<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Konsultasi Kesehatan dan Tanya Jawab Pendidikan Islam &#187; Makanan</title>
	<atom:link href="http://www.konsultasisyariah.com/category/makanan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.konsultasisyariah.com</link>
	<description>KonsultasiSyariah.com</description>
	<lastBuildDate>Wed, 22 May 2013 02:11:44 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Hukum Memakan Daging dan Telur Penyu</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/hukum-memakan-daging-dan-telur-penyu/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/hukum-memakan-daging-dan-telur-penyu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Jun 2012 08:10:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Makanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=11481</guid>
		<description><![CDATA[Hukum Memakan Daging dan Telur Penyu Pertanyaan: Assalaamu&#8217;alaikum Ustad Saya mau bertanya, apa hukumnya memakan daging dan telur penyu dan belut? Jazakallahu khairan. Dari: Abu Annadzhif Jawaban: Wa’alaikumussalam Pendapat yang kuat di antara para ulama adalah hukumnya boleh memakan kura-kura, ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2>Hukum Memakan Daging dan Telur Penyu</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Assalaamu&#8217;alaikum Ustad</p>
<p>Saya mau bertanya, apa hukumnya <strong>memakan daging dan telur penyu dan belut</strong>?<br />
<em>Jazakallahu</em> <em>khairan</em>.</p>
<p>Dari: Abu Annadzhif<br />
<span id="more-11481"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
Wa’alaikumussalam</p>
<p>Pendapat yang kuat di antara para ulama adalah hukumnya boleh <strong>memakan kura-kura</strong>, <strong>penyu</strong>, dan sejenisnya. Baik yang hidup di laut maupun yang di darat. Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p class="arab">يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا</p>
<p>“<em>Wahai manusia, makanlah apa yang halal dan suci, yang ada di bumi ini..</em>” (QS. Al-Baqarah: 168)</p>
<p>Dan Allah<em> Subhanahu wa Ta’ala</em> menegaskannya di ayat yang lain,</p>
<p class="arab">وَقَدْ فَصَّلَ لَكُمْ مَا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلَّا مَا اضْطُرِرْتُمْ إِلَيْهِ</p>
<p>“<em>Dan Allah telah merinci apa saja yang Allah haramkan untuk kalian, kecuali jika kalian terpaksa…</em>” (QS. Al-An’am: 119)</p>
<p>Allah tidak menjelaskan tentang haramnya kura-kura. Oleh karena itu, semua hewan ini hukumnya halal.</p>
<p>Ini merupakan pendapat ulama Madinah dan mayoritas ulama lainnya. Ada juga ulama yang berpendapat boleh memakan daging kura-kura laut, bukan kura-kura darat. Serta ada juga ulama yang mengharamkannya secara mutlak.</p>
<p><strong>Catatan</strong><br />
Penyu termasuk kategori binatang terancam punah dan dilindungi oleh undang-undang international (IUCN -CITES) dan undang-undang Nasional, berdasarkan UU no 5 tahun 1990 tentang tentang Konservasi Sumber Daya Hayati dan Peraturan Pemerintah no.7 tahun 1999 tentang Pengawetan jenis Tumbuhan dan Satwa.<br />
karena itu, setiap muslim wajib turut menjaga dan melestarikannya. </p>
<p><em>Allahu a’lam</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a href="http://konsultasisyariah.com/" rel="nofollow" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/hukum-memakan-daging-dan-telur-penyu" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/hukum-memakan-daging-dan-telur-penyu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Halalkah Memakan Kalong (Kelelawar)?</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/makan-kekelawar/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/makan-kekelawar/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Nov 2011 06:20:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Makanan]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=8863</guid>
		<description><![CDATA[Halalkah Memakan Kalong (Kelelawar)? Pertanyaan: Assalamu&#8217;alaikum Saya seorang yang sangat hobi sekali berburu dengan menggunakan senapan angin. Untuk menyalurkan hobi saya itu, seringkali saya berburu kelelawar dan lutung. Karena setahu saya kedua jenis binatang tersebut bukan pemakan daging dan bukan ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2>Halalkah Memakan Kalong (Kelelawar)?</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Assalamu&#8217;alaikum<br />
Saya seorang yang sangat hobi sekali berburu dengan menggunakan senapan angin. Untuk menyalurkan hobi saya itu, seringkali saya berburu <strong>kelelawar</strong> dan lutung. Karena setahu saya kedua jenis binatang tersebut bukan pemakan daging dan bukan pula binatang buas, halalkah daging buruan saya itu?<br />
<em>Jazakumullah khairan</em> atas jawaban ustadz.</p>
<p>Dari: Rachmat<br />
<span id="more-8863"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa&#8217;alaikumussalam,</em></p>
<h3>Hukum Makan Kelelawar</h3>
<p>Ulama berselisih pendapat tentang hukum memakan <u>kelelawar</u>. Ada tiga pendapat utama dalam hal ini:</p>
<ol>
<li> Madzhab Syafi&#8217;i dan Hambali mengharamkan memakan kelelawar.</li>
<li>Madzhab Maliki menyatakan hukumnya makruh dan tidak sampai haram, namun bukan sesuatu yang mubah untuk dikonsumsi.</li>
<li>Sementara para ulama dari Madzhab Hanafi berselisih pendapat, ada yang menyatakan halal dan ada yang berpendapat tidak halal.</li>
</ol>
<p>Imam Ibnu Qudamah dalam <em>Al-Mughni</em> menukil keterangan ulama sebelumnya, An-Nakha&#8217;i mengatakan, &#8220;Semua burung halal, kecuali kelelawar&#8230; hewan ini haram karena menjijikkan, bukan termasuk hewan yang <em>thayib</em> menurut masyarakat Arab, dan merekapun tidak memakannya.&#8221;</p>
<p>Sementara Imam An-Nawawi dalam <em>Al-Majmu&#8217; Syarh Muhadzab</em> menyatakan, “Kelelawar haram, sementara Ar-Rafi&#8217;i mengatakan, &#8216;Sebenarnya terdapat perbedaan dalam hal ini&#8217;.”<br />
Demikian kesimpulan dari <em>Fatawa Syabakah Islamiyah</em>, no.103303</p>
<p><em>InsyaAllah,</em> pendapat ulama yang menganggap tidak halalnya kelelawar lebih mendekati kebenaran. Di antara dalil yang menguatkan haramnya kelelawar keterangan sahabat, Abdullah bin Amr <em>radhiallahu&#8217;anhuma</em>, bahwa beliau mengatakan,</p>
<p class="arab">لا تقتلوا الضفادع فإن نقيقها تسبيح ولا تقتلوا الخفاش فإنه لما خرب بيت المقدس قال يا رب سلطني على البحر حتى أغرقهم</p>
<p><em>“Janganlah kalian membunuh katak, karena suaranya adalah tasbih. Janganlah membunuh kelelawar, karena ketika baitul Maqdis dirobohkan, dia berdoa, &#8216;Ya Allah, berikanlah aku kekuasaan untuk mengatur lautan, sehingga aku bisa menenggelamkan mereka (orang yang merobohkan baitul maqdis)&#8217;.”</em> (Riwayat Al-Baihaqi, no. 19166. Al-baihaqi mengatakan, Keterangan ini <em>mauquf</em> (keterangan sahabat), dan sanadnya sahih).</p>
<p>Setelah menyebutkan hadis tersebut, Imam Al-Baihaqi menyatakan,</p>
<p class="arab">والذي نهى عن قتله يحرم أكله إذ لو كان حلالا لأمر بذبحه ولما نهى عنه كما لم ينه عن قتل ما يحل ذبحه وأكله والله أعلم</p>
<p>“Binatang yang dilarang untuk dibunuh haram untuk dimakan. Karena jika hewan itu halal, tentunya akan diperintahkan untuk disembelih dan tidak dilarang untuk dibunuh, sebagaimana binatang lainnya yang halal dikonsumsi. <em>Allahu a&#8217;lam</em>” (Sunan Baihaqi, keterangan riwayat no. 19166).</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a href="http://www.KonsulatasiSyariah.com" rel="nofollow" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a href="http://www.KonsulatasiSyariah.com" rel="nofollow" target="_blank">www.KonsulatasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Materi terkait:</p>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/hukum-daging-tupai" rel="nofollow" target="_blank">Hukum Makan Tupai</a>.</p>
<p>2. <a href="http://konsultasisyariah.com/hukum-makan-kepiting" rel="nofollow" target="_blank">Hukum Makan Kepiting</a>.</p>
<p>3. <a href="http://konsultasisyariah.com/bolehkah-memelihara-hamster" rel="nofollow" target="_blank">Hukum Memelihara Hamster</a>.</p>
<p>4. <a href="http://konsultasisyariah.com/jual-beli-kopi-luwak" rel="nofollow" target="_blank">Jual Beli Kopi Luwak</a>.</p>
<p>5. <a rel="nofollow" href="../usaha-jual-beli-ternak-landak" target="_blank">Jual Beli Landak</a>.</p>
<p>Keyword: kelelawar, obat kelelawar.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/makan-kekelawar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seputar ASI dan Bank ASI</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/seputar-asi-dan-bank-asi/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/seputar-asi-dan-bank-asi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Oct 2011 06:01:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[Makanan]]></category>
		<category><![CDATA[Pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[asi]]></category>
		<category><![CDATA[asi exklusif]]></category>
		<category><![CDATA[bank asi]]></category>
		<category><![CDATA[minum asi]]></category>
		<category><![CDATA[suami minum ASI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7906</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan seputar ASI dan Bank ASI: Assalamu&#8217;alaikum ustadz. Dalam darah Istri saya yang sedang hamil terdeteksi adanya virus HTLV-1. Virus ini dapat menular melalui ASI. pertanyaannya, apakah istri tetap harus menunaikan kewajiban memberi ASI atau boleh dengan susu formula? bagaimana ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2>Pertanyaan seputar ASI dan Bank ASI:</h2>
<p><em>Assalamu&#8217;alaikum</em> ustadz. Dalam darah Istri saya yang sedang hamil terdeteksi adanya virus HTLV-1. Virus ini dapat menular melalui <strong>ASI</strong>. pertanyaannya, apakah istri tetap harus menunaikan kewajiban memberi <strong>ASI</strong> atau boleh dengan susu formula? bagaimana juga hukum menyusukan kpd nenek bayi? lalu hukum menggunakan <strong>Bank ASI</strong>?</p>
<p><em>Abu abdullah (nmXXXXXX@yahoo.com)</em><br />
<span id="more-7906"></span></p>
<h3>Jawaban hukum seputar ASI dan Bank ASI:</h3>
<p><em>Wa alaikumus salam</em></p>
<p>1. Jika bisa dipastikan virus itu membahayakan anak Anda maka Ibu boleh untuk tidak memberi ASI anaknya. Selanjutnya bisa diganti dengan susu formula.</p>
<p>2. Tentang Bank <a href="http://konsultasisyariah.com/apa-hukum-suami-meminum-susu-isteri" target="_blank" rel="nofollow">ASI</a><br />
Dalam situs <em>islamqa.com</em>, terdapat pertanyaan tentang hukum <u>Bank ASI</u>. Kemudian Syaikh Shaleh Munajed menukil jawaban Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin <em>rahimahullah</em>,</p>
<p>&#8220;Haram. Tidak boleh membuat bank dengan bentuk penampungan semacam ini. Selama susu yang ditampung adalah susu manusia. Karena akan bercampur semua susu wanita, sehingga tidak diketahui siapakah ibu susuannya. Sementara syariat islam menjadikan hubungan susuan sebagaimana hubungan nasab. Adapun jika yang sitampung adalah susu selain manusia, maka tidak jadi masalah.<br />
Allahu a&#8217;lam.&#8221; (<em>www.islam-qa.com</em>)</p>
<p><em>Majma&#8217; Fiqh Islam</em>, Majlis penelitian di bawah koordinasi <strong>OKI</strong> dalam Mukatamar Islam yang diadakan di Jeddah pada tanggal 22 – 28 Desember 1985 membuat keputusan;</p>
<blockquote><p><em>&#8220;Setelah dipaparkan penjelasan secara fikih dan penjelasan secara ilmu kedokteran tentang Bank ASI, dan setelah mempelajari pemaparan dari masing-masing bidang disiplin ilmu, dan diskusi yang melibatkan berbagai sudut pandang, maka disimpulkan bahwa:</em><br />
<em> Bank ASI telah diuji cobakan di masyarakat barat. Namun muncul beberapa hal negatif, dari sisi teknis dan ilmiah dalam uji coba ini, sehingga mengalami penyusutan dan kurang mendapatkan perhatian.</em></p>
<p><em>Syariat islam menjadikan hubungan persusuan sebagaimana hubungan nasab. Orang bisa menjadi mahram dengan persusuan sebagaimana status mahram karena hubungan nasab, dengan sepakat ulama. Kemudian, diantara tujuan syariah adalah menjaga nasab. Sementara Bank ASI menyebabkan tercampurnya nasab atau menimbulkan banyak keraguan nasab.</em><br />
<em> </em></p>
<p><em>Interaksi sosial di masyarakat islam masih memungkinkan untuk mempersusukan anak kepada wanita lain secara alami. Keadaan ini menunjukkan tidak perlunya Bank ASI.&#8221;</em></p></blockquote>
<p><strong>Berdasarkan kesimpulan di atas maka diputuskan:</strong></p>
<ol>
<li>Terlarangnya mengadakan Bank ASI untuk para wanita di tengah masyarakat islam.</li>
<li>Haramnya menyusukan anak di <strong>Bank ASI</strong>.</li>
</ol>
<p>Teks dalam bahasa arab ada <a href="http://www.saaid.net/Doat/Zugail/index.htm" rel="nofollow" target="_blank"><strong>di sini</strong></a></p>
<p><strong>Dijawab oleh <a href="http://www.konsultasisyariah.com/" rel="nofollow">Ustadz Ammi Nur Baits</a> (Dewan Pembina <a href="http://www.konsultasisyariah.com/" rel="nofollow">Konsultasi Syariah</a>)</strong></p>
<p><strong>Artikel <a href="http://www.konsultasisyariah.com/" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Artikel penting dalam rumah tangga: <a href="http://konsultasisyariah.com/apa-hukum-suami-meminum-susu-isteri" target="_blank" rel="nofollow">Hukum Suami Meminum ASI.</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/seputar-asi-dan-bank-asi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Makan Kepiting</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/hukum-makan-kepiting/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/hukum-makan-kepiting/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Oct 2011 07:14:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[Makanan]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[hukum kepiting]]></category>
		<category><![CDATA[ikan laut]]></category>
		<category><![CDATA[makan kepiting]]></category>
		<category><![CDATA[makhluk laut]]></category>
		<category><![CDATA[masak kepiting]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7881</guid>
		<description><![CDATA[Makan kepiting haram atau halal ? Pertanyaan, &#8220;Apa hukumnya makan kepiting?&#8221; Abdillah (bembXXXXXX@gmail.com) Makan Kepiting Alhamdulillah was shalatu was salamu &#8216;ala Rasulillah, wa ba&#8217;du.. Hukum asal semua binatang laut adalah halal. Sebagaimana firman Allah, أُحِلَّ لَكُمْ صَيْدُ الْبَحْرِ وَطَعَامُهُ مَتَاعًا ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2>Makan kepiting haram atau halal ?</h2>
<p>Pertanyaan, &#8220;Apa hukumnya <strong>makan kepiting</strong>?&#8221;</p>
<p><em>Abdillah (bembXXXXXX@gmail.com)</em><br />
<span id="more-7881"></span></p>
<h3>Makan Kepiting</h3>
<p><em>Alhamdulillah was shalatu was salamu &#8216;ala Rasulillah, wa ba&#8217;du..</em><br />
Hukum asal semua binatang laut adalah halal. Sebagaimana firman Allah,</p>
<p class="arab">أُحِلَّ لَكُمْ صَيْدُ الْبَحْرِ وَطَعَامُهُ مَتَاعًا لَكُمْ وَلِلسَّيَّارَةِ</p>
<p><em>“Dihalalkan bagi kalian untuk memburu hewan laut (ketika ihram) dan bangkai hewannya, sebagai kenikmatan bagi kalian dan sebagai (bekal) bagi para musafir&#8230;”</em> (Q.s. Al-Maidah: 96)</p>
<p>Imam Bukhari menyebutkan satu riwayat dari beberapa sahabat:<br />
Abu Bakr <em>radliallahu &#8216;anhu</em> mengatakan, “Bangkai ikan halal.” Ibn Abbas mengatakan: “Yang dimaksud kata &#8216;<strong><em>tha&#8217;amuhu</em></strong>&#8216; = bangkainya, kecuali yang kotor.” Syuraih – salah seorang sahabat – mengatakan, “Segala sesuatu yang di laut, (jika mati) sudah (dianggap) disembelih.” (<em>Shahih Bukhari</em>, 5/2091)</p>
<p>Dalil lain adalah sabda Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> ketika ditanya tentang hukum wudhu dengan air laut, beliau menjawab,</p>
<p class="arab">هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ</p>
<p><em>“Laut itu suci airnya dan halal bangkainya.”</em> (H.r. Turmudzi 69, Abu Daud 83 dan dishahihkan Al-Albani dalam <em>Al-Irwa&#8217;</em>, 1/42)</p>
<p>Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> juga bersabda, “<em>Apa yang Allah halalkan dalam kitab-Nya maka itu halal, dan apa yang Dia haramkan maka itu haram. Adapun benda yang didiamkan (tidak dijelaskan hukumnya) maka itu adalah ampunan, karena itu terimalah ampunan dari Allah. Karena Allah tidak lupa.” </em>(H.r. Baihaqi 20216 dan dishahihkan Al-Albani dalam As-Shahihah 2256)</p>
<p>Berdasarkan keterangan di atas maka makan udang, <a href="http://konsultasisyariah.com/apa-hukum-kepiting" target="_blank" rel="nofollow">kepiting</a>, semuanya adalah halal dan tidak ada halangan, berdasarkan keumuman dalil yang menunjukkan bolehkan makan hewan buruan laut. Namun jika hewannya beracun atau bisa membahayakan bagi orang yang mengkonsumsinya maka hukumnya haram, karena makan hewan ini berbahaya bukan karena haram zatnya.</p>
<p><strong>Referensi:</strong> <em>http://www.islamqa.com/ar/ref/126343</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">Ustadz Ammi Nur Baits</a> (Dewan Pembina<a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com"> Konsultasi Syariah</a>)</strong></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Artikel terkait: <a href="http://konsultasisyariah.com/apa-hukum-kepiting" target="_blank" rel="nofollow">Apa Hukum <em>Makan Kepiting</em>?</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/hukum-makan-kepiting/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pakan Lele dengan Ayam Tiren</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/pakan-lele-dengan-ayam-tiren/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/pakan-lele-dengan-ayam-tiren/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Sep 2011 01:43:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Makanan]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7547</guid>
		<description><![CDATA[Pakan lele dengan ayam tiren Assalamu &#8216;alaykum, Ustadz. Saya mau tanya tentang hukum memberi pakan lele (pembibitan) dengan ayam tiren (ayam yang sudah mati). Nurkhasin (gendow**@***.com) Jawaban pakan lele dengan ayam tiren: Wa&#8217;alaikumussalam. 1. Disebutkan dalam riwayat bahwa ketika Nabi ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2>Pakan lele dengan ayam tiren</h2>
<p><em>Assalamu &#8216;alaykum</em>, Ustadz. Saya mau tanya tentang hukum memberi <strong>pakan lele</strong> (pembibitan) dengan ayam tiren (ayam yang sudah mati).</p>
<h3><em>Nurkhasin (gendow**@***.com)</em><br />
<span id="more-7547"></span><br />
Jawaban pakan lele dengan ayam tiren<strong>:</strong></h3>
<p><em>Wa&#8217;alaikumussalam.</em></p>
<p>1. Disebutkan dalam riwayat bahwa ketika Nabi<em> shallallaahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berangkat menuju perang Tabuk bersama para sahabat, beliau dan rombongan melewati sebuah lembah yang bernama Al-Hijr. Lembah ini dahulunya adalah daerah tempat tinggal kaum Tsamud, kaum Nabi Shaleh. Kaum ini dihancurkan Allah karena kekufurannya. Ketika melewati tempat tersebut, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> melarang para sahabat untuk mengambil air di lembah tersebut, baik untuk wudhu maupun untuk diminum. Namun, sudah ada sebagian sahabat yang mengambil air tersebut dan dipakai untuk mengencerkan adonan. Kemudian, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> memerintahkan agar adonan tersebut diberikan kepada unta. Kisah ini ada di buku <em>Ar-Rahiqum Makhtum</em> (Sirah Nabawi) karya Syekh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri.</p>
<p>Dari kisah ini bisa diambil kesimpulan bahwa makanan yang haram bagi manusia, boleh diberikan kepada binatang. Dengan demikian, darah yang haram tersebut boleh diberikan kepada lele.</p>
<p>2. Hewan yang makan bangkai, kotoran, atau benda najis <a href="http://konsultasisyariah.com/makanan-yang-telah-tersentuh-cicak" target="_blank" rel="nofollow">lainnya</a>.</p>
<p>Hewan yang diberi makan dengan kotoran, bangkai, darah, dan semacamnya disebut &#8220;<em>jalalah</em>&#8220;. Hewan &#8220;<em>jalalah</em>&#8221; itu haram dimakan, berdasarkan hadis dari Ibnu Umar, bahwa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> melarang makan daging hewan<em> jalalah</em>. (Hr. Abu Daud dan yang lainnya; dinilai <em>sahih</em> oleh Al-Albani)</p>
<p>Status keharaman <em>jalalah</em> tidak permanen. Jalalah bisa menjadi halal jika dikarantina dan diberi makanan yang baik, selama beberapa hari, sampai kira-kira pengaruh makanan yang kotor dalam diri hewan tersebut berkurang atau hilang. Ibnu Umar mengarantina ayam jalalah (ayam yang makan kotoran) selama 3 hari, kemudian beliau menyembelihnya. (<em>Tuhfatul Ahwadzi</em>, 5:447)</p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Ustadz Ammi Nur Baits</a> (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>).</strong></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/pakan-lele-dengan-ayam-tiren/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kadar Zakat Fitrah</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/kadar-zakat-fitrah/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/kadar-zakat-fitrah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Aug 2011 03:30:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Makanan]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[RAMADHAN]]></category>
		<category><![CDATA[Zakat]]></category>
		<category><![CDATA["zakat fitrah"]]></category>
		<category><![CDATA[kadar zakat]]></category>
		<category><![CDATA[picture]]></category>
		<category><![CDATA[sedekah]]></category>
		<category><![CDATA[uang zakat]]></category>
		<category><![CDATA[zakat fitri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7069</guid>
		<description><![CDATA[Kadar zakat fitrah per orang Assalamu &#8216;alaikum. Saya ingin menanyakan berapa kilogram beras untuk kadar zakat fitrah per orangnya? Kalau dalam hitungan liter, berapa? Wassalamu &#8216;alaikum. Bambang Aries Wahyudi (bambang**@yahoo.***) Jawaban: Wa&#8217;alaikumussalam. Dari Abdullah bin Umar radhiallahu &#8216;anhu; beliau mengatakan, ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2>Kadar zakat fitrah per orang<strong><br />
</strong></h2>
<p><em>Assalamu &#8216;alaikum</em>. Saya ingin menanyakan berapa kilogram beras untuk <strong>kadar zakat</strong> fitrah per orangnya? Kalau dalam hitungan liter, berapa? <em>Wassalamu &#8216;alaikum</em>.</p>
<p><em>Bambang Aries Wahyudi (bambang**@yahoo.***)</em><br />
<span id="more-7069"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa&#8217;alaikumussalam.</em></p>
<p>Dari Abdullah bin Umar <em>radhiallahu &#8216;anhu</em>; beliau mengatakan, “<em>Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitri, berupa satu sha’ kurma kering atau gandum kering &#8230;.</em>” (H.r. Al-Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Dalam hadis ini, disebutkan secara tegas bahwa <span style="text-decoration: underline;">kadar zakat</span> fitri adalah satu <em>sha’</em>.</p>
<p><strong>Apa itu <em>sha’</em>?</strong></p>
<p><em>Sha’</em> adalah ukuran takaran bukan timbangan. Ukuran takaran “<em>sha’</em>” yang berlaku di zaman Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> adalah ukuran takaran masyarakat Madinah. Besarnya adalah empat <em>mud</em>. Satu <em>mud</em> adalah besar cakupan penuh dua telapak tangan ukuran normal yang digabungkan. Dengan demikian, satu sha’ adalah empat kali cakupan penuh dua telapak tangan ukuran normal yang digabungkan.</p>
<p>Mengingat <em>sha’</em> adalah ukuran <strong>takaran</strong> maka umumnya ukuran ini sulit untuk disetarakan (dikonversi) ke dalam ukuran berat karena nilai berat satu <em>sha’</em> itu berbeda-beda tergantung benda yang ditakar. Satu <em>sha’</em> tepung memiliki berat yang tidaklah sama dengan berat satu <em>sha’</em> beras. Oleh karena itu, yang ideal, ukuran zakat fitri itu berdasarkan takaran bukan berdasarkan timbangan.</p>
<p>Namun, alhamdulillah, melalui kajian para ulama, Allah memudahkan kita untuk masalah ini. Para ulama (<em>Lajnah Daimah</em>, no. fatwa: 12572) telah melakukan penelitian bahwa satu <em>sha’</em> untuk beras dan gandum beratnya kurang lebih 3 kg.</p>
<h3>Ringkasan kadar zakat:</h3>
<ul>
<li>1 <em>sha&#8217;</em> = 4 <em>mud</em></li>
<li><em></em>1 <em>mud</em> = cakupan penuh dua telapak tangan ukuran normal yang digabungkan</li>
<li>1 <em>sha&#8217;</em> = 4 kali cakupan penuh dua telapak tangan ukuran normal yang digabungkan</li>
<li>1 <em>sha&#8217;</em> beras kurang lebih setara dengan 3 kg beras.</li>
<li>1 <em>sha&#8217;</em> gandum kurang lebih setara dengan 3 kg gandum.</li>
</ul>
<p><em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank" rel="nofollow">Konsultasi Syariah</a>).</strong><br />
<strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p><strong>Penjelasan yang memudahkan Anda</strong>: <a title="Zakat Fitrah dengan Uang, Bolehkah?" href="http://konsultasisyariah.com/zakat-fitrah-dengan-uang" target="_blank" rel="nofollow"><em>Kadar zakat</em></a> fitri, <a title="Doa Zakat Fitrah" href="http://konsultasisyariah.com/doa-zakat-fitrah" target="_blank" rel="nofollow">kadar zakat</a> fitrah, cara mudah menghitung kadar zakat fitri, dst.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/kadar-zakat-fitrah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Zakat Fitrah dengan Uang, Bolehkah?</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/zakat-fitrah-dengan-uang/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/zakat-fitrah-dengan-uang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Aug 2011 07:53:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[AKHLAK]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[Makanan]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[RAMADHAN]]></category>
		<category><![CDATA[Zakat]]></category>
		<category><![CDATA["zakat fitrah"]]></category>
		<category><![CDATA[kadar zakat]]></category>
		<category><![CDATA[picture]]></category>
		<category><![CDATA[sedekah]]></category>
		<category><![CDATA[uang zakat]]></category>
		<category><![CDATA[zakat fitri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7001</guid>
		<description><![CDATA[Mengganti zakat fitrah (zakat fitri) dengan uang Assalamu &#8216;alaikum. Ustadz, bagaimana jika saya membayar zakat fitrah dengan uang, bukan dengan makanan pokok? Apakah hal ini diperbolehkan dalam Islam? Jazakallahu khairan. Jawaban: Wa&#8217;alaikumussalam. Masalah ini termasuk kajian yang banyak menjadi tema ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2>Mengganti zakat fitrah (zakat fitri) dengan uang</h2>
<p><em>Assalamu &#8216;alaikum</em>. Ustadz, bagaimana jika saya membayar <strong>zakat fitrah</strong> dengan uang, bukan dengan makanan pokok? Apakah hal ini diperbolehkan dalam Islam? <em>Jazakallahu khairan</em>.</p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa&#8217;alaikumussalam.</em></p>
<p>Masalah ini termasuk kajian yang banyak menjadi tema pembahasan di beberapa kalangan dan kelompok yang memiliki semangat dalam dunia Islam. Tak heran, jika kemudian pembahasan ini meninggalkan perbedaan pendapat.</p>
<p>Sebagian melarang pembayaran zakat <span style="text-decoration: underline;">fitrah dengan uang</span> secara mutlak, sebagian memperbolehkan <u>zakat fitrah</u> dengan uang tetapi dengan bersyarat, dan sebagian lain memperbolehkan<strong> zakat fitrah </strong>dengan uang tanpa syarat. Yang menjadi masalah adalah sikap yang dilakukan orang awam. Umumnya, pemilihan pendapat yang paling kuat menurut mereka, lebih banyak didasari logika sederhana dan jauh dari ketundukan terhadap dalil. Jauhnya seseorang dari ilmu agama menyebabkan dirinya begitu mudah mengambil keputusan dalam peribadahan yang mereka lakukan. Seringnya, orang terjerumus ke dalam <em>qiyas</em> (analogi), padahal sudah ada dalil yang tegas.</p>
<p>Uraian ini bukanlah dalam rangka menghakimi dan memberi kata putus untuk perselisihan pendapat tersebut. Namun, ulasan ini tidak lebih dari sebatas bentuk upaya untuk mewujudkan penjagaan terhadap sunah Nabi dan dalam rangka menerapkan firman Allah, yang artinya, “<em>Jika kalian berselisih pendapat dalam masalah apa pun maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul, jika kalian adalah orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir</em>.” (Q.s. An-Nisa’:59)</p>
<p>Allah menegaskan bahwa siapa saja yang mengaku beriman kepada Allah dan hari kiamat, maka setiap ada masalah, dia wajib mengembalikan permasalahan tersebut kepada Alquran dan <em>As-Sunnah</em>. Siapa saja yang tidak bersikap demikian, berarti ada masalah terhadap imannya kepada Allah dan hari akhir.</p>
<p>Pada penjelasan ini, terlebih dahulu akan disebutkan perselisihan pendapat ulama, kemudian di-<em>tarjih</em> (dipilihnya pendapat yang lebih kuat). Pada kesempatan ini, Penulis akan lebih banyak mengambil faidah dari risalah <em>Ahkam Zakat Fitri</em>, karya Nida’ Abu Ahmad.</p>
<h3>Perselisihan ulama &#8220;zakat fitrah dengan uang&#8221;<strong><br />
</strong></h3>
<p>Terdapat dua pendapat ulama dalam masalah ini (zakat fitrah dengan uang). Pendapat pertama, memperbolehkan pembayaran zakat fitri (zakat fitrah) menggunakan mata uang. Pendapat kedua, melarang pembayaran zakat fitri menggunakan mata uang. Permasalahannya kembali kepada status zakat fitri. <strong>Apakah status <a title="Zakat Fitrah vs Zakat Fitri" href="http://konsultasisyariah.com/istilah-zakat-fitrah-dan-zakat-fitri" target="_blank" rel="nofollow">zakat fitri</a> (zakat fitrah) itu sebagaimana zakat harta ataukah statusnya sebagai zakat badan?</strong></p>
<p>Jika statusnya sebagaimana zakat harta maka prosedur pembayarannya sebagaimana zakat harta perdagangan. Pembayaran zakat perdagangan tidak menggunakan benda yang diperdagangkan, namun menggunakan uang yang senilai dengan zakat yang dibayarkan. Sebagaimana juga zakat emas dan perak, pembayarannya tidak harus menggunakan emas atau perak, namun boleh menggunakan mata uang yang senilai.</p>
<p>Sebaliknya, jika status zakat fitri (zakat fitrah) ini sebagaimana zakat badan maka prosedur pembayarannya mengikuti prosedur pembayaran kafarah untuk semua jenis pelanggaran. Penyebab adanya kafarah ini adalah adanya pelanggaran yang dilakukan oleh badan, bukan kewajiban karena harta. Pembayaran kafarah harus menggunakan sesuatu yang telah ditetapkan, dan tidak boleh menggunakan selain yang ditetapkan.</p>
<p>Jika seseorang membayar kafarah dengan selain ketentuan yang ditetapkan maka kewajibannya untuk membayar kafarah belum gugur dan harus diulangi. Misalnya, seseorang melakukan pelanggaran berupa hubungan suami-istri di siang hari bulan Ramadan, tanpa alasan yang dibenarkan. Kafarah untuk pelanggaran ini adalah membebaskan budak, atau puasa dua bulan berturut-turut, atau memberi makan 60 orang fakir miskin, dengan urutan sebagaimana yang disebutkan. Seseorang tidak boleh membayar kafarah dengan menyedekahkan uang seharga budak, jika dia tidak menemukan budak. Demikian pula, dia tidak boleh berpuasa tiga bulan namun putus-putus (tidak berturut-turut). Juga, tidak boleh memberi uang Rp. 5.000 kepada 60 fakir miskin. Mengapa demikian? Karena kafarah harus dibayarkan persis sebagaimana yang ditetapkan.</p>
<h3>Di manakah posisi zakat fitri (zakat fitrah)?</h3>
<p>Sebagaimana yang dijelaskan Syekhul Islam Ibnu Taimiyah, pendapat yang lebih tepat dalam masalah ini adalah bahwasanya zakat fitri (zakat fitrah) itu mengikuti prosedur kafarah <strong>karena zakat fitri (zakat fitrah) adalah zakat badan, bukan zakat harta</strong>. Di antara dalil yang menunjukkan bahwa zakat fitri adalah zakat badan &#8211;bukan zakat harta&#8211; adalah pernyataan Ibnu Abbas dan Ibnu Umar <em>radhiallahu ‘anhuma</em> tentang zakat fitri.</p>
<p>Ibnu Umar <em>radhiallahu ‘anhu</em> mengatakan, “<em>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitri, &#8230; bagi kaum muslimin, budak maupun orang merdeka, laki-laki maupun wanita, anak kecil maupun orang dewasa &#8230;.</em>” (H.r. Al-Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Ibnu Abbas <em>radhiallahu ‘anhu</em> mengatakan, <em>“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitri (zakat fitrah), sebagai penyuci orang yang berpuasa dari perbuatan yang menggugurkan pahala puasa dan perbuatan atau ucapan jorok &#8230;.”</em>(H.r. Abu Daud; dinilai<em> hasan</em> oleh Syekh Al-Albani)</p>
<p>Dua riwayat ini menunjukkan bahwasanya zakat fitri berstatus sebagai zakat badan, bukan zakat harta. Berikut ini adalah beberapa alasannya:</p>
<ol>
<li>Adanya kewajiban zakat bagi anak-anak, budak, dan wanita. Padahal, mereka adalah orang-orang yang umumnya tidak memiliki harta. Terutama budak; seluruh jasad dan hartanya adalah milik tuannya. Jika zakat fitri merupakan kewajiban karena harta maka tidak mungkin orang yang sama sekali tidak memiliki harta diwajibkan untuk dikeluarkan zakatnya.</li>
<li>Salah satu fungsi zakat adalah penyuci orang yang berpuasa dari perbuatan yang menggugurkan pahala puasa serta perbuatan atau ucapan jorok. Fungsi ini menunjukkan bahwa zakat fitri berstatus sebagaimana kafarah untuk kekurangan puasa seseorang.</li>
</ol>
<h3>Apa konsekuensi hukum jika zakat fitri (zakat fitrah) berstatus sebagaimana kafarah?</h3>
<p>Ada dua konsekuensi hukum ketika status zakat fitri itu sebagaimana kafarah:</p>
<ol>
<li>Harus dibayarkan dengan sesuatu yang telah ditetapkan yaitu bahan makanan.</li>
<li>Harus diberikan kepada orang yang membutuhkan untuk menutupi hajat hidup mereka, yaitu fakir miskin. Dengan demikian, zakat fitri tidak boleh diberikan kepada amil, mualaf, budak, masjid, dan golongan lainnya. (lihat <em>Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam</em>, 25:73)</li>
</ol>
<p>Sebagai tambahan wacana, berikut ini kami sebutkan perselisihan ulama dalam masalah ini.</p>
<p><strong>Pendapat yang membolehkan pembayaran zakat fitri dengan uang</strong></p>
<p>Ulama yang berpendapat demikian adalah Umar bin Abdul Aziz, Al-Hasan Al-Bashri, Atha’, Ats-Tsauri, dan Abu Hanifah.</p>
<p>Diriwayatkan dari Al-Hasan Al-Bashri, bahwa beliau mengatakan, “Tidak mengapa memberikan zakat fitri dengan dirham.”</p>
<p>Diriwayatkan dari Abu Ishaq; beliau mengatakan, “Aku menjumpai mereka (Al-Hasan dan Umar bin Abdul Aziz) sementara mereka sedang menunaikan zakat Ramadan (zakat fitri) dengan beberapa dirham yang senilai bahan makanan.”</p>
<p>Diriwayatkan dari Atha’ bin Abi Rabah, bahwa beliau menunaikan zakat fitri dengan <em>waraq</em> (dirham dari perak).</p>
<h4>Pendapat yang melarang pembayaran zakat fitri (zakat fitrah) dengan uang</h4>
<p>Pendapat ini merupakan pendapat yang dipilih oleh mayoritas ulama. Mereka mewajibkan pembayaran zakat fitri menggunakan bahan makanan dan melarang membayar zakat dengan mata uang. Di antara ulama yang berpegang pada pendapat ini adalah Imam Malik, Imam Asy-Syafi’i, dan Imam Ahmad. Bahkan, Imam Malik dan Imam Ahmad secara tegas menganggap tidak sah jika membayar zakat fitri mengunakan mata uang. Berikut ini nukilan perkataan mereka.</p>
<p><strong>Perkataan Imam Malik</strong></p>
<p>Imam Malik mengatakan, “Tidak sah jika seseorang membayar zakat fitri dengan mata uang apa pun. Tidak demikian yang diperintahkan Nabi.” (<em>Al-Mudawwanah Syahnun</em>)</p>
<p>Imam Malik juga mengatakan, “Wajib menunaikan zakat fitri senilai satu <em>sha’</em> bahan makanan yang umum di negeri tersebut pada tahun itu (tahun pembayaran zakat fitri).” (<em>Ad-Din Al-Khash</em>)</p>
<p><strong>Perkataan Imam Asy-Syafi’i</strong></p>
<p>Imam Asy-Syafi’i mengatakan, “Penunaian zakat fitri wajib dalam bentuk satu <em>sha’</em> dari umumnya bahan makanan di negeri tersebut pada tahun tersebut.” (<em>Ad-Din Al-Khash</em>)</p>
<p><strong>Perkataan Imam Ahmad</strong></p>
<p>Al-Khiraqi mengatakan, “Siapa saja yang menunaikan zakat menggunakan mata uang maka zakatnya tidak sah.” (<em>Al-Mughni</em>, Ibnu Qudamah)</p>
<p>Abu Daud mengatakan, “Imam Ahmad ditanya tentang pembayaran zakat mengunakan dirham. Beliau menjawab, “Aku khawatir zakatnya tidak diterima karena menyelisihi sunah Rasulullah.” (<em>Masail Abdullah bin Imam Ahmad</em>; dinukil dalam Al-Mughni, 2:671)</p>
<p>Dari Abu Thalib, bahwasanya Imam Ahmad kepadaku, “Tidak boleh memberikan zakat fitri dengan nilai mata uang.” Kemudian ada orang yang berkomentar kepada Imam Ahmad, “Ada beberapa orang yang mengatakan bahwa Umar bin Abdul Aziz membayar zakat menggunakan mata uang.” Imam Ahmad marah dengan mengatakan, “Mereka meninggalkan hadis Nabi dan berpendapat dengan perkataan Fulan. Padahal Abdullah bin Umar mengatakan, &#8216;Rasulullah mewajibkan zakat fitri satu <em>sha’</em> kurma atau satu <em>sha’</em> gandum.&#8217; Allah juga berfirman, &#8216;<em>Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul</em>.&#8217; Ada beberapa orang yang menolak sunah dan mengatakan, &#8216;Fulan ini berkata demikian, Fulan itu berkata demikian.” (<em>Al-Mughni</em>, Ibnu Qudamah, 2:671)</p>
<p>Zahir mazhab Imam Ahmad, beliau berpendapat bahwa pembayaran zakat fitri dengan nilai mata uang itu tidak sah.</p>
<p>Beberapa perkataan ulama lain:</p>
<ul>
<li>Syekhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Allah mewajibkan pembayaran zakat fitri dengan bahan makanan sebagaimana Allah mewajibkan pembayaran kafarah  dengan bahan makanan.” (<em>Majmu’ Fatawa</em>)</li>
<li>Taqiyuddin Al-Husaini Asy-Syafi’i, penulis kitab Kifayatul Akhyar (kitab fikih Mazhab Syafi’i) mengatakan, “Syarat sah pembayaran zakat fitri harus berupa biji (bahan makanan); tidak sah menggunakan mata uang, tanpa ada perselisihan dalam masalah ini.” (<em>Kifayatul Akhyar</em>, 1:195)</li>
<li>An-Nawawi mengatakan, “Ishaq dan Abu Tsaur berpendapat bahwa tidak boleh membayar zakat fitri menggunakan uang kecuali dalam keadaan darurat.” (<em>Al-Majmu’</em>)</li>
<li>An-Nawawi mengatakan, “Tidak sah membayar zakat fitri dengan mata uang menurut mazhab kami. Pendapat ini juga yang dipilih oleh Malik, Ahmad, dan Ibnul Mundzir.” (<em>Al-Majmu’</em>)</li>
<li>Asy-Syairazi Asy-Syafi’i mengatakan, “Tidak boleh menggunakan nilai mata uang untuk zakat karena kebenaran adalah milik Allah. Allah telah mengkaitkan zakat sebagaimana yang Dia tegaskan (dalam firman-Nya), maka tidak boleh mengganti hal itu dengan selainnya. <strong>Sebagaimana berkurban, ketika Allah kaitkan hal ini dengan binatang ternak, maka tidak boleh menggantinya dengan selain binatang ternak</strong>.” (<em>Al-Majmu’</em>)</li>
<li>Ibnu Hazm mengatakan, “Tidak boleh menggunakan uang yang senilai (dengan zakat) sama sekali. Juga, tidak boleh mengeluarkan satu <em>sha’</em> campuran dari beberapa bahan makanan, sebagian gandum dan sebagian kurma. Tidak sah membayar dengan nilai mata uang sama sekali karena semua itu tidak diwajibkan (diajarkan) Rasulullah.” (<em>Al-Muhalla bi Al-Atsar</em>, 3:860)</li>
<li>Asy-Syaukani berpendapat bahwa tidak boleh menggunakan mata uang kecuali jika tidak memungkinkan membayar zakat dengan bahan makanan.” (<em>As-Sailul Jarar</em>, 2:86)</li>
</ul>
<p>Di antara ulama abad ini yang mewajibkan membayar dengan bahan makanan adalah Syekh Ibnu Baz, Syekh Ibnu Al-Utsaimin, Syekh Abu Bakr Al-Jazairi, dan yang lain. Mereka mengatakan bahwa zakat fitri tidak boleh dibayarkan dengan selain makanan dan tidak boleh menggantinya dengan mata uang, kecuali dalam keadaan darurat, karena tidak terdapat riwayat bahwa Nabi mengganti bahan makanan dengan mata uang. Bahkan tidak dinukil dari seorang pun sahabat bahwa mereka membayar zakat fitri dengan mata uang. (<em>Minhajul Muslim</em>, hlm. 251)</p>
<p><strong>Dalil-dalil masing-masing pihak</strong></p>
<p><strong>Dalil ulama yang membolehkan pembayaran zakat fitri dengan uang:</strong></p>
<ol>
<li>Dalil riwayat yang disampaikan adalah pendapat Umar bin Abdul Aziz dan Al-Hasan Al-Bashri. Sebagian ulama menegaskan bahwa mereka tidak memiliki dalil nash (Alquran, <em>al-hadits</em>, atau perkataan sahabat) dalam masalah ini.</li>
<li><em>Istihsan</em> (menganggap lebih baik). Mereka menganggap mata uang itu lebih baik dan lebih bermanfaat untuk orang miskin daripada bahan makanan.</li>
</ol>
<p><strong>Dalil dan alasan ulama yang melarang pembayaran zakat dengan mata uang:</strong></p>
<p><em><strong>Pertama</strong></em>, riwayat-riwayat yang menegaskan bahwa zakat fitri harus dengan bahan makanan.</p>
<ul>
<li>Dari Abdullah bin Umar <em>radhiallahu ‘anhu</em>; beliau mengatakan, “Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mewajibkan zakat fitri, berupa satu<em> sha’</em> kurma kering atau gandum kering &#8230;.” (H.r. Al-Bukhari dan Muslim)</li>
<li>“Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mewajibkan zakat fitri, &#8230; sebagai makanan bagi orang miskin .…” (H.r. Abu Daud; dinilai<em> hasan</em> oleh Syekh Al-Albani)</li>
<li>Dari Abu Said Al-Khudri <em>radhiallahu ‘anhu</em>; beliau mengatakan, “Dahulu, kami menunaikan zakat fitri dengan satu <em>sha</em>’ bahan makanan, satu<em> sha’</em> gandum, satu <em>sha’</em> kurma, satu <em>sha’</em> keju, atau satu <em>sha’</em> anggur kering.” (H.r. Al-Bukhari dan Muslim)</li>
<li>Abu Sa’id Al-Khudri <em>radhiallahu ‘anhu</em> mengatakan, “Dahulu, di zaman Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, kami menunaikan zakat fitri dengan satu <em>sha’</em> bahan makanan.” Kemudian Abu Sa’id mengatakan, “Dan makanan kami dulu adalah gandum, anggur kering (<em>zabib</em>), keju (<em>aqith</em>), dan kurma.” (H.r. Al-Bukhari, no. 1439)</li>
<li>Abu Hurairah <em>radhiallahu ‘anhu</em> mengatakan, “Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menugaskanku untuk menjaga zakat Ramadan (zakat fitri). Kemudian datanglah seseorang mencuri makanan, lalu aku berhasil menangkapnya &#8230;.”(H.r. Al-Bukhari, no. 2311)</li>
</ul>
<p><em><strong>Kedua</strong></em>, alasan para ulama yang melarang pembayaran zakat fitri dengan mata uang.</p>
<p><strong>1. Zakat fitri adalah ibadah yang telah ditetapkan ketentuannya.</strong></p>
<blockquote><p><em><strong>Termasuk yang telah ditetapkan dalam masalah zakat fitri adalah jenis, takaran, waktu pelaksanaan, dan tata cara pelaksanaan. Seseorang tidak boleh mengeluarkan zakat fitri selain jenis yang telah ditetapkan, sebagaimana tidak sah membayar zakat di luar waktu yang ditetapkan.</strong></em></p></blockquote>
<p>Imam Al-Haramain Al-Juwaini Asy-Syafi’i mengatakan, “Bagi mazhab kami, sandaran yang dipahami bersama dalam masalah dalil, bahwa zakat termasuk bentuk ibadah kepada Allah. Pelaksanaan semua perkara yang merupakan bentuk ibadah itu mengikuti perintah Allah.” Kemudian beliau membuat permisalan, “Andaikan ada orang yang mengatakan kepada utusannya (wakilnya), ‘Beli pakaian!’ sementara utusan ini tahu bahwa tujuan majikannya adalah berdagang, kemudian utusan ini melihat ada barang yang lebih manfaat bagi majikannya (daripada pakaian), maka sang utusan ini tidak berhak menyelisihi perintah majikannya. Meskipun dia melihat hal itu lebih bermanfaat daripada perintah majikannya . (Jika dalam masalah semacam ini saja wajib ditunaikan sebagaimana amanah yang diberikan,<em> pent.</em>) maka perkara yang Allah wajibkan melalui perintah-Nya tentu lebih layak untuk diikuti.”</p>
<p>Harta yang ada di tangan kita semuanya adalah harta Allah. Posisi manusia hanyalah sebagaimana wakil. Sementara, wakil tidak berhak untuk bertindak di luar batasan yang diperintahkan. Jika Allah memerintahkan kita untuk memberikan makanan kepada fakir miskin, namun kita selaku wakil justru memberikan selain makanan, maka sikap ini termasuk bentuk pelanggaran yang layak untuk mendapatkan hukuman. Dalam masalah ibadah, termasuk zakat, selayaknya kita kembalikan sepenuhnya kepada aturan Allah. Jangan sekali-kali melibatkan campur tangan akal dalam masalah ibadah karena kewajiban kita adalah taat sepenuhnya.</p>
<p>Oleh karena itu, membayar zakat fitri dengan uang berarti menyelisihi ajaran Allah dan Rasul-Nya. Sebagaimana telah diketahui bersama, ibadah yang ditunaikan tanpa sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya adalah ibadah yang tertolak.</p>
<p><strong>2. Di zaman Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan para sahabat <em>radhiallahu ‘anhum</em> sudah ada mata uang dinar dan dirham.</strong></p>
<p>Akan tetapi, yang Nabi praktikkan bersama para sahabat adalah pembayaran zakat fitri menggunakan bahan makanan, bukan menggunakan dinar atau dirham. Padahal beliau adalah orang yang paling memahami kebutuhan umatnya dan yang paling mengasihi fakir miskin. Bahkan, beliaulah paling berbelas kasih kepada seluruh umatnya.</p>
<p>Allah berfirman tentang beliau, yang artinya, “<em>Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri. Berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat berbelas kasi lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin</em>.” (Q.s. At-Taubah:128)</p>
<blockquote><p><em><strong>Siapakah yang lebih memahami cara untuk mewujudkan belas kasihan melebihi Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam?</strong></em></p></blockquote>
<p><strong>Disusun oleh <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Ustadz Ammi Nur Baits</a> (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>).</strong><br />
<strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/zakat-fitrah-dengan-uang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cara Membayar Fidyah</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/membayar-fidyah-dengan-uang/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/membayar-fidyah-dengan-uang/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Aug 2011 05:19:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Makanan]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[RAMADHAN]]></category>
		<category><![CDATA[fiduah. kafarah]]></category>
		<category><![CDATA[jariyah]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[sedekah]]></category>
		<category><![CDATA[uang zakat]]></category>
		<category><![CDATA[zakat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=6641</guid>
		<description><![CDATA[Cara membayar fidyah Assalaamu &#8216;alaikum warahmatullah wabarakatuh. Kalau membayar fidyah tidak boleh dengan uang, apakah membayar zakat fitrah juga tidak boleh dengan uang (harus dengan bahan makanan pokok) menurut petunjuk Rasulullah? Jazakumullahu khoiron katsiro. Herbono Utomo (herbono**@***.com) Jawaban untuk masalah ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Cara membayar fidyah</strong></h2>
<p><em>Assalaamu &#8216;alaikum warahmatullah wabarakatuh</em>. Kalau <strong>membayar fidyah</strong> tidak boleh dengan uang, apakah membayar <a title="zakat fitrah permasalahan dan solusi" href="http://konsultasisyariah.com/zakat-fitrah" target="_blank" rel="nofollow"><span style="text-decoration: underline;">zakat fitrah</span></a> juga tidak boleh dengan uang (harus dengan bahan makanan pokok) menurut petunjuk Rasulullah? <em>Jazakumullahu khoiron katsiro</em>.</p>
<h3><em>Herbono Utomo (herbono**@***.com)</em><br />
<span id="more-6641"></span><br />
<strong>Jawaban untuk masalah membayar fidyah dengan uang:<br />
</strong></h3>
<p><em>Alhamdulillah washshalatu wassalamu &#8216;ala Rasulillah.</em></p>
<p>Dalam <em>Majmu&#8217; Fatawa Ibnu Utsaimin</em> diuraikan, &#8220;Perlu kita pahami satu kaidah penting, bahwa ketika Allah menyebut dalam Al-Quran dengan lafal &#8216;<em>ith&#8217;am</em>&#8216; (memberi makan) maka kita wajib menunaikannya dalam bentuk bahan makanan. Tentang orang yang tidak mampu puasa, Allah berfirman,</p>
<p class="arab">وَعَلَى ٱلَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَن تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهُ وَأَن تَصُومُواْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ</p>
<p>&#8216;<em>Wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) untuk membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin.</em>&#8216; (Q.s. Al-Baqarah:184)</p>
<p>Tentang kafarah sumpah, Allah berfirman,</p>
<p class="arab">فَكَفَّارَتُهُ إِطْعَامُ عَشَرَةِ مَساكِينَ مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ أَوْ كِسْوَتُهُمْ</p>
<p style="text-align: left;">&#8216;<em>&#8230; Maka kafarah (akibat melanggar) sumpah itu ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka, atau &#8230;.</em>&#8216; (Q.s. Al-Maidah: 89)</p>
<p>&#8230; Semua dalil yang disebutkan dalam Alquran dan Sunah diungkapkan dengan lafal &#8216;makanan&#8217; atau &#8216;memberi makan&#8217;, sehingga dia tidak boleh diganti dengan uang.</p>
<p>Oleh karena itu, orang tua yang wajib <a title="fidyah-menggunakan-uang" href="http://konsultasisyariah.com/fidyah-pakai-uang" target="_blank" rel="nofollow"><strong>membayar fidyah</strong></a> karena meninggalkan puasa, tidak boleh mengganti (pembayaran fidyahnya) dengan uang. Andaikan dia bayarkan dengan uang, senilai sepuluh kali nilai makanan maka itu tetap tidak sah, karena dia menyimpang dari ketetapan yang telah ditentukan dalam dalil.</p>
<p>Karena itu, kami nasihatkan kepada orang yang tidak mampu berpuasa karena sudah tua, bayarlah fidyah dengan memberi makan orang miskin sejumlah hari yang ditinggalkan. Cara memberi makan ada dua:</p>
<ol>
<li>Diantarkan ke rumah orang miskin, sebanyak seperempat <em>sha&#8217;</em> (ada yang mengatakan setengah sha&#8217;:1,5 kg) beras beserta lauknya.</li>
<li>Memasak makanan dan mengundang sejumlah orang miskin yang wajib diberi makan, sebagaimana yang dilakukan oleh Anas bin Malik. Ketika beliau tua dan tidak bisa berpuasa, beliau memberi makan 30 orang miskin di akhir hari bulan Ramadan. (<em>Majmu&#8217; Fatawa Ibnu Utsaimin</em>, 19:116; sumber: <em>www.islamqa.com</em>)</li>
</ol>
<p><strong>Dijawab oleh <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" rel="nofollow" target="_blank">Ustadz Ammi Nur Baits</a> (Dewan Pembina <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" rel="nofollow" target="_blank">Konsultasi Syaria</a>h).<br />
Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" rel="nofollow" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Pembahasan tentang: <u>Membayar fidyah</u>, membayar fidyah dengan uang, wajibnya membayar fidyah dengan makanan pokok</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/membayar-fidyah-dengan-uang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Fidyah Menggunakan Uang</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/fidyah-pakai-uang/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/fidyah-pakai-uang/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Aug 2011 04:11:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Makanan]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[RAMADHAN]]></category>
		<category><![CDATA[fidyah puasa]]></category>
		<category><![CDATA[ganti puasa]]></category>
		<category><![CDATA[membayar fidyah]]></category>
		<category><![CDATA[takaran fidyah]]></category>
		<category><![CDATA[ukuran fidyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=6795</guid>
		<description><![CDATA[Mengganti fidyah dengan uang Bolehkah fidyah dalam bentuk uang? Agus Sarjana (**sarjana@***.com) Jawaban mengenai mengganti fidyah dengan uang Bismillah. Wajib untuk kita pahami kaidah penting, bahwa perkara yang Allah sebutkan dengan kalimat “memberi makan” atau “bahan makanan” itu wajib diberikan ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Mengganti fidyah dengan uang<br />
</strong></h2>
<p>Bolehkah <strong>fidyah</strong> dalam bentuk uang?</p>
<h3><em>Agus Sarjana (**sarjana@***.com) </em><br />
<span id="more-6795"></span><br />
<strong>Jawaban mengenai mengganti fidyah dengan uang<br />
</strong></h3>
<p>Bismillah.</p>
<p>Wajib untuk kita pahami kaidah penting, bahwa perkara yang Allah sebutkan dengan kalimat “memberi makan” atau “bahan makanan” itu <strong>wajib</strong> diberikan dalam bentuk makanan. Allah berfirman tentang puasa,</p>
<p class="arab">وَعَلَى ٱلَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ</p>
<p>“<em>Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin</em>.” (Q.s. Al-Baqarah:184)</p>
<p>Kemudian, tentang kafarah sumpah, Allah berfirman,</p>
<p class="arab">فَكَفَّارَتُهُ إِطْعَامُ عَشَرَةِ مَساكِينَ مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ</p>
<p>“<em>Kafarah (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu</em>.” (Q.s. Al-Maidah:89)</p>
<p>Tentang <a title="zakat fitrah" href="http://konsultasisyariah.com/zakat-fitrah" target="_blank" rel="nofollow">zakat fitri</a>, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mewajibkan agar dikeluarkan dalam bentuk bahan makanan satu <em>sha&#8217;</em>, dan seterusnya.</p>
<p>Apa pun yang disebutkan dalam nash syariat dengan kalimat “makanan” atau “memberi makan” maka <a title="bayar fidyah" rel="nofollow" href="http://muslim.or.id/ramadhan/cara-penunaian-fidyah.html" target="_blank">fidyah</a> tidak boleh diberikan dalam bentuk uang.</p>
<p>Oleh karena itu, orang tua yang wajib membayar <a title="ukuran fidyah" href="http://konsultasisyariah.com/ukuran-fidyah" target="_blank" rel="nofollow"><em>fidyah</em></a> karena tidak puasa, tidak menggantinya dalam bentuk uang. Andaikan dia membayar fidyah dalam bentuk uang senilai bahan makanan sepuluh kali, hukumnya tetap tidak sah, karena dia menyimpang dari keterangan yang terdapat dalam dalil.</p>
<p>Demikian pula zakat fitri. Andaikan ada orang yang mengeluarkan zakat fitri dalam bentuk uang seharga bahan makanan sepuluh kali, ini tidak dapat menggantikan kewajiban membayar zakat dengan bahan makanan 2,5 kg, karena zakat fitri dengan uang tidak terdapat dalam dalil. Padahal Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> telah bersabda,</p>
<p class="arab">من عمل عملاً ليس عليه أمرنا فهو رد</p>
<p>“<em>Siapa saja yang melakukan satu amal, yang tidak ada ajarannya dari kami maka amal itu tertolak</em>.” (H.r. Bukhari dan Muslim) (<em>Majmu&#8217; Fatawa Syaikh Ibnu Utsaimin</em>, 19:116)</p>
<p><strong>Sumber:</strong> <em>http://www.islamqa.com/ar/ref/39234</em></p>
<p>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>).<br />
Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a><br />
Pembahasan: <strong>Cara membayar fidyah</strong>, mengganti <span style="text-decoration: underline;">fidyah</span>, dan pembayaran <strong>fidyah</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/fidyah-pakai-uang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cuci Darah ketika Puasa</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/cuci-darah-ketika-puasa/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/cuci-darah-ketika-puasa/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Aug 2011 01:45:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[Makanan]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[RAMADHAN]]></category>
		<category><![CDATA[cuci darah]]></category>
		<category><![CDATA[gagal ginjal]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[puasa orang sakit]]></category>
		<category><![CDATA[ramadahn]]></category>
		<category><![CDATA[suntik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=6679</guid>
		<description><![CDATA[Cuci Darah Saat Puasa Assalamu &#8216;alaykum. Ustadz, saya sudah baca tanya-jawab mengenai mengeluarkan darah untuk penelitian laboratorium ketika puasa, dan hukumnya tidak membatalkan puasa. Namun untuk bekam, itu membatalkan puasa. Apa dalil yang menunjukkan mengeluarkan darah yang banyak (seperti: bekam) ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Cuci Darah Saat Puasa<br />
</strong></h2>
<p><em>Assalamu &#8216;alaykum</em>. Ustadz, saya sudah baca tanya-jawab mengenai mengeluarkan darah untuk penelitian laboratorium ketika puasa, dan hukumnya tidak membatalkan puasa. Namun untuk bekam, itu membatalkan puasa. Apa dalil yang menunjukkan mengeluarkan darah yang banyak (seperti: bekam) membatalkan puasa, Ustadz? Terus, bagaimana dengan <strong>cuci darah</strong>, apakah membatalkan puasa juga? Ayah saya melakukan <strong>cuci darah</strong> seminggu 2 kali. Apakah ayah saya harus mengganti puasanya di hari lain akibat <strong>cuci darah</strong>? Mohon penjelasannya.</p>
<h3><em>Abu Abdillaah (abu**@***.com)</em><br />
<span id="more-6679"></span><br />
<strong>Hukum cuci darah ketika puasa</strong></h3>
<p>Lajnah Daimah (Komite Tetap untuk Fatwa dan Penelitian Ilmiah) ditanya, &#8220;Apakah <u>cuci darah</u> bisa membatalkan puasa?&#8221;</p>
<p><strong>Pertama</strong>, Lajnah Daimah memberikan kesimpulan dari keterangan tim medis tentang proses <em>cuci darah</em>, yang intinya: mengeluarkan darah dari pasien, dimasukkan ke dalam suatu alat agar dilakukan perawatan tertentu, kemudian dikembalikan ke tubuh pasien. Dalam proses ini, zat kimia dan mineral tertentu ditambahkan ke dalam darah tersebut, seperti: kadar gula, ion tubuh, atau yang lainnya.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, setelah Lajnah Daimah melakukan pengkajian tentang sistem kerja cuci darah, melalui beberapa informasi dari beberapa pakar kedokteran, mereka memfatwakan bahwa <a title="cuci darah dengan suntik" href="http://konsultasisyariah.com/suntik-di-siang-hari-ramadhan" target="_blank" rel="nofollow">cuci darah</a> membatalkan puasa.</p>
<p><em>Wa billahit taufiq</em>. (<strong>Kumpulan Fatwa Lajnah Daimah</strong>, 10:190)</p>
<p>**</p>
<p>Syekh Ibnu Utsaimin ditanya tentang hukum <strong>cuci darah</strong> ketika <strong>puasa</strong>. Beliau menjawab, “&#8230; Saya khawatir, proses pencucian ini dicampur dengan beberapa nutrisi mineral, sehingga menggantikan makan dan minum. Jika keadaannya demikian, statusnya membatalkan <strong>puasa</strong>. Oleh karena itu, jika ada orang yang mendapatkan ujian dengan penyakit ini sepanjang hidupnya maka dia tergolong orang yang sakit, yang tidak ada harapan untuk sembuh, sehingga dia boleh membayar fidyah.</p>
<p>Akan tetapi, jika campuran yang disisipkan di darah pasien ketika proses dialisis (cuci darah) bukan nutrisi bagi tubuh, namun hanya sebatas membersihkan dan mencuci darah, maka hal ini tidak membatalkan puasanya, sehingga seseorang boleh mengambil tindakan medis ini meskipun sedang berpuasa. Persoalan semacam ini perlu ditanyakan ke dokter.&#8221; (<em>Majmu&#8217; Fatawa Ibnu Utsaimin</em>, 20:113)</p>
<p>Kesimpulan dari Syekh Muhammad Al-Munajid, &#8220;Pasien yang harus melakukan cuci darah, puasanya batal di hari dilakukannya tindakan dialisis. Jika masih memungkinkan untuk qadha maka dia wajib qadha. Namun, jika tidak memungkinkan untuk mengqadha maka statusnya sebagaimana orang tua yang tidak mampu <strong>puasa</strong>. Dia boleh tidak puasa ketika proses <a title="Cuci darah" rel="nofollow" href="http://piogama.ugm.ac.id/index.php/2009/05/cuci-darah/" target="_blank">cuci darah</a> dan diganti dengan fidyah.&#8221;</p>
<p>***</p>
<p>Sumber: <em>www.islamqa.com</em><strong><br />
</strong>Jawaban ini diterjemahkan oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>).<strong><br />
</strong>Artikel www.KonsultasiSyariah.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/cuci-darah-ketika-puasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
