<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Konsultasi Kesehatan dan Tanya Jawab Pendidikan Islam &#187; KITAB</title>
	<atom:link href="http://www.konsultasisyariah.com/category/kitab/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.konsultasisyariah.com</link>
	<description>KonsultasiSyariah.com</description>
	<lastBuildDate>Mon, 21 May 2012 09:00:43 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Membunuh Ular dan Tikus Karena Mengganggu</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/membunuh-ular-dan-tikus-karena-mengganggu/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/membunuh-ular-dan-tikus-karena-mengganggu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Nov 2011 05:55:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator 2</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[AKHLAK]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[KITAB]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=8700</guid>
		<description><![CDATA[Membunuh Ular dan Tikus Pertanyaan: Apakah ular, tikus, dan kecoa boleh dibunuh? Dari Ummu Unaizah Jawaban: Membunuh ular,tikus, kecoa, dan binatang sejenis merupakan perkara yang dibolehkan karena binatang tersebut mengganggu. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, “Lima ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Membunuh Ular dan Tikus</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Apakah <strong>ular</strong>, tikus, dan kecoa boleh dibunuh?</p>
<p>Dari Ummu Unaizah<br />
<span id="more-8700"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Membunuh <u>ular</u>,tikus, kecoa, dan binatang sejenis merupakan perkara yang dibolehkan karena binatang tersebut mengganggu. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam,</p>
<p><em>“Lima (hewan) perusak yang boleh dibunuh di luar tanah suci dan di tanah suci (Mekah) yaitu: ular, gagak, tikus, srigala, dan rajawali.”</em></p>
<p><strong>Sumber:</strong> <em>Majalah As-Sunnah</em>, edisi: 10, Th. XIII</p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait ular:</h3>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/hukum-pakai-kulit-binatang" rel="nofollow" target="_blank">Tas dari Kulit Ular</a>.</p>
<p>2. <a href="http://konsultasisyariah.com/sering-mimpi-buruk-dan-mimpi-aneh" target="_blank" rel="nofollow">Mimpi Bertemu Ular</a>.</p>
<p>3. <a href="http://konsultasisyariah.com/jual-beli-ular-1" target="_blank" rel="nofollow">Hukum Jual Beli Ular</a>.</p>
<p>4. <a href="http://konsultasisyariah.com/jual-beli-ular-2" target="_blank" rel="nofollow">Hukum Berobat dengan Ular</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/membunuh-ular-dan-tikus-karena-mengganggu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hafal Asmaul Husna, Masuk Surga?</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/99-nama-asmaul-husna/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/99-nama-asmaul-husna/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Nov 2011 02:12:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[KITAB]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=8686</guid>
		<description><![CDATA[Bernarkah Menjaga 99 Nama Asmaul Husna  Akan Masuk Surga? Saya ingin bertanya mengenai hadis berikut: Telah menceritakan kepada kami &#8216;Amr An-Naqid dan Zuhair bin Harb dan Ibnu Abu &#8216;Umar semuanya dari Sufyan &#8211; dan lafadh ini milik &#8216;Amr-; telah menceritakan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Bernarkah Menjaga 99 Nama Asmaul Husna  Akan Masuk Surga?</h2>
<p>Saya ingin bertanya mengenai hadis berikut:<br />
Telah menceritakan kepada kami &#8216;Amr An-Naqid dan Zuhair bin Harb dan Ibnu Abu &#8216;Umar semuanya dari Sufyan &#8211; dan lafadh ini milik &#8216;Amr-; telah menceritakan kepada kami Sufyan bin Uyainah  dari Abu Az Zinad dari Al A&#8217;raj dari Abu Hurairah dari Nabi Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wasallam, beliau telah bersabda: &#8220;Sesungguhnya Allah<em> Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> memiliki sembilan puluh sembilan nama. Maka barang siapa dapat menjaganya niscaya ia akan masuk surga. Sesungguhnya Allah itu Ganjil dan Dia sangat menyukai bilangan yang Ganjil.&#8221;  Di dalam riwayat Ibnu Abu Umat disebutkan dengan lafazh; &#8216;Barang siapa yang menghitung-hitungnya&#8217;</p>
<p>Apa maksud hadis di atas ustadz? Lalu apa yang dimaksud menjaga <strong>99 nama</strong> Allah, maka akan masuk surga?</p>
<p><em>Weyah (75XXXXXXX@gmail.com)</em><br />
<span id="more-8686"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<h3>Makna hadis: Allah memiliki 99 nama (asmaul husna), siapa yang menjaganya maka dia masuk surga.</h3>
<p>Teks hadis :</p>
<p class="arab">إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا ، مِائَةً إِلا وَاحِدَةً ، مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ</p>
<p>“Sesunguhnya Allah memiliki <span style="text-decoration: underline;">99 nama</span>, seratus kurang satu, siapa yang menjaganya maka dia masuk surga.” (HR. Bukhari, no.2736, Muslim, no.2677 dan Ahmad, no.7493).</p>
<p>Keterangan Syekh Abdul Aziz bin Baz megenai makna hadis:</p>
<p>Makna dari &#8216;menjaga&#8217; adalah dengan <strong>menghafalnya, merenungkan maknanya, dan mengamalkan kandungan maknanya</strong>&#8230; mengingat adanya kebaikan yang banyak dan ilmu yang bermanfaat dalam mengamalkan kandungan makna <em>asmaul husna</em> tersebut. Karena mengamalkannya merupakan sebab kebaikan bagi hati, kesempurnaan takut kepada Allah, dan menunaikan hak-Nya.<br />
(http://www.binbaz.org.sa/mat/12132 )</p>
<p><strong>Keterangan Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin:</strong><br />
Bab, Nama Allah tidak terbatas dengan bilangan tertentu.</p>
<p>Berdasarkan sabda Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>:</p>
<p class="arab">أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ</p>
<p>“Saya meminta kepada-Mu dengan perantara semua nama-Mu, yang Engkau gunakan untuk menamakan diri-Mu, atau yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang diantara makhluk-Mu, atau yang Engkau <strong>simpan dalam sebagai rahasia </strong>di sisi-Mu.” (HR. Ahmad, Ibn Hibban, dan dishahihkan Syua&#8217;aib Al-Arnauth).</p>
<p><strong>Kemudian Syekh Ibnu Utsaimin membawakan keterangan Ibnul Qayim:</strong><br />
Ibnul Qayim mengatakan dalam <em>Syifaul Alil</em> Hal. 472, Sabda Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>: “Sesunguhnya Allah memiliki <em>99 nama</em>” tidaklah meniadakan bahwa Allah memiliki nama-nama yang lain. Sebagaimana ada orang mengatakan, “Fulan memiliki 100 budak untuk dijual dan 100 budak untuk pasukan perang.” Pendapat ini adalah pendapat mayoritas ulama. Tidak sebagaimana pendapat Ibnu Hazm, yang beranggapan bahwa nama-nama Allah hanya terbatas 99 saja.<br />
(Al-Qawaidul Mutsla, Hal. 13 – 14).</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>)</strong></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Materi terkait:</p>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/bagaimana-cara-menghafal-asmaul-husna" target="_blank" rel="nofollow">Cara Menghafal Asmaul Husna</a>.</p>
<p>2. <a href="http://konsultasisyariah.com/adakah-khasiat-asmaul-husna" target="_blank" rel="nofollow">Adakah Kasiat Asmaul Husna</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/99-nama-asmaul-husna/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Telaah Hadis Menuntut Ilmu Ke Negeri Cina</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/tuntutlah-ilmu-sampai-negeri-cina/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/tuntutlah-ilmu-sampai-negeri-cina/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Oct 2011 01:58:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[KITAB]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[hadits yang menjelaskan menuntut ilmu itu wajib]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7819</guid>
		<description><![CDATA[Telaah Hadis Menuntut Ilmu Ke Negeri Cina Assalamu&#8217;alaikum, ustadz. Saya melihat banyak sekaali org2 yng menyebut nyebut tentang hadist &#8221; Tuntutlah ilmu ke negeri Cina&#8221; yang ingin saya tanyakan, &#8220;Apakah hadist ini shahih? Tolong ustadz jelaskan dengan dalil yang shahih! ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Telaah Hadis Menuntut Ilmu Ke Negeri Cina</h2>
<p>Assalamu&#8217;alaikum, ustadz. Saya melihat banyak sekaali org2 yng menyebut nyebut tentang hadist &#8221; <strong>Tuntutlah ilmu ke negeri Cina</strong>&#8221; yang ingin saya tanyakan, &#8220;Apakah hadist ini shahih? Tolong ustadz jelaskan dengan dalil yang shahih! Kalau bisa, ustadz masukkan ke kolom pertanyaan pembaca agar banyak orang tahu tentang keshahihan hadist tersebut. <em>Jazakallahu khairan katsira</em>.</p>
<p><em>Ahmad Al Faqih (ahmadXXXXXXXX@gmail.com)</em><br />
<span id="more-7819"></span></p>
<h3>Jawaban tentang hadis menuntut ilmu ke negeri Cina</h3>
<p><em>Wa alaikumus salam</em></p>
<p>Tuntutlah <a href="http://konsultasisyariah.com/apa-hukum-membaca-al-fatihah-setelah-sholat-fardhu" target="_blank">Ilmu</a> hingga negeri cina</p>
<p>Keterangan Dr. Hisamuddin AffanahTeks hadisnya,</p>
<p>اطلبوا العلم ولو في الصين</p>
<p>Hadis ini adalah hadis yang batil. Bahkan disebutkan oleh Ibnul Jauzi dalam <em>al-Maudhu&#8217;at</em>, &#8220;Ini adalah hadis dusta atas nama Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. As-Syaukani mengatakan,</p>
<p>&#8216;Hadis ini diriwayatkan al-Uqaili dan Ibn Adi dari Anas secara <em>marfu&#8217;</em> (sampai kepada Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>).&#8217; Ibn Hiban mengatakan, &#8216;Ini adalah hadis batil, tidak ada sanadnya (<em>laa ashla lahuu</em>), dalam sanadnya ada Abu Atikah, dan dia adalah <em><strong>munkarul hadis</strong></em>.&#8217;</p>
<p>Demikian keterangan Syaukani dalam <em>al-Fawaidul Majmu&#8217;ah</em>, hal. 272. Demikian pula keterangan di <em>Maqasidul Hasanah</em> hal. 93, dan <em>Kasyful Khafa</em>, 1/138. Syaikh al-Albani mengatakan menjelaskan status hadis ini, bahwa hadis ini adalah hadis batil. Kemudian beliau menyebutkan beberapa periwayat hadis dan menjelaskan: Kesimpulannya bahwa hadis ini, status yang benar adalah sebagaimana keterangan Ibn Hibban dan Ibnul Jauzi – yaitu bahwa hadis ini adalah hadis batil, kedustaan atas nama Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> – karena tidak ada jalur satupun yang bisa dijadikan sebagai penguat. (<em>Silsilah Dhaifah</em>, 1/415 – 416)</p>
<p><strong>Sumber:</strong> <em>Fatawa yasalunaka. http://www.yasaloonak.net/2008-09-18-11-36-26/2009-07-07-12-26-01/207-2008-10-30-17-33-06.html</em></p>
<p>***<br />
<strong>Catatan hadis semisal yang shahih:</strong></p>
<p>Hadis yang shahih dalam masalah kewajiban menuntut ilmu adalah hadis dari Anas bin Malik <em>radliallahu &#8216;anhu</em> bahwa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p>طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ</p>
<p><em>“Menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim.”</em> (HR. Ibn Majah 224 dan dishahihkan al-Albani dalam shahih Ibn Majah, 1/296)</p>
<p>Yang dimaksud di sini adalah ilmu syariah. Sufyan at-Tsauri mengatakan: Yaitu ilmu, di mana seorang hamba tidak memiliki udzur (alasan yang dibenarkan) untuk tidak mengetahuinya. (Hasyiyah as-Sindi &#8216;ala Sunan Ibn Majah, 1/208)</p>
<p><strong>Dijawab oleh <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com" rel="nofollow">ustadz Ammi Nur Baits</a> (Dewan Pembina<a href="http://www.KonsultasiSyariah.com" rel="nofollow"> Konsultasi Syaraiah</a>)</strong></p>
<p><strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/tuntutlah-ilmu-sampai-negeri-cina/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Syarah Hadis Tentang Zina</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/syarah-hadis-tentang-zina/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/syarah-hadis-tentang-zina/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Jun 2011 05:58:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[KITAB]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[apa arti zina hati?]]></category>
		<category><![CDATA[apa zina tanggan itu membatalkan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[berzina pada waktu puasa]]></category>
		<category><![CDATA[berzina saat puasa]]></category>
		<category><![CDATA[cara syarah hadith]]></category>
		<category><![CDATA[faktor penghambat dalam pelaksanaan pendidikan islam dalam ibadah puasa ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[hadis tentang berzina di bulan ramadan]]></category>
		<category><![CDATA[hadist berzina dengan tangan]]></category>
		<category><![CDATA[hadist tentang dua mata itu berzina, xina nya ialah melihat .]]></category>
		<category><![CDATA[hadist tentang zina]]></category>
		<category><![CDATA[hadist tentang zinah kedua mata dan tangan]]></category>
		<category><![CDATA[hadist zina mata zina tangan]]></category>
		<category><![CDATA[hadits berzina di bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[hadits hadits tentang zina]]></category>
		<category><![CDATA[hadits mengenai zina]]></category>
		<category><![CDATA[hadits zina]]></category>
		<category><![CDATA[hadits zina dan mengandung]]></category>
		<category><![CDATA[hadits zina mata]]></category>
		<category><![CDATA[hadits zina mata adalah melihat]]></category>
		<category><![CDATA[hr muslim tentang zina]]></category>
		<category><![CDATA[hukum tentang berzina di waktu bulan suci ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[kumpulan hadist tentang zina]]></category>
		<category><![CDATA[nikah]]></category>
		<category><![CDATA[pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[seputar zinah]]></category>
		<category><![CDATA[syarah]]></category>
		<category><![CDATA[tentang zina]]></category>
		<category><![CDATA[tntng zina]]></category>
		<category><![CDATA[zina]]></category>
		<category><![CDATA[zina di bulan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[zina di saat akan sahur]]></category>
		<category><![CDATA[zina mata bulan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[zina mata zina tangan zina hati]]></category>
		<category><![CDATA[zina saat puasa]]></category>
		<category><![CDATA[zina waktu puasa ramadhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=5278</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Assalamu &#8216;alaikum warahmatullah, Ustadz. Bagaimana sababul wurud dan syarah hadis berikut, “Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Assalamu &#8216;alaikum warahmatullah</em>, Ustadz. Bagaimana <em>sababul wurud</em> dan syarah hadis berikut, “<em>Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu, kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian</em>.” (H.R. Muslim, no. 6925)</p>
<p>Apakah yang dimaksud dengan zina di dalam hadis tersebut, sebab kalau kita definisikan berdasarkan bahasa Indonesia, zina adalah perbuatan bersenggama antara laki-laki dan perempuan yang tidak terikat oleh hubungan pernikahan?</p>
<p>Mohon penjelasannya, Ustadz. <em>Syukran. Jazakumullahu khairan katsira</em>.</p>
<p><em>Anwar (**rhee_plus@***.com)</em><br />
<span id="more-5278"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa&#8217;alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh</em>.</p>
<p>Hadis tersebut diriwayatkan oleh Bukhari, no. 5889 dan Muslim, no. 6925. Untuk penjelasannya, kami bawakan perkataan Ibnu Baththal, &#8220;Melihat dengan syahwat, berbicara secara vulgar, dan membayangkan sesuatu disebut &#8216;zina&#8217; karena semua perbuatan di atas merupakan faktor pendorong terjadinya zina yang hakiki. Terkadang, penyebab suatu perbuatan itu diberi nama dengan perbuatan itu sendiri karena <strong>keduanya memiliki keterkaitan</strong>.&#8221; (<em>Syarh Bukhari</em> oleh Ibnu Batthal, 19:414)</p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).</strong><br />
<strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/syarah-hadis-tentang-zina/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kesahihan Hadis &#8220;Sombong terhadap Orang Sombong adalah Sedekah&#8221;</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/kesahihan-hadis-sombong-terhadap-orang-sombong-adalah-sedekah/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/kesahihan-hadis-sombong-terhadap-orang-sombong-adalah-sedekah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 May 2011 04:30:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator 2</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[KITAB]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[adab sedekah secara islami]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[batal puasa sombong]]></category>
		<category><![CDATA[bolehkah orang islam bersikap sombong]]></category>
		<category><![CDATA[gelar untuk mencari duit]]></category>
		<category><![CDATA[hadis orang sadar]]></category>
		<category><![CDATA[hadis tentang orang bodoh]]></category>
		<category><![CDATA[hadis tentang sedekah]]></category>
		<category><![CDATA[hadis untuk orang yang sombong]]></category>
		<category><![CDATA[hadist orang sombong]]></category>
		<category><![CDATA[hadist sombong]]></category>
		<category><![CDATA[hadist tentang kesombongan]]></category>
		<category><![CDATA[hadist tentang sombong]]></category>
		<category><![CDATA[hadist tentang sombong karena dunia]]></category>
		<category><![CDATA[hadith orang sombong]]></category>
		<category><![CDATA[hadith tentang sombong]]></category>
		<category><![CDATA[hadits bagi orang yang sombong,membanggakan diri dan munafik]]></category>
		<category><![CDATA[hadits kesombongan]]></category>
		<category><![CDATA[hadits tentang sedekah]]></category>
		<category><![CDATA[hadits tentang sombong]]></category>
		<category><![CDATA[kata buat orang sombong imam]]></category>
		<category><![CDATA[kata kata sombong karena harta]]></category>
		<category><![CDATA[kata orang sombong]]></category>
		<category><![CDATA[kata-kata nasehat untuk orang sombong]]></category>
		<category><![CDATA[kata-kata nasehat untuk orang yang sombong]]></category>
		<category><![CDATA[kata-kata untuk orang sombong sedekah]]></category>
		<category><![CDATA[kesombonngan di balas dengan kesombongan adalah sedekah]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[maaf]]></category>
		<category><![CDATA[manusia sombong dalam islam]]></category>
		<category><![CDATA[nasehat ttg sombong]]></category>
		<category><![CDATA[nasehat untuk orang yang sombong]]></category>
		<category><![CDATA[obati penyakit dengan sedekah]]></category>
		<category><![CDATA[orang sombong itu yang nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[perihal org sombong]]></category>
		<category><![CDATA[puasa sedekah hadis]]></category>
		<category><![CDATA[sedekah]]></category>
		<category><![CDATA[seorang yang sombong]]></category>
		<category><![CDATA[sombong batal puasa]]></category>
		<category><![CDATA[sombong dalam hadist]]></category>
		<category><![CDATA[sombong di atas orang yang sombong]]></category>
		<category><![CDATA[sombong kepada orang yg sombong hadits]]></category>
		<category><![CDATA[sombong kepada org sombong boleh]]></category>
		<category><![CDATA[sombong kepada yang sombong itu sedekah]]></category>
		<category><![CDATA[sombong orang sombong halal]]></category>
		<category><![CDATA[sombong terhadap orang sombong]]></category>
		<category><![CDATA[sombong terhadap orang sombong adalah sedekah]]></category>
		<category><![CDATA[sombong terhadap yang sombong]]></category>
		<category><![CDATA[wallpaper nasehat dalam islam]]></category>
		<category><![CDATA[web]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=5000</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Sahihkah hadis dengan matan terjemahan, &#8220;Sombong terhadap orang sombong adalah sedekah.&#8221; Bila sahih, bagaimana syarahnya menurut ulama? Maaf, saya cuma mendengar pas khotbah Jumat, dan merasa aneh. Ing Ratri (aku**@***.com) Jawaban: Bismillah. Teks kalimatnya adalah, التكبر على المتكبر صدقة ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Sahihkah hadis dengan matan terjemahan, &#8220;<em>Sombong terhadap orang sombong adalah sedekah</em>.&#8221; Bila sahih, bagaimana syarahnya menurut ulama? Maaf, saya cuma mendengar pas khotbah Jumat, dan merasa aneh.</p>
<p><em>Ing Ratri (aku**@***.com)</em><br />
<span id="more-5000"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Bismillah.</em></p>
<p>Teks kalimatnya adalah,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>التكبر على المتكبر صدقة</strong></p>
<p>&#8220;<em>Bersikap sombong kepada orang yang sombong adalah sedekah</em>.&#8221;</p>
<p>Dalam keterangan yang lain,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>التكبر على المتكبر حسنة</strong></p>
<p>&#8220;<em>Bersikap sombong kepada orang yang sombong adalah perbuatan baik</em>.&#8221;</p>
<p><strong>Penyataan di atas bukanlah hadis, melainkan hanya perkataan manusia yang banyak tersebar di masyarakat</strong>, sebagaimana yang dijelaskan oleh Al-Ajluni dalam kitabnya, <em>Kasyful Khafa</em>, dengan menukil keterangan dari Al-Qari. Kemudian, Al-Qari mengatakan, &#8220;Hanya saja, maknanya sesuai dengan keterangan beberapa ulama.&#8221;</p>
<p>Penulis kitab <em>Bariqah Mahmudiyah</em> mengatakan, &#8220;Bersikap sombong kepada orang yang sombong adalah sedekah, karena jika kita bersikap tawadhu di hadapan orang sombong maka itu akan menyebabkan dirinya terus-menerus berada dalam kesesatan. Namun, jika kita bersikap sombong maka dia akan sadar. Ini sesuai dengan nasihat Imam Syafi&#8217;i, &#8216;Bersikaplah sombong kepada orang sombong sebanyak dua kali.&#8217; Imam Az-Zuhri mengatakan, &#8216;Bersikap sombong kepada pecinta dunia merupakan bagian ikatan Islam yang kokoh.&#8217; Imam Yahya bin Mu&#8217;adz mengatakan, &#8216;Bersikap sombong kepada orang yang bersikap sombong kepadamu, dengan hartanya, adalah termasuk bentuk ketawadhuan.&#8217;&#8221;</p>
<p>Sementara, ulama yang lain mengatakan, &#8220;Terkadang bersikap sombong kepada orang yang sombong, bukan untuk membanggakan diri, termasuk perbuatan terpuji. Seperti, bersikap sombong kepada orang yang kaya atau orang bodoh (yang sombong).&#8221;</p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).</strong><br />
<strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a><strong></strong></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/kesahihan-hadis-sombong-terhadap-orang-sombong-adalah-sedekah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Adakah Ayat Alquran yang Bertentangan dengan Hadis Sahih?</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/tidak-ada-pertentangan-alquran-dan-hadis-sahih/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/tidak-ada-pertentangan-alquran-dan-hadis-sahih/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 May 2011 01:21:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator 2</dc:creator>
				<category><![CDATA[AL-QURAN]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[KITAB]]></category>
		<category><![CDATA[al quran bertentangan]]></category>
		<category><![CDATA[al quran dan hadist shahih tentang puasa]]></category>
		<category><![CDATA[al-quran yg menjelaskan bahwa hadits itu penjelasan dari al-quran]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[ayat al quran]]></category>
		<category><![CDATA[ayat al quran yang menhjelaskan tentang utang]]></category>
		<category><![CDATA[ayat al quran yg menjelaskan tentang kesombongan]]></category>
		<category><![CDATA[ayat alquran tentang amal]]></category>
		<category><![CDATA[ayat alquran tentang ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[ayat dan hadist tentang puasa ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[ayat dan hadits tentang puasa romadhon]]></category>
		<category><![CDATA[ayat hadis]]></category>
		<category><![CDATA[ayat hadis alkuran]]></category>
		<category><![CDATA[ayat tentang al quran dan hadist]]></category>
		<category><![CDATA[ayat tentang puasa ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[ayat-ayat alquran dan hadist tentang berpuasa]]></category>
		<category><![CDATA[ayat-ayat dan hadits tentang puasa ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[ayat-ayat hadits tentang puasa dengan artinya]]></category>
		<category><![CDATA[ayat-ayat yang bertentangan dalam alquran]]></category>
		<category><![CDATA[ayat-ayat yang bertentangan di dalam alquran]]></category>
		<category><![CDATA[ayat-ayat yang bertentangan dlm alquran]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[buku bulughul maram a. hasan]]></category>
		<category><![CDATA[bulughul maram a hassan]]></category>
		<category><![CDATA[dalil al-quran untuk menerima hadith]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[hadis menerima keadaan hidup]]></category>
		<category><![CDATA[hadis shahih tentang ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[hadis sohih ayat pertama]]></category>
		<category><![CDATA[hadis yang bertentangan quran]]></category>
		<category><![CDATA[hadist dan ayat alquran tentang ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[hadist yang bertentangan dengan qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[hadits shahih dengan ayat]]></category>
		<category><![CDATA[hadits shahih tentang lain-lain]]></category>
		<category><![CDATA[hadits shahih utang]]></category>
		<category><![CDATA[hadits tentang amal yang ditolak]]></category>
		<category><![CDATA[hadits tentang menghajikan orang lain]]></category>
		<category><![CDATA[haji]]></category>
		<category><![CDATA[jika nash bertentangan dengan nash]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[majmu fatawa jilid 24 tentang mendoakan orang yang telah meninggal]]></category>
		<category><![CDATA[mengambil]]></category>
		<category><![CDATA[menghajikan orang meninggal]]></category>
		<category><![CDATA[perbuatan yang bertentangan al quran]]></category>
		<category><![CDATA[sahih]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[siksa kubur]]></category>
		<category><![CDATA[start]]></category>
		<category><![CDATA[surat alquran yang menjelaskan tentang puasa]]></category>
		<category><![CDATA[surat yg menerangkan wanita haid dilarang puasa]]></category>
		<category><![CDATA[wanita menyalati jenazah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=4925</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Betulkah ada ayat Alquran yang bertentangan dengan hadis sahih, dan kemudian hadis tersebut harus dibuang? Contohnya, hadis tentang menghajikan orang lain, mayat disiksa karena ditangisi, dan lain-lain. (Lihat buku-buku A. Hassan: Soal-Jawab dan Bulughul Maram) Jawaban: Tidak ada ayat ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Betulkah ada ayat Alquran yang bertentangan dengan hadis sahih, dan kemudian hadis tersebut harus dibuang? Contohnya, hadis tentang menghajikan orang lain, mayat disiksa karena ditangisi, dan lain-lain. (Lihat buku-buku A. Hassan: <em>Soal-Jawab</em> dan <em>Bulughul Maram</em>)<br />
<span id="more-4925"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Tidak ada ayat Alquran yang bertentangan dengan hadis sahih karena Alquran adalah sesuatu yang pasti benar, dan hadis sahih adalah sesuatu yang pasti benar, sedangkan segala sesuatu yang pasti benar itu tidak akan bertentangan satu sama lain. Sumber keduanya sama, yaitu Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em>, keduanya sama-sama wahyu Allah <em>subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>, Nabi Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> hanyalah menyampaikan wahyu dari Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em>. Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>أَ لاَ إِ نٌي أٌوتيتُ الْكِتَا بَ وَ مِثْلَهُ مَعَهُ</strong></p>
<p>“<em>Ingatlah, sesungguhnya aku diberi Alkitab (Alquran) dan (diberi) yang semisalnya (yaitu As-Sunnah) bersamanya</em>.” (H.R. Abu Daud, no. 4604; Tirmidzi; Ahmad; Al-Hakim; riwayat dari Al-Miqdam bin Ma’di Karib. Dinilai sahih oleh Syekh Al-Albani)</p>
<blockquote><p>Dengan demikian, tidak boleh menolak sebagian <em>nash</em> (ayat atau hadis sahih) dengan alasan bertentangan dengan <em>nash</em> yang lain, karena hal ini berarti mendustakan sebagian kebenaran. Meski ada ayat-ayat atau hadis-hadis yang dianggap bertentangan oleh sebagian orang, namun hal itu hanyalah persangkaan. Para ulama sudah mendudukan <em>nash-nash</em> tersebut pada tempatnya, sehingga tidak lagi bertentangan.</p></blockquote>
<p>Adapun hadis tentang menghajikan orang lain yang dicontohkan Penanya, maka perlu diketahui, hadis ini diriwayatkan oleh banyak ahli hadis, antara lain:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>عنْ ابْنِ عَبَّاسٍ  أَنَّ امْرَ أَةً مِنْ جُهَيْنَةَ خَا ءَتْ إِلَى النَّبِيِّ فَقَالَتْ إِنَّ أُ مِّي نَذَرَبْ أَنْ تَحُجَّ فَلَمْ بَححُجَّ حَتَّى مَاتَتْ أَ فَأَ حُجُّ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ حُجِّي عَنْهَا أَرَ لَيْتِ لَوْ كَانَ عَلَى أُمِّكِ دَ يْنٌ أَ كُنْتِ قَا ضِيَةً اقْضُوا الله فَا لله أحَقُّ بِالْوَفَاءِ</strong></p>
<p>Dari Ibnu Abbas, bahwa seorang wanita dari Juhainah mendatangi Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> lalu dia berkata, “Sesungguhnya, ibuku bernazar akan berhaji, tetapi dia belum berhaji sampai dia meninggal. Apakah aku (dapat) menghajikannya?” Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menjawab, “<em>Ya, berhajilah untuknya. Bagaimana pendapatmu, jika ibumu menanggung utang, apakah engkau (dapat) membayar? Bayarlah (utang) kepada Allah, karena Allah lebih berhak terhadap pemenuhan (utang)</em>.” (H.R. Bukhari, no. 1852)</p>
<p><strong>Hadis ini sahih, dan para ulama bersepakat menerima isinya, bahwa seorang yang berutang haji boleh dihajikan oleh orang lain yang telah melakukan ibadah haji</strong>.</p>
<p>Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “Seorang wanita boleh menghajikan wanita lain, (hal ini) berdasarkan kesepakatan para ulama.” (Lihat <em>Majmu&#8217; Fatawa</em>, 26:13)</p>
<p>Syekhul Islam juga mengatakan, “Tentang menghajikan orang yang sudah mati atau orang yang tidak kuat badannya, dengan harta yang diambil dari orang yang dihajikan itu sebagai biaya selama haji, maka ini boleh, dengan kesepakatan para ulama. Adapun menghajikan orang yang mengambil upah, (hal ini) masih menjadi perselisihan pendapat di antara para ahli fikih.” (Lihat <em>Majmu’ Fatawa</em>, 26:13)</p>
<p>Adapun perkataan Ustadz A. Hassan di dalam terjemahan kitab Bulughul Maram, 1:367, hadis no. 733, keterangan no. 2, yaitu, “Seseorang yang menghajikan seorang itu berlawanan dengan ayat 33 dari An-Najm dan lainnya, yang artinya, &#8216;Seseorang tidak dapat memperoleh sesuatu melainkan perbuatan yang ia kerjakan,&#8217;” maka kami jawab,</p>
<p>1. <strong>Sepanjang pengetahuan kami, tidak ada ulama yang menolak hadis ini dengan alasan bertentangan dengan surat An-Najm ayat 33 dan lainnya</strong>. Bahkan, para ulama bersepakat menerima hadis di atas, sebagaimana telah kami nukilkan perkataan Syekhul Islam. Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi berkata, “Para ulama telah bersepakat bahwa orang yang telah mati mendapatkan manfaat dengan shalat (jenazah) atasnya, doa untuknya, haji baginya, dan semacamnya, dari segala sesuatu yang manfaatnya telah pasti didapatkan oleh seseorang dengan sebab amal orang lain.” (<em>Tafsir Adhwaul Bayan</em>, An-Najm:39)</p>
<p>Jika ini merupakan ijma&#8217;, maka <strong>menyelisihi ijma’ merupakan kesalahan</strong>.</p>
<p>2. <strong>Tentang firman Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em></strong>,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَانِ إِلَّا مَا سَعَى</strong></p>
<p>“<em>Dan sesungguhnya, seorang manusia hanya mendapatkan hasil yang telah diusahakannya</em>.” (Q.S. An Najm:39)</p>
<p>Ayat ini tidak bertentangan dengan hadis sahih tentang menghajikan orang lain. <strong>Sebagian ulama berpendapat bahwa ayat ini bersifat umum, sedangkan hadis mengkhususkannya</strong>.</p>
<p>Di antara ulama yang berpendapat demikian ialah Imam Asy-Syaukani. Beliau menjelaskan makna ayat ke-53, surat An-Najm, dengan menyatakan, “Dan makna ayat tersebut, ‘Dia (manusia) hanya mendapatkan balasan usahanya, dan amal seseorang tidak bermanfaat kepada orang lain,’ maka keumuman ini dikhususkan dengan firman Allah ta’ala, &#8216;Kami hubungkan mereka dengan anak cucu mereka.&#8217; (Q.S. Ath-Thur:21), serta dengan ayat semisal itu tentang syafaat para nabi dan para malaikat untuk hamba-hamba (Allah), dan disyariatkannya doa orang-orang yang hidup untuk orang-orang yang telah mati, dan semacamnya. Tidak benarlah orang yang mengatakan, ‘Sesungguhnya ayat itu dihapuskan dengan semisal perkara-perkara ini,’ karena sesungguhnya yang khusus tidaklah menghapuskan yang umum, <strong>tetapi mengkhususkannya</strong>. Oleh karena itu, segala sesuatu yang dalilnya telah tegak bahwa manusia mendapatkan manfaat dengannya, sedangkan itu bukan usahanya, hal itu menjadi pengkhusus keumuman ayat ini.” (<em>Tafsir Fathul Qadir</em>, surat An Najm, ayat 39)</p>
<p><strong>Sebagian ulama lainnya menjelaskan bahwa yang ditiadakan oleh ayat itu hanyalah kepemilikan</strong>.</p>
<p>Imam Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi berkata, “Ayat itu hanyalah menunjukkan peniadaan kepemilikan manusia terhadap sesuatu yang tidak diusahakannya. Ayat ini tidak menunjukkan peniadaan bahwa manusia tidak mendapatkan manfaat dengan usaha orang lain.” (<em>Tafsir Adhwaul Bayan</em>, surat An-Najm, ayat 39). <em>Wallahu a’lam</em>.</p>
<p>Adapun hadis tentang mayit yang disiksa karena ditangisi, maka sangat banyak riwayat yang menyebutkan hal ini. Di antaranya:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ أَبِيهِ رَضِيَ الله عَنْهُمَا عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيِّ قَالَ الْمَيِّتُ يُعَذَّ بُ فِي قَبْرِ هِ بِمَانِيحَ عَلَيْهِ</strong></p>
<p>Dari Ibnu Umar dari bapaknya dari Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>; beliau bersabda, “<em>Mayit akan disiksa di dalam kuburnya dengan sebab dilakukannya niyahah (tangisan dengan jeritan dan perkataan yang menunjukkan tidak menerima keadaan) terhadapnya</em>.” (H.R. Bukhari, no. 1292)</p>
<p>Makna hadis ini memang seolah-olah bertentangan dengan firman Allah subhanahu wa ta&#8217;ala,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>وَ لَا تَز رُوَا زرَ ةٌوزْ رَ أُ خْرَى</strong></p>
<p>“<em>Dan seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain</em>.” (Q.S. Al-An’am:164).</p>
<p>Kendati demikian, para ulama telah memberikan jawaban yang banyak.</p>
<p>Syekh Muhamamd Nashiruddin Al-Albani berkata, “Dalam menjawab hal ini, ulama telah berbeda pendapat, (yaitu) sebanyak delapan pendapat. Yang paling dekat kepada kebenaran ada dua pendapat. <em>Pertama</em>: Pendapat mayoritas ulama, bahwa hadis ini tertuju kepada orang yang berwasiat agar <em>niyahah</em> (ratapan) dilakukan terhadapnya, atau orang yang tidak berwasiat untuk meninggalkannya, padahal dia mengetahui bahwa orang-orang biasa melakukannya. Oleh karena itulah, Abdullah bin mubarak berkata, ‘Jika dia (si mayit) telah melarangnya ketika hidupnya, lalu mereka melakukan sesuatu dari itu (<em>niyahah</em>) setelah wafatnya, tidak ada sesuatu (siksaan) atasnya (mayit).’”</p>
<p>Kemudian, Syekh menyebutkan pendapat kedua yang menguatkan jawaban mayoritas ulama di atas. (Lihat <em>Ahkamul Janaiz</em>, hlm. 41, karya Syekh Al-Albani, Penerbit: Maktabah Al Ma’arif)</p>
<p>Berdasarkan penjelasan ini, siksa yang dialami oleh si mayit tadi disebabkan oleh perbuatannya sendiri. Dengan demikian, tidak ada pertentangan dengan ayat Alquran. Alhamdulillah.</p>
<p><strong>Sumber</strong>:  Majalah <em>As-Sunnah</em>, edisi 3, tahun IX, 1426 H/2005 M. Disertai penyuntingan bahasa oleh redaksi www.KonsultasiSyariah.com.<br />
<strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/tidak-ada-pertentangan-alquran-dan-hadis-sahih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Yang Penting Niatnya?</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/yang-penting-niatnya/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/yang-penting-niatnya/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 May 2011 00:04:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator 2</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Karir]]></category>
		<category><![CDATA[KITAB]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>
		<category><![CDATA[amalan]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[matlamat penggunaan kitab at-tirmidzi]]></category>
		<category><![CDATA[niat keluar rumah]]></category>
		<category><![CDATA[zina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=4897</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Kita mengetahui, ada hadis yang menjelaskan bahwa amalan seseorang tergantung dari niatnya. Namun, kita ketahui bahwa&#8211;bisa jadi&#8211;seseorang menjalankan suatu amalan yang tidak sama dengan yang telah ada di dalam hadis. Misalnya, wanita tidak diperbolehkan memakai minyak wangi apabila keluar ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Kita mengetahui, ada hadis yang menjelaskan bahwa amalan seseorang tergantung dari niatnya. Namun, kita ketahui bahwa&#8211;bisa jadi&#8211;seseorang menjalankan suatu amalan yang tidak sama dengan yang telah ada di dalam hadis. Misalnya, wanita tidak diperbolehkan memakai minyak wangi apabila keluar rumah, namun yang bersangkutan berdalil, &#8220;Semua itu tergantung niatnya. Asalkan tujuannya tidak untuk menggoda kaum laki-laki.&#8221; Yang ingin kami tanyakan, bagaimana hukum amalan yang demikian ini?<br />
<span id="more-4897"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Memang, amalan seseorang tergantung dari niatnya, sebagaimana terdapat dalam sabda Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>إِنَّمَاالأَعْمَالُ بِا لِّيَّاتِ وَ إِنَّمَا لِكُلِّ امْرِ ئٍ هَانَوَى</strong></p>
<p>&#8220;<em>Sesungguhnya, amalan itu tergantung niatnya, dan setiap orang mendapatkan sesuatu yang diniatkannya</em>.&#8221; (H.R. Al-Bukhari, no. 1)</p>
<p>Kendati demikian, pernyataan yang berdalih dengan hadis ini, untuk menghalalkan perkara yang diharamkan Allah, merupakan satu kesalahan besar dan jauh dari kebenaran. Bagaimana tidak, setiap pelaku dosa akan menyatakan bahwa dirinya tidak berniat berbuat dosa, dan yang penting tujuannya baik. Orang mencuri akan menyatakan bahwa ia mencuri untuk tujuan yang baik, yaitu memberi nafkah kepada keluarganya. Akhirnya, hancurlah syariat dengan dalih seperti ini.</p>
<p>Wanita dilarang menggunakan minyak wangi keluar rumah, walaupun tidak bertujuan menggoda laki-laki. Dia tidak boleh berdalih dengan niat, untuk membenarkan perbuatannya tersebut, sebab Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menyatakan,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>كُلُّ عَيْنٍ زَانِيَهٌ وَالْمَرْأَةُإِذَااسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ بِ لْمَجْلِسِ فَهِيَ كَذَاوَكَذَايَعْنِي زَانِيَةً</strong></p>
<p>&#8220;<em>Semua mata itu berzina, dan wanita yang menggunakan minyak wangi lalu melewati majelis para lelaki maka dia itu begini dan begitu, yaitu pezina.</em>&#8221; (H.R. At-Tirmidzi dan Al Mundziri)</p>
<p>Hadis ini tidak mengisyaratkan tujuan menggunakan minyak wangi, sehingga hukumnya berlaku umum.</p>
<p>Syekh Al-Mubarakfuri, dalam kitab <em>Tuhfah Al-Ahwadzi</em>, menjelaskan alasan sehingga si wanita dijuluki &#8220;pezina&#8221; dalam hadis Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> di atas, yaitu karena wanita tersebut telah membangkitkan syahwat lelaki dengan minyak wanginya dan menarik perhatian laki-laki untuk melihatnya. Padahal, orang yang melihatnya telah berzina dengan matanya, sehingga ia menjadi penyebab terjadinya zina mata; wanita itu pun berdosa.</p>
<p>Demikian juga, ia menggunakan minyak wangi tentu dengan niat &#8220;tampil lebih menarik di hadapan orang lain&#8221;. Ini membatalkan dalihnya tersebut.</p>
<p>Mudah-mudahan, Allah membimbing kita semua ke jalan Allah yang lurus.</p>
<p><strong>Sumber: Majalah <em>As-Sunnah</em>, edisi 5, tahun IX, 1426 H/2005 M. Disertai penyuntingan bahasa oleh redaksi www.KonsultasiSyariah.com.</strong><br />
<strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/yang-penting-niatnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penjelasan Ringkas Tentang Arba&#8217;in An-Nawawiyah, Hadis ke-29</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/penjelasan-ringkas-tentang-arbain-an-nawawiyah-hadis-ke-29/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/penjelasan-ringkas-tentang-arbain-an-nawawiyah-hadis-ke-29/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 May 2011 01:29:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator 2</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[KITAB]]></category>
		<category><![CDATA[arba'in]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[hadist arba'an]]></category>
		<category><![CDATA[hadits arba’in annawawiyah]]></category>
		<category><![CDATA[hadits arbain tentang kolbu]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[penjelasan hadits 21]]></category>
		<category><![CDATA[penjelasan hadits ke 21 arba'in]]></category>
		<category><![CDATA[riba]]></category>
		<category><![CDATA[syarah hadis arbain ibumu]]></category>
		<category><![CDATA[syarah hadist arba'in 29]]></category>
		<category><![CDATA[syarah hadits arba'in indonesia download]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=4765</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Mohon penjelasan mengenai sabda Rasulullah dalam Arba’in An-Nawawiyah, hadis ke-29, yang berbunyi, “&#8230; Semoga engkau kehilangan ibumu, wahai Mu’adz.” Jawaban: Penggalan lafal hadis yang dimaksud ialah, قلت : يا نبي الله ، وإنا لمؤاخذون بما نتكلم به ؟ فقال ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Mohon penjelasan mengenai sabda Rasulullah dalam <em>Arba’in An-Nawawiyah</em>, hadis ke-29, yang berbunyi, “<em>&#8230; Semoga engkau kehilangan ibumu, wahai Mu’adz.</em>”<br />
<span id="more-4765"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Penggalan lafal hadis yang dimaksud ialah,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>قلت : يا نبي الله ، وإنا لمؤاخذون بما نتكلم به ؟ فقال : ثكلتك أمك ، وهل يكب الناس في النار على وجوههم _ أو قال على مناخرهم _ إلا حصائد ألسنتهم</strong></p>
<p>“&#8230;Aku (Mu’adz) berkata, ‘Wahai Nabi Allah, apakah kita akan disiksa lantaran ucapan yang kita lontarkan?’ Beliau menjawab, ‘Tsaqilatka ummuka, wahai Mu’adz! Bukankah menusia itu disungkurkan wajahnya – hidungnya (dalam riwayat yanng lain) – di neraka, selain karena ucapan lisannya (yang tidak ada nilai baiknya)&#8230;”</p>
<p>Tidak hanya &#8220;<em>tsaqilatka ummuka</em>&#8221; (sebuah lafal yang seolah-olah mengungkapkan doa kejelekan) yang terdapat dalam hadis. Masih ada kalimat lain, seperti: <em>qatalahullah, wailun laka</em>, dan <em>taribat yadaka</em> (asal makna taribat adalah &#8220;berpisah&#8221;).</p>
<p>Berkaitan dengan ini, Syekh Azhim Abadi, penulis <em>Syarah Sunan At-Tirmidzi</em>, mengatakan dalam penjelasan hadis no. 113, 1:128, “Bangsa Arab biasa memakainya tanpa memaksudkan ucapannya sesuai dengan hakikat (lafal tersebut). Mereka menyebutkan, &#8216;<em>Taribat yadaka</em>! (Celakalah dua tanganmu!),&#8217; &#8216;<em>Qatahullah! Ma asyja’ahu</em>! (Semoga Allah memeranginya! Betapa beraninya dia!),&#8217; &#8216;<em>Wa la umma lahu wa la aba lahu</em>! (Dia tidak mempunyai ibu, dan dia tidak mempunyai ayah!),&#8217; &#8216;<em>Tsaqilatka ummuka</em>! (Celakalah ibumu!),&#8217; &#8216;<em>Wailun ummuhu</em> (Kecelakaanlah untuk ibunya!),&#8217; dan lain-lain. Mereka (bangsa Arab) mengatakannya saat mengingkari sesuatu, menjauhi sesuatu, bertekad untuk melakukan sesuatu, menganggap besar satu perkara, atau mengungkapkan anjuran dan kekaguman dengannya. <em>Wallahu a’lam</em>.” (Lihat <em>Syarah Muslim</em>, karya An-Nawawi, 3:221)</p>
<p><strong>Sumber: Majalah <em>As-Sunnah</em>, edisi 3, tahun IX, 1426 H/2005 M. Disertai penyuntingan bahasa oleh redaksi w<em>ww.KonsultasiSyariah.com</em>.</strong><br />
<strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/penjelasan-ringkas-tentang-arbain-an-nawawiyah-hadis-ke-29/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Buku Tuntunan Shalat yang Sahih</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/buku-tuntunan-shalat-apa-yang-patut-saya-baca/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/buku-tuntunan-shalat-apa-yang-patut-saya-baca/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 May 2011 00:51:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[KITAB]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Referensi Buku]]></category>
		<category><![CDATA[bacaan shalat menurut sunah]]></category>
		<category><![CDATA[bacaan sholat tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[bacaan sohih setelah shalat tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[bacaan tuntutan shalat]]></category>
		<category><![CDATA[belajar sholat beserta hadist shahih]]></category>
		<category><![CDATA[belajar sholat tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[berapa rakaat shalat tarawih yang paling shahih menurut tuntunan nabi?]]></category>
		<category><![CDATA[buku bacaan shalat tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[buku belajar solat]]></category>
		<category><![CDATA[buku buku panduan sholat]]></category>
		<category><![CDATA[buku cara tata sholat]]></category>
		<category><![CDATA[buku gratis tatacara shalat]]></category>
		<category><![CDATA[buku panduan shalat tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[buku panduan sholat wajib]]></category>
		<category><![CDATA[buku pedoman shalat]]></category>
		<category><![CDATA[cara dan doa sholat tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[cara shalat]]></category>
		<category><![CDATA[cara shalat tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[cara shalat yang sohih]]></category>
		<category><![CDATA[doa setelah shalat yang shahih]]></category>
		<category><![CDATA[doa setelah sholat tarawih sesuai dengan hadits]]></category>
		<category><![CDATA[doa setelah tarwih ya shohih]]></category>
		<category><![CDATA[doa shalat tarawih dan witir sesuai hadits shahih]]></category>
		<category><![CDATA[doa shalat tarawih menurut hadist shahih]]></category>
		<category><![CDATA[doa tarawih dan witir sesuai sunah]]></category>
		<category><![CDATA[download ebook tata cara shalat lengkap sesuai tuntunan rasulullah]]></category>
		<category><![CDATA[dzikir dan doa shalat tarawih menurut tuntunan rasul]]></category>
		<category><![CDATA[ebook bacaan bacaan ketika shalat tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[ebook buku panduan sembahyang]]></category>
		<category><![CDATA[ebook tuntunan shalat tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[hadits shahih doa shalat taraweh]]></category>
		<category><![CDATA[jin]]></category>
		<category><![CDATA[keistimewaan shalat tarawih wallpaper]]></category>
		<category><![CDATA[kitab dalil shalat]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[lafadz niat yang shahih mandi junub]]></category>
		<category><![CDATA[niat shalat menurut sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[panduan bacaan sholat wajib yang shoheh]]></category>
		<category><![CDATA[panduan dan tata cara shalat tarawih beserta bacaannya]]></category>
		<category><![CDATA[panduan sholat taraweh yang shahih]]></category>
		<category><![CDATA[panduan sifat sholat wanita]]></category>
		<category><![CDATA[panduan solat shoheh]]></category>
		<category><![CDATA[pentingnya sholat]]></category>
		<category><![CDATA[semoga mendapat hidayah menurut hadist sahih]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[shalat tarawih yang soheh]]></category>
		<category><![CDATA[sifat sholat nabi]]></category>
		<category><![CDATA[tarawih sahih]]></category>
		<category><![CDATA[tata cara dan doa sholat tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[tata cara lengkap sholat & doa 2011]]></category>
		<category><![CDATA[tata cara niat dan bacaan sholat tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[tata cara shalat]]></category>
		<category><![CDATA[tata cara shalat berdasarkan hadits]]></category>
		<category><![CDATA[tata cara shalat sesuai sunah sahih]]></category>
		<category><![CDATA[tata cara shalat tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[tata cara shalat tarawih menurut sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[tata cara sholat menurut hadis sahih]]></category>
		<category><![CDATA[tata cara sholat sunat tarawih menurut syariah]]></category>
		<category><![CDATA[tata cara sholat tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[tata cara sholat tarawih sesuai sunnah shahih]]></category>
		<category><![CDATA[tidurnya orang puasa adalah ibadah sahih]]></category>
		<category><![CDATA[tuntunan shalat]]></category>
		<category><![CDATA[tuntunan sholat tarawih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=4728</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Assalamu &#8216;alaikum, Ustadz. Buku tata cara shalat yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah, judulnya apa dan penulisnya siapa, Ustadz?. Rafdinal (inal**@***.com) Jawaban: Wa&#8217;alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh. Judul    : Sifat Shalat Nabi Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam. Penulis : Syekh Muhammad Nashiruddin Al-Albani. ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Assalamu &#8216;alaikum</em>, Ustadz. Buku tata cara shalat yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah, judulnya apa dan penulisnya siapa, Ustadz?.</p>
<p><em>Rafdinal (inal**@***.com)</em><br />
<span id="more-4728"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa&#8217;alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh.</em></p>
<p>Judul    : <strong><em>Sifat Shalat Nabi Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam</em></strong>.<br />
Penulis : <strong>Syekh Muhammad Nashiruddin Al-Albani</strong>.</p>
<p>Keistimewaan: Buku ini ditulis oleh ahli hadis, sehingga semua dalil yang disebutkan dalam buku ini adalah hadis sahih. Selain itu, hampir semua gerakan dan bacaan, yang dicantumkan dalam buku ini, dicantumkan dalilnya. Banyak orang yang dulunya awam, mendapat hidayah dari Allah, kemudian menjadi orang yang berilmu dan rajin belajar agama setelah membaca buku ini.</p>
<p>Semoga bermanfaat.</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).</strong><br />
<strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/buku-tuntunan-shalat-apa-yang-patut-saya-baca/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Makna Hadits Jayyid</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/makna-hadits-jayyid/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/makna-hadits-jayyid/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Feb 2011 02:33:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[KITAB]]></category>
		<category><![CDATA[apa itu hadits jayid]]></category>
		<category><![CDATA[apa makna jayyid?]]></category>
		<category><![CDATA[arti hadist jayyid]]></category>
		<category><![CDATA[arti isnad jayid]]></category>
		<category><![CDATA[arti kata jayyid]]></category>
		<category><![CDATA[hadist sanad jayyid]]></category>
		<category><![CDATA[hadist shahih tentang makna sombong]]></category>
		<category><![CDATA[hadits]]></category>
		<category><![CDATA[hadits jayyid]]></category>
		<category><![CDATA[isnad jayyid shahih definisi]]></category>
		<category><![CDATA[jayyid adalah]]></category>
		<category><![CDATA[jayyid”]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian hadist jayyid]]></category>
		<category><![CDATA[sanad jayyid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=3776</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Apa makna perkataan sebagian huffazh, “Ini adalah hadits jayyid (baik)”? Jawaban: Yang saya ketahui dari lafal ini adalah bahwa mereka mengatakan jayyid pada satu sanad tatkala mereka ragu antara shahih dan hasan. Seorang pengkaji hadits mendapat bahwa isnadnya mengandung ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Apa makna perkataan sebagian <em>huffazh</em>, “Ini adalah hadits <em>jayyid </em>(baik)”?<br />
<span id="more-3776"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Yang saya ketahui dari lafal ini adalah bahwa mereka mengatakan <em>jayyid</em> pada satu <em>sanad</em> tatkala mereka ragu antara shahih dan hasan. Seorang pengkaji hadits mendapat bahwa isnadnya mengandung kemungkinan shahih, tetapi secara pasti ia adalah hasan, maka mereka men-<em>jayyid</em>-kan <em>isnad</em>-nya.</p>
<p>Sumber: <em>Fatwa-fatwa Syekh Nashiruddin Al-Albani</em>, Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Media Hidayah, 1425 H &#8212; 2004 M.<br />
(Dengan beberapa pengubahan tata bahasa oleh redaksi <a href="www.konsultasisyariah.com" target="_self">www.konsultasisyariah.com</a>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/makna-hadits-jayyid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

