<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Konsultasi Kesehatan dan Tanya Jawab Pendidikan Islam &#187; Hadits</title>
	<atom:link href="http://www.konsultasisyariah.com/category/kitab/hadits/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.konsultasisyariah.com</link>
	<description>KonsultasiSyariah.com</description>
	<lastBuildDate>Mon, 21 May 2012 09:00:43 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Tutup Pintu Menjelang Malam</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/tutup-pintu-menjelang-malam/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/tutup-pintu-menjelang-malam/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Mar 2012 04:46:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=10799</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan Tentang Tutup Pintu Menjelang Malam Assalamu‘alaikum, Terkait hadits “Apabila malam telah datang (setelah matahari tenggelam), tahanlah anak-anak kalian, karena setan bertebaran ketika itu. Apabila telah berlalu sesaat dari waktu ‘Isya lepaskanlah (biarkanlah) mereka. Tutuplah pintumu, dan sebutlah nama Allah ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><span style="color: #000000;"><strong>Pertanyaan Tentang <a href="http://konsultasisyariah.com/tutup-pintu-menjelang-malam" target="_blank" rel="nofollow">Tutup Pintu</a> Menjelang Malam</strong></span></h2>
<p><em><span style="color: #000000;">Assalamu‘alaikum,</span></em></p>
<p><span style="color: #000000;">Terkait hadits “<em>Apabila malam telah datang (setelah matahari tenggelam), tahanlah anak-anak kalian, karena setan bertebaran ketika itu. Apabila telah berlalu sesaat dari waktu ‘Isya lepaskanlah (biarkanlah) mereka. Tutuplah pintumu, dan sebutlah nama Allah karena syaitan tidak membuka pintu yang tertutup</em>…” (HR. Al-Bukhari No. 3280 dan Muslim No. 2012),</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Mau tanya, apakah semua pintu harus tertutup? kalau salah satunya terbuka (pintu utama tertutup tapi pintu samping terbuka), apakah masih bisa menyebabkan mudharat? Terima kasih, <em>wassalamu ‘alaikum wa rahmatullah.<span id="more-10799"></span></em></span></p>
<p><span style="color: #000000;"><strong>Jawaban:</strong></span></p>
<p><span style="color: #000000;">Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pada teks hadits yang disebutkan oleh penanya:</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Pertama, kata syaithan mencakup seluruh jenis syaithan, baik dari kalangan jin maupun manusia, karena, dalam Al-Qur`an, Allah <em>Subhânahu wa Ta’âlâ</em> menyebut syaithan dari kalangan jin dan manusia sebagaimana dalam firman-Nya,</span></p>
<p class="arab">وَكَذَٲلِكَ جَعَلۡنَا لِكُلِّ نَبِىٍّ عَدُوًّ۬ا شَيَـٰطِينَ ٱلۡإِنسِ وَٱلۡجِنِّ يُوحِى بَعۡضُهُمۡ إِلَىٰ بَعۡضٍ۬ زُخۡرُفَ ٱلۡقَوۡلِ غُرُورً۬ا‌ۚ وَلَوۡ شَآءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ‌ۖ فَذَرۡهُمۡ وَمَا يَفۡتَرُونَ . ١١٢</p>
<p><span style="color: #000000;">“<em>Dan demikianlah Kami mengadakan musuh bagi tiap-tiap nabi itu, yaitu syaithan-syaithan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan perkataan-perkataan indah kepada sebagian yang lain untuk menipu (manusia)</em>.” [Al-An’am; 112]</span></p>
<h3><span style="color: #000000;">Kedua, berkaitan dengan perintah menutup pintu, Ibnu Daqîq Al-‘Îd<em> rahimahullâh</em> menjelaskan, “Pada perintah menutup pintu, terdapat berbagai kemashlahatan agama dan dunia berupa penjagaan jiwa dan harta dari para pelaku kejelekan dan kerusakan, terutama para syaithan ….” (<em>Fath Al-Bâry</em>, 11/87)</span></h3>
<p><span style="color: #000000;">Dengan memperhatikan dua keterangan di atas, pintu samping (yang disebutkan oleh penanya) bila tidak ditutup akan mungkin berdampak tidak baik maka hadits di atas adalah anjuran untuk menutupnya. Bila dia merasa aman dari hal yang membahayakannya, pintu tersebut boleh saja tidak ditutup.</span></p>
<p><span style="color: #000000;"><em>Wallâhu A’lam.</em></span></p>
<p><span style="color: #000000;"><strong>Pertanyaan:</strong></span></p>
<p><span style="color: #000000;">Ustadz yang semoga dirahmati Allah, terkait perintah untuk menahan anak-anak di rumah, bagaimana dengan sebagian kami yang terkadang anak-anak kami yang masih kecil ingin ikut shalat di masjid pada waktu maghrib, adakah melanggar perintah ini…? Atau, apa yang harus kami perhatikan ketika membawa anak-anak ke masjid di waktu maghrib dan berapakah batasan usia anak-anak itu…?</span><br />
<span style="color: #000000;"> <em>Jazakallah khairan</em></span></p>
<p><span style="color: #000000;"><strong>Jawaban:</strong></span></p>
<p><span style="color: #000000;"><em>Bismilillah,</em></span><br />
<span style="color: #000000;"> Mengikutkan anak-anak ke masjid untuk menunaikan shalat Maghrib adalah perkara yang baik. Hal tersebut tidak bertentangan dengan larangan yang terkandung dalam hadits yang disebutkan. Yang terlarang dalam hadits adalah membiarkan anak-anak keluyuran dan bertebaran, yang hal ini berbeda dengan menghadiri pelaksanaan shalat di masjid.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Etika menghadirkan anak-anak ke masjid berlaku pada semua shalat, termasuk shalat maghrib. Etika tersebut kembali kepada maksud dan tujuan syariat memperbolehkan sang anak dihadirkan ke masjid. Maksud tersebut adalah untuk menunaikan ibadah dan membiasakan sang anak dengan shalat lima waktu, dengan menjaga agar sang anak tidak mengganggu orang-orang yang mengerjakan shalat, baik gangguan berupa suara maupun perbuatan.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Tidak ada ukuran umur terntentu dalam menghadirkan anak ke masjid. Tatkala seorang anak telah layak untuk dibiasakan mengerjakan shalat, hal tersebut adalah ukuran kelayakan sang anak untuk dihadirkan ke masjid. <em>Wallahu A’lam.</em></span></p>
<p><span style="color: #000000;">Dijawab oleh <a href="http://dzulqarnain.net/tentang-makna-hadits-menutup-pintu-ketika-petang.html" rel="nofollow" target="_blank"><span style="color: #000000;">Ustadz Abu Muhammad Dzulqarnain bin Muhammad Sunusi</span></a></span><br />
<span style="color: #000000;"> Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/tutup-pintu-menjelang-malam" rel="nofollow" target="_blank"><span style="color: #000000;">www.Konsultasisyariah.com</span></a></span></p>
<h3>Kata kunci: shalat, tutup pintu, hadits, menutup pintu, malam, anak ke masjid.</h3>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/tutup-pintu-menjelang-malam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengertian Hadis Shahih</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/pengertian-hadis-shahih/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/pengertian-hadis-shahih/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Mar 2012 01:25:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=10618</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Apa yang dimaksud dengan hadis shahih? Dari: ingXXXXXXX@gmail.com Jawaban: Pengertian Hadis Shahih Berita (khabar) atau hadis yang dapat diterima, bila ditinjau dari sisi perbedaan tingkatannya terbagi menjadi dua kelompok: Shahih dan Hasan. Masing-masing kelompok dibagi lagi menjadi 2: Li Dzâtihi ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Apa yang dimaksud dengan hadis shahih?</p>
<p>Dari: ingXXXXXXX@gmail.com<br />
<span id="more-10618"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<h2>Pengertian Hadis Shahih</h2>
<p>Berita (khabar) atau hadis yang dapat diterima, bila ditinjau dari sisi perbedaan tingkatannya terbagi menjadi dua kelompok: Shahih dan Hasan. Masing-masing kelompok dibagi lagi menjadi 2: <em>Li Dzâtihi</em> (secara independen) dan <em>Li Ghairihi</em> (karena riwayat pendukung). Dengan demikian, pembagian hadis yang bisa dijadikan dalil ada empat, yang disusun secara hirarki sebagai berikut:<br />
1. <em>Shahîh Li Dzâtihi</em> (shahih secara independen)<br />
2. <em>Shahîh Li Ghairihi</em> (shahih karena yang lainnya/riwayat pendukung)<br />
3. <em>Hasan Li Dzâtihi</em> (hasan secara independen)<br />
4. <em>Hasan Li Ghairihi</em> (hasan karena yang lainnya/riwayat pendukung)</p>
<p><strong>Definisi Shahîh</strong><br />
Secara etimologi, kata shahih (Arab: صحيح) artinya: sehat. Kata ini merupakan antonim dari kata saqim (Arab: سقيم) yang artinya: sakit. Bila digunakan untuk menyifati badan, maka makna yang digunakan adalah makna hakiki (yang sebenarnya), tetapi bila diungkapkan di dalam hadis dan pengertian-pengertian lainnya, maka maknanya hanya bersifat kiasan (majaz).</p>
<p>Sedangkan secara istilah, pengertian yang paling bagus yang disampaikan ulama hadis adalah:</p>
<p class="arab">ما اتصل سنده بنقل العدل الضابط، عن مثله إلى منتهاه، من غير شذوذ، ولا علة</p>
<p>Hadis yang bersambung sanad nya (jalur periwayatan) melalui penyampaian para perawi yang <em>‘adil</em>, <em>dhabith</em>, dari perawi yang semisalnya sampai akhir jalur periwayatan, tanpa ada <em>syudzudz</em>, dan juga tanpa <em>‘illat</em>.</p>
<p><strong>Penjelasan Definisi</strong><br />
Bersambung sandanya: Artinya, masing-masing perawi mengambil hadis dari perawi di atasnya secara langsung, dari awal periwayatan hingga ujung (akhir) periwayatan.<br />
Perawi yang <em>‘adil</em>. Seorang perawi disebut <em>&#8216;adil</em> jika memenuhi kriteria: muslim, baligh, berakal, tidak fasiq, dan juga tidak cacat maruah wibawanya (di masyarakat).</p>
<p>Perawi yang <em>dhabith</em>, artinya perawi ini adalah orang yang kuat hafalannya. Sehingga hadis yang dia bawa tidak mengalami perubahan. Perawi yang <em>dhabith</em> ada 2:</p>
<p><em>Dhabith</em> karena kekuatan hafalan, yang disebut <em>dhabtus shadr</em>.<br />
<em>Dhabith</em> karena ketelitian catatan, yang diistilahkan dengan <em>dhabtul kitabah</em>.</p>
<p>Perawi yang memiliki <em>dhabtul kitabah</em>, hadisnya bisa diterima jika dia menyampaikannya dengan membaca catatan.<br />
Tanpa <em>syudzudz</em>, artinya, hadis yang diriwayatkan itu tidak bertentangan dengan hadis lain yang diriwayatkan dengan jalur lebih terpercaya.</p>
<p>Tanpa <em>‘illat</em>. <em>&#8216;Illat</em> (cacat hadis) adalah sebab tersembunyi yang mempengaruhi kesahihan hadis, meskipun bisa jadi zahirnya tampak shahih.</p>
<p>Demikian keterangan yang disadur dari buku <em>Taisir Mustholah Hadis</em>, karya Mahmud Thahhan An-Nu&#8217;aimi, Hal. 44 dan 45.</p>
<p>Satu hal yang penting untuk kita jadikan catatan, berdasarkan keterangan bahwa seseorang tidak mungkin bisa menilai keshahihan suatu hadis sampai dia betul-betul mendalami ilmu hadis. Karena itu, bagi orang yang merasa belum memiliki ilmu yang cukup tentang masalah hadis, selayaknya dia merujuk kepada ahlinya, ketika hendak menilai keabsahan suatu hadis.<br />
<em>Allahu a&#8217;lam</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a href="http://konsultasisyariah.com/pengertian-hadis-shahih" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/pengertian-hadis-shahih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Beda Hadis Qudsi dengan Alquran</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/beda-hadis-qudsi-dengan-alquran/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/beda-hadis-qudsi-dengan-alquran/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Feb 2012 23:12:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9946</guid>
		<description><![CDATA[Beda Hadis Qudsi dengan Alquran Pertanyaan: Assalammu&#8217;alaikum. Apa perbedaan hadis qudsi dengan Alquran? Bukankah itu sama-sama firman Allah? Terima Kasih Dari: Harry Jawaban: Wa&#8217;alaikumussalam Hadis qudsi adalah hadis yang diriwayatkan Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dari Rabnya (Allah). Hadis ini ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Beda Hadis Qudsi dengan Alquran</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
<em>Assalammu&#8217;alaikum.</em><br />
Apa perbedaan <strong>hadis qudsi</strong> dengan Alquran? Bukankah itu sama-sama firman Allah?<br />
Terima Kasih</p>
<p>Dari: Harry<br />
<span id="more-9946"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa&#8217;alaikumussalam</em><br />
<span style="text-decoration: underline;"><br />
Hadis qudsi</span> adalah hadis yang diriwayatkan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dari Rabnya (Allah). Hadis ini sering juga diistilahkan dengan hadis rabbani atau hadis ilahi. Sedangkan hadis yang bukan qudsi, disebut dengan hadis nabawi.</p>
<p>Contonya teks <em>hadis qudsi</em>,</p>
<p class="arab">قال صلّى الله عليه وسلّم فيما يرويه عن ربه &#8211; تعالى &#8211; أنه قال: &#8220;أنا عند ظن عبدي بي، وأنا معه حين يذكرني</p>
<p>Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, yang beliau meriwayatkan dari Rabnya, bahwa Allah berfirman, &#8220;Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya jika dia mengingat-Ku&#8230; (HR. Bukhari, no.7405)</p>
<h2>Antara Alquran, hadis qudsi, dan hadis nabawi:</h2>
<ol>
<li>Alquran: lafadz dan maknanya, keduanya dari Allah <em>Ta&#8217;ala</em>.</li>
<li>Hadis qudsi: maknanya dari Allah, sedangkan lafadznya dari Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em></li>
<li>Hadis nabawi: lafadz dan maknanya keduanya dari Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.</li>
</ol>
<p>Dengan demikian, posisi <strong>hadis qudsi</strong> adalah antara Alquran dengan hadis nabawi.</p>
<h3>Perbedaan hadis qudsi dengan Alquran:</h3>
<ol>
<li>Alquran, lafadznya dari Allah, sedangkan <a title="hadis qudsi" href="http://konsultasisyariah.com/hukum-berkata-ini-zaman-celaka-ini-zaman-pahit-dan-sejenisnya" target="_blank" rel="nofollow">hadis qudsi</a>, lafadznya dari Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.</li>
<li>Membaca Alquran dinilai sebagai ibadah, baik paham maknanya maupun tidak. Sedangkan semata-mata membaca hadis qudsi tanpa maksud mempelajarinya, tidak dihitung sebagai ibadah.</li>
<li>Membaca Alquran mendapat pahala per huruf. Sementara pahala per huruf ini tidak ada dalam hadis qudsi.</li>
<li>Alquran dibaca ketika shalat, sedangkan hadis qudsi tidak boleh dibaca ketika shalat.</li>
<li>Alquran mendapat jaminan penjagaan dari segala bentuk penyelewengan, sedangkan hadis qudsi tidak mendapat jaminan. Karena itu, ada hadis qudsi yang dhaif, palsu, mungkar, dst. Sebagaimana penilaian yang berlaku untuk semua hadis.</li>
<li>Alquran sampai kepada kita secara mutawatir dan disepakati oleh kaum muslimin. Sedangkan hadis qudsi ada yang statusnya ahad.</li>
</ol>
<p><em>Allahu a&#8217;lam</em></p>
<p>Disarikan dari buku: <em>Mushtalah al-Hadis</em>, karya: Muhammad bin Shalih al-Utsaimin.</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a href="http://konsultasisyariah.com/" rel="nofollow" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/" rel="nofollow" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Tags: hadis qudsi, pengertian hadis qudsi, tentang <strong>hadis qudsi.</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/beda-hadis-qudsi-dengan-alquran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Benarkah Rasulullah Meminta Miskin?</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/rasulullah-meminta-miskin/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/rasulullah-meminta-miskin/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Nov 2011 07:54:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=8905</guid>
		<description><![CDATA[Rasulullah Minta Miskin Pertanyaan: Benarkah kefakiran itu mendekatkan kepada kekufuran? Bagaimana kedudukan hadis tentang doa nabi supaya hidup dalam keadaan miskin? Adakah hadis yang menyatakan bahwa orang yang membaca surat Al-Waqi’ah setiap malam akan dijauhkan dari kemiskinan? Jawaban: 1. Barangkali ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Rasulullah Minta Miskin</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<ol>
<li> Benarkah kefakiran itu mendekatkan kepada kekufuran?</li>
<li>Bagaimana kedudukan hadis tentang doa nabi supaya hidup dalam keadaan miskin?</li>
<li>Adakah hadis yang menyatakan bahwa orang yang membaca surat Al-Waqi’ah setiap malam akan dijauhkan dari kemiskinan?</li>
</ol>
<p><span id="more-8905"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
<strong>1.</strong> Barangkali penanya mengisyaraktan pada hadis yang cukup populer di masyarakat yaitu:<br />
“Hampir saja kefakiran itu menyebabkan kekufuran.” Hadis ini derajatnya <em>dha’if</em> (lemah).</p>
<p><strong>2.</strong> Ada beberapa hadis yang menunjukkan hal itu, di antaranya hadis Abu Said Al-Khudri,<br />
“<em>Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan miskin dan matikanlah aku dalam keadaan miskin serta kumpulkanlah aku dalam rombongan orang-orang miskin</em>.”<br />
Hadis hasan. Diriwayatkan Ibnu Majah (6/412), Abdu bin humaid dalam Al-Muntakhab (1/110), As-Sulami dalam Al-Arbauna AS-Sufiyyah (2/5), Al-Khatib dalam Tarikh (4/111) dari jalan Yazid bin Sinan dari Abu Mubarak dari Atha’ dari Abu said Al-Khudri secara <em>marfu’</em>.<br />
Perlu diperhatikan bahwasanya makna miskin dalam hadis ini bukanlah miskin harta tetapi maknanya adalah tawadhu’ dan rendah hati sebagaimana dijelaskan oleh para ulama ahli hadis dan bahasa:<br />
Imam Baihaqi mengatakan, “Menurut saya, Nabi <em>shalallahu ‘alaihi wa sallam</em> tidak bermaksud meminta keadaan miskin yang berarti kurang harta tetapi miskin yang berarti <em>tawadhu</em>’ dan rendah hati.” (Dinukil dan disetujui oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Al-Talkhis Habir 3:1108)<br />
Imam Ibnu Atsir berakta dalam An-Nihayah fi Gharibil Hadis 2:385 mengatakan, “Maksud Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah tawadhu’ (rendah hati) dan agar tidak termasuk orang-orang yang sombong dan angkuh.”</p>
<p><strong>3. </strong>Memang ada beberapa hadis berkaitan tentang itu, tetapi semuanya tidak sahih dari Nabi <em>shalallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Berikut perinciannya:</p>
<ul>
<li> Hadis Abdullah bin Mas’ud <em>radhiallahu’anhu</em>,</li>
</ul>
<p>“Barangsiapa yang membaca surat Al-Waqi’ah setiap malam, maka dia tidak akan terkena kemiskinan selama-lamanya.” Hadis ini derajatnya lemah.</p>
<ul>
<li> Hadis Abdullah bin Abbas <em>radhiallahu’anhu</em>,</li>
</ul>
<p>“Barangsiapa memabca surat Al-Waqi’ah setiap malam, maka tidak akan ditimpa kemiskinan selama-lamanya dan barangsiapa membaca surat Al-Qiyamah setiap malam, maka akan berjumpa dengan Allah dengan berwajah rembulan di malam purnama.” Hadis ini adalah hadis palsu. As-Suyuthi dalam <em>Dzail Al-AHadis Al-Maudhu’ah</em> (177) mengomentari orang yang meriwayatkannya, “Ahmad Al-Yamami seorang pendusta.”</p>
<ul>
<li> Hadis Anas bin Malik <em>radhiallahu’anhu</em>,</li>
</ul>
<p>“Barangsiapa yang membaca surat Al-Waqi’ah dan mempelajarinya, maka dia tidak dicatat termasuk golongan orang-orang yang lalai dan dia beserta keluarganya tidak akan fakir.” Hadis ini adalah hadis palsu.<br />
As-Suyuthi berkata terkait dengan orang-orang yang meriwayatkannya, “Abdul Quddus bin Habib matruk (ditinggalkan).”<br />
Abdur Razzaq berkata, “Saya tidak pernah melihat ibnu Mubarak begitu fashih mengatakan ‘Kadzdzab’ (pendusta) kecuali pada Abdul Quddus. Demikian pula Ibnu Hibban telah menegaskan bahwa dia (Abdul Quddus) suka memalsukan hadis.</p>
<p>Sumber: <em>Majalah Al-Furqon</em>, Edisi 04 Tahun ke-3 Shafar 1425 H</p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Materi terkait:</p>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/hidup-tenang-tanpa-utang-dengan-pesugihan-al-fatihah-benarkah" rel="nofollow" target="_blank">Takut Miskin, Malah Tertipu Pesugihan</a>.</p>
<p>2. <a href="http://konsultasisyariah.com/bolehkah-melakukan-kb-keluarga-berencana-bukan-karena-takut-miskin" rel="nofollow" target="_blank">Melakukan KB Bukan karena Takut Miskin</a>.</p>
<p>3. <a href="http://konsultasisyariah.com/hadits-apakah-memperbanyak-shalawat-menghilangkan-kemiskinan" rel="nofollow" target="_blank">Apakah Memperbanyak Shalawat Menghilangkan Kemiskinan</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/rasulullah-meminta-miskin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membunuh Ular dan Tikus Karena Mengganggu</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/membunuh-ular-dan-tikus-karena-mengganggu/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/membunuh-ular-dan-tikus-karena-mengganggu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Nov 2011 05:55:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator 2</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[AKHLAK]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[KITAB]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=8700</guid>
		<description><![CDATA[Membunuh Ular dan Tikus Pertanyaan: Apakah ular, tikus, dan kecoa boleh dibunuh? Dari Ummu Unaizah Jawaban: Membunuh ular,tikus, kecoa, dan binatang sejenis merupakan perkara yang dibolehkan karena binatang tersebut mengganggu. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, “Lima ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Membunuh Ular dan Tikus</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Apakah <strong>ular</strong>, tikus, dan kecoa boleh dibunuh?</p>
<p>Dari Ummu Unaizah<br />
<span id="more-8700"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Membunuh <u>ular</u>,tikus, kecoa, dan binatang sejenis merupakan perkara yang dibolehkan karena binatang tersebut mengganggu. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam,</p>
<p><em>“Lima (hewan) perusak yang boleh dibunuh di luar tanah suci dan di tanah suci (Mekah) yaitu: ular, gagak, tikus, srigala, dan rajawali.”</em></p>
<p><strong>Sumber:</strong> <em>Majalah As-Sunnah</em>, edisi: 10, Th. XIII</p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait ular:</h3>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/hukum-pakai-kulit-binatang" rel="nofollow" target="_blank">Tas dari Kulit Ular</a>.</p>
<p>2. <a href="http://konsultasisyariah.com/sering-mimpi-buruk-dan-mimpi-aneh" target="_blank" rel="nofollow">Mimpi Bertemu Ular</a>.</p>
<p>3. <a href="http://konsultasisyariah.com/jual-beli-ular-1" target="_blank" rel="nofollow">Hukum Jual Beli Ular</a>.</p>
<p>4. <a href="http://konsultasisyariah.com/jual-beli-ular-2" target="_blank" rel="nofollow">Hukum Berobat dengan Ular</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/membunuh-ular-dan-tikus-karena-mengganggu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hafal Asmaul Husna, Masuk Surga?</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/99-nama-asmaul-husna/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/99-nama-asmaul-husna/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Nov 2011 02:12:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[KITAB]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=8686</guid>
		<description><![CDATA[Bernarkah Menjaga 99 Nama Asmaul Husna  Akan Masuk Surga? Saya ingin bertanya mengenai hadis berikut: Telah menceritakan kepada kami &#8216;Amr An-Naqid dan Zuhair bin Harb dan Ibnu Abu &#8216;Umar semuanya dari Sufyan &#8211; dan lafadh ini milik &#8216;Amr-; telah menceritakan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Bernarkah Menjaga 99 Nama Asmaul Husna  Akan Masuk Surga?</h2>
<p>Saya ingin bertanya mengenai hadis berikut:<br />
Telah menceritakan kepada kami &#8216;Amr An-Naqid dan Zuhair bin Harb dan Ibnu Abu &#8216;Umar semuanya dari Sufyan &#8211; dan lafadh ini milik &#8216;Amr-; telah menceritakan kepada kami Sufyan bin Uyainah  dari Abu Az Zinad dari Al A&#8217;raj dari Abu Hurairah dari Nabi Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wasallam, beliau telah bersabda: &#8220;Sesungguhnya Allah<em> Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> memiliki sembilan puluh sembilan nama. Maka barang siapa dapat menjaganya niscaya ia akan masuk surga. Sesungguhnya Allah itu Ganjil dan Dia sangat menyukai bilangan yang Ganjil.&#8221;  Di dalam riwayat Ibnu Abu Umat disebutkan dengan lafazh; &#8216;Barang siapa yang menghitung-hitungnya&#8217;</p>
<p>Apa maksud hadis di atas ustadz? Lalu apa yang dimaksud menjaga <strong>99 nama</strong> Allah, maka akan masuk surga?</p>
<p><em>Weyah (75XXXXXXX@gmail.com)</em><br />
<span id="more-8686"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<h3>Makna hadis: Allah memiliki 99 nama (asmaul husna), siapa yang menjaganya maka dia masuk surga.</h3>
<p>Teks hadis :</p>
<p class="arab">إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا ، مِائَةً إِلا وَاحِدَةً ، مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ</p>
<p>“Sesunguhnya Allah memiliki <span style="text-decoration: underline;">99 nama</span>, seratus kurang satu, siapa yang menjaganya maka dia masuk surga.” (HR. Bukhari, no.2736, Muslim, no.2677 dan Ahmad, no.7493).</p>
<p>Keterangan Syekh Abdul Aziz bin Baz megenai makna hadis:</p>
<p>Makna dari &#8216;menjaga&#8217; adalah dengan <strong>menghafalnya, merenungkan maknanya, dan mengamalkan kandungan maknanya</strong>&#8230; mengingat adanya kebaikan yang banyak dan ilmu yang bermanfaat dalam mengamalkan kandungan makna <em>asmaul husna</em> tersebut. Karena mengamalkannya merupakan sebab kebaikan bagi hati, kesempurnaan takut kepada Allah, dan menunaikan hak-Nya.<br />
(http://www.binbaz.org.sa/mat/12132 )</p>
<p><strong>Keterangan Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin:</strong><br />
Bab, Nama Allah tidak terbatas dengan bilangan tertentu.</p>
<p>Berdasarkan sabda Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>:</p>
<p class="arab">أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ</p>
<p>“Saya meminta kepada-Mu dengan perantara semua nama-Mu, yang Engkau gunakan untuk menamakan diri-Mu, atau yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang diantara makhluk-Mu, atau yang Engkau <strong>simpan dalam sebagai rahasia </strong>di sisi-Mu.” (HR. Ahmad, Ibn Hibban, dan dishahihkan Syua&#8217;aib Al-Arnauth).</p>
<p><strong>Kemudian Syekh Ibnu Utsaimin membawakan keterangan Ibnul Qayim:</strong><br />
Ibnul Qayim mengatakan dalam <em>Syifaul Alil</em> Hal. 472, Sabda Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>: “Sesunguhnya Allah memiliki <em>99 nama</em>” tidaklah meniadakan bahwa Allah memiliki nama-nama yang lain. Sebagaimana ada orang mengatakan, “Fulan memiliki 100 budak untuk dijual dan 100 budak untuk pasukan perang.” Pendapat ini adalah pendapat mayoritas ulama. Tidak sebagaimana pendapat Ibnu Hazm, yang beranggapan bahwa nama-nama Allah hanya terbatas 99 saja.<br />
(Al-Qawaidul Mutsla, Hal. 13 – 14).</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>)</strong></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Materi terkait:</p>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/bagaimana-cara-menghafal-asmaul-husna" target="_blank" rel="nofollow">Cara Menghafal Asmaul Husna</a>.</p>
<p>2. <a href="http://konsultasisyariah.com/adakah-khasiat-asmaul-husna" target="_blank" rel="nofollow">Adakah Kasiat Asmaul Husna</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/99-nama-asmaul-husna/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Telaah Hadis Menuntut Ilmu Ke Negeri Cina</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/tuntutlah-ilmu-sampai-negeri-cina/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/tuntutlah-ilmu-sampai-negeri-cina/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Oct 2011 01:58:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[KITAB]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[hadits yang menjelaskan menuntut ilmu itu wajib]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7819</guid>
		<description><![CDATA[Telaah Hadis Menuntut Ilmu Ke Negeri Cina Assalamu&#8217;alaikum, ustadz. Saya melihat banyak sekaali org2 yng menyebut nyebut tentang hadist &#8221; Tuntutlah ilmu ke negeri Cina&#8221; yang ingin saya tanyakan, &#8220;Apakah hadist ini shahih? Tolong ustadz jelaskan dengan dalil yang shahih! ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Telaah Hadis Menuntut Ilmu Ke Negeri Cina</h2>
<p>Assalamu&#8217;alaikum, ustadz. Saya melihat banyak sekaali org2 yng menyebut nyebut tentang hadist &#8221; <strong>Tuntutlah ilmu ke negeri Cina</strong>&#8221; yang ingin saya tanyakan, &#8220;Apakah hadist ini shahih? Tolong ustadz jelaskan dengan dalil yang shahih! Kalau bisa, ustadz masukkan ke kolom pertanyaan pembaca agar banyak orang tahu tentang keshahihan hadist tersebut. <em>Jazakallahu khairan katsira</em>.</p>
<p><em>Ahmad Al Faqih (ahmadXXXXXXXX@gmail.com)</em><br />
<span id="more-7819"></span></p>
<h3>Jawaban tentang hadis menuntut ilmu ke negeri Cina</h3>
<p><em>Wa alaikumus salam</em></p>
<p>Tuntutlah <a href="http://konsultasisyariah.com/apa-hukum-membaca-al-fatihah-setelah-sholat-fardhu" target="_blank">Ilmu</a> hingga negeri cina</p>
<p>Keterangan Dr. Hisamuddin AffanahTeks hadisnya,</p>
<p>اطلبوا العلم ولو في الصين</p>
<p>Hadis ini adalah hadis yang batil. Bahkan disebutkan oleh Ibnul Jauzi dalam <em>al-Maudhu&#8217;at</em>, &#8220;Ini adalah hadis dusta atas nama Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. As-Syaukani mengatakan,</p>
<p>&#8216;Hadis ini diriwayatkan al-Uqaili dan Ibn Adi dari Anas secara <em>marfu&#8217;</em> (sampai kepada Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>).&#8217; Ibn Hiban mengatakan, &#8216;Ini adalah hadis batil, tidak ada sanadnya (<em>laa ashla lahuu</em>), dalam sanadnya ada Abu Atikah, dan dia adalah <em><strong>munkarul hadis</strong></em>.&#8217;</p>
<p>Demikian keterangan Syaukani dalam <em>al-Fawaidul Majmu&#8217;ah</em>, hal. 272. Demikian pula keterangan di <em>Maqasidul Hasanah</em> hal. 93, dan <em>Kasyful Khafa</em>, 1/138. Syaikh al-Albani mengatakan menjelaskan status hadis ini, bahwa hadis ini adalah hadis batil. Kemudian beliau menyebutkan beberapa periwayat hadis dan menjelaskan: Kesimpulannya bahwa hadis ini, status yang benar adalah sebagaimana keterangan Ibn Hibban dan Ibnul Jauzi – yaitu bahwa hadis ini adalah hadis batil, kedustaan atas nama Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> – karena tidak ada jalur satupun yang bisa dijadikan sebagai penguat. (<em>Silsilah Dhaifah</em>, 1/415 – 416)</p>
<p><strong>Sumber:</strong> <em>Fatawa yasalunaka. http://www.yasaloonak.net/2008-09-18-11-36-26/2009-07-07-12-26-01/207-2008-10-30-17-33-06.html</em></p>
<p>***<br />
<strong>Catatan hadis semisal yang shahih:</strong></p>
<p>Hadis yang shahih dalam masalah kewajiban menuntut ilmu adalah hadis dari Anas bin Malik <em>radliallahu &#8216;anhu</em> bahwa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p>طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ</p>
<p><em>“Menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim.”</em> (HR. Ibn Majah 224 dan dishahihkan al-Albani dalam shahih Ibn Majah, 1/296)</p>
<p>Yang dimaksud di sini adalah ilmu syariah. Sufyan at-Tsauri mengatakan: Yaitu ilmu, di mana seorang hamba tidak memiliki udzur (alasan yang dibenarkan) untuk tidak mengetahuinya. (Hasyiyah as-Sindi &#8216;ala Sunan Ibn Majah, 1/208)</p>
<p><strong>Dijawab oleh <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com" rel="nofollow">ustadz Ammi Nur Baits</a> (Dewan Pembina<a href="http://www.KonsultasiSyariah.com" rel="nofollow"> Konsultasi Syaraiah</a>)</strong></p>
<p><strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/tuntutlah-ilmu-sampai-negeri-cina/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pembagian Hari di Bulan Ramadan</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/pembagian-bulan-ramadan/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/pembagian-bulan-ramadan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Aug 2011 22:00:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[RAMADHAN]]></category>
		<category><![CDATA[kuku]]></category>
		<category><![CDATA[pembagian bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[pembagian bulan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[pembagian hari dalam ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[portal usu]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[surga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=6436</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Adakah hadis yang menyatakan hal tersebut? 10 hari pertama sampai dengan 10 hari terakhir &#8230;. Agus Triatmoko (agus_**@***.com) Jawaban: Terdapat dua hadis yang menyebutkan hal ini: Pertama, hadis dari Abu Hurairah radhiallahu &#8216;anhu, أول شهر رمضان رحمة وأوسطه مغفرة ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Adakah hadis yang menyatakan hal tersebut? 10 hari pertama sampai dengan 10 hari terakhir &#8230;.</p>
<p><em>Agus Triatmoko (agus_**@***.com)</em><br />
<span id="more-6436"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Terdapat dua hadis yang menyebutkan hal ini:</p>
<p><em><strong>Pertama</strong></em>, hadis dari Abu Hurairah <em>radhiallahu &#8216;anhu</em>,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>أول شهر رمضان رحمة وأوسطه مغفرة وآخره عتق من النار</strong></p>
<p>“<em>Awal bulan Ramadan adalah rahmah, pertengahannya maghfirah, dan akhirnya &#8216;itqun minan nar (pembebasan dari neraka)</em>.”</p>
<p>Disebutkan dalam <em>Silsilah Adh-Dhaifah</em> (kumpulan hadis <strong><em>dhaif</em></strong>), &#8220;Hadis ini disebutkan oleh Al-Uqaili dalam <em>Adh-Dhu&#8217;afa</em>, hlm. 172; Ibnu Adi dalam <em>Al-Kamil fid Dhu&#8217;afa&#8217;</em>, 1:165; Ad-Dailami dalam <em>Musnad Al-Firdaus</em>, 1/1:10&#8211;11; dengan sanad: dari Sallam bin Siwar dari Maslamah bin Shult dari Az-Zuhri dari Abu Salamah dari Abu Hurairah <em>radhiallahu &#8216;anhu</em>. Al-Uqaili mengatakan, &#8216;Tidak ada bukti dari hadis Az-Zuhri.&#8217; Ibnu Adi mengatakan, &#8216;Sallam bin Siwar, menurutku dia <em>munkarul hadits</em> (perawi hadis munkar), sedangkan Masmalah bin Shult tidak banyak dikenal.&#8217; Demikian pula komentar Adz-Dzahabi. Sedangkan Maslamah, telah dikomentari Abu Hatim, &#8216;<em>Matrukul hadits</em> (hadisnya ditinggalkan),&#8217; sebagaimana yang beliau sebutkan dalam <em>Mizanul I&#8217;tidal</em>, 2:179.&#8221; (<em>Silsilah Ahadits Dhaifah</em>, no. 1569)</p>
<p><em><strong>Kedua</strong></em>, hadis dari Salman Al-Farisi <em>radhiallahu &#8216;anhu</em>. Diceritakan bahwa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berkhotbah menjelang Ramadan. Di antara isi khotbah beliau,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>من فطر صائما على مذقة لبن، أو تمرة، أو شربة من ماء، ومن أشبع صائما سقاه الله من الحوض شربة لا يظمأ حتى يدخل الجنة، وهو شهر أوله رحمة، ووسطه مغفرة، وآخره عتق من النار، فاستكثروا فيه من أربع خصال&#8230;</strong></p>
<p>“<em>Siapa saja yang memberi buka kepada orang yang puasa dengan seteguk susu, sebiji kurma, atau seteguk air, dan siapa yang mengenyangkan orang puasa maka Allah akan memberi minum dari telaga dengan satu tegukan, yang menyebabkan tidak haus sampai masuk surga. Inilah bulan, yang awalnya adalah rahmah, pertengahannya maghfirah, dan akhirnya &#8216;itqun minan nar (pembebasan dari neraka). Perbanyaklah melakukan 4 hal dalam bulan Ramadan &#8230;.</em>”</p>
<p>Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Muhamili dalam <em>Al-Amali</em>, jilid 5, no. 50; Ibnu Khuzaimah dalam <em>Shahih</em>-nya, no. 1887, dengan komentar dari beliau, &#8220;<strong>Andaikan</strong> sahih, bisa jadi dalil;&#8221; Al-Wahidi dalam Al-Wasith, 1:640. <strong>Sanad hadis ini <em>dhaif </em></strong>karena adanya perawi Ali bin Zaid bin Jada&#8217;an. Orang ini <em>dhaif</em>, sebagaimana keterangan Imam Ahmad dan yang lainnya. Imam Ibnu Khuzaimah menjelaskan, &#8220;Saya tidak menjadikan perawi ini sebagai dalil karena jeleknya hafalannya.&#8221; (<em>Silsilah Ahadits Dhaifah</em>, no. 871)</p>
<p><strong>Dijawab oleh <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">Ustadz Ammi Nur Baits</a> (Dewan Pembina <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">Konsultasi Syariah.com</a>).</strong></p>
<p><strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/pembagian-bulan-ramadan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Syarah Hadis Tentang Zina</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/syarah-hadis-tentang-zina/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/syarah-hadis-tentang-zina/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Jun 2011 05:58:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[KITAB]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[apa arti zina hati?]]></category>
		<category><![CDATA[apa zina tanggan itu membatalkan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[berzina pada waktu puasa]]></category>
		<category><![CDATA[berzina saat puasa]]></category>
		<category><![CDATA[cara syarah hadith]]></category>
		<category><![CDATA[faktor penghambat dalam pelaksanaan pendidikan islam dalam ibadah puasa ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[hadis tentang berzina di bulan ramadan]]></category>
		<category><![CDATA[hadist berzina dengan tangan]]></category>
		<category><![CDATA[hadist tentang dua mata itu berzina, xina nya ialah melihat .]]></category>
		<category><![CDATA[hadist tentang zina]]></category>
		<category><![CDATA[hadist tentang zinah kedua mata dan tangan]]></category>
		<category><![CDATA[hadist zina mata zina tangan]]></category>
		<category><![CDATA[hadits berzina di bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[hadits hadits tentang zina]]></category>
		<category><![CDATA[hadits mengenai zina]]></category>
		<category><![CDATA[hadits zina]]></category>
		<category><![CDATA[hadits zina dan mengandung]]></category>
		<category><![CDATA[hadits zina mata]]></category>
		<category><![CDATA[hadits zina mata adalah melihat]]></category>
		<category><![CDATA[hr muslim tentang zina]]></category>
		<category><![CDATA[hukum tentang berzina di waktu bulan suci ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[kumpulan hadist tentang zina]]></category>
		<category><![CDATA[nikah]]></category>
		<category><![CDATA[pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[seputar zinah]]></category>
		<category><![CDATA[syarah]]></category>
		<category><![CDATA[tentang zina]]></category>
		<category><![CDATA[tntng zina]]></category>
		<category><![CDATA[zina]]></category>
		<category><![CDATA[zina di bulan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[zina di saat akan sahur]]></category>
		<category><![CDATA[zina mata bulan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[zina mata zina tangan zina hati]]></category>
		<category><![CDATA[zina saat puasa]]></category>
		<category><![CDATA[zina waktu puasa ramadhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=5278</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Assalamu &#8216;alaikum warahmatullah, Ustadz. Bagaimana sababul wurud dan syarah hadis berikut, “Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Assalamu &#8216;alaikum warahmatullah</em>, Ustadz. Bagaimana <em>sababul wurud</em> dan syarah hadis berikut, “<em>Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu, kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian</em>.” (H.R. Muslim, no. 6925)</p>
<p>Apakah yang dimaksud dengan zina di dalam hadis tersebut, sebab kalau kita definisikan berdasarkan bahasa Indonesia, zina adalah perbuatan bersenggama antara laki-laki dan perempuan yang tidak terikat oleh hubungan pernikahan?</p>
<p>Mohon penjelasannya, Ustadz. <em>Syukran. Jazakumullahu khairan katsira</em>.</p>
<p><em>Anwar (**rhee_plus@***.com)</em><br />
<span id="more-5278"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa&#8217;alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh</em>.</p>
<p>Hadis tersebut diriwayatkan oleh Bukhari, no. 5889 dan Muslim, no. 6925. Untuk penjelasannya, kami bawakan perkataan Ibnu Baththal, &#8220;Melihat dengan syahwat, berbicara secara vulgar, dan membayangkan sesuatu disebut &#8216;zina&#8217; karena semua perbuatan di atas merupakan faktor pendorong terjadinya zina yang hakiki. Terkadang, penyebab suatu perbuatan itu diberi nama dengan perbuatan itu sendiri karena <strong>keduanya memiliki keterkaitan</strong>.&#8221; (<em>Syarh Bukhari</em> oleh Ibnu Batthal, 19:414)</p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).</strong><br />
<strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/syarah-hadis-tentang-zina/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kesahihan Hadis &#8220;Sombong terhadap Orang Sombong adalah Sedekah&#8221;</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/kesahihan-hadis-sombong-terhadap-orang-sombong-adalah-sedekah/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/kesahihan-hadis-sombong-terhadap-orang-sombong-adalah-sedekah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 May 2011 04:30:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator 2</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[KITAB]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[adab sedekah secara islami]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[batal puasa sombong]]></category>
		<category><![CDATA[bolehkah orang islam bersikap sombong]]></category>
		<category><![CDATA[gelar untuk mencari duit]]></category>
		<category><![CDATA[hadis orang sadar]]></category>
		<category><![CDATA[hadis tentang orang bodoh]]></category>
		<category><![CDATA[hadis tentang sedekah]]></category>
		<category><![CDATA[hadis untuk orang yang sombong]]></category>
		<category><![CDATA[hadist orang sombong]]></category>
		<category><![CDATA[hadist sombong]]></category>
		<category><![CDATA[hadist tentang kesombongan]]></category>
		<category><![CDATA[hadist tentang sombong]]></category>
		<category><![CDATA[hadist tentang sombong karena dunia]]></category>
		<category><![CDATA[hadith orang sombong]]></category>
		<category><![CDATA[hadith tentang sombong]]></category>
		<category><![CDATA[hadits bagi orang yang sombong,membanggakan diri dan munafik]]></category>
		<category><![CDATA[hadits kesombongan]]></category>
		<category><![CDATA[hadits tentang sedekah]]></category>
		<category><![CDATA[hadits tentang sombong]]></category>
		<category><![CDATA[kata buat orang sombong imam]]></category>
		<category><![CDATA[kata kata sombong karena harta]]></category>
		<category><![CDATA[kata orang sombong]]></category>
		<category><![CDATA[kata-kata nasehat untuk orang sombong]]></category>
		<category><![CDATA[kata-kata nasehat untuk orang yang sombong]]></category>
		<category><![CDATA[kata-kata untuk orang sombong sedekah]]></category>
		<category><![CDATA[kesombonngan di balas dengan kesombongan adalah sedekah]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[maaf]]></category>
		<category><![CDATA[manusia sombong dalam islam]]></category>
		<category><![CDATA[nasehat ttg sombong]]></category>
		<category><![CDATA[nasehat untuk orang yang sombong]]></category>
		<category><![CDATA[obati penyakit dengan sedekah]]></category>
		<category><![CDATA[orang sombong itu yang nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[perihal org sombong]]></category>
		<category><![CDATA[puasa sedekah hadis]]></category>
		<category><![CDATA[sedekah]]></category>
		<category><![CDATA[seorang yang sombong]]></category>
		<category><![CDATA[sombong batal puasa]]></category>
		<category><![CDATA[sombong dalam hadist]]></category>
		<category><![CDATA[sombong di atas orang yang sombong]]></category>
		<category><![CDATA[sombong kepada orang yg sombong hadits]]></category>
		<category><![CDATA[sombong kepada org sombong boleh]]></category>
		<category><![CDATA[sombong kepada yang sombong itu sedekah]]></category>
		<category><![CDATA[sombong orang sombong halal]]></category>
		<category><![CDATA[sombong terhadap orang sombong]]></category>
		<category><![CDATA[sombong terhadap orang sombong adalah sedekah]]></category>
		<category><![CDATA[sombong terhadap yang sombong]]></category>
		<category><![CDATA[wallpaper nasehat dalam islam]]></category>
		<category><![CDATA[web]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=5000</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Sahihkah hadis dengan matan terjemahan, &#8220;Sombong terhadap orang sombong adalah sedekah.&#8221; Bila sahih, bagaimana syarahnya menurut ulama? Maaf, saya cuma mendengar pas khotbah Jumat, dan merasa aneh. Ing Ratri (aku**@***.com) Jawaban: Bismillah. Teks kalimatnya adalah, التكبر على المتكبر صدقة ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Sahihkah hadis dengan matan terjemahan, &#8220;<em>Sombong terhadap orang sombong adalah sedekah</em>.&#8221; Bila sahih, bagaimana syarahnya menurut ulama? Maaf, saya cuma mendengar pas khotbah Jumat, dan merasa aneh.</p>
<p><em>Ing Ratri (aku**@***.com)</em><br />
<span id="more-5000"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Bismillah.</em></p>
<p>Teks kalimatnya adalah,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>التكبر على المتكبر صدقة</strong></p>
<p>&#8220;<em>Bersikap sombong kepada orang yang sombong adalah sedekah</em>.&#8221;</p>
<p>Dalam keterangan yang lain,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>التكبر على المتكبر حسنة</strong></p>
<p>&#8220;<em>Bersikap sombong kepada orang yang sombong adalah perbuatan baik</em>.&#8221;</p>
<p><strong>Penyataan di atas bukanlah hadis, melainkan hanya perkataan manusia yang banyak tersebar di masyarakat</strong>, sebagaimana yang dijelaskan oleh Al-Ajluni dalam kitabnya, <em>Kasyful Khafa</em>, dengan menukil keterangan dari Al-Qari. Kemudian, Al-Qari mengatakan, &#8220;Hanya saja, maknanya sesuai dengan keterangan beberapa ulama.&#8221;</p>
<p>Penulis kitab <em>Bariqah Mahmudiyah</em> mengatakan, &#8220;Bersikap sombong kepada orang yang sombong adalah sedekah, karena jika kita bersikap tawadhu di hadapan orang sombong maka itu akan menyebabkan dirinya terus-menerus berada dalam kesesatan. Namun, jika kita bersikap sombong maka dia akan sadar. Ini sesuai dengan nasihat Imam Syafi&#8217;i, &#8216;Bersikaplah sombong kepada orang sombong sebanyak dua kali.&#8217; Imam Az-Zuhri mengatakan, &#8216;Bersikap sombong kepada pecinta dunia merupakan bagian ikatan Islam yang kokoh.&#8217; Imam Yahya bin Mu&#8217;adz mengatakan, &#8216;Bersikap sombong kepada orang yang bersikap sombong kepadamu, dengan hartanya, adalah termasuk bentuk ketawadhuan.&#8217;&#8221;</p>
<p>Sementara, ulama yang lain mengatakan, &#8220;Terkadang bersikap sombong kepada orang yang sombong, bukan untuk membanggakan diri, termasuk perbuatan terpuji. Seperti, bersikap sombong kepada orang yang kaya atau orang bodoh (yang sombong).&#8221;</p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).</strong><br />
<strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a><strong></strong></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/kesahihan-hadis-sombong-terhadap-orang-sombong-adalah-sedekah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

