara itikaf dengan shalat. Dan qiyas (analogi) yang dilakukan Hanafiyah ini jelas analogi yang tidak benar. Karena jelas beda antara shalat dengan itikaf. Ini qiyas ma’al fariq (analogi dua hal yang beda).

Shalat memiliki aturan sendiri, sementara itikaf memiliki aturan sendiri.

Shalat sunah bagi lelaki lebih afdhal dikerjakan di rumah. Meskipun demikian, ulaam sepakat, lelaki tidak boleh melakukan itikaf yang sunah di rumah.

Ketiga, para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta izin kepada beliau untuk itikaf di masjid.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menganjurkan agar wanita shalat wajib 5 waktu di rumah. Karena itu lebih utama bagi mereka.

Ketika para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin itikaf di masjid, beliau tidak menyarankan mereka untuk itikaf di rumah. Padahal waktu itikaf lebih lama.

Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ذَكَرَ أَنْ يَعْتَكِفَ العَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ فَاسْتَأْذَنَتْهُ عَائِشَةُ، فَأَذِنَ لَهَا، وَسَأَلَتْ حَفْصَةُ عَائِشَةَ أَنْ تَسْتَأْذِنَ لَهَا، فَفَعَلَتْ، فَلَمَّا رَأَتْ ذَلِكَ زَيْنَبُ ابْنَةُ جَحْشٍ أَمَرَتْ بِبِنَاءٍ

Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin melakukan itikaf di 10 hari terakhir ramadhan. Lalu Aisyah minta izin kepada beliau untuk itikaf, dan beliau mengizinkannya. Kemudian Hafshah meminta agar Aisyah memohonkan izin untuknya agar bisa ikut itikaf. Aisyahpun melakukannya. Ketika Zainab melihat hal ini, beliaupun meminta dibuatkan kemah itikaf. (HR. Bukhari 2045 & Muslim Muslim 1173).

Demikian,

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

tidak berjilbab

Puasa Wanita yang Tidak Berjilbab

Benarkah puasanya wanita yang tidak berhijab tidak diterima?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Kita meyakini amal soleh di bulan ramadhan, pahalanya dilipat gandakan. Dan kita juga perlu sadar bahwa perbuatan maksiat yang dilakukan manusia di bulan ramadha, dosanya juga dilipat gandakan.

Al-Allamah Ibnu Muflih dalam kitabnya Adab Syar’iyah menyatakan,

فصل زيادة الوزر كزيادة الأجر في الأزمنة والأمكنة المعظمة

Pembahasan tentang kaidah, bertambahnya dosa sebagaimana bertambahnya pahala, (ketika dilakukan) di waktu dan tempat yang mulia.

Selanjutnya, Ibnu Muflih menyebutkan keterangan gurunya, Taqiyuddin Ibnu Taimiyah,

قال الشيخ تقي الدين: المعاصي في الأيام المعظمة والأمكنة المعظمة تغلظ معصيتها وعقابها بقدر فضيلة الزمان والمكان

Syaikh Taqiyuddin mengatakan, maksiat yang dilakukan di waktu atau tempat yang mulia, dosa dan hukumnya dilipatkan, sesuai tingkatan kemuliaan waktu dan tempat tersebut. (al-Adab as-Syar’iyah, 3/430).

Orang yang melakukan maksiat di bulan ramadhan, dia melakukan dua kesalahan,

Pertama, melanggar larangan Allah

Kedua, menodai kehormatan ramdhan dengan maksiat yang dia kerjakan.

Karena itulah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi ancaman keras orang yang masih rajin bermaksiat ketika puasa. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari 1903, Turmudzi 711 dan yang lainnya).

Al-Hafidz Ibnu Hajar menyebutkan keterangan dari Ibnul Munayir,

هو كناية عن عدم القبول ، كما يقول المغضب لمن رد عليه شيئا طلبه منه فلم يقم به : لا حاجة لي بكذا . فالمراد رد الصوم المتلبس بالزور وقبول السالم منه

Ini merupakan ungkapan tidak diterimanya puasanya. Seperti orang yang sedang marah, ketika dia menyuruh orang lain tapi tidak dilakukannya, kemudian dia mengatakan, “Aku gak butuh itu.” Sehingga maksud hadis, menolak puasa orang yang masih aktif berbuat dosa, dan tidak menerima dengan baik darinya. (Fathul Bari, 4/117).

Buka Aurat, Menebar Dosa

Ketika wanita memamerkan auratnya, yang terjadi, dia sedang menjadi sumber dosa. Dosa bagi setiap lelaki yang melihat dirinya. Itulah para wanita yang menjadi sebab banyak lelaki melakukan zina mata… para wanita yang mengobral harga diri dan auratnya di depan umum, tanpa rasa malu.

Karena itu, cara memahaminya bukan sekali memamerkan aurat, sekali berbuat dosa, bukan demikian. Tapi juga perlu diperhatikan berapa jumlah lelaki yang terkena dampak dari dosa yang dia lakukan.

Karena itu, wajar jika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan ancaman sangat keras untuk model manusia semacam ini.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا، قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ، وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ، رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ، لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ، وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا، وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

“Dua jenis penghuni neraka yang belum pernah aku lihat. (1) Sekelompok orang yang membawa cambuk seperti ekor sapi, dan dia gunakan untuk memukuli banyak orang. (2) para wanita yang berpakaian tapi telanjang, jalan berlenggak-lenggok, kepalanya seperti punuk onta, mereka tidak masuk surga dan tidak mendapatkan harumnya surga, padahal bau harum surga bisa dicium sejarak perjalanan yang sangat jauh.” (HR. Ahmad 8665 dan Muslim 2128).

Puasanya Tidak Diterima

Jika puasa seseorang menjadi tidak bernilai gara-gara dosa yang dia kerjakan.

Apa yang bisa anda bayangkan, ketika ada orang yang menjadi sumber dosa??

Layakkah dia berharap puasanya diterima?

Bahkan karena sebab dia, banyak lelaki yang pahala puasanya berkurang..

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Laa haula wa laa quwwata illa billaah.. 

doa muslimah

Wanita Haid Tidak Boleh Berdoa?

Bolehkah berdoa ketika haid? Bagaimana caranya?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Tidak semua ibadah dilarang ketika haid. Wanita haid hanya dilarang melakukan ibadah tertentu.

Dalam Fatwa Islam disebutkan beberapa daftar ibadah yang dilarang untuk dikerjakan ketika haid,

الحائض تفعل جميع العبادات إلا الصلاة والصيام والطواف بالكعبة والاعتكاف في المسجد

“Wanita haid boleh melakukan semua bentuk ibadah, kecuali shalat, puasa, tawaf di ka’bah, dan i’tikaf di masjid.” (Fatwa Islam no. 26753)

Boleh Membaca Dzikir ketika Junub

Ibnul Mundzir mengatakan,

روينا عن ابن عباس أنه كانَ يقرأ وِرْدهُ وهو جنب ، ورخّص عكرمة وابن المسيب في قراءته

“Kami mendapatkan riwayat dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, bahwa beliau membaca wiridnya ketika junub. Ikrimah dan Ibnul Musayib memberi keringanan untuk membaca wirid ketika junub.” (HR. Ibnul Mundzir dalam al-Ausath, 2/98).

Boleh Berdoa Ketika Haid

Berdoa termasuk dzikir. Sebagaimana layaknya orang junub boleh berdzikir, maka wanita haid lebih ringan kondisinya. Mereka boleh berdzikir.

Karena itu, wanita haid boleh berdzikir.

Imam Ibnu Baz pernah ditanya tentang hukum membaca doa ketika haji bagi wanita haid. Jawaban beliau,

لا حرج أن تقرأ الحائض والنفساء الأدعية المكتوبة في مناسك الحج

“Tidak masalah, wanita haid atau nifas untuk membaca doa-doa dalam buku ketika manasik haji.” (Fatawa Islamiyah, 1/239)

Mengenai tata carannya, sama persis seperti cara berdoa pada umumnya. Memperhatikan adab-adab yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, agar doanya lebih mustajab. Misalnya dengan diawali dengan memuji Allah, kemudian bershalawat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Selengkapnya bisa anda pelajari di: 13 Adab Dalam Berdoa

Allahu a’lam

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

cairan putih setelah haid

Cairan Putih Setelah Haid

Assalamu’alaikum. Ustadz, maaf sebelumnya. Saya ingin bertanya. Setelah beres haid dan saya mandi besar, keluar cairan bening, terkadang keluarnya terasa seperti air yang mengalir terkadang tidak terasa. Kalau menempel di (maaf) CD, bekasnya tepat seperti kain yang diperciki air, tidak berwarna, tidak juga kental, hanya basah. Saya bingung apakah ini termasuk madzi atau bukan. Ketika saya telah berwudhu, dan mendapati di CD saya ada bekas seperti yang disebutkan di atas, apakah membatalkan wudhu dan harus dicuci? Mohon penjelasannya, saya bingung, Ustadz. Jazakallahu khayran.

Dari: Ummu Rubayyi
(Dikirim melalui Aplikasi Tanya Ustadz untuk Windows Phone)

Jawaban:

Wa ‘alaikumus salam

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Cairan putih pasca-haid diistilahkan dengan al-Qasshah al-Baidha. Dan cairan ini menjadi batas berhentinya haid. Meskipun tidak semua wanita mengalaminya. Anda bisa mempelajari selengkapnya di: Cara Mengetahui Berhentinya Haid

Selanjutnya, bagaimana status hukum cairan putih ini?

Ada dua pembahasan yang bisa kita singgung tentang status cairan ini,

Pertama, apakah keluar cairan ini mewajibkan mandi, layaknya orang yang keluar mani atau selesai haid?

Kita simak keterangan dalam Fatawa Syabakah Islamiyah,

فأما أن خروج القصة لا يستوجب الاغتسال: فهذا لا شك فيه، فلو استمر نزول هذه القصة بعد الاغتسال لم يجب إعادة الغسل بلا شك

Keluarnya al-Qasshah al-Baidha tidak mengharuskan orang untuk wudhu. Kita semua yakin itu. Sekalipun sering keluar cairan itu setelah mandi, tidak wajib mengulangi mandi, tanpa ragu. (Fatwa Syabakah Islamiyah, no. 209176).

Kedua, apakah cairan ini najis?

Dalam Tuhfatul Muhtaj – kitab fiqh Syafiiyah – disebutkan nukilan dari Ibnu Hajar al-Makki,

وتردد ابن العماد في طهارة القصة البيضاء وهي التي تخرج عقب انقطاع الحيض والظاهر أنه إن تحقق خروجها من باطن الفرج أو أنها نحو دم متجمد فنجسة وإلا فطاهرة

Ibnul Imad ragu tentang kesucian al-Qasshah al-Baidha’, cairan yang keluar setelah berhentinya haid. Dan yang nampak lebih benar, bahwa jika cairan ini keluar dari dalam kemaluan atau cairan ini seperti darah beku, maka statusnya najis. Jika tidak, hukumnya suci. (Tuhfatul Muhtaj, 3/305).

Akan tetapi batasan yang disampaikan terkesan masih bias. Karena cairan bening ini jelas keluar dari dalam kemaluan. Sementara hukum asal segala sesuatu adalah suci, selama tidak ada dalil bahwa itu najis.

Dalam Fatawa Syabakah Islamiyah, menyikapi keterangan Ibnu Imad dikembalikan kepada keyakinan masing-masing. Dalam Fatawa Syabakah dinyatakan,

وعليه؛ فما لم يتيقن ما ذكر فهي طاهرة، لأن الأصل هو الطهارة فيستصحب حتى يحصل اليقين بخلافه

Oleh karena itu, siapa yang tidak yakin apa yang beliau sebutkan, maka cairan ini suci baginya. Karena hukum asal segala sesuatu adalah suci. Dan hukum ini dipertahankan sampai dia yakin bahwa yang benar sebaliknya. (Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 209176)

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

terkait perempuan

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Islam mengharamkan semua sebab yang membawa kepada hubungan tidak halal antara laki-laki dan perempuan

Dalam rangka mencegah keburukan dan kerusakan besar akibat hubungan yang tidak halal ini, agama Islam mengharamkan semua sebab yang menjerumuskan ke dalam perbuatan buruk ini, di antaranya (Hiraasatul fadhiilah, hlm. 101-102),

1- Diharamkannya menemui perempuan yang tidak halal dan berduaan dengannya, termasuk berduaan dengan sopir di mobil, dengan pembantu di rumah, dengan dokter di tempat prakteknya dan lain-lain.

Banyak dalil yang menunjukkan hal ini, di antaranya sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Tidaklah sekali-kali seorang laki-laki berduaan dengan seorang perempuan kecuali setan akan menjadi yang ketiga.” ((HR Tirmidzi 2165, Ahmad (1/26), dan dishahihkan al-Albani)

2- Diharamkannya bersafar (melakukan perjalanan jauh) bagi perempuan tanpa laki-laki yang menjadi mahramnya (suami, ayah, paman atau saudara laki-lakinya).

Dalil yng menunjukkan hal ini juga banyak sekali, di antaranya sabda Rasulullah : “Janganlah sekali-kali seorang perempuan bersafar kecuali bersama dengan mahramnya.” (HR. Bukhari 2844 dan Muslim 1341)

3- Diharamkannya memandang dengan sengaja kepada lawan jenis, berdasarkan firman Allah :

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ. وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا

“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”.  Dan katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka” (QS an-Nuur: 30-31).

4- Diharamkannya menemui seorang perempuan tanpa mahram, meskipun dia saudara suami (ipar), berdasarkan sabda Rasulullah : “Waspadalah kalian (dari perbuatan) menemui perempuan (tanpa mahram)”. Ada yang bertanya: Wahai Rasulullah , bagaimana dengan al-hamwu (ipar dan kerabat suami lainnya)? Rasulullah  bersabda “al-Hamwu adalah kebinasaan.” (HR Bukhari 4934 dan Muslim 2172)

Artinya: fitnah yang ditimbulkannya lebih besar karena bisanya seorang perempuan menganggap biasa jika berduaan dengan kerabat suaminya. (Simak Fathul Baari, 9/332).

5- Diharamkannya laki-laki menyentuh perempuan, meskipun untuk berjabat tangan. Pembahasan ini akan kami uraikan dengan lebih rinci insya Allah.

Berdasarkan sabda Rasulullah : “Sungguh jika kepala seorang laki-laki ditusuk dengan jarum dari besi lebih baik baginya dari pada dia menyentuh seorang perempuan yang tidak halal baginya” (HR Thabarani dalam al-Kabiir 486 dan ar-Ruyani al-Musnad (2/227), dihasankan al-Albani).

6- Diharamkannya laki-laki yang menyerupai perempuan dan sebaliknya. Berdasarkan hadits berikut: Dari shahabat yang mulia, Abdullah bin ‘Abbas , beliau berkata: “Rasulullah  melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan dan melaknat perempuan yang menyerupai laki2″[14].

7- Disyariatkan dan dianjurkannya bagi kaum perempuan untuk shalat di rumah dan itu lebih baik/utama daripada shalat mereka di masjid, dalam rangka menghindari fitnah yang timbul jika mereka sering keluar rumah. Rasulullah  bersabda: “Janganlah kalian melarang para wanita (untuk melaksanakan shalat) di masjid, meskipun (shalat mereka) di rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka.” (HR al-Bukhari 5546).

8- Diharamkannya perempuan sering keluar rumah tanpa ada keperluan yang dibenarkan dalam syariat dengan syarat tidak berdandan dan bersolek karena akan menimbulkan fitnah bagi laki-laki. Allah  berfirman,

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى، وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآَتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ، إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

“Dan hendaklah kalian (wahai istri-istri Nabi) menetap di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian bertabarruj (sering keluar rumah dengan berhias dan bertingkah laku) seperti (kebiasaan) wanita-wanita Jahiliyah yang dahulu, dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait (istri-istri Nabi) dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya” (QS al-Ahzaab:33).

Dan dalam hadits yang shahih Rasulullah  bersabda: “Sesungguhnya wanita adalah aurat, maka jika dia keluar (rumah) setan akan mengikutinya (menghiasainya agar menjadi fitnah bagi laki-laki), dan keadaanya yang paling dekat dengan Rabbnya (Allah ) adalah ketika dia berada di dalam rumahnya.” (HR Ibnu Khuzaimah 1685), Ibnu Hibban 5599) dan dishahihkan al-Albani).

9- Diharamkannya perempuan keluar rumah dengan memakai wangi-wangian dalam bentuka apapun, karena akan menimbulkan fitnah yang besar. Rasulullah  betrsabda: “Seorang wanita, siapapun dia, jika dia (keluar rumah dengan) memakai wangi-wangian, lalu melewati kaum laki-laki agar mereka mencium bau wanginya maka wanita adalah seorang pezina.” (HR. an-Nasa’i 5126), Ahmad (4/413), dihasankan al-Albani)

Ditulis oleh Ust. Abdullah Taslim, M.A. (Disarikan dari manisnyaiman.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

tamu laki-laki

Jangan Menerima Tamu Lelaki Ketika Suami tidak di Rumah

Tanya tadz, bagaimana sikap istri kalau ada tamu pria ke rumah sedangkan suami lagi tidak ada?

Dari Yusuf

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Rumah keluarga adalah rumah kemuliaan dan kehormatan. Allah perintahkan kedua suami istri saling menjaganya. Terutama istri, yang secara khusus Allah perintahkan agar menjaga amanah di rumah suaminya. Karena istri adalah rabbatul bait (ratu di rumah suaminya), yang bertugas menjaga rumah suaminya.

Diantara ciri wanita shalihah, Allah sebutkan dalam al-Quran,

فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ

Sebab itu wanita yang salehah, adalah yang taat kepada Allah dan menjaga diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara mereka. (QS. an-Nisa: 34).

Dan upaya wanita menjaga kehormatan dirinya, harta suaminya, dan rumahnya, merupakan hak suami yang menjadi kewajiban istri.

Jabis Radhiyallahu ‘anhu menceritakan, dalam haji wada’, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan pesan dalam khutbahnya,

فَاتَّقُوا اللَّهَ فِي النِّسَاءِ ، فَإِنَّكُم أَخَذتُمُوهُنَّ بِأَمَانِ اللَّهِ ، وَاستَحلَلتُم فُرُوجَهُنَّ بِكَلِمَةِ اللَّهِ ، وَلَكُم عَلَيهِنَّ أَلَّا يُوطِئنَ فُرُشَكُم أَحَدًا تَكرَهُونَهُ ، فَإِن فَعَلنَ ذَلك فَاضرِبُوهُنَّ ضَربًا غَيرَ مُبَرِّحٍ ، وَلَهُنَّ عَلَيكُم رِزقُهُنَّ وَكِسوَتُهُنَّ بِالمَعرُوفِ

Bertaqwalah kepada Allah terkait hak istri-istri kalian. Kalian mengambil mereka dengan amanah dari Allah, dan kalian halal berhubungan dengan mereka karena Allah halalkan melalui akad. Hak kalian yang menjadi kewajiban mereka, mereka tidak boleh memasukkan lelaki di rumah. Jika mereka melanggarnya, pukullah mereka dengan pukulan yang tidak menyakitkan. Sementara mereka punya hak disediakan makanan dan pakaian dengan cara yang wajar, yang menjadi kewajiban kalian. (HR. Muslim 1218).

Dalam al-Mausu’ah al-Fiqhiyah,

من حقّ الزّوج على زوجته ألاّ تأذن في بيته لأحد إلاّ بإذنه ، لما ورد عن أبي هريرة رضي الله تعالى عنه أنّ رسول اللّه صلى الله عليه وسلم قال : ( لَا يَحِلُّ لِلْمَرأَةِ أَن تَصُومَ وَزَوجُهَا شَاهِدٌ إِلاَّ بِإِذنِهِ ، وَلَاْ تَأْذَن فِي بَيتِهِ إِلاّ بِإِذنِهِ ) رواه البخاري ( 4899 ) ومسلم ( 1026 ) .

Hak suami yang menjadi kewajiban istrinya, dia tidak boleh mengizinkan seorangpun masuk rumah, kecuali dengan izin suaminya. Berdasarkan hadis dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidak halal bagi wanita untuk puasa sunah, sementara suaminya ada di rumah, kecuali dengan izin suaminya. Dan istri tidak boleh mengizinkan orang lain masuk ke rumahnya kecuali dengan izin suaminya.” (HR. Bukhari 4899 & Muslim 1026).

ونقل ابن حجر عن النّوويّ قوله : “في هذا الحديث إشارة إلى أنّه لا يُفتات على الزّوج بالإذن في بيته إلاّ بإذنه ، وهو محمول على ما لا تعلم رضا الزّوج به ، أمّا لو علمت رضا الزّوج بذلك فلا حرج عليها

Ibnu Hajar menukil keterangan dari an-Nawawi mengenai hadis ini,

Bahwa dalam hadis ini terdapat isyarat, bahwa istri tidak boleh memutuskan sendiri dalam memberi izin masuk rumah, kecuali dengan izin suami. Dan ini dipahami untuk kasus yang dia tidak tahu apakah suami ridha ataukah tidak. Namun jika dia yakin suami ridha dengan keputusannya, tidak menjadi masalah baginya. (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 30/125).

Sebagai contoh, tamu yang tidak perlu izin dari suami, tamu dari kerabat suami atau kerabat istri. Mereka bisa dipersilahkan masuk, selama masih mahram dengan istri.

Untuk tamu asing,

Ketika datang tamu asing, bukan keluarga suami maupun istri, sementara suami tidak ada di rumah, istri tidak boleh mengizinkan masuk tamu itu.

Jika tamu menyampaikan salam, istri cukup menjawab salamnya dengan pelan dari dalam tanpa membukakan pintu.

Jika tamu menyadari  ada penghuni di dalam, dan dia minta izin masuk, cukup sampaikan bahwa suami tidak di rumah dan tidak boleh diizinkan masuk.

Semoga Allah menjaga keluarga kaum muslimin.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

rambut rontok aurat

Rambut Rontok

Assalamu’alaikum.

Apakah rambut wanita yg rontok termasuk aurat? jika rambut kita rontok lalu kita sapu keluar rumah apakah boleh?

Dari Rizky via Tanya Ustadz for Android

Jawaban

Wa ‘alaikumus salam

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Berikut jawaban yang disampaikan Dr. Ahmad al-Hajji – anggota Majlis Ulama Kuwait dan dewan pengawas Ensiklopedi Fiqh Kuwait –

من السنة دفن كل جزء ينفصل عن الآدمي، ومن ذلك الأظفار والشعر والجلد، تكريما له سوى الأقذار.
مع العلم أن ما وجب ستره قبل الانفصال، يجب ستره بعد الانفصال، كشعر المرأة فهو عورة قبل فصله عن جسدها وبعده، ولهذا يجب ستره عن الأجانب بعد فصله عنها، كما هو الحال قبل فصله، فلا بد من مراعاة ذلك.

Bagian dari sunah, mengubur semua bagian yang terpisah dari jasad manusia, seperti kuku, rambut, atau kulit. Sebagai bentuk memuliakan manusia. Kecuali kotoran.

Kemudian perlu diketahui bahwa anggota badan yang wajib ditutupi ketika belum lepas, dia wajib ditutupi setelah lepas.

Sebagai contoh, rambut wanita. Sebelum lepas dari kepala pemiliknya, termasuk aurat. Demikian pula setelah lepas dari pemiliknya. Karena itu, ketika rontok atau dipotong, harus dijauhkan dari pandangan lelaki yang bukan mahram. Sebagaimana ketika belum dipotong. Harus diperhatikan hal ini.

Sumber: http://www.islamic-fatwa.com/fatawa/index.php?module=fatwa&id=35159

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

jilbab cantik

Membuka Jilbab di Depan Ayah yang Kafir?

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh..

Salam kenal untuk semua redaksi konsultasi syariah.
Ana selalu mengikuti blog yang penuh manfaat ini, bahkan fb ust. Muhammad Tuasikal selalu menjadi hal pertama yang ana baca di kabar berita ana.

Pertanyaan kali ini mewakili teman ana.
Teman ana ini, mereka sekeluarga masuk islam secara bersama-sama, tapi seiring berjalannya waktu ternyata ayahnya sudah kembali ke agamanya semula (nasrani). Ayah teman ana ini kembali mengkonsumsi babi dan semua yang diharamkan dalam islam.

Yang jadi pertanyaannya adalah:
Apakah teman ana ini (perempuan) harus memakai jilbab didepan ayah kandungnya sendiri karena mereka telah berbeda agama?
Demi berjaga-jaga, teman ana selalu menutup aurat di depan ayahnya.

Jazakallahu khairan atas jawabannya.

Dari Diana R.

Jawaban:

Wa ‘alaikumus salam warahmatullahi wabarakatuh

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Allah memberi kelonggaran bagi muslimah untuk tidak berhijab di depan mahramnya. Allah berfirman,

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آَبَائِهِنَّ أَوْ آَبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka….” (QS. an-Nur: 31)

Dan hubungan mahram tetap mahram, meskipun berbeda agama.

Dinyatakan dalam Fatawa Syabakah Islamiyah,

يجوز للمرأة أن تخلع حجابها أمام والدي زوجها لأن المرأة يجوز لها أن تنزع حجابها أمام محارمها ولا فرق في ذلك بين أن يكون محارمها مسلمين أو كفارا

Boleh bagi wanita untuk melepas hijabnya di depan ayah suaminya. Karena wanita boleh melepas hijabnya di depan mahramnya. Tidak ada beda antara mahram yang muslim maupun yang kafir. (Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 65553)

Dalam fatwanya yang lain dinyatakan,

أن الكفر لا يبطل محرمية الأخ أو غيره من المحارم

Sesungguhnya kekufuran tidaklah membatalkan hubungan mahram pada saudara maupun hubungan mahram untuk kerabat lainnya. (Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 99814).

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Wanita Haid, Tetap Dapat Pahala Puasa Asyura

Assalamu’alaikum,

Ustadz & team Konsultasi Syariah yang dirahmati Allah, Saya yang fakir ini mau bertanya.

Ustadz, saya seorang akhwat. Saya sedih & menyesalkan kenapa saya mendapatkan haid ketika seharusnya saya bisa berpuasa Arofah bulan lalu. Bulan Muharram ini pun saya kemungkinan tidak bisa berpuasa Muharram karena masih haid. Sedih rasanya, mengingat keutamaan dan janji Allah pada 2 puasa sunnah tsb. Ustadz,

  1. Apakah benar ada faktor ‘hentakan jin’ pada rahim wanita sehingga keluarlah darah haid? Saya pernah membaca, tapi saya lupa dimana saya baca (tentunya saya meragukan info tsb krn saya sendiri lupa sumbernya apakah shahih/ tidak)?
  2. Adakah amalan-amalan lain yang secara khusus berpahala menghapuskan dosa (seperti pada puasa Arofah & Muharram)?
  3. Apa yang sebaiknya dilakukan perempuan haid saat hari puasa Arofah dan hari puasa Muharram agar merasa tentram? (karena sedih tidak bisa berpuasa)?
  4. Apa maksud ‘menghapuskan dosa’ dalam keutamaan 2 puasa tsb, jika dibandingkan dengan Taubatannasuha seorang hamba yang kemudian benar-benar berhijrah di jalan Allah subhanahu wa ta’ala secara penuh? Tinggi yang mana, atau bagaimana?

Mohon bimbingannya, semoga ustadz berkenan menjawab dengan selengkap-lengkapnya dalil, atsar, maupun perkataan tabiin dan ulama.
Syukron ustadz, semoga Allah ‘azza wa jalla melimpahkan berkah, rahmat, panjang usia, kekuatan dan kebaikan dunia dan akhirat untuk Ustadz & tim Konsultasi Syariah seluruhnya, aamiin yaa Allah yaa mujiibuddu’a

Dari Akhowat Fillah

Jawaban:

Wa ‘alaikumus salam

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Setiap muslimah yang taat beragama tentu akan bersedih ketika dia tidak mampu beribadah karena terhalang kodratnya. Siklus datang bulan, yang terkadang tidak bisa dikendalikan.

Namun tahukah anda, sejatinya di sana ada amal hati yang memberi peluang bagi muslimah untuk mendulang pahala. Amal itu adalah ridha terhadap ketetapan Allah. Ketika anda merasa sedih karena terhalang untuk bisa menjalani ibadah bersama yang lain, kemudian anda bersabar dan ridha terhadap apa yang Allah tetapkan, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal anda.

Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan haji wada’, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berangkat bersama para istri beliau. Sebelum masuk kota Mekah, beliau singgah di Saraf. Di tempat ini, Aisyah menangis karena mengalami haid, sehingga beliau tidak bisa Umrah untuk tamattu’.

Sang suami yang baik – Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam – menjenguknya, menjumpai istrinya tercinta dalam keadaan menangis,

« مَا لَكِ أَنُفِسْتِ » . قُلْتُ نَعَمْ . قَالَ « إِنَّ هَذَا أَمْرٌ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَى بَنَاتِ آدَمَ ، فَاقْضِى مَا يَقْضِى الْحَاجُّ ، غَيْرَ أَنْ لاَ تَطُوفِى بِالْبَيْتِ »

“Kamu kenapa? Apa kamu haid?” tanya suami.

“Ya.” Jawab A’isyah.

“Haid merupakan keadaan yang Allah tetapkan untuk para putri Adam. Lakukan seperti yang dilakukan jamaah haji, selain thawaf di Ka’bah.”

(HR. Bukhari 294, Muslim 1211, dan yang lainnya).

Kita bisa perhatikan, kalimat pertama yang disampaikan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menghibur istrinya, ‘Haid merupakan keadaan yang Allah tetapkan untuk para putri Adam’. Beliau ingatkan A’isyah agar tidak terlalu bersedih memikirkan keadaannya. Padahal itu satu-satunya kesempatan berhaji bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kesempatan yang tidak mungkin akan berulang. Namun sang suami mengatasi kesedihan istrinya, dengan nasehat agar ridha terhadap ketetapan Allah.

Akankah Tetap Bisa Dapat Pahala?

Allah Maha Kaya dan Allah Maha Pemurah. Hingga ketika kita menginginkan untuk melakukan amal soleh, namun itu tidak terwujud karena ada halangan di luar kesengajaannya, Allah catat niatnya sebagai amal soleh.

Allah berfirman,

وَمَنْ يَخْرُجْ مِنْ بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ

Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. (QS. an-Nisa: 100).

Penyebutan hijrah dalam ayat di atas bukan berarti membatasi hanya masalah hijrah. Karena aturan ini juga berlaku untuk amal soleh lainnya. Sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan kaidah umum,

مَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً

Siapa yang berniat melakukan kebaikan, kemudian dia tidak bisa mengamalkannya, Allah catat untuknya satu amal kebaikan yang sempurna. (HR. Bukhari 6491, Muslim 354 dan yang lainnya).

Mengapa Tetap Mendapat Pahala?

Karena andaikan tidak ada halangan, dia akan mengerjakannya. Allah tidak sia-siakan amal hambanya.

Dari Abu Musa al-Asy’ari Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا

Apabila seorang hamba itu sakit atau musafir, maka dicatat untuknya seperti melakukan amal shaleh ketika dia mukim atau sehat. (HR. Bukhari 2996)

Al-Hafidz Ibn Hajar mengatakan,

: قَوْله : ( كُتِبَ لَهُ مِثْل مَا كَانَ يَعْمَل مُقِيمًا صَحِيحًا ) وَهُوَ فِي حَقّ مَنْ كَانَ يَعْمَل طَاعَة فمُنِع مِنْهَا ، وَكَانَتْ نِيَّته ـ لَوْلَا الْمَانِع ـ أَنْ يَدُوم عَلَيْهَا

Sabda beliau, ‘dicatat untuknya seperti melakukan amal shaleh ketika dia mukim atau sehat’ ini berlaku bagi orang yang terbiasa melakukan amal soleh, kemudian dia terhalangi. Sementara niatnya ingin terus istiqamah mengamalkannya – andai tidak ada penghalang. (Fathul Bari, 6/136)

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

thawaf

Haid Sebelum Thawaf Ifadhah

Apa yang harus dilakukan, ketika seorang wanita mengalami haid, sementara dia belum thawaf ifadah?.

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Dari A’isyah radhiyallahu ‘anha, beliau menceritakan bahwa ketika haji, A’isyah mengalami haid. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menemuinya ketika A’isyah sedang menangis,

”Kamu kenapa, apa kamu haid?” tanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

”Ya.” jawab A’isyah

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ ذَلِكِ شَيْءٌ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَى بَنَاتِ آدَمَ، فَافْعَلِي مَا يَفْعَلُ الحَاجُّ، غَيْرَ أَنْ لاَ تَطُوفِي بِالْبَيْتِ حَتَّى تَطْهُرِي

Sesungguhnya haid adalah perkara yang telah Allah tetapkan untuk putri Adam. Lakukan seperti yang dilakukan jamaah haji, hanya saja kamu tidak boleh thawaf di Ka’bah sampai kamu suci. (HR. Bukhari 294 dan Muslim 1211)

Dalam hadis yang lain juga dari A’isyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapat laporan, bahwa Shafiyah radhiyallahu ‘anha mengalami haid. Kemudian beliau bersabda,

عَقْرَى أَوْ حَلْقَى، إِنَّكِ لَحَابِسَتُنَا، أَكُنْتِ أَفَضْتِ يَوْمَ النَّحْرِ؟

”Waduh! Kamu bakal jadi sebab kami menunnggu. Apakah kamu sudah thawaf ifadah di hari raya (10 Dzulhijjah)?

”Sudah.” jawab Shafiyah.

”Silahkan pulang.” (HR. Bukhari 5329 & Muslim 1211).

Hadis ini menunjukkan bahwa andai Shafiyah belum melakukan thawaf ifadhah sebelum mengalami haid, tentu ini menjadi sebab beliau tertahan untuk tinggal di Mekah hingga suci. Sehingga hadis ini menjadi dalil mayoritas ulama, diantaranya Imam Malik, Imam as-Syafii, dan Ahmad dalam salah satu riwayat, bahwa suci dari hadats termasuk syarat sah thawaf. Karena itu, bagi wanita yang mengalami haid, dan memungkinkan baginya untuk menunggu hingga suci, misalnya karena haidnya sebentar atau dia tinggal di sekitar Mekah, atau kepulangan dia masih lama, maka dia harus menunnggu suci untuk melakukan thawaf ifadhah.

Bolehkah Thawaf dalam Kondisi Haid karena Terpaksa

Yang menjadi masalah adalah, bagaimana jika tidak memungkinkan baginya untuk menunggu? Bolehkah dia thawaf dalam keadaan haid?

Sebelumnya, di samping pendapat mayoritas ulama, di sana ada ulama yang berpendapat bahwa suci dari hadats, bukan syarat sah thawaf. Diantara yang menguatkan pendapat ini adalah Imam Abu Hanifah, dan Imam Ahmad dalam salah satu riwayat.

Syaikhul Islam pernah ditanya tentang wanita yang mengalami haid sebelum thawaf ifadhah. Kemudian beliau menyebutkan perbedaan pendapat di atas, selanjutnya beliau mengatakan,

فعند هؤلاء لو طاف جنبا أو محدثا أو حاملا للنجاسة أجزأه الطواف وعليه دم؛ لكن اختلف أصحاب أحمد: هل هذا مطلق في حق المعذور الذي نسي الجنابة؟ وأبو حنيفة يجعل الدم بدنة إذا كانت حائضا أو جنبا: فهذه التي لم يمكنها أن تطوف إلا حائضا أولى بالعذر.

Menurut mereka – yang memilih pendapat kedua – mengatakan bahwa jika ada orang yang thawaf dalam keadaan junub, berhadats, atau membawa najis, maka thawafnya sah, namun dia wajib membayar dam (menyembelih). Hanya saja, para ulama madzhab hambali berbeda pendapat, apakah ini berlaku umum untuk semua orang yang memiliki udzur karena lupa sedang junub? Sementara itu, Abu Hanifah mewajibkan adanya dam berupa sapi, apabila thawaf dalam kondisi haid atau junub. Oleh karena itu, wanita yang tidak mungkin melakukan thawaf kecuali dalam keadaan haid, lebih layak untuk mendapatkan udzur (thawaf dengan haid). (Majmu’ Fatawa, 26/242)

Kemudian beliau menyebutkan beberapa alasan, mengapa wanita boleh thawaf dalam keadaan haid karena terpaksa.

  1. Haji termasuk amal wajib, dan tidak ada satupun ulama yang mengatakan bahwa wanita haid tidak wajib haji. Dan bagian dari prinsip syariah, kewajiban tidak menjadi gugur disebabkan karena tidak mampu memenuhi salah satu syaratnya. Sebagaimana orang yang tidak mampu bersuci ketika hendak shalat, dia tetap wajib shalat meskipun dengan tayamum atau bahkan tanpa wudhu dan tayamum, seperti orang yang lumpuh dan tidak ada yang membantunya.
  2. Haid yang dialami para wanita, sama sekali bukan kesalahannya. Murni ketetapan dari Allah. Karena itu, pendapat yang mengatakan bahwa dia harus kembali ke rumahnya dan melakukan qadha haji di tahun berikutnya adalah pendapat yang tidak benar. Karena berarti mewajibkan wanita ini dua kali safar haji disebabkan sesuatu yang itu bukan berasal dari kesalahannya. Dan ini tidak sejalan dengan prinsip syariah
  3. Wanita tidak mungkin berangkat haji kecuali bersama rombongan. Sementara rutinitas haid datang pada waktu yang dia terkadang tidak tahu. Sehingga bisa jadi, ketika dia berangkat di tahun berikutnya, dia juga mengalami haid. Sehingga sangat sulit baginya untuk bisa thawaf dalam kondisi suci.
  4. Bagian dari prinsip syariat bahwa orang yang tidak mampu memenuhi semua syarat ibadah, maka syarat itu menjadi gugur baginya. Sebagaimana ketika seseorang tidak bisa berjalan atau naik kendaraan, dia boleh ditandu untuk thawaf. Karena Allah berfirman,

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

”Bertaqwalah kepada Allah semampu kalian.” (QS. at-Thaghabun: 16)

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ

Apabila aku perintahkan kalian untuk melakukan sesuatu, maka kerjakanlah semampu kalian. (HR. Bukhari 7288).

(Majmu’ Fatawa, 26/242)

Keterangan Imam Ibnu Utsaimin

Imam Ibnu Utsaimin menjadikan keterangan Syaikhul Islam di atas sebagai landasan fatwa beliau, bahwa diperbolehkan seorang wanita melakukan thawaf ifadhah dalam kondisi haid karena terpaksa. Hanya saja, beliau memberikan solusi sebelumnya, dengan menggunakan obat pencegah haid. Jika darah tetap keluar, dia bisa thawaf dalam keadaaan haid. Beliau mengatakan,

امرأة لم تطف طواف الإفاضة وحاضت ويتعذر أن تبقى في مكة أو أن ترجع إليها لو سافرت قبل أن تطوف، ففي هذه الحالة يجوز لها أن تستعمل واحداً من أمرين فإما أن تستعمل إبراً توقف هذا الدم وتطوف وإما أن تتلجم بلجام يمنع من سيلان الدم إلى المسجد وتطوف للضرورة وهذا القول الذي ذكرناه هو القول الراجح والذي اختاره شيخ الإسلام ابن تيمية

Seorang wanita belum thawaf ifadhah dan dia mengalami haid, sementara dia tidak mungkin menetap di Mekah atau tidak mungkin kembali ke Mekah jika dia pulang sebelum thawaf, maka dalam kondisi ini, dia boleh menggunakan solusi salah satu dari dua pilihan:

(1)   Dia menggunakan suntik untuk menghentikan haid, sehingga dia bisa thawaf

(2)   Dia menggunakan pembalut penyumbat untuk menghalangi tetesan darah menempel di masjid, dan dia boleh thawaf karena terpaksa

Dan pendapat ini adalah pendapat yang kuat dan yang dipilih Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. (Fatawa Islamiyah, 2/517)

Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

SOCIAL

10,076FansLike
4,525FollowersFollow
33,603FollowersFollow
61,951SubscribersSubscribe

RAMADHAN

Dukung KonsultasiSyariah.com
dengan Donasi!

BNI SYARIAH
0381346658
a.n. Yufid Network Yayasan
***
BANK SYARIAH MANDIRI
7086882242
a.n. Yayasan Yufid Network
***
PAYPAL
finance@yufid.org
Konfirmasi via email: finance@yufid.org

Powered by WordPress Popup