<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Konsultasi Kesehatan dan Tanya Jawab Pendidikan Islam &#187; Manajemen Qolbu</title>
	<atom:link href="http://www.konsultasisyariah.com/category/manajemen-qolbu/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.konsultasisyariah.com</link>
	<description>KonsultasiSyariah.com</description>
	<lastBuildDate>Thu, 23 May 2013 02:17:31 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Hukum Berdoa di Sosial Media</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/hukum-berdoa-di-sosial-media/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/hukum-berdoa-di-sosial-media/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 May 2013 02:07:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen Qolbu]]></category>
		<category><![CDATA[berdoa]]></category>
		<category><![CDATA[doa harian]]></category>
		<category><![CDATA[situs doa]]></category>
		<category><![CDATA[sosial media]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=18106</guid>
		<description><![CDATA[Berdoa di Sosial Media Pertanyaan: Assalamu&#8217;alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.. Langsung saja ustad, ana mau tanya mengenai hukum berdoa di media sosial (facebook, twitter, status BBM, display picture BBM, photo di facebook/twitter dan semisalnya) contoh ketika turun hujan, atau ketika masalah-masalah menimpa, ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Berdoa di Sosial Media</p>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Assalamu&#8217;alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..</em></p>
<p><em>Langsung saja ustad, ana mau tanya mengenai <a title="hukum berdoa di sosial media" href="http://konsultasisyariah.com/hukum-berdoa-di-sosial-media" target="_blank" rel="nofollow">hukum berdoa di media sosia</a>l (facebook, twitter, status BBM, display picture BBM, photo di facebook/twitter dan semisalnya) contoh ketika turun hujan, atau ketika masalah-masalah menimpa, atau bahkan bersyukur ketika mendapat suatu anugrah dan lain sebagainya. apakah ada batasan misal untuk pembelajaran diperbolehkan? atau batasan lainnya? karena ana melihat beberapa syaikh-syaikh (meskipun tidak serta merta menjadi pembenaran) yang berdoa di status twitter dsb. </em><br />
<span id="more-18106"></span><br />
<em>Mohon jawabannya ustad. baarakallahu fiikum.</em></p>
<p>Dari: Abu Hanin</p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa alaikumus salam Warahmatullahi Wabarakatuh..</em></p>
<p>Secara umum tidak masalah <a title="berdoa di sosial media" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow"><strong>berdoa di sosial media</strong></a> atau di tempat umum atau berdoa dengan suara yang di dengar orang lain. Dalil masalah ini cukup banyak, diantaranya doa yang dibaca Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, ketika khutbah jumat karena permintaan orang badui agar beliau memohon kepada Allah untuk segera menurunkan hujan. Termasuk doa-doa yang dibaca oleh khatib ketika khutbah jumat. Dan kita tahu, doa itu dibaca di tempat umum, di hadapan banyak masyarakat.</p>
<p>Hanya saja, untuk beberapa kasus tertentu terkait doa di sosial media, ada beberapa catatan yang perlu diperhatikan,</p>
<p><strong>Pertama,</strong> membuat status berisi doa di sosmed dalam rangka mengajarkan doa yang shahih kepada orang lain. Misalnya memposting doa yang benar ketika hendak tidur, atau bangun tidur atau dzikir pagi – petang, atau doa selama hujan, dst.</p>
<p><em>InsyaaAllah</em> kegiatan semacam ini termasuk amal sholeh. Mendakwahkan kebaikan kepada rekan-rekan di sosial media untuk melakukan amalan sunah. Karena itu, perlu kita pastikan, doa yang anda sebarkan, telah terjamin keshahihannya.</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menjanjikan bahwa orang yang memotivasi orang lain untuk berbuat baik, dia akan mendapatkan pahala seperti orang yang mengikuti ajakannya. Dalam hadis dari Abu Mas’ud Al-Anshari <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ</p>
<p><em>Siapa yang menunjukkan kebaikan, dia akan mendapatkan pahala seperti pahala pelakunya (orang yang mengikutinya).</em> (HR. Muslim 1893).</p>
<p>Alhamdulillah, kami memiliki fanpage tentang ini, dan bisa anda ikuti di: <a title="Doa Dzikir Shahih Harian" href="http://www.facebook.com/doa.dzikir.shahih.harian" target="_blank" rel="nofollow">http://www.facebook.com/doa.dzikir.shahih.harian</a></p>
<p><strong>Kedua,</strong> doa yang sifatnya pribadi</p>
<p><strong>Doa</strong> yang tidak selayaknya didengar orang lain, yang merupakan bagian dari privasi seseorang, tidak selayaknya disebarkan di sosmed. Seperti doa yang isinya penyesalan atas perbuatan maksiat dengan menyebutkan bentuk maksiat yang dilakukan. Atau doa yang isinya keluhan masalah pribadi, yang tidak selayaknya diketahui orang lain.</p>
<p>Karena kita diajarkan untuk selalu menjaga kehormatan, dan tidak membeberkan aib pribadi.</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menasehatkan,</p>
<p class="arab">كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا المُجَاهِرِينَ، وَإِنَّ مِنَ المُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلًا، ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ، فَيَقُولَ: يَا فُلاَنُ، عَمِلْتُ البَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ، وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ</p>
<p><em>Setiap umatku dimaafkan (kesalahannya) kecuali orang-orang melakukan mujaharah (terang-terangan bermaksiat), dan termasuk sikap mujaharah adalah seseorang melakukan sebuah perbuatan dosa di malam hari, kemudian pagi harinya dia membuka rahasianya dan mengatakan, ‘Wahai fulan, tadi malam aku melakukan seperti ini, seperti ini’, padahal Allah telah menutupi dosanya. Di malam hari, Allah tutupi dosanya, namun di pagi hari, dia singkap tabir Allah pada dirinya.</em> (HR. Bukhari 6069).</p>
<p>Syariat juga mengajarkan agar kita tidak menjadi hamba yang mudah mengeluh kepada orang lain. karena sikap semacam ini menunjukkan kurangnya tawakkal. Allah mencontohkan sikap para nabi, yang mereka hanya mengeluhkan masalahnya kepada Allah. Nabi Ya’kub, ketika mendapatkan ujian kesedian yang mendalam, beliau mengatakan,</p>
<p class="arab">قَالَ إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ</p>
<p><em>“Ya&#8217;qub menjawab: &#8220;Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku..”</em> (QS. Yusuf: 86)</p>
<p><em>Allahu a’lam</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a title="konsultasi agama islam dan kesehatan" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a>)</strong></p>
<blockquote><p>Artikel ini didukung oleh:</p>
<ul>
<li>Zahir Accounting. <a title="Software Akuntansi Terbaik di Indonesia" href="http://zahiraccounting.com/id/" target="_blank" rel="nofollow"><strong>Software Akuntansi Terbaik di Indonesia</strong></a>.</li>
<li>Ahliherbal.com. <strong><a href="http://ahliherbal.com" target="_blank" rel="nofollow">Agen Herbal Grosir dan Eceran</a></strong>.</li>
</ul>
<p>Anda juga dapat menjadi sponsor di video dan website dakwah di Yufid.com Network, silakan hubungi: marketing@yufid.org untuk menjadi sponsor.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/hukum-berdoa-di-sosial-media/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Serba Serbi Wasiat dalam Islam</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/serba-serbi-wasiat-dalam-islam/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/serba-serbi-wasiat-dalam-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 May 2013 06:33:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aris</dc:creator>
				<category><![CDATA[AKHLAK]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen Qolbu]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[macam-macam wasiat]]></category>
		<category><![CDATA[nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[wasiat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=17822</guid>
		<description><![CDATA[Setiap muslim sudah seharusnya memahami apa itu wasiat. Salah memahami wasiat, bisa berdampak fatal. Salah berwasiat, bisa bernilai kedzaliman. Sebagai muslim yang baik, bagian ini wajib kita pahami, karena kita pasti akan mati. * Ditulis oleh: Ustad Aris Munandar, M.P.I. ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Setiap muslim sudah seharusnya memahami <strong>apa itu wasia</strong>t. Salah memahami <a title="wasiat" href="http://konsultasisyariah.com/serba-serbi-wasiat-dalam-islam" target="_blank" rel="nofollow"><strong>wasiat</strong></a>, bisa berdampak fatal. Salah berwasiat, bisa bernilai kedzaliman. Sebagai muslim yang baik, bagian ini wajib kita pahami, karena kita pasti akan mati.<br />
<span id="more-17822"></span><br />
<strong>* Ditulis oleh: Ustad Aris Munandar, M.P.I.</strong></p>
<p>Beberapa hari yang lewat saya bincang bincang dengan seorang yang berasal dari keluarga poligami. Artinya ayahnya memiliki dua orang isteri dan dia anak dari ibu kedua. Dari ibu pertama sang ayah mendapatkan sembilan anak, sedangkan dari ibu kedua dia mendapatkan lima orang anak. Sebelum sang ayah meninggal dunia dia menuliskan wasiat berisi tata cara pembagian waris dari harta sang ayah. Anak anak dari ibu kedua diberi warisan berupa dua lokasi sedangkan anak anak dari ibu pertama diberi warisan dari satu lokasi yang nilainya jauh lebih besar dibandingkan nilai dua lokasi di atas.</p>
<p>Inilah contoh kasus wasiat yang tidak dibenarkan oleh syariat. Mengapa <a title="wasiat" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">wasiat</a> di atas tergolong wasiat yang terlarang? Jawabannya bisa disimak di bawah ini.</p>
<h2><strong>Pengertian Wasiat</strong></h2>
<p>Kata Wasiat termasuk kosa kata bahasa arab yang sudah menjadi bahasa Indonesia. Dalam bahasa aslinya, bahasa arab wasiat itu bermakna perintah yang ditekankan.</p>
<p>Wasiat dalam makna yang luas adalah nasihat yang diberikan kepada seorang yang dekat di hati semisal anak, saudara maupun teman dekat untuk melaksanakan suatu hal yang baik atau menjauhi suatu hal yang buruk. Wasiat dengan pengertian memberikan pesan yang penting ketika hendak berpisah dengan penerima pesan ini, biasanya diberikan saat merasa kematian sudah dekat, hendak bepergian jauh atau berpisah karena sebab lainnya.</p>
<p>Sedangkan wasiat yang kita bahas kali ini adalah khusus terkait pesan yang disampaikan oleh orang yang hendak meninggal dunia.<br />
Wasiat jenis ini bisa bagi menjadi dua kategori:</p>
<p><strong>Pertama,</strong> wasiat kepada orang yang hendak untuk melakukan suatu hal, semisal membayarkan utang, memulangkan pinjaman dan titipan, merawat anak yang ditinggalkan, dst.</p>
<p><strong>Kedua,</strong> wasiatkan dalam bentuk harta, agar diberikan kepada pihak tertentu dan pemberian ini dilakukan setelah pemberi wasiat meninggal dunia.</p>
<h3><strong>Hukum Wasiat</strong></h3>
<p>Hukum wasiat tergantung pada kondisi orang yang menyampaikan wasiat. Berikut rinciannya:</p>
<ol>
<li>Menyampaikan wasiat hukumnya wajib untuk orang yang punya utang atau menyimpan barang titipan atau menanggung hak orang lain, yang dikhawatirkan manakala seorang itu tidak berwasiat maka hak tersebut tidak ditunaikan kepada yang bersangkutan.</li>
<li>Berwasiat hukumnya dianjurkan untuk orang yang memiliki harta berlimpah dan ahli warisnya berkecukupan. Dia dianjurkan untuk wasiat agar menyedekahkan sebagian hartanya, baik sepertiga dari total harta atau kurang dari itu, kepada kerabat yang tidak mendapatkan warisan atau untuk berbagai kegiatan sosial.</li>
<li>Berwasiat dengan harta hukumnya makruh jika harta milik seorang itu sedikit dan ahli warisnya tergolong orang yang hartanya pas-pasan. oleh karena itu banyak sahabat radhiyallahu &#8216;anhum, yang meninggal dunia dalam keadaan tidak berwasiat dengan hartanya.</li>
</ol>
<p>Dari Abu Hurairah, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya Allah itu bersedekah kepada kalian dengan sepertiga harta kalian ketika kalian hendak meninggal dunia sebagai tambahan kebaikan bagi kalian.”</em> (HR. Ibnu Majah, dan dihasankan Al-Albani).</p>
<p>Dari Ibnu Umar, Rasulullah bersabda, <em>“Wahai manusia ada dua hal yang keduanya bukanlah hasil jerih payahmu. Pertama, kutetapkan sebagian hartamu untukmu ketika engkau hendak meninggal dunia untuk membersihkan dan mensucikanmu. Kedua, doa hamba hambaku setelah engkau meninggal dunia.”</em> (HR. Ibnu Majah, dhaif).</p>
<p>Demikian pula hadits yang yang mengisahkan Nabi mengizinkan Saad bin Abi Waqash untuk wasiat sedekah sebesar sepertiga total kekayaannya [HR Bukhari dan Muslim].</p>
<h3><strong>Syarat Sah Wasiat</strong></h3>
<p><strong>Pertama,</strong> terkait wasiat dalam bentuk meminta orang lain untuk mengurusi suatu hal semisal membayarkan utang, merawat anak yang ditinggalkan maka disyaratkan bahwa orang yang diberi wasiat tersebut adalah seorang muslim dan berakal. Karena jika tidak, dikhawatirkan amanah dalam wasiat tidak bisa terlaksana dengan baik.</p>
<p><strong>Kedua,</strong> orang yang berwasiat adalah orang yang berakal sehat dan memiliki harta yang akan diwasiatkan.</p>
<p><strong>Ketiga,</strong> isi wasiat yang disampaikan hukumnya mubah. Tidak sah wasiat dalam hal yang haram, semisal wasiat agar diratapi setelah meninggal dunia atau berwasiat agar sebagian hartanya diberikan kepada gereja atau untuk membiayai acara bid’ah, acara hura hura atau acara maksiat lainnya.</p>
<p><strong>Keempat,</strong> orang yang diberi wasiat, bersedia menerima wasiat. Jika dia menolak maka wasiat batal dan setelah penolakan orang tersebut tidak berhak atas apa yang diwasiatkan.</p>
<h3><strong>Diantara Ketentuan Wasiat</strong></h3>
<p><strong>Pertama</strong>, orang yang berwasiat boleh meralat atau mengubah ubah isi wasiat. Berdasarkan perkataan Umar, “Seseorang boleh mengubah isi wasiat sebagaimana yang dia inginkan.” (Diriwayatkan oleh Baihaqi).</p>
<p><strong>Kedua,</strong> tidak boleh wasiat harta melebihi sepertiga dari total kekayaan. Mengingat sabda Nabi kepada Saad bin Abi Waqash yang melarangnya untuk berwasiat dengan dua pertiga atau setengah dari total kekayaannya. Ketika Saad bertanya kepada Nabi, bagaimana kalau sepertiga maka jawaban Nabi, “Sepertiga, namun sepertiga itu sudah terhitung banyak. Jika kau tinggalkan ahli warismu dalam kondisi berkecukupan itu lebih baik dari pada kau tinggalkan mereka dalam kondisi miskin lantas mereka mengemis ngemis kepada banyak orang.” (HR. Bukhari dan Muslim).</p>
<p><strong>Ketiga,</strong> Dianjurkan agar kurang dari sepertiga, sebagaimana keterangan Ibnu Abbas, “Andai manusia mau menurunkan kadar harta yang diwasiatkan dari sepertiga menjadi seperempat mengingat sabda Nabi ‘sepertiga akan tetapi sepertiga itu banyak’.” (HR. Bukhari dan Muslim).</p>
<p><strong>Keempat,</strong> yang terbaik adalah mencukupkan diri dengan berwasiat seperlima dari total kekayaannya, mengingat perkataan Abu Bakar, “Aku ridho dengan dengan apa yang Allah ridhoi untuk dirinya” yaitu seperlima.&#8221; (Syarh Riyadhus Shalihin oleh Ibnu Utsaimin, 1/44).</p>
<p><strong>Kelima,</strong> Larangan untuk berwasiat dengan lebih dari sepertiga itu hanya berlaku orang yang memiliki ahli waris. Sedangkan orang yang sama sekali tidak memiliki ahli waris dia diperbolehkan untuk berwasiat dengan seluruh hartanya.</p>
<p><strong>Keenam,</strong> Wasiat dengan lebih dari sepertiga boleh dilaksanakan manakala seluruh ahli waris menyetujuinya dan tidak mempermasalahkannya.</p>
<p><strong>Ketujuh,</strong> tidak diperbolehkan [baca: haram] dan tidak sah, wasiat harta yang diberikan kepada ahli waris yang mendapatkan warisan meski dengan nominal yang kecil, kecuali jika seluruh ahli waris sepakat membolehkannya, setelah pemberi wasiat meninggal. Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya Allah itu telah memberikan kepada semua yang memiliki hak apa yang menjadi haknya. Oleh karena itu tidak ada wasiat harta bagi orang yang mendapatkan warisan.</em>” (HR Abu Daud, dinilai shahih oleh al Albani).</p>
<p><strong>Kedelapan,</strong> Jika wasiat harta untuk orang yang mendapatkan warisan itu ternyata hanya disetujui oleh sebagian ahli waris karena sebagian yang lain menyatakan ketidaksetujuannya maka isi wasiat dalam kondisi ini hanya bisa dilaksanakan pada bagian yang menyetujui isi wasiat namun tidak bisa diberlakukan pada bagian warisan yang tidak menyetujuinya.</p>
<h3><strong>Penutup</strong></h3>
<p>Pada kasus wasiat di bagian prolog tulisan, wasiat tersebut termasuk wasiat terlarang, karena wasiat tersebut menyebabkan aturan Islam dalam pembagian harta warisan tidak bisa dilaksanakan. Dalam aturan Islam semua anak baik dari ibu pertama maupun dari ibu yang kedua memiliki hak yang sama atas harta peninggalan ayahnya. Sehingga seharusnya seluruh harta milik ayah diinventaris dengan baik kemudian dibagikan kepada seluruh anak yang ada, baik dari ibu pertama maupun ibu kedua. Kemudian dibagi dengan aturan Islam yaitu anak laki laki mendapatkan dua kali lipat bagian anak perempuan. Allahu a&#8217;lam.</p>
<p><strong>Artikel <a title="konsultasi kesehatan dan pendidikan agama islam" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<blockquote><p>Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting. <a title="Software Akuntansi Terbaik di Indonesia" href="http://zahiraccounting.com/id/" target="_blank" rel="nofollow"><strong>Software Akuntansi Terbaik di Indonesia</strong></a>.</p>
<p>Anda juga dapat menjadi sponsor di video dan website dakwah di <a title="Yufid.com Network" href="http://yufid.com/" target="_blank" rel="nofollow">Yufid.com Network</a>, silakan hubungi: <em>marketing@yufid.org</em> untuk menjadi sponsor.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/serba-serbi-wasiat-dalam-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rajin Ibadah Demi UN (Ujian Nasional)</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/rajin-ibadah-demi-un-ujian-nasional/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/rajin-ibadah-demi-un-ujian-nasional/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 May 2013 02:06:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Konsultasi Syariah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen Qolbu]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[apakah hukum mencontek dalam ujian di bulan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[doa lulus ujian]]></category>
		<category><![CDATA[mencontek]]></category>
		<category><![CDATA[ritual UN]]></category>
		<category><![CDATA[ujian nasional]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=17772</guid>
		<description><![CDATA[Rajin Ibadah hanya Untuk Mengejar Dunia Pertanyaan: Bolehkah beribadah dengan mengharap balasan di dunia? Misalnya: Solat Tahajud pada malam ujian nasional dalam rangka supaya diberikan kelulusan saat pengumumman ujian. Bersedekah 10 ribu rupiah dan berharap di balas oleh Allah di ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Rajin Ibadah hanya Untuk Mengejar Dunia</strong></h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Bolehkah beribadah dengan mengharap balasan di dunia? Misalnya:</em></p>
<ol>
<li><em>Solat Tahajud pada malam ujian nasional dalam rangka supaya diberikan kelulusan saat pengumumman ujian.</em></li>
<li><em>Bersedekah 10 ribu rupiah dan berharap di balas oleh Allah di dunia sebesar 100 ribu rupiah.</em></li>
</ol>
<p><em>Apakah bisa dikaitkan dengan kisah 3 orang yang terjebak dalam gua, kemudian Allah membantu mereka keluar dari gua, atas amalan yang mereka kerjakan sebelumnya?</em><br />
<span id="more-17772"></span><br />
Dari: Fajar Hari Prabowo</p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Salah satu fenomena yang sering kita jumpai ketika musim UN, beberapa siswa spontan menjadi sosok yang rajin puasa sunah dan tahajud demi meraih kesuksesan ketika UN. Jika kebiasaan ini selanjutnya dirutinkan dan dikerjakan secara istiqamah, mungkin tidak menjadi tidak masalah. Namun sayangnya, umumnya yang terjadi, kebiasaan ini tiba-tiba luntur begitu UN selesai. Ada apakah gerangan dengan puasa &amp; tahajudnya? Apakah mereka rajin puasa &amp; tahajud hanya <a title="demi UN" href="http://konsultasisyariah.com/rajin-ibadah-demi-un-ujian-nasional" target="_blank" rel="nofollow">demi UN</a>? Bagaimana nasib amal yang mereka kerjakan?</p>
<p>Berikut cuplikan artikel sangat indah, yang akan mengupas hal ini. Artikel ini kami ambil dari situs <a title="http://manisnyaiman.com" href="http://manisnyaiman.com" target="_blank" rel="nofollow">http://manisnyaiman.com</a>, oleh Ustadz Abdullah Taslim, MA.</p>
<p>Berbicara tentang niat yang ikhlas berarti membahas suatu amalan hati yang paling berat untuk dilakukan seorang manusia, karena besarnya dominasi ambisi nafsu manusia yang sangat bertentangan dengan keikhlasan dalam niat, kecuali bagi orang-orang beriman yang diberi kemudahan oleh Allah dalam semua kebaikan.</p>
<p>Imam Sahl bin Abdullah at-Tustari berkata: “Tidak ada sesuatupun yang paling berat bagi nafsu manusia melebihi keikhlasan karena pada keikhlasan tidak ada bagian untuk nafsu.” (<em>Jaami’ul ‘uluumi wal hikam</em>, hlm. 17)</p>
<p>Semakna dengan ucapan di atas, Imam Sufyan bin Sa’id ats-Tsauri berkata: “Tidaklah aku berusaha memperbaiki sesuatu (dalam diriku) yang lebih sulit bagiku daripada (memperbaiki) niatku (supaya ikhlas).” (<em>Hilyatu Thaalibil ‘ilmi,</em> hlm. 11)</p>
<p>Imam Ibnul Qayyim menggambarkan hal ini dalam ucapan beliau: “Adapun kesyirikan (penyimpangan) dalam niat dan keinginan (manusia) maka itu (ibaratnya seperti) lautan (luas) yang tidak bertepi dan sangat sedikit orang yang selamat dari penyimpangan tersebut. Maka barangsiapa yang menginginkan dengan amal kebaikannya selain wajah Allah, meniatkan sesuatu selain untuk mendekatkan diri kepada-Nya, atau selain mencari pahala dari-Nya maka sungguh dia telah berbuat syirik dalam niat dan keinginannya. Ikhlas adalah dengan seorang hamba mengikhlaskan untuk Allah (semata) semua ucapan, perbuatan, keinginan dan niatnya.” (<em>Al-Jawaabul Kaafi</em>, hlm. 94).</p>
<h3>Keinginan/niat duniawi pada amal kebaikan</h3>
<p>Termasuk penyimpangan niat yang banyak menimpa manusia dan menodai kesucian ibadah mereka, selain perbuatan riya’, adalah terselipnya niat dan keinginan duniawi pada amal ibadah yang dikerjakan manusia. Penyimpangan ini penting untuk diketahui, karena sering menimpa seorang yang berbuat amak kebaikan tapi dia tidak menyadari terselipnya niat tersebut, padahal ini termasuk bentuk kesyirikan yang bisa menodai bahkan merusak amal kebaikan seorang hamba.</p>
<p>Allah berfirman:</p>
<p class="arab">مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لا يُبْخَسُونَ. أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الآخِرَةِ إِلا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ</p>
<p><em>“Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan amal perbuatan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Merekalah orang-orang yang di akhirat (kelak) tidak akan memperoleh (balasan) kecuali neraka dan lenyaplah apa (amal kebaikan) yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka lakukan”</em> (QS Huud: 15-16).</p>
<p>Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa amal shaleh yang dilakukan dengan niat duniawi adalah termasuk perbuatan syirik yang bisa merusak kesempurnaan tauhid yang semestinya dijaga dan perbuatan ini bisa menggugurkan amal kebaikan. Bahkan perbuatan ini lebih buruk dari perbuatan riya’ (memperlihatkan amal shaleh untuk mendapatkan pujian dan sanjungan), karena seorang yang menginginkan dunia dengan amal shaleh yang dilakukannya, terkadang keinginannya itu menguasai niatnya dalam meyoritas amal shaleh yang dilakukannya. Ini berbeda dengan perbuatan riya’, karena riya’ biasanya hanya terjadi pada amal tertentu dan bukan pada mayoritas amal, itupun tidak terus-menerus. Meskipun demikian, orang yang yang beriman tentu harus mewaspadai semua keburukan tersebut. (<em>Fathul Majiid</em>, hlm. 451)</p>
<p>Oleh karena itu, Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab dalam kitab at-Tauhid mencantumkan sebuah bab khusus tentang masalah penting ini, yaitu bab: Termasuk (perbuatan) syirik adalah jika seseorang menginginkan dunia dengan amal (shaleh yang dilakukan)nya. (<em>Fathul Majiid</em>, hlm. 451)</p>
<p>Syaikh Shaleh bin ‘Abdil ‘Aziz Alu asy-Syaikh berkata: “Termasuk syirik kecil adalah seorang yang menginginkan (balasan di) dunia dengan amal-amal ketaatan (yang dilakukan)nya dan tidak menghendaki (balasan di) akhirat…Orang-orang yang menginginkan kehidupan dunia secara asal, menjadi tujuan (utama) dan (sumber) penggerak (diri mereka) adalah orang-orang kafir. Oleh karena itu, ayat ini (firman Allah di atas) turun berkenaan dengan orang-orang kafir. Akan tetapi, lafazh ayat ini mencakup semua orang (kafir maupun mukmin) yang menginginkan kehidupan (balasan) duniawi dengan amal shaleh (yang dilakukan)nya.” (<em>at-Tamhiid lisyarhi kitaabit tauhiid</em>, hlm. 404-405)</p>
<h3>Makna dan Perbedaannya dengan riya’</h3>
<p>‘Abdullah bin ‘Abbas berkata tentang makna ayat di atas: “Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia”, artinya balasan duniawi, “dan perhiasannya”, artinya harta. “Niscaya kami berikan kepada mereka balasan amal perbuatan mereka di dunia dengan sempurna”, artinya: Kami akan sempurnakan bagi mereka balasan amal perbuatan mereka (di dunia) berupa kesehatan dan kegembiraan dengan harta, keluarga dan keturunan. (<em>Fathul Majiid</em>, hlm. 451).</p>
<p>Semakna dengan ucapan di atas, Imam Qatadah bin Di’amah al-Bashri berkata: “Barangsiapa yang menjadikan dunia (sebagai) target (utama), niat dan ambisinya, maka Allah akan membalas kebaikan-kebaikannya (dengan balasan) di dunia, kemudian di akhirat (kelak) dia tidak memiliki kebaikan untuk diberikan balasan. Adapun orang yang beriman, maka kebaikan-kebaikannya akan mendapat balasan di dunia dan memperoleh pahala di akhirat (kelak)” (<em>Tafsir At-Thabari</em>, 15/264).</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shaleh al-‘Utsaimin mengisyaratkan makna lain dari perbuatan ini, yaitu seorang yang mengamalkan ketaatan kepada Allah bukan karena riya’ atau pujian, niatnya ikhlas kerena Allah , akan tetapi dia menginginkan suatu balasan duniawi, misalnya harta, kedudukan duniawi, kesehatan pada dirinya, keluarganya atau keturunannya, dan yang semacamnya. Maka dengan amal kebaikannya dia menginginkan manfaat duniawi dan melalaikan/melupakan balasan akhirat. (<em>al-Qaulul mufiid ‘ala kitaabit tauhiid</em>, 2/242)</p>
<p>Adapun perbedaan antara perbuatan ini dengan perbuatan riya’, maka perbuatan ini lebih luas dan lebih umum dibanding perbuatan riya’, bahkan riya’ adalah salah satu bentuk keinginan duniawi dalam beramal shaleh. (<em>at-Tamhiid lisyarhi kitaabit tauhiid</em>, hlm. 404)</p>
<p>Perbuatan riya’ bertujuan untuk mendapatkan pujian dan sanjungan dengan amal shaleh, sedangkan perbuatan ini tidak bertujuan untuk mendapat pujian, tapi ingin mendapatkan balasan duniawi dengan amal shaleh, seperti harta, kedudukan, kesehatan fisik dan lain-lain. (<em>Taisiirul ‘Aziizil Hamiid</em>, hlm. 473 dan Fathul Majiid, hlm. 451).</p>
<p>Dalil-dalil yang Menunjukkan Tercela dan Buruknya Perbuatan Ini</p>
<p>Allah berfirman:</p>
<p class="arab">{مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لا يُبْخَسُونَ. أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الآخِرَةِ إِلا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ}</p>
<p><em>“Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan amal perbuatan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Merekalah orang-orang yang di akhirat (kelak) tidak akan memperoleh (balasan) kecuali neraka dan lenyaplah apa (amal kebaikan) yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka lakukan.”</em> (QS Huud: 15-16).</p>
<p>Ayat yang mulia ini dibatasi kemutlakannya dengan firman Allah dalam ayat lain:</p>
<p class="arab">{مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلاهَا مَذْمُومًا مَدْحُورًا}</p>
<p><em>“Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa (balasan dunia) yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami inginkan, kemudian Kami jadikan baginya neraka Jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.”</em> (QS al-Israa’: 18).</p>
<p>Maka kesimpulan makna kedua ayat ini adalah: orang yang menginginkan balasan duniawi dengan amal shaleh yang dilakukannya, maka Allah akan memberikan balasan duniawi yang diinginkannya jika Allah menghendaki, dan terkadang dia tidak mendapatkan balasan duniawi yang diinginkannya karena Allah tidak menghendakinya. (Simak Fathul Majiid, hlm. 452).</p>
<p>Oleh sebab itu, semakin jelaslah keburukan dan kehinaan perbuatan ini di dunia dan akhirat, karena keinginan orang yang melakukannya untuk mendapat balasan duniawi terkadang terpenuhi dan terkadang tidak terpenuhi, semua tergantung dari kehendak Allah . Inilah balasan bagi mereka di dunia, dan di akhirat kelak mereka tidak mendapatkan balasan kebaikan sedikitpun, bahkan mereka akan mendapatkan azab neraka Jahannam dalam keadaan hina dan tercela.</p>
<p>Benarlah Rasulullah yang bersabda: “<em>Barangsiapa yang (menjadikan) dunia tujuannya maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan/tidak pernah merasa cukup (selalu ada) di hadapannya, padahal dia tidak akan mendapatkan (harta benda) duniawi melebihi dari apa yang Allah tetapkan baginya. Dan barangsiapa yang (menjadikan) akhirat niatnya maka Allah akan menghimpunkan urusannya, menjadikan kekayaan/selalu merasa cukup (ada) dalam hatinya, dan (harta benda) duniawi datang kepadanya dalam keadaan rendah (tidak bernilai di hadapannya).”</em> (HR Ibnu Majah 4105, Ahmad (5/183), dan dishahihkan Ibnu Hibban, al-Bushiri dan al-Albani).</p>
<p>Dalam hadits shahih lainnya, Rasulullah bersabda tentang buruknya perbuatan ini: <em>“Binasalah (orang yang menjadi) budak (harta berupa) emas, celakalah (orang yang menjadi) budak (harta berupa) perak, binasalah budak (harta berupa) pakaian indah, kalau dia mendapatkan harta tersebut maka dia akan ridha (senang), tapi kalau dia tidak mendapatkannya maka dia akan murka. Celakalah dia tersungkur wajahnya (merugi serta gagal usahanya), dan jika dia tertusuk duri (bencana akibat perbuatannya) maka dia tidak akan lepas darinya”.</em> (HR. al-Bukhari, 2730)</p>
<p>Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keburukan dan kehinaan perbuatan ini, karena orang yang melakukannya berarti dia menjadikan dirinya sebagai budak harta, karena harta menjadi puncak kecintaan dan keinginannya dalam setiap perbuatannya, sehingga kalau dia mendapatkannya maka dia akan ridha (senang), tapi kalau tidak maka dia akan murka.</p>
<p>Kemudian Rasulullah menggabarkan keadaannya yang buruk bahwa orang tersebut jika ditimpa keburukan atau bencana akibat perbuatannya maka dia tidak bisa terlepas darinya dan dia tidak akan beruntung selamanya. Maka dengan perbuatan buruk ini dia tidak mendapatkan keinginannya dan dia pun tidak bisa lepas dari keburukan yang menimpanya. Inilah keadaan orang yang menjadi budak harta. <em>Na’uudzu billahi min dzaalik.</em></p>
<h3>Beberapa Bentuk dan Contoh Keinginan Duniawi Pada Amal Kebaikan</h3>
<p>Syaikh ‘Abdur Rahman bin Hasan Alu asy-Syaikh rahimahullah menukil keterangan Imam Muhammad bin ‘Abdul Wahhab rahimahullah tentang bentuk-bentuk amal shaleh yang dikerjakan dengan keinginan untuk mendapatkan balasan duniawi, sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Amal shaleh yang dikerjakan oleh banyak orang dengan mengharapkan wajah Allah (ikhlas), berupa sedekah, shalat, (menyambung) silaturahim, berbuat baik kepada orang lain, tidak menzhalimi orang lain, dan lain-lain, yang dilakukan atau ditinggalkan seseorang ikhlas karena Allah, akan tetapi dia tidak menginginkan pahala di akhirat, dia hanya menginginkan balasan (duniawi) dari Allah, dengan (Allah ) menjaga hartanya dan mengembangkannya, atau memelihara istri dan anggota keluarganya, atau melanggengkan limpahan nikmat/kekayaan bagi keluarganya. Tidak ada niatnya untuk meraih Surga dan menyelamatkan diri dari (siksa) Neraka. Maka orang seperti ini akan diberikan balasan amal perbuatannya di dunia dan tidak ada bagian (balasan kebaikan) untuknya di akhirat (kelak). Bentuk inilah yang disebutkan oleh (Shahabat yang mulia) Ibnu ‘Abbas .</li>
<li>Ini lebih besar dan lebih menakutkan dari bentuk yang pertama, dan inilah yang disebutkan oleh Imam Mujahid tentang (makna) ayat di atas dan sebab turunnya, yaitu seorang yang mengerjakan amal shaleh dengan niat untuk riya’ (memamerkannya) kepada orang lain, bukan untuk mencari pahala akhirat.</li>
<li>Seorang yang mengerjakan amal shaleh dengan tujuan (untuk mendapatkan) harta, seperti orang yang berhaji untuk memperoleh harta, berhijrah untuk mendapatkan (balasan) duniawi atau untuk menikahi seorang wanita, atau berjihad untuk mendapatkan ganimah(harta rampasan perang). Bentuk ini juga disebutkan (oleh sebagian dari ulama salaf) ketika menafsirkan ayat ini. (Contoh lainnya) seperti seorang yang menuntut ilmu karena (keberadaan) madrasah milik keluarganya, usaha mereka, atau kedudukan mereka, atau seorang yang mempelajari al-Qur-an dan kontinyu melaksanakan shalat fardhu karena tugasnya di mesjid, sebagaimana ini sering terjadi.</li>
<li>Seorang yang mengamalkan ketaatan kepada Allah dengan niat ikhlas karena Allah semata dan tidak ada sekutu bagi-Nya, akan tetapi dia pernah melakukan perbuatan kufur yang menjadikannya keluar dari agama Islam. Seperti orang-orang Yahudi dan Nashrani jika mereka beribadah kepada Allah, bersedekah, atau berpuasa dengan mengharapkan wajah Allah dan (balasan) di negeri Akhirat, juga seperti kebanyakan dari kaum muslimin yang pernah melakukan kekafiran atau kesyirikan besar yang mengeluarkan mereka dari agama Islam secara keseluruhan, meskipun mereka melakukan ketaatan kepada Allah dengan ikhlas mengharapkan ganjaran pahala dari-Nya di negeri Akhirat, akan tetapi mereka pernah melakukan perbuatan (kufur atau syirik) yang mengeluarkan mereka dari agama Islam dan ini menjadikan semua amal perbuatan mereka tidak diterima (oleh Allah ). Bentuk ini juga disebutkan dalam penafsiran ayat ini dari Anas bin Malik dan selain beliau.</li>
</ol>
<p>Lebih lanjut, Syaikh Muhammad bin Shaleh al-‘Utsaimin menyebutkan beberapa contoh keinginan duniawi dengan amal shaleh yaitu:</p>
<ul>
<li>Orang yang menginginkan harta, misalnya orang yang melakukan adzan (di masjid) untuk mendapatkan upah/gaji (sebagai muadzdzin), atau orang yang berhaji untuk mendapatkan harta.</li>
<li>Orang yang menginginkan kedudukan, misalnya orang yang belajar untuk mendapatkan ijazah sehingga kedudukannya semakin tinggi.</li>
<li>Orang yang menginginkan hilangnya gangguan, penyakit dan keburukan dari dirinya, misalnya orang yang beribadah kepada Allah supaya Allah memberikan baginya balasan di dunia berupa kecintaan manusia kepadanya (sehingga mereka tidak menyakitinya), dihilangkan keburukan dari dirinya, dan lain-lain.</li>
<li>Orang yang beribadah kepada Allah dengan tujuan untuk memalingkan wajah manusia kepadanya (menjadikan mereka kagum kepadanya) dengan mencintai dan menghormatinya. Dan masih banyak contoh-contoh yang lain. (al-Qaulul mufiid ‘ala kitaabit tauhiid, 2/243).</li>
</ul>
<p>Demikianlah, semoga tulisan ini bermanfaat bagi semua yang membacanya dan menjadi sebab taufik dari Allah bagi kita untuk memurnikan tauhid dan penghambaan diri kepada-Nya serta penjagaan dari segala bentuk kesyirikan yang besar maupun kecil.</p>
<p class="arab">وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين</p>
<p>Kota Kendari, 12 Rabi’uts tsani 1434</p>
<p><strong>Ustadz Abdullah bin Taslim, MA</strong></p>
<p><strong>Sumber: www.ManisnyaIman.com</strong></p>
<p><strong>Artikel <a title="konsultasi kesehatan dan pendidikan agama islam" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<blockquote><p>Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting. <a title="Software Akuntansi Terbaik di Indonesia" href="http://zahiraccounting.com/id/" target="_blank" rel="nofollow"><strong>Software Akuntansi Terbaik di Indonesia</strong></a>.</p>
<p>Anda juga dapat menjadi sponsor di video dan website dakwah di <a title="Yufid.com Network" href="http://yufid.com/" target="_blank" rel="nofollow">Yufid.com Network</a>, silakan hubungi: <em>marketing@yufid.org</em> untuk menjadi sponsor.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/rajin-ibadah-demi-un-ujian-nasional/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cara Mengatasi Sosial Fobia</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/cara-mengatasi-sosial-fobia/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/cara-mengatasi-sosial-fobia/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 May 2013 11:05:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dr. Hafidz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manajemen Qolbu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=15222</guid>
		<description><![CDATA[Mengatasi Sosial Fobia Pertanyaan: Saya seorang mahasiswa, 20 tahun. Saya memiliki masalah kepribadian yang cukup serius . Gejala-gejala yang saya alami sangat mirip dengan sosial fobia. Setelah cukup lama akhirnya saya yakin bahwa saya mengidap sosial fobia. Ini saya alami ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Mengatasi Sosial Fobia</strong></h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Saya seorang mahasiswa, 20 tahun. Saya memiliki masalah kepribadian yang cukup serius . Gejala-gejala yang saya alami sangat mirip dengan sosial fobia. Setelah cukup lama akhirnya saya yakin bahwa saya mengidap sosial fobia. Ini saya alami beberapa tahun belakangan ketika masa transisi ke fase remaja  yang semasa kecil tidak pernah saya alami . Dengan sosial fobia saya tidak berani berbicara atau tampil di depan umum. Intinya adalah saya tidak mampu menjadi pusat perhatian umum.</em><br />
<span id="more-15222"></span><br />
<em>Dengan kondisi zaman yang semakin tua pada akhirnya seperti sabda Nabi bahwa orang-orang yang memegang sunah akan tampak asing dan kondisi terasing. Ketika teman-teman di sekitar saya melakukan kebid`ahan saya hanya bisa diam dan menginngkari dalam hati.</em></p>
<p><em>Di luar itu masalah ini juga mengganggu aspek akademik saya. Saya merasa terlalu banyak memlilki impian tapi tak mampu berusaha mewujudkannya. Saya ingin menjadi muslim yang kuat dan mengalahkan rasa takut dan ketidakmampuan saya.</em></p>
<p><em>Demikian mohon nasihatnya</em></p>
<p>Dari: Ahmad</p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Assalaamu&#8217;alaikum warahmatullaahi wabarokaatuh.</p>
<p>Terima kasih atas pertanyaan dan kepercayaan Saudara untuk mengirimkan pertanyaan kepada kami, semoga Allah <em>Ta&#8217;ala</em> senantiasa melimpahkan keberkahan atas Saudara dan keluarga.</p>
<p>Kondisi fobia sosial (<a title="social phobia" href="http://konsultasisyariah.com/cara-mengatasi-sosial-fobia" target="_blank" rel="nofollow"><em>social phobia</em></a>) yang ditandai dengan perasaan takut dan kecemasan hebat yang berlebihan dan tidak berdasar ketika dihadapkan dengan kondisi sosial tertentu, semisal berbicara di depan umum atau tampil di depan umum lainnya, memang dapat mengganggu fungsi interaksi sosial seseorang, bahkan pada tingkat yang lebih berat, dapat menyebabkan orang tersebut menarik diri secara ekstrim dari pergaulan.</p>
<p>Dari sudut pandang psikiatrik, gangguan ini, apabila menimbulkan dampak yang signifikan pada kehidupan penderitanya, memerlukan terapi perilaku (cognitive-behaviour therapy), melalui bimbingan psikiater, untuk mengenali dan mengendalikan respon ketakutan dan kepanikan tersebut secara bertahap, meminimalisir dampaknya, dan mengatasinya kemudian. Perasaan rendah diri dan ketidakmampuan yang Saudara rasakan juga bisa saja berasal dari ketakutan Saudara akan kegagalan dalam meraihnya, dalam memenuhi harapan Saudara dan orang-orang terdekat Saudara, dan inipun merupakan bentuk dari fobia sosial.</p>
<p>Saran kami, hendaknya Saudara pertama-tama senantiasa mengadukan segala permasalahan Saudara kepada Dzat yang ubun-ubun Saudara berada di tangan-Nya, memohon pertolongan dan jalan keluar dari-Nya semata, dan bertaqwa serta bertawakkal kepada-Nya, kemudian berikhtiar dengan berkonsultasi lebih lanjut dengan psikiater yang ahli di tempat Saudara, untuk memulai terapi ini. Dan karena kondisi fobia sosial cenderung bersifat kronis, maka hendaknya Saudara bersabar untuk menjalani terapi yang mungkin akan memakan waktu lama.</p>
<p>Rasa tertekan saat merasa tidak mampu memperbaiki praktik kebid&#8217;ahan yang terjadi di sekitar kita menurut kami bukan hanya Saudara sendiri yang merasakan, dan juga bukan semata dampak dari fobia sosial yang Saudara derita. Semua orang yang telah Allah <em>Ta&#8217;ala</em> buka pintu hatinya untuk mengenali kebenaran dan mencintai sunah tentu membenci dan ingin mengingkari kebid&#8217;ahan, namun tentunya pengingkaran tersebut bertingkat-tingkat sesuai dengan ilmu dan kemampuan masing-masing orang.</p>
<p>Jika pengingkaran itu tidak tepat, malah justru mendatangkan madharat yang lebih besar bagi dakwah sunah dan orang itu sendiri, maka ini terlarang untuk dilakukan. Jika memang kemampuan Saudara belum sampai pada tahap dapat menasihati dengan bijak dengan keterangan yang berlandaskan Alquran dan sunah, maka sikap mengingkari dengan hati itupun masih tergolong keimanan.</p>
<p>Oleh karena itu, disamping terapi psikiatrik, hendaknya Saudara juga terus berusaha mempelajari ilmu syar&#8217;i dengan berkesinambungan dibawah bimbingan para ustadz yang teguh memegang manhaj yang lurus, bergaul dengan teman-teman yang baik, dan mempelajari adab-adab dan tatacara dalam berdakwah dengan baik sehingga kita harapkan, seiring dengan perbaikan kondisi fobia Saudara, Saudara juga memiliki ilmu, kesabaran, dan hikmah dalam berdakwah dan dapat menepis godaan serta was-was setan dalam <em>amar ma&#8217;ruf nahi mungkar</em> di lingkungan Saudara.</p>
<p>Semoga Allah <em>Ta&#8217;ala</em> memudahkan langkah Saudara dalam kebaikan.</p>
<p>Wassalamu&#8217;alaikum warahmatullahi wabarakatuh</p>
<p><strong>Dijawab oleh dr. Hafid N (Pengasuh Rubrik Kesehatan KonsultasiSyariah.com)</strong><br />
<strong> Artikel <a title="konsultasi kesehatan dan pendidikan agama islam" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<blockquote><p>Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting. <a title="Software Akuntansi Terbaik di Indonesia" href="http://zahiraccounting.com/id/" target="_blank" rel="nofollow"><strong>Software Akuntansi Terbaik di Indonesia</strong></a>.</p>
<p>Anda juga dapat menjadi sponsor di video dan website dakwah di <a title="Yufid.com Network" href="http://yufid.com/" target="_blank" rel="nofollow">Yufid.com Network</a>, silakan hubungi: <em>marketing@yufid.org</em> untuk menjadi sponsor.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/cara-mengatasi-sosial-fobia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Arti Sebuah Mimpi</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/arti-sebuah-mimpi/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/arti-sebuah-mimpi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 May 2013 01:38:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[AKHLAK]]></category>
		<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen Qolbu]]></category>
		<category><![CDATA[sebuah mimpi]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir mimpi]]></category>
		<category><![CDATA[umrah]]></category>
		<category><![CDATA[umroh sunah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=17516</guid>
		<description><![CDATA[Arti Mimpi Pertanyaan: Assalamu’alaikum. 2 minggu setelah saya umroh, saya bermimpi berada di masjidil haram. Saya menghadap ka&#8217;bah. Di sana ada bbrpa orang yang sedang tawaf, lalu mereka duduk manis di depan rukun yamani karena ada orang-orang pemerintahan Arab Saudi ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Arti Mimpi</strong></h2>
<p><b>Pertanyaan:</b></p>
<p><em>Assalamu’alaikum.</em></p>
<p><em>2 minggu setelah saya umroh, saya bermimpi berada di masjidil haram. Saya menghadap ka&#8217;bah. Di sana ada bbrpa orang yang sedang tawaf, lalu mereka duduk manis di depan rukun yamani karena ada orang-orang pemerintahan Arab Saudi yang datang menuju ke hajar aswad dan menuliskan tulisan Arab di bingkai perak hajar aswad. Setelah mereka pergi saya melihat jalan menuju hajar aswad kosong, lalu saya bergegas mendatangi hajar aswad dan saya menyentuhnya, berdoa di multazam, dan saya bisa memegang pintu ka&#8217;bah. Senangnya saya bisa menyentuh hajar aswad tanpa ada seorang pun yang menghalangi.</em></p>
<p><em>Seminggu setelah itu saya bermimpi lagi berada di luar Masjidil Haram bersama orang tua saya, saya mau melaksanakan tawaf tapi kami lupa ambil miqot. Akhirnya kami tidak jadi tawaf, dan saya melihat ka&#8217;bah begitu tinggi melebihi tingginya Masjidil Haram.</em></p>
<p><em>Apakah arti mimpi saya itu ya Ustadz?</em></p>
<p><em>Alhamdulillah bulan Februari 2013 kemarin saya umroh bersama keluarga besar.</em></p>
<p>Dari: Ina</p>
<p><b>Jawaban:</b></p>
<p>Wa’alaikumussalam</p>
<p><a title="mimpi" href="http://konsultasisyariah.com/arti-sebuah-mimpi" target="_blank" rel="nofollow"><strong>Mimpi</strong></a> yang terjadi pada Anda, kemungkinan besar adalah mimpi karena bawaan perasaan. Mengingat Anda baru pulang umrah sehingga kenangan ka&#8217;bah dan masjidil haram, masih sangat membekas. Model mimpi semacam ini pernah disampaikan oleh Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em></p>
<p class="arab">الرؤيا ثلاث حديث النفس وتخويف الشيطان وبشرى من الله</p>
<p>“Mimpi itu ada tiga macam: bisikan hati, ditakuti setan, dan kabar gembira dari Allah.” (HR. Bukhari 7017).</p>
<p>Makna hadis:</p>
<p>- “Bisikan hati”: terkadang seseorang memikirkan sesuatu ketika sadar. Karena terlalu serius memikirkan, sampai terbawa mimpi.</p>
<p>- “Ditakuti setan”: mimpi yang datang dari setan. Bentuknya bisa berupa mimpi basah atau mimpi yang menakutkan.</p>
<p>Dalam riwayat lain dari sahabat Auf bin Malik radhiyallahu &#8216;anhu, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p class="arab">إِنَّ الرُّؤْيَا ثَلَاثٌ: مِنْهَا أَهَاوِيلُ مِنَ الشَّيْطَانِ لِيَحْزُنَ بِهَا ابْنَ آدَمَ، وَمِنْهَا مَا يَهُمُّ بِهِ الرَّجُلُ فِي يَقَظَتِهِ، فَيَرَاهُ فِي مَنَامِهِ</p>
<p>Mimpi itu ada tiga macam: mimpi ditakut-takuti setan, agar membuat sedih bani adam, dan mimpi sesuatu yang diinginkan oleh seseorang sebelum tidur, kemudian terbawa tidur&#8230; (HR. Ibn Majah 3907 dan dinilai shahih al-Albani).</p>
<p>Oleh karena itu, kami sarankan agar kita tidak terlalu sibuk memikirkan mimpi. Karena umumnya mimpi kita adalah bawaan perasaan atau godaan setan.</p>
<p>Setan memiliki andil yang besar untuk mengendalikan mimpi manusia. Ketika ada orang yang terlalu sibuk memikirkan takwil mimpi, dia melayani setiap mimpi yang dia alami untuk dicarikan takwilnya, bisa saja dia diperalat setan dengan memberikan berbagai mimpi yang disangkanya berita dari Allah. Atau setan membuat dirinya was-was karena mimpi yang menakutkan dirinya, dst.</p>
<h3><strong>Mimpi Tidak Mengubah Takdir</strong></h3>
<p>Mimpi tidak bisa mengubah takdir, dan bukan pula indikator takdir, selain kabar gembira dari Allah. Mengingat kita tidak bisa memastikan termasuk jenis apakah mimpi yang kita alami maka kita tidak bisa menyebut bahwa mimpi itu adalah kabar gembira dari Allah.</p>
<p>Banyak kaum muslimin yang bangun tidur menjadi tidak normal gara-gara mimpi. Pikirannya terganggu gara-gara mimpinya. Dia terlalu memikirkan mimpinya, baik mimpi harapan maupun mimpi ancaman. Setidaknya semacam ini justru akan merugikan dirinya. Sehingga membuat dia tidak bisa fokus dengan pekerjaannya bahkan bisa jadi stres gara-gara mimpi.</p>
<p>Selanjutnya, perbanyak memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan. Godaan lahir maupun batin. Pembahasan tentang mimpi yang lain, juga bisa Anda simak di: <strong><a title="apa arti mimpi saya" href="http://www.konsultasisyariah.com/apa-arti-mimpi-saya/" target="_blank">Apa Arti Mimpi Saya</a>.</strong></p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)</strong><br />
<strong> Artikel <a title="konsultasi kesehatan dan pendidikan agama islam" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<blockquote><p>Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting. <a title="Software Akuntansi Terbaik di Indonesia" href="http://zahiraccounting.com/id/" target="_blank" rel="nofollow"><strong>Software Akuntansi Terbaik di Indonesia</strong></a>.</p>
<p>Anda juga dapat menjadi sponsor di video dan website dakwah di <a title="Yufid.com Network" href="http://yufid.com/" target="_blank" rel="nofollow">Yufid.com Network</a>, silakan hubungi: <em>marketing@yufid.org</em> untuk menjadi sponsor.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/arti-sebuah-mimpi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Indigo (Indera Keenam) dalam Islam</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/indigo-indera-keenam-dalam-islam/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/indigo-indera-keenam-dalam-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Apr 2013 09:20:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen Qolbu]]></category>
		<category><![CDATA[Pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[indera keenam]]></category>
		<category><![CDATA[indigo]]></category>
		<category><![CDATA[peramal]]></category>
		<category><![CDATA[stress]]></category>
		<category><![CDATA[tahu dunia aghaib]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=17555</guid>
		<description><![CDATA[Fenomena Anak Indigo Pertanyaan: Assalamu&#8217;alaikum, ustadz.. Saya mau menanyakan tentang indigo (Indera ke- enam) menurut pandangan Islam? Dari: Rini Jawaban: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du, Salah satu pertanyaan yang banyak disampaikan melalui situs Konsultasisyariah.com adalah fenomena ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Fenomena Anak Indigo</strong></h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Assalamu&#8217;alaikum, ustadz.. Saya mau menanyakan tentang indigo (Indera ke- enam) menurut pandangan Islam?</em></p>
<p>Dari: Rini<br />
<span id="more-17555"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,</em></p>
<p>Salah satu pertanyaan yang banyak disampaikan melalui situs Konsultasisyariah.com adalah <a title="fenomena anak indigo" href="http://konsultasisyariah.com/indigo-indera-keenam-dalam-islam" target="_blank" rel="nofollow"><em><strong>fenomena anak indigo</strong></em></a>. Memang diantara sifat manusia adalah curiosity, semangat untuk selalu ingin tahu. Meskipun bisa jadi dia tidak memiliki banyak kepentingan dalam hal ini. Namun apapun itu, pertanyaan semacam ini menunjukkan sengamat untuk memahami masalah sesuai koridor agama. Kami memberikan apresiasi positif untuk setiap upaya mengembalikan semua permasalahan kepada Al-Quran dan sunah.</p>
<p>Terkait fenomena anak indigo, ada beberapa catatan yang bisa kita beri garis tebal,</p>
<p><strong>Pertama, islam tidak menolak realita</strong></p>
<p>Sebelumnya, mari kita memahami peta realita berikut,</p>
<p>Realita dibagi menjadi dua:</p>
<p><strong>1.  Realita syar’i</strong>: itulah semua berita yang disampaikan dalam Al-Quran dan sunah yang sahih. Misalnya: meteor yang memancarkan cahaya di langit, sejatinya adalah panah api untuk melempar setan yang berusaha mencari berita dari langit. Sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Quran surat al-Jin ayat 9. Meskipun kita tidak pernah melihat peristiwa ini dengan kasat mata, namun mengingat hal ini Allah ceritakan dalam Al-Quran maka wajib kita yakini, karena demikianlah realita yang ada. Contoh lain: Jibril memiliki 600 sayap, sebagaimana dinyatakan dalam hadis riwayat Bukhari. Meskipun kita tidak pernah melihat wujud asli Jibril, namun mengingat hal ini disebutkan dalam hadis shahih, maka wajib kita yakini.</p>
<p><strong>2.  Realita kauni</strong> merupakan semua kejadian yang Allah ciptakan di alam ini. Misalnya, ada orang melihat kejadian aneh, kemduian dia abadikan gambarnya, lalu dia share ke yang lain. Kita tidak mungkin mengingkari kejadian ini, karena orang yang melihat langsung membawakan bukti asli sesuai yang dia saksikan.</p>
<p>Penyimpangan terhadap dua realita di atas, kita sebut berita dusta. Jika berita dusta itu terkait masalah syariat atau keyakinan, diistilahkan dengan tahayul. Misalnya: berita bahwa pada hari rabu terakhir di bulan safar, akan turun 320 ribu bencana. Berita ini masuk dalam ranah masalah ghaib. Karena indera manusia tidak pernah mendeteksi 320 ribu bencana yang turun di hari itu. Sehingga untuk membuktikan kebenaranya, kita perlu kembalikan kepada dalil, adakah ayat atau hadis shahih yang menyebutkannya. Jika tidak ada, termasuk tahayul, yang tidak boleh diyakini.</p>
<p>Anda bisa menimbang semua informasi masalah ghaib yang simpang siur di sekitar kita dengan cara di atas. Sehingga kita bisa membedakan antara keyakinan yang benar dengan tahayul semata.</p>
<p><a title="Fenomena indigo" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">Fenomena indigo</a> termasuk realita yang bisa kita saksikan. Ada anak yang berkomunikasi dengan makhluk lain, atau dia melihat makhluk lain, dan itu asli tidak dibuat-buat.</p>
<p>Sebatas kejadian yang bisa kita lihat, termasuk fenomena kauni. Kejadian yang Allah ciptakan di alam ini. Selama kejadian itu memang benar-benar ada, islam tidak melarang kita untuk membenarkannya, karena islam tidak menolak realita.</p>
<p><strong>Kedua, kemampuan dasar makhluk</strong></p>
<p>Islam tidak menolak <a title="fenomena anak indigo" href="http://konsultasisyariah.com/indigo-indera-keenam-dalam-islam" target="_blank" rel="nofollow">fenomena anak indigo</a> jika memang itu realita. Kita boleh meyakininya, selama kejadian itu memang benar-benar ada di sekitar kita. Namun realita yang boleh kita yakini dalam hal ini hanya sebatas yang bisa kita lihat. Sementara tentang hakekat anak indigo, perlu kajian yang lebih serius utnuk bisa menjelaskan dan memberi komentar.</p>
<p>Di sini kita tidak menggali hakekat dan sebab si anak menjadi indigo. Sebagian ahli medis menyebutkan, anak indigo mengidap ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder), semacam gangguan perkembangan dan keseimbangan aktivitas motorik anak sehingga menyebabkan aktivitasnya tidak lazim dan cenderung berlebihan. Ada juga yang menyebutkan, anak indigo bisa seperti itu karena memiliki kemampuan melihat jin. Dan beberapa analisis lainnya.</p>
<p>Hanya saja ada beberapa informasi tentang anak indigo yang disuasanakan berlebihan. Sebuah analisis ‘ngawur’ menyebutkan beberapa kemampuan luar biasa anak indigo,</p>
<ul>
<li>Prekognision: kemampuan memprediksi dan membuat peristiwa yang akan terjadi di masa depan.</li>
<li>Retrokognision: kemampuan melihat peristiwa di masa lampau.</li>
<li>Klervoyans: kemampuan untuk melihat kejadian yang sedang berlangsung di tempat lain.</li>
<li>Psikometri: kemampuan menggali informasi dan berkomunikasi dengan objek apapun. Dia menerjemahkan getaran dan gelobang yang dipancarkan setiap benda yang menyimpan rekaman suatu peristiwa.</li>
<li>Mediumship: kemampuan untuk menggunakan rohnya dan roh makhluk lain sebagai medium, serta bisa berkommunikasi dengan roh.</li>
<li>Telekinetik adalah kemampuan untuk menggerakkan benda dari jarak jauh.</li>
<li>Sugesti hipnosis: Anak Indigo dapat menghipnosis seseorang dengan kemampuan telepatinya.</li>
<li>Berkomunikasi dengan Tuhan: Kemampuan ini berhubungan dengan cakra mahkota pada bagian atas kepala yang merupakan pintu komunikasi antara manusia dengan Tuhan.</li>
</ul>
<p>Jika kita perhatikan kemampuan di atas, bisa disimpulkan bahwa anak indigo tak ubahnya seperti seorang Nabi. Karena satu-satunya manusia yang kita kenal memiliki kemampuan hebat seperti di atas hanya para nabi, atas bimbingan wahyu dari Tuhannya.</p>
<p>Namun sayang, banyak juga mereka yang mempercayai hal ini, terutama para budak klenik dan ramalan.</p>
<p>Kembali pada peta realita, berbagai kemampuan ‘hebat’ dalam daftar di atas, jelas bukan termasuk realita kauni. Karena kita tidak pernah menyaksikan proses anak indigo itu mengekspresikan kemampuannya. Yang kita lihat hanyalah, dia berbicara sendiri dengan tembok, pohon atau benda lainnya, atau dia menatap dengan pandangan nanar kemudian melakukan reaksi tertentu, atau dia ngomong tanpa beban kemudian menyampaikan masa depan, atau dia menceritakan halusinasi dalam pikirannya, dst. Anehnya, mereka menanggapinya terlalu serius.</p>
<p>Tidak ada yang melebihi kemampuannya</p>
<p>Anak indigo siapapun dia, tetap manusia. Dia tidak akan melampaui batas kemampuannya sebagai manusia. Semua kemampuan di atas, sejatinya tidak mungkin dimiliki manusia, selain Nabi yang mendapat wahyu dari Allah.</p>
<p>Allah berfirman,</p>
<p class="arab">قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ</p>
<p><em>“Katakanlah: &#8220;tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah..”</em></p>
<p>Di ayat lain, Allah berfirman,</p>
<p class="arab">وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ</p>
<p><em>“Katakanlah: …Sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira&#8221;.</em></p>
<p>Di ayat lain, Allah juga menegaskan,</p>
<p class="arab">عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا ( ) إِلَّا مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا</p>
<p><em>Dia adalah Tuhan yang mengetahui yang ghaib, dan Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya. Sesungguhnya Dia Mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya</em>. (QS. Al-Jin: 26 – 27)</p>
<p>Dalam  hadis dari Rubayyi’ bintu Mu’awidz <em>radhiyallahu &#8216;anha</em>, beliau menceritakan,</p>
<p class="arab">قَالَتْ جَارِيَةٌ: وَفِينَا نَبِيٌّ يَعْلَمُ مَا فِي غَدٍ. فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لاَ تَقُولِي هَكَذَا وَقُولِي مَا كُنْتِ تَقُولِينَ»</p>
<p><em>“Ada seorang anak yang mengatakan, ‘Di tengah-tengah kami ada seorang nabi yang mengetahui apa yang terjadi besok.’ Spontan Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam mengingatkan, ‘Jangan kau ucapkan hal itu, ucapkanlah syair yang tadi kalian lantunkan.’</em> (HR. Bukhari 4001).</p>
<p>Jika demikian kemampuan yang ada pada diri Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Beliau tidak mengetaui hal ghaib, tidak bisa meramalkan masa depan, kecuali yang Allah wahyukan, bagaimana mungkin kita meyakini anak indigo mampu menerawang masa depan, melihat kejadian masa silam, meraba kejadian di tempat lain dalam waktu bersamaan, menebak isi hati orang, komunikasi dengan benda mati, komunikasi dengan Tuhan, menggerakkan benda dari jauh, dst.</p>
<p>Rasulullah<em> shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pernah mendatangi Ibnu Shayyad, seorang yang dianggap bisa meramal. Beliau ngetes kemampuannya: <em>‘Tebak kata yang kusimpan dalam hatiku!’</em> Ibnu Shayyad mengatakan, <em>‘Dukh..’</em> Mendengar jawaban ini, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">اخْسَأْ، فَلَنْ تَعْدُوَ قَدْرَكَ</p>
<p><em>‘Duduklah, kamu tidak akan melebihi batas kemampuanmu.’</em> (HR. Bukhari)</p>
<p>Pendapat yang kuat, ketika itu Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menyimpan firman Allah di surat Ad-Dukhan ayat 10. (Keterangan Fuad Abdul Baqi dalam Ta’liq Shahih Bukhari).</p>
<p><strong>Ketiga, indigo dan jin</strong></p>
<p>Bagian ini perlu kita kupas ulang, karena memungkinkan untuk dilakukan pendekatan berdasarkan dalil. Beberapa laporan menyebutkan anak indigo melihat sesuatu yang tidak kita lihat.</p>
<p>Ada dua kemungkinan yang dia lihat, antara malaikat atau jin. Untuk malaikat, dipastikan tidak mungkin. Karena malaikat hanya akan melakukan tugas yang diperintahkan Allah. Sementara tidak mungkin malaikat melakukan tugas kecuali untuk sesuatu yang penting.</p>
<p>Dengan demikian, yang lebih pasti adalah jin. Anak ini melihat jin. Apa mungkin? Sangat mungkin.</p>
<p>Allah tegaskan dalam Al-Quran ketika membahasa tentang iblis:</p>
<p class="arab">إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ</p>
<p><em>“Sesungguhnya dia (iblis) dan kabilahnya (semua jin) bisa melihat kalian dari suatu tempat yang kalian tidak bisa melihat mereka.”</em> (QS. Al-A’raf: 27).</p>
<p>Inilah sifat asli jin. Dia tidak bisa dilihat oleh manusia. Akan tetapi jin bisa menjelma menjadi makhluk yang lain, sehingga bisa terindera oleh manusia. Baik dengan dilihat, didengar, atau diraba. Sebagaimana kisah Ubay bin Ka&#8217;ab <em>radhiyallahu ‘anhu</em> pada hadis berikut,</p>
<p>Suatu ketika Ubay pernah menangkap jin yang mencuri makanannya. Ubay bin Ka’ab berkata kepada Jin: “Apa yang bisa menyelamatkan kami (manusia) dari (gangguan) kalian?”. Si jin menjawab: “Ayat kursi… Barangsiapa membacanya di waktu sore, maka ia akan dijaga dari (gangguan) kami hingga pagi, dan barangsiapa membacanya di waktu pagi, maka ia akan dijaga dari (gangguan) kami hingga sore”. Lalu paginya Ubay menemui Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- untuk menuturkan hal itu, dan beliau menjawab: “Si buruk itu berkata benar”. (HR. Hakim, Ibnu Hibban, Thabarani dan lainnya, Albani mengatakan: Sanadnya Thabarani Jayyid)</p>
<p>Kejadian yang sama juga pernah dialami Abu Hurairah radhiyallahu &#8216;anhu. Beliau menangkap jin yang mencuri makanan zakat fitrah.</p>
<p>al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan, “Jin terkadang menjelma dengan berbagai bentuk sehingga memungkinkan bagi manusia untuk melihatnya. Firman Allah <em>Ta’ala</em>,<em> ‘Sesungguhnya iblis dan para pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang (di sana) kamu tidak bisa melihat mereka,’ khusus pada kondisi aslinya sebagaimana dia diciptakan.</em>” (Fathul Bari, 4:489).</p>
<p>Karena itu, jika benar anak indigo melihat jin, bukan karena dia memiliki kemampuan khusus melebihi yang lain, sehingga bisa melihat jin. Namun karena ada jin yang menampakkan diri kepadanya.</p>
<p><strong>Keempat, Kondisi tidak Normal</strong></p>
<p>Catatan tambahan yang penting untuk disebutkan. Kejadian anak indigo sejatinya adalah kondisi tidak normal. Baik karena sebab ADHD atau melihat jin. Karena normalnya manusia, dia hanya bisa berinteraksi dengan sesuatu yang bisa memberikan respon kepadanya. Jika sebabnya karena gangguan kejiwaan, bisa dilarikan ke ahli penyakit terkait, sehingga bisa dilakukan penanganan.</p>
<p>Demikian pula jika indigonya disebabkan melihat jin. Juga termasuk kondisi tidak normal. Karena dalam kondisi normal, sejatinya mansuia tidak bisa melihat jin. Ketika ada orang yang melihat jin, berarti dia tidak normal. Karena tidak normal, kasus semacam ini perlu dinormalkan (baca: diobati). Melihat jin, berarti ada jin yang usil dan mengganggunya. Dia harus usir jin ini agar segera meninggalkannya. Jika tidak, akan sangat sulit bagi si anak untuk melepaskan diri dari gangguan jin itu.</p>
<p>Terkait cara mengusir jin, bisa anda simak di artikel,</p>
<p><a title="Keluar Paku dari Tubuh dan Cara Pengobatannya" href="www.konsultasisyariah.com/keluar-paku-dari-tubuh-dan-cara-pengobatannya/" target="_blank"><strong>Keluar Paku dari Tubuh dan Cara Pengobatannya</strong></a></p>
<p><em>Allahu a’lam</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a title="konsultasi kesehatan dan tanya jawab pendidikan islam" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a>)</strong></p>
<blockquote><p>Artikel ini disponsori oleh Zahir Accounting. <a title="Software Akuntansi Terbaik di Indonesia" href="http://zahiraccounting.com/id/" target="_blank" rel="nofollow"><strong>Software Akuntansi Terbaik di Indonesia</strong></a>.</p>
<p>Anda juga dapat menjadi sponsor di video dan website dakwah di <a title="Yufid.com Network" href="http://yufid.com/" target="_blank" rel="nofollow">Yufid.com Network</a>, silakan hubungi: <em>marketing@yufid.org</em> untuk menjadi sponsor.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/indigo-indera-keenam-dalam-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ujian Mencontek, Bagaimana Status Ijazahnya?</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/ujian-mencontek-bagaimana-status-ijazahnya/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/ujian-mencontek-bagaimana-status-ijazahnya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Apr 2013 06:54:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[AKHLAK]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen Qolbu]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[bocoran uan]]></category>
		<category><![CDATA[ijazah palsu]]></category>
		<category><![CDATA[mencontek ujian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=17524</guid>
		<description><![CDATA[Status Ijazah Ketika Ujian Mencontek Pertanyaan: Assalamu’alaikum Jika ada orang yang tidak jujur dalam ujian, karena mencontek atau diberi bocoran gurunya. Bagaimana status ijazahnya? Apakah dia tidak boleh melanjutkan kuliah karena tidak jujur? Bagaimana dia bisa bekerja? Dan bagaimana nasib ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Status Ijazah Ketika Ujian Mencontek</strong></h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Assalamu’alaikum</em></p>
<p><em>Jika ada orang yang tidak jujur dalam ujian, karena mencontek atau diberi bocoran gurunya. Bagaimana status ijazahnya? Apakah dia tidak boleh melanjutkan kuliah karena tidak jujur? Bagaimana dia bisa bekerja? Dan bagaimana nasib penghasilannya?</em><br />
<span id="more-17524"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Wa’alaikumussalam</p>
<p>Pertama, <a title="mencontek" href="http://www.konsultasisyariah.com/adab-dalam-ujian-nasional-untaian-nasehat-peserta-un/" target="_blank">mencontek</a> atau semua kecurangan dalam <a title="ujian" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">ujian</a> termasuk dosa besar. Karena perbuatan semacam ini termasuk penipuan (al-Ghisy). Dalam hadis dari Abu Hurairah <i>radhiyallahu ‘anhu</i>, Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> bersabda,</p>
<p class="arab">مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا</p>
<p>“<i>Siapa yang menipu kami (umat Islam), maka dia bukan bagian dari kami</i>.” (HR. Muslim 101 dan yang lainnya).</p>
<p>Dalam hadis ini, Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> menyatakan sikap tabriah (berlepas diri) terhadap perbuatan menipu. Yang ini menunjukkan bahwa tindakan menipu termasuk dosa besar.</p>
<p>Kedua, mengingat kecurangan dalam ujian termasuk dosa besar, kewajiban yang harus dilakukan para pelaku kecurangan adalah bertaubat kepada Allah. Memohon ampun dan betul-betul menyesali perbuatannya. Dia merasa sedih atas tindakan pelanggaran yang dilakukannya. Sehingga dia malu untuk menunjukkan hasil nilainya. Meskipun nilai dalam ijazahnya sangat bagus, sepeserpun dia tidak merasa bangga. Karena itu bukan murni hasil karyanya.</p>
<p>Karena itu sungguh aneh ketika ada orang yang merasa bangga dengan nilai ujian, atau gelar, padahal semuanya dia dapatkan bukan karena hasil karyanya. Ada yang membeli (beli gelar profesor, doktor), ada yang dilakukan dengan cara menipun, dst. Besar kemungkinan, orang semacam ini sama sekali tidak sadar bahwa tindakannya adalah penipuan.</p>
<p>Ketiga, <a title="status ijazah" href="http://konsultasisyariah.com/ujian-mencontek-bagaimana-status-ijazahnya" target="_blank" rel="nofollow">status ijazah</a> dan pekerjaan</p>
<p>Pendapat yang lebih kuat dalam masalah ini, dibedakan antara menipu dalam ujian dengan pekerjaan yang diperoleh dengan ijazahnya. Menipu dalam ujian merupakan perbuatan dosa dan maksiat yang wajib ditaubati. Sementara pekerjaan yang diperoleh dengan ijazahnya kembali kepada keahlian dan amanahnya dalam bekerja.</p>
<p>As-Suyuthi dalam <i>al-Itqan</i> mengatakan,</p>
<p>As-Suyuthi mengatakan,</p>
<p class="arab">الْإِجَازَةُ مِنَ الشَّيْخِ غَيْرُ شَرْطٍ فِي جَوَازِ التَّصَدِّي لِلْإِقْرَاءِ وَالْإِفَادَةِ فَمَنْ عَلِمَ مِنْ نَفْسِهِ الْأَهْلِيَّةَ جَازَ لَهُ ذَلِكَ وَإِنْ لَمْ يُجِزْهُ أَحَدٌ وَعَلَى ذَلِكَ السَّلَفُ الْأَوَّلُونَ وَالصَّدْرُ الصَّالِحُ وَكَذَلِكَ فِي كُلِّ عِلْمٍ وَفِي الْإِقْرَاءِ وَالْإِفْتَاءِ خِلَافًا لِمَا يَتَوَهَّمُهُ الْأَغْبِيَاءُ مِنِ اعْتِقَادِ كَوْنِهَا شَرْطًا</p>
<p>Ijazah dari guru bukanlah syarat bolehnya membacakan buku atau menyampaikan kajian. Siapa yang merasa dirinya memiliki kemampuan menyampaikan ilmu, dia boleh menyampaikan kajian, meskipun tidak ada seorangpun yang memberikan ijazah kepadanya. Inilah yang dipahami para ulama salaf masa silam dan generasi orang soleh. Ini berlaku untuk semua kajian dan memberikan fatwa. Tidak seperti yang disangka oleh orang bodoh, yang berkeyakinan bahwa itu adalah syarat (<i>Al-Itqan fi Ulum Al-Quran</i>, 1/355).</p>
<p>Barangkali keterangan Suyuthi inilah yang menjadi dasar para ulama dalam membedakan antara menipu ketika ujian dan pekerjaan yang diperoleh dengan ijazah ujian itu.</p>
<p>Sebagaimana hal ini pernah ditanyakan kepada Imam Ibnu Baz, beliau ditanya:</p>
<p>Ada orang yang mendapat pekerjaan dengan menggunakan ijazah sekolah, sementara dulu dia menipu ketika ujian untuk mendapatkan ijazah ini. Namun sekarang dia bisa bekerja dengan sangat bagus dengan mandat dari atasannya. Apakah gajinya halal atau haram?</p>
<p>Beliau menjawab,</p>
<p class="arab">لا حرج إن شاء الله، عليه التوبة إلى الله مما جرى من الغش، وهو إذا كان قائماً بالعمل كما ينبغي فلا حرج عليه من جهة كسبه ؛ لكنه أخطأ في الغش السابق، وعليه التوبة إلى الله من ذلك</p>
<p>Tidak ada masalah dengan gajinya, insyaaAllah. Dia wajib bertaubat kepada Allah terhadap dosa penipuan yang telah dia lakukan. Dan jika dia bisa bekerja dengan baik, tidak masalah dengan kerja yang dia lakukan. Hanya saja dia berdosa karena penipuan yang dia lakukan di masa silam. Dan dia wajib bertaubat kepada Allah (<i>Majmu’ Fatawa Ibnu Baz</i>, 17:124).</p>
<p>Hal yang sama juga disampaikan Syaikh Muhammad Hasan ad-Duduw</p>
<p>Ketika ditanya tentang status pekerjaan yang diperoleh dengan <a title="ijazah hasil ujian yang diiringi penipuan" href="http://konsultasisyariah.com/ujian-mencontek-bagaimana-status-ijazahnya" target="_blank" rel="nofollow">ijazah hasil ujian yang diiringi penipuan</a>, beliau mengatakan,</p>
<p class="arab">إن عليه أن يتوب إلى الله سبحانه وتعالى من الغش في الامتحانات، وعليه أن يحسن عمله، وإذا كان يستطيع القيام بالمسؤولية التي عهدت إليه فيمكن أن يستمر في وظيفته وأن يتقنها، ولا يجوز له التغيب عن العمل إلا في فرض كفاية آخر، فعليه أن يتقن عمله وأن يؤديه على الوجه الصحيح</p>
<p>Dia wajib bertaubat kepada Allah dari penipuan yang dia lakukan ketika ujian. Dan dia wajib bekerja dengan sebaik mungkin. Jika dia mampu melaksanakan tanggung jawab yang dibebankan kepadanya, dia boleh melanjutkan tugas pekerjaannya dan berusaha bekerja dengan teliti. Dia tidak boleh bolos bekerja, ekcuali dalam kesempatan yang bisa ditangani orang lain tanpa kehadirannya. Dia wajib bekerja dengan sempurna, dan menunaikan tugasnya dengan sebaik mungkin.</p>
<p>Sumber: <em>http://ar.islamway.net/fatwa/27898</em></p>
<p><i>Allahu a’lam</i></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)</strong></p>
<p><strong>Artikel <a title="konsultasi kesehatan dan tanya jawab pendidikan islam" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<blockquote><p>Artikel ini disponsori oleh Zahir Accounting. <a title="Software Akuntansi Terbaik di Indonesia" href="http://zahiraccounting.com/id/" target="_blank" rel="nofollow"><strong>Software Akuntansi Terbaik di Indonesia</strong></a>.</p>
<p>Anda juga dapat menjadi sponsor di video dan website dakwah di <a title="Yufid.com Network" href="http://yufid.com/" target="_blank" rel="nofollow">Yufid.com Network</a>, silakan hubungi: <em>marketing@yufid.org</em> untuk menjadi sponsor.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/ujian-mencontek-bagaimana-status-ijazahnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Adab dalam Ujian Nasional : Untaian Nasehat Peserta UN</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/adab-dalam-ujian-nasional-untaian-nasehat-peserta-un/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/adab-dalam-ujian-nasional-untaian-nasehat-peserta-un/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Apr 2013 09:57:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[AKHLAK]]></category>
		<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen Qolbu]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Pergaulan]]></category>
		<category><![CDATA[bocoran UN]]></category>
		<category><![CDATA[ijazah]]></category>
		<category><![CDATA[nilai SMU 2013]]></category>
		<category><![CDATA[raport]]></category>
		<category><![CDATA[ujian nasional]]></category>
		<category><![CDATA[UN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=17430</guid>
		<description><![CDATA[Untaian Nasehat Peserta UN (Ujian Nasional) Seolah telah menjadi satu konsekuensi, setiap orang yang belajar harus menempuh ujian, Sebagai penentu apakah dia termasuk orang yang berhasil ataukah seorang pecundang. Tidak hanya dalam masalah pelajaran dan pendidikan, bahkan dalam masalah iman ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Untaian Nasehat Peserta UN (Ujian Nasional)</strong></h2>
<p>Seolah telah menjadi satu konsekuensi, setiap orang yang belajar harus menempuh ujian, Sebagai penentu apakah dia termasuk orang yang berhasil ataukah seorang pecundang. Tidak hanya dalam masalah pelajaran dan pendidikan, bahkan dalam masalah iman dan ketakwaan juga ada ujian. Allah akan menguji setiap orang yang beriman, untuk membuktikan apakah orang tersebut betul-betul beriman ataukah hanya sebatas pengakuan bahwa dirinya beriman. Allah berfirman,<br />
<span id="more-17430"></span></p>
<p class="arab">أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ ( ) وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ</p>
<p><em>“Apakah manusia mengira bahwa dirinya bebas untuk mengatakan “kami beriman” sementara mereka tidak diuji? Sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah mengetahui siapakah orang-orang yang jujur dalam imannya dan siapakah yang dusta dalam imannya.”</em> (QS. Al-Ankabut 2-3)</p>
<p>Bukti yang menentukan keberhasilan dan kegagalan seseorang bisa dilihat setelah dia menjalani ujian.</p>
<p><a title="musim UN" href="http://konsultasisyariah.com/adab-dalam-ujian-nasional-untaian-nasehat-peserta-un" target="_blank" rel="nofollow"><strong>Musim UN</strong></a> menjadi masa para siswa dalam karantina. Segala aktivitas kesehariannya menjadi berubah. Yang dulunya sering bergadangan nonton bola dan klayapan, <a title="masuk UN" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">masuk <span style="text-decoration: underline;">UN</span></a> tiba-tiba jadi remaja soleh – slohihah. Ada yang rajin tahajud, ada yang rutin puasa sunah, ada yang bernadzar, bahkan ada yang mujahadahan. Berbagai upaya dikerjakan, demi mengejar prestasi dan cita-cita. Detik-detik menegangkan, menentukan nasib setumpuk harapan pribadi dan orang tua.</p>
<p>Untuk itu, ada baiknya jika pada kesempatan yang singkat ini kita bahas adab-adab yang selayaknya diperhatikan dalam ujian. Karena kita yakin bahwa syariat islam adalah syariat yang paripurna, menjelaskan seluruh permasalahan umat. Sebagaimana yang disebutkan dalam kisah dialog antara Salman Al Farisi dengan orang kafir. Suatu ketika ada orang kafir yang berkata kepada Salman dengan nada agak mengejek: “Hai Salman, benarkah Nabimu mengajarimu semua hal sampai dalam masalah buang air..?” Salman lantas menjawab dengan nada penuh bangga: “Iya, betul. Beliau mengajari kami semua hal sampai dalam masalah buang air.” (Dikutip oleh Ibnul Qoyyim dalam Hidayatul Hiyari hal. 99)</p>
<h3><strong>Adab-adab ketika ujian</strong></h3>
<p><strong>Pertama, Berusaha disertai tawakkal</strong></p>
<p>Inilah langkah awal yang selayaknya dilakukan oleh setiap yang mengharapkan keberhasilan. usaha merupakan modal pertama meraih kesuksesan. karena sukses tidaklah serta merta turun dari langit. perubahan hanya akan terjadi ketika orangnya mau berusaha untuk berubah. Allah berfirman,</p>
<p class="arab">إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya Allah tidaklah mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.&#8221;</em> (QS. Ar-Ra&#8217;du: 11).</p>
<p>Karena itu, dalam islam tidak ada kamus tawakal tanpa usaha. Karena setiap tawakal harus diawali usaha. Tawakal tanpa usaha diistilahkan dengan tawaaakal (pura-pura tawakal).</p>
<p>Namun ingat, juga jangan terlalu bersandar pada usaha dan kemampuan kita. karena semuanya berada di bawah kehendak Sang Maha Kuasa. Sehebat apapun usaha kita, jangan sampai membuat kita terlalu PD, sehingga mengesankan tidak membutuhkan pertolongan Allah.</p>
<p>Allah menjanjikan, orang yang bertawakkal akan dicukupi oleh Allah. sebagaimana disebutkan dalam firmannya,</p>
<p class="arab">وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ</p>
<p><em>&#8220;Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya).&#8221;</em> (QS. At-Thalaq: 3).</p>
<p>Sebaliknya, orang yang tidak bertawakkal maka dikhawatirkan akan diuji dengan kegagalan. Sebagaimana disebutkan dalam hadis dari Abu Hurairah radliallahu &#8216;anhu, bahwa Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam pernah bercerita: &#8220;Nabi Sulaiman pernah berikrar: &#8220;Malam ini aku akan menggilir 100 istriku. semuanya akan melahirkan seorang anak yang akan berjihad di jalan Allah.&#8221; beliau mengucapkan demikian dan tidak mengatakan: &#8220;InsyaaAllah&#8221;. Akhirnya tidak ada satupun yang melahirkan kecuali salah satu dari istrinya yang melahirkan setengah manusia (baca: manusia cacat). kemudian Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p class="arab">لَوِ اسْتَثْنَى، لَوُلِدَ لَهُ مِائَةُ غُلَامٍ كُلُّهُمْ يُقَاتِلُ فِي سَبِيلِ اللهِ</p>
<p><em>&#8220;Andaikan Sulaiman mau mengucapkan InsyaaAllah niscaya akan terlahir 100 anak dan semuanya berjihad di jalan Allah.&#8221;</em> (HR. Ahmad 7137 dan dishahihkan oleh Syaikh Syu&#8217;aib Al Arnauth)</p>
<p>Siapa kita dibanding Nabi Sulaiman &#8216;alaihis salam. Keinginan seorang Nabi yang tidak disertai tawakkal ternyata bisa menui kegagalan.</p>
<p><strong>Kedua, Hindari sebab yang tidak memenuhi syarat</strong></p>
<p>Ada sebagian orang yang ketika hendak ujian dia menempuh jalan pintas. Dia menggunakan sebab yang bertolak belakang dengan syariat. Ada yang datang ke orang pintar untuk minta perewangan. Ada yang makan kitab biar bisa cepat hafal. Ada yang dzikir tengah malam dengan membaca ribuan wirid yang tidak disyariatkan, dan seabreg trik lainnya untuk menggapai sukses.</p>
<p>Perlu kita tanamkan dalam lubuk hati kita bahwa segala sesuatu itu bisa dijadikan sebagai sebab jika memenuhi dua kriteria:</p>
<p>Ada hubungan sebab akibat yang terbukti secara ilmiyah. misalnya belajar dan menghafal adalah sebab untuk mendapatkan pengetahuan.</p>
<p>jika syarat pertama tidak terpenuhi maka harus ada syarat kedua, yaitu sebab tersebut ditentukan oleh dalil. sehingga meskipun sebab tersebut tidak terbukti secara ilmiyah memiliki hubungan dengan akibat namun selama ada dalil maka boleh dijadikan sebagai sebab. contoh, meruqyah dengan bacaan Al Qur&#8217;an untuk mengobati orang sakit. meskipun secara ilmiyah tidak bisa dibuktikan secara ilmiyah apakah hubungan antara bacaan Al-Qur&#8217;an dengan pengobatan, namun mengingat ada dalil yang menegaskan hal tersebut maka itu bisa dijadikan sebagai sebab.</p>
<p>jika ada sebab yang tidak memenuhi dua kriteria di atas maka menggunakan sebab tersebut hukumnya syirik kecil. karena berarti dia telah berdusta atas nama Allah. dia meyakini bahwa hal itu bisa dijadikan sebab padahal sama sekali Allah tidak menjadikan hal itu sebagai sebab.</p>
<p>Dan jika sebab yang ditempuh itu berupa amal, maka syaratnya harus ada dalilnya. jika tidak, bisa jadi terjerumus ke dalam jurang dosa bid&#8217;ah.</p>
<p><strong>Ketiga, Perbanyak Istighfar</strong></p>
<p>Sesungguhnya salah satu sumber utama kegagalan yang terjadi pada manusia adalah dosa dan maksiat. Allah tegaskan,</p>
<p class="arab">وَجَزَاء سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا</p>
<p><em>&#8220;Balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa..&#8221;</em> (QS. As-Syura: 40)</p>
<p>Salah satu dampak buruk dosa adalah bisa menghalangi kelancaran rizki. Sebagaimana dinyatakan dalam hadis,</p>
<p class="arab">إن الرجل ليحرم الرزق بالذنب يصيبه</p>
<p><em>Sesungguhnya seseorang terhalangi untuk mendapat rizki, disebabkan dosa yang dia perbuat</em>. (HR. Ahmad 22386 dan dihasankan Al-Albani).</p>
<p>Karena itu, agar kita terhindar dari dampak buruk perbuatan maksiat yang kita lakukan, perbanyaklah memohon ampunan kepada Allah. Perbanyak istighfar dalam setiap waktu yang memungkinkan untuk berdizkir. Kita berharap, dengan banyak istighfar, semoga Allah memberi ampunan dan memudahkan kita untuk mendapatkan apa yang diharapkan.</p>
<p>Dalam sebuah hadis dinyatakan,</p>
<p class="arab">مَنْ لَزِمَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا ، وَمِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا ، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ</p>
<p><em>Siapa yang membiasakan istigfar, Allah akan memberikan kelonggaran di setiap kesempitan, memberikan jalan keluar di setiap kebingungan, dan Allah berikan dia rizki dari arah yang tidak dia sangka.</em> (HR. Abu Daud, Ibn Majah, Ahmad, Ad-Daruquthni, al-baihaqi dan yang lainnya).</p>
<p>Hadis ini dinilai dhaif oleh sebagian ulama, hanya saja maknanya sejalan dengan perintah Allah di surat Hud:</p>
<p class="arab">وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعاً حَسَناً إِلَى أَجَلٍ مُسَمّىً وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ</p>
<p><em>Perbanyaklah meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya.</em> (QS. Hud: 3)</p>
<p><strong>Keempat, Banyak berdo’a</strong></p>
<p>Perbanyaklah berdo’a kepada Allah. Meminta segala hal yang kita butuhkan. Baik dalam urusan akhirat maupun dunia. Karena semakin sering mengetuk pintu maka semakin besar peluang untuk dibuka-kan pintu tersebut. Semakin sering kita berdo’a, semakin besar peluang untuk dikabulkan. Namun perlu diingat, jangan suka minta dido’akan orang lain. Karena berdo’a sendiri itu lebih berpeluang untuk dikabulkan dari pada harus melalui orang lain. Lebih-lebih di saat kita sedang membutuhkan pertolongan. Akan ada perasaan berharap yang lebih besar bila dibandingkan dengan do’a yang diwakilkan orang lain. Disamping itu, berdo’a sendiri lebih menunjukkan ketergantungan kita kepada Allah secara langsung. Dan kita melepaskan diri dari ketergantungan pada orang lain.</p>
<p><strong>Kelima, Pegang Prinsip Kejujuran dan Hindari bentuk penipuan</strong></p>
<p>Pernahkah kita menyadari bahwa plagiat dan mencontek ketika ujian termasuk bentuk penipuan. Adakah diantara kita yang sadar bahwa melakukan pelanggaran dalam ujian termasuk bentuk kedustaan. Pernahkah kita merasa bahwa hal itu membawa konsekuensi dosa. mungkin ada diantara kita yang beranggapan kalo itu tak ada hubungannya dengan agama. Ini lain urusan antara UN dengan agama. tak ada kaitannya dengan urusan akhirat.</p>
<p>Perlu kita sadari bahwa apapun bentuk pelanggaran yang kita lakukan ketika ujian, baik itu bentuknya mencontek, plagiat, catatan, pemalsuan data dan pelanggaran lainnya, hukumnya haram dan dosa besar. Tinjauannya:</p>
<p>1. Perbuatan itu terhitung sebagai bentuk penipuan. karena orang yang melihat nilai kita beranggapan bahwa itu murni usaha kita yang dilakukan dengan jujur dan sportif. padahal hakekatnya itu adalah hasil kerja gabungan, kerja kita dan teman-teman sekitar kita. Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p class="arab">مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا</p>
<p><em>&#8220;Barangsiapa yang menipu kami maka bukan termasuk golongan kami.&#8221;</em> (HR. Muslim).</p>
<p>Imam Ibnu Utsaimin menjelaskan bahwa perbuatan menipu ini termasuk dosa besar. karena diancam dengan kalimat: &#8220;bukan termasuk golongan kami&#8221;. (lihat Syarh Riyadhus Sholihin Syarh hadis Bab: Banyaknya jalan menuju kebaikan).</p>
<p>Komite tetap tim fatwa Saudi pernah ditanya tentang masalah pelanggaran ketika ujian. Mereka menjawab: “Menipu dalam ujian pembelajaran atau yang lainnya itu haram. Orang yang melakukannya termasuk pelaku salah satu dosa besar.</p>
<p>Berdasarkan hadis dari Nabi<em> shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>:<em> “Barangsiapa yang menipu kami maka dia bukan bagian kami.” Dan tidak ada perbedaan antara materi pelajaran agama maupun non agama.”</em></p>
<p>Dalam kesempatan yang sama Komite fatwa ini juga pernah ditanya tentang hadis “barangsiapa yang menipu kami&#8230;” kemudian mereka menjawab:</p>
<p>“Hadis ini statusnya shahih. Mencakup segala bentuk penipuan baik dalam jual beli, perjanjian, amanah, ujian sekolah atau pesantren, baik bentuk penipuannya itu dengan melihat buku ajar, mencontek teman, memberikan jawaban kepada yang lain, atau dengan melemparkan kertas pada yang lain.”</p>
<p>2. Perbuatan ini termasuk diantara sifat orang yang diancam dengan adzab. Allah berfirman, yang artinya:</p>
<p class="arab">وَيُحِبُّونَ أَنْ يُحْمَدُوا بِمَا لَمْ يَفْعَلُوا فَلَا تَحْسَبَنَّهُمْ بِمَفَازَةٍ مِنَ الْعَذَابِ</p>
<p><em>&#8220;&#8230;dan mereka yang suka dipuji atas perbuatan yang tidak mereka lakukan, jangan sekali-kali kamu mengira bahwa mereka akan lolos dari adzab&#8230;&#8221;</em> (QS. Ali Imran: 188).</p>
<p>Kita yakin, orang yang suka melakukan pelanggaran ketika ujian pasti tidak lepas dari tujuan mencari nilai bagus. Disadari maupun tidak, ketika ada orang yang memuji nilai UN yang kita peroleh pasti akan ada perasaan bangga dalam diri kita. Meskipun kita yakin betul kalo itu bukan murni kerja kita. Oleh karena itu, bagi yang punya kebiasaan demikian, segeralah bertaqwa kepada Allah. Mudah-mudahan kita tidak digolongkan seperti ayat di atas.</p>
<p>3. Perbuatan semacam tergolong sebagai orang yang mengenakan pakaian kedustaan. Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p class="arab">إِنَّ الْمُتَشَبِّعُ بِمَا لم يعط كلابس ثوب زور</p>
<p><em>“Orang yang merasa bangga dengan apa yang tidak dia dapatkan maka seolah dia memakai dua pakaian kedustaan.”</em> (HR. Ahmad &amp; Al Bukhari dalam Adabul Mufrad dan dishahihkan Al Albani).</p>
<p>Dijelaskan oleh An Nawawi bahwa yang dimaksud “Orang yang merasa bangga dengan apa yang tidak dia dapatkan” adalah orang yang menampakkan bahwa dirinya telah mendapatkan keutamaan padahal aslinya dia tidak mendapatkannya. (lih. Faidhul Qodir 6/338).</p>
<p>Orang semacam ini termasuk orang yang menipu orang lain. Dia menampakkan seolah dirinya orang pinter, nilainya-nya bagus, padahal aslinya&#8230;.</p>
<p>Ujian adalah amanah untuk dikerjakan dengan sebaik-baiknya. Sebagai muslim yang baik, selayaknya kita jaga amanah ini dengan baik. Amanah ilmiah yang selayaknya kita tunaikan dengan penuh tanggung jawab. Karena itulah yang akan mengantarkan kepada kebahagiaan. Bukan jaminan orang yang nilai UN-nya baik, pasti mendapatkan peluang hidup yang lebih nyaman. Ingat, kedustaan dan kecurangan akan mengundang kita untuk melakukan kedustaan berikutnya, dalam rangka menutupi kedustaan sebelumnya. Dan bisa jadi itu terjadi secara terus-menerus. Berbeda dengan kejujuran, dia akan mengantarkan pada ketenangan, dan selanjutnya mengantarkan pada jalan kebaikan dan surga.</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى البِرِّ، وَإِنَّ البِرَّ يَهْدِي إِلَى الجَنَّةِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يَكُونَ صِدِّيقًا. وَإِنَّ الكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الفُجُورِ، وَإِنَّ الفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا</p>
<p><em>Sesungguhnya kejujuran akan megantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Jika seseorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.”</em> (HR. Muslim no. 2607)</p>
<p><strong>Keenam, tips dalam menghadapi kegagalan</strong></p>
<p>a. Tanamkan bahwa semuanya telah ditakdirkan</p>
<p>sebagai bukti bahwa kita adalah orang yang beriman pada taqdir, kita yakini bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini semuanya telah ditaqdirkan oleh Allah. Kita yakini bahwa tidak ada perbuatan Allah yang sia-sia. Semua pasti ada hikmahnya. Baik kita ketahui maupun tidak. Kita tutup rapat-rapat jangan sampai kita berburuk sangka kepada Allah. Sebagai penyempurna keimanan kita pada taqdir adalah kita pasrahkan semuanya kepada Allah dan tidak terlalu disesalkan. Kegagalan bukanlah tanda bahwa Allah membenci kita. Demikian pula, sukses bukanlah tanda bahwa Allah membenci kita. Bahkan ini termasuk anggapan cupet manusia yang telah dibantah dalam Al Qur’an. Allah berfirman,</p>
<p class="arab">فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ ( ) وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ ( ) كَلَّا&#8230;</p>
<p><em>Adapun manusia, apabila Rabbnya mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan maka dia berkata: “Rabbku memuliakan aku.”(15) Namun apabila Rabbnya mengujinya lalu membatasi rizqinya maka dia berkata: “Rabbku menghinakanku.”(16) sekali-kali tidak&#8230;..”</em>(QS. Al Fajr: 15-17).<br />
b. Bersabar dengan penuh mengharapkan pahala</p>
<p>Jika gagal ini adalah bagian dari ujian hidup maka berusahalah untuk bersabar. Lebih-lebih jika kita mampu untuk bersikap ridla atau bahkan bersyukur. Sesuatu yang berat ini akan menjadi terasa ringan. Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">مَا يَزَالُ البَلَاءُ بِالمُؤْمِنِ وَالمُؤْمِنَةِ فِي نَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَمَالِهِ حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ</p>
<p><em>“Tidak henti-hentinya ujian itu akan menimpa setiap mukmin laki-laki maupun wanita terkait dengan dirinya, anaknya, dan hartanya. Sampai dia bertemu dengan Allah dalam keadaan tidak memiliki dosa.”</em> (HR. At Turmudzi dan dishahihkan Al Albani dalam Shahih Riyadhus Shalihin).</p>
<p>Kegagalan ini akan menjadi penebus dosa jika orang yang tertimpa kegagalan tersebut mampu bersabar.</p>
<p>c. yakini ada yang lebih buruk dari pada kita</p>
<p>inilah diantara cara yang diajarkan islam agar kita tetap bisa bersyukur kepada Allah terhadap nikmat yang telah Dia berikan. Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p class="arab">انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ</p>
<p><em>“Lihatlah orang yang lebih bawah dari pada kamu, dan jangan melihat orang yang lebih banyak nikmatnya dari pada kamu, karena akan memberi kekuatan kamu untuk tidak meremehkan nikmat Allah kepadamu.”</em> (HR. Muslim)</p>
<p>d. hindari ber-andai-andai</p>
<p>jangan sampai terbetik dalam diri kita teriakan perasaan “andai aku tadi pinjem bukunya si A pasti aku bisa mengerjakannya..” “Andai aku tadi&#8230;pasti&#8230;” “Andai aku&#8230;kan harusnya gak&#8230;” dan seterusnya. Umumnya perasaan ini muncul ketika orang itu dalam posisi gagal. Karena perasaan ini merpakan awal dari godaan setan agar manusia mengingkari taqdir Allah. Nabi<em> shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p class="arab">وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ، فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ</p>
<p><em>“Apabila kamu tertimpa kegagalan, janganlah kamu mengatakan: “Seandainya aku bersikap demikian tentu yang terjadi demikian..” tetapi katakanlah: “Ini telah ditaqdirkan oleh Allah, dan Allah berbuat sesuai apa yang Dia kehendaki.” Karena sesungguhnya ucapan berandai-andai itu membuka (pintu) perbuatan setan.”</em> (HR. Muslim).</p>
<p>Berdasarkan hadis di atas, ada ungkapan yang sunnah untuk kita ucapkan ketika sedang mengalami kegagalan:</p>
<p class="arab">قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ</p>
<p>“Ini telah ditaqdirkan oleh Allah, dan Allah berbuat sesuai apa yang Dia kehendaki”</p>
<p>e. berusaha untuk memperbaikinya dan jangan putus asa</p>
<p>Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa salla</em>m bersabda:</p>
<p class="arab">احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجَزْ</p>
<p>“Bersemangatlah dalam mencari apa yang bermanfaat bagimu dan mohonlah kepada Allah (dalam segala urusanmu) serta jangan sekali-kali kamu bersikap lemah (karena putus asa)&#8230;” (HR. Muslim).</p>
<p>Selamat menempuh ujian, semoga sukses menyertai kita semua&#8230;amiin</p>
<p><strong>Oleh Ustadz Ammi Nur Baits</strong></p>
<p><strong>Artikel <a title="konsultasi kesehatan dan tanya jawab pendidikan islam" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<blockquote><p>Artikel ini disponsori oleh Zahir Accounting. <a title="Software Akuntansi Terbaik di Indonesia" href="http://zahiraccounting.com/id/" target="_blank" rel="nofollow"><strong>Software Akuntansi Terbaik di Indonesia</strong></a>.</p>
<p>Anda juga dapat menjadi sponsor di video dan website dakwah di <a title="Yufid.com Network" href="http://yufid.com/" target="_blank" rel="nofollow">Yufid.com Network</a>, silakan hubungi: <em>marketing@yufid.org</em> untuk menjadi sponsor.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/adab-dalam-ujian-nasional-untaian-nasehat-peserta-un/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mungkinkah Aku Cemburu dengan Bidadari?</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/mungkinkah-aku-cemburu-dengan-bidadari/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/mungkinkah-aku-cemburu-dengan-bidadari/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Mar 2013 23:09:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[AKHLAK]]></category>
		<category><![CDATA[AL-QURAN]]></category>
		<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen Qolbu]]></category>
		<category><![CDATA[bidadari]]></category>
		<category><![CDATA[cemburu]]></category>
		<category><![CDATA[istri]]></category>
		<category><![CDATA[malaikat]]></category>
		<category><![CDATA[nikmat]]></category>
		<category><![CDATA[pahala]]></category>
		<category><![CDATA[surga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=17028</guid>
		<description><![CDATA[Aku Cemburu dengan Bidadari Pertanyaan: Beberapa kesempatan sebelumnya, web konsultasisyariah.com membahas tentang jumlah istri penduduk surga. Linknya: http://www.konsultasisyariah.com/berapa-jumlah-istri-Anda-di-surga/ Di situ disimpulkan bahwa jumlah minimal istri penduduk surga menurut salah satu riwayat adalah 2 istri. Bahkan menurut riwayat lain, masih ditambah ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Aku Cemburu dengan Bidadari</strong></h2>
<p><b>Pertanyaan:</b></p>
<p>Beberapa kesempatan sebelumnya, web <a title="konsultasi kesehatan dan tanya jawab agama islam" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">konsultasisyariah.com</a> membahas tentang jumlah istri penduduk surga. Linknya: <a title="jumalah istri anda di surga" href="http://www.konsultasisyariah.com/berapa-jumlah-istri-Anda-di-surga/" target="_blank">http://www.konsultasisyariah.com/berapa-jumlah-istri-Anda-di-surga/</a></p>
<p>Di situ disimpulkan bahwa jumlah minimal istri penduduk surga menurut salah satu riwayat adalah 2 istri. Bahkan menurut riwayat lain, masih ditambah 70 bidadari.<br />
<span id="more-17028"></span><br />
Sebagai wanita, mendengar suami berpoligami, tentunya akan muncul rasa cemburu. Jangankan 70 istri, mendengar suami mau poligami saja, istri sudah kebingungan bukan kepalang. Yang tidak lain, karena dorongan rasa cemburu. Dan itu hampir tidak mungkin bisa dihilangkan. Sampai tua dan bahkan sampai mati.</p>
<p>Mendengar jumlah istri yang banyak itu, para wanita akan membayangkan, bagaimana <a title="kesedihan dan rasa cemburunya" href="http://konsultasisyariah.com/mungkinkah-aku-cemburu-dengan-bidadari" target="_blank" rel="nofollow"><em>kesedihan dan rasa cemburunya</em></a>?</p>
<p>Dari: Imma, Jatim</p>
<p><b>Jawaban:</b></p>
<p><i>Bismillah was shalatu was salamu &#8216;ala rasulillah, amma ba&#8217;du,</i></p>
<p>Perasaan cemburu merupakan bagian dari tabiat manusia. Tidak hanya terjadi pada wanita, namun juga terjadi pada lelaki. Sebagai janji Allah bagi penduduk surga, Allah akan memberikan beberapa istri kepadanya di surga. Tentu Anda bisa membayangkan, bagaimana dengan perasaan wanita. Betapa sedihnya ketika sang suami tercinta, yang saat ini mendampingi hidupnya tanpa ada pesaing lainnya, namun suatu saat nanti akan diperebutkan dengan oleh banyak wanita.</p>
<p>Namun satu catatan yang perlu Anda pahami, perasaan di atas adalah bayangan kita yang belum pernah mengintip indahnya surga. Dan tentu saja, yang namanya bayangan, belum pasti benarnya. Lebih-lebih, bayangan untuk sebuah suasana baru, yang sama sekali belum pernah terbesit dalam perasaan manusia. Surga nan penuh kenikmatan.</p>
<h3><b>Bayangan tentang Surga, Pasti Meleset</b></h3>
<p>Sehebat apapun bayangan Anda tentang surga, realita yang ada di surga pasti akan berbeda dengan apa yang Anda bayangkan. Anda yang saat ini mungkin sempat membayangkan, betapa sedih dan cemburunya Anda, ketika suami diperebutkan oleh bidadari indah nan jelita, yang semuanya menjadi pesaing Anda. Namun pastikan, bahwa bayangan Anda ini tidak akan sesuai dengan relita di surga. Karena bayangan apapun tentang surga, belum mewakili apa yang sejatinya terjadi di surga.</p>
<p>Hal ini telah ditegaskan oleh Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> dalam sebuah hadis Qudsi, bahwa Allah ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p class="arab">أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لاَ عَيْنٌ رَأَتْ، وَلاَ أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ</p>
<p>&#8220;<i>Aku telah menyiapkan untuk hamba-hamba-Ku yang sholeh, surga yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah ada telinga yang mendengarkannya, dan belum pernah terbesit dalam hati manusia</i>.&#8221;</p>
<p>Kemudian Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> membaca firman Allah di surat As-Sajdah ayat 17,</p>
<p class="arab">فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ</p>
<p>&#8220;<i>Tidak ada jiwa yang mengetahui surga yang Aku rahasiakan untuk mereka, sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka lakukan</i>.&#8221; (HR. Bukhari 3244, Muslim 2824, Turmudzi 3197, dan yang lainnya).</p>
<p>Untuk itu, Anda tidak perlu khawatir bawaan perasaan semacam ini hanya ada di dunia. Akan pupus setelah kita meninggalkan negeri fana ini. Bayangan kesedihan, cemburu, permusuhan, yang muncul di jiwa manusia, tidak akan berulang ketika mereka masuk surga.</p>
<h3><b>Mereka Telah Dibersihkan Sebelum Masuk Surga</b></h3>
<p>Diantara nikmat Allah yang diberikan kepada penduduk surga, Allah bersihkan mereka dari setiap kotoran hati ketika di dunia. Dari Abu Said al-Khudri <i>radhiyallahu ‘anhu</i>, Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> bersabda,</p>
<p class="arab">يَخْلُصُ المُؤْمِنُونَ مِنَ النَّارِ، فَيُحْبَسُونَ عَلَى قَنْطَرَةٍ بَيْنَ الجَنَّةِ وَالنَّارِ، فَيُقَصُّ لِبَعْضِهِمْ مِنْ بَعْضٍ مَظَالِمُ كَانَتْ بَيْنَهُمْ فِي الدُّنْيَا، حَتَّى إِذَا هُذِّبُوا وَنُقُّوا أُذِنَ لَهُمْ فِي دُخُولِ الجَنَّةِ</p>
<p>&#8220;<i>Orang-orang mukmin akan dibebaskan dari neraka, kemudian mereka berhenti dikumpulkan di qantharah, tempat antara surga dan neraka. Kemudian ditegakkanlah qishash diantara mereka akibat kezaliman yang terjadi di antara mereka di dunia. Setelah dibersihkan dan disucikan, barulah mereka diizinkan masuk surga&#8230;</i>&#8221; (HR. Ahmad 11095 dan Bukhari 6535).</p>
<p>Setelah dibersihkan, mereka masuk surga dengan hati tanpa beban, hati yang bersih. Sirna sudah segala penyakit benci, dengki, hasad, sedih, bingung, yang dulu mereka alami di dunia. Dinukil dari Ibn Abbas dan Ali bin Abi Thalib <i>radhiyallahu ‘anhu</i>m, bahwa mereka menjelaskan,</p>
<p class="arab">أن أهل الجنة عندما يدخلون الجنة يشربون من عين فيذهب الله ما في قلوبهم من غل، ويشربون من عين أخرى فتشرق ألوانهم وتصفو وجوههم</p>
<p>Bahwa penduduk surga ketika hendak masuk surga, mereka minum mata air, kemudian Allah hilangkan segala penyakit kebencian dalam hati mereka. Kemudian mereka minum mata air yang lain, lalu kulit mereka bercahaya dan wajahnya bersinar cerah. (<i>at-Tadzkirah</i>, Qurthubi, hlm. 499)</p>
<h3><b>Tidak Ada Permusuhan dan Cemburu</b></h3>
<p>Meskipun suami Anda memliki 70 bidadari, Anda tidak akan diliputi rasa sedih dan cemburu. Semua itu telah Allah hilangkan. Yang Anda alami dan dialami oleh semua penduduk surga, mereka akan merasa menjadi makhluk paling bahagia.</p>
<p>Dari Abu Hurairah <i>radhiyallahu ‘anhu</i>, Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> bersabda,</p>
<p>وَلِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ زَوْجَتَانِ، يُرَى مُخُّ سُوقِهِمَا مِنْ وَرَاءِ اللَّحْمِ مِنَ الحُسْنِ، لاَ اخْتِلاَفَ بَيْنَهُمْ وَلاَ تَبَاغُضَ، قُلُوبُهُمْ قَلْبٌ وَاحِدٌ، يُسَبِّحُونَ اللَّهَ بُكْرَةً وَعَشِيًّا</p>
<p>&#8220;<i>&#8230;masing-masing mereka memiliki dua istri. Sumsum tulang betisnya kelihatan dibalik daging, karena saking indahnya. Tidak ada perselisihan dan permusuhan diantara mereka. Mereka sehati, senantiasa bertasbih mensucikan Allah, pagi dan sore</i>.&#8221; (HR. Bukhari 3245, Muslim 2843, dan yang lainnya).</p>
<p>Ini semua sebagaimana yang Allah tegaskan melalui ayat-Nya,</p>
<p>وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ إِخْوَانًا عَلَى سُرُرٍ مُتَقَابِلِينَ</p>
<p>“<i>Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan</i>.” (QS. Al-Hijr: 47).</p>
<p><i>Allahu a&#8217;lam</i></p>
<h4><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a title="konsultasi kesehatan dan tanya jawab agama islam" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a>)</strong></h4>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/mungkinkah-aku-cemburu-dengan-bidadari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pahala Menyantuni Janda</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/pahala-menyantuni-janda/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/pahala-menyantuni-janda/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Mar 2013 23:00:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen Qolbu]]></category>
		<category><![CDATA[janda]]></category>
		<category><![CDATA[pahala]]></category>
		<category><![CDATA[pahala janda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=16981</guid>
		<description><![CDATA[Menyantuni Janda Pertanyaan: Assalamu’alikum. Saya mau tanya, bagaimana hukumnya menyantuni janda tanpa anak tapi masih keluarga sendiri. Sebelumnya mohon maaf dan banyak terima kasih. Assalamu’alaikum. Dari: Zaifoel Jawaban: Wa’alaikumussalam Bismillah was shalatu was salamu &#8216;ala rasulillah, amma ba&#8217;du, Menyantuni janda, ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Menyantuni Janda</strong></h2>
<p><b>Pertanyaan:</b></p>
<p>Assalamu’alikum.</p>
<p>Saya mau tanya, bagaimana hukumnya <em>menyantuni janda tanpa anak</em> tapi masih keluarga sendiri. Sebelumnya mohon maaf dan banyak terima kasih.</p>
<p>Assalamu’alaikum.</p>
<p>Dari: Zaifoel<br />
<span id="more-16981"></span><br />
<b>Jawaban:</b></p>
<p>Wa’alaikumussalam</p>
<p><i>Bismillah was shalatu was salamu &#8216;ala rasulillah, amma ba&#8217;du,</i></p>
<p><a title="menyantuni janda" href="http://konsultasisyariah.com/pahala-menyantuni-janda" target="_blank" rel="nofollow"><strong>Menyantuni janda</strong></a>, baik punya anak maupun tidak, termasuk amal sholeh yang bernilai pahala besar. Dari Abu Hurairah <i>radhiallahu ’anhu</i>, Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> bersabda,</p>
<p class="arab">السَّاعِي عَلَى الأَرْمَلَةِ وَالمِسْكِينِ، كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، أَوِ القَائِمِ اللَّيْلَ الصَّائِمِ النَّهَارَ</p>
<p>&#8220;<i>Orang yang bekerja agar bisa memberi sebagian nafkah kepada janda, dan orang miskin, sebagaimana orang yang berjihad di jalan Allah, atau seperti orang yang tahajud di malam hari, puasa di siang hari</i>.“ (HR. Bukhari 5353 dan Muslim 2982).</p>
<p>Terlebih jika janda itu adalah kerabat anda, nilai yang akan anda dapatkan dua kali: nilai sedekah dan menyambung silaturrahmi. Dari Salman bin Amir <i>radhiallahu ’anhu</i>, Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> bersabda,</p>
<p class="arab">إِنَّ الصَّدَقَةَ عَلَى الْمِسْكِينِ صَدَقَةٌ، وَعَلَى ذِي الرَّحِمِ اثْنَتَانِ صَدَقَةٌ وَصِلَةٌ</p>
<p>&#8220;<i>Sesungguhnya sedekah kepada orang miskin (yang bukan keluarga) nilainya hanya sedekah, dan sedekah kepada kerabat, nilainya dua: sedekah dan silaturahmi</i>.&#8221; (HR. An-Nasa&#8217;i 2582, Ibn Majah 1844, dan dishahihkan al-Albani)</p>
<p>Hanya saja, kami sarankan, dalam rangka menghindari munculnya persangkaan yang tidak diharapkan, sebaiknya anda menyerahkan santunan kepada janda itu, bersama istri anda atau melalui orang tua Anda.</p>
<p><i>Allahu a&#8217;lam.</i></p>
<h4><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a title="konsultasi kesehatan dan tanya jawab agama islam" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a>)</strong></h4>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/pahala-menyantuni-janda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
