<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Konsultasi Kesehatan dan Tanya Jawab Pendidikan Islam &#187; Puasa</title>
	<atom:link href="http://www.konsultasisyariah.com/category/puasa/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.konsultasisyariah.com</link>
	<description>KonsultasiSyariah.com</description>
	<lastBuildDate>Tue, 21 May 2013 03:40:51 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Mengapa Puasa Rajab?</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/mengapa-puasa-rajab/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/mengapa-puasa-rajab/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 May 2013 21:43:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[bulan haram]]></category>
		<category><![CDATA[bulan rajab]]></category>
		<category><![CDATA[puasa rajab]]></category>
		<category><![CDATA[sya'ban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=17969</guid>
		<description><![CDATA[Puasa Rajab Telah menjadi tradisi, begitu masuk bulan rajab, keyword puasa rajab menjadi naik pesat. Google trends pekan inipun melaporkan, kata kunci puasa rajab naik tajam. Setidaknya ini bukti bagaimana perhatian kaum muslimin terhadap fadilah puasa rajab, meskipun kasus ini ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Puasa Rajab</strong></h2>
<p>Telah menjadi tradisi, begitu <strong>masuk bulan rajab</strong>, keyword puasa rajab menjadi naik pesat. Google trends pekan inipun melaporkan, kata kunci puasa rajab naik tajam. Setidaknya ini bukti bagaimana perhatian kaum muslimin terhadap fadilah puasa rajab, meskipun kasus ini tidak kita jumpai untuk bulan-bulan lainnya.<br />
<span id="more-17969"></span><br />
Pertanyaan besar yang layak kita renungkan, mengapa hanya puasa rajab yang paling banyak dicari? Mengapa pencarian ini tidak gencar untuk <a title="puasa sya'ban" href="www.konsultasisyariah.com/adakah-amalan-nisfu-syaban-dalam-islam/" target="_blank"><strong>puasa Sya’ban</strong></a>, Dzulqa’dah, <a title="muharam" href="http://www.konsultasisyariah.com/amalan-di-bulan-muharram/" target="_blank"><strong>Muharam</strong></a>, atau 9 hari pertama Dzulhijjah?</p>
<p>Tentu saja jawabannya adalah masalah motivasi (fadilah) puasa rajab. Mereka perhatian dengan puasa rajab, karena diyakini puasa ini memiliki fadilah yang amat besar. Semangat untuk mendapatkan fadilah ini yang mendorong orang secara semarak melakukan puasa rajab.</p>
<p>Ini berbeda dengan bulan-bulan selain rajab dan ramadhan. Pencarian orang tentang puasa Sya’ban, Dzulqa’dah, Muharam, atau Dzulhijjah tidak begitu gempar. Bisa jadi karena mereka beranggapan puasa di bulan-bulan tidak memiliki fadilah yang besar.</p>
<h3><strong>Alasan Utama Puasa Rajab</strong></h3>
<p>Setelah membaca situs besar yang paling getol memotivasi <a title="puasa rajab" href="http://www.konsultasisyariah.com/adakah-puasa-bulan-rajab/" target="_blank"><strong>puasa rajab</strong></a>, alasan pokok untuk membela pendapat mereka adalah hadis tentang anjuran puasa di bulan haram. Sebelumnya perlu kita pahami, bulan haram ada 4: Dzul Qa’dah, Dzulhijah, Muharam, dan Rajab.</p>
<p>Kembali pada hadis anjuran puasa bulan haram. Hadis yang diisyaratkan tersebut adalah hadis dari Mujibah Al-Bahiliyah dari bapaknya atau pamannya, Abdullah bin Harits Al-Bahily. Sahabat ini mendatangi Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, setelah bertemu dan menyatakan masuk islam, beliau kemudian pulang kampungnya. Satu tahun kemudian, dia datang lagi menemui Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>“Ya Rasulullah, apakah anda masih mengenal saya.” Tanya Kahmas,</p>
<p>“Siapa anda?” tanya Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>“Saya Al-Bahily, yang dulu pernah datang menemui anda setahun yang lalu.” Jawab sahabat</p>
<p>“Apa yang terjadi dengan anda, padahal dulu anda berbadan segar?” tanya Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>“Saya tidak pernah makan, kecuali malam hari, sejak saya berpisah dengan anda.” Jawab sahabat.</p>
<p>Menyadari semangat sahabat ini untuk berpuasa, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menasehatkan,</p>
<p class="arab">لِمَ عَذَّبْتَ نَفْسَكَ، صُمْ شَهْرَ الصَّبْرِ، وَيَوْمًا مِنْ كُلِّ شَهْرٍ</p>
<p><em>Mengapa engkau menyiksa dirimu. Puasalah di bulan sabar (ramadhan), dan puasa sehari setiap bulan.</em></p>
<p>Namun Al-Bahily selalu meminta tambahan puasa sunah,</p>
<p>“Puasalah sehari tiap bulan.” Orang ini mengatakan, “Saya masih kuat. Tambahkanlah!” “Dua hari setiap bulan.” Orang ini mengatakan, “Saya masih kuat. Tambahkanlah!” “Tiga hari setiap bulan.” Orang ini tetap meminta untuk ditambahi. Sampai akhirnya Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> memberikan kalimat pungkasan,</p>
<p class="arab">صُمْ مِنَ الحُرُمِ وَاتْرُكْ، صُمْ مِنَ الحُرُمِ وَاتْرُكْ، صُمْ مِنَ الحُرُمِ وَاتْرُكْ</p>
<p><em>“Berpuasalah di bulan haram, lalu jangan puasa (kecuali ramadhan)…, Berpuasalah di bulan haram, lalu jangan puasa…, Berpuasalah di bulan haram, lalu jangan puasa.”</em></p>
<p><strong>Status Hadis:</strong></p>
<p>Hadis ini diriwayatkan Ahmad, Abu Daud, Al-Baihaqi dan yang lainnya. Hadis ini dinilai sahih oleh sebagian ulama dan dinilai dhaif oleh ulama lainnya, sebagaimana dijelaskan dalam Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abu Daud dan As-Suyuthi dalam Syarh Sunan Ibn Majah. Salah satu diantara masalahnya adalah adanya perawi yang majhul (tidak diketahui statusnya), yang setidaknya membuat mereka meragukan keabsahan hadis ini.</p>
<p>Terlepas dari perdebatan status keshahihan hadis, jika kita perhatikan, dzahir hadis ini tidaklah menunjukkan adanya keutamaan KHUSUS untuk puasa rajab. Ada beberapa sisi untuk menjelaskan ini:</p>
<p>Dalam hadis tersebut, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam justru menyarankan puasa di bulan haram sebagai alternatif terakhir, setelah sahabat tersebut berusaha mendesak agar bisa memperbanyak puasa sunah. Namanya alternatif terakhir, tentu fadilahnya tidak lebih besar dibandingkan alternatif pertama atau kedua.</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> tidak memberikan saran yang sama untuk sahabat yang lain. Artinya bisa jadi hadis ini bersifat kasuistik (qadhiyatul ‘ain). Jika tidak, tentu Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> akan memotivasi sahabat lainnya untuk melakukan hal yang sama, berpuas di bulan haram.</p>
<p>Yang disarankan Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam adalah puasa bulan haram, bukan puasa rajab SAJA. Ketika kita bersikap adil, seharusnya kita memiliki semangat yang sama untuk bulan Dzulqa’dah, Dzulhijah, dan Muharam. Karena itulah, kami jadikan ini sebagai pertanyaan besar di awal artikel.</p>
<p>Pertanyaan ini mengundang dugaan, pasti ada keistimewaan dan fadhilah lain khusus untuk puasa rajab, yang menjadi motivasi mereka diluar anjuran Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> untuk puasa di bulan haram.</p>
<h3><strong>Tidak Ada Anjuran Khusus Puasa Rajab</strong></h3>
<p>Sekalipun situs ormas besar itu sangat getol menganjurkan puasa rajab, namun dia tidak menyebutkan dalil shahih yang secara khusus menyebutkan keutamaan puasa rajab. Mereka sadar, semua hadis yang menyinggung fadilah puasa rajab statusnya hadis lemah, yang tidak bisa menjadi dalil. Dengan demikian, tameng utama mereka untuk menganjurkan puasa rajab adalah hadis Mujibah Al-Bahiliyah yang telah kita kupas sebelumnya. Selanjutnya mereka hanya sebutkan hadis-hadis yang lemah itu di bagian paling belakang artikel, yang diharapkan bisa memotivasi orang untuk melakukan puasa khusus di bulan rajab.</p>
<p>Diantara bukti bahwa hadis yang secara khusus menganjurkan puasa rajab merupakan hadis lemah, adalah keterangan beberapa ulama hadis, diantaranya,</p>
<p>Al-Hafidz Ibnu Hajar, dalam karyanya Tabyinul Ujub bi Ma Warada fi Fadli Rajab, menjelaskan,</p>
<p class="arab">لم يرد في فضل شهر رجب ، ولا في صيامه ، ولا في صيام شيء منه معين ، ولا في قيام ليلة مخصوصة فيه حديث صحيح يصلح للحجة ، وقد سبقني إلى الجزم بذلك الإمام أبو إسماعيل الهروي الحافظ</p>
<p>“Tidak terdapat riwayat yang sahih yang layak dijadikan dalil tentang keutamaan bulan Rajab, tidak pula riwayat yang shahih tentang puasa rajab, atau puasa di tanggal tertentu bulan Rajab, atau shalat tahajud di malam tertentu bulan rajab. Keterangan saya ini telah didahului oleh keterangan Imam Al-Hafidz Abu Ismail Al-Harawi.” (Tabyinul Ujub bi Ma Warada fi Fadli Rajab, hlm. 6).</p>
<p>Keterangan yang sama juga disampaikan oleh Imam Ibnu Rajab. Dalam karyanya yang mengupas tentang amalan sepanjang tahun, yang berjudul Lathaiful Ma’arif, beliau menegaskan tidak ada shalat sunah khusus untuk bulan rajab,</p>
<p class="arab">لم يصح في شهر رجب صلاة مخصوصة تختص به و الأحاديث المروية في فضل صلاة الرغائب في أول ليلة جمعة من شهر رجب كذب و باطل لا تصح و هذه الصلاة بدعة عند جمهور العلماء</p>
<p>“Tidak terdapat dalil yang sahih tentang anjuran shalat tertentu di bulan Rajab. Adapun hadis yang menyebutkan keutamaan shalat Raghaib di malam Jumat pertama bulan Rajab adalah hadis dusta, batil, dan tidak sahih. Shalat Raghaib adalah bid’ah, menurut mayoritas ulama.” (Lathaiful Ma’arif, hlm. 213)</p>
<p>Terkait masalah puasa di bulan Rajab, Imam Ibnu Rajab juga menegaskan,</p>
<p class="arab">لم يصح في فضل صوم رجب بخصوصه شيء عن النبي صلى الله عليه و سلم و لا عن أصحابه و لكن روي عن أبي قلابة قال : في الجنة قصر لصوام رجب قال البيهقي : أبو قلابة من كبار التابعين لا يقول مثله إلا عن بلاغ و إنما ورد في صيام الأشهر الحرم كلها</p>
<p>“Tidak ada satu pun hadis sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang keutamaan puasa bulan Rajab secara khusus. Hanya terdapat riwayat dari Abu Qilabah, bahwa beliau mengatakan, ‘Di surga terdapat istana untuk orang yang rajin berpuasa di bulan Rajab.’ Namun, riwayat ini bukan hadis. Imam Al-Baihaqi mengomentari keterangan Abu Qilabah, ‘Abu Qilabah termasuk tabi’in senior. Beliau tidak menyampaikan riwayat itu, melainkan hanya kabar tanpa sanad.’ Riwayat yang ada adalah riwayat yang menyebutkan anjuran puasa di bulan haram seluruhnya” (Lathaiful Ma’arif, hlm. 213)</p>
<h3><strong>Para Sahabat Melarang Mengkhususkan Rajab untuk Puasa</strong></h3>
<p>Kebiasaan mengkhususkan puasa di bulan rajab sejatinya telah ada di zaman Umar radhiyallahu &#8216;anhu. Beberapa tabiin yang hidup di zaman Umar bahkan telah melakukannnya. Dengan demikian, kita bisa mengacu bagaimana sikap sahabat terhadap fenomena terkait kegiatan bulan rajab yang mereka jupai.</p>
<p>Berikut beberapa riwayat yang menyebutkan reaksi mereka terhadap puasa rajab. Riwayat ini kami ambil dari buku Lathaiful Ma’arif, satu buku khusus karya Ibnu Rajab, yang membahas tentang wadzifah (amalan sunah) sepanjang masa,</p>
<p class="arab">روي عن عمر رضي الله عنه : أنه كان يضرب أكف الرجال في صوم رجب حتى يضعوها في الطعام و يقول : ما رجب ؟ إن رجبا كان يعظمه أهل الجاهلية فلما كان الإسلام ترك</p>
<p>Diriwayatkan dari Umar bin Khatab radhiyallahu &#8216;anhu, bahwa beliau memukul telapak tangan beberapa orang yang melakukan puasa rajab, sampai mereka meletakkan tangannya di makanan. Umar mengatakan, “Apa rajab? Sesungguhnnya rajab adalah bulan yang dulu diagungkan masyarakat jahiliyah. Setelah islam datang, ditinggalkan.”</p>
<p>Dalam riwayat yang lain,</p>
<p class="arab">كرِهَ أن يَكونَ صِيامُه سُنَّة</p>
<p>“Beliau benci ketika puasa rajab dijadikan sunah (kebiasaan).”</p>
<p>(Lathaif Al-Ma’arif, 215).</p>
<p>Dalam riwayat yang lain, tentang sahabat Abu Bakrah radhiyallahu &#8216;anhu,</p>
<p class="arab">أنه رأى أهله قد اشتروا كيزانا للماء واستعدوا للصوم فقال : ما هذا ؟ فقالوا: رجب. فقال: أتريدون أن تشبهوه برمضان ؟ وكسر تلك الكيزان</p>
<p>Beliau melihat keluarganya telah membeli bejana untuk wadah air, yang mereka siapkan untuk puasa. Abu Bakrah bertanya: ‘Puasa apa ini?’ Mereka menjawab: ‘Puasa rajab’ Abu Bakrah menjawab, ‘Apakah kalian hendak menyamakan rajab dengan ramadhan?’ kemudian beliau memecah bejana-bejana itu. (Riwayat ini disebutkan oleh Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni 3/107, Ibn Rajab dalam Lathaif hlm. 215, Syaikhul Islam dalam Majmu’ Fatawa 25/291, dan Al-Hafidz ibn Hajar dalam Tabyi Al-Ujb hlm. 35)</p>
<p>Ibnu Rajab juga menyebutkan beberapa riwayat lain dari beberapa sahabat lainnya, seperti Ibnu Umar dan Ibnu Abbas, bahwa mereka membenci seseorang yang melakukan puasa rajab sebulan penuh.</p>
<p>Sikap mereka ini menunjukkan bahwa mereka memahami <a title="bulan rajab" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">bulan rajab</a> bukan bulan yang dianjurkan untuk dijadikan waktu berpuasa secara khusus. Karena kebiasaan itu sangat mungkin, tidak mereka alami di zaman Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.</p>
<p><em>Allahu a’lam</em></p>
<p><strong>Oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a title="konsultasi agama islam dan kesehatan" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a>)</strong></p>
<blockquote><p>Artikel ini didukung oleh:</p>
<ul>
<li>Zahir Accounting. <a title="Software Akuntansi Terbaik di Indonesia" href="http://zahiraccounting.com/id/" target="_blank" rel="nofollow"><strong>Software Akuntansi Terbaik di Indonesia</strong></a>.</li>
<li>Ahliherbal.com. <strong><a href="http://ahliherbal.com" target="_blank" rel="nofollow">Agen Herbal Grosir dan Eceran</a></strong>.</li>
</ul>
<p>Anda juga dapat menjadi sponsor di video dan website dakwah di Yufid.com Network, silakan hubungi: marketing@yufid.org untuk menjadi sponsor.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/mengapa-puasa-rajab/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Adakah Puasa Bulan Rajab?</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/adakah-puasa-bulan-rajab/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/adakah-puasa-bulan-rajab/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 12 May 2013 23:00:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[RAMADHAN]]></category>
		<category><![CDATA[amalan]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[apa nama puasa 3 hri awal atau akhir sebelum puasa?]]></category>
		<category><![CDATA[bolehkah ganti puasa di akhir rejab]]></category>
		<category><![CDATA[bulan bulan untuk puasa]]></category>
		<category><![CDATA[dalil puasa di bulan rajab versi salafi]]></category>
		<category><![CDATA[hadis puasa]]></category>
		<category><![CDATA[hadist shahih batas puasa sunnah menjelang ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[hadist sholat puasa zakat]]></category>
		<category><![CDATA[hadits shahih tentang puasa rajab]]></category>
		<category><![CDATA[hadits tekait dengan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[hadits tentang batasan puasa menjelang ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[hadits tentang puasa ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[hukum puasa bulan rajab hukum]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[jari]]></category>
		<category><![CDATA[jin]]></category>
		<category><![CDATA[keutamaan bagi orang yang berpuasa pada bulan rajab]]></category>
		<category><![CDATA[keutamaan menyetubuhi istri bi malam jum'at]]></category>
		<category><![CDATA[keutamaan puasa rojab]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[niat berpuasa menurut salaf]]></category>
		<category><![CDATA[niat puasa]]></category>
		<category><![CDATA[niat puasa menurut hadist shahih]]></category>
		<category><![CDATA[pertanyaan hadis puasa]]></category>
		<category><![CDATA[pertanyaan seputar puasa]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[puasa bulan rajab]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[shalat tahajud]]></category>
		<category><![CDATA[sunah]]></category>
		<category><![CDATA[surga]]></category>
		<category><![CDATA[tentang puasa di bulan rajab]]></category>
		<category><![CDATA[zakat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=5104</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Akhir-akhir ini, banyak orang yang berpuasa di awal bulan Rajab. Saya ingin bertanya, apakah ada tuntunannya dari Rasulullah puasa hanya di awal bulan Rajab atau hanya beberapa hari saja di bulan Rajab? Hendra Irawan (**hendra@***.com) ===&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-======[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-**\___________/**&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;Jawaban: Bismillah was shalatu ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Akhir-akhir ini, banyak orang yang berpuasa di awal bulan Rajab. Saya ingin bertanya, apakah ada tuntunannya dari Rasulullah puasa hanya di awal bulan Rajab atau hanya beberapa hari saja di bulan Rajab?</p>
<p><em>Hendra Irawan (**hendra@***.com)</em><br />
===&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-======[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-**\___________/**&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;<span id="more-5104"></span><strong>Jawaban:</strong></p>
<p><i>Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,</i></p>
<p>Tidak terdapat amalan khusus terkait bulan Rajab, baik bentuknya shalat, puasa, zakat, maupun umrah. Mayoritas ulama menjelaskan bahwa hadis yang menyebutkan amalan di bulan Rajab adalah hadis dhaif dan tertolak.</p>
<p>Ibnu Hajar mengatakan,</p>
<p class="arab">لم يرد في فضل شهر رجب ، ولا في صيامه ، ولا في صيام شيء منه معين ، ولا في قيام ليلة مخصوصة فيه حديث صحيح يصلح للحجة ، وقد سبقني إلى الجزم بذلك الإمام أبو إسماعيل الهروي الحافظ</p>
<p> “Tidak terdapat riwayat yang sahih yang layak dijadikan dalil tentang keutamaan bulan Rajab, tidak pula riwayat yang shahih tentang puasa rajab, atau puasa di tanggal tertentu bulan Rajab, atau shalat tahajud di malam tertentu bulan rajab. Keterangan saya ini telah didahului oleh keterangan Imam Al-Hafidz Abu Ismail Al-Harawi.” (Tabyinul Ujub bi Ma Warada fi Fadli Rajab, hlm. 6)</p>
<p>Keterangan yang sama juga disampaikan oleh Imam Ibnu Rajab. Dalam karyanya yang mengupas tentang amalan sepanjang tahun, yang berjudul <i>Lathaiful Ma’arif</i>,  beliau menegaskan tidak ada shalat sunah khusus untuk bulan rajab,</p>
<p class="arab">لم يصح في شهر رجب صلاة مخصوصة تختص به و الأحاديث المروية في فضل صلاة الرغائب في أول ليلة جمعة من شهر رجب كذب و باطل لا تصح و هذه الصلاة بدعة عند جمهور العلماء</p>
<p>“Tidak terdapat dalil yang sahih tentang anjuran shalat tertentu di bulan Rajab. Adapun hadis yang menyebutkan keutamaan shalat Raghaib di malam Jumat pertama bulan Rajab adalah hadis dusta, batil, dan tidak sahih. Shalat Raghaib adalah bid’ah, menurut mayoritas ulama.” (Lathaiful Ma’arif, hlm. 213)</p>
<p>Terkait masalah puasa di bulan Rajab, Imam Ibnu Rajab juga menegaskan,</p>
<p class="arab">لم يصح في فضل صوم رجب بخصوصه شيء عن النبي صلى الله عليه و سلم و لا عن أصحابه و لكن روي عن أبي قلابة قال : في الجنة قصر لصوام رجب قال البيهقي : أبو قلابة من كبار التابعين لا يقول مثله إلا عن بلاغ و إنما ورد في صيام الأشهر الحرم كلها</p>
<p>“Tidak ada satu pun hadis sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang keutamaan puasa bulan Rajab secara khusus. Hanya terdapat riwayat dari Abu Qilabah, bahwa beliau mengatakan, ‘Di surga terdapat istana untuk orang yang rajin berpuasa di bulan Rajab.’ Namun, riwayat ini bukan hadis. Imam Al-Baihaqi mengomentari keterangan Abu Qilabah, ‘Abu Qilabah termasuk tabi’in senior. Beliau tidak menyampaikan riwayat itu, melainkan hanya kabar tanpa sanad.’ Riwayat yang ada adalah riwayat yang menyebutkan anjuran puasa di bulan haram seluruhnya” (Lathaiful Ma’arif, hlm. 213)</p>
<p>Keterangan Ibnu Rajab yang menganjurkan adanya puasa di bulan haram, ditunjukkan dalam hadis dari Mujibah Al-Bahiliyah dari bapaknya atau pamannya, Al-Bahily. Sahabat Al-Bahily ini mendatangi Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, setelah bertemu dan menyatakan masuk islam, beliau kemudian pulang kampungnya. Satu tahun kemudian, dia datang lagi menemui Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.</p>
<p>“Ya Rasulullah, apakah anda masih mengenal saya.” Tanya Kahmas,</p>
<p>“Siapa anda?” tanya Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.</p>
<p>“Saya Al-Bahily, yang dulu pernah datang menemui anda setahun yang lalu.” Jawab sahabat</p>
<p>“Apa yang terjadi dengan anda, padahal dulu anda berbadan segar?” tanya Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.</p>
<p>“Saya tidak pernah makan, kecuali malam hari, sejak saya berpisah dengan anda.” Jawab sahabat.</p>
<p>Menyadari semangat sahabat ini untuk berpuasa, Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menasehatkan,</p>
<p class="arab">لِمَ عَذَّبْتَ نَفْسَكَ، صُمْ شَهْرَ الصَّبْرِ، وَيَوْمًا مِنْ كُلِّ شَهْرٍ</p>
<p>Mengapa engkau menyiksa dirimu. Puasalah di bulan sabar (ramadhan), dan puasa sehari setiap bulan.</p>
<p>Namun Al-Bahily selalu meminta tambahan puasa sunah,</p>
<p>“Puasalah sehari tiap bulan.” Orang ini mengatakan, “Saya masih kuat. Tambahkanlah!” “Dua hari setiap bulan.” Orang ini mengatakan, “Saya masih kuat. Tambahkanlah!” “Tiga hari setiap bulan.” Orang ini tetap meminta untuk ditambahi. Sampai akhirnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan kalimat pungkasan,</p>
<p class="arab">صُمْ مِنَ الحُرُمِ وَاتْرُكْ، صُمْ مِنَ الحُرُمِ وَاتْرُكْ، صُمْ مِنَ الحُرُمِ وَاتْرُكْ</p>
<p>“Berpuasalah di bulan haram, lalu jangan puasa (kecuali ramadhan)…, Berpuasalah di bulan haram, lalu jangan puasa…, Berpuasalah di bulan haram, lalu jangan puasa.” (HR. Ahmad, Abu Daud, Al-Baihaqi dan yang lainnya. Hadis ini dinilai sahih oleh sebagian ulama dan dinilai dhaif oleh ulama lainnya).</p>
<p>Bulan haram artinya bulan yang mulia. Allah memuliakan bulan ini dengan larangan berperang. Bulan haram, ada empat: Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.</p>
<h3><strong>Puasa di Bulan Haram</strong></h3>
<p>Hadis Mujibah Al-Bahiliyah menceritakan anjuan untuk berpuasa di semua bulan haram, sebagaimana yang ditegaskan Ibnu Rajab. Itupun anjuran puasa ini sebagai pilihan terakhir ketika seseorang hendak memperbanyak puasa sunah, sebagaimana yang disarankan oleh Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam kepada sahabat Al-Bahily. Karena itu, terlalu jauh ketika hadis ini dijadikan dalil anjuran puasa di bulan rajab secara khusus, sementara untuk bulan haram lainnya, kurang diperhatikan. Karena praktek yang dilakukan beberapa ulama, mereka berpuasa di seluruh bulan haram, tidak hanya bulan rajab. Sebagaimana dinyatakan oleh Ibnu Rajab,</p>
<p class="arab">قد كان بعض السلف يصوم الأشهر الحرم كلها منهم ابن عمر و الحسن البصري و أبو اسحاق السبيعي و قال الثوري : الأشهر الحرم أحب إلي أن أصوم فيها</p>
<p>Beberapa ulama salaf melakukan puasa di semua bulan haram, di antaranya: Ibnu Umar, Hasan Al-Bashri, dan Abu Ishaq As-Subai’i. Imam Ats-Tsauri mengatakan, “Bulan-bulan haram, lebih aku cintai untuk dijadikan waktu berpuasa.” (Lathaiful Ma’arif, hlm. 213).</p>
<h3><b>Para</b><b> Sahabat Melarang Mengkhususkan Rajab untuk Puasa</b></h3>
<p>Kebiasaan mengkhususkan puasa di bulan rajab telah ada di zaman Umar radhiyallahu &#8216;anhu. Beberapa tabiin yang hidup di zaman Umar bahkan telah melakukannnya. Dengan demikian, kita bisa mengacu bagaimana sikap sahabat terhadap fenomena terkait kegiatan bulan rajab yang mereka jupai.</p>
<p>Berikut beberapa riwayat yang menyebutkan reaksi mereka terhadap puasa rajab. Riwayat ini kami ambil dari buku Lathaiful Ma’arif, satu buku khusus karya Ibnu Rajab, yang membahas tentang wadzifah (amalan sunah) sepanjang masa,</p>
<p class="arab">روي عن عمر رضي الله عنه : أنه كان يضرب أكف الرجال في صوم رجب حتى يضعوها في الطعام و يقول : ما رجب ؟ إن رجبا كان يعظمه أهل الجاهلية فلما كان الإسلام ترك</p>
<p>Diriwayatkan dari Umar bin Khatab radhiyallahu &#8216;anhu, bahwa beliau memukul telapak tangan beberapa orang yang melakukan puasa rajab, sampai mereka meletakkan tangannya di makanan. Umar mengatakan, “Apa rajab? Sesungguhnnya rajab adalah bulan yang dulu diagungkan masyarakat jahiliyah. Setelah islam datang, ditinggalkan.”</p>
<p>Dalam riwayat yang lain,</p>
<p class="arab">كرِهَ أن يَكونَ صِيامُه سُنَّة</p>
<p>“Beliau benci ketika puasa rajab dijadikan sunah (kebiasaan).” (Lathaif Al-Ma’arif, 215).</p>
<p>Dalam riwayat yang lain, tentang sahabat Abu Bakrah radhiyallahu &#8216;anhu,</p>
<p class="arab">أنه رأى أهله قد اشتروا كيزانا للماء واستعدوا للصوم فقال : ما هذا ؟ فقالوا: رجب. فقال: أتريدون أن تشبهوه برمضان ؟ وكسر تلك الكيزان</p>
<p>Beliau melihat keluarganya telah membeli bejana untuk wadah air, yang mereka siapkan untuk puasa. Abu Bakrah bertanya: ‘Puasa apa ini?’ Mereka menjawab: ‘Puasa rajab’ Abu Bakrah menjawab, ‘Apakah kalian hendak menyamakan rajab dengan ramadhan?’ kemudian beliau memecah bejana-bejana itu. (Riwayat ini disebutkan oleh Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni 3/107, Ibn Rajab dalam Lathaif hlm. 215, Syaikhul Islam dalam Majmu’ Fatawa 25/291, dan Al-Hafidz ibn Hajar dalam Tabyi Al-Ujb hlm. 35)</p>
<p>Ibnu Rajab juga menyebutkan beberapa riwayat lain dari beberapa sahabat lainnya, seperti Ibnu Umar dan Ibnu Abbas, bahwa mereka membenci seseorang yang melakukan puasa rajab sebulan penuh.</p>
<p>Sikap mereka ini menunjukkan bahwa mereka memahami bulan rajab bukan bulan yang dianjurkan untuk dijadikan waktu berpuasa secara khusus. Karena kebiasaan itu sangat mungkin, tidak mereka alami di zaman Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.</p>
<p><strong>Kesimpulan:</strong></p>
<p>Kesimpulan dari keterangan di atas,</p>
<ol start="1">
<li>Tidak dijumpai dalil khusus yang menyebutkan keutamaan bulan rajab.</li>
<li>Tidak dijumpai dalil yang menyebutkan keutamaan puasa rajab atau shalat sunah khusus di bulan rajab.</li>
<li>Beberapa sahabat melarang orang mengkhususkan puasa khusus di bulan rajab atau melakukan puasa sebulan penuh selama bulan rajab.</li>
<li>Dalil yang menyebutkan keutamaan khusus bagi orang yang melakukan puasa rajab adalah hadis dhaif, dan tidak bisa dijadikan dalil.</li>
<li>Bagi orang yang rajin puasa, dibolehkan untuk memperbanyak puasa di bulan haram. Sebagaimana dinyatakan dalam hadis Al-Bahily. Hanya saja, hadis ini berlaku umum untuk semua puasa bulan haram, tidak hanya rajab.</li>
</ol>
<p><em>Allahu a’lam</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).</strong><br />
<strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/adakah-puasa-bulan-rajab/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Puasa di Hari Maulid</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/puasa-di-hari-maulid-nabi/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/puasa-di-hari-maulid-nabi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Jan 2013 09:51:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[kelahran nabi]]></category>
		<category><![CDATA[maulid]]></category>
		<category><![CDATA[maulud]]></category>
		<category><![CDATA[nabi]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=16082</guid>
		<description><![CDATA[Puasa di Hari Maulid Nabi Pertanyaan: Kita boleh pusa sunah tidak ketika mauled nabi? Dosa tidak?  (ketika puasa di hari maulid nabi, red) Dari: Fasah Ribu Jawaban: Alhamdulillah was shalatu was salamu &#8216;ala rasulillah, wa ba&#8217;du, Pertama, kita dianjurkan puasa ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Puasa di Hari Maulid Nabi</strong></h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Kita boleh pusa sunah tidak ketika mauled nabi? Dosa tidak?  (<em>ketika puasa di hari maulid nabi, red</em>)</p>
<p>Dari: Fasah Ribu<br />
<span id="more-16082"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Alhamdulillah was shalatu was salamu &#8216;ala rasulillah, wa ba&#8217;du,</em><strong></strong></p>
<p><strong>Pertama</strong>, kita dianjurkan puasa setiap hari senin. Puasa ini dilakukan setiap pekan, setiap hari senin.</p>
<p>Dari Abu Qatadah al-Anshari <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> ditanya tentang kebiasaan beliau berpuasa hari senin. Beliau menjawab,</p>
<p class="arab">ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ، وَيَوْمٌ بُعِثْتُ</p>
<p>&#8220;<em>Itu adalah hari dimana  aku dilahirkan dan hari aku diutus</em>.&#8221; (HR. Muslim).</p>
<p>Dalam riwayat lain, dalam sebuah hadis dari Usamah bin Zaid, beliau ditanya tentang alasan sering melaksanakan puasa senin dan kamis. Jawab beliau,</p>
<p class="arab">ذَانِكَ يَوْمَانِ تُعْرَضُ فِيهِمَا الْأَعْمَالُ عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ</p>
<p>&#8220;<em>Dua hari ini dilaporkan amal kepada Rabbul alamin, dan aku ingin, ketika amalku dilaporkan, aku dalam kondisi puasa</em>.&#8221; (HR. An-Nasa&#8217;i, dan dinilai hasan shahih oleh al-Albani).</p>
<p>Berdasarkan hadis ini, sebagian ulama menyimpulkan, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> melaksanakan puasa sunah hari senin, karena dua alasan,</p>
<p>1. Karena  pada hari itu amal para hamba dilaporkan kepada Allah, dan beliau ingin ketika amal beliau dilaporkan, beliau dalam kondisi puasa.</p>
<p>2. Pada hari itu, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dilahirkan dan diutus oleh Allah. Maka beliau puasa sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah.</p>
<p>Namun sekali lagi, puasa senin yang dilakukan oleh Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> itu, dikerjakan setiap pekan dan bukan setahun sekali atau selapan sekali. Sehingga ketika kita hendak mewujudkan rasa syukur seperti yang beliau lakukan, selayaknya puasa senin itu kita lakukan secara rutin.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, terdapat banyak puasa sunah yang dianjurkan dalam Islam. Dan secara umum, puasa sunah dalam islam dibagi menjadi dua:</p>
<p>1. Puasa sunah mutlak</p>
<p>Puasa sunah mutlak  adalah puasa sunah yang dikerjakan tanpa dibatasi waktu maupun tempat tertentu. Artinya bisa dikerjakan kapanpun selama tidak bertepatan dengan hari terlarang puasa, seperti hari raya, hari tasyrik, hari Jumat saja, atau hari Sabtu saja.</p>
<p>2. Puasa sunah muqayad</p>
<p>Puasa sunah <em>muqayad</em> adalah puasa sunah yang dikerjakan pada hari tertentu, berdasarkan anjuran dari Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Puasa ini ada yang tahunan, ada yang bulanan, dan ada yang mingguan. Seperti puasa Asyura di setiap tanggal 10 Muharam, puasa Arafah di setiap tanggal 9 Dzulhijjah, puasa Senin-Kamis setiap pekan, puasa hari putih (tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan), 6 hari di bulan Syawal, puasa Sya&#8217;ban, dst.</p>
<p>Dari sekian banyak puasa sunah <em>muqayad</em> yang Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tidak ada yang namanya puasa hari maulid. Padahal Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> juga mengajarkan puasa tahunan. Demikian pula, tidak kita jumpai beliau atau para sahabat melaksanakan puasa di hari maulid. Ini semua menunjukkan bahwa puasa maulid jatuh pada tanggal 12 rabi&#8217;ul awal, bukan termasuk puasa yang disyariatkan. Terlebih, para ulama ahli sejarah berbeda pendapat tentang tanggal lahirnya Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Kecuali jika tanggal 12 rabiul awal jatuh pada hari kamis, seperti saat ini (24 januari 2013). Kita dianjurkan untuk melaksanakan puasa kamis, bukan karena ini hari maulid, namun karena hari ini adalah hari kamis. Namun satu catatan, tidak boleh kita yakini, puasa hari kami saat ini memiliki nilai lebih atau keutamaan tambahan, karena  alasan bertepatan dengan hari maulid Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam</em></p>
<p>Referensi:</p>
<p><em>Fatwa Islam</em>, no. 137931</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a title="puasa di hari maulid nabi" href="http://konsultasisyariah.com/puasa-di-hari-maulid-nabi" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a>)</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/puasa-di-hari-maulid-nabi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cara Niat Puasa Qadha</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/cara-niat-puasa-qadha/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/cara-niat-puasa-qadha/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Dec 2012 22:13:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=13436</guid>
		<description><![CDATA[Niat Puasa Qadha Pertanyaan: Bagaimana cara melakukan niat puasa qadha? Dari: Nur Jawaban: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, wa ba’du Niat puasa qadha, sama halnya dengan niat puasa wajib lainnya, seperti puasa Ramadhan. Keterangan selengkapnya bisa Anda simak ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Niat Puasa Qadha</strong></h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Bagaimana cara melakukan <em>niat puasa qadha</em>?</p>
<p>Dari: Nur<br />
<span id="more-13436"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, wa ba’du</em></p>
<p>Niat puasa qadha, sama halnya dengan niat puasa wajib lainnya, seperti puasa Ramadhan. Keterangan selengkapnya bisa Anda simak di: <a title="cara niat puasa ramadhan yang benar" href="http://www.konsultasisyariah.com/cara-niat-puasa-ramadhan-yang-benar/" target="_blank">http://www.konsultasisyariah.com/cara-niat-puasa-ramadhan-yang-benar/</a></p>
<p>Karena itu, pada artikel ini, hanya mengulang dan menegaskan bahwa:</p>
<p>1. Tidak ada lafal khusus untuk niat puasa qadha</p>
<p>2. Tidak perlu melafalkan niat ketika hendak melakukan puasa qadha. Karena niat tempatnya di hati, dan bukan di lisan.</p>
<p>3. <a title="niat puasa qadha" href="http://konsultasisyariah.com/cara-niat-puasa-qadha" target="_blank" rel="nofollow">Niat puasa qadha</a> harus dilakukan sebelum masuk waktu subuh. Karena puasa qadha termasuk puasa wajib, yang harus dilakukan secara penuh, sehingga niatnya harus sudah dihadirkan sebelum subuh.</p>
<p>4. Inti niat adalah keinginan untuk melakukan puasa. Ketika Anda sadar bahwa besok pagi Anda akan mengqadha utang puasa Anda, maka Anda sudah dianggap berniat. Berbeda ketika Anda berpuasa di pagi hari, sementara dalam hati Anda belum menentukan bahwa ini adalah qadha, maka Anda belum dianggap puasa.</p>
<p>Sebegai ilustrasi:</p>
<p>- Si Ahmad terbiasa puasa senin kamis. Dia memiliki utang puasa Ramadhan 3 hari karena sakit. Pada malam kamis, si Ahmad mulai berencana melaksanakan kebiasaan puasa sunahnya. Ketika itu, si Ahmad tidak berkeinginan untuk menqadha puasaya. Dalam kondisi ini, si Ahmad belum dianggap berniat untuk melakukan puasa qadha. Sehingga puasanya pada hari kamis itu, dinilai sebagai puasa sunah dan bukan puasa qadha.</p>
<h3><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a title="konsultasi agama islam dan kesehatan" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a>)</strong></h3>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/cara-niat-puasa-qadha/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Berpuasa di Hari Natal dan Tahun Baru</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/hukum-berpuasa-di-hari-natal-dan-tahun-baru/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/hukum-berpuasa-di-hari-natal-dan-tahun-baru/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Dec 2012 09:37:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[belajar puasa]]></category>
		<category><![CDATA[natal]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[tahun baru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=15625</guid>
		<description><![CDATA[Puasa Bertepatan Hari Natal dan Tahun Baru Pertanyaan: Assalaamu&#8217;alaikum Ustadz. Saya ingin bertanya, bagaimana hukumnya jika kita berpuasa namun bertepatan dengan hari raya umat non-Muslim? Terima kasih. Dari: Muharani Jawaban: Wa’alaikumussalam Alhamdulillah Sengaja melakukan puasa secara khusus pada hari raya ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Puasa Bertepatan Hari Natal dan Tahun Baru</strong></h2>
<p><b>Pertanyaan:</b></p>
<p>Assalaamu&#8217;alaikum Ustadz.</p>
<p>Saya ingin bertanya, bagaimana hukumnya jika kita <em>berpuasa namun bertepatan dengan hari raya umat non-Muslim</em>?</p>
<p>Terima kasih.</p>
<p>Dari: Muharani<br />
<span id="more-15625"></span><br />
<b>Jawaban:</b></p>
<p>Wa’alaikumussalam</p>
<p>Alhamdulillah</p>
<p>Sengaja melakukan <a title="puasa" href="http://konsultasisyariah.com/hukum-berpuasa-di-hari-natal-dan-tahun-baru" target="_blank" rel="nofollow">puasa</a> secara khusus pada hari raya orang kafir, hukumnya makruh. Seperti sengaja berpuasa di hari natal atau tahun baru, atau hari raya orang kafir lainnya. Hal ini berbeda dengan orang yang memiliki kebiasaan puasa sunah tertentu, yang ternyata bertepatan dengan hari raya orang kafir. Misalnya, orang melakukan puasa Daud, dan ketika giliran berpuasa, bertepatan dengan hari Natal. Semacam ini tidak masalah, karena yang menjadi sasaran utamanya adalah puasa Daud, bukan hari Natalnya.</p>
<p>Al-Kasani mengatakan,</p>
<p class="arab">يكره صوم يوم السبت بانفراده, لأنه تشبه باليهود, وكذا صوم يوم النيروز, والمهرجان, لأنه تشبه بالمجوس, وكذا صوم الصمت وهو أن يمسك عن الطعام, والكلام جميعا, لأن النبي صلى الله عليه وسلم نهى عن ذلك، ولأنه تشبه بالمجوس</p>
<p>Makruh melakukan <a title="puasa" href="http://konsultasisyariah.com/hukum-berpuasa-di-hari-natal-dan-tahun-baru" target="_blank" rel="nofollow"><em>puasa</em></a> di hari sabtu secara khusus, karena ini termasuk bentuk meniru kebiasaan yahudi. Demikian pula puasa pada hari Nairuz dan Mihrajan (hari raya orang Majusi), karena termasuk menyerupai kebiasaan orang majusi. Juga dilarang melakukan puasa mbisu, dalam bentuk tidak mau makan dan mogok bicara sekaligus, karena Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam melarang hal itu, dan termasuk meniru kebiasaan orang majusi… (<i>Bada&#8217;I Shana&#8217;i</i>, 2:217).</p>
<p>Kita bisa perhatian, alasan utama pelarangan puasa khusus pada saat hari raya orang kafir adalah meniru kebiasaan mereka. Karena berpuasa pada hari tertentu secara khusus termasuk bentuk mengagungkan hari itu. Sebagaimana layaknya orang melakukan puasa hari Asyura. Sementara pada saat yang sama, orang kafir juga sedang mengagungkan hari itu.</p>
<p>Hal ini sebagaimana yang dinyatakan ar-Rahaibani,</p>
<p class="arab">ويكره صوم يوم النيروز وهو: اليوم الرابع من فصل الربيع، وصوم يوم المهرجان .., وهو: اليوم التاسع من فصل الخريف, قال الزمخشري: لما فيه من موافقة الكفار في تعظيمها، و يكره إفراد كل عيد لكفار بصوم, أو كل يوم يفردونه بتعظيم, ذكره الشيخان وغيرهما, إلا أن يوافق عادة فلا كراهة</p>
<p>Makruh melakukan puasa hari nairuz – yaitu hari keempat di musim semi – dan puasa hari mihrajan – yaitu hari kesembilan di musim panen. Az-Zamakhsyari mengatakan, &#8216;Itu disebabkan ada unsur keselarasan dengan orang kafir dalam mengagungkan hari itu.&#8217; Dan dimakruhkan mengkhususkan hari raya orang kafir, atau semua hari yang diagungkan orang kafir untuk puasa. Sebagaimana yang dinyatakan oleh dua guru besar dalam madzhab hambali (yaitu Majdud-Din Ibn Taimiyah dan Ibnu Qudamah, pen.) dan ulama lainnya. Kecuali jika puasa itu merupakan kebiasaan. Hukumnya tidak makruh (<i>Mathalib Uli sn-Nuha</i>, 5:439).</p>
<p><i>Allahu a&#8217;lam</i></p>
<p>Referensi: <i>Fatwa Syabakah Islamiyah</i>, no. 59324</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)</strong><br />
<strong> Artikel <a title="rubrik kesehatan dan tanya jawab pendidikan islam" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/hukum-berpuasa-di-hari-natal-dan-tahun-baru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bolehkah Puasa Hari Asyura Saja?</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/bolehkah-puasa-hari-asyura-saja/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/bolehkah-puasa-hari-asyura-saja/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Nov 2012 01:50:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=15087</guid>
		<description><![CDATA[Puasa Hari Asyura Saja Pertanyaan: Assalamu&#8217;alaikum. Ustadz apakah boleh kita puasa asyura pada tanggal 10 saja? Dari: Nuke Jawaban: Wa’alaikumussalam Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, wa ba’du Sebagian ulama berpendapat, puasa tanggal 10 saja hukumnya makruh. Karena Nabi ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2>Puasa Hari Asyura Saja</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Assalamu&#8217;alaikum.</p>
<p>Ustadz apakah boleh kita <strong>puasa asyura</strong> pada tanggal 10 saja?</p>
<p>Dari: Nuke<br />
<span id="more-15087"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Wa’alaikumussalam</p>
<p><em>Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, wa ba’du</em></p>
<p>Sebagian ulama berpendapat, puasa tanggal 10 saja hukumnya makruh. Karena Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berencana untuk puasa tanggal 9, di tahun berikutnya, dengan tujuan menyelisihi model puasa orang Yahudi. Ini merupakan pendapat Ibnu Abbas, Abu Hanifah dan yang dikuatkan Syaikh Ibn Baz <em>rahimahumullah</em>.</p>
<p>Sementara itu, ulama yang lain berpendapat bahwa melakukan puasa tanggal 10 saja tidak makruh. Akan tetapi yang lebih baik, diiringi dengan puasa sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya, dalam rangka melaksanakan sunnah Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Insya Allah, inilah pendapat yang lebih kuat.</p>
<p>Syaikhul Islam mengatakan,</p>
<p class="arab">صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ كَفَّارَةُ سَنَةٍ وَلا يُكْرَهُ إفْرَادُهُ بِالصَّوْمِ ..</p>
<p>“<em>Puasa hari asyura bisa menjadi kaffarah (penebus dosa) selama setahun, dan tidak dimakruhkan melaksanakan puasa asyura saja</em>.” (<em>al-Fatawa al-Kubra</em>, 5:378).</p>
<p>Dalam <em>Tuhfatul Muhtaj</em>, Ibn Hajar al-Haitami mengatakan:</p>
<p class="arab">وعاشوراء لا بأس بإفراده</p>
<p>“Puasa asyura, tidak masalah melaksanakannya tanpa diiringi puasa sebelum atau sesudahnya.” (<em>Tuhfatul Muhtaj</em>, 14:80)</p>
<p>Lajnah Daimah pernah ditanya tentang masalah ini, dan memberikan jawaban:</p>
<p class="arab">يجوز صيام يوم عاشوراء يوماً واحداً فقط ، لكن الأفضل صيام يوم قبله أو يوم بعده ، وهي السُنَّة الثابتة عن النبي صلى الله عليه وسلم بقوله : &#8221; لئن بقيت إلى قابل لأصومن التاسع</p>
<p>Boleh melakukan puasa hari asyura saja. Namun yang lebih utama adalah puasa sehari sebelumnya atau setelahnya. Ini merupakan sunah yang diajarkan dari Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, sebagaimana yang beliau sabdakan: “Jika saya masih hidup tahun depan, saya akan puasa di tanggal 9.” (HR. Muslim no. 1134).</p>
<p>(<em>Fatwa Lajnah</em>, 11:401).</p>
<p><em>Allahu a’lam</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a title="kumpulan tanya jawab syariah islam dan rubrik kesehatan" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">KonsultasiSyariah.com</a>)</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/bolehkah-puasa-hari-asyura-saja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wanita Haid Tidak Perlu Qadha Puasa Asyura &amp; Tetap Dapat Pahalanya</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/wanita-haid-tidak-perlu-qadha-puasa-asyura/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/wanita-haid-tidak-perlu-qadha-puasa-asyura/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Nov 2012 04:40:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Darah Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=15079</guid>
		<description><![CDATA[Wanita Haid Tidak Perlu Qadha Puasa Asyura dan Bisa Mendapatkan Pahalanya Pertanyaan: Jika ada wanita haid di tanggal 9, 10, dan 11 Muharam, bolehkah dia mengqadha puasa di tanggal-tanggal itu setelah suci. Jawaban: Alhamdulillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h3>Wanita Haid Tidak Perlu Qadha Puasa Asyura dan Bisa Mendapatkan Pahalanya</h3>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Jika ada <a title="wanita haid" href="http://konsultasisyariah.com/wanita-haid-tidak-perlu-qadha-puasa-asyura" target="_blank" rel="nofollow"><strong>wanita haid</strong></a> di tanggal 9, 10, dan 11 Muharam, bolehkah dia <strong>mengqadha puas</strong>a di tanggal-tanggal itu setelah suci.<br />
<span id="more-15079"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Alhamdulillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, wa ba’du,</em></p>
<p>Orang yang tidak bisa <a title="puasa asyura" href="http://www.konsultasisyariah.com/hari-asyura-amalan-dan-keutamannya/" target="_blank"><strong>puasa asyura</strong></a>, dia tidak perlu meng-qadhanya. Karena tidak ada dalil masalah ini. Di samping itu, pahala yang dijanjikan itu disyaratkan dengan melakukan puasa di tanggal 10 muharam. Sementara orang ini tidak berpuasa di hari itu.</p>
<p>Imam Ibnu Utsaimin pernah ditanya hal yang sama, kemudian beliau menjelaskan, Amalan sunah ada dua:</p>
<p>- Amalan sunah yang dilakukan karena sebab tertentu</p>
<p>- Amalan sunah yang tidak memiliki sebab, yang sering disebut puasa sunah mutlak.</p>
<p>Amalan sunah yang dilakukan karena sebab tertentu, kesempatan untuk melaksanakannya bisa habis dengan habisnya masa munculnya sebab itu, dan tidak bisa diqadha. Sebagai contoh, shalat tahiyatul masjid. Jika ada orang yang masuk masjid kemudian duduk agak lama, kemudian dia ingin melakukan shalat tahiyatul masjid maka shalat yang dia lakukan tidak bernilai tahiyatul masjid.</p>
<p>Termasuk dalam hal ini adalah puasa arafah dan puasa asyura. Jika ada orang yang menunda puasa asyura atau puasa arafah tanpa alasan yang dibenarkan maka dia tidak perlu mengqadhanya. Dan tidak bernilai puasa asyura jika dia mengqadhanya. Sementara jika ada orang yang memailiki udzur, seperti wanita haid, nifas, atau karena sakit, sehingga tidak bisa puasa asyura, pendapat yang kuat, dia tidak perlu qadha. Karena puasa asyura dibatasi dengan hari tertentu, dimana status hukum puasanya akan hilang bersamaan dengan selesainya hari itu. (Majmu’ Fatawa Ibn Utsaimin, 20/43).</p>
<h3>Tetap bisa mendapatkan pahalanya tanpa puasa</h3>
<p>Dalam fatwa islam (no. 146212) dinyatakan,</p>
<p>Orang yang memiliki udzur (alasan yang diterima) untuk tidak puasa, seperti wanita haid, nifas, orang sakit, atau musafir, sementara dia punya kebiasaan puasa di hari itu dan dia memiliki niat untuk melakukan puasa di hari itu, maka dia tetap mendapatkan pahala atas niatnya tersebut. Sebagaimana dinyatakan dalam hadis riwayat Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu &#8216;anhu, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p class="arab">إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا</p>
<p><em>“Apabila seorang hamba mengalami sakit atau safar (sehingga meninggalkan amalan sunah) maka dia tetap dicatat mendapatkan pahala sebagaimana amalan yang dia lakukan ketika mukim (tidak safar) atau ketika sehat.”</em> (HR. Bukhari 2996).</p>
<p>Al-Hafidz Ibn Hajar mengatakan,</p>
<p class="arab">( كُتِبَ لَهُ مِثْل مَا كَانَ يَعْمَل مُقِيمًا صَحِيحًا ) وَهُوَ فِي حَقّ مَنْ كَانَ يَعْمَل طَاعَة فمُنِع مِنْهَا ، وَكَانَتْ نِيَّته ـ لَوْلَا الْمَانِع ـ أَنْ يَدُوم عَلَيْهَا</p>
<p>Sabda Nabi<em> shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>,</p>
<p><em>“Dia tetap dicatat mendapatkan pahala sebagaimana amalan yang dia lakukan ketika mukim dan sehat”</em></p>
<p>Ini berlaku untuk orang yang punya kebiasaan melakukan amal soleh, kemudian dia terhalangi untuk melakukannya, sementara dia berniat untuk tetap merutinkannya, andaikan tidak ada penghalang.  (Fathul Bari, 6/136).</p>
<p>Allahu a&#8217;lam.</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a title="kumpulan tanya jawab syariah islam dan rubrik kesehatan" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">KonsultasiSyariah.com</a>)</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/wanita-haid-tidak-perlu-qadha-puasa-asyura/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hari Asyura: Amalan dan Keutamannya</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/hari-asyura-amalan-dan-keutamannya/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/hari-asyura-amalan-dan-keutamannya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Nov 2012 13:00:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=15056</guid>
		<description><![CDATA[Amalan Hari Asyura Pertanyaan: Assalamu alaikum, Sebentar lagi kita masuk hari Asyura, amalan apa yang disyariatkan? Dan Nuwun, Dari: Rijal, Sleman Jawaban: Kami belum mengetahui adanya amalan khusus yang dianjurkan ketika Asyura selain puasa di hari Asyura. Nabi shallallahu &#8216;alaihi ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2>Amalan Hari Asyura</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Assalamu alaikum,</p>
<p>Sebentar lagi kita masuk <a title="hari asyura" href="http://www.konsultasisyariah.com/memberi-kelapangan-untuk-keluarga-di-hari-asyura/" target="_blank"><strong>hari Asyura</strong></a>, amalan apa yang disyariatkan? Dan Nuwun,</p>
<p>Dari: Rijal, Sleman<br />
<span id="more-15056"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Kami belum mengetahui adanya amalan khusus yang dianjurkan ketika Asyura selain puasa di hari Asyura. Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ</p>
<p><em>Puasa hari Asyura, saya berharap agar Allah menghapuskan dosa satu tahun yang telah lewat.</em> (HR. Muslim 1162).</p>
<p><em>MasyaaAllah</em>, betapa luasnya karunia Allah kepada kita, hanya dengan puasa sehari Allah jadikan sebagai sebab pengampunan dosa satu tahun yang telah lewat. Dan Allah Maha Luas Ramatnya.</p>
<p>Karena tujuan ini, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam sangat antusias untuk melaksanakan puasa Asyura. Ibnu Abbas<em> radhiyallahu &#8216;anhuma</em> menceritakan:</p>
<p class="arab">مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَرَّى صِيَامَ يَوْمٍ فَضَّلَهُ عَلَى غَيْرِهِ إِلا هَذَا الْيَوْمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَهَذَا الشَّهْرَ يَعْنِي شَهْرَ رَمَضَانَ</p>
<p>“Saya belum pernah melihat Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> betul-betul memperhatikan puasa pada hari yang beliau istimewakan dari pada yang lainnya, melebihi puasa di hari ini yaitu Asyura dan bulan ini, yaitu Ramadhan.” (HR. Bukhari 1867).</p>
<p><strong>Jangan Sampai Tertipu</strong></p>
<p>Dari Abu Hurairah radhiyallahu &#8216;anhu, Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda:<br />
الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ، مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ مَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ<br />
Antar-shalat 5 waktu (shalat fardhu ke shalat fardhu berikutnya), jumatan ke jumatan berikutnya, ramadhan ke ramadhan berikutnya, bisa menjadi kafarah (penebus dosa) yang dilakukan diantara keduanya, selama dosa-dosa besar dijauhi. (HR. Ahmad 9197 &amp; Muslim 233).</p>
<p>Dengan menimbang hadis di atas, mari kita perhatikan keterangan Ibnul Qoyim berikut,<br />
Banyak orang yang merasa puasa <strong>asyura</strong> menghapuskan dosa-dosa satu tahun penuh, sehingga masih menyisakan puasa <strong>arafah</strong> yang akan menjadi tambahan pahala. Sayangnya orang yang tertipu (dengan banyaknya pahala) ini tidak menyadari bahwa puasa ramadhan, shalat 5 waktu, pahalanya lebih besar dan nilainya lebih mulia dibandingkan puasa arafah dan puasa asyura yang hanya bernilai sunah. Padahal amal-amal besar tadi (shalat 5 waktu, puasa ramadhan) hanya bisa menghapuskan dosa selama dosa besar dijauhi.<br />
Betapa puasa ramadhan sampai ramadhan berikutnya, jumatan sampai jumatan berikutnya, tidak mampu menghilangkan dosa-dosa kecil kecuali diiringi dengan tindakan meninggalkan dosa-dosa besar. sehingga dengan dua unsur ini, amal besar tersebut mampu menghapus dosa-dosa kecil. (<em>Al-Jawab Al-Kafi</em>, hlm. 13).</p>
<p>Lebih lanjut, Ibnul Qoyim mengatakan:<br />
Karena itu, bagaimana mungkin puasa sunah sehari mampu menghapus seluruh dosa besar yang pernah dilakukan oleh seorang hamba, sementara dia masih berlum bertaubat darinya? Ini satu hal yang mustahil!<br />
Meskipun bisa jadi puasa arafah dan puasa asyura bisa menjadi penghapus seluruh dosa secara umum, sementara dalil yang isinya ancaman menjadi syarat dan penghalang terhapusnya dosa, kemudian tidak bertaubat dari dosa besar bisa menjadi penghalang terhapusnya dosa yang lain. Sehingga bertaubat dari dosa dan puasa asyura bisa saling membantu untuk menjadi penghapus dosa secara umum, sebagaimana shalat 5 waktu, puasa ramadhan, dan sikap meninggalkan dosa besar bisa saling membantu untuk menghapuskan dosa kecil&#8230;. Sehingga bentuk penghapusan dosa dengan melakukan dua sebab, akan lebih kuat dan lebih sempurna jika hanya melakukan satu sebab. (<em>Al-Jawab Al-Kafi,</em> hlm. 13).</p>
<p>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)</p>
<p>Artikel Terkait Hari Asyura:</p>
<p>1. <a title="polemik tentang hari asyura" href="http://www.konsultasisyariah.com/memberi-kelapangan-untuk-keluarga-di-hari-asyura/" target="_blank"><strong>Polemik Tentang Hari Asyura</strong></a>.<br />
2. <a title="amalan bulan muharram" href="http://www.konsultasisyariah.com/amalan-di-bulan-muharram/" target="_blank">Amalan Bulan Muharram</a>.<br />
3. <a title="Hukum Menyantuni Anak Yatim Pada Hari Asyura" href="http://www.konsultasisyariah.com/menyantuni-anak-yatim-di-hari-asyura/http://" target="_blank">Hukum Menyantuni Anak Yatim Pada Hari Asyura</a>.<br />
4. <a title="Kematian Imam Husein Pada Hari Asyura" href="http://www.konsultasisyariah.com/peringatan-kematian-imam-husein/" target="_blank">Kematian Imam Husein Pada Hari Asyura</a>.</p>
<p>Tag: asyura, hari asyura syiah, amalan asyura, keutamaan hari asyura, peringatan asyura, puasa asyura, <strong>hari asyura.</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/hari-asyura-amalan-dan-keutamannya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keutamaan Berpuasa pada 9 Hari Awal Dzulhijjah</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/keutamaan-berpuasa-pada-9-hari-awal-dzulhijjah/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/keutamaan-berpuasa-pada-9-hari-awal-dzulhijjah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Oct 2012 03:20:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator 2</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Qurban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=14416</guid>
		<description><![CDATA[Memang tidak ada hadits khusus yang menunjukkan anjuran terhadap hal ini. Akan tetapi anjuran berpuasa pada hari-hari ini sudah tercakup dalam keumuman hadits karena puasa termasuk amal salih. Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan dalam al-Liqa’ asy-Syahri (no. 26): ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Memang tidak ada hadits khusus yang menunjukkan anjuran terhadap hal ini. Akan tetapi anjuran berpuasa pada hari-hari ini sudah tercakup dalam keumuman hadits karena puasa termasuk amal salih.</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin <em>rahimahullah</em> menjelaskan dalam <em>al-Liqa’ asy-Syahri</em> (no. 26):</p>
<p>Telah sahih dari Nabi<em> shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, bahwa beliau bersabda,</p>
<p class="arab">ما من أيام العمل الصالح فيهن أحب إلى الله من هذه الأيام العشر &#8211; أي: عشر ذي الحجة- قالوا: يا رسول الله ولا الجهاد في سبيل الله؟ قال: ولا الجهاد في سبيل الله، إلا رجل خرج بنفسه وماله فلم يرجع من ذلك بشيء</p>
<p><em>“Tidaklah ada suatu hari yang beramal salih pada hari-hari itu lebih dicintai Allah daripada beramal pada sepuluh hari ini –yaitu sepuluh hari awal Dzulhijjah-.” Mereka [para sahabat] bertanya, “Wahai Rasulullah! Apakah jihad fi sabilillah juga tidak lebih utama darinya?”. Beliau menjawab, “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali seorang lelaki yang berangkat berjihad dengan jiwa dan hartanya lalu dia kembali dalam keadaan tidak membawa apa-apa dari itu semua</em> (alias mati syahid, pent).” [1]</p>
<p>Hadits ini menunjukkan bahwa seyogyanya kita memperbanyak amal salih pada sepuluh hari awal <a title="dzulhijjah" href="http://www.konsultasisyariah.com/kumpulan-artikel-bulan-dzulhijjah/" target="_blank"><strong>Dzulhijjah</strong></a>… Dan semestinya kita juga mengerjakan puasa pada sepuluh hari itu; karena puasa termasuk bentuk amal salih. Memang tidak ada hadits khusus yang menunjukkan anjuran terhadapnya. Akan tetapi anjuran ini sudah termasuk dalam keumuman hadits tersebut, karena puasa termasuk dalam kategori amal salih. Oleh sebab itu, seyogyanya kita berpuasa pada sembilan hari yang pertama, karena hari yang kesepuluh adalah hari raya (Iedul Adha) sehingga tidak boleh berpuasa pada hari itu. Anjuran puasa ini semakin diperkuat pada <a title="hari arafah" href="http://www.konsultasisyariah.com/amalan-hari-tasyrik/" target="_blank"><strong>hari Arafah</strong></a> kecuali bagi para jama’ah haji.</p>
<p>Catatan Akhir:<br />
[1] HR. Bukhari, Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, Tirmidzi dari Ibnu ‘Abbas <em>radhiyallahu’anhuma</em></p>
<p><strong>Sumber :</strong> <strong>تبشير الإخوة بثبوت سُنِّية صوم أيام عشر ذي الحجة</strong> (<em>Tabsyir al-Ikhwah bi Tsubut Sunniyati Shaumi Ayyami ‘Asyara Dzilhijjah</em>) karya Syaikh Abdul Qadir bin Muhammad bin Abdurrahman al-Junaid.</p>
<p>Makalah beliau selengkapnya dapat Anda download di situs: <em>http://islamancient.com/play.php?catsmktba=102101</em></p>
<p><strong>Oleh Ustadz Ari Wahyudi</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/keutamaan-berpuasa-pada-9-hari-awal-dzulhijjah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memulai Puasa Syawal di Hari Jumat</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/memulai-puasa-syawal-di-hari-jumat/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/memulai-puasa-syawal-di-hari-jumat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Sep 2012 05:38:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[RAMADHAN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=13589</guid>
		<description><![CDATA[Memulai Puasa Sunnah Pada hari Jumat Pertanyaan: Assalamu&#8217;alaikum Apa hukumnya jika saya puasa hari Jumat dengan niat puasa Syawal dimana hari sebelumnya saya tidak berpuasa dan juga pada keesokan harinya. Pada hari selasa dan rabunya saya juga berpuasa. Dari: Ayyun ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2>Memulai Puasa Sunnah Pada hari Jumat</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Assalamu&#8217;alaikum</p>
<p>Apa hukumnya jika saya puasa <strong>hari Jumat</strong> dengan <a title="niat puasa sunnah" href="http://www.konsultasisyariah.com/mengubah-niat-puasa-sunah-menjadi-puasa-qadha/" target="_blank"><strong>niat puasa Syawal</strong></a> dimana hari sebelumnya saya tidak berpuasa dan juga pada keesokan harinya. Pada hari selasa dan rabunya saya juga berpuasa.</p>
<p>Dari: Ayyun</p>
<p><strong>Jawaban:</strong><br />
<span id="more-13589"></span><br />
<em>Alhamdulillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du</em></p>
<p>Mengkhususkan hari Jumat untuk puasa, hukumnya makruh menurut mayoritas ulama. Dari Abu Hurairah <em>radhiallahu ‘anhu</em>, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p class="arab">لا تختصوا ليلة الجمعة بقيام من بين الليالي ، ولا تخصوا يوم الجمعة بصيام من بين الأيام ، إلا أن يكون في صوم يصومه أحدكم</p>
<p>“<em>Janganlah kalian mengkhususkan malam Jumat untuk tahajud, sementara malam yang lain tidak. Dan jangan mengkhususkan hari Jumat untuk berpuasa tanpa hari yang lain. Kecuali jika puasa hari Jumat itu bagian rangkaian puasa kalian</em>.” (HR. Muslim)</p>
<p>Karena itu, dimakruhkan melakukan puasa sunah pada hari Jumat saja, tanpa diiringi hari yang lain, maskipun puasa sunah 6 hari di bulan Syawal. Karena puasa enam hari di bulan Syawal, termasuk puasa sunah, sehingga tercakup dalam keumuman larangan.</p>
<p>Jika disambung dengan puasa sehari sebelum atau sesudahnya, atau bertepatan dengan puasa sunah kebiasaannya, seperti orang yang merutinkan puasa Daud, atau hari Jumat itu bertepatan dengan hari dianjurkannya puasa, sepeti hari arafah maka tidak masalah, karena latar belakang larangan, yaitu mengkhususkan hari Jumat untuk puasa, sudah tidak ada.</p>
<p>Hikmah larangan mengkhususkan puasa hari Jumat</p>
<p>An-Nawawi mengatakan:</p>
<p class="arab">قال العلماء : والحكمة في النهى عنه : أن يوم الجمعة يوم دعاء وذكر وعبادة ، من الغسل والتبكير إلى الصلاة وانتظارها واستماع الخطبة وإكثار الذكر بعدها لقوله تعالى ( فإذا قضيت الصلاة فانتشروا في الأرض وابتغوا من فضل الله واذكروا الله كثيراً ) [سورة الجمعة الآية :10 ] &#8230;.</p>
<p>Para ulama mengatakan: hikmah larangan mengkhususkan hari Jumat untuk puasa adalah bahwa hari Jumat, hari untuk memperbanyak doa, dzikir, ibadah, seperti mandi, pergi di awal waktu menuju masjid, menunggu Jumatan di masjid, mendengarkan khutbah, memberbanyak dzikir kepadanya, berdasarkan firman Allah:</p>
<p class="arab">فإذا قضيت الصلاة فانتشروا في الأرض وابتغوا من فضل الله واذكروا الله كثيراً</p>
<p>“<em>Jika shalat sudah selesai maka menyebarlah di muka bumi dan carilah kemurahan Allah dan ingat Allah banyak-banyak.</em>“ (QS. Al-Jumu’ah: 10) (<em>Syarh shahih Muslim</em>)</p>
<p><em>Allahu a’lam</em></p>
<p>Disadur dari fatawa Syabakah islamiah, no. 6724</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">KonsultasiSyariah.com</a>)</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/memulai-puasa-syawal-di-hari-jumat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
