<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Konsultasi Kesehatan dan Tanya Jawab Pendidikan Islam &#187; SEJARAH ISLAM</title>
	<atom:link href="http://www.konsultasisyariah.com/category/sejarah-islam/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.konsultasisyariah.com</link>
	<description>KonsultasiSyariah.com</description>
	<lastBuildDate>Mon, 21 May 2012 09:00:43 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Pencetus Ajaran Maulud Nabi</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/10412/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/10412/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Feb 2012 04:17:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[SEJARAH ISLAM]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=10412</guid>
		<description><![CDATA[Sejarah Munculnya Peringatan Maulud Nabi Disebutkan para ahli sejarah bahwa kelompok yang pertama kali mengadakan maulid adalah kelompok Bathiniyah, mereka menamakan dirinya sebagai Bani Fatimiyah dan mengaku sebagai keturunan ahli bait (keturunan Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam). Disebutkan bahwa kelompok Batiniyah ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Sejarah Munculnya Peringatan Maulud Nabi<strong><br />
</strong></h2>
<p>Disebutkan para ahli sejarah bahwa kelompok yang pertama kali mengadakan maulid adalah kelompok Bathiniyah, mereka menamakan dirinya sebagai Bani Fatimiyah dan mengaku sebagai keturunan ahli bait (keturunan Nabi <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em>). Disebutkan bahwa kelompok Batiniyah memiliki 6 peringatan maulid, yaitu maulid Nabi <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em>, maulid Ali bin Abi Thalib <em>radhiallahu ‘anhu</em>, maulid Fatimah, maulid Hasan, maulid Husain dan maulid penguasa mereka. Daulah Bathiniyah ini baru berkuasa pada awal abad ke-4 H. Oleh karena itu, para ulama sepakat bahwa maulid Nabi <em>shallallahu ‘alahi wa sallam </em>baru muncul di zaman belakangan, setelah berakhirnya massa tiga abad yang paling utama dalam umat ini (<em>al quruun al mufadholah</em>). Artinya peringatan maulid ini belum pernah ada di zaman Nabi <em>shallallahu ‘alahi wa sallam </em>dan para sahabat, tabi’in dan para tabi’ tabi’in. Al Hafizh As Sakhawi mengatakan: <em>“Peringatan maulid Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam belum pernah dinukil dari seorang pun ulama generasi terdahulu yang termasuk dalam tiga generasi utama dalam Islam. Namun peringatan ini terjadi setelah masa itu.”</em></p>
<p>Pada hakikatnya, tujuan utama daulah ini mengadakan peringatan maulid Nabi <em>shallallahu ‘alahi wa sallam </em>adalah dalam rangka menyebarkan aqidah dan kesesatan mereka. Mereka mengambil simpati kaum muslimin dengan kedok <a title="Posts tagged with cinta" href="http://kisahmuslim.com/tag/cinta/" rel="nofollow" target="_blank">cinta</a> ahli bait Nabi <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em>. (<em>Dhahiratul Ihtifal bil Maulid An Nabawi</em>, Abdul Karim Al Hamdan)</p>
<p><strong>Siapakah Bani Fatimiyah</strong></p>
<p>Bani Fatimiyah adalah sekelompok orang Syiah pengikut Ubaid bin Maimun Al Qoddah. Mereka menyebut dirinya sebagai Bani Fatimiyah karena menganggap bahwa pemimpin mereka adalah keturunan Fatimah putri Nabi <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em>. Meskipun aslinya ini adalah pengakuan dusta. Oleh karena itu, nama yang lebih layak untuk mereka adalah Bani Ubaidiyah bukan Bani Fatimiyah. Kelompok ini memiliki paham <strong>Syiah Rafidhah</strong> yang menentang Ahlusunnah, dari sejak didirikan sampai masa keruntuhannya berkuasa di benua Afrika bagian utara selama kurang lebih dua abad. Dimulai sejak keberhasilan mereka dalam meruntuhkan daulah Bani Rustum tahun 297 H dan diakhiri dengan keruntuhan mereka di tangan daulah Salahudin Al Ayyubi pada tahun 564 H. (<em>Ad Daulah Al Fathimiyah,</em> Ali Muhammad As Shalabi).</p>
<p>Daulah Fatimiyah ini memiliki hubungan erat dengan kelompok Syiah Al Qaramithah Bathiniyah. Perlu diketahui bahwa Kelompok Al Qaramithah Bathiniyah ini memiliki keyakinan yang sangat menyimpang dari ajaran Islam. Di antaranya mereka hendak menghilangkan syariat haji dalam agama Islam. Oleh karena itu, pada musim haji tahun 317 H kelompok ini melakukan kekacauan di tanah haram dengan membantai para jama’ah haji, merobek-robek kain penutup pintu ka’bah, dan merampas hajar aswad serta menyimpannya di daerahnya selama 22 tahun. (<em>Al Bidayah wan Nihayah,</em> Ibnu Katsir).</p>
<p><strong>Siapakah Abu Ubaid Al Qoddah</strong></p>
<p>Nama aslinya Ubaidillah bin Maimun, kunyahnya Abu Muhammad. Digelari dengan Al Qoddah yang artinya mencolok, karena orang ini suka memakai celak sehingga matanya kelihatan mencolok. Pada asalnya dia adalah orang Yahudi yang membenci Islam dan hendak menghancurkan kaum muslimin dari dalam. Dia menanamkan aqidah batiniyah. Dimana setiap ayat Alquran itu memiliki makna batin yang hanya diketahui oleh orang-orang khusus di antara kelompok mereka. Maka dia merusak ajaran Islam dengan alasan adanya wahyu batin yang dia terima dan tidak diketahui oleh orang lain. (<em>Al Ghazwul Fikr</em> dan <em>Ad Daulah Al Fathimiyah,</em> Ali Muhammad As Shalabi).</p>
<p>Dia adalah pendiri dan sekaligus orang yang pertama kali memimpin Bani Fatimiyah. Pengikutnya menggelarinya dengan <em>Al Mahdi Al Muntazhar</em> (Al Mahdi yang dinantikan kedatangannya). Berasal dari Iraq dan dilahirkan di daerah Kufah pada tahun 206 H. Dirinya mengaku sebagai keturunan salah satu ahli bait Ismail bin Ja’far As Shadiq melalui pernikahan rohani (nikah non fisik). Namun kaum muslimin di daerah Maghrib (Maroko) mengingkari pengakuan nasabnya. Yang benar dia adalah keturunan Said bin Ahmad Al Qoddah. Terkadang orang ini mengaku sebagai pelayan Muhammad bin Ja’far As Shodiq. Semua ini dia lakukan dalam rangka menarik perhatian manusia dan mencari simpati umat. Oleh karena itu, tidak heran jika banyak di antara orang-orang yang tidak tahu di daerah Afrika membenarkannya dan menjadikannya sebagai pemimpin. (<em>Al Bidayah wan Nihayah</em> karya Ibn Katsir dan <em>Ad Daulah Al Fathimiyah</em> karya Ali Muhammad As Shalabi).</p>
<p><strong>Sikap Para Ulama Terhadap Bani Ubaidiyah (Fatimiyah)</strong></p>
<p>Para ulama Ahlussunnah telah menegaskan status kafirnya klan ini. Karena aqidah mereka yang menyimpang. Para ulama menegaskan tidak boleh bermakmum di belakang mereka, tidak boleh menyalati jenazah mereka, tidak boleh adanya hubungan saling mewarisi di antara mereka, tidak boleh menikah dengan mereka, dan sikap-sikap lainnya sebagaimana yang selayaknya diberikan kepada orang kafir. Di antara ulama Ahlussunnah yang sezaman dengan mereka dan secara tegas menyatakan kekafiran mereka adalah As Syaikh Abu Ishaq As Siba’i. Bahkan beliau mengajak untuk memerangi mereka. Syaikh Al Faqih Abu Bakr bin Abdur Rahman Al Khoulani menceritakan:</p>
<p>“Syaikh Abu Ishaq bersama para ulama lainnya pernah ikut memerangi Bani Aduwillah (Bani Ubaidiyah) bersama bersama Abu Yazid. Beliau memberikan ceramah di hadapan tentara Abu Yazid: ‘Mereka mengaku ahli kiblat padahal bukan ahli kiblat, maka kita wajib bersama pasukan ini yang merupakan ahli kiblat untuk memerangi orang yang bukan ahli kiblat (yaitu Bani Ubaidiyah)…’” Di antara ulama yang ikut berperang melawan Bani Ubaidiyah adalah Abul Arab bin Tamim, Abu Abdil Malik Marwan bin Nashruwan, Abu Ishaq As Siba’i, Abul Fadl, dan Abu Sulaiman Rabi’ Al Qotthan. (<em>Ad Daulah Al Fathimiyah</em>, Ali Muhammad As Shalabi). Sampai akhirnya mereka ditaklukkan oleh Salahudin Al Ayyubi.</p>
<p>Setelah kita memahami hakikat peringatan maulid yang sejatinya digunakan sebagai sarana untuk menyebarkan aqidah kekafiran Bani Ubaidiyah…akankah kita selaku kaum muslimin yang membenci mereka melestarikan syiar orang-orang yang memusuhi ajaran Nabi <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em>?? Perlu kita ketahui bahwa merayakan maulid bukanlah wujud cinta kita kepada Nabi <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em>. Bukankah para sahabat, ulama-ulama Tabi’in, dan Tabi’ Tabi’in adalah orang-orang yang paling mencintai Nabi <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em>. Namun tidak tercatat dalam sejarah bahwa mereka merayakan peringatan maulid. Akankah kita katakan mereka tidak mencintai Nabi <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em>.</p>
<p>Seorang penyair mengatakan:</p>
<p><em>Jika cintamu jujur tentu engkau akan menaatinya…</em><br />
<em>karena orang yang mencintai akan taat kepada orang yang dia cintai…</em></p>
<p>Cinta yang sejati bukanlah dengan merayakan hari kelahiran seseorang… namun cinta yang sejati adalah dibuktikan dengan ketaatan kepada orang yang dicintai. Dan bagian dari ketaatan kepada Nabi <em>shallallahu ‘alahi wa sallam </em>adalah dengan tidak melakukan perbuatan yang tidak beliau ajarkan.</p>
<p><em>Wallahu Waliyyut Taufiq</em></p>
<p><strong>Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)</strong><br />
<strong> Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/" rel="nofollow" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/10412/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Benarkah 12 Rabiul Awal Hari Kelahiran Nabi?</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/bernakah-12-rabiul-awal-hari-kelahiran-nabi/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/bernakah-12-rabiul-awal-hari-kelahiran-nabi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Feb 2012 03:51:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[SEJARAH ISLAM]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=10410</guid>
		<description><![CDATA[Benarkah 12 Rabiul Awal Hari Kelahiran Nabi? Tanggal 12 Rabi’ul Awal telah menjadi salah satu hari istimewa bagi sebagian kaum muslimin. Hari ini dianggap sebagai hari kelahiran Nabi akhir zaman, sang pembawa risalah penyempurna, Nabi agung Muhammad shallallahu alaihi wa ‘alaa ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Benarkah 12 Rabiul Awal Hari Kelahiran Nabi?</h2>
<p><a href="http://konsultasisyariah.com/10412" target="_blank" rel="nofollow">Tanggal 12 Rabi’ul Awal</a> telah menjadi salah satu hari istimewa bagi sebagian kaum muslimin. Hari ini dianggap sebagai hari <strong>kelahiran Nabi</strong> akhir zaman, sang pembawa risalah penyempurna, Nabi agung Muhammad <em>shallallahu alaihi wa ‘alaa alihi wa sahbihi wa sallam</em>. Perayaan dengan berbagai acara dari mulai pengajian dan dzikir jamaah sampai permainan dan perlombaan digelar untuk memeriahkan peringatan hari yang dianggap istimewa ini. Bahkan ada di antara kelompok tarekat yang memperingati maulid dengan dzikir dan syair-syair yang isinya pujian-pujian berlebihan kepada Nabi<em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em>. Mereka meyakini bahwa roh Nabi <em>shallallahu ‘alahi wa sallam </em>yang mulia akan datang di puncak acara maulid. Oleh karena itu, pada saat puncak acara pemimpin tarekat tersebut memberikan komando kepada peserta dzikir untuk berdiri dalam rangka menyambut kedatangan roh Nabi <em>shallallahu ‘alahi wa sallam </em>yang hanya diketahui oleh pemimpin tarekat.</p>
<p>Sungguh aqidah semacam ini sama persis dengan aqidah orang-orang Hindu yang meyakini bangkitnya roh leluhur. Namun sayangnya sebagian kaum muslimin menganggap hal ini sebagai bentuk ibadah. <em>Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’un</em>, kesesatan mana lagi yang lebih parah dari kesesatan ini.</p>
<p><strong></strong><strong>Kapankah Nabi</strong><em><strong> S</strong><strong>hallallahu ‘Alaihi wa Sallam</strong></em><strong> D</strong><strong>ilahirkan?</strong></p>
<p>Pada hakikatnya para ahli sejarah berselisih pendapat dalam menentukan sejarah <em>kelahiran Nabi</em> <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em>, terutama yang terkait dengan bulan, tanggal, hari, dan tempat Nabi <em>shallallahu ‘alahi wa sallam </em>dilahirkan.</p>
<p><strong>Pertama: Bulan Kelahiran</strong></p>
<p>Pendapat yang paling masyhur, beliau dilahirkan di bulan Rabi’ul Awal. Ini adalah pendapat mayoritas ulama, bahkan dikatakan oleh Ibnul Jauzi sebagai kesepakatan ulama.</p>
<p>Namun ada sebagian yang berpendapat bahwa beliau dilahirkan di bulan Shafar, Rabi’ul Akhir, dan ada yang berpendapat beliau dilahirkan di bulan Muharram tanggal 10 (hari Asyura). Kemudian sebagian yang lain berpendapat bahwa beliau lahir di bulan Ramadhan. Karena bulan Ramadhan adalah bulan di mana beliau mendapatkan wahyu pertama kali dan diangkat sebagai nabi. Pendapat ini bertujuan untuk menggenapkan hitungan 40 tahun usia beliau <em>shallallahu ‘alahi wa sallam </em>ketika beliau diangkat sebagai nabi.</p>
<p><strong>Kedua: Tanggal kelahiran</strong></p>
<p>Disebutkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Muslim bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alahi wa sallam </em>pernah ditanya tentang puasa hari senin. Kemudian beliau menjawab, <em>“Hari senin adalah hari dimana aku dilahirkan dan pertama kali aku mendapat wahyu.”</em> Akan tetapi para ahli sejarah berbeda pendapat tentang tanggal berapa Nabi <em>shallallahu ‘alahi wa sallam </em>dilahirkan. Di antara pendapat yang disampaikan adalah: Hari senin Rabi’ul Awal (tanpa ditentukan tanggalnya), tanggal 2 Rabi’ul Awal, tanggal 8, 10, 12, 17 Rabiul Awal, dan 8 hari sebelum habisnya bulan Rabi’ul Awal.</p>
<p><strong>Pendapat yang Lebih Kuat</strong></p>
<p>Berdasarkan penelitian ulama ahli sejarah Muhammad Sulaiman Al Mansurfury dan ahli astronomi Mahmud Basya disimpulkan bahwa hari senin pagi yang bertepatan dengan permulaan tahun dari peristiwa penyerangan pasukan gajah dan 40 tahun setelah kekuasaan Kisra Anusyirwan atau bertepatan dengan 20 atau 22 april tahun 571 M, hari senin tersebut bertepatan dengan tanggal 9 Rabi’ul Awal. (<em>Ar Rahiqum Makhtum</em>).</p>
<p><strong>Tanggal Wafat</strong></p>
<p>Para ulama ahli sejarah menyatakan bahwa beliau meninggal pada hari senin tanggal 12 Rabi’ul Awal tahun 11 H dalam usia 63 tahun lebih empat hari.</p>
<h3>Catatan Penting</h3>
<p>Satu catatan penting yang perlu kita perhatikan dari dua kenyataan sejarah di atas. Perbedaan para ulama dalam menentukan tanggal <u>kelahiran Nabi</u> <em>shallallahu ‘alahi wa sallam </em>dan tanggal wafatnya beliau <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em>. Kenyataan ini menunjukkan bahwa para ulama tidak banyak memberikan perhatian terhadap tanggal kelahiran Nabi <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em>. Alasannya, <strong>penentuan kapan beliau dilahirkan sama sekali tidak terkait dengan hukum syariat </strong>(maksudnya tidak ada syariat tertentu baik berupa keyakinan maupun suatu <em>amaliyah syar&#8217;iyah</em> yang berkaitan dengan kelahiran beliau <em>ed.</em>)</p>
<p>Beliau dilahirkan tidak langsung menjadi nabi, dan belum ada wahyu yang turun di saat beliau dilahirkan. Beliau baru diutus sebagai seorang nabi di usia 40 tahun lebih 6 bulan. Berbeda dengan hari wafatnya Nabi <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em>, seolah para ulama sepakat bahwa hari wafatnya beliau adalah tanggal 12 Rabiul Awal tahun 11 H. Perhatian para ulama mengenai hari wafatnya Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> <strong>karena wafatnya beliau berhubungan dengan hukum syariat</strong>. Wafatnya beliau merupakan batas berakhirnya wahyu Allah yang turun. Sehingga tidak ada lagi hukum baru yang muncul setelah wafatnya beliau <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em>.</p>
<p>Jika ada pertanyaan, tanggal 12 Rabi’ul Awal itu lebih dekat sebagai tanggal kelahiran Nabi <em>shallallahu ‘alahi wa sallam </em>ataukah tanggal wafatnya beliau <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em>? Orang yang memiliki pengetahuan sejarah akan mengatakan bahwa tanggal 12 Rabi’ul Awal itu lebih dekat pada hari wafatnya Nabi <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em>. Karena dalam masalah tanggal kelahiran para ulama ahli sejarah berselisih sementara dalam masalah wafatnya tidak ditemukan adanya perselisihan.</p>
<p>Setelah kita memahami hal ini, bisa kita tarik kesimpulan bahwa tanggal 12 Rabi’ul Awal yang diperingati sebagai hari kelahiran Nabi <em>shallallahu ‘alahi wa sallam </em>pada hakikatnya lebih dekat pada peringatan hari wafatnya Nabi yang mulia Muhammad <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em>. Oleh karena itu, sikap sebagian besar kaum muslimin yang selama ini memperingati hari maulid Nabi <em>shallallahu ‘alahi wa sallam </em>sebenarnya mirip dengan tindakan kaum Nasrani dalam memperingati tanggal 25 Desember. Mereka beranggapan bahwa itu adalah tanggal kelahiran Yesus padahal sejarah membuktikan bahwa Yesus tidak mungkin dilahirkan di bulan Desember. Dengan alasan apa lagi kita hendak merayakan 12 Rabi’ul Awal sebagai peringatan maulid??</p>
<p><strong>Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)</strong><br />
<strong>Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/" rel="nofollow" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/bernakah-12-rabiul-awal-hari-kelahiran-nabi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Madinah Munawwarah ataukah Madinah Nabawiyyah</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/madinah-munawwarah-ataukah-madinah-nabawiyyah/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/madinah-munawwarah-ataukah-madinah-nabawiyyah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Feb 2012 04:55:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[SEJARAH ISLAM]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9411</guid>
		<description><![CDATA[Madinah Munawwarah ataukah Madinah Nabawiyyah Pertanyaan: Bolehkah kita menyebut Madinah dengan istilah “Madinah Munawwarah” seperti yang sering kita dengar, atau kita harus menyebut “Madinah Nabawiyyah” karena kota itu adalah kota Nabi Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam? Padahal kedua istilah tersebut ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Madinah Munawwarah ataukah Madinah Nabawiyyah</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Bolehkah kita menyebut <strong>Madinah</strong> dengan istilah “<span style="text-decoration: underline;">Madinah</span> Munawwarah” seperti yang sering kita dengar, atau kita harus menyebut “Madinah Nabawiyyah” karena kota itu adalah kota Nabi Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>? Padahal kedua istilah tersebut tidak disebutkan dalam Alquran, bahkan dalam Alquran disebutkan nama “Yatsrib” sebelum dikenal sebagai Madinah. Tolong penjelasannya. Terima kasih.<br />
<span id="more-9411"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<h3>Penyebutan Madinah</h3>
<p>Imam Nawawi mengatakan, “Dimakruhkan menyebut Madinah dengan istilah ‘Yatsrib’ karena itu diambil dari kata ‘Tatsrib’ yang artinya ejekan dan celaan. Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> lebih suka nama-nama yang bagus dan indah dan membenci nama-nama yang buruk. Oleh karenanya, beliau mengganti nama Yatsrib dengan nama lain yang lebih bagus, dalam sabdanya,<br />
“<em>Mereka mengatakan Yatsrib, padahal namanya Madinah, (Madinah) itu membersihkan manusia seperti api yang membersikan kotoran besi.</em>” (HR. Muslim, no.2452)</p>
<p>Dalam riwayat lain dari Zaid bin Tsabit <em>radhiallahu&#8217;anhu</em> Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, “<em>Madinah adalah kota yang indah</em>.”</p>
<p>Allah juga menamakan Madinah dengan “Ad-Dar” (tempat tinggal) sebagaimana dalam QS. Al-Hasyr: 9.</p>
<p>Adapun kata Yatsrib yang ada dalam QS. Al-Ahzab: 13, maka itu hanyalah ungkapan orang-orang munafik dan orang-orang yang hatinya rusak ketika menyebut kota Madinah.</p>
<p>Menyebut Madinah dengan istilah “Madinah Nabawiyyah (kota Nabi)” atau “<strong>Madinah Munawwarah</strong> (kota yang bersinar)”, maka tidak mengapa. Hal itu karena Madinah memang menjadi tempat tinggalnya Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersama kaum muhajirin setelah meninggalkan kota Mekah, bersamaan dengan itu Madinah menjadi bersinar dengan hidayah-Nya disebabkan kedatangan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Sebutan “Al-Madinah” sudah cukup membedakan antara kota Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dengan kota-kota lainnya sebagaimana disebutkan Allah dalam Alquran.</p>
<p>Namun, jika kita ingin memberi kata lain untuk menyifati Madinah, maka “Al-Madinah An-Nabawiyyah” lebih tepat daripada “Al-Madinah Al-Munawwaroh,” karena beberapa alasan:</p>
<p>“nabawiyyah” adalah kata yang membedakan antara kota Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dengan kota-kota lainnya, adapun “munawwarah” (bersinar), maka tidak hanya kota Madinah saja yang bersinar, Mekah pun juga sekarang bersinar, bahkan setiap daerah yang penduduknya memeluk agama Islam, maka daerah itu akan bersinar (munawwarah), sebagaimana firman Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>,</p>
<p class="arab">يَاأَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَآءَكُمْ بُرْهَانٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَأَنزَلْنَآإِلَيْكُمْ نُورًا مُّبِينًا</p>
<p>“<em>Wahai Manusia sungguh telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Rabbmu, dan Kami telah menurunkan kepadamu cahaya yang menerangi</em>.”(QS. An-Nisa: 174)</p>
<p>Ungkapan yang terkenal dari para salafush shalih adalah “Al-Madinah” atau “Al-Madinah An-Nabawiyah”. Adapun “Al-Madinah Al-Munawwarah” maka ungkapan seperti ini tidak pernah diungkapkan oleh para salafush shalih. Walaupun tidak ada larangan menggunakan ungkapan ini, hanya saja mengikuti salafush sholih jelas lebih baik daripada yang lainnya. <em>Wallahu a’lam</em>.</p>
<p>Sumber: Majalah Al-Furqon Edisi 04 Tahun ke-10 Muharram 1431 H/2010<br />
Penyuntingan bahasa oleh tim Konsultasi Syariah</p>
<p><strong>Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/" rel="nofollow" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/madinah-munawwarah-ataukah-madinah-nabawiyyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tanah Suci</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/tanah-suci/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/tanah-suci/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Dec 2011 01:22:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[SEJARAH ISLAM]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9413</guid>
		<description><![CDATA[Tanah Suci Pertanyaan: Asslamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh. Kami sering mendengar istilah “tanah suci Mekah” dan “tanah suci Madinah”. Apakah tanah suci yang ada di Madinah memiliki batas-batas seperti tanah suci di Mekah, dan apakah larangan-larangan seperti memburu di tanah suci Mekah ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Tanah Suci</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
<em>Asslamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.</em><br />
Kami sering mendengar istilah “<strong>tanah suci</strong> Mekah” dan “<u>tanah suci</u> Madinah”. Apakah tanah suci yang ada di Madinah memiliki batas-batas seperti tanah suci di Mekah, dan apakah larangan-larangan seperti memburu di tanah suci Mekah berlaku di tanah haram Madinah?<br />
<span id="more-9413"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.</em></p>
<h3>Tanah Suci</h3>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> telah menjelaskan batas-batas tanah suci Madinah sebagaimana menjelaskan batas-batas <a href="http://konsultasisyariah.com/membunuh-ular-dan-tikus-karena-mengganggu" rel="nofollow" target="_blank">tanah suci</a> Mekah. Batas tanah suci Madinah dari arah Selatan adalah Gunung ‘Air, dari arah Utara adalah Gunung Tsur, dari arah Timur adalah dataran berbatu hitam sebelah Timur Madinah, dan dari arah Barat adalah dataran berbatu hitam sebelah Barat Madinah.</p>
<p>Hal ini berdasarkan beberapa hadis, seperti dari Ali bin Abi Thalib dari Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> beliau bersabda,</p>
<p>“<em>Madinah memeiliki tanah suci, yaitu antara Gunung ‘Air dan Gunung Tsur. Barang siapa melakukan kerusakan di dalamnya atau melindungi pelakunya, maka Allah melaknatnya, para malaikat beserta manusia semuanya melaknatnya, dan tidak diterima tebusan dan pengganti darinya pada hari kiamat.</em>” (HR. Bukhari, no.6258 dan Muslim, no.2433)</p>
<p>Dan dalam riwayat lain Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p>“<em>Antara dua labah (dataran berbatu hitam) adalah tanah suci (bagi Madinah)</em>.” (HR. Tirmidzi, no.3921, dishahihkan oleh Al-Albani dalam<em> Irwa Al-Gholil</em>, 241)</p>
<p>Syaikhul Islam berkata “Tidak ada lagi tanah haram/tanah suci di dunia ini kecuali dua tanah suci ini, tidak ada istilah tanah suci Baitul Maqdis, tidak ada pula tempat lainnya yang dinamai tanah suci sebagaimana dikatakan orang awam.”</p>
<p>Adapun hukum-hukum yang terkait dengan tanah suci Madinah sama dengan hukum-hukum yang terkait dengan tanah suci Mekah. Di antaranya:</p>
<p>Tidak boleh bereperang dan menumpahkan darah di dalamnya, tidak boleh memungut barang temuannya kecuali jika hendak mengumumkannya sampai ditemukan pemiliknya, tidak boleh memburu binatang buruannya dan tidak boleh memotong pohon-pohonnya, sebagaimana sabda Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>,</p>
<p>“<em>Sesungguhnya Nabi Ibrahim telah mengharamkan Mekah, dan aku juga mengharamkan Madinah antara dua labah-nya, tidak boleh dipotong pohonnya, dan tidak boleh diburu binatang buruannya</em>.” (HR. Muslim, no.2425)</p>
<p>Sumber: Majalah Al-Furqon Edisi 04 Tahun ke-10 Muharram 1431 H/2010<br />
Penyuntingan bahasa oleh tim Konsultasi Syariah</p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/tanah-suci/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Binatang pun Mengutuk Zina</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/binatang-pun-mengutuk-zina/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/binatang-pun-mengutuk-zina/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Dec 2011 00:00:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[AKHLAK]]></category>
		<category><![CDATA[Pergaulan]]></category>
		<category><![CDATA[SEJARAH ISLAM]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=8997</guid>
		<description><![CDATA[Binatang pun Mengutuk Zina Imam Bukhari sebuah kisah dari Amr bin Maimun, ia mengatakan, قَالَ الإِمَامُ الْبُخَارِيُّ : حَدَّثَنَا نُعَيْمُ بْنُ حَمَّادٍ ، حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ عَنْ حُصَيْنٍ ، عَنْ عَمْرِو بْنِ مَيْمُونٍ قَالَ : رَأَيْتُ فِي الْجَاهِلِيَّةِ قِرْدَةً اجْتَمَعَ عَلَيْهَا ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Binatang pun Mengutuk Zina</h2>
<p>Imam Bukhari sebuah kisah dari Amr bin Maimun, ia mengatakan,</p>
<p class="arab">قَالَ الإِمَامُ الْبُخَارِيُّ : حَدَّثَنَا نُعَيْمُ بْنُ حَمَّادٍ ، حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ عَنْ حُصَيْنٍ ، عَنْ عَمْرِو بْنِ مَيْمُونٍ قَالَ : رَأَيْتُ فِي الْجَاهِلِيَّةِ قِرْدَةً اجْتَمَعَ عَلَيْهَا قِرَدَةٌ قَدْ زَنَتْ فَرَجَمُوهَا فَرَجَمْتُهَا مَعَهُم</p>
<p>“Saya pernah melihat pada masa jahiliah ada seekor kera yang berzina. Lalu beberapa kera berkumpul untuk merajamnya, aku pun ikut merajam bersama mereka.”<br />
<span id="more-8997"></span><br />
<strong>Mutiara Hadits</strong><br />
Kisah ini mengandung beberapa pelajaran berharga, di antaranya:</p>
<p><strong>1.  Kejinya Perbuatan Zina</strong><br />
<u>Zina</u> adalah perbuatan seorang lelaki menggauli wanita di luar pernikahan yang sah atau perbudakan. Zina termasuk dosa besar setelah syirik dan pembunuhan, sebagaimana ditegaskan dalam Alquran, hadis, ijma’, dan akal. Perhatikanlah firman Allah,</p>
<p class="arab">وَلَا تَقْرَبُوا۟ ٱلزِّنَىٰٓ ۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَـٰحِشَةًۭ وَسَآءَ سَبِيلًۭا</p>
<p>&#8220;<em>Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk</em>.&#8221; (QS. Al-Isra‘: 32)</p>
<p>Perhatikanlah bagaimana Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> menyifati perzinaan dengan perbuatan keji dan buruk karena memang dalam perzinaan terdapat beberapa dampak negatif yang banyak sekali seperti hancurnya keutuhan keluarga, bercampurnya nasab, merebaknya penyakit-penyakit berbahaya, menimbulkan permusuhan, kehinaan, keruwetan hati, dan sebagainya.</p>
<p>Jika binatang saja merasa jijik dan mengutuk perbuatan zina dan pelakunya padahal mereka tiada berakal, lantas bagaimana dengan dirimu wahai manusia?! Sungguh menyedihkan hati kita, maraknya perzinaan, pencabulan, perselingkuhan di negeri ini, banyaknya pos-pos perzinaan yang dilindungi, dan mesin-mesin pengantar menuju perzinaan dari gambar-gambar porno dan seronok yang membanjiri internet, majalah, juga televisi!!</p>
<p>Maka melalui tulisan ini, kami memberikan wacana kepada pemerintah untuk menyikapi masalah ini secara tegas dan berusaha sesuai kemampuan kami untuk meminimalisir hal-hal negatif tersebut. Alangkah bagusnya ucapan Imam Al-Mawardi <em>rahimahullah</em>, “Adapun muamalah yang mungkar seperti zina dan transaksi jual beli haram yang dilarang syariat —sekalipun kedua belah pihak saling setuju— apabila hal itu telah disepakati keharamannya, maka merupakan kewajiban bagi pemimpin untuk mengingkari dan melarangnya serta mengganjarnya dengan hukuman yang sesuai dengan keadaan dan pelanggaran.” (<em>Al-Ahkam as-Sulthoniyyah</em>, Hal. 406)</p>
<p>Lebih parah lagi, apa yang dilakukan oleh kelompok Syiah tatkala menjadikan praktik perzinaan yang keji dengan kedoik ibadah, mereka sebut zina tersebut dengan <strong>nikah mut’ah</strong>. Ini adalah perzinaan yang lebih besar dosanya karena menjadikan kemaksiatan sebagai ibadah. Hanya kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> kita mengadukan apa yang telah mereka perbuat.</p>
<p><strong>2.  Penegakan Hukum Rajam Bagi Pezina Adalah </strong><br />
Kebenaran hukum rajam bagi pezina yang <em>muhshan</em> (sudah menikah) dalam syari’at ini ditetapkan berdasarkan Kitabullah, sunah Rosululloh <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, serta kesepakatan kaum muslimin semenjak dahulu hingga sekarang. Tidak ada yang menyelisihinya kecuali orang-orang yang mengklaim diri mereka adalah kaum moderat, yang mempertimbangkan aspek kekinian. Sebenarnya mereka lebih tepat dinamakan kaum liberal, yang berusaha mengurai tali-tali syariat Islam yang kuat. Mereka berkeyakinan hukum rajam tidaklah relevan (serasi) dengan abad modern ini, dan melakukan ijtihad di luar <em>frame</em> (bingkai) tuntunan syariat. Sadar atau tidak sadar mereka sebenarnya berusaha menghilangkan tuntunan agama Islam itu sendiri.</p>
<p>Mirip dengan kisah kera ini, sebuah kisah yang diceritakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah</em>, beliau berkata, “Sebagian syaikh terpercaya bercerita kepadaku bahwa dia melihat di masjid suatu jenis burung bertelur, lalu ada seorang mengambil telurnya dan menggantinya dengan telur jenis burung lainnya. Tatkala telur burung itu menetas, maka yang keluar adalah jenis lain. Mengetahui hal itu, maka sang jantan langsung memanggil kawan-kawannya untuk menghakimi si betina sampai mati. Seperti ini sangatlah populer dalam kebiasaan binatang.” (<em>Majmu’ Fatawa</em>, 15:147).</p>
<p><strong>3.  Belajar dari Kecerdikan Sebagian Hewan</strong><br />
Imam Ibnul Qoyyim <em>rahimahullah</em> mengatakan, “Banyak manusia berakal yang belajar dari binatang mengenai beberapa perkara yang bermanfaat dalam mencari rezeki, akhlak, produksi, peperangan, kesabaran, dan sebagainya.” (<em>Syifa‘ul Alil</em>, 1:252).</p>
<p>Terlebih lagi kera, ia adalah binatang yang cukup cerdas. Oleh karenanya, Al-Hafizh Ibnu Hajar <em>rahimahullah</em> berkata, “Disebut secara khusus kera dalam hadis ini karena ia memiliki kecerdasan lebih dibandingkan dengan hewan lainnya dan cepat belajar menirukan. Hal yang jarang dijumpai pada kebanyakan hewan lainnya.” (<em>Fathul Bari</em>, 7:202)</p>
<p>Di antara kecerdasan kera adalah apa yang diceritakan oleh Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p>“<em>Dahulu ada seorang yang menjual khamr di kapal bersama kera. Apabila dia menjual khamr maka dia campuri dengan air. Maka kera mengambil kantong uang lalu naik di kayu (tiang) layar kapal seraya membagi uang, sebagian dinar ia lempar ke laut dan sebagian dinar ia lempar ke kapal</em>.” (HR. Ahmad, 2:306, An-Naqqasy dalam <em>Funun Ajaib</em> Hal.78–79, Abu Syaikh dalam <em>Thabaqat Muhadditsin</em>, 2:104, Abu Nu’aim dalam <em>Akhbar Ashbahan</em> 2:28 dengan sanad shahih)</p>
<p>Hadis ini menunjukkan kecerdikan sebagian hewan. Al-Munawi <em>rahimahullah</em> berkata dalam <em>Faidhul Qodir</em> 1:491, “Telah shahih bahwa sekelompok orang pernah melihat kera bisa menjahit dan kera yang digaji untuk menjaga sawah.” Lalu beliau berkata, “Cerita seperti ini banyak sekali.”<br />
Adakah manusia yang dapat mengambil pelajaran dari semua ini?! Apakah mereka akan sombong dari menuntut ilmu sehingga kalah dengan hewan?!!</p>
<p><strong>4.  Sifat Cemburu</strong><br />
Cemburu merupakan sifat yang mulia. Dengannya terjaga kehormatan seorang dan keluarganya. Adapun bila sifat cemburu telah hilang maka akan terkoyak pula kehormatan seorang dan keluarganya. Anehnya, sifat yang mulia ini sangat jarang kita jumpai pada zaman sekarang dengan alasan kebebasan dan perkembangan zaman. Orang yang cemburu dianggap kampungan, kolot, dan ketinggalan zaman!! Oleh karenanya, sering kita dengan dengar ucapan sebagian orang, “Ini zaman modern, bukan zaman Siti Nurbaya lagi”!!!</p>
<p><em>Subhanallah!!</em>, apakah kita tidak mengambil pelajaran dari binatang yang masih memiliki kecemburuan?!! Imam Abu Ubaidah Ma’mar bin Mutsanna <em>rahimahullah</em> menyebutkan dalam <em>Kitabul Khoil</em> dari jalur Al-Auza’i bahwa ada seekor kuda diperintah untuk menggauli ibunya maka dia enggan. Akhirnya, ibu kuda tadi dimasukkan ke rumah dan ditutupi kain lalu perintahkan kepada anaknya untuk menggaulinya. Karena dia tidak tahu, maka ia pun menggaulinya. Tatkala ia mencium aroma ibunya serta-merta ia menggigit dzakarnya sendiri dengan giginya sampai putus.” (<em>Fathul Bari</em>, 7:203)</p>
<p>Kisah yang mirip juga adalah kisah kecemburuan seekor sapi yang bunuh diri karena dia telah menggauli ibunya sendiri. Alkisah, sapi tersebut ditutup matanya lalu diseret ke ibunya agar menggaulinya. Setelah proses pengawinan selesai, dibukalah mata sapi tadi, dan ketika dia tahu bahwa yang ia gauli adalah ibunya sendiri maka serta-merta sapi tersebut langsung lari terbirit-birit menghantamkan kepalanya ke tembok sehingga berlumuran darah. Lalu lari dengan gila menuju sungai kemudian menenggelamkan dirinya hingga mati!! Subhanallah, jika binatang saja memiliki cemburu seperti itu, lantas bagaimana dengan dirimu wahai manusia?!!! (<em>Hal Ataka Hadits Rofidhah</em>, Hal. 125)</p>
<p><strong>5.  Inilah Makna “Jahiliyyah”</strong><br />
Jahiliyyah (jahiliah) adalah masa sebelum datangnya Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang penuh dengan kejahilan dan kesesatan. Jahiliah secara mutlak adalah masa sebelum Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> saja. Maka termasuk kesalahan apabila menyifati masa diutusnya Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dengan jahiliah secara mutlak. Dari sini pula dapat kita ketahui kesalahan sebagian tokoh pergerakan yang mencuatkan sebuah istilah “Jahiliah Abad 20”.[23]</p>
<p><em>Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi, abiubaidah.com</em></p>
<p><strong>Artikel <a href="http://http://konsultasisyariah.com/menggauli-istri-yang-telah-berzina" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait zina:</h3>
<p>1. <a rel="nofollow" href="../hukuman-untuk-lesbi" target="_blank">Hukuman Untuk Lesbi</a>.<br />
2. <a rel="nofollow" href="../taubat-dari-zina" target="_blank">Naudzubillah, Masih SMU Sudah Berzina</a>.<br />
3. <a rel="nofollow" href="../selingkuh-dengan-ipar" target="_blank">Berzina dengan Ipar</a>.<br />
4. <a rel="nofollow" href="../istri-selingkuh" target="_blank">Istriku Telah Berzina</a>.<br />
5. <a href="http://konsultasisyariah.com/menggauli-istri-yang-telah-berzina" rel="nofollow" target="_blank">Menggauli Istri yang Hamil Karena Zina</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/binatang-pun-mengutuk-zina/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Shalat &#8216;Id untuk Wanita</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/wanita-shalat-id/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/wanita-shalat-id/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Aug 2011 21:27:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator 2</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[SEJARAH ISLAM]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[idul fitri]]></category>
		<category><![CDATA[lebaran]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[shalat id]]></category>
		<category><![CDATA[wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=6942</guid>
		<description><![CDATA[Hukum Keluarnya Wanita untuk Shalat &#8216;Id di Zaman ini Pertanyaan: Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin ditanya: Apa hukum keluarnya wanita ke tempat shalat &#8216;Id, terutama di zaman kita sekarang ini yang banyak terjadi fitnah, sementara sebagian wanita keluar rumah dengan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Hukum Keluarnya Wanita untuk Shalat &#8216;Id di Zaman ini</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin ditanya:</p>
<p>Apa hukum keluarnya wanita ke tempat shalat &#8216;Id, terutama di zaman kita sekarang ini yang banyak terjadi fitnah, sementara sebagian wanita keluar rumah dengan berhias dan mengenakan wewangian. Jika kami mengatakan boleh, apa pendapat Anda tentang ucapan &#8216;Aisyah radhiallahu &#8216;anhu, “Seandainya Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> melihat apa yang dilakukan oleh para wanita, tentulah beliau akan melarangnya”?<br />
<span id="more-6942"></span></p>
<h2>Jawaban fatwa ulama bolehnya wanita keluar untuk menunaikan shalat &#8216;id:</h2>
<p>Menurut kami, bahwa para wanita diperintahkan untuk keluar ke tempat <a title="petunjuk nabi dalam shalat 'ied" rel="nofollow" href="http://muslimah.or.id/fikih/petunjuk-nabi-dalam-shalat-ied.html" target="_blank"><strong>shalat &#8216;id</strong></a> agar dapat menyaksikan kebaikan  dan ikut serta bersama kaum Muslimin lainnya dalam <a title="Siksa Kubur bagi Orang yang Lalai dalam Shalat" href="http://konsultasisyariah.com/siksa-kubur-bagi-orang-yang-lalai-dalam-shalat" target="_blank" rel="nofollow">shalat</a> dan dakwah mereka, akan tetapi seharusnya mereka keluar dengan sederhana, tidak berhias dan tidak pula mengenakan wewangian. Dengan demikian, berarti mereka dapat melaksanakan sunnah dan menghindari fitnah. Sedangkan para wanita yang ber-<em>tabarruj</em> (berhias) dan mengenakan wewangian, maka itu karena ketidaktahuan mereka dan kekurangan para wali mereka dalam urusan mereka. Namun, yang demikian ini tidak menghalangi hukum syariat yang umum, yaitu diperintahkannya para wanita untuk keluar menuju tempat pelaksanaan shalat id. Adapun mengeani ucapan Aisyah radhiallahu &#8216;anhu, sebagaimana diketahui, bahwa sesuatu yang mubah (boleh) apabila menyebabkan timbulnya sesuatu yang haram maka akan menjadi haram. Jika mayoritas wanita keluar rumah dengan penampilan yang seperti demikian (<em>As&#8217;ilah wa Ajwibah fi Shalatil Idain, Syaikh Ibnu Utsaimin,</em> hal. 26).</p>
<p><strong>Sumber:</strong> <em>Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, Jilid 1, Darul Haq, Cetakan VI 2010</em></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong><em><br />
</em></p>
<h3>Bolehnya wanita keluar untuk menunaikan shalat &#8216;id</h3>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/wanita-shalat-id/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Peringatan Isra&#8217; Mi’raj</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/peringatan-isra-mi%e2%80%99raj/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/peringatan-isra-mi%e2%80%99raj/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Jun 2011 06:21:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Muharram]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[SEJARAH ISLAM]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[isra dan miraj]]></category>
		<category><![CDATA[isra mi raj adalah]]></category>
		<category><![CDATA[isra mijrat]]></category>
		<category><![CDATA[isra miraj]]></category>
		<category><![CDATA[isra miraj dan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[isra' mi raj]]></category>
		<category><![CDATA[isra'mi'raj]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[meninggal di bulan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[mi'raj]]></category>
		<category><![CDATA[nasehat rasulullah setelah isra' mi'raj selain sholat]]></category>
		<category><![CDATA[perayaan isra mi'raj]]></category>
		<category><![CDATA[peringatan isra mi'raj]]></category>
		<category><![CDATA[peristiwa dalam bulan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[ramadan ini isra miraj kapan]]></category>
		<category><![CDATA[ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah peringatan isra' mi'raj]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah rajaban]]></category>
		<category><![CDATA[shaf]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[susunan acara waktu perayaan isra dan mi'raj]]></category>
		<category><![CDATA[syawal]]></category>
		<category><![CDATA[tahun hijriah rajab=rajaban]]></category>
		<category><![CDATA[tanggal isra mi'raj tahun 2011]]></category>
		<category><![CDATA[tentang isra' mi'raj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=5373</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Assalamu alaikum.. Sebentar lagi ada peringatan Isra Mi’raj. Ada yg mengatakan bahwa Isra&#8217; Mi’raj tidak terjadi di bulan Rajab, apakah ini benar? Lantas, bagaimana hukum peringatan Isra Mi’raj? Trims.. Tri Jogja (triXXXX@XXXXX.com ) Jawaban: Wa alaikumus salam wa rahmatullah. ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Assalamu alaikum..</em></p>
<p>Sebentar lagi ada peringatan <em>Isra Mi’raj</em>. Ada yg mengatakan bahwa <em>Isra&#8217; Mi’raj</em> tidak terjadi di bulan Rajab, apakah ini benar? Lantas, bagaimana hukum peringatan <em>Isra Mi’raj</em>?<br />
Trims..</p>
<p><em>Tri Jogja (triXXXX@XXXXX.com )</em><br />
<span id="more-5373"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa alaikumus salam wa rahmatullah.</em></p>
<p>Tanggal 27 Rajab menjadi satu agenda penting bagi kaum muslimin. Mereka meyakini bahwa pada tanggal itu terjadi peristiwa <em>Isra’ </em>dan <em>Mi’raj</em>. Padahal para ulama berselisih pendapat tentang tanggal terjadinya <em>Isra’</em>dan <em>Mi’ra</em>j. Disebutkan oleh Syaikh Shafiyurrahman Al Mubarakfuri, ada sekitar 6 pendapat ulama, terkait dengan penentuan waktu kejadian <em>Isra’</em> dan<em> Mi’raj</em>.</p>
<p><strong>Pertama,</strong> <em>Isra&#8217;</em> dan <em>Mi’raj</em> terjadi di tahun pertama ketika beliau diangkat sebagai Nabi. Ini adalah pendapat At-Thabari.</p>
<p><strong>Kedua,</strong> <em>Isra&#8217;</em> dan<em> Mi’ra</em>j terjadi lima tahun setelah beliau diutus sebagai Nabi. Ini adalah pendapat yang dipilih oleh Imam An-Nawawi dan Al-Qurthubi.</p>
<p><strong>Ketiga,</strong> <em>Isra&#8217; Mi’raj</em> terjadi di malam 27 Rajab, tahun 10 setelah kenabian (sepuluh tahun setelah beliau diutus menjadi Nabi). Ini pendapat Al-Manshurfuri.</p>
<p><strong>Keempat,</strong> peristiwa <em>Isra&#8217;</em> terjadi 16 bulan sebelum beliau hijrah ke Madinah, tepatnya di bulan Ramadhan tahun 12 setelah kenabian.</p>
<p><strong>Kelima,</strong> peristiwa ini terjadi setahun dua bulan sebelum hijrah, atau tepatnya di bulan Muharram tahun 13 setelah kenabian.</p>
<p><strong>Keenam,</strong> <em>Isra&#8217; Mi’raj</em> terjadi satu tahun sebelum beliau hijrah ke Madinah, tepatnya di bulan Rabi&#8217;ul Awal tahun 13 setelah kenabian.</p>
<p>Dari enam pendapat di atas, 3 pendapat pertama tertolak dan bertentangan dengan realita sejarah lainnya. (Lihat <em>Ar-Rahiqum Makhtum</em>, hal. 85)</p>
<p><strong>Bagaimana analisisnya?</strong></p>
<p>Sebelumnya kami tegaskan –barangkali ada sebagian kaum muslimin yang belum paham–, urutan bulan hijriyah: &#8230;Rajab, Sya&#8217;ban, Ramadhan, Syawal, <em>dst</em>.</p>
<p>Kemudian, sebagaimana yang kita ketahui, sekembalinya Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dari Isra&#8217; Mi’raj, beliau membawa syariah shalat lima waktu. Sementara para ahli sejarah menegaskan bahwa Khadijah meninggal di bulan Ramadhan tahun kesepuluh setelah kenabian. Ini sebagaimana yang ditegaskan Ibnul Jauzi (<em>Talqih Fuhum Ahlil Atsar</em>, hal. 7). Padahal sampai Khadijah meninggal belum ada kewajiban shalat lima waktu.</p>
<p>Jika dua peristiwa ini, yaitu Isra&#8217; Mi’raj dan wafatnya Khadijah terjadi dalam tahun yang sama, tahun sepuluh setelah kenabian, tentunya di bulan kematian Khadijah <em>radhiallahu &#8216;anha</em>, kewajiban shalat sudah ada. Karena urutan bulan Rajab jatuh sebelum ramadhan.</p>
<p>Adapun tiga pendapat terakhir, Al-Mubarakfuri memberi komentar, “Untuk tiga pendapat sisanya, saya belum mendapatkan keterangan yang menguatkan salah satu pendapat tersebut. Hanya saja, konteks surat Al-Isra&#8217; menunjukkan bahwa peristiwa ini terjadi di waktu-waktu terakhir di Mekah.”</p>
<p><strong>Ulama Sepakat Peringatan <em>Isra&#8217; Mi’raj</em> adalah <em>Bid&#8217;a</em>h</strong></p>
<p>Para ulama sepakat bahwa peringatan <em>Isra&#8217; Mi’raj</em> adalah acara <em>bid’ah</em>. Ibnul Qayim menukil keterangan Syaikhul Islam Ibn Taimiyah, yang mengatakan, “Tidak diketahui dari seorang-pun kaum muslimin, yang menjadikan malam <em>Isra&#8217; Mi’raj</em> lebih utama dibandingkan malam yang lainnya. Lebih-lebih menganggap bahwa malam <em>Isra&#8217;</em> lebih mullia dibandingkan <em>lailatul qadar</em>. Tidak seorangpun sahabat, maupun <em>tabi’in</em> yang mengkhususkan malam <em>Isra&#8217;</em> dengan kegiatan tertentu, dan mereka juga tidak memperingati malam ini. Karena itu, tidak diketahui secara pasti, kapan tanggal kejadian <em>Isra&#8217; Mi’raj</em>.” (<em>Zadul Ma’ad</em>, 1/58 /59).</p>
<p>Ibnu Nuhas mengatakan, “Memperingati malam <em>Isra&#8217; Mi’raj</em> adalah <em>bid’ah</em> yang besar dalam urusan agama. Termasuk perkara baru yang dibuat-buat teman-teman setan.” (<em>Tanbihul Ghafili</em>n, hal. 379 – 380. Dinukil dari <em>Al Bida’ Al Hauliya</em>h, hal. 138)</p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam</em>.</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).<br />
Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/peringatan-isra-mi%e2%80%99raj/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apakah Penulis Sejarah Islam Telah Berdusta?</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/apakah-penulis-sejarah-islam-telah-berdusta/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/apakah-penulis-sejarah-islam-telah-berdusta/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Apr 2011 01:00:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[SEJARAH ISLAM]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[cerai]]></category>
		<category><![CDATA[ebook sirah nabawiyah]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[jari]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[puasa menurut orientalist]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah islam di indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[sejarawan islam ibnu ishaq]]></category>
		<category><![CDATA[shaf]]></category>
		<category><![CDATA[web]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=4362</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Assalamu &#8216;alaikum. Saya sering berdebat dengan orang nonmuslim yang ternyata punya pengetahuan tentang Islam&#8211;yang mungkin malah melebihi saya sendiri&#8211;. Ia mempelajarinya dari tulisan-tulisan para orientalis, seperti Martin Lings, dan mengklaim bahwa referensinya didapat dari penulis Muslim masa lalu, seperti: ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Assalamu &#8216;alaikum.</em> Saya sering berdebat dengan orang nonmuslim yang ternyata punya pengetahuan tentang Islam&#8211;yang mungkin malah melebihi saya sendiri&#8211;. Ia mempelajarinya dari tulisan-tulisan para <em>orientalis</em>, seperti Martin Lings, dan mengklaim bahwa referensinya didapat dari penulis Muslim masa lalu, seperti: Bukhari, Ibnu Said, Ibnu Ishak, Ibnu Sa&#8217;ad, dan lain-lain. Benarkah para penulis muslim itu menulis hal-hal yang buruk tentang Nabi, misalnya: wafatnya Nabi, perceraian Zaid bin Haritsah, dan lain-lain? (Anda) bisa bantu saya soal ini?</p>
<p>Eka Andreadi (andreadi**@***.com)<br />
<span id="more-4362"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Bismillah. Wa&#8217;alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh.</em></p>
<p><em><strong>Pertama:</strong></em> Perlu dipahami bahwa sejarah <strong>TIDAK SAMA DENGAN</strong> realita. Sejarah adalah ungkapan realita. Sementara, dalam mengungkapkan realita, manusia tidak bisa lepas dari kontaminasi latar belakang prinsip hidupnya. Dengan latar belakang ini, orang bisa menambahkan, mengurangi, atau memelintir sejarah.</p>
<p><em><strong>Kedua:</strong></em> Secara umum, pakar sejarah&#8211;yang karya-karyanya beredar di tempat kita&#8211;bisa terbagi menjadi dua:</p>
<ul>
<li>Sejarawan <em>orientalis</em>. Mereka menggunakan topeng &#8220;<em>sejarah</em>&#8221; untuk menghancurkan pemikiran kaum muslimin. Pada prinsipnya, gerakan <em>orientalis</em> bertujuan untuk menghancurkan Islam dari dalam.</li>
</ul>
<ul>
<li>Sejarawan Islam. Mereka menyampaikan sejarah kaum muslimin sebagai bagian dari kebanggaan mereka terhadap Islam. Pada umumnya, mereka adalah para ulama yang paham hadis. Para sejarawan lain selain mereka, misalnya: sejarawan Indonesia, hanya mengutip sejarah dari para sejarawan Islam ini.</li>
</ul>
<p>Jika kita renungkan, siapakah sejarawan yang layak untuk dijadikan acuan? Tentu, kita akan mengatakan bahwa pakar sejarah muslim jauh lebih layak untuk dijadikan acuan, dengan beberapa alasan:</p>
<ol>
<li> Sejarawan <em>orientali</em>s telah ditunggangi tujuan utama untuk merusak Islam. Karena itu, kita layak untuk berprasangka buruk kepada mereka. Jika sumbernya saja diragukan, bagaimana lagi dengan karyanya.</li>
<li>Sejarawan Islam, umumnya, adalah ulama yang memahami hadits. Karena itu, umumnya, penukilan mereka disertai dengan <em>sanad</em> (perawi). Di samping itu, mengingat mereka ini adalah para ulama, kita diperintahkan untuk berbaik sangka kepada mereka dan kita diharamkan untuk berburuk sangka kepada mereka.</li>
</ol>
<p>Jika demikian, mungkinkah akan kita bandingkan antara sejarawan muslim yang memiliki kredibilitas tinggi dengan sejarawan <em>orientalis</em> yang kredibilitasnya dipertanyakan?</p>
<p>Adapun buku-buku sejarah karya sejarawan muslim, di antaranya adalah:</p>
<ol>
<li> <em>Ar-Rahiqum Makhtum</em>, karya Shafiyur Rahman Al-Mubarakfuri. Buku ini sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Pustaka Al-Kautsar, dengan judul &#8220;<em>Sirah Nabawiyah</em>&#8220;.</li>
<li><em>Sirah Nabawiyah</em> Ibnu Hisyam (ulama abad ke-9 H); sudah diterjemahkan dan diterbitkan oleh Pustaka Darul Falah.</li>
<li><em>Shahih Sirah Nabawiyah</em>, karya Syekh Dr. Akram Dhiya&#8217; Al-Umri. Beliau dikenal sebagai pemerhati buku sejarah berdasarkan riwayat yang shahih saja. Buku ini juga sudah diterjemahkan.</li>
</ol>
<p>Semoga bermanfaat.</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits, (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).</strong><br />
<strong> Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/apakah-penulis-sejarah-islam-telah-berdusta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Masjid Pertama di Muka Bumi</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/masjid-pertama-di-muka-bumi/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/masjid-pertama-di-muka-bumi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Nov 2010 03:21:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amir</dc:creator>
				<category><![CDATA[SEJARAH ISLAM]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[masjid]]></category>
		<category><![CDATA[masjid pertama kali]]></category>
		<category><![CDATA[masjid pertama kali di bumi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=3079</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Masjid apakah yang pertama kali ada di muka bumi? Jawaban: Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam pernah ditanya, “Masjid apakah yang pertama kali ada di muka bumi?” قَالَ: اَلْمَسْجِدُ الْحَرَامُ Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menjawab, “Masjidil Haram.” “Kemudian apa ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Masjid apakah yang pertama kali ada di muka bumi?<br />
<span id="more-3079"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pernah ditanya, “Masjid apakah yang pertama kali ada di muka bumi?”</p>
<p>قَالَ: اَلْمَسْجِدُ الْحَرَامُ</p>
<p>Rasulullah<em> shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menjawab, “<em>Masjidil Haram</em>.”</p>
<p>“Kemudian apa lagi?”</p>
<p>قَالَ: اَلْمَسْجِدُ اْلأَقْصَى</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menjawab, “<em>Masjid al-Aqsha</em>.”</p>
<p>Beliau ditanya lagi, “Berapa jarak antara keduanya?”</p>
<p>قَالَ: أَرْبَعُوْنَ عَامًا</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menjawab, “<em>Empat puluh tahun</em>.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).</p>
<p>Sumber: <em>Fatawa Rasulullah: Anda Bertanya Rasulullah Menjawab</em>, <em>Tahqiq</em> dan <em>Ta&#8217;liq</em> oleh Syaikh Qasim ar-Rifa&#8217;i, Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Pustaka As-Sunnah, Cetakan Ke-1, 2008.<br />
(Dengan penataan bahasa oleh www.konsultasisyariah.com)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/masjid-pertama-di-muka-bumi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apakah Pembukuan al-Qur&#8217;an di Zaman Sahabat Termasuk Bid&#8217;ah</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/apa-hukum-pengumpulan-al-quran-oleh-sahabat-ini-bidah/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/apa-hukum-pengumpulan-al-quran-oleh-sahabat-ini-bidah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Jan 2010 03:00:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adminC</dc:creator>
				<category><![CDATA[AL-QURAN]]></category>
		<category><![CDATA[SEJARAH ISLAM]]></category>
		<category><![CDATA['al-qur'an pada masa sahabat']]></category>
		<category><![CDATA[alquran bidah]]></category>
		<category><![CDATA[apakah pembukuan alquran termasuk bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[bid'ah al-qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[bid'ah yang dilakukan sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[bid'ah zaman sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[bidah dimasa sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[hukum pembukuan alquran]]></category>
		<category><![CDATA[pembukuan alqur'an bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah pembukuan alqur'an]]></category>
		<category><![CDATA[syariah pengumpulan al-quran dan penulisan al-quran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=1174</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Bolehkah pengumpulan Al Quran oleh Sahabat dianggapkan Bidah? Mansor Deen Alamat: Selangor, Msalaysia Email: abuhazmin@gmail.com Ustadz Kholid Syamhudi, Lc menjawab: Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh Tidak boleh. Sebab sebenarnya pengumpulan Al Qur’an sudah ada di zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam namun ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Bolehkah pengumpulan Al Quran oleh Sahabat dianggapkan Bidah?</p>
<p style="text-align: right;">Mansor Deen<br />
Alamat: Selangor, Msalaysia<br />
Email: abuhazmin@gmail.com</p>
<p><span id="more-1174"></span><strong>Ustadz Kholid Syamhudi, Lc menjawab:</strong></p>
<p>Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh</p>
<p>Tidak boleh. Sebab sebenarnya pengumpulan Al Qur’an sudah ada di zaman Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi Wassalam</em> namun dilakukan dengan cara dihafal dalam dada para sahabat.</p>
<p>Setelah perang Yamamah yang berakibat terbunuhnya banyak penghafal Al-Qur’an,Khalifah Abu Bakar <em>Radhiallahu’anhu</em> berfikir untuk mengumpulkannya dalam satu <em>mushhaf</em> yang mempermudah kaum muslimin untuk menjaga dan menghafalnya. Sehingga hal ini masuk dalam mashlahat mursalah.</p>
<p>Kemudian adanya <span style="text-decoration: underline;">ijma’</span> sahabat ketika itu adalah hujjah bahwa pengumpulan <em>mush-haf</em> adalah haq dan sesuai syari’at, karena Nabi <em>Shalallahu ‘alaihi Wasallam</em> bersabda:</p>
<p>لا تجتمع هذه الأمة على ضلا</p>
<p>“<em>Umat ini tidak akan bersepakat diatas kesalahan.</em>” (HR. Asy-Syafi’I dalam Ar-Risalah)</p>
<p>Dengan demikian pengumpulan mush-haf disyari’atkan dgn ijma’ shahabat yang didasarkan kepada persetujuan Nabi shalallahu ‘alaihi was sallam dalam penulisan Al-Qur’an di masa beliau dan banyak sahabat yang ikut menyimpan tulisannya di rumah mereka dan dihafal di dada mereka.</p>
<p>Sumber: ustadzkholid.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/apa-hukum-pengumpulan-al-quran-oleh-sahabat-ini-bidah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

