<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Konsultasi Kesehatan dan Tanya Jawab Pendidikan Islam &#187; Jenazah</title>
	<atom:link href="http://www.konsultasisyariah.com/category/jenazah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.konsultasisyariah.com</link>
	<description>KonsultasiSyariah.com</description>
	<lastBuildDate>Thu, 17 May 2012 04:22:47 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Apa Hak Mayat yang Harus Dilakukan</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/hak-mayat-yang-harus-dilakukan/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/hak-mayat-yang-harus-dilakukan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Apr 2012 23:09:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Konsultasi Syariah</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Jenazah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=10834</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Ada yang mengatakan, jika orang yang hidup teringat orang yang telah meninggal, misalnya teringat orang tuanya yang telah meninggal di setiap waktu dan di setiap tempat, berduka terhadapnya, menangisinya dan mengenangnya, maka hal itu menyebabkan si mayat tersiksa dan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Ada yang mengatakan, jika orang yang hidup teringat <a href="http://konsultasisyariah.com/hak-mayat-yang-harus-dilakukan" target="_blank" rel="nofollow"><strong>orang yang telah meninggal</strong></a>, misalnya teringat orang tuanya yang telah meninggal di setiap waktu dan di setiap tempat, berduka terhadapnya, menangisinya dan mengenangnya, maka hal itu menyebabkan si <u>mayat</u> tersiksa dan menimbulkan keburukan baginya sehingga tidak boleh mengingat-ingat si <strong>mayat</strong> dengan kesedihan, tangisan, dan kenangan, tapi cukup dengan mendoakan dan memohonkan ampunan serta rahmat baginya. Apakah ini benar? Semoga Allah membalas Syaikh dengan kebaikan. Kemudian dari itu, apa hak mayat yang harus dilakukan?<br />
<span id="more-10834"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<h2>Hak Mayat yang Harus Dilakukan</h2>
<p>Telah disebutkan dirwayat dari Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, bahwa beliau bersabda,<br />
“<em>Sesungguhnya mayat itu disiksa karena tangisan keluarganya</em>.” (HR. al-Bukhari)</p>
<p>Artinya, jika si mayat itu berpesan agar ditangisi sebagaimana yang dilakukan oleh kaum jahiliyah, maka ia disiksa. Ada juga yang mengatakan, bahwa demikian ini jika tradisi mereka meratapi kematian lalu si mayat (sebelum meninggalnya) tidak memperingatkan keluarganya. Ada juga yang mengatakan, bahwa yang dimaksud dengan siksaan itu adalah duka dan sedih karena perbuatan mereka yang tidak diperlukan itu. Jadi bukan siksa neraka.</p>
<p>Adapun sekedar teringat, bersedih dan mengucap ‘<em>inna lillahi..</em>’, tidak termasuk dalam larangan ini. Karena yang demikian ini banyak dialami oleh manusia, sementara manusia tidak bisa menolak apa yang terdetik di dalam hatinya yang berupa teringat kepada yang telah meninggal, bersedih, dan duka karena kehilangannya. Jika ia teringat lalu mengucap ‘<em>inna lillahi..</em>’, dan berdoa kepada Allah agar diberi kesabaran dan ketabahan serta diberikan pengganti yang lebih baik daripada musibah tersebut, Allah akan memberinya pahala atas musibah yang dialaminya,.</p>
<p><em>Al-Lu’lu al-Makin</em>, Syaikh Ibnu Jibrin Hal. 63-64</p>
<p>Sumber: <em>Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 2</em>, Darul Haq Cetakan VI 2010</p>
<p><strong>Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/" rel="nofollow" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/hak-mayat-yang-harus-dilakukan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Doa Untuk Jenazah yang Telah Dikubur</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/doa-untuk-jenazah/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/doa-untuk-jenazah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Mar 2012 02:21:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Jenazah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=10005</guid>
		<description><![CDATA[Doa Untuk Jenazah yang Telah Dikubur Pertanyaan: Assalaamu&#8217;alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh Ustadz, Jika jenazah sudah dimakamkan, doa apa yg baik dibaca (bahasa Arab atau Indonesia?) Apakah harus dipimpin seseorang? Dari: Herbono Utomo Jawaban: Wa&#8217;alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh Dianjurkan untuk mendoakan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Doa Untuk Jenazah yang Telah Dikubur</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Assalaamu&#8217;alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh Ustadz,<br />
Jika jenazah sudah dimakamkan, doa apa yg baik dibaca (bahasa Arab atau Indonesia?) Apakah harus dipimpin seseorang?</p>
<p>Dari: Herbono Utomo<br />
<span id="more-10005"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
Wa&#8217;alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh<br />
Dianjurkan untuk mendoakan jenazah pasca pemakanan. Di antara bentuk doanya adalah</p>
<p class="arab">اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اللَّهُمَّ ثَــبـِّـــتْهُ</p>
<p><em>Ya Allah, ampunilah dia dan kuatkanlah dia (untuk menjawab pertanyaan malaikat)</em>.</p>
<p>Ini berdasarkan hadis bahwa suatu ketika Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> selesai menguburkan jenazah, kemudian beliau berdiri dan mengatakan,</p>
<p class="arab">استغفِروا لأخيكم واسألوا له التثبيتَ فإنه الآن يُسْأَل</p>
<p>“<em>Mohonkanlah ampun untuk saudara kalian dan mintalah kekuatan untuknya karena sesungguhnya dia sekarang sedang ditanya</em>.” (HR. Abu Dawud, dari ‘Utsman bin Affan, dan dishahihkan Al-Albani)</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a href="http://konsultasisyariah.com/doa-untuk-jenazah" target="_blank" rel="nofollow">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/" rel="nofollow" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait fikih jenazah:</h3>
<p>1. <a href="../mengubur-jenazah-dengan-peti" rel="nofollow" target="_blank">Mengubur Jenazah dengan Peti</a>.<br />
2. <a href="../memindahkan-makam" rel="nofollow" target="_blank">Memindahkan Makam</a>.<br />
3. <a href="../mengumumkan-kematian-melalui-microphone" rel="nofollow" target="_blank">Mengumumkan Kematian Ke Mikropon</a>.<br />
4. <a href="../bolehkah-mengubur-mayat-pada-malam-hari" rel="nofollow" target="_blank">Mengubur Jenazah Pada Malam Hari</a>.<br />
5. <a href="../apa-hukum-adzan-dan-talqin-kepada-mayat" rel="nofollow" target="_blank">Hukum Adzan dan Iqomah pada Talqin Jenazah</a>.<br />
6. <a href="../bolehkah-mengantar-jenazah-dengan-kendaraan" rel="nofollow" target="_blank"><strong>Mengantar Jenazah</strong> dengan Kendaraan</a>.<br />
7. <a href="../dzikir-mengatarka-jenazah" rel="nofollow" target="_blank">Dzikir Ketika Mengantar Jenazah</a>.<br />
8. <a href="http://konsultasisyariah.com/memakai-alas-kaki-ke-kuburan" target="_blank" rel="nofollow">Mencopot Alas Kaki ketika Masuk Pemakaman</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/doa-untuk-jenazah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memakai Alas Kaki ke Kuburan</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/memakai-alas-kaki-ke-kuburan/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/memakai-alas-kaki-ke-kuburan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Feb 2012 05:00:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Jenazah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=10000</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Assalaamu&#8217;alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh Ustadz, Apakah sandal atau sepatu WAJIB dilepas saat berada di pemakaman? Dari: Herbono Utomo Jawaban: Wa&#8217;alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuhu Tidak boleh memasuki area pemakaman dengan menggunakan sandal atau alas kaki, kecuali karena darurat. Disebutkan dalam ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Assalaamu&#8217;alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh Ustadz,<br />
Apakah sandal atau sepatu WAJIB dilepas saat berada di pemakaman?</p>
<p>Dari: Herbono Utomo<br />
<span id="more-10000"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
<em>Wa&#8217;alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuhu</em><br />
<strong>Tidak boleh</strong> memasuki area pemakaman dengan menggunakan sandal atau alas kaki, <strong>kecuali</strong> karena darurat. Disebutkan dalam hadis dari Basyir –bekas budak Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>– bahwa beliau bersama Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> melewati pemakaman kaum muslimin. Tiba-tiba Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menajamkan pandangan ke arah seseorang yang berada di makam. Ternyata orang ini memakai sandal kulit sapi yang telah dibersihkan bulunya. Kemudian Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">« يا صاحب السبتيتين ويحك ألق سبتيتيك »</p>
<p>“<em>Hai yang memakai sandal!, bagaimana kau ini, lepas sandalmu</em>.”</p>
<p>Kemudian orang itu pun menoleh. Ketika dia tahu bahwa yang mengingatkan itu Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, dia langsung melepas sandalnya dan melemparkannya. (HR. Abu Daud, no.3232 dan dishahihkan Al-Albani)</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a href="http://www.konsultasisyariah.com/" rel="nofollow">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a href="http://www.konsultasisyariah.com/" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait fikih jenazah:</h3>
<p>1. <a href="../mengubur-jenazah-dengan-peti" rel="nofollow" target="_blank">Mengubur Jenazah dengan Peti</a>.<br />
2. <a href="../memindahkan-makam" rel="nofollow" target="_blank">Memindahkan Makam</a>.<br />
3. <a href="../mengumumkan-kematian-melalui-microphone" rel="nofollow" target="_blank">Mengumumkan Kematian Ke Mikropon</a>.<br />
4. <a href="../bolehkah-mengubur-mayat-pada-malam-hari" rel="nofollow" target="_blank">Mengubur Jenazah Pada Malam Hari</a>.<br />
5. <a href="../apa-hukum-adzan-dan-talqin-kepada-mayat" rel="nofollow" target="_blank">Hukum Adzan dan Iqomah pada Talqin Jenazah</a>.<br />
6. <a href="../bolehkah-mengantar-jenazah-dengan-kendaraan" rel="nofollow" target="_blank"><strong>Mengantar Jenazah</strong> dengan Kendaraan</a>.<br />
7. <a href="../dzikir-mengatarka-jenazah" target="_blank" rel="nofollow">Dzikir Ketika Mengantar Jenazah</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/memakai-alas-kaki-ke-kuburan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membaca Doa Setelah Shalat Jenazah</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/membaca-doa-setelah-shalat-jenazah/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/membaca-doa-setelah-shalat-jenazah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Feb 2012 23:00:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Jenazah]]></category>
		<category><![CDATA[berdoa setelah solat jenazah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9987</guid>
		<description><![CDATA[Doa Setelah Shalat Jenazah Pertanyaan: Assalaamu&#8217;alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh Ustadz, Apakah setelah salam kanan dan kiri dalam shalat jenazah masih membaca doa lagi? Dari: Herbono Utomo Jawaban: Wa&#8217;alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuhu Tidak kami jumpai adanya riwayat yang menganjurkan berdoa setelah ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Doa Setelah Shalat Jenazah</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
<em>Assalaamu&#8217;alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh</em> Ustadz,<br />
Apakah setelah salam kanan dan kiri dalam <strong>shalat jenazah</strong> masih membaca doa lagi?</p>
<p>Dari: Herbono Utomo<br />
<span id="more-9987"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
<em>Wa&#8217;alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuhu</em><br />
Tidak kami jumpai adanya riwayat yang menganjurkan berdoa setelah <em>shalat jenazah</em>. Semua doa yang diberikan kepada mayit, dibaca ketika <u>shalat jenazah</u>, dan setelah dimakamkan. Jika ingin mendoakan mayit dengan doa yang banyak, hendaknya dilakukan ketika shalat jenazah. Sebagian ulama, seperti Syaikh Abu Umar Usamah al-Utaibi menegaskan bahwa membaca doa setelah shalat jenazah termasuk perbuatan bid&#8217;ah. Beliau mengatakan,</p>
<p class="arab">فدعاء الإمَام بَعْدَ صلاة الجنازة بالمأمومين وتأمينهم عَلَى دعائه مِنَ البدع الشنيعة المحرمة، لأَنَّ النَّبِيّ صلى الله عَلَيْهِ وسلم إنما دل أمته عَلَى الدُّعَاء للميت أثناء الصَّلاة عَلَى الجنازة وبعد الفراغ مِنْ دفنه وخير الهدي هدي مُحَمَّدٍ -صَلَّى اللهُ عليهِ وَسَلَّم-</p>
<p>&#8220;Doa imam setelah shalat jenazah bersama makmum dan mereka mengaminkannya termasuk perbuatan bid&#8217;ah yang banyak tersebar. Karena Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> hanya mengajarkan kepada umatnya terkait doa bagi jenazah untuk dilakukan ketika shalat jenazah dan setelah setelah memakamkan mayit. Dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.&#8221;</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a href="http://www.konsultasisyariah.com/" rel="nofollow">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a href="http://www.konsultasisyariah.com/" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait fikih jenazah:</h3>
<p>1. <a href="../mengubur-jenazah-dengan-peti" rel="nofollow" target="_blank">Mengubur Jenazah dengan Peti</a>.<br />
2. <a href="../memindahkan-makam" rel="nofollow" target="_blank">Memindahkan Makam</a>.<br />
3. <a href="../mengumumkan-kematian-melalui-microphone" rel="nofollow" target="_blank">Mengumumkan Kematian Ke Mikropon</a>.<br />
4. <a href="../bolehkah-mengubur-mayat-pada-malam-hari" rel="nofollow" target="_blank">Mengubur Jenazah Pada Malam Hari</a>.<br />
5. <a href="../apa-hukum-adzan-dan-talqin-kepada-mayat" rel="nofollow" target="_blank">Hukum Adzan dan Iqomah pada Talqin Jenazah</a>.<br />
6. <a href="../bolehkah-mengantar-jenazah-dengan-kendaraan" rel="nofollow" target="_blank"><strong>Mengantar Jenazah</strong> dengan Kendaraan</a>.<br />
7. <a href="../dzikir-mengatarka-jenazah" rel="nofollow" target="_blank">Dzikir Ketika Mengantar Jenazah</a>.<br />
8. <a href="http://konsultasisyariah.com/doa-shalat-jenazah" target="_blank" rel="nofollow">Hadis Tentang Doa Shalat Jenazah Takbir ke-3</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/membaca-doa-setelah-shalat-jenazah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ziarah Kubur bagi Wanita</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/ziarah-kubur-bagi-wanita/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/ziarah-kubur-bagi-wanita/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Feb 2012 06:55:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[AKHLAK]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Jenazah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=10269</guid>
		<description><![CDATA[Ziarah Kubur bagi Wanita Pertanyaan: Bolehkah wanita berziarah ke kubur? Jawaban: Kedudukan wanita (dalam ibadah) hampir sama dengan kaum pria. Kewajiban pria juga bisa menjadi kewajiban wanita. Begitu pula mereka sama dalam mengerjakan perkara-perakara yang disunahkan. Mereka berbeda dalam perkara-perkara ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Ziarah Kubur bagi Wanita</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Bolehkah wanita berziarah ke kubur?<br />
<span id="more-10269"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
Kedudukan wanita (dalam ibadah) hampir sama dengan kaum pria. Kewajiban pria juga bisa menjadi kewajiban wanita. Begitu pula mereka sama dalam mengerjakan perkara-perakara yang disunahkan. Mereka berbeda dalam perkara-perkara yang dikhususkan oleh syariat.</p>
<p>Dalam perkara yang ditanyakan, saya tidak menemukan adanya dalil khusus yang mengharamkan wanita berziarah ke kuburan. Bahkan terdapat sebuah hadis dalam <em>Shahih Muslim</em> yang menceritakan tindakan Aisyah yang dilandasi rasa cemburu kepada istri-istri Nabi yang lain. Lengkapnya sebagai berikut:</p>
<p>Di malam hari ketika Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menyangka Aisyah telah tertidur, beliau <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> turun dari tempat tidur kemudian berjalan dengan mengendap-endap, menuju ke pekuburan Baqi’. Mengetahui hal itu Aisyah yang belum tertidur mengikuti dari belakang. Jika Nabi melambatkan ayunan langkahnya, Aisyah pun ikut melambatkan jalannya. Dan jika Nabi berjalan cepat, Aisyah pun berjalan cepat, ketika Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pulang ke rumah, Aisyah dengan segera masuk ke rumah dan tidur di atas tempat tidurnya. Rasulullah segera masuk kamar menemui Aisyah. Karena Aisyah nampak terengah-engah; Rasulullah bertanya kepada, “<em>Ada apa wahai Ais? Apakah engkau menyangka Allah dan rasul-Nya akan berbuat curang kepadamu?. Sesungguhnya tadi Jibril datang dan menyampaikan salam dari Allah kepadaku, dan juga menyampaikan perintah Allah agar saya mendatangi pekuburan Baqi&#8217; lalu memintakan ampun penghuninya</em>.” Dalam kitab lain disebutkan bahwa Aisyah berkata, “Apa artinya aku bila dibandingkan dengan engkau Ya Rasulullah.” Selanjutnya (Aisyah bertanya kepada Rasulullah, “Kalau begitu, apa yang diucapkan jika berziarah ke kuburan?” Nabi menjawab, “Bacalah&#8230;&#8221;</p>
<p>Adapun hadis yang melarang para wanita berziarah ke kubur adalah,</p>
<p>“<em>Allah melaknat wanita-wanita yang (suka) berziarah kubur</em>.”</p>
<p>Hadis ini hanya berlaku di Mekah karena diucapkan di Mekah dan dalam periode Mekah (sebelum hijrah –ed.). Dalil yang menguatkan adalah sebuah hadis yang sudah kita kenal yang bunyinya:</p>
<p>“<em>Dahulu saya melarang kalian mendatangi (ziarah) kubur, adapun sekarang silahkan kalian mendatanginya.</em>”</p>
<p>Dengan demikian jelaslah bahwa pelarangan <strong>ziarah kubur</strong> itu hanya berlaku dalam periode Mekah, bukan pada periode Madinah. Pelarangan ini dimaksudkan karena di masa periode Mekah para sahabat baru saja memeluk Islam. Tidak mungkin pelarangan ini berlaku setelah hijrah ke Madinah.</p>
<p>Ucapan Nabi “<em>Adapun sekarang silahkan kalian mendatanginya</em>” boleh jadi diucapkan di Mekah, tetapi waktu atau tempat diucapkannya ini tidak berpengaruh sama sekali. Yang jelas izin berziarah ke kubur datang belakangan setelah pelarangannya di Mekah, dan ini sangat berkaitan dengan hadis Aisyah di atas. Jika kita menganggap hadis “<em>Dahulu saya melarang&#8230;</em>” diucapkan setelah hadis Aisyah, berarti hadis Aisyah di-<em>mansukh</em> (dihapus). Dan anggapan ini sangat jauh dari kebenaran.</p>
<p>Yang benar adalah Rasulullah melarang ziarah ke kubur pada periode Mekah, tetapi di akhir-akhir periode Mekah atau pada awal hijrah ke Madinah beliau mengizinkannya melalui sabdanya, “<em>Adapun sekarang silahkan kalian mendatanginya</em>.” Tidak diragukan lagi bahwa pelarangan <em>ziarah kubur</em> di periode Mekah diperuntukkan bagi laki-laki dan perempuan. Begitu pula perizinannya yang keluar pada akhir periode Mekah dan awal hijrah ke Madinah juga bagi laki-laki dan perempuan.</p>
<p>Kalau begitu kapan hadis “<em>Allah melaknat wanita-wanita yang (suka) berziarah kubur</em>” diucapkan Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>? Jika hadis ini diucapkan setelah izin Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> kepada para wanita untuk berziarah kubur, berarti terjadi penghapusan hukum dua kali (dilarang, lalu dibolehkan, dan akhirnya dilarang lagi) di-<em>mansukh</em> dua kali. Hal seperti ini tidak pernah kita jumpai dalam hukum-hukum syariat.</p>
<p>Baiklah, kita anggap saja bahwa Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mengucapkan hadis “<em>Allah melaknat wanita-wanita yang (suka) berziarah kubur</em>” setelah beliau mengizinkan pria dan wanita berziarah kubur. Tapi bagaimana dengan hadis yang menyatakan bahwa Rasulullah memberikan izin kepada Aisyah untuk berziarah kubur? Apakah izin Rasulullah ini keluar setelah hadis laknat di atas? Atau sebelumnya? Pendapat yang kuat menurut kami adalah bahwa izin Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> keluar sebelum hadis, “<em>Allah melaknat wanita-wanita yang (suka) berziarah kubur</em>.”</p>
<p><strong>Kesimpulan:</strong><br />
Dengan demikian bisa kita simpulkan bahwa yang dilarang adalah perempuan yang berlebih-lebihan dan terlalu sering berziarah. Sangat tidak mungkin ziarah ini haram bagi wantia, sementara Sayyidah Aisyah kerap kali berziarah kubur, walaupun Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> sudah meninggal.</p>
<p>Sumber: <em>Fatwa-Fatwa Syaikh Nashiruddin Al-Albani</em>, Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Media Hidayah, 1425 H &#8211; 2004 M</p>
<p><strong>Artikel <a href="http://www.konsultasisyariah.com/" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait ziarah kubur:</h3>
<p>1. <a href="../bolehkah-memakai-alas-kaki-di-kuburan" rel="nofollow" target="_blank">Bolehkah memakai alas kaki di kuburan.</a><br />
2. <a href="../bolehkah-wanita-haid-pergi-ziarah-kubur" rel="nofollow" target="_blank">Wanita haid berziarah kubur.</a><br />
3. <a href="../gambaran-adzab-kubur" rel="nofollow" target="_blank">Gambaran azab kubur.</a><br />
4. <a href="http://konsultasisyariah.com/ziarah-kubur" target="_blank" rel="nofollow">Tabur Bunga Saat <u>Ziarah Kubur</u></a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/ziarah-kubur-bagi-wanita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dzikir ketika Mengantarkan Jenazah</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/dzikir-mengatarka-jenazah/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/dzikir-mengatarka-jenazah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Jan 2012 03:42:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Jenazah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9993</guid>
		<description><![CDATA[Dzikir ketika Mengantarkan Jenazah Pertanyaan: Assalaamu&#8217;alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh Ustadz, Selama mengiringi jenazah dari rumah ke pemakaman, adakah dzikir-dzikir khusus yang mesti dibaca? Dari: Herbono Utomo Jawaban: Wa&#8217;alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuhu Dzikir Mengantar Jenazah Imam An-Nawawi mengatakan dalam Bab dzikir ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Dzikir ketika Mengantarkan Jenazah</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
<em>Assalaamu&#8217;alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh</em> Ustadz,<br />
Selama mengiringi jenazah dari rumah ke pemakaman, adakah dzikir-dzikir khusus yang mesti dibaca?<br />
Dari: Herbono Utomo</p>
<p><strong>Jawaban:</strong><br />
<em>Wa&#8217;alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuhu</em></p>
<h3>Dzikir Mengantar Jenazah</h3>
<p>Imam An-Nawawi mengatakan dalam Bab dzikir yang dibaca ketika mengiringi jenazah: &#8220;Dianjurkan bagi orang yang mengantarkan jenazah untuk menyibukkan dirinya dengan mengingat Allah dan merenungkan apa yang akan dia temui setelah kematian, bagaimana tempat kembalinya, dan apa yang akan dia dapatkan di sana, serta memikirkan bahwa kematian merupakan penghujung dunia dan kondisi akhir penduduk dunia.</p>
<p>Kemudian, jangan sekali-kali berbicara mengenai sesuatu yang tidak ada manfaatnya. Karena pada saat itu adalah waktu untuk merenung dan berpikir tentang kehidupan setelah mati. Sangat tercela jika digunakan untuk hal yang melalaikan, main-main, dan sibuk dengan omong kosong. Karena berbicara yang tidak ada manfaatnya terlarang dalam setiap keadaan, maka baimana lagi dalam kondisi semacam ini.</p>
<p>Kemudian ketauhilah, bahwa yang benar dan sesuai dengan kebiasaan para sahabat adalah diam ketika mengiringi jenazah. Tidak boleh mengeraskan suara dengan membaca Alquran atau dzikir, atau bacaan lainnya. Inilah yang benar. Dan jangan tertipu dengan banyaknya orang yang bersikap sebaliknya. (<em>Al-Adzkar</em>, karya An-Nawawi, Hal.160)</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Materi terkait:</p>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/mengubur-jenazah-dengan-peti" target="_blank" rel="nofollow">Mengubur Jenazah dengan Peti</a>.<br />
2. <a href="http://konsultasisyariah.com/memindahkan-makam" target="_blank" rel="nofollow">Memindahkan Makam</a>.<br />
3. <a href="http://konsultasisyariah.com/mengumumkan-kematian-melalui-microphone" target="_blank" rel="nofollow">Mengumumkan Kematian Ke Mikropon</a>.<br />
4. <a href="http://konsultasisyariah.com/bolehkah-mengubur-mayat-pada-malam-hari" target="_blank" rel="nofollow">Mengubur Jenazah Pada Malam Hari</a>.<br />
5. <a href="http://konsultasisyariah.com/apa-hukum-adzan-dan-talqin-kepada-mayat" target="_blank" rel="nofollow">Hukum Adzan dan Iqomah pada Talqin Jenazah</a>.<br />
6. <a rel="nofollow" href="../bolehkah-mengantar-jenazah-dengan-kendaraan" target="_blank"><strong>Mengantar Jenazah</strong> dengan Kendaraan</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/dzikir-mengatarka-jenazah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengubur Jenazah dengan Peti</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/mengubur-jenazah-dengan-peti/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/mengubur-jenazah-dengan-peti/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Dec 2011 00:00:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Jenazah]]></category>
		<category><![CDATA[Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9017</guid>
		<description><![CDATA[Mengubur Jenazah dengan Peti Pertanyaan: Assalamu&#8217;alaikum Bolehkan mengubur jenasah dengan menggunakan peti mati? Trimakasih jawabannya, Jazakallah Khair Dari: Muhammad Alsadr Jawaban: Wa&#8217;alaikumussalam Hukum Mengubur Jenazah dengan Peti Tidak ada perselisihan di antara para ulama tentang terlarangnya mengubur mayit di dalam ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Mengubur Jenazah dengan Peti</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Assalamu&#8217;alaikum</p>
<p>Bolehkan <strong>mengubur jenasah</strong> dengan menggunakan peti mati? Trimakasih jawabannya, Jazakallah Khair<br />
Dari: Muhammad Alsadr<br />
<span id="more-9017"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
<em>Wa&#8217;alaikumussalam</em></p>
<h3>Hukum Mengubur Jenazah dengan Peti</h3>
<p>Tidak ada perselisihan di antara para ulama tentang terlarangnya mengubur <a href="http://konsultasisyariah.com/mengumumkan-kematian-melalui-microphone" rel="nofollow" target="_blank">mayit</a> di dalam peti, jika tidak ada kebutuhan untuk melakukan hal itu. Lain halnya jika ada kebutuhan untuk <strong>mengubur jenazah</strong> di dalam peti, seperti tanahnya mudah longsor atau dikhawatirkan akan dibongkar binatang buas, sebagian ulama membolehkannya.</p>
<p>Dalam kumpulan Fatwa Lajnah Daimah dinyatakan:<br />
Tidak dikenal adanya kebiasaan mengubur mayit dengan peti di zaman Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> maupun para sahabat. Sementara prinsip hidup terbaik yang seharusnya ditempuh kaum muslimin adalah prinsip hidup mereka. Karena itu, dilarang mengubur mayit dengan peti. Baik tanahnya keras, biasa, atau mudah longsor. Jika mayit pernah berwasiat agar dia dikuburkan dengan peti maka wasiatnya tidak boleh ditunaikan. Hanya saja, ulama syafi&#8217;iyah membolehkan menggunakan peti jika tanahnya berlumpur atau mudah longsor. Jika dia berwasiat, tidak boleh dilaksanakan, kecuali dalam kondisi seperti ini. (<em>Fatawa Lajnah Daimah</em>, 2:312)</p>
<p>Ibnu Qudamah mengatakan, &#8220;Tidak ada anjuran memakamkan mayit dengan peti. Karena tidak ada riwayat dari Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, tidak pula dari para sahabat. Disamping itu, perbuatan ini termasuk meniru kebiasaan orang sombong. Sementara tanah ini cukup kering untuk menampung jenazahnya. (<em>Al-Mughni</em>, 2:379)</p>
<p>Dalam kitab <em>Al-Inshaf</em> dinyatakan:<br />
Dilarang mengubur dengan peti. Meskipun mayitnya seorang wanita. (<em>Al-Inshaf</em>, 4:340)</p>
<p>Sementara Imam Asy-Syarbini Asy-Syafii mengatakan, &#8220;Dilarang mengubur mayit dengan peti dengan sepakat ulama. Karena ini adalah perbuatan bid&#8217;ah, kecuali di tanah lembek atau berlumpur. Dalam kondisi ini tidak dilarang karena ada maslahat. Wasiat untuk mengubur dengan peti tidak boleh ditunaikan, kecuali untuk keadaan tanah tersebut. Keadaan yang sama adalah ketika jasad mayit rusak karena terbakar, sehingga jasadnya tidak bisa dibungkus kecuali dengan peti.&#8221; (<em>Mughni Al-Muhtaj</em>, 4:343)<br />
<em>Allahu a&#8217;lam</em></p>
<p>Disadur dari: <em>Fatawa Islam</em>, tanya jawab, no.34511</p>
<p><strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/mengubur-jenazah-dengan-peti/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tabur Bunga Di Kubur</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/ziarah-kubur/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/ziarah-kubur/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Oct 2011 08:33:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Konsultasi Syariah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[AKHLAK]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Jenazah]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[kuburan wali]]></category>
		<category><![CDATA[pictures]]></category>
		<category><![CDATA[tabur bunga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7848</guid>
		<description><![CDATA[Tabur bunga di kubur Pertanyaan: 1. Apa hukumnya bila kita menaburkan bunga di atas kuburan sementera kita tidak ada niat untuk syirik kepada allah melainkan hanya untuk mengharumkan kuburan tersebut dan sekitarnya. 2. Kita masuk kubur dengan memakai sandal bagaimana ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Tabur bunga di kubur</strong><strong></strong></h2>
<p>Pertanyaan:<br />
1. Apa hukumnya bila kita menaburkan bunga di atas <strong>kubur</strong>an sementera kita tidak ada niat untuk syirik kepada allah melainkan hanya untuk mengharumkan kuburan tersebut dan sekitarnya.<br />
2. Kita masuk <strong>kubur</strong> dengan memakai sandal bagaimana hukumnya,</p>
<p>Demikian pertanyaan kita terima kasih.</p>
<p><em>Hasanuddin (fispra_bappXXXXXXX@yahoo.com)</em><br />
<span id="more-7848"></span></p>
<h3>Penjelasan tabur bunga di kubur.</h3>
<p>Perbuatan ini sering dilakukan oleh para peziarah <a href="http://konsultasisyariah.com/menangis-di-kuburan" target="_blank" rel="nofollow"><u>kubur</u></a>. Kami tidak menemukan satu pun riwayat valid yang menunjukkan bahwa rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan para sahabatnya melakukan hal yang serupa ketika menziarahi suatu kubur.</p>
<p>Berdasarkan keterangan para ulama, perbuatan ini merupakan tradisi yang diambil dari orang-orang kafir, khususnya kaum Nasrani. Tradisi tebar bunga dipandang sebagai bentuk penghormatan terhadap orang yang telah wafat. Tradisi tersebut kemudian diserap dan dipraktekkan oleh sebagian kaum muslimin yang memiliki hubungan erat dengan orang-orang kafir, karena memandang perbuatan mereka merupakan salah satu bentuk kebaikan terhadap orang yang telah wafat.</p>
<p>Seorang ulama hadits Mesir, Syaikh Ahmad Syakir rahimahullah mengatakan, “Perbuatan ini digalakkan oleh kebanyakan orang, padahal hal tersebut tidak memiliki sandaran dalam agama. Hal ini dilatarbelakangi oleh sikap berlebih-lebihan dan sikap mengekor kaum Nasrani. Apa yang terjadi, khususnya di negeri Mesir merupakan contoh dari hal ini. Orang Mesir pun melakukan tradisi tebar bunga di atas pusara atau saling menghadiahkan bunga sesama mereka. Orang-orang meletakkan bunga di atas pusara kerabat atau kolega mereka sebagai bentuk penghormatan kepada mereka yang telah wafat.” Beliau melanjutkan, “Oleh karena itu, apabila para tokoh muslim mengunjungi sebagian negeri Eropa, anda dapat menyaksikan mereka menziarahi pekuburan para tokoh di negeri tersebut atau ke pekuburan para pejuang tanpa nama kemudian melakukan tradisi tebar bunga, sebagian lagi meletakkan bunga imitasi karena mengekor Inggris dan mengikuti tuntunan hidup kaum terdahulu.” Lalu di akhir perkataan, beliau menyatakan, “Semua ini adalah perbuatan bid’ah dan kemungkaran yang tidak berasal dari agama Islam, tidak pula memiliki sandaran dari Al quran dan sunnah nabi. Dan kewajiban para ulama adalah mengingkari dan melarang segala tradisi ini sesuai kemampuan mereka.” (Ta’liq Ahmad Syakir terhadap Sunan At Tirmidzi 1/103, dinukil dari <em>Ahkaamul Janaaizhal</em>. 254).</p>
<p>Oleh karena itu, tradisi yang banyak dilakukan oleh kaum muslimin ini  tercakup dalam larangan nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> agar tidak mengekor kebudayaan khas kaum kafir sebagaimana yang termaktub dalam sabda Beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p class="arab">ومن تشبه بقوم فهو منهم</p>
<p><em>“Barangsiapa menyerupai suatu kaum ,maka ia termasuk golongan mereka.”</em> (HR. Ahmad nomor 5114, 5115 dan 5667; Sa’id bin Manshur dalam Sunannya nomor 2370; Ibnu Abi Syaibah dalam <em>Mushannaf</em>-nya: 19401, 19437 dan 33010. Al ‘Allamah Al Albani menghasankan hadits ini dalam <em>Al Irwa’</em> 5/109).</p>
<p>Ibnu ‘Abdil Barr Al Maliki rahimahullah mengatakan, “(Maksudnya orang yang menyerupai suatu kaum) akan dikumpulkan bersama mereka di hari kiamat kelak. Dan bentuk penyerupaan bisa dengan meniru perbuatan yang dilakukan oleh kaum tersebut atau dengan meniru rupa mereka.” (<em>At Tamhid lima fil Muwaththa minal Ma’ani wal Asaanid</em> 6/80).</p>
<p>Sebagian kaum muslimin menganalogikan tradisi tabur bunga ini dengan perbuatan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang menancapkan pelepah kurma basah pada dua buah kubur sebagaimana yang terdapat dalam hadits ‘Abdullah bin ‘Abbas <em>radliallahu ‘anhuma.</em> (H.r. Bukhari: 8 dan Muslim: 111). Mereka beranggapan bahwa pelepah kurma atau bunga yang diletakkan di atas pusara akan meringankan adzab penghuninya, karena pelepah kurma atau bunga tersebut akan bertasbih kepada Allah selama dalam keadaan basah.</p>
<p><strong>Anggapan mereka tersebut tertolak dengan beberapa alasan sebagai berikut:</strong></p>
<p><strong>Alasan pertama,</strong> keringanan adzab kubur yang dialami kedua penghuni kubur tersebut adalah disebabkan doa dan syafa’at Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> kepada mereka, bukan pelepah kurma tersebut. Hal ini dapat diketahui jika kita melihat riwayat Jabir bin ‘Abdillah radliallahu ‘anhu. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">إني مررت بقبرين يعذبان فأحببت بشفاعتي أن يرفه عنهما ما دام الغصنان رطبين</p>
<p><em>“Saya melewati dua buah kubur yang penghuninya tengah diadzab. Saya berharap adzab keduanya dapat diringankan dengan syafa’atku selama kedua belahan pelepah tersebut masih basah.”</em> (H.r. Muslim: 3012).</p>
<p>Hadits Jabir di atas menerangkan bahwa yang meringankan adzab kedua penghuni kubur tersebut adalah doa dan syafa’at nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> , bukan pelepah kurma yang basah.</p>
<p><strong>Alasan kedua,</strong> anggapan bahwa pelepah kurma atau bunga akan bertasbih kepada Allah selama dalam keadaan basah sehingga mampu meringankan adzab penghuni kubur bertentangan dengan firman Allah <em>Ta’ala</em>,</p>
<p class="arab">تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالأرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَكِنْ لا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا (٤٤)</p>
<p><em>“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” </em>(Q.s. Al Israa: 44).</p>
<p>Makhluk hidup senantiasa bertasbih kepada Allah, begitupula pelepah kurma. Tidak terdapat bukti yang menunjukkan bahwa pelepah kurma atau bunga akan berhenti bertasbih jika dalam keadaan kering.</p>
<p><strong>Alasan ketiga,</strong> perbuatan nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tersebut bersifat kasuistik (<em>waqi’ah al-’ain</em>) dan termasuk kekhususan beliau sehingga tidak bisa dianalogikan atau ditiru. Hal ini dikarenakan beliau tidak melakukan hal yang serupa pada kubur-kubur yang lain. Begitu pula para sahabat tidak pernah melakukannya, kecuali sahabat Buraidah yang berwasiat agar pelepah kurma diletakkan di dalam kuburnya bersama dengan jasadnya. Namun, perbuatan beliau ini hanya didasari oleh ijtihad beliau semata.<br />
Ibnu Hajar <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p>“Perbuatan Buraidah tersebut seakan-akan menunjukkan bahwa beliau menerapkan hadits tersebut berdasarkan keumumannya dan tidak beranggapan bahwa hal tersebut hanya dikhususkan bagi kedua penghuni kubur tersebut. Ibnu Rusyaid berkata, “Apa yang dilakukan oleh Al Bukhari menunjukkan bahwa hal tersebut hanya khusus bagi kedua penghuni kubur tersebut, oleh karena itu Al Bukhari mengomentari perbuatan Buraidah tersebut dengan membawakan perkataan Ibnu ‘Umar, Sesungguhnya seorang (di alam kubur) hanya akan dinaungi oleh hasil amalnya (di dunia dan bukan pelepah kurma yang diletakkan di kuburnya).” (<em>Fathul Baari </em>3/223).</p>
<p>Selain itu, pelepah kurma tersebut ditaruh bersama dengan jasad beliau, bukan diletakkan di atas pusara beliau.</p>
<p><strong>Alasan keempat,</strong> alasan lain yang membatalkan analogi mereka dan menguatkan bahwa perbuatan Nabi tersebut merupakan kekhususan beliau adalah pengetahuan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bahwa kedua penghuni kubur tersebut tengah diadzab. Hal ini merupakan perkara gaib yang hanya diketahui oleh Allah ta’ala dan para rasul yang diberi keistimewaan oleh-Nya sehingga mampu mengetahui beberapa perkara gaib dengan wahyu yang diturunkan kepadanya. Allah berfirman,</p>
<p class="arab">عَالِمُ الْغَيْبِ فَلا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا (٢٦)إِلا مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا (٢٧)</p>
<p><em>“(Dia adalah Rabb) yang mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya.”</em> (Q.s. Al Jinn: 26-27).</p>
<p>Kalangan yang menganalogikan tradisi tebar bunga dengan perbuatan nabi tersebut telah mengklaim bahwa mereka mengetahui perkara gaib. Mereka mengklaim mengetahui bahwa penghuni kubur sedang diadzab sehingga pusaranya perlu untuk ditaburi bunga. Sungguh ini klaim tanpa bukti, tidak dilandasi ilmu dan termasuk menerka-nerka perkara gaib yang dilarang oleh agama.</p>
<p><strong>Alasan kelima,</strong> hal ini mengandung sindiran dan celaan kepada penghuni kubur, karena jika alasan mereka demikian, hal tersebut merupakan salah satu bentuk berburuk sangka  (su’uzh zhan) kepada penghuni kubur karena menganggapnya sebagai pelaku maksiat yang tengah diadzab oleh Allah di dalam kuburnya sebagai balasan atas perbuatannya di dunia. (Rangkuman faidah ini kami ambil dari <em>Ahkaamul Janaa-iz, Taisirul ‘Allam</em> dan uraian dari ustadzuna tercinta, Abu Umamah <em>hafizhahullah ta’al</em>a saat mengkaji kitab <em>‘Umdatul Ahkam</em>).</p>
<p>Berdasarkan keterangan di atas, kita dapat mengetahui bahwa tradisi ini selayaknya ditinggalkan dan tidak perlu dilakukan ketika berziarah kubur karena tercakup dalam larangan nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita juga mengetahui bahwa tidak terdapat riwayat valid yang menyatakan bahwa para sahabat dan generasi salaf melakukan tradisi tebar bunga di atas pusara. Hal ini menunjukkan bahwa perbuatan tersebut tidak dituntunkan oleh syari’at kita.</p>
<p>Oleh karena itu, kita patut merenungkan pernyataan As Subki, bahwa segala perbuatan yang tidak pernah diperintahkan dan dilakukan nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya merupakan indikasi bahwa amalan tersebut tidak disyari’atkan. Dalam pernyataan beliau tersebut terkandung kaidah dasar dalam pensyari’atan sebuah amalan.</p>
<p><strong>Referensi:</strong> <em>ikhwanmuslim dot com</em> <strong>(Dipublikasikan ulang oleh <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com" rel="nofollow">Konsultasi Syariah</a>)</strong></p>
<p><strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Pembahahasan tambahan tentang tabur bunga di kubur:<br />
1. <a href="http://konsultasisyariah.com/bolehkah-memakai-alas-kaki-di-kuburan" target="_blank" rel="nofollow">Bolehkah memakai alas kaki di kuburan.</a></p>
<p>2. <a href="http://konsultasisyariah.com/bolehkah-wanita-haid-pergi-ziarah-kubur" target="_blank" rel="nofollow">Wanita haid berziarah kubur.</a></p>
<p>3. <a href="http://konsultasisyariah.com/gambaran-adzab-kubur" target="_blank" rel="nofollow">Gambaran azab kubur.</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/ziarah-kubur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Akikah untuk Janin Keguguran</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/aqiqah/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/aqiqah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Jul 2011 01:59:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jenazah]]></category>
		<category><![CDATA[Makanan]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[adzan bayi]]></category>
		<category><![CDATA[akikah]]></category>
		<category><![CDATA[aqiqah anak yang sudah meninggal]]></category>
		<category><![CDATA[aqiqah bagi yang keguguran]]></category>
		<category><![CDATA[fidyah bagi wanita keguguran 5 bulan pada awal bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[janin keguguran dalam al quran]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=5836</guid>
		<description><![CDATA[Akikah untuk Janin Keguguran Hal-hal apa saja yang dilakukan terhadap janin yang meninggal usia 5 bulan? Apa perlu diakikahi dan dinamai? Arizal (ary01**@yahoo.com) Akikah untuk Janin Keguguran Bismillah. Ulama berselisih pendapat tentang hukum akikah untuk bayi keguguran, apakah disyariatkan ataukah ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Akikah untuk Janin Keguguran</h2>
<p>Hal-hal apa saja yang dilakukan terhadap janin yang meninggal usia 5 bulan? Apa perlu diakikahi dan dinamai?</p>
<p><em>Arizal (ary01**@yahoo.com)</em><br />
<span id="more-5836"></span></p>
<h3>Akikah untuk Janin Keguguran</h3>
<p><em>Bismillah</em>.</p>
<p>Ulama berselisih pendapat tentang hukum akikah untuk bayi keguguran, apakah disyariatkan ataukah tidak. Pendapat yang lebih mendekati kebenaran adalah disyariatkannya memberikan akikah untuk janin keguguran, jika usia janin telah mencapai empat bulan karena ruh ditiupkan ketika janin telah genap berusia empat bulan.</p>
<p><em>Faqihuz Zaman</em>, Syekh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin <em>rahimahullah</em> mengatakan, &#8220;Janin yang (meninggal dengan sebab) keguguran sebelum berusia empat bulan tidak perlu diakikahi, tidak diberi nama, &#8230; sedangkan janin yang (meninggal dengan sebab) keguguran setelah empat bulan &#8211;berarti telah ditiupkan ruh&#8211; maka dia dimandikan, diberi nama, &#8230; dan diberi akikah, menurut pendapat yang kami anggap lebih kuat. Hanya saja, sebagian ulama mengatakan, &#8216;Tidak ada akikah untuk bayi, kecuali jika dia hidup sampai hari ketujuh setelah dilahirkan.&#8217; Namun, yang benar, janin ini diberi akikah karena dia akan dibangkitkan pada hari kiamat, sehingga bisa menjadi penolong bagi orang tuanya.&#8221; (<em>Liqa&#8217;at Bab Maftuh</em>, no. 653)</p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).</strong><br />
<strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" rel="nofollow" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/aqiqah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengumumkan Kematian Melalui Microphone</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/mengumumkan-kematian-melalui-microphone/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/mengumumkan-kematian-melalui-microphone/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Mar 2011 02:46:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amir</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Jenazah]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[hukum sahur mengumumkan]]></category>
		<category><![CDATA[kb]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[masjid]]></category>
		<category><![CDATA[mengumumkan kematian na'yu]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[sholat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=3837</guid>
		<description><![CDATA[هل يجوز النعي بمكبرات الصوت Bolehkan Mengumumkan Kematian dengan Pengeras Suara? السؤال:عندنا في الغرب الجزائري يعلن عن موت أحدنا من خلال تعليق مكبر الصوت على سيارة والتجوال ما بين طرق المنطقة،معلنين عن الشخص الذي توفاه الله ومكان الاجتماع للصلاة عليه ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="arab" style="text-align: right;">هل يجوز النعي بمكبرات الصوت</p>
<p>Bolehkan Mengumumkan Kematian dengan Pengeras Suara?</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">السؤال:عندنا في الغرب الجزائري يعلن عن موت أحدنا من خلال تعليق مكبر الصوت على سيارة والتجوال ما بين طرق المنطقة،معلنين عن الشخص الذي توفاه الله ومكان الاجتماع للصلاة عليه ومكان دفنه وحسب،فهل هذا يدخل في النعي المنهي عنه علما أنه لا تذكر محاسنه عند الإعلان؟</p>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>“Kami di sisi barat Aljazair memiliki kebiasaan mengumumkan kematian dengan menggunakan pengeras suara yang diletakkan di mobil lalu mobil berputar-putar di berbagai jalan di daerah kami sambil mengumumkan nama orang yang meninggal dunia, tempat pelaksanaan shalat jenazah untuk orang tersebut dan tempat pemakamannya. Itu saja yang diumumkan. Apakah perbuatan ini termasuk mengumumkan kematian yang terlarang? Perlu diketahui bahwa pada saat itu tidak ada pujian-pujian untuk mayit”</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">الجواب: النعي هو الإخبار بموت شخص، وقد ثبت عن حذيفة بن اليمان رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم نهى عن النعي» رواه أحمد (23270)، والترمذي (986) وحسّنه، ووافقه الألباني</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><span id="more-3837"></span></p>
<p><strong>Jawaban Syaikh Abu Said al Jazairi:</strong></p>
<p>“An Na’yu adalah mengumumkan kematian seseorang. Terdapat hadits sahih dari Hudzaifah bin al Yaman bahwa Nabi melarang anna’yu. HR Ahmad dan Tirmidzi, dinilai hasan oleh Tirmidzi dan al Albani.</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">وما يفعله أهل بلدك هو موجود في كثير من البلاد، وهُو النّعي الذي يكون على رؤوس المنابر وفي الأسواق والتجمّعات، كما كان يفعل أهل الجاهلية</p>
<p>Perbuatan penduduk negerimu itu ada di banyak daerah. Itulah mengumumkan kematian di menara masjid, di tengah-tengah pasar dan perkumpulan banyak orang. Ini sama persis dengan kelakuan orang-orang jahiliah.</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">أما النعيُ من أجل مقصد شرعي ليسمع أصحابه وأقرباؤه وكل من سيأتي للصلاة وحضور جنازته فهو أمر جائز، وهذا لا يُتوسّع فيه</p>
<p>Sedangkan mengumumkan kematian dengan tujuan yang dilegalkan oleh syariat semisal memberitahukan berita kematian kepada kawan dan kerabat mayit serta semua orang yang akan mendatangi rumah duka untuk melakukan shalat jenazah dan menghadiri jenazahnya itu dibolehkan. Pengumuman kematian semacam ini seharusnya bersifat terbatas.</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">وثبت في صحيح البخاري (1328) وصحيح مسلم (951) أن النبي صلى الله عليه وسلم نعي للناس النجاشي في اليوم الذي مات فيه فخرج بهم إلى المصلى، وكبّر أربع تكبيرات</p>
<p>Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumumkan kepada para sahabat kematian Najasyi pada hari kematian. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama para sahabat melakukan shalat jenazah di tanah lapang. Ketika itu beliau bertakbir sebanyak empat kali.</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">قال النووي رحمه الله تعالى: فيه استحباب الإعلام بالميت لا على صورة نعي الجاهلية، بل مجرّد إعلام للصلاة عليه وتشييعه وقضاء حقّه في ذلك، والذي جاء من النهي عن النعي ليس المراد به هذا، وإنما المراد نعي الجاهلية المشتمل على ذِكر لمفاخر وغيرها»  اهـ</p>
<p>An Nawawi mengomentari hadits di atas dengan mengatakan, “Hadits di atas adalah dalil dibolehkannya mengumumkan kematian asalkan tidak menyerupai orang-orang jahiliah dalam mengumumkan kematian. Itulah mengumumkan kematian semata-mata ajakan untuk mensholati jenazahnya, mengantarkannya ke pemakaman dan menunaikan hak mayit dengan melakukan hal-hal di atas. Sedangkan pengumuman kematian yang terlarang tidaklah pengumuman kematian sebagaimana di atas. Yang terlarang adalah mengumumkan kematian ala jahiliah. Itulah pengumuman kematian diiringi dengan memuji-muji mayit”.</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">وقال ابن العربي المالكي رحمه الله: يؤخذ من مجموع الأحاديث ثلاث حالات: الأولى: إعلام الأهل والأصحاب وأهل الصلاح، فهذا سنّة. الثانية: دعوة الحفل للمفاخرة، فهذه تكره. والثالثة: الإعلام بنوع آخر كالنياحة ونحو ذلك، فهذا يحرم» اهـ</p>
<p>Ibnul ‘Arabi al Maliki mengatakan, “Kesimpulan dari berbagai hadits mengenai hal ini adalah perlu ada tiga rincian.<br />
Pertama, menyampaikan berita kematian seseorang kepada keluarga, kawan dan orang-orang shalih. Hal ini hukumnya dianjurkan.<br />
Kedua, mengumumkan kematian kepada kumpulan orang dengan tujuan menyebut-nyebut kelebihan mayit. Hukum hal ini adalah makruh.<br />
Ketiga, pengumuman kematian jenis lain semisal dalam bentuk meratapi kematian dan semisalnya. Hukum poin ketiga ini adalah haram”.</p>
<p>Sumber: http://www.abusaid.net/index.php/fatawi-sites/258-2009-05-03-21-41-36.html<br />
Disalin dari www.ustadzaris.com<br />
Artikel <a href="www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/mengumumkan-kematian-melalui-microphone/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

