tutup Eksternal hardisk kajian video islam
cashflow laporan keuangan software akutansi terbaik
SEJARAH ISLAM

rohingya arakan

Sejarah Muslim Rahingya

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Kerajaan Arakan, itulah cikal bakal Rahingya yang saat ini penduduknya diusir oleh teroris Budha.

Arakan berada di Asia Tenggara, dan masuk dalam wilayah negara Burma secara paksa.

Di masa penjajahan Inggris, Burma merupakan bagian dari wilayah kesatuan India di bawah iperium Inggris. Kemudian oleh Inggris, di tahun 1947, wilayah Burma diproklamirkan sebagai negara merdeka. Tentu saja untuk kepentingan Inggris.

Luas wilayah Arakan kurang lebih 32 ribu km2. Wilayahnya terpisah dengan Burma secara geografis, dengan adanya pegunungan Arakan (Arakan Range).

Menurut sensus Bank Dunia 2013, populasi penduduk Burma lebih dari 50 juta jiwa. Populasi Muslim Burma mencapai 15%. Setengah diantaranya menempati wilayah Arakan yang mayoritas Muslim. sehingga di Arakan, 70% penduduknya kaum muslimin semenatara sisanya masyarakat Budha Almagh dan penganut agama lainnya.

Di Burma sendiri ada sekitar 140 etnis. Yang terbesar, etnis Burma, mereka penguasa negeri itu. Etnis yang lain, Syan, Kasyan, Karin, Syin, Almagh, dan kaum muslimin, yang dikenal dengan Rohingya. Mereka etnis terbesar kedua setelah Burma. Populasi mereka sekitar 5 juta jiwa.

Keberadaan Muslim di Arakan

Para ahli sejarah menyebutkan bahwa kaum muslimin telah sampai di Arakan di masa khalifah bani Abbasiyah, Harun ar-Rasyid. Di abad 7 Masehi. Islam masuk melalui para pedagang arab. Ketika pemeluk islam telah banyak, terbentuklah kerajaan Arakan sebagai negara yang berdiri sendiri.

Dalam perjalanannya, kerajaan ini telah dipimpin 48 raja muslim berturut-turut. Itu berjalan selama lebih dari 3,5 abad. Sekitar antara tahun 1430 – 1784 M. Kerajaan ini telah membentuk peradaban yang meninggalkan bangunan-bangunan masjid, dan sekolah. Diantaranya Masjid Badrul Maqam yang terkenal di Arakan.

Penjajahan Budha ke Arakan

Tahun 1784 M, raja budha burma, masuk ke wilayah Arakan dan mencaplok Arakan sebagai wilayah Burma. Mereka khawatir, islam akan tersebar di sana. Penjarahan, perampasan, perusakan masjid dan pembantaian ulama, terjadi besar-besaran oleh para teroris Budha. Penjajahan itu berlangsung selama 40 tahun, berakhir dengan kehadiran penjajah Inggis yang masuk Burma melalui India.

Di tahun 1824 M, Burma disatukan dengan wilayah kesatuan India, di bawah imperium penjajah Inggris.

Di tahun 1942 M, kaum muslimin dibantai besar-besaran oleh Budha Almagh setelah mereka mendapatkan bantuan senjata dan pasukan dari Budha Burma dan penjajah. Korban yang tercatat ketika itu lebih dari 100 ribu muslim. mayoritas wanita, orang tua, dan anak-anak. Ratusan ribu mengungsi keluar. Sejarah yang terlupakan.

Di tahun 1947 M, menjelang kemerdekaan Burma, dilakukan rapat umum di kota Peng Long, membahas persiapan kemerdekaan. Semua etnis diundang, kecuali muslim Rohingya. Karena diantara misi terbesar kemerdekaan adalah mengusir mereka dari Arakan.  Dan di tahun 1948, Inggris memerdekakan Burma.

Setelah kudeta 1988, pemerintahan Burma dipegang oleh Militer. Kaum muslimin Rohingya semakin bertambah penderitaannya. Mereka terus mendapatkan tekanan.

Semoga Allah memberikan pertolongan dan kekuatan kaum muslimin.

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

king suleiman antv pemalsuan sejarah

King Suleiman ANTV

Mohon tanggapan untuk sinetron King Suleiman di ANTV yang bnyak meresahkan kaum muslimin. Trim’s

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Keberadaan berbagai macam sinetron yang ditayangkan di televisi, memberikan pelajaran bagi kita akan pentingnya pendidikan sejarah dalam kehidupan manusia. Untuk melihat masa depan, seseorang perlu memahami masa lalunya. Al-Qur’an sendiri banyak memuat berbagai cerita umat terdahulu, agar umat Islam dapat mengambil hikmah dan pelajarannya untuk menghadapi hari depan.

Tidak heran jika setiap bangsa senantiasa merumuskan sejarah masa lalunya. Sejarah berperan sangat penting yang mengarahkan kebangkitan suatu bangsa atau peradaban.

Muhammad Asad (Leopold Weiss) dalam bukunya, Islam at the Crossroads, menulis,

No civilization can prosper – or even exist, after having lost this pride and the connection with it’s own past…

“Tidak ada peradaban yang berjaya, bahkan bisa eksis, setelah mereka kehilangan kebanggaan dan keterkaitan dengan masa lalunya.”

Karenanya, telah menjadi salah satu konspirasi orang kafir, mereka berusaha mengaburkan sejarah kaum muslimin. Melalui pemalsuan sejarah, orang kafir berusaha melakukan upaya balas dendam terhadap para tokoh islam yang tidak mampu mereka lawan. Mereka juga mengarahkan umat untuk mengagungkan tokoh fiktif dari pada pahlawan umat yang sejatinya.

Siapa King Suleiman?

Beliau adalah Sulaiman bin Salim al-Qanuni. Orang barat mengenalnya dengan Sulaiman al-Adzim (The Great Sulaiman). Beliau menjabat khalifah selama 48 tahun, sejak 926 H. Tercatat beliau sebagai raja Daulah Utsmani yang paling lama menjadi khalifah.

King Sulaiman merupakan salah satu raja Daulah Utsmaniyah yang paling disegani dunia barat. Dikenal sangat mahir dalam bidang politik dan ketatanegaraan. Beliau mengembalikan keutuhan Daulah Utsmaniyah yang diambang perpecahan. Diantaranya, beliau menggagalkan pemberontakan yang dilakukan orang-orang syiah dibawah pimpinan Qilnadar Jalbi, yang memiliki kekuatan sekitar 30.000 pengikut.

Jihad King Suleiman

Beliau dikenal sebagai raja yang paling sering jihad selama masa kepemimpinan Daulah Utsmaniyah. Diantara keistimewaan beliau, setiap kali mengirim surat ke berbagai daerah, beliau meniru gaya Nabi Sulaiman ketika mengirim surat ke negeri Ratu Saba (Ratu Bilqis), yang Allah ceritakan di surat an-Naml,

إِنَّهُ مِنْ سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

“Ini dari Sulaiman, Isinya: Bismillahirrahmanirrahiim.” (QS. an-Naml: 30).

Dengan intensitas ekspansi ke daerah kafir yang tinggi, hingga di tahun 927 H, kaum muslimin berhasil menaklukkan Beograd (ibu kota Serbia). Padahal ketika itu, Beograd dikenal sebagai pintu eropa tengah dan benteng masihiyin (kristiani). Beliau juga sempat mengepung Wina (Austria), dan memasukkan wilayah Budapest (Hongaria) ke kawasan Utsmani.

Beliau juga melakukan tekanan terhadap negeri Syiah, Daulah Shafawiyah (Iran). Beliau melakukan penyerangan 3 kali, dari tahun 941 hingga 962 H. Dari usaha ini, beliau banyak mengembalikan wilayah kaum muslimin dari penindasan orang Syiah. Sehingga di masa King Sulaiman, orang syiah dalam posisi sangat tertekan.

Semua upaya yang beliau lakukan merupakan proye besar untuk mengembalikan kejayaan kaum muslimin. Di samping itu, beliau berhasil mengusir Portugis dari wilayah perairan laut merah, dan menghentikan gerakan orang kafir yang sangat ambisius untuk menguasai timur tengah.

Peran Ulama dalam Menetapkan Hukum

Diantara faktor pendukung kejayaan kekhalifahan Daulah Utsmaniyah di masa beliau, posisi rakyat yang sangat loyal terhadap negara. Karena di masa beliau, perumusan undang-undang negara diserahkan kepada para ulama. Undang-udang itu dikenal dengan nama: Qanun Sulaiman Namah (Undang-undang Sulthan Sulaiman).

Salah satu ulama yang memberikan pengaruh besar terhadap pembentukan undang-undang ketika itu adalah Imam Abu Su’ud Afandi. Seorang ulama ahli bahasa, ahli tafsir, peneliti, penulis kitab Tafsir Irsyad al-Aql as-Salim ila Mazaya al-Kitab al-Karim, atau yang sering dikenal dengan tafsir Abu Su’ud. Tafsir ini tebalnya 9 jilid, banyak menjelaskan sisi keistimewaan bahasa dan logika yang diajarkan al-Quran.

Prof. Jamaluddin Falih al-Kilani – peneliti sejarah asal Iraq – menegaskan, masa kekhalifahan Sultan Sulaiman al-Qanuni dinilai sebagai masa keemasan Daulah Utsmaniyah. Mengingat Daulah Utsmaniyah dianggap sebagai kejaraan terkuat di dunia, terutama sepanjang kawasan laut tengah.

Ketika beliau diangkat menjadi khalifah, ada salah satu penyair yang mengatkan,

قل للشياطين البغاة اخسأوا *** قد أوتى المُلك سليمانُ

Sampaikan kepada setan pemberontak, “Mampus kalian..”

Kerajaan telah diserahkan kepada Sulaiman.

(Disadur dari tulisan: as-Sulthan Sulaiman al-Qonuni, karya Dr. Raghib as-Sirjani).

Karena itu tidak heran ketika barat merasa belum tenang jika mereka belum melakukan balas dendam terhadap King Sulaiman. Jika jasadnya tidak bisa mereka sentuh, kehormatan beliau yang menjadi sasarannya. Stasiun TV swasta yang doyan harta-wanita, menjadi corong mereka untuk menyebarkan kedustaan sejarah itu.

Semoga Allah melindungi kaum muslimin dari kejahatan mereka.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

siapakah abu hurairah

Kapan Abu Hurairah Masuk Islam?

Kapan Abu Hurairah masuk islam? Krn saya pernah mendengar, beliau masuk islam sebelum peristiwa hijrah. Apa itu benar?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Sebelumnya, kita perlu tahu sekelumit tentang latar belakang Abu Hurairah. Nama asli beliau Abdurrahman bin Shakr – menurut pendapat yang paling kuat –. Beliau berasal dari suku Daus dari Yaman. (Siyar A’lam an-Nubala, 2/578).

Menurut banyak riwayat, orang yang mendakwahkan islam di suku Daus adalah Thufail bin Amr ad-Dausi Radhiyallahu ‘anhu, yang masuk islam ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam masih di Mekah. Dan Abu Hurairah termasuk orang yang mengikuti ajakan Thufail.

Siapa Thufail ad-Dausi?

Sebelum menjawab kapan islamnya Abu Hurairah, terlebih dahulu kita buka identitas Thufail bin Amr ad-Dausi. Karena sosok beliau membantu menentukan masa islamnya Abu Hurairah.

Dalam berbagai referensi sejarah, diantaranya at-Thabaqat al-Kubro karya Ibnu Sa’d, disebutkan biografi Thufail. Beliau adalah sosok yang terpandang, penyair ulung, sering dikunjungi orang. Beliau tiba di Mekah tahun ke-11 kenabian. Begitu tiba di Mekah, orang musyrikin menyambutnya, dan merekapun langsung mengingatkan beliau agar tidak dekat-dekat dengan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

يا طفيل، إنك قدمت بلادنا، وهذا الرجل الذي بين أظهرنا قد أعضل بنا، وقد فرق جماعتنا، وشتت أمرنا، وإنما قوله كالسحر، يفرق بين الرجل وأبيه، وبين الرجل وأخيه ، وبين الرجل وزوجه، وإنا نخشى عليك وعلى قومك ما قد دخل علينا، فلا تكلمه ولا تسمعن منه شيئًا

Hai Thufail, kamu datang ke negeri kami. Di sini ada orang yang telah merepotkan kami, memecah belah persatuan kami, mengacaukan semua urusan kami. Ucapannya seperti sihir, bisa membuat seorang ayah membenci anaknya, seseorang benci saudaranya, dan suami istri bisa bercerai. Kami mengkhawatirkan kamu dan kaummu mengalami seperti apa yang kami alami. Karena itu, jangan sampai engkau mengajaknya bicara dan jangan mendengar apapun darinya.

Mereka terus-menerus mengingatkan Thufail, hingga beliau menyumbat telinganya dengan kapas ketika masuk masjidil haram. Ketika beliau masuk masjidil haram, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang shalat. Hingga Allah takdirkan, beliau mendengar sebagian bacaan shalat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau semakin penasaran dan akhirnya menemui Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setelah diajarkan tentang islam dan dibacakan sebagian ayat al-Quran, Thufail terheran-heran, hingga beliau tertarik masuk islam dan langsung bersyahadat masuk di depan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta kepadanya untuk mendakwahkan islam kepada kaumnya.

Beliau meminta suatu tanda. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan, “Ya Allah, berikanlah cahaya untuknya.”

Allahpun memberikan tanda di depan dahinya. Namun Thufail khawatir, justru ini dianggap tanda buruk baginya. Kemudian cahaya itu dipindah ke ujung cemetinya. Cahaya ini menjadi penerang baginya di waktu malam yang gelap. (at-Thabaqat al-Kubro  4/237, ar-Rahiq al-Makhtum hlm. 105).

Ada dua pendapat ulama tentang kapan Abu Hurairah masuk islam.

Pertama, Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu masuk islam di awal tahun 7 Hijriyah. Bertepatan dengan peristiwa perang Khaibar. Dan inilah keterangan yang masyhur dari berbagai ahli sejarah.

Ibnu Abdil Bar mengatakan,

أسلم أبو هريرة وعمران بن حصين عام خيبر

Abu Hurairah dan Imran bin Husain masuk islam di tahun Khaibar. (al-Isti’ab, 1/374).

Keterangan lain, dari al-Khithabi,

أسلم أبو هريرة سنة سبع قدم المدينة ورسول الله بخيبر وأسلم عمرو وخالد بن الوليد سنة ست

Abu Hurairah masuk islam tahun 7 Hijriyah. Beliau datang ke Madinah, sementara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam masih di Khaibar. Sementara Amr dan Khalid bin Walid tahun 6 Hijriyah. (Gharib al-Hadits, 2/485).

Keterangan Ibnul Atsir,

أسلم أبو هريرة عام خيبر، وشهدها مع رسول الله صلى الله عليه وسلم  ثم لزمه وواظب عليه رغبة في العلم فدعا له رسول الله صلى الله عليه و سلم

Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu masuk islam di tahun Khaibar, dan beliau ikut peristiwa Khaibar bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian selalu menampingi Nabi dan selalu bersama beliau, karena keinginan untuk mendapatkan ilmu. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan kebaikan untuknya. (Usud al-Ghabah).

Kedua, sebagian ulama berpendapat bahwa Abu Hurairah masuk islam sebelum peristiwa Khaibar. Berikut beberapa keterangan mereka,

Ibnu Hibban,

أسلم أبو هريرة بدوس، فقدم المدينة ورسول الله  خارج نحو خيبر وعلى المدينة سباع بن عرفطة الغفاري استخلفه رسول الله ، فصلى أبو هريرة مع سباع، وسمعه يقرأ: { ويل للمطففين }، ثم لحق المصطفى  إلى خيبر، فشهد خيبر مع النبي

Abu Hurairah masuk islam di suku Daus. Kemdian beliau datang ke Madinah, sementara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam teah berangkat menuju Khaibar. Ketika itu, yang bertanggung jawab terhadap kota Madinah adalah Siba bin Urfuthah al-Ghifari. Ditugaskan untuk menggantikan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Abu Hurairah shalat bersama Siba’, kemudian menyusul Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Khaibar, dan ikut peristiwa Khaibar bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Shahih Ibnu Hibban, 11/187).

Kemudian keterangan al-Hafidz Ibnu Hajar, setelah beliau menceritakan islamnya Thufail,

وفيها أنه دعا قومه إلى الإسلام فأسلم أبوه ولم تسلم أمه وأجابه أبو هريرة وحده قلت وهذا يدل على تقدم إسلامه وقد جزم بن أبي حاتم بأنه قدم مع أبي هريرة بخيبر وكأنها قدمته الثانية

Di kampung ad-Daus Thufail mendakwahkan kaumnya untuk masuk islam, hingga ayahnya masuk islam, namun ibunya menolak. Kemudian Abu Hurairah menerima ajakan beliau sendirian.

Menurut saya (Ibnu Hajar), ini menunjukkan bahwa islamnya Abu Hurairah itu sejak awal. Bahkan Ibnu Abi Hatim menyebutkan bahwa Thufail datang ke Khaibar bersama Abu Hurairah. Seolah ini adalah kedatangan yang kedua. (Fathul Bari, 8/102)

Diantara ulama kontemporer yang menegaskan islamnya Abu Hurairah sebelum peristiwa hijrah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Madinah adalah al-A’dzami. Dalam catatan kaki untuk Shahih Ibnu Khuzaimah, beliau mengatakan,

أسلم أبو هريرة قبل الهجرة إلى المدينة بسنوات، لكنه هاجر بزمن خيبر، انظر ترجمة الطفيل ابن عمرو الدوسي في الاستيعاب والإصابة

Abu Hurairah masuk islam beberapa tahun sebelum peristiwa hijrah. Namun beliau hijrah di masa peritiwa Khaibar. Anda bisa lihat biografi Thufail bin Amr ad-Dausi di kitab al-Isti’ab dan kitab al-Ishabah. (Ta’liq Shahih Ibn Khuzaimah, 1/280).

Keterangan yang lain juga disampaikan Dr. Muhammad Ajjaj al-Khatib dalam kitabnya ‘Abu Hurairah, Rayatul Islam’ (Abu Hurairah, Bendera Islam),

أن أبا هريرة أسلم قديماً وهو بأرض قومه على يد الطفيل بن عمرو، وكان ذلك قبل الهجرة النبوية

Bahwa Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu masuk islam dari awal, ketika beliau masih di kampung halamannya, mengikuti ajakan Thufail bin Amr. Dan itu terjadi sebelum hijrahnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Abu Hurairah, Rayatul Islam, hlm 70).

Dari beberapa keterangan dan riwayat di atas, yang lebih mendekati, nampaknya Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, telah masuk islam ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam masih di Mekah. Hanya saja, beliau datang ke Madinah dan selalu menyertai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika peristiwa perang Khaibar.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

sejarah-bulan-ramadhan

Sejarah Nama Bulan Ramadhan

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Sejak dahulu, sebelum datangnya islam, bangsa arab telah menggunakan tahun qomariyah. Hanya saja tidak semua masyarakat jahiliyah di seluruh penjuru jazirah arab sepakat dalam menentukan kalender tertentu. Sehingga penanggalan mereka berbeda-beda. Meskipun demikian, mereka mengenal kalender qamariyah, dan mereka gunakan konsep ini untuk membuat penanggalan bagi suku mereka masing-masing.

Kalender qamariyah yang mereka kenal sejak zaman dahulu sama dengan kalender qamariyah yang berlaku saat ini. Dalam satu tahun ada dua belas bulan, dan awal bulan ditentukan berdasarkan terbitnya hilal (bulan sabit pertama). Mereka menetapkan bulan Muharram sebagai awal tahun. Mereka juga menetapkan empat bulan haram (bulan suci). Mereka menghormati bulan-bulan haram ini. Mereka jadikan empat bulan haram sebaga masa dilarangnya berperang antar-suku dan golongan.

Kemudian, sebagian informasi menyebutkan, ada lima bulan – Rabi’ul awal – akhir, Jumadil awal – akhir, dan Ramadhan – yang namanya ditetapkan berdasarkan keadaan musim yang terjadi di bulan tersebut.

–  Rabi’ul awal dan akhir diambil dari kata rabi’ [arab: ربيع] yang artinya semi. Karena ketika penamaan bulan Rabi’ bertepatan dengan musim semi.

–  Jumadil Ula dan Akhirah, diambil dari kata: jamad [arab: جماد], yang artinya beku. Karena pada saat penamaan bulan ini bertepatan dengan musim dingin, dimana air membeku.

–  Sedangkan Ramadhan diambil dari kata Ramdha’ [arab: رمضاء], yang artinya sangat panas. Karena penamaan bulan ini bertepatan dengan musim panas.

(http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=27755)

Asal Penamaan Ramadhan

An-Nawawi dalam kitabnya Tahdzib al-Asma wa al-Lughat, menyebutkan beberapa pendapat ahli bahasa, terkait asal penamaan ramadhan,

Pertama, diambil dari kata ar-Ramd [arab: الرمض] yang artinya panasnya batu karena terkena terik matahari. Sehingga bulan ini dinamakan ramadhan, karena kewajiban puasa di bulan ini bertepatan dengan musim panas yang sangat terik. Pendapat ini disampaikan oleh al-Ashma’i – ulama ahli bahasa dan syair arab – (w. 216 H), dari Abu Amr.

Kedua, diambil dari kata ar-Ramidh [arab: الرميض], yang artinya awan atau hujan yang turun di akhir musim panas, memasuki musim gugur. Hujan ini disebut ar-Ramidh karena melunturkan  pengaruh panasnya matahari. Sehingga bulan ini disebut Ramadhan, karena membersihakn badan dari berbagai dosa. Ini merupakan pendapat al-Kholil bin Ahmad al-Farahidi – ulama tabiin ahli bahasa, peletak ilmu arudh – (w. 170 H).

Ketiga, nama ini diambil dari pernyataan orang arab, [رمضت النصل] yang artinya mengasah tombak dengan dua batu sehingga menjadi tajam. Bulan ini dinamakan ramadhan, karena masyarakat arab di masa silam mengasah senjata mereka di bulan ini, sebagai persiapan perang di bulan syawal, sebelum masuknya bulan haram. Pendapat ini diriwayatkan dari al-Azhari – ulama ahli bahasa, penulis Tahdzib al-Lughah – (w. 370 H).

Kemudian an-Nawawi menyebutkan keterangan al-Wahidi,

قال الواحدي: فعلى قول الأزهري: الاسم جاهلي، وعلى القولين الأولين يكون الاسم إسلاميًا

Al-Wahidi mengatakan, berdasarkan keterangan al-Azhari, berarti ramadhan adalah nama yang sudah ada sejak zaman Jahiliyah.Sementara berdasarkan dua pertama, berarti nama ramadhan adalah nama islami.

(Tahdzib al-Asma wa al-Lughat, 3/126).

Demikian,

Allahu a’lam.

Oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Ali dan Fatimah

Kisah Pernikahan Ali dan Fatimah

Bismillah, ustadz mohon dijelaskan, apakah benar kisah mengenai Fatimah radhiyallahu ‘anha yang diam-diam telah jatuh cinta kepada sahabat Ali bin Abi thalib radhiyallahu ‘anhu sebelum mereka menikah? namun ia sangat menjaga cintanya hingga bahkan setanpun tidak tahu. Mohon penjelasannya, karena banyak umat yang menukil kisah ini. Jazaakumullah khayr, baarakallahu fiikum

Dari Azizah Al Aziz  via Tanya Ustadz for Android

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Riwayat shahih yang kami temukan tentang kisah pernikahan Ali dengan Fatimah  adalah riwayat yang disebutkan dalam sunan an-Nasai, Ibnu Hibban dan al-Hakim, dari sahabat Buraidah bin hashib radhiyallahu ‘anhu. Sahabat Buraidah radhiyallahu ‘anhu menceritakan,

خَطَبَ أَبُو بَكْرٍ، وَعُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا فَاطِمَةَ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّهَا صَغِيرَةٌ» فَخَطَبَهَا عَلِيٌّ، فَزَوَّجَهَا مِنْهُ

Abu Bakar, dan Umar radhiyallahu ‘anhuma pernah melamar Fatimah. Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi jawaban, “Dia masih kecil.” Kemudian Ali melamarnya lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahkannya dengan Fatimah. (an-Nasai 3221, Ibnu Hibban 6948, al-Hakim 2705 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth dan Imam al-Albani).

Benarkah Fatimah Sangat Mencintai Ali?

Riwayat seperti yang disebutkan, tidak kami jumpai dalam referensi yang kami miliki. Karena itu, sebagai nasehat kepada kaum muslimin terkait berita yang lalu-lalang di sekitar kita. Baik melalui dunia maya maupun sms. Hendaknya kita bersikap hati-hati dan tidak mudah percaya. Bila perlu, ketika kita mendapatkan sebuah riwayat, tentang amalan atau kisah atau apapun bentuknya, kita bisa meminta teks arabnya. Dan JANGAN percaya dengan penyebutan ”(HR….)” Dengan itu, kita bisa menimbang kebenaran riwayat tersebut.

Tempo lalu, kami mendapatkan hadis yang disebar masyarakat melalui sms dan email. Tentang anjuran meminta maaf menjelang ramadhan kepada semua orang di sekeliling kita. Tidak segan-segan dalam informasi itu dicantumkan riwayat (HR. Ahmad). Padahal 100% itu dusta.

Terlebih disebutkan bahwa Fatimah radhiyallahu ‘anhu menyimpan rasa cinta kepada Ali bin Abi Thalib. Hanya saja, ada riwayat dari al-Harits dari Ali bin Abi Thalib, beliau menceritakan,

خطب أبو بكر وعمر يعني فاطمة إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فأبى رسول الله صلى الله عليه وسلم عليهما فقال عمر‏:‏ أنت لها يا علي‏.‏ فقلت‏:‏ ما لي من شيء إلا درعي أرهنها‏.‏ فزوجه رسول الله صلى الله عليه وسلم فاطمة فلما بلغ ذلك فاطمة بكت قال‏:‏ فدخل عليها رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال‏:‏ ‏”‏مالك تبكين يا فاطمة‏!‏ فوالله لقد أنكحتك أكثرهم علما وأفضلهم حلما وأولهم سلما

Abu Bakr dan Umar radhiyallahu ‘anhuma pernah melamar Fatimah melalui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menerimanya.

Umarpun berkata kepada Ali: ’Engkau yang layak menjadi suaminya wahai Ali.’

’Aku tidak punya apa-apa selain baju besi yang sedang aku gadaikan.’ Jawab Ali.

Kemudian Rasulullah menikahkan Ali dengan Fatimah. Ketika berita pernikahan ini sampai kepada Fatimah, beliau malah menangis. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian menemui Fatimah dan menanyakan,

”Apa yang membuat kamu menangis, wahai Fatimah? Demi Allah, aku telah menikahkan kamu dengan orang yang lebih pandai, lebih lembut, dan lebih awal masuk islam.”

Riwayat di atas disebutkan secara bersanad dalam kitab Usud al-Ghabah karya Ibnul Atsir (6/221).

Hanya saja, disana tidak disebutkan derajat keshahihan riwayat ini.

Sementara riwayat lain yang menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diperintahkan Allah untuk menikahkan Ali dan Fatimah dengan mahar 400 dirham. Para ulama diantaranya Ibnul Jauzi dan ad-Dzahabi menilai riwayat ini palsu. (Ittihaf as-Sail bima li Fatimah min al-Manaqib, karya al-Munawi, hlm. 6).

Demikian,

Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Muawiyah bin Abi Sufyan

Muawiyah di Mata Sahabat dan Salafus Sholeh

Muawiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhuma, termasuk sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau masuk islam pada waktu fathu Mekah. Ada juga riwayat yang menyebutkan, beliau masuk islam ketika perjanjian Hudaibiyah.

Beliau adalah saudara Ummu Habibah bintu Abi Sufyan, salah satu istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Beliau bergelar Kholul Mukminin (Paman kaum Mukminin)

Semua saudara istri-istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bergelar Kholul Mukminin (paman orang yang beriman). Sebagaimana para istri beliau bergelar, Ummahatul Mukminin (ibunda orang yang beriman).

Abu Ya’la dalam Tanzih Khol al-Mukminin mengatakan,

ويسمى إخوة أزواج رسول الله صلى الله عليه وسلم أخوال المؤمنين

Para saudara dari istri-istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam disebut kholul mukminin. (Tanzih Khol al-Mukminin, hlm. 106).

Imam Ahmad pernah ditanya,

Apakah saya harus mengakui, Muawiyah Kholul Mukminin, Ibnu Umar Kholul Mukminin?

Jawab Imam Ahmad,

نعم معاوية أخو أم حبيبة بنت أبي سفيان زوج النبي صلى الله عليه وسلم ورحمهما , وابن عمر أخو حفصة زوج النبي صلى الله عليه وسلم ورحمهما

Ya. Muawiyah saudaranya Ummu Habibah bintu Abi Sufyan, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan Ibnu Umar saudara Hafshah istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (as-Sunnah, 2/433).

Beliau Sang Penulis Wahyu

Ibnu Abbas menceritakan,

كَانَ الْمُسْلِمُونَ لَا يَنْظُرُونَ إِلَى أَبِي سُفْيَانَ وَلَا يُقَاعِدُونَهُ، فَقَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا نَبِيَّ اللهِ ثَلَاثٌ أَعْطِنِيهِنَّ، قَالَ: «نَعَمْ» قَالَ: عِنْدِي أَحْسَنُ الْعَرَبِ وَأَجْمَلُهُ، أُمُّ حَبِيبَةَ بِنْتُ أَبِي سُفْيَانَ، أُزَوِّجُكَهَا، قَالَ: «نَعَمْ» قَالَ: وَمُعَاوِيَةُ، تَجْعَلُهُ كَاتِبًا بَيْنَ يَدَيْكَ، قَالَ: «نَعَمْ» قَالَ: وَتُؤَمِّرُنِي حَتَّى أُقَاتِلَ الْكُفَّارَ، كَمَا كُنْتُ أُقَاتِلُ الْمُسْلِمِينَ، قَالَ: «نَعَمْ»

Kaum muslimin tidak mempedulikan Abu Sufyan dan tidak mau duduk bersamanya. Kemudian Abu Sufyan berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

’Wahai Nabi Allah, ada 3 hal istimewa yang saya berikan kepada anda.’

”Ya.” jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

’Saya memiliki putri tercantik di kalangan arab, Ummu Habibah bintu Abi Sufyan, saya nikahkan dengan anda.’ Kata Abu Sufyan.

”Ya.” jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

’Muawiyah, aku jadikan sebagai penulis wahyu anda.’ Kata Abu Sufyan.

”Ya.” jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

’Anda perintahkan saya, sehingga saya berperang melawan orang kafir, sebagaimana dulu saya memerangi orang muslim.’

”Ya.” jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

(HR. Muslim 2501).

Imam Ahmad mengatakan,

معاوية رضي الله عنه كاتبه وصاحبه وصهره وأمينه على وحيه عز وجل

Muawiyah radhiyallahu ‘anhu adalah penulis wahyu beliau, sahabat beliau, ipar beliau, dan kepercayaan beliau untuk mencatat wahyu Allah ’azza wa jalla. (Diriwayatkan oleh al-Ajurri dalam as-Syariah, 2466 dan al-Lalikai dalam Syarh Sunnah 2785).

Berikut Beberapa Pujian Sahabat dan Ulama Masa Silam kepada Muawiyah

Pertama, dari Ibnu Abi Mulaikah – ulama tabiin – (w. 117 H). Beliau menceritakan, bahwa ada orang yang bertanya kepada Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ”Apa komentar anda tentang Muawiyah, dia witir satu rakaat?.

Jawab Ibnu Abbas,

أَصَابَ، إِنَّهُ فَقِيهٌ

”Beliau benar, beliau seorang yang faqih.” (HR. Bukhari 3765)

Kedua, keterangan Hammam bin Munabbih – tabiin – (w. 132 H) pernah mendengar Ibnu Abbas mengatakan,

مَا رَأَيْتُ رَجُلاً كَانَ أَخْلَقَ لِلمُلْكِ مِنْ مُعَاوِيَةَ

Saya belum pernah melihat ada orang yang lebih bagus akhlaknya ketika menjadi raja, melebihi Muawiyah. (HR. Abdurrazaq no. 20985 dan sanadnya shahih).

Ketiga, Sikap Hasan dan Husain kepada Muawiyah radhiyallahu ‘anhum

Setelah Muawiyah menjadi khalifah, beliau memiliki kedekatan dengan putra-putranya Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhum. Sebagaimana yang masyhur dalam kitab-kitab sirah.

Diantara bentuk kedekatan itu, Hasan dan Husain pernah bertamu ke rumah Muawiyah, dan beliau memberi uang sebesar 200 ribu dirham (= 20 rb dinar. Senilai dengan 4700 gr emas).

Muawiyah mengatakan, ’Belum pernah dua sahabat ini diberi harta seperti itu sebelumku.’

Husain berkomentar, ’Tidak ada seorangpun yang diberi harta lebih banyak dari pada kami.’

(al-Bidayah wa an-Nihayah, Ibnu Katsir, 8/139)

Keempat, Imam Mujahid – ulama besar tabiin – (w. 103 H) mengatakan,

لو رأيتم معاوية لقلتم هذا المهدي

”Andai kalian pernah melihat Muawiyah, niscaya kalian akan mengatakan, Ini imam Mahdi.” (al-Bidayah wa An-Nihayah, Ibnu Katsir, 8/137).

Kelima, Ibnu Syihab az-Zuhri – ulama tabiin – (w. 125 H)

عمل معاوية بسيرة عمر بن الخطاب سنين لا يخرم منها شيئاً

Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu menunjuk Muawiyah sebagai gubernur selama bertahun-tahun, dan tidak mengurangi tanggung jawabnya sedikitpun. (Diriwayatkan al-Khallal dalam as-Sunnah, 1/444. kata Pentahqiq: Sanadnya sahih).

Keenam, Imam Mu’afa bin Imran – ulama tabiin – (w. 185 H), pernah ditanya, ’Mana yang lebih utama, Muawiyah ataukah Umar bin Abdul Aziz?’

Jawab Imam Mua’fa,

كان معاوية أفضل من ستمائة مثل عمر بن عبد العزيز

”Muawiyah lebih utama dibandingkan 600 Umar bin Abdul Aziz.” (Diriwayatkan al-Khallal dalam as-Sunnah, 1/435)

Dalam keterangan yang lain, al-Jarrah al-Mushili menceritakan, bahwa ada seseorang bertanya kepada Mu’afa bin Imran,

“Apakah Umar bin Abdul Aziz bisa disandingkan dengan Muawiyah bin Abi Sufyan?”

Seketika itu, Mu’afa langsung marah, dan mengatakan,

لا يقاس بأصحاب محمد صلى الله عليه وسلم أحد، معاوية رضي الله عنه كاتبه وصاحبه وصهره وأمينه على وحيه عز وجل

Tidak boleh aa seorangpun yang disandingkan dengan para sahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Muawiyah radhiyallahu ‘anhu adalah penulis wahyu beliau, sahabat beliau, ipar beliau, dan kepercayaan beliau untuk mencatat wahyu Allah ’azza wa jalla. (Diriwayatkan oleh al-Ajurri dalam as-Syariah, 2466 dan al-Lalikai dalam Syarh Sunnah 2785).

Ketujuh, az-Zuhri pernah bertanya kepada Said bin Musayib – ulama tabiin, menantu Abu Hurairah – tentang sikap terhadap para sahabat. Said menjawab,

اسمع يا زهري من مات محبا لأبى بكر وعمر وعثمان وعلى وشهد للعشرة بالجنة وترحم على معاوية كان حقا على الله أن لا يناقشه الحساب

Dengarkan wahai Zuhri, siapa yang mati dan dia mencintai Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali, serta dia mengakui kebenaran 10 sahabat yang dijamin masuk surga, dan mendoakan kebaikan untuk Muawiyah, maka dia berhak untuk tidak didebat oleh Allah. (al-Bidayah wa An-Nihayah, Ibnu Katsir, 8/139)

Kedelapan, keterangan Abdullah bin Mubarok – gurunya Imam Bukhari – (w. 181 H) pernah mengatakan,

تراب في أنف معاوية أفضل من عمر بن عبد العزيز

”Debu yang masuk ke hidungnya Muawiyah, lebih baik dari pada Umar bin Abdul Aziz.”

Kesembilan, keterangan dari Ibrahim bin Maisarah,

ما رأيت عمر بن عبد العزيز ضرب إنسانا قط إلا إنسان شتم معاوية فانه ضربه أسواطا

Saya belum pernah melihat Umar bin Abdul Aziz memukul seorang manusia-pun, selain orang yang mencela Muawiyah. Beliau mencambuknya beberapa kali. (al-Bidayah wa An-Nihayah, Ibnu Katsir, 8/139)

Kesepuluh, keterangan Imam Ahmad

Imam Ahmad ditanya tentang sikap beliau terhadap orang yang mengatakan, ’Saya tidak mau mengakui bahwa Muawiyah adalah penulis wahyu, dia juga bukan paman kaum mukminin. Karena semua itu dia ambil dengan cara merampas.’ Lalu Imam Ahmad berkomentar,

هذا قول سوءٍ رديء، يجانبون هؤلاء القوم، و لا يجالسون، و نبيِّن أمرهم للناس

Ini ucapan jelek, orang semacam ini harus dihindari, tidak boleh bermajlis bersama mereka, dan kesesatannya harus dijelaskan kepada masyarakat. (Riwayat al-Khallal dalam as-Sunnah, 2/434).

Imam Ahmad juga ditanya seseorang, bahwa dia punya paman yang suka mencela Muawiyah. Dan terkadang orang ini makan bersama pamannya. Kata Imam Ahmad,

لا تأكل معه

”Jangan makan bersamanya.” (Riwayat al-Khallal dalam as-Sunnah, 2/448).

Kesebelas, Imam Qotadah mengatakan,

لو أصبحتم في مثل عمل معاوية لقال أكثركم هذا المهدي

Andai kalian melihat langsung bagaimana kepemimpinan Muawiyah, tentu mayoritas kalian akan mengatakan: Orang ini adalah Imam Mahdi. (Riwayat al-Khallal dalam as-Sunnah, 2/438).

Kedua belas, Imam Ibnu Qudamah mengatakan,

ومعاوية خال المؤمنين، وكاتب وحي الله، وأحد خلفاء المسلمين رضي الله تعالى عنهم

Muawiyah adalah paman kaum mukminin, penulis wahyu, dan salah satu khalifah kaum muslimin radhiyallahu ‘anhum. (Lum’atul I’tiqad, hlm. 33)

Ketiga belas, keterangan Syaikhul Islam,

واتفق العلماء على أن معاوية أفضل ملوك هذه الأمة، فإن الأربعة قبله كانوا خلفاء نبوة، وهو أول الملوك، كان ملكه ملكاً ورحمة..وَكَانَ فِي مُلْكِهِ مِنْ الرَّحْمَةِ وَالْحُلْمِ وَنَفْعِ الْمُسْلِمِينَ مَا يُعْلَمُ أَنَّهُ كَانَ خَيْرًا مِنْ مُلْكِ غَيْرِهِ

Para ulama sepakat bahwa Muawiyah adalah raja terbaik di tengah umat ini. Karena 4 khalifah sebelumnya adalah para khalifah yang dibimbing nubuwah, sementara beliau adalah raja pertama. Kepemimpinan beliau adalah kepemimpinan rahmat. Dalam kepemimpinan beliau dipenuhi dengan rahmat, kelembutan dan memberi banyak manfaat bagi kaum muslimin, sehingga bisa diketahui bahwa beliau adalah raja terbaik dibanding yang lainnya. (Majmu’ Fatawa, 4/478)

Keempat belas, Imam Ibnu Abil Iz menegaskan,

وأول ملوك المسلمين معاوية وهو خير ملوك المسلمين

Raja pertama di kalangan kaum muslimin adalah Muawiyah. Dan beliau adalah raja terbaik di kalangan kaum muslimin. (Syarh Aqidah Thahawiyah, hlm. 722).

Dan masih banyak lagi pujian para ulama kepada Muawiyah, karena mereka mengenal siapa Muawiyah dan membaca sejarahnya. Sementara orang yang tak kenal Muawiyah, dia hanya akan menjadi senjata syiah untuk mencela Muawiyah radhiyallahu ‘anhu.

Allahu a’lam

Ditulis oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

abu thalib paman nabi

Apakah Abu Thalib Mati Kafir?

Tanya:

Saya membaca buku tentang Ali bin Abi Thalib.

Dalam Bab 5 tentang Keluarga Hasyim, penulis menyampaikan kontroversi tentang keislaman Abu Thalib. Dia mengutip Dr. Muhammad at Tawanjik,yang menulis, mengumpulkan dan mempelajari syair-syair Abu Talib dalam antologi Diwan Abi Talib. di hal 23 penulis menyatakan,

“Ada tiga pendapat tentangkeislaman Abu Talib. Satu golongan menganggap ia mati sebagai musyrik; golongan kedua meyakinkan ia meninggal sebagai Muslim; yang lain mengatakan ia sudah Islam dan beriman tetapi menyembunyikan keimanannya.” (cetakan miring untuk menandai kutipan sesuai asli)

Lebih lanjut, pada hlm yang sama penulis mengutip keterangan Ibn Abi al-Hadid dalam ulasannya mengenai Nahjul Balagah menengaskan:

“Secara ringkas, berita-berita tentang dia sudah menganut Islam banyak sekali, dan sumber yang mengatakan dia meninggal masih dalam kepercayaan masyarakatnya juga tidak sedikit.”

“Golongan yang mengatakan dia sudah Islam berpendapat, bahwa ketika Muhammad sallallahu’alaihi wasallam diutus sebagai nabi, Abu Talib sudah masuk Islam sudah percaya, tetapi dia tidak mau berterus terang menyatakan keimanannya. Bahkan menyembunyikannya suoaya dapat mengadakan pembelaan kepada Rasullullah sallallahu ‘alaihi wasallam. Alasannya kalu ia menyatakan keislamannya, ia akan sama seperti Muslimin yang lain, Quraisy akan menjauhi dan membencinya. Mereka mengemukakan bukti-bukti keislamannya itu, antara lain, perlindungannya terhadap terhadap kemenakannya itu, ia mau menderita bersama-sama, pernyataannya dalam syair-syairnya dengan sumber yang kuat dan saat ia dalam sekarat Abbas mendengar ia mengucapkan kalimat syahadat, La ilaha illa Allah.” (dikutip sesuai asli)

Mohon pencerahannya.

Terima kasih

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Sebelumnya kami perlu sampaikan bahwa pembahasan tentang status islam dan tidaknya Abu Thalib, bukan dalam rangka main vonis takfir atau kapling-kapling neraka untuk orang lain. Apalagi jika dianggap membenci ahlu bait Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jelas ini tuduhan yang sangat jauh. Kita beriman bahwa Abu Lahab mati kafir, karena Allah mencela habis di surat al-Lahab, meskipun Abu Lahab adalah paman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan jelas kita tidak boleh mengatakan, mengkafirkan Abu Lahab berarti membenci ahlul bait Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kita membahas status kekafiran Abu Thalib, dalam rangka meluruskan pemahaman, agar sesuai dengan dalil hadis dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan bukan mengikuti klaim kelompok tertentu yang tidak bertanggung jawab.

Terkait status Abu Thalib, terdapat banyak dalil yang menunjukkan bahwa dia mati kafir,

Pertama, peristiwa kematian Abu Thalib,

Dari Musayib bin Hazn, beliau menceritakan,

أَنَّهُ لَمَّا حَضَرَتْ أَبَا طَالِبٍ الوَفَاةُ جَاءَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَوَجَدَ عِنْدَهُ أَبَا جَهْلِ بْنَ هِشَامٍ، وَعَبْدَ اللَّهِ بْنَ أَبِي أُمَيَّةَ بْنِ المُغِيرَةِ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَبِي طَالِبٍ: ” يَا عَمِّ، قُلْ: لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، كَلِمَةً أَشْهَدُ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ ” فَقَالَ أَبُو جَهْلٍ، وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي أُمَيَّةَ: يَا أَبَا طَالِبٍ أَتَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ المُطَّلِبِ؟ فَلَمْ يَزَلْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْرِضُهَا عَلَيْهِ، وَيَعُودَانِ بِتِلْكَ المَقَالَةِ حَتَّى قَالَ أَبُو طَالِبٍ آخِرَ مَا كَلَّمَهُمْ: هُوَ عَلَى مِلَّةِ عَبْدِ المُطَّلِبِ، وَأَبَى أَنْ يَقُولَ: لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَمَا وَاللَّهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ مَا لَمْ أُنْهَ عَنْكَ» فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى فِيهِ: {مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ} [التوبة: 113] الآيَةَ

Ketika Abu Thalib hendak meninggal dunia, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatanginya. Di dekat Abu Thalib, beliau melihat ada Abu Jahal bin Hisyam, dan Abdullah bin Abi Umayah bin Mughirah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan kepada pamannya, ”Wahai paman, ucapkanlah laa ilaaha illallah, kalimat yang aku jadikan saksi utk membela paman di hadapan Allah.” Namun Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayah menimpali, ’Hai Abu Thalib, apakah kamu membenci agama Abdul Muthalib?’

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terus mengajak pamannya untuk mengucapkan kalimat tauhid, namun dua orang itu selalu mengulang-ulang ucapannya. Hingga Abu Thalib memilih ucapan terakhir, dia mengikuti agama Abdul Muthalib dan enggan untuk mengucapkan laa ilaaha illallah.

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertekad, ”Demi Allah, aku akan memohonkan ampunan untukmu kepada Allah, selama aku tidak dilarang.”

Lalu Allah menurunkan firman-Nya di surat at-Taubah: 113. dan al-Qashsas: 56. (HR. Bukhari 1360 dan Muslim 24)

Firman Allah di surat at-Taubah:

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

”Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum Kerabat (Nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam.” (QS. At-Taubah: 113).

Firman Allah di surat al-Qashsas:

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. (QS. Al-Qashsas: 56)

Kedua, kesedihan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan kematian Abu Thalib yang tidak masuk islam.

Terkait sikap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap kematian Abu Thalib, turun dua ayat di atas.

1. Firman Allah di surat at-Taubah:

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

”Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum Kerabat (Nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam.” (QS. At-Taubah: 113).

2. Firman Allah di surat al-Qashas:

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. (QS. Al-Qashsas: 56)

Ibnu Katsir mengutip keterangan beberapa ulama tafsir sahabat dan Tabiin,

قال ابن عباس، وابن عمر، ومجاهد، والشعبي، وقتادة: إنها نزلت في أبي طالب حين عَرَضَ عليه رسولُ الله صلى الله عليه وسلم أن يقول: “لا إله إلا الله” فأبى عليه ذلك. وكان آخر ما قال: هو على ملة عبد المطلب.

Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Mujahid, as-Sya’bi, dan Qatadah mengatakan, ayat ini turun berkaitan dengan Abu Thalib, ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajak dia untuk mengucapkan laa ilaaha illallah, namun dia enggan untuk mengucapkannya. Dan terakhir yang dia ucapkan, bahwa dia mengikuti agama Abdul Muthalib. (Tafsir Ibn Katsir, 6/247).

Adanya dua ayat di atas, merupakan bukti sangat nyata bahwa Abu Thalib mati dalam kondisi tidak islam.

Ketiga, beberapa hadis yang menegaskan Abu Thalib mati kafir

1. Hadis dari Abbas bin Abdul Muthalib radhiyallahu ‘anhu, beliau bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَا أَغْنَيْتَ عَنْ عَمِّكَ، فَإِنَّهُ كَانَ يَحُوطُكَ وَيَغْضَبُ لَكَ؟

“Apakah anda tidak bisa menolong paman anda?, karena dia selalu melindungi anda dan marah karena anda.”

Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

هُوَ فِي ضَحْضَاحٍ مِنْ نَارٍ، وَلَوْلاَ أَنَا لَكَانَ فِي الدَّرَكِ الأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ

Dia berada di permukaan neraka. Andai bukan karena aku, niscaya dia berada di kerak neraka.” (HR. Ahmad 1774 dan Bukhari 3883).

2. Dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu,

أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَذُكِرَ عِنْدَهُ عَمُّهُ أَبُو طَالِبٍ، فَقَالَ: «لَعَلَّهُ تَنْفَعُهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ القِيَامَةِ، فَيُجْعَلُ فِي ضَحْضَاحٍ مِنَ النَّارِ يَبْلُغُ كَعْبَيْهِ، يَغْلِي مِنْهُ أُمُّ دِمَاغِهِ»

Suatu ketika ada orang yang menyebut tentang paman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu Abu Thalib di samping beliau. Lalu beliau bersabda,

“Semoga dia mendapat syafaatku pada hari kiamat, sehingga beliau diletakkan di permukaan neraka yang membakar mata kakinya, namun otaknya mendidih.” (HR. Bukhari 6564, Muslim 210, dan yang lainnya).

3. Hadis dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan,

سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَبِي طَالِبٍ هَلْ تَنْفَعُهُ نُبُوَّتُكَ؟

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang Abu Thalib, apakah status kenabian anda bisa bermanfaat baginya?

Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

نَعَمْ، أَخْرَجْتُهُ مِنْ غَمْرَةِ جَهَنَّمَ إِلَى ضَحْضَاحٍ مِنْهَا

”Bisa bermanfaat, aku keluarkan dia dari kerak jahanam ke permukaan neraka” (HR. Abu Ya’la al-Mushili dalam Musnadnya no. 2047).

4. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَهْوَنُ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا أَبُو طَالِبٍ، وَهُوَ مُنْتَعِلٌ بِنَعْلَيْنِ يَغْلِي مِنْهُمَا دِمَاغُهُ

”Penduduk neraka yang paling ringan siksanya adalah Abu Thalib. Dia diberi dua sandal yang menyebabkan otaknya mendidih.” (HR. Ahmad 2636, Muslim 212, dan yang lainnya).

Mengapa Abu Thalib malah disiksa?

Jika Abu Thalib mati muslim, berhasil mengucapkan laa ilaaha illallah, maka status Abu Thalib adalah sahabat yang husnul khotimah. Namun Mengapa Abu Thalib malah disiksa?

Jika dia muslim, tentu beliau tidak akan mendapatkan hukuman dengan kondisi mengerikan seperti itu. Karena ketika orang masuk islam, semua dosa kekufuran di masa silam akan menjadi diampuni Allah. Sehingga jawabannya, dia disiksa karena dia meninggal dalam kondisi kafir.

Dia Penolong Dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Kita sepakat hal ini. Abu Thalib memiliki jasa besar, membantu dan melindungi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selama dakwah di Mekah. Inipun diakui para sahabat. Dan karena jasa besar Abu Thalib, para sahabat bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, apakah beliau bisa menyelamatkan Abu Thalib?.

Ini menunjukkan bahwa para sahabat telah memahami bahwa Abu Thalib mati kafir. Karena jika Abu Thalib mati muslim, tentu para sahabat tidak akan menanyakan hal itu. Kita tidak jumpai, sahabat bertanya, apakah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi syafaat kepada Khadijah, Hamzah, Ruqayah atau Ummu Kultsum?, para keluarga beliau yang meninggal mendahului beliau.

Karena mereka semua mati muslim. Berbeda dengan Abu Thalib, para sahabat mempertanyakan apakah posisi beliau bisa memberikan pertolongan kepada Abu Thalib yang membantu sewaktu dakwah di Mekah.

Kesaksian Abbas?

Anda bisa perhatikan hadis dari Abbas bin Abdul Muthalib radhiyallahu ‘anhu, ketika beliau bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَا أَغْنَيْتَ عَنْ عَمِّكَ، فَإِنَّهُ كَانَ يَحُوطُكَ وَيَغْضَبُ لَكَ؟

“Apakah anda tidak bisa menolong paman anda?, karena dia selalu melindungi anda dan marah karena anda.”

Kita bisa memahami, Abbas bertanya demikian, karena Abbas juga meyakini bahwa Abu Thalib mati kafir.

Jawaban Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

هُوَ فِي ضَحْضَاحٍ مِنْ نَارٍ، وَلَوْلاَ أَنَا لَكَانَ فِي الدَّرَكِ الأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ

”Dia berada di permukaan neraka. Andai bukan karena aku, niscaya dia berada di kerak neraka.” (HR. Ahmad 1774 dan Bukhari 3883).

Hadis ini diriwayatkan Imam Ahmad, Bukhari, dan yang lainnya. Inilah keterangan yang lebih meyakinkan tentang sikap Abbas terhadap kematian Abu Thalib. Lalu dimana riwayat yang menyebutkan keterangan Abbas bahwa Abu Thalib telah mengucapkan laa ilaaha illallaahdi detik kematiannya?

Tidak lain, keterangan ini adalah kedustaan Syiah, untuk menguatkan klaim mereka tentang keislaman Abu Thalib.

Keempat, tentang kitab Nahjul Balaghah

Penulis kitab ini Muhamad bin Husain as-Syarif ar-Ridha, tokoh syiah abad 5 H. Kitab ini berisi khutbah, nasehat, dan pesan-pesan sahabat Ali bin Abi Thalib. Namun uniknya, semuanya disampaikan tanpa sanad. Bahkan banyak ulama yang menegaskan bahwa isi buku Nahjul Balaghah adalah kedustaan atas nama Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Berikut beberapa keterangan mereka,

1. Keterangan Imam ad-Dzahabi dalam al-Mizan,

ومن طالع كتابه ” نهج البلاغة ” ؛ جزم بأنه مكذوب على أمير المؤمنين علي (ع)، ففيه السب الصراح والحطُّ على أبي بكر وعمر، وفيه من التناقض والأشياء الركيكة والعبارات التي من له معرفة بنفس القرشيين الصحابة، وبنفس غيرهم ممن بعدهم من المتأخرىن، جزم بأن الكتاب أكثره باطل

Orang yang membaca kitab ‘Nahjul Balaghah’ dia bisa memastikan bahwa itu kedustaan atas nama Amirul Mukminin, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Dalam kitab ini terdapat celaan dan penghinaan terang-terangan kepada Abu Bakr dan Umar. Kemudian terdapat pertentangan dan berbagai macam pendapat sangat lemah, serta ungkapan yang jika dinilai oleh orang yang memahami karakter sahabat Quraisy, karakter ulama lainnya setelah mereka, maka dia bisa menyimpulkan bahwa kitab ini umumnya adalah kebatilan. (Mizan al-I’tidal, 3/124).

2. Keterangan Syaikhul Islam,

فأكثر الخطب التي ينقلها صاحب “نهج البلاغة “كذب على علي، الإمام علي (ع) أجلُّ وأعلى قدرا من أن يتكلم بذلك الكلام، ولكن هؤلاء وضعوا أكاذيب وظنوا أنها مدح، فلا هي صدق ولا هي مدح

Umumnya khutbah yang disebutkan penulis ‘Nahjul Balaghah’ adalah kedustaan atas nama Ali bin Abi Thalib. Imam Ali terlalu mulia untuk menyampaikan khutbah demikian. Namun mereka (syiah) membuat kedustaan dan mereka yakini sebagai bentuk pujian. Khutbah ini tidak jujur dan bukan pujian. (Minhajus Sunah, 8/28).

3. Keterangan dalam kitab Mukhtashar at-Tuhfah al-Itsna Asyarah,

ومن مكائدهم – أي الرافضة – أنهم ينسبون إلى الأمير من الروايات ما هو بريء منه ويحرفون عنه، فمن ذلك “نهج البلاغة” الذي ألفه الرضي وقيل أخوه المرتضى، فقد وقع فيه تحريف كثير وأسقط كثيرا من العبارات حتى لا يكون به مستمسك لأهل السنة

Termasuk penipuan mereka – orang syiah –, mereka mengklaim berbagai riwayat atas nama Amirul Mukminin Ali, yang beliau sendiri berlepas diri darinya, sementara mereka menyimpangkannya. Diantaranya kitab ‘Nahjul Balaghah’ yang ditulis oleh ar-Ridha, ada yang mengatakan saudaranya, yaitu al-Murtadha. Dalam buku ini terdapat banyak penyimpangan riwayat dan banyak ungkapan yang tidak layak, sehingga kitab ini tidak dijadikan rujukan dalam ahlus sunah. (Mukhtashar at-Tuhfah al-Itsna Asyarah, hlm 36).

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)

Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

kisah nabi muhammad

Rebutan Nabi

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Seperti yang diberitakan dalam al-Quran, bahwa sebelum kedatangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, masyarakat ahli kitab telah mengetahui akan ada nabi terakhir yang mempimpin dunia dan mengalahkan berbagai macam suku dan golongan yang tidak mengikutinya. Dia membawa kitab yang menjadi penyempurna kitab-kitab sebelumnya, dan membawa ajaran yang menyempurnakan ajaran sebelumnya.

وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُبِينٌ

Ingatlah ketika Isa Ibnu Maryam berkata: “Hai Bani Israil, Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan datangnya seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).” Maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata.” (QS. As-Shaf: 6)

Di ayat lain, Allah berfirman,

الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلَالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ

(yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang Ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka Itulah orang-orang yang beruntung. (QS. Al-A’raf: 157)

Bahkan, para rahib ahli kitab, mengetahui dengan detail ajaran yang dibawa nabi terakhir, layaknya mereka mengetahui ciri-ciri anaknya sendiri,

الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ وَإِنَّ فَرِيقًا مِنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al kitab (Taurat dan Injil) Mengenal Muhammad seperti mereka Mengenal anak-anaknya sendiri. dan Sesungguhnya sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui. (QS. Al-Baqarah: 146).

Ibnu Katsir mengatakan,

يخبر تعالى أنّ علماء أهل الكتاب يعرفون صِحّة ما جاءهم به الرسول صلى الله عليه وسلم [كما يعرفون أبناءهم] كما يعرف أحدُهم ولده، والعربُ كانت تضرب المثل في صحة الشيء بهذا

Allah memberitakan, bahwa para ulama ahli kitab (rahib) mereka mengetahui kebenaran ajaran yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana mereka mengetahui anaknya sendiri. Masyarakat arab membuat permisalan kebenaran sesuatu dengan ungkapan seperti ini. (Tafsir Ibnu Katsir, 1/462).

Mereka juga memahami bahwa nabi terakhir ini akan tinggal di daerah yang memiliki banyak kebun kurma.

Karena alasan inilah, masyarakat yahudi eksodus dari daerah asalnya di Syam, menuju Yatsrib (nama asal kota Madinah), untuk menyambut kehadiran nabi terakhir yang tinggal. Dalam ar-Rahiq al-Makhtum diterangkan tentang asal yahudi di Madinah,

وكانوا في الحقيقة عبرانيين، ولكن بعد الانسحاب إلى الحجاز اصطبغوا بالصبغة العربية في الزى واللغة والحضارة، حتى صارت أسماؤهم وأسماء قبائلهم عربية، وحتى قامت بينهم وبين العرب علاقة الزواج والصهر، إلا أنهم احتفظوا بعصبيتهم الجنسية، ولم يندمجوا في العرب قطعًا، بل كانوا يفتخرون بجنسيتهم الإسرائيلية

Aslinya mereka adalah ibrani, namun setelah mereka pindah ke daerah Hijaz (wilayah Madinah – Mekah), mereka melebur dengan kultur arab, mulai dari cara berpakaian, bahasa, sampai tradisi dan kebudayaan. Hingga nama mereka dan nama kabilah mereka kearab-araban. Sampai terjadi hubungan pernikahan antara yahudi dengan masyarakat arab. Hanya saja, mereka masih menjaga fanatisme kebangsaan, dan tidak berasimilasi penuh dengan masyarakat arab. Bahkan mereka membanggakan diri mereka sebagai keturunan Israil. (ar-Rahiq al-Makhtum, 139).

Perang Dingin Yahudi dan Masyarakat

Sikap fanatisme masyarakat yahudi di Madinah, mendorong mereka untuk berusaha merebut kota madinah dari tangan penduduk arab. Untuk mewujudkan tujuan ini, mereka berusaha mengadu domba antar-suku masyarakat Madinah, yang ketika itu terdiri dari 2 suku besar: Aus dan Khazraj. Hingga terjadi perang besar antara dua suku ini, yang dikenal dengan perang Bu’ats. Peristiwa ini terjadi sebelum kedatangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.buku kisah para sahabat nabi

Mereka menggelari orang arab dengan kaum ummiyun (masyarakat buta huruf), primitif, lugu dan terbelakang. Mereka juga menguasai perekonomian Yatsrib, dan banyak membungakan uang serta menerima gadai tanah dengan penduduk asli.

Bahkan mereka berkeyakinan, dibolehkan mengambil harta penduduk pribumi. Allah ceritakan dalam al-Quran,

قَالُوا لَيْسَ عَلَيْنَا فِي الْأُمِّيِّينَ سَبِيلٌ وَيَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

”Orang yahudi itu mengatakan, Tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang ummiyun itu. Mereka juga berkata dusta atas nama Allah, padahal mereka menyadarinya.” (QS. Ali Imran: 75).

Karena itu, tidak heran jika kehadiran kaum yahudi di Madinah dengan segala karakter rakusnya, menimbulkan perang dingin antara penduduk asli dengan masyarakat yahudi.

Ancaman Yahudi kepada Penduduk Madinah

Karena telah memiliki taurat, dalam masalah keyakinan, masyarakat yahudi merasa diri mereka lebih berperadaban dibandingkan penduduk arab asli. Hingga mereka mengancam kepada masyarakat pribumi, ”Akan diutus kepada kami seorang nabi akhir zaman, yang akan berperang bersama kami, mengalahkan kalian.”

Abul Aliyah menyebutkan bahwa diantara doa orang yahudi itu,

اللهم ابعث هذا النبي الذي نجده مكتوبًا عندنا حتى نعذب المشركين ونقتلهم

”Ya Allah, utuslah nabi yang telah disebutkan kisahnya dalam taurat ini, sehingga kami bisa menghukum orang-orang musyrik itu, dan membantai mereka.” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/326)

Allah ceritakan hal ini dalam al-Quran,

وَلَمَّا جَاءَهُمْ كِتَابٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَهُمْ وَكَانُوا مِنْ قَبْلُ يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى الَّذِينَ كَفَرُوا

Dan setelah datang kepada mereka Al-Quran dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir. (QS. Al-Baqarah: 89).

Ibnu Katsir menafsirkan,

وقد كانوا من قبل مجيء هذا الرسول بهذا الكتاب يستنصرون بمجيئه على أعدائهم من المشركين إذا قاتلوهم، يقولون: إنه سيبعث نبي في آخر الزمان نقتلكم معه قتل عاد وإرم

”Dulu sebelum kedatangan Rasu terakhir dengan membawa al-Quran, mereka berharap kehadiran Rasul itu untuk membantu mereka mengalahkan musuh mereka di kalangan orang musyrikin (masyarakat arab, penduduk Yatsrib), ketika nabi itu memerangi mereka. Kaum yahudi itu mengatakan, “Akan diutus seorang nabi di akhir zaman, dan kami akan membantai kalian bersamanya, sebagaimana pembantaian yang terjadi pada kaum Ad dan Iram.” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/325).

Akan tetapi harapan mereka meleset. Para yahudi itu berharap agar nabi terakhir diutus di kalangan mereka, namun ternyata Allah utus dari kalangan orang arab, suku Quraisy. Lebih dari itu, nabi terakhir ini tidak berpihak atas nama fanatisme keturunan Israil. Pupus sudah harapan besar mereka, hingga timbul hasad dan dengki kepada masyarakat arab. Tidak ada pilihan lain bagi mereka, selain kufur terhadap nabi terakhir itu.

Di lanjutan ayat di atas, Allah berfirman,

فَلَمَّا جَاءَهُمْ مَا عَرَفُوا كَفَرُوا بِهِ فَلَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْكَافِرِينَ. بِئْسَمَا اشْتَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ أَنْ يَكْفُرُوا بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ بَغْيًا أَنْ يُنَزِّلَ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ عَلَى مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ

”Ketika telah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. La’nat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu. Alangkah buruknya (hasil perbuatan) mereka yang menjual dirinya sendiri dengan kekafiran kepada apa yang telah diturunkan Allah, karena dengki bahwa Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya diantara hamba-hamba-Nya. (QS. Al-Baqarah: 89 – 90)

Ibnu Abbas menceritakan,

أن يَهود كانوا يستفتحون على الأوس والخزرج برسول الله صلى الله عليه وسلم قبل مبعثه. فلما بعثه الله من العرب كفروا به، وجحدوا ما كانوا يقولون فيه. فقال لهم معاذ بن جبل، وبشر بن البراء بن مَعْرُور، أخو بني سلمة: يا معشر يهود، اتقوا الله وأسلموا، فقد كنتم تستفتحون علينا بمحمد صلى الله عليه وسلم ونحن أهل شرك، وتخبروننا بأنه مبعوث، وتصفُونه لنا بصفته

Sebelum diutusnya nabi, orang yahudi berharap akan mengalahkan kaum Aus dan Khazraj dengan kehadiran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika Allah mengutus beliau dari suku arab, mereka kufur kepadanya, dan mengingkari ucapan yang dulu pernah mereka sampaikan. Hingga Muadz bin Jabal dan Bisyr bin Barra dari Bani Salamah menyampaikan kepada orang yahudi: “Wahai orang yahudi, bertaqwalah kepada Allah dan masuklah ke dalam islam. Dulu kalian ingin menghabisi kami dengan kehadiran Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika kami masih musyrik. Kalian sampaikan kepada kami bahwa beliau akan diutus dan kalian juga menceritakan sifat beliau kepada kami.”

Namun pernyataan dua sahabat ini dibantah oleh yahudi, melalui lidah Salam bin Misykam dari Bani Nadhir,

ما جاءنا بشيء نعرفه، وما هو بالذي كنا نذكر لكم

”Belum datang kepada kami nabi yang kami kenal, sama sekali. Dia (Muhammad) bukanlah orang yang pernah kami ceritakan kepada kalian.”

Dengan sebab ini, Allah turunkan surat al-Baqarah ayat 89 dan 90 di atas.

Mengapa Penduduk Madinah Mudah Menerima Islam?

Dalam sejarah perjuangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kita sering mendengar usaha dakwah beliau yang sering mengalami penolakan. Dakwah di Mekah, mendapat banyak penolakan orang musyrikin Quraisy, dakwah di Thaif, beliau malah dilempari batu, banyak kabilah yang ditawari menjadi pengikut beliau, namun mereka tidak bersedia.

Ini berbeda dengan penduduk Yatsrib. Setelah mereka mendengar ada nabi terakhir di kota Mekah, betapa mudahnya masyarakat Madinah menerima dakwah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan kehadiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mereka sambut dengan gembira dan suka cita.

Apa sebabnya? Apakah karakter mereka berbeda dengan musyrikin lainnya?

Bahwa setelah hidayah yang Allah berikan kepada mereka, salah satu analisis sejarah menyebutkan, karena motivasi untuk bisa mengalahkan orang yahudi yang menjadi musuh bebuyutan mereka. Berdasarkan berita dari para yahudi, nabi terakhir akan menaklukkan penjuru dunia, begitu mendengar nabi terakhir itu, merekapun dengan suka cita menjadi pengikutnya.

Yahudi Iri dan Dengki

Pelajaran penting yang juga perlu kita garis bawahi, sebab terbesar orang yahudi itu kufur kepada ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah karena mereka iri dengan kita. Mereka dengki dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat. Allah sampaikan dalam al-Quran,

فَلَمَّا جَاءَهُمْ مَا عَرَفُوا كَفَرُوا بِهِ فَلَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْكَافِرِينَ . بِئْسَمَا اشْتَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ أَنْ يَكْفُرُوا بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ بَغْيًا أَنْ يُنَزِّلَ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ عَلَى مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ

”Ketika telah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. La’nat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu. Alangkah buruknya (hasil perbuatan) mereka yang menjual dirinya sendiri dengan kekafiran kepada apa yang telah diturunkan Allah, karena dengki mengapa Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya diantara hamba-hamba-Nya. (QS. Al-Baqarah: 89 – 90)

Makna: ”Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya diantara hamba-hamba-Nya” : Allah menurunkan kenabian terakhir kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Karena desakan sifat ’iri’ itu, mereka wujudkan dalam usaha memurtadkan kaum muslimin. Allah menceritakan,

وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ

Sebahagian besar ahli kitab menginginkan agar mereka dapat menjadikan kalian kembali kafir setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. (QS. Al-Baqarah: 109).

Anda bisa perhatikan, mereka iri dengan agama kita. Itu artinya ajaran agama kita jauh lebih sempurna dan lebih baik dari pada agama mereka, dan bahkan tidak bisa dibandingkan, karena ajaran agama mereka telah disimpangkan.

Jika Si A iri kepada si B, mana yang lebih baik? Jelas jawabannya si B lebih baik. Karena jika si A lebih baik dari pada si B, untuk apa dia iri kepada si B.

Yahudi dan nasrani, iri kepada islam. Sekali lagi, karena ajaran islam lebih baik dari pada ajaran mereka. Jika islam jauh lebih baik dari pada nasrani dan yahudi, lantas dengan alasan apa umat islam mengucapkan ’selamat natal’ atau selamat tahun baru, yang itu semua perayaan agama usang yang seharusnya sudah ditinggalkan.

Namun sangat disayangkan, kehadiran generasi ’muslim liberal’ mewakili kelompok kaum muslimin yang rendah diri [bukan rendah hati], merasa hina di depan agama usang dan diselewengkan.

Allahu a’lam

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)
Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

doa awal tahun hijriyah

Doa Akhir Tahun

Tanya:

Adakah doa akhir tahun? Salam… nuwun

Jawab

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Pertama, sebelumnya, kita perlu meninjau sejarah penetapan awal dan akhir tahun hijriyah. Para ahli sejarah menegaskan bahwa penetapan kalender hijriyah sebagai kalender resmi dalam islam, baru ada di zaman Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu. Dan itu ditetapkan untuk menandai surat-menyurat yang dilakukan di antara kaum muslimin. Keterangan selengkapnya, bisa anda pelajari di: Sejarah Penetapan Bulan Hijriyah

Ini artinya, kalender hijriyah, belum pernah dikenal di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakar as-Shiddiq. Sehingga, di zaman beliau, belum dikenal istilah akhir tahun atau tahun baru.

Kedua, memahami keadaan di atas, kita bisa menyimpulkan dengan sangat yakin bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mengajarkan doa akhir tahun atau awal tahun. Bagaimana mungkin beliau mengajarkan doa akhir dan awal tahun, sementara di zaman beliau, semacam ini belum dikenal.

Demikian para sahabat. Mereka tidak mengkaitkan tahun baru dengan kegiatan ibadah atau amalan apapun. Karena penetapan tahun baru hijriyah, murni untuk kepentingan administrasi, dan tidak ada kaitannya dengan syariat.

Ketiga, para ulama menegaskan, bahwa tidak ada doa akhir tahun maupun awal tahun, yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maupun para sahabat. Doa akhir tahun yang banyak tersebar di masyarakat, sama sekali tidak ada dasarnya. Murni hasil karya manusia. Karena itulah, para ulama mengingkari doa semacam ini, apalagi ketika dia diklaim sebagai doa ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dr. Bakr Abu Zaid (w. 1429 H) mengatakan,

لا يثبت في الشرع شيء من دعاء أو ذكر لآخر العام، وقد أحدث الناس فيه من الدعاء، ورتبوا ما لم يأذن به الشرع، فهو بدعة لا أصل لها.

Bab tentang Doa Akhir Tahun

Tidak terdapat dalil dalam syariat yang menyebutkan tentang doa atau dzikir akhir tahun. Masyarakat membuat-buat kegiatan doa, mereka susun kalimat-kalimat doa, yang sama sekali tidak diizinkan dalam syariat. Doa semacam ini murni bukan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak ada dasarnya.

(Tashih ad-Dua, hlm. 108).

Dr. Bakr Abu Zaid adalah Pengajar di Masjid Nabawi pada 1390 – 1400 H, dan anggota Majma’ al-Fiqhi al-Islami di bawah Rabithah Alam Islamiyah.

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)
Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

cincin nabi muhammad

Cincin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Tanya:

Bagaimana ciri-ciri cincin Nabi SAW. Itu aja, trims

Jawaban,

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Berikut beberapa hadis yang menceritakan cicin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

Pertama, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,

كان خاتم النبي صلى الله عليه وسلم من ورق وكان فصه حبشيا

Cincin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terbuat dari perak, dan mata cincinnya berasal dari Habasyah (ethiopia). (HR. Muslim 2094, Turmudzi 1739, dan yang lainnya).

Kedua, dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma,

أن النبي صلى الله عليه وسلم اتخذ خاتما من فضة فكان يختم به

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggunakan cincin dari perak, dan beliau gunakan untuk menstempel suratnya. (HR. Ahmad 5366, Nasai 5292, dan sanadnya dinilai shahih oleh Syuaib al-Arnauth).

Ketiga, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,

كان خاتم النبي صلى الله عليه وسلم من فضة فصه منه

”Cincin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari perak, dan mata cincin juga dari bahan perak.” (HR. Bukhari 5870, Nasai 5198, dan yang lainnya).

Keempat, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan

كان نقش خاتم رسول الله صلى الله عليه وسلم ( محمد ) سطر و ( رسول ) سطر و ( الله ) سطر

Ukiran mata cincin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertuliskan: Muhammad [محمد] satu baris, Rasul [رسول] satu baris, dan Allah [الله] satu baris. (HR. Turmudzi 1747, Ibn Hibban 1414, dan semakna dengan itu diriwayatkan oleh Bukhari 5872)

Dalam riwayat lain dijelaskan,

أن النبي صلى الله عليه وسلم أراد أن كتب إلى كسرى وقيصر والنجاشي فقيل له : إنهم لا يقبلون كتابا إلا بخاتم فصاغ رسول الله صلى الله عليه وسلم خاتما حلقته فضة ونقش فيه محمد رسول الله فكأني أنظر إلى بياضه في كفه

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak menulis surat ke Kisra (persi), Kaisar (romawi), dan Najasyi (Ethiopia). Kemudian ada yang mengatakan, ’Mereka tidak mau menerima surat, kecuali jika ada stempelnya.’ Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat cincin dari perak, dan diukir tulisan Muhammad Rasulullah. Saya melihat putihnya cincin itu di tangan beliau. (HR. Ahmad 12738, Bukhari 5872, Muslim 2092, dan yang lainnya).

Kelima, dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan,

اتخذ رسول الله صلى الله عليه وسلم خاتما من ورق فكان في يده ثم كان في يد أبي بكر ويد عمر ثم كان في يد عثمان حتى وقع في بئر أريس نقشه : محمد رسول الله

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat cincin dari perak. Pertama beliau yang memakai, kemudian dipakai Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian dipakai Utsman, hingga akhirnya kecemplung di sumur air Arisy. Ukirannya bertuliskan: Muhammad Rasulullah. (HR. Bukhari 5873, Muslim 2091, Nasai 5293, dan yang lainnya)

Keenam, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اتَّخَذَ خَاتَمًا مِنْ فِضَّةٍ، وَنَقَشَ فِيهِ: مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ، وَقَالَ: «إِنِّي اتَّخَذْتُ خَاتَمًا مِنْ وَرِقٍ، وَنَقَشْتُ فِيهِ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ، فَلاَ يَنْقُشَنَّ أَحَدٌ عَلَى نَقْشِهِ»

Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat cincin dari perak, dan diukir: Muhammad Rasulullah. Kemduian Beliau bersabda, “Sesungguhnya aku membuat cincin dari perak, dan aku ukir Muhammad Rasulullah. Karena itu, jangan ada seorangpun yang mengukir dengan tulisan seperti ini.” (HR. Bukhari 5877)

Dari beberapa riwayat di atas, ada beberapa pelajaran yang bisa kita simpulkan,

1. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memakai cincin

2. Cincin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki ciri:

  • Terbuat dari perak
  • Ada mata cincinnya, yang juga terbuat dari perak
  • Logam perak mata cincin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berasal dari Ethiopia
  • Bagian mata cincin ada ukirannya, bertuliskan: Muhammad Rasulullah
  • Tulisan ukiran di mata cincin itu biasa digunakan untuk stempel surat

3. Tujuan utama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat cincin adalah untuk dijadikan stempel surat dakwah yang hendak dikirim ke berbagai penjuru dunia.

4. Cincin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam digunakan para khulafa’ ar-rasyidin setelah beliau sebagai stempel surat.

5. Larangan untuk membuat cincin dengan ukiran seperti ukiran cincin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Muhammad Rasulullah. al-Hafidz Ibn Hajar menjelaskan, ’Karena dalam cincin itu ada tulisan nama beliau, dan status beliau. Beliau membuat demikian sebagai ciri khas beliau, yang membedakan dengan lainnya. Jika yang lain dibolehkan untuk membuat ukiran cincin seperti itu, maka tujuan ini tidak terwujud.’ (Fathul Bari, 10/324).

6. Makna ”mata cincinnya berasal dari Habasyah”

Para ulama berbeda pendapat tentang makna kalimat ini. Imam an-Nawawi menyebutkan beberapa pendapat ulama mengenai hal tersebut,

  • Mata cincinnya berupa batu dari Habasyah, berupa batu akik. Karena tambang batu akik ada di habasyah dan Yaman.
  • Warnanya seperti orang habasyah, yaitu berwarna hitam. Kata Ibn Abdil Bar, inilah pendapat yang lebih kuat. Berdasarkan riwayat dari Anas yang menegaskan bahwa mata cincin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari perak. Artinya, bukan batu akik.
  • Kedua makna di atas benar. Dalam arti, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang memakai cincin yang matanya dari perak dan terkadang memakai cincin yang matanya batu akik. (Syarh Shahih Muslim, 14/71).

Al-Hafidz Ibn Hajjar juga menyebutkan beberapa kemungkinan yang lain,

  • Mata cincin beliau berupa batu dari habasyah
  • Mata cincinnya dari perak. Disebut dari Habasyah, karena cirinya. Bisa jadi ciri modelnya atau ciri ukirannya.

(Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari, 10/322)

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)

Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

SOCIAL

10,016FansLike
4,525FollowersFollow
33,532FollowersFollow
61,951SubscribersSubscribe

RAMADHAN

Dukung KonsultasiSyariah.com
dengan Donasi!

BNI SYARIAH
0381346658
a.n. Yufid Network Yayasan
***
BANK SYARIAH MANDIRI
7086882242
a.n. Yayasan Yufid Network
***
PAYPAL
finance@yufid.org
Konfirmasi via email: finance@yufid.org

Powered by WordPress Popup