<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Konsultasi Kesehatan dan Tanya Jawab Pendidikan Islam &#187; Sholat</title>
	<atom:link href="http://www.konsultasisyariah.com/category/sholat/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.konsultasisyariah.com</link>
	<description>KonsultasiSyariah.com</description>
	<lastBuildDate>Sun, 19 May 2013 08:03:07 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Shalat Sunah di Malam 1 Rajab</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/shalat-sunah-di-malam-1-rajab/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/shalat-sunah-di-malam-1-rajab/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 May 2013 04:00:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=11493</guid>
		<description><![CDATA[Hukum Shalat Sunah di Malam 1 Rajab Pertanyaan: Assalamu’alaikum Insya Allah nanti malam adalah malam tanggal 1 Rajab. Saya mendengar ada anjuran untuk melakukan shalat sunah setelah maghrib sampai isya. Dengan janji pahala yang besar. Benarkah demikian? Terima kasih. Dari: ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2>Hukum Shalat Sunah di Malam 1 Rajab</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Assalamu’alaikum</p>
<p>Insya Allah nanti malam adalah malam <strong>tanggal 1 Rajab</strong>. Saya mendengar ada anjuran untuk melakukan <strong>shalat sunah</strong> setelah maghrib sampai isya. Dengan janji pahala yang besar. Benarkah demikian?<br />
Terima kasih.</p>
<p>Dari: Tri<br />
<span id="more-11493"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
Wa’alaikumussalam</p>
<p>Terdapat sebuah hadis dari Anas bin Malik <em>radhiallahu ‘anhu</em>, yang menyatakan:</p>
<p class="arab">أن من صلى المغرب أول ليلة من من رجب ثم صلى بعدها عشرين ركعة بفاتحة الكتاب وقل هو اللّه أحد مرة ويسلم فيهن عشر تسليمات أتدرون ما ثوابه فإن الروح الأمين جبريل أعلمني بذلك قلنا اللّه ورسوله أعلم قال حفظة اللّه تعالى في نفسه وماله وأهله وولده وأجبر من عذاب القبر وجاز على الصراط كالبرق بغير حساب ولا عذاب</p>
<p>“Siapa yang shalat magrib di malam pertama bulan <em>Rajab</em>, kemudian dilanjutkan dengan shalat 20 rakaat, di setiap rakaat membaca Al-Fatihah dan surat Al-Ikhlas satu kali, kemudian salam 10 kali (setiap dua rakaat salam), tahukan kalian apa pahalanya? Sesungguhnya Ruh yang amanah (Malaikat Jibril) mengajariku hal itu.” Para sahabat berkomentar, “Allah dan Rasul-Nya paling tahu.” Beliau melanjutkan, “Dia diberi penjagaan Allah terhadap dirinya, hartanya, keluarganya, anaknya, dilindungi dari siksa kubur, mudah melewati shirat seperti kilat, tanpa dihisab dab tanpa diazab.”</p>
<p>Hadis dengan redaksi di atas, diriwayatkan oleh Al-Jauzaqani dari jalur Abu Ja’far Muhammad bin Ali At-Thai, dari Abdul Karim bin Abu Hanifah, dari Abu Thayib thahir bin Hasan Al-Muthawi’i.</p>
<p>Imam As-Suyuthi memberikan komentar ringkas untuk hadis ini:</p>
<p class="arab">موضوع: وأكثر رواته مجاهيل</p>
<p>“Palsu, dan kebanyakan perawinya tidak dikenal.” (<em>Al-Lali’ al-Mashnu’ah</em>, 1:68).</p>
<p>Komentar yang sama juga disampaikan oleh As-Syaukani dalam <em>Al-Fawaid Al-Majmu’ah</em> 1:24 dan Ibnul Jauzi dalam <em>Al-Maudhu’at </em>2:123.</p>
<p>Kesimpulannya, kabar tentang amalan di malam pertama bulan <u>Rajab</u>, sebagaimana yang tersebar di masyarakat adalah dusta atas nama Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Dengan demikian, kita kembali pada hukum asal bahwa tidak ada amalan khusus di malam Rajab.<br />
<em>Allahu a’lam</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a href="http://konsultasisyariah.com/shalat-sunah-di-malam-1-rajab" target="_blank" rel="nofollow">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/" rel="nofollow" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/shalat-sunah-di-malam-1-rajab/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tata Cara Shalat Gerhana [Video]</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/tata-cara-shalat-gerhana/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/tata-cara-shalat-gerhana/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 May 2013 06:30:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=11775</guid>
		<description><![CDATA[Tata Cara Shalat Gerhana [Video] Pertama, Shalat gerhana disyariatkan bagi kaum muslimin yang melihat peristiwa gerhana matahari atau bulan Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda terkait peristiwa gerhana: فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَافْزَعُوا إِلَى الصَّلاَةِ ”Jika kalian melihat gerhana tersebut (matahari atau ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2>Tata Cara Shalat Gerhana [Video]</h2>
<p><strong>Pertama</strong>, <strong>Shalat gerhana</strong> disyariatkan bagi kaum muslimin yang melihat peristiwa gerhana matahari atau bulan</p>
<p>Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda terkait peristiwa gerhana:</p>
<p class="arab">فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَافْزَعُوا إِلَى الصَّلاَةِ</p>
<p>”Jika kalian melihat gerhana tersebut (matahari atau bulan) , maka bersegeralah untuk melaksanakan shalat. (HR. Bukhari)</p>
<p>Karena itu, bagi umat islam di daerah lain yang tidak melihat peristiwa gerhana, tidak disyariatkan melaksanakannya.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, dianjurkan untuk mengundang kaum muslimin dengan panggilan: As-shalaatu jaami’ah</p>
<p>Dari Abdullah bin Umar, beliau mengatakan:</p>
<p class="arab">لمّا كسَفَت الشمس على عهد رسول الله &#8211; صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ &#8211; نودي: الصلاة جامعة</p>
<p>Ketika terjadi gerhana matahari di zaman Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, diserukan: As-shalaatu jaami’ah. (HR. Bukhari &amp; Muslim)</p>
<p>Makna kalimat ini adalah: Hadirilah shalat yang dilaksanakan secara berjamaah ini. (Fathul Bari, 2/533, dinukil dari Mausu’ah Fiqhiyah Muyassarah, Husain Al-Awayisyah, 2/173).</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, bacaan shalat gerhana matahari dikeraskan, meskipun dilakukan di siang hari</p>
<p>Imam Bukhari membuat judul bab dalam shahihnya:</p>
<p class="arab">باب الجهر بالقراءة في الكسوف</p>
<p>Bab mengeraskan bacaan ketika shalat kusuf (gerhana).</p>
<p>Kemudian beliau membawakan beberapa dalil yang menunjukkan anjuran itu.</p>
<p><strong>Keempat</strong>, Dianjurkan bacaannya panjang<br />
A’isyah mengatakan:</p>
<p class="arab">ما سجدْت سجوداً قطّ كان أطول منه</p>
<p>Saya belum pernah melakukan sujud yang lebih panjang dari pada sujud shalat gerhana. (HR. Bukhari)</p>
<p>Dalam riwayat yang lain, beliau mengatakan:</p>
<p class="arab">ما ركعتُ ركوعاً قطّ، ولا سجدت سجوداً قطّ؛ كان أطول منه</p>
<p>Saya belum rukuk maupun sujud sekalipun yang lebih panjang dari pada rukuk dan sujud ketika shalat gerhana. (HR. Muslim)</p>
<p><strong>Kelima</strong>, shalat gerhana dikerjakan secara berjamaah di masjid<br />
Imam Bukhari membuat judul bab:</p>
<p class="arab">باب صلاة الكسوف جماعة</p>
<p>Bab shalat kusuf secara berjamaah.</p>
<p>Al-Hafidz menjelaskan:</p>
<p class="arab">وإن لم يحضروا الإِمام الراتب، فيؤمّ لهم بعضهم وبه قال الجمهور</p>
<p>Meskipun imam tetap tidak datang. Maka salah satu diantara masyarakat menjadi imam bagi jamaah yang lain. Ini adalah pendapat mayoritas ulama. (Fathul Bari, 2/540, dinukil dari Mausu’ah Fiqhiyah Muyassarah, Husain Al-Awayisyah, 2/174)</p>
<p><strong>Keenam</strong>, wanita dianjurkan untuk ikut shalat gerhana di masjid</p>
<p>Diantara dalil yang menunjukkan hal ini adalah testimoni A’isyah tentang shalat gerhana yang beliau lakukan. Hadis tersebut menunjukkan bahwa beliau mengikuti shalat gerhana ini bersama Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.</p>
<p>Imam Bukhari membuat judul bab:</p>
<p class="arab">باب صلاة النساء مع الرجال في الكسوف</p>
<p>Bab, wanita ikut shalat kusuuf bersama laki-laki ketika gerhana</p>
<p><strong>Ketujuh</strong>, tata caranya:<br />
Aisyah menceritakan :</p>
<p>Gerhana matahari pernah terjadi pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lantas beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit dan mengimami sahabat dan beliau memanjangkan berdiri. Kemuadian beliau ruku’ dan memperpanjang ruku’nya. Kemudian beliau berdiri lagi dan memperpanjang berdiri tersebut namun lebih singkat dari berdiri yang sebelumnya. Kemudian beliau ruku’ kembali dan memperpanjang ruku’ tersebut namun lebih singkat dari ruku’ yang sebelumnya. Kemudian beliau sujud dan memperpanjang sujud tersebut. Pada raka’at berikutnya beliau mengerjakannya seperti raka’at pertama. Lantas beliau beranjak (usai mengerjakan shalat tadi), dan matahari mulai kelihatan kembali. (HR. Bukhari).</p>
<p>Persisnya sebagaimana yang di video berikut:</p>
<p><iframe width="500" height="281" src="http://www.youtube.com/embed/7JmPSVJBQyc?feature=oembed" frameborder="0" allowfullscreen></iframe></p>
<p><strong>Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a href="http://konsultasisyariah.com/tata-cara-shalat-gerhana" target="_blank" rel="nofollow">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/" rel="nofollow" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/tata-cara-shalat-gerhana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Shalat Gerhana ketika Tidak Melihat Gerhana</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/shalat-gerhana-ketika-tidak-melihat-gerhana/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/shalat-gerhana-ketika-tidak-melihat-gerhana/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 May 2013 03:45:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=14940</guid>
		<description><![CDATA[Shalat Gerhana ketika Tidak Melihat Gerhana Alhamdulillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, wa ba’du, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mengabarkan bahwa pada tanggal 14 November 2012 akan terjadi Gerhana Matahari Total (GMT). GMT ini dapat diamati dari Samudra Pasifik ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2>Shalat Gerhana ketika Tidak Melihat Gerhana</h2>
<p><em>Alhamdulillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, wa ba’du,</em></p>
<p>Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mengabarkan bahwa pada tanggal 14 November 2012 akan terjadi <a title="gerhana matahari" href="http://konsultasisyariah.com/shalat-gerhana-ketika-tidak-melihat-gerhana" target="_blank" rel="nofollow"><strong>Gerhana Matahari</strong> </a>Total (GMT). GMT ini dapat diamati dari Samudra Pasifik dan Australia bagian Utara. <strong>Gerhana</strong> ini juga dapat dilihat dari Papua, Maluku, dan Nusa Tenggara Timur berupa Gerhana Matahari Sebagian (GMS) pada saat Matahari terbit.</p>
<p><em>http://www.bmkg.go.id/BMKG_Pusat/Geofisika/Tanda_Waktu/GERHANA_MATAHARI_TOTAL_14_NOVEMBER_2012.bmkg</em></p>
<p>Jika dipastikan masyarakat di belahan bumi selatan Indonesia atau saudara kita di Indonesia Timur melihat peristiwa gerhana matahari itu, apakah kaum muslimin di belahan bumi lainnya, yang tidak melihat peristiwa gerhana itu juga disyariatkan untuk <a title="shalat gerhana" href="http://konsultasisyariah.com/shalat-gerhana-ketika-tidak-melihat-gerhana" target="_blank" rel="nofollow"><strong>shalat gerhana</strong></a>?</p>
<p>Dalam <em>Fatwa Islam</em> no. 20368 dijelaskan,</p>
<p>Hadis shahih yang memerintahkan kita untuk melakukan <strong>shalat gerhana</strong> adalah sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> ketika beliau berkhutbah seusai shalat kusuf:</p>
<p class="arab">إن الشمس والقمر آيتان من آيات الله لا ينكسفان لموت أحد ولا لحياته ، ولكن الله يرسلهما يخوف بهما عباده ، فإذا رأيتم ذلك فصلوا وادعوا حتى ينكشف ما بكم</p>
<p>“<em>Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda kebesaran Allah. Mereka tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang atau lahirnya orang tertentu. namun Allah menciptakan peristiwa gerhana matahari dan bulan itu, agar membuat para hamba-Nya takut. Karena itu, jika kalian melihat peristiwa gerhana, lakukanlah shalat dan berdoalah, sampai gerhana itu selesai</em>.”</p>
<p>Dalam riwayat lain:</p>
<p class="arab">فإذا رأيتم ذلك فافزعوا إلى ذكر الله ودعائه واستغفاره</p>
<p>“<em>Jika kalian melihat gerhana maka segeralah mengingat Allah, berdoa, dan memohon ampunan kepadanya</em>.” (HR. Ad-Darimi 1569, An-Nasai 1483 dan dishahihkan al-Albani).</p>
<p>Dua riwayat di atas menegaskan bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengkaitkan disyariatkannya shalat gerhana ketika seseorang melihat peristiwa itu. Sementara mereka yang tidak melihat peristiwa gerhana itu, tidak disyariatkan untuk melakukan shalat gerhana.</p>
<p>Imam Ibnu Baz mengatakan:</p>
<p class="arab">ويعلم أيضا أنه لا يشرع لأهل بلد لم يقع عندهم الكسوف أن يصلوا؛ لأن الرسول صلى الله عليه وسلم علق الأمر بالصلاة، وما ذكر معها برؤية الكسوف لا بالخبر من أهل الحساب بأنه سيقع، ولا بوقوعه في بلد آخر، وقد قال الله عز وجل: {وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا}</p>
<p>“Dari hadis ini diketahui bahwa tidak disyariatkan bagi masyarakat yang tinggal di daerah yang tidak melihat gerhana untuk melakukan shalat gerhana. Karena Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengkaitkan perintah untuk melaksanakan shalat gerhana dan memperbanyak dzikir dengan <em>rukyatul kusuf</em> (melihat peristiwa gerhana). Bukan sebatas informasi dari ahli hisab yang memprediksi akan terjadi gerhana, tidak pula mengacu pada peristiwa gerhana yang ternyata di belahan daerah lainnya. Allah berfirman, yang artinya:</p>
<p>“<em>Apa saja yang diberikan Rasul kepada kalian maka ambillah dan apa yang dilarang oleh Rasul untuk kalian maka tinggalkanlah</em>.” (QS. Al-Hasyr: 7) (<em>Majmu’ Fatawa Ibn Baz</em>, 13:31)</p>
<p><em>Allahu a’lam</em></p>
<p><strong>Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a title="kumpulan tanya jawab syariah islam dan rubrik kesehatan" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">KonsultasiSyariah.com</a>)</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/shalat-gerhana-ketika-tidak-melihat-gerhana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tempat Shalat Sunah yang Paling Afdhal</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/tempat-shalat-sunah-yang-paling-afdhal/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/tempat-shalat-sunah-yang-paling-afdhal/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Apr 2013 00:32:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[afdhal]]></category>
		<category><![CDATA[shalat afdhal]]></category>
		<category><![CDATA[tempat shalat sunah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=17530</guid>
		<description><![CDATA[Tempat Shalat Sunah yang Paling Baik Pertanyaan: Manakah yang lebih afdhal, shalat sunnah di rumah atau di mesjid? Dari: Muhammad Azwar Jawaban: Bismillah was shalatu wa sallamu ‘ala rasulillauh, amma ba’du Tempat shalat sunah yang paling afdhal adalah di rumah. ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Tempat Shalat Sunah yang Paling Baik<br />
</strong></h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Manakah yang lebih afdhal, shalat sunnah di rumah atau di mesjid?</em></p>
<p>Dari: Muhammad Azwar<br />
<span id="more-17530"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Bismillah was shalatu wa sallamu ‘ala rasulillauh, amma ba’du</em></p>
<p><a title="tempat shalat sunah" href="http://konsultasisyariah.com/tempat-shalat-sunah-yang-paling-afdhal" target="_blank" rel="nofollow">Tempat shalat sunah </a>yang paling afdhal adalah di rumah. Berdasarkan sabda Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>,</p>
<p class="arab">صَلُّوا أَيُّهَا النَّاسُ فِي بُيُوتِكُمْ، فَإِنَّ أَفْضَلَ الصَّلاَةِ صَلاَةُ المَرْءِ فِي بَيْتِهِ إِلَّا المَكْتُوبَةَ</p>
<p><em>Wahai umat manusia, shalatlah kalian di rumah kalian. Karena sebaik-baik shalat seseorang adalah shalat yang dilakukan di rumahnya, kecuali shalat wajib</em>. (HR. Bukhari 731, Muslim 781, dan lainnya).</p>
<p>Karena lebih afdhal maka pahala shalat sunah yang dikerjakan di rumah, lebih besar dibandingkan dikerjakan di masjid. Mengingat shalat sunah yang dikerjakan di tempat tersembunyi dan tidak dilihat orang, pahalanya lebih besar dibandingkan shalat sunah yang dikerjakan di tempat yang kelihatan banyak orang. Dalam hadis dari Shuhaib radhiyallahu &#8216;anhu, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">صلاة الرجل تطوعًا حيث لا يراه الناس تعدل صلاته على أعين الناس خمسًا وعشرين درجة</p>
<p><em>Shalat sunah yang dikerjakan seseorang di tempat yang tidak dilihat orang lain, senilai 25 kali derajat shalat sunah yang dia kerjakan di tengah banyak orang</em>. (HR. Abu Ya’la dan dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami, 7269).</p>
<h3><strong>Praktek Para Ulama</strong></h3>
<p>Dulu para ulama lebih memilih shalat sunah di rumah dari pada di masjid.</p>
<p>Al-Marudzi mengatakan,</p>
<p class="arab">إن كثيرا من العلماء كانوا لا يتطوعون في المسجد</p>
<p>&#8220;Kebanyakan para ulama, tidak mengerjakan shalat sunah di masjid&#8221; (Mukhtashar Qiyam Lail, hlm. 63).</p>
<p>Imam Ibnu Qudamah <em>rahimahullah</em> hampir tidak pernah melakukan shalat sunah kecuali di rumahnya, dalam rangka mengikuti sunah Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. (Dzail Thabaqat Hanabilah, 2/134. Dinukil dari Ma&#8217;alim fi Thariq Thalabil Ilmi, hlm. 138).</p>
<p><strong>Kecuali….</strong></p>
<p>Kemudian ada beberapa shalat sunah yang tidak mungkin dikerjakan di rumah atau tidak mungkin dikerjakan sendiri. Untuk shalat sunah semacam ini, paling afdhal jika dikerjakan di tempat yang sesuai. Misalnya: Tahiyatul masjid, hanya mungkin dikerjakan di masjid. Shalat id, paling afdhal dikerjakan di lapangan. Shalat gerhana, dikerjakan di masjid, dst.</p>
<p>Allahu a’lam</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a title="konsultasi kesehatan dan tanya jawab pendidikan islam" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a>)</strong></p>
<blockquote><p>Artikel ini disponsori oleh Zahir Accounting. <a title="Software Akuntansi Terbaik di Indonesia" href="http://zahiraccounting.com/id/" target="_blank" rel="nofollow"><strong>Software Akuntansi Terbaik di Indonesia</strong></a>.</p>
<p>Anda juga dapat menjadi sponsor di video dan website dakwah di <a title="Yufid.com Network" href="http://yufid.com/" target="_blank" rel="nofollow">Yufid.com Network</a>, silakan hubungi: <em>marketing@yufid.org</em> untuk menjadi sponsor.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/tempat-shalat-sunah-yang-paling-afdhal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Adakah Shalat Sunah Qabliyah Ashar?</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/adakah-shalat-sunah-qabliyah-ashar/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/adakah-shalat-sunah-qabliyah-ashar/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Apr 2013 06:38:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[shalat ashar]]></category>
		<category><![CDATA[shalat sunah qabliyah ashar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=17481</guid>
		<description><![CDATA[Shalat Sunah Qabliyah Ashar Pertanyaan: Adakah shalat sunah Qabliyah Ashar? Dari: Man Yala Jawaban: Bismillah was shalatu was salamu &#8216;ala rasulillah, amma ba&#8217;du, Dinyatakan dalam hadis dari Ibnu Umar radhiyallahu &#8216;anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, رَحِمَ اللَّهُ ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Shalat Sunah Qabliyah Ashar</strong></h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Adakah shalat sunah Qabliyah Ashar?</em></p>
<p>Dari: Man Yala<br />
<span id="more-17481"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Bismillah was shalatu was salamu &#8216;ala rasulillah, amma ba&#8217;du,</em></p>
<p>Dinyatakan dalam hadis dari Ibnu Umar <em>radhiyallahu &#8216;anhuma</em>, bahwa Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">رَحِمَ اللَّهُ امْرَأً صَلَّى قَبْلَ الْعَصْرِ أَرْبَعًا</p>
<p>&#8220;Semoga Allah merahmati orang yang shalat 4 rakaat <a title="sebelum ashar" href="http://konsultasisyariah.com/adakah-shalat-sunah-qabliyah-asar" target="_blank" rel="nofollow">sebelum ashar</a>.&#8221; (HR. Ahmad 5980, Abu Daud 1271, Turmudzi 430, dan dihasankan Al-Albani).</p>
<p>Hadis ini merupakan dalil pokok yang dijadikan para ulama untuk menyatakan dianjurkannya shalat sunah qabliyah ashar. Hanya saja mereka berbeda pendapat apakah termasuk shalat sunah rawatib yang ditekankan untuk dirutinkan ataukah tidak,</p>
<p>Pertama, tidak termasuk shalat sunah rawatib, sehingga bukan shalat sunah muakkad. Ini adalah pendapat Ibnu Qudamah. Dalam Al-Mughni, setelah menyebutkan hadis ini, beliau mengatakan,</p>
<p class="arab">تَرْغِيبٌ فِيهَا، وَلَمْ يَجْعَلْهَا مِنْ السُّنَنِ الرَّوَاتِبِ، بِدَلِيلِ أَنَّ ابْنَ عُمَرَ رَاوِيهِ، وَلَمْ يَحْفَظْهَا عَنْ النَّبِيِّ &#8211; صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -</p>
<p>Hadis ini merupakan anjuran untuk <a title="shalat sunah qabliyah ashar" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">shalat sunah qabliyah ashar</a>, namun tidak menjadikannya sebagai shalat sunah rawatinb. Dengan dalil, Ibnu Umar yang meriwayatkan hadis ini, tidak memasukkannya dalam daftar shalat sunah yang dibiasakan Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. (Al-Mughni, 2/93).</p>
<p>Untuk menilai apakah termasuk rawatib dan bukan, nampaknya Ibnu Qudamah berpedoman dengan keterangan dari Ibnu Umar, yang mengatakan,</p>
<p class="arab">حَفِظْتُ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَ رَكَعَاتٍ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الظُّهْرِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ المَغْرِبِ فِي بَيْتِهِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ العِشَاءِ فِي بَيْتِهِ، وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلاَةِ الصُّبْحِ</p>
<p>Saya menghafal kebiasaan shalat sunah Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> ada 10 rakaat: 2 rakaat sebelum dzuhur, 2 rakaat setelah dzuhur, 2 rakaat setelah maghrib di rumahnya, 2 rakaat setelah isya di rumahnya, dan 2 rakaat sebelum subuh. (HR. Bukhari 1180).</p>
<p>Dalam keterangan beliau ini, Ibnu Umar tidak menyebutkan shalat sunah qabliyah ashar. Karena itu, statusnya dianjurkan, namun bukan rawatib yang ditekankan.</p>
<p>Kedua, termasuk shalat sunah muakkad yang selayaknya dijaga dan dirutinkan. Ini merupakan pendapat Al-Ghazali. Dikutip oleh Al-Munawi dalam Faidhul Qadir, beliau menyatakan,</p>
<p class="arab">يستحب استحبابا مؤكدا رجاء الدخول في دعوة النبي صلى الله عليه وسلم فإن دعوته مستجابة لا محالة</p>
<p>Shalat sunah qabliyah ashar sangat dianjurkan dan ditekankan, karena harapan termasuk dalam doa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Mengingat doa beliau pasti mustajab. (Faidhul Qadir, 4/24).</p>
<h3><strong>Tata Cara Shalat Sunah Qabliyah Ashar</strong></h3>
<p>Ulama berbeda pendapat tentang <a title="tata cara shalat sunah qabliyah asar" href="http://konsultasisyariah.com/adakah-shalat-sunah-qabliyah-ashar" target="_blank" rel="nofollow">tata cara shalat sunah qabliyah ashar</a>. Ada yang mengatakan dikerjakan 4 rakaat sekaligus dengan sekali salam dan ada yang berpendapat dikerjakan dengan 2 rakaat salam, 2 rakaat salam.</p>
<p>Pendapat yang lebih kuat dalam hal ini adalah dikerjakan dengan 2 rakaat salam, 2 rakaat salam, berdasarkan hadis dari Ashim bin Dhamrah, dari Ali bin Abi Thalib<em> radhiyallahu &#8216;anhu</em>, beliau menceritakan,</p>
<p class="arab">كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي قَبْلَ العَصْرِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ يَفْصِلُ بَيْنَهُنَّ بِالتَّسْلِيمِ عَلَى المَلَائِكَةِ المُقَرَّبِينَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ مِنَ المُسْلِمِينَ وَالمُؤْمِنِينَ</p>
<p>Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam shalat 4 rakaat sebelum ashar, beliau pisah diantaranya dengan salam kepada malaikat, dan orang yang mengikuti mereka di kalangan kamu muslimin dan mukminin. (HR. Turmudzi 429 dan dihasankan Al-Albani).</p>
<p>Yang dimaksud : &#8220;beliau pisah diantaranya dengan salam kepada malaikat &#8230;&#8221; adalah tasyahud. Sebagaimana dinukil oleh At-Turmudzi dalam sunannya (2/294).</p>
<p>At-Turmudzi juga menukil,</p>
<p class="arab">وَرَأَى الشَّافِعِيُّ، وَأَحْمَدُ: صَلَاةَ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ مَثْنَى مَثْنَى يَخْتَارَانِ الفَصْلَ</p>
<p>Imam As-Syafii dan Imam Ahmad berpendapat bahwa shalat sunah siang dan malam dikerjakan 2 rakaat salam, 2 rakaat salam. Dan mereka memilih untuk memisahkan 4 rakaat itu dengan salam setiap 2 rakaat. (Sunan Turmudzi, 2/294).</p>
<p>Allahu a&#8217;lam</p>
<p><strong>Dijawan oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a title="konsultasi kesehatan dan tanya jawab pendidikan islam" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a>)</strong></p>
<blockquote><p>Artikel ini disponsori oleh Zahir Accounting. <a title="Software Akuntansi Terbaik di Indonesia" href="http://zahiraccounting.com/id/" target="_blank" rel="nofollow"><strong>Software Akuntansi Terbaik di Indonesia</strong></a>.</p>
<p>Anda juga dapat menjadi sponsor di video dan website dakwah di <a title="Yufid.com Network" href="http://yufid.com/" target="_blank" rel="nofollow">Yufid.com Network</a>, silakan hubungi: <em>marketing@yufid.org</em> untuk menjadi sponsor.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/adakah-shalat-sunah-qabliyah-ashar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tidak Pernah Tahu Kewajiban Mandi Junub, Haruskah Mengulangi Salatnya?</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/tidak-pernah-tahu-kewajiban-mandi-junub-haruskah-mengulangi-salatnya/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/tidak-pernah-tahu-kewajiban-mandi-junub-haruskah-mengulangi-salatnya/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Apr 2013 23:57:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersuci]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA["mandi wajib"]]></category>
		<category><![CDATA[mandi junub]]></category>
		<category><![CDATA[mengulang shalat]]></category>
		<category><![CDATA[waktu mandi wajib]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=17257</guid>
		<description><![CDATA[Tidak Pernah Tahu Kewajiban Mandi Junub Pertanyaan: Apakah najis orang yang junub/keluar mani tapi tidak mandi jinabah sebab belum tahu printah mandi tersb? Apakah shalat-shalatnya wajib diulangi? Dari: Luthfi Jawaban: Alhamdulillah was shalatu was salamu &#8216;ala rasulillah, amma ba&#8217;du, Sebagai ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Tidak Pernah Tahu Kewajiban Mandi Junub</strong></h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Apakah najis orang yang junub/keluar mani tapi tidak mandi jinabah sebab belum tahu printah mandi tersb? Apakah shalat-shalatnya wajib diulangi?</em><br />
<span id="more-17257"></span><br />
Dari: Luthfi</p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p><i>Alhamdulillah was shalatu was salamu &#8216;ala rasulillah, amma ba&#8217;du,</i></p>
<p>Sebagai kaum muslimin, sudah sepantasnya untuk memahami setiap kewajiban yang menjadi beban hidupnya. Terutama yang terkait dengan tugas akhirat. Karena itu merupakan syarat untuk bisa menuju taqwa. Bagaimana tidak, seseorang baru bisa bertaqwa ketika dia melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah. Sementara tidak mungkin dia bisa memahami perintah dan larangan Allah, tanpa mempelajari keduanya.</p>
<p>Untuk itulah, Allah memerintahkan kita agar mendasari semua usaha dan amal kita dengan ilmu dan pemahaman yang benar. Allah berfirman,</p>
<p class="arab">فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ</p>
<p>&#8220;<i>Ilmuilah bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan mintalah ampunan untuk dosa-dosamu, serta dosa orang mukmin laki-laki dan wanita</i>.&#8221; (QS. Muhammad: 19).</p>
<p>Imam Bukhari ketika menafsirkan ayat ini, beliau mengatakan,</p>
<p class="arab">العِلْمُ قَبْلَ القَوْلِ وَالعَمَلِ</p>
<p>&#8220;<i>Memahami ilmunya sebelum berkata dan beramal</i>.&#8221; (<i>Shahih Bukhari</i>, 1:24)</p>
<p>Lebih tegas lagi, Rasulullah <i>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</i> telah menegaskan bahwa menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim.</p>
<p class="arab">طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ</p>
<p>&#8220;<i>Menuntut ilmu, wajib bagi setiap muslim</i>.&#8221; (HR. Ahmad, Ibn Majah dan dishahihkan Al-Albani).</p>
<p>Tentu saja, Anda tidak dituntut mempelajari semua ilmu agama, dari A sampai Z, karena itu tidak mungkin. Namun Anda dituntut untuk mempelajari ilmu wajib yang harus diketahui setiap muslim. Disebut ilmu wajib karena membahas kewajiban setiap muslim, baik kewajiban agama atau aturan terkait aktivitas dunianya. Tak terkecuali, mandi wajib. Karena suci dari hadats, merupakan syarat sah shalat.</p>
<p>Mengenai tata cara mandi wajib, anda bisa pelajari di: <a title="cara mandi wajib" href="http://www.konsultasisyariah.com/cara-mandi-wajib/" target="_blank"><strong>Cara Mandi Wajib</strong></a> dan <a title="tata cara mandi wajib khusus wanita" href="http://www.konsultasisyariah.com/tata-cara-mandi-wajib-khusus-wanita/" target="_blank"><strong>Tata Cara Mandi Wajib Khusus Wanita</strong></a></p>
<h3><strong>Wajibkah Mengulang Shalatnya?</strong></h3>
<p>Kita akan menyimpulkan beberapa dalil berikut untuk mendapatkan jawabannya:</p>
<p>Pertama, hadis dari Abu Hurairah <i>radhiyallahu &#8216;anhu</i>, bahwa Rasulullah <i>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</i> pernah masuk masjid. Kemudian bersamaan dengan itu ada orang yang juga masuk masjid. Orang ini pun melakukan shalat. Seusai shalat, orang ini menghampiri Nabi <i>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</i> dan menyampaikan salam. Setelah menjawab salamnya, Nabi <i>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</i> menyuruh orang ini, &#8220;<i>Ulangi shalatmu, karena kamu belum shalat dengan benar</i>.&#8221; Orang ini pun kembali melakukan shalat seperti shalat sebelumnya. Selesai shalat, beliau mengahampiri Nabi <i>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</i>, menyampaikan salam dan dijawab oleh Nabi. Namun Nabi <i>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</i> tetap menyuruh yang sama: &#8220;<i>Ulangi shalatmu, karena kamu belum shalat dengan benar</i>.&#8221; Dan itu terjadi sampai tiga kali. Sampai akhirnya, orang inipun menyerah. Dia mengatakan, &#8220;Demi Allah yang telah mengutus Anda dengan membawa kebenaran, aku tidak mampu shalat yang lebih baik dari ini, karena itu, ajarilah aku.&#8221; Beliau pun mengajari sahabat ini:</p>
<p class="arab">إذا قمت إلى الصلاة فكبر ثم اقرأ ما تيسر معك من القرآن ثم اركع حتى تطمئن راكعا&#8230;..</p>
<p>&#8220;<i>Apabila kamu shalat, bertakbirlah kemudian baca ayat Alquran yang kamu hafal, kemudian rukuklah sampai kamu betul-betul thuma&#8217;ninah ketika rukuk….</i>&#8221; (HR. Bukhari 724 dan Muslim 367).</p>
<p>Hadis ini sering dikenal dengan istilah hadits al-musi&#8217; shalatuhu (hadis tentang orang yang shalatnya salah). Dalam praktek shalatnya, sahabat ini tidak thumakninah dalam melaksanakan rukun shalat. Hadis ini meruapakan hadis standar tentang tata cara shalat yang benar. Karena dalam hadis ini, Rasulullah <i>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</i> mengajarkan cara shalat minimal yang harus dilakukan seorang muslim.</p>
<p>Catatan penting yang terkait dengan pembahasan ini, dalam hadis al-musi&#8217; shalatuhu, Rasulullah <i>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</i> tidak memerintahkan orang ini untuk mengulangi shalat-shalatnya yang telah dia kerjakan sebelum peristiwa itu. Padahal bisa dipastikan shalat orang ini batal, karena selalu tidak thuma&#8217;ninah, sebagaimana yang dia nyatakan sendiri, &#8221; Demi Allah&#8230;, aku tidak mampu shalat yang lebih baik dari ini&#8230;&#8221; Keterangan yang ada, Nabi <i>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</i> hanya memerintahkan orang itu untuk mengulangi shalat yang saat itu baru dia kerjakan.</p>
<p>Kedua, dari Abdurrahman bin Abza, beliau menceritakan,</p>
<p>Ada seseorang yang datang kepada Umar, dia bertanya, &#8220;Saya junub dan saya tidak mendapatkan air.&#8221; Spontan Ammar bin Yasir berkata kepada Umar, &#8220;Masih ingatkah kamu, ketika kita melakukan safar kemudian junub dan kita tidak mendapatkan air. Kamu tidak shalat, sementara aku bergulung-gulung di tanah, lalu shalat. Sepulang ke Madimah, aku tanyakan kepada Nabi <i>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</i>. kemudian beliau mengjari aku cara tayamum yang benar.&#8221; (HR. Bukhari 331 dan Muslim 368).</p>
<p>Pada hadis di atas, sahabt Umar bin Khatab <i>radhiyallahu &#8216;anhu</i>, tidak mengerjakan shalat karena junub, sebab dia tidak memahami tentang kewajiban tayamum bagi orang yang junub dan tidak mendapatkan air. Berbeda dengan Ammar bin Yasir. Beliau bergulung-gulung di tanah sebagai pengganti mandi karena tidak tahu tata cara  tayamum yang benar.</p>
<p>Terkait masalah ini, Rasulullah <i>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</i> tidaklah memerintahkan kedua sahabat tersebut untuk mengulangi shalatnya.</p>
<p>Syaikhul Islam menjelaskan,</p>
<p class="arab">&#8230; وعلى هذا لو ترك الطهارة الواجبة لعدم بلوغ النص ، مثل : أن يأكل لحم الإبل ولا يتوضأ ثم يبلغه النص ويتبين له وجوب الوضوء ، أو يصلي في أعطان الإبل ثم يبلغه ويتبين له النص : فهل عليه إعادة ما مضى ؟ فيه قولان هما روايتان عن أحمد . ونظيره : أن يمس ذَكَره ويصلى ، ثم يتبين له وجوب الوضوء من مس الذكر .</p>
<p>…Berdasarkan keterangan tersebut, jika ada orang yang bersuci (mandi atau wudhu), karena belum sampai dalil kepadanya, misalnya, ada orang yang makan daging onta, kemudian tidak berwudhu ketika hendak shalat, karena tidak tahu dalilnya. Setelah itu, dia baru tahu bahwa dia harus wudhu (setelah makan daging onta), atau orang yang shalat di tempat menderum onta (karena tidak tahu), kemudian dia mendapatkan hadisnya. Apakah dalam kasus-kasus di atas, seseorang wajib mengulang shalat yang dulu dia lakukan? Ada dua pendapat, dan keduanya diriwayatkan dari Imam Ahmad. Termasuk dalam hal ini adalah, orang yang menyentuh kemaluannya (dengan syahwat) kemudian shalat. Setelah itu dia tahu dalilnya, bahwa diwajibkan untuk wudhu karena menyentuh kemaluan.</p>
<p>Syaikhul Islam kemudian menegaskan pendapat yang lebih kuat:</p>
<p class="arab">والصحيح في جميع هذه المسائل : عدم وجوب الإعادة ؛ لأن الله عفا عن الخطأ والنسيان ؛ ولأنه قال { وما كنا معذبين حتى نبعث رسولا } ، فمن لم يبلغه أمر الرسول صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ في شيءٍ معيَّنٍ : لم يثبت حكم وجوبه عليه ، ولهذا لم يأمر النبي صلى الله عليه وسلم عمر وعمَّاراً لما أجْنبا فلم يصلِّ عمر وصلَّى عمار بالتمرغ أن يعيد واحد منهما ، وكذلك لم يأمر أبا ذر بالإعادة لما كان يجنب ويمكث أياماً لا يصلي ، وكذلك لم يأمر مَن أكل من الصحابة حتى يتبين له الحبل الأبيض من الحبل الأسود بالقضاء ، كما لم يأمر مَن صلى إلى بيت المقدس قبل بلوغ النسخ لهم بالقضاء .</p>
<p>Yang benar dalam semua kasus di atas: tidak wajib mengulangi shalat yang telah dia lakukan. Karena Allah memaafkan perbuatan yang dilakukan karena kesalahan atau lupa. Dan karena Allah telah berfirman, yang artinya: &#8220;Aku tidak akan memberi adzab sampai Aku mengutus seroang rasul.&#8221; Sehingga siapa saja yang belum mengetahui tuntunan Rasul <i>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</i> dalam amal tertentu, dia tidak dihukumi wajib melakukannya. Karena itulah, ketika Umar bin Khatab dan Ammar bin Yasir keduanya mengalami junub, kemudian Umar tidak shalat, sementara Ammar melakukan shalat setelah bergulung di tanah, Nabi <i>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</i> tidak memerintahkan mereka berdua untuk mengulangi shalatnya. Demikian pula, Rasulullah <i>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</i> tidak memerintahkan Abu Dzar untuk mengqadha shalatnya, ketika dia junub dan tidak shalat beberapa hari. Rasulullah <i>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</i> juga tidak memerintahkan sahabat yang masih makan sahur, padahal sudah masuk waktu subuh, karena berpatokan dengan batas benang putih dan benang hitam sudah kelihatan, untuk mengqadha puasanya. Termasuk, Rasulullah <i>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</i> tidak memerintahkan orang yang shalat menghadap baitul maqdis karena tidak tahu bahwa itu sudah diubah, untuk mengqadha shalat mereka&#8230; (<i>Majmu&#8217; Fatawa</i>, 22:101 – 102)</p>
<p>Menyimpulkan dari keterangan Syaikhul islam, pada kasus di atas, orang tersebut tidak diwajibkan mengulangi semua shalat yang dilakukan dalam kondisi junub, selain shalat yang masih dia jumpai waktunya.</p>
<p><i>Allahu a&#8217;lam</i></p>
<p>Sumber: <i>Fatwa Islam</i>, no. 45648</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)</strong></p>
<p><strong>Artikel <a title="konsultasi kesehatan dan tanya jawab pendidikan islam" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Artikel ini disponsori oleh Zahir Accounting. <a title="Software Akuntansi Terbaik di Indonesia" href="http://zahiraccounting.com/id/" target="_blank" rel="nofollow"><strong>Software Akuntansi Terbaik di Indonesia</strong></a>.</p>
<p>Anda juga dapat menjadi sponsor di video dan website dakwah di <a title="Yufid.com Network" href="http://yufid.com/" target="_blank" rel="nofollow">Yufid.com Network</a>, silakan hubungi: <em>marketing@yufid.org</em> untuk menjadi sponsor.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/tidak-pernah-tahu-kewajiban-mandi-junub-haruskah-mengulangi-salatnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cara Jama&#8217; Shalat Maghrib Ketika Isya&#8217;</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/cara-jama-shalat-maghrib-ketika-isya/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/cara-jama-shalat-maghrib-ketika-isya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Apr 2013 10:16:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aris</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[cara jama]]></category>
		<category><![CDATA[isya']]></category>
		<category><![CDATA[shalat maghrib]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=17338</guid>
		<description><![CDATA[Jama&#8217; Shalat Maghrib ketika Isya&#8217; Pertanyaan: Bismillah Assalamu’alaikum warahamatullah wabarakatuh Ada yang mau ditanyakan, mengenai shalat jamak takhir. Misalkan kita menjamak shalat maghrib di waktu isya, mana yang didahulukan? Shalat isya terlebih dahulu baru maghrib atau sebaliknya, maghrib dahulu baru ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Jama&#8217; Shalat Maghrib ketika Isya&#8217;</strong></h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Bismillah</em></p>
<p><em>Assalamu’alaikum warahamatullah wabarakatuh</em></p>
<p><em>Ada yang mau ditanyakan, mengenai <a title="shalat jamak takhir" href="http://konsultasisyariah.com/cara-jama-shalat-maghrib-ketika-isya" target="_blank" rel="nofollow">shalat jamak takhir</a>. Misalkan kita menjamak shalat maghrib di waktu isya, mana yang didahulukan? Shalat isya terlebih dahulu baru maghrib atau sebaliknya, maghrib dahulu baru isya?</em><br />
<span id="more-17338"></span><br />
<em>Dengan beberapa asumsi berikut:</em></p>
<p><em>1. Kita ikut berjamaah di masjid di waktu isya.</em></p>
<p><em>2. Kita shalat sendiri di rumah.</em></p>
<p><em>Dan apakah safar bisa menjadi salah satu syarat untuk tidak ikut berjamaah?</em></p>
<p>Dari: Alfanur</p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh</p>
<p>Jika shalat sendiri, maghrib dulu baru isya. Jika jamaah isya di masjid, mayoritas ulama dalam kondisi ini membolehkan isya dulu baru maghrib.</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Aris Munandar, M.PI (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)</strong></p>
<p><strong>Artikel <a title="konsultasi kesehatan dan tanya jawab pendidikan islam" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<blockquote><p>Artikel ini disponsori oleh Zahir Accounting. <a title="Software Akuntansi Terbaik di Indonesia" href="http://zahiraccounting.com/id/" target="_blank" rel="nofollow"><strong>Software Akuntansi Terbaik di Indonesia</strong></a>.</p>
<p>Anda juga dapat menjadi sponsor di video dan website dakwah di <a title="Yufid.com Network" href="http://yufid.com/" target="_blank" rel="nofollow">Yufid.com Network</a>, silakan hubungi: <em>marketing@yufid.org</em> untuk menjadi sponsor.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/cara-jama-shalat-maghrib-ketika-isya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rincian Hukum Shalat dengan Pakaian Najis</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/rincian-hukum-shalat-dengan-pakaian-najis/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/rincian-hukum-shalat-dengan-pakaian-najis/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Apr 2013 22:48:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersuci]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[pakaian najis]]></category>
		<category><![CDATA[sholat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=16860</guid>
		<description><![CDATA[Hukum Shalat dengan Pakaian Najis Pertanyaan: Dengan terpaksa sholat menggunakan pakaian yang kotor dan najis, apakah itu sah? Dari: Soleh Jawaban: Berikut pendapat 4 madzhab, seperti yang disebutkan dalam Fatawa Syabakah Islamiyah no. 44652, Kasus: Ketika masuk waktu shalat, si ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Hukum Shalat dengan Pakaian Najis</strong></h2>
<p><b>Pertanyaan:</b></p>
<p>Dengan <em>terpaksa sholat menggunakan pakaian yang kotor dan najis</em>, apakah itu sah?</p>
<p>Dari: Soleh<br />
<span id="more-16860"></span><br />
<b>Jawaban:</b></p>
<p>Berikut pendapat 4 madzhab, seperti yang disebutkan dalam <i>Fatawa Syabakah Islamiyah</i> no. 44652,</p>
<p>Kasus:</p>
<p>Ketika masuk waktu shalat, si A bajunya <a title="terkena najis" href="http://konsultasisyariah.com/rincian-hukum-shalat-dengan-pakaian-najis" target="_blank" rel="nofollow"><strong>terkena najis</strong></a> dan tidak memungkinkan untuk dibersihkan atau ganti dengan pakaian yang lain. Sementara jika dia tunda sampai tujuan, dikhawatirkan keluar waktu shalat. Apa yang harus dilakukan?</p>
<p><b>Pendapat Hanafiyah:</b></p>
<p>Dalam kondisi di atas, si A dibolehkan melaksanakan shalat meskipun dengan pakaian najis. Shalatnya sah dan tidak perlu diulang. Al-Kasani dalam <i>Bada&#8217;i As-Shana&#8217;i</i> mengatakan,</p>
<p class="arab">فإن كان ربعه -أي الثوب- طاهراً لم يجزه أن يصلي عرياناً بل يجب عليه أن يصلي في ذلك الثوب لأن الربع فما فوقه في حكم الكمال&#8230;. وإن كان كله نجساً أو الطاهر منه أقل من الربع فهو بالخيار في قول أبي حنيفة وأبي يوسف إن شاء صلى عرياناً وإن شاء مع الثوب لكن الصلاة في الثوب أفضل، قال محمد لا تجزئه إلا مع الثوب</p>
<p>Jika seperempat bajunya itu suci (3/4 terkena najis) maka dia tidak boleh shalat sambil telanjang. Namun dia wajib shalat dengan menggunakan baju itu. Karena seperempat ke atas, masih dianggap seperti sempurna&#8230; namun jika seluruh bajunya najis, atau yang suci kurang dari 1/4 bagian, maka dia punya hak pilih, menurut pendapat Abu hanifah dan Abu yusuf (murid Abu Hanifah). Dia boleh shalat dengan telanjang, boleh juga shalat dengan memakai baju itu. Namun shalat dengan menggunakan baju itu lebih utama. Sementara Muhammad bin Hasan (murid Abu Hanifah) berpendapat, shalatnya tidak sah, kecuali dengan memakai pakaian (meskipun najis) (<i>Bada&#8217;i As-Shana&#8217;i</i>, 1:478)</p>
<p><b>Pendapat Malikiyah:</b></p>
<p>Si A boleh shalat dengan baju itu. Namun jika setelah memungkinkan untuk mencucinya atau mendapatkan baju ganti, si A masih mendapatkan waktu shalat, dia wajib mengulangi shalatnya.</p>
<p>An-Nafrawi mengatakan,</p>
<p class="arab">وكذلك يعيد في الوقت من صلى فريضة بثوب نجس أو متنجس مع عدم القدرة على إزالتها واتساع الوقت وكانت تلك النجاسة غير معفو عنها</p>
<p>Orang yang melakukan shalat wajib dengan baju najis atau baju terkena najis, sementara dia tidak mampu menghilangkannya, dan waktu shalat masih longgar, disamping najisnya tidak bisa ditoleransi maka dia wajib mengulangi shalatnya selama waktu shalat masih ada (setelah mencuci najisnya)  (<i>al-Fawakih ad-Dawani</i>, 3:24).</p>
<p><b>Pendapat Syafiiyah:</b></p>
<p>Si A tidak boleh shalat dengan pakaian najis itu. Namun dia shalat dengan telanjang, shalatnya sah dan tidak wajib diulangi.</p>
<p>Imam asy-Syafii dalam kitabnya <i>al-Umm</i> mengatakan,</p>
<p class="arab">ولو أصابت ثوبه نجاسة ولم يجد ماء لغسله صلى عرياناً ولا يعيد، ولم يكن له أن يصلي في ثوب نجس بحال&#8230;.</p>
<p>&#8220;Jika pakaiannya terkena najis dan dia tidak mendapatkan air untuk mencucinya maka dia shalat sambil telanjang dan tidak perlu diulang. Dia tidak boleh melakukan shalat dengan pakaian najis, apapun keadaannya&#8230;&#8221; (<i>al-Umm</i>, 1:74)</p>
<p><b>Pendapat Hanbali:</b></p>
<p>Si A boleh shalat dengan baju najis itu dan tidak boleh shalat sambil telanjang. Namun dia wajib mengulangi shalatnya setelah mencucinya atau mendapatkan baju ganti, meskipun waktu shalat telah berakhir.</p>
<p>Ibnu Qudamah mengatakan,</p>
<p class="arab">ومن لم يجد إلا ثوباً نجساً صلى فيه وأعاد على المنصوص</p>
<p>&#8220;Orang yang tidak memiliki pakaian selain baju najis, dia boleh shalat dengan baju itu, dan wajib mengulangi, menurut keterangan Imam Ahmad.&#8221; (<i>al-Muqni&#8217;</i> dengan <i>Syarh al-Kabir</i>, 1:465)</p>
<p>Mengomentari keterangan Ibnu Qudamah ini, al-Mardawi dalam <i>al-Inshaf</i> mengatakan,</p>
<p class="arab">هَذَا الْمَذْهَبُ. وَعَلَيْهِ جَمَاهِيرُ الْأَصْحَابِ وَقَطَعَ بِهِ كَثِيرٌ مِنْهُمْ .</p>
<p>Inilah pendapat madzhab hambali dan pendapat yang dipilih mayoritas ulama hambali (<i>al-Inshaf</i>, 2:243).</p>
<p><i>Allahu a&#8217;lam</i></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a title="konsultasi kesehatan dan tanya jawab pendidikan islam" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">KonsultasiSyariah.com</a>)</strong></p>
<blockquote><p>Artikel ini disponsori oleh Zahir Accounting. <a title="Software Akuntansi Terbaik di Indonesia" href="http://zahiraccounting.com/id/" target="_blank" rel="nofollow"><strong>Software Akuntansi Terbaik di Indonesia</strong></a>.</p>
<p>Anda juga dapat menjadi sponsor di video dan website dakwah di <a title="Yufid.com Network" href="http://yufid.com/" target="_blank" rel="nofollow">Yufid.com Network</a>, silakan hubungi: <em>marketing@yufid.org</em> untuk menjadi sponsor.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/rincian-hukum-shalat-dengan-pakaian-najis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apabila Imam Lupa Mengucapkan Sami&#8217;allahu liman Hamidah</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/apabila-imam-lupa-mengucapkan-samiallahu-liman-hamidah/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/apabila-imam-lupa-mengucapkan-samiallahu-liman-hamidah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Mar 2013 22:32:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[imam lupa bacaan]]></category>
		<category><![CDATA[lupa sholat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=17017</guid>
		<description><![CDATA[Imam Lupa Mengucapkan Sami&#8217;allahu liman Hamidah Pertanyaan: Jika ada imam yang lupa ketika i&#8217;tidal dia mengucapkan Allahu Akbar dan bukan sami&#8217;allahu liman hamidah, apakah shalatnya sah? Dan apa yang harus dilakukan? Dari: Mr. Suyut, Mino. Jawaban: Bismillah was  shalatu was ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Imam Lupa Mengucapkan Sami&#8217;allahu liman Hamidah</strong></h2>
<p><b>Pertanyaan:</b></p>
<p>Jika ada imam yang lupa ketika <a title="i'tidal" href="http://konsultasisyariah.com/apabila-imam-lupa-mengucapkan-samiallahu-liman-hamidah" target="_blank" rel="nofollow"><em>i&#8217;tidal</em></a> dia mengucapkan <i>Allahu Akbar</i> dan bukan <i>sami&#8217;allahu liman hamidah</i>, apakah shalatnya sah? Dan apa yang harus dilakukan?</p>
<p>Dari: Mr. Suyut, Mino.<br />
<span id="more-17017"></span><br />
<b>Jawaban:</b></p>
<p><i>Bismillah was  shalatu was salamu &#8216;ala rasulillah, amma ba&#8217;du,</i></p>
<p><b>Pertama</b>, kita perlu memahami hukum bacaan <i>takbir intiqal</i>, dan ucapan: <i>sami&#8217;allahu liman hamidah</i> (<i>tasmi’</i>) ketika shalat.</p>
<p>Ada dua pendapat ulama tentang hukum <i>takbir intiqal</i>, dan <i>tasmi’</i> ketika shalat</p>
<p>1. Mayoritas ulama (Hanafiyah, Malikiyah, dan Syafiiyah) berpendapat bahwa <i>takbir intiqal</i> dan <i>tasmi’</i> hukumnya sunah dan tidak wajib. Karena <i>takbir intiqal</i> dan <i>tasmi’</i> ini tidak diajarkan Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> kepada orang yang shalatnya salah, padahal itu meruapakan hadis standar tentang tata cara shalat.</p>
<p>2. Imam Ahmad dan ulama madzhab hambali, serta beberapa ulama kontemporer berpendapat bahwa <i>takbir intiqal</i> dan <i>tasmi’</i> hukumya wajib.</p>
<p>Ibn Qudamah mengatakan,</p>
<p class="arab">والمشهور عن أحمد أن تكبير الخفض والرفع ، وتسبيح الركوع والسجود ، وقول &#8221; سمع الله لمن حمده ربنا ولك الحمد &#8221; ، وقول &#8221; رب اغفر لي &#8221; بين السجدتين ، والتشهد الأول – واجب ، وهو قول إسحاق وداود</p>
<p>Riwayat yang masyhur dari Imam Ahmad bahwa takbir intiqal, bacaan tasbih ketika rukuk dan sujud, ucapan &#8216;sami&#8217;allahu liman hamidah, rabbanaa lakal hamdu&#8217;, doa ketika duduk diantara dua sujud, dan tasuahud awal, semuanya hukumnya wajib. Dan ini juga pendapat Ishaq bin Rahawaih dan Daud. (<i>al-Mughni</i>, 1:362).</p>
<p>Diantara dalil yang menguatkan pendapat ini adalah</p>
<p>Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> selalu melakukannya dalam shalat, dan beliau tidak pernah meninggalkan ucapan &#8216;sami&#8217;allahu liman hamidah&#8217; apapun keadaannya. Padahal beliau memerintahkan agar umatnya shalat seperti shalat beliau, dalam sabdanya: &#8220;<i>Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat</i>.&#8221; (HR. Bukhari)</p>
<p>Terdapat riwayat yang lebih lengkap tentang pengajaran Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> kepada orang yang shalatnya salah. Dalam riwayat itu dinyatakan,</p>
<p class="arab">لاَ تَتِمُّ صَلاَةٌ لِأَحَدٍ مِنَ النَّاسِ حَتَّى يَتَوَضَّأَ.. إلى قوله.. ثُمَّ يَقُولُ &#8221; سَمِعَ اللَّهُ لِمَن حَمِدَهُ &#8221; حَتَّى يَستَوِيَ قَائِمًا</p>
<p>&#8220;<i>Shalat seseorang tidak akan sempurna, sampai dia berwudhu…… kemudian dia mengucapkan &#8216;sami&#8217;allahu liman hamidah&#8217;, sehingga dia berdiri sempurna</i>.&#8221; (HR. Abu Daud)</p>
<p>Lafadz ini merupakan bacaan perpindahan antara rukuk dan i&#8217;tidal.</p>
<p>(Simak <i>al-Mughni,</i> 1:362 dan <i>asy-Syarhul Mumthi&#8217;</i>, 3:317).</p>
<p><b>Kedua</b>, untuk semua kasus lupa meninggalkan hal yang wajib atau sunah dalam shalat, disyariatkan melakukan sujud sahwi. Hanya saja hukumnya berbeda,</p>
<p>1. Jika yang ditinggalkan hukumnya wajib maka sujud sahwi hukumnya wajib.</p>
<p>Apabila kita menguatkan pendapat madzhab hambali bahwa <i>tasmi’</i> ketika i&#8217;tidal hukumnya wajib, maka dalam kondisi ini, imam meninggalkan amalan wajib dalam shalat karena lupa. Sehingga imam wajib melakukan sujud sahwi.</p>
<p>Lembaga Fatawa Syabakah Islamiyah pernah ditanya tentang hukum imam yang tidak membaca <i>tasmi’</i> ketika I&#8217;tidal. Jawaban yang diebrikan,</p>
<p class="arab">فإذا سها الإمام وترك واجباً من واجبات الصلاة التي من ضمنها قوله: سمع الله لمن حمده، ‏بعد القيام من الركوع ولم ينتبه لسهوه إلا بعد فوات التدارك، فعليه أن يسجد لسهوه هذا ‏سجدتين قبل السلام</p>
<p>&#8220;Jika imam lupa dan meninggalkan salah satu kewajiban dalam shalat, yang salah satunya adalah ucapan &#8216;sami&#8217;allahu liman hamidah&#8217; ketika hendak I&#8217;tidal, dan tidak ada yang mengingatkan dia ketika lupa maka imam harus sujud sahwi, yaitu melakukan dua kali sujud sebelum salam.&#8221; (<i>Fatwa Syabakah Islamiyah</i>, no. 9511)</p>
<p>2. Jika yang ditinggalkan hukumnya sunah, sujud sahwi hukumnya sunah.</p>
<p>Sebaliknya, ketika kita menguatkan pendapat bahwa <i>tasmi’</i> hukumnya sunah, maka dalam kasus di atas, imam meninggalkan sunah yang menjadi kebiasannya karena lupa, dan dia dianjurkan untuk melakukan sujud sahwi. Berdasarkan keumuman hadis, dari Tsauban <i>radhiyallahu ‘anhu</i>, bahwa Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> bersabda,</p>
<p class="arab">لِكُلِّ سَهْوٍ سَجْدَتَانِ بَعْدَ مَا يُسَلِّمُ</p>
<p>&#8220;<i>Setiap terjadi kelupaan, ada sujud sahwi dua kali, setelah salam</i>.&#8221; (HR. Abu Daud 1038 dan dihasankan al-Albani)</p>
<p>Ibnu Utsaimin mengatakan,</p>
<p class="arab">إذا تَرَكَ الإِنسان شيئاً من الأقوال أو الأفعال المستحبَّة نسياناً، وكان من عادته أن يفعله فإنه يُشرع أن يسجد جَبْراً لهذا النقص الذي هو نَقْصُ كمال، لا نقص واجب ؛ لعموم قوله في الحديث: (لكلِّ سهو سجدتان)</p>
<p>&#8220;Jika seseorang meninggalkan bacaan atau gerakan yang sunah dalam shalat karena lupa, dan dia memiliki kebiasaan melakukan bacaan atau gerakan yang dia lakukan maka dia dianjurkan untuk sujud sahwi, sebagai pengganti dari kekurangan tersebut, yang mengurangi kesempurnaan shalatnya, bukan mengurangi kadar wajibnya. Berdasarkan keumuman hadis: &#8216;Setiap terjadi kelupaan, ada sujud sahwi dua kali sujud.&#8221; (<i>asy-Syarhul Mumthi&#8217;</i>, 3:392)</p>
<p><i>Allahu a&#8217;lam</i></p>
<h4><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a title="konsultasi kesehatan dan tanya jawab agama islam" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a>)</strong></h4>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/apabila-imam-lupa-mengucapkan-samiallahu-liman-hamidah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Menshalati Jenazah Bunuh Diri</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/hukum-menshalati-jenazah-bunuh-diri/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/hukum-menshalati-jenazah-bunuh-diri/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Mar 2013 06:05:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Jenazah]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[bunuh diri]]></category>
		<category><![CDATA[membunuh orang]]></category>
		<category><![CDATA[shalat jenazah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=16979</guid>
		<description><![CDATA[Menshalati Jenazah Bunuh Diri Pertanyaan: Assalamu&#8217;alaikum warahmatullahi wabarakatuh Apakah orang yang bunuh diri jenazahnya juga harus dishalatkan dan dikirimkan doa? Dari: Nofri Jawaban: Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh Bismillah was shalatu was salamu &#8216;ala rasulillah, amma ba&#8217;du, Bunuh diri termasuk dosa yang ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Menshalati Jenazah Bunuh Diri</strong></h2>
<p><b>Pertanyaan:</b></p>
<p>Assalamu&#8217;alaikum warahmatullahi wabarakatuh</p>
<p>Apakah orang yang <em>bunuh diri</em> jenazahnya juga harus dishalatkan dan dikirimkan doa?</p>
<p>Dari: Nofri<br />
<span id="more-16979"></span><br />
<b>Jawaban:</b></p>
<p>Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh</p>
<p><i>Bismillah was shalatu was salamu &#8216;ala rasulillah, amma ba&#8217;du,</i></p>
<p><a title="bunuh diri" href="http://konsultasisyariah.com/hukum-menshalati-jenazah-bunuh-diri" target="_blank" rel="nofollow"><strong>Bunuh diri</strong></a> termasuk dosa yang sangat besar, karena pelakunya diancam oleh Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> untuk disiksa di neraka dengan cara sebagaimana dia membunuh jiwanya. Padahal orang yang melakukan bunuh diri sampai mati, tidak ada lagi kesempatan bertaubat baginya.</p>
<p>Dari Abu Hurairah <i>radhiallahu ’anhu</i>, Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> bersabda,</p>
<p class="arab">مَنْ تَرَدَّى مِنْ جَبَلٍ فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَهُوَ في نَارِ جَهَنَّمَ يَتَرَدَّى فِيهِ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيها أَبَدًا، وَمَنْ تَحَسَّى سُمًّا فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَسُمُّهُ في يَدِهِ يَتَحَسَّاهُ في نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فيها أَبَدًا، وَمَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِحَديدَةٍ فَحَدِيدَتُهُ في يَدِهِ يَجَأُ بِها في بَطْنِهِ في نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيها أَبَدًا</p>
<p>“<i>Siapa yang menjatuhkan dirinya dari gunung hingga mati maka di neraka jahanam dia akan menjatuhkan dirinya, kekal di dalamnya selamanya. Siapa yang menegak racun sampai mati, maka racun itu akan diberikan di tangannya, kemudian dia minum di neraka jahanam, kekal di dalamnya selamanya. Siapa yang membunuh dirinya dengan senjata tajam maka senjata itu akan diberikan di tangannya kemudian dia tusuk perutnya di neraka jahanam, kekal selamanya</i>.” (HR. Bukhari 5778 dan Muslim 109)</p>
<p>Meskipun demikian, pelaku <a title="bunuh diri" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">bunuh diri</a> tidaklah dihukumi keluar dari islam. Artinya, meskipun dia mati suul khotimah, namun dia tetap muslim, sehingga jenazahnya tetap wajib disikapi sebagaimana layaknya jenazah seorang muslim. Dia wajib dimandikan, dikafani, dishalati, dan dimakamkan di pemakaman kaum muslimin.</p>
<p>Hanya saja, ada satu yang membedakan, dianjurkan bagi pemuka agama dan masyarkat, seperti ulama setempat atau pemerintah desa setempat, agar tidak turut menshalati jenazah ini secara terang-terangan, sebagai hukuman sosial dan pelajaran berharga bagi masyarakat.</p>
<p>Diantara dalil yang menunjukkan hal ini,</p>
<p>Dari Jabir bin Samurah <i>radhiallahu ’anhu</i>, beliau menceritakan,</p>
<p class="arab">أُتِي النبي صلى الله عليه وسلم برجل قتل نفسه بمشاقص فلم يصل عليه</p>
<p>Pernah dihadapkan kepada Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> seorang jenazah korban bunuh diri dengan anak panah, dan beliau tidak bersedia menshalatinya. (HR. Muslim 978).</p>
<p>An-Nawawi mengatakan,</p>
<p class="arab">عن مالك وغيره أن الإمام يجتنب الصلاة على مقتول في حد وأن أهل الفضل لا يصلون على الفساق زجرا لهم وعن الزهري لا يصلى على مرجوم ويصلى على المقتول في قصاص</p>
<p>Imam Malik dan yang lainnya berpendapat bahwa hendaknya pemuka masyarakat tidak menshalati orang yang mati karena dihukum, dan para pemuka agama tidak menshalati orang fasik, sebagai peringatan bagi msyarakat. Sementara Az-Zuhri berpendapat, pemuka masyarakat tidak menshalati orang yang mati dirajam, namun menshalati orang yang mati sebagai qishas. (Syarh Shahih Muslim, 7/47 – 48)</p>
<p>Syaikhul Islam mengatakan,</p>
<p class="arab">ومن امتنع من الصلاة على أحدهم &#8211; أي : الغال والقاتل والمدين &#8211; زجراً لأمثاله عن مثل فعله كان حسناً ، ولو امتنع في الظاهر ودعا له في الباطن ليجمع بين المصلحتين : كان أولى من تفويت إحداهما</p>
<p>Orang yang tidak mau menshalati jenazah yang mati karena korupsi, qishas, dan punya utang, sebagai bentuk peringatan bagi yang lain agar tidak melakukan semacam itu, termasuk sikap yang baik. Dan andaikan dia tidak mau menshalati secara terang-terangan, namun tetap mendoakan secara diam-diam, sehingga bisa menggabungkan dua sikap paling maslahat, tentu itu pilihan terbaik dari pada meninggalkan salah satu. (<i>al-Ikhtiyarat al-Fiqhiyah</i>, hlm. 78)</p>
<p>Maksud beliau dengan &#8220;dia tidak mau menshalati jenazah orang fasik secara terang-terangan&#8221; adalah dalam rangka mengingatkan masyarakat terhadap bahaya perbuatan tersebut dan &#8220;tetap mendoakan secara diam-diam&#8221;, dalam rangka menunaikan hak sesama muslim.</p>
<p><i>Allahu a&#8217;lam</i></p>
<h4><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a title="konsultasi kesehatan dan tanya jawab agama islam" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a>)</strong></h4>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/hukum-menshalati-jenazah-bunuh-diri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
