<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Konsultasi Kesehatan dan Tanya Jawab Pendidikan Islam &#187; MANHAJ</title>
	<atom:link href="http://www.konsultasisyariah.com/category/manhaj/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.konsultasisyariah.com</link>
	<description>KonsultasiSyariah.com</description>
	<lastBuildDate>Thu, 17 May 2012 04:22:47 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Berita Kerusuhan di Suriah</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/berita-suriah/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/berita-suriah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Mar 2012 02:32:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Firqoh]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=10777</guid>
		<description><![CDATA[Berita Suriah Pertanyaan: Assalamu’alaikum Saya beberapa kali membaca di internet tentang kerusuhan di Suriah. Apa sebenarnya yang terjadi di sana? Dari: Ray Jawaban: Wa’alaikumussalam Kejadian di Suriah Pergolakan di Suriah sudah terjadi lebih dari satu tahun, sejak 15 Maret 2011 ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Berita Suriah</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Assalamu’alaikum</p>
<p>Saya beberapa kali membaca di internet tentang kerusuhan di <strong>Suriah</strong>. Apa sebenarnya yang terjadi di sana?</p>
<p>Dari: Ray<br />
<span id="more-10777"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
Wa’alaikumussalam</p>
<h3>Kejadian di Suriah</h3>
<p>Pergolakan di Suriah sudah terjadi lebih dari satu tahun, sejak 15 Maret 2011 sampai saat ini lebih dari 11.000 orang tewas dan ribuan bangunan hancur. Peristiwa ini merupakan akumulasi dari tindakan represif pemerintah Suriah sejak dahulu.</p>
<p>Pada masa pemerintahan Hafiz al Asad, -ayah dari presiden sekarang, Basyar al Asad- rakyat Suriah khususnya dari kalangan Ahlussunnah ditindas dan dibantai:</p>
<ul>
<li>12 April 1980, pemerintahan Al Asad membunuh ratusan orang di kota Hamah.</li>
<li>27 Juni 1980 sekitar 1500 orang-orang yang ditawan pemerintah terdiri dari pihak oposisi, dosen, cendekiawan, dan ulama tewas di penjara kota Tadmur.</li>
<li>11 Agustus 1980 serangan terhadap penduduk kota Halb menewaskan 100 orang.</li>
<li>Tahun 1982 tentara Suriah di bawah kendali presiden Hafidz Al Assad dan saudaranya Raf’at Al Assad kembali melakukan pembantaian terhadap Ahlussunnah di kota Hama. Dalam penyerangan selama 1 bulan mereka berhasil menguasai kota dan membantai 70.000 penduduk kota hama. Mereka menculik lebih dari 20.000 penduduk, melakukan pemerkosaan terhadap wanita, menghancurkan rumah, bangunan, masjid, gereja serta pasar. Dalam penyerangan tersebut lebih dari 10.000 penduduk terpaksa mengungsi keluar kota Hama.</li>
</ul>
<p>Terlalu panjang untuk diceritakan kebiadaban rezim Al Asad ini dan sangat sulit diterima oleh akal kekejaman yang mereka lakukan terhadap rakyatnya, namun inilah realitanya. Kita bisa saksikan video-video pembantaian seperti itu.</p>
<p><iframe width="500" height="281" src="http://www.youtube.com/embed/liKp7K2DhGU?fs=1&#038;feature=oembed" frameborder="0" allowfullscreen></iframe></p>
<p>Setelah menyaksikan video di atas, tentu membuat kita bertanya-tanya, apa yang membuat prajurit-prajurit dan orang-orang yang pro pemerintahan Suriah begitu tega membantai orang-orang dengan cara yang keji demi menuruti kehendak dinasti Asad dan tetap menjaga langgenggnya kekuasaan mereka. Video berikut ini jawabannya</p>
<p><iframe width="500" height="375" src="http://www.youtube.com/embed/wZoEOQsxt8w?fs=1&#038;feature=oembed" frameborder="0" allowfullscreen></iframe></p>
<h3>Siapa Basyar al Asad dan Mengapa Ia Membunuh Ahlussunnah?</h3>
<p>Basyar al Asad adalah pemimpin partai Bath di Suriah yang berideologi sosialis. Namun secara pribadi ia berideologi Syiah Nushiariyah, salah satu sekte Syiah yang ekstrim. Dengan demikian tidak heran Rusia yang berpaham komunis dan Iran yang merupakan manifestasi ajaran Syiah, membantu pemerintahan Baysar al Asad memerangi umat Islam dan para oposisi, tujuannya agar Baysar al Asad tetap langgeng di tanah Arab dan cita-cita revolusi Iran untuk mensyiahkan Arab pun tercapai.</p>
<p>Apabila pembahasan ini dibicarakan dari kaca mata politik saja, tentu kita tidak akan mencapai substansi permasalahan dan pembahasan pun akan simpang siur dikarenakan ketidakpastian berita dan banyaknya kepentingan. Agar lebih menyentuh substansi permasalahan, pembahasan ini haruslah dibahas dari kaca mata ideologi, yang mana merupakan penggerak utama aktivitas seseorang atau kelompok.</p>
<p>Syiah merupakan ajaran yang sudah sangat lama ada, jauh sebelum keberadaan Amerika dan negara-negara Barat lainnya. Ajaran ini dicetuskan oleh Abdullah bin Saba, seorang Yahudi yang berpura-pura masuk Islam untuk memecah belah Islam dari dalam. Keberadaan mereka di tengah kaum mulimin selalu menimbulkan kerugian dan pertumpahan darah. Bagi orang-orang yang mempelajari sejarah tentunya akan tahu apa yang menyebabkan jutaan umat Islam tewas di Baghdad oleh tentara Mongol dan mengapa pula Timur Lang membantai sekian banyak umat Islam pada masanya berkuasa. Semua itu karena pengaruh Syiah. Lalu apa ideologi Basyar al Asad dan Timur Lang yang membuat mereka yakin mengobarkan peperangan dan tega untuk membunuh melakukan pembantaian. Berikut ini kami kutipkan dari buku-buku Syiah, bagaimana mereka memandang Ahlussunnah.</p>
<p>Dari Daud bin Farqad, dia berkata, saya berkata kepada bapakku, Abdullah ‘<em>alaihissalam</em> “Apa pendapatmu tentang pembunuhan terhadap pembangkang?” Dia menjawab, “Halal darahnya, tetapi saya merasa khawatir kepadamu. Jika kamu mampu menimpakan dinding atau menenggelamkannya ke dalam air agar tak ada seorang pun yang melihatnya, maka lakukanlah.” (<em>Wasail Asy Syiah</em>, 18:436, <em>Bihar Al Anwar</em>, 27:231). Khomeini –pemimpin revolusi Iran- mengatakan, “Jika kamu mampu untuk mengambil hartanya, maka ambillah dan berikan kepada kami seperlimanya.”</p>
<p>Sayid Ni’matullah Al Jazairi berkata, “Sesungguhnya Ali bin Yaqthin, pembantu Rasyid berkumpul di dalam penjara yang dihuni oleh sekelompok pembangkang (Ahlussunnah), maka dia menyuruh budak-budaknya untuk meruntuhkan atap agar menimpa orang-orang yang ada di penjara sehingga mereka semuanya mati dan jumlah mereka adalah lima ratus orang laki-laki.” (<em>Al Anwar anNu’maniyah</em>, 3:308)</p>
<p>Ni’matullah al Jazairi mengatakan, “Mereka (Ahlussunnah) adalah orang-orang kafir yang najis berdasarkan kesepakatan ulama Syiah Imamiyah. Mereka lebih jahat daripada Yahudi dan Nashrani. Dari tanda orang yang membangkang adalah lebih mengutamakan selain Ali dalam imamah.” (<em>Al Anwar an Nu’maniyah</em>, 206-207).</p>
<p>Oleh karena itulah, Basyar dan tentaranya tega melakukan kekejaman sedemikian rupa karena ada motivasi ideologi yang menuai pahala (jihad). Demikian juga selogan pasukan Iran ketika membantu pasukan Suriah memerangi Ahlussunnah, mereka mengatakan, “<em>Uqtulul sunnah dakhola al jannah</em>.” Bunuhilah orang-orang Ahlussunnah maka akan masuk surga.  Ketika diwawancari di stasiun televisi, saat ditanya apakah ia (Basyar) merasa bersalah melakukan pembantaian tersebut, ia mengatakan “Saya telah melakukan hal yang terbaik untuk melindungi orang-orang (menurut dia), jadi mengapa harus merasa bersalah.”</p>
<p><strong>Dijawab oleh Nurfitri Hadi (Tim <a href="http://konsultasisyariah.com/berita-suriah" target="_blank" rel="nofollow">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/" rel="nofollow" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Tags: <strong>Berita Suriah</strong>, <strong>Syiah Suriah.</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/berita-suriah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kesesatan Syiah Menurut Dr. Said Aqil Siroj</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/kesesatan-syiah-menurut-dr-said-aqil-siroj/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/kesesatan-syiah-menurut-dr-said-aqil-siroj/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Feb 2012 23:00:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arifin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Firqoh]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=10405</guid>
		<description><![CDATA[Kesesatan Syiah Menurut Dr. Said Aqil Siroj Perjalanan hidup manusia melalui berbagai fase dan juga perubahan fisik, mental, dan juga spiritual. Adanya perubahan ini menjadi bukti nyata bahwa hanya Allah Azza wa Jalla yang kekal. Dan kalau bukan karena karunia ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Kesesatan Syiah Menurut Dr. Said Aqil Siroj</h2>
<p>Perjalanan hidup manusia melalui berbagai fase dan juga perubahan fisik, mental, dan juga spiritual. Adanya perubahan ini menjadi bukti nyata bahwa hanya Allah <em>Azza wa Jalla</em> yang kekal. Dan kalau bukan karena karunia dari-Nya manusia tidak akan kuasa untuk teguh dalam menetapi sesuatu termasuk agamanya (<em>istiqamah</em>). Karena itu, dahulu Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em> senantiasa memohon keteguhan hati kepada Allah, <em>“Wahai Dzat Yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku</em> <em>di atas agama-Mu.”</em> Ini mungkin salah satu hikmah yang dapat kita petik dari kewajiban membaca surat Al Fatihah pada setiap rakaat shalat. Pada surat ini terdapat permohonan kepada Allah <em>Azza wa Jalla</em> agar senantiasa menunjuki kita jalan yang lurus, yaitu jalan kebenaran<br />
<span id="more-10405"></span><br />
Fenomena ini terus melintas dalam pikiran saya, gara-gara saya membaca pernyataan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) <strong>Said Aqil Siroj</strong> di berbagai media. Said <span style="text-decoration: underline;">Aqil Siroj</span> mengatakan bahwa ajaran Syiah tidak sesat dan termasuk Islam seperti halnya Sunni.</p>
<p>Untuk menguatkan klaimnya ini, <strong>Said Aqil</strong> merujuk pada kurikulum pendidikan pada almamaternya Universitas Ummu Al Quro di Arab Saudi. Menurutnya,  &#8221;Wahabi yang keras saja menggolongkan Syiah bukan sesat.&#8221;</p>
<p>Pernyataan <em>Said Aqil</em> ini menyelisihi fakta dan menyesatkan. Sebagai buktinya, pada Mukaddimah disertasi S3 yang ia tulis semasa ia kuliah di Universitas Ummu Al Quro, Hal. tha’ (ط) <u>Said Aqil</u> menyatakan, “<em>Telah diketahui bersama bahwa umat Islam di Indonesia secara politik, ekonomi, sosial, dan ideologi menghadapi berbagai permasalahan besar. Pada saat yang sama mereka menghadapi musuh yang senantiasa mengancam mereka. Dimulai dari gerakan kristenisasi, paham sekuler, </em><em>kebatinan, dan berbagai sekte sesat, semisal Syiah, Qadiyaniyah (Ahmadiyyah), Bahaiyah</em><em>,</em><em> dan selanjutnya Tasawuf.”</em><em></em></p>
<p>Pernyataan Said Aqil pada awal disertasi S3-nya ini cukup menggambarkan bagaimana pemahaman yang diajarkan oleh Universitas Ummu Al Qura.</p>
<p>Bukan hanya Syiah yang sesat, bahkan lebih jauh Said Aqil dari hasil studinya menyimpulkan bahwa paham tasawuf juga menyimpang dari ajaran Islam. Karena itu pada akhir disertasinya, Said Aqil menyatakan, “<em>Sejatinya</em> ajaran <em>tasawuf dalam hal “al hulul” (menyatunya Tuhan dengan manusia) berasalkan dari orang-orang Syiah aliran keras (ekstrim). Aliran ekstrim Syiah meyakini bahwa Tuhan atau bagian dari-Nya telah menyatu dengan para imam mereka, atau yang mewakili mereka. Dan ideologi para pengikut sekte Syiah ini berawal dari pengaruh ajaran agama Nasrani.” </em>(<em>Silatullah Bil Kaun Fit Tassawuf Al Falsafy</em> oleh Said Aqil Siroj, 2:605-606)</p>
<p>Karena menyadari kesesatan  dan mengetahui  gencarnya  penyebaran Syiah di Indonesia, maka Said menabuh genderang peringatan. Itulah yang ia tegaskan pada awal disertasinya, sebagai andilnya dalam upaya melindungi Umat Islam dari paham yang sesat dan menyesatkan.</p>
<p>Namun, alangkah mengherankan bila kini Said Aqil menelan kembali ludah dan keringat yang telah ia keluarkan. Hasil penelitiannya selama bertahun-tahun, kini ia ingkari sendiri dan dengan lantang Said Aqil berada di garda terdepan pembela Syiah. Mungkinkah kini Said Aqil telah menjadi korban ancaman besar yang dulu ia kawatirkan mengancam umat Islam di negeri tercinta ini?</p>
<p>Oleh karena itu, Said heran dengan pernyataan Menteri Agama yang menilai Syiah adalah ajaran sesat. Dalam kurikulum <em>Al Firqoh Al Islamiyah</em> ajaran Khawarij, Jabbariyah, Muktazilah, dan Syiah masih dinilai sebagai Islam. &#8220;Ulama Sunni seperti Ibnu Khazm menilai Syiah itu Islam,&#8221; katanya.</p>
<p>Meski Syiah dan Sunni (Ahlussunnah) berbeda, lanjut Said, umat Islam tidak perlu mempertajam perbedaan. &#8220;Dalam Sunni saja banyak perbedaan yang tajam, misalnya penganut Imam Syafi’i dan Hanafi, itu saja berbeda tajam, apalagi Syiah,&#8221; katanya. Fatwa NU mengenai Syiah, Said menambahkan, pernah dikeluarkan pada 2006 yang menyebutkan Syiah bukan aliran yang sesat. &#8220;NU tidak pernah keras,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Menanggapi pernyataan Suryadarma yang juga kader Nahdlatul Ulama, Said menilai hal itu tidak pantas disampaikan. &#8220;Yang dikedepankan harusnya ukhuwah dan toleransi,&#8221; katanya. Said berharap Suryadarma Ali meminta maaf atas pernyataannya itu. &#8220;Saya setuju dengan permintaan maaf itu,&#8221; katanya. Said menilai permintaan maaf Suryadarma Ali bertujuan untuk menguatkan persatuan bangsa. (IRIBIndonesia/Tempo/PH)</p>
<p><a href="http://indonesian.irib.ir/hidden-2/-/asset_publisher/bHp8/content/pb-nu-syiah-tidak-sesat?redirect=http%3A%2F%2Findonesian.irib.ir%2Fhidden-2%3Fp_p_id%3D101_INSTANCE_bHp8%26p_p_lifecycle%3D" rel="nofollow" target="_blank">http://indonesian.irib.ir/hidden-2/-/asset_publisher/bHp8/content/pb-nu-Syiah-tidak-sesat?redirect=http%3A%2F%2Findonesian.irib.ir%2Fhidden-2%3Fp_p_id%3D101_INSTANCE_bHp8%26p_p_lifecycle%3D</a></p>
<h3>Berikut ini kami lampirkan disertasi Dr. Said Aqil Siroj:</h3>
<p class="arab">قال أبو محمد وما نعلم أهل قرية أشد سعيا في إفساد الاسلام وكيده من الرافضة 4/24</p>
<p class="arab">ومن المعروف أن المسلمين في إندونيسيا يواجهون مشاكل ضخمة، سياسيا واقتصاديا واجتماعيا وعقديا، وأمامهم أعداء متربصون بهم، من حركة التنصير والعلمانية والباطنية والفرق الضالة – الشيعة والقاديانية والبهائية – ثم الصوفية.<br />
صفحة ط من مقدمة رسالته الماجستير</p>
<p class="arab">وأما قولهم في دعوى الروافض تبديل القراءات فإن الروافض ليسوا من المسلمين إنما هي فرق حدث أولها بعد موت النبي صلى الله عليه و سلم بخمس وعشرين سنة وكان مبدؤها إجابة من خذله الله تعالى لدعوة من كاد الإسلام وهي طائفة تجري مجرى اليهود والنصارى في الكذب والكفر وهي طوائف أشدهم غلوا يقولون بالهية علي بن أبي طالب والآلهية جماعة معه وأقلهم غلوا يقولون أن الشمس ردت على علي بن أبي طالب مرتين فقوم هذا أقل مراتبهم في الكذب أيستشنع منهم كذب يأتون به وكل من يزجره عن الكذب ديانة أو نزاهة نفس أمكنه أن يكذب ما شاء وكل دعوى بلا برهان فليس يستدل بها عاقل سواء كانت له أو عليه ونحن أن شاء الله تعالى نأتي بالبرهان الواضح الفاضح لكذب الروافض فيما افتعلوه من ذلك 2/65</p>
<p class="arab">ولا ننسى أن غلاة الشيعة كانوا يستخدمون السحر والطلمسات ويظهرون للعوام الزهد والتقشف ولبس الصوف ويدعون الكرامات. 1/47<br />
إن التصوف أمر طارئ محدث غريب دخيل على المجتمع الإسلامي، ظهر في القرن الثاني الهجري. وأول ما ظهر في مدينة الكوفة، مدينة التقت فيها الأديان الوثنية والثقافات الأجنبية، كما أنها مركز غلاة الشيعة وكانوا يتظاهرون بالتزهد والتقشف ويمارسون السحر والشعوذة والكيمياء والسيمياء والتنجيم وغيرها من العلوم المعروفة عند العجم. 2/603.</p>
<p><strong>Ditulis oleh Dr. Arifin Baderi (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)</strong><br />
<strong> Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/" rel="nofollow" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>About The Author:<br />
Dr. Muhammad Arifin, M.A. Dosen Tetap STDI Imam Syafii Jember, dosen terbang Program Pasca Sarjana jurusan Pemikiran Islam Program Internasional Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), dan anggota Pembina Pengusaha Muslim Indonesia (KPMI).</p>
<h3>Materi terkait kesesatan Syiah dan Mut’ah:</h3>
<p>1.<a href="../memberi-kelapangan-untuk-keluarga-di-hari-asyura" rel="nofollow" target="_blank">Pandangan Kelompok pada Hari Asyuro</a>.<br />
2. <a href="../peringatan-kematian-imam-husein" rel="nofollow" target="_blank">Peringatan Kematian Imam Husein oleh Syiah</a>.<br />
3. <a href="../kisah-nikah-mutah-sebuah-ironi" rel="nofollow" target="_blank">Kisah Nikah Mut’ah</a>.<br />
4. <a href="../nikah-mutah-ajaran-syiah" rel="nofollow" target="_blank">Nikah Mut’ah Menurut Syiah</a>.<br />
5. <a href="../nikah-mutah-dalam-syiah" rel="nofollow" target="_blank">Kerusakan <strong>Nikah Mut’ah</strong></a>.<br />
6. <a href="../media-pembela-syiah-indonesia" rel="nofollow" target="_blank">Media Pembela <strong>Ajaran Syiah</strong></a>.<br />
7. <a href="../ajaran-syiah" rel="nofollow" target="_blank">Hakikat Ajaran Syiah (1)</a>.<br />
8. <a href="../hakikat-ajaran-syiah-2" rel="nofollow" target="_blank">Hakikat Ajaran Syiah (2)</a>.<br />
9. <a href="../hakikat-ajaran-syiah-3" rel="nofollow" target="_blank">Hakikat Ajaran Syaih (3)</a>.<br />
10. <a href="../hakikat-ajaran-syiah-4" rel="nofollow" target="_blank">Hakikat Ajaran Syiah (4)</a>.<br />
11. <a href="http://konsultasisyariah.com/ajaran-syiah-dan-ahlul-bait" target="_blank" rel="nofollow">Ajaran Syiah dan Ahlul Bait</a>.</p>
<p>Tags: syiah, ajaran syiah, kesesatan syiah, ajaran sesat syiah, tokoh syiah indonesia, syiah indonesia, syiah memang sesat, bahaya syiah, <strong>sesatnya syiah</strong>, Dr. Said Aqil Siroj, said aqil siroj.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/kesesatan-syiah-menurut-dr-said-aqil-siroj/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengakuan Haidar Bagir Tentang Sesatnya Syiah</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/pengakuan-haidar-bagir-tentang-sesatnya-syiah/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/pengakuan-haidar-bagir-tentang-sesatnya-syiah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Feb 2012 23:00:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arifin</dc:creator>
				<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Firqoh]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh siah indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=10404</guid>
		<description><![CDATA[Pengakuan Haidar Bagir Tentang Sesatnya Syiah Sepandai-pandai tupai melompat, pasti kan terjatuh juga. Pepatah ini adalah hal pertama yang melintas dalam pikiran  saya ketika membaca tulisan bapak Haidar Bagir di harian Republika (20/1/2012) dengan judul: Syiah dan Kerukunan Umat. Bapak ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2 style="text-align: -webkit-center;">Pengakuan Haidar Bagir Tentang Sesatnya Syiah</h2>
<div style="text-align: -webkit-center;">Sepandai-pandai tupai melompat, pasti kan terjatuh juga. Pepatah ini adalah hal pertama yang melintas dalam pikiran  saya ketika membaca tulisan bapak Haidar Bagir di harian Republika (20/1/2012) dengan judul: <em>Syiah</em> dan Kerukunan Umat.</div>
<p>Bapak Haidar Bagir dengan segala daya dan upayanya berusaha menutupi beberapa ideologi <u>Syiah</u> yang menyeleweng dari kebenaran. Walau demikian, tetap saja ia tidak dapat melakukannya. Bahkan bila Anda mencermati dengan seksama, niscaya Anda dapatkan tulisannya mengandung pengakuan nyata akan kesesatan sekte Syiah Imamiyyah.<br />
<span id="more-10404"></span><br />
Berikut saya ketengahkan ke hadapan Anda tiga pengakuan terselubung bapak Haidar Bagir.</p>
<p><strong>Pengakuan Pertama: </strong><strong></strong></p>
<p>Data Syiah Imamiyah tentang ideologi adanya Alquran versi Syiah begitu melimpah dalam berbagai referensi Syiah. Wajar bila Bapak Haidar Bagir tidak menemukan cara untuk mengingkarinya. Fenomena ini mengharuskannya menempuh cara selain menutupinya. Dan ternyata Bapak Haidar Bagir lebih memilih cara mengesankan bahwa data tersebut adalah pendapat pribadi sebagian tokoh Syiah Imamiyah.</p>
<p>Karenanya, dengan jelas tulisan bapak Haidar Bagir ini mengandung pengakuan tentang kebenaran adanya Alquran versi Syiah Imamiyyah. Berdasarkan pengakuannya ini, Anda mendapat kepastian tentang adanya ideologi Alquran versi Syiah Imamiyyah.</p>
<p>Adapun klaim bapak Haidar bahwa ideologi ini adalah ideologi sebagian oknum Syiah, maka itu menyelisihi fakta yang ada. Sebagai salah satu buktinya, Ayatullah Khomeini, yang mereka anggap sebagai Wali Faqih, dan tokoh terkemuka Syiah Imamiyah zaman ini teryata masih mengajarkannya.</p>
<p>Dalam kitabnya <em>Kasyful Asrar</em> Hal. 149 Al Khomeini menyatakan: <em>&#8220;Telah kami buktikan pada awal pembahasan ini, bahwa Nabi <strong>menahan diri dari membicarakan masalah al imaamah (kepemimpinan) dalam Alquran</strong>. Alasannya beliau khawatir Alquran akan diselewengkan, atau timbul perselisihan yang sengit di tengah-tengah kaum muslimin, sehingga hal itu berakibat buruk bagi masa depan agama Islam.&#8221;</em></p>
<p>Adapun keberadaan Mushaf Utsmani di tengah-tengah para penganut Syiah Imamiyah, maka itu belum cukup kuat untuk mengingkari adanya mushaf Fatimah dalam ideologi Syiah. Yang demikian itu karena tokoh Syiah Imamiyah sejak dahulu mengajarkan agar para pengikut mereka untuk sementara membaca Alquran yang ada, hingga masa bangkitnya Imam ke-12 mereka. Menurut mereka, hanya Imam Mahdi merekalah yang masih menyimpan dan kelak akan mengajarkannya kembali kepada para pengikutnya.</p>
<p>Al Kulaini dalam kitanya <em>Al Kafi</em> 2:619, meriwayatkan bahwa Abu Hasan Ali bin Musa Ar Ridha, bertanya kepada Imam Syiah ke-5, yaitu Abu Ja&#8217;far Muhammad bin Ali bin Al Husain, “ Semoga aku menjadi penebusmu, kita mendengar ayat-ayat Alquran yang tidak ada pada Alquran kita ini. Kita juga tidak dapat membacanya sebagaimana yang kami dengar dari Anda, maka apakah kami berdosa?” Beliau menjawab, “Tidak, bacalah sebagaimana yang pernah kalian pelajari, karena suatu saat nanti akan datang orang yang mengajarkannya kepada kalian.&#8221;</p>
<p>Adapun klaim bapak Haidar tentang tokoh-tokoh Ahlusunnah yang menyatakan adanya perubahan pada Alquran, adalah klaim sepihak dan kosong dari bukti. Pernyataan sahabat Umar bin Al Khatthab juga yang lainnya tentang ayat rajam adalah penjelasan tentang adanya ayat yang dianulir secara bacaan. Walaupun secara hukum, ayat-ayat tersebut masih tetap berlaku.</p>
<p>Sebagaimana ulama-ulama Ahlusunnah juga menegaskan bahwa dalam Alquran terdapat beberapa ayat-ayat yang kandungan hukumnya telah dihapuskan walau secara bacaan masih tetap ada.  Fakta ini bukanlah hal aneh, karena telah dijelaskan pada ayat 106, surat Al Baqarah.</p>
<p>Namun tentu syariat <em>nasikh</em> (anulir) suatu ayat menurut Ahlusunnah menyelisihi ideologi perubahan Alquran dalam doktrin Syiah Imamiyah. <em>Nasikh</em> menurut Ahlusunnah hanya terjadi semasa hidup Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Adapun sepeninggal beliau maka tidak terjadi <em>nasikh. </em></p>
<p>Ditambah lagi<em> </em>menurut syariat Ahlusunnah, hingga hari kiamat<em> </em>tidak ada yang mengembalikan ayat-ayat yang semasa Nabi hidup <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> <em>mansukh</em> (dianulir).</p>
<p>Sedangkan menurut sekte Syiah Imamiyyah Alquran mengalami perubahan sepeninggal Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam. </em> Dan kelak ayat-ayat yang dirubah sepeninggal beliau akan dikembalikan lagi oleh imam mereka ke-12. Karena itu, sekte Syiah senantiasa menantikan kehadiran sosok tersebut, yang mereka yakini sebagai Imam Mahdi.</p>
<p><strong>Pengakuan Ke</strong><strong>dua</strong><strong> :</strong></p>
<p>Pada awal tulisan, Bapak Haidar mengklaim bahwa celaan Syiah terhadap sahabat hanyalah sebatas kecenderungan dan bukan ajaran. Menurutnya, Syiah yang mencela sahabat Khalifah Abu Bakar, Umar, Utsman, dan juga sebagian istri Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> hanyalah minoritas.</p>
<p>Selanjutnya Bapak Haidar berusaha menguatkan klaim ini dengan menyebutkan sekte Syiah Zaidiyah. Menurutnya sekte Zaidiyah menerima kekhilafahan sahabat Abu Bakar, Umar, dan Utsman.</p>
<p>Penuturan ini adalah bukti nyata bahwa Bapak Haidar telah memutar balikkan fakta. Sejatinya Bapak Haidar Bagir-lah yang telah menggunakan data <em>syadz</em> (ganjil) guna mendukung kesimpulanya. Karena sekte Zaidiyah adalah sekte minoritas Syiah, sedangkan meyoritas Syiah saat ini adalah para pengikut sekte Imamiyyah.</p>
<p>Terlebih lagi, adanya pengakuan terhadap kekhilafahan sahabat Abu Bakar, Umar, dan Utsman adalah alasan Imamiyah mengucilkan sekte Zaidiyah.</p>
<p>Adapun beberapa tokoh Syiah Imamiyyah yang disebut oleh bapak Haidar telah mengakui kekhilafahan ketiga sahabat di atas, maka saya tidak ingin banyak mempersoalkannya. Saya hanya ingin bertanya: apakah pengakuan tersebut diamini oleh tokoh Imamiyyah yang lain dan kemudian diterapkan oleh seluruh penganut Imamiyah?</p>
<p>Fakta yang terjadi di lapangan membuktikan bahwa pengikut Syiah imamiyah tetap saja melaknati ketiganya dan juga lainnya. Kasus sampang dan berbagai kasus serupa di negri kita adalah salah satu buktinya. Karena itu Abu Lukluah Al Majusi aktor pembunuh Khalifah Umar bin Khatthab diagungkan oleh sekte Imamiyah sehingga mereka menjulukinya dengan <em>Baba Suja’uddin</em>. Dan sebagai apresiasi atas jasanya membunuh Amirul Mukminin Umar bin Al Khatthab, mereka membangun kuburannya dengan megah.<span style="font-size: small;"><span style="line-height: normal;"><br />
</span></span></p>
<p><span style="font-size: small;"><span style="line-height: normal;"><img class="alignnone" title="pembunuh umar" src="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/02/buaya10-1-300x273.jpg" alt="kuburan abu lu'luah pembunuh umar" width="300" height="273" /><br />
</span></span></p>
<p>(Gambar: Kuburan Abu Lukluah Al Majusi)</p>
<p><img class="alignnone" title="memuja pembunih umar" src="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/02/buaya10-4-300x256.jpg" alt="antusias memuja abu lu'luah" width="300" height="256" /></p>
<p>(Betapa antusiasnya pengikut agama Syi’ah ketika berziarah ke kuburan ini)</p>
<p><strong>Pengakuan Ketiga: </strong></p>
<p>Kebesaran jiwa ulama-ulama Ahlusunnah dan juga seluruh Ahlusunnah untuk menghentikan kemungkaran yang dilakukan oleh dinasti Abbasiyah. Sehingga mereka semua patuh dan mengapresiasi sikap Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang menginstruksikan hal tersebut. Dan alhamdulillah hingga kini, hal tersebut sirna dan tidak ada yang melakukannya kembali.</p>
<p>Namun hal serupa hingga saat ini tidak kuasa dilakukan oleh para penganut ajaran Syiah Imamiyah. Sehingga walaupun para aktor sandiwara <em>taqrib</em> telah menyerukannya, namun tetap saja di lapangan para penganut Syiah terus mencaci sahabat-sahabat Nabi. Sikap Yasir Al Habib beserta para pengikutnya dan juga Syiah di Sampang adalah bukti nyata, bahwa seruan tersebut hanyalah seruan tanpa pembuktian.</p>
<p>Pengakuan bapak Haidar ini, dapat menjadi bukti nyata bahwa hanya dengan mengikuti ajaran Ahlusunnahlah kedamaian antar komponen umat Islam dapat terwujud. Adapun ajaran Syiah, terlebih Imamiyyah, hingga saat ini terus menjadi biang terjadinya permusuhan bahkan perang saudara di tengah-tengah umat Islam. Sikap pasukan Al Hutsi di Yaman yang menyerang Ahlusunnah di daerah Dammaj, dan juga pasukan Al Mahdi di Irak yang membantai Ahlusunnah adalah bukti nyata akan hal tersebut.</p>
<p><strong>Pengakuan Keempat :</strong></p>
<p>Bapak Haidar Bagir juga mengakui bahwa sekte Syiah yang selama ini menjadi biang kericuhan umat Islam adalah Syiah Imamiyah atau Itsna ’Asyariyah. Karena itu beliau merasa perlu untuk mengutarakan adanya perubahan pandangan tentang keabsahan khilafah sahabat Abu Bakar, Umar, dan Utsman.</p>
<p>Walau demikian, ada satu fakta yang mungkin kurang diwaspadai oleh bapak Haidar Bagir. Mengakui adanya perubahan ini sejatinya adalah pengakuan bahwa ideologi Imamah versi Imamiyyah adalah sesat. Andai tidak sesat, buat apa beliau perlu mengutarakan adanya ralat yang dilakukan oleh sebagian tokoh sekte Imamiyah?</p>
<p>Terlebih sejatinya ideologi bahwa imam (penguasa umat) dalam Islam hanya berjumlah 12 orang, adalah ideologi tidak nyata dan tidak masuk akal. Anda pasti telah mengetahui bahwa dari kedua belas imam Syiah yang benar-benar pernah mengenyam sebagai khalifah hanyalah sahabat Ali bin Abi Thalib dan putranya Hasan.</p>
<p>Adapun Husein beserta anak cucunya, maka hingga mereka meninggal dunia, tidak seorang pun yang sempat menjadi pemimpin. Sehingga berbagai dalil yang mereka yakini tentang keimaman mereka benar-benar menyelisihi fakta.</p>
<p>Secara <em>defacto</em> seluruh ahli sejarah sepakat bahwa Hasan bin Abi Thalib telah menyerahkan <em>khilafah</em> (kekuasaan) kepada sahabat Mu’awiyah. Dan tahun terjadinya serah terima khilafah ini akhirnya dikenal dan diabadikan oleh umat Ahlusunnah hingga akhir masa. Sehingga mereka menyebut tahun tersebut dengan sebutan <em>‘aamul jama’ah</em> (tahun persatuan).</p>
<p>Setiap Ahlusunnah bergembira dengan kejadian ini. Ahlusunnah menganggap sikap Hasan ini sebagai jasa terbesar yang beliau lakukan untuk umat Islam. Bahkan Ahlusunnah hingga saat ini meyakini bahwa sikap Hasan ini sebagai wujud nyata dari sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tentangnya,</p>
<p><em>“Sejatinya putraku ini adalah seorang pemimpin, dan semoga dengannya Allah menyatukan dua kelompok besar dari umat Islam.”</em> (HR. Bukhari)</p>
<p>Namun tahukah Anda bahwa Ahlusunnah yang mengapresiasi kebesaran jiwa Hasan ini ternyata tidak diteladani oleh penganut Syiah. Beberapa referensi Syiah malah menukilkan sikap yang berlawan arah. Beberapa tokoh Syiah malah menganggap sikap Hasan ini sebagai bentuk pengkhianatan.</p>
<p>Pada suatu hari, seorang  tokoh Syiah bernama Sufyan bin Laila berkunjung ke rumah Hasan bin Ali. Didapatkan beliau sedang duduk-duduk sambil berselimut di depan rumahnya. Spontan Sufyan bin Laila mengucapkan salam kepada Hasan dengan berkata, <em>&#8220;Semoga keselamatan atasmu, <strong>wahai orang yang telah menghinakan kaum mukminin</strong>!” Karena merasa ganjil dengan ucapan selamat yang disampaikan oleh Sufyan, Hasan bertanya, “Darimana engkau mengetahui hal itu?” Ia menjawab, “Engkau telah memangku kepemimpinan, lalu engkau melepaskannya dari bahumu. Selanjutnya engkau sematkan kepemimpinan itu di bahu penjahat ini agar ia leluasa menerapkan hukum selain hukum Allah.&#8221;</em></p>
<p>Kisah ini bisa Anda temui pada beberapa refensi agama Syiah, semisal: <em>Al Ikhtishash</em> karya As Syeikh Al Mufid wafat thn: 413 H, Hal.82,  <em>Ikhtiyaar Ma&#8217;rifat Ar Rijal</em>, karya As Syeikh At Thusi wafat thn: 460, Hal. 1:327 dan <em>Biharul Anwar</em> karya Muhammad Baqir Al Majlisi wafat thn: 1111 H, Hal.44:24.</p>
<p>Sejak serah terima khilafah antara sahabat Hasan kepada sahabat Mu’awiyah ini, tidak seorang pun dari keturunan sahabat Ali bin Abi Thalib yang memangku jabatan khalifah. Bahkan Husein bin Abi Thalib yang hendak merebut khilafah dari Yazid bin Mu’awiyah, menemui kegagalan dan terbunuh sebelum sempat mendapatkannya. Tak ayal lagi, ia hidup tanpa <em>imamah, </em>hingga akhir hayatnya, demikian pula nasib seluruh anak cucunya. Dengan demikian kesepuluh imam Syiah Imamiyyah setelah Hasan berstatus <em>Kings Without A Kingdom.</em></p>
<p>Ini adalah bukti nyata bahwa meyakini keimamahan kesepuluh imam sekte Imamiyah adalah kekeliruan, karena menyelisihi fakta. Sehingga wajar bila seluruh Ahlusunnah dan juga setiap yang berakal sehat tanpa terkecuali umat Islam di negri kita tercinta ini menolak ideologi Syiah Imamiyyah.</p>
<p><strong>Ditulis oleh Dr. Arifin Baderi (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)</strong><br />
<strong> Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/" rel="nofollow" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>About The Author:<br />
Dr. Muhammad Arifin, M.A. Dosen Tetap STDI Imam Syafii Jember, dosen terbang Program Pasca Sarjana jurusan Pemikiran Islam Program Internasional Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), dan anggota Pembina Pengusaha Muslim Indonesia (KPMI).</p>
<h3>Materi terkait sesatnya Syiah dan Mut’ah:</h3>
<p>1.<a href="../memberi-kelapangan-untuk-keluarga-di-hari-asyura" rel="nofollow" target="_blank">Pandangan Kelompok pada Hari Asyuro</a>.<br />
2. <a href="../peringatan-kematian-imam-husein" rel="nofollow" target="_blank">Peringatan Kematian Imam Husein oleh Syiah</a>.<br />
3. <a href="../kisah-nikah-mutah-sebuah-ironi" rel="nofollow" target="_blank">Kisah Nikah Mut’ah</a>.<br />
4. <a href="../nikah-mutah-ajaran-syiah" rel="nofollow" target="_blank">Nikah Mut’ah Menurut Syiah</a>.<br />
5. <a href="../nikah-mutah-dalam-syiah" rel="nofollow" target="_blank">Kerusakan <strong>Nikah Mut’ah</strong></a>.<br />
6. <a href="../media-pembela-syiah-indonesia" rel="nofollow" target="_blank">Media Pembela <strong>Ajaran Syiah</strong></a>.<br />
7. <a href="../ajaran-syiah" rel="nofollow" target="_blank">Hakikat Ajaran Syiah (1)</a>.<br />
8. <a href="../hakikat-ajaran-syiah-2" rel="nofollow" target="_blank">Hakikat Ajaran Syiah (2)</a>.<br />
9. <a href="../hakikat-ajaran-syiah-3" rel="nofollow" target="_blank">Hakikat Ajaran Syaih (3)</a>.<br />
10. <a href="../hakikat-ajaran-syiah-4" rel="nofollow" target="_blank">Hakikat Ajaran Syiah (4)</a>.<br />
11. <a href="http://konsultasisyariah.com/ajaran-syiah-dan-ahlul-bait" target="_blank" rel="nofollow">Ajaran Syiah dan Ahlul Bait</a>.</p>
<p>Tags: syiah, ajaran syiah, kesesatan syiah, ajaran sesat syiah, tokoh syiah indonesia, syiah indonesia, syiah memang sesat, bahaya syiah, <strong>sesatnya syiah</strong>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/pengakuan-haidar-bagir-tentang-sesatnya-syiah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Nikah Mut&#8217;ah (Sebuah Ironi)</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/kisah-nikah-mutah-sebuah-ironi/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/kisah-nikah-mutah-sebuah-ironi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Jan 2012 08:06:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Firqoh]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9768</guid>
		<description><![CDATA[Kisah Nikah Mut’ah Nikah mut’ah adalah pernikahan tanpa batas dengan menerabas aturan-aturan syariat yang suci, mut&#8217;ah ini telah melahirkan banyak kisah pilu. Tidak jarang pernikahan ini menghimpun antara anak dan ibunya, antara seorang wanita dengan saudaranya, dan antara seorang wanita ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Kisah Nikah Mut’ah</h2>
<p><strong>Nikah mut’ah</strong> adalah pernikahan tanpa batas dengan menerabas aturan-aturan syariat yang suci, mut&#8217;ah ini telah melahirkan banyak kisah pilu. Tidak jarang pernikahan ini menghimpun antara anak dan ibunya, antara seorang wanita dengan saudaranya, dan antara seorang wanita dengan bibinya, sementara dia tidak menyadarinya. Di antaranya adalah apa yang dikisahkan Sayyid Husain Al Musawi. Ia menceritakan,<br />
<span id="more-9768"></span><br />
<strong>Kisah pertama:</strong><br />
Seorang perempuan datang kepada saya menanyakan tentang peristiwa yang terjadi terhadap dirinya. Dia menceritakan bahwa seorang tokoh, yaitu Sayid Husain Shadr pernah nikah mut’ah dengannya dua puluh tahun yang lalu, lalu dia hamil dari pernikahan tersebut. Setelah puas, dia menceraikan saya. Setelah berlalu beberapa waktu saya dikarunia seorang anak perempuan. Dia bersumpah bahwa dia hamil dari hasil hubungannya dengan Sayid Shadr, karena pada saat itu tidak ada yang nikah mut’ah dengannya kecuali Sayid Shadr.</p>
<p>Setelah anak perempuan saya dewasa, dia menjadi seorang gadis yang cantik dan siap untuk nikah. Namun sang ibu mendapati bahwa anaknya itu telah hamil. Ketika ditanyakan tentang kehamilannya, dia mengabarkan bahwa Sayid Shadr telah melakukan mut’ah dengannya dan dia hamil akibat mut’ah tersebut. Sang ibu tercengang dan hilang kendali dirinya lalu mengabarkan kepada anaknya bahwa Sayid Shadr adalah ayahnya. Lalu dia menceritakan selengkapnya mengenai pernikahannya (ibu wanita) dengan Sayid Shadr dan bagaimana bisa hari ini Sayid Shadr menikah dengan anaknya dan anak Sayid Shadr juga?!</p>
<p>Kemudian dia datang kepadaku menjelaskan tentang sikap tokoh tersebut terhadap dirinya dan anak yang lahir darinya. Sesungguhnya kejadian seperti ini sering terjadi. Salah seorang dari mereka melakukan mut’ah dengan seorang gadis, yang di kemudian hari diketahui bahwa dia itu adalah saudarinya dari hasil nikah mut’ah. Sebagaimana mereka juga ada yang melakukan nikah mut’ah dengan istri bapaknya.</p>
<p>Di Iran, kejadian seperti ini tak terhitung jumlahnya. Kami membandingkan kejadian ini dengan firman Allah Ta’ala, “<em>Dan orang-orang yang tidak mampu menikah hendaklah menjaga kesucian (diri)nya sehingga Allah mampukan mereka dengan karunia-Nya.</em>” (QS. An-Nur:33)</p>
<p>Kalaulah mut’ah dihalalkan, niscaya Allah tidak akan memerintahkan untuk menjaga kesucian dan menunggu sampai tiba waktu dimudahkan baginya untuk urusan pernikahan, tetapi Dia akan menganjurkan untuk melakukan mut’ah demi memenuhi kebutuhan biologisnya daripada terus-menerus diliputi dan dibakar oleh api syahwat.</p>
<p><strong>Kisah kedua:</strong><br />
Suatu waktu saya duduk bersama Imam Al-Khaui di kantornya. Tiba-tiba masuk dua orang laki-laki menemui kami, mereka memperdebatkan suatu masalah. Keduanya bersepakat untuk menanyakannya kepada Imam Al Khaui untuk mendapatkan jawaban darinya.</p>
<p>Salah seorang di antara mereka bertanya, “Wahai sayid, apa pendapatmu tentang mut’ah, apakah ia halal atau haram?”<br />
Imam Al Khaui melihat lagaknya, ia menangkap sesuatu dari pertanyaannya, kemudian dia berkata kepadanya, “Dimana kamu tinggal?” maka dia menjawab, “Saya tinggal di Mosul, kemudian tinggal di Najaf semenjak sebulan yang lalu.”</p>
<p>Imam berkata kepadanya, “Kalau demikian berarti Anda adalah seorang Sunni?”</p>
<p>Pemuda itu menjawab, “Ya!”</p>
<p>Imam berkata, “Mut’ah menurut kami adalah halal, tetapi haram menurut kalian.”</p>
<p>Maka pemuda itu berkata kepadanya, “Saya di sini semenjak dua bulan yang lalu merasa kesepian, maka nikahkanlah saya dengan anak perempuanmu dengan cara mut’ah sebelum saya kembali kepada keluargaku.”</p>
<p>Maka sang imam membelalakkan matanya sejenak, kemudian berkata kepadanya, “Saya adalah pembesar, dan hal itu haram atas para pembesar, namun halal bagi kalangan awam dari orang-orang Syiah.”</p>
<p>Si pemuda menatap Al Khaui sambil tersenyum. Pandangannya mengisyaratkan akan pengetahuannya bahwa Al Khaui sedang mengamalkan taqiyah (berbohong untuk membela diri).</p>
<p>Kedua pemuda itu pun berdiri dan pergi. Saya meminta izin kepada Imam Al Khaui untuk keluar. Saya menyusul kedua pemuda tadi. Saya mengetahu bahwa penanya adalah seorang Sunni dan sahabatnya adalah seorang Syi’i (pengikut Syiah). Keduanya berselisih pendapat tentang nikah mut’ah, apakah ia halal atau haram? Keduanya bersepakat untuk menanyakan kepada rujukan agama, yaitu Imam Al Khaui. Ketika saya berbicara dengan kedua pemuda tadi, pemuda yang berpaham Syiah berontak sambil mengatakan, “Wahai orang-orang durhaka, kamu sekalian membolehkan nikah mut’ah kepada anak-anak perempuan kami, dan mengabarkan bahwa hal itu halal, dan dengan itu kalian mendekatkan diri kepada Allah, namun kalian mengharamkan kami untuk nikah mut’ah dengan anak-anak perempuan kalian?”</p>
<p>Maka dia mulai memaki dan mencaci serta bersumpah untuk pindah kepada madzhab <em>ahlussunnah</em>, maka saya pun mulai menenangkannya, kemudian saya bersumpah bahwa nikah mut’ah itu haram kemudian saya menjelaskan tentang dalil-dalilnya.</p>
<p>Sumber: Al Musawi, Sayid Husain. 2008. Mengapa Saya keluar dari Syiah. Pustaka Al Kautsar, Jakarta.</p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.konsultasisyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait syiah dan mut&#8217;ah:</h3>
<p>1.<a rel="nofollow" href="../memberi-kelapangan-untuk-keluarga-di-hari-asyura" target="_blank">Pandangan Kelompok pada Hari Asyuro</a>.<br />
2. <a rel="nofollow" href="../peringatan-kematian-imam-husein" target="_blank">Peringatan Kematian Imam Husein oleh Syiah</a>.<br />
3. <a rel="nofollow" href="../media-pembela-syiah-indonesia" target="_blank">Media Pembela Syiah</a>.<br />
4. <a rel="nofollow" href="../nikah-mutah-ajaran-syiah" target="_blank">Nikah Mut’ah Menurut Syiah</a>.<br />
5. <a href="http://konsultasisyariah.com/nikah-mutah-dalam-syiah" target="_blank" rel="nofollow">Kerusakan <strong>Nikah Mut'ah</strong></a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/kisah-nikah-mutah-sebuah-ironi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dampak Negatif Nikah Mut&#8217;ah</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/nikah-mutah-dalam-syiah/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/nikah-mutah-dalam-syiah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Jan 2012 09:09:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Firqoh]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9762</guid>
		<description><![CDATA[Dampak Negatif Nikah Mut'ah dalam Syiah Dalam artikel sebelumnya telah kami paparkan mengenai legalitas nikah mut'ah dalam ajaran Syiah. Syiah berpendapat bahwa hal itu sah menurut syariat dan mendapatkan pahala yang agung di sisi Allah. Hakikatnya, agama Islam adalah agama ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Dampak Negatif Nikah Mut'ah dalam Syiah</h2>
<p>Dalam artikel sebelumnya telah kami paparkan mengenai legalitas <strong>nikah mut'ah</strong> dalam ajaran <strong>Syiah</strong>. <span style="text-decoration: underline;">Syiah</span> berpendapat bahwa hal itu sah menurut syariat dan mendapatkan pahala yang agung di sisi Allah. Hakikatnya, agama Islam adalah agama yang sesuai dengan akal manusia yang fitrah, menjunjung tinggi kehormatan dan kesucian, bukanlah agama yang mengedepankan nafsu syahwat dan hasrat-hasrat yang tabu. Islam melarang segala sesuatu yang murni menimbulkan kemudharatan dan sesuatu yang mudharatnya lebih besar daripada manfaatnya. Di antara hal-hal yang menimbulkan kemudhratan tersebut adalah <em>nikah mut'ah</em>. Kemudharatan tersebut adalah sebagai berikut:</p>
<p><strong>1.</strong> Menyalahi nash-nash syariat karena menghalalkan apa yang Allah haramkan.</p>
<p><strong>2. </strong>Riwayat-riwayat dusta yang bermacam-macam dan penisbatannya kepada para imam, padahal di dalamnya mengandung caci maki yang tidak akan diridhai oleh orang yang dalam hatinya terdapat sebiji sawi dari keimanan.</p>
<p><strong>3.</strong> Kerusakan yang ditimbulkan dari pembolehan mut’ah dengan wanita yang bersuami, walaupun dia berada di bawah penjagaan seorang laki-laki tanpa diketahui oleh suaminya. Dalam keadaan seperti ini seorang suami tidak akan merasa aman terhadap istrinya, karena bisa jadi si istri nikah mut’ah tanpa sepengetahuan suaminya yang sah ini. Pembolehan ini bisa dirujuk di buku Syiah <em>Al Kafi</em>, Jilid: 5, Hal. 463. Tak dapat dibayangkan, bagaimana pandangan seorang laki-laki dan perasaannya ketika dia mengetahui bahwa istri yang berada di bawah perlindungannya menikah dengan laki-laki lain dengan cara mut’ah (dikontrak <em>pen.</em>). Bagaimana pula keadaan anak-anak dan keluarga lainnya apabila hal ini terjadi?!</p>
<p><strong>4.</strong> Para bapak juga tidak akan merasa aman terhadap para anak perempuannya yang masih gadis, karena ada kalanya mereka melakukan nikah mut’ah tanpa sepengetahuan bapak-bapak mereka. Sangat mungkin seorang bapak dikagetkan oleh anak gadisnya yang tiba-tiba hamil. Mengapa dia hamil? Bagaimana bisa terjadi? Tidak tahu pula siapa yang menghamili. Atau dia mengetahui anaknya telah menikah dengan seorang laki-laki, tetapi siapakah dia? Dia tidak tahu karena sang suami pergi dan meninggalkannya sebelum berjumpa dengannya karena masa kontrak mut’ah telah berakhir.</p>
<p><strong>5.</strong> Kebanyakan tokoh-tokoh Syiah yang membolehkan mut’ah, membolehkan diri mereka untuk nikah mut’ah dengan orang lain, tetapi jika ada seseorang yang meminang anak perempuannya, atau kerabat perempuannya untuk dinikahi dengan cara mut’ah, niscaya dia tidak akan menyetujui dan meridhainya, karena dia memandang pernikahan seperti ini adalah bentuk perendahan harga diri, jauh dari nilai-nilai kesucian, tidak diterima oleh hati nurani, dan sama saja dengan zina. Ini adalah aib bagi dia, dia menyadari hal itu, sementara dia sendiri mut’ah dengan anak perempuan orang lain. Tidak diragukan lagi dia pasti menolak untuk menikahkan anak perempuannya kepada orang lain dengan cara mut’ah, walau dia membolehkan dirinya sendiri untuk menikahi anak perempuan orang lain dengan cara tersebut.</p>
<p><strong>6. </strong>Dalam pernikahan mut’ah tidak ada saksi, pengumuman, keridhaan wali wanita yang dikhitbah, dan tidak berlaku hukum waris di antara suami dan istri, tetapi statusnya hanyalah seorang istri yang dikontrak, sebagaimana pendapat yang dinisbatkan kepada Abu Abdullah. Maka bagaimana mungkin syariat Islam mengajarkan dan mendakwahkan pemeluknya agar melakukan hal ini?!</p>
<p><strong>7.</strong> Pembolehan mut’ah membuka peluang bagi pemuda dan pemudi yang bobrok akhlak dan kepribadiannya untuk semakin tenggelam dalam kubangan dosa, sehingga hal tersebut akan merusak citra agama dan orang-orang yang taat beragama.</p>
<p>Atas dasar semua itu, maka jelaslah bahaya mut’ah dari sisi kehidupan beragama, kemasyarakatan, dan moral. Oleh karena itu, maka mut’ah diharamkan. Kalaulah dalam mut’ah terdapa kemaslahatan, tentu tidak akan diharamkan, tetapi karena mut’ah mengandung bahaya yang sangat banyak, maka Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengharamkannya.</p>
<p>Demikianlah kehidupan masyarakat yang mayoritas penduduknya adalah Syiah. Bagaimana kebobrokan moral terjadi di lingkungan mereka. Meskipun mereka mengembel-embeli diri mereka sebagai komunitas Islam, masyarakat Islam, atau bahkan negara Islam, maka hakikatnya sangat jauh sekali dari ajaran Islam. Dan tentunya kita menjaga dan saling menasihati kepada kerabat dan teman-teman kita, agar ajaran ini tidak menyebar di bumi pertiwi, sebagai bentuk <em>preventif</em> (pencegahan) terjadinya kerusakan moral bangsa.<br />
Sumber: Al Musawi, Sayid Husain. 2008.<em> Mengapa Saya keluar dari Syiah</em>. Pustaka Al Kautsar, Jakarta.</p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.konsultasisyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait syiah:</h3>
<p>1.<a rel="nofollow" href="../memberi-kelapangan-untuk-keluarga-di-hari-asyura" target="_blank">Pandangan Kelompok pada Hari Asyuro</a>.<br />
2. <a rel="nofollow" href="../peringatan-kematian-imam-husein" target="_blank">Peringatan Kematian Imam Husein oleh Syiah</a>.<br />
3. <a rel="nofollow" href="../media-pembela-syiah-indonesia" target="_blank">Media Pembela Syiah</a>.<br />
4. <a href="http://konsultasisyariah.com/nikah-mutah-ajaran-syiah" target="_blank" rel="nofollow"><u>Nikah Mut'ah</u> Menurut Syiah</a>.</p>
<p><strong> </strong><strong> </strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/nikah-mutah-dalam-syiah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memberi Kelapangan Untuk Keluarga di Hari Asyura</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/memberi-kelapangan-untuk-keluarga-di-hari-asyura/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/memberi-kelapangan-untuk-keluarga-di-hari-asyura/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Dec 2011 06:41:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator 2</dc:creator>
				<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Firqoh]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Muharram]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9093</guid>
		<description><![CDATA[Memberi Kelapangan Untuk Keluarga di Hari Asyura Pertanyaan: Tersebar anggapan di masyarakat adanya anjuran untuk memberi kelapangan kepada keluarga di hari Asyura. Bentuknya bisa memberi pakaian baru, makanan enak dan semacamnya. Apakah anjuran ini benar? Adakah dalilnya? Abu Ahmad (XXXXXXXXX@yahoo.com) ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Memberi Kelapangan Untuk Keluarga di Hari Asyura</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Tersebar anggapan di masyarakat adanya anjuran untuk memberi kelapangan kepada keluarga di hari <strong>Asyura</strong>. Bentuknya bisa memberi pakaian baru, makanan enak dan semacamnya. Apakah anjuran ini benar? Adakah dalilnya?<br />
Abu Ahmad (XXXXXXXXX@yahoo.com)<br />
<span id="more-9093"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<h3>Terkait hari asyura, ada dua kelompok yang sesat:</h3>
<p><strong>pertama,</strong> kelompok Syiah. Mereka menjadikan hari <u>asyura</u> sebagai hari berkabung dan bela sungkawa, mengenang kematian sahabat Husain. Mereka lampiaskan kesedihan di hari itu dengan memukul-mukul dan melukai badan sendiri.<br />
<strong>Kedua,</strong> rival dari kelompok Syiah, merekalah An-Nashibah, kelompok yang sangat membenci <em>ahli bait</em> Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Merekalah orang Khawarij, dan kelompok menyimpang dari bani umayah, yang memberontak pada pemerintahan Ali bin Abi Thalib, memproklamirkan menjadi musuh Syiah Rafidhah. Mereka memiliki prinsip mengambil sikap yang bertolak belakang dengan Syi’ah.</p>
<p>Syaikhul Islam Ibn taimiyah mengatakan,<br />
Dulu di Kufah terdapat kelompok Syiah, yang mengkultuskan Husain. Pemimpin mereka adalah Al-Mukhtar bin Ubaid Ats-Tsaqafi Al-Kadzab (Sang pendusta). Ada juga kelompok An-Nashibah (penentang), yang membenci Ali bin Abi Thalib dan keturunannya. Salah satu pemuka kelompok An-nashibah adalah Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi. Dan terdapat hadis yang shahih dari Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, bahwa beliau bersabda,</p>
<p class="arab">سيكون في ثقيف كذاب ومبير</p>
<p><em>“Akan ada seorang pendusta dan seorang perusak dari bani Tsaqif.”</em> (HR. Muslim)</p>
<p>Si pendusta adalah Al-Mukhtar bin Ubaid – gembong Syiah – sedangkan si perusak adalah Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi. Orang Syiah menampakkan kesedihan di hari Asyura, sementara orang Khawarij menampakkan kegembiraan. Bid&#8217;ah gembira berasal dari manusia pengekor kebatilan karena benci Husain <em>radliallahu &#8216;anhu,</em> sementara bid&#8217;ah gembira berasal dari pengekor kebatilan karena cinta Husain. Dan semuanya adalah bid&#8217;ah yang sesat. Tidak ada satupun ulama besar empat madzhab yang menganjurkan untuk mengikuti salah satunya. Demikian pula tidak ada dalil syar&#8217;i yang menganjurkan melakukan hal tersebut. (<em>Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyah</em>, 4/555)</p>
<p>Orang-orang Khawarij, serta mereka yang menjadi rival bagi sikap Syiah, untuk mewujudkan prinsipnya di masyarakat, mereka menyebarkan berbagai macam hadis palsu. Diantaranya adalah hadis yang menyatakan,</p>
<p class="arab">من وسع على نفسه وأهله يوم عاشوراء وسع الله عليه سائر سنته</p>
<p><em>“Siapa yang memberi kelonggaran kepada dirinya dan keluarganya pada hari Asyura, maka Allah akan memberi kelonggaran rizki kepadanya sepanjang tahun.”</em></p>
<p>Hadis ini diriwayatkan Al-Baihaqi dalam <em>Syu&#8217;abul Iman</em>, Ibnu Abdil Bar dalam <em>Al-Istidzkar</em>.</p>
<p>Hadis ini diperselisihkan keabsahannya oleh para ulama. Sebagian menilai <em>hasan li ghairih</em> (berderajat hasan karena beberapa jalur sanad yang saling menguatkan). Ini sebagaimana keterangan As-Sakhawi, dimana beliau menyatakan,<br />
&#8220;Sanad-sanad hadis ini, meskipun semuanya dhaif, hanya saja jika semuanya digabungkan maka akan menjadi kuat.&#8221; (<em>Al-Maqasidul Hasanah</em>, 225)</p>
<p>Keterangan As-Sakhawi ini dikomentari Al-Albani sebagai kesalahpahaman. Al-Albani mengatakan,<br />
&#8220;Ini adalah pendapat Sakhawi, dan saya tidak menganggapnya benar. Karena syarat menguatkan hadis dengan menggunakan banyak jalur adalah tidak adanya perawi yang matruk (ditinggalkan) atau perawi tertuduh. Sementara hal itu tidak ada dalam hadis ini.&#8221; (<em>Tamam Al-Minnah</em>, 410)</p>
<p>Dalam <em>Silsilah Ahadits Ad-Dhaifah</em>, al-Albani menyebutkan berbagai jalur hadis ini dan semuanya tidak lepas dari perawi dhaif.<br />
Kemudian, diantara para ulama yang mendhaifkan hadis ini adalah:</p>
<ol>
<li> Imam Ahmad bin hambal. Salah satu muridnya, yang bernama Harb pernah bertanya kepada beliau tentang hadis memberi kelonggaran kepada keluarga ketika Asyura, kemudian beliau tidak menganggapnya sebagai hadis. Maksud Imam Ahmad, sebagaimana yang dijelaskan Ibnu Rajab, bahwa tidak ada riwayat yang shahih dari Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. (<em>Lathaiful Ma&#8217;arif</em>, 54)</li>
<li>Syaikhul Islam Ibnu taimiyah. Dalam <em>Majmu&#8217;Fatawa</em> beliau menegaskan bahwa hadis ini palsu. (<em>Majmu&#8217; Al-Fatawa</em>, 25/313)</li>
<li>Ibn Rajab al Hambali. Beliau menegaskan dalam <em>Lathaif,</em> “Hadis ini diriwayatkan dari banyak jalur, tidak ada satupun yang shahih.” (<em>Lathaiful Ma&#8217;arif</em>, 54)</li>
<li>Muhadditsul Ashr, Syaikh Al-Albani. Beliau memasukkan hadis ini dalam <em>Al-Siilsilah Ahadits Dhaifah</em>, no. 6824.</li>
</ol>
<p>Dengan memperhatikan pernyataan para ulama pakar hadis, dapat kita simpulkan bahwa hadis yang menyebutkan keutamaan memberi kelonggaran kepada keluarga pada hari Asyura adalah tidak berdasar. Bahkan Syaikh Abdul Qadir Al-Arnauth mengatakan bahwa hadis tentang anjuran memberi kelapangan bagi keluarga ketika Asyura adalah hadis buatan orang yang membenci Ahlu bait Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, untuk menunjukkan kegembiraan atas wafatnya Husain bin Ali bin Abi Thalib <em>radliallahu &#8216;anhuma</em>.<br />
<em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><strong>Dijawab Oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Materi terkait:</p>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/hadis-dhaif-seputar-bulan-muharram" rel="nofollow" target="_blank">Hadis Dhaif Seputar Muharram</a>.<br />
2. <a href="http://konsultasisyariah.com/keutamaan-bulan-muharram" rel="nofollow" target="_blank">Keutamaan Bulan Muharram</a>.<br />
3. <a href="http://konsultasisyariah.com/menyantuni-anak-yatim-di-hari-asyura" rel="nofollow" target="_blank">Menyantuni Anak Yatim Di Bulan Asyura</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/memberi-kelapangan-untuk-keluarga-di-hari-asyura/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Peringatan Kematian Imam Husein</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/peringatan-kematian-imam-husein/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/peringatan-kematian-imam-husein/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Nov 2011 03:42:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Firqoh]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=8946</guid>
		<description><![CDATA[Peringatan Kematian Imam Husein Pertanyaan: Assalamu&#8217;alaikum, Di beberapa negara, pada saat tanggal 10 Muharram ada peringatan tahunan yang dilaksanakan secara masif (dilakukan banyak orang) dengan menampakkan kesedihan. Alasannya, sebagai bentuk rasa belasungkawa atas kematian Imam Husein yang dibunuh pada hari ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Peringatan Kematian Imam Husein</h2>
<p><strong>Pertanyaan</strong>:<br />
Assalamu&#8217;alaikum,<br />
Di beberapa negara, pada saat tanggal 10 Muharram ada peringatan tahunan yang dilaksanakan secara masif (dilakukan banyak orang) dengan menampakkan kesedihan. Alasannya, sebagai bentuk rasa belasungkawa atas <strong>kematian Imam Husein</strong> yang dibunuh pada hari itu. Apakah acara semacam ini dibenarkan?<br />
<span id="more-8946"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
<a href="http://konsultasisyariah.com/menyantuni-anak-yatim-di-hari-asyura" rel="nofollow" target="_blank">Hari Asyura</a> menggoreskan satu kenangan pahit bagi kaum muslimin. Bagi orang yang memuliakan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, sahabatnya, dan keluarganya. Di hari Asyura, Allah memuliakan Husein bin Ali bin Abi Thalib dengan syahadah (mati syahid). Beliau dibunuh di tanah Karbala oleh para penghianat dari Irak. Kita anggap ini adalah musibah. <em>Innalillahi wa inna ilaihi raaji&#8217;un</em></p>
<p>Namun sungguh sangat disayangkan, setelah kejadian musibah tersebut, ternyata datang musibah yang jauh lebih besar. Munculnya sikap ekstrim sebagian kaum muslimin dengan motivasi mengagungkan Husein. Mereka menjadikan hari itu sebagai hari berkabung, hari belasungkawa dengan acara besar-besaran. Padahal, sama sekali hal ini tidak pernah dicontohkan para sahabat Nabi shalallahu &#8216;alaihi wa sallam yang sangat mencintai Husein pun tidak pernah melakukan apa yang telah mereka lakukan hari ini.</p>
<p>Pada sepuluh hari pertama bulan Muharram, di sebagian negara seperti: Iran, sebagian wilayah Pakistan dan Irak, cahaya dimatikan, orang-orang keluar rumah, anak-anak memenuhi jalan, mereka meneriakkan: wahai Husein,.wahai Husein…bunyi gendang terdengar di mana-mana. Ada juga yang menusuk dan menyayat tubuhnya dengan pedang. Sebagai bentuk belasungkawa yang mendalam atas kematian Husein. Pada saat yang sama, tokoh mereka berkhutbah menyampaikan kebaikan-kebaikan Husein dan mencela para sahabat lainnya. Mereka mencela Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khatab, dan Utsman bin Affan.</p>
<p>Sementara itu, ketika tanggal 10 Muharram (hari Asyura), dihidangkan berbagai makanan khusus. Semua orang keluar rumah, berkumpul di satu tempat yang disebut &#8216;tanah suci karbala&#8217;. Di sinilah mereka melampiaskan berbagai bentuk kesyirikan, thawaf mengelilingi kuburan, mencari berkah dengan mengusap-usap berbagai tempat yang mereka anggap suci, sambil mendendangkan lagu dan menabuh rebana.</p>
<p>Agar suasana semakin panas, para tokoh mereka memberikan motivasi yang diambilkan dari hadis dusta, palsu dan buatan pemuka masyarakat.</p>
<p>Merekalah gerombolan Syiah Rafidhah, sekelompok orang yang membangun agama dan keyakinannya berdasarkan kedustaan tokoh dan pemuka Syiah. Orang-orang yang beraqidah sesat. (<em>Al-Bida&#8217; Al-Hailiyah</em>, Hal. 56 – 57). Mereka melakukan suatu ritual memukulkan pedang ke kepala, melukai punggung dengan cambuk besi, dsb. Tentu saja hal ini sangat bertentangan dengan esensi ajaran Islam yang sesuai dengan akal sehat, melarang melukai diri, tidak boleh meratapi mayat, dan nilai-nilai humanis (manusiawi) lainnya.</p>
<p>Berbagai rekaman kegiatan mereka tersebar di internet. Anda yang ingin melihat gambar ritual Syiah, bisa mengakses di google atau youtube dengan kata kunci: كربلاء.</p>
<p>Semoga Allah menjauhkan dan menyelamatkan kaum muslimin dari pengaruh buruk mereka. Amin</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/peringatan-kematian-imam-husein/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menyantuni Anak Yatim di Hari Asyura</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/menyantuni-anak-yatim-di-hari-asyura/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/menyantuni-anak-yatim-di-hari-asyura/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Nov 2011 02:08:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersuci]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Firqoh]]></category>
		<category><![CDATA[Jihad]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Muharram]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=8954</guid>
		<description><![CDATA[Menyantuni Anak Yatim di Hari Asyura Pertanyaan: Saat ini banyak tersebar keyakinan di masyarakat tentang anjuran menyantuni anak yatim di hari asyura. Apakah benar demikian? Adakah dalil tentang hal ini? Dari: Abu Ahmad (teXXXXXXXX@yahoo.com) Jawaban: Terdapat sebuah hadis dalam kitab ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Menyantuni Anak Yatim di Hari Asyura</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Saat ini banyak tersebar keyakinan di masyarakat tentang anjuran menyantuni anak yatim di hari <strong>asyura</strong>. Apakah benar demikian? Adakah dalil tentang hal ini?</p>
<p>Dari: <em>Abu Ahmad (teXXXXXXXX@yahoo.com)</em><br />
<span id="more-8954"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
Terdapat sebuah hadis dalam kitab tanbihul ghafilin:</p>
<p class="arab">من مسح يده على رأس يتيم يوم عاشوراء رفع الله تعالى بكل شعرة درجة</p>
<p><em>Siapa yang mengusapkan tangannya pada kepala anak yatim, di hari Asyuro’ (tanggal 10 Muharram), maka Allah akan mengangkat derajatnya, dengan setiap helai rambut yang diusap satu derajat.</em><br />
Hadis ini menjadi motivator utama masyarakat untuk menyantuni anak yatim di hari <em>Asyura</em>. Sehingga banyak tersebar di masyarakat anjuran untuk menyantuni anak yatim di hari <u>Asyura</u>. Bahkan sampai menjadikan hari Asyura ini sebagai hari istimewa untuk anak yatim.<br />
Namun sayangnya, ternyata hadis di atas statusnya adalah hadis palsu. Dalam jalur sanad hadis ini terdapat seorang perawi yang bernama: Habib bin Abi Habib, Abu Muhammad. Para ulama hadis menyatakan bahwa perawi ini matruk (ditinggalkan). Untuk lebih jelasnya, berikut komentar para ulama kibar dalam hadis tentang Habib bin Abi Habib:<br />
a. Imam Ahmad: Habib bin Abi Habib pernah berdusta<br />
b. Ibnu Ady mengatakan: Habib pernah memalsukan hadis (<em>al-Maudhu&#8217;at</em>, 2/203)<br />
c. Adz Dzahabi mengatakan: “Tertuduh berdusta.” (<em>Talkhis Kitab al-Maudhu&#8217;at</em>, 207).<br />
Karena itu, para ulama menyimpulkan bahwa hadis ini adalah hadis palsu. Abu Hatim mengatakan: “Ini adalah hadis batil, tidak ada asalnya.” (<em>al-Maudhu&#8217;at</em>, 2/203)</p>
<p>Keterangan di atas sama sekali bukan karena mengaingkari keutamaan menyantuni anak yatim. Bukan karena melarang anda untuk bersikap baik kepada anak yatim. Sama sekali bukan.<br />
Tidak kita pungkiri bahwa menyantuni anak yatim adalah satu amal yang mulia. Bahkan Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menjanjikan dalam sebuah hadis:</p>
<p class="arab">أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ كَهَاتَيْنِ فِى الْجَنَّةِ , وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى , وَفَرَّقَ بَيْنَهُمَا قَلِيلاً</p>
<p><em>“Saya dan orang yang menanggung hidup anak yatim seperti dua jari ini ketika di surga.” Beliau berisyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah, dan beliau memisahkannya sedikit.&#8221;</em> (HR. Bukhari no. 5304)<br />
Dalam hadis shahih ini, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> hanya menyebutkan keutamaan menyantuni anak yatim secara umum, tanpa beliau sebutkan waktu khusus. Artinya, keutamaan menyantuni anak yatim berlaku kapan saja. Sementara kita tidak boleh meyakini adanya waktu khusus untuk ibadah tertentu tanpa dalil yang shahih.<br />
Dalam masalah ini, terdapat satu kaidah terkait masalah &#8216;batasan tata cara ibadah&#8217; yang penting untuk kita ketahui:</p>
<p class="arab">كل عبادة مطلقة ثبتت في الشرع بدليل عام ؛ فإن تقييد إطلاق هذه العبادة بزمان أو مكان معين أو نحوهما بحيث يوهم هذا التقييد أنه مقصود شرعًا من غير أن يدلّ الدليل العام على هذا التقييد فهو بدعة</p>
<p>&#8220;Semua bentuk ibadah yang sifatnya mutlak dan terdapat dalam syariat berdasarkan dalil umum, maka membatasi setiap ibadah yang sifatnya mutlak ini dengan waktu, tempat, atau batasan tertentu lainnya, dimana akan muncul sangkaan bahwa batasan ini merupakan bagian ajaran syariat, sementara dalil umum tidak menunjukkan hal ini maka batasan ini termasuk bentuk bid&#8217;ah.&#8221; (<em>Qowa’id Ma’rifatil Bida’,</em> hal. 52)<br />
Karena pahala dan keutamaan amal adalah rahasia Allah, yang hanya mungkin kita ketahui berdasarkan dalil yang shahih.<br />
Allahu a&#8217;lam&#8230;</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Konsultasi Syariah</a><em>)</em></strong><br />
<strong> Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait Asyura:</h3>
<p>1. <a rel="nofollow" href="../amalan-di-bulan-muharram" target="_blank">Amalan-amalan Bulan Muharram</a>.<br />
2. <a rel="nofollow" href="../keutamaan-bulan-muharram" target="_blank">Keutamaan Bulan Muharram</a>.<br />
3. <a href="http://konsultasisyariah.com/kesyirikan-di-bulan-suro" target="_blank" rel="nofollow">Kesyirikan di Bulan Suro.</a></p>
<p>Asyura.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/menyantuni-anak-yatim-di-hari-asyura/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kesyirikan di Bulan Suro</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/kesyirikan-di-bulan-suro/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/kesyirikan-di-bulan-suro/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Nov 2011 06:21:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Muharram]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=8939</guid>
		<description><![CDATA[Kesyirikan di Bulan Suro Muharram telah tiba, bulan tahun baru dalam kalender hijriyah. Orang jawa menamakan bulan ini dengan istilah Suro. Mungkin nama ini diambil dari kata Asyuro yaitu tanggal 10 Muharram. Latar belakang diistimewakan hari Asyuro karena pada hari ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Kesyirikan di Bulan Suro</h2>
<p>Muharram telah tiba, bulan tahun baru dalam kalender hijriyah. Orang jawa menamakan bulan ini dengan istilah Suro. Mungkin nama ini diambil dari kata Asyuro yaitu tanggal 10 Muharram. Latar belakang diistimewakan hari Asyuro karena pada hari tersebut dianjurkan bagi kaum muslimin untuk melakukan puasa sunah.</p>
<p>Hal menarik yang layak untuk dibahas di sini adalah keyakinan sebagian orang jawa yang menganggap bulan ini sebagai bulan sial. Setiap orang yang punya agenda acara, mau tidak mau harus ditunda bulan depan atau dibatalkan. <em>Dhuwe gawe neng ulan syuro alamat ciloko</em>…<em>Berani jangkar</em> ….melanggar, …<em>ku-wa-lat</em>! demikian anggapan mereka. Anehnya, keyakinan yang tidak bisa diterima akal yang fitrah ini tidak hanya hinggap di masyarakat pedalaman, tetapi juga merasuk kepada sebagian kalangan yang berpendidikan dan mengenal teknologi, seperti kalangan akademisi (mahasiswa dan dosen) dan orang-orang terpelajar lainnya.</p>
<p>Andaikan tidak ada hubungannya dengan surga dan neraka, bisa dikatakan ini adalah satu adat yang biasa dan tidak perlu dibahas. Namun dalam kacamata agama Islam, keyakinan dan anggapan sial di atas termasuk salah satu bentuk perbuatan syirik. Satu dosa yang sangat besar, lebih besar dibandingkan dosa-dosa besar lainnya dan kesyrikan tidak akan diampuni oleh Allah jika dibawa mati oleh pelakunya dan ia belum bertaubat kepada Allah. Mengerikan bukan?! Lebih mengerikan lagi jika banyak orang yang melakukannnya namun tidak memahami hukumnya. Bisa dibayangkan, pelakunya akan merasa dirinya tidak berbuat dosa padahal dia tengah melakukan perbuatan kekafiran. Pada hakikatnya dia sedang melakukan kesyirikan sementara dia tidak tahu kalau yang ia lakukan adalah kesyirikan. Bagaimana ia akan bertaubat kepada Allah apabila ia merasa tidak melakukan kesalahan. Akhirnya, dia mati membawa dosa syirik, satu dosa yang tidak diampuni oleh Allah. <em>Wal &#8216;iyadzu billaah</em></p>
<p>Dalam ilmu aqidah, keyakinan sial seperti di atas dinamakan <em>thiyaroh</em>. Thiyaroh adalah anggapan akan mendapatkan kesialan karena mendengar atau melihat sesuatu yang tidak disukai, padahal tidak ada bukti ilmiyahnya. Misalnya anggapan <strong>bulan Suro</strong> bulan malapetaka.</p>
<p>Thiyaroh adalah aqidah orang kafir jahiliyah.<br />
Sebelum Islam datang, orang musyrikin Arab memiliki keyakinan yang semodel dengan keyakinan orang jawa. Di antaranya masyarakat jahiliyah menganggap bulan Safar (bulan setelah Muharam dalam kalender hijriyah) sebagai bulan sial. Mereka takut dan tidak mau mengadakan kegiatan apapun di bulan Safar. Mereka juga berkeyakinan sial dengan burung hantu, karena mereka menganggap burung hantu adalah lambang kematian. Jika hinggap di atas rumah kemudian mematuk rumah tersebut, pertanda sebentar lagi akan ada anggota keluarga rumah tersebut yang akan meninggal.</p>
<p>Ketika Islam datang Nabi <em>&#8216;alaihis shalaatu was salaam</em> menghapus keyakinan ini, beliau bersabda,</p>
<p class="arab">لا عدوى ولا طيرة ولا هامة ولا صفر</p>
<p>&#8220;<em>Tidak ada penyakit yang menular dengan sendirinya, tidak ada keyakinan sial karena sebab tertentu, tidak ada keyakinan tentang burung hantu, dan tidak ada kesialan bulan safar</em>.&#8221; (HR. Al-Bukhari dan Muslim).</p>
<p>Namun uniknya, keyakinan ini dihidupkan lagi oleh sebagian kaum muslimin Indonesia. Hanya saja, bulannya berganti. Jika masyarakat jahiliyah meyakini bulan Safar sebagai bulan sial, maka orang Jawa meyakini <em>bulan Suro</em> (Muharram) sebagai bulan sial.</p>
<h2>Hukum Thiyarah</h2>
<p>Nabi <em>&#8216;alaihis shalaatu was salaam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">الطيرة شرك، الطيرة شرك&#8230;</p>
<p>&#8220;<em>Thiyaroh adalah syirik, thiyaroh adalah syirik…</em> (beliau ulangi tiga kali)&#8221; (HR. Abu Daud dan Turmudzi).</p>
<p>Dalam hadis ini, Nabi <em>&#8216;alaihis shalaatu was salaam</em> menegaskan status perbuatan <em>thiyaroh</em> dan beliau mengulanginya sebanyak tiga kali. Menunjukkan betapa pentingnya hal ini untuk diingatkan. <em>Thiyaroh</em> dikatakan bentuk kesyirikan dan mengurangi tauhid seseorang, karena dalam <em>thiyaroh</em> terdapat dua hal:</p>
<ol>
<li> Memutus tawakkal kepada Allah dan bertawakkal kepada selain Allah.</li>
<li>Bergantung pada sesuatu yang tidak ada hakikatnya.</li>
</ol>
<p>Ulama menjelaskan bahwa hukum <em>thiyaroh</em> sebagai perbuatan kesyirikan dirinci menjadi dua:<br />
a.	Syirik kecil (tidak menyebabkan keluar dari Islam), jika kejadian aneh, <u>bulan Suro</u>, burung hantu atau yang lainnya hanya dianggap sebagai sebab kesialan. Meskipun dia meyakini bahwa pencipta kesialan itu sendiri adalah Allah. Perbuatan ini digolongkan kesyirikan karena pelakunya bersandar pada sesuatu yang dia yakini sebagai sebab munculnya kesialan, padahal itu bukan sebab.<br />
b.	Syirik besar (pelakunya diancam dengan kekafiran), jika diyakini bahwa bulan Suro yang mengatur terjadinya kesialan, bukan Allah. Keyakinan ini sama dengan menganggap ada makhluk yang bisa mengatur alam dengan mendatangkan bencana atau sial.<br />
(<em>Qoulul Mufid Syarh Kitab Tauhid</em>, 1:575).</p>
<h3>Pengaruh Thiyarah</h3>
<p>Setiap orang yang terjangkit penyakit <em>thiyaroh</em> akan terjebak dalam dua keadaan yang dua-duanya tercela:<br />
<strong>Pertama</strong>, membatalkan agenda yang telah direncanakan karena takut akan tertimpa kesialan. Perbuatan ini sangat tercela karena persis sebagaimana yang dilakukan orang musyrik jahiliyah. Pelaku perbuatan ini telah terjerumus dalam kesyirikan yang statusnya sebagaimana rincian tentang syirik di atas. Nabi <em>shallallaahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">من ردته الطِيَرة من حاجة فقد أشرك</p>
<p>&#8220;<em>Barangsiapa yang membatalkan agendanya karena thiyaroh maka dia telah berbuat syirik</em>.&#8221;<br />
Sahabat bertanya, &#8220;Lalu apakah tebusannya?&#8221; Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menjawab, &#8220;Ucapkan,</p>
<p class="arab">« اللَّهُمَّ لاَ خَيْرَ إِلاَّ خَيْرُكَ وَلاَ طَيْرَ إِلاَّ طَيْرُكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ »</p>
<p><em>Allaahumma laa khaira illa khairuka wa laa thiyaro illa thiyaruka wa laa ilaaha ghoiruka</em><br />
&#8220;<em>Yaa Allah, tiada kebaikan kecuali kebaikan dari-Mu, tiada kesialan kecuali sial karena taqdir-Mu, dan tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau</em>.&#8221; (HR. Imam Ahmad, no.7242, hadis hasan)</p>
<p><strong>Kedua</strong>, tetap melakukan agenda kegiatan yang telah id jadwalkan, namun disertai dengan perasaan was-was dan khawatir, jangan-jangan nanti sial. Kualitas (nilai) keburukannya lebih rendah dari yang pertama, namun keadaan ini bukti rendahnya kualitas tawakkal dan tauhid pelakunya.</p>
<h3>Terapi Untuk Mengobati Thiyarah</h3>
<p>Penyakit aqidah yang sudah mendarah daging akan sangat sulit untuk bisa disembuhkan dan dihilangkan dalam sekejap. Sangat jarang ada orang yang bisa selamat dari penyakit <em>thiyaroh</em> ini. Bahkan para sahabat sendiri -manusia paling baik di umat ini- masih terjangkit penyakit ini. Sebagaimana sabda Nabi <em>&#8216;alaihis shalaatu was salaam</em>,</p>
<p class="arab">الطيرة شرك، الطيرة شرك&#8230;</p>
<p>&#8220;<em>Thiyaroh adalah syirik, thiyaroh adalah syirik..(3X)</em>. kemudian Ibn Mas&#8217;ud <em>radhiallahu&#8217;anhu</em> mengatakan, &#8220;Tidak ada seorangpun di antara kita kecuali (terjangkit dalam hatinya penyakit <em>thiyaroh</em> ini). Hanya saja Allah menghilangkannya dengan tawakkal kepada-Nya.&#8221; (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).<br />
Maksud perkataan Ibn Mas&#8217;ud adalah munculnya perasaan was-was yang dialami para sahabat. (<em>&#8216;Aunul Ma&#8217;bud Syarh Sunan Abi Daud</em>, 10:288).</p>
<p>Namun kata &#8220;sulit&#8221; bukanlah alasan untuk tidak mengobati penyakit membahayakan ini. Ada beberapa cara yang bisa ditempuh untuk menterapi diri dari penyakit <em>thiyaroh</em>:</p>
<ol>
<li> Memperdalam ilmu tuhid dan aqidah. Karena dengan modal ilmu, seseorang bisa berjalan sesuai jalur yang syariat tentukan.</li>
<li>Memahami dan meyakini bahwa segala sesuatu yang ada di alam ini mutlak berada di bawah kehendak dan kekuasaan Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>. Tidak ada satu pun makhlukq yang bisa ikut campur.</li>
<li>Bertawakkal dan pasrah sepenuhnya kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>. Sebagaimana yang dilakukan para sahabat.</li>
<li>Sering-sering memohon perlindungan kepada Allah dari bisikan dan gangguan setan. Terutama ketika muncul perasan khawatir dan was-was. Kemudian lindungi diri kita dari godaan setan dengan membasahi mulut ini dengan dzikir-dzikir yang sesuai syari&#8217;at.</li>
<li>Jangan menggagalkan satu rencana yang sudah diagendakan, disebabkan munculnya perasaan was-was. Karena hal ini berarti menjerumuskan kita kepada kesyirikan.</li>
<li>Tetap optimis untuk meraih keberkahan dari kegiatan yang kita lakukan selama tidak melanggar syariat.</li>
<li>Jangan pedulikan komentar orang yang justru akan memperparah penyakit <em>thiyaroh</em>. Bergaul-lah dengan orang-orang yang bisa membantu kita untuk memperbaiki tauhid dan mempertebal tawakkal.</li>
<li>Lupakan segala bentuk kegagalan dunia dan pasrahkan hasil usaha kita kepada Sang Pengatur alam semesta.</li>
</ol>
<p><em>Wallaahu waliyut Taufiq</em>. Semoga bermanfaat.</p>
<p><strong>Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait bulan suro:</h3>
<p>1. <a rel="nofollow" href="../amalan-di-bulan-muharram" target="_blank">Amalan-amalan Bulan Muharram</a>.<br />
2. <a rel="nofollow" href="../keutamaan-bulan-muharram" target="_blank">Keutamaan Bulan Muharram</a>.</p>
<p>Permasalahan bulan suro.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/kesyirikan-di-bulan-suro/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keistemewaan Bulan Sya&#8217;ban</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/keistemewaan-bulan-syaban/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/keistemewaan-bulan-syaban/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Jul 2011 22:00:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[RAMADHAN]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[bulan sya'ban]]></category>
		<category><![CDATA[bulan sya'ban 2011]]></category>
		<category><![CDATA[fadilah bulan syaban 2011]]></category>
		<category><![CDATA[hukum puasa sya'ban sebulan penuh]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[logo]]></category>
		<category><![CDATA[mengapa banyak orang menikah di bulan sya'ban]]></category>
		<category><![CDATA[menikah di bulan sa'ban]]></category>
		<category><![CDATA[meninggal di bulan syaban]]></category>
		<category><![CDATA[musyrik]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[puasa bulan sya'ban]]></category>
		<category><![CDATA[puasa ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[puasa sya'ban 2011]]></category>
		<category><![CDATA[ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[start]]></category>
		<category><![CDATA[sya ban 2011]]></category>
		<category><![CDATA[sya'ban]]></category>
		<category><![CDATA[wanita bulan sya'ban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=5533</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Assalamualaikum ustazd. Ada sebuah keraguan dalam hati saya tentang keutamaan bulan Sya&#8217;ban. Banyak masyarakat disekitar saya yang melaksanakan ibadah yang tidak dilakukannya dibulan-bulan lain, misalnya puasa. Apakah Rasulullah pernah melakukan atau membiarkan hal itu pada bulan Sya&#8217;ban? Semoga jawaban ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Assalamualaikum ustazd.</em></p>
<p>Ada sebuah keraguan dalam hati saya tentang keutamaan bulan Sya&#8217;ban. Banyak masyarakat disekitar saya yang melaksanakan ibadah yang tidak dilakukannya dibulan-bulan lain, misalnya puasa. Apakah Rasulullah pernah melakukan atau membiarkan hal itu pada bulan Sya&#8217;ban?</p>
<p>Semoga jawaban yang ustadz berikan dapat menjawab keraguan saya tentang hal itu(keutamaan bulan sya&#8217;ban).<br />
<em>Syukran, jazakumullan khairan.</em></p>
<p><em>Arifin ahmad</em> (AhmadXXXXXX@XXXXX.com)<br />
<span id="more-5533"></span><br />
<strong>Jawaban: </strong></p>
<p><em>Wa alaikumus salam wa rahmatullah.</em></p>
<p>Bulan Sya&#8217;ban memiiliki beberapa keutamaan. Berikut kami cantumkan beberapa hadis sahih yang menyebutkan keutamaan bulan Sya&#8217;ban.</p>
<p>Dari A&#8217;isyah <em>radliallahu &#8216;anha</em>, beliau mengatakan, &#8220;Terkadang Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> puasa beberapa hari sampai kami katakan, &#8216;Beliau tidak pernah tidak puasa, dan terkadang beliau tidak puasa terus, hingga kami katakan: Beliau tidak melakukan puasa. Dan saya tidak pernah melihat Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berpuasa sebulan penuh kecuali di bulan Ramadhan, saya juga tidak melihat beliau berpuasa yang lebih sering ketika di bulan Sya&#8217;ban.&#8217;&#8221; (H.R. Al Bukhari dan Muslim)</p>
<p>A&#8217;isyah mengatakan, &#8220;Belum pernah Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berpuasa satu bulan yang lebih banyak dari pada puasa bulan Sya&#8217;ban. Terkadang hampir beliau berpuasa Sya&#8217;ban sebulan penuh.&#8221; (H.R. Al Bukhari dan Msulim)</p>
<p>A&#8217;isyah mengatakan, &#8220;Bulan yang paling disukai Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> untuk melaksanakan puasa adalah bulan Sya&#8217;ban, kemudian beliau lanjutkan dengan puasa Ramadhan.&#8221; (H.R. Ahmad, Abu Daud, An Nasa&#8217;i dan <em>sanad</em>-nya disahihkan Syaikh Syu&#8217;aib Al Arnauth)</p>
<p>Ummu Salamah <em>radliallahu &#8216;anha</em> mengatakan, &#8220;Saya belum pernah melihat Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berpuasa dua bulan berturut-turut selain di bulan Sya&#8217;ban dan Ramadhan.&#8221; (H.R. An Nasa&#8217;i, Abu Daud, At Turmudzi dan disahihkan Al Albani)</p>
<p>Dari Usamah bin Zaid, beliau bertanya, &#8220;Wahai Rasulullah, saya belum pernah melihat anda berpuasa dalam satu bulan sebagaimana anda berpuasa di bulan Sya&#8217;ban. Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, &#8216;Ini adalah bulan yang sering dilalaikan banyak orang, bulan antara Rajab dan Ramadhan. Ini adalah bulan dimana amal-amal diangkat menuju Rab semesta alam. Dan saya ingin ketika amal saya diangkat, saya dalam kondisi berpuasa.&#8217;” (H.R. An Nasa&#8217;i, Ahmad, dan <em>sanad</em>-nya di-<em>hasan</em>-kan Syaikh Al Albani)</p>
<p>Dari Abu Musa Al Asy&#8217;ari <em>radliallahu &#8216;anhu</em>, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, “Sesungguhnya Allah melihat pada malam pertengahan Sya&#8217;ban. Maka Dia mengampuni semua makhluqnya, kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.” (HR. Ibnu Majah, At Thabrani, dan disahihkan Al Albani)</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).<br />
Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/keistemewaan-bulan-syaban/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

