<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Konsultasi Kesehatan dan Tanya Jawab Pendidikan Islam &#187; Pakaian</title>
	<atom:link href="http://www.konsultasisyariah.com/category/pakaian/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.konsultasisyariah.com</link>
	<description>KonsultasiSyariah.com</description>
	<lastBuildDate>Thu, 17 May 2012 04:22:47 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Tas dari Kulit Ular atau Buaya</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/hukum-pakai-kulit-binatang/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/hukum-pakai-kulit-binatang/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Oct 2011 07:15:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[Pakaian]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[dompet kulit]]></category>
		<category><![CDATA[kulit binatang]]></category>
		<category><![CDATA[memanfaatkan kulit binatang]]></category>
		<category><![CDATA[sabuk kulit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7953</guid>
		<description><![CDATA[Hukum memakai kulit binatang Pertanyaan, Assalamu&#8217;alaikum ya Ustaz, saya ingin bertanya, apa hukumnya memakai dompet, tali pinggang dan sejenisnya yang terbuat dari kulit binatang (seperti kulit ular, buaya, dll.), terima kasih sebelumnya. wassalam. Rachmat (racXXXXXXX@ymail.com) Hukum memakai kulit binatang Wa ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Hukum memakai kulit binatang</h2>
<p>Pertanyaan, <em>Assalamu&#8217;alaikum ya Ustaz</em>, saya ingin bertanya, apa hukumnya memakai dompet, tali pinggang dan sejenisnya yang terbuat dari <strong>kulit binatang</strong> (seperti kulit ular, buaya, dll.), terima kasih sebelumnya. <em>wassalam</em>.</p>
<p><em>Rachmat (racXXXXXXX@ymail.com)</em><br />
<span id="more-7953"></span></p>
<h3>Hukum memakai kulit binatang</h3>
<p><em>Wa alaikumus salam</em></p>
<h3>Sabuk dari kulit ular atau kulit buaya</h3>
<p><em>Kulit binatang</em> yang halal dimakan dan telah disembelih maka boleh dimanfaatkan, seperti untuk bahan sepatu, sabuk, dan semacamnya. Karena menggunakan benda ini termasuk pemanfaatan yang Allah bolehkan untuk kita.</p>
<p>Sedangkan kulit hewan yang haram, atau hewan yang mati tidak disembelih, atau hewan yang diperselisihkan kehalalannya, seperti binatang buas, para ulama berselisih pendapat tentang hukum memanfaatkan kulitnya. Mengingat adanya beberapa hadis yang menunjukkan bolehnnya menggunakan kulit hewan semacam ini dan ada hadis yang menunjukkan terlarangnya memanfaatkan kulit tersebut.</p>
<p>Disebutkan dalam riwayat Abu Daud dan Turmudzi, bahwa Nabi<em> shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> melarang <u>kulit binatang</u> buas. Demikian pula, diriwayatkan Abu Daud dan Nasa&#8217;i bahwa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> melarang memakai kkulit binatang buas dan menunggangi binatang buas.</p>
<p>Hadis-hadis ini menunjukkan bahwa kulit binatang buas tidak boleh dimanfaatkan.</p>
<p>As-Syaukani dalam <em>Nailul Authar</em> mengatakan, &#8216;Hadis-hadis ini melarang memanfaatkan kulit binatang yang tidak boleh dimakan, (meskipun) dalam keadaan sudah kering. Berdasarkan keumuman hadis, kulit hewan yang haram dimakan juga tidak bisa suci dengan disembelih atau disamak.&#8217;</p>
<p><strong>Referensi:</strong> <em>http://www.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&amp;Option=FatwaId&amp;Id=12628</em></p>
<h3>Syaikh Ibn Utsaimin mengatakan, kulit binatang ada tiga macam:</h3>
<p><strong>Pertama,</strong> kulit yang suci, baik disamak maupun tidak disamak. Ini adalah jenis kulit hewan yang halal dimakan dan telah disembelih.</p>
<p><strong>Kedua,</strong> kulit hewan yang tidak bisa menjadi suci, baik setelah disamak ataupun sebelum disamak, hukumnya tetap najis. Ini adalah jenis kulit hewan yang tidak halal dimakan, seperti babi.</p>
<p><strong>Ketiga,</strong> kulit hewan yang bisa suci setelah disamak dan tidak bisa menjadi suci, jika belum disamak. Ini adalah kulit hewan yang boleh dimakan, tapi mati tanpa disembelih (bangkai). Seperti bangkai kambing, dll.</p>
<p>(<em>Liqa&#8217;at Bab Al-Maftuh</em>, volume 52, no. <img src='http://www.konsultasisyariah.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Sementara mayoritas ulama berpendapat bahwa ular, buaya, harimau adalah haram dimakan.<br />
Imam Nawawi mengatakan,<br />
“Madzhab para ulama tentang hewan melata, seperti ular, kala, kumbang, kecoa, tikus, dan semacamnya, pendapat kami (madzhab syafi&#8217;iyah) adalah haram. Ini merupakan pendapat Abu hanifah, Ahmad, dan Daud adz-Dzahiri. (<em>Al-Majmu&#8217;</em>, 9/16)</p>
<p>Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa tidak dibolehkan menggunakan kulit buaya, ular dan semacamnya.</p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">Ustadz Ammi Nur Baits</a> (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">Konsultasi Syariah</a>)</strong></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Artikel yang berhubungan dengan hukum memanfaatkan kulit binatang:</p>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/jual-beli-kucing" target="_blank" rel="nofollow">Haramnya Jual Beli Kucing</a>.</p>
<p>2. <a href="http://konsultasisyariah.com/jual-beli-tokek" target="_blank" rel="nofollow">Jual Beli Tokek</a>.</p>
<p>3. <a href="http://konsultasisyariah.com/jual-beli-tokek" target="_blank" rel="nofollow">Jual Beli Kotoran Hewan</a>.</p>
<p>4. <a href="http://konsultasisyariah.com/jual-beli-kulit-hewan-qurban" target="_blank" rel="nofollow">Dilarangnya Menjual Kulit Binatang Kurban</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/hukum-pakai-kulit-binatang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Bercelak Bagi Laki-laki</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/bercelak-bagi-laki-laki/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/bercelak-bagi-laki-laki/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Oct 2011 02:05:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[AKHLAK]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Pakaian]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[bercelak]]></category>
		<category><![CDATA[celak]]></category>
		<category><![CDATA[celak herbal]]></category>
		<category><![CDATA[indah dengan celak]]></category>
		<category><![CDATA[mata indah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7891</guid>
		<description><![CDATA[Hukum memakai bercelak mata untuk laki-laki Pertanyaan, &#8216;Bagaimana hukumnya bila seorang laki-laki bercelak mata?&#8217; Ade (kuXXXXX@yahoo.co.id) Hukum bercelak bagi laki-laki Bismillah, was shalatu was salamu &#8216;ala rasulillah Ulama berselisih pendapat tentang hukum bercelak untuk laki-laki: Dianjurkan bercelak dengan ismid secara ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Hukum memakai bercelak mata untuk laki-laki</h2>
<p>Pertanyaan, &#8216;Bagaimana hukumnya bila seorang laki-laki <strong>bercelak</strong> mata?&#8217;</p>
<p><em>Ade (kuXXXXX@yahoo.co.id)</em><br />
<span id="more-7891"></span></p>
<h3>Hukum bercelak bagi laki-laki</h3>
<p><em>Bismillah, was shalatu was salamu &#8216;ala rasulillah</em></p>
<p>Ulama berselisih pendapat tentang hukum <em>bercelak</em> untuk laki-laki:</p>
<p><strong>Dianjurkan bercelak</strong> dengan ismid secara mutlak. Ini adalah pendapat madzhab syafi’iyah dan madzhab hambali.</p>
<p><strong>Dibolehkan bercelak</strong> bagi lelaki untuk tujuan berdandan. Ini adalah pendapat yang dinukil dari Imam Malik<br />
Dimakruhkan <u>bercelak</u> bagi lelaki untuk tujuan berdandan, dan dibolehkan untuk selain berdandan. Ini adalah pendapat madzhab hanafiyah.</p>
<p><strong>Haram bercelak </strong>bagi lelaki untuk tujuan berdandan, dan dibolehkan untuk selain berdandan. Ini adalah pendapat madzhab malikiyah.</p>
<p>(<em>Ahkam Az-Zina</em>h, 2:511 – 516)</p>
<h3>Penjelasan Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin Hukum bercelak bagi laki-laki:</h3>
<p>Untuk masalah <a href="http://konsultasisyariah.com/memakai-celak-ketika-puasa" target="_blank" rel="nofollow">bercelak</a> dengan tujuan memperindah mata, apakah ini disyariatkan untuk laki-laki ataukah hanya untuk wanita?</p>
<p>Jawaban, &#8216;Yang dzahir, ini hanya disyariatkan untuk wanita saja. Sementara laki-laki, tidak butuh untuk memperindah matanya. Ada yang mengatakan, ini juga disyariatkan untuk laki-laki&#8230;. Ada juga yang berpendapat bahwa jika ada cacat pada mata seseorang yang butuh untuk diberi <strong>celak</strong> maka disyariatkan baginya bercelak. Jika tidak ada maka tidak perlu bercelak.&#8217; (<em>As-Syarhul Mumthi&#8217;</em>, 1: 101)</p>
<h3>Kesimpulan hukum bercelak bagi laki-laki:</h3>
<p>Bahwa dalam bercelak ada dua tujuan:</p>
<p><strong>Pertama,</strong> dalam rangka memperindah mata. Untuk tujuan ini, lelaki tidak butuh. Bahkan ada sebagian ulama yang melarang. Karena itu, sebaiknya ditinggalkan.<br />
<strong>Kedua,</strong> bercelak untuk tujuan lainnya, misalnya untuk pengobatan, para ulama menegaskan bolehnya hal ini.<br />
Allahu a&#8217;lam.</p>
<p><strong>Dijawab oleh <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">Ustadz Ammi Nur Baits</a> (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">Konsultasi Syariah</a>)</strong></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Artikel yang berkaitan dengan hukum <strong>bercelak</strong>: <a href="http://konsultasisyariah.com/memakai-celak-ketika-puasa" target="_blank" rel="nofollow">Hukum memakai celak saat puasa</a>.<strong><br />
</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/bercelak-bagi-laki-laki/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Adakah Anjuran Memotong Kuku di Hari Jumat?</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/hari-jumat-potong-kuku/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/hari-jumat-potong-kuku/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Jul 2011 22:11:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersuci]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Pakaian]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[cara menggunting kuku]]></category>
		<category><![CDATA[hadits mengenai mencukur rambut ketiak pada bulan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[hari jumat]]></category>
		<category><![CDATA[hari untuk potong kuku]]></category>
		<category><![CDATA[hukum cukur jenggot dan potong kuku pada saat puasa]]></category>
		<category><![CDATA[hukum memotong kuku saat puasa ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[hukum menggunting kuku saat puasa]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[memotong bulu kemaluan di bulan ramadhan hukumnya apa?]]></category>
		<category><![CDATA[memotong bulu kemaluan saat puasa]]></category>
		<category><![CDATA[memotong kuku dan kumis di bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[memotong kuku jum'at]]></category>
		<category><![CDATA[memotong kuku ketika puasa]]></category>
		<category><![CDATA[memotong kuku pada puasa]]></category>
		<category><![CDATA[memotong rambut saat puasa ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[mencukur alis mata]]></category>
		<category><![CDATA[mencukur bulu kemaluan pada saat puasa]]></category>
		<category><![CDATA[potong kuku pada bulan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[potong kuku sebelum sholat jumat]]></category>
		<category><![CDATA[potong kumis saat ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[potong kumis sedang berpuasa]]></category>
		<category><![CDATA[potong rambut kemaluan saat puasa]]></category>
		<category><![CDATA[rambut]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[susu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=5641</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Assalamu &#8216;alaikum. Pak Ustadz, apakah ada tata cara memotong/membuang kuku? Abu Zahwa (rdhany**@yahoo.***) Jawaban: Wa&#8217;alaikumussalam warahmatullah. Syekh Muhammad bin Ismail Al-Muqaddam mengatakan, &#8220;Terdapat beberapa riwayat tentang tata cara memotong kuku. Memotong kuku ini bisa dilakukan di hari Kamis, Jumat, ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Assalamu &#8216;alaikum. Pak Ustadz, apakah ada tata cara memotong/membuang kuku?</p>
<p><em>Abu Zahwa (rdhany**@yahoo.***)</em><br />
<span id="more-5641"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa&#8217;alaikumussalam warahmatullah.</em></p>
<p>Syekh Muhammad bin Ismail Al-Muqaddam mengatakan, &#8220;Terdapat beberapa riwayat tentang tata cara memotong kuku. Memotong kuku ini bisa dilakukan di hari Kamis, Jumat, atau hari lainnya. Tidak terdapat dalil sahih yang memberikan batasan waktu memotong kuku dengan hari tertentu. Namun, umumnya ulama menganjurkan untuk melakukannya di hari Jumat. Mengingat, hari Jumat adalah hari raya mingguan. Demikian pula untuk memotong bagian tubuh yang kotor lainnya. Akan tetapi, tidak ada dalil yang mengkhususkan hal ini dengan waktu tertentu atau batasan tertentu. Karena itu, selama kuku ini layak untuk dipotong maka hendaknya seseorang memotonganya.&#8221; (<em>Sunan Al-Fitrah</em>, 3:3)</p>
<p>Di antara riwayat yang menyebutkan anjuran memotong kuku hari Jumat adalah:</p>
<p><strong>Hadis pertama,</strong></p>
<p style="text-align: right;"><strong>كان يقلم أظافره ويقص شاربه يوم الجمعة قبل أن يخرج إلى الصلاة</strong></p>
<p>“Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> terbiasa memotong kuku dan kumis beliau pada hari Jumat, sebelum berangkat shalat Jumat.”</p>
<p><strong>Hadis kedua,</strong></p>
<p style="text-align: right;"><strong>من قلم أظافره يوم الجمعة وقي من السوء إلى مثلها</strong></p>
<p>“<em>Barang siapa yang memotong kukunya pada hari Jumat maka dia dilindungi dari kejelekan semisalnya</em>.”</p>
<p>Kedua hadis tersebut dinilai &#8220;<strong>lemah</strong>&#8221; oleh Imam Al-Albani. Hadis pertama beliau nyatakan statusnya &#8220;<em><strong>dhaif</strong></em>&#8221; dan hadis kedua beliau nilai sebagai hadis &#8220;<strong>palsu</strong>&#8220;. (<em>Mukhtashar Silsilah Dhaifah</em>, no. 112 dan no. 1816)</p>
<p>Berdasarkan keterangan di atas, para ulama menyimpulkan, tidak ada anjuran dari Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> untuk memotong kuku di hari Jumat. Al-Hafizh As-Sakhawi mengatakan,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>لم يثبت في كيفيته ولا في تعيين يوم له عن النبي صلى الله عليه وسلم شيء</strong></p>
<p>“Tidak terdapat riwayat yang sahih dari Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> tentang tata cara memotong kuku dan hari tertentu untuk memotong kuku.” (<em>Al-Maqasidul Hasanah</em>, hlm. 163)</p>
<p>Kemudian, terdapat beberapa riwayat dari para sahabat dan <em>tabi&#8217;in</em> bahwa mereka memiliki kebiasaan memotong kuku di hari Jumat. Di antara riwayat tersebut adalah:</p>
<ol>
<li>Disebutkan oleh Al-Baihaqi dalam <em>Sunan Al-Kubra</em>, 3:244; dari Nafi&#8217;, bahwa Ibnu Umar <em>radhiallahu &#8216;anhuma</em> terbiasa memotong kuku dan memangkas kumis pada hari Jumat.</li>
<li>Disebutkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam <em>Al-Mushannaf</em>, 2:65; dari Ibrahim, bahwa beliau menceritakan, &#8220;Orang-orang memotong kuku mereka pada hari Jumat.&#8221;</li>
<li>Diriwayatkan oleh Abdurrazaq dalam <em>Al-Mushannaf</em>, 3:197; bahwa Muhammad bin Ibrahim At-Taimi&#8211;salah seorang <em>tabi&#8217;in</em>&#8211;mengatakan, “Siapa saja yang memotong kukunya pada hari Jumat dan memendekkan kumisnya maka dia telah menyempurnakan hari Jumatnya.”</li>
</ol>
<p>Berdasarkan riwayat dari para sahabat di atas, sebagian ulama dari Mazhab Syafi&#8217;iyah dan Hanbali menganjurkan untuk memotong kuku setiap hari Jumat.</p>
<p>Imam An-Nawawi mengatakan, “Imam Asy-Syafi&#8217;i dan para ulama Mazhab Syafi&#8217;iyah <em>rahimahumullah</em> menegaskan dianjurkannya memotong kuku dan mencukur rambut-rambut di badan (kumis dan bulu kemaluan, <em>pen.</em>) pada hari Jumat.” (<em>Al-Majmu&#8217; Syarh Muhadzab</em>, 1:287)</p>
<p>Al-Hafizh Ibnu Hajar pernah memberikan keterangan, &#8220;Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya tentang memotong kuku. Beliau menjawab, &#8216;Dianjurkan untuk dilakukan di hari Jumat, sebelum matahari tergelincir.&#8217; Beliau juga mengatakan, &#8216;Dianjurkan di hari kamis.&#8217; Beliau juga mengatakan, &#8216;Orang boleh milih waktu untuk memotong kuku.&#8217;&#8221; Setelah membawakan pendapat Imam Ahmad, kemudian Al-Hafizh memberikan komentar, &#8220;(Pendapat terakhir) adalah pendapat yang dijadikan pegangan, bahwa memotong kuku itu disesuaikan dengan kebutuhan.&#8221; (Dinukil dari <em>Tuhfatul Ahwadzi Syarh Sunan Turmudzi</em>, 8:33)</p>
<p>Di sisi lain, sebagian ulama memberikan kelonggaran dalam menentukan hari memotong kuku. Seseorang disyariatkan untuk memotong kuku kapan pun dia membutuhkan. Hanya saja, <strong>tidak boleh dibiarkan sampai melebihi 40 hari</strong>. Ini adalah pendapat Imam An-Nawawi dan Al-Hafizh Ibnu Hajar. Dasarnya adalah hadis dari Anas bin Malik <em>radhiallahu &#8216;anhu</em>. Beliau mengatakan, “Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> memberikan batasan waktu kepada kami untuk memotong kumis, memotong kuku, mencabuti bulu ketiak, dan mencukur bulu kemaluan, agar tidak dibiarkan lebih dari empat puluh hari.” (H.R. Muslim, Abu Daud, dan An-Nasa&#8217;i)</p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).</strong><br />
<strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/hari-jumat-potong-kuku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Shalat dengan Pakaian Terkena Najis</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/lupa-kalau-pakaian-terkena-najis/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/lupa-kalau-pakaian-terkena-najis/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 May 2011 01:03:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Pakaian]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[apakah pakaian yang terkena najis boleh dipakai shalat?]]></category>
		<category><![CDATA[aurat]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[bila kita tidak sengaja kena najis]]></category>
		<category><![CDATA[bila pakaian terkena najis dan hanya itu yang dipakai]]></category>
		<category><![CDATA[haruskah melepas celana dalam apabila kita sholat]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[hukum bila sholat tidak sengaja terkena najis]]></category>
		<category><![CDATA[hukum terkena najis dalam sembahyang]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[mengucapkan niat puasa dalam keadaan junub]]></category>
		<category><![CDATA[mulai puasa dalam keadaan najis]]></category>
		<category><![CDATA[pakaian yang terkena najis]]></category>
		<category><![CDATA[qabliyah]]></category>
		<category><![CDATA[sandal]]></category>
		<category><![CDATA[sandal di kuburan]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[sholat tapi pakain kena najis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=4759</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Assalamu &#8216;alaikum. Begini, Ustadz. Pakaian saya, pada malam hari, ada yang terkena najis. Pagi hari, saya lupa menggantinya. Setelah beres shalat shubuh, saya baru ingat. Jika shalat saya harus diulang, apakah hanya shalat shubuhnya yang diulang ataukah boleh qabliyah ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Assalamu &#8216;alaikum</em>. Begini, Ustadz. Pakaian saya, pada malam hari, ada yang terkena najis. Pagi hari, saya lupa menggantinya. Setelah beres shalat shubuh, saya baru ingat. Jika shalat saya harus diulang, apakah hanya shalat shubuhnya yang diulang ataukah boleh <em>qabliyah</em> shubuhnya juga diulang? Mana yang didahulukan: shalat shubuh dulu atau <em>qabliyah</em> shubuh dulu?</p>
<p><em>Tedi Permana (teddy_**@***.co.id)</em><br />
<span id="more-4759"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa&#8217;alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh.</em></p>
<p>Orang yang shalat dengan pakaian yang terkena najis, baik karena dia tidak tahu atau karena dia lupa, padahal sebelumnya dia tahu bahwa pakaiannya itu bernajis dan dia baru teringat tentang hal itu setelah dia selesai shalat, maka <strong>shalatnya sah dan tidak perlu diulang</strong>.</p>
<p>Bagaimana jika hal itu diketahui/diingat di tengah shalat? Dalam hal ini, ada rincian:<br />
1. <strong>Jika memungkinkan untuk dilepas</strong>&#8211;artinya, jika pakaian itu dilepas maka tidak sampai membuka aurat&#8211;maka pakaian tersebut harus dilepas. Seperti, peci atau yang lainnya.<br />
2. <strong>Jika tidak memungkinkan untuk dilepas</strong>, karena jika dilepas maka auratnya bisa terbuka, maka pakaian tersebut tidak perlu dilepas, dan shalatnya sah. (Keterangan dari Syekh Abdul Azhim Al-Badawi, dalam <em>Al-Wajiz</em>, hlm. 81)</p>
<p>Dalilnya adalah hadis dari Abu Said Al-Khudri, bahwa suatu ketika, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> melepas sendalnya ketika beliau shalat. Para <em>shahabat</em> yang bermakmum di belakang beliau pun ikut-ikutan melepas sendal mereka. Setelah selesai shalat, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, &#8220;Apa yang menyebabkan kalian melepaskan sendal kalian?&#8221; Mereka menjawab, &#8220;Kami melihat Anda melepas sandal, sehingga kami pun mengikutinya.&#8221; Kemudian, beliau menjelaskan, &#8220;Sesungguhnya, Jibril mendatangiku dan memberitahukan padaku bahwa di kedua sendalku ada najis (sehingga beliau pun melepas kedua sendal beliau, <em>pent.</em>).&#8221; (HR. Abu Daud; dinilai sahih oleh Al-Albani)</p>
<p><strong>Kandungan fikih pada hadis tersebut</strong>: Andaikan shalat dalam keadaan lupa atau tidak tahu&#8211;bahwa di bagian pakaiannya ada najis&#8211;itu dihukumi batal, tentu Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> akan mengulangi shalatnya dari awal. Namun, dalam hadis di atas, beliau hanya melepas sendal dan tidak mengulangi shalatnya dari awal.</p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)</strong>.<br />
<strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/lupa-kalau-pakaian-terkena-najis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Shalat dengan Pakaian Najis</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/hukum-shalat-dengan-pakaian-najis/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/hukum-shalat-dengan-pakaian-najis/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Apr 2011 00:15:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersuci]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Pakaian]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[hukum orang yang tidak tahu doa-doa sholat]]></category>
		<category><![CDATA[hukum tidak tahu]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[najis batalkan sholat]]></category>
		<category><![CDATA[pakaian yang membatalkan sholat]]></category>
		<category><![CDATA[sandal]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[sholat dengan pakaian najis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=4177</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Tanya: Seseorang shalat, sementara di pakaiannya ada benda najis dan dia tidak tahu sampai selesai shalat. Apa hukum shalatnya? Jawab: Shalatnya sah. Bahkan jika ada orang yang mengetahui di bajunya ada najis, namun dia lupa mencucinya, kemudian dia shalat ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Tanya:</strong></p>
<p>Seseorang shalat, sementara di pakaiannya ada benda najis dan dia tidak tahu sampai selesai shalat. Apa hukum shalatnya?</p>
<p><span id="more-4177"></span></p>
<p><strong>Jawab:</strong></p>
<p>Shalatnya sah. Bahkan jika ada orang yang mengetahui di bajunya ada najis, namun dia lupa mencucinya, kemudian dia shalat dengan baju ini maka shalatnya sah. Karena Allah berfirman, yang artinya,</p>
<p><em>“Ya Allah, janganlah engkau siksa kami, ketika kami lupa atau keliru.” </em> (QS. Al Baqarah: 286),</p>
<p>Dan Allah telah mengabulkan doa ini.</p>
<p>Disamping itu, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pernah mengimami para sahabat kemudian didatangi Jibril untuk memberi tahu bahwa di sandal beliau ada kotoran. Lalu Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> melepasnya dan beliau tetap melanjutkan shalat (tanpa membatalkan). Andaikan shalat itu batal disebabkan tidak tahu ada najis di pakaian, tentu Nabi<em> shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> akan (membatal) kemudian mengulangi shalatnya dari awal.</p>
<p>Sumber: <em>Liqa&#8217;at Bab Al Maftuh</em>, volume: 1, no. 30<br />
Artikel <a href="http://www.konsultasisyariah.com" target="_blank">www.konsultasisyariah.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/hukum-shalat-dengan-pakaian-najis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Malu Mengenakan Busana Muslim</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/malu-mengenakan-busana-muslim/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/malu-mengenakan-busana-muslim/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Apr 2011 00:38:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator 2</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[Pakaian]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[jual beli]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[oral]]></category>
		<category><![CDATA[riba]]></category>
		<category><![CDATA[surga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=4138</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Ada sebagian orang yang ketika bertandang ke luar negeri, lalu merasa tertekan dan malu bila mengenakan busana yang menunjukkan keislamannya. Apa saran Anda, wahai Syeikh? Jawaban: Memang benar perihal yang dikatakan oleh penanya, dan ini sungguh ironis. Kendati kita ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Ada sebagian orang yang ketika bertandang ke luar negeri, lalu merasa tertekan dan malu bila mengenakan busana yang menunjukkan keislamannya. Apa saran Anda, wahai Syeikh?</p>
<p><strong><span id="more-4138"></span>Jawaban:</strong></p>
<p>Memang benar perihal yang dikatakan oleh penanya, dan ini sungguh ironis. Kendati kita memang orang-orang yang tinggi derajatnya, namun kita dapati adanya kelemahan kepribadian, dan realitanya kita merasakan bahwa kita hanyalah pengekor dan pengikut mereka.</p>
<p>Ada sebagian orang di antara kita, ketika melihat sesuatu yang bermanfaat tidak mengaitkannya kepada dirinya dan tidak pula kepada kaum muslimin lainnya, namun mengatakan, &#8220;Ini merupakan peradaban barat atau timur,&#8221; dan ia tidak merasa bangga dengan kepribadiannya di hadapan arus kerusakan mereka.</p>
<p>Padahal, ketika mereka datang ke negara kita dengan pakaian mereka yang memalukan, terbuka dan vulgar, bahkan para wanita mereka ketika berada di negara-negara kaum muslimin berpakaian setengah pahanya terbuka, lehernya terbuka, betisnya terbuka dan berjalan berlenggak-lenggok dengan kedua kakinya, seolah-olah menghentakkan bumi dari bawah dan tidak peduli bahwa dirinya adalah seorang wanita.</p>
<p>Lalu, bagaimana dengan kaum laki-laki muslim? Kenapa mesti malu berjalan dengan mengenakan busana muslim yang tertutup di negara mereka? Bukankah ini bukti nyata yang menunjukkan lemahnya kepribadian?</p>
<p>Jawabannya, tentu saja jika kita memperlakukan mereka dengan cara serupa berarti kita telah memperlakukan mereka dengan adil. Saat mereka datang ke negara kita dengan pakaian mereka tanpa mempedulikan perasaan kita, kenapa kita tidab bisa datang bertandang ke negara mereka dengan mengenakan busana khas kita dan tidak mempedulikan perasaan mereka.</p>
<p>Ada seseorang yang saya percaya bercerita kepada saya, kini ia telah menghuni kuburan, ia mengatakan, bahwa ketika ia berkunjung ke suatu ibu kota negara barat dengan mengenakan busana islami khas negaranya, ia mengatakan, &#8220;Saya dapati mereka lebih banyak menghormati, bahkan mereka bersegera membukakan pintu mobil saat saya hendak naik.&#8221;</p>
<p>Lihat, bagaimana seseorang merasa bangga karena telah dimuliakan Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>. Namun, jika kita merendahkan diri di hadapan mereka, tentunya ini bukan sikap seorang muslim.</p>
<p>Jika Anda melihat ulang sejarah dan perilaku para <em>mujahidin</em>, serta muslimin terhadap musuh-musuh mereka dalam peperangan, tentu akan anda dapatkan, betapa bangganya kaum muslimin di hadapan para musuhnya.</p>
<p>Kemudian, seharusnya seorang muslim memelihara kehormatannya, yaitu dengan tidak menganggap cara hidup mereka yang memalukan itu sebagai peradaban, tapi yang benar adalah kehinaan, bukannya peradaban karena yang demikian itu mengarah kepada kerusakan moral dan kekejian bahkan kekufuran kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>.</p>
<p><em>Demi Allah</em>, tidak benar kita menyebutnya sebagai peradaban, bagaimana jadinya? Peradaban yang sesungguhnya adalah kemajuan yang bermanfaat, yaitu dengan berpegang teguh dengan agama Islam dan moralnya. Kenapa kita memberi mereka harga yang murah? Agar kita katakan bahwa kalian adalah penyandang peradaban dan kita adalah penyandang keterbelakangan, padahal seharusnya kita maju dengan keislaman kita, baik secara akidah, perbuatan, maupun <em>manhaj</em>, agar peradaban kita masuk kepada mereka.</p>
<p>Bukankah kejujuran termasuk peradaban? Jawabannya, benar. Itu terdapat dalam Islam, dan Islam telah menganjurkannya, sebagaimana Firman Allah,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ وَكُونُواْ مَعَ الصَّادِقِينَ</p>
<p><em>&#8220;Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.&#8221;</em> (QS. At-Taubah: 119)</p>
<p>Nabi<em> shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَ إِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَ إِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يُكْتَبَ صِدِّيْقًا، وَ إِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُوْرِ وَ إِنَّ الْفُجُوْرَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَ إِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ كَذَّابًا</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhya kejujuran itu menunjukkan kepada kebaikan dan kebaikan itu menunjukkan ke surga, dan sungguh seseorang senantiasa berlaku jujur hingga dicatat sebagai seorang yang jujur. Dan sesungguhnya dusta itu menunjukkan kepada kejahatan dan kejahatan itu menunjukkan ke neraka, dan sungguh seseorang senantiasa berdusta sehingga dicatat sebagai pendusta.&#8221;</em> (HR. Al-Bukhari)</p>
<p>Namun sayangnya, banyak kaum muslimin yang telah kehilangan kejujuran, sehingga kita belum mencerminkan Islam dengan porsi yang besar dalam segi ini.<br />
Jujur dan terus terang dalam pergaulan telah diajarkan oleh Islam, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">اَلْبَيْعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا فَإِنْ صَدَقَا وَ بَيَّنَا بُوْرِكَ لَهُمَا فِيْ بَيْعِهِمَا وَ إِنْ كَذَبَا وَ كَتَمَا مُحِقَ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا</p>
<p><em>&#8220;Dua orang yang saling berjual-beli tetap memiliki hak pilih selama mereka belum berpisah. Jika keduanya jujur dan saling berterus terang, maka keberkahan dilimpahkan bagi mereka pada jual beli mereka. Namun, jika keduanya saling berdusta dan saling menutupi, maka keberkahan akan dicabut dari jual-beli mereka.&#8221; </em>(HR. Al-Bukhari)</p>
<p>Apakah kejujuran dan keterusterangan ini telah terealisasi pada setiap muslim? Jawabnya, tidak, bahkan itu telah sirna dari sebagian kaum Muslimin, karena ada sebagian kaum muslimin yang tidak jujur dan enggan berterus terang. Bahkan, ada yang mengatakan, &#8220;Barang ini harganya seratus riyal,&#8221; padahal sebenarnya hanya lima puluh riyal. Bukankah ini merupakan kedustaan dan penipuan? Padahal Islam telah melarang ini, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>telah bersabda,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا</p>
<p><em>&#8220;Barangsiapa yang menipu kami, ia bukan dari golongan kami.&#8221;</em> (HR. Muslim)</p>
<p>Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> telah berlepas diri dari yang demikian. Meskipun begitu, sebagian kaum muslimin melakukan penipuan, <em>na&#8217;udzu billah</em>. Bila kita amati pula sekitar kita, akan kita dapati kondisi yang memalukan. Anda akan dapati bahwa ajaran-ajaran Islam yang telah memerintahkan untuk berlaku jujur, terus terang, lembut dan halus, telah sirna dari sebagian kita, bahkan kondisi yang kebalikannya yang banyak terdapat pada sebagian kita. Karena itu, bisa kita katakan bahwa sebagian kaum muslimin telah lari dari Islam dengan perilaku yang ebrtolak belakang dengan Islam. (<em>Fatawa al-Aqidah</em>, hlm. 787&#8211;789, Syekh Ibnu Utsaimin)</p>
<p>Sumber:<em> Fatwa-Fatwa Terkini Jilid</em> 2, Darul Haq, Cetakan V, 2008.<br />
(Dengan beberapa pengubahan tata bahasa oleh redaksi www.konsultasisyariah.com)</p>
<p>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com" rel="nofollow" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/malu-mengenakan-busana-muslim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Memakai Sepatu atau Sandal Hak Tinggi Bagi Wanita</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/hukum-memakai-sepatu-atau-sandal-hak-tinggi-bagi-wanita/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/hukum-memakai-sepatu-atau-sandal-hak-tinggi-bagi-wanita/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Mar 2011 01:23:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator 2</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Jilbab]]></category>
		<category><![CDATA[Karir]]></category>
		<category><![CDATA[Pakaian]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[bolehkah sholat memakai sepatu]]></category>
		<category><![CDATA[cara wanita islam memakai celak]]></category>
		<category><![CDATA[foto sendal sepatu hak]]></category>
		<category><![CDATA[gambar model sepatu hak tinggi]]></category>
		<category><![CDATA[gambar sandal hak]]></category>
		<category><![CDATA[gambar sandal hak tinggi]]></category>
		<category><![CDATA[gambar sandal tinggi]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[hukum memakai jilbab bagi wanita]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[model sandal hak tinggi yang terbaru]]></category>
		<category><![CDATA[model sandal tinggi]]></category>
		<category><![CDATA[model sendal hak]]></category>
		<category><![CDATA[model sendal hak tinggi 2011]]></category>
		<category><![CDATA[photo sendal hak tinggi]]></category>
		<category><![CDATA[sandal]]></category>
		<category><![CDATA[sandal cewek hak tinggi]]></category>
		<category><![CDATA[sandal dan sepatu hak tinggi]]></category>
		<category><![CDATA[sandal perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[sendal hak tinggi untuk perkawinan]]></category>
		<category><![CDATA[sendal perempuan hak tinggi]]></category>
		<category><![CDATA[sendal wanita tinggi]]></category>
		<category><![CDATA[sepatu hak tinggi untuk pria]]></category>
		<category><![CDATA[sepatu sandal hak]]></category>
		<category><![CDATA[sepatu tinggi wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=4056</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Apa hukum seorang wanita yang memakai sepatu atau sandal hak tinggi? (Hal tersebut dilakukan) karena baju yang dipakai panjang, dan bila hak sandal tidak tinggi maka bajunya menyapu tanah. Jawaban: Pertanyaan Saudari mengandung dua hal: Hukum memakai sepatu atau ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Apa hukum seorang wanita yang memakai sepatu atau sandal hak tinggi? (Hal tersebut dilakukan) karena baju yang dipakai panjang, dan bila hak sandal tidak tinggi maka bajunya menyapu tanah.</p>
<p><strong><span id="more-4056"></span>Jawaban:</strong></p>
<p>Pertanyaan Saudari mengandung dua hal:</p>
<ol>
<li>Hukum memakai sepatu atau sandal hak tinggi.</li>
</ol>
<ol>
<li>Bagaimana hijab atau pakaian perempuan yang <em>syar&#8217;i </em>itu? Bolehkah menyentuh tanah atau tidak?</li>
</ol>
<p>Pertanyaan pertama telah terjawab oleh Syekh Abdul Aziz bin baz dengan fatwa beliau, &#8220;Minimal hukumnya makruh karena beberapa sebab. Pertama, itu adalah bentuk penipuan karena seolah-olah sang wanita kelihatan tinggi padahal tidak. Kedua, berbahaya bagi perempuan tersebut karena bisa jatuh. Ketiga, ada efek negatif lain yang nyata sebagaimana dijelaskan oleh para dokter.&#8221; <em>(Fatawa al-Mar&#8217;ah</em>, hlm. 168).<br />
<strong></strong><br />
Adapun masalah yang kedua, kita simak fatwa Syeikh Shalih Al-Fauzan berikut, &#8220;Wajib bagi perempuan muslimah menutup semua bagian tubuhnya dari pandangan laki-laki. Oleh karena itu, mereka diberikan keringanan untuk menjulurkan bagian bawah pakaiannya seukuran satu hasta agar menutup kedua kakinya.&#8221; (<em>Al-Muntaqa</em>: 5/334)</p>
<p>Sumber: <em>Majalah Mawaddah</em>, Edisi 12, Tahun Ke-1, <em>Jumadits Tsaniyah</em>&#8211;<em>Rajab</em> 1429 H/Juli 2008.<br />
(Dengan beberapa pengubahan tata bahasa oleh redaksi www.konsultasisyariah.com)<br />
Artikel <a href="http://www.konsultasisyariah.com/" target="_blank">www.konsultasisyariah.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/hukum-memakai-sepatu-atau-sandal-hak-tinggi-bagi-wanita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Merias Tangan dan Kaki bagi Wanita</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/hukum-merias-tangan-dan-kaki-bagi-wanita/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/hukum-merias-tangan-dan-kaki-bagi-wanita/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Mar 2011 23:14:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amir</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Pakaian]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[hukum merias bagi wanita]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[melukis tangan wanita arab]]></category>
		<category><![CDATA[merias tangan]]></category>
		<category><![CDATA[nikah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=3869</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Syekh Shalih al-Fauzan ditanya tentang hukum merias kedua tangan dan kaki bagi para perempuan. Jawaban: Merias (melukis di) tangan dan kaki dengan daun pacar (inai) disarankan bagi para wanita yang sudah menikah, dengan dalil hadits-hadits yang masyhur tentang hal ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Syekh Shalih al-Fauzan ditanya tentang hukum merias kedua tangan dan kaki bagi para perempuan.<br />
<span id="more-3869"></span><br />
<strong>Jawaban:<br />
</strong><br />
Merias (melukis di) tangan dan kaki dengan daun pacar (inai) disarankan bagi para wanita yang sudah menikah, dengan dalil hadits-hadits yang masyhur tentang hal ini, yang menunjukkan kebolehannya. Di antaranya adalah riwayat Abu Daud, bahwasanya ada wanita yang bertapa pada Aisyah tentang merias dengan daun pacar (inai), beliau menjawab, &#8220;<em>Boleh, tetapi aku tidak menyukainya, sedangkan Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam tidak menyukai baunya.</em>&#8221; (HR. An-Nasa&#8217;i)</p>
<p>Dari Aisyah ia berkata bahwa ada seorang wanita yang menyodorkan kitab kepada Rasulullah<em> shalallahu Alaihi wa sallam</em> dari balik tabir, kemudian Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menahan tangan beliau dan bersabda, &#8220;<em>Saya tidak tahu, ini tangan lelaki atau tangan perempuan</em>.&#8221; (HR. Abu Daud dan An-Nasa`i)</p>
<p>Akan tetapi tidak diperbolehkan untuk melukisi kuku-kukunya dengan zat yang bisa mengental dan menghalangi aliran air ketika <em>thaharah </em>(bersuci).</p>
<p>Sumber: <em>Fatwa-Fatwa Tentang Wanita,</em> Jilid 3, Darul Haq, Cetakan VI, 2010.<br />
(Dengan beberapa pengubahan tata bahasa oleh redaksi <a href="www.konsultasisyariah.com" target="_self">www.konsultasisyariah.com</a>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/hukum-merias-tangan-dan-kaki-bagi-wanita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Merias Wajah dengan Mewarnainya</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/hukum-merias-wajah-dengan-mewarnainya/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/hukum-merias-wajah-dengan-mewarnainya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Mar 2011 02:13:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amir</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Pakaian]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[hukum memakai mekap ketika berpuasa]]></category>
		<category><![CDATA[hukum merias orang]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[suntik muka batal puasa]]></category>
		<category><![CDATA[wajah orang yang berpuasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=3867</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Syekh Abdul Aziz bin Baz ditanya, &#8220;Apa hukum make up yang dipergunakan wanita untuk merias wajah?&#8221; Jawaban: Riasan wajah perlu dirinci. Apabila menjadikannya lebih cantik dan tidak membahayakan bagi wajahnya atau tidak menyebabkan apa-apa di wajah, maka hukumnya boleh. ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Syekh Abdul Aziz bin Baz ditanya, &#8220;Apa hukum <em>make up </em>yang dipergunakan wanita untuk merias wajah?&#8221;<br />
<span id="more-3867"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Riasan wajah perlu dirinci. Apabila menjadikannya lebih cantik dan tidak membahayakan bagi wajahnya atau tidak menyebabkan apa-apa di wajah, maka hukumnya boleh. Namun apabila menyebabkan sesuatu, seperti menyebabkan adanya warna hitam yang tidak bisa dihilangkan atau menyebabkan bahaya-bahaya lainnya, maka ini dilarang, dengan alasan adanya bahaya tersebut.</p>
<p>Sumber: <em>Fatwa-Fatwa Tentang Wanita</em>, Jilid 3, Darul Haq, Cetakan VI, 2010.<br />
(Dengan beberapa pengubahan tata bahasa oleh redaksi <a href="www.konsultasisyariah.com" target="_self">www.konsultasisyariah.com</a>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/hukum-merias-wajah-dengan-mewarnainya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Memakai Sepatu Hak Tinggi</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/hukum-memakai-sepatu-hak-tinggi/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/hukum-memakai-sepatu-hak-tinggi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Mar 2011 02:11:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amir</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Pakaian]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>
		<category><![CDATA[adab memakai kutek]]></category>
		<category><![CDATA[apa hukumnya bagi perempuan menggunakan pewarna kuku]]></category>
		<category><![CDATA[apakah muslimah boleh memakai sepatu hak tinggi]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[fatwa memakai sepatu hak tinggi]]></category>
		<category><![CDATA[hadist menggunakan sepatu tinggi]]></category>
		<category><![CDATA[hadist wanita memakai sepatu hak tinggi]]></category>
		<category><![CDATA[haid]]></category>
		<category><![CDATA[hak tinggi 2011]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[hukum hak tinggi]]></category>
		<category><![CDATA[hukum memakai pewarna kuku]]></category>
		<category><![CDATA[hukum memakai sepatu berhak tinggi]]></category>
		<category><![CDATA[hukum pakai kutek diwaktu puasa]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[kuku panjang dan memakai kutek boleh]]></category>
		<category><![CDATA[larangan anak perempuan memakai sepatu hak tinggi]]></category>
		<category><![CDATA[larangan tentang anak]]></category>
		<category><![CDATA[memakai kutex]]></category>
		<category><![CDATA[memakai sepatu tinggi]]></category>
		<category><![CDATA[sepatu hak]]></category>
		<category><![CDATA[web]]></category>
		<category><![CDATA[wudhu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=3865</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Lajnah Daimah lil Ifta ditanya, &#8220;Apa hukum memakai sepatu hak tinggi bagi wanita, menggunakan kutek bagi kaum wanita? Mana yang lebih baik, cat kuku atau daun pacar? Apa hukum menggunakan daun pacar ketika sedang haid? Jawaban: Menggunakan sepatu hak ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Lajnah Daimah lil Ifta</em> ditanya, &#8220;Apa hukum memakai sepatu hak tinggi bagi wanita, menggunakan kutek bagi kaum wanita? Mana yang lebih baik, cat kuku atau daun pacar? Apa hukum menggunakan daun pacar ketika sedang haid?<br />
<span id="more-3865"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Menggunakan sepatu hak tinggi tidak diperbolehkan karena bisa menyebabkan wanita yang memakainya terjatuh, sedangkan manusia senantiasa diperintahkan untuk menjauhi hal-hal yang membahayakan, berdasarkan keumuman firman Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>,</p>
<p>وَلاَ تُلْقُوْا بِأَيْدِيْكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ</p>
<p>&#8220;<em>Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.</em>&#8221; (Qs. Al-Baqarah: 195)</p>
<p>Serta firman Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>,</p>
<p>وَلاَ تَقْتُلُوْا أَنْفُسَكُمْ</p>
<p>&#8220;<em>Dan janganlah kamu membunuh dirimu.</em>&#8221; (Qs. An-Nisa`: 29)</p>
<p>Juga karena menampakkan tingginya wanita lebih dari yang sebenarnya. Ini merupakan penipuan dan upaya untuk menampakkan keindahan yang wanita muslimah dilarang untuk menampakkannya, berdasarkan firman Allah<em> Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>,</p>
<p>وَلاَ يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاء بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاء بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ</p>
<p><em>&#8220;Dan janganlah menampakkan perhiasan mereka, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam.&#8221;</em> (Qs. An-Nur: 31)</p>
<p>Sedangkan kutek (cat kuku), tidak boleh dipakai karena menahan air ketika sedang wudhu dan mandi. Adapun tentang daun pacar, kami, tidak mendapatkan larangan memakainya (ketika haid) sebagaimana ketika sedang suci.</p>
<p>Sumber: <em>Fatwa-Fatwa Tentang Wanita</em>, Jilid 3, Darul Haq, Cetakan VI, 2010.<br />
(Dengan beberapa pengubahan tata bahasa oleh redaksi <a href="http://konsultasisyariah.com" target="_blank">www.konsultasisyariah.com</a>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/hukum-memakai-sepatu-hak-tinggi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

