<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Konsultasi Kesehatan dan Tanya Jawab Pendidikan Islam &#187; Ibadah</title>
	<atom:link href="http://www.konsultasisyariah.com/category/ibadah-fikih/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.konsultasisyariah.com</link>
	<description>KonsultasiSyariah.com</description>
	<lastBuildDate>Thu, 23 May 2013 06:19:18 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Hukum Berdoa di Sosial Media</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/hukum-berdoa-di-sosial-media/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/hukum-berdoa-di-sosial-media/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 May 2013 02:07:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen Qolbu]]></category>
		<category><![CDATA[berdoa]]></category>
		<category><![CDATA[doa harian]]></category>
		<category><![CDATA[situs doa]]></category>
		<category><![CDATA[sosial media]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=18106</guid>
		<description><![CDATA[Berdoa di Sosial Media Pertanyaan: Assalamu&#8217;alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.. Langsung saja ustad, ana mau tanya mengenai hukum berdoa di media sosial (facebook, twitter, status BBM, display picture BBM, photo di facebook/twitter dan semisalnya) contoh ketika turun hujan, atau ketika masalah-masalah menimpa, ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Berdoa di Sosial Media</p>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Assalamu&#8217;alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..</em></p>
<p><em>Langsung saja ustad, ana mau tanya mengenai <a title="hukum berdoa di sosial media" href="http://konsultasisyariah.com/hukum-berdoa-di-sosial-media" target="_blank" rel="nofollow">hukum berdoa di media sosia</a>l (facebook, twitter, status BBM, display picture BBM, photo di facebook/twitter dan semisalnya) contoh ketika turun hujan, atau ketika masalah-masalah menimpa, atau bahkan bersyukur ketika mendapat suatu anugrah dan lain sebagainya. apakah ada batasan misal untuk pembelajaran diperbolehkan? atau batasan lainnya? karena ana melihat beberapa syaikh-syaikh (meskipun tidak serta merta menjadi pembenaran) yang berdoa di status twitter dsb. </em><br />
<span id="more-18106"></span><br />
<em>Mohon jawabannya ustad. baarakallahu fiikum.</em></p>
<p>Dari: Abu Hanin</p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa alaikumus salam Warahmatullahi Wabarakatuh..</em></p>
<p>Secara umum tidak masalah <a title="berdoa di sosial media" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow"><strong>berdoa di sosial media</strong></a> atau di tempat umum atau berdoa dengan suara yang di dengar orang lain. Dalil masalah ini cukup banyak, diantaranya doa yang dibaca Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, ketika khutbah jumat karena permintaan orang badui agar beliau memohon kepada Allah untuk segera menurunkan hujan. Termasuk doa-doa yang dibaca oleh khatib ketika khutbah jumat. Dan kita tahu, doa itu dibaca di tempat umum, di hadapan banyak masyarakat.</p>
<p>Hanya saja, untuk beberapa kasus tertentu terkait doa di sosial media, ada beberapa catatan yang perlu diperhatikan,</p>
<p><strong>Pertama,</strong> membuat status berisi doa di sosmed dalam rangka mengajarkan doa yang shahih kepada orang lain. Misalnya memposting doa yang benar ketika hendak tidur, atau bangun tidur atau dzikir pagi – petang, atau doa selama hujan, dst.</p>
<p><em>InsyaaAllah</em> kegiatan semacam ini termasuk amal sholeh. Mendakwahkan kebaikan kepada rekan-rekan di sosial media untuk melakukan amalan sunah. Karena itu, perlu kita pastikan, doa yang anda sebarkan, telah terjamin keshahihannya.</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menjanjikan bahwa orang yang memotivasi orang lain untuk berbuat baik, dia akan mendapatkan pahala seperti orang yang mengikuti ajakannya. Dalam hadis dari Abu Mas’ud Al-Anshari <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ</p>
<p><em>Siapa yang menunjukkan kebaikan, dia akan mendapatkan pahala seperti pahala pelakunya (orang yang mengikutinya).</em> (HR. Muslim 1893).</p>
<p>Alhamdulillah, kami memiliki fanpage tentang ini, dan bisa anda ikuti di: <a title="Doa Dzikir Shahih Harian" href="http://www.facebook.com/doa.dzikir.shahih.harian" target="_blank" rel="nofollow">http://www.facebook.com/doa.dzikir.shahih.harian</a></p>
<p><strong>Kedua,</strong> doa yang sifatnya pribadi</p>
<p><strong>Doa</strong> yang tidak selayaknya didengar orang lain, yang merupakan bagian dari privasi seseorang, tidak selayaknya disebarkan di sosmed. Seperti doa yang isinya penyesalan atas perbuatan maksiat dengan menyebutkan bentuk maksiat yang dilakukan. Atau doa yang isinya keluhan masalah pribadi, yang tidak selayaknya diketahui orang lain.</p>
<p>Karena kita diajarkan untuk selalu menjaga kehormatan, dan tidak membeberkan aib pribadi.</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menasehatkan,</p>
<p class="arab">كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا المُجَاهِرِينَ، وَإِنَّ مِنَ المُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلًا، ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ، فَيَقُولَ: يَا فُلاَنُ، عَمِلْتُ البَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ، وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ</p>
<p><em>Setiap umatku dimaafkan (kesalahannya) kecuali orang-orang melakukan mujaharah (terang-terangan bermaksiat), dan termasuk sikap mujaharah adalah seseorang melakukan sebuah perbuatan dosa di malam hari, kemudian pagi harinya dia membuka rahasianya dan mengatakan, ‘Wahai fulan, tadi malam aku melakukan seperti ini, seperti ini’, padahal Allah telah menutupi dosanya. Di malam hari, Allah tutupi dosanya, namun di pagi hari, dia singkap tabir Allah pada dirinya.</em> (HR. Bukhari 6069).</p>
<p>Syariat juga mengajarkan agar kita tidak menjadi hamba yang mudah mengeluh kepada orang lain. karena sikap semacam ini menunjukkan kurangnya tawakkal. Allah mencontohkan sikap para nabi, yang mereka hanya mengeluhkan masalahnya kepada Allah. Nabi Ya’kub, ketika mendapatkan ujian kesedian yang mendalam, beliau mengatakan,</p>
<p class="arab">قَالَ إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ</p>
<p><em>“Ya&#8217;qub menjawab: &#8220;Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku..”</em> (QS. Yusuf: 86)</p>
<p><em>Allahu a’lam</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a title="konsultasi agama islam dan kesehatan" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a>)</strong></p>
<blockquote><p>Artikel ini didukung oleh:</p>
<ul>
<li>Zahir Accounting. <a title="Software Akuntansi Terbaik di Indonesia" href="http://zahiraccounting.com/id/" target="_blank" rel="nofollow"><strong>Software Akuntansi Terbaik di Indonesia</strong></a>.</li>
<li>Ahliherbal.com. <strong><a href="http://ahliherbal.com" target="_blank" rel="nofollow">Agen Herbal Grosir dan Eceran</a></strong>.</li>
</ul>
<p>Anda juga dapat menjadi sponsor di video dan website dakwah di Yufid.com Network, silakan hubungi: marketing@yufid.org untuk menjadi sponsor.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/hukum-berdoa-di-sosial-media/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apakah Sholat Tahajud Harus Tidur Dulu?</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/sholat-tahajud-tanpa-tidur-dulu/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/sholat-tahajud-tanpa-tidur-dulu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 May 2013 02:07:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[cara sholat tahajud]]></category>
		<category><![CDATA[qiyamul lain]]></category>
		<category><![CDATA[sholat tahajud]]></category>
		<category><![CDATA[sholat tahajut]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=18087</guid>
		<description><![CDATA[Apakah Sholat Tahajud harus Tidur Dulu? Pertanyaan: Ass. Apakah bisa sholat tahajud tanpa harus tidur terlebih dahulu. Karna saya insomnia. Dari: Ricky Gery Jawaban: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du, Pertama, ada dua istilah umum untuk menyebut ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Apakah Sholat Tahajud harus Tidur Dulu?</strong></h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Ass. Apakah bisa sholat tahajud tanpa harus tidur terlebih dahulu. Karna saya insomnia.</em></p>
<p>Dari: Ricky Gery<br />
<span id="more-18087"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,</em></p>
<p><strong>Pertama,</strong> ada dua istilah umum untuk menyebut kegiatan ibadah di malam hari,</p>
<ul>
<li><strong>Qiyam Lail</strong></li>
<li><strong>Tahajud</strong></li>
</ul>
<p>Para ulama menegaskan, <a title="qiyam lail" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow"><strong>qiyam lail</strong></a> lebih umum dari pada <a title="tahajud" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow"><strong>tahajud</strong></a>. Karena qiyam lail mencakup semua kegiatan ibadah di malam hari, baik berupa shalat, membaca Al-Quran, belajar mengkaji ilmu agama, atau dzikir. Selama ketaatan itu dilakukan di malam hari, sehingga menyita waktu istirahatnya, bisa disebut qiyam lail. Baik dilakukan sebelum tidur maupun sesudah tidur.</p>
<p>Dalam Maraqi Al-Falah dinyatakan,</p>
<p class="arab">معنى القيام أن يكون مشتغلا معظم الليل بطاعة , وقيل : ساعة منه , يقرأ القرآن أو يسمع الحديث أو يسبح أو يصلي على النبي صلى الله عليه وسلم</p>
<p>Makna Qiyam lail adalah seseorang sibuk melakukan ketaatan pada sebagian besar waktu malam. Ada yang mengatakan, boleh beberapa saat di waktu malam. Baik membaca Al-Quran, mendengar hadis, bertasbih, atau membaca shalawat untuk Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah, 34/117).</p>
<p>Sementara tahajud hanya khusus untuk ibadah berupa sholat. Sementara ibadah lainnya, selain shalat, tidak disebut tahajud.</p>
<p><strong>Kedua,</strong> apakah harus tidur dulu?</p>
<p>Ulama berbeda pendapat tentang syarat bisa disebut <a title="sholat tahajud" href="http://carasholat.com/" target="_blank" rel="nofollow"><strong>sholat tahajud</strong></a>, apakah harus tidur dulu ataukah tidak.</p>
<p><strong>1. Tahajud harus tidur dulu</strong></p>
<p>Ini merupakan pendapat Ar-Rafi’i – ulama madzhab Syafii –. Dalam bukunya As-Syarhul Kabir, beliau menegaskan,</p>
<p class="arab">التَّهَجُّدُ يَقَعُ عَلَى الصَّلَاةِ بَعْدَ النَّوْمِ ، وَأَمَّا الصَّلَاةُ قَبْلَ النَّوْمِ ، فَلَا تُسَمَّى تَهَجُّدًا</p>
<p>“Tahajud istilah untuk shalat yang dikerjakan setelah tidur. Sedangkan shalat yang dikerjakan sebelum tidur, tidak dinamakan tahajud.”</p>
<p>Setelah menyatakan keterangan di atas, Ar-Rafi’i membawakan riwayat dari katsir bin Abbas dari sahabat Al-Hajjaj bin Amr radhiyallahu &#8216;anhu,<br />
<
<p class="arab">يَحْسَبُ أَحَدُكُمْ إذَا قَامَ مِنْ اللَّيْلِ يُصَلِّي حَتَّى يُصْبِحَ أَنَّهُ قَدْ تَهَجَّدَ ، إنَّمَا التَّهَجُّدُ أَنْ يُصَلِّيَ الصَّلَاةَ بَعْدَ رَقْدِهِ ، ثُمَّ الصَّلَاةَ بَعْدَ رَقْدِهِ ، وَتِلْكَ كَانَتْ صَلَاةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ</p>
<p>Diantara kalian menyangka ketika melakukan shalat di malam hari sampai subuh dia merasa telah tahajud. Tahajud adalah shalat yang dikerjakan setelah tidur, kemudian shalat setelah tidur. Itulah shalatnya Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Ibnu Hajar dalam Talkhis Al-Habir mengatakan,</p>
<p>Sanadnya hasan, dalam sanadnya ada perawi yang bernama Abu Shaleh, juru tulis Imam Al-Laits, dan Abu Shaleh ada kelemahan. Hadis ini juga diriwayatkan At-Thabrani, dengan sanad dari Ibnu Lahai’ah. Dan riwayat kedua ini dikuatkan dengan riwayat jalur sebelumnya.</p>
<p><strong>2. Tahajud TIDAK harus tidur dulu</strong></p>
<p><a title="sholat tahajud" href="http://konsultasisyariah.com/sholat-tahajud-tanpa-tidur-dulu" target="_blank" rel="nofollow"><strong>Sholat tahajud</strong></a> adalah semua shalat sunah yang dikerjakan setelah isya, baik sebelum tidur maupun sesudah tidur. (Hasyiyah Ad-Dasuqi, 7/313).</p>
<p>Karena tahajud memiliki arti mujanabatul hajud (menjauhi tempat tidur). Dan semua shalat malam bisa disebut tahajud jika dilakukan setelah bangun tidur atau di waktu banyak orang tidur.</p>
<p>Ini berdasarkan sabda Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam,</em></p>
<p class="arab">أفشوا السلام، وأطعموا الطعام، وصلوا الأرحام، وصلوا بالليل والناس نيام تدخلوا الجنة بسلام</p>
<p><em>Sebarkanlah salam, berilah makanan, sambung silaturahmi, dan kerjakan shalat malam ketika manusia sedang tidur, kalian akan masuk surga dengan selamat.</em> (HR. Ahmad, Ibn Majah, dan dishahihkan Syuaib Al-Arnauth)</p>
<p>Abu Bakr Ibnul ‘Arabi mengatakan,</p>
<p class="arab">في معنى التهجد ثلاثة أقوال (الأول) أنه النوم ثم الصلاة ثم النوم ثم الصلاة، (الثاني) أنه الصلاة بعد النوم، (والثالث) أنه بعد صلاة العشاء. ثم قال عن الأول: إنه من فهم التابعين الذين عولوا على أن النبي صلى الله عليه وسلم كان ينام ويصلي، وينام ويصلي . والأرجح عند المالكية الرأي الثاني</p>
<p>Tentang makna tahajud ada 3 pendapat: pertama, tidur kemudian shalat lalu tidur lagi, kemudian shalat. Kedua, shalat setelah tidur. Ketiga, tahajud adalah shalat setelah isya. Beliau berkomentar tentang yang pertama, bahwa itu adalah pemahaman ulama tabi’in, yang menyandarkan pada ketarangan bahwa Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam tidur kemudian shalat, kemudian tidur, lalu shalat. Sedangkan pendapat paling kuat menurut Malikiyah adalah pendapat kedua. (Dinukil dari Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah, 14/86)</p>
<p><strong>Catatan:</strong></p>
<p>Bagi anda yang dikhawatirkan tidak mampu bangun sebelum subuh untuk tahajud, dianjurkan untuk shalat sebelum tidur. Sekalipun tidak disebut tahajud oleh sebagian ulama, namun dia tetap terhitung melakukan qiyam lail, yang pahalanya besar.</p>
<p>Semoga Allah memberikan kekuatan kepada kita untuk bisa istiqamah dalam melakukan ketaatan.</p>
<p>Amiin.</p>
<p><strong>Dijawab oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a title="konsultasi agama islam dan kesehatan" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a>)</strong></p>
<blockquote><p>Artikel ini didukung oleh:</p>
<ul>
<li>Zahir Accounting. <a title="Software Akuntansi Terbaik di Indonesia" href="http://zahiraccounting.com/id/" target="_blank" rel="nofollow"><strong>Software Akuntansi Terbaik di Indonesia</strong></a>.</li>
<li>Ahliherbal.com. <strong><a href="http://ahliherbal.com" target="_blank" rel="nofollow">Agen Herbal Grosir dan Eceran</a></strong>.</li>
</ul>
<p>Anda juga dapat menjadi sponsor di video dan website dakwah di Yufid.com Network, silakan hubungi: marketing@yufid.org untuk menjadi sponsor.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/sholat-tahajud-tanpa-tidur-dulu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Doa Setelah Membaca Alquran</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/doa-setelah-membaca-alquran/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/doa-setelah-membaca-alquran/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 May 2013 05:45:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[AL-QURAN]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[doa membaca alquran]]></category>
		<category><![CDATA[khatam quran]]></category>
		<category><![CDATA[membaca alquran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=18022</guid>
		<description><![CDATA[Doa Setelah Membaca Alquran Pertanyaan: Doa apakah yang paling sunnah selepas selesai membaca alquran..adakahmembaca sodoqallah al azim adalah perkara yang sunnah? Dari. Mr. N Jawaban: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du, Kami tidak menjumpai ada doa khusus ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Doa Setelah Membaca Alquran</strong></p>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Doa apakah yang paling sunnah selepas selesai membaca alquran..adakahmembaca sodoqallah al azim adalah perkara yang sunnah?</em></p>
<p>Dari. Mr. N<br />
<span id="more-18022"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,</em></p>
<p>Kami tidak menjumpai ada doa khusus seusai membaca Alquran. Bahkan terdapat dalil yang secara tekstual menunjukkan tidak ada doa setelah membaca Al-Quran. Hadis tersebut adalah hadis dari Ibnu Mas’ud <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em>. Beliau menceritakan,</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menyuruhku: <em>“Bacakan Al-Quran untuk aku dengar.”</em></p>
<p>“Ya Rasulullah, apakah aku boleh membaca Al-Quran di hadapan Anda, padahal Al-Quran itu diturunkan kepada Anda?” tanyaku.</p>
<p><em>“Ya, tidak masalah.”</em></p>
<p>Akupun membaca surat An-Nisa. Ketika sampai pada ayat,</p>
<p class="arab">فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ، وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلاَءِ شَهِيدًا</p>
<p><em>Bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (Rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu).</em> (QS. An-Nisa: 41)</p>
<p>Seketika sampai di ayat ini, Rasulullah<em> shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mengatakan, “Cukup..cukup.”</p>
<p>Saya melihat beliau, ternyata beliau berlinangan air mata. (HR. Bukhari 5050 dan Muslim 800)</p>
<p>Anda bisa perhatikan, ketika Ibnu Mas’ud mengakhiri bacaan Al-Qurannya, beliau tidak membaca kalimat apapun, atau doa apapun, atau dzikir apapun. Beliau tidak membaca <strong><em>shadaqallahul ‘adziim</em></strong>, atau alhamdulillah, dst. Sehingga dengan riwayat ini kita bisa memastikan bahwa semua bacaan itu bukan bagian dari ajaran Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.</p>
<h3><strong>Apakah Ini Terlarang?</strong></h3>
<p>Bagian ini perlu kita luruskan. Agar jangan sampai ada orang yang salah persepsi dengan penjelasan amalan yang bukan sunah.</p>
<p>Kita sepakat, <strong>shadaqallahul ‘adzim</strong> adalah kalimat yang benar maknanya. Karena Allah adalah Al-Haq, Dzat Yang Maha Benar. Namun syariat juga mengajarkan agar kalimat yang benar, diposisikan di tempat yang benar, agar menghasilkan amalan yang benar. Karena itu, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam mengajarkan berbagai doa untuk berbagai kesempatan yang berbeda. Beliau mengajarkan doa makan, memakai pakaian, masuk toilet, keluar toilet, hendak tidur, bangun tidur, keluar rumah, masuk rumah, setelah bersin, dst. Dan lafalnya berbeda-beda.</p>
<p>Tentu saja kita tidak akan membaca doa ini di posisi yang tidak diajarkan. Kita tidak akan membaca doa memakai pakaian ketika mau makan, atau membaca doa makan ketika hendak masuk toilet, atau membaca doa keluar rumah ketika masuk rumah, dst. Meskipun semua makna doa itu baik. Karena sekali lagi, kalimat doa semua maknanya baik, dan harus ditempatkan pada posisi yang benar.</p>
<p>Salah satu contoh yang menunjukkan prinsip ini adalah sikap Ibnu Umar radhiyallahu &#8216;anhu,</p>
<p class="arab">عَنْ نَافِعٍ أَنَّ رَجُلاً عَطَسَ إِلَى جَنْبِ ابْنِ عُمَرَ فَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ. قَالَ ابْنُ عُمَرَ وَأَنَا أَقُولُ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ وَلَيْسَ هَكَذَا عَلَّمَنَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَلَّمَنَا أَنْ نَقُولَ الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ.</p>
<p>Dari Nafi, ada seorang yang bersin di dekat Ibnu Umar lalu dia berucap, “<em>Alhamdulillah wassalam ‘ala rasulillah</em>”. Mendengar ucapan orang tersebut, Ibnu Umar mengatakan, “Saya juga mengucapkan kalimat Alhamdulillah was salam ‘ala rasulillah, namun tidak seperti itu yang diajarkan oleh Rasulullah kepada kami. Beliau mengajari kami untuk mengucapkan “Alhamdulillah ‘ala kulli hal” ketika bersin.” (HR Tirmidzi no 2738, dihasankan Albani).</p>
<p>Ibnu Umar tidak mengingkari kalimat “<em>Alhamdulillah wassalam ‘ala rasulillah</em>”, karena kalimat ini baik. Ibnu Umarpun mengakuinya. Namun yang menjadi masalah, ketika kalimat ini dibaca seusai bersin, itu menjadi tidak tepat. Karena Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam tidak pernah mengajarkan untuk membaca kalimat ini ketika bersin.</p>
<p>Jawaban Ibnu Umar juga berlaku untuk kasus bacaan shadaqallahul ‘adzim. Kalimat ini benar, namun Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dan para sahabat tidak pernah mengajarkannya untuk dibaca seusai membaca Al-Quran.</p>
<h3><strong>Membaca shadaqallah Pada Kesempatan yang Benar</strong></h3>
<p>Ini berbeda ketika kita mengucapkan shadaqallah ‘Maha Benar Allah’ karena suasana hati untuk membenarkan apa yang Allah sampaikan. Meskipun kita tidak sedang membaca Al-Quran. Kalimat ini kita baca ketika kita melihat sebuah realita di hadapan kita yang sesuai dengan keterangan dalam Al-Quran. Semacam inilah salah satu kesempatan, di mana dzikir shadaqallah layak untuk kita ucapkan. Sebagai representasi pengakuan hati kita akan kebenaran firman Allah.</p>
<p>Hal ini pernah dicontohkan Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Dalam hadis dari Abu Said Al-Khudri radhiyallahu &#8216;anhu, beliau menceritakan,</p>
<p>Ada seorang yang datang kepada Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, dan mengadukan keadaan saudaranya,</p>
<p>“Saudaraku sakit perut.” Ucap sahabat.</p>
<p>“Beri minum madu.” Saran Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Setelah pulang dan memberinya madu, ternyata sakitnya belum kunjung sembuh. Orang inipun datang lagi dengan keluhan yang sama. Dan Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> tetap menyarankan, “Beri minum madu.” Sampai akhirnya yang keempat, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> tetap meyakinkan orang ini melalui sabdanya,</p>
<p class="arab">«صَدَقَ اللَّهُ، وَكَذَبَ بَطْنُ أَخِيكَ، اسْقِهِ عَسَلًا» فَسَقَاهُ فَبَرَأَ</p>
<p>“Allah Maha Benar, dan perut saudaramu yang dusta. Beri minum madu.”</p>
<p>Orang inipun memberinya madu untuk kesekian kalinya, kemudian sembuh. (HR. Bukhari 5684 dan Muslim 2217)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mengucapkan kalimat itu padahal beliau tidak sedang membaca Al-Quran. Beliau sampaikan itu karena suasana hati beliau untuk membenarkan firman Allah tentang khasiat madu,</p>
<p class="arab">يَخْرُجُ مِنْ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ</p>
<p><em>Dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.</em> (QS. An-Nahl: 69).</p>
<p>Kejadian yang lain, dalam hadis dari Buraidah bin Hashib radhiyallahu &#8216;anhu, ketika Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> sedang berkhutbah di atas mimbar, tiba-tiba datangan dua cucu beliau yang lucu: Al-Hasan dan Al-Husain, putra Ali bin Abi Thalib radhiyallahu &#8216;anhum. Hasan &amp; Husain kecil dengan lucunya mengenakan gamis warna merah, keduanya berjalan tertatih-tatih memakai bajunya yang menawan. Melihat dua cucunya, beliaupun turun dari mimbarnya dan memotong khutbahnya, lalu beliau menggendong keduanya dan kembali ke mimbar, kemudian mengatakan:</p>
<p>صَدَقَ اللَّهُ: {إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ}، رَأَيْتُ هَذَيْنِ يَعْثُرَانِ فِي قَمِيصَيْهِمَا، فَلَمْ أَصْبِرْ حَتَّى قَطَعْتُ كَلَامِي فَحَمَلْتُهُمَا</p>
<p><em>“Maha benar Alloh dalam firman-Nya: ‘Sungguh harta-harta dan anak-anak kalian itu adalah fitnah (cobaan)’, aku melihat kedua anak ini tertatih-tatih dengan bajunya, akupun tidak sabar, hingga aku memotong khutbahku, lalu aku menggendong keduanya.”</em> (HR. An-Nasai 1413, Abu Daud 1109, dan dishahihkan Al-Albani)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mengucapkan kalimat itu karena membenarkan sabda firman Allah di surat at-Taghabun ayat 15. Pada ayat itu, Allah menjelaskan bahwa harta dan anak adalah fitnah. Tak terkecuali beliau sebagai salah satu hamba Allah. Melihat dua cucunya yang sangat menawan hati beliau, membuat beliau harus memotong khutbahnya agar bisa menggendong cucunya.</p>
<h3><strong>Berbeda dengan Mereka</strong></h3>
<p>Kita bisa memastikan apa yang dipraktekkan oleh mereka yang terbiasa mengucapkan shadaqallahul adzim jelas berbeda dengan praktek Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam ketika mengucapkan kalimat ini.</p>
<p>Mereka mengucapkan <em>shadaqallahul adzim</em> setiap kesempatan selesai membaca Al-quran, sementara Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> tidak mempraktekkan hal ini.</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menyatakan shadaqallah ketika melihat kejadian sesuai dengan yang Allah firmankan. Sedangkan mereka, jangankan membaca shadaqallah, makna ayatnya saja, mereka tidak paham.</p>
<p>Karena itu, praktek Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam di atas, jelas tidak bisa dijadikan dalil untuk membenarkan praktek mereka yang merutinkan bacaan shadaqallahul adzim setiap usai membaca Al-Quran.</p>
<p>Doa Setelah Membaca Al-Quran</p>
<p>Keterangan di atas tidaklah melarang anda untuk berdoa setelah membaca Al-Quran. Keterangan di atas menjelaskan bahwa tidak ada doa atau bacaan khusus seusai membaca Al-Quran. Namun Anda boleh berdoa dengan permohonan apapun yang baik seusai membaca Al-Quran, terutama setelah mengkhatamkan Al-Quran. Sebagaimana yang pernah dikupas dalam artikel <a title="doa khatam quran" href="http://www.konsultasisyariah.com/doa-khatam-quran/" target="_blank"><strong>Doa Khatam Quran</strong></a>. Karena membaca Al-Quran termasuk amal shaleh, dan salah satu doa yang mustajab adalah doa yang kita panjatkan setelah melakukan amal shaleh. Di saat itu kita sedang dekat dengan Allah. Di saat itu, kita bisa memanfaatkan kesempatan untuk memohon sesuatu kepada Allah.</p>
<p><em>Allahu a’lam</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a title="konsultasi agama islam dan kesehatan" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a>)</strong></p>
<blockquote><p>Artikel ini didukung oleh:</p>
<ul>
<li>Zahir Accounting. <a title="Software Akuntansi Terbaik di Indonesia" href="http://zahiraccounting.com/id/" target="_blank" rel="nofollow"><strong>Software Akuntansi Terbaik di Indonesia</strong></a>.</li>
<li>Ahliherbal.com. <strong><a href="http://ahliherbal.com" target="_blank" rel="nofollow">Agen Herbal Grosir dan Eceran</a></strong>.</li>
</ul>
<p>Anda juga dapat menjadi sponsor di video dan website dakwah di Yufid.com Network, silakan hubungi: marketing@yufid.org untuk menjadi sponsor.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/doa-setelah-membaca-alquran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengapa Puasa Rajab?</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/mengapa-puasa-rajab/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/mengapa-puasa-rajab/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 May 2013 21:43:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[bulan haram]]></category>
		<category><![CDATA[bulan rajab]]></category>
		<category><![CDATA[puasa rajab]]></category>
		<category><![CDATA[sya'ban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=17969</guid>
		<description><![CDATA[Puasa Rajab Telah menjadi tradisi, begitu masuk bulan rajab, keyword puasa rajab menjadi naik pesat. Google trends pekan inipun melaporkan, kata kunci puasa rajab naik tajam. Setidaknya ini bukti bagaimana perhatian kaum muslimin terhadap fadilah puasa rajab, meskipun kasus ini ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Puasa Rajab</strong></h2>
<p>Telah menjadi tradisi, begitu <strong>masuk bulan rajab</strong>, keyword puasa rajab menjadi naik pesat. Google trends pekan inipun melaporkan, kata kunci puasa rajab naik tajam. Setidaknya ini bukti bagaimana perhatian kaum muslimin terhadap fadilah puasa rajab, meskipun kasus ini tidak kita jumpai untuk bulan-bulan lainnya.<br />
<span id="more-17969"></span><br />
Pertanyaan besar yang layak kita renungkan, mengapa hanya puasa rajab yang paling banyak dicari? Mengapa pencarian ini tidak gencar untuk <a title="puasa sya'ban" href="www.konsultasisyariah.com/adakah-amalan-nisfu-syaban-dalam-islam/" target="_blank"><strong>puasa Sya’ban</strong></a>, Dzulqa’dah, <a title="muharam" href="http://www.konsultasisyariah.com/amalan-di-bulan-muharram/" target="_blank"><strong>Muharam</strong></a>, atau 9 hari pertama Dzulhijjah?</p>
<p>Tentu saja jawabannya adalah masalah motivasi (fadilah) puasa rajab. Mereka perhatian dengan puasa rajab, karena diyakini puasa ini memiliki fadilah yang amat besar. Semangat untuk mendapatkan fadilah ini yang mendorong orang secara semarak melakukan puasa rajab.</p>
<p>Ini berbeda dengan bulan-bulan selain rajab dan ramadhan. Pencarian orang tentang puasa Sya’ban, Dzulqa’dah, Muharam, atau Dzulhijjah tidak begitu gempar. Bisa jadi karena mereka beranggapan puasa di bulan-bulan tidak memiliki fadilah yang besar.</p>
<h3><strong>Alasan Utama Puasa Rajab</strong></h3>
<p>Setelah membaca situs besar yang paling getol memotivasi <a title="puasa rajab" href="http://www.konsultasisyariah.com/adakah-puasa-bulan-rajab/" target="_blank"><strong>puasa rajab</strong></a>, alasan pokok untuk membela pendapat mereka adalah hadis tentang anjuran puasa di bulan haram. Sebelumnya perlu kita pahami, bulan haram ada 4: Dzul Qa’dah, Dzulhijah, Muharam, dan Rajab.</p>
<p>Kembali pada hadis anjuran puasa bulan haram. Hadis yang diisyaratkan tersebut adalah hadis dari Mujibah Al-Bahiliyah dari bapaknya atau pamannya, Abdullah bin Harits Al-Bahily. Sahabat ini mendatangi Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, setelah bertemu dan menyatakan masuk islam, beliau kemudian pulang kampungnya. Satu tahun kemudian, dia datang lagi menemui Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>“Ya Rasulullah, apakah anda masih mengenal saya.” Tanya Kahmas,</p>
<p>“Siapa anda?” tanya Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>“Saya Al-Bahily, yang dulu pernah datang menemui anda setahun yang lalu.” Jawab sahabat</p>
<p>“Apa yang terjadi dengan anda, padahal dulu anda berbadan segar?” tanya Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>“Saya tidak pernah makan, kecuali malam hari, sejak saya berpisah dengan anda.” Jawab sahabat.</p>
<p>Menyadari semangat sahabat ini untuk berpuasa, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menasehatkan,</p>
<p class="arab">لِمَ عَذَّبْتَ نَفْسَكَ، صُمْ شَهْرَ الصَّبْرِ، وَيَوْمًا مِنْ كُلِّ شَهْرٍ</p>
<p><em>Mengapa engkau menyiksa dirimu. Puasalah di bulan sabar (ramadhan), dan puasa sehari setiap bulan.</em></p>
<p>Namun Al-Bahily selalu meminta tambahan puasa sunah,</p>
<p>“Puasalah sehari tiap bulan.” Orang ini mengatakan, “Saya masih kuat. Tambahkanlah!” “Dua hari setiap bulan.” Orang ini mengatakan, “Saya masih kuat. Tambahkanlah!” “Tiga hari setiap bulan.” Orang ini tetap meminta untuk ditambahi. Sampai akhirnya Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> memberikan kalimat pungkasan,</p>
<p class="arab">صُمْ مِنَ الحُرُمِ وَاتْرُكْ، صُمْ مِنَ الحُرُمِ وَاتْرُكْ، صُمْ مِنَ الحُرُمِ وَاتْرُكْ</p>
<p><em>“Berpuasalah di bulan haram, lalu jangan puasa (kecuali ramadhan)…, Berpuasalah di bulan haram, lalu jangan puasa…, Berpuasalah di bulan haram, lalu jangan puasa.”</em></p>
<p><strong>Status Hadis:</strong></p>
<p>Hadis ini diriwayatkan Ahmad, Abu Daud, Al-Baihaqi dan yang lainnya. Hadis ini dinilai sahih oleh sebagian ulama dan dinilai dhaif oleh ulama lainnya, sebagaimana dijelaskan dalam Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abu Daud dan As-Suyuthi dalam Syarh Sunan Ibn Majah. Salah satu diantara masalahnya adalah adanya perawi yang majhul (tidak diketahui statusnya), yang setidaknya membuat mereka meragukan keabsahan hadis ini.</p>
<p>Terlepas dari perdebatan status keshahihan hadis, jika kita perhatikan, dzahir hadis ini tidaklah menunjukkan adanya keutamaan KHUSUS untuk puasa rajab. Ada beberapa sisi untuk menjelaskan ini:</p>
<p>Dalam hadis tersebut, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam justru menyarankan puasa di bulan haram sebagai alternatif terakhir, setelah sahabat tersebut berusaha mendesak agar bisa memperbanyak puasa sunah. Namanya alternatif terakhir, tentu fadilahnya tidak lebih besar dibandingkan alternatif pertama atau kedua.</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> tidak memberikan saran yang sama untuk sahabat yang lain. Artinya bisa jadi hadis ini bersifat kasuistik (qadhiyatul ‘ain). Jika tidak, tentu Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> akan memotivasi sahabat lainnya untuk melakukan hal yang sama, berpuas di bulan haram.</p>
<p>Yang disarankan Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam adalah puasa bulan haram, bukan puasa rajab SAJA. Ketika kita bersikap adil, seharusnya kita memiliki semangat yang sama untuk bulan Dzulqa’dah, Dzulhijah, dan Muharam. Karena itulah, kami jadikan ini sebagai pertanyaan besar di awal artikel.</p>
<p>Pertanyaan ini mengundang dugaan, pasti ada keistimewaan dan fadhilah lain khusus untuk puasa rajab, yang menjadi motivasi mereka diluar anjuran Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> untuk puasa di bulan haram.</p>
<h3><strong>Tidak Ada Anjuran Khusus Puasa Rajab</strong></h3>
<p>Sekalipun situs ormas besar itu sangat getol menganjurkan puasa rajab, namun dia tidak menyebutkan dalil shahih yang secara khusus menyebutkan keutamaan puasa rajab. Mereka sadar, semua hadis yang menyinggung fadilah puasa rajab statusnya hadis lemah, yang tidak bisa menjadi dalil. Dengan demikian, tameng utama mereka untuk menganjurkan puasa rajab adalah hadis Mujibah Al-Bahiliyah yang telah kita kupas sebelumnya. Selanjutnya mereka hanya sebutkan hadis-hadis yang lemah itu di bagian paling belakang artikel, yang diharapkan bisa memotivasi orang untuk melakukan puasa khusus di bulan rajab.</p>
<p>Diantara bukti bahwa hadis yang secara khusus menganjurkan puasa rajab merupakan hadis lemah, adalah keterangan beberapa ulama hadis, diantaranya,</p>
<p>Al-Hafidz Ibnu Hajar, dalam karyanya Tabyinul Ujub bi Ma Warada fi Fadli Rajab, menjelaskan,</p>
<p class="arab">لم يرد في فضل شهر رجب ، ولا في صيامه ، ولا في صيام شيء منه معين ، ولا في قيام ليلة مخصوصة فيه حديث صحيح يصلح للحجة ، وقد سبقني إلى الجزم بذلك الإمام أبو إسماعيل الهروي الحافظ</p>
<p>“Tidak terdapat riwayat yang sahih yang layak dijadikan dalil tentang keutamaan bulan Rajab, tidak pula riwayat yang shahih tentang puasa rajab, atau puasa di tanggal tertentu bulan Rajab, atau shalat tahajud di malam tertentu bulan rajab. Keterangan saya ini telah didahului oleh keterangan Imam Al-Hafidz Abu Ismail Al-Harawi.” (Tabyinul Ujub bi Ma Warada fi Fadli Rajab, hlm. 6).</p>
<p>Keterangan yang sama juga disampaikan oleh Imam Ibnu Rajab. Dalam karyanya yang mengupas tentang amalan sepanjang tahun, yang berjudul Lathaiful Ma’arif, beliau menegaskan tidak ada shalat sunah khusus untuk bulan rajab,</p>
<p class="arab">لم يصح في شهر رجب صلاة مخصوصة تختص به و الأحاديث المروية في فضل صلاة الرغائب في أول ليلة جمعة من شهر رجب كذب و باطل لا تصح و هذه الصلاة بدعة عند جمهور العلماء</p>
<p>“Tidak terdapat dalil yang sahih tentang anjuran shalat tertentu di bulan Rajab. Adapun hadis yang menyebutkan keutamaan shalat Raghaib di malam Jumat pertama bulan Rajab adalah hadis dusta, batil, dan tidak sahih. Shalat Raghaib adalah bid’ah, menurut mayoritas ulama.” (Lathaiful Ma’arif, hlm. 213)</p>
<p>Terkait masalah puasa di bulan Rajab, Imam Ibnu Rajab juga menegaskan,</p>
<p class="arab">لم يصح في فضل صوم رجب بخصوصه شيء عن النبي صلى الله عليه و سلم و لا عن أصحابه و لكن روي عن أبي قلابة قال : في الجنة قصر لصوام رجب قال البيهقي : أبو قلابة من كبار التابعين لا يقول مثله إلا عن بلاغ و إنما ورد في صيام الأشهر الحرم كلها</p>
<p>“Tidak ada satu pun hadis sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang keutamaan puasa bulan Rajab secara khusus. Hanya terdapat riwayat dari Abu Qilabah, bahwa beliau mengatakan, ‘Di surga terdapat istana untuk orang yang rajin berpuasa di bulan Rajab.’ Namun, riwayat ini bukan hadis. Imam Al-Baihaqi mengomentari keterangan Abu Qilabah, ‘Abu Qilabah termasuk tabi’in senior. Beliau tidak menyampaikan riwayat itu, melainkan hanya kabar tanpa sanad.’ Riwayat yang ada adalah riwayat yang menyebutkan anjuran puasa di bulan haram seluruhnya” (Lathaiful Ma’arif, hlm. 213)</p>
<h3><strong>Para Sahabat Melarang Mengkhususkan Rajab untuk Puasa</strong></h3>
<p>Kebiasaan mengkhususkan puasa di bulan rajab sejatinya telah ada di zaman Umar radhiyallahu &#8216;anhu. Beberapa tabiin yang hidup di zaman Umar bahkan telah melakukannnya. Dengan demikian, kita bisa mengacu bagaimana sikap sahabat terhadap fenomena terkait kegiatan bulan rajab yang mereka jupai.</p>
<p>Berikut beberapa riwayat yang menyebutkan reaksi mereka terhadap puasa rajab. Riwayat ini kami ambil dari buku Lathaiful Ma’arif, satu buku khusus karya Ibnu Rajab, yang membahas tentang wadzifah (amalan sunah) sepanjang masa,</p>
<p class="arab">روي عن عمر رضي الله عنه : أنه كان يضرب أكف الرجال في صوم رجب حتى يضعوها في الطعام و يقول : ما رجب ؟ إن رجبا كان يعظمه أهل الجاهلية فلما كان الإسلام ترك</p>
<p>Diriwayatkan dari Umar bin Khatab radhiyallahu &#8216;anhu, bahwa beliau memukul telapak tangan beberapa orang yang melakukan puasa rajab, sampai mereka meletakkan tangannya di makanan. Umar mengatakan, “Apa rajab? Sesungguhnnya rajab adalah bulan yang dulu diagungkan masyarakat jahiliyah. Setelah islam datang, ditinggalkan.”</p>
<p>Dalam riwayat yang lain,</p>
<p class="arab">كرِهَ أن يَكونَ صِيامُه سُنَّة</p>
<p>“Beliau benci ketika puasa rajab dijadikan sunah (kebiasaan).”</p>
<p>(Lathaif Al-Ma’arif, 215).</p>
<p>Dalam riwayat yang lain, tentang sahabat Abu Bakrah radhiyallahu &#8216;anhu,</p>
<p class="arab">أنه رأى أهله قد اشتروا كيزانا للماء واستعدوا للصوم فقال : ما هذا ؟ فقالوا: رجب. فقال: أتريدون أن تشبهوه برمضان ؟ وكسر تلك الكيزان</p>
<p>Beliau melihat keluarganya telah membeli bejana untuk wadah air, yang mereka siapkan untuk puasa. Abu Bakrah bertanya: ‘Puasa apa ini?’ Mereka menjawab: ‘Puasa rajab’ Abu Bakrah menjawab, ‘Apakah kalian hendak menyamakan rajab dengan ramadhan?’ kemudian beliau memecah bejana-bejana itu. (Riwayat ini disebutkan oleh Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni 3/107, Ibn Rajab dalam Lathaif hlm. 215, Syaikhul Islam dalam Majmu’ Fatawa 25/291, dan Al-Hafidz ibn Hajar dalam Tabyi Al-Ujb hlm. 35)</p>
<p>Ibnu Rajab juga menyebutkan beberapa riwayat lain dari beberapa sahabat lainnya, seperti Ibnu Umar dan Ibnu Abbas, bahwa mereka membenci seseorang yang melakukan puasa rajab sebulan penuh.</p>
<p>Sikap mereka ini menunjukkan bahwa mereka memahami <a title="bulan rajab" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">bulan rajab</a> bukan bulan yang dianjurkan untuk dijadikan waktu berpuasa secara khusus. Karena kebiasaan itu sangat mungkin, tidak mereka alami di zaman Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.</p>
<p><em>Allahu a’lam</em></p>
<p><strong>Oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a title="konsultasi agama islam dan kesehatan" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a>)</strong></p>
<blockquote><p>Artikel ini didukung oleh:</p>
<ul>
<li>Zahir Accounting. <a title="Software Akuntansi Terbaik di Indonesia" href="http://zahiraccounting.com/id/" target="_blank" rel="nofollow"><strong>Software Akuntansi Terbaik di Indonesia</strong></a>.</li>
<li>Ahliherbal.com. <strong><a href="http://ahliherbal.com" target="_blank" rel="nofollow">Agen Herbal Grosir dan Eceran</a></strong>.</li>
</ul>
<p>Anda juga dapat menjadi sponsor di video dan website dakwah di Yufid.com Network, silakan hubungi: marketing@yufid.org untuk menjadi sponsor.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/mengapa-puasa-rajab/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Doa Ketika Marah</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/doa-ketika-marah/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/doa-ketika-marah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 May 2013 09:30:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[doa ketika marah]]></category>
		<category><![CDATA[emosi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=17964</guid>
		<description><![CDATA[Doa Ketika Marah Ada doa ketika marah sangat ringkas, yang diajarkan Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Beliau menjamin, orang yang membaca doa ini, marahnya akan segera reda. Pertanyaan: Assalamkm Kabar baik ustad? Semoga senantiasa dlm penjagaan Sang Kuasa Klo ada ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Doa Ketika Marah</strong></h2>
<p>Ada doa ketika marah sangat ringkas, yang diajarkan Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Beliau menjamin, orang yang membaca doa ini, marahnya akan segera reda.</p>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Assalamkm</em></p>
<p><em>Kabar baik ustad? Semoga senantiasa dlm penjagaan Sang Kuasa</em></p>
<p><em>Klo ada org yang sering marah, doanya apa tadz..? maksud ane, doa ketika marah dan doa biar gak gampang marah.</em></p>
<p><em>Tolong dijelaskan ya, makasih..</em><br />
<span id="more-17964"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa alaikumus salam</em></p>
<p><em>Alhamdulillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,</em></p>
<p><a title="Marah merupakan tabiat manusia" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">Marah merupakan tabiat manusia</a>. Karena itu, islam tidak melarang manusia untuk marah. Bahkan dalam islam, ada marah yang nilainya ibadah. Itulah marah karena Allah. Marah karena membela syariat Allah. Seperti yang dilakukan Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.</p>
<p>Allah Memuji Orang Yang Bisa Menahan Marah</p>
<p>Di surat Ali Imran, Allah menyebutkan beberapa kriteria orang yang bertaqwa. Diantara yang Allah sebutkan adalah</p>
<p class="arab">وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ</p>
<p><em>“…dan orang-orang yang menahan amarah dan suka memaafkan orang lain.”</em> (QS. Ali Imran: 134)</p>
<p>Kita memahami bahwa sifat baik yang ada pada diri orang yang bertaqwa sangatlah banyak. Namun sifat baik yang Allah puji dalam ayat ini salah satunya adalah menahan amarah. Ini menunjukkan bahwa sifat ini memilliki nilai istimewa di sisi Allah.</p>
<p>Karena menahan amarah membutuhkan usaha yang sangat kuat, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menyebut orang yang mampu menahan amarah sebagai orang kuat. Dari Abu Hurairah radhiyallahu &#8216;anhu, Rasulullah s<em>hallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">ليسَ الشديدُ بالصّرعَةِ، إنما الشديدُ الذي يملكُ نفسهُ عند الغضب</p>
<p><em>“Orang hebat bukanlah orang yang selalu menang dalam pertarungan. Orang hebat adalah orang yang bisa mengendalikan diri ketika marah.”</em> (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> juga menjanjikan, mereka yang berusaha menahan amarahnya, padahal mampu meluapkan marahnya, akan Allah banggakan di depan seluruh makhluk dan Allah suruh memilih bidadari paling indah yang dia inginkan.</p>
<p>Dari Muadz bin Anas Al-Juhani <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">مَنْ كَظَمَ غَيْظاً وَهُوَ قادرٌ على أنْ يُنفذهُ دعاهُ اللَّهُ سبحانهُ وتعالى على رءوس الخَلائِقِ يَوْمَ القيامةِ حتَّى يُخيرهُ مِنَ الحورِ العين ما شاءَ</p>
<p>“<em>Siapa yang berusaha menahan amarahnya, padahal dia mampu meluapkannya, maka dia akan Allah panggil di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat, sampai Allah menyuruhnya untuk memilih bidadari yang dia kehendaki.</em> (HR. Abu Daud, Turmudzi, dan dihasankan Al-Albani).</p>
<h3><a title="doa ketika marah" href="http://konsultasisyariah.com/doa-ketika-marah" target="_blank" rel="nofollow"><strong>Doa Ketika Marah</strong></a></h3>
<p>Dari sahabat Sulaiman bin Surd <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em>, beliau menceritakan,</p>
<p>Suatu hari saya duduk bersama Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Ketika itu ada dua orang yang saling memaki. Salah satunya telah merah wajahnya dan urat lehernya memuncak. Kemudian Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">إِني لأعلمُ كَلِمَةً لَوْ قالَهَا لذهبَ عنهُ ما يجدُ، لَوْ قالَ: أعوذُ بالله مِنَ الشَّيْطانِ الرَّجيمِ، ذهب عَنْهُ ما يَجدُ</p>
<p><em>Sungguh saya mengetahui ada satu kalimat, jika dibaca oleh orang ini, marahnya akan hilang. Jika dia membaca ta’awudz: A’-uudzu billahi minas syaithanir rajiim, marahnya akan hilang.</em> (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Doa yang sangat ringkas:</p>
<p class="arab">أعوذُ بالله مِنَ الشَّيْطانِ الرَّجيمِ</p>
<p><strong>A’-uudzu billahi minas syaithanir rajiim</strong></p>
<p><em>Saya berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.</em></p>
<p>Bacaan ini sangat ringkas, dan hampir semua orang telah menghafalnya. Yang menjadi masalah, umumnya orang yang sedang marah sulit untuk mengendalikan dirinya , sehingga biasanya lupa dengan apa yang sudah dia pelajari. Karena itu, kami hanya bisa berpesan, tahan lisan kita ketika marah dan ingat bacaan di atas. Semoga kita dimudahkan oleh Allah  untuk segera sadar ketika marah. Amin</p>
<p><strong>Dijawab oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a title="konsultasi agama islam dan kesehatan" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a>)</strong></p>
<blockquote><p>Artikel ini didukung oleh:</p>
<ul>
<li>Zahir Accounting. <a title="Software Akuntansi Terbaik di Indonesia" href="http://zahiraccounting.com/id/" target="_blank" rel="nofollow"><strong>Software Akuntansi Terbaik di Indonesia</strong></a>.</li>
<li>Ahliherbal.com. <strong><a href="http://ahliherbal.com" target="_blank" rel="nofollow">Agen Herbal Grosir dan Eceran</a></strong>.</li>
</ul>
<p>Anda juga dapat menjadi sponsor di video dan website dakwah di Yufid.com Network, silakan hubungi: marketing@yufid.org untuk menjadi sponsor.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/doa-ketika-marah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Doa Syukur</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/doa-syukur/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/doa-syukur/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 May 2013 23:00:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[doa syukur]]></category>
		<category><![CDATA[lagu syukur]]></category>
		<category><![CDATA[sujud syukur]]></category>
		<category><![CDATA[syukur kepada tuhan]]></category>
		<category><![CDATA[ucapan syukur kristen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=17940</guid>
		<description><![CDATA[Doa Syukur Pertanyaan: Ustadz, saya ingin tahu doa bersyukur atas nikmat Allah yang shahih apa? besarta teks arab dan terjemahan indonesianya? agar bisa saya amalkan setiap selesai sholat Dari: Ely Jawaban: Pertama, sebelum memahami doa syukur, terlebih dahulu kita memahami ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Doa Syukur</strong></h2>
<p>Pertanyaan:</p>
<p><em> Ustadz, saya ingin tahu doa bersyukur atas nikmat Allah yang shahih apa? besarta teks arab dan terjemahan indonesianya? agar bisa saya amalkan setiap selesai sholat</em></p>
<p>Dari: Ely<br />
<span id="more-17940"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><strong>Pertama, sebelum memahami doa syukur, terlebih dahulu kita memahami hakekat syukur.</strong></p>
<p>Syukur secara bahasa bermakna zaiyadah [arab: الزيادة], yang artinya bertambah. Ada istilah: Dabah Syakur [arab: دابة شكور] artinya binatang yang mudah gemuk, meskipun makanan yang diberikan tidak banyak. (Asas Al-Balaghah, 1/246)</p>
<p>Sedangkan secara istilah, syukur didefinisikan,</p>
<p class="arab">الثناء على المحسن بما أعطاك وأولاك</p>
<p>Memuji orang telah berbuat baik, terhadap apa yang telah dia berikan kepadamu.</p>
<p>Sementara Al-Askari mendefinisikan syukur,</p>
<p class="arab">الاعتراف بالنعمة على جهة التعظيم للمنعم</p>
<p>Mengakui nikmat dengan bentuk mengagungkan dzat yang memberi nikmat. (Al-Furuq Al-Lughawiyah, 301).</p>
<p>Seseorang dianggap telah bersyukur kepada Allah ketika dia menyadari, mengakui bahwa apa yang dia miliki murni pemberian Allah, dan bukan karena usahanya semata. Dia nampakkan nikmat itu sebagai karunia dari Allah dan tidak menyembunyikannya.</p>
<p>Lawan syukur adalah kufur nikmat. Ketika seseorang melupakan, menyembunyikan, merasa tidak mengakui itu pemberian dari Allah, maka dia telah kufur nikmat. Ar-Raghib Al-Asfahani mengatakan tentang syukur,</p>
<p class="arab">الشكر تصور النعمة وإظهارها&#8230;، ويضاده الكفر وهو نسيان النعمة وسترها</p>
<p>Syukur menyadari dan menampakkan nikmat (sebagai pemberian Allah)…, kebalikannya adalah kufur, melupakan nikmat dan menutup-nutupinya. (Mufradat Gharib Al-Quran, 265)</p>
<p>Berdasarkan keterangan di atas, sejatinya syukur lebih pada amal hati. Sementara ucapan lisan dan amal perbuatan adalah perwujudan syukur yang terdapat pada hati seorang hamba. Kalimat inti dalam syukur adalah memuji dzat yang telah memberi nikmat.</p>
<p><strong>Kedua, doa syukur</strong></p>
<p>Pada keterangan di atas, inti syukur adalah pengakuan hati bahwa apa yang kita miliki murni pemberian Allah. Karena itu, doa syukur yang kami pahami dari Al-Quran dan sunah, ungkapannya berbeda-beda, sesuai konteks yang disyukuri. Semuanya doa syukur, bisa kita amalkan sebagai bentuk syukur terhadap nikmat yang kita miliki.</p>
<p><strong>Diantara doa syukur yang diajarkan dalam Al-Quran,</strong></p>
<p><a title="Doa syukur" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">Doa syukur</a> Nabi Ibrahim ‘alaihis shalatu was salam, setelah doanya memohon keturunan yang shaleh dikabulkan oleh Allah,</p>
<p class="arab">الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَهَبَ لِي عَلَى الْكِبَرِ إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاءِ</p>
<p><em>Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tuaku: Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha mendengar (memperkenankan) doa.</em> (QS. Ibrahim: 39)</p>
<p>Doa Nabi Sulaiman ‘alaihis shalatu was salam, ketika beliau mendengar obrolan semut, beliau memohon agar selalu diarahkan untuk menjadi hamba yang bersyukur,</p>
<p class="arab">رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ</p>
<p><em>Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.</em> (QS. An-Naml: 19)</p>
<p>Allah juga mengajarkan kepada kita doa syukur dalam Al-Quran,</p>
<p class="arab">وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ</p>
<p><em>Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila Dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: &#8220;Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang berserah diri&#8221;.</em> (QS. Al-Ahqaf: 15)</p>
<p>Ulama berbeda pendapat tentang sasaran yang disebutkan dalam ayat ini. Berdasarkan riwayat dari Ibnu Abbas, ayat ini turun terkait Abu Bakar As-Shiddiq radhiyallahu &#8216;anhu. Beliau masuk islam di usia 38 tahun, dan setelah berusia 40 th, beliau memanjatkan doa dia atas. Kemudian Allah mengabulkan doanya, sehingga semua orang tuanya dan anaknya masuk islam, baik laki-laki maupun perempuan. (Zadul Masir, 4/107)</p>
<p>Dalam hadis, Rasulullah s<em>hallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mengajarkan kepada kita berbagai doa syukur bersamaan dengan konteks nikmat yang sedang kita hadapi.</p>
<p><strong>Syukur setelah bangun tidur,</strong></p>
<p class="arab">الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ</p>
<p><em>“Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkanku setelah Dia mematikan aku, dan hanya kepadanya kebangkitan makhluk.”</em> (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p><strong>Syukur ketika mengenakan pakaian,</strong></p>
<p class="arab">الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي كَسَانِي هَذَا الثَّوْبَ وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّي، وَلَا قُوَّةٍ</p>
<p>Segala puji bagi Allah yang telah memberi aku pakaian ini, dan menjadikannya sebagai rizki tanpa daya dan kekuatan dariku. (HR. Abu Daud dan dihasankan Al-Albani)</p>
<p>Dalam lanjutan hadis dinyatakan, “Siapa yang membaca doa ini maka akan diampuni dosanya yang telah lewat.”</p>
<p><strong>Syukur seusai makan,</strong></p>
<p class="arab">الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَطْعَمَنِي هَذَا الطَّعَامَ، وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّي وَلَا قُوَّةٍ</p>
<p>Segala puji bagi Allah yang telah memberi aku makanan ini, dan menjadikannya sebagai rizki tanpa daya dan kekuatan dariku. (HR. Abu Daud dan dihasankan Al-Albani)</p>
<p>Dalam lanjutan hadis dinyatakan, “Siapa yang membaca doa ini maka akan diampuni dosanya yang telah lewat.”</p>
<p><strong>Bacaan Syukur ketika mendengar sesuatu yang menggembirakan,</strong></p>
<p>Bacaan syukur ini, bisa anda lantunkan dalam setiap keadaan ketika anda mendengar kabar gembira atau mendapatkan sesuatu yang menggembirakan</p>
<p class="arab">الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ</p>
<p>Segala puji bagi Allah, dimana dengan nikmatnya kebaikan menjadi sempurna.</p>
<p>Aisyah radhiyallahu &#8216;anha mengatakan, “Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam apabila melihat sesuatu yang beliau sukai, beliau membaca kalimat di atas.” (HR. Ibn Majah dan dihasankan Al-Albani)</p>
<p><strong><a title="Doa syukur" href="http://konsultasisyariah.com/doa-syukur" target="_blank" rel="nofollow">Doa Syukur </a>Pagi dan Sore</strong></p>
<p>Doa syukur ini dianjurkan untuk dibaca setiap pagi (setelah subuh sampai terbit matahari) dan sore.</p>
<p class="arab">اللَّهُمَّ مَا أَصْبَحَ بِي مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنْكَ وَحْدَكَ، لَا شَرِيكَ لَكَ، فَلَكَ الْحَمْدُ، وَلَكَ الشُّكْرُ</p>
<p>ALLAHUMMA MAA ASHBAHA BII MIN NI’MATIN WA MIN-KA WAHDAK LAA SYARIIKA LAK, FA LAKAL HAMDU WA LAKAS-SYUKRU</p>
<p>Ya Allah! Nikmat yang kuterima atau yang diterima oleh seseorang di antara makhlukMu di pagi ini, semuanya adalah dariMu semata, tiada sekutu bagi-Mu. Karena itu, hanya bagiMu segala puji dan hanya kepadaMu rasa syukur (dari seluruh makhluk-Mu).</p>
<p><strong>Keutamaan:</strong></p>
<p>Disebutkan dalam hadis dari Abdullah bin Ghannam Al Bayadli radliallahu &#8216;anhu, bahwa orang yang di pagi hari membaca: Allahumma maa ash-baha bii min ni&#8217;matin&#8230;berarti dia telah memanjatkan syukurnya pada hari tersebut. (HR. Abu Daud &amp; Ibn Sunni dan sanadnya dihasankan Syaikh Ibn Baz dalam Tuhfatul Ahyar)</p>
<p><em>Allahu a’lam</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a title="konsultasi agama islam dan kesehatan" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a>)</strong></p>
<blockquote><p>Artikel ini didukung oleh:</p>
<ul>
<li>Zahir Accounting. <a title="Software Akuntansi Terbaik di Indonesia" href="http://zahiraccounting.com/id/" target="_blank" rel="nofollow"><strong>Software Akuntansi Terbaik di Indonesia</strong></a>.</li>
<li>Ahliherbal.com. <strong><a href="http://ahliherbal.com" target="_blank" rel="nofollow">Agen Herbal Grosir dan Eceran</a></strong>.</li>
</ul>
<p>Anda juga dapat menjadi sponsor di video dan website dakwah di Yufid.com Network, silakan hubungi: marketing@yufid.org untuk menjadi sponsor.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/doa-syukur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Adakah Puasa Bulan Rajab?</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/adakah-puasa-bulan-rajab/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/adakah-puasa-bulan-rajab/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 12 May 2013 23:00:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[RAMADHAN]]></category>
		<category><![CDATA[amalan]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[apa nama puasa 3 hri awal atau akhir sebelum puasa?]]></category>
		<category><![CDATA[bolehkah ganti puasa di akhir rejab]]></category>
		<category><![CDATA[bulan bulan untuk puasa]]></category>
		<category><![CDATA[dalil puasa di bulan rajab versi salafi]]></category>
		<category><![CDATA[hadis puasa]]></category>
		<category><![CDATA[hadist shahih batas puasa sunnah menjelang ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[hadist sholat puasa zakat]]></category>
		<category><![CDATA[hadits shahih tentang puasa rajab]]></category>
		<category><![CDATA[hadits tekait dengan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[hadits tentang batasan puasa menjelang ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[hadits tentang puasa ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[hukum puasa bulan rajab hukum]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[jari]]></category>
		<category><![CDATA[jin]]></category>
		<category><![CDATA[keutamaan bagi orang yang berpuasa pada bulan rajab]]></category>
		<category><![CDATA[keutamaan menyetubuhi istri bi malam jum'at]]></category>
		<category><![CDATA[keutamaan puasa rojab]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[niat berpuasa menurut salaf]]></category>
		<category><![CDATA[niat puasa]]></category>
		<category><![CDATA[niat puasa menurut hadist shahih]]></category>
		<category><![CDATA[pertanyaan hadis puasa]]></category>
		<category><![CDATA[pertanyaan seputar puasa]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[puasa bulan rajab]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[shalat tahajud]]></category>
		<category><![CDATA[sunah]]></category>
		<category><![CDATA[surga]]></category>
		<category><![CDATA[tentang puasa di bulan rajab]]></category>
		<category><![CDATA[zakat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=5104</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Akhir-akhir ini, banyak orang yang berpuasa di awal bulan Rajab. Saya ingin bertanya, apakah ada tuntunannya dari Rasulullah puasa hanya di awal bulan Rajab atau hanya beberapa hari saja di bulan Rajab? Hendra Irawan (**hendra@***.com) ===&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-======[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-**\___________/**&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;Jawaban: Bismillah was shalatu ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Akhir-akhir ini, banyak orang yang berpuasa di awal bulan Rajab. Saya ingin bertanya, apakah ada tuntunannya dari Rasulullah puasa hanya di awal bulan Rajab atau hanya beberapa hari saja di bulan Rajab?</p>
<p><em>Hendra Irawan (**hendra@***.com)</em><br />
===&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-======[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-**\___________/**&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;<span id="more-5104"></span><strong>Jawaban:</strong></p>
<p><i>Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,</i></p>
<p>Tidak terdapat amalan khusus terkait bulan Rajab, baik bentuknya shalat, puasa, zakat, maupun umrah. Mayoritas ulama menjelaskan bahwa hadis yang menyebutkan amalan di bulan Rajab adalah hadis dhaif dan tertolak.</p>
<p>Ibnu Hajar mengatakan,</p>
<p class="arab">لم يرد في فضل شهر رجب ، ولا في صيامه ، ولا في صيام شيء منه معين ، ولا في قيام ليلة مخصوصة فيه حديث صحيح يصلح للحجة ، وقد سبقني إلى الجزم بذلك الإمام أبو إسماعيل الهروي الحافظ</p>
<p> “Tidak terdapat riwayat yang sahih yang layak dijadikan dalil tentang keutamaan bulan Rajab, tidak pula riwayat yang shahih tentang puasa rajab, atau puasa di tanggal tertentu bulan Rajab, atau shalat tahajud di malam tertentu bulan rajab. Keterangan saya ini telah didahului oleh keterangan Imam Al-Hafidz Abu Ismail Al-Harawi.” (Tabyinul Ujub bi Ma Warada fi Fadli Rajab, hlm. 6)</p>
<p>Keterangan yang sama juga disampaikan oleh Imam Ibnu Rajab. Dalam karyanya yang mengupas tentang amalan sepanjang tahun, yang berjudul <i>Lathaiful Ma’arif</i>,  beliau menegaskan tidak ada shalat sunah khusus untuk bulan rajab,</p>
<p class="arab">لم يصح في شهر رجب صلاة مخصوصة تختص به و الأحاديث المروية في فضل صلاة الرغائب في أول ليلة جمعة من شهر رجب كذب و باطل لا تصح و هذه الصلاة بدعة عند جمهور العلماء</p>
<p>“Tidak terdapat dalil yang sahih tentang anjuran shalat tertentu di bulan Rajab. Adapun hadis yang menyebutkan keutamaan shalat Raghaib di malam Jumat pertama bulan Rajab adalah hadis dusta, batil, dan tidak sahih. Shalat Raghaib adalah bid’ah, menurut mayoritas ulama.” (Lathaiful Ma’arif, hlm. 213)</p>
<p>Terkait masalah puasa di bulan Rajab, Imam Ibnu Rajab juga menegaskan,</p>
<p class="arab">لم يصح في فضل صوم رجب بخصوصه شيء عن النبي صلى الله عليه و سلم و لا عن أصحابه و لكن روي عن أبي قلابة قال : في الجنة قصر لصوام رجب قال البيهقي : أبو قلابة من كبار التابعين لا يقول مثله إلا عن بلاغ و إنما ورد في صيام الأشهر الحرم كلها</p>
<p>“Tidak ada satu pun hadis sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang keutamaan puasa bulan Rajab secara khusus. Hanya terdapat riwayat dari Abu Qilabah, bahwa beliau mengatakan, ‘Di surga terdapat istana untuk orang yang rajin berpuasa di bulan Rajab.’ Namun, riwayat ini bukan hadis. Imam Al-Baihaqi mengomentari keterangan Abu Qilabah, ‘Abu Qilabah termasuk tabi’in senior. Beliau tidak menyampaikan riwayat itu, melainkan hanya kabar tanpa sanad.’ Riwayat yang ada adalah riwayat yang menyebutkan anjuran puasa di bulan haram seluruhnya” (Lathaiful Ma’arif, hlm. 213)</p>
<p>Keterangan Ibnu Rajab yang menganjurkan adanya puasa di bulan haram, ditunjukkan dalam hadis dari Mujibah Al-Bahiliyah dari bapaknya atau pamannya, Al-Bahily. Sahabat Al-Bahily ini mendatangi Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, setelah bertemu dan menyatakan masuk islam, beliau kemudian pulang kampungnya. Satu tahun kemudian, dia datang lagi menemui Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.</p>
<p>“Ya Rasulullah, apakah anda masih mengenal saya.” Tanya Kahmas,</p>
<p>“Siapa anda?” tanya Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.</p>
<p>“Saya Al-Bahily, yang dulu pernah datang menemui anda setahun yang lalu.” Jawab sahabat</p>
<p>“Apa yang terjadi dengan anda, padahal dulu anda berbadan segar?” tanya Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.</p>
<p>“Saya tidak pernah makan, kecuali malam hari, sejak saya berpisah dengan anda.” Jawab sahabat.</p>
<p>Menyadari semangat sahabat ini untuk berpuasa, Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menasehatkan,</p>
<p class="arab">لِمَ عَذَّبْتَ نَفْسَكَ، صُمْ شَهْرَ الصَّبْرِ، وَيَوْمًا مِنْ كُلِّ شَهْرٍ</p>
<p>Mengapa engkau menyiksa dirimu. Puasalah di bulan sabar (ramadhan), dan puasa sehari setiap bulan.</p>
<p>Namun Al-Bahily selalu meminta tambahan puasa sunah,</p>
<p>“Puasalah sehari tiap bulan.” Orang ini mengatakan, “Saya masih kuat. Tambahkanlah!” “Dua hari setiap bulan.” Orang ini mengatakan, “Saya masih kuat. Tambahkanlah!” “Tiga hari setiap bulan.” Orang ini tetap meminta untuk ditambahi. Sampai akhirnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan kalimat pungkasan,</p>
<p class="arab">صُمْ مِنَ الحُرُمِ وَاتْرُكْ، صُمْ مِنَ الحُرُمِ وَاتْرُكْ، صُمْ مِنَ الحُرُمِ وَاتْرُكْ</p>
<p>“Berpuasalah di bulan haram, lalu jangan puasa (kecuali ramadhan)…, Berpuasalah di bulan haram, lalu jangan puasa…, Berpuasalah di bulan haram, lalu jangan puasa.” (HR. Ahmad, Abu Daud, Al-Baihaqi dan yang lainnya. Hadis ini dinilai sahih oleh sebagian ulama dan dinilai dhaif oleh ulama lainnya).</p>
<p>Bulan haram artinya bulan yang mulia. Allah memuliakan bulan ini dengan larangan berperang. Bulan haram, ada empat: Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.</p>
<h3><strong>Puasa di Bulan Haram</strong></h3>
<p>Hadis Mujibah Al-Bahiliyah menceritakan anjuan untuk berpuasa di semua bulan haram, sebagaimana yang ditegaskan Ibnu Rajab. Itupun anjuran puasa ini sebagai pilihan terakhir ketika seseorang hendak memperbanyak puasa sunah, sebagaimana yang disarankan oleh Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam kepada sahabat Al-Bahily. Karena itu, terlalu jauh ketika hadis ini dijadikan dalil anjuran puasa di bulan rajab secara khusus, sementara untuk bulan haram lainnya, kurang diperhatikan. Karena praktek yang dilakukan beberapa ulama, mereka berpuasa di seluruh bulan haram, tidak hanya bulan rajab. Sebagaimana dinyatakan oleh Ibnu Rajab,</p>
<p class="arab">قد كان بعض السلف يصوم الأشهر الحرم كلها منهم ابن عمر و الحسن البصري و أبو اسحاق السبيعي و قال الثوري : الأشهر الحرم أحب إلي أن أصوم فيها</p>
<p>Beberapa ulama salaf melakukan puasa di semua bulan haram, di antaranya: Ibnu Umar, Hasan Al-Bashri, dan Abu Ishaq As-Subai’i. Imam Ats-Tsauri mengatakan, “Bulan-bulan haram, lebih aku cintai untuk dijadikan waktu berpuasa.” (Lathaiful Ma’arif, hlm. 213).</p>
<h3><b>Para</b><b> Sahabat Melarang Mengkhususkan Rajab untuk Puasa</b></h3>
<p>Kebiasaan mengkhususkan puasa di bulan rajab telah ada di zaman Umar radhiyallahu &#8216;anhu. Beberapa tabiin yang hidup di zaman Umar bahkan telah melakukannnya. Dengan demikian, kita bisa mengacu bagaimana sikap sahabat terhadap fenomena terkait kegiatan bulan rajab yang mereka jupai.</p>
<p>Berikut beberapa riwayat yang menyebutkan reaksi mereka terhadap puasa rajab. Riwayat ini kami ambil dari buku Lathaiful Ma’arif, satu buku khusus karya Ibnu Rajab, yang membahas tentang wadzifah (amalan sunah) sepanjang masa,</p>
<p class="arab">روي عن عمر رضي الله عنه : أنه كان يضرب أكف الرجال في صوم رجب حتى يضعوها في الطعام و يقول : ما رجب ؟ إن رجبا كان يعظمه أهل الجاهلية فلما كان الإسلام ترك</p>
<p>Diriwayatkan dari Umar bin Khatab radhiyallahu &#8216;anhu, bahwa beliau memukul telapak tangan beberapa orang yang melakukan puasa rajab, sampai mereka meletakkan tangannya di makanan. Umar mengatakan, “Apa rajab? Sesungguhnnya rajab adalah bulan yang dulu diagungkan masyarakat jahiliyah. Setelah islam datang, ditinggalkan.”</p>
<p>Dalam riwayat yang lain,</p>
<p class="arab">كرِهَ أن يَكونَ صِيامُه سُنَّة</p>
<p>“Beliau benci ketika puasa rajab dijadikan sunah (kebiasaan).” (Lathaif Al-Ma’arif, 215).</p>
<p>Dalam riwayat yang lain, tentang sahabat Abu Bakrah radhiyallahu &#8216;anhu,</p>
<p class="arab">أنه رأى أهله قد اشتروا كيزانا للماء واستعدوا للصوم فقال : ما هذا ؟ فقالوا: رجب. فقال: أتريدون أن تشبهوه برمضان ؟ وكسر تلك الكيزان</p>
<p>Beliau melihat keluarganya telah membeli bejana untuk wadah air, yang mereka siapkan untuk puasa. Abu Bakrah bertanya: ‘Puasa apa ini?’ Mereka menjawab: ‘Puasa rajab’ Abu Bakrah menjawab, ‘Apakah kalian hendak menyamakan rajab dengan ramadhan?’ kemudian beliau memecah bejana-bejana itu. (Riwayat ini disebutkan oleh Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni 3/107, Ibn Rajab dalam Lathaif hlm. 215, Syaikhul Islam dalam Majmu’ Fatawa 25/291, dan Al-Hafidz ibn Hajar dalam Tabyi Al-Ujb hlm. 35)</p>
<p>Ibnu Rajab juga menyebutkan beberapa riwayat lain dari beberapa sahabat lainnya, seperti Ibnu Umar dan Ibnu Abbas, bahwa mereka membenci seseorang yang melakukan puasa rajab sebulan penuh.</p>
<p>Sikap mereka ini menunjukkan bahwa mereka memahami bulan rajab bukan bulan yang dianjurkan untuk dijadikan waktu berpuasa secara khusus. Karena kebiasaan itu sangat mungkin, tidak mereka alami di zaman Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.</p>
<p><strong>Kesimpulan:</strong></p>
<p>Kesimpulan dari keterangan di atas,</p>
<ol start="1">
<li>Tidak dijumpai dalil khusus yang menyebutkan keutamaan bulan rajab.</li>
<li>Tidak dijumpai dalil yang menyebutkan keutamaan puasa rajab atau shalat sunah khusus di bulan rajab.</li>
<li>Beberapa sahabat melarang orang mengkhususkan puasa khusus di bulan rajab atau melakukan puasa sebulan penuh selama bulan rajab.</li>
<li>Dalil yang menyebutkan keutamaan khusus bagi orang yang melakukan puasa rajab adalah hadis dhaif, dan tidak bisa dijadikan dalil.</li>
<li>Bagi orang yang rajin puasa, dibolehkan untuk memperbanyak puasa di bulan haram. Sebagaimana dinyatakan dalam hadis Al-Bahily. Hanya saja, hadis ini berlaku umum untuk semua puasa bulan haram, tidak hanya rajab.</li>
</ol>
<p><em>Allahu a’lam</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).</strong><br />
<strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/adakah-puasa-bulan-rajab/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Shalat Sunah di Malam 1 Rajab</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/shalat-sunah-di-malam-1-rajab/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/shalat-sunah-di-malam-1-rajab/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 May 2013 04:00:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=11493</guid>
		<description><![CDATA[Hukum Shalat Sunah di Malam 1 Rajab Pertanyaan: Assalamu’alaikum Insya Allah nanti malam adalah malam tanggal 1 Rajab. Saya mendengar ada anjuran untuk melakukan shalat sunah setelah maghrib sampai isya. Dengan janji pahala yang besar. Benarkah demikian? Terima kasih. Dari: ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2>Hukum Shalat Sunah di Malam 1 Rajab</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Assalamu’alaikum</p>
<p>Insya Allah nanti malam adalah malam <strong>tanggal 1 Rajab</strong>. Saya mendengar ada anjuran untuk melakukan <strong>shalat sunah</strong> setelah maghrib sampai isya. Dengan janji pahala yang besar. Benarkah demikian?<br />
Terima kasih.</p>
<p>Dari: Tri<br />
<span id="more-11493"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
Wa’alaikumussalam</p>
<p>Terdapat sebuah hadis dari Anas bin Malik <em>radhiallahu ‘anhu</em>, yang menyatakan:</p>
<p class="arab">أن من صلى المغرب أول ليلة من من رجب ثم صلى بعدها عشرين ركعة بفاتحة الكتاب وقل هو اللّه أحد مرة ويسلم فيهن عشر تسليمات أتدرون ما ثوابه فإن الروح الأمين جبريل أعلمني بذلك قلنا اللّه ورسوله أعلم قال حفظة اللّه تعالى في نفسه وماله وأهله وولده وأجبر من عذاب القبر وجاز على الصراط كالبرق بغير حساب ولا عذاب</p>
<p>“Siapa yang shalat magrib di malam pertama bulan <em>Rajab</em>, kemudian dilanjutkan dengan shalat 20 rakaat, di setiap rakaat membaca Al-Fatihah dan surat Al-Ikhlas satu kali, kemudian salam 10 kali (setiap dua rakaat salam), tahukan kalian apa pahalanya? Sesungguhnya Ruh yang amanah (Malaikat Jibril) mengajariku hal itu.” Para sahabat berkomentar, “Allah dan Rasul-Nya paling tahu.” Beliau melanjutkan, “Dia diberi penjagaan Allah terhadap dirinya, hartanya, keluarganya, anaknya, dilindungi dari siksa kubur, mudah melewati shirat seperti kilat, tanpa dihisab dab tanpa diazab.”</p>
<p>Hadis dengan redaksi di atas, diriwayatkan oleh Al-Jauzaqani dari jalur Abu Ja’far Muhammad bin Ali At-Thai, dari Abdul Karim bin Abu Hanifah, dari Abu Thayib thahir bin Hasan Al-Muthawi’i.</p>
<p>Imam As-Suyuthi memberikan komentar ringkas untuk hadis ini:</p>
<p class="arab">موضوع: وأكثر رواته مجاهيل</p>
<p>“Palsu, dan kebanyakan perawinya tidak dikenal.” (<em>Al-Lali’ al-Mashnu’ah</em>, 1:68).</p>
<p>Komentar yang sama juga disampaikan oleh As-Syaukani dalam <em>Al-Fawaid Al-Majmu’ah</em> 1:24 dan Ibnul Jauzi dalam <em>Al-Maudhu’at </em>2:123.</p>
<p>Kesimpulannya, kabar tentang amalan di malam pertama bulan <u>Rajab</u>, sebagaimana yang tersebar di masyarakat adalah dusta atas nama Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Dengan demikian, kita kembali pada hukum asal bahwa tidak ada amalan khusus di malam Rajab.<br />
<em>Allahu a’lam</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a href="http://konsultasisyariah.com/shalat-sunah-di-malam-1-rajab" target="_blank" rel="nofollow">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/" rel="nofollow" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/shalat-sunah-di-malam-1-rajab/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Amalan Sunah di Bulan Rajab</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/amalan-sunah-di-bulan-rajab/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/amalan-sunah-di-bulan-rajab/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 May 2013 03:30:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=11533</guid>
		<description><![CDATA[Amalan Sunah di Bulan Rajab Tidak terdapat amalan khusus terkait bulan Rajab. Baik bentuknya shalat, puasa, zakat, maupun umrah. Mayoritas ulama menjelaskan bahwa hadis yang menyebutkan amalan bulan Rajab adalah hadis bathil dan tertolak. Ibnu Hajar mengatakan, لم يرد في ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2>Amalan Sunah di Bulan Rajab</h2>
<p>Tidak terdapat amalan khusus terkait <strong>bulan Rajab</strong>. Baik bentuknya shalat, puasa, zakat, maupun umrah. Mayoritas ulama menjelaskan bahwa hadis yang menyebutkan amalan bulan Rajab adalah hadis bathil dan tertolak.</p>
<p>Ibnu Hajar mengatakan,</p>
<p class="arab">لم يرد في فضل شهر رجب ، ولا في صيامه ، ولا في صيام شيء منه معين ، ولا في قيام ليلة مخصوصة فيه حديث صحيح يصلح للحجة ، وقد سبقني إلى الجزم بذلك الإمام أبو إسماعيل الهروي الحافظ</p>
<p>“Tidak terdapat riwayat yang shahih, bisa untuk dijadikan dalil tentang keutamaan bulan Rajab, baik bentuknya puasa sebulan penuh atau puasa di tanggal tertentu bulan Rajab atau shalat tahajjud di malam tertentu. Keterangan saya ini telah didahului oleh ketengan Imam Al-Hafidz Abu Ismail Al Harawi.” (<em>Tabyinul Ujub bimaa Warada fii Fadli Rajab</em>, Hal. 6)</p>
<p>Imam Ibn Rajab mengatakan,</p>
<p class="arab">أما الصلاة فلم يصح في شهر رجب صلاة مخصوصة تختص به و الأحاديث المروية في فضل صلاة الرغائب في أول ليلة جمعة من شهر رجب كذب و باطل لا تصح و هذه الصلاة بدعة عند جمهور العلماء</p>
<p>“Tidak terdapat dalil yang shahih, yang menyebutkan adanya anjuran shalat tertentu di bulan Rajab. Adapun hadis yang menyebutkan keutamaan shalat raghaib di malam Jumat pertama bulan Rajab adalah hadis dusta, bathil, dan tidak shahih. Shalat Raghaib adalah bid&#8217;ah menurut mayoritas ulama.” (<em>Lathaiful Ma&#8217;arif</em>, Hal. 213)</p>
<p>Terkait masalah <strong>puasa di bulan Rajab</strong>, Imam Ibnu Rajab juga menegaskan, tidak ada satu pun hadis shahih dari Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tentang keutamaan puasa bulan Rajab secara khusus. Hanya terdapat riwayat dari Abu Qilabah, bahwa beliau mengatakan,</p>
<p class="arab">في الجنة قصر لصوام رجب</p>
<p>“Di surga terdapat istana untuk orang yang rajin <strong>berpuasa di bulan Rajab</strong>.”</p>
<p>Namun riwayat bukan hadis. Imam Al Baihaqi mengomentari keterangan Abu Qilabah:</p>
<p class="arab">أبو قلابة من كبار التابعين لا يقول مثله إلا عن بلاغ</p>
<p>“Abu Qilabah termasuk tabi&#8217;in senior, beliau tidak menyampaikan riwayat itu kecuali karena kabar tanpa sanad.” (<em>Lathaiful Ma&#8217;arif</em>, Hal. 213)</p>
<p><strong>Pertama</strong>, Puasa sunah bulan haram<br />
Akan tetapi, jika seseorang melaksanakan puasa di <strong>bulan Rajab</strong> dengan niat puasa sunah di bulan-bulan haram, maka ini dibolehkan bahkan dianjurkan. Mengingat sebuah hadis yanng diriwayatkan Imam Ahmad, Abu Daud, Al Baihaqi dan yang lainnya, bahwa suatu ketika datang seseorang dari suku Al Bahili menghadap Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Dia meminta diajari berpuasa. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menasihatkan, “<em>Puasalah sehari tiap bulan</em>.” Orang ini mengatakan: Saya masih kuat, tambahkanlah!. “<em>Dua hari setiap bulan</em>”. Orang ini mengatakan: Saya masih kuat, tambahkanlah!. “<em>Tiga hari setiap bulan.</em>” orang ini tetap meminta untuk ditambahi. Kemudian Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p class="arab">فمن الحرم و أفطر</p>
<p>“<em>Puasalah di bulan haram dan berbukalah (setelah selesai bulan haram).</em>” (Hadis ini dishahihkan sebagaian ulama dan didhaifkan ulama lainnya). Namun diriwayatkan bahwa beberapa ulama salaf berpuasa di semua bulan haram. Dinataranya: Ibn Umar, Hasan Al Bashri, dan Abu Ishaq As Subai&#8217;i.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, Mengkhususkan Umrah di bulan Rajab<br />
Diriwayatkan bahwa Ibn Umar pernah mengatakan, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> melaksanakan umrah di bulan Rajab. Kemudian ucapan beliau ini diingkari Aisyah.</p>
<p class="arab">يغفر الله لأبي عبد الرحمن، لعمري، ما اعتمر في رجب</p>
<p>“Semoga Allah mengampuni Abu Abdirrahmah (Ibnu Umar). Sepanjang usiaku, beliau belum pernah Umrah di bulan Rajab.”<br />
Ibnu Umar mendengar hal ini dan beliau diam saja. (HR. Muslim, 1255)</p>
<p>Umar bin Khatab dan beberapa sahabat lainnya menganjurkan umrah bulan Rajab. Aisyah dan Ibnu Umar juga melaksanakan umrah bulan Rajab.</p>
<p>Ibnu Sirin menyatakan, bahwa para sahabat melakukan hal itu. Karena rangkaian haji dan umrah yang paling bagus adalah melaksanakan haji dalam satu perjalanan sendiri dan melaksanakan umrah dalam satu perjalanan yang lain, selain di bulan haji. (<em>Al Bida&#8217; Al Hauliyah</em>, Hal. 119).</p>
<p>Dari penjelasan Ibnu Rajab menunjukkan bahwa melakukan umrah di <strong>bulan Rajab</strong> hukumnya dianjurkan. Beliau berdalil dengan anjuran Umar bin Khatab untuk melakukan umrah di bulan Rajab. Dan dipraktikkan oleh Aisyah dan Ibnu Umar.</p>
<p>Diriwayatkan Al Baihaqi, dari Sa&#8217;id bin Al Musayib, bahwa Aisyah <em>radliallahu &#8216;anha</em> melakukan umrah di akhir bulan Dzulhijjah, berangkat dari Juhfah, beliau berumrah bulan Rajab berangkat dari Madinah, dan beliau memulai Madinah, namun beliau mulai mengikrarkan ihramnya dari Dzul Hulaifah. (HR. Al Baihaqi dengan sanad hasan)</p>
<p>Namun ada sebagian ulama yang menganggap umrah di bulan Rajab tidak dianjurkan. Karena tidak ada dalil khusus terkait umrah bulan Rajab. Ibnu Atthar mengatakan, “Di antara berita yang sampai kepadaku dari penduduk Mekah, banyaknya kunjungan di bulan Rajab. Kejadian ini termasuk masalah yang belum kami ketahui dalilnya. Bahkan terdapat hadis yang shahih bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, ‘Umrah di bulan Ramadhan nilainya seperti haji’.” (HR. Al Bukhari)</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh mengatakan, bahwa para ulama mengingkari sikap mengkhususkan bulan Rajab untuk memperbanyak melaksanakan umrah. (<em>Majmu&#8217; Fatawa Syaikh Muhammad bin Ibrahim</em>, 6:131)</p>
<p><strong>Kesimpulan:</strong><br />
Pendapat yang lebih kuat dalam masalah ini, mengkhususkan umrah di bulan Rajab adalah perbuatan yang tidak ada landasannya dalam syariat. Karena tidak ada satu pun dalil yang menunjukkan anjuran mengkhususkan bulan Rajab untuk pelaksanaan umrah. Disamping itu, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> sendiri tidak pernah melakukan umrah di bulan Rajab, sebagaimana disebutkan dalam hadis sebelumnya.</p>
<p>Andaikan ada keutamaan mengkhususkan umrah di bulan Rajab, tentu Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> akan memberi tahukan kepada umatnya. Sebagaimana beliau memberi tahu umatnya akan keutamaan umrah di bulan Ramadlan. Sedangkan riwayat dari Umar bahwa beliau menganjurkan umrah di bulan Rajab, yang benar sanadnya dipermasalahkan.</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, Menyembelih hewan (<em>Atirah</em>)<br />
<em>Atirah</em> adalah hewan yang disembelih di <span style="text-decoration: underline;"><em>bulan Rajab</em></span> untuk tujuan beribadah.</p>
<p>Ulama berselisih pendapat tentang hukum <em>Atirah</em>.</p>
<p>Pendapat pertama, athirah dianjurkan. Dalilnya adalah hadis dari Abdullah bin Amr bin Ash, bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> ditanya tentang <em>Athirah</em>, kemudian beliau menjawab:</p>
<p class="arab">الْعَتِيرَةُ حَقٌّ</p>
<p>“Athirah itu hak.” (HR. Ahmad, An Nasa&#8217;i dan As Suyuthi dalam <em>Jami&#8217;us Shaghir</em>)</p>
<p>Pendapat kedua, <em>Atirah</em> tidak disyariatkan, namun tidak makruh. Dalilnya, hadis dari Abu Razin, Laqirh bin Amir Al Uqaili, beliau bertanya kepada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, “Kami menyembelih hewan di bulan Rajab di zaman Jahilliyah. Kami memakannya dan memberi makan tamu yang datang.” Kemudian Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, “Tidak masalah.” (HR. An Nasa&#8217;i, Ad Darimi, dan Ibn Hibban)</p>
<p>Pendapat ketiga, <em>Atirah</em> hukumnya makruh. Berdasarkan hadis, bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">لاَ فَرَعَ وَلاَ عَتِيرَةَ</p>
<p>“<em>Tidak ada Fara&#8217;a dan tidak ada Atirah</em>.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)</p>
<p><em>Fara&#8217;a</em> adalah anak pertama binatang, yang disembelih untuk berhala.</p>
<p>Pendapat keempat, <em>Atirah</em> hukumnya haram. Ini adalah pendapat yang dipilih Ibnul Qoyim dan Ibnul Mundzir. Ibnul Qoyim mengatakan, “Dulu masyarakat Arab melakukan <em>Atirah</em> di masa jahiliyah, kemudian mereka tetap melakukannya, dan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mendukungnya. Kemudian Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> melarangnya, melalui sabdanya, “<em>Tidak ada fara&#8217;a dan tidak ada Atirah.</em>” akhirnya para sahabat meninggalkannya, karena adanya larangan beliau. Dan telah dipahami bersama, bahwa larangan itu hanya akan muncul, jika sebelumnya ada yang melakukannya. Sementara tidak kita jumpai adanya satupun ulama yang mengatakan, Dulu Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> melarang <em>Atirah</em> kemudian beliau membolehkannya kembali&#8230;” (<em>Tahdzib Sunan Abu Daud</em>, 4:92 – 93). Insya Allah, pendapat inilah yang lebih mendekati kebenaran.</p>
<p><strong>Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a href="http://konsultasisyariah.com/amalan-sunah-di-bulan-rajab" target="_blank" rel="nofollow">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/" rel="nofollow" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/amalan-sunah-di-bulan-rajab/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Doa Memasuki Bulan Rajab</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/doa-memasuki-bulan-rajab/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/doa-memasuki-bulan-rajab/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 May 2013 02:30:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=11536</guid>
		<description><![CDATA[Doa Memasuki Bulan Rajab Pertanyaan: Assamu’alaikum Ustadz, di bulan Rajab dan Sya’ban banyak orang yang membaca doa Allahumma Baariklanaa fi Rajab wa Sya’ban wa Balighnaa Ramadhaan. Apakah doa tersebut termasuk amalan/doa yang tidak dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga? ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2>Doa Memasuki Bulan Rajab</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Assamu’alaikum</p>
<p>Ustadz, di <strong>bulan Rajab dan Sya’ban</strong> banyak orang yang membaca doa <strong><em>Allahumma Baariklanaa fi Rajab wa Sya’ban wa Balighnaa Ramadhaan</em></strong>. Apakah doa tersebut termasuk amalan/doa yang tidak dicontohkan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> juga? Terima kasih</p>
<p>Dari: Siti<br />
<span id="more-11536"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
Wa’alaikumussalam<br />
<em>Bismillah was shalatu was salamu ‘alaa rasulillah</em></p>
<p>Terdapat riwayat dari Anas bin Malik <em>radhiallahu ‘anhu</em>, belliau menceritakan:</p>
<p class="arab">كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ رَجَبٌ، قَالَ: «اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ وَشَعْبَانَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي رَمَضَانَ»</p>
<p>“Dulu ketika Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> memasuki <strong>bulan Rajab</strong>, beliau berdoa: <em>Allahumma baarik lanaa  fii Rajabin wa sya’baana</em>&#8230; dst</p>
<p>Hadis ini diriwayatkan Imam Ahmad dalam <em>Musnad</em>-nya no. 2346, Al-Bazzar dalam <em>Musnad</em> no. 6496, At-Thabrani dalam <em>Al-Ausath</em> 3939, dan beliau berkomentar:</p>
<p class="arab">لَا يُرْوَى هَذَا الْحَدِيثُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا بِهَذَا الْإِسْنَادِ، تَفَرَّدَ بِهِ: زَائِدَةُ بْنُ أَبِي الرُّقَادِ</p>
<p>“Hadis ini tidaklah diriwayatkan dari Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> selain dari jalur ini. Ada perawi yang sendirian: Zaidah bin Abi Ruqqad.</p>
<p>Berikut komentar ulama tentang zaidah bin Abi Ruqqad ini:</p>
<p>- Al-Bukhari mengatakan, “Dia Munkarul hadis”</p>
<p>- Abu Daud mengatakan, “Saya tidak mengetahui hadisnya”</p>
<p>- An-Nasai mengatakan, “Saya tidak tahu, siapa orang ini”</p>
<p>- Ad-Dzhabi dalam <em>Diwan Ad-Dhu’afa</em> mengatakan, “Tidak bisa dijadikan hujah”</p>
<p>- Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan, “Munkarul hadis”</p>
<p>Disamping itu, juga ada seorang perawi yang bernama Ziyad bin Abdillah An-Numairi al-Bashri. Dia dikomentari miring oleh banyak ulama:</p>
<p>- Yahya bin Main mengatakan, “Hadisnya dhaif”</p>
<p>- Abu Ubaid Al-Ajuri mengatakan, “Saya bertanya kepada Abu Daud tentang Ziyad ini dan beliau mendhaifkannya.”</p>
<p>- Ibnu Hibban dalam Al-Majruhin mengatakan, “Munkarul hadis. Dia meriwayatkan dari Anas beberapa riwayat, yang sama sekali tidak menyamai hadisnya orang yang terpercaya.”</p>
<p>- Ad-Daruquthni, “Dia tidak kuat”</p>
<p>- Ibnu Hajar mengatakan, “Dhaif”</p>
<p><strong>Komentar ulama ahli hadis tentang riwayat ini:</strong></p>
<p>- An-nawawi dalam <em>Al-Adzkar</em> Hal. 274 menyatakan, “Kami mendapat riwayat dari <em>Hilyatul Auliya</em>, dengan sanad yang ada lemahnya.”</p>
<p>- Ad-Dzahabi dalam <em>Mizan I’tidal</em>, 3:96, ketika menyebutkan biografi Zaidah bin Abi Ruqqad, dan beliau menyebutkan hadis, kemudian beliau berkomentar, “Dhaif.”</p>
<p>- Al-Haitsami dalam <em>Majma’ Az-Zawaid</em>, 2:165 mengatakan, “Hadis ini diriwayatkan Al-Bazzar dan dalam sanadnya terdapat Zaidah bin Abi Ruqqad, Al-Bukhari mengatakan: Munkarul hadis, sementara sekelompok ulama lainnya menyatakan sebagai perwai <em>majhul</em> (tidak dikenal).”</p>
<p>- Syaikh Ahmad Syakir dalam takhrij Musnad Imam Ahmad mengatakan, “Sanadnya dhaif.” Beliau juga menegaskan bahwa riwayat ini merupakan tambahan dari Abdullah bin Ahmad, yang beliau riwayatkan dari selain bapaknya (Imam Ahmad).</p>
<p>- Hal yang sama juga dinyatakan Syaikh Syu’aib Al-Arnauth dalam <em>Takhrij Musnad</em>.</p>
<p>- Sementara Syaikh Al-Albani mengutip komentar Al-Baihaqi dalam <em>Syu’abul Iman</em>, 3:375 yang menyatakan,</p>
<p class="arab">تفرد به زياد النميري وعنه زائدة بن أبي الرقاد قال البخاري : زائدة بن أبي الرقاد عن زياد النميري منكر الحديث .</p>
<p>Ziyad An-Numairi sendirian dalam meriwayatkan hadis ini. Sementara Zaidah bin Abi Ruqqad mengambil riwayat dari Ziyad. Bukhari mengatakan, “Zaidah bin Abi Ruqqad dari Ziyad An-Numairi, munkarul hadis.”<br />
Sumber: http://www.saaid.net/Doat/Zugail/57.htm</p>
<p>Berdasarkan semua keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa doa dalam hadis ini statusnya lemah.  Karena itu, tidak bisa dijadikan acuan.</p>
<p><strong>Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a href="http://konsultasisyariah.com/" rel="nofollow" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/doa-memasuki-bulan-rajab" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/doa-memasuki-bulan-rajab/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
