<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Konsultasi Kesehatan dan Tanya Jawab Pendidikan Islam &#187; Bid&#8217;ah</title>
	<atom:link href="http://www.konsultasisyariah.com/category/manhaj/bidah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.konsultasisyariah.com</link>
	<description>KonsultasiSyariah.com</description>
	<lastBuildDate>Mon, 21 May 2012 09:00:43 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Memberi Kelapangan Untuk Keluarga di Hari Asyura</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/memberi-kelapangan-untuk-keluarga-di-hari-asyura/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/memberi-kelapangan-untuk-keluarga-di-hari-asyura/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Dec 2011 06:41:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator 2</dc:creator>
				<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Firqoh]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Muharram]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9093</guid>
		<description><![CDATA[Memberi Kelapangan Untuk Keluarga di Hari Asyura Pertanyaan: Tersebar anggapan di masyarakat adanya anjuran untuk memberi kelapangan kepada keluarga di hari Asyura. Bentuknya bisa memberi pakaian baru, makanan enak dan semacamnya. Apakah anjuran ini benar? Adakah dalilnya? Abu Ahmad (XXXXXXXXX@yahoo.com) ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Memberi Kelapangan Untuk Keluarga di Hari Asyura</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Tersebar anggapan di masyarakat adanya anjuran untuk memberi kelapangan kepada keluarga di hari <strong>Asyura</strong>. Bentuknya bisa memberi pakaian baru, makanan enak dan semacamnya. Apakah anjuran ini benar? Adakah dalilnya?<br />
Abu Ahmad (XXXXXXXXX@yahoo.com)<br />
<span id="more-9093"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<h3>Terkait hari asyura, ada dua kelompok yang sesat:</h3>
<p><strong>pertama,</strong> kelompok Syiah. Mereka menjadikan hari <u>asyura</u> sebagai hari berkabung dan bela sungkawa, mengenang kematian sahabat Husain. Mereka lampiaskan kesedihan di hari itu dengan memukul-mukul dan melukai badan sendiri.<br />
<strong>Kedua,</strong> rival dari kelompok Syiah, merekalah An-Nashibah, kelompok yang sangat membenci <em>ahli bait</em> Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Merekalah orang Khawarij, dan kelompok menyimpang dari bani umayah, yang memberontak pada pemerintahan Ali bin Abi Thalib, memproklamirkan menjadi musuh Syiah Rafidhah. Mereka memiliki prinsip mengambil sikap yang bertolak belakang dengan Syi’ah.</p>
<p>Syaikhul Islam Ibn taimiyah mengatakan,<br />
Dulu di Kufah terdapat kelompok Syiah, yang mengkultuskan Husain. Pemimpin mereka adalah Al-Mukhtar bin Ubaid Ats-Tsaqafi Al-Kadzab (Sang pendusta). Ada juga kelompok An-Nashibah (penentang), yang membenci Ali bin Abi Thalib dan keturunannya. Salah satu pemuka kelompok An-nashibah adalah Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi. Dan terdapat hadis yang shahih dari Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, bahwa beliau bersabda,</p>
<p class="arab">سيكون في ثقيف كذاب ومبير</p>
<p><em>“Akan ada seorang pendusta dan seorang perusak dari bani Tsaqif.”</em> (HR. Muslim)</p>
<p>Si pendusta adalah Al-Mukhtar bin Ubaid – gembong Syiah – sedangkan si perusak adalah Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi. Orang Syiah menampakkan kesedihan di hari Asyura, sementara orang Khawarij menampakkan kegembiraan. Bid&#8217;ah gembira berasal dari manusia pengekor kebatilan karena benci Husain <em>radliallahu &#8216;anhu,</em> sementara bid&#8217;ah gembira berasal dari pengekor kebatilan karena cinta Husain. Dan semuanya adalah bid&#8217;ah yang sesat. Tidak ada satupun ulama besar empat madzhab yang menganjurkan untuk mengikuti salah satunya. Demikian pula tidak ada dalil syar&#8217;i yang menganjurkan melakukan hal tersebut. (<em>Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyah</em>, 4/555)</p>
<p>Orang-orang Khawarij, serta mereka yang menjadi rival bagi sikap Syiah, untuk mewujudkan prinsipnya di masyarakat, mereka menyebarkan berbagai macam hadis palsu. Diantaranya adalah hadis yang menyatakan,</p>
<p class="arab">من وسع على نفسه وأهله يوم عاشوراء وسع الله عليه سائر سنته</p>
<p><em>“Siapa yang memberi kelonggaran kepada dirinya dan keluarganya pada hari Asyura, maka Allah akan memberi kelonggaran rizki kepadanya sepanjang tahun.”</em></p>
<p>Hadis ini diriwayatkan Al-Baihaqi dalam <em>Syu&#8217;abul Iman</em>, Ibnu Abdil Bar dalam <em>Al-Istidzkar</em>.</p>
<p>Hadis ini diperselisihkan keabsahannya oleh para ulama. Sebagian menilai <em>hasan li ghairih</em> (berderajat hasan karena beberapa jalur sanad yang saling menguatkan). Ini sebagaimana keterangan As-Sakhawi, dimana beliau menyatakan,<br />
&#8220;Sanad-sanad hadis ini, meskipun semuanya dhaif, hanya saja jika semuanya digabungkan maka akan menjadi kuat.&#8221; (<em>Al-Maqasidul Hasanah</em>, 225)</p>
<p>Keterangan As-Sakhawi ini dikomentari Al-Albani sebagai kesalahpahaman. Al-Albani mengatakan,<br />
&#8220;Ini adalah pendapat Sakhawi, dan saya tidak menganggapnya benar. Karena syarat menguatkan hadis dengan menggunakan banyak jalur adalah tidak adanya perawi yang matruk (ditinggalkan) atau perawi tertuduh. Sementara hal itu tidak ada dalam hadis ini.&#8221; (<em>Tamam Al-Minnah</em>, 410)</p>
<p>Dalam <em>Silsilah Ahadits Ad-Dhaifah</em>, al-Albani menyebutkan berbagai jalur hadis ini dan semuanya tidak lepas dari perawi dhaif.<br />
Kemudian, diantara para ulama yang mendhaifkan hadis ini adalah:</p>
<ol>
<li> Imam Ahmad bin hambal. Salah satu muridnya, yang bernama Harb pernah bertanya kepada beliau tentang hadis memberi kelonggaran kepada keluarga ketika Asyura, kemudian beliau tidak menganggapnya sebagai hadis. Maksud Imam Ahmad, sebagaimana yang dijelaskan Ibnu Rajab, bahwa tidak ada riwayat yang shahih dari Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. (<em>Lathaiful Ma&#8217;arif</em>, 54)</li>
<li>Syaikhul Islam Ibnu taimiyah. Dalam <em>Majmu&#8217;Fatawa</em> beliau menegaskan bahwa hadis ini palsu. (<em>Majmu&#8217; Al-Fatawa</em>, 25/313)</li>
<li>Ibn Rajab al Hambali. Beliau menegaskan dalam <em>Lathaif,</em> “Hadis ini diriwayatkan dari banyak jalur, tidak ada satupun yang shahih.” (<em>Lathaiful Ma&#8217;arif</em>, 54)</li>
<li>Muhadditsul Ashr, Syaikh Al-Albani. Beliau memasukkan hadis ini dalam <em>Al-Siilsilah Ahadits Dhaifah</em>, no. 6824.</li>
</ol>
<p>Dengan memperhatikan pernyataan para ulama pakar hadis, dapat kita simpulkan bahwa hadis yang menyebutkan keutamaan memberi kelonggaran kepada keluarga pada hari Asyura adalah tidak berdasar. Bahkan Syaikh Abdul Qadir Al-Arnauth mengatakan bahwa hadis tentang anjuran memberi kelapangan bagi keluarga ketika Asyura adalah hadis buatan orang yang membenci Ahlu bait Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, untuk menunjukkan kegembiraan atas wafatnya Husain bin Ali bin Abi Thalib <em>radliallahu &#8216;anhuma</em>.<br />
<em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><strong>Dijawab Oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Materi terkait:</p>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/hadis-dhaif-seputar-bulan-muharram" rel="nofollow" target="_blank">Hadis Dhaif Seputar Muharram</a>.<br />
2. <a href="http://konsultasisyariah.com/keutamaan-bulan-muharram" rel="nofollow" target="_blank">Keutamaan Bulan Muharram</a>.<br />
3. <a href="http://konsultasisyariah.com/menyantuni-anak-yatim-di-hari-asyura" rel="nofollow" target="_blank">Menyantuni Anak Yatim Di Bulan Asyura</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/memberi-kelapangan-untuk-keluarga-di-hari-asyura/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Peringatan Kematian Imam Husein</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/peringatan-kematian-imam-husein/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/peringatan-kematian-imam-husein/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Nov 2011 03:42:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Firqoh]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=8946</guid>
		<description><![CDATA[Peringatan Kematian Imam Husein Pertanyaan: Assalamu&#8217;alaikum, Di beberapa negara, pada saat tanggal 10 Muharram ada peringatan tahunan yang dilaksanakan secara masif (dilakukan banyak orang) dengan menampakkan kesedihan. Alasannya, sebagai bentuk rasa belasungkawa atas kematian Imam Husein yang dibunuh pada hari ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Peringatan Kematian Imam Husein</h2>
<p><strong>Pertanyaan</strong>:<br />
Assalamu&#8217;alaikum,<br />
Di beberapa negara, pada saat tanggal 10 Muharram ada peringatan tahunan yang dilaksanakan secara masif (dilakukan banyak orang) dengan menampakkan kesedihan. Alasannya, sebagai bentuk rasa belasungkawa atas <strong>kematian Imam Husein</strong> yang dibunuh pada hari itu. Apakah acara semacam ini dibenarkan?<br />
<span id="more-8946"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
<a href="http://konsultasisyariah.com/menyantuni-anak-yatim-di-hari-asyura" rel="nofollow" target="_blank">Hari Asyura</a> menggoreskan satu kenangan pahit bagi kaum muslimin. Bagi orang yang memuliakan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, sahabatnya, dan keluarganya. Di hari Asyura, Allah memuliakan Husein bin Ali bin Abi Thalib dengan syahadah (mati syahid). Beliau dibunuh di tanah Karbala oleh para penghianat dari Irak. Kita anggap ini adalah musibah. <em>Innalillahi wa inna ilaihi raaji&#8217;un</em></p>
<p>Namun sungguh sangat disayangkan, setelah kejadian musibah tersebut, ternyata datang musibah yang jauh lebih besar. Munculnya sikap ekstrim sebagian kaum muslimin dengan motivasi mengagungkan Husein. Mereka menjadikan hari itu sebagai hari berkabung, hari belasungkawa dengan acara besar-besaran. Padahal, sama sekali hal ini tidak pernah dicontohkan para sahabat Nabi shalallahu &#8216;alaihi wa sallam yang sangat mencintai Husein pun tidak pernah melakukan apa yang telah mereka lakukan hari ini.</p>
<p>Pada sepuluh hari pertama bulan Muharram, di sebagian negara seperti: Iran, sebagian wilayah Pakistan dan Irak, cahaya dimatikan, orang-orang keluar rumah, anak-anak memenuhi jalan, mereka meneriakkan: wahai Husein,.wahai Husein…bunyi gendang terdengar di mana-mana. Ada juga yang menusuk dan menyayat tubuhnya dengan pedang. Sebagai bentuk belasungkawa yang mendalam atas kematian Husein. Pada saat yang sama, tokoh mereka berkhutbah menyampaikan kebaikan-kebaikan Husein dan mencela para sahabat lainnya. Mereka mencela Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khatab, dan Utsman bin Affan.</p>
<p>Sementara itu, ketika tanggal 10 Muharram (hari Asyura), dihidangkan berbagai makanan khusus. Semua orang keluar rumah, berkumpul di satu tempat yang disebut &#8216;tanah suci karbala&#8217;. Di sinilah mereka melampiaskan berbagai bentuk kesyirikan, thawaf mengelilingi kuburan, mencari berkah dengan mengusap-usap berbagai tempat yang mereka anggap suci, sambil mendendangkan lagu dan menabuh rebana.</p>
<p>Agar suasana semakin panas, para tokoh mereka memberikan motivasi yang diambilkan dari hadis dusta, palsu dan buatan pemuka masyarakat.</p>
<p>Merekalah gerombolan Syiah Rafidhah, sekelompok orang yang membangun agama dan keyakinannya berdasarkan kedustaan tokoh dan pemuka Syiah. Orang-orang yang beraqidah sesat. (<em>Al-Bida&#8217; Al-Hailiyah</em>, Hal. 56 – 57). Mereka melakukan suatu ritual memukulkan pedang ke kepala, melukai punggung dengan cambuk besi, dsb. Tentu saja hal ini sangat bertentangan dengan esensi ajaran Islam yang sesuai dengan akal sehat, melarang melukai diri, tidak boleh meratapi mayat, dan nilai-nilai humanis (manusiawi) lainnya.</p>
<p>Berbagai rekaman kegiatan mereka tersebar di internet. Anda yang ingin melihat gambar ritual Syiah, bisa mengakses di google atau youtube dengan kata kunci: كربلاء.</p>
<p>Semoga Allah menjauhkan dan menyelamatkan kaum muslimin dari pengaruh buruk mereka. Amin</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/peringatan-kematian-imam-husein/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menyantuni Anak Yatim di Hari Asyura</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/menyantuni-anak-yatim-di-hari-asyura/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/menyantuni-anak-yatim-di-hari-asyura/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Nov 2011 02:08:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersuci]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Firqoh]]></category>
		<category><![CDATA[Jihad]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Muharram]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=8954</guid>
		<description><![CDATA[Menyantuni Anak Yatim di Hari Asyura Pertanyaan: Saat ini banyak tersebar keyakinan di masyarakat tentang anjuran menyantuni anak yatim di hari asyura. Apakah benar demikian? Adakah dalil tentang hal ini? Dari: Abu Ahmad (teXXXXXXXX@yahoo.com) Jawaban: Terdapat sebuah hadis dalam kitab ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Menyantuni Anak Yatim di Hari Asyura</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Saat ini banyak tersebar keyakinan di masyarakat tentang anjuran menyantuni anak yatim di hari <strong>asyura</strong>. Apakah benar demikian? Adakah dalil tentang hal ini?</p>
<p>Dari: <em>Abu Ahmad (teXXXXXXXX@yahoo.com)</em><br />
<span id="more-8954"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
Terdapat sebuah hadis dalam kitab tanbihul ghafilin:</p>
<p class="arab">من مسح يده على رأس يتيم يوم عاشوراء رفع الله تعالى بكل شعرة درجة</p>
<p><em>Siapa yang mengusapkan tangannya pada kepala anak yatim, di hari Asyuro’ (tanggal 10 Muharram), maka Allah akan mengangkat derajatnya, dengan setiap helai rambut yang diusap satu derajat.</em><br />
Hadis ini menjadi motivator utama masyarakat untuk menyantuni anak yatim di hari <em>Asyura</em>. Sehingga banyak tersebar di masyarakat anjuran untuk menyantuni anak yatim di hari <u>Asyura</u>. Bahkan sampai menjadikan hari Asyura ini sebagai hari istimewa untuk anak yatim.<br />
Namun sayangnya, ternyata hadis di atas statusnya adalah hadis palsu. Dalam jalur sanad hadis ini terdapat seorang perawi yang bernama: Habib bin Abi Habib, Abu Muhammad. Para ulama hadis menyatakan bahwa perawi ini matruk (ditinggalkan). Untuk lebih jelasnya, berikut komentar para ulama kibar dalam hadis tentang Habib bin Abi Habib:<br />
a. Imam Ahmad: Habib bin Abi Habib pernah berdusta<br />
b. Ibnu Ady mengatakan: Habib pernah memalsukan hadis (<em>al-Maudhu&#8217;at</em>, 2/203)<br />
c. Adz Dzahabi mengatakan: “Tertuduh berdusta.” (<em>Talkhis Kitab al-Maudhu&#8217;at</em>, 207).<br />
Karena itu, para ulama menyimpulkan bahwa hadis ini adalah hadis palsu. Abu Hatim mengatakan: “Ini adalah hadis batil, tidak ada asalnya.” (<em>al-Maudhu&#8217;at</em>, 2/203)</p>
<p>Keterangan di atas sama sekali bukan karena mengaingkari keutamaan menyantuni anak yatim. Bukan karena melarang anda untuk bersikap baik kepada anak yatim. Sama sekali bukan.<br />
Tidak kita pungkiri bahwa menyantuni anak yatim adalah satu amal yang mulia. Bahkan Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menjanjikan dalam sebuah hadis:</p>
<p class="arab">أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ كَهَاتَيْنِ فِى الْجَنَّةِ , وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى , وَفَرَّقَ بَيْنَهُمَا قَلِيلاً</p>
<p><em>“Saya dan orang yang menanggung hidup anak yatim seperti dua jari ini ketika di surga.” Beliau berisyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah, dan beliau memisahkannya sedikit.&#8221;</em> (HR. Bukhari no. 5304)<br />
Dalam hadis shahih ini, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> hanya menyebutkan keutamaan menyantuni anak yatim secara umum, tanpa beliau sebutkan waktu khusus. Artinya, keutamaan menyantuni anak yatim berlaku kapan saja. Sementara kita tidak boleh meyakini adanya waktu khusus untuk ibadah tertentu tanpa dalil yang shahih.<br />
Dalam masalah ini, terdapat satu kaidah terkait masalah &#8216;batasan tata cara ibadah&#8217; yang penting untuk kita ketahui:</p>
<p class="arab">كل عبادة مطلقة ثبتت في الشرع بدليل عام ؛ فإن تقييد إطلاق هذه العبادة بزمان أو مكان معين أو نحوهما بحيث يوهم هذا التقييد أنه مقصود شرعًا من غير أن يدلّ الدليل العام على هذا التقييد فهو بدعة</p>
<p>&#8220;Semua bentuk ibadah yang sifatnya mutlak dan terdapat dalam syariat berdasarkan dalil umum, maka membatasi setiap ibadah yang sifatnya mutlak ini dengan waktu, tempat, atau batasan tertentu lainnya, dimana akan muncul sangkaan bahwa batasan ini merupakan bagian ajaran syariat, sementara dalil umum tidak menunjukkan hal ini maka batasan ini termasuk bentuk bid&#8217;ah.&#8221; (<em>Qowa’id Ma’rifatil Bida’,</em> hal. 52)<br />
Karena pahala dan keutamaan amal adalah rahasia Allah, yang hanya mungkin kita ketahui berdasarkan dalil yang shahih.<br />
Allahu a&#8217;lam&#8230;</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Konsultasi Syariah</a><em>)</em></strong><br />
<strong> Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait Asyura:</h3>
<p>1. <a rel="nofollow" href="../amalan-di-bulan-muharram" target="_blank">Amalan-amalan Bulan Muharram</a>.<br />
2. <a rel="nofollow" href="../keutamaan-bulan-muharram" target="_blank">Keutamaan Bulan Muharram</a>.<br />
3. <a href="http://konsultasisyariah.com/kesyirikan-di-bulan-suro" target="_blank" rel="nofollow">Kesyirikan di Bulan Suro.</a></p>
<p>Asyura.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/menyantuni-anak-yatim-di-hari-asyura/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kesyirikan di Bulan Suro</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/kesyirikan-di-bulan-suro/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/kesyirikan-di-bulan-suro/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Nov 2011 06:21:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Muharram]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=8939</guid>
		<description><![CDATA[Kesyirikan di Bulan Suro Muharram telah tiba, bulan tahun baru dalam kalender hijriyah. Orang jawa menamakan bulan ini dengan istilah Suro. Mungkin nama ini diambil dari kata Asyuro yaitu tanggal 10 Muharram. Latar belakang diistimewakan hari Asyuro karena pada hari ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Kesyirikan di Bulan Suro</h2>
<p>Muharram telah tiba, bulan tahun baru dalam kalender hijriyah. Orang jawa menamakan bulan ini dengan istilah Suro. Mungkin nama ini diambil dari kata Asyuro yaitu tanggal 10 Muharram. Latar belakang diistimewakan hari Asyuro karena pada hari tersebut dianjurkan bagi kaum muslimin untuk melakukan puasa sunah.</p>
<p>Hal menarik yang layak untuk dibahas di sini adalah keyakinan sebagian orang jawa yang menganggap bulan ini sebagai bulan sial. Setiap orang yang punya agenda acara, mau tidak mau harus ditunda bulan depan atau dibatalkan. <em>Dhuwe gawe neng ulan syuro alamat ciloko</em>…<em>Berani jangkar</em> ….melanggar, …<em>ku-wa-lat</em>! demikian anggapan mereka. Anehnya, keyakinan yang tidak bisa diterima akal yang fitrah ini tidak hanya hinggap di masyarakat pedalaman, tetapi juga merasuk kepada sebagian kalangan yang berpendidikan dan mengenal teknologi, seperti kalangan akademisi (mahasiswa dan dosen) dan orang-orang terpelajar lainnya.</p>
<p>Andaikan tidak ada hubungannya dengan surga dan neraka, bisa dikatakan ini adalah satu adat yang biasa dan tidak perlu dibahas. Namun dalam kacamata agama Islam, keyakinan dan anggapan sial di atas termasuk salah satu bentuk perbuatan syirik. Satu dosa yang sangat besar, lebih besar dibandingkan dosa-dosa besar lainnya dan kesyrikan tidak akan diampuni oleh Allah jika dibawa mati oleh pelakunya dan ia belum bertaubat kepada Allah. Mengerikan bukan?! Lebih mengerikan lagi jika banyak orang yang melakukannnya namun tidak memahami hukumnya. Bisa dibayangkan, pelakunya akan merasa dirinya tidak berbuat dosa padahal dia tengah melakukan perbuatan kekafiran. Pada hakikatnya dia sedang melakukan kesyirikan sementara dia tidak tahu kalau yang ia lakukan adalah kesyirikan. Bagaimana ia akan bertaubat kepada Allah apabila ia merasa tidak melakukan kesalahan. Akhirnya, dia mati membawa dosa syirik, satu dosa yang tidak diampuni oleh Allah. <em>Wal &#8216;iyadzu billaah</em></p>
<p>Dalam ilmu aqidah, keyakinan sial seperti di atas dinamakan <em>thiyaroh</em>. Thiyaroh adalah anggapan akan mendapatkan kesialan karena mendengar atau melihat sesuatu yang tidak disukai, padahal tidak ada bukti ilmiyahnya. Misalnya anggapan <strong>bulan Suro</strong> bulan malapetaka.</p>
<p>Thiyaroh adalah aqidah orang kafir jahiliyah.<br />
Sebelum Islam datang, orang musyrikin Arab memiliki keyakinan yang semodel dengan keyakinan orang jawa. Di antaranya masyarakat jahiliyah menganggap bulan Safar (bulan setelah Muharam dalam kalender hijriyah) sebagai bulan sial. Mereka takut dan tidak mau mengadakan kegiatan apapun di bulan Safar. Mereka juga berkeyakinan sial dengan burung hantu, karena mereka menganggap burung hantu adalah lambang kematian. Jika hinggap di atas rumah kemudian mematuk rumah tersebut, pertanda sebentar lagi akan ada anggota keluarga rumah tersebut yang akan meninggal.</p>
<p>Ketika Islam datang Nabi <em>&#8216;alaihis shalaatu was salaam</em> menghapus keyakinan ini, beliau bersabda,</p>
<p class="arab">لا عدوى ولا طيرة ولا هامة ولا صفر</p>
<p>&#8220;<em>Tidak ada penyakit yang menular dengan sendirinya, tidak ada keyakinan sial karena sebab tertentu, tidak ada keyakinan tentang burung hantu, dan tidak ada kesialan bulan safar</em>.&#8221; (HR. Al-Bukhari dan Muslim).</p>
<p>Namun uniknya, keyakinan ini dihidupkan lagi oleh sebagian kaum muslimin Indonesia. Hanya saja, bulannya berganti. Jika masyarakat jahiliyah meyakini bulan Safar sebagai bulan sial, maka orang Jawa meyakini <em>bulan Suro</em> (Muharram) sebagai bulan sial.</p>
<h2>Hukum Thiyarah</h2>
<p>Nabi <em>&#8216;alaihis shalaatu was salaam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">الطيرة شرك، الطيرة شرك&#8230;</p>
<p>&#8220;<em>Thiyaroh adalah syirik, thiyaroh adalah syirik…</em> (beliau ulangi tiga kali)&#8221; (HR. Abu Daud dan Turmudzi).</p>
<p>Dalam hadis ini, Nabi <em>&#8216;alaihis shalaatu was salaam</em> menegaskan status perbuatan <em>thiyaroh</em> dan beliau mengulanginya sebanyak tiga kali. Menunjukkan betapa pentingnya hal ini untuk diingatkan. <em>Thiyaroh</em> dikatakan bentuk kesyirikan dan mengurangi tauhid seseorang, karena dalam <em>thiyaroh</em> terdapat dua hal:</p>
<ol>
<li> Memutus tawakkal kepada Allah dan bertawakkal kepada selain Allah.</li>
<li>Bergantung pada sesuatu yang tidak ada hakikatnya.</li>
</ol>
<p>Ulama menjelaskan bahwa hukum <em>thiyaroh</em> sebagai perbuatan kesyirikan dirinci menjadi dua:<br />
a.	Syirik kecil (tidak menyebabkan keluar dari Islam), jika kejadian aneh, <u>bulan Suro</u>, burung hantu atau yang lainnya hanya dianggap sebagai sebab kesialan. Meskipun dia meyakini bahwa pencipta kesialan itu sendiri adalah Allah. Perbuatan ini digolongkan kesyirikan karena pelakunya bersandar pada sesuatu yang dia yakini sebagai sebab munculnya kesialan, padahal itu bukan sebab.<br />
b.	Syirik besar (pelakunya diancam dengan kekafiran), jika diyakini bahwa bulan Suro yang mengatur terjadinya kesialan, bukan Allah. Keyakinan ini sama dengan menganggap ada makhluk yang bisa mengatur alam dengan mendatangkan bencana atau sial.<br />
(<em>Qoulul Mufid Syarh Kitab Tauhid</em>, 1:575).</p>
<h3>Pengaruh Thiyarah</h3>
<p>Setiap orang yang terjangkit penyakit <em>thiyaroh</em> akan terjebak dalam dua keadaan yang dua-duanya tercela:<br />
<strong>Pertama</strong>, membatalkan agenda yang telah direncanakan karena takut akan tertimpa kesialan. Perbuatan ini sangat tercela karena persis sebagaimana yang dilakukan orang musyrik jahiliyah. Pelaku perbuatan ini telah terjerumus dalam kesyirikan yang statusnya sebagaimana rincian tentang syirik di atas. Nabi <em>shallallaahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">من ردته الطِيَرة من حاجة فقد أشرك</p>
<p>&#8220;<em>Barangsiapa yang membatalkan agendanya karena thiyaroh maka dia telah berbuat syirik</em>.&#8221;<br />
Sahabat bertanya, &#8220;Lalu apakah tebusannya?&#8221; Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menjawab, &#8220;Ucapkan,</p>
<p class="arab">« اللَّهُمَّ لاَ خَيْرَ إِلاَّ خَيْرُكَ وَلاَ طَيْرَ إِلاَّ طَيْرُكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ »</p>
<p><em>Allaahumma laa khaira illa khairuka wa laa thiyaro illa thiyaruka wa laa ilaaha ghoiruka</em><br />
&#8220;<em>Yaa Allah, tiada kebaikan kecuali kebaikan dari-Mu, tiada kesialan kecuali sial karena taqdir-Mu, dan tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau</em>.&#8221; (HR. Imam Ahmad, no.7242, hadis hasan)</p>
<p><strong>Kedua</strong>, tetap melakukan agenda kegiatan yang telah id jadwalkan, namun disertai dengan perasaan was-was dan khawatir, jangan-jangan nanti sial. Kualitas (nilai) keburukannya lebih rendah dari yang pertama, namun keadaan ini bukti rendahnya kualitas tawakkal dan tauhid pelakunya.</p>
<h3>Terapi Untuk Mengobati Thiyarah</h3>
<p>Penyakit aqidah yang sudah mendarah daging akan sangat sulit untuk bisa disembuhkan dan dihilangkan dalam sekejap. Sangat jarang ada orang yang bisa selamat dari penyakit <em>thiyaroh</em> ini. Bahkan para sahabat sendiri -manusia paling baik di umat ini- masih terjangkit penyakit ini. Sebagaimana sabda Nabi <em>&#8216;alaihis shalaatu was salaam</em>,</p>
<p class="arab">الطيرة شرك، الطيرة شرك&#8230;</p>
<p>&#8220;<em>Thiyaroh adalah syirik, thiyaroh adalah syirik..(3X)</em>. kemudian Ibn Mas&#8217;ud <em>radhiallahu&#8217;anhu</em> mengatakan, &#8220;Tidak ada seorangpun di antara kita kecuali (terjangkit dalam hatinya penyakit <em>thiyaroh</em> ini). Hanya saja Allah menghilangkannya dengan tawakkal kepada-Nya.&#8221; (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).<br />
Maksud perkataan Ibn Mas&#8217;ud adalah munculnya perasaan was-was yang dialami para sahabat. (<em>&#8216;Aunul Ma&#8217;bud Syarh Sunan Abi Daud</em>, 10:288).</p>
<p>Namun kata &#8220;sulit&#8221; bukanlah alasan untuk tidak mengobati penyakit membahayakan ini. Ada beberapa cara yang bisa ditempuh untuk menterapi diri dari penyakit <em>thiyaroh</em>:</p>
<ol>
<li> Memperdalam ilmu tuhid dan aqidah. Karena dengan modal ilmu, seseorang bisa berjalan sesuai jalur yang syariat tentukan.</li>
<li>Memahami dan meyakini bahwa segala sesuatu yang ada di alam ini mutlak berada di bawah kehendak dan kekuasaan Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>. Tidak ada satu pun makhlukq yang bisa ikut campur.</li>
<li>Bertawakkal dan pasrah sepenuhnya kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>. Sebagaimana yang dilakukan para sahabat.</li>
<li>Sering-sering memohon perlindungan kepada Allah dari bisikan dan gangguan setan. Terutama ketika muncul perasan khawatir dan was-was. Kemudian lindungi diri kita dari godaan setan dengan membasahi mulut ini dengan dzikir-dzikir yang sesuai syari&#8217;at.</li>
<li>Jangan menggagalkan satu rencana yang sudah diagendakan, disebabkan munculnya perasaan was-was. Karena hal ini berarti menjerumuskan kita kepada kesyirikan.</li>
<li>Tetap optimis untuk meraih keberkahan dari kegiatan yang kita lakukan selama tidak melanggar syariat.</li>
<li>Jangan pedulikan komentar orang yang justru akan memperparah penyakit <em>thiyaroh</em>. Bergaul-lah dengan orang-orang yang bisa membantu kita untuk memperbaiki tauhid dan mempertebal tawakkal.</li>
<li>Lupakan segala bentuk kegagalan dunia dan pasrahkan hasil usaha kita kepada Sang Pengatur alam semesta.</li>
</ol>
<p><em>Wallaahu waliyut Taufiq</em>. Semoga bermanfaat.</p>
<p><strong>Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait bulan suro:</h3>
<p>1. <a rel="nofollow" href="../amalan-di-bulan-muharram" target="_blank">Amalan-amalan Bulan Muharram</a>.<br />
2. <a rel="nofollow" href="../keutamaan-bulan-muharram" target="_blank">Keutamaan Bulan Muharram</a>.</p>
<p>Permasalahan bulan suro.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/kesyirikan-di-bulan-suro/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hadis Dhaif Seputar Bulan Muharram</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/hadis-dhaif-seputar-bulan-muharram/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/hadis-dhaif-seputar-bulan-muharram/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Nov 2011 01:56:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Muharram]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=8915</guid>
		<description><![CDATA[Hadis Dhaif Seputar Bulan Muharram Pertanyaan: Ada banyak keyakinan yg tersebar di masyarakat terkait bulan Muharram. Misalnya, apabila berpuasa sehari di bulan Muharram maka untuk satu hari puasa dia mendapat pahala puasa tiga puluh hari atau siapa yang berpuasa sembilan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Hadis Dhaif Seputar Bulan Muharram</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Ada banyak keyakinan yg tersebar di masyarakat terkait bulan <strong>Muharram</strong>. Misalnya, apabila berpuasa sehari di bulan <em>Muharram</em> maka untuk satu hari puasa dia mendapat pahala puasa tiga puluh hari atau siapa yang berpuasa sembilan hari pertama bulan <u>Muharram</u> maka Allah akan bangunkan untuknya satu kubah di udara atau semacamnya. Apakah keyakinan ini benar? Adakah hadisnya?</p>
<p>Dari: <em>Arriqa fauqi (ArXXXXXX@yahoo.com)</em><br />
<span id="more-8915"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
Beberapa keterangan yang Anda sampaikan pada hakikatnya bersumber dari hadis dhaif.</p>
<h3>Berikut keterangan selengkapnya terkait hadis-hadis dhaif seputar bulan muharram:</h3>
<p><strong>1.</strong> Siapa yang berpuasa sembilan hari pertama bulan Muharram maka Allah akan bangunkan untuknya satu kubah di udara, yang memiliki empat pintu, tiap pintu jaraknya satu mil. (Hadis palsu, sebagaimana keterangan Ibnul Jauzi dalam Al-Maudhu’at, 2:199, dan As-Syaukani dalam <em>Al-Fawaid Al Majmu’ah</em>, Hal. 45)</p>
<p><strong>2.</strong> Siapa yang berpuasa hari terakhir bulan Dzulhijjah dan hari pertama bulan Muharram, berarti dia telah mengakhiri penghujung tahun dan mengawali tahun baru dengan puasa. Allah jadikan puasanya ini sebagai kaffarah selama lima tahun. (Hadis dusta, karena di sanadnya ada dua pendusta, sebagaimana keterangan As-Syaukani dalam <em>Al-Fawaid Al-Majmu’ah</em>, Hal. 45)</p>
<p><strong>3.</strong> Sesungguhnya Allah mewajibkan Bani Israil berpuasa sehari dalam setahun, yaitu hari ‘Asyura, yaitu hari kesepuluh bulan Muharram. Karena puasalah kalian di bulan Muharram dan berilah kelonggaran (makan enak dan pakaian baru) untuk keluarga kalian. Karena inilah hari di mana Allah menerima taubat Adam<em> ‘alaihis salam</em>… (<em>Al-Fawaid Al-Majmu’ah</em>, Hal. 46)</p>
<p><strong>4.</strong> Siapa yang berpuasa sehari di bulan Muharram maka untuk satu hari puasa dia mendapat pahala puasa tiga puluh hari. (Hadis palsu, sebagaimana keterangan Al-Albani dalam <em>Silsilah Hadis Dhaif</em>, no. 412)</p>
<p><strong>5.</strong> Bulan yang paling mulia adalah Al-Muharram (Hadis dhaif, sebagaimana keterangan Al-Albani dalam <em>Dhaif Al Jami’ As-Shagir</em>, no. 1805)</p>
<p><strong>6.</strong> Pemimpin umat manusia: Adam, pemimpin bangsa Arab: Muhammad, pemimpin bangsa Romawi: Shuhaib Ar-Rumi, pemimpin bangsa Persia: Salman Al-Farisi, pemimpin bangsa Habasyah: Bilal bin Rabah, pemimpin gunung: Gunung Sina, pemimpin pohon: bidara, pemimpin bulan : Muharram, pemimpin hari : hari Jumat….(Hadis palsu, sebagaimana keterangan Al-Albani,<em> Dhaif Al Jami’ As Shaghir</em>, no. 7069).</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustad Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a href="http://konsultasisyariah.com/" rel="nofollow" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait muharram:</h3>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/amalan-di-bulan-muharram" rel="nofollow" target="_blank">Amalan-amalan Bulan Muharram</a>.</p>
<p>2. <a href="http://konsultasisyariah.com/keutamaan-bulan-muharram" rel="nofollow" target="_blank">Keutamaan Bulan Muharram</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/hadis-dhaif-seputar-bulan-muharram/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Doa Nurbuat</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/doa-nurbuat/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/doa-nurbuat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Oct 2011 01:43:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[adab doa]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[doa bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[doa nabi]]></category>
		<category><![CDATA[doa nurbuat]]></category>
		<category><![CDATA[doa tuntunan]]></category>
		<category><![CDATA[kesalahan doa]]></category>
		<category><![CDATA[pictures]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=8078</guid>
		<description><![CDATA[Doa Nurbuat Assalamu&#8217;alaikum ustad. Ustad, istri saya sedang hamil. Banyak yang menyarankan baik dari keluarga maupun teman kerja untuk mendawamkan (selalu membaca doa) doa nurbuat. Apa doa nurbuat itu Ustadz? Dan apakah doa itu sesuai dengan tuntunan Rosulullah Muhammad shalallahu ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Doa Nurbuat</h2>
<p><em>Assalamu&#8217;alaikum</em> ustad. Ustad, istri saya sedang hamil. Banyak yang menyarankan baik dari keluarga maupun teman kerja untuk mendawamkan (selalu membaca doa) <strong>doa nurbuat</strong>.<br />
Apa <span style="text-decoration: underline;">doa nurbuat</span> itu Ustadz? Dan apakah doa itu sesuai dengan tuntunan Rosulullah Muhammad <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>? sebab saya khawatir doa itu sama seperti <a href="http://konsultasisyariah.com/hukum-shalawat-di-iringi-rebana" target="_blank" rel="nofollow"><em>shalawat nariyah</em></a>, yang ternyata setelah mendapatkan penjelasan dari para ustad (melalui Majalah As-Sunnah) shalawat nariyah itu dilarang. Mohon penjelasannya Ustadz. Terimakasih.</p>
<p>Penanya: <em>cikalXXXXXXXXX@yahoo.co.id</em><br />
<span id="more-8078"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa &#8216;alaikumus salam</em></p>
<h3>Doa Nurbuat</h3>
<p>Teks doanya:</p>
<p class="arab">اللَّهُمَّ ذِى السُّلْطَانِ العَظِيم وَذِى الـمَنِّ القَدِيم وَذِى الوَجْه الكَرِيم وَوَلِيِّ الكَلِمَات التآمات وَالدَّعَوَاتِ الـمُسْتَجَبَات عَاقِلِ الحَسَنِ والحُسَينِ من انفس الحق عين القدرة والناظرين وعين الجن والإنس والشياطين. وَإِن يَكَادُ الذِّينَ كَفَرُوا لَيُزْلِقُونَكَ بِأَبصَارِهِم لما سمعوا الذكر ويقولون إنه لمجنون وماهو الا ذكر للعالمين ومُستجابُ القرآن العظيم وورث سليمان داود عليهما السلام الودود ذو العرش المجيد طَوِّلْ عُمْرِي وصحح جسدي واقض حاجتي واكثر اموالي واولادي وحببني للناس اجمعين وتباعد العداوة كل من بني آدم عليه السلام من كان حيا ويحق القول على الكافرين انك على كل شيء قدير سبحان ربك رب العزة عما يصفون.والسلام على المرسلين والحمد لله رب العالمين.</p>
<p>Ada banyak kejanggalan dalam <em>doa nurbuat</em>, diantaranya:</p>
<p><strong>1.</strong> Kesalahan dalam tata bahasa<br />
Teks bagian awal doa ini tidak sesuai dengan kaidah nahwu (tata bahasa Arab). Teks yang keliru:</p>
<p class="arab">[اللَّهُمَّ ذِى السُّلْطَانِ]</p>
<p>seharusnya, dibaca</p>
<p class="arab">[ذَا]</p>
<p>dengan hurup alif bukan</p>
<p class="arab">[ذِى]</p>
<p>Karena Munada Mudhaf harusnya <em>mansub</em> bukan <em>majrur</em>. Namun, anehnya, kesalahan semacam ini terjadi secara berulang-ulang, yaitu di bagian <em>ma&#8217;thuf</em>nya.<br />
Teks</p>
<p class="arab">[وَذِى الـمَنِّ القَدِيم]</p>
<p>seharusnya</p>
<p class="arab">[وَذَا الـمَنِّ القَدِيم]</p>
<p>Teks</p>
<p class="arab">[وَذِى الوَجْه الكَرِيم]</p>
<p>seharusnya</p>
<p class="arab">[وَذَا الوَجْه الكَرِيم]</p>
<p>Teks</p>
<p class="arab">[وَوَلِيِّ الكَلِمَات التآمات]</p>
<p>seharusnya</p>
<p class="arab">[وَوَلِيَّ الكَلِمَاتِ التآمَاتِ]</p>
<p>dengan harakat fathah.</p>
<p><strong>2.</strong> Susunan kalimat yang tidak sistematis dan tidak memiliki kaitan.<br />
Di bagian awal doa, isiny memuji Allah, kemudian tiba-tiba dikutip ayat:</p>
<p class="arab">وَإِن يَكَادُ الذِّينَ كَفَرُوا لَيُزْلِقُونَكَ بِأَبصَارِهِم&#8230;</p>
<p><em>“Hampir saja orang-orang kafir hendak menjatuhkanmu dengan pandangan mata mereka.”</em><br />
Ayat ini menceritakan tentang sikap orang kafir yang hendak menyerang Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dengan penyakit &#8216;ain (penyakit karena pandangan hasad). Sehingga mereka bisa membunuh Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dari jauh.<br />
Jika kita perhatikan, ayat ini tidak memiliki keterkaitan langsung ayat ini dengan pujian untuk Allah dalam bait sebelumnya.</p>
<p><strong>3.</strong> Isi permintaan yang tidak tepat<br />
Dalam doa tersebut ada permintaan:</p>
<p class="arab">[طَوِّلْ عُمْرِي]</p>
<p>Panjangkanlah umurku. Umur panjang secara mutlak bukanlah hal yang terpuji. Karena umur panjang belum tentu berkah. Lebih tepat jika meminta keberkahan umur bukan meminta umur panjang. Sebagaimana yang dilakukan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> ketika mendoakan Anas bin Malik:</p>
<p class="arab">اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ وَوَلَدَهُ ، وَبَارِكْ لَهُ فِيمَا أَعْطَيْتَهُ</p>
<p>“Ya Allah, perbanyaklah harta dan anaknya, serta berkahilah apa yang engkau karuniakan padanya.” (HR. Bukhari no. 6334 dan Muslim no. 2480)<br />
Nabi tidak mendoakan secara mutlak, tapi beliau iringi dengan doa keberkahan.<br />
Syekh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin pernah ditanya tentang hukum memberikan ucapan &#8220;semoga panjang umur&#8221; Syekh mejawab, Tidak selayaknya mengucapkan &#8220;semoga panjang umur&#8221; secara mutlak, tanpa diikuti dengan kriteria yang lain. Karena panjang umur terkadang baik dan terkadang buruk. Padahal, manusia terjelek adalah orang yang panjang umurnya dan jelek amalnya. Oleh karena itu, andaikan ucapan yang disampaikan, &#8220;Semoga Allah memanjangkan usiamu di atas ketaatan&#8221; atau yang semacamnya maka ini tidak mengapa. (Fatawa as-Syimaliyah, Hal. 24)</p>
<p><strong>4.</strong> Keutamaan yang terlalu berlebihan<br />
Para aktivis pembaca doa ini menceritakan bahwa doa nurbuat memiliki banyak keutamaan. Namun, kebanyakan keutamaan tersebut, hanya terkait kesenangan dunia. Padahal prinsip doa yang diajarkan syariat lebih banyak untuk kepentingan akhirat. Kalaupun isinya memohon kebaikan dunia, pasti juga diiringi dengan permohonan kebaikan akhirat. Diantara keutamaan yang aneh pada doa ini:</p>
<ol>
<li>Dapat bertemu dengan Jin, bisa merubah rupa.</li>
<li>Dapat disayangi oleh musuh, jika dibaca ketika hendak keluar rumah.</li>
<li>Dapat menjadi penjaga rumah dari gangguan jin, sihir, santet dan bahaya lainnya, jika ditulis lalu disimpan di dalam rumah. (Mungkin inilah yang melatar-belakangi kebiasaan orang yang menggantung jimat di depan rumah).</li>
<li>Dapat memperlihatkan hal-hal yang indah, jika dibaca 100 kali pada malam Sabtu.</li>
<li>Dapat awet muda jika dibaca setiap malam Minggu.</li>
<li>Dapat menjadikan wajah tampak lebih tampan/cantik jika dibaca setiap malam Kamis.</li>
<li>Dan masih banyak keutamaan lainnya, yang semuanya mungarah pada kerakusan terhadap dunia.</li>
</ol>
<p>Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa tidak mungkin doa nurbuat berasal dari ajaran Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Karena itu, tidak selayaknya untuk dibaca.<br />
<em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a href="http://www.konsutasisyariah.com/" rel="nofollow" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a href="http://www.konsutasisyariah.com/" rel="nofollow" target="_blank">www.KonsutasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/doa-nurbuat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keistemewaan Bulan Sya&#8217;ban</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/keistemewaan-bulan-syaban/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/keistemewaan-bulan-syaban/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Jul 2011 22:00:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[RAMADHAN]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[bulan sya'ban]]></category>
		<category><![CDATA[bulan sya'ban 2011]]></category>
		<category><![CDATA[fadilah bulan syaban 2011]]></category>
		<category><![CDATA[hukum puasa sya'ban sebulan penuh]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[logo]]></category>
		<category><![CDATA[mengapa banyak orang menikah di bulan sya'ban]]></category>
		<category><![CDATA[menikah di bulan sa'ban]]></category>
		<category><![CDATA[meninggal di bulan syaban]]></category>
		<category><![CDATA[musyrik]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[puasa bulan sya'ban]]></category>
		<category><![CDATA[puasa ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[puasa sya'ban 2011]]></category>
		<category><![CDATA[ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[start]]></category>
		<category><![CDATA[sya ban 2011]]></category>
		<category><![CDATA[sya'ban]]></category>
		<category><![CDATA[wanita bulan sya'ban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=5533</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Assalamualaikum ustazd. Ada sebuah keraguan dalam hati saya tentang keutamaan bulan Sya&#8217;ban. Banyak masyarakat disekitar saya yang melaksanakan ibadah yang tidak dilakukannya dibulan-bulan lain, misalnya puasa. Apakah Rasulullah pernah melakukan atau membiarkan hal itu pada bulan Sya&#8217;ban? Semoga jawaban ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Assalamualaikum ustazd.</em></p>
<p>Ada sebuah keraguan dalam hati saya tentang keutamaan bulan Sya&#8217;ban. Banyak masyarakat disekitar saya yang melaksanakan ibadah yang tidak dilakukannya dibulan-bulan lain, misalnya puasa. Apakah Rasulullah pernah melakukan atau membiarkan hal itu pada bulan Sya&#8217;ban?</p>
<p>Semoga jawaban yang ustadz berikan dapat menjawab keraguan saya tentang hal itu(keutamaan bulan sya&#8217;ban).<br />
<em>Syukran, jazakumullan khairan.</em></p>
<p><em>Arifin ahmad</em> (AhmadXXXXXX@XXXXX.com)<br />
<span id="more-5533"></span><br />
<strong>Jawaban: </strong></p>
<p><em>Wa alaikumus salam wa rahmatullah.</em></p>
<p>Bulan Sya&#8217;ban memiiliki beberapa keutamaan. Berikut kami cantumkan beberapa hadis sahih yang menyebutkan keutamaan bulan Sya&#8217;ban.</p>
<p>Dari A&#8217;isyah <em>radliallahu &#8216;anha</em>, beliau mengatakan, &#8220;Terkadang Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> puasa beberapa hari sampai kami katakan, &#8216;Beliau tidak pernah tidak puasa, dan terkadang beliau tidak puasa terus, hingga kami katakan: Beliau tidak melakukan puasa. Dan saya tidak pernah melihat Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berpuasa sebulan penuh kecuali di bulan Ramadhan, saya juga tidak melihat beliau berpuasa yang lebih sering ketika di bulan Sya&#8217;ban.&#8217;&#8221; (H.R. Al Bukhari dan Muslim)</p>
<p>A&#8217;isyah mengatakan, &#8220;Belum pernah Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berpuasa satu bulan yang lebih banyak dari pada puasa bulan Sya&#8217;ban. Terkadang hampir beliau berpuasa Sya&#8217;ban sebulan penuh.&#8221; (H.R. Al Bukhari dan Msulim)</p>
<p>A&#8217;isyah mengatakan, &#8220;Bulan yang paling disukai Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> untuk melaksanakan puasa adalah bulan Sya&#8217;ban, kemudian beliau lanjutkan dengan puasa Ramadhan.&#8221; (H.R. Ahmad, Abu Daud, An Nasa&#8217;i dan <em>sanad</em>-nya disahihkan Syaikh Syu&#8217;aib Al Arnauth)</p>
<p>Ummu Salamah <em>radliallahu &#8216;anha</em> mengatakan, &#8220;Saya belum pernah melihat Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berpuasa dua bulan berturut-turut selain di bulan Sya&#8217;ban dan Ramadhan.&#8221; (H.R. An Nasa&#8217;i, Abu Daud, At Turmudzi dan disahihkan Al Albani)</p>
<p>Dari Usamah bin Zaid, beliau bertanya, &#8220;Wahai Rasulullah, saya belum pernah melihat anda berpuasa dalam satu bulan sebagaimana anda berpuasa di bulan Sya&#8217;ban. Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, &#8216;Ini adalah bulan yang sering dilalaikan banyak orang, bulan antara Rajab dan Ramadhan. Ini adalah bulan dimana amal-amal diangkat menuju Rab semesta alam. Dan saya ingin ketika amal saya diangkat, saya dalam kondisi berpuasa.&#8217;” (H.R. An Nasa&#8217;i, Ahmad, dan <em>sanad</em>-nya di-<em>hasan</em>-kan Syaikh Al Albani)</p>
<p>Dari Abu Musa Al Asy&#8217;ari <em>radliallahu &#8216;anhu</em>, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, “Sesungguhnya Allah melihat pada malam pertengahan Sya&#8217;ban. Maka Dia mengampuni semua makhluqnya, kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.” (HR. Ibnu Majah, At Thabrani, dan disahihkan Al Albani)</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).<br />
Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/keistemewaan-bulan-syaban/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Peringatan Isra&#8217; Mi’raj</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/peringatan-isra-mi%e2%80%99raj/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/peringatan-isra-mi%e2%80%99raj/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Jun 2011 06:21:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Muharram]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[SEJARAH ISLAM]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[isra dan miraj]]></category>
		<category><![CDATA[isra mi raj adalah]]></category>
		<category><![CDATA[isra mijrat]]></category>
		<category><![CDATA[isra miraj]]></category>
		<category><![CDATA[isra miraj dan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[isra' mi raj]]></category>
		<category><![CDATA[isra'mi'raj]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[meninggal di bulan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[mi'raj]]></category>
		<category><![CDATA[nasehat rasulullah setelah isra' mi'raj selain sholat]]></category>
		<category><![CDATA[perayaan isra mi'raj]]></category>
		<category><![CDATA[peringatan isra mi'raj]]></category>
		<category><![CDATA[peristiwa dalam bulan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[ramadan ini isra miraj kapan]]></category>
		<category><![CDATA[ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah peringatan isra' mi'raj]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah rajaban]]></category>
		<category><![CDATA[shaf]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[susunan acara waktu perayaan isra dan mi'raj]]></category>
		<category><![CDATA[syawal]]></category>
		<category><![CDATA[tahun hijriah rajab=rajaban]]></category>
		<category><![CDATA[tanggal isra mi'raj tahun 2011]]></category>
		<category><![CDATA[tentang isra' mi'raj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=5373</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Assalamu alaikum.. Sebentar lagi ada peringatan Isra Mi’raj. Ada yg mengatakan bahwa Isra&#8217; Mi’raj tidak terjadi di bulan Rajab, apakah ini benar? Lantas, bagaimana hukum peringatan Isra Mi’raj? Trims.. Tri Jogja (triXXXX@XXXXX.com ) Jawaban: Wa alaikumus salam wa rahmatullah. ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Assalamu alaikum..</em></p>
<p>Sebentar lagi ada peringatan <em>Isra Mi’raj</em>. Ada yg mengatakan bahwa <em>Isra&#8217; Mi’raj</em> tidak terjadi di bulan Rajab, apakah ini benar? Lantas, bagaimana hukum peringatan <em>Isra Mi’raj</em>?<br />
Trims..</p>
<p><em>Tri Jogja (triXXXX@XXXXX.com )</em><br />
<span id="more-5373"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa alaikumus salam wa rahmatullah.</em></p>
<p>Tanggal 27 Rajab menjadi satu agenda penting bagi kaum muslimin. Mereka meyakini bahwa pada tanggal itu terjadi peristiwa <em>Isra’ </em>dan <em>Mi’raj</em>. Padahal para ulama berselisih pendapat tentang tanggal terjadinya <em>Isra’</em>dan <em>Mi’ra</em>j. Disebutkan oleh Syaikh Shafiyurrahman Al Mubarakfuri, ada sekitar 6 pendapat ulama, terkait dengan penentuan waktu kejadian <em>Isra’</em> dan<em> Mi’raj</em>.</p>
<p><strong>Pertama,</strong> <em>Isra&#8217;</em> dan <em>Mi’raj</em> terjadi di tahun pertama ketika beliau diangkat sebagai Nabi. Ini adalah pendapat At-Thabari.</p>
<p><strong>Kedua,</strong> <em>Isra&#8217;</em> dan<em> Mi’ra</em>j terjadi lima tahun setelah beliau diutus sebagai Nabi. Ini adalah pendapat yang dipilih oleh Imam An-Nawawi dan Al-Qurthubi.</p>
<p><strong>Ketiga,</strong> <em>Isra&#8217; Mi’raj</em> terjadi di malam 27 Rajab, tahun 10 setelah kenabian (sepuluh tahun setelah beliau diutus menjadi Nabi). Ini pendapat Al-Manshurfuri.</p>
<p><strong>Keempat,</strong> peristiwa <em>Isra&#8217;</em> terjadi 16 bulan sebelum beliau hijrah ke Madinah, tepatnya di bulan Ramadhan tahun 12 setelah kenabian.</p>
<p><strong>Kelima,</strong> peristiwa ini terjadi setahun dua bulan sebelum hijrah, atau tepatnya di bulan Muharram tahun 13 setelah kenabian.</p>
<p><strong>Keenam,</strong> <em>Isra&#8217; Mi’raj</em> terjadi satu tahun sebelum beliau hijrah ke Madinah, tepatnya di bulan Rabi&#8217;ul Awal tahun 13 setelah kenabian.</p>
<p>Dari enam pendapat di atas, 3 pendapat pertama tertolak dan bertentangan dengan realita sejarah lainnya. (Lihat <em>Ar-Rahiqum Makhtum</em>, hal. 85)</p>
<p><strong>Bagaimana analisisnya?</strong></p>
<p>Sebelumnya kami tegaskan –barangkali ada sebagian kaum muslimin yang belum paham–, urutan bulan hijriyah: &#8230;Rajab, Sya&#8217;ban, Ramadhan, Syawal, <em>dst</em>.</p>
<p>Kemudian, sebagaimana yang kita ketahui, sekembalinya Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dari Isra&#8217; Mi’raj, beliau membawa syariah shalat lima waktu. Sementara para ahli sejarah menegaskan bahwa Khadijah meninggal di bulan Ramadhan tahun kesepuluh setelah kenabian. Ini sebagaimana yang ditegaskan Ibnul Jauzi (<em>Talqih Fuhum Ahlil Atsar</em>, hal. 7). Padahal sampai Khadijah meninggal belum ada kewajiban shalat lima waktu.</p>
<p>Jika dua peristiwa ini, yaitu Isra&#8217; Mi’raj dan wafatnya Khadijah terjadi dalam tahun yang sama, tahun sepuluh setelah kenabian, tentunya di bulan kematian Khadijah <em>radhiallahu &#8216;anha</em>, kewajiban shalat sudah ada. Karena urutan bulan Rajab jatuh sebelum ramadhan.</p>
<p>Adapun tiga pendapat terakhir, Al-Mubarakfuri memberi komentar, “Untuk tiga pendapat sisanya, saya belum mendapatkan keterangan yang menguatkan salah satu pendapat tersebut. Hanya saja, konteks surat Al-Isra&#8217; menunjukkan bahwa peristiwa ini terjadi di waktu-waktu terakhir di Mekah.”</p>
<p><strong>Ulama Sepakat Peringatan <em>Isra&#8217; Mi’raj</em> adalah <em>Bid&#8217;a</em>h</strong></p>
<p>Para ulama sepakat bahwa peringatan <em>Isra&#8217; Mi’raj</em> adalah acara <em>bid’ah</em>. Ibnul Qayim menukil keterangan Syaikhul Islam Ibn Taimiyah, yang mengatakan, “Tidak diketahui dari seorang-pun kaum muslimin, yang menjadikan malam <em>Isra&#8217; Mi’raj</em> lebih utama dibandingkan malam yang lainnya. Lebih-lebih menganggap bahwa malam <em>Isra&#8217;</em> lebih mullia dibandingkan <em>lailatul qadar</em>. Tidak seorangpun sahabat, maupun <em>tabi’in</em> yang mengkhususkan malam <em>Isra&#8217;</em> dengan kegiatan tertentu, dan mereka juga tidak memperingati malam ini. Karena itu, tidak diketahui secara pasti, kapan tanggal kejadian <em>Isra&#8217; Mi’raj</em>.” (<em>Zadul Ma’ad</em>, 1/58 /59).</p>
<p>Ibnu Nuhas mengatakan, “Memperingati malam <em>Isra&#8217; Mi’raj</em> adalah <em>bid’ah</em> yang besar dalam urusan agama. Termasuk perkara baru yang dibuat-buat teman-teman setan.” (<em>Tanbihul Ghafili</em>n, hal. 379 – 380. Dinukil dari <em>Al Bida’ Al Hauliya</em>h, hal. 138)</p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam</em>.</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).<br />
Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/peringatan-isra-mi%e2%80%99raj/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Qunut dalam Shalat Maghrib</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/qunut-dalam-shalat-maghrib/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/qunut-dalam-shalat-maghrib/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Jun 2011 09:56:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[3 jenis qunut]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[dalil qunut dalam shalat subuh]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[doa dalam sholat]]></category>
		<category><![CDATA[doa dalam witir solat taraweh]]></category>
		<category><![CDATA[doa kunut dalam shalat taraweh dan subuh hukum]]></category>
		<category><![CDATA[doa qunut]]></category>
		<category><![CDATA[doa qunut mazhab syiah]]></category>
		<category><![CDATA[doa qunut syiah]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[hukum sikat gigi waktu puasa menurut syiah]]></category>
		<category><![CDATA[jenis doa qunut]]></category>
		<category><![CDATA[jenis qunut]]></category>
		<category><![CDATA[kafir]]></category>
		<category><![CDATA[kenapa qunut hanya dibaca waktu subuh?]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[mazhab syiah tentang shalat jumat]]></category>
		<category><![CDATA[mazhab yang memakai qunut dalam sholat]]></category>
		<category><![CDATA[mengenai kunut dalam solat taraweh]]></category>
		<category><![CDATA[qunut dalam shalat hukumnya]]></category>
		<category><![CDATA[qunut dalam shalat tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[qunut di dalam salat taraweh]]></category>
		<category><![CDATA[qunut di sholat magrib]]></category>
		<category><![CDATA[qunut pada shalat jumat]]></category>
		<category><![CDATA[qunut pada waktu shalat terawih]]></category>
		<category><![CDATA[qunut syiah]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[shalat maghrib dan hukumnya]]></category>
		<category><![CDATA[shalat subuh]]></category>
		<category><![CDATA[shalat tarawih dengan doa qunut]]></category>
		<category><![CDATA[shalat witir]]></category>
		<category><![CDATA[sholat maghrib qunut]]></category>
		<category><![CDATA[subuh]]></category>
		<category><![CDATA[tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[waktu adzan maghrib]]></category>
		<category><![CDATA[waktu-waktu witir]]></category>
		<category><![CDATA[witir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=5182</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Assalamu &#8216;alaikum warahmatullah wabarakatuh. Pak Ustadz yang terhormat, (orang-orang, ed.) di kampung saya, selalu melakukan doa qunut dalam shalat maghrib. Itu hukumnya apa, dan sah/tidak shalatnya? Kata teman tidak apa-apa, dan tergantung kita mau ikut imam yang mana. Wassalamu ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Assalamu &#8216;alaikum warahmatullah wabarakatuh</em>. Pak Ustadz yang terhormat, (orang-orang, <em>ed.</em>) di kampung saya, selalu melakukan doa qunut dalam shalat maghrib. Itu hukumnya apa, dan sah/tidak shalatnya? Kata teman tidak apa-apa, dan tergantung kita mau ikut imam yang mana.  <em>Wassalamu &#8216;alaikum</em>.</p>
<p><em>Rodji (rodji**@***.com) </em><br />
<span id="more-5182"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa&#8217;alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh.</em></p>
<p>Qunut ada tiga macam:<br />
1. <em>Qunut nazilah</em>: qunut yang dilakukan setiap melaksanakan shalat lima waktu (<strong>tidak hanya</strong> maghrib saja). Qunut ini dilakukan ketika kaum muslimin sedang mendapatkan gangguan dari musuhnya (orang kafir).<br />
2. <em>Qunut witir</em>: qunut ini hanya dilakukan ketika shalat witir.<br />
3. <em>Qunut subuh</em>: menurut pendapat Mazhab Syafi&#8217;iyah, qunut ini dianjurkan; hanya untuk shalat subuh, <strong>bukan</strong> shalat lainnya.</p>
<p>Selain dari tiga jenis qunut di atas, seperti qunut saat shalat maghrib, belum kami jumpai dalil dan keterangan ulama dalam masalah ini.</p>
<blockquote><p>Sementara, kaidah baku dalam masalah ibadah: harus ada dalilnya.</p></blockquote>
<p>Dengan demikian, Anda tidak perlu ikut qunut, tetapi Anda cukup ikut shalat jemaah saja.</p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).</strong><br />
<strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/qunut-dalam-shalat-maghrib/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perlukah Menambahkan Kata &#8220;Sayyidina&#8221; dalam Tahiyat</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/perlukah-menambahkan-kata-sayyidina-dalam-tahiyat/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/perlukah-menambahkan-kata-sayyidina-dalam-tahiyat/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Jun 2011 05:00:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[bacaan pujian/sholawat sebelum sholat berjamaah]]></category>
		<category><![CDATA[bacaan sayyidina pada tahyat sholat]]></category>
		<category><![CDATA[bacaan shalawat nabi tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[bacaan tahiyat shalat tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[bacaan tahiyat shalat teraweh]]></category>
		<category><![CDATA[bacaan tahiyat tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[bacaan tahiyat untuk terawih]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[bayangan takhiyat dalam bulan]]></category>
		<category><![CDATA[cara panduan sholawat shalat tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[dlm shalawat bacaan sayidina boleh ato tdk]]></category>
		<category><![CDATA[doa shalawat di antara sholat taraweh]]></category>
		<category><![CDATA[hadist bacaan dlm tahiyat shalat]]></category>
		<category><![CDATA[hadist bacaan tahiyat menggunakan sayyidina]]></category>
		<category><![CDATA[hadist tentang sholawat menggunakan sayyidina]]></category>
		<category><![CDATA[hkm tntng bacaan syaidina dlm tahiyat shalat]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[hukum baca sayyidina dalam sholat]]></category>
		<category><![CDATA[hukum kata sayyidina pada tahiyat]]></category>
		<category><![CDATA[hukum memakai sayyidina dalam sholat]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[jawaban sholawat ketika tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[kata sayyidina dalam sholawat]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[membaca doa tasyahud memakai sayyidina]]></category>
		<category><![CDATA[mengajar]]></category>
		<category><![CDATA[mengapa tarawih pakai shalawat?]]></category>
		<category><![CDATA[pakai sayyidina pada tahiyat]]></category>
		<category><![CDATA[penggunaan kata sayyidina]]></category>
		<category><![CDATA[penggunaan sayyidina pada shalawat]]></category>
		<category><![CDATA[perlukah doa qunut subuh]]></category>
		<category><![CDATA[sayyidina dalam]]></category>
		<category><![CDATA[sayyidina mazhab]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah bacaan shalat]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah tahiyyat]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[shalawat antara rakaat shalat tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[shalawat pada shalat tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[shalawat sesudah tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[start]]></category>
		<category><![CDATA[tahyat dalam sholat subuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=5073</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Apa hukumnya menambahkan kata &#8220;sayyidina&#8221; dalam salawat pas tahiyat saat shalat? Ridwan (**oneabout@***.co.id) Jawaban: Bismillah. Sikap yang tepat adalah mengikuti petunjuk Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dalam berhalawat, sebagaimana yang disebutkan dalam hadis, tanpa menambahi atau pun mengurangi. Al-Hafizh ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Apa hukumnya menambahkan kata &#8220;<em>sayyidina</em>&#8221; dalam salawat pas tahiyat saat shalat?</p>
<p><em>Ridwan (**oneabout@***.co.id)</em><br />
<span id="more-5073"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Bismillah</em>. Sikap yang tepat adalah mengikuti petunjuk Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dalam berhalawat, sebagaimana yang disebutkan dalam hadis, tanpa menambahi atau pun mengurangi.</p>
<p>Al-Hafizh Ibnu Hajar menegaskan bahwa tidak ada satu pun riwayat tentang shalawat yang membuat tambahan &#8220;sayyidina&#8221; Beliau mengatakan, “Al-Qadhi &#8216;Iyadh (ulama Mazhab Syafi&#8217;i) telah mengumpulkan dalam satu bab khusus di kitabnya, <em>Asy-Syifa&#8217;</em>, tentang tata cara bersalawat kepada Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Beliau sebutkan beberapa riwayat dari para shahabat maupun tabi&#8217;in; tidak ada satu pun di antara mereka yang menambahkan lafal &#8216;sayyidina&#8217;.”</p>
<p>Di antaranya adalah riwayat dari Ibnu Abi Laila, bahwa beliau bertemu Ka&#8217;ab bin Ujrah (shahabat), kemudian Ka&#8217;ab mengatakan, &#8220;Maukah kamu, aku beri hadiah? Sesungguhnya, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menemui kami, kemudian kami bertanya, &#8216;Wahai Rasulullah, &#8230; Bagaimanakah bacaan salawat kepadamu?&#8217; Beliau bersabda, &#8216;Ucapkanlah, &#8216;<em>Allahumma shalli &#8216;ala Muhammad wa &#8216;ala ali Muhammad</em> &#8230;.&#8221;” (H.R. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Andaikan tambahan kata &#8220;sayyidina&#8221; itu disyariatkan, sebagai bentuk rasa hormat kepada Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, tentu Ka&#8217;ab bin &#8216;Ujrah, seorang <em>shahabat</em> yang mulia, akan mengajarkannya kepada muridnya, karena merekalah orang yang paling hormat dan paling tahu cara mengagungkan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Setelah kita memahami bahwa bacaan shalawat dari Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> <strong>tidak</strong> memuat tambahan &#8220;sayyidina&#8221; maka bacaan salawat ketika shalat tidak boleh ditambahi &#8220;sayyidina&#8221;. Semua bacaan dalam shalat harus tepat sesuai dengan bacaan yang disebutkan dalam dalil. Bahkan, sebagian ulama menyatakan bahwa menambahkan lafal &#8220;sayyidina&#8221; dalam bacaan salawat ketika shalat bisa membatalkan shalat.</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).</strong><br />
<strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/perlukah-menambahkan-kata-sayyidina-dalam-tahiyat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

