tutup Eksternal hardisk kajian video islam
cashflow laporan keuangan software akutansi terbaik
Firqoh

gambar isis

Hadis tentang ISIS

Saya pernah mendengar hadis yang katanya mendukung keberadaan isis. Dimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyinggung bahwa di masa depan akan ada kekhalifahan dengan bendera hitam di daerah khurasan. Dan seperti yang kita tahu, khilafah ISIS benderanya hitam.

Apa ini benar, dan bgmn pandangan yg benar?. Terima kasih. 

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Ada beberapa riwayat yang menyebutkan hal itu, diantaranya,

Pertama, hadis dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إذا رأيتم الرايات السود قد جاءت من قبل خراسان فائتوها فان فيها خليفة الله المهدي

Apabila kalian melihat bendera-bendera hitam telah datang dari arah Khurasan, maka datangilah dia, karena di sana ada khalifah Allah al-Mahdi.

Derajat hadis

Hadis ini diriwayatkan dari dua

  • Diriwayatkan Ibnu Majah dari Khalid al-Hadza’ dari Abu Qilabah, dari Abu Asma dari Tsauban secara marfu’.
  • Diriwayatkan Imam Ahmad dari Ali bin Zaid bin Jadza’an dari Abu Qilabah dari Tsauban secara marfu’.

Para ulama menilai sanad hadis ini lemah. Diantara alasannya,

– Dalam sanadnya terdapat perawi yang bernama Ali bin Zaid bin Jadza’an, yang dinilai dhaif oleh Imam Ahmad dan yang lainnya. Al-Munawi dalam Faidhul Qodir mengatakan,

وفيه علي بن زيد بن جذعان نقل في الميزان عن أحمد وغيره تضعيفه ثم قال الذهبي أراه حديثا منكرا

Dalam sanadnya terdapat perawi Ali bin Zaid bin Jadza’an. Disebutkan dalam al-Mizan dari Ahmad dan yang lainnya yang mendhaifkan orang ini. Kemudian ad-Dzahabi mengatakan, ’Menurutku ini hadis munkar.’ (Faidhul Qodir, 1/363)

– Perawi Abu Qilabah adalah seorang mudallis dan melakukan ’an’anah (menggunakan kata ’an, artinya dari).

(as-Silsilah ad-Dhaifah, keterangan hadis no. 85).

Oleh karena itu, para ulama hadis kontemporer, diantaranya Syuaib al-Arnauth dan Imam al-Albani, mendhaifkan hadis ini.

Kedua, keterangan dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, (hadis mauquf).

Dari Walid dan Risydin dari Ibnu Lahaiah dari Abi Qobil, dari Abu Rumman dari Ali bin Abi Thalib, beliau mengatakan,

إِذَا رَأَيْتُمُ الرَّايَاتِ السُّودَ فَالْزَمُوا الأَرْضَ فَلا تُحَرِّكُوا أَيْدِيَكُمْ ، وَلا أَرْجُلَكُمْ ، ثُمَّ يَظْهَرُ قَوْمٌ ضُعَفَاءُ لا يُؤْبَهُ لَهُمْ ، قُلُوبُهُمْ كَزُبَرِ الْحَدِيدِ ، هُمْ أَصْحَابُ الدَّوْلَةِ ، لا يَفُونَ بِعَهْدٍ وَلا مِيثَاقٍ ، يَدْعُونَ إِلَى الْحَقِّ وَلَيْسُوا مِنْ أَهْلِهِ ، أَسْمَاؤُهُمُ الْكُنَى ، وَنِسْبَتُهُمُ الْقُرَى ، وَشُعُورُهُمْ مُرْخَاةٌ كَشُعُورِ النِّسَاءِ ، حَتَّى يَخْتَلِفُوا فِيمَا بَيْنَهُمْ ، ثُمَّ يُؤْتِي اللَّهُ الْحَقَّ مَنْ يَشَاءُ

Apabila kalian telah melihat bendera-bendera hitam, tetaplah di tempat kalian dan jangan gerakkan tangan dan kaki kalian. Kemudian akan berkuasa sekelompok orang yang lemah akalnya, tidak teranggap, hati mereka seperti potongan besi. Mereka penduduk daulah (menguasai banyak daerah), tidak memenuhi janji. Mereka mengajak menuju kebenaran, padahal mereka bukan pemilik kebenaran. Nama mereka berawalan kun-yah (identitas tidak jelas) dan nisbah mereka kepada desa. Rambut mereka terjuntai seperti rambut wanita. Hingga terjadi sengketa diantara mereka, kemudian Allah mendatangkan kebenaran melalui orang yang Dia kehendaki.

Derajat Hadis:

Hadis ini dinilai lemah oleh para ulama, karena beberapa catatan,

  1. ‘An’anah dari al-Walid
  2. Risydin bin Sa’d perawi yang dhaif
  3. Ibnu Lahaiah perawi yang lemah
  4. Abu Ruman perawi yang Majhul (tidak dikenal). Disebutkan oleh Ibnu Mandah dalam Fathul Bab, tanpa penilaian.

(as-Silsilah ad-Dhaifah, 1/440)

Terlepas dari status keabsahan riwayat di atas, jika kita perhatikan, keterangan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu justru menyudutkan posisi para pemegang bendera hitam itu. Karena sangat jelas, keterangan ini mencela keberadaan mereka.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

nabi muhammad

Tidak Benar, Nabi Muhammad Dijamin Masuk Surga?

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Sehubungan dengan acara tafsi r al-misbah di Metro TV pd tgl 12 juli 2014. Bp. Quraish Shihab mengatakan “Tidak benar bahwa Nabi Muhammad sudah dapat jaminan syurga dari Allah S.W.T”. Mohon penjelasannya.

Video:

Salam,
Dari Roy

Jawaban:

Wa alaikumus salam wa rahmatullah

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Surga adalah hak prerogatif Allah. Dialah satu-satunya yang berhak menentukan, siapa yang akan masuk surga. Akan tetapi, jika Allah telah menegaskan melalui firman-Nya atau melalui hadis Rasul-Nya bahwa ada beberapa orang yang dijamin masuk surga, apakah hal ini akan kita ingkari??

Terdapat sangat banyak dalil yang menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dijamin masuk surga. Baik dalil al-Quran maupun hadis. Berikut hanya beberapa diantaranya,

Firman Allah,

إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا (1) لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا (2) وَيَنْصُرَكَ اللَّهُ نَصْرًا عَزِيزًا

Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu (Muhammad) kemenangan yang nyata, Supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus, dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak). (QS. Al-Fath: 1 – 3).

Allah memberi jaminan mengampuni semua dosa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah lewat dan yang akan datang. Jaminan ini diberikan oleh Allah ketika beliau masih hidup, bersamaan dengan Allah berikan kepada beliau kemenangan yang nyata.

Allah juga berfirman,

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا. ذَلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللَّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ عَلِيمًا

Barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya. Yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan Allah cukup mengetahui. (QS. An-Nisa: 69 – 70)

Para nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang shaleh, mereka di surga.

Memang, untuk manusia SELAIN nabi, kita tidak bisa memastikan apakah si A itu orang sholeh di sisi Allah atakah bukan.

Tapi untuk nabi, kita wajib memastikan. Karena bagian dari rukun iman adalah iman kepada para nabi. Dan tidak mungkin iman ini bisa terwujud, sementara kita tidak tahu siapa saja yang menjadi nabi. Dan siapapun yang termasuk nabi, dia dijamin masuk surga. Tentu saja Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam termask di dalamnya, karena beliau nabi terbaik.

Allah juga berfirman,

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ

”Sesunguhnya Aku berikan kepadamu al-Kautsar.”

Mengenai tafsir al-Kautsar, disebutkan dalam hadis dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terbangun dari tidur sambil tersenyum.

‘Apa yang membuat anda tertawa, wahai Rasulullah?’ tanya kami.

“Baru saja turun kepadaku satu surat.” kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca surat al-Kautsar hingga selesai.

”Tahukah kalian, apa itu al-Kautsar?” tanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

”Hanya Allah dan Rasul-Nya yang tahu.” Jawab kami.

Kemudian beliau bersabda,

فَإِنَّهُ نَهْرٌ وَعَدَنِيهِ رَبِّي فِي الْجَنَّةِ، آنِيَتُهُ أَكْثَرُ مِنْ عَدَدِ الْكَوَاكِبِ

“Itu adalah sungai, Allah janjikan untuk diberikan kepadaku di Surga. Jumlah gayungnya sebanyak bintang..” (HR. Muslim 400, Ahmad 11996, Nasai 904, Abu Daud 784, dan yang lainnya).

Ayat dan hadis di atas sangat jelas bahwa beliau dijamin masuk surga. Apa gunanya janji diberi sesuatu di surga, sementara beliau belum dijamin masuk surga.

Di samping itu, hadis yang sangat tegas bahwa beliau dijamin masuk surga adalah hadis dari Said bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, menyebutkan daftar sahabat yang masuk surga,

النَّبِيُّ فِي الْجَنَّةِ، وَأَبُو بَكْرٍ فِي الْجَنَّةِ، وَعُمَرُ فِي الْجَنَّةِ، وَعُثْمَانُ فِي الْجَنَّةِ، وَعَلِيٌّ فِي الْجَنَّةِ…

”Nabi di surga, Abu Bakr bin surga, Umar di surga, Utsman di surga, Ali di surga….”

(HR. Ahmad 1631, Abu Daud 4649, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Kemudian hadis dari Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَنَا وَكَافِلُ اليَتِيمِ فِي الجَنَّةِ هَكَذَا» وَقَالَ بِإِصْبَعَيْهِ السَّبَّابَةِ وَالوُسْطَى

“Saya bersama orang yang nanggung anak yatim di dalam surga seperti ini.”

Beliau berisyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah. (HR. Bukhari 6005, Abu Daud 5150, dan yang lainnya)

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّهُ لا يُدْخِلُ أَحَدًا الجَنَّةَ عَمَلُهُ
قَالُوا: وَلاَ أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «وَلا أَنَا، إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِي اللَّهُ بِمَغْفِرَةٍ وَرَحْمَةٍ»

“Tidak ada seorangpun yang dimasukan surga oleh amalnya.”

Para sahabat bertanya, “Termasuk anda, wahai Rasulullah?”

“Termasuk saya, hanya saja Allah meliputiku dengan ampunan dan rahmatnya.” (HR. Bukhari 6467, Ahmad 15236).

Hadis ini menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mendapatkan jaminan surga, karena Allah meliputi beliau dengan ampunan dan rahmatnya, yang dengan itu beliau dijamin masuk surga.

Semoga Allah menyelamatkan kita dari kesesatan pemikiran orang liberal, pembela syiah, yang menghina islam dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

hukum voting

Voting Memilih Pemimpin

Tanya:

Apa hukum mengikuti voting dalam pemilihan ketua, misalnya ketua organisasi sekolah atau di masyarakat. Nuwun

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Disebutkan dalam riwayat Bukhari,

Ketika Khalifah Umar bin Khatab mendekati ajalnya, beliau menunjukkan 6 orang yang bertanggung jawab memilih penggantinya. Beliau mengatakan,

ما أجد أحدا أحق بهذا الأمر من هؤلاء النفر أو الرهط الذين توفي رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو عنهم راض

Saya tidak menjumpai orang yang lebih berhak untuk memegang tampuk kekhalifahan ini, selain sekelompok orang ini, yaitu orang-orang yang ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, beliau ridha kepada mereka.

Kemudian Umar menyebut beberapa nama, diantaranya,

Ali, Utsman, az-Zubair, Thalhah, Sa’d bin Abi Waqqash, dan Abdurrahman bin Auf.

Usai pemakaman jenazah Umar radhiyallahu ‘anhu, enam orang ini berkumpul. Abdurrahman memimpin rapat. Beliau mengatakan,

اجعلوا أمركم إلى ثلاثة منكم

Limpahkan wewenang kepemimpinan kepada 3 orang diantara kalian.

Artinya, kerucutkan calon khalifah menjadi 3 orang.

Az-Zubair mengatakan, ”Aku limpahkan urusan ini kepada Ali”

Thalhah mengatakan, ”Aku limpahkan urusan ini kepada Utsman”

Sementara Sa’d melimpahkan urusannya kepada Abdurrahman bin Auf.

Seketika, Abdurrahman mengarahkan kepemimpinan kepada Ali dan Utsman,

أيكما تبرأ من هذا الأمر فنجعله إليه والله عليه والإسلام لينظرن أفضلهم في نفسه

Siapa diantara kalian yang menyatakan tidak bersedia menjadi khalifah, akan aku pilih sebagai khalifah. Allah akan menjadi saksi dan islam menjadi hukum sesuai yang dia putuskan. Silahkan renungkan masing-masing.

Mendengar ini, dua sahabat mulia – Ali & Utsman – terdiam. (HR. Bukhari 3700).

Dr. Utsman al-Khamis menjelaskan bahwa Abdurrahman bin Auf tidak langsung menunjuk salah satu calon khalifah, antara Ali & Utsman, di rapat itu. Namun beliau tunda penentuannya selama 3 hari.

Selama rentang 3 hari ini, Abdurrahman bin Auf keliling ke setiap rumah di Madinah, menanyakan ke setiap penduduknya, siapakah diantara dua orang ini yang layak untuk menjadi khalifah. Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

والله ما تركت بيتا من بيوت المهاجرين والأنصار الا وسألتهم فما رأيتهم يعدلون بعثمان أحدا

Demi Allah, tidaklah aku meninggalkan satu rumah milik kaum Muhajirin dan Anshar, kecuali aku tanya kepada mereka. Dan aku tidak menemukan seorangpun yang tidak setuju dengan Utsman. (Huqbah min at-Tarikh, hlm. 79).

Anda bisa perhatikan, dalam hadis di atas, Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu melakukan jajak pendapat, keliling kota Madinah, untuk menentukan siapa yang lebih layak menjadi khalifah. Dan penduduk Madinah, tidak ada yang tidak setuju jika Utsman yang menjadi khalifah.

Ini menunjukkan bahwa semata memilih calon pemimpin yang baik, yang menurut kita lebih mendukung islam, dan tidak berpotensi merugikan masyarakat, insyaaAllah tidak masalah.

Allahu a’lam

Dijawab oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

madzhab saudi

Mazhab di Mekkah dan Madinah

Assalammualaikum,
Saya mendengar dari seorang ustadz bahwa jaman dahulu di masjid nabawi dan mekkah, orang yang naik haji bisa belajar banyak mahzab, tapi sekarang orang-orang luar mekah jika naek haji hanya bisa belajar satu mahzab karena menganggap satu mahzab ini adalah yang paling benar. Benarkah seperti keadaannya?
Mahzab apakah yang dipakai oleh ulama di mekkah dan madina?
Jazakallahu khoir

Dari sdr. Agung H.

Jawaban:

Wa alaikumus salam

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Ada beberapa informasi yang pelu kita luruskan dari apa yang disampaikan Sang Ustadz. Ada sebagian yang tidak sesuai realita, dan ada yang bisa menimbulkan kesalah-pahaman.

Pertama, fikih yang diajarkan di universitas islam di Mekah dan Madinah adalah fikih perbandingan madzhab.

Sejak semester pertama di fakultas Syariah jurusan fikih, mata kuliah fikih sudah diajarkan fikih perbandingan madzhab. Dengan kitab rujukan Bidayatul Mujtahid karya Ibnu Rusyd. Kitab ini layaknya ensiklopedi ikhtilaf ulama dalam masalah fikih. Hampir dalam setiap masalah, Ibnu Rusyd menyebutkan berbagai pendapat ulama dari berbagai madzhab.

Sebagai bagian dari keterbukaan informasi tentang metode belajar di Universitas Islam Madinah, pihak Universitas menyebarkan informasi ini kepada masyarakat. Anda yang tertarik untuk menilik kurikulum dan metode belajar Universitas Islam Madinah, bisa mengunduh di http://www.islamhouse.com/64948/ar/ar/programsv/برنامج_المناهج_الدراسية_بالجامعة_الإسلامية_بالمدينة_النبوية

Oleh karena itu, klaim bahwa pemerintah Saudi hanya mengajarkan satu madzhab dalam pendidikan mereka, jelas klaim yang tidak sesuai realita.

Kedua, madzhab resmi Mekah dan Madinah

Hampir semua negara islam, punya madzhab resmi. Tidak hanya Saudi, termasuk Indonesia, Malaysia, dan negara islam lainnya. Bagi departemen agama, madzhab resmi fikih mereka adalah syafiiyah. Karena itu, dalam banyak keputusan, Depag lebih banyak merujuk keterangan madzhab Syafii. Demikian halnya yang terjadi di Malaysia. Sementara madzhab resmi Mesir, yang digunakan sebagai rujukan dalam hukum dan peradilan adalah madzhab hanafi. Demikian pula, dulu madzhab resmi yang dianut oleh Turki Utsmani adalah madzhab hanafiyah.

Saudi menjadikan madzhab hambali sebagai madzhab resminya. Madzhab hambali menjadi aturan resmi untuk setiap peradilan.

Dan kita sepakat, memilih satu madzhab sebagai acuan, bukanlah sikap yang tercela. Karena hampir semua negara islam memilikinya, dan tentu saja atas lisensi dari para ulama.

Ulama Belajar Semua Madzhab

Meskipun madzhab resminya adalah hambali, namun para ulama besar yang tergabung dalam Haiah Kibar Ulama Saudi (semacam MUI di Indonesia), mereka mengkaji semua madzhab. Sebagaimana hal ini dituturkan oleh salah satu anggota Haiah Kibar Ulama, Dr. Muhammad Alu Isa,

غالبية أعضاء الهيئة أكاديميون يدرسون المذاهب الأربعة، ولا يعتمدون إلا القول الراجح بدليله أيا كانت مدرسته

”Umumnya anggota Haiah adalah lulusan akademi, yang mereka mempelajari semua madzhab yang empat. Dan mereka tidak memutuskan, kecuali pendapat yang kuat berdasarkan dalilnya, dari manapun mereka belajar.

Sumber: http://www.aawsat.com/details.asp?section=17&article=511267&issueno=11067#.UxbVl-OSzgs

Ketiga, pengajar di Masjid Nabawi

Meskipun madzhab resmi negara adalah madzhab hambali, namun saudi tidak memaksa kaum muslimin untuk mengajarkan madzhab lain di sana. Kita jumpai ada beberapa ulama yang berasal dari madzhab Maliki, seperti Syaikh Abu Bakr Jabir al-Jazairi, penulis kitab Minhajul Muslim, yang beliau bermadzhab Maliki. Dan sebelumnya sudah ada Syaikh Muhammad Amin as-Syinqithy, pengajar masjid nabawi, sekaligus penulis Tafsir Adwaul Bayan, beliau juga bermadzhab Maliki.

Bahkan di Saudi bagian timur, terdapat ulama besar madzhab Syafii, hingga beliau digelari dengan Syaikhul Madzhabi as-Syafii [شيخ المذهب الشافعي], guru besar madzhab Syafii. Beliau adalah Syaikh Ahmad bin Abdillah ad-Daughan. Beliau meninggal akhir tahun 2003, semoga Allah merahmatinya.

Keempat, pernyataan: ‘sekarang orang-orang luar mekah jika naek haji hanya bisa belajar satu mahzab’

Keterangan ini penuh tanda tanya. Karena umumnya jamaah haji Indonesia tidak mengikuti kajian atau halaqah para masyayikh di masjidil haram maupun Masjid nabawi. Karena :

  • Nara sumbernya berbahasa arab, dan umumnya orang Indonesia tidak paham.
  • Mereka yang paham bahasa arab, umumnya adalah pembimbing, dan biasanya sudah sibuk ngurusi jamaah
  • Banyak jamaah Indonesia yang lebih sibuk belanja, kuliner, dan mengambil gambar suasana masjid dan sekitarnya.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 705

 

‘Berkah’ Kotoran Ulama Syiah

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Bagi syiah, ini hal yang biasa. Bagi penganut syiah, kotoran para imam bukan sesuatu yang menjijikkan, tapi sumber keberkahan. Bagi penganut syiah, kotoran para imam menyebabkan masuk surga.

Berikut keterangan dalam kitab Syiah, Anwarul Wilayat, karya Ayatolah Mulla Zaenal Abidin Al-Kalba Yakani,

“Kotoran dan air kencing para imam bukan sesuatu yang menjijikkan dan tidak berbau busuk, bahkan keduanya bagaikan misik yang semerbak. Barang siapa yang meminum kencing, darah dan memakan kotoran mereka maka haram masuk neraka dan wajib masuk surga.” (Anwarul Wilayat, halaman 440, th. 1419 H.)

kitab syiah ttg kotoran imam

kotoran dan kentut imam syiah

kotoran imam syiah suci

ajaran syiah pada kotoran

Kentut Imam Bagaikan Bau Misik

Abu Jafar berkata: “Ciri-ciri Imam ada 10:

  • Dilahirkan sudah dalam keadaan berkhitan.
  • Begitu menginjakkan kaki di bumi ia mengumandangkan dua kalimat syahadat.
  • Tidak pernah junub.
  • Matanya tidur hatinya terbangun.
  • Tidak pernah menguap
  • Melihat apa yang di belakangnya seperti melihat apa yang di depannya.
  • Bau kentut dan kotorannya bagaikan misik….”

(Al-Kaafi 1/319, Kitabul Hujjah Bab” Maulidul Aimmah).

Kalimat: ‘Mari satukan Sunni dan syiah’, hanya diucapkan oleh mereka yang tidak ngerti syiah.

abu thalib paman nabi

Apakah Abu Thalib Mati Kafir?

Tanya:

Saya membaca buku tentang Ali bin Abi Thalib.

Dalam Bab 5 tentang Keluarga Hasyim, penulis menyampaikan kontroversi tentang keislaman Abu Thalib. Dia mengutip Dr. Muhammad at Tawanjik,yang menulis, mengumpulkan dan mempelajari syair-syair Abu Talib dalam antologi Diwan Abi Talib. di hal 23 penulis menyatakan,

“Ada tiga pendapat tentangkeislaman Abu Talib. Satu golongan menganggap ia mati sebagai musyrik; golongan kedua meyakinkan ia meninggal sebagai Muslim; yang lain mengatakan ia sudah Islam dan beriman tetapi menyembunyikan keimanannya.” (cetakan miring untuk menandai kutipan sesuai asli)

Lebih lanjut, pada hlm yang sama penulis mengutip keterangan Ibn Abi al-Hadid dalam ulasannya mengenai Nahjul Balagah menengaskan:

“Secara ringkas, berita-berita tentang dia sudah menganut Islam banyak sekali, dan sumber yang mengatakan dia meninggal masih dalam kepercayaan masyarakatnya juga tidak sedikit.”

“Golongan yang mengatakan dia sudah Islam berpendapat, bahwa ketika Muhammad sallallahu’alaihi wasallam diutus sebagai nabi, Abu Talib sudah masuk Islam sudah percaya, tetapi dia tidak mau berterus terang menyatakan keimanannya. Bahkan menyembunyikannya suoaya dapat mengadakan pembelaan kepada Rasullullah sallallahu ‘alaihi wasallam. Alasannya kalu ia menyatakan keislamannya, ia akan sama seperti Muslimin yang lain, Quraisy akan menjauhi dan membencinya. Mereka mengemukakan bukti-bukti keislamannya itu, antara lain, perlindungannya terhadap terhadap kemenakannya itu, ia mau menderita bersama-sama, pernyataannya dalam syair-syairnya dengan sumber yang kuat dan saat ia dalam sekarat Abbas mendengar ia mengucapkan kalimat syahadat, La ilaha illa Allah.” (dikutip sesuai asli)

Mohon pencerahannya.

Terima kasih

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Sebelumnya kami perlu sampaikan bahwa pembahasan tentang status islam dan tidaknya Abu Thalib, bukan dalam rangka main vonis takfir atau kapling-kapling neraka untuk orang lain. Apalagi jika dianggap membenci ahlu bait Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jelas ini tuduhan yang sangat jauh. Kita beriman bahwa Abu Lahab mati kafir, karena Allah mencela habis di surat al-Lahab, meskipun Abu Lahab adalah paman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan jelas kita tidak boleh mengatakan, mengkafirkan Abu Lahab berarti membenci ahlul bait Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kita membahas status kekafiran Abu Thalib, dalam rangka meluruskan pemahaman, agar sesuai dengan dalil hadis dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan bukan mengikuti klaim kelompok tertentu yang tidak bertanggung jawab.

Terkait status Abu Thalib, terdapat banyak dalil yang menunjukkan bahwa dia mati kafir,

Pertama, peristiwa kematian Abu Thalib,

Dari Musayib bin Hazn, beliau menceritakan,

أَنَّهُ لَمَّا حَضَرَتْ أَبَا طَالِبٍ الوَفَاةُ جَاءَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَوَجَدَ عِنْدَهُ أَبَا جَهْلِ بْنَ هِشَامٍ، وَعَبْدَ اللَّهِ بْنَ أَبِي أُمَيَّةَ بْنِ المُغِيرَةِ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَبِي طَالِبٍ: ” يَا عَمِّ، قُلْ: لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، كَلِمَةً أَشْهَدُ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ ” فَقَالَ أَبُو جَهْلٍ، وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي أُمَيَّةَ: يَا أَبَا طَالِبٍ أَتَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ المُطَّلِبِ؟ فَلَمْ يَزَلْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْرِضُهَا عَلَيْهِ، وَيَعُودَانِ بِتِلْكَ المَقَالَةِ حَتَّى قَالَ أَبُو طَالِبٍ آخِرَ مَا كَلَّمَهُمْ: هُوَ عَلَى مِلَّةِ عَبْدِ المُطَّلِبِ، وَأَبَى أَنْ يَقُولَ: لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَمَا وَاللَّهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ مَا لَمْ أُنْهَ عَنْكَ» فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى فِيهِ: {مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ} [التوبة: 113] الآيَةَ

Ketika Abu Thalib hendak meninggal dunia, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatanginya. Di dekat Abu Thalib, beliau melihat ada Abu Jahal bin Hisyam, dan Abdullah bin Abi Umayah bin Mughirah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan kepada pamannya, ”Wahai paman, ucapkanlah laa ilaaha illallah, kalimat yang aku jadikan saksi utk membela paman di hadapan Allah.” Namun Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayah menimpali, ’Hai Abu Thalib, apakah kamu membenci agama Abdul Muthalib?’

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terus mengajak pamannya untuk mengucapkan kalimat tauhid, namun dua orang itu selalu mengulang-ulang ucapannya. Hingga Abu Thalib memilih ucapan terakhir, dia mengikuti agama Abdul Muthalib dan enggan untuk mengucapkan laa ilaaha illallah.

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertekad, ”Demi Allah, aku akan memohonkan ampunan untukmu kepada Allah, selama aku tidak dilarang.”

Lalu Allah menurunkan firman-Nya di surat at-Taubah: 113. dan al-Qashsas: 56. (HR. Bukhari 1360 dan Muslim 24)

Firman Allah di surat at-Taubah:

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

”Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum Kerabat (Nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam.” (QS. At-Taubah: 113).

Firman Allah di surat al-Qashsas:

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. (QS. Al-Qashsas: 56)

Kedua, kesedihan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan kematian Abu Thalib yang tidak masuk islam.

Terkait sikap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap kematian Abu Thalib, turun dua ayat di atas.

1. Firman Allah di surat at-Taubah:

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

”Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum Kerabat (Nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam.” (QS. At-Taubah: 113).

2. Firman Allah di surat al-Qashas:

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. (QS. Al-Qashsas: 56)

Ibnu Katsir mengutip keterangan beberapa ulama tafsir sahabat dan Tabiin,

قال ابن عباس، وابن عمر، ومجاهد، والشعبي، وقتادة: إنها نزلت في أبي طالب حين عَرَضَ عليه رسولُ الله صلى الله عليه وسلم أن يقول: “لا إله إلا الله” فأبى عليه ذلك. وكان آخر ما قال: هو على ملة عبد المطلب.

Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Mujahid, as-Sya’bi, dan Qatadah mengatakan, ayat ini turun berkaitan dengan Abu Thalib, ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajak dia untuk mengucapkan laa ilaaha illallah, namun dia enggan untuk mengucapkannya. Dan terakhir yang dia ucapkan, bahwa dia mengikuti agama Abdul Muthalib. (Tafsir Ibn Katsir, 6/247).

Adanya dua ayat di atas, merupakan bukti sangat nyata bahwa Abu Thalib mati dalam kondisi tidak islam.

Ketiga, beberapa hadis yang menegaskan Abu Thalib mati kafir

1. Hadis dari Abbas bin Abdul Muthalib radhiyallahu ‘anhu, beliau bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَا أَغْنَيْتَ عَنْ عَمِّكَ، فَإِنَّهُ كَانَ يَحُوطُكَ وَيَغْضَبُ لَكَ؟

“Apakah anda tidak bisa menolong paman anda?, karena dia selalu melindungi anda dan marah karena anda.”

Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

هُوَ فِي ضَحْضَاحٍ مِنْ نَارٍ، وَلَوْلاَ أَنَا لَكَانَ فِي الدَّرَكِ الأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ

Dia berada di permukaan neraka. Andai bukan karena aku, niscaya dia berada di kerak neraka.” (HR. Ahmad 1774 dan Bukhari 3883).

2. Dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu,

أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَذُكِرَ عِنْدَهُ عَمُّهُ أَبُو طَالِبٍ، فَقَالَ: «لَعَلَّهُ تَنْفَعُهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ القِيَامَةِ، فَيُجْعَلُ فِي ضَحْضَاحٍ مِنَ النَّارِ يَبْلُغُ كَعْبَيْهِ، يَغْلِي مِنْهُ أُمُّ دِمَاغِهِ»

Suatu ketika ada orang yang menyebut tentang paman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu Abu Thalib di samping beliau. Lalu beliau bersabda,

“Semoga dia mendapat syafaatku pada hari kiamat, sehingga beliau diletakkan di permukaan neraka yang membakar mata kakinya, namun otaknya mendidih.” (HR. Bukhari 6564, Muslim 210, dan yang lainnya).

3. Hadis dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan,

سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَبِي طَالِبٍ هَلْ تَنْفَعُهُ نُبُوَّتُكَ؟

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang Abu Thalib, apakah status kenabian anda bisa bermanfaat baginya?

Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

نَعَمْ، أَخْرَجْتُهُ مِنْ غَمْرَةِ جَهَنَّمَ إِلَى ضَحْضَاحٍ مِنْهَا

”Bisa bermanfaat, aku keluarkan dia dari kerak jahanam ke permukaan neraka” (HR. Abu Ya’la al-Mushili dalam Musnadnya no. 2047).

4. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَهْوَنُ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا أَبُو طَالِبٍ، وَهُوَ مُنْتَعِلٌ بِنَعْلَيْنِ يَغْلِي مِنْهُمَا دِمَاغُهُ

”Penduduk neraka yang paling ringan siksanya adalah Abu Thalib. Dia diberi dua sandal yang menyebabkan otaknya mendidih.” (HR. Ahmad 2636, Muslim 212, dan yang lainnya).

Mengapa Abu Thalib malah disiksa?

Jika Abu Thalib mati muslim, berhasil mengucapkan laa ilaaha illallah, maka status Abu Thalib adalah sahabat yang husnul khotimah. Namun Mengapa Abu Thalib malah disiksa?

Jika dia muslim, tentu beliau tidak akan mendapatkan hukuman dengan kondisi mengerikan seperti itu. Karena ketika orang masuk islam, semua dosa kekufuran di masa silam akan menjadi diampuni Allah. Sehingga jawabannya, dia disiksa karena dia meninggal dalam kondisi kafir.

Dia Penolong Dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Kita sepakat hal ini. Abu Thalib memiliki jasa besar, membantu dan melindungi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selama dakwah di Mekah. Inipun diakui para sahabat. Dan karena jasa besar Abu Thalib, para sahabat bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, apakah beliau bisa menyelamatkan Abu Thalib?.

Ini menunjukkan bahwa para sahabat telah memahami bahwa Abu Thalib mati kafir. Karena jika Abu Thalib mati muslim, tentu para sahabat tidak akan menanyakan hal itu. Kita tidak jumpai, sahabat bertanya, apakah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi syafaat kepada Khadijah, Hamzah, Ruqayah atau Ummu Kultsum?, para keluarga beliau yang meninggal mendahului beliau.

Karena mereka semua mati muslim. Berbeda dengan Abu Thalib, para sahabat mempertanyakan apakah posisi beliau bisa memberikan pertolongan kepada Abu Thalib yang membantu sewaktu dakwah di Mekah.

Kesaksian Abbas?

Anda bisa perhatikan hadis dari Abbas bin Abdul Muthalib radhiyallahu ‘anhu, ketika beliau bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَا أَغْنَيْتَ عَنْ عَمِّكَ، فَإِنَّهُ كَانَ يَحُوطُكَ وَيَغْضَبُ لَكَ؟

“Apakah anda tidak bisa menolong paman anda?, karena dia selalu melindungi anda dan marah karena anda.”

Kita bisa memahami, Abbas bertanya demikian, karena Abbas juga meyakini bahwa Abu Thalib mati kafir.

Jawaban Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

هُوَ فِي ضَحْضَاحٍ مِنْ نَارٍ، وَلَوْلاَ أَنَا لَكَانَ فِي الدَّرَكِ الأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ

”Dia berada di permukaan neraka. Andai bukan karena aku, niscaya dia berada di kerak neraka.” (HR. Ahmad 1774 dan Bukhari 3883).

Hadis ini diriwayatkan Imam Ahmad, Bukhari, dan yang lainnya. Inilah keterangan yang lebih meyakinkan tentang sikap Abbas terhadap kematian Abu Thalib. Lalu dimana riwayat yang menyebutkan keterangan Abbas bahwa Abu Thalib telah mengucapkan laa ilaaha illallaahdi detik kematiannya?

Tidak lain, keterangan ini adalah kedustaan Syiah, untuk menguatkan klaim mereka tentang keislaman Abu Thalib.

Keempat, tentang kitab Nahjul Balaghah

Penulis kitab ini Muhamad bin Husain as-Syarif ar-Ridha, tokoh syiah abad 5 H. Kitab ini berisi khutbah, nasehat, dan pesan-pesan sahabat Ali bin Abi Thalib. Namun uniknya, semuanya disampaikan tanpa sanad. Bahkan banyak ulama yang menegaskan bahwa isi buku Nahjul Balaghah adalah kedustaan atas nama Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Berikut beberapa keterangan mereka,

1. Keterangan Imam ad-Dzahabi dalam al-Mizan,

ومن طالع كتابه ” نهج البلاغة ” ؛ جزم بأنه مكذوب على أمير المؤمنين علي (ع)، ففيه السب الصراح والحطُّ على أبي بكر وعمر، وفيه من التناقض والأشياء الركيكة والعبارات التي من له معرفة بنفس القرشيين الصحابة، وبنفس غيرهم ممن بعدهم من المتأخرىن، جزم بأن الكتاب أكثره باطل

Orang yang membaca kitab ‘Nahjul Balaghah’ dia bisa memastikan bahwa itu kedustaan atas nama Amirul Mukminin, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Dalam kitab ini terdapat celaan dan penghinaan terang-terangan kepada Abu Bakr dan Umar. Kemudian terdapat pertentangan dan berbagai macam pendapat sangat lemah, serta ungkapan yang jika dinilai oleh orang yang memahami karakter sahabat Quraisy, karakter ulama lainnya setelah mereka, maka dia bisa menyimpulkan bahwa kitab ini umumnya adalah kebatilan. (Mizan al-I’tidal, 3/124).

2. Keterangan Syaikhul Islam,

فأكثر الخطب التي ينقلها صاحب “نهج البلاغة “كذب على علي، الإمام علي (ع) أجلُّ وأعلى قدرا من أن يتكلم بذلك الكلام، ولكن هؤلاء وضعوا أكاذيب وظنوا أنها مدح، فلا هي صدق ولا هي مدح

Umumnya khutbah yang disebutkan penulis ‘Nahjul Balaghah’ adalah kedustaan atas nama Ali bin Abi Thalib. Imam Ali terlalu mulia untuk menyampaikan khutbah demikian. Namun mereka (syiah) membuat kedustaan dan mereka yakini sebagai bentuk pujian. Khutbah ini tidak jujur dan bukan pujian. (Minhajus Sunah, 8/28).

3. Keterangan dalam kitab Mukhtashar at-Tuhfah al-Itsna Asyarah,

ومن مكائدهم – أي الرافضة – أنهم ينسبون إلى الأمير من الروايات ما هو بريء منه ويحرفون عنه، فمن ذلك “نهج البلاغة” الذي ألفه الرضي وقيل أخوه المرتضى، فقد وقع فيه تحريف كثير وأسقط كثيرا من العبارات حتى لا يكون به مستمسك لأهل السنة

Termasuk penipuan mereka – orang syiah –, mereka mengklaim berbagai riwayat atas nama Amirul Mukminin Ali, yang beliau sendiri berlepas diri darinya, sementara mereka menyimpangkannya. Diantaranya kitab ‘Nahjul Balaghah’ yang ditulis oleh ar-Ridha, ada yang mengatakan saudaranya, yaitu al-Murtadha. Dalam buku ini terdapat banyak penyimpangan riwayat dan banyak ungkapan yang tidak layak, sehingga kitab ini tidak dijadikan rujukan dalam ahlus sunah. (Mukhtashar at-Tuhfah al-Itsna Asyarah, hlm 36).

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)

Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

hadis palsu nabi

Hadis Anjuran Dakwah di India

Saya menemukan hadis, berikut bunyinya,

Dari Sayidina Tsauban r.a. menceritakan bahwa Nabi SAW bersabda: “Akan muncul dua kumpulan dari umatku yang kedua-duanya dipelihara Allah dari neraka; satu kumpulan yang berjihad (Dakwah) di India dan satu kumpulan lagi yang akan bersama Nabi Isa bin Maryam as.”

Hadits Riwayat: Ahmad [Musnad 5/278 no.22759], al-Bukhari [Tarikh al-Kabir Tarjamah Abd al-A’la bin ‘Adiy al-Bahrani], al-Nasai [al-Mujtaba’ no.3175], al-Tabarani [Mu’jam al-Awsath 7/23-24], Ibn ‘Adiy [al-Kaamil 2/161], al-Haitsami [Majma’uz Zawaaid no.9452] Komen al-Albani [Sahih al- Jami’ no.4012, Silsilah as-Sahihah no.1934] Sahih, al-Arnaouth [Tahqiq Musnad Ahmad 37/81 no.22396]

Sebagian orang menjadikan hadis ini sebagai dalil anjuran dakwah ke india, dari lafal:

“satu kumpulan yang berjihad (Dakwah) di India…” apakah ini benar? Mohon pencerahannya. Karena saya pernah diajak kelompok ini. Terima kasih.

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Pertama, Satu kaidah penting dalam memahami pemikiran dan aliran yang berkembang di sekitar kita, bahwa hampir semua aliran, pemikiran, atau amalan yang dipraktekkan manusia, memiliki dalil dan alasan. Karena untuk bisa menarik simpati massa, perlu menanamkan keyakinan. Cara paling mujarab untuk menanamkan keyakinan itu adalah dengan menyampaikan dalil dan alasan.

Bagi kita, adanya nabi baru setelah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah keyakinan kekufuran. Namun bagi ahmadiyah, ini bagian dari iman. Ketika mereka ditanya, apa dalilnya? Ternyata mereka tidak diam, mereka bisa menyebutkan dalil dan alasannya.

Bagi kita, keyakinan pluralisme adalah penyimpangan dalam aqidah. Namun bagi JIL, itu bagian dari tauhid. Ketika mereka ditanya, apa dalilnya, ternyata mereka juga bisa menyebutkan dalilnya.

Bagi kita, mengkafirkan Abu Bakr, Umar, Utsman dan para sahabat lainnya adalah tindakan lancang yang membahayakan. Namun bagi syiah, ini bagian dari aqidahnya. Jika mereka ditanya, apa dalilnya, ternyata mereka juga bisa menjelaskan dalil dan alasannya.

Betapa banyak orang awam yang dengan mudah mengikuti dai penyebar aliran sesat. Alasanya, semua yang diceramahkan berdalil. Sang dai penyebar kesesatan ini membacakan beberapa ayat al-Quran dan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Karena itu, yang lebih penting bukan semata ada dalilnya, tapi yang lebih penting adalah memperhatikan cara seseorang dalam berdalil. Para ulama menjelaskan, cara berdalil yang benar ada 2 syarat,

1. Memastikan keabsahan dalil (صحة الدليل في ذاته), sumber dalil bisa dipertanggung jawabkan. Misalnya ayat al-Quran atau hadis shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

2. Memastikan kebenaran dalam memahami dan menyimpulkan dalil (صحة الاستدلال), bagaimana cara memahami hadis yang shahih tersebut dengan benar.

Dari berbagai kasus pemikiran dan aliran sesat di atas, kita tidak meragukan dalilnya, namun yang diragukan adalah cara mereka dalam memahami dan menyimpulkan dalil. Ahmadiyah menggunakan dalil al-Quran untuk membenarkan aqidahnya. Tentu saja bukan ayatnya yang salah, namun cara mereka dalam menyimpulkan dalil yang sembarangan.

Pastikan Ada Pendahulunya

Cara paling selamat dalam memahami dalil adalah mengembalikan makna dalil itu kepada pemahaman sahabat, tabiin, tabi’ tabiin, atau para ulama yang pemikirannya sejalan dengan mereka. Karena para sahabat dan ulama yang pemikirannya sejalan dengan sahabat adalah manusia yang paling memahami dalil al-Quran dan hadis.

Seperti inilah yang dinasehatkan

نقل عن الإمام أحمد أنه قال لتلميذه الميموني : لا تتكلم في مسألة ليس لك فيها إمام

Dinukil dari Imam Ahmad bahwa beliau berkata kepada muridnya, al-Maimuni, “Janganlah engkau berkata dalam masalah agama dengan suatu perkataan yang engkau tidak memiliki imam (pendahulu) di dalamnya”.

Kedua, hadis yang anda sebutkan termasuk hadis hasan. Teks arabnya sebagai berikut,

عَنْ ثَوْبَانَ مَوْلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” عِصَابَتَانِ مِنْ أُمَّتِي أَحْرَزَهُمُ اللهُ مِنَ النَّارِ: عِصَابَةٌ تَغْزُو الْهِنْدَ، وَعِصَابَةٌ تَكُونُ مَعَ عِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ

Dari Tsauban, mantan budak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda,

“Ada dua kelompok di kalangan umatku yang akan Allah lindungi mereka dari neraka; kelompok pertama yang memerangi India dan kelompok satunya bersama nabi Isa bin Maryam.”

Hadis ini diriwayatkan imam Ahmad, an-Nasai, al-Bukhari dalam tarikh al-Kabir, at-Thabrani dalam al-Ausath, dan yang lainnya, seperti yang telah disebutkan penanya.

Kita sepakat hadis ini bisa diterima, bahkan dinilai shahih oleh dua pakar hadis, Imam al-Albani dan Syuaib al-Arnauth.

Namun ada kesalahan terjemah. Dan karenanya, dipahami jauh dari makna yang sebenarnya. Terjemahan untuk kata [عِصَابَةٌ تَغْزُو الْهِنْدَ].

Dalam teks yang disampaikan penanya diterjemahkan dengan, “satu kumpulan berjihad (Dakwah) di India”

Ini jelas kesalahan terjemah, karena makna kata ghaza – yaghzu [غزى – يغزو – غزوة] artinya memerangi dalam bentuk kontak senjata.

Dalam hadis itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak bersabda

عِصَابَةٌ تُجَاهِدُ فِي الْهِنْدَ

“Satu kelompok berjihad di India”

Lafal hadisnya tidak demikian. Andaikan lafal hadisnya demikian, boleh kita terjemahkan jihad dalam arti berdakwah.

Karena itu, terjemah yang tepat adalah ”kelompok yang memerangi India” bukan mendakwahi india.

Ketika an-Nasai membawakan hadis ini, beliau memberikan judul bab: “غَزْوَةُ الْهِنْدِ” artinya memerangi India.

Di bab berikutnya, Imam an-Nasai membawakan judul bab, “غَزْوَةُ التُّرْكِ وَالْحَبَشَةِ”, artinya perang melawan Turki dan Ethiophia.

Jika kita menganjurkan kaum muslimin untuk berjihad di India, seharusnya kita juga menganjurkan mereka untuk berdakwah ke Turki dan Ethiophia. Tapi kenyataannya, mereka hanya mengutamakan India. Jelas maksud mereka mendatangi India, bukan karena motivasi hadis ini, namun ada maksud lainnya.

Makna yang Benar

Hadis ini sejatinya merupakan kabar gembira dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa kaum muslimin akan menaklukkan berbagai negeri musyrik yang lain. Hingga wilayah mereka mencapai India. Sehingga kaum muslimin menguasai dataran timur dan barat dunia.(simak al-Qiyamah as-Sughra, Dr. Umar al-Asyqar, hlm. 159 – 160)

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)

Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

tahun baru rebo wekasan

Tahun Baru Bertepatan dengan Rebo Wekasan

Bismillah, Allahumma yassir wa a’in

Isu tahun baru di rebo wekasan mulai santer di dunia maya. Berbagai macam mitos turut menyemarakkan kaehadiran tahun baru kali ini. Bahkan sudah ada yang meramalkan dengan adanya kecelakaan. Karena rebo wekasan menjadi hari paling ditakutkan oleh sebagian golongan yang begitu gandrung dengan klenik dan ramalan.

Ada Apa dengan Rebo Wekasan

Rebo Wekasan (rebo pungkasan) dalam bahasa Jawa, ‘Rebo’ artinya hari Rabu, dan ‘Wekasan’ atau ‘pungkasan’ artinya terakhir. Kemudian istilah ini dipakai untuk menamai hari Rabu terakhir pada bulan Safar.

Mereka yang perhatian dengan rebo wekasan berkeyakinan bahwa setiap tahun akan turun 320.000 balak, musibah, atau bencana, dan itu akan terjadi pada hari Rabu terakhir bulan Safar.

Sumber Referensi yang kami jumpai yang mengajarkan aqidah ini adalah kitab Kanzun Najah karya Abdul Hamid bin Muhammad Ali Quds. Salah satu tokoh sufi, murid Zaini Dahlan. Dalam buku tersebut, dia menyatakan di pasal: Hal-hal yang Dianjurkan ketika bulan safar,

اعلم…أن مجموع الذي نقل من كلام الصالحين كما يعلم مما سيأتي أنه ينزل في آخر أربعاء من صفر بلاء عظيم، وأن البلاء الذي يفرِّق في سائر السنة كله ينزل في ذلك اليوم، فمن أراد السلامة والحفظ من ذلك فليدع أول يوم من صفر، وكذا في آخر أربعاء منه بهذا الدعاء؛ فمن دعا به دفع الله سبحانه وتعالى عنه شرَّ ذلك البلاء. هكذا وجدته بخط بعض الصالحين

Ketahuilah bahwa sekelompok nukilan dari keterangan orang shaleh – sebagaimana nanti akan diketahui – bahwa pada hari rabu terakhir bulan safar akan turun bencana besar. Bencana inilah yang akan tersebar di sepanjang tahun itu. Semuanya turun pada hari itu. Siapa yang ingin selamat dan dijaga dari bencana itu, maka berdoalah di tanggal 1 safar, demikian pula di hari rabu terakhir dengan doa yang sama. Siapa yang berdoa dengan kalimat itu maka Allah akan menyelamatkannya dari keburuhan musibah tersebut. Inilah yang aku temukan dari tulisan orang-orang shaleh.

Selanjutnya, penulis menyebutkan beberada doa yang dia ajarkan. (Kanzun Najah, hlm. 49).

Sebagaimana dalam tatanan masyarakat jawa ada orang yang gandrung dengan klenik jawa, diantara penganut agama islam juga ada yang gandrung dengan klenik ’islam’. Yang tentu saja, bukan bagian dari ajaran islam. Hanya saja dibumbuhi dengan istilah-istilah islam dan dilengkapi dengan berbagai amalan bid’ah yang sama sekali tidak ada tuntunannya. Karena sama-sama klenik, tidak ada beda antara klenik jawa dengan klenik ’islam’, keduanya bersumber dari tahayul dan khurafat. Celakanya, keyakinan semacam ini berkembang subur di aliran sufi.

Untuk itu, jangan karena semata ditulis dalam buku berbahasa arab, kemudian itu menjadi mutlak benar. Ajaran klenik bagian yang dikembangkan dan dilestarikan di aliran sufi, dan oleh beberapa tokohnya, keyakinan ini dibukukan.

Tahun Baru yang Mengerikan

Jika kita berkeyakinan, akan ada bencana besar yang menimpa umat manusia di malam tahun baru disebabkan banyaknya dosa dan maksiat, maka layak kita benarkan. Karena sebab terbesar datangnya musibah yang menimpa manusia adalah dosa dan maksiat yang menimpa mereka.

Allah tegaskan dalam al-Quran,

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ

“Apapun musibah yang menimpa kalian, semuanya disebabkan perbuatan maksiat yang kalian lakukan.” (QS. As-Syura: 30)

Sudah menjadi rahasia umum, malam tahun baru menjadi salah satu momen paling rame melakukan pesta zina. Tidak salah jika kita sebut, hari zina internasional. Inilah yang sejatinya lebih mengerikan. Acara maksiat, tanpa ada penanganan serius dalam mengatasinya.

Dari Buraidah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَلاَ ظَهَرَتِ الْفَاحِشَةُ فِى قَوْمٍ قَطُّ إِلاَّ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْهِمُ الْمَوْتَ

“Jika perbuatan kekejian sudah merebak dan dilakukan dengan terang-terangan di tengah-tengah masyarakat, maka Allah akan menimpakan kehancuran kepada mereka.” (HR. Hakim 2577 dan dinyatakan oleh Ad-Dzahabi: Sesuai syarat shahih Muslim)

Allahu Akbar, bukankah ini ancaman yang sangat menakutkan. Gara-gara perbuatan mereka yang tidak bertanggung jawab itu, kemudian menjadi sebab Allah menimpakan berbagai bencana yang membinasakan banyak manusia. Tahun baru telah menyumbangkan masalah besar bagi masyarakat.

Ini yang seharusnya kita takutkan. Allah datangkan bencana disebabkan maksiat. Bukan rebo wekasan hasil tahayul orang sufi. Allah tidak menciptakan hari rebo terakhir di bulan safar sebagai sumber sial. Namun dosa dan maksiat yang dilakukan manusia, itulah sumber sial dan malapetaka.

Kaum muslimin, perbanyaklah memohon ampunan kepada Allah. Kita ingat kisah Nabi Musa ‘alaihis salam yang berdoa memohon ampun kepada Allah, karena kelancangan yang dilakukan kaumnya dengan menyembah anak sapi.

وَاخْتَارَ مُوسَى قَوْمَهُ سَبْعِينَ رَجُلًا لِمِيقَاتِنَا فَلَمَّا أَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ قَالَ رَبِّ لَوْ شِئْتَ أَهْلَكْتَهُمْ مِنْ قَبْلُ وَإِيَّايَ أَتُهْلِكُنَا بِمَا فَعَلَ السُّفَهَاءُ مِنَّا إِنْ هِيَ إِلَّا فِتْنَتُكَ تُضِلُّ بِهَا مَنْ تَشَاءُ وَتَهْدِي مَنْ تَشَاءُ أَنْتَ وَلِيُّنَا فَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الْغَافِرِينَ

Musa memilih tujuh puluh orang dari kaumnya untuk (memohonkan taubat kepada Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan. Maka ketika mereka digoncang gempa bumi, Musa berkata, “Ya Tuhanku, kalau Engkau kehendaki, tentulah Engkau membinasakan mereka dan aku sebelum ini. Apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang BODOH di antara kami? Itu hanyalah cobaan dari Engkau, Engkau sesatkan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki. Engkaulah Yang memimpin kami, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkaulah Pemberi ampun yang sebaik-baiknya.” (QS. Al-A’raf: 155)

Berusahalah untuk memperbanyak istighfar kepada Allah. Memohon ampunan kepada-Nya. Semoga dengan banyaknya istigfar yang kita ucapkan di malam zina ini, Allah berkenan mengampuni kita. Sebagaimana Musa memohon ampunan kepada Allah, disebabkan ulah kaumnya yang bodoh, yang mengundang murka Allah.

Yaa Allah.., akankah Engkau membinasakan kami disebabkan ulah orang-orang BODOH di malam tahun baru ini?

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)

Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

ahlul bait nabi

Siapakah Ahlul Bait?

Siapakah ahlu bait Nabi saw, tolong dijelasin. Soalnya saya sering bungung…

Makasih.

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Kalimat ahlul bait terdiri dari dua kata: al-ahl [arab: أهل] dan al-bait [arab: البيت].

Dalam kamus Lisan Al-Arab, Ibnul Mandzur mendefinikan makna Al-Ahl yang memiliki makna berbeda-beda, sesuai kata sambungannya.

أهل المذهب من يدين به، وأهل الأمر ولاته، وأهل الرجل أخص الناس به، وأهل بيت النبي – صلى الله عليه وسلم – أزواجه وبناته وصهره، أعني عليا عليه السلام، وقيل نساء النبي – صلى الله عليه وسلم -. . .، وأهل كل نبي أمته

Kata Ahl jika digandengan dengan madzhab (ahlul madzhab) artinya orang yang menjadikan madzhab itu sebagai prinsip agama. Jika digandeng dengan kata Al-Amr (Ahlul Amri) artinya orang yang mengurusi masalah tersebut. Jika digandengkan dengan kata si A (ahlu si A) artinya, semua orang istimewa di sekitar si A. Jika digandengkan dengan bait nabi (ahlu bait Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), artinya para istri beliau, putri beliau, dan menantu beliau, yaitu Ali bin Abi Thalib ‘alaihis salam, ada juga yang mengatakan, ahlu bait Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam artinya semua wanita yang menjadi pendamping Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam… jika digandengkan dengan nama semua nabi, maknannya adalah umatnya. (Lisan Al-Arab, 11/28).

Kesimpulan dari keterangan makna ahlu bait secara bahasa, bahwa ahlul bait Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan hanya keturunan bani Hasyim atau keturunan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, termasuk juga para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kata Ahlu dalam Al-Quran

Ada beberapa ayat yang menyebutkan kata ahlu dalam Al-Quran. Dengan memahami ayat ini, kita bisa menyimpulkan makna kata ahlu dalam bahasa Al-Quran,

Pertama, kisah Allah tentang Ibrahim

Di surat Hud ayat 69 hingga 73, Allah menceritakan tentang Ibrahim yang kedatangan tamu malaikat. Tamu itu disuguhi daging anak sapi panggang, namun mereka tidak menyentuhnya. Mereka memberitahukan misi kedatangannya dan memberi kabar gembira bahwa istri pertama Ibrahim, Ibunda Sarah akan dikaruniai seorang anak bernama Ishaq. Sarah yang waktu itu ada di rumah merasa sangat bahagia bercampur keheranan, sambil tertawa. Di akhir kisah di rumah Ibrahim, Allah menceritakan jawaban Malaikat atas keheranan Sarah,

قَالُوا أَتَعْجَبِينَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ رَحْمَتُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ إِنَّهُ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

Para Malaikat itu berkata: “Apakah kamu (wahai Sarah) merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kalian, hai ahlul bait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.” (QS. Hud: 73).

Ahlu bait Ibrahim pada ayat di atas adalah istri beliau, ibunda Sarah radhiyallahu ‘anha. Karena, ketika malaikat ini mendatangi kepada Ibrahim, beliau belum memiliki keturunan dari istrinya, Sarah.

Kedua, kisah Allah tentang Musa, sekembalinya dari negeri Madyan

Nabi Musa dinikahkan oleh orang soleh penduduk Madyan dengan putrinya. Maharnya, menjadi pegawai orang itu selama 8 tahun. Setelah berlaku masa pengabdian kepada mertuanya, Musa kembali ke Mesir untuk membebaskan bani Israil dari penjajahan Fir’aun dan bala tentaranya. Ketika di perjalanan, Musa melihat api. Allah ceritakan,

فَلَمَّا قَضَى مُوسَى الْأَجَلَ وَسَارَ بِأَهْلِهِ آنَسَ مِنْ جَانِبِ الطُّورِ نَارًا قَالَ لِأَهْلِهِ امْكُثُوا إِنِّي آنَسْتُ نَارًا لَعَلِّي آتِيكُمْ مِنْهَا بِخَبَرٍ أَوْ جَذْوَةٍ مِنَ النَّارِ لَعَلَّكُمْ تَصْطَلُونَ

Tatkala Musa telah menyelesaikan waktu yang ditentukan dan Dia berangkat dengan ahlunya, dilihatnyalah api di lereng gunung ia berkata kepada ahlunya: “Tunggulah (di sini), Sesungguhnya aku melihat api, Mudah-mudahan aku dapat membawa suatu berita kepadamu dari (tempat) api itu atau (membawa) sesuluh api, agar kamu dapat menghangatkan badan”. (QS. Al-Qashas: 29).

Allah sebut, istri Nabi Musa ‘alaihis salam dengan ahlunya, ahlu Musa. Karena istri jelas bagian dari ahlul bait.

Ketiga, tentang perintah Allah kepada para istri Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk tidak tabarruj dan berdiam di rumah,

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, Hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. (QS. Al-Ahzab: 33)

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu mengatakan,

قوله: { إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ } قال: نزلت في نساء النبي صلى الله عليه وسلم خاصة.

“Firman Allah di atas turun khusus terkait para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Tafsir Ibnu Katsir, 6:410)

Ikrimah rahimahullah (ahli tafsir generasi tabiin) mengatakan,

من شاء باهلته أنها نزلت في أزواج النبي صلى الله عليه وسلم

“Siapa yang ingin mengetahui ahlul bait beliau, sesungguhnya ayat ini turun tentang para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Tafsir Ibnu Katsir, 6:411)

Tafsir inilah yang ditegaskan oleh As-Syaukani dalam Fathul Qadir,

قال ابن عباس وعكرمة وعطاء والكلبي ومقاتل وسعيد بن جبير: إن أهل البيت المذكورين في الآية هن زوجات النبي – صلى الله عليه وسلم – خاصة

Ibnu Abbas, Ikrimah, Atha, Al-Kalbi, Muqatil, dan Said bin Jubair mengatakan: ‘Bahwa makna ahlul bait yang disebutkan dalam ayat (Al-Ahzab: 33) adalah para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saja. (Fathul Qadir, 4/321).

Ahlu Bait Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Hadis

Mereka adalah Bani Hasyim dan Bani Muthalib.

Dari Zaid bin Arqam radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,

قَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا خَطِيبًا فِينَا بِمَاءٍ يُدْعَى خُمًّا بَيْنَ مَكَّةَ وَالْمَدِينَةِ ؛ فَحَمِدَ اللَّهَ تَعَالَى وَأَثْنَى عَلَيْهِ وَوَعَظَ وَذَكَّرَ ثُمَّ قَالَ : ” …وَإِنِّي تَارِكٌ فِيكُمْ ثَقَلَيْنِ أَوَّلُهُمَا كِتَابُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فِيهِ الْهُدَى وَالنُّورُ فَخُذُوا بِكِتَابِ اللَّهِ تَعَالَى وَاسْتَمْسِكُوا بِهِ – فَحَثَّ عَلَى كِتَابِ اللَّهِ وَرَغَّبَ فِيهِ – قَالَ : وَأَهْلُ بَيْتِي أُذَكِّرُكُمْ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي أُذَكِّرُكُمْ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي أُذَكِّرُكُمْ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي “

Suatu hari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkhutbah di hadapan kami, di dekat mata air, namanya Khum, antara Mekah dan Madinah. Beliau memuji Allah dan memberi nasehat. Kemudian beliau bersabda, “…aku tinggalkan di tengah kalian dua hal, yang pertama kitabullah. Di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya. Ambillah kitabullah, dan pegangi kuat-kuat – beliau memotivasi untuk berpegang dengan kitabullah. Kemudian beliau bersabda: “dan ahlu baitku. Aku ingatkan kalian di hadapan Allah tentang ahlu baitku… Aku ingatkan kalian di hadapan Allah tentang ahlu baitku… Aku ingatkan kalian di hadapan Allah tentang ahlu baitku.”

Setelah menyampaikan hadis ini, Hushoin bertanya kepada Zaid, ‘Siapakah yang dimaksud ahlu bait beliau, wahai Zaid? Bukankah para istri beliau termasuk ahlu bait beliau?’

Jawab Zaid,

إِنَّ نِسَاءَهُ مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ وَلَكِنَّ أَهْلَ بَيْتِهِ مَنْ حُرِمَ الصَّدَقَةَ بَعْدَهُ.. هُمْ آلُ عَلِيٍّ وَآلُ عَقِيلٍ وَآلُ جَعْفَرٍ وَآلُ عَبَّاسٍ

Istri beliau termasuk ahlu bait, namun termasuk ahlu bait beliau adalah orang yang haram menerima zakat setelah beliau.. mereka adalah keluarga Ali, keluarga Aqil, keluarga Ja’far, dan keluarga Abbas. (HR. Ahmad 18464 dan Muslim 2408).

Ali, Aqil, Ja’far, dan Abbas, semuanya adalah bani Hasyim.

Sementara dalil bahwa bani Muthallib termasuk ahlul bait adalah hadis dari Jubair bin Muth’im radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا بَنُو الْمُطَّلِبِ وَبَنُو هَاشِمٍ شَيْءٌ وَاحِدٌ

“Bani Muthallib dan bani Hasyim adalah satu kesatuan.” (HR. Bukhari 2907, An-Nasai 4067 dan yang lainnya).

Al-Muthallib adalah saudara Hasyim. Hasyim memiliki anak namanya Syaibah. Hasyim meninggal ketika Syaibah masih kecil. Kemudian dia dibawa oleh pamannya, Al-Muthalib ke Mekah. Setelah itu, orang mengenal Syaibah dengan julukan Abdul Muthalib. Syaibah atau Abdul Muthalib adalah kakek Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kesimpulannya: Ahlu bait Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah para istri beliau, keturunan beliau, Bani Hasyim, dan bani Muthalib.

Allahu a’lam

Istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Syiah

Syiah mengaku bahwa mereka adalah pembela ahlul bait. Mengaku kelompok paling mencintai ahlul bait. Tapi, pada kesempatan yang sama, mereka melaknat para istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, terutama A’isyah dan Hafshah. Bahkan salah satu bagian syahadat mereka adalah mengutuk A’isyah dan Hafshah, dan menegaskan bahwa mereka di neraka.

Anda bisa simak video berikut:

Tokoh mereka begitu semangat menanamkan kebencian kepada A’isyah radhiyallahu ‘anha. Layaknya A’isyah adalah musuh besar islam. Anda bisa simak video,

Ceramah yang berjudul Itsbat anna ‘Aisyah Kholidatun fi An-Nar (Sebuah Kepastian bahwasanya Aisyah Seorang Wanita yang Kekal di Neraka) oleh Yasir Al-Habib (ulama Syiah)

Ahlul Bait, Ahlus Sunah dan Syiah

Dalam catatan, para ahlul bait yang dianggap sebagai imam syiah saat ini, mereka menikah dengan putri keturunan ahlus sunah. Sebaliknya putri keturunan ahlul bait, juga dinikahkan dengan lelaki ahlus sunah. Sebagian dari bani Umayah dan Abbasiyah – sangat dimusuhi syiah –. Dan tidak ada satupun dalam catatan sejarah, ahlul bait menikah dengan orang syiah yang hidup sezaman dengan mereka. Hingga Dr. Muhammad Utsman al-Khamis dalam salah satu acara televisi, beliau menantang orang syiah untuk menyebutkan satu kasus pernikahan antara alhul bait dengan orang syiah yang hidup di zaman imam mereka. Jika benar Imam 12 itu mencintai syiah, sebutkan satu kasus pernikahan antara ahlul bait dan syiah. Anda bisa simak keterangan beliau di video berikut,

Berikut diantara bukti hubungan pernikahan antara ahlul bait dengan ahlus sunah yang dimusuhi syiah,

Pertama, pernikahan Ummu Kultsum bintu Ali bin Abi Thalib dengan Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhum.

pernikahan imam ali dan umi kulsum

Ummu Kultsum putri Ali bin Abi Thalib, dari ibu Fatimah bintu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ummu Kultsum dinikahi oleh Umar bin Khatab ketika beliau masih kecil. Beliau menikahinya dengan mahar 10 ribu dinar. (Simak Tarikh al-Ya’kubi, 2/150).

Jika menurut Syiah Umar bin Khatab adalah orang kafir, bagaimana mungkin Ali bin Abi Thalib menikahkah putrinya dengan orang kafir?

Kedua, pernikahan Fatimah bintu Ali dengan al-Mundzir bin Ubaidah bin Zubair bin Awam

pernikahan fatimah bin ali dengan cucunya zubair

Zubair bin Awam salah satu sahabat yang sangat dibenci syiah. Karena perselisihan beliau dengan Ali bin Abi Thalib hingga meletus peristiwa perang jamal.

Di saat yang sama, Ali menikahkan putrinya Fatimah dengan cucu Zubair, yang bernama al-Mundzir.

Ketiga, pernikahan Ramlah bintu Ali bin Abi Thalib dengan Muawiyah bin Marwan bin Hakam dari bani Umayah.

pernikahan putri ali dengan muawiyah

Semua syiah sepakat, mereka memusuhi bani Umayah, terutama pemimpinnya, diantaranya Marwan bin Hakam dan keturunannya. Celaan mereka untuk Muwayah, Yazid, dan Marwan hampir tidak bisa dihitung, saking banyaknya.

Di saat yang sama, Ali bin Abi Thalib menikahkan putrinya, Ramlah dengan Muawiyah bin Marwan bin Hakam. Jika Ali bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu memusuhi mereka, tidak mungkin putrinya dinikahkan dengan bani Umayah.

Keempat, Pernikahan Sukainah bintu Husain dengan Mus’ab bin Zubair

pernikahan putri husain dengan anak zubair

Sukainah adalah putri Husain bin Ali dari istri Rabab bintu Umru’ al-Qois al-Kalbiyah.

Beliau dinikahi Mus’ab bin Zubair dan melahirkan Fatimah. Kemudian Mus’ab dibunuh oleh penduduk Kufah (Irak). Dia pernah mengatakan kepada penduduk Kufah,

يتمتموني صغيرة وأيمموني كبيرة، قتلتم جدي وأبي وعمي وأخوتي وزوجي

“Kalian membuatku yatim ketika aku kecil, dan kalian membuatku janda ketika sudah besar. Kalian membunuh kakekku, ayahku, pamanku, saudara-saudaraku, dan suamiku.”

Kakeknya (Ali bin Abi Thalib) dibunuh orang Kufah (Khawarij)

Ayahnya (Husain bin Ali) dibunuh di Karbala oleh orang kufah

Setelah suami pertama meninggal, beliau menikah dengan Abdullah bin Utsman. Setelah Abdulah bin Utsman meninggal, beliau menikah dengan Zaid bin Umar bin Utsman (cucu Utsman bin Affan). (Al-Muntaqa min an-Nasab, hlm. 57).

Andai ada tititk permusuhan antara Husain dengan Utsman, niscaya putrinya tidak akan sudi menikah dengan keturunan Utsman.

Kelima, pernikahan Fatimah bintu Husain dengan Abdullah bin Amr bin Utsman bin Affan.

pernikahan putri husain

Sebelumnya Fatimah menikah dengan al-Hasan bin Hasan bin Ali. Setelah berpisah, beliau dihikahi oleh Abdullah bin Amr bin Utsman bin Affan

Setelah berpisah dengan suami pertama, beliau dihikahi oleh Abdullah bin Amr bin Utsman bin Affan, dan melahirkan anak Muhammad ad-Dibaj, al-Qosim, dan Ruqayah.

Keenam, orang tua Ja’far as-Shodiq

Ja’far as-Shodiq adalah putra dari Muhammad al-Baqir. Muhammad al-Baqir merupakan imam kelima dan Ja’far merupakan imam ke-6, menurut syiah. Beliau hidup sezaman dengan Imam Malik. Siapakah orang tua Ja’far?

pernikahan putri husain dengan anak zubair orang tua imam jafar shodiq

Jalur Ayah beliau keturunan Ali bin Abi Thalib: Muhammad al-Baqir bin Ali Zainul Abidin bin Husain bin Ali.

Kakek dan nenek beliau dari jalur ibu, keduanya adalah cucu Abu Bakr as-Shidiq radhiyallahu ‘anhu. Ada satu ungkapan beliau yang sangat terkenal,

ولدني ابو بكر مرتين

“Abu Bakr melahirkanku dua kali.” (al-Muntaqa min an-Nasab, hlm. 61)

Ketujuh, pernikahan Ali ar-Ridha dengan Ummu habib, putri khalifah al-Makmun bin Harun ar-Rasyid.

pernikahan imam ali ridho

Ali ar-Ridha bin Musa al-Kadzim diklaim sebagai imam syiah itsna asyariyah ke-8. Beliau wafat tahun 303 H. Beliau menikah dengan Ummu Habib, cucu al-Makmun bin Harun ar-Rasyid, khalifah Bani Abbasiyah.

Beliau juga memiliki budak wanita bernama Sakan. Dari budak ini, beliau mendapatkan anak bernama Muhammad al-Jawad. Muhmmad al-Jawad diklaim sebagai imam syiah itsna asyariyah ke-9. Muhammad al-Jawad menikah dengan Ummu Fadhl putri Khalifah al-Makmun bin Harun ar-Rasyid. (al-Muntaqa min an-Nasab, hlm. 64)

Anda bisa perhatikan, betapa dekatnya hubungan mereka dengan kaum muslimin ahlus sunah, baik dari bani Umayah mauapun Abasiyah, yang dimusuhi syiah.

Allahu a’lam

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

aliran syiah dan islam

DVD Gratis: Sejarah & Ritual Syiah di Indonesia

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Segala puji bagi Allah, yang telah memberi petunjuk kepada kita ke jalan yang lurus. Jalan beragama yang ditempuh para sahabat dan ahlul bait. Semoga Allah memberi kekuatan untuk senantiasa istiqamah di atas kebenaran.

Alhamdulillah, sekitar 2 bulan yufid menjalankan program penyebaran DVD syiah dengan bantuan dana dari para donatur. Selama kurun itu, DVD yang telah disebarkan kurang lebih 3000 keping. Kami haturkan jazaakumullah khoiran kepada para donatur, semoga menjadi amal sholeh di hari kiamat.

Selanjutnya, kami sangat yakin, tidak semua pembaca memilikinya atau minimal telah menyimak isi DVD itu. Oleh karena itu, bagi anda yang belum sempat memilikinya atau belum sempat menyimaknya, kami telah menyediakan link download untuk konten DVD gratis tersebut, sebagai berikut:

Video pertama:

Link download: https://archive.org/details/RitualSyiahIndonesia

Video ini berdurasi 48 menit. Isi video ini:

  1. Kumpulan dokumentasi berbagai ritual dan kegiatan keagamaan syiah di Indonesia. Serta perbandingan dengan kegiatan syiah di luar negeri.
  2. Cuplikan ceramah tokoh-tokoh syiah di Indonesia.
  3. Cuplikan ceramah tokoh syiah luar negeri.
  4. Sekilas tentang tragedi Suriah dan status pemerintahan Basyar

Video kedua:

Link download: https://archive.org/details/ZionisDanSyiahBersatuHantamIslam

Video ini berdurasi 1 jam 4 menit. Merupakan video dokumen kajian bedah buku, yang disampaikan oleh Ust Farid Okbah. Data yang beliau sajikan:

  1. Sejarah syiah masuk ke Indonesia.
  2. Perkembangan syiah di Indonesia.
  3. Peta kantong-kantong syiah di Indonesia.

Dua video di atas, fokus tentang syiah di Indonesia. Agar masyarakat bisa memahami bagaimana ancaman besar syiah terhadap stabilitas nasional di Indonesia dan bahayanya terhadap aqidah masyarakat muslim Indonesia.

Demikian, silahkan disebarkan ke semua rekan online anda, semoga bermanfaat.

SOCIAL

10,016FansLike
4,525FollowersFollow
33,526FollowersFollow
61,951SubscribersSubscribe

RAMADHAN

Dukung KonsultasiSyariah.com
dengan Donasi!

BNI SYARIAH
0381346658
a.n. Yufid Network Yayasan
***
BANK SYARIAH MANDIRI
7086882242
a.n. Yayasan Yufid Network
***
PAYPAL
finance@yufid.org
Konfirmasi via email: finance@yufid.org

Powered by WordPress Popup