tutup Eksternal hardisk kajian video islam
cashflow laporan keuangan software akutansi terbaik
Hadits

hadits-palsu-bulan-rajab

Hadis Dhaif Seputar Bulan Rajab

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Bulan rajab merupakan bulan istimewa bagi kaum muslimin. Di saat yang sama, bulan ini menjadi kesempatan bagi sebagian orang untuk menyebarkan hadis dhaif atau hadil palsu. Terutama bagi mereka yang kurang perhatian dengan keshahihan hadis. terlebih didukung adanya berbagai fasilitas yang semakin memudahkan mereka untuk menyebarkan hadis-hadis yang tidak bertanggung jawab itu.

Sebelumnya kami ingatkan bahwa menyebarkan hadis palsu, tidak ubahnya menyebarkan kedustaan atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena itulah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan peringatan keras akan hal ini.

Dalam hadis dari Mughirah bin Syu’bah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ حَدّثَ عَنِّي بِحَديثٍ يُــرَي أَنّه كَذِبٌ فَهو أَحَدُ الكَاذِبِين

“Barangsiapa yang menyampaikan suatu hadis dariku, sementara dia menyangka bahwasanya hadis tersebut dusta maka dia termasuk diantara salah satu pembohong.” (HR. Muslim dalam Muqaddimah Shahihnya, 1/7, Ibnu Majah dalam sunannya no. 43).

Imam Ibn Hibban dalam Al-Majruhin (1/9) mengatakan,

فكل شاك فيما يروي أنه صحيح أو غير صحيح داخل في الخبر

“Setiap orang yang ragu terhadap hadis yang dia riwayatkan, apakah hadis tersebut shahih ataukah dhaif, tercakup dalam ancaman hadis ini.” (Dinukil dari Ilmu Ushul Bida’, hlm. 160).

Mari kita renungkan, ketika orang yang menyampaikan sebuah hadis, sementara dia ragu terhadap keabsahan hadis tersebut, shahih ataukah dhaif, dan dia tetap menyampaikan hadis itu tanpa memberikan keterangan statusnya maka orang semacam ini termasuk dalam ancaman, disebutb sebagai pendusta.

Dalam kasus ini, orang membawakan suatu hadis dan dia yakin hadis tersebut adalah hadis dhaif, namun di sisi lain dia masih menganggap bahwa hadis dhaif tersebut adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian dia sebarkan ke masyarakat, manakah diantara dua kasus di atas yang lebih layak untuk disebut pendusta?

Sebagai umat yang menghormati Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tentu kita akan berusaha menghindari setiap hadis lemah yang diatas-namakan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Hadis Dhaif Seputar Rajab

Berikut kita akan sebutkan beberapa hadis dhaif dan palsu yang banyak disebarkan masyarakat terkait bulan rajab, beserta penjelasan sisi kelemahannya.

Pertama, hadis

إن في الجنة نهراً يقال له رجب ماؤه أشد بياضاً من اللبن وأحلى من العسل من صام يوماً من رجب سقاه الله من ذلك النهر

“Sesungguhnya di surga ada sebuah sungai, namanya sungai Rajab. Airnya lebih putih dari pada susu, lebih manis dari pada madu, siapa yang puasa sehari di bulan Rajab maka Allah akan memberi minum orang ini dengan air sungai tersebut.”

Keterangan:

Al-Hafidz menjelaskan,

Hadis ini disebutkan Abul Qosim At Taimi dalam At Targhib wat Tarhib, al Ashbahani dalam kitab Fadlus Shiyam, dan al Baihaqi dalam Fadhail Auqat, serta Ibnu Syahin dalam at-Targhib wa Tarhib. (Tabyin al-Ujb, hlm 9)

Ibnul Jauzi mengatakan dalam al Ilal al Mutanahiyah, “Dalam sanadnya terdapat banyak perawi yang tidak dikenal, sanadnya dhaif secara umum, namun tidak sampai untuk dihukumi palsu. (al Ilal al Mutanahiyah, 2/65)

Kedua, hadis yang menyebutkan doa,

اللهم بارك لنا في رجب وشعبان وبلغنا رمضان

Allahumma baarik lanaa fii rajabin wa sya’baana wa ballighnaa Ramadhaana.

“Ya Allah, berkahilan kami di bulan rajab dan sya’ban, dan sampaikan kami ke bulan ramadhan.”

Keterangan:

Hadis ini diriwayatkan Ahmad dalam musnadnya no. 2346. dan di sanadnya terdapat perawi Zaidah bin Abi Raqqad. Tentang para perawi ini, Imam Bukhari dan an-Nasai memberi komentar, “Munkarul hadis”. Abu Daud mengatakan, “Saya tidak mengenal hadisnya.” Sementara Abu Hatim menjelaskan, “Zaidah meriwayatkan dari Ziyadah An Numairi dari Anas, beberapa hadis marfu’ yang munkar. Saya tidak mengenal hadisnya maupun hadis Ziyadah an-Numairi.”

Tentang Ziyadah An Numairi. Beliau dinilai dhaif oleh Ibnu Main dan Abu Daud. Abu Hatim mengatakan, “Hadisnya bisa ditulis tapi tidak bisa dijadikan pendukung.”

Syuaib al-Arnauth menegaskan sanad hadis ini dhaif, lalu beliau menyebutkan sisi cacat hadis ini sebagaimana keterangan di atas. (Tahqiq Musnad Ahmad, 4/180).

Ketiga, hadis marfu’, yang menyatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah puasa setelah Ramadhan, selain di bulan Rajab dan Sya’ban.

Keterangan:

Ibn Hajar menukil keterangan al Baihaqi tentang hadis ini. Ini adalah hadis munkar, disebabkan adanya perawi yang bernama Yusuf bin Athiyah, dia orang yang dhaif sekali. (Tabyinul Ujbi, hlm. 12)

Keempat, hadis,

رجب شهر الله وشعبان شهري ورمضان شهر أمتي

Rajab adalah bulan Allah, Sya’ban adalah bulanku, dan Ramadhan adalah bulan umatku.

Keterangan,

Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Bakr an-Naqasy dan al-Hafidz Abul Fadhl Muhammad bin Nashir mengatakan, an-Naqasy adalah pemalsu hadis, pendusta. Ibnul Jauzi, As Shaghani, dan As Suyuthi menyebut hadis ini dengan hadis maudlu’. (al-Lali’ al-Mashnu’ah, 2/114)

Kelima, hadis,

فضل رجب على سائر الشهور كفضل القرآن على سائر الأذكار

Keutamaan Rajab dibanding bulan yang lain, seperti keutamaan Al Qur’an dibanding dzikir yang lain.

Keterangan,

Ibn Hajar mengatakan, Perawi dalam sanad hadis ini tsiqqah, selain as Saqathi. Dialah penyakit dan orang yang terkenal sebagai pemalsu hadis. (Tabyinul Ujbi, hlm. 17)

Keenam, hadis,

رجب شهر الله الأصم،من صام من رجب يوماً إيماناً واحتساباً استوجب رضوان الله الأكبر

Rajab adalah bulan Allah al-Asham. Siapa yang berpuasa sehari di bulan Rajab, atas dasar iman dan ihtisab (mengharap pahala) maka dia berhak mendapat ridla Allah yang besar.

Keterangan:

Hadis ini palsu, as-Syaukani menjelaskan dalam sanadnya terdapat dua perawi yang matruk (ditinggalkan). (al-Fawaid al-Majmu’ah, 1/439).

Ketujuh, hadis,

من صام ثلاثة أيام من رجب كتب الله له صيام شهر ومن صام سبعة أيام أغلق عنه سبعة أبواب من النار

Barangsiapa yang berpuasa tiga hari bulan Rajab, Allah catat baginya puasa sebulan penuh. Siapa yang puasa tujuh hari maka Allah menutup tujuh pintu neraka.

Keterangan:

Hadis ini palsu, sebagaimana keterangan Ibnul Jauzi dalam al-Maudlu’at. Beliau menyebutkan

هذا حديث لا يصح. وفى صدره أبان. وقال أحمد والنسائي والدارقطني: متروك. وفيه عمرو ابن الازهر. قال أحمد: كان يضع الحديث

Hadis ini tidak shahih. Dalam sanadnya terdapat perawi bernama Aban. Kata Ahmad, Nasai dan Daruquthni, “Perawi matruk (ditinggalkan).” Dalam sanadnya juga ada perawi Amr bin Azhar, dan kata Ahmad, ‘Dia memalsu hadis.’ (al-Maudlu’at, 2/206)

Kedelapan, Hadis,

من صام من رجب وصلى فيه أربع ركعات …. لم يمت حتى يرى مقعده من الجنة أو يرى له

Siapa yang puasa di bulan Rajab dan shalat empat rakaat…maka dia tidak akan mati sampai dia melihat tempatnya di surga atau dia diperlihatkan.

Keterangan:

As-Syaukani mengatakan,

موضوع وأكثر رواته مجاهيل

Hadis palsu, mayoritas perawinya majhul (tidak dikenal) (al-Fawaid al-Majmu’ah, hlm. 47).

Kesembilan, hadis Shalat Raghaib,

رجب شهر الله وشعبان شهري ورمضان شهر أمتي … ولكن لا تغفلوا عن أول ليلة جمعة من رجب فإنها ليلة تسميها الملائكة الرغائب ، وذلك أنه إذا مضى ثلث الليل لا يبقى ملك مقرب في جميع السموات والأرض ، إلا ويجتمعون في الكعبة وحواليها ، فيطلع الله عز وجل عليهم اطلاعة فيقول : ملائكتي سلوني ما شئتم ، فيقولون : يا ربنا حاجتنا إليك أن تغفر لصوم رجب ، فيقول الله عز وجل: قد فعلت ذلك . ثم قال صلى الله عليه وسلم : وما من أحد يصوم يوم الخميس ، أول خميس في رجب ، ثم يصلي فيما بين العشاء والعتمة ، يعني ليلة الجمعة ، ثنتي عشرة ركعة …….

Rajab bulan Allah, Sya’ban bulanku, dan Ramadlan bulan umatku… namun janganlah kalian lupa dengan malam jum’at pertama bulan Rajab, karena malam itu adalah malam yang disebut oleh para malaikat dengan Ar Raghaib. Dimana apabila telah berlalu sepertiga malam, tidak ada satupun malaikat yang berada di semua lapisan langit dan bumi, kecuali mereka berkumpul di ka’bah dan sekitarnya. Kemudian Allah melihat kepada mereka, dan berfirman: Wahai malaikatKu, mintalah apa saja yang kalian inginkan. Maka mereka mengatakan: Wahai Tuhan kami, keinginan kami adalah agar engkau mengampuni orang yang suka puasa Rajab. Allah berfirman: Hal itu sudah Aku lakukan. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Siapa yang berpuasa hari kamis pertama di bulan Rajab, kemudian shalat antara maghrib sampai isya’ – yaitu pada malam jum’at – dua belas rakaat…”

Keteragan:

Hadis ini palsu, sebagaimana keterangan Ibnul Jauzi dalam Al Maudhu’at, 2/124 – 126, Ibnu Hajar dalam Tabyinul ‘Ujbi, hal. 22 – 24, dan As Syaukani dalam Al fawaid Al Majmu’ah, hal. 47 – 50)

Penjelasan lain tentang shalat raghaib, kami sarankan anda untuk mempelajari: Shalat Raghaib dalam Madzhab Syafiiyah

Demikian, semoga Allah membimbing kita sehingga tidak mudah menyebarkan hadis palsu, atas nama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.  

Allahu a’lam. 

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

dzikir

Baca Dzikir ini, Agar Tidak Menyesal

Benarkah orang yang tidak berdzikir ketika duduk bersama kawannya, akan menjadi penyesalan baginya?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Disebutkan dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ جَلَسَ فِي مَجْلِسٍ فَكَثُرَ فِيهِ لَغَطُهُ، فَقَالَ قَبْلَ أَنْ يَقُومَ مِنْ مَجْلِسِهِ ذَلِكَ: سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ ، إِلَّا غُفِرَ لَهُ مَا كَانَ فِي مَجْلِسِهِ ذَلِكَ

Siapa yang duduk bersama, dan di sana banyak bicara laghat, kemudian sebelum dia bubar, dia membaca doa,

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu, aku bersaksi tiada tuhan yang berhak disembah selain Engkau, aku memohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.

Maka Allah akan mengampuni kesalahan yang dilakukannya di majlis itu. (HR. Ahmad 10415, Turmudzi 3433, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Keterangan:

Ada beberapa ketarangan ulama tentang makna, ’banyak bicara laghat’. Diantaranya,

  1. Bicara yang mengandung dosa
  2. Bicara yang sama sekali tidak manfaat
  3. Guyonan dan pembicaraan tidak penting

(Simak Mirqah al-Mafatih, 8/324).

Doa ini disebut sebagai doa Kaffaratul Majlis (penghapus dosa majlis) atau Khatimah Majlis (penutup majlis). Karena doa ini menjadi penghapus dosa bagi orang yang ikut duduk dalam majlis itu. Doa ini menjadi penghapus dosa, karena isinya pengakuan terhadap tauhid dan permohonan ampun kepada Allah.

Syaikhul Islam mengatakan,

وَهَذَا الذِّكْرُ يَتَضَمَّنُ التَّوْحِيدَ وَالِاسْتِغْفَارَ

Dzikir ini mengandung (pengakuan) tauhid dan istighfar. (al-Fatawa al-Kubro, 5/236).

Ibnu Rajab mengatakan,

كان النبي – صلى الله عليه وسلم – يختم مجالسه بكفارة المجلس ، وأمر أن تختم المجالس به، وأخبر أنه إن كان المجلس لغوا كانت كفارة له ، وروي ذلك عن جماعة من الصحابة

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakhiri majlis beliau dengan doa kaffaratul majlis dan beliau perintahkan agar semua majlis diakhiri dengan doa itu. Beliau juag mengabarkan, bahwa jika majlis itu sia-sia maka doa ini menjadi kaffarah baginya. Doa ini juga diriwayatkan dari sekelompok sahabat. (Fathul Bari, 3/345).

Menjadi Penyesalan

Bagi mukmin, semua waktu itu berharga. Semua harus berorientasi manfaat. Ketika seorang mukmin melakukan tindakan sia-sia, tanpa diiringi dzikir, akan menjadi penyesalan baginya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَعَدَ مَقْعَدًا لَمْ يَذْكُرِ اللَّهَ فِيهِ كَانَتْ عَلَيْهِ مِنَ اللَّهِ تِرَةٌ

Barangsiapa yang duduk dan tidak menyebut nama Allah maka akan menjadi penyesalan di hadapan Allah. (HR. Abu Daud 4856 dan dishahihkan al-Albani).

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

40 Hari Rutin Jamaah, Bisa Terbebas dari Sifat Kemunafikan

Benarkah orang yang shalat jamaah selama 40 hari akan bebas dari kemunafikan? Sy pernah dengar hadis itu. Apa benar?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Dinyatakan dalam hadis dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَلَّى لِلَّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا فِي جَمَاعَةٍ يُدْرِكُ التَّكْبِيرَةَ الأُولَى كُتِبَ لَهُ بَرَاءَتَانِ: بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ، وَبَرَاءَةٌ مِنَ النِّفَاقِ

Siapa yang shalat jamaah selama 40 hari dengan mendapatkan takbiratul ihram maka dia dijamin bebas dari dua hal, terbebas dari neraka dan terbebas dari kemunafikan.

Status Hadis:

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad 12583, Turmudzi 241, dan yang lainnya. Ulama berbeda pendapat tentang keabsahannya. Sebagian menhasankan dan sebagian menilainya dhaif. Dalam Fatawa Islam dinyatakan,

وهذا الحديث ضعفه أيضا جماعة من العلماء المتقدمين وأعلوه بالإرسال ، وحسنه بعض المتأخرين . انظر تلخيص الحبير 2/27

Hadis ini dinilai dhaif oleh bebrapa ulama masa silam dan mereka beralasan statusnya mursal. Dan dihasankan oleh sebagian ulama mutaakhirin. Simak Talkhis al-Habir, 2/27. (Fatawa Islam, no. 34605).

Kemudian, terdapat dalam riwayat lain dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا رَأَيْتُمُ الرَّجُلَ يَعْتَادُ الْمَسَاجِدَ، فَاشْهَدُوا لَهُ بِالْإِيمَانِ، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: {إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ}

Apabila kalian melihat ada orang yang terbiasa pulang pergi ke masjid, saksikanlah bahw adia orang mukmin. Allah berfirman,

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ

“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid Allah hanyalah orang yang beriman kepada Allah.” (at-Taubah: 18). (HR. Ahmad 11725, Turmudzi 2617, Ibn Majah 802 dan dinilai dhaif oleh al-Albani).

Hadis yang berbicara masalah ini, statusnya memang bermasalah. Hanya saja, tingkatan dhaifnya ringan. Dan sebagian ulama membolehkan berdalil dengan hadis dhaif dalam masalah fadhilah amal, yang di sana tidak ada unsur hukum.

Dalam Fatawa Islam dinyatakan,

ولاشك أن الحرص على إدراك تكبيرة الإحرام كل هذه المدة دليل على قوة في دين الشخص .وما دام الحديث محتمل الصحة فيرجى لمن حرص على فعل ما فيه أن يكتب له هذا الفضل العظيم ، وأقل ما يحصِّله الإنسان من هذا الحرص تربية نفسه على المحافظة على هذه الشعيرة العظيمة .

Tidak diragukan bahwa semangat untuk mendapatkan takbiratul ihram, selama rentang masa ini  merupakan tanda betapa dia adalah orang yang kuat agama. Selama hadis tersebut ada kemungkinan shahih, maka diharapkan bagi orang yang semangat mengamalkannya, dia akan dicatat mendapatkan keutamaan yang besar itu. Minimal yang diperoleh seseorang dengan melakukan hal itu, dia bisa mendidik dirinya untuk menjaga syiar islam yang besar ini.

(Fatawa Islam, no. 34605).

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

makna zina

Makna Kalimat: Zina tidak Mengharamkan yang Halal

Assalaamu’alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh. Ustadz, bgmn derajat hadis berikut:”Haramnya (pernikahan) tidak mengharamkan yang halal (pernikahan).” (HR Ibn Majah dan al-Bayhaqi). Apa maksud isi hadits tsb?

Mr. Tom

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Redaksi kalimat yang kami jumpai,

لاَ يُحَرِّمُ الْحَرَامُ الْحَلاَلَ

“Sesuatu yang haram tidaklah mengharamkan yang halal.

Kalimat ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam sunannya dari Ibnu Umar, dan ad-Daruquthni dari Aisyah, keduanya secara marfu’ dan dinilai dhaif oleh al-Albani. Karena dalam sanadnya terdapat perawi Abdullah al-Umari al-Mukabbar dan dia dhaif.  (Silsilah ad-Dhaifah, no. 385).

Kemudian disebutkan dalam riwayat lain dari A’isyah, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لا يحرم الحرام، إنما يحرم ما كان بنكاح حلال

Sesuatu yang haram tidak menyebabkan yang lain jadi haram. Yang bisa menjadikan mahram adalah yang dilakukan dengan nikah yang halal.

Hanya saja, hadis ini termasuk hadis batil, karena ada perawi bernama Utsman bin Abdurrahman al-Waqqasi yang dinilai kadzab (pendusta). (As-Silsilah ad-Dhaifah, no. 388).

Kaidah Sahabat & Jumhur Ulama

Al-Jasshas menyebutkan riwayat dari Ibnu Abbas, bahwa beliau ditanya tentang seorang lelaki yang berzina dengan ibu mertuanya. Jawab Ibnu Abbas,

تخطى حرمتين ولم تحرم عليه امرأته

“Dia melakukan dua larangan, meskipun tidak menyebabkan istrinya menjadi mahram baginya.”

Dalam riwayat lain, beliau mengatakan,

لا يحرم الحرام الحلال

“Yang haram tidaklah mengharamkan yang halal.”

Maksudnya, zina adalah sesuatu yang haram. Namun bukan berarti, ketika seseorang berzina dengan ibu mertua, menyebabkan istrinya menjadi anak tirinya, sehingga istrinya menjadi haram baginya.

Keterangan Ibnu Abbas ini menjadi pendapat a-Zuhri, Rabi’ah ar-Ra’yi, Imam Malik, dan Imam as-Syafii. Al-Jasshas melanjutkan,

وقال الزهري وربيعة ومالك والليث والشافعي: “لا تحرم أمها ولا بنتها بالزنا”

Az-Zuhri, Rabi’ah, Malik, dan as-Syafii berpendapat, ‘Ibu tidak pula anak menjadi mahram gara-gara berzina.’ (Ahkam al-Quran, al-Jasshas, 2/162 – 163)

Maksudnya:

Zina seorang lelaki dengan wanita x, tidaklah menyebabkan ibunya menjadi mertuanya atau mennjadikan anak wanita itu menjadi anak tirinya, yang itu statusnya mahram baginya.

Demikian pula sebaliknya, ketika suami berzina dengan ibu mertuanya, tidaklah menyebabkan istrinya menjadi anak tirinya, yang statusnya mahram baginya.

Pendapat Lain

Al-Jasshas juga menyebutkan adanya pendapat lain. Bahwa zina bisa menjadikan ibu dan anak si wanita, menjadi mahram baginya. Al-Jasshas mengatakan,

روى سعيد بن أبي عروبة عن قتادة عن الحسن عن عمران بن حصين في رجل زنى بأم امرأته: “حرمت عليه امرأته”, وهو قول الحسن وقتادة; وكذلك قول سعيد بن المسيب وسليمان بن يسار وسالم بن عبد الله ومجاهد وعطاء وإبراهيم وعامر وحماد وأبي حنيفة وأبي يوسف

Said bin Abi Arubah meriwayatkan dari Qatadah dari Hasan dari sahabat Imran bin Hushain. Beliau ditanya tentang seorang lelaki yang berzina dengan ibu mertuanya. Jawaban beliau, ‘Istrinya menjadi mahram baginya.’

Dan ini merupakan pendapat Hasan al-Bashri, Qatadah, demikian pula Said bin Musayib, Sulaiman bin Yasar, Salim bin Abdillah, Mujahid, Atha, Ibrahim, Amir, Hammad, Imam Abu Hanifah, dan Abu Yusuf. (Ahkam al-Quran, al-Jasshas, 2/162 – 163)

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

fatimah putri nabi

Fatimah Wanita yang tidak Mengalami Haid

Assalamu’alaikum, afwan out of topic.

Apakah benar Fatimah binti Muhammad tak pernah haidh seperti yang dikatakan media dakwah seperti dibawah ini,

“Taukah Anda siapa Wanita didunia ini yang tidak pernah mengalami Haid..??
Jawabnya adalah Siti Fatimah Az-Zahra Binti Muhammad Shalallahu’alaihi Wasallam bin Abdullah bin Abdul Muthalib…
Istri dari Sayidina `Ali Bin Abu Thalib
Ibu dari Sayidina Hasan & Husain..
Keistimewaan ini menjadikan Rasulullah memberikan gelar khusus kepada Fatimah, yaitu “Al-Batul” salah satu maknanya adalah “ORANG SUCI”.
Aisyah berkata bahwa Rasulullah Shalallahu’Alaihi Wasallam bersabda:
“Ketika aku dalam perjalankan ke langit, aku dimasukkan ke syurga, lalu berhenti di sebuah pohon dari pohon-pohon syurga. Aku tidak melihat yang lebih indah dari pohon yang satu itu, daunnya paling putih, buahnya paling harum. Kemudian, aku mendapatkan buahnya, lalu aku makan. Buah itu menjadi nuthfah di sulbi-ku. Setelah aku sampai di bumi, aku berhubungan dengan Khadijah, kemudian ia mengandung Fatimah. Setelah itu, setiap aku rindu aroma surga, aku menciumi Fatimah.”
(Tafsir Ad-Durrul Mantsur tentang surat Al-Isra’: 1; Mustadrak Ash-Shahihayn 3: 156)”

Dari Zia Ulhaq

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Bagian dari kodrat wanita adalah mengalami haid. Wanita di dunia dianggap normal, ketika dia mengalami haid. Ketika A’isyah ikut berangkat haji wada bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau mengalami haid. Hal inipun membuat A’isyah bersedih, hingga beliau menangis. Sang suami yang penyayang menenangkannya,

’Kamu kenapa? Apa kamu haid?’ tanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

’Ya.’ Jawab A’isyah.

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ هَذَا أَمْرٌ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَى بَنَاتِ آدَمَ، فَاقْضِي مَا يَقْضِي الحَاجُّ، غَيْرَ أَنْ لاَ تَطُوفِي بِالْبَيْتِ

Sesungguhnya haid adalah perkara yang telah Allah tetapkan untuk putri Adam. Lakukan seperti yang dilakukan jamaah haji, hanya saja kamu tidak boleh thawaf di Ka’bah. (HR. Bukhari 294dan Muslim 1211)

Oleh karena itu, ketika ada berita bahwa ada salah satu wanita keluarga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak mengalami haid, yang disampaikan dalam rangka menunjukkan keutamaannya, selayaknya tidak langsung kita terima, namun kita periksa keabsahan berita itu. Karena kondisi ini menyalahi kodratnya wanita.

Apakah Fatimah tidak Mengalami Haid

Ada beberapa riwayat yang menyebutkan keutamaan Fatimah radhiyallahu ‘anha, yang menjelaskan bahwa beliau tidak mengalami haid.

Diantaranya hadis,

ابنتى فاطمة حوراء آدمية لم تحض ولم تطمث وإنما سماها الله تعالى فاطمة لأن الله تعالى فطمها ومحبيها عن النار

Putriku Fatimah manusia bidadari. Tidak pernah haid dan nifas. Allah menamainya Fatimah, karena Allah menyapihnya dan menjauhkannya dari neraka.

Hadis ini disebutkan al-Kinani dalam karyanya Tanzih as-Syariah, dan beliau menilainya hadis dhaif. Beliau mengatakan,

ليس بثابت وفيه غير واحد من المجهولين

Hadis ini tidak shahih. Dalam sanadnya terdapat beberapa perawi yang majhul (tak dikenal). (Tanzih as-Syariah, 1/412).

Dalam riwayat lain, dari Asma’ bintu Umais, beliau bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ’Ya Rasulullah, saya tidak pernah melihat fatimah mengalami haid atau nifas.’ Kemudian beliau bersabda,

أما علمت أن ابنتى طاهرة مطهرة فلا يرى لها دم فى طمث ولا ولادة

Tahukah kamu, putriku adalah wanita suci yang disucikan. Tidak ada darah ketika haid maupun ketika melahirkan.

Riwayat ini juga disebutkan al-Kinani, dan beliau mendhaidkannya. Beliau mengatakan,

أورده المحب الطبرى فى ذخائر العقبى وهو باطل أيضا فإنه من رواية داود بن سليمان الغازى

Disebutkan oleh al-Muhib at-Thabari dalam kitab Dzakhair al-Uqba, dan ini juga hadis bathil, karena dari riwayat Daud bin Sulaiman al-Ghazi.

Keterangan yang sama juga disampaikan al-Munawi, beliau berkomentar

لكن الحديثان المذكوران رواهما الحاكم وابن عساكر عن أم سليم زوج أبي طلحة. وهما موضوعان كما جزم به ابن الجوزى، وأقره على ذلك جمع منهم: الجلال السيوطي مع شدة عليه

Akan tetapi dua hadis yang disebutkan, yang diriwayatkan oleh Hakim dan Ibnu Asakir dari Ummu Sulaim, istri Abu Thalhah. Dan dua hadis itu palsu, sebagaimana yang ditegaskan Ibnul Jauzi, dan disetujui oleh beberapa ulama, diantaranya as-Suyuthi, dengan komentar yang sangat keras untuk hadis itu. (Ittihaf as-Sail, hlm. 12).

Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

gambar isis

Hadis tentang ISIS

Saya pernah mendengar hadis yang katanya mendukung keberadaan isis. Dimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyinggung bahwa di masa depan akan ada kekhalifahan dengan bendera hitam di daerah khurasan. Dan seperti yang kita tahu, khilafah ISIS benderanya hitam.

Apa ini benar, dan bgmn pandangan yg benar?. Terima kasih. 

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Ada beberapa riwayat yang menyebutkan hal itu, diantaranya,

Pertama, hadis dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إذا رأيتم الرايات السود قد جاءت من قبل خراسان فائتوها فان فيها خليفة الله المهدي

Apabila kalian melihat bendera-bendera hitam telah datang dari arah Khurasan, maka datangilah dia, karena di sana ada khalifah Allah al-Mahdi.

Derajat hadis

Hadis ini diriwayatkan dari dua

  • Diriwayatkan Ibnu Majah dari Khalid al-Hadza’ dari Abu Qilabah, dari Abu Asma dari Tsauban secara marfu’.
  • Diriwayatkan Imam Ahmad dari Ali bin Zaid bin Jadza’an dari Abu Qilabah dari Tsauban secara marfu’.

Para ulama menilai sanad hadis ini lemah. Diantara alasannya,

– Dalam sanadnya terdapat perawi yang bernama Ali bin Zaid bin Jadza’an, yang dinilai dhaif oleh Imam Ahmad dan yang lainnya. Al-Munawi dalam Faidhul Qodir mengatakan,

وفيه علي بن زيد بن جذعان نقل في الميزان عن أحمد وغيره تضعيفه ثم قال الذهبي أراه حديثا منكرا

Dalam sanadnya terdapat perawi Ali bin Zaid bin Jadza’an. Disebutkan dalam al-Mizan dari Ahmad dan yang lainnya yang mendhaifkan orang ini. Kemudian ad-Dzahabi mengatakan, ’Menurutku ini hadis munkar.’ (Faidhul Qodir, 1/363)

– Perawi Abu Qilabah adalah seorang mudallis dan melakukan ’an’anah (menggunakan kata ’an, artinya dari).

(as-Silsilah ad-Dhaifah, keterangan hadis no. 85).

Oleh karena itu, para ulama hadis kontemporer, diantaranya Syuaib al-Arnauth dan Imam al-Albani, mendhaifkan hadis ini.

Kedua, keterangan dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, (hadis mauquf).

Dari Walid dan Risydin dari Ibnu Lahaiah dari Abi Qobil, dari Abu Rumman dari Ali bin Abi Thalib, beliau mengatakan,

إِذَا رَأَيْتُمُ الرَّايَاتِ السُّودَ فَالْزَمُوا الأَرْضَ فَلا تُحَرِّكُوا أَيْدِيَكُمْ ، وَلا أَرْجُلَكُمْ ، ثُمَّ يَظْهَرُ قَوْمٌ ضُعَفَاءُ لا يُؤْبَهُ لَهُمْ ، قُلُوبُهُمْ كَزُبَرِ الْحَدِيدِ ، هُمْ أَصْحَابُ الدَّوْلَةِ ، لا يَفُونَ بِعَهْدٍ وَلا مِيثَاقٍ ، يَدْعُونَ إِلَى الْحَقِّ وَلَيْسُوا مِنْ أَهْلِهِ ، أَسْمَاؤُهُمُ الْكُنَى ، وَنِسْبَتُهُمُ الْقُرَى ، وَشُعُورُهُمْ مُرْخَاةٌ كَشُعُورِ النِّسَاءِ ، حَتَّى يَخْتَلِفُوا فِيمَا بَيْنَهُمْ ، ثُمَّ يُؤْتِي اللَّهُ الْحَقَّ مَنْ يَشَاءُ

Apabila kalian telah melihat bendera-bendera hitam, tetaplah di tempat kalian dan jangan gerakkan tangan dan kaki kalian. Kemudian akan berkuasa sekelompok orang yang lemah akalnya, tidak teranggap, hati mereka seperti potongan besi. Mereka penduduk daulah (menguasai banyak daerah), tidak memenuhi janji. Mereka mengajak menuju kebenaran, padahal mereka bukan pemilik kebenaran. Nama mereka berawalan kun-yah (identitas tidak jelas) dan nisbah mereka kepada desa. Rambut mereka terjuntai seperti rambut wanita. Hingga terjadi sengketa diantara mereka, kemudian Allah mendatangkan kebenaran melalui orang yang Dia kehendaki.

Derajat Hadis:

Hadis ini dinilai lemah oleh para ulama, karena beberapa catatan,

  1. ‘An’anah dari al-Walid
  2. Risydin bin Sa’d perawi yang dhaif
  3. Ibnu Lahaiah perawi yang lemah
  4. Abu Ruman perawi yang Majhul (tidak dikenal). Disebutkan oleh Ibnu Mandah dalam Fathul Bab, tanpa penilaian.

(as-Silsilah ad-Dhaifah, 1/440)

Terlepas dari status keabsahan riwayat di atas, jika kita perhatikan, keterangan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu justru menyudutkan posisi para pemegang bendera hitam itu. Karena sangat jelas, keterangan ini mencela keberadaan mereka.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

kitab sunan abu dawud

Kitab Sunan

Apa itu kitab sunan?. Saya pernah dengar cemarah yg menyebut kitab sunan. Trim’s

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Kata ’Sunan’ [arab: السُنَن]  adalah bentuk jamak dari kata sunah [arab: السُنّة], yang secara bahasa berarti jalan dan kebiasaan. Sedangkan secara istilah, sunah menurut mayoritas ulama adalah sinonim dari hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mencakup ucapan, perbuatan, persetujuan, dan sifat-sifat beliau.

Macam-macam Kitab Hadis

Dilihat dari sistematikan penulisan, ada beberapa macam kitab hadis yang ditulis para ulama. Diantaranya,

  1. Kitab al-Jami’ [arab: الجامع], yaitu kitab hadis yang disusun menurut bab tertentu dan memuat berbagai macam, meliputi aqidah, ahkam, adab, tafsir, tarikh, siroh, manaqib (Fadhilah orang soleh), Raqaiq (hadis yang melembutkan hati), dst. Diantara kitab jami’ yang terkenal adalah Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Jami’ Abdurrazaq, dan yang lainnya. (Ushul at-Takhrij, hlm. 110)
  2. Kitab al-Musnad [arab: المسند], yaitu kitab hadis yang disusun berdasarkan urutan huruf hijaiyah dengan mengacu kepada nama sahabat. Dimulai dari nama sahabat yang diwali huruf [أَ] hingga huruf [يَ]. Misalnya, dimulai dari hadis dari sahabat Abu Bakar. Maka dikumpulkan hadis-hadis dari Abu Bakar tanpa memandang pembahasan dan tema hadis.

Kitab musnad yang terkenal adalah Musnad Imam Ahmad bin Hambal. Kitab ini memuat kurang lebih 40.000 hadis. Jika dibuang pengulangan, sekitar 30.000 hadis. Kemudian kitab musnad lainnya: Musnad at-Thayalisi, musnad al-Humaidi, dst. (Ushul at-Takhrij, hlm. 40)

  1. Kitab sunan, adalah kiab hadis yang disusun berdasarkan bab fikih, mulai masalah thaharah, shalat, zakat, dst. dan hanya berisi hadis marfu’ (sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) dan hanya ada beberapa atsar sahabat.
  2. Kitab Mushanaf, kitab hadis yang disusun berdasarkan bab fikih, mulai masalah thaharah, shalat, zakat, dst. dan berisi hadis marfu’ (hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), mauquf (keterangan sahabat), dan maqthu’ (keterangan tabi’in). Diantara kitab mushannaf yang terkenal adalah Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, dan Mushannaf Abdurrazaq. (Ushul at-Takhrij, hlm. 134).

Kitab Sunan

Dari definisi beberapa kitab hadis di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa satu kitab kumpulan hadis tergolong kitab sunan, jika terpenuhi 3 syarat,

  1. Hanya berisi hadis marfu’ (hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), dan sangat sedikit selain sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  2. Hadis-hadis tersebut terkait bab hukum fikih
  3. Susunannya mengikuti sistematika buku fikih.

(ar-Risalah al-Mustathrafah, hlm. 32)

Mengenal 4 Kitab Sunan

Pertama, Sunan Nasa’i

Imam an-Nasai, nama aslinya Ahmad bin Syuaib an-Nasai. Nasa’ adalah nama kota kelahiran beliau, satu daerah di wilayah Khurasan. Beliau wafat tahun 303 H di Ramlah Palestina di usia 88 tahun.

Imam an-Nasai menulis kitab as-Sunan al-Kubro, mencakup hadis-hadis yang shahih, dan hadis bermasalah. Kemudian beliau ringkas dalam kitab as-Sunan as-Sughro, yang beliau beri nama ‘al-Mujtaba’ [arab: المجتبى]. Untuk kitab kedua ini, beliau hanya mengumpulkan hadis-hadis yang beliau anggap shahih. Kitab inilah yang kemudian sering dikenal dengan sunan an-Nasai.

Imam Ibnu Utsaimin menjelaskan,

و”المجتبى” أقل السنن حديثاً ضعيفاً، ورجلاً مجروحاً ودرجته بعد “الصحيحين”، فهو – من حيث الرجال – مقدم على “سنن أبي داود والترمذي”؛ لشدة تحري مؤلفه في الرجال، قال الحافظ ابن حجر رحمه الله: كم من رجل أخرج له أبو داود والترمذي تجنب النسائي إخراج حديثه، بل تجنب إخراج حديث جماعة في “الصحيحين”. اهـ.

Kitab al-Mujtaba adalah kitab sunan yang paling sedikit jumlah hadis dhaifnya dan paling sedikit perawi yang majruh (dinilai lemah). Derajatnya di bawah shahih Bukhari dan Muslim. Sehingga sunan ini, dilihat dari perawi-perawinya, lebih unggul dibandingkan sunan Abu Daud, dan Turmudzi. Karena penulis sangat ketat dalam memilih perawi hadis. Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan,

‘Ada banyak perawi yang dicantumkan dalam kitab Abu Daud dan Turmudzi, namun dihindari oleh an-Nasai dalam menyebutkan hadis. Bahkan beliau menghindari beberapa perawi yang ada di kitab shahih Bukhari dan Muslim.’ (Mustholah Hadis, hlm. 51).

Kedua, Sunan Abu Daud

Imam Abu Daud, nama lengkapnya Sulaiman bin al-Asy’ats bin Ishaq as-Sijistani. Beliau termasuk muridnya Imam Ahmad bin Hambal. Para ulama banyak memuji beliau dengan kekuatan hafalan dan pemahamannya yang mendalam. Beliau meninggal di Bashrah pada 275 H, di usia 73 tahun.

Kitab sunan Abu Daud memuat 4800 hadis, yang aslinya adalah pilihan dari 500.000 hadis. Beliau berusaha untuk memilih hadis-hadis yang shahih, meskipun di sana ada beberapa hadis yang dhaif.

Ibnu Mandah mengatakan,

وكان أبو داود يخرج الإسناد الضعيف إذا لم يجد في الباب غيره؛ لأنه أقوى عنده من رأي الرجال. اهـ.

Abu Daud mencantumkan hadis yang sanadnya dhaif, jika dalam bab tersebut, beliau tidak menjumpai hadis lain. Karena hadis dhaif lebih kuat menurut beliau, dari pada pendapat manusia. (Dinukil dari Mustholah Hadis, hlm. 52).

Ketiga, Sunan at-Turmudzi

Imam at-Turmudzi, nama lengkap beliau: Abu Isa, Muhammad bin Isa as-Sulami at-Turmudzi. Lahir di kota Turmudz tahun 209 H. Beliau termasuk murid Imam Bukhari.

Kata Turmudzi [الترمذي] ada dua cara baca, bisa dibaca Tirmidzi, dan bisa dibaca Turmudzi. Beliau wafat tahun 279 H, di usia 70 tahun.

Sunan at-Turmudzi juga disebut oleh sebagian ulama dengan Jami’ at-Turmudzi [arab: جامع الترمذي]. Dikenal dengan kitab Jami’, karena dalam sunan Turmudzi tidak hanya mengupas bab fikih, namun juga bab lainnya, seperti sirah, adab, tafsir, aqidah, fitnah akhir zaman dan yang lainnya. Hanya saja, mengingat di bagian awal beliau susun mengikuti kajian fikih, dna itu lebih dominan, banyak ulama lebih mengenalnya sebagai kitab sunan.

Dalam kitab sunannya, Turmudzi mencantumkan hadis shahih, hasan dan dhaif, dengan penjelasan derajat  masing-masing hadis, berikut keterangan sisi dhaifnya.

Beliau juga menjelaskan pendapat para ulama sebagai keterangan tambahan untuk hadis yang beliau bawakan.

Al-Hafidz Ibnu Rajab mengatakan,

اعلم أن الترمذي خرج في كتابه الصحيح والحسن والغريب. والغرائب التي خرجها فيها بعض المنكر، ولا سيما في كتاب الفضائل، ولكنه يبيِّن ذلك غالباً، ولا أعلم أنه خرج عن متهم بالكذب، متفق على اتهامه بإسناد منفرد، نعم قد يخرج عن سيئ الحفظ، ومن غلب على حديثه الوهن، ويبيِّن ذلك غالباً، ولا يسكت عنه

Ketahuilah bahwa Turmudzi menyebutkan dalam kitabnya hadis shahih, hasan, dan gharib. Hadis gharib yang beliau sebutkan, sebagiannya ada yang munkar, terutama untuk bab tentang fadhilah amal. Hanya saja, umumnya beliau jelaskan sisi lemahnya. Dan saya tidak menjumpai, beliau menyebutkan hadis dari perawi yang tertuduh berdusta (muttaham bil kadzib), yang disepakati pelanggarannya, dan dia sendirian. Benar bahwa beliau terkadang menyebutkan hadis dari perawi yang buruk hafalannya, atau perawi yang umumnya hadisnya lemah. Dan umumnya beliau jelaskan hal itu, dan tidak didiamkan. (Dinukil dari Mustholah Hadis, Ibnu Utsaimin, hlm. 53).

Keempat, Sunan Ibnu Majah

Ibnu Majah, nama lengkap beliau adalah Abu Abdillah, Muhammad bin Yazid bin Abdillah bin Majah al-Qazwaini. Nama Majah adalah kakek buyut beliau. Beliau dilahirkan di Qazwain (bagian Iraq) tahun 209 H dan meninggal tahun 273 H, di usia 64 tahun.

Beliau mengumpulkan hadis dalam kitab sunannya mencapai 4341 hadis.

Dalam urutan kitab sunan, sunan Ibnu Majah berada di urutan paling akhir. Dibandingkan yang lain, sunan Ibnu Majah paling banyak memuat hadis dhaif.

قال الذهبي: فيه مناكير وقليل من الموضوعات. اهـ، وقال السيوطي: إنه تفرد بإخراج الحديث عن رجال متهمين بالكذب، وسرقة الأحاديث، وبعض تلك الأحاديث، لا تعرف إلا من جهتهم.

Adz-Dzahabi memberikan komentar tentang sunan Ibnu Majah,

“Di sana ada beberapa hadis munkar dan sedikit hadis palsu.”

As-Suyuthi mengatakan,

“Ibnu Majah sendirian meriwayatkan hadis dari perawi yang dituduh berdusta, pencuri hadis, dan sebagian hadisnya, tidak dikenal kecuali dari jalur perawi bermasalah.” (Dinukil dari Mustholah Hadis, Ibnu Utsaimin, hlm. 54).

Catatan:

Enam kitab hadis rujukan pokok (al-Ummahat as-Sitta)

  1. Shahih Bukhari
  2. Shahih Muslim
  3. Sunan Nasai
  4. Sunan Abu Daud
  5. Sunan Turmudzi
  6. Sunan Ibnu Majah /  Muwatha’ Imam Malik

Di urutan keenam ulama berbeda pendapat, antara Sunan Ibnu Majah dengan Muwatha’ Imam Malik.

Sebagian ulama yang memposisikan Muwatha’ Imam Malik di urutan keenam itu. Diantaranya adalah Ahmad bin Razin as-Sarqasthi (w. 535 H) dalam kitabnya at-Tajrid fi al-Jam’i baina as-Shihhah, dan Abus Sa’adat Ibnul Atsir (w. 606 H). (Taujih an-Nadzar, Thahir al-Jazairi, hlm. 153)

Demikian,

Allahu a’lam

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Ali dan Fatimah

Kisah Pernikahan Ali dan Fatimah

Bismillah, ustadz mohon dijelaskan, apakah benar kisah mengenai Fatimah radhiyallahu ‘anha yang diam-diam telah jatuh cinta kepada sahabat Ali bin Abi thalib radhiyallahu ‘anhu sebelum mereka menikah? namun ia sangat menjaga cintanya hingga bahkan setanpun tidak tahu. Mohon penjelasannya, karena banyak umat yang menukil kisah ini. Jazaakumullah khayr, baarakallahu fiikum

Dari Azizah Al Aziz  via Tanya Ustadz for Android

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Riwayat shahih yang kami temukan tentang kisah pernikahan Ali dengan Fatimah  adalah riwayat yang disebutkan dalam sunan an-Nasai, Ibnu Hibban dan al-Hakim, dari sahabat Buraidah bin hashib radhiyallahu ‘anhu. Sahabat Buraidah radhiyallahu ‘anhu menceritakan,

خَطَبَ أَبُو بَكْرٍ، وَعُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا فَاطِمَةَ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّهَا صَغِيرَةٌ» فَخَطَبَهَا عَلِيٌّ، فَزَوَّجَهَا مِنْهُ

Abu Bakar, dan Umar radhiyallahu ‘anhuma pernah melamar Fatimah. Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi jawaban, “Dia masih kecil.” Kemudian Ali melamarnya lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahkannya dengan Fatimah. (an-Nasai 3221, Ibnu Hibban 6948, al-Hakim 2705 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth dan Imam al-Albani).

Benarkah Fatimah Sangat Mencintai Ali?

Riwayat seperti yang disebutkan, tidak kami jumpai dalam referensi yang kami miliki. Karena itu, sebagai nasehat kepada kaum muslimin terkait berita yang lalu-lalang di sekitar kita. Baik melalui dunia maya maupun sms. Hendaknya kita bersikap hati-hati dan tidak mudah percaya. Bila perlu, ketika kita mendapatkan sebuah riwayat, tentang amalan atau kisah atau apapun bentuknya, kita bisa meminta teks arabnya. Dan JANGAN percaya dengan penyebutan ”(HR….)” Dengan itu, kita bisa menimbang kebenaran riwayat tersebut.

Tempo lalu, kami mendapatkan hadis yang disebar masyarakat melalui sms dan email. Tentang anjuran meminta maaf menjelang ramadhan kepada semua orang di sekeliling kita. Tidak segan-segan dalam informasi itu dicantumkan riwayat (HR. Ahmad). Padahal 100% itu dusta.

Terlebih disebutkan bahwa Fatimah radhiyallahu ‘anhu menyimpan rasa cinta kepada Ali bin Abi Thalib. Hanya saja, ada riwayat dari al-Harits dari Ali bin Abi Thalib, beliau menceritakan,

خطب أبو بكر وعمر يعني فاطمة إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فأبى رسول الله صلى الله عليه وسلم عليهما فقال عمر‏:‏ أنت لها يا علي‏.‏ فقلت‏:‏ ما لي من شيء إلا درعي أرهنها‏.‏ فزوجه رسول الله صلى الله عليه وسلم فاطمة فلما بلغ ذلك فاطمة بكت قال‏:‏ فدخل عليها رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال‏:‏ ‏”‏مالك تبكين يا فاطمة‏!‏ فوالله لقد أنكحتك أكثرهم علما وأفضلهم حلما وأولهم سلما

Abu Bakr dan Umar radhiyallahu ‘anhuma pernah melamar Fatimah melalui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menerimanya.

Umarpun berkata kepada Ali: ’Engkau yang layak menjadi suaminya wahai Ali.’

’Aku tidak punya apa-apa selain baju besi yang sedang aku gadaikan.’ Jawab Ali.

Kemudian Rasulullah menikahkan Ali dengan Fatimah. Ketika berita pernikahan ini sampai kepada Fatimah, beliau malah menangis. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian menemui Fatimah dan menanyakan,

”Apa yang membuat kamu menangis, wahai Fatimah? Demi Allah, aku telah menikahkan kamu dengan orang yang lebih pandai, lebih lembut, dan lebih awal masuk islam.”

Riwayat di atas disebutkan secara bersanad dalam kitab Usud al-Ghabah karya Ibnul Atsir (6/221).

Hanya saja, disana tidak disebutkan derajat keshahihan riwayat ini.

Sementara riwayat lain yang menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diperintahkan Allah untuk menikahkan Ali dan Fatimah dengan mahar 400 dirham. Para ulama diantaranya Ibnul Jauzi dan ad-Dzahabi menilai riwayat ini palsu. (Ittihaf as-Sail bima li Fatimah min al-Manaqib, karya al-Munawi, hlm. 6).

Demikian,

Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

hadis-qudsi

Hadis Qudsi

Assalamualaikum, Pak ustadz saya nanya apa yang dimaksud dengan hadits qudsi itu?
Jzk

Dari Didin Burhanudin

Jawab:

Wa alaikumus salam

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Ungkapan hadis qudsi terdiri dari dua kata, hadis dan qudsi.

Hadis [arab: الحديث]: segala yang dinisbahkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik berupa ucapan, perbuatan, persetujuan, atau karakter beliau.

Qudsi [arab: القدسي] secara bahasa diambil dari kata qudus, yang artinya suci. Disebut hadis qudsi, karena perkataan ini dinisbahkan kepada Allah, al-Quddus, Dzat Yang Maha Suci.

Hadis Qudsi secara Istilah

Ulama berbeda pendapat dalam mendefinisikan hadis qudsi

Al-Jurjani mengatakan,

الحديث القدسي هو من حيث المعنى من عند الله تعالى ومن حيث اللفظ من رسول الله صلى الله عليه وسلم فهو ما أخبر الله تعالى به نبيه بإلهام أو بالمنام فأخبر عليه السلام عن ذلك المعنى بعبارة نفسه فالقرآن مفضل عليه لأن لفظه منزل أيضا

Hadis qudsi adalah hadis yang secara makna datang dari Allah, sementara redaksinya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga hadis Qudsi adalah berita dari Allah kepada Nabi-Nya melalui ilham atau mimpi, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan hal itu dengan ungkapan beliau sendiri. Untuk itu, al-Quran lebih utama dibanding hadis qudsi, karena Allah juga menurunkan redaksinya. (at-Ta’rifat, hlm. 133)

Sementara al-Munawi memberikan pengertian,

الحديث القدسي إخبار الله تعالى نبيه عليه الصلاة والسلام معناه بإلهام أو بالمنام فأخبر النبي صلى الله عليه وسلم عن ذلك المعنى بعبارة نفسه

Hadis qudsi adalah berita yang Allah sampaikan kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam secara makna dalam bentuk ilham atau mimpi. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan berita ‘makna’ itu dengan redaksi beliau. (Faidhul Qodir, 4/468).

Demikian pendapat mayoritas ulama mengenai hadis qudsi, yang jika kita simpulkan bahwa hadis qudsi adalah hadis yang maknanyadiriwayatkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Allah, sementara redaksinya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dan inilah yang membedakan antara hadis qudsi dengan al-Quran. Dimana al-Quran adalah kalam Allah, yang redaksi berikut maknanya dari Allah ta’ala.

Kemudian, ada ulama yang menyampaikan pendapat berbeda dalam mendefinisikan hadis qudsi. Diantaranya az-Zarqani. Menurut az-Zarqani, hadis qudsi redaksi dan maknanya keduanya dari Allah. Sementara hadis nabawi (hadis biasa), maknanya berdasarkan wahyu dalam kasus di luar ijtihad Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sementara redaksi hadis dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Az-Zarqani mengatakan,

الحديث القدسي أُوحيت ألفاظه من الله على المشهور والحديث النبوي أوحيت معانيه في غير ما اجتهد فيه الرسول والألفاظ من الرسول

Hadis qudsi redaksinya diwahyukan dari Allah – menurut pendapat yang masyhur – sedangkan hadis nabawi, makna diwahyukan dari Allah untuk selain kasus ijtihad Rasulullah, sementara redaksinya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Manahil al-Urfan, 1/37)

Berdasarkan keterangan az-Zarqani, baik al-Quran maupun hadis qudsi, keduanya adalah firman Allah. Yang membedakannya adalah dalam masalah statusnya. Hadis qudsi tidak memiliki keistimewaan khusus sebagaimana al-Quran. (simak: Manahil al-Urfan, 1/37)

Beda Hadis Qudsi dengan al-Quran

Terlepas dari perbedaan ulama dalam mendefinisikan hadis qudsi, ada beberapa poin penting yang membedakan antara hadis qudsi dengan al-Quran, diantaranya,

Al-Quran: turun kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dibawa oleh Jibril sebagai wahyu

Hadis Qudsi: tidak harus melalui Jibril. Artinya, bisa melalui Jibril dan bisa tidak melalui Jibril, misalnya dalam bentuk ilham atau mimpi.

Al-Quran: sifatnya qath’i tsubut (pasti keabsahannya), karena semuanya diriwayatkan kaum muslimin turun-temurun secara mutawatir.Karena itu, tidak ada istilah ayat al-Quran yang diragukan keabsahannya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Hadis Qudsi: tidak ada jaminan keabsahannya. Karena itu, ada Hadis Qudsi yang shahih, ada yang dhaif, dan bahkan ada yang palsu.

Al-Quran: membacanya bernilai pahala setiap huruf. Orang yang membaca satu huruf al-Quran mendapat 10 pahala.

Hadis Qudsi: semata membaca tidak bernilai pahala. Kecuali jika diniati untuk mempelajari, sehinga bernilai ibadah pada kegiatan mempelajarinya.

Al-Quran: teks dan maknanya merupakan mukjizat. Karena itu, tidak ada satupun makhluk yang bisa membuat 1 surat yang semisal al-Quran.

Hadis Qudsi: teks dan maknanya bukan mukjizat. Sehingga bisa saja seseorang membuat hadis qudsi palsu.

Al-Quran: bersifat sakral, sehingga orang yang mengingkari satu huruf saja statusnya kafir.

Hadis Qudsi: tidak sakral, sehingga mengikuti kajian hadis pada umumnya. Karena itu, bisa saja orang tidak menerima hadis qudsi, mengingat status perawinya yang tidak bisa diterima.

Al-Quran: tidak boleh disampaikan berdasarkan maknanya tanpa teks aslinya persis seperti yang Allah firmankan. Tidak boleh ada tambahan atau pengurangan satu hurufpun.

Hadis Qudsi: boleh disampaikan secara makna.

Al-Quran: menjadi mukjizat yang Allah gunakan untuk menantang manusia, terutama masyarakat arab.

Hadis Qudsi: tidak digunakan sebagai tantangan kepada makhluk Allah lainnya.

Istilah Lain Hadis Qudsi

Beberapa ulama menyebut Hadis Qudsi dengan selain istilah yang umumnya dikenal masyarakat. Ada yang menyebutnya Hadis Ilahiatau Hadis Rabbani. Semacam ini hanya istilah, yang hakekatnya sama, yaitu hadis yang dinisbahkan kepada Allah.

Diantara ulama yang menggunakan istilah hadis ilahi adalah Syaikhul Islam sebagaimana beberapa keterangan beliau di Majmu’ Fatawa dan Minhaj as-Sunnah. Demikian pula al-Hafidz Ibnu Hajar.

Dalam salah satu pernyataannya, al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan,

الأحاديث الإلهية: وهي تحتمل أن يكون المصطفى صلى الله عليه وسلم أخذها عن الله تعالى بلا واسطة أو بواسطة

Hadis Ilahi ada kemungkinan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambilnya dari Allah tanpa perantara atau melalui perantara. (Faidhul Qodir, 4/468).

Sementara ulama yang menggunakan istilah hadis Rabbani diantaranya adalah Jalaluddin al-Mahalli, salah satu penulis tafsir Jalalain. Dalam salah satu pernyataannya,

الْأَحَادِيثَ الرَّبَّانِيَّةَ كَحَدِيثِ الصَّحِيحَيْنِ: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي

Hadis Rabbani itu seperti hadis yang disebutkan dalam dua kitab shahih: “Saya sesuai prasangka hamba-Ku kepada-Ku. (Hasyiyah al-Atthar ’ala Syarh al-Mahalli).

Allahu a’lam.

Dijawab oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

hadis palsu nabi

Hadis Anjuran Dakwah di India

Saya menemukan hadis, berikut bunyinya,

Dari Sayidina Tsauban r.a. menceritakan bahwa Nabi SAW bersabda: “Akan muncul dua kumpulan dari umatku yang kedua-duanya dipelihara Allah dari neraka; satu kumpulan yang berjihad (Dakwah) di India dan satu kumpulan lagi yang akan bersama Nabi Isa bin Maryam as.”

Hadits Riwayat: Ahmad [Musnad 5/278 no.22759], al-Bukhari [Tarikh al-Kabir Tarjamah Abd al-A’la bin ‘Adiy al-Bahrani], al-Nasai [al-Mujtaba’ no.3175], al-Tabarani [Mu’jam al-Awsath 7/23-24], Ibn ‘Adiy [al-Kaamil 2/161], al-Haitsami [Majma’uz Zawaaid no.9452] Komen al-Albani [Sahih al- Jami’ no.4012, Silsilah as-Sahihah no.1934] Sahih, al-Arnaouth [Tahqiq Musnad Ahmad 37/81 no.22396]

Sebagian orang menjadikan hadis ini sebagai dalil anjuran dakwah ke india, dari lafal:

“satu kumpulan yang berjihad (Dakwah) di India…” apakah ini benar? Mohon pencerahannya. Karena saya pernah diajak kelompok ini. Terima kasih.

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Pertama, Satu kaidah penting dalam memahami pemikiran dan aliran yang berkembang di sekitar kita, bahwa hampir semua aliran, pemikiran, atau amalan yang dipraktekkan manusia, memiliki dalil dan alasan. Karena untuk bisa menarik simpati massa, perlu menanamkan keyakinan. Cara paling mujarab untuk menanamkan keyakinan itu adalah dengan menyampaikan dalil dan alasan.

Bagi kita, adanya nabi baru setelah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah keyakinan kekufuran. Namun bagi ahmadiyah, ini bagian dari iman. Ketika mereka ditanya, apa dalilnya? Ternyata mereka tidak diam, mereka bisa menyebutkan dalil dan alasannya.

Bagi kita, keyakinan pluralisme adalah penyimpangan dalam aqidah. Namun bagi JIL, itu bagian dari tauhid. Ketika mereka ditanya, apa dalilnya, ternyata mereka juga bisa menyebutkan dalilnya.

Bagi kita, mengkafirkan Abu Bakr, Umar, Utsman dan para sahabat lainnya adalah tindakan lancang yang membahayakan. Namun bagi syiah, ini bagian dari aqidahnya. Jika mereka ditanya, apa dalilnya, ternyata mereka juga bisa menjelaskan dalil dan alasannya.

Betapa banyak orang awam yang dengan mudah mengikuti dai penyebar aliran sesat. Alasanya, semua yang diceramahkan berdalil. Sang dai penyebar kesesatan ini membacakan beberapa ayat al-Quran dan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Karena itu, yang lebih penting bukan semata ada dalilnya, tapi yang lebih penting adalah memperhatikan cara seseorang dalam berdalil. Para ulama menjelaskan, cara berdalil yang benar ada 2 syarat,

1. Memastikan keabsahan dalil (صحة الدليل في ذاته), sumber dalil bisa dipertanggung jawabkan. Misalnya ayat al-Quran atau hadis shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

2. Memastikan kebenaran dalam memahami dan menyimpulkan dalil (صحة الاستدلال), bagaimana cara memahami hadis yang shahih tersebut dengan benar.

Dari berbagai kasus pemikiran dan aliran sesat di atas, kita tidak meragukan dalilnya, namun yang diragukan adalah cara mereka dalam memahami dan menyimpulkan dalil. Ahmadiyah menggunakan dalil al-Quran untuk membenarkan aqidahnya. Tentu saja bukan ayatnya yang salah, namun cara mereka dalam menyimpulkan dalil yang sembarangan.

Pastikan Ada Pendahulunya

Cara paling selamat dalam memahami dalil adalah mengembalikan makna dalil itu kepada pemahaman sahabat, tabiin, tabi’ tabiin, atau para ulama yang pemikirannya sejalan dengan mereka. Karena para sahabat dan ulama yang pemikirannya sejalan dengan sahabat adalah manusia yang paling memahami dalil al-Quran dan hadis.

Seperti inilah yang dinasehatkan

نقل عن الإمام أحمد أنه قال لتلميذه الميموني : لا تتكلم في مسألة ليس لك فيها إمام

Dinukil dari Imam Ahmad bahwa beliau berkata kepada muridnya, al-Maimuni, “Janganlah engkau berkata dalam masalah agama dengan suatu perkataan yang engkau tidak memiliki imam (pendahulu) di dalamnya”.

Kedua, hadis yang anda sebutkan termasuk hadis hasan. Teks arabnya sebagai berikut,

عَنْ ثَوْبَانَ مَوْلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” عِصَابَتَانِ مِنْ أُمَّتِي أَحْرَزَهُمُ اللهُ مِنَ النَّارِ: عِصَابَةٌ تَغْزُو الْهِنْدَ، وَعِصَابَةٌ تَكُونُ مَعَ عِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ

Dari Tsauban, mantan budak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda,

“Ada dua kelompok di kalangan umatku yang akan Allah lindungi mereka dari neraka; kelompok pertama yang memerangi India dan kelompok satunya bersama nabi Isa bin Maryam.”

Hadis ini diriwayatkan imam Ahmad, an-Nasai, al-Bukhari dalam tarikh al-Kabir, at-Thabrani dalam al-Ausath, dan yang lainnya, seperti yang telah disebutkan penanya.

Kita sepakat hadis ini bisa diterima, bahkan dinilai shahih oleh dua pakar hadis, Imam al-Albani dan Syuaib al-Arnauth.

Namun ada kesalahan terjemah. Dan karenanya, dipahami jauh dari makna yang sebenarnya. Terjemahan untuk kata [عِصَابَةٌ تَغْزُو الْهِنْدَ].

Dalam teks yang disampaikan penanya diterjemahkan dengan, “satu kumpulan berjihad (Dakwah) di India”

Ini jelas kesalahan terjemah, karena makna kata ghaza – yaghzu [غزى – يغزو – غزوة] artinya memerangi dalam bentuk kontak senjata.

Dalam hadis itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak bersabda

عِصَابَةٌ تُجَاهِدُ فِي الْهِنْدَ

“Satu kelompok berjihad di India”

Lafal hadisnya tidak demikian. Andaikan lafal hadisnya demikian, boleh kita terjemahkan jihad dalam arti berdakwah.

Karena itu, terjemah yang tepat adalah ”kelompok yang memerangi India” bukan mendakwahi india.

Ketika an-Nasai membawakan hadis ini, beliau memberikan judul bab: “غَزْوَةُ الْهِنْدِ” artinya memerangi India.

Di bab berikutnya, Imam an-Nasai membawakan judul bab, “غَزْوَةُ التُّرْكِ وَالْحَبَشَةِ”, artinya perang melawan Turki dan Ethiophia.

Jika kita menganjurkan kaum muslimin untuk berjihad di India, seharusnya kita juga menganjurkan mereka untuk berdakwah ke Turki dan Ethiophia. Tapi kenyataannya, mereka hanya mengutamakan India. Jelas maksud mereka mendatangi India, bukan karena motivasi hadis ini, namun ada maksud lainnya.

Makna yang Benar

Hadis ini sejatinya merupakan kabar gembira dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa kaum muslimin akan menaklukkan berbagai negeri musyrik yang lain. Hingga wilayah mereka mencapai India. Sehingga kaum muslimin menguasai dataran timur dan barat dunia.(simak al-Qiyamah as-Sughra, Dr. Umar al-Asyqar, hlm. 159 – 160)

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)

Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

SOCIAL

7,658FansLike
3,312FollowersFollow
28,757FollowersFollow
57,862SubscribersSubscribe