<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Konsultasi Kesehatan dan Tanya Jawab Pendidikan Islam &#187; RAMADHAN</title>
	<atom:link href="http://www.konsultasisyariah.com/category/ramadhan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.konsultasisyariah.com</link>
	<description>KonsultasiSyariah.com</description>
	<lastBuildDate>Thu, 17 May 2012 04:22:47 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Penukaran Uang Baru di Bank dengan Uang Jasa (Fee)</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/penukaran-uang/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/penukaran-uang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Sep 2011 06:07:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aris</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[RAMADHAN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7318</guid>
		<description><![CDATA[Penukaran Uang Baru di Bank dengan Uang Jasa (Fee) Assalamu ’alaikum, Ustadz. Akhir-akhir ini banyak semarak menukar uang baru di Bank, namun penukarannya ada jasa fee, misalnya: untuk penukaran uang baru 1 Juta (fee = Rp 25.000). Mohon penjelasan, apakah ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Penukaran Uang Baru di Bank dengan Uang Jasa (Fee)</h2>
<p><em>Assalamu ’alaikum</em>, Ustadz. Akhir-akhir ini banyak semarak menukar uang baru di Bank, namun penukarannya ada jasa <em>fee</em>, misalnya: untuk <em>penukaran uang</em> baru 1 Juta (<em>fee</em> = Rp 25.000). Mohon penjelasan, apakah hal tersebut diperbolehkan dalam ilmu syar’i atau kategorinya haram? <em>Jazakallahu khairan</em>.</p>
<p><em>Adil Murdileksono (adi**@***.com)</em><br />
<span id="more-7318"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa&#8217;alaikumussalam.</em></p>
<h3>Hukum Penukaran Uang adalah termasuk riba fadhl (riba karena kelebihan).</h3>
<p>Jika uang itu sejenis, misalnya: rupiah dengan rupiah, maka <strong>barter harus senilai tanpa ada selisih</strong>, dan tukar menukar dilakukan di tempat transaksi. jika ada selisih maka itu haram karena termasuk riba fadhl.</p>
<p>Dalilnya:</p>
<p class="arab">عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ &#8211; رضى الله عنه &#8211; أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; قَالَ « لاَ تَبِيعُوا الذَّهَبَ بِالذَّهَبِ إِلاَّ مِثْلاً بِمِثْلٍ ، وَلاَ تُشِفُّوا بَعْضَهَا عَلَى بَعْضٍ ، وَلاَ تَبِيعُوا الْوَرِقَ بِالْوَرِقِ إِلاَّ مِثْلاً بِمِثْلٍ ، وَلاَ تُشِفُّوا بَعْضَهَا عَلَى بَعْضٍ</p>
<p>Dari Abu Said Al-Khudri <em>radhiallahu &#8216;anhu</em>, bahwa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, &#8220;<em>Janganlah kalian menjual emas dengan emas kecuali beratnya sama, dan jangan melebihkan salah satunya. Jangan kalian menjual perak dengan perak kecuali beratnya sama, dan jangan melebihkan salah satunya</em>.&#8221; (H.r. Bukhari)</p>
<p>Para ulama meng<em>qiyas</em>kan (analogi) uang zaman sekarang dengan emas atau perak, sehingga hukum <a title="Zakat Fitrah dengan Uang, Bolehkah?" href="http://konsultasisyariah.com/zakat-fitrah-dengan-uang" target="_blank" rel="nofollow"><strong>penukaran uang</strong></a> itu sama dengan tukar menukar emas dan perak.</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Aris Munandar, M.A. (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>).</strong></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/penukaran-uang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menggabung Niat Puasa Syawal dengan Puasa Qadha</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/menggabung-niat-puasa-syawal-dengan-puasa-qadha/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/menggabung-niat-puasa-syawal-dengan-puasa-qadha/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Sep 2011 06:28:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[RAMADHAN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7391</guid>
		<description><![CDATA[Hukum menggabung niat puasa syawal dengan qadha puasa Assalamu &#8216;alaikum. Ustadz, apakah boleh puasa dalam sehari, niatnya untuk puasa Syawal dan qadha puasa? Terima kasih. Wassalamu &#8216;alaikum. Umie (umie**@yahoo.***) Jawaban: Wa&#8217;alaikumussalam. * Menggabung niat qadha puasa dengan puasa syawal (Disadur ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Hukum menggabung niat puasa syawal dengan qadha puasa<strong></strong></h2>
<p><em>Assalamu &#8216;alaikum</em>. Ustadz, apakah boleh puasa dalam sehari, niatnya untuk puasa Syawal dan <strong>qadha puasa</strong>? Terima kasih. <em>Wassalamu &#8216;alaikum.</em></p>
<p><em>Umie (umie**@yahoo.***)</em><br />
<span id="more-7391"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa&#8217;alaikumussalam.</em></p>
<p>*</p>
<h3><strong>Menggabung niat qadha puasa dengan puasa syawal </strong>(Disadur dari <em>Fatawa Syabakah Islamiyah</em>, di bawah bimbingan Dr. Abdullah Al-Faqih. No. fatwa: 12728)</h3>
<p>Pertanyaan:</p>
<p>Bolehkah melakukan puasa Syawal, sekaligus dengan niat meng-qadha puasa yang pernah ditinggalkan di bulan Ramadan? Bagaimana cara yang tepat?</p>
<p>Jawaban:</p>
<p><em>Alhamdulillah, washshalatu was salamu &#8216;ala Rasulillah wa &#8216;ala alihi wa shahbihi. Amma ba&#8217;du &#8230;</em></p>
<p><strong>Tidak boleh</strong> melakukan puasa 6 hari di bulan Syawal dengan niat ganda, untuk puasa sunah dan meng-<a href="http://konsultasisyariah.com/puasa-syawal-bagi-orang-yang-punya-tanggungan-qadha-ramadhan" rel="nofollow" target="_blank"><strong>qadha puasa</strong></a> Ramadan yang pernah ditinggalkan, karena meninggalkan puasa ketika Ramadan, baik karena alasan yang dibenarkan maupun tanpa alasan, itu wajib untuk di-qadha&#8217;, berdasarkan firman Allah,</p>
<p class="arab">فمن كان منكم مريضاً أو على سفر فعدة من أيام أخر</p>
<p>“<em>Siapa saja di antara kalian yang sakit atau dalam perjalanan (kemudian dia berbuka) maka dia (mengganti) sebanyak hari puasa yang ditinggalkan di hari yang lain</em>.” (Qs. Al-Baqarah:184)</p>
<p>Sementara, puasa 6 hari Syawal itu hukumnya sunah, berdasarkan hadis dari Abu Ayyub Al-Anshari; beliau mendengar Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">من صام رمضان ثم أتبعه ستاً من شوال فذلك كصيام الدهر</p>
<p>“<em>Barang siapa yang berpuasa Ramadan, kemudian diikuti (puasa) enam hari bulan Syawal, maka itu seperti puasa setahun</em>.” (Hr. Muslim)</p>
<p>Oleh karena itu, hendaknya orang yang memiliki utang puasa tersebut meng-qadha utang puasa Ramadan kemudian melaksanakan puasa sunah 6 hari bulan Syawal.</p>
<p>Puasa Syawal harus dilakukan secara khusus, demikian pula qadha puasa juga harus dilakukan secara khusus. Dalam keadaan semacam ini, tidak memungkinkan untuk digabungkan niatnya, tidak sebagaimana ibadah yang lain, seperti mandi junub dan mandi Jumat.</p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p>*</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Ammi Nur Baits</a> (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>).</strong></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/menggabung-niat-puasa-syawal-dengan-puasa-qadha/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tata Cara Puasa Syawal</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/tata-cara-puasa-syawal/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/tata-cara-puasa-syawal/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Sep 2011 01:54:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[RAMADHAN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7319</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Ustadz, apakah puasa Syawal harus dilakukan berturut-turut enam hari atau boleh terputus-putus asalkan masih tetap di bulan Syawal? Jazakallahu khairan. Jawaban: Ulama berselisih pendapat tentang tata cara yang paling baik dalam melaksanakan puasa enam hari di bulan Syawal. Pendapat ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Ustadz, apakah puasa Syawal harus dilakukan berturut-turut enam hari atau boleh terputus-putus asalkan masih tetap di bulan Syawal? <em>Jazakallahu khairan</em>.<br />
<span id="more-7319"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Ulama berselisih pendapat tentang tata cara yang paling baik dalam melaksanakan puasa enam hari di bulan Syawal.</p>
<p><strong>Pendapat pertama,</strong> dianjurkan untuk menjalankan puasa Syawal secara berturut-turut, sejak awal bulan. Ini adalah pendapat Imam Syafi&#8217;i dan Ibnul Mubarak. Pendapat ini didasari sebuah hadis, namun hadisnya <em>lemah</em>.</p>
<p><strong>Pendapat kedua,</strong> tidak ada beda dalam keutamaan, antara dilakukan secara berturut-turut dengan dilakukan secara terpisah-pisah. Ini adalah pendapat Imam Waki&#8217; dan Imam Ahmad.</p>
<p><strong>Pendapat ketiga,</strong> tidak boleh melaksanakan puasa persis setelah Idul Fitri karena itu adalah hari makan dan minum. Namun, sebaiknya puasanya dilakukan sekitar tengah bulan. Ini adalah pendapat Ma&#8217;mar, Abdurrazaq, dan diriwayatkan dari Atha&#8217;. Kata Ibnu Rajab, “Ini adalah pendapat yang aneh.” (<em>Lathaiful Ma&#8217;arif</em>, hlm. 384&#8211;385)</p>
<p>Pendapat yang lebih kuat dalam hal ini adalah pendapat yang menyatakan bolehnya puasa Syawal tanpa berurutan. Keutamaannya sama dengan puasa Syawal secara terpisah. Syekh Abdul Aziz bin Baz ditanya tentang puasa Syawal, apakah harus berurutan?</p>
<p>Beliau menjelaskan, &#8220;Puasa 6 hari di bulan Syawal adalah sunah yang sahih dari Nabi s<em>hallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Boleh dikerjakan secara berurutan atau terpisah karena Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam memberikan keterangan secara umum terkait pelaksanaan puasa Syawal, dan beliau tidak menjelaskan apakah berurutan ataukah terpisah. Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, &#8216;<em>Barang siapa yang berpuasa Ramadan, kemudian diikuti puasa enam hari bulan Syawal &#8230;.</em>&#8216; (Hadis riwayat Muslim, dalam<em> Shahih</em>-nya)</p>
<p><em>Wa billahit taufiiq &#8230;.</em>&#8221; (<em>Majmu&#8217; Fatwa wa Maqalat Ibni Baz</em>, jilid 15, hlm. 391)</p>
<p><strong>Disusun oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).</strong></p>
<p><strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/tata-cara-puasa-syawal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menjawab Ucapan Selamat di Hari Raya</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/ucapan-selamat-di-hari-raya/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/ucapan-selamat-di-hari-raya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 31 Aug 2011 12:30:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[AKHLAK]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Pergaulan]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[RAMADHAN]]></category>
		<category><![CDATA[idul fitri 2011]]></category>
		<category><![CDATA[kado ucapan]]></category>
		<category><![CDATA[lebaran 2011]]></category>
		<category><![CDATA[ucapan id]]></category>
		<category><![CDATA[ucapan lebaran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7307</guid>
		<description><![CDATA[Cara menjawab ucapan selamat idul fitri Jika kita mendapatkan ucapan dari orang lain, &#8220;Taqabbalallahu minna wa minkum,&#8221; bagaimana cara menjawabnya? Jawaban: Allah berfirman, وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا &#8220;Jika kalian diberi salam dalam bentuk apa pun maka ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Cara menjawab ucapan selamat idul fitri<strong></strong></h2>
<p>Jika kita mendapatkan <strong>ucapan</strong> dari orang lain, &#8220;<em>Taqabbalallahu minna wa minkum</em>,&#8221; bagaimana cara menjawabnya?<br />
<span id="more-7307"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Allah berfirman,</p>
<p class="arab">وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا</p>
<p>&#8220;<em>Jika kalian diberi salam dalam bentuk apa pun maka balaslah dengan salam yang lebih baik atau jawablah dengan yang semisal &#8230;.</em>&#8221; (Q.s. An-Nisa&#8217;:86)</p>
<p>Syekh As-Sa&#8217;di mengatakan, &#8220;Termasuk (kewajiban) menjawab salam adalah (memberikan jawaban) untuk semua salam yang menjadi kebiasaan di masyarakat, dan itu adalah salam yang tidak terlarang. Semuanya wajib dijawab dengan yang semisal atau yang lebih baik.&#8221; (<em>Taisir Karimir Rahman</em>, tafsir untuk surat An-Nisa&#8217;:86)</p>
<h3>Berikut ini beberapa keterangan dari para ulama menjawab ucapan selamat idul fitri</h3>
<ol>
<li>Dari Habib bin Umar Al-Anshari; bapaknya bercerita kepadanya bahwa beliau bertemu dengan &#8211;shahabat&#8211; Watsilah <em>radhiallahu &#8216;anhu</em> ketika hari raya, maka aku ucapkan kepadanya, &#8220;<em>Taqabbalallahu minna wa minkum</em>,&#8221; kemudian beliau (Watsilah) menjawab, &#8220;<em>Taqabbalallahu minna wa minkum</em>.&#8221; (H.r. Ad-Daruquthni dalam <em>Mu&#8217;jam Al-Kabir</em>)</li>
<li>Dari Adham, mantan budak Umar bin Abdul Aziz; beliau mengatakan, &#8220;Ketika hari raya, kami menyampaikan <em>ucapan</em> kepada Umar bin Abdul Aziz, &#8216;<em>Taqabbalallahu minna wa minkum</em>, wahai Amirul Mukminin.&#8217; Maka beliau pun menjawab dengan <u>ucapan</u> yang sama dan beliau tidak mengingkarinya.&#8221; (H.r. Al-Baihaqi)</li>
<li>Dari Syu&#8217;bah bin Al-Hajjaj; beliau mengatakan, &#8220;Saya bertemu dengan Yunus bin Ubaid, dan saya sampaikan, &#8216;<em>Taqabbalallahu minna wa minka</em>.&#8217; Kemudian beliau jawab dengan ucapan yang sama.&#8221; (H.r. Ad-Daruquthni dalam <em>Ad-Du&#8217;a</em>)</li>
</ol>
<p><em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><strong>Disusun oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>).</strong></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/ucapan-selamat-di-hari-raya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Puasa Syawal dan Niatnya</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/puasa-syawal-dan-niatnya/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/puasa-syawal-dan-niatnya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 31 Aug 2011 09:09:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[RAMADHAN]]></category>
		<category><![CDATA[amalan sesudah ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[puasa sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[puasa syawaql]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah puasa]]></category>
		<category><![CDATA[syawal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7322</guid>
		<description><![CDATA[Tata cara niat puasa syawal Bagaimana cara niat puasa Syawal? Jawaban: Niat Puasa Syawal Alhamdulillah, wash-shalatu wassalamu &#8216;ala nabiyyina Muhammadin wa &#8216;ala alihi wa shahbihi ajma&#8217;in, wa ba&#8217;du &#8230;. Permasalahan ini diperselisihkan oleh ulama. Sebagian ulama menyatakan bahwa tidak wajib ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Tata cara niat puasa syawal<strong><br />
</strong></h2>
<p>Bagaimana cara niat <strong>puasa Syawal</strong>?<br />
<span id="more-7322"></span><br />
<strong>Jawaban: </strong></p>
<h3>Niat Puasa Syawal</h3>
<p><em>Alhamdulillah, wash-shalatu wassalamu &#8216;ala nabiyyina Muhammadin wa &#8216;ala alihi wa shahbihi ajma&#8217;in, wa ba&#8217;du &#8230;.</em></p>
<p>Permasalahan ini diperselisihkan oleh ulama. Sebagian ulama menyatakan bahwa tidak wajib berniat di malam hari untuk puasa sunah, baik puasa sunah mutlak maupun terkait hari tertentu. Pendapat ini berdasarkan hadis Aisyah<em> radhiallahu &#8216;anha</em>; beliau mengatakan, &#8220;<em>Rasulullah menemuiku pada suatu pagi, kemudian beliau bertanya, &#8216;Apakah kalian memiliki suatu makanan?&#8217; Aisyah mengatakan, &#8216;Tidak.&#8217; Beliau bersabda, &#8216;Jika demikian, aku puasa.&#8217; Di kesempatan hari yang lain, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam mendatangi kami (Aisyah). Kami mengatakan, &#8216;Wahai Rasulullah, kami diberi hadiah hais (adonan).&#8217; Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam meminta, &#8216;Tunjukkan kepadaku, karena tadi pagi aku berniat puasa.&#8217;</em>” (H.r. Muslim, no. 1154)</p>
<p>Dari sabda Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> “<em>jika demikian, saya puasa</em>” bisa dipahami bahwa beliau belum berniat untuk puasa di malam hari.</p>
<p>Sebagian ulama berpendapat &#8211;seperti: Syekh Ibnu Utsaimin <em>rahimahullah</em>&#8211; bahwa diwajibkan untuk berniat di malam hari untuk puasa &#8220;tertentu&#8221; [1], seperti: puasa enam hari bulan Syawal, hari Arafah, Asyura, atau puasa &#8220;tertentu&#8221; lainnya. Jika ada orang yang melakukan puasa setengah hari (karena dia baru berniat di siang hari), dia tidak dianggap telah melaksanakan puasa satu hari penuh di hari itu [2]. Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menjanjikan pahala untuk puasa enam hari (di bulan Syawal, <em>ed.</em>) secara penuh.</p>
<p>Di samping itu, dijelaskan oleh beberapa ulama bahwa pahala puasa dicatat sejak mulai berniat. Dengan demikian, jika niat puasanya dimulai tidak dari awal hari &#8211;yaitu sejak terbit fajar&#8211; maka pahalanya kurang, sehingga dia tidak mendapatkan pahala yang dijanjikan untuk puasa enam hari ini.</p>
<p>Oleh karena itu, jika ada orang yang mengawali puasa sunah tertentu di siang hari maka puasanya tidak bisa dinilai sebagai puasa sunah tertentu. Namun, hanya puasa sunah <em>mutlak</em> [3]. Artinya, dia hanya mendapat pahala puasa sunah<em> mutlak</em>. Inilah pendapat yang lebih kuat menurutku. <em>Allahu a&#8217;lam</em>. (<strong>Sumber</strong>: <em>http://www.islamtoday.net/questions/&#8230;t.cfm?id=93957</em>)</p>
<p>Uraian di atas adalah keterangan dari Syekh Dr. Khalid Al-Musyaiqih. Beliau adalah salah satu pengajar di Universitas Al-Qasim. Beliau merupakan murid Syekh Ibnu Utsaimin dan Syekh Abdullah Al-Qar&#8217;awi. Saat ini, beliau aktif meneliti dan memberikan catatan kaki untuk kitab-kitab para ulama.</p>
<p>*</p>
<p><strong>Catatan kaki:</strong></p>
<p><strong>[1] </strong>Puasa sunah ada dua:</p>
<ol>
<li>Puasa sunah <em>mu&#8217;ayyan</em> (tertentu), yaitu puasa sunah yang <strong>terkait</strong> dengan hari atau tanggal tertentu, seperti: puasa Senin-Kamis, puasa Arafah, dan puasa 6 hari di bulan Syawal.</li>
<li>Puasa sunah <em>mutlak</em>, yaitu puasa sunah yang <strong>tidak</strong> terkait dengan hari atau tanggal tertentu. Karena itu, tidak ada batasan waktu maupun jumlah. Puasa yang dilakukan Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> sebagaimana disebutkan dalam hadis Aisyah di atas adalah contoh puasa sunah <em>mutlak.</em></li>
</ol>
<p><strong>[2] </strong>Jika ada orang yang berniat puasa sunah di siang hari maka dia mulai dihitung berpuasa sejak dia berniat puasa. Adapun sebelum itu, dia belum berniat sehingga tidak dianggap menjalankan ibadah, meskipun belum makan atau minum. Dengan demikian, ketika ada orang yang berniat puasa Senin setelah jam 9.00 maka dia baru dianggap puasa sejak jam 9.00. Apakah orang ini telah dianggap melaksanakan puasa sunah hari Senin? Jawabannya, orang ini <strong>tidak</strong> dianggap telah berpuasa sunah hari Senin karena dia tidak melaksanakan puasa Senin sejak awal, tetapi baru mulai sejak jam 9.00. <em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><strong>[3]</strong> Misalnya: seseorang mulai berniat puasa Kamis sejak jam 10.00, maka dia baru dihitung berpuasa hari Kamis sejak jam 10.00. Dengan demikian, dia tidak dianggap telah melaksanakan puasa sunah hari Kamis sehingga dia hanya mendapatkan pahala puasa mutlak, tetapi tidak mendapatkan pahala puasa sunah hari Kamis. <em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><strong>Keterangan tambahan:</strong></p>
<p><strong>Tidak ada lafal niat khusus</strong> untuk <em>puasa Syawal</em>. Seseorang yang sudah memiliki keinginan untuk <u>puasa Syawal</u> di malam hari itu sudah dianggap berniat, <strong>karena inti niat adalah keinginan dan bermaksud</strong>. Lebih dari itu, melafalkan niat adalah satu perbuatan yang tidak pernah diajarkan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.</p>
<p><strong>Disusun oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>).</strong></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/puasa-syawal-dan-niatnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Puasa Syawal tidak Terlaksana karena Uzur</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/puasa-syawal-karena-uzur/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/puasa-syawal-karena-uzur/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Aug 2011 05:35:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator 2</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[RAMADHAN]]></category>
		<category><![CDATA[idul fitri]]></category>
		<category><![CDATA[lebaran]]></category>
		<category><![CDATA[puasa syawal]]></category>
		<category><![CDATA[shalat id]]></category>
		<category><![CDATA[syawal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7108</guid>
		<description><![CDATA[Tidak Puasa Syawal karena ada uzur Bagaimana kalau seseorang tidak bisa melakukan puasa Syawal karena ada udzur seperti sakit, nifas atau melunasi hutang puasanya sebanyak sebulan, sehingga keluar bulan Syawal. Apakah dia boleh menggantinya pada bulan-bulan lainnya dan meraih keutamaannya, ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Tidak Puasa Syawal karena ada uzur</h2>
<p>Bagaimana kalau seseorang tidak bisa melakukan <strong>puasa Syawal</strong> karena ada udzur seperti sakit, nifas atau melunasi hutang puasanya sebanyak sebulan, sehingga keluar bulan Syawal. Apakah dia boleh menggantinya pada bulan-bulan lainnya dan meraih keutamaannya, ataukah tidak perlu karena waktunya telah keluar? Masalah ini diperselisihkan oleh ulama:<br />
<span id="more-7108"></span><br />
Boleh men-qadha-nya karena ada udzur. Pendapat ini dipilih oleh Syaikh Abdurrahman as-Sa&#8217;di (Al-Fatawa Sa&#8217;diyyah, hal. 230) dan Syaikh Ibnul Utsaimin (Syarhul Mumti&#8217;, 7/467). Alasannya adalah men-qiyas-kan dengan ibadah-ibadah lain yang bisa di-qadha apabila ada udzur seperti shalat.</p>
<p>Tidak disyariatkan untuk men-qadha <span style="text-decoration: underline;">puasa syawal</span> apabila telah keluar bulan Syawal, baik karena ada udzur atau tidak, karena waktunya telah lewat. Pandapat ini dipilih oleh Syaikh &#8216;Abdul &#8216;Aziz bin Baz (Majmu&#8217; Fatawa Ibnu Baz, 3/270, Al-Fatawa Ibnu Baz -Kitab Da&#8217;wah- 2/172, Fatawa Shiyam, 2/695-695, kumpulan Asyraf &#8216;Abdul Maqshud).</p>
<h3>Kesimpulan qadha puasa syawal karena uzur</h3>
<p>Pendapat kedua inilah yang tentram dalam hati penulis, karena qadha <a title="Qadha Puasa Ramadan atau Puasa Syawal" href="http://konsultasisyariah.com/qadha-puasa-ramadan-atau-puasa-syawal" target="_blank" rel="nofollow"><span style="color: #ff0000;"><em>puasa syawal</em></span></a> membutuhkan dalil khusus dan tidak ada dalil dalam masalah ini. Wallahu A&#8217;lam (Simak kaset Fatawa Jeddah, oleh Syaikh al-Albani, no. 7 dan Ahkamul Adzkar, Zakariya al-Bakistani, hal. 51).</p>
<p>Alhamdulillah, kalau memang dia benar-benar jujur dalam niatnya yang seandainya bukan karena udzur tersebut dia akan melakukan puasa Syawal, maka Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> akan memberikan pahala baginya, sebagaimana dalam hadits:</p>
<p class="arab">إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيْمًا صَحِيْحًا</p>
<p><em>“Apabila seorang hamba sakit atau bepergian, maka dia ditulis seperti apa yang dia lakukan dalam muqim sehat.”</em> (HR. al-Bukhari, 2996)</p>
<p><strong>Sumber: </strong><em>Ensiklopedi Amalan Sunnah di Bulan Hijriyah, Abu Ubaidah Yusuf as-Sidawi, Abu Abdillah Syahrul Fatwa,</em> Pustaka Darul Ilmi</p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsyltasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsyltasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/puasa-syawal-karena-uzur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Puasa Syawal Bagi yang Punya Tanggungan Qadha&#8217; Ramadhan</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/puasa-syawal-bagi-orang-yang-punya-tanggungan-qadha-ramadhan/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/puasa-syawal-bagi-orang-yang-punya-tanggungan-qadha-ramadhan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Aug 2011 00:33:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator 2</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[RAMADHAN]]></category>
		<category><![CDATA[idul fitri]]></category>
		<category><![CDATA[lebaran]]></category>
		<category><![CDATA[puasa syawal]]></category>
		<category><![CDATA[shalat id]]></category>
		<category><![CDATA[syawal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7094</guid>
		<description><![CDATA[Puasa Syawal Bagi Orang yang Punya Tanggungan Qadha&#8217; Ramadhan Pertanyaan: Bagaimana hukumnya orang yang berpuasa enam hari pada bulan Syawal (puasa syawal) bagi orang yang punya tanggungan meng-qadha&#8217;? Jawaban Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin perihal puasa syawal: Jawabannya adalah sabda ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Puasa Syawal Bagi Orang yang Punya Tanggungan Qadha&#8217; Ramadhan</h2>
<p><strong>Pertanyaan: </strong></p>
<p>Bagaimana hukumnya orang yang berpuasa enam hari pada bulan Syawal (<strong>puasa syawal</strong>) bagi orang yang punya tanggungan meng-qadha&#8217;?</p>
<h3>Jawaban Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin perihal puasa syawal:</h3>
<p>Jawabannya adalah sabda Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>,</p>
<p class="arab">مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ بِسِتٍّ مِنْ شَوَّالَ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ. (رواه مسلم<strong> </strong></p>
<p><em>“Barangsiapa berpuasa Ramadhan dan dilanjutkan dengan enam hari di bulan Syawal, maka pahalanya seperti puasa setahun penuh.”</em> (HR. Muslim).</p>
<p>Jika seseorang mempunyai tanggungan meng-qadha&#8217; lalu ingin mengerjakan puasa Syawwal enam hari, apakah dia berpuasa sebelum ataukah sesudah meng-qadha&#8217; puasa Ramadhan?</p>
<p>Misalnya, ada seseorang yang berpuasa di bulan Ramadhan dua puluh empat hari dan dia masih punya tanggungan meng-qadha&#8217; enam hari, jika dia berpuasa Syawal enam hari sebelum meng-qadha&#8217; enam hari yang ditinggalkannya, maka tidak bisa dikatakan bahwa dia berpuasa Ramadhan dan dilanjutkan dengan <u>puasa Syawal</u>, karena seseorang tidak bisa dikatakan telah berpuasa Ramadhan kecuali jika menyempurnakannya. Dengan demikian, tidak mendapatkan pahala puasa Syawal enam hari itu, kecuali bagi orang yang telah meng-qadha&#8217; puasa Ramadhan yang ditinggalkannya.</p>
<p>Masalah ini tidak termasuk masalah yang diperselisihkan oleh para ulama tentang bolehnya seseorang mengerjakan puasa sunnah bagi orang yang punya tanggungan meng-qadha puasa Ramadhan, karena perselisihan itu di selain enam hari bulan Syawal. Sedangkan tentang puasa enam hari di bulan Syawal, tidak mungkin mendapatkan pahalanya kecuali bagi orang yang menyempurnakan puasa Ramadhan.</p>
<p><strong>Sumber:</strong> <em>Tuntunan Tanya Jawab Akidah, Shalat, Zakat, Puasa dan Haji (Fatawa Arkanul Islam), Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin,</em> Darul Falah, 2007</p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Tanya jawab seputar <a title="Anjuran Menikah di Bulan Syawal" href="http://konsultasisyariah.com/anjuran-menikah-di-bulan-syawal" target="_blank" rel="nofollow"><em>puasa syawal</em></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/puasa-syawal-bagi-orang-yang-punya-tanggungan-qadha-ramadhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Waktu Paling Baik Melaksanakan Puasa Syawal</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/puasa-syawal/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/puasa-syawal/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Aug 2011 07:08:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator 2</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[RAMADHAN]]></category>
		<category><![CDATA[ebaran]]></category>
		<category><![CDATA[idul fitri]]></category>
		<category><![CDATA[keutamaan mudik]]></category>
		<category><![CDATA[mudik]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah idul fitri]]></category>
		<category><![CDATA[syawalan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=6978</guid>
		<description><![CDATA[Waktu Paling Baik Melaksanakan Puasa Syawal Pertanyaan: Kapan puasa enam hari bulan Syawwal (puasa syawal)yang paling baik? Jawaban: Puasa enam hari pada bulan Syawal yang paling baik adalah setelah Idul Fithri langsung dan harus berkesinambungan, seperti yang di-nash-kan oleh para ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Waktu Paling Baik Melaksanakan Puasa Syawal</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Kapan puasa enam hari bulan Syawwal (<strong>puasa syawal</strong>)yang paling baik?<br />
<span id="more-6978"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Puasa enam hari pada bulan Syawal yang paling baik adalah setelah <a title="Mari Berpuasa dan Berhari Raya bersama Pemerintah" href="http://konsultasisyariah.com/mari-berpuasa-dan-berhari-raya-bersama-pemerintah" target="_blank" rel="nofollow"><strong>Idul Fithri</strong></a> langsung dan harus berkesinambungan, seperti yang di-nash-kan oleh para ulama, karena hal itu lebih sempurna dalam merealisasikan kelanjutan seperti yang dinyatakan dalam hadits, “kemudian dilanjutkan”. Karena, hal itu termasuk berlomba-lomba kepada kebaikan yang disenangi pelakunya oleh Allah seperti yang dicatat dalam nash. Juga karena hal itu termasuk bukti semangat yang merupakan kesempurnaan seorang hamba. Kesempatan itu tidak boleh lewat, karena seseorang tidak mengetahui apa yang akan terjadi esok, maka dari itu kita harus segera melakukan kebaikan dan harus menggunakan kesempatan sebaik-baiknya dalam segala hal yang di dalamnya telah tampak kebaikannya.</p>
<p>Semoga Allah memudahkan kita untuk menunaikan sunnah puasa syawal.</p>
<p><strong>Sumber: </strong><em>Tuntunan Tanya Jawab Akidah, Shalat, Zakat, Puasa dan Haji (Fatawa Arkanul Islam), Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin,</em> Darul Falah, 2007</p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Pembahasan: Anjuran puasa syawal, faidah puasa syawal, menyegerakan puasa syawal</h3>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/puasa-syawal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Zakat Fitrah untuk Pembantu</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/zakat-fitrah-untuk-pembantu/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/zakat-fitrah-untuk-pembantu/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Aug 2011 07:42:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[RAMADHAN]]></category>
		<category><![CDATA[Zakat]]></category>
		<category><![CDATA["zakat fitrah"]]></category>
		<category><![CDATA[kadar zakat]]></category>
		<category><![CDATA[pembatu]]></category>
		<category><![CDATA[sedekah]]></category>
		<category><![CDATA[uang zakat]]></category>
		<category><![CDATA[yang berhak menerima zakat]]></category>
		<category><![CDATA[zakat fitri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7197</guid>
		<description><![CDATA[Zakat fitrah untuk pembantu Assalamu &#8216;alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ustadz, saya punya seorang pembantu (PRT). Pertanyaannya: apakah zakat fitrinya menjadi (wajib) tanggungan keluarga kami atau tidak? Demikian, Ustadz. Terima kasih sebelumya. Semoga Allah memudahkan Ustadz dalam segala urusan. Wassalamu &#8216;alaikum warahmatullahi ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Zakat fitrah untuk pembantu</h2>
<p><em>Assalamu &#8216;alaikum warahmatullahi wabarakatuh.</em></p>
<p>Ustadz, saya punya seorang pembantu (PRT). Pertanyaannya: apakah zakat fitrinya menjadi (wajib) tanggungan keluarga kami atau tidak? Demikian, Ustadz. Terima kasih sebelumya. Semoga Allah memudahkan Ustadz dalam segala urusan.</p>
<p><em>Wassalamu &#8216;alaikum warahmatullahi wabarakatuh.</em></p>
<h3><em>Ade Tatang (ade**@***.com)</em><br />
<span id="more-7197"></span><br />
Jawaban bolehkah tuannya  membayarkan zakat fitrah untuk pembantunya:</h3>
<p><em>Wa&#8217;alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.</em></p>
<p>Jika nafkah pembantu tersebut ditanggung oleh tuannya, misalnya: pembantu rumah tangga, maka wajib bagi tuannya membayarkan <a title="Yang Berhak Menerima Zakat Fitrah" href="http://konsultasisyariah.com/yang-berhak-menerima-zakat-fitrah" target="_blank" rel="nofollow"><strong>zakat fitrah</strong></a> untuk pembantunya.</p>
<p>Jika nafkah pembantu tidak ditanggung tuannya maka tidak ada kewajiban bagi tuannya untuk menunaikan <em>zakat fitrah</em> pembantunya.</p>
<p>Imam Malik mengatakan, “Tidak ada kewajiban bagi seseorang untuk membayarkan zakat fitri bagi budak milik budaknya, pembantunya, dan budak istrinya, kecuali orang yang membantu dirinya dan harus dia nafkahi maka status zakatnya wajib. (<em>Al-Muwaththa’</em>, 2:334)</p>
<p><strong>Dijawab oleh<a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com"> Ustadz Ammi Nur Baits</a> (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">Konsultasi Syariah</a>).</strong><br />
<strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/zakat-fitrah-untuk-pembantu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bayar Zakat Fitrah Antar-Negara</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/bayar-zakat-fitrah-antar-negara/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/bayar-zakat-fitrah-antar-negara/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Aug 2011 01:05:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[RAMADHAN]]></category>
		<category><![CDATA[Zakat]]></category>
		<category><![CDATA["zakat fitrah"]]></category>
		<category><![CDATA[kadar zakat]]></category>
		<category><![CDATA[sedekah]]></category>
		<category><![CDATA[uang zakat]]></category>
		<category><![CDATA[yang berhak menerima zakat]]></category>
		<category><![CDATA[zakat fitri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7200</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan bayar zakat fitrah antar-negara: Assalamu &#8216;alaykum. Saya tinggal di Jepang, dan bingung mau bayar zakat fitrah. Apakah boleh orang tua kita yang di Indonesia yang membayarkan zakat fitrah kita? Padahal harga beras di Jepang &#8216;kan jauh berbeda dengan di ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Pertanyaan bayar zakat fitrah antar-negara:</h2>
<p><em>Assalamu &#8216;alaykum</em>. Saya tinggal di Jepang, dan bingung mau <strong>bayar zakat</strong> fitrah. Apakah boleh orang tua kita yang di Indonesia yang membayarkan zakat fitrah kita? Padahal harga beras di Jepang &#8216;kan jauh berbeda dengan di Indonesia. Apakah kita harus bayar <em>zakat fitrah</em> berupa beras di Indonesia seharga 2,5 kg beras di Jepang?</p>
<p><em>Abu Abdillah (abuabdillah**@i.***.jp)</em><br />
<span id="more-7200"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa&#8217;alaikumussalam.</em></p>
<p>Berikut ini keterangan dalam <em>Fatwa Syabakah Islamiyah</em>, di bawah bimbingan Dr. Abdullah Al-Faqih.</p>
<p>&#8220;<em>Alhamdulillah wash-shalatu wassalamu &#8216;ala Rasulillah.</em></p>
<p>Tiga imam mazhab, yaitu Imam Malik, Imam Syafi&#8217;i, dan Imam Ahmad <em>rahimahumullah</em> berpendapat bahwa zakat fitrah hanya boleh diberikan dalam bentuk bahan makanan yang umumnya berlaku di suatu negeri. Sementara, Imam Abu Hanifah <em>rahimahullah</em> memperbolehkan membayar zakat fitrah dengan uang, sebagai ganti dari bahan makanan. Karena itu, jika Anda ingin memberikan zakat itu kepada orang miskin (muslim) di negeri tersebut &#8211;dan merekalah yang lebih berhak&#8211; maka <strong>jangan <a title="Zakat Fitri Diberikan Kemana?" href="http://konsultasisyariah.com/zakat-fitri-diberikan-kemana" target="_blank" rel="nofollow">bayar zakat</a> kecuali dengan bahan makanan</strong>.</p>
<p>Akan tetapi, jika Anda ingin mengirim zakat fitrah Anda ke negeri lain, karena tidak ada orang yang berhak menerimanya di negeri tempat tinggal Anda maka yang lebih baik adalah Anda mengirim uang kepada seseorang di negeri tujuan, dan Anda amanahkan untuk membelikan beras dan menyerahkannya ke orang miskin. <em>Allahu a&#8217;lam</em>.&#8221;</p>
<p><strong>Sumber</strong>:<em> http://www.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&amp;lang=a&amp;Id=929&amp;Option=FatwaId</em></p>
<p>**</p>
<h3>Catatan dari redaksi Konsultasi Syariah perihal membayar zakat<strong><br />
</strong></h3>
<p>Berdasarkan keterangan di atas, bisa disimpulkan:</p>
<ul>
<li>Anda bisa mengirimkan uang atau mewakilkan ke orang tua di indonesia untuk membayarkan zakat Anda.</li>
<li>Standard harga beras adalah harga beras di indonesia karena <strong>yang menjadi acuan adalah bahan makanan di tempat penyerahan zakat</strong>, bukan nilai uangnya.</li>
</ul>
<p><em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>).</strong></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/bayar-zakat-fitrah-antar-negara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

