tutup Eksternal hardisk kajian video islam
cashflow laporan keuangan software akutansi terbaik
Referensi Buku

الجامع الصغير في أحاديث النذير البشير

Kitab Jami’us Shaghir

Apa itu kitab Jami’us Shaghir? Saya penasaran, krn sering para penceramah, kiyai menyebut-nyebut kitab ini. Mohon ulasannya. Matur nuwun

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Sebelum memperkenalkan format penulisan hadis dalam kitab induk hadis, seperti shahih Bukhari, shahih Muslim, Sunan Abu Daud, dst. Kami sebutkan satu contoh hadis pertama di shahih Bukhari:

حَدَّثَنَا الحُمَيْدِيُّ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الزُّبَيْرِ، قَالَ: حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، قَالَ: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ الأَنْصَارِيُّ، قَالَ: أَخْبَرَنِي مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ التَّيْمِيُّ، أَنَّهُ سَمِعَ عَلْقَمَةَ بْنَ وَقَّاصٍ اللَّيْثِيَّ، يَقُولُ: سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَلَى المِنْبَرِ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا، أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ»

Kami mendapatkan hadis dari Abdullah bin Zubair al-Humaidi, bahwa beliau mengatakan: ’Kami mendapat hadis dari Sufyan, bahwa beliau mengatakan: ’Kami mendapat hadis dari Yahya bin Said al-Anshari, beliau mengatakan: Saya mendapat berita dari Muhammad bin Ibrahim at-Taimi, bahwa beliau mendengar Alqamah bin Waqqash al-Laitsi mengatakan, ’Aku mendengar Umar bin Khatab berkhutbah di atas mimbar, beliau menyampaikan, ’Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا، أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

”Sesungguhnya sahnya amal itu dengan niat, dan sesungguhnya seseorang mendapatkan balasan sesuai apa yang ia niatkan, barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan RosulNya maka hijrahnya kepada Allah dan RosulNya dan barang siapa yang hijrahnya kepada dunia yang ia cari atau wanita yang ingin ia nikahi maka balasan hijrahnya sesuai dengan tujuannya.”

Bagian sebagian kalangan yang belum pernah belajar mustolah hadis, atau membaca kitab induk hadis, akan kesulitan memahaminya. Semuanya ada kalimat ’Kami mendapat hadis dari…’ ’Aku mendengar beliau menyampaikan,..’ dst. Itu apa maksudnya?

Untuk memudahkan pemahaman, mari kita simak keterangan berikut,

• Kalimat ”Kami mendapatkan hadis dari Abdullah bin Zubair… dst. hingga Umar bin Khatab.” dalam ilmu hadis disebut sanad sanad. Rantai nama orang yang menyampaikan matan hadis.

Jika kita ringkas, sanad hadis di atas adalah:
Abdullah bin Zubair al-Humaidi — Sufyan — Yahya bin Said al-Anshari — Muhammad bin Ibrahim at-Taimi — Alqamah bin Waqqash al-Laitsi — Umar bin Khatab berkhutbah.

• Sementara kalimat ”Kami mendapatkan hadis dari…” ini membuktikan bahwa terjadi kesinambungan antara satu ulama ke ulama generasi bawahnya. Dengan kalimat ini, menunjukkan bahwa hadis itu betul-betul dia dengar langsung dari gurunya (ulama atasnya).

• Sedangkan teks hadis: innamal a’malu bin niyat…dst. (Sesungguhnya sahnya amal itu dengan niat) disebut sebagai matan hadis.

• Posisi Imam Bukhari sebagai perawi hadis. Sehingga kita menyebutnya, ’diriwayatkan Bukhari.’

• Dan kitab shahih Bukhari sebagai kitab hadis yang dimaksud.

 

Mengenal Jami’us Shaghir

Kitab Jami’us Shaghir [arab: الجامع الصغير] nama lengkapnya Jami’us Shaghir fi Ahadits an-Nadzir wa al-Basyir [arab: الجامع الصغير في أحاديث النذير البشير]: Kumpulan kecil untuk hadis-hadis sang pemberi peringatan dan kabar gembira (Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).

Berikut beberapa keteragan tentang kitab Jami’us Shaghir

  1. Kitab Jami’us Shaghir ditulis oleh Jalaluddin as-Suyuthi, seorang ulama bermadzhab Syafiiyah dari Mesir yang wafat sekitar tahun 911 H.
  2. Dalam bukunya ini, Imam as-Suyuthi mengumpulkan sekitar 10.000 hadis. Atau dengan angka lebih pasti, 10.031 hadis, berdasarkan penomoran dalam versi cetaknya.
  3. Sebenarnya, Jami’us Shaghir adalah ringkasan dari kitab as-Suyuthi sebelumnya, yang berjudul Jam’ul Jawami’.
  4. Beliau pilih hadis-hadis di Jam’ul Jawami’ dan beliau susun berdasarkan urutan huruf hijaiyah pada awal hadis. Sehingga memudahkan bagi pembaca untuk menemukan hadis dalam waktu cepat.
  5. Beliau pilih hadis-hadis yang ringkas dan tidak banyak mencantumkan hadis tentang hukum.
  6. Beliau juga menghidari hadis yang dalam sanadnya ada perawi pemalsu hadis atau pendusta, yang sendirian, menurut penilaian beliau. Namun beliau masukkan dalam kitabnya, hadis shahih, hasan, dan dhaif dengan berbagai macamnya.

(Mukadimah Jami’us Shaghir, as-Suyuthi).

Metode as-Suyuthi dalam Menulis Jami’us Shaghir

Metode yang diterapkan as-Suyuthi dalam membawakan hadis di Jami’us Shaghir,

  1. Tidak mencantumkan sanad hadis, hingga nama sahabat-pun tidak beliau sebutkan.
  2. Hanya menyebutkan matan hadis.
  3. Setelah menyebutkan menyebutkan nama kitab hadis yang meriwayatkan hadis tersebut dengan KODE dan nama sahabat yang membawakan hadis ini.
  4. Kemudian beliau menyebutkan KODE derajat hadis, apakah shahih shahih, ataukah dhaif.

(Ushul Takhrij, Dr. Mahmud Thahhan, hlm. 72 – 73).

Di mukadimah Jami’us Shaghir, Imam as-Suyuthi  menyebutkan KODE huruf untuk nama kitab dan derajat hadis yang beliau gunakan dalam kitabnya. Berikut diantaranya,

  1. Huruf [خ]: Shahih Bukhari
  2. Huruf [م]:  Shahih Muslim
  3. Huruf [ق]:  singkatan dari muttafaq ‘alaihi [arab: متفق عليه], artinya diriwayatkan Bukhari & Muslim
  4. Huruf [د]:  Sunan Abu Daud
  5. Huruf [ت]:  Sunan Turmudzi
  6. Huruf [هـ]:  Sunan Ibnu Majah
  7. Huruf [حم]:  Ahmad dalam Musnad
  8. Huruf [ك]:  Hakim dalam al-Mustadrak
  9. Huruf [تخ]:  Bukhari dalam kitab at-Tarikh. dst

Sementara status hadis, beliau sebutkan dengan 3 derajat: shahih, hasan, dan dhaif.

  1. Huruf [صح]: hadis Shahih
  2. Huruf [ح]: hadis Hasan
  3. Huruf [ض]: hadis Dhaif

Sebagai contoh, as-Suyuthi menyebutkan satu hadis di no. 1035:

آيَةُ مَا بَيْنَنا وَبَيْنَ المُنافِقِينَ أنَّهُمْ لاَ يتضلعون من زمزم

(تخ هـ ك) عن ابن عباس (صح).

Matan hadis: ‘Ciri pembeda antara kita (orang beriman) dengan orang munafik: mereka tidak pernah merasa kenyang dengan zam-zam.’

Dari KODE as-Suyuthi, kita bisa membaca:

  1. Hadis ini diriwayatkan Bukhari dalam at-Tarikh, Ibnu Majah dalam sunannya, dan Hakim dalam al-Mustadrak. Kode: [تخ هـ ك]
  2. Dari sahabat Ibnu Abbas
  3. Derajat hadis: shahih, kode: صح

Mengapa Jami’us Shaghir Terkenal?

Kitab Jami’us Shaghir termasuk salah satu kitab hadis yang banyak dijadikan rujukan. Ada beberapa alasan yang menyebabkan kitab ini banyak digunakan,

1. Metode penyusunan hadis yang sangat memudahkan bagi pengguna untuk mencari hadis. Karena diurutkan sesuai huruf hijaiyah, mengacu pada huruf pertama hadis.

2. Hanya berisi matan, sehingga memudahkan pengguna untuk mencari matan hadis.
3. Matan hadis ringkas-ringkas, sehingga mudah digunakan untuk pendalilan.
4. Dicantumkan nama kitab induk yang meriwayatkan hadis.
5. Dicantumkan penilaian status hadis
6. Penulis, Imam as-Suyuthi dikenal dengan kapabilitas dan kemampuannya dalam berbagai disiplin ilmu.

Beberapa catatan tentang Jami’us Shaghir,

  1. Para ulama hadis mengatakan, ada unsur terlalu longgar untuk penilaian as-Suyuthi terhadap derajat hadis. (Ushul at-Takhrij, Dr. Mahmud Thahan, hlm. 74)
  2. Karena itu, al-Munawi dalam Syarh Jami’us Shaghir banyak memberikan catatan hadis dan penilaian yang berbeda dengan as-Suyuthi, disertai penjelasan mengapa beliau berbeda.
  3. Disamping al-Munawi, ulama hadis kontemporer yang meneliti ulang penilaian as-Suyuthi terhadap hadis adalah Imam Muhammad nashiruddin al-Albani. Beliau meneliti status hadis di Jami’us Shaghir, dan membagi menjadi 2:
  4. Shahih Jami’us Shaghir
  5. Dhaif Jami’us Shaghir
  6.  Kitab ini juga disyarah oleh beberapa ulama, diantaranya:
  7. At-Tanwir Syarh al-Jami’ as-Shaghir, karya as-Shan’ani
  8. Faidhul Qodir Syarh al-Jami’ as-Shaghir, karya al-Munawi.
  9. al-Jami’ as-Shaghir wa Syarhuhu an-Nafi’ al-Kabir, karya al-Laknawi.
  10. at-Taisir bi Syarhi al-Jami’ as-Shaghir, karya al-Munawi. Kitab ini adalah ringkasan dari faidhul Qadir.

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Ensiklopedi Islam untuk Pemula [Resensi Buku]

Ensiklopedi Islam untuk Pemula

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Sebut saja, ini buku pertama yang saya pelajari ketika mengawali belajar islam lebih serius. Buku ini terhitung tipis jika dibandingkan sekelasnya. Versi arabnya hanya sekitar 450 halaman. Meskipun demikian, mencakup hampir seluruh cabang ilmu islam, dari mulai aqidah, adab, akhlak, ibadah, dan muamalah. Karena alasan ini, buku ini banyak diminati masyarakat muslim di seluruh penjuru dunia. Ini bisa dilihat dari beberapa versi terjemahan untuk buku ini. Tak terkecuali di negeri yang berpenduduk muslim terbesar, Indonesia.

Buku ini berjudul Minhajul Muslim, yang jika kita terjemahkan secara harfiyah memiliki arti: Jalan Hidup Seorang Muslim. Mengingat cakupan kontennya yang menyeluruh, tidak heran jika buku ini layak untuk disebut ensiklopedi islam ringkas. Karena hampir semua cabang ilmu islam yang dibutuhkan seorang muslim, telah dibahas dalam buku ini.

Dengan kajian ringkas dan sederhana, sekian banyak pembahasan itu hanya dikupas dalam satu jilid.

Menengok Lebih Dalam Isi Buku

Penulis membagi buku ini dalam 5 bab.

Di bab pertama, penulis mengupas tentang enam rukun iman. Di bagian iman kepada Allah dan hari akhir, beliau memberikan porsi pembahasan lebih panjang dan lebih mendetail. Dibahas tentang iman kepada Dzat Allah, rububiyah, uluhiyah, dan asma – shifat Allah. Pada kajian iman pada hari akhir, beliau juga mengupas tentang adzab dan nikmat kubur.

Selain pembahasan rukun iman, beliau juga mengupas tentang masalah tauhid dalam ibadah, kaidah tentang wasilah, kajian tentang wali Allah vs wali setan, dan pentingnya amar ma’ruf nahi munkar dalam kehidupan manusia.

Salah satu keistimewaan penulis, dalam pembahasannya, beliau selalu mencantumkan dalil aqli dan dalil naqli.

Di bab kedua, penulis mengupas tentang masalah adab. Mulai dari pembahasan adab kepada Allah, adab bersama al-Quran, adab kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, adab terhadap diri sendiri, adab bersama orang lain yang dekat, seperti orang tua, anak, istri – suami, saudara, dan yang lainnya, dan adab bersama orang lain yang lebih jauh, seperti teman atau tetangga.

Beliau juga membahas adab terkait kebiasaan sehari-hari, seperti adab ketika duduk bersma (majlis), adab makan-minum, adab bertamu dan menerima tamu, adab safar, adab berpakaian, adab merawat diri (sunah fitrah manusia), dan adab tidur.

Semuanya beliau uraikan berdasarkan dalil dari al-Quran maupun hadis.

Di bab ketiga, penulis membahas tentang masalah akhlak. Beliau uraikan beberapa akhlak baik dan terpuji berikut berbagai keutamaannya. Selanjutnya, beliau mengupas akhlak tercela, dan beberapa dalil yang berisi ancaman tentangnya.

Di bab keempat, beliau mengupas masalah ibadah

Mulai bab thaharah, tata cara bersuci: wudhu, mandi, tayamum, masalah haid dan nifas. Kemudian beliau lanjutkan tentang tata cara shalat, aturan shalat jamaah, jamak qashar, adab adzan, aturan iqamah, dan yang lainnya. Beliau juga membahas beberapa shalat sunah.

Berikutnya, beliau membahas fikih jenazah, fikih zakat, puasa, dan haji. Beliau akhiri bab ini dengan pembahasan tentang qurban dan aqiqah.

Di bab kelima, beliau mengupas tentang muamalah. Mencakup:

  • Jihad
  • Hukum seputar perlombaan dan olah raga
  • Jual beli dan akad-akad lainnya
  • Nikah dan segala turunannya
  • Fikih pembagian warisan
  • Aturan tentang sumpah dan nadzar
  • Hukum tentang tindak kriminal

Tentang Penulis

Abu Bakr Jabir bin Musa al-Jazairi. Beliau dilahirkan di dataran Aljazair tahun 1921 M. Dari usia beliau, beliau sudah menghafal al-Quran dan mengkaji fikih Malikiyah – madzhab Malikiyah, banyak tersebar daerah afrika utara –. Kemudian beliau pindah ke Madinah bersama keluarganya. Di kota Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau lebih mendalami islam dengan mengikuti berbagai kajian ulama. Hingga akhirnya beliau mendapatkan mandat untuk mengajar di masjid nabawi. Dalam kajiannya, beliau mengajar tafsir al-Quran dan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Beliau memiliki banyak karya tulis, diantaranya,

  1. Risalah al-Jazairi, kajian tentang dakwah
  2. Aqidah mukmin, mengupas prinsip aqidah yang benar bagi mukmin
  3. Aisar Tafasir, tafsir ringkas dan lengkap
  4. al-Mar’ah al-Muslimah, tentang fikih wanita muslimah
  5. ad-Dharuriyat al-Fiqhiyah, risalah tentang fikih madzhab Maliki.

Sebagai muslim yang sadar akan agamanya, buku ini layak ada dalam setiap rumah dan menjadi referensi bagi orang yang hendak mengenal islam lebih dalam.

resensi buku islam talbis iblis ibnul qayyim

Memahami Godaan Iblis

Seusai Allah menciptakan Adam, Allah perintahkan para Malaikat dan Iblis yang kala itu bersama Malaikat, agar mereka semua bersujud kepada Adam. Semua Malaikat tunduk dengan perintah ini, sementara Iblis enggan karena kesombongannya. Dia merasa jauh lebih baik dari pada Adam, hanya karena alasan perbedaan asal penciptaan,

قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ

Iblis berkata, “Saya lebih baik dari pada Adam. Engkau ciptakan aku dari api, sementara dia Engkau ciptakan dari tanah.” (QS. al-A’raf: 12)

Iblis merasa aneh dan merena dilecehkan jika harus sujud kepada Adam,

قَالَ أَأَسْجُدُ لِمَنْ خَلَقْتَ طِينًا

Iblis mengatakan, “Apakah aku harus bersujud kepada orang yang Engkau cipatakan dari tanah?” (QS. al-Isra': 61)

Sampai Iblis meminta pertanggung jawaban Allah, mengapa Dia lebih memuliakan Adam dari pada dirinya,

قَالَ أَرَأَيْتَكَ هَذَا الَّذِي كَرَّمْتَ عَلَيَّ

Iblis berkata, “Sampaikan kepadaku, mengapa Engkau lebih memuliakan orang ini dari pada aku?” (QS. al-Isra': 62)

karena demikian sombongnya, Allah menghukum Iblis dengan membalik keadaannya,

قَالَ فَاهْبِطْ مِنْهَا فَمَا يَكُونُ لَكَ أَنْ تَتَكَبَّرَ فِيهَا فَاخْرُجْ إِنَّكَ مِنَ الصَّاغِرِينَ

Allah berfirman: “Keluar kamu dari surga itu; karena kamu sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, Maka keluarlah, Sesungguhnya kamu Termasuk orang-orang yang hina”. (QS. al-A’raf: 13).

Di saat itulah, Iblis mengangkat sumpah suci, untuk mewujudkan dendam kesumat kepada seluruh manusia,

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ . ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat). (Qs. Al-A’raf: 16 – 17)

Perang Iblis dan Manusia

Tidak ada sosok yang secara terang-terangan menyatakan diri menjadi musuh manusia, selain Iblis. Untuk itu, Allah sering ingatkan manusia untuk menjadikannya sebagai musuh

إِنَّ الشَّيْطَانَ لِلْإِنْسَانِ عَدُوٌّ مُبِينٌ

”Sesungguhnya setan musuh paling terang-terangan bagi manusia.” (QS. Yusuf: 5).

“Dari Jabir, Nabi ‘alaihis shalatu was salam bersabda,

إِنَّ إِبْلِيسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ، ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ، فَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً

“Sesungguhnya iblis singgasananya berada di atas laut. Dia mengutus para pasukannya. Setan yang paling dekat kedudukannya adalah yang paling besar godaannya….’” (HR. Muslim 2813)

A’isyah pernah bertanya kepada nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

يَا رَسُولَ اللهِ أَوْ مَعِيَ شَيْطَانٌ؟ قَالَ: «نَعَمْ» قُلْتُ: وَمَعَ كُلِّ إِنْسَانٍ؟ قَالَ: «نَعَمْ» قُلْتُ: وَمَعَكَ؟ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ: «نَعَمْ، وَلَكِنْ رَبِّي أَعَانَنِي عَلَيْهِ حَتَّى أَسْلَمَ»

’Ya Rasulullah, apakah ada setan yang selalu mengiriku?’ ”Ya, benar.” jawabn Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. ’Apakah setiap manusia, ada setan yang mengiringinya?’ Tanya A’isyah lebih lanjut. ”Ya.” Jawab beliau. ’Termasuk anda, ya Rasulullah?’ tanya A’isyah. ”Ya, namun Allah menolongku untuk menaklukkannya, sehingga dia masuk islam.” (HR. Muslim 2815).

Demikian gencar para misionaris Iblis dalam menggoda manusia. Mereka rela tidak tidur untuk menyesatkan manusia. Hasan al-Bashri pernah ditanya, ”Apakah Iblis itu tidur?” jawaban beliau,

لو نام لوجدنا راحة

“Kalau Iblis tidur, kita bisa istirahat.”

Setan Mengalir di Sekujur Tubuh

Setan akan memanfaatkan semua peluang untuk menyesatkan manusia. Setitik peluang untuk maksiat, tidak akan dia sia-siakan. Sekalipun bentuknya hanya berupa suudzan kepada orang sholeh.

Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam i’tikaf di masjid. Kemudian datang Shafiyah menjenguk beliau di malam hari. Ketika pulang, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengantarkannya. Rumah Shafiyah berada di kompleksnya Usamah bin Zaid.

Tiba-tiba datang 2 orang anshar dan mereka melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berjalan bersama Shafiyah. Dua orang itu mempercepat langkahnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam langsung mengingatkan, ”Berhentilah. Wanita ini adalah Shafiyah.”

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,

إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنَ الإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ، وَإِنِّي خَشِيتُ أَنْ يُلْقِيَ فِي أَنْفُسِكُمَا شَيْئًا

”Sesungguhnya setan mengalir di tubuh manusia seperti aliran darah. Saya khawatir dia akan membisikkan sesuatu di jiwa kalian.” (HR.Bukhari 2038 dan Muslim 2175)

Imam as-Syafii mengatakan,

خاف النبي –صلى الله عليه وسلم- أن يقع في قلوبهما شيء من أمر فيكفرا وإنما قاله شفقة منه عليهما لا على نفسه

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam khawatir akan terbetik di hati mereka perasaan tidak enak terhadap Nabi, sehingga mereka bisa menjadi kafir karenanya. Beliau sampaikan nasehat itu, karena belas kasih beliau kepada dua orang tersbut, bukan karena kekhawatiran diri beliau.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan dua orang tersebut, agar tidak muncul suudzan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bagaimana mungkin seorang Nabi berjalan berdua bersama wanita, malam-malam. Beliaupun langsung pangkas peluang timbulnya dosa ini dengan menjelaskan bahwa wanita itu adalah istrinya.

Sejuta Langkah untuk Mewujudkan 1 Tujuan

Hasan bin Sholeh mengatakan,

إن الشيطان ليفتح للعبد تسعة وتسعين بابا من الخير يريد به بابا من الشر

Sesungguhnya setan membukakan 99 pintu kebaikan, untuk menggiring mereka agar terjerumus ke dalam 1 pintu keburukan.

Allahu akbar, betapa sabarnya setan dalam menggoda manusia. Dia ajak manusia untuk beribadah dan memperbanyak amalan, namun ternyata setan menjerumuskannya ke dalam jurang bid’ah.

Dia ajak manusia untuk melestarikan budaya atas nama kearifan lokal. Namun aslinya melestarikan situs kesyirikan.
Dia pengaruhi manusia untuk berpenampilan ’islami’, memakai jubah, sorban serba putih, bawa tasbih, bawa tongkat. Dia merasa, semua perangkat ini akan menambah pahalanya. Padahal pakaian bukan tujuan utama ibadah.

Sejuta trik dia gunakan, untuk menggiring mereka ke jurang kemaksiatan.

Buku Talbis Iblis

Keterangan di atas, kami ringkaskan dari buku Talbis Iblis, karya Imam Ibnul Jauzi. Ulama besar dari Baghdad yang wafat tahun 550 H.

  • Talbis Iblis artinya tipuan Iblis. Sesuai namanya, buku ini mengupas puluhan tipuan Iblis yang umumnya kurang disadari manusia.
  • Tipuan dalam masalah aqidah, ibadah, atau muamalah.
  • Tipuan untuk orang kaya, miskin, atau umumnya manusia,
  • Tipuan khusus untuk kaum wanita.

Sebagian besar, Ibnul Jauzi mengkhitik habus terhadap berbagai kebiasaan ’bodoh’ yang dilakukan penganut sufi. Mereka jadikan amalnya sebagai ibadah, padahal sejatinya hanya tipuan iblis yang durhaka.

Ibnul Jauzi juga membahas masalah karamah dan berbagai kejadian luar biasa yang dialami ’manusia sakti’ berkedok tokoh agama. Sayangnya orang awam menganggapnya wali.

Beliau membuktikan berbagai tindakan salah yang dilakukan masyarakat awam, dan itu diniatkan sebagai ibadah. Beliau bandingkan dengan kebiasaan para ulama.

Sebagai contoh,

  • Banyak orang yang lebih memperhatikan kekhusyuan shalat tahajud, atau shalat sunah lainnya, sementara dia tidak menghadiri shalat wajib berjamaah di masjid.
  • Ada juga manusia mampu yang sok menampakkan zuhud, dengan berlagak miskin. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengajarkan zuhud dengan sikap sok miskin.
  • Ada yang menggunakan pakaian tambal-tambal, agar disebut zuhud. Dia niatkan itu dalam rangka ibadah. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mengajarkan ibadah dalam bentuk memakai pakaian tambalan.
  • Ada yang sok tawakal, tidak bekerja, tidak mencari nafkah. Hidupnya dihabiskan beri’tikaf di masjid. Menelantarkan anak dan istrinya.
  • Banyak orang yang rajin menghadiri majlis mujahadah, dzikir berjamaah. Sementara mereka enggan mendengarkan kajian ilmu yang membahas halal-haram dalam syariat.
  • Betapa banyak orang miskin yang berusaha menampakkan kemiskinannya kepada masyarakatnya. Dengan harapan mereka akan berbelas kasihan kepadanya.
  • Banyak wanita yang menolak ajakan suaminya, dengan alasan itu bukan maksiat.
  • Dan masih banyak lagi rutinitas keliru, namun menjadi kebiasaan masyarakat.

Banyak pelajaran penting yang bisa kita dapatkan dari buku ini. Menunjukkan betapa manusia sangat butuh ilmu dan pemahaman agama yang benar. Hanya dengan modal ini – setelah hidayah dari Allah – seseorang bisa selamat dari tipuan iblis dan sekutunya.

Imam al-A’masy menceritakan,

حدثنا رجل كان يكلم الجن قالوا ليس علينا أشد ممن يتبع السنة وأما أصحاب الأهواء فإنا نلعب بهم لعبا

Saya pernah mendapat informasi dari seseorang yang bisa berbicara dengan jin. Jin mengaku, “Tidak ada manusia yang paling berat untuk kami goda, melebihi orang yang mengikuti sunah. Sementara orang yang mengikuti hawa nafsunya, aku bisa permainkan mereka sesukaku.”

Allahu a’lam

menceraikan istri

Telaah Hadis: Menceraikan Istri Jahat

Seseorang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya istriku…,” lalu ia menyebutkan kejahatan-kejahatan istrinya.

فَقَالَ: طَلِّقْهَا

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ceraikanlah dia!”

Lalu, dia berkata, “Sesungguhnya, dia mempunyai teman dan anak.”

قَالَ:مُرْهَا وَقُلْ لَهَا، فَإِنْ يَكُنْ فِيْهَا خَيْرٌ فَسْتَفْعَلْ، وَلاَ تَضْرِبْ ظَعِيْنَتَكَ ضَرْبَكَ أَمَتَكَ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Panggillah dia dan bicaralah dengannya. Jika kebaikan padanya, maka tentu dia akan lakukan. Dan jangan memukul istrimu seperti memukul budakmu.” (HR. Ahmad).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah ditanya, “Sesungguhnya, istriku tidak menolak tangan penyentuh.”

قَالَ: غَيِّرْهَا إِنْ شِئْتَ، وَفِيْ لَفْظٍ: طَلِّقْهَا

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pilihlah dia jika kamu mau (antara menceraikan atau tidak).” Dalam lafal riwayat yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ceraikan dia.”

Lalu, ia berkata, “Saya takut, nafsu menginginkannya.”

قَالَ: فَاسْتَمْتِعْ بِهَا

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kalau begitu, bersenang-senanglah dengannya.”

Para ulama berbeda pendapat dalam memadukan antara nash-nash yang membolehkan dan hadits-hadits yang melarang menikahi perempuan pelacur. Sebagian kelompok mengatakan bahwa yang dimaksud dengan “al-lamis” (penyentuh) adalah “pemberi sedekah” bukan untuk berbuat dosa.

Sebagian lain berkata, “Ini untuk kelangsungan rumah tangga yang tidak harmonis. Adapun larangan tersebut berlaku untuk akad atas perempuan pelacur, dan ini yang diharamkan.”

Kelompok lain berpendapat, “Ini merupakan keharusan untuk memilih di antara dua hal negatif untuk menghilangkan yang paling jelek, karena ketika seorang suami diperintahkan untuk menceraikan, dikhawatirkan dia tidak bisa bersikap sabar, lalu berbuat sesuatu yang dilarang. Oleh karena itu, manakala dia diperintahkan untuk menahannya, hal tersebut adalah agar risiko berbuat keburukannya bisa lebih kecil.”

Kelompok lain justru berpendapat bahwa hadits di atas mengandung kelemahan, yang berarti kandungan haditsnya tidak bisa dipakai.

Ada juga yang berpendapat bahwa hadits di atas tidak jelas menunjukkan bahwa wanita yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah seorang pelacur, karena dia hanya tidak menolak bersentuhan biasa dengan orang lain, seperti bersalaman atau yang semisalnya. Ini berarti kemaksiatan kecil, bukan dosa besar. Akan tetapi, tidak berarti dia membolehkannya berbuat dosa. Oleh karena itu, sang lelaki diperintahkan untuk menceraikannya supaya yakin dan meninggalkan keraguan terhadap istrinya. Ketika dia menyatakan bahwa dirinya masih menginginkannya, dan dia tidak sabar terhadapnya, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat bahwa menahannya (tidak menceraikan sang istri, ed) akan lebih baik daripada menceraikannya. Oleh karena itu, beliau memerintahkan sang lelaki untuk menahan istrinya.

Inilah barangkali jalan keluar yang paling tepat dalam memahami nash-nash di atas. Wallahu a’lam.

Sumber: Fatawa Rasulullah: Anda Bertanya Rasulullah Menjawab, Tahqiq dan Ta’liq oleh Syaikh Qasim ar-Rifa’i, Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Pustaka As-Sunnah, Cetakan Ke-1, 2008

wdfkkdg

SOCIAL

9,933FansLike
4,525FollowersFollow
33,380FollowersFollow
61,951SubscribersSubscribe

RAMADHAN