<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Konsultasi Kesehatan dan Tanya Jawab Pendidikan Islam &#187; Ramadhan</title>
	<atom:link href="http://www.konsultasisyariah.com/category/ramadhan-fikih/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.konsultasisyariah.com</link>
	<description>KonsultasiSyariah.com</description>
	<lastBuildDate>Thu, 17 May 2012 04:22:47 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Menggabungkan Puasa Syawal dengan Puasa Senin-kamis</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/menggabungkan-puasa-syawal-dengan-puasa-senin-kamis/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/menggabungkan-puasa-syawal-dengan-puasa-senin-kamis/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Sep 2011 01:48:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7513</guid>
		<description><![CDATA[Menggabungkan puasa syawal dengan puasa senin kamis Assalamulaikum, Bolehkah menggabungkan niat puasa syawal dengan puasa senin-kamis ? Terima kasih Scien (gukXXXXXX@gmail.com) Jawaban menggabungkan puasa syawal dengan puasa senin kamis: Wa alaikumus salam wa rahmatullah Disebutkan dalam hadis riwayat Bukhari dan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Menggabungkan puasa syawal dengan puasa senin kamis</h2>
<p><em>Assalamulaikum</em>, Bolehkah menggabungkan niat puasa syawal dengan puasa senin-kamis ?</p>
<p>Terima kasih</p>
<p><em>Scien (gukXXXXXX@gmail.com)</em><br />
<span id="more-7513"></span></p>
<h3>Jawaban menggabungkan puasa syawal dengan puasa senin kamis:</h3>
<p><em>Wa alaikumus salam wa rahmatullah</em></p>
<p>Disebutkan dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">إنما الأعمال بالنيات</p>
<p><em>“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niat”</em></p>
<p>Jika seorang muslim niat puasa 6 hari bulan syawal, dan dia lakukan bertepatan dengan hari senin, kamis, atau ketika <em>ayamul bidh</em> (tanggal 13, 14, dan 15 bulan hijriyah) maka dia mendapatkan pahala sesuai dengan apa yang dia niatkan. Karena niat dalam amal semacam ini bisa digabungkan.</p>
<p>Adapun puasa qadha ramadhan maka hanya boleh dilakukan dengan satu niat, yaitu <a title="Menggabung Niat Puasa Syawal dengan Puasa Qadha" href="http://konsultasisyariah.com/menggabung-niat-puasa-syawal-dengan-puasa-qadha" target="_blank" rel="nofollow"><strong>niat puasa qadha</strong></a>. Karena puasa qadha adalah pengganti puasa yang seharusnya dilakukan di bulan Ramadhan. Sebagaimana seseorang tidak boleh menggabungkan niat puasa ramadahan dengan niat puasa lainnya, demikian pula dia tidak boleh puasa qadha ramdhan bersamaan dengan niat puasa yang lain.</p>
<p>Sedangkan puasa sunah, kemudian digabungkan dengan niat untuk melakukan puasa yang lainnya karena puasa semacam ini memungkinkan untuk digabungkan niatnya. Sebagian ulama menyebutnya “<em>At-Tasyrik fin Niyah</em>” (menggabungkan niat).<br />
Ibn Rajab mengatakan, &#8220;Jika ada orang yang menggabungkan niat wudhu dengan niat untuk mendinginkan anggota badan atau niat untuk menghilangkan najis atau kotoran yang menempel di badan maka wudhunya sah menurut keterangan Imam As-Syafi&#8217;i. Dan ini merupakan pendapat mayoritas ulama madzhab hambali. Karena tujuan semacam ini tidaklah haram, tidak pula makruh. Oleh karena itu, jika ada orang yang berwudhu dengan niat menghilangkan hadats dan sekaligus mengajarkan tata cara wudhu maka niatnya tidak membatalkan wudhunya. Karena Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pernah melaksanakan shalat, sekaligus dengan niat mengajarkannya kepada para sahabat. Demikian pula ketika beliau berhaji, sebagaimana yang pernah beliau sabdakan,</p>
<p class="arab">خذوا عنِّي مناسِكَكُم</p>
<p><em>“Ambillah dariku cara pelaksanaan haji kalian”</em></p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p>*  Fatwa Syaikh Abdurrahman As-Suhaim</p>
<p>Beliau adalah anggota Lembaga Dakwah dan Bimbingan Masyarakat di Riyadl. Beliau pernah berguru kepada Syaikh Ibn Utsaimin, Syaikh Abdullah Al-Jibrin, Dr. Abdul Karim Al-Hudhair, Dr. Nashir Al-Aql, dan beberapa jajaran ulama <em>ahlus sunnah</em> lainnya. Saat ini beliau aktif membina berbagai forum ilmiyah di internet, seperti<em> saaid.net</em> atau <em>almeshkat.net</em>.</p>
<p><strong>Sumber:</strong> <em>http://al-ershaad.com/vb4/showthread.php?t=1409</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariahcom" target="_blank">Ustadz Ammi Nur Baits</a> (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariahcom" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>)</strong></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariahcom" target="_blank">www.KonsultasiSyariahcom</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/menggabungkan-puasa-syawal-dengan-puasa-senin-kamis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menggabung Niat Puasa Syawal dengan Puasa Qadha</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/menggabung-niat-puasa-syawal-dengan-puasa-qadha/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/menggabung-niat-puasa-syawal-dengan-puasa-qadha/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Sep 2011 06:28:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[RAMADHAN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7391</guid>
		<description><![CDATA[Hukum menggabung niat puasa syawal dengan qadha puasa Assalamu &#8216;alaikum. Ustadz, apakah boleh puasa dalam sehari, niatnya untuk puasa Syawal dan qadha puasa? Terima kasih. Wassalamu &#8216;alaikum. Umie (umie**@yahoo.***) Jawaban: Wa&#8217;alaikumussalam. * Menggabung niat qadha puasa dengan puasa syawal (Disadur ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Hukum menggabung niat puasa syawal dengan qadha puasa<strong></strong></h2>
<p><em>Assalamu &#8216;alaikum</em>. Ustadz, apakah boleh puasa dalam sehari, niatnya untuk puasa Syawal dan <strong>qadha puasa</strong>? Terima kasih. <em>Wassalamu &#8216;alaikum.</em></p>
<p><em>Umie (umie**@yahoo.***)</em><br />
<span id="more-7391"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa&#8217;alaikumussalam.</em></p>
<p>*</p>
<h3><strong>Menggabung niat qadha puasa dengan puasa syawal </strong>(Disadur dari <em>Fatawa Syabakah Islamiyah</em>, di bawah bimbingan Dr. Abdullah Al-Faqih. No. fatwa: 12728)</h3>
<p>Pertanyaan:</p>
<p>Bolehkah melakukan puasa Syawal, sekaligus dengan niat meng-qadha puasa yang pernah ditinggalkan di bulan Ramadan? Bagaimana cara yang tepat?</p>
<p>Jawaban:</p>
<p><em>Alhamdulillah, washshalatu was salamu &#8216;ala Rasulillah wa &#8216;ala alihi wa shahbihi. Amma ba&#8217;du &#8230;</em></p>
<p><strong>Tidak boleh</strong> melakukan puasa 6 hari di bulan Syawal dengan niat ganda, untuk puasa sunah dan meng-<a href="http://konsultasisyariah.com/puasa-syawal-bagi-orang-yang-punya-tanggungan-qadha-ramadhan" rel="nofollow" target="_blank"><strong>qadha puasa</strong></a> Ramadan yang pernah ditinggalkan, karena meninggalkan puasa ketika Ramadan, baik karena alasan yang dibenarkan maupun tanpa alasan, itu wajib untuk di-qadha&#8217;, berdasarkan firman Allah,</p>
<p class="arab">فمن كان منكم مريضاً أو على سفر فعدة من أيام أخر</p>
<p>“<em>Siapa saja di antara kalian yang sakit atau dalam perjalanan (kemudian dia berbuka) maka dia (mengganti) sebanyak hari puasa yang ditinggalkan di hari yang lain</em>.” (Qs. Al-Baqarah:184)</p>
<p>Sementara, puasa 6 hari Syawal itu hukumnya sunah, berdasarkan hadis dari Abu Ayyub Al-Anshari; beliau mendengar Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">من صام رمضان ثم أتبعه ستاً من شوال فذلك كصيام الدهر</p>
<p>“<em>Barang siapa yang berpuasa Ramadan, kemudian diikuti (puasa) enam hari bulan Syawal, maka itu seperti puasa setahun</em>.” (Hr. Muslim)</p>
<p>Oleh karena itu, hendaknya orang yang memiliki utang puasa tersebut meng-qadha utang puasa Ramadan kemudian melaksanakan puasa sunah 6 hari bulan Syawal.</p>
<p>Puasa Syawal harus dilakukan secara khusus, demikian pula qadha puasa juga harus dilakukan secara khusus. Dalam keadaan semacam ini, tidak memungkinkan untuk digabungkan niatnya, tidak sebagaimana ibadah yang lain, seperti mandi junub dan mandi Jumat.</p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p>*</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Ammi Nur Baits</a> (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>).</strong></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/menggabung-niat-puasa-syawal-dengan-puasa-qadha/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tata Cara Puasa Syawal</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/tata-cara-puasa-syawal/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/tata-cara-puasa-syawal/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Sep 2011 01:54:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[RAMADHAN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7319</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Ustadz, apakah puasa Syawal harus dilakukan berturut-turut enam hari atau boleh terputus-putus asalkan masih tetap di bulan Syawal? Jazakallahu khairan. Jawaban: Ulama berselisih pendapat tentang tata cara yang paling baik dalam melaksanakan puasa enam hari di bulan Syawal. Pendapat ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Ustadz, apakah puasa Syawal harus dilakukan berturut-turut enam hari atau boleh terputus-putus asalkan masih tetap di bulan Syawal? <em>Jazakallahu khairan</em>.<br />
<span id="more-7319"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Ulama berselisih pendapat tentang tata cara yang paling baik dalam melaksanakan puasa enam hari di bulan Syawal.</p>
<p><strong>Pendapat pertama,</strong> dianjurkan untuk menjalankan puasa Syawal secara berturut-turut, sejak awal bulan. Ini adalah pendapat Imam Syafi&#8217;i dan Ibnul Mubarak. Pendapat ini didasari sebuah hadis, namun hadisnya <em>lemah</em>.</p>
<p><strong>Pendapat kedua,</strong> tidak ada beda dalam keutamaan, antara dilakukan secara berturut-turut dengan dilakukan secara terpisah-pisah. Ini adalah pendapat Imam Waki&#8217; dan Imam Ahmad.</p>
<p><strong>Pendapat ketiga,</strong> tidak boleh melaksanakan puasa persis setelah Idul Fitri karena itu adalah hari makan dan minum. Namun, sebaiknya puasanya dilakukan sekitar tengah bulan. Ini adalah pendapat Ma&#8217;mar, Abdurrazaq, dan diriwayatkan dari Atha&#8217;. Kata Ibnu Rajab, “Ini adalah pendapat yang aneh.” (<em>Lathaiful Ma&#8217;arif</em>, hlm. 384&#8211;385)</p>
<p>Pendapat yang lebih kuat dalam hal ini adalah pendapat yang menyatakan bolehnya puasa Syawal tanpa berurutan. Keutamaannya sama dengan puasa Syawal secara terpisah. Syekh Abdul Aziz bin Baz ditanya tentang puasa Syawal, apakah harus berurutan?</p>
<p>Beliau menjelaskan, &#8220;Puasa 6 hari di bulan Syawal adalah sunah yang sahih dari Nabi s<em>hallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Boleh dikerjakan secara berurutan atau terpisah karena Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam memberikan keterangan secara umum terkait pelaksanaan puasa Syawal, dan beliau tidak menjelaskan apakah berurutan ataukah terpisah. Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, &#8216;<em>Barang siapa yang berpuasa Ramadan, kemudian diikuti puasa enam hari bulan Syawal &#8230;.</em>&#8216; (Hadis riwayat Muslim, dalam<em> Shahih</em>-nya)</p>
<p><em>Wa billahit taufiiq &#8230;.</em>&#8221; (<em>Majmu&#8217; Fatwa wa Maqalat Ibni Baz</em>, jilid 15, hlm. 391)</p>
<p><strong>Disusun oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).</strong></p>
<p><strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/tata-cara-puasa-syawal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menjawab Ucapan Selamat di Hari Raya</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/ucapan-selamat-di-hari-raya/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/ucapan-selamat-di-hari-raya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 31 Aug 2011 12:30:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[AKHLAK]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Pergaulan]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[RAMADHAN]]></category>
		<category><![CDATA[idul fitri 2011]]></category>
		<category><![CDATA[kado ucapan]]></category>
		<category><![CDATA[lebaran 2011]]></category>
		<category><![CDATA[ucapan id]]></category>
		<category><![CDATA[ucapan lebaran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7307</guid>
		<description><![CDATA[Cara menjawab ucapan selamat idul fitri Jika kita mendapatkan ucapan dari orang lain, &#8220;Taqabbalallahu minna wa minkum,&#8221; bagaimana cara menjawabnya? Jawaban: Allah berfirman, وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا &#8220;Jika kalian diberi salam dalam bentuk apa pun maka ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Cara menjawab ucapan selamat idul fitri<strong></strong></h2>
<p>Jika kita mendapatkan <strong>ucapan</strong> dari orang lain, &#8220;<em>Taqabbalallahu minna wa minkum</em>,&#8221; bagaimana cara menjawabnya?<br />
<span id="more-7307"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Allah berfirman,</p>
<p class="arab">وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا</p>
<p>&#8220;<em>Jika kalian diberi salam dalam bentuk apa pun maka balaslah dengan salam yang lebih baik atau jawablah dengan yang semisal &#8230;.</em>&#8221; (Q.s. An-Nisa&#8217;:86)</p>
<p>Syekh As-Sa&#8217;di mengatakan, &#8220;Termasuk (kewajiban) menjawab salam adalah (memberikan jawaban) untuk semua salam yang menjadi kebiasaan di masyarakat, dan itu adalah salam yang tidak terlarang. Semuanya wajib dijawab dengan yang semisal atau yang lebih baik.&#8221; (<em>Taisir Karimir Rahman</em>, tafsir untuk surat An-Nisa&#8217;:86)</p>
<h3>Berikut ini beberapa keterangan dari para ulama menjawab ucapan selamat idul fitri</h3>
<ol>
<li>Dari Habib bin Umar Al-Anshari; bapaknya bercerita kepadanya bahwa beliau bertemu dengan &#8211;shahabat&#8211; Watsilah <em>radhiallahu &#8216;anhu</em> ketika hari raya, maka aku ucapkan kepadanya, &#8220;<em>Taqabbalallahu minna wa minkum</em>,&#8221; kemudian beliau (Watsilah) menjawab, &#8220;<em>Taqabbalallahu minna wa minkum</em>.&#8221; (H.r. Ad-Daruquthni dalam <em>Mu&#8217;jam Al-Kabir</em>)</li>
<li>Dari Adham, mantan budak Umar bin Abdul Aziz; beliau mengatakan, &#8220;Ketika hari raya, kami menyampaikan <em>ucapan</em> kepada Umar bin Abdul Aziz, &#8216;<em>Taqabbalallahu minna wa minkum</em>, wahai Amirul Mukminin.&#8217; Maka beliau pun menjawab dengan <u>ucapan</u> yang sama dan beliau tidak mengingkarinya.&#8221; (H.r. Al-Baihaqi)</li>
<li>Dari Syu&#8217;bah bin Al-Hajjaj; beliau mengatakan, &#8220;Saya bertemu dengan Yunus bin Ubaid, dan saya sampaikan, &#8216;<em>Taqabbalallahu minna wa minka</em>.&#8217; Kemudian beliau jawab dengan ucapan yang sama.&#8221; (H.r. Ad-Daruquthni dalam <em>Ad-Du&#8217;a</em>)</li>
</ol>
<p><em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><strong>Disusun oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>).</strong></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/ucapan-selamat-di-hari-raya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Puasa Syawal dan Niatnya</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/puasa-syawal-dan-niatnya/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/puasa-syawal-dan-niatnya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 31 Aug 2011 09:09:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[RAMADHAN]]></category>
		<category><![CDATA[amalan sesudah ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[puasa sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[puasa syawaql]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah puasa]]></category>
		<category><![CDATA[syawal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7322</guid>
		<description><![CDATA[Tata cara niat puasa syawal Bagaimana cara niat puasa Syawal? Jawaban: Niat Puasa Syawal Alhamdulillah, wash-shalatu wassalamu &#8216;ala nabiyyina Muhammadin wa &#8216;ala alihi wa shahbihi ajma&#8217;in, wa ba&#8217;du &#8230;. Permasalahan ini diperselisihkan oleh ulama. Sebagian ulama menyatakan bahwa tidak wajib ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Tata cara niat puasa syawal<strong><br />
</strong></h2>
<p>Bagaimana cara niat <strong>puasa Syawal</strong>?<br />
<span id="more-7322"></span><br />
<strong>Jawaban: </strong></p>
<h3>Niat Puasa Syawal</h3>
<p><em>Alhamdulillah, wash-shalatu wassalamu &#8216;ala nabiyyina Muhammadin wa &#8216;ala alihi wa shahbihi ajma&#8217;in, wa ba&#8217;du &#8230;.</em></p>
<p>Permasalahan ini diperselisihkan oleh ulama. Sebagian ulama menyatakan bahwa tidak wajib berniat di malam hari untuk puasa sunah, baik puasa sunah mutlak maupun terkait hari tertentu. Pendapat ini berdasarkan hadis Aisyah<em> radhiallahu &#8216;anha</em>; beliau mengatakan, &#8220;<em>Rasulullah menemuiku pada suatu pagi, kemudian beliau bertanya, &#8216;Apakah kalian memiliki suatu makanan?&#8217; Aisyah mengatakan, &#8216;Tidak.&#8217; Beliau bersabda, &#8216;Jika demikian, aku puasa.&#8217; Di kesempatan hari yang lain, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam mendatangi kami (Aisyah). Kami mengatakan, &#8216;Wahai Rasulullah, kami diberi hadiah hais (adonan).&#8217; Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam meminta, &#8216;Tunjukkan kepadaku, karena tadi pagi aku berniat puasa.&#8217;</em>” (H.r. Muslim, no. 1154)</p>
<p>Dari sabda Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> “<em>jika demikian, saya puasa</em>” bisa dipahami bahwa beliau belum berniat untuk puasa di malam hari.</p>
<p>Sebagian ulama berpendapat &#8211;seperti: Syekh Ibnu Utsaimin <em>rahimahullah</em>&#8211; bahwa diwajibkan untuk berniat di malam hari untuk puasa &#8220;tertentu&#8221; [1], seperti: puasa enam hari bulan Syawal, hari Arafah, Asyura, atau puasa &#8220;tertentu&#8221; lainnya. Jika ada orang yang melakukan puasa setengah hari (karena dia baru berniat di siang hari), dia tidak dianggap telah melaksanakan puasa satu hari penuh di hari itu [2]. Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menjanjikan pahala untuk puasa enam hari (di bulan Syawal, <em>ed.</em>) secara penuh.</p>
<p>Di samping itu, dijelaskan oleh beberapa ulama bahwa pahala puasa dicatat sejak mulai berniat. Dengan demikian, jika niat puasanya dimulai tidak dari awal hari &#8211;yaitu sejak terbit fajar&#8211; maka pahalanya kurang, sehingga dia tidak mendapatkan pahala yang dijanjikan untuk puasa enam hari ini.</p>
<p>Oleh karena itu, jika ada orang yang mengawali puasa sunah tertentu di siang hari maka puasanya tidak bisa dinilai sebagai puasa sunah tertentu. Namun, hanya puasa sunah <em>mutlak</em> [3]. Artinya, dia hanya mendapat pahala puasa sunah<em> mutlak</em>. Inilah pendapat yang lebih kuat menurutku. <em>Allahu a&#8217;lam</em>. (<strong>Sumber</strong>: <em>http://www.islamtoday.net/questions/&#8230;t.cfm?id=93957</em>)</p>
<p>Uraian di atas adalah keterangan dari Syekh Dr. Khalid Al-Musyaiqih. Beliau adalah salah satu pengajar di Universitas Al-Qasim. Beliau merupakan murid Syekh Ibnu Utsaimin dan Syekh Abdullah Al-Qar&#8217;awi. Saat ini, beliau aktif meneliti dan memberikan catatan kaki untuk kitab-kitab para ulama.</p>
<p>*</p>
<p><strong>Catatan kaki:</strong></p>
<p><strong>[1] </strong>Puasa sunah ada dua:</p>
<ol>
<li>Puasa sunah <em>mu&#8217;ayyan</em> (tertentu), yaitu puasa sunah yang <strong>terkait</strong> dengan hari atau tanggal tertentu, seperti: puasa Senin-Kamis, puasa Arafah, dan puasa 6 hari di bulan Syawal.</li>
<li>Puasa sunah <em>mutlak</em>, yaitu puasa sunah yang <strong>tidak</strong> terkait dengan hari atau tanggal tertentu. Karena itu, tidak ada batasan waktu maupun jumlah. Puasa yang dilakukan Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> sebagaimana disebutkan dalam hadis Aisyah di atas adalah contoh puasa sunah <em>mutlak.</em></li>
</ol>
<p><strong>[2] </strong>Jika ada orang yang berniat puasa sunah di siang hari maka dia mulai dihitung berpuasa sejak dia berniat puasa. Adapun sebelum itu, dia belum berniat sehingga tidak dianggap menjalankan ibadah, meskipun belum makan atau minum. Dengan demikian, ketika ada orang yang berniat puasa Senin setelah jam 9.00 maka dia baru dianggap puasa sejak jam 9.00. Apakah orang ini telah dianggap melaksanakan puasa sunah hari Senin? Jawabannya, orang ini <strong>tidak</strong> dianggap telah berpuasa sunah hari Senin karena dia tidak melaksanakan puasa Senin sejak awal, tetapi baru mulai sejak jam 9.00. <em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><strong>[3]</strong> Misalnya: seseorang mulai berniat puasa Kamis sejak jam 10.00, maka dia baru dihitung berpuasa hari Kamis sejak jam 10.00. Dengan demikian, dia tidak dianggap telah melaksanakan puasa sunah hari Kamis sehingga dia hanya mendapatkan pahala puasa mutlak, tetapi tidak mendapatkan pahala puasa sunah hari Kamis. <em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><strong>Keterangan tambahan:</strong></p>
<p><strong>Tidak ada lafal niat khusus</strong> untuk <em>puasa Syawal</em>. Seseorang yang sudah memiliki keinginan untuk <u>puasa Syawal</u> di malam hari itu sudah dianggap berniat, <strong>karena inti niat adalah keinginan dan bermaksud</strong>. Lebih dari itu, melafalkan niat adalah satu perbuatan yang tidak pernah diajarkan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.</p>
<p><strong>Disusun oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>).</strong></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/puasa-syawal-dan-niatnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Zakat Fitrah untuk Pembantu</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/zakat-fitrah-untuk-pembantu/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/zakat-fitrah-untuk-pembantu/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Aug 2011 07:42:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[RAMADHAN]]></category>
		<category><![CDATA[Zakat]]></category>
		<category><![CDATA["zakat fitrah"]]></category>
		<category><![CDATA[kadar zakat]]></category>
		<category><![CDATA[pembatu]]></category>
		<category><![CDATA[sedekah]]></category>
		<category><![CDATA[uang zakat]]></category>
		<category><![CDATA[yang berhak menerima zakat]]></category>
		<category><![CDATA[zakat fitri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7197</guid>
		<description><![CDATA[Zakat fitrah untuk pembantu Assalamu &#8216;alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ustadz, saya punya seorang pembantu (PRT). Pertanyaannya: apakah zakat fitrinya menjadi (wajib) tanggungan keluarga kami atau tidak? Demikian, Ustadz. Terima kasih sebelumya. Semoga Allah memudahkan Ustadz dalam segala urusan. Wassalamu &#8216;alaikum warahmatullahi ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Zakat fitrah untuk pembantu</h2>
<p><em>Assalamu &#8216;alaikum warahmatullahi wabarakatuh.</em></p>
<p>Ustadz, saya punya seorang pembantu (PRT). Pertanyaannya: apakah zakat fitrinya menjadi (wajib) tanggungan keluarga kami atau tidak? Demikian, Ustadz. Terima kasih sebelumya. Semoga Allah memudahkan Ustadz dalam segala urusan.</p>
<p><em>Wassalamu &#8216;alaikum warahmatullahi wabarakatuh.</em></p>
<h3><em>Ade Tatang (ade**@***.com)</em><br />
<span id="more-7197"></span><br />
Jawaban bolehkah tuannya  membayarkan zakat fitrah untuk pembantunya:</h3>
<p><em>Wa&#8217;alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.</em></p>
<p>Jika nafkah pembantu tersebut ditanggung oleh tuannya, misalnya: pembantu rumah tangga, maka wajib bagi tuannya membayarkan <a title="Yang Berhak Menerima Zakat Fitrah" href="http://konsultasisyariah.com/yang-berhak-menerima-zakat-fitrah" target="_blank" rel="nofollow"><strong>zakat fitrah</strong></a> untuk pembantunya.</p>
<p>Jika nafkah pembantu tidak ditanggung tuannya maka tidak ada kewajiban bagi tuannya untuk menunaikan <em>zakat fitrah</em> pembantunya.</p>
<p>Imam Malik mengatakan, “Tidak ada kewajiban bagi seseorang untuk membayarkan zakat fitri bagi budak milik budaknya, pembantunya, dan budak istrinya, kecuali orang yang membantu dirinya dan harus dia nafkahi maka status zakatnya wajib. (<em>Al-Muwaththa’</em>, 2:334)</p>
<p><strong>Dijawab oleh<a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com"> Ustadz Ammi Nur Baits</a> (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">Konsultasi Syariah</a>).</strong><br />
<strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/zakat-fitrah-untuk-pembantu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bayar Zakat Fitrah Antar-Negara</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/bayar-zakat-fitrah-antar-negara/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/bayar-zakat-fitrah-antar-negara/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Aug 2011 01:05:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[RAMADHAN]]></category>
		<category><![CDATA[Zakat]]></category>
		<category><![CDATA["zakat fitrah"]]></category>
		<category><![CDATA[kadar zakat]]></category>
		<category><![CDATA[sedekah]]></category>
		<category><![CDATA[uang zakat]]></category>
		<category><![CDATA[yang berhak menerima zakat]]></category>
		<category><![CDATA[zakat fitri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7200</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan bayar zakat fitrah antar-negara: Assalamu &#8216;alaykum. Saya tinggal di Jepang, dan bingung mau bayar zakat fitrah. Apakah boleh orang tua kita yang di Indonesia yang membayarkan zakat fitrah kita? Padahal harga beras di Jepang &#8216;kan jauh berbeda dengan di ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Pertanyaan bayar zakat fitrah antar-negara:</h2>
<p><em>Assalamu &#8216;alaykum</em>. Saya tinggal di Jepang, dan bingung mau <strong>bayar zakat</strong> fitrah. Apakah boleh orang tua kita yang di Indonesia yang membayarkan zakat fitrah kita? Padahal harga beras di Jepang &#8216;kan jauh berbeda dengan di Indonesia. Apakah kita harus bayar <em>zakat fitrah</em> berupa beras di Indonesia seharga 2,5 kg beras di Jepang?</p>
<p><em>Abu Abdillah (abuabdillah**@i.***.jp)</em><br />
<span id="more-7200"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa&#8217;alaikumussalam.</em></p>
<p>Berikut ini keterangan dalam <em>Fatwa Syabakah Islamiyah</em>, di bawah bimbingan Dr. Abdullah Al-Faqih.</p>
<p>&#8220;<em>Alhamdulillah wash-shalatu wassalamu &#8216;ala Rasulillah.</em></p>
<p>Tiga imam mazhab, yaitu Imam Malik, Imam Syafi&#8217;i, dan Imam Ahmad <em>rahimahumullah</em> berpendapat bahwa zakat fitrah hanya boleh diberikan dalam bentuk bahan makanan yang umumnya berlaku di suatu negeri. Sementara, Imam Abu Hanifah <em>rahimahullah</em> memperbolehkan membayar zakat fitrah dengan uang, sebagai ganti dari bahan makanan. Karena itu, jika Anda ingin memberikan zakat itu kepada orang miskin (muslim) di negeri tersebut &#8211;dan merekalah yang lebih berhak&#8211; maka <strong>jangan <a title="Zakat Fitri Diberikan Kemana?" href="http://konsultasisyariah.com/zakat-fitri-diberikan-kemana" target="_blank" rel="nofollow">bayar zakat</a> kecuali dengan bahan makanan</strong>.</p>
<p>Akan tetapi, jika Anda ingin mengirim zakat fitrah Anda ke negeri lain, karena tidak ada orang yang berhak menerimanya di negeri tempat tinggal Anda maka yang lebih baik adalah Anda mengirim uang kepada seseorang di negeri tujuan, dan Anda amanahkan untuk membelikan beras dan menyerahkannya ke orang miskin. <em>Allahu a&#8217;lam</em>.&#8221;</p>
<p><strong>Sumber</strong>:<em> http://www.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&amp;lang=a&amp;Id=929&amp;Option=FatwaId</em></p>
<p>**</p>
<h3>Catatan dari redaksi Konsultasi Syariah perihal membayar zakat<strong><br />
</strong></h3>
<p>Berdasarkan keterangan di atas, bisa disimpulkan:</p>
<ul>
<li>Anda bisa mengirimkan uang atau mewakilkan ke orang tua di indonesia untuk membayarkan zakat Anda.</li>
<li>Standard harga beras adalah harga beras di indonesia karena <strong>yang menjadi acuan adalah bahan makanan di tempat penyerahan zakat</strong>, bukan nilai uangnya.</li>
</ul>
<p><em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>).</strong></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/bayar-zakat-fitrah-antar-negara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Yang Berhak Menerima Zakat Fitrah</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/yang-berhak-menerima-zakat-fitrah/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/yang-berhak-menerima-zakat-fitrah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Aug 2011 06:58:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[RAMADHAN]]></category>
		<category><![CDATA[Zakat]]></category>
		<category><![CDATA["zakat fitrah"]]></category>
		<category><![CDATA[kadar zakat]]></category>
		<category><![CDATA[sedekah]]></category>
		<category><![CDATA[uang zakat]]></category>
		<category><![CDATA[yang berhak menerima zakat]]></category>
		<category><![CDATA[zakat fitri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7185</guid>
		<description><![CDATA[Yang Berhak Menerima Zakat Fitrah Ustadz, Siapa saja orang yang berhak menerima zakat fitrah? Jazakallahu khairan atas jawaban Ustadz. Jawaban untuk orang yang berhak menerima zakat fitrah Ibnu Abbas radhiallahu &#8216;anhuma mengatakan, “Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitri ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Yang Berhak Menerima Zakat Fitrah</h2>
<p>Ustadz, Siapa saja orang <strong>yang berhak menerima zakat</strong> fitrah? <em>Jazakallahu khairan</em> atas jawaban Ustadz.</p>
<h3>Jawaban untuk orang yang berhak menerima zakat fitrah</h3>
<p>Ibnu Abbas<em> radhiallahu &#8216;anhuma</em> mengatakan, “<em>Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitri &#8230; sebagai makanan bagi orang miskin &#8230;.</em>” (Hr. Abu Daud; dinilai <em>hasan</em> oleh Syekh Al-Albani)</p>
<p>Hadis ini menunjukkan bahwa salah satu fungsi zakat fitri adalah sebagai makanan bagi orang miskin. Ini merupakan penegasan bahwa orang <u>yang berhak menerima zakat</u> fitri adalah golongan fakir dan miskin.</p>
<p><strong>Bagaimana dengan enam golongan yang lain?</strong></p>
<p>Dalam surat At-Taubah, Allah berfirman,</p>
<p class="arab">إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ  (التوبة: 60</p>
<p>“<em>Sesungguhnya, zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mualaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah, dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah</em>.” (Qs. At-Taubah:60)</p>
<p>Ayat di atas menerangkan tentang delapan golongan <em><strong>yang berhak menerima zakat</strong></em>. Jika kata “zakat” terdapat dalam Alquran secara mutlak, artinya adalah &#8216;zakat yang wajib&#8217;. Oleh sebab itu, ayat ini menjadi dalil yang menguraikan golongan-golongan yang berhak mendapat zakat harta, zakat binatang, zakat tanaman, dan sebagainya.</p>
<p>Meskipun demikian, apakah ayat ini juga berlaku untuk zakat fitri, sehingga delapan orang yang disebutkan dalam ayat di atas berhak untuk mendapatkan zakat fitri? Dalam hal ini, ulama berselisih pendapat.</p>
<p><strong>Pertama,</strong> zakat fitri boleh diberikan kepada delapan golongan tersebut. Pendapat ini adalah pendapat mayoritas ulama. Mereka berdalil dengan firman Allah pada surat At-Taubah ayat 60 di atas. Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menamakan zakat fitri dengan “zakat”, dan hukumnya wajib untuk ditunaikan. Karena itulah, zakat fitri berstatus sebagaimana zakat-zakat lainnya yang boleh diberikan kepada delapan golongan. An-Nawawi mengatakan, “Pendapat yang terkenal dalam mazhab kami (Syafi’iyah) adalah zakat fitri wajib diberikan kepada delapan golongan yang berhak mendapatkan zakat harta.” (<em>Al-Majmu’</em>)</p>
<p><strong>Kedua,</strong> zakat fitri tidak boleh diberikan kepada delapan golongan tersebut, selain kepada fakir dan miskin. Ini adalah pendapat Malikiyah, Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah, dan Ibnul Qayyim. Dalil pendapat kedua:</p>
<ol>
<li>Perkataan Ibnu Abbas <em>radhiallahu &#8216;anhuma</em>, “Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mewajibkan zakat fitri &#8230; sebagai makanan bagi orang miskin &#8230;.” (Hr. Abu Daud; dinilai<em> hasan</em> oleh Syekh Al-Albani)</li>
<li>Berkaitan dengan hadis ini, Asy-Syaukani mengatakan, “Dalam hadis ini, terdapat dalil bahwa zakat fitri hanya (boleh) diberikan kepada fakir miskin, bukan 6 golongan penerima zakat lainnya.” (<em>Nailul Authar</em>, 2:7)</li>
<li>Ibnu Umar mengatakan, “Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> biasa memerintahkan zakat fitri dan membagikannya. Beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, &#8216;Cukupi kebutuhan mereka agar tidak meminta-minta pada hari ini.&#8217;” (Hr. Al-Juzajani; dinilai <em>sahih</em> oleh sebagian ulama)</li>
</ol>
<ul>
<li>Yazid (perawi hadis ini) mengatakan, “Saya menduga (perintah itu) adalah ketika pagi hari di hari raya.”</li>
<li>Dalam hadis ini, ditegaskan bahwa fungsi zakat fitri adalah untuk mencukupi kebutuhan orang miskin ketika hari raya. Sebagian ulama mengatakan bahwa salah satu kemungkinan  tujuan perintah untuk mencukupi kebutuhan orang miskin di hari raya adalah agar mereka tidak disibukkan dengan memikirkan kebutuhan makanan di hari tersebut, sehingga mereka bisa bergembira bersama kaum muslimin yang lainnya.</li>
</ul>
<p>Di samping dua alasan di atas, sebagian ulama (Ibnul Qayyim) menegaskan bahwa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dan para sahabat <em>radhiallahu &#8216;anhum</em> tidak pernah membayarkan zakat fitri kecuali kepada fakir miskin. Ibnul Qayyim mengatakan, “Bab &#8216;Zakat Fitri Tidak Boleh Diberikan Selain kepada Fakir Miskin&#8217;. Di antara petunjuk Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> adalah mengkhususkan orang miskin dengan zakat ini. Beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> tidak pernah membagikan zakat fitri kepada seluruh delapan golongan, per bagian-bagian. Beliau juga tidak pernah memerintahkan hal itu. Itu juga tidak pula pernah dilakukan oleh seorang pun di antara sahabat, tidak pula orang-orang setelah mereka (tabi’in). Namun, terdapat salah satu pendapat dalam mazhab kami bahwa tidak boleh menunaikan zakat fitri kecuali untuk orang miskin saja. Pendapat ini lebih kuat daripada pendapat yang mewajibkan pembagian zakat fitri kepada delapan golongan.” (<em>Zadul Ma’ad</em>, 2:20)</p>
<blockquote>
<p style="text-align: left;"><em><strong>Berdasarkan keterangan di atas, dapat disimpulkan bahwa orang<a title="Ketentuan Zakat Fitri Bagi Orang Tidak Mampu" href="http://konsultasisyariah.com/ketentuan-zakat-fitri" target="_blank" rel="nofollow"> yang berhak menerima zakat fitrah </a>adalah fakir miskin saja. </strong></em></p>
</blockquote>
<p><strong>Catatan:</strong></p>
<p>Sebagian orang memberikan zakat fitri untuk pembangunan masjid, rumah sakit Islam, yayasan-yayasan Islam, atau pemuka agama. Apa hukumnya?</p>
<ul>
<li>Jika kita mengambil pendapat bahwa zakat fitri hanya boleh diberikan kepada fakir miskin maka memberikan zakat fitri kepada masjid, yayasan Islam, atau tokoh masyarakat yang bukan orang miskin itu termasuk tindakan memberikan zakat kepada sasaran yang tidak berhak. Sebagian ulama menerangkan bahwa memberikan zakat kepada golongan yang tidak berhak itu dinilai sebagai tindakan durhaka kepada Allah dan kewajibannya belum gugur. Artinya, zakat fitrinya harus diulangi.</li>
<li>Jika kita bertoleransi terhadap pendapat yang membolehkan pemberian zakat fitri kepada semua golongan yang delapan maka perlu diketahui bahwasanya masjid, yayasan Islam, atau pemuka agama tidaklah termasuk dalam delapan golongan tersebut. Masjid atau yayasan tidak bisa digolongkan sebagai “<em>fi sabilillah</em>”.</li>
<li>Demikian pula terkait pemuka agama. Jika dia orang yang berkecukupan maka dia tidak berhak diberi maupun menerima zakat karena zakat ini adalah hak orang fakir miskin. Jika ada pemuka agama atau tokoh masyarakat yang menerima zakat atau bahkan meminta zakat maka berarti dia telah menyita hak orang lain.</li>
</ul>
<p><em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p>Disusun oleh <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Ustadz Ammi Nur Baits</a> (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>).<br />
Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/yang-berhak-menerima-zakat-fitrah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tata Cara Shalat Idul Fitri</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/shalat-idul-fitri-tata-cara/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/shalat-idul-fitri-tata-cara/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Aug 2011 01:58:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[RAMADHAN]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[idul fitri]]></category>
		<category><![CDATA[lebaran]]></category>
		<category><![CDATA[lebaran tahun ini]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[shalat id]]></category>
		<category><![CDATA[tata cara shalat id]]></category>
		<category><![CDATA[wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7074</guid>
		<description><![CDATA[Tata cara shalat Idul Fitri Bagaimana tata cara shalat Idul Fitri? Mohon dijelaskan dengan lengkap beserta dalil-dalilnya. Jazakumullah khairan. Jawaban tata cara shalat Idul Fitri: 1. Sutrah (pembatas shalat) bagi imam Dari Ibnu Umar radhiallahu &#8216;anhuma, bahwa ketika Nabi shallallahu ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Tata cara shalat Idul Fitri</h2>
<p>Bagaimana tata cara <strong>shalat Idul Fitri</strong>? Mohon dijelaskan dengan lengkap beserta dalil-dalilnya. <em>Jazakumullah khairan</em>.<br />
<span id="more-7074"></span></p>
<h2>Jawaban tata cara shalat Idul Fitri:</h2>
<p><strong>1. <em>Sutrah</em> (pembatas shalat) bagi imam</strong></p>
<p>Dari Ibnu Umar <em>radhiallahu &#8216;anhuma</em>, bahwa ketika Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menuju lapangan pada hari raya, beliau memerintahkan untuk menancapkan bayonet di depan beliau, kemudian beliau shalat menghadap ke benda tersebut. (H.r. Al-Bukhari)</p>
<h3>2. Shalat Idul Fitri dua rakaat</h3>
<p>Umar bin Khaththab mengatakan, &#8220;Shalat Jumat dua rakaat, <a title="Adakah Dua Khotbah dalam Sholat Ied?" href="http://konsultasisyariah.com/adakah-dua-khotbah-dalam-sholat-ied" target="_blank" rel="nofollow"><strong>shalat Idul Fitri</strong></a> dua rakaat, shalat Idul Adha dua rakaat &#8230;.&#8221; (H.r. Ahmad dan An-Nasa&#8217;i; dinilai <em>sahih</em> oleh Al-Albani)</p>
<p><strong>3. Shalat dilaksanakan sebelum khotbah</strong></p>
<p>Dari Ibnu Abbas <em>radhiallahu &#8216;anhuma</em>; beliau mengatakan, &#8220;Saya mengikuti shalat id bersama Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, Abu Bakar, Umar, dan Utsman <em>radhiallahu &#8216;anhum</em>. Mereka semua melaksanakan shalat sebelum khotbah.&#8221; (H.r. Al-Bukhari dan Muslim)</p>
<h3>4. Takbir ketika shalat Idul Fitri<strong><br />
</strong></h3>
<p><em>Takbiratul ihram</em> di rakaat pertama lalu membaca doa iftitah, kemudian bertakbir tujuh kali. Di rakaat kedua, setelah <em>takbir intiqal</em>, berdiri dari sujud, kemudian bertakbir lima kali.</p>
<p>Dari Aisyah <em>radhiallahu &#8216;anha</em>, bahwa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bertakbir ketika Idul Fitri dan Idul Adha; di rakaat pertama sebanyak tujuh kali takbir dan di rakaat kedua sebanyak lima kali takbir selain takbir rukuk di masing-masing rakaat.&#8221; (H.r. Abu Daud dan Ibnu Majah; dinilai <em>sahih</em> oleh Al-Albani)</p>
<p>Dari Abdullah bin Amr bin Ash, bahwa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, “Takbir ketika <em>shalat Idul Fitri</em>: tujuh kali di rakaat pertama dan lima kali di rakaat kedua, dan ada bacaan di masing-masing rakaat.” (H.r. Abu Daud dan At-Turmudzi; dinilai <em>sahih</em> oleh Al-Albani)</p>
<p>Al-Baghawi mengatakan, &#8220;Ini adalah pendapat mayoritas ulama dari kalangan sahabat maupun orang-orang setelahnya. Mereka bertakbir ketika shalat id: di rakaat pertama tujuh kali &#8211;selain takbiratul ihram&#8211; dan di rakaat kedua lima kali &#8211;selain takbir bangkit dari sujud&#8211;. Pendapat ini diriwayatkan dari Abu bakar, Umar, Ali &#8230;<em> radhiallahu &#8216;anhum</em> &#8230;.&#8221; (<strong>Syarhus Sunnah</strong>, 4:309; dinukil dari <em>Ahkamul Idain</em>, karya Syekh Ali Al-Halabi)</p>
<p><strong>5. Mengangkat tangan ketika takbir tambahan</strong></p>
<p>Syekh Ali bin Hasan Al-Halabi mengatakan, &#8220;Tidak terdapat riwayat yang sahih dari Nabi<em> shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bahwa beliau mengangkat kedua tangan setiap takbir shalat id.&#8221; (<em>Ahkamul Idain</em>, hlm. 20)</p>
<p>Akan tetapi, terdapat riwayat dari Ibnu Umar bahwa beliau mengangkat kedua tangan setiap takbir tambahan shalat id. (<em>Zadul Ma&#8217;ad</em>, 1:425)</p>
<p>Al-Faryabi menyebutkan riwayat dari Al-Walid bin Muslim, bahwa beliau bertanya kepada Imam Malik tentang mengangkat tangan ketika takbir-takbir tambahan. Imam Malik menjawab, &#8220;Ya, angkatlah kedua tanganmu setiap takbir tambahan &#8230;.&#8221; (Riwayat Al-Faryabi; sanadnya dinilai<em> sahih</em> oleh Al-Albani)</p>
<p><em><strong>Keterangan: </strong></em><br />
Takbir tambahan: Takbir sebanyak 7 kali pada rakaat pertama, dan sebanyak 5 kali pada rakaat kedua.</p>
<p><strong>6. Zikir di sela-sela takbir tambahan</strong></p>
<p>Syekh Ali bin Hasan Al-Halabi mengatakan, &#8220;Tidak terdapat riwayat yang sahih dari Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> tentang zikir tertentu di sela-sela takbir tambahan.&#8221; (<em>Ahkamul Idain</em>, hlm. 21)</p>
<p>Meski demikian, terdapat riwayat yang sahih dari Ibnu Mas&#8217;ud <em>radhiallahu &#8216;anhu</em>; beliau menjelaskan tentang shalat id, &#8220;Di setiap sela-sela takbir tambahan dianjurkan membaca tahmid dan memuji Allah.&#8221; (H.r. Al-Baihaqi; dinilai <em>sahih</em> oleh Al-Albani)</p>
<p>Ibnul Qayyim mengatakan, &#8220;Disebutkan dari Ibnu Mas&#8217;ud bahwa beliau menjelaskan, &#8216;(Di setiap sela-sela takbir, dianjurkan) membaca hamdalah, memuji Allah, dan bersalawat kepada Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.&#8217;&#8221; (<em>Zadul Ma&#8217;ad</em>, 1:425)</p>
<h3>7. Bacaan ketika shalat Idul Fitri<strong><br />
</strong></h3>
<p>Setelah selesai bertakbir tambahan, membaca <em>ta&#8217;awudz</em>, membaca Al-Fatihah, kemudian membaca surat dengan kombinasi berikut:</p>
<ul>
<li>Surat Qaf di rakaat pertama dan surat Al-Qamar di rakaat kedua.</li>
<li>Surat Al-A&#8217;la di rakaat pertama dan surat Al-Ghasyiyah di rakaat kedua.</li>
</ul>
<p>Semua kombinasi tersebut terdapat dalam riwayat Muslim, An-Nasa&#8217;i, dan At-Turmudzi.</p>
<h4>8. Tata cara shalat Idul Fitri selanjutnya</h4>
<p>&#8220;Tata cara shalat id selanjutnya sama dengan shalat lainnya, tidak ada perbedaan sedikit pun.&#8221; (<em>Ahkamul Idain</em>, hlm. 22)</p>
<p><strong>Disusun oleh Ustadz <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Ustadz Ammi Nur Baits</a> (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>).</strong></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/shalat-idul-fitri-tata-cara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketentuan Zakat Fitri Bagi Orang Tidak Mampu</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/ketentuan-zakat-fitri/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/ketentuan-zakat-fitri/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Aug 2011 02:36:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[RAMADHAN]]></category>
		<category><![CDATA[Zakat]]></category>
		<category><![CDATA["zakat fitrah"]]></category>
		<category><![CDATA[kadar zakat]]></category>
		<category><![CDATA[orang miskin dilarang zakat]]></category>
		<category><![CDATA[picture]]></category>
		<category><![CDATA[sedekah]]></category>
		<category><![CDATA[uang zakat]]></category>
		<category><![CDATA[ukuran zakat]]></category>
		<category><![CDATA[zakat fitri]]></category>
		<category><![CDATA[zakat orang miskin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7012</guid>
		<description><![CDATA[Ketentuan Zakat Fitri Bagi &#8220;Orang Tidak Mampu&#8221; Assalamu &#8216;alaikum. Karena keadaan saya termasuk ke dalam golongan orang yang menerima zakat, para kerabat saya memutuskan untuk memberikan zakat fitrah kepada saya. Apakah saya tetap harus membayar zakat fitrah juga? Bagaimana cara ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Ketentuan Zakat Fitri Bagi &#8220;Orang Tidak Mampu&#8221;</h2>
<p><em>Assalamu &#8216;alaikum</em>. Karena keadaan saya termasuk ke dalam golongan orang yang menerima zakat, para kerabat saya memutuskan untuk memberikan zakat fitrah kepada saya. Apakah saya tetap harus membayar zakat fitrah juga? Bagaimana cara menghitung dan <strong>ketentuan zakat</strong> fitrah? Saya tidak punya simpanan/tabungan sama sekali. <em>Wassalamu &#8216;alaikum</em>.</p>
<p><em>NN (**@gmail.com)</em><br />
<span id="more-7012"></span></p>
<h2>Jawaban untuk berapa ketentuan zakat:</h2>
<p><em>Wa&#8217;alaikumussalam.</em></p>
<p>Dari Abdullah bin Umar <em>radhiallahu &#8216;anhu</em>; beliau mengatakan, “<em>Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitri, berupa satu sha’ kurma kering atau gandum kering. (Kewajiban) ini berlaku bagi kaum muslimin, budak maupun orang merdeka, laki-laki maupun wanita, anak kecil maupun orang dewasa &#8230;.</em>” (H.r. Al-Bukhari, no. 1433; Muslim, no. 984)</p>
<p>Ibnu Abbas <em>radhiallahu &#8216;anhu</em> mengatakan, &#8220;<em>Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitri, sebagai penyuci orang yang berpuasa dari perbuatan yang menggugurkan pahala puasa dan perbuatan atau ucapan jorok, juga sebagai makanan bagi orang miskin &#8230;..</em>&#8221; (H.r. Abu Daud no. 1611; dinilai <em>hasan</em> oleh Syekh Al-Albani)</p>
<p>Dari hadis di atas dapat disimpulkan bahwa zakat fitri hukum wajib bagi orang yang memenuhi dua persyaratan berikut:</p>
<ol>
<li>Beragama Islam.</li>
<li>Mampu untuk menunaikannya.</li>
</ol>
<p>Ulama berselisih pendapat tentang ukuran &#8220;mampu&#8221; (<strong><em><a title="Kadar Zakat Fitrah" href="http://konsultasisyariah.com/kadar-zakat-fitrah" target="_blank" rel="nofollow">ketentuan zakat</a></em></strong>), terkait kewajiban zakat fitri.</p>
<p>Mayoritas ulama (Malikiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah) memberikan batasan, bahwa<strong> jika seseorang memiliki sisa makanan untuk dirinya dan keluarganya pada malam hari raya dan besok paginya maka dia wajib membayar zakat fitri</strong>, karena dalam Islam, orang yang berada dalam keadaan semacam ini telah dianggap berkecukupan.</p>
<blockquote>
<p style="text-align: left;">Sebagaimana sabda Nabi<em> shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, “<em>Barang siapa yang meminta, sementara dia memiliki sesuatu yang mencukupinya, maka dia telah memperbanyak api neraka (yang akan membakar dirinya)</em>.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apa ukuran sesuatu yang mencukupinya (sehingga tidak boleh meminta)?” Beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menjawab, “<strong><em>Dia memiliki sesuatu yang mengeyangkan untuk (dirinya dan keluarganya) selama sehari-semalam</em></strong>.” (H.r. Abu Daud; dinilai <em>sahih</em> oleh Syekh Al-Albani)</p>
</blockquote>
<p>Imam Ahmad ditanya, &#8220;Apakah orang miskin wajib mengeluarkan zakat fitri?&#8221;</p>
<p>Beliau <em>rahimahullah</em> menjawab,</p>
<p class="arab">إِذَا كَانَ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَمَا فَضُلَ عَنْهُ لِيُؤَدِّي</p>
<p>“<em>Jika dia memiliki bahan makanan yang cukup untuk satu hari maka sisanya ditunaikan untuk zakat</em>.”</p>
<p>Beliau ditanya lagi, &#8220;Jika dia tidak memiliki apa pun?&#8221; Imam Ahmad menjawab, “Dia tidak wajib membayar zakat apa pun.” (<em>Al-Masail Imam Ahmad</em>, riwayat Abu Daud, 1:124)</p>
<p>Ibnu Qudamah mengatakan, “Zakat fitri tidak wajib kecuali dengan dua syarat. Salah satunya, dia memiliki sisa makanan untuk dirinya dan keluarganya pada malam dan siang hari raya sebanyak satu <em>sha’</em>. karena nafkah untuk pribadi itu lebih penting, sehingga wajib untuk didahulukan, berdasarkan sabda Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, &#8216;<em>Mulai dari dirimu dan orang yang kamu tanggung nafkahnya</em>.&#8217; (H.r. At-Turmudzi).” (lihat <em>Al-Kafi fi Fiqh Hanbali</em>, 1:412).</p>
<p>Kemudian Ibnu Qudamah memberikan rincian, &#8220;Jika tersisa satu <em>sha’</em> (dari kebutuhan makan sehari-semalam ketika hari raya, <em>pen.</em>) maka dia membayarkan satu <em>sha’</em> tersebut sebagai zakat untuk dirinya.</p>
<p>Jika tersisa lebih dari 1 <em>sha’</em> (misalnya: 2 <em>sha’</em>) maka satu <em>sha’</em> untuk zakat dirinya dan satu <em>sha’</em> berikutnya dibayarkan sebagai zakat untuk orang yang paling berhak untuk didahulukan dalam mendapatkan nafkah (misalnya: istri).</p>
<p>Jika sisanya kurang dari satu <em>sha’</em>, apakah sisa ini bisa dibayarkan sebagai zakat? Dalam hal ini, ada dua pendapat:</p>
<ol>
<li>Wajib ditunaikan sebagai zakat, berdasarkan keumuman sabda Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, &#8216;<em>Jika aku perintahkan sesuatu maka amalkanlah semampu kalian</em>.&#8217; (H.r. Al-Bukhari dan Muslim)</li>
<li>Tidak wajib ditunaikan, karena belum memenuhi ukuran zakat yang harus ditunaikan (yaitu satu<em> sha’</em>).</li>
</ol>
<p>Jika terdapat sisa satu <em>sha’</em> namun dia memiliki utang, manakah yang harus didahulukan? Dalam hal ini, ada dua keadaan:</p>
<ol>
<li>Orang yang memberi utang meminta agar segera dilunasi maka didahulukan pelunasan utang daripada zakat, karena ini adalah hak anak Adam yang bersifat mendesak.</li>
<li>Orang yang memberi utang tidak menagih utangnya maka wajib dibayarkan untuk zakat, karena kewajiban zakat ini mendesak sementara kewajiban membayar utang tidak mendesak sehingga lebih didahulukan zakat.&#8221;</li>
</ol>
<h3>Catatan berapa ketentuan zakat bagi yang tidak mampu:</h3>
<p><strong>Terkadang ada orang yang berhak menerima zakat dan sekaligus berkewajiban membayar zakat fitri</strong>, karena dia memiliki simpanan beras, lebih dari yang dia butuhkan, baik beras itu berasal dari panen sendiri, diberi oleh orang lain, atau beras yang dikumpulkan dari setiap orang yang memberikan zakat fitri kepadanya.</p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>).</strong><br />
<strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/ketentuan-zakat-fitri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

