<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Konsultasi Kesehatan dan Tanya Jawab Pendidikan Islam &#187; Ramadhan</title>
	<atom:link href="http://www.konsultasisyariah.com/category/ramadhan-fikih/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.konsultasisyariah.com</link>
	<description>KonsultasiSyariah.com</description>
	<lastBuildDate>Sat, 18 May 2013 05:46:17 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Pulang Tarawih Sebelum Witir</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/rakaat-shalat-tarawih-berbeda/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/rakaat-shalat-tarawih-berbeda/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Aug 2012 23:30:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[RAMADHAN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=12874</guid>
		<description><![CDATA[Beda Shalat Tarawih, Ketika Witir Langsung Pulang Pertanyaan: Assalamu’alaikum Di bulan Ramadhan ini kita melaksanakan shalat tarawih berjamaah di masjid, setiap mulai shalat witir teman saya langsung keluar dari masjid dan tidak pernah mengikutinya. Saya mau nanya, apakah keutamaannya dan ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2>Beda Shalat Tarawih, Ketika Witir Langsung Pulang</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Assalamu’alaikum</p>
<p>Di <strong>bulan Ramadhan</strong> ini kita melaksanakan <strong>shalat tarawih</strong> berjamaah di masjid, setiap mulai <strong>shalat witir</strong> teman saya langsung keluar dari masjid dan tidak pernah mengikutinya.<br />
<span id="more-12874"></span><br />
Saya mau nanya, apakah keutamaannya dan adakah dalilnya?</p>
<p>Demikian, terima kasih.</p>
<p>Wassalamu’alaikum.</p>
<p>Dari: Dedi</p>
<p><strong>Jawaban:</strong><br />
Wa’alaikumussalam</p>
<p>Kita dianjurkan untuk mengikuti <strong>shalat tarawih secara berjamaah bersama imam</strong> sampai selesai, dan tidak putus sebelum witir. Karena Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menjanjikan satu keutamaan khusus bagi orang yang megikuti tarawih sampai selesai.</p>
<p>Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p class="arab">من قام مع الإمام حتى ينصرف كتب الله له قيام ليلة</p>
<p>“<em>Orang yang shalat tarawih mengikuti imam sampai selesai, ditulis baginya pahala shalat semalam suntuk</em>.” (HR. At Tirmidzi, no. 734, Ibnu Majah, no. 1317, Ahmad, no. 20450)</p>
<p>Dalam lafazh yang lain:</p>
<p class="arab">بقية ليلته</p>
<p>“<em>Ditulis baginya pahala shalat di sisa malamnya</em>.” (HR. Ahmad, no. 20474)</p>
<p>Maka yang paling afdhal bagi seorang makmum adalah mengikuti imam sampai imam selesai. Baik ia shalat 11 rakaat maupun 23 rakaat, atau jumlah rakaat yang lain. Inilah yang paling baik.</p>
<p>Tentu <strong>pahala shalat tahajud</strong> semalam suntuk akan sangat disayangkan jika kita tinggalkan. Bersabar, ikuti jamaah tarawih sampai selesai, meskipun itu panjang.</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a href="http://konsultasisyariah.com/rakaat-shalat-tarawih-berbeda" target="_blank" rel="nofollow">KonsultasiSyariah.com</a>)</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/rakaat-shalat-tarawih-berbeda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aturan Shalat dan Puasa Untuk Musafir</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/shalat-dan-puasanya-seorang-musafir/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/shalat-dan-puasanya-seorang-musafir/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Jul 2012 07:43:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator 2</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[RAMADHAN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=12595</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Kapan dan bagaimana shalat dan puasanya seorang musafir? Jawaban: Shalat seorang musafir adalah dua rakaat sejak dia keluar dari negerinya sampai dia kembali, karena Aisyah radhiallahu ‘anha berkata, فُرِضَتِ الصَّلاَةُ رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ فِي الْحَضَرِ وَالسَّفَرِ فَأُقِرَّتْ صَلاَةُ السَّفَرِ وَزِيْدَ ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Pertanyaan:</p>
<h2>Kapan dan bagaimana shalat dan puasanya seorang <em>musafir</em>?</h2>
<p><span id="more-12595"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Shalat <strong>seorang <em>musafir</em></strong> adalah dua rakaat sejak dia keluar dari negerinya sampai dia kembali, karena Aisyah <em>r</em><em>adhiallahu </em><em>‘a</em><em>nha</em> berkata,</p>
<p class="arab">فُرِضَتِ الصَّلاَةُ رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ فِي الْحَضَرِ وَالسَّفَرِ فَأُقِرَّتْ صَلاَةُ السَّفَرِ وَزِيْدَ فِي صَلاَةِ الْحَضَرِ. (متفق عليه)</p>
<p>“Pada awalnya, shalat diwajibkan secara dua rakaat-dua rakaat, baik pada waktu tidak bersafar, ataupun pada waktu bersafar. Kemudian dikekalkan (dua rakaat) pada shalat saat bersafar dan ditambah rakaat bagi shalat yang bukan dalam keadaan bersafar” (HR. <em>Muttafaq ‘alaih</em>).</p>
<p>Anas bin Malik <em>r</em><em>adhiallahu </em><em>‘a</em><em>nhu</em> berkata,</p>
<p class="arab">خَرَجْنَا مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ الْمَدِيْنَةِ إِلَى مَكَّةَ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ حَتَّ رَجَعَ قُلْتُ كَمْ أَقَامَ بِمَكَّةَ قَالَ عَشْرًا. (متفق عليه)</p>
<p><em>“Aku keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Madinah ke Makkah. Beliau menunaikan shalat dua rakaat-dua rakaat, hingga kami kembali. Aku bertanya, ‘Berapa lama kamu akan tinggal di Makkah?’ Beliau menjawab, ‘Sepuluh hari’.”</em> (HR. <em>Muttafaq </em><em>‘a</em><em>laih</em>).</p>
<p>Tetapi jika orang yang bersafar itu shalat bersama imam, maka dia harus menyempurnakan shalat empat rakaat, baik dia menemui shalat dari awal atau ketinggalan salah satu rakaatnya, karena keumuman sabda Nabi <em>s</em><em>ha</em><em>ll</em><em>allahu </em><em>‘a</em><em>laihi wa </em><em>s</em><em>allam</em><em></em></p>
<p class="arab">إِذَا أُقِمَتِ الصَّلاَةُ فَلاَ تَأْتُوهَا تَسْعَوْنَ وَأْتُوهَا تَمْشُونَ وَعَلَيْكُمْ السَّكِيْنَةُ فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا. (متفق عليه)</p>
<p><em>“Apabila shalat telah dimulai, maka janganlah kamu mendatanginya dengan tergesa-gesa, tetapi hendaklah kamu mendatanginya dalam keadaan tenang. Shalatlah sekadar yang kamu sempat dan sempurnakanlah rakaat shalat yang belum ditunaikan.”</em> (HR. <em>Muttafaq ‘</em><em>a</em><em>laih</em>).</p>
<p>Keumuman sabda Rasulullah, <em>“Shalatlah sekadar yang kamu sempat dan sempurnakanlah rakaat shalat yang belum ditunaikan”, </em>mencakup para<em> musafir</em> yang shalat di belakang imam yang shalat empat rakaat dan lain-lain. Ibnu Abbas <em>r</em><em>adhiallahu </em><em>‘a</em><em>nhuma </em>ditanya, “Mengapa seorang <em>musafir </em>shalat dua rakaat jika dia shalat sendirian dan empat rakaat jika dia bermakmum kepada imam yang mukim?” Beliau menjawab, “Itu adalah sunnah.”</p>
<p><strong>Shalat jamaah</strong> tidak gugur bagi <em>musafir</em>, karena Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> memerintahkan shalat berjamaah ketika dalam peperangan, seperti yang difirmankan-Nya,</p>
<p><em>“Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan serakaat), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum shalat, lalu bersembahyanglah mereka denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata.”</em> (Qs. an-Nisa: 102).</p>
<p>Dengan demikian, seorang <em>musafir </em>yang pergi ke luar daerahnya dia harus menghadiri shalat jamaah di masjid jika dia mendengar adzan, kecuali jika tempatnya jauh dari suara adzan itu atau takut ditinggal teman-temannya, karena keumuman dalil yang menunjukkan kewajiban shalat jamaah atas orang yang mendengarkan adzan atau <em>iqamat</em>.</p>
<p>Sedangkan tentang shalat sunnah <em>rawatib</em>, seorang <em>musafir </em>disunnahkan untuk mengerjakan seluruh shalat sunnah selain shalat sunnah <em>rawatib </em>Dzuhur, Maghrib dan Isya’. Dia boleh mengerjakan shalat Witir, shalat malam, shalat Dhuha, shalat <em>r</em><em>awatib</em> Subuh dan sebagainya.</p>
<p>Sedangkan mengenai jamak, jika dia sedang dalam perjalanan, maka sebaiknya dia menjamak antara Dzuhur dengan Ashar dan Maghrib dengan Isya’, baik jamak <em>taqdim</em> amupun jamak <em>ta’khir</em>, terserah mana yang mudah baginya, mana yang lebih mudah itu yang lebih baik.</p>
<p>Jika dia sudah singga di suatu tempat sebaiknya tidak menjamak, tetapi jika dia ingin menjamak, tidak apa-apa karena kedua hal itu sama-sama diriwayatkan dalam hadits shahih dari Rasulullah <em>s</em><em>halallahu </em><em>‘a</em><em>laihi wa </em><em>s</em><em>allam</em>.</p>
<p>Sedangkan tentang puasa <em>musafir </em>di bulan Ramadhan; sebaiknya seorang <em>musafir </em>tetap berpuasa, tetapi jika dia berbuka maka tidak apa-apa dan dia harus meng-<em>qadha</em><em>’-</em>nya di lain hari sesuai dengan jumlah hari yang dia tidak berpuasa. Hanya saja jika berbuka lebih mudah baginya maka sebaiknya dia berbuka, karena Allah senang memberikan r<em>ukhshah</em> (keringanan) dan <em>alhamdulillah</em>.</p>
<p>Sumber: <em>Tuntunan Tanya Jawab Akidah, Shalat, Zakat, Puasa dan Haji (Fatawa Arkanul Islam)</em>, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Darul Falah, 2007</p>
<p><strong>Artikel <a title="puasa ramadhan" href="http://konsultasisyariah.com/shalat-dan-puasanya-seorang-musafir" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/shalat-dan-puasanya-seorang-musafir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Meninggal Masih Punya Hutang Puasa</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/meninggal-masih-punya-hutang-puasa-ramadhan/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/meninggal-masih-punya-hutang-puasa-ramadhan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Jul 2012 23:15:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=12208</guid>
		<description><![CDATA[Meninggal Dunia Masih Memiliki Hutang Puasa Ramadhan Pertanyaan: Assalamu’alaikum Saya ingin menanyakan: 1. Apa benar seseorang yang telah meninggal dunia dan masih memiliki utang puasa maka hutang puasanya harus dipuasakan oleh ahli warisnya? 2. Bagaimana ahli warisnya tahu berapa banyak ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2>Meninggal Dunia Masih Memiliki Hutang Puasa Ramadhan</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Assalamu’alaikum</p>
<p>Saya ingin menanyakan:</p>
<p>1. Apa benar seseorang yang telah <strong>meninggal dunia</strong> dan masih <strong>memiliki utang puasa</strong> maka hutang puasanya harus dipuasakan oleh ahli warisnya?</p>
<p>2. Bagaimana ahli warisnya tahu berapa banyak utang puasa tersebut?</p>
<p>Terima kasih.</p>
<p>Dari: Erlina<br />
<span id="more-12208"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
Wa’alaikumussalam</p>
<p><em>Bismillah was shalatu was salamu &#8216;alaa rasulillah</em></p>
<p>Ulama berbeda pendapat, ketika ada orang yang meninggal namun belum melunasi utang puasa Ramadhan. Apakah dipuasakan ataukah diganti dengan sedekah?</p>
<p><strong>Pendapat pertama:</strong><br />
Keluarganya, baik anak maupun saudaranya wajib membayar puasa qadha atas nama orang yang meninggal. Baik itu puasa Ramadhan mapun puasa nadzar. Ini merupakan pendapat Madzhab Syafi’iyah dan pendapat Ibnu Hazm.</p>
<p>Mereka berdalil dengan hadis dari Aisyah <em>radhiallahu ‘anha</em>, bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p class="arab">من مات وعليه صيام  صام عنه وليُّه</p>
<p>“<em>Siapa yang mati dan masih punya utang puasa maka dipuasakan oleh walinya (kerabatnya)</em>.” (HR. Bukhari 1952 dan Muslim 1147)</p>
<p>Mengingat lafadz hadis ini umum maka <strong>kewajiban qadha</strong> tersebut berlaku umum.</p>
<p><strong>Pendapat kedua:</strong><br />
Jika utangnya adalah puasa Ramadhan, maka tidak perlu dipuasakan atas nama orang yang meninggal, tapi cukup diganti dengan fidyah. Karena kewajiban mempuasakan atas nama orang yang meninggal hanya untuk utang puasa karena nadzar dan bukan utang puasa Ramadhan. Ini merupakan pendapat para ulama Madzhab Hambali sebagaimana keterangan dari Imam Ahmad bin Hambal.</p>
<p>Dalam Masail Imam Ahmad, riwayat Abu Daud, beliau mengatakan:</p>
<p class="arab">سمعت أحمد بن حنبل قال: لا يُصامُ عن الميِّت إلاَّ في النَّذر، قُلْتُ لِأَحْمَدَ: فَشَهْرُ رَمَضَانَ؟ قَالَ: يُطْعَمُ عَنْهُ</p>
<p>“Saya mendengar Ahmad bin Hambal berkata, ‘Tidak boleh dipuasakan atas nama mayit kecuali puasa nadzar.’ Aku (Abu Daud) tanyakan kepada Ahmad, ‘Bagaimana dengan utang puasa Ramadhan?’ beliau menjawab, ‘diganti fidyah’.” (<em>Al-Masail Imam Ahmad</em>, riwayat Abu Daud, Hal. 96).</p>
<p>Mereka berdalil dengan banyak riwayat tentang qadha puasa untuk orang yang meninggal, dan menegaskan bahwa yang wajib diqadhakan atas nama mayit adalah puasa nadzar dan bukan puasa Ramadhan.</p>
<p>Di antara hadis tersebut adalah:</p>
<p><strong>Pertama</strong>, dari Ibnu Abbas <em>radhiallahu ‘anhuma</em>, beliau menceritakan;</p>
<p>Ada seorang wanita yang naik perahu di tengah lautan, kemudian dia bernadzar, jika Allah menyelamatkannya maka dia akan berpuasa sebulan. Ternyata Allah menyelamatkannya, namun dia belum melaksanakan puasa nadzarnya sampai mati. Maka datanglah putrinya kepada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, dan dia ceritakan perihal ibunya. Kemudian Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">أرأيتك لو كان عليها دَيْن كُنتِ تقضينه؟</p>
<p>“<em>Apa menurutmu, jika ibumu memiliki utang, apakah engkau harus melunasinya?</em>”</p>
<p>Wanita itu menjawab, “Ya”</p>
<p>Nabi pun melanjutkan,</p>
<p class="arab">فَدَيْن الله أحق أن يُقضى، فـاقضِ عن أمّك</p>
<p>“<em>Utang kepada Allah lebih layak untuk ditunaikan. Karena itu, bayarlah puasa untuk ibumu.</em>” (HR. Abu Daud, Nasai, At Thahawi, Baihaqi, dan yang lainnya).</p>
<p><strong>Kedua</strong>, dari Sa’d bin Ubadah <em>radhiallahu ‘anhu</em>, bahwa beliau bertanya kepada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> “Ibuku meninggal, sementara beliau punya kewajiban nadzar.” Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menjawab, “Tunaikan nadzarnya.” (HR. Bukhari 2761 dan Muslim 1638)</p>
<p>Bagaimana dengan hadis Aisyah yang pertama, yang menyebutkan secara mutlak?</p>
<p>Ulama Madzhab Hambali memahami hadis ini untuk puasa nadzar. Karena Aisyah yang meriwayatkan hadis tersebut juga memahami sebagai puasa nadzar dan bukan utang puasa Ramadhan. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah riwayat dari Amrah (salah satu murid dekat Aisyah), bahwa ibunya meninggal, sementara beliau masih memiliki utang puasa. Beliau bertanya kepada gurunya (Aisyah): “Apakah boleh aku mengqadha puasa untuk ibuku?” Aisyah menjawab,</p>
<p class="arab">لا بل تصدَّقي عنها مكان كل يوم نصف صاعٍ على كل مسكين</p>
<p>“Tidak perlu, namun bersedekahlah (baca: bayar fidyah) atas nama ibumu, untuk satu hari puasa dibayar dengan setengah <em>sha’</em> (sekitar 1,5 kg) bahan makanan, diberikan untuk orang miskin.” (HR. Thahawi 3:142, Ibnu At-Turkumani mengatakan: Shahih).</p>
<p>Demikian pula diriwayatkan Said bin Jubair, dari Ibnu Abbas <em>radhiallahu ‘anhuma</em>, beliau mengatakan,</p>
<p class="arab">إِذا مرض الرجل في رمضان، ثمّ مات ولم يصم؛ أطعم عنه ولم يكن عليه قضاء، وإن كان عليه نَذْر قضى عنه وليُّه</p>
<p>“Apabila seseorang sakit di bulan Ramadhan, kemudian mati dan belum membayar utang puasa, maka dia ganti dengan memberi makan (fidyah), dan tidak ada qadha. Namun jika dia memiliki utang puasa nadzar maka diqadha oleh walinya atas nama mayit.” (HR. Abu Daud 2401 dan dishahihkan Al-Albani)</p>
<p>Demikian keterangan yang diturunkan dari <em>Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Muyassarah</em>, Husain Al-Awayisyah.</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a title="hutang puasa ramdhan" href="http://konsultasisyariah.com/meninggal-masih-punya-hutang-puasa-ramadhan" target="_blank" rel="nofollow">Konsultasi Syariah</a>)</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/meninggal-masih-punya-hutang-puasa-ramadhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Qadha Puasa pada Hari Jumat</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/hukum-qadha-puasa-pada-hari-jumat/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/hukum-qadha-puasa-pada-hari-jumat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Jul 2012 06:36:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator 2</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=12550</guid>
		<description><![CDATA[Qadha Puasa pada Hari Jumat Pertanyaan: Apa alasannya mengkhususkan puasa di hari Jumat itu dilarang? Bukankah puasa qadha bisa dilakukan kapan saja? Jawaban: Dijelaskan dalam sebuah hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda, لاَ تَخْتَصُّ يَوْمَ الْجُمْعَةِ ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2>Qadha Puasa pada Hari Jumat</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Apa alasannya mengkhususkan <a title="puasa ramadhan" href="hukum-qadha-puasa-pada-hari-jumat" target="_blank" rel="nofollow"><strong>puasa</strong></a> di hari Jumat itu dilarang? Bukankah puasa <em>qadha</em> bisa dilakukan kapan saja?<br />
<span id="more-12550"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Dijelaskan dalam sebuah hadits dari Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bahwasanya beliau bersabda,</p>
<p class="arab">لاَ تَخْتَصُّ يَوْمَ الْجُمْعَةِ بِصِيَامٍ وَلاَ لَيْلَبُهَا بِقِيَامِ. (متفق عليه)</p>
<p><em> “Janganlah kalian mengkhususkan hari Jumat untuk berpuasa dan malam harinya untuk bangun.”</em> (HR. Muslim).</p>
<p>Hikmah larangan mengkhususkan hari Jumat dengan puasa adalah, bahwa hari Jumat merupakan hari raya mingguan, dan merupakan salah satu dari tiga hari raya yang disyariatkan; karena Islam mempunyai tiga hari raya, yaitu hari raya Idul Fithri, Idul Adha dan hari Jumat, maka dari itu, Allah melarang untuk mengkhususkan puasa di dalamnya karena hari jumat adalah hari yang di dalamnya laki-laki diwajibkan untuk mengerjakan shalat Jumat, menyibukkan diri dalam doa dan dzikir. Hal itu sama dengan hari Arafah yang yang tidak disyariatkan bagi orang yang sedang melaksanakan haji untuk berpuasa; karena dia sibuk dengan doa dan dzikir. Diketahui bersama bahwa ibadah yang tidak mungkin diakhirkan pelaksanaannya, harus didahulukan daripada sesuatu yang mungkin diakhirkan pelaksanaannya.</p>
<p>Jika ada yang berkata, “Jika alasannya seperti itu, bahwa hari Jumat adalah hari raya mingguan, berarti puasa di dalamnya diharamkan secara mutlak seperti pengharaman pada dua hari raya lainnya, bukan hanya sekadar mengkhususkannya saja yang diharamkan?”</p>
<p>Kami jawab, hari Jumat berbeda dengan dua hari raya lainnya; karena hari Jumat terjadi secara berulang-ulang setiap bulan empat kali. Maka dari itu, pelarangan di dalamnya tidak sampai pada derajat haram. Kemudian, ada makna lain dalam dua hari raya itu yang tidak ada di hari Jumat.</p>
<p>Adapun jika seseorang berpuasa sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya, berarti tujuan puasa itu bukan mengkhususkan hari jumat untuk berpausa, karena dia telah berpuasa sehari sebelumnya yaitu hari kamis, atau akan berpuasa sehari sesudahnya, yaitu hari sabtu.</p>
<p>Sedangkan pertanyaan penanya, “Apakah itu khusus untuk puasa sunnah saja atau mencakup puasa <em>qadha</em>?”</p>
<p>Bila dilihat dari <em>zhahir</em> ayat secara umum, dimakruhkan bagi kita mengkhususkannya berpuasa baik puasa sunnah maupun <em>fardhu</em>, kecuali bagi orang yang sibuk dan tidak punya hari libur kecuali hari Jumat dan tidak ada kesempatan baginya untuk meng-<em>qadha’ </em>puasanya kecuali pada hari Jumat itu, maka dalam kondisi semacam ini, tidak dimakruhkan baginya mengkhususkan hari Jumat untuk berpuasa, karena dia perlu melakukannya.</p>
<p>Sumber: <em>Tuntunan Tanya Jawab Akidah, Shalat, Zakat, Puasa dan Haji (Fatawa Arkanul Islam)</em>, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Darul Falah, 2007</p>
<p><strong>Artikel <a title="persiapan puasa ramadhan" href="http://konsultasisyariah.com/hukum-qadha-puasa-pada-hari-jumat" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/hukum-qadha-puasa-pada-hari-jumat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Fatwa Ulama: Hukum Menggunakan Krim Kulit Saat Puasa Ramadhan</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/fatwa-ulama-hukum-menggunakan-krim-kulit-saat-puasa-ramadhan/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/fatwa-ulama-hukum-menggunakan-krim-kulit-saat-puasa-ramadhan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Jul 2012 06:44:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator 2</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=12502</guid>
		<description><![CDATA[Menggunakan Krim Kulit saat Ramadhan Siang Hari Pertanyaan: Apakah krim pelembab kulit merusak ibadah puasa? Terutama krim itu sifatnya tidak menghalangi air wudhu untuk mengenai kulit? Jawaban: Tidak apa-apa menggunakan krim kulit (semacam handbody lotion) saat berpuasa jika memang dibutuhkan, ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2><strong></strong>Menggunakan Krim Kulit saat Ramadhan Siang Hari<strong></strong></h2>
<p>Pertanyaan:</p>
<p>Apakah krim pelembab kulit merusak <strong>ibadah puasa</strong>? Terutama krim itu sifatnya tidak menghalangi air wudhu untuk mengenai kulit?<br />
<span id="more-12502"></span><br />
Jawaban:</p>
<p>Tidak apa-apa menggunakan krim kulit (semacam <em>handbody lotion</em>) saat berpuasa jika memang dibutuhkan, karena pada hakikatnya krim itu hanya membasahi kulit dan tidak masuk ke dalam tubuh, dan kendati pun diperkirakan meresap ke dalam tubuh, maka itu pun tidak termasuk yang membatalkan puasa.</p>
<p>Syaikh Ibnu Jibrin, <em>Fatawa ash-Shiyam</em>, disusun oleh Muhammad al-Musnad, hal. 41.</p>
<p>Sumber: <em>Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 1</em>, Darul Haq, Cetakan VI, 2009</p>
<p><strong>Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/hukum-menggunakan-krim-kulit-saat-puasa-ramadhan" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/fatwa-ulama-hukum-menggunakan-krim-kulit-saat-puasa-ramadhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Mengeluarkan Darah ketika Puasa</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/hukum-mengeluarkan-darah-dari-orang-yang-sedang-berpuasa/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/hukum-mengeluarkan-darah-dari-orang-yang-sedang-berpuasa/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Jul 2012 04:35:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator 2</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=12466</guid>
		<description><![CDATA[Periksa Darah di Siang Ramadhan Pertanyaan: Apakah mengambil sedikit darah di siang bulan Ramadhan untuk pemeriksaan medis atau donor membatalkan puasa? Jawaban: Jika seseorang mengambil sedikit darah yang tidak menyebabkan kelemahan pada tubuhnya, maka hal ini tidak membatalkan puasanya, baik ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2>Periksa Darah di Siang Ramadhan</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Apakah mengambil sedikit darah di siang <strong>bulan Ramadhan</strong> untuk pemeriksaan medis atau donor membatalkan puasa?<br />
<span id="more-12466"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Jika seseorang mengambil sedikit darah yang tidak menyebabkan kelemahan pada tubuhnya, maka hal ini tidak membatalkan puasanya, baik itu untuk pemeriksaan medis atau untuk transfusi darah kepada orang lain ataupun untuk didonorkan kepada seseorang yang membutuhkannya.</p>
<p>Tapi jika pengambilan darah itu dalam jumlah banyak yang menyebabkan kelemahan pada tubuh, maka hal itu membatalkan puasa. Hal ini dikiaskan pada berbekam yang telah ditetapkan oeh as-Sunnah bahwa hal itu membatalkan puasa wajib, seperti puasa Ramadhan, tidak boleh mendonorkan darah dalam jumlah banyak, kecuali bila terpaksa (darurat), karena dalam kondisi ini berarti ia telah batal puasanya, sehingga dibolehkan makan dan minum pada sisa hari tersebut untuk kemudian men-qadha pada hari lain di luar bulan Ramadhan.</p>
<p>Syaikh Ibnu Utsaimin, Fadha’il Ramadhan, disusun oleh Abdurrazaq Hasan, (pertanyaan no. 2).</p>
<p><strong>Sumber:</strong> <em>Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 1</em>, Darul Haq, Cetakan VI, 2009</p>
<p><strong>Artikel <a title="bulan ramadhan" href="http://konsultasisyariah.com/hukum-mengeluarkan-darah-dari-orang-yang-sedang-berpuasa" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/hukum-mengeluarkan-darah-dari-orang-yang-sedang-berpuasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Suntikan di Siang Hari Ramadhan</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/suntikan-di-siang-hari-ramadhan/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/suntikan-di-siang-hari-ramadhan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Jul 2012 03:19:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator 2</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=12418</guid>
		<description><![CDATA[Suntikan di Siang Hari Ramadhan Pertanyaan: Apakah suntikan pengobatan di siang hari bulan Ramadhan mempengaruhi puasa? Jawaban: Suntikan pengobatan ada dua macam. Pertama, suntikan infus, dengan suntikan ini bisa mencukupi kebutuhan makan dan minum, maka suntikan ini termasuk yang membatalkan, ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2>Suntikan di Siang Hari Ramadhan</h2>
<p>Pertanyaan:</p>
<p>Apakah suntikan pengobatan di siang hari <a href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow"><strong>bulan Ramadhan</strong></a> mempengaruhi puasa?<br />
<span id="more-12418"></span><br />
Jawaban:</p>
<p><strong>Suntikan</strong> pengobatan ada dua macam. Pertama, suntikan infus, dengan suntikan ini bisa mencukupi kebutuhan makan dan minum, maka suntikan ini termasuk yang membatalkan, karena jika ada hal yang tercakup dalam makna <em>nash-nash</em> syariat, maka dihukumi sama sesuai<em> nash</em> tersebut. Adapun jenis yang kedua adalah suntikan yang tidak mewakili makan dan minum. Jenis suntikan ini tidak tercakup dalam konteks lafazh maupun makna. Jadi suntikan jenis ini bukan makan dan minum, juga bukan berarti seperti makan dan minum. Maka, hukum asalnya adalah puasanya sah sampai ada dalil <em>syar’i</em> yang menetapkan bahwa hal itu membatalkannya.</p>
<p>Syaikh Ibnu Utsaimin, <em>Fatawa ash-Shiyam</em>, dikumpulkan oleh Muhammad al-Musnad, hal. 58.</p>
<p>Sumber: <em>Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 1</em>, Darul Haq, Cetakan VI, 2009</p>
<p><strong>Artikel <a title="bulan ramadhan" href="http://konsultasisyariah.com/suntikan-di-siang-hari-ramadhan" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/suntikan-di-siang-hari-ramadhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menggabungkan Puasa Syawal dengan Puasa Senin-kamis</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/menggabungkan-puasa-syawal-dengan-puasa-senin-kamis/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/menggabungkan-puasa-syawal-dengan-puasa-senin-kamis/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Sep 2011 01:48:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7513</guid>
		<description><![CDATA[Menggabungkan puasa syawal dengan puasa senin kamis Assalamulaikum, Bolehkah menggabungkan niat puasa syawal dengan puasa senin-kamis ? Terima kasih Scien (gukXXXXXX@gmail.com) Jawaban menggabungkan puasa syawal dengan puasa senin kamis: Wa alaikumus salam wa rahmatullah Disebutkan dalam hadis riwayat Bukhari dan ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2>Menggabungkan puasa syawal dengan puasa senin kamis</h2>
<p><em>Assalamulaikum</em>, Bolehkah menggabungkan niat puasa syawal dengan puasa senin-kamis ?</p>
<p>Terima kasih</p>
<p><em>Scien (gukXXXXXX@gmail.com)</em><br />
<span id="more-7513"></span></p>
<h3>Jawaban menggabungkan puasa syawal dengan puasa senin kamis:</h3>
<p><em>Wa alaikumus salam wa rahmatullah</em></p>
<p>Disebutkan dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">إنما الأعمال بالنيات</p>
<p><em>“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niat”</em></p>
<p>Jika seorang muslim niat puasa 6 hari bulan syawal, dan dia lakukan bertepatan dengan hari senin, kamis, atau ketika <em>ayamul bidh</em> (tanggal 13, 14, dan 15 bulan hijriyah) maka dia mendapatkan pahala sesuai dengan apa yang dia niatkan. Karena niat dalam amal semacam ini bisa digabungkan.</p>
<p>Adapun puasa qadha ramadhan maka hanya boleh dilakukan dengan satu niat, yaitu <a title="Menggabung Niat Puasa Syawal dengan Puasa Qadha" href="http://konsultasisyariah.com/menggabung-niat-puasa-syawal-dengan-puasa-qadha" target="_blank" rel="nofollow"><strong>niat puasa qadha</strong></a>. Karena puasa qadha adalah pengganti puasa yang seharusnya dilakukan di bulan Ramadhan. Sebagaimana seseorang tidak boleh menggabungkan niat puasa ramadahan dengan niat puasa lainnya, demikian pula dia tidak boleh puasa qadha ramdhan bersamaan dengan niat puasa yang lain.</p>
<p>Sedangkan puasa sunah, kemudian digabungkan dengan niat untuk melakukan puasa yang lainnya karena puasa semacam ini memungkinkan untuk digabungkan niatnya. Sebagian ulama menyebutnya “<em>At-Tasyrik fin Niyah</em>” (menggabungkan niat).<br />
Ibn Rajab mengatakan, &#8220;Jika ada orang yang menggabungkan niat wudhu dengan niat untuk mendinginkan anggota badan atau niat untuk menghilangkan najis atau kotoran yang menempel di badan maka wudhunya sah menurut keterangan Imam As-Syafi&#8217;i. Dan ini merupakan pendapat mayoritas ulama madzhab hambali. Karena tujuan semacam ini tidaklah haram, tidak pula makruh. Oleh karena itu, jika ada orang yang berwudhu dengan niat menghilangkan hadats dan sekaligus mengajarkan tata cara wudhu maka niatnya tidak membatalkan wudhunya. Karena Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pernah melaksanakan shalat, sekaligus dengan niat mengajarkannya kepada para sahabat. Demikian pula ketika beliau berhaji, sebagaimana yang pernah beliau sabdakan,</p>
<p class="arab">خذوا عنِّي مناسِكَكُم</p>
<p><em>“Ambillah dariku cara pelaksanaan haji kalian”</em></p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p>*  Fatwa Syaikh Abdurrahman As-Suhaim</p>
<p>Beliau adalah anggota Lembaga Dakwah dan Bimbingan Masyarakat di Riyadl. Beliau pernah berguru kepada Syaikh Ibn Utsaimin, Syaikh Abdullah Al-Jibrin, Dr. Abdul Karim Al-Hudhair, Dr. Nashir Al-Aql, dan beberapa jajaran ulama <em>ahlus sunnah</em> lainnya. Saat ini beliau aktif membina berbagai forum ilmiyah di internet, seperti<em> saaid.net</em> atau <em>almeshkat.net</em>.</p>
<p><strong>Sumber:</strong> <em>http://al-ershaad.com/vb4/showthread.php?t=1409</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariahcom" target="_blank">Ustadz Ammi Nur Baits</a> (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariahcom" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>)</strong></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariahcom" target="_blank">www.KonsultasiSyariahcom</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/menggabungkan-puasa-syawal-dengan-puasa-senin-kamis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menggabung Niat Puasa Syawal dengan Puasa Qadha</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/menggabung-niat-puasa-syawal-dengan-puasa-qadha/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/menggabung-niat-puasa-syawal-dengan-puasa-qadha/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Sep 2011 06:28:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[RAMADHAN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7391</guid>
		<description><![CDATA[Hukum menggabung niat puasa syawal dengan qadha puasa Assalamu &#8216;alaikum. Ustadz, apakah boleh puasa dalam sehari, niatnya untuk puasa Syawal dan qadha puasa? Terima kasih. Wassalamu &#8216;alaikum. Umie (umie**@yahoo.***) Jawaban: Wa&#8217;alaikumussalam. * Menggabung niat qadha puasa dengan puasa syawal (Disadur ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2>Hukum menggabung niat puasa syawal dengan qadha puasa<strong></strong></h2>
<p><em>Assalamu &#8216;alaikum</em>. Ustadz, apakah boleh puasa dalam sehari, niatnya untuk puasa Syawal dan <strong>qadha puasa</strong>? Terima kasih. <em>Wassalamu &#8216;alaikum.</em></p>
<p><em>Umie (umie**@yahoo.***)</em><br />
<span id="more-7391"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa&#8217;alaikumussalam.</em></p>
<p>*</p>
<h3><strong>Menggabung niat qadha puasa dengan puasa syawal </strong>(Disadur dari <em>Fatawa Syabakah Islamiyah</em>, di bawah bimbingan Dr. Abdullah Al-Faqih. No. fatwa: 12728)</h3>
<p>Pertanyaan:</p>
<p>Bolehkah melakukan puasa Syawal, sekaligus dengan niat meng-qadha puasa yang pernah ditinggalkan di bulan Ramadan? Bagaimana cara yang tepat?</p>
<p>Jawaban:</p>
<p><em>Alhamdulillah, washshalatu was salamu &#8216;ala Rasulillah wa &#8216;ala alihi wa shahbihi. Amma ba&#8217;du &#8230;</em></p>
<p><strong>Tidak boleh</strong> melakukan puasa 6 hari di bulan Syawal dengan niat ganda, untuk puasa sunah dan meng-<a href="http://konsultasisyariah.com/puasa-syawal-bagi-orang-yang-punya-tanggungan-qadha-ramadhan" rel="nofollow" target="_blank"><strong>qadha puasa</strong></a> Ramadan yang pernah ditinggalkan, karena meninggalkan puasa ketika Ramadan, baik karena alasan yang dibenarkan maupun tanpa alasan, itu wajib untuk di-qadha&#8217;, berdasarkan firman Allah,</p>
<p class="arab">فمن كان منكم مريضاً أو على سفر فعدة من أيام أخر</p>
<p>“<em>Siapa saja di antara kalian yang sakit atau dalam perjalanan (kemudian dia berbuka) maka dia (mengganti) sebanyak hari puasa yang ditinggalkan di hari yang lain</em>.” (Qs. Al-Baqarah:184)</p>
<p>Sementara, puasa 6 hari Syawal itu hukumnya sunah, berdasarkan hadis dari Abu Ayyub Al-Anshari; beliau mendengar Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">من صام رمضان ثم أتبعه ستاً من شوال فذلك كصيام الدهر</p>
<p>“<em>Barang siapa yang berpuasa Ramadan, kemudian diikuti (puasa) enam hari bulan Syawal, maka itu seperti puasa setahun</em>.” (Hr. Muslim)</p>
<p>Oleh karena itu, hendaknya orang yang memiliki utang puasa tersebut meng-qadha utang puasa Ramadan kemudian melaksanakan puasa sunah 6 hari bulan Syawal.</p>
<p>Puasa Syawal harus dilakukan secara khusus, demikian pula qadha puasa juga harus dilakukan secara khusus. Dalam keadaan semacam ini, tidak memungkinkan untuk digabungkan niatnya, tidak sebagaimana ibadah yang lain, seperti mandi junub dan mandi Jumat.</p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p>*</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com" rel="nofollow" target="_blank">Ammi Nur Baits</a> (Dewan Pembina <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com" rel="nofollow" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>).</strong></p>
<p><strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com" rel="nofollow" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/menggabung-niat-puasa-syawal-dengan-puasa-qadha/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tata Cara Puasa Syawal</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/tata-cara-puasa-syawal/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/tata-cara-puasa-syawal/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Sep 2011 01:54:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[RAMADHAN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7319</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Ustadz, apakah puasa Syawal harus dilakukan berturut-turut enam hari atau boleh terputus-putus asalkan masih tetap di bulan Syawal? Jazakallahu khairan. Jawaban: Ulama berselisih pendapat tentang tata cara yang paling baik dalam melaksanakan puasa enam hari di bulan Syawal. Pendapat ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Ustadz, apakah puasa Syawal harus dilakukan berturut-turut enam hari atau boleh terputus-putus asalkan masih tetap di bulan Syawal? <em>Jazakallahu khairan</em>.<br />
<span id="more-7319"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Ulama berselisih pendapat tentang tata cara yang paling baik dalam melaksanakan puasa enam hari di bulan Syawal.</p>
<p><strong>Pendapat pertama,</strong> dianjurkan untuk menjalankan puasa Syawal secara berturut-turut, sejak awal bulan. Ini adalah pendapat Imam Syafi&#8217;i dan Ibnul Mubarak. Pendapat ini didasari sebuah hadis, namun hadisnya <em>lemah</em>.</p>
<p><strong>Pendapat kedua,</strong> tidak ada beda dalam keutamaan, antara dilakukan secara berturut-turut dengan dilakukan secara terpisah-pisah. Ini adalah pendapat Imam Waki&#8217; dan Imam Ahmad.</p>
<p><strong>Pendapat ketiga,</strong> tidak boleh melaksanakan puasa persis setelah Idul Fitri karena itu adalah hari makan dan minum. Namun, sebaiknya puasanya dilakukan sekitar tengah bulan. Ini adalah pendapat Ma&#8217;mar, Abdurrazaq, dan diriwayatkan dari Atha&#8217;. Kata Ibnu Rajab, “Ini adalah pendapat yang aneh.” (<em>Lathaiful Ma&#8217;arif</em>, hlm. 384&#8211;385)</p>
<p>Pendapat yang lebih kuat dalam hal ini adalah pendapat yang menyatakan bolehnya puasa Syawal tanpa berurutan. Keutamaannya sama dengan puasa Syawal secara terpisah. Syekh Abdul Aziz bin Baz ditanya tentang puasa Syawal, apakah harus berurutan?</p>
<p>Beliau menjelaskan, &#8220;Puasa 6 hari di bulan Syawal adalah sunah yang sahih dari Nabi s<em>hallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Boleh dikerjakan secara berurutan atau terpisah karena Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam memberikan keterangan secara umum terkait pelaksanaan puasa Syawal, dan beliau tidak menjelaskan apakah berurutan ataukah terpisah. Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, &#8216;<em>Barang siapa yang berpuasa Ramadan, kemudian diikuti puasa enam hari bulan Syawal &#8230;.</em>&#8216; (Hadis riwayat Muslim, dalam<em> Shahih</em>-nya)</p>
<p><em>Wa billahit taufiiq &#8230;.</em>&#8221; (<em>Majmu&#8217; Fatwa wa Maqalat Ibni Baz</em>, jilid 15, hlm. 391)</p>
<p><strong>Disusun oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).</strong></p>
<p><strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com" rel="nofollow" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/tata-cara-puasa-syawal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
