<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Konsultasi Kesehatan dan Tanya Jawab Pendidikan Islam &#187; Firqoh</title>
	<atom:link href="http://www.konsultasisyariah.com/category/firqoh-manhaj/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.konsultasisyariah.com</link>
	<description>KonsultasiSyariah.com</description>
	<lastBuildDate>Wed, 19 Jun 2013 01:46:30 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Haruskah Kita Bermadzhab?</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/haruskah-kita-bermadzhab/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/haruskah-kita-bermadzhab/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Jan 2013 19:00:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>
		<category><![CDATA[Firqoh]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[featured]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=15778</guid>
		<description><![CDATA[Bermadzhab  dalam Islam Haruskah kita bermazhab? Ini menjadi pertanyaan orang yang baru menapaki dunia fikih. Sayangnya, mereka yang bertanya semacam ini, malas belajar agama. Pertanyaan: Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh. Saya mau..]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Bermadzhab  dalam Islam</strong></h2>
<p>Haruskah kita bermazhab? Ini menjadi pertanyaan orang yang baru menapaki dunia fikih. Sayangnya, mereka yang bertanya semacam ini, malas belajar agama.</p>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.</p>
<p>Saya mau bertanya, haruskah kita fokus ke satu <a title="madzhab" href="http://konsultasisyariah.com/http://www.konsultasisyariah.com/bolehkah-kita-ber-madzab/" target="_blank"><em>madzhab</em></a>?</p>
<p>Dari: Fajar<br />
<span id="more-15778"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh.</p>
<p><em>Bismillah, was shalatu was salamu &#8216;ala rasulillah, wa ba&#8217;du,</em></p>
<p><strong>Pertama</strong>, Pertanyaan semacam ini bagi sebagian kalangan mungkin layak dikatakan abang-abang lambe. Betapa tidak, banyak diantara kita yang mempertanyakan hal ini, namun sejatinya belum bisa memahami konsekuensinya. Kebanyakan orang yang kebingungan harus memilih madzhab tertentu, dia sendiri sebenarnya tidak memahami isi madzhab-madzhab itu.</p>
<p>Sebagai contoh misalnya, ada orang yang menyarankan agar kita memilih madzhab Syafii. Dan kita pun yakin bahwa itu lebih dekat dengan kebenaran. Kemudian, setelah kita merasa mantap untuk memilih madzhab Syafii, apa yang harus kita lakukan selanjutnya. Diam saja, tanya ustadz, baca buku, atau bagaimana?</p>
<p>Kita sangat yakin, kebanyakan orang yang menghadapi semacam ini, dia hanya akan mengambil sikap diam saja. Karena dia sendiri tidak tahu apa yang harus dia lakukan ketika ingin mengikuti madzhab Syafii. Anehnya, dia sendiri enggan untuk kemudian mempelajari buku-buku dan karya ulama bermadzhab Syafii. Ujung-ujungnya, dia hanya bisa bertanya kepada ustadz atau kiyai yang dia yakini bermadzhab Syafii. Anda tahu bagaimana hasilnya?</p>
<p>Ya, sejatinya orang ini tidak menganut madzhab Imam Syafii, tapi menganut madzhab sang kiyai atau ustadznya. Dus.., omong kosong ketika dia mengaku-aku dan merasa bangga dengan madzhab Syafii, sementara dia sendiri tidak mengenal madzhab Imam Syafii. Karena itu, Anda tidak perlu heran, ketika banyak pendapat masyarakat syafiiyah di tempat kita, yang justru bertentangan dengan pendapat imam madzhabnya. Salah satu contohnya adalah dalam masalah peringatan kematian. Mereka yang membela dan melestarikannya, semuanya mengaku bermadzhab Syafii. Padahal Imam Syafii dan ulama madzhab syafiiyah sendiri menentangnya.</p>
<p>Anda bisa baca keterangan ini lebih panjang di: <strong><em><a title="menghadiahkan pahala sedekan untuk mayit" href="http://www.konsultasisyariah.com/menghadiahkan-pahala-sedekah-untuk-mayit/" target="_blank">Menghadiahkan Pahala Sedekah untuk Mayit</a></em></strong></p>
<p>Karena itu, yang lebih penting bukan Anda mengaku bermadzhab apa. Tapi yang lebih penting adalah belajar dan belajar. Memahami agama ini dari sumber-sumbernya. Dengan demikian, Anda akan bisa menimbang, manakah diantara semua pendapat itu yang lebih mendekati kebenaran. Dengan demikian Anda bisa mengambil sikap dengan penuh keyakinan, karena Anda tahu dasarnya. Dari pada menjadi orang awam, yang kebingungan dan terombang-ambing dalam lautan perselisihan.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, makna kata <strong>madzhab</strong></p>
<p>Agar kita bisa memahami lebih sempurna, terlebih dahulu kita pahami makna kata madzhab. Secara bahasa, madzhab artinya tujuan keberangkatan. Kemudian kata ini mengalami perubahan, sehingga digunakan untuk menyebut kesimpulan hukum yang menjadi tujuan akhir pembahasan, sebagaimana keterangan al-Munawi dalam <em>at-Tawqif</em>.</p>
<p>Ad-Dasuqi dalam hasyiahnya untuk <em>asy-Syarhul</em> <em>Kabir</em> mengatakan,</p>
<p class="arab">مَذْهَبَ مَالِكٍ مَثَلًا عِبَارَةٌ عَمَّا ذَهَبَ إلَيْهِ مِنْ الْأَحْكَامِ الِاجْتِهَادِيَّةِ</p>
<p>Madzhab Malik berarti ungkapan untuk menyebut semua hukum hasil ijtihad yang menjadi pendapat Imam Malik (<em>Hasyiyah ad-Dasuqi &#8216;ala asy-Syarh al-Kabir</em>, 1:49).</p>
<p>Atau denagn kalimat yang lebih ringkas, madzhab = pendapat. Bermadzhab, berarti mengikuti pendapat. Bermadzhab Syafii, artinya mengikuti pendapat Imam asy-Syafii, dst.</p>
<p>Dengan demikian, seorang mungkin saja mengikuti banyak madzhab, dalam berbagai ibadahnya. Bahkan dalam satu kali shalat yang dia lakukan. Bisa saja orang shalat dengan cara takbir menurut madzhab Hanafi, sedekap menurut madzhab Maliki, rukuk dengan madzhab Syafii, dan i&#8217;tidal dengan madzhab Hambali. Kita tentu yakin, ada salah satu dari sekian tata cara dari masing-masing madzhab tersebut yang lebih mendekati kebenaran. Sehingga kita bisa mengambil kesimpulan, tidak mungkin ada satu madzhab yang pendapatnya benar secara mutlak.</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, kita sepakat bahwa Imam yang empat, Abu Hanifah, Malik bin Anas, Muhammad bin Idris asy-Syafii, dan Ahmad bin Hambal <em>rahimahumullah</em>, mereka semua adalah imam dan panutan bagi kaum muslimin generasi setelahnya. Allah jadikan pendapat mereka diterima di hati kaum muslimin, dari generasi ke generasi.</p>
<p>Namun kita juga sepakat bahwa ijtihad tidak hanya terbatas pada empat ulama ini. Karena Islam tidak mungkin hanya berkutat pada pendapat empat imam ini. Masih banyak ulama lain yang sekelas dengan mereka, semacam ats-Tsauri, al-Auza&#8217;I, Ibnul Mubarak, Ishaq bin Rahuyah, Ibnu Uyainah, Ibnu Mahdi, Yahya bin Qathan, dll.</p>
<p>Untuk itulah, para imam tersebut tidak pernah berharap agar madzhabnya disikapi sebagaimana syariah yang maksum dari kesalahan. Demikian pula, mereka sama sekali tidak bermaksud untuk memaksa orang lain agar mengikuti pendapatnya. Bahkan mereka menolak ketika ada orang lain yang mengambil pendapatnya, tanpa mengetahui dalil yang menjadi dasar mereka.</p>
<p>Berikut diantara wasiat mereka,</p>
<p>Imam Abu Hanifah mengatakan,</p>
<p class="arab">إذا قلت قولا يخالف كتاب الله تعالى وخبر الرسول صلى الله عليه و سلم فاتركوا قولي</p>
<p>&#8220;Jika saya menyampaikan pendapat yang bertentangan denagn Al-Quran dan hadis Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, maka tinggalkanlah pendapatku.&#8221; (<em>Iqadzul Himam al-Fallani</em>, hlm. 50, dari <em>Shifat Shalat</em> <em>Nabi</em>, hlm. 48).</p>
<p>Imam Malik pernah berpesan:</p>
<p class="arab">ليس أحد بعد النبي صلى الله عليه و سلم إلا ويؤخذ من قوله ويترك إلا النبي صلى الله عليه و سلم</p>
<p>Siapapun setelah Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, pendapatnya layak diambil atau ditolak. Kecuali keterangan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> (<em>al-Jami&#8217; Ibnu Abdil Bar</em>, 2:91, dari <em>Shifat Shalat</em> Nabi, hlm. 49).</p>
<p>Imam asy-Syafii mangatakan,</p>
<p class="arab">كل ما قلت فكان عن النبي صلى الله عليه و سلم خلاف قولي مما يصح فحديث النبي أولى فلا تقلدوني</p>
<p>Semua pendapatku, namun keterangan dari Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bertentangan dengan pendapatku maka hadis Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> lebih layak diikuti dan janganlah taqlid kepadaku. (Riwayat Ibnu Asakir dengan sanad shahih, dari <em>Shifat Shalat Nabi</em>, hlm. 52)</p>
<p>Imam Ahmad berpesan,</p>
<p class="arab">لا تقلدني ولا تقلد مالكا ولا الشافعي ولا الأوزاعي ولا الثوري وخذ من حيث أخذوا</p>
<p>&#8220;Janganlah kalian taqlid kepada aku, jangan pula taqlid kepada Malik, As-Syafii, Al-Auzai, At-Tsauri. Ambillah dari mana mereka mengambil.&#8221; (<em>I&#8217;lam al-Muwaqi&#8217;in</em>, 2:201).</p>
<p>Kita bisa memastikan, bagaimana semangat mereka dalam mengajarkan kebaikan kepada umat. Sama sekali bukan dalam rangka membangun kelompok baru, bukan pula menciptakan perbedaan di kalangan umat.</p>
<p><strong>Keempat</strong>, mengapa hanya 4 ini yang terkenal?</p>
<p>Diantara balasan yang kebaikan yang Allah berikan kepada mereka, atas jasa besar mereka bagi kaum muslimin, Allah abadikan karya mereka dan pendapat mereka melebihi ulama lainnya. Sebagaimana yang dinyatakan Imam Malik,</p>
<p class="arab">ما كان لله بقي</p>
<p>&#8220;Sesuatu yang murni untuk Allah maka akan lebih langgeng&#8221;</p>
<p>Allah ciptakan para murid yang menimba ilmu dari mereka, mengabadikan pendapat dan perjalanan hidup mereka. Para murid itu mencatat pendapat mereka, penjelasan mereka, tanya jawab bersama mereka, termasuk prinsip mereka dalam berijtihad. Sehingga sejarah kehidupan, ideologi, dan pemahaman mereka dikenang oleh masyarakat generasi setelahnya.</p>
<p>Dalam perjalanannya, para ulama generasi selanjutnya, berusaha meniru metodologi mereka dalam berijtihad dan mengambil kesimpulan hukum. Mereka lebih mengikuti pada prinsip para imam dalam menyimpulkan pendapat, ketimbang mengikuti pendapat sang imam. Sehingga terbentuklah metodologi menggali kesimpulan dalil yang membedakan mereka dengan madzhab yang lainnya. Mengingat 4 orang ini yang lebih banyak pengikutnya, jadilah madzhab 4 imam ini lebih dikenal dibandingkan ulama lain yang sezaman dengan mereka.</p>
<p><strong>Kelima</strong>, haruskah kita taqlid kepada madzhab?</p>
<p>Ketika menjelaskan tentang hukum taqlid madzhab, Dr. Abdullah al-Judai mengatakan,</p>
<p class="arab">أنَّ النَّاسَ صنفَانِ، عالمٌ مجتهدٌ، وَعَامِيٌّ مقلِّدٌ، فأمَّا المجتهدُ فقدْ امتنعَ عليهِ التَّقليدُ ما دامَ قادرًا على الاجتهادِ، وأمَّا المقلَّدُ فإنَّه مأمورٌ بسؤالِ من يقدرُ على سُؤالهِ من أهلِ العلمِ، ولا يتقيَّدُ بمذهبٍ من المذاهبِ الأربعَةِ، وإنَّما هو كما يقولُ بعضُ العلماءِ: (مذهبُهُ مَذهبُ من يسْتَفتِيهِ) ، وعلَى هذا أكثرُ أهلِ العلمِ.</p>
<p>Sesungguhnya manusia terbagi menjadi dua golongan: Alim mujtahid dan Awam yang taqlid. Seorang mujtahid, dia tidak diperbolehkan untuk taqlid selama dia masih mampu untuk berijtihad. Sementara orang yang taqlid, dia diperintahkan untuk bertanya kepada ulama yang mampu menjawab pertanyaannya. Dan tidak harus terikat dengan madzhab tertentu dari empat madzhab di atas. Statusnya sebagaimana yang dikatakan sebagian ulama: &#8220;Madzhabnya orang awam sama denagn madzhabnya orang yang dia mintai fatwa.&#8221; Inilah yang menjadi pegangan para ulama.</p>
<p>Kemudian beliau melanjutkan,</p>
<p class="arab">لكنَّ التَّتلمُذَ لمن يقصِدُ تحصيلَ آلَةِ الاجتهادِ على مذهبِ من هذهِ المذاهبِ لأجلِ ما وقعَ من العِنايَةِ بها مشروعٌ صحيحٌ؛ نظرًا لما يُحقِّقُ من المصالحِ العظيمَةِ في مراتِبِ العلمِ، ولا ضرُورَةَ لتسميَّتِهِ تقليدًا</p>
<p>Namun, orang yang berusaha menggali untuk mendapatkan metodologi berijtihad menurut salah satu madzhab dalam rangka memberikan perhatian kepadanya, hukumnya disyariatkan dan dibenarkan. Mengingat terwujudnya kemaslahatan yang besar dengan adanya penerapan tingkatan ilmu. Dan tidak masalah jika bentuk semacam ini disebut <a title="taqlid" href="http://yufid.tv/video-nasihat-islam-mengemudi-kendaraan-karena-taqlid/" target="_blank" rel="nofollow"><strong>taqlid</strong></a>.</p>
<p class="arab">فإنْ كانَ في مراحِل العلمِ فلهُ بعضُ الحالِ يشبَهُ العامِّيَّ فيأخُذُ حُكمَهُ المذكُورَ آنفًا، ولهُ حالٌ يشبهُ المُجتهِدَ فيأخُذُ حُكمَهُ كذلكَ.</p>
<p>Kaitannya dengan tingkatan ilmu, ulama yang mengkaji madzhab terkadang pada satu keadaan sama dengan orang awam. Sehingga berlaku hukum baginya sebagaimana yang telah disebutkan. Dan terkadang dia berada pada keadaan seperti layaknya mujtahid, sehingga berlaku hukum mujtahid baginya. (<em>Taisir Ilmi Ushul Fiqh</em>, 394 – 395).</p>
<p>Dari keterangan beliau, kita bisa mengambil kesimpulan</p>
<p>a. Manusia bertingkat-tingkat keilmuannya, ada yang awam, ada yang secara khusus belajar agama, ada yang ulama mujtahid, dan ada yang menjadi mujtahid mutlak.</p>
<p>b. <a title="taqlid" href="http://kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Syeikh%20Abu%20Usamah%20Az-Zahabi/Bahaya%20Taqlid%20Buta%20%28Kajian%20di%20Lombok%29" target="_blank" rel="nofollow">Taqlid</a> yang dilakukan seseorang, sesuai dengan tingkatan ilmunya. Taqlid yang dilakukan orang awam, jelas berbeda dengan taqlid yang dilakukan mereka yang sedang belajar. Demikian pula taqlidnya seorang penuntut ilmu, tentu berbeda dengan taqlidnya ulama di atasnya, dst.</p>
<p>c. Dari tingkatan keilmuan itu pula, ada orang yang taqlidnya mentahan. Dia hanya menerima hasil akhir, tanpa tahu dalilnya sepeserpun. Itulah model taqlid orang awam. Kemudian ada yang taqlid hanya pada bagian metodologi berfikir dan berijtihad, sehingga ketika mendapatkan kasus tertentu, dia bisa gunakan metodologi itu untuk mendapatkan jawabannya. Itulah tingkatan taqlid yang dilakukan ulama yang menisbahkan dirinya kepada madzhab tertentu.</p>
<p>Kemudian, tidak lupa Dr. Abdullah al-Judai memberikan persyaratan ketika seseorang hendak taqlid kepada madzhab tertentu,</p>
<p class="arab">أمَّا الانتِسابُ بسببِ التَّلقِّي إلى واحدٍ من هذهِ المذاهبِ، فشرْطُ جوازِهِ أنْ لا يقترِنَ بعصبيَّةٍ</p>
<p>&#8220;Adapun menisbahkan diri pada <a title="madzhab" href="http://konsultasisyariah.com/haruskah-kita-bermadzhab" target="_blank" rel="nofollow">madzhab</a> tertentu, disebabkan dia mengambil banyak ilmu dari salah satu madzhab, hukumnya boleh dengan syarat tidak diiringi dengan ta&#8217;asub (taqlid buta).&#8221; (<em>Taisir Ilmi Ushul Fiqh</em>, hlm. 395).</p>
<p>Yang dimaksud taqlid buta di sini adalah memegangi semua pendapat madzhab tersebut, tanpa peduli benar dan salahnya.</p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam</em></p>
<h3><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a title="rubrik kesehatan dan tanya jawab pendidikan islam" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a>)</strong></h3>
<p><strong>Saksikan video tausyaiah ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, MA tentang taqlid:</strong></p>
<p><iframe src="http://www.youtube.com/embed/wbB-CXVxlA4?rel=0" height="264" width="470" frameborder="0"></iframe></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/haruskah-kita-bermadzhab/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Perayaan Halloween dalam Islam</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/hukum-perayaan-halloween-dalam-islam/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/hukum-perayaan-halloween-dalam-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Nov 2012 22:48:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>
		<category><![CDATA[Firqoh]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=14690</guid>
		<description><![CDATA[Perayaan Halloween dengan Kostum Iblis dan Setan dalam Tinjauan Islam Pertanyaan: Assalaamu&#8217;alaikum, Ana mohon penjelasan mengenai hukum perayaan Halloween di tempat kursus-kursus dan sekolah-sekolah. Perayaannya memang meriah dan menyenangkan bagi..]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2>Perayaan Halloween dengan Kostum Iblis dan Setan dalam Tinjauan Islam</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Assalaamu&#8217;alaikum,</em><br />
Ana mohon penjelasan mengenai hukum <strong>perayaan Halloween</strong> di tempat kursus-kursus dan sekolah-sekolah.<br />
Perayaannya memang meriah dan menyenangkan bagi anak-anak tapi mereka berkostum seram tapi lucu seperti pasukan-pasukan <strong>Iblis dan Setan</strong>. Jazakumullah khairan.</p>
<p><em>Dari: Maulana Malik</em><br />
<span id="more-14690"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa &#8216;alaikumus salam</em></p>
<p>Dalam wikipedia dinyatakan,</p>
<p>&#8220;<strong>Halloween</strong> atau Hallowe’en adalah tradisi perayaan malam tanggal 31 Oktober, dan terutama dirayakan di Amerika Serikat. Tradisi ini berasal dari Irlandia, dan dibawa oleh orang Irlandia yang beremigrasi ke Amerika Utara. Halloween dirayakan anak-anak dengan memakai kostum seram, dan berkeliling dari pintu ke pintu rumah tetangga meminta permen atau cokelat sambil berkata &#8220;Trick or treat!&#8221; Ucapan tersebut adalah semacam &#8220;ancaman&#8221; yang berarti &#8220;Beri kami (permen) atau kami jahili.&#8221; Di zaman sekarang, anak-anak biasanya tidak lagi menjahili rumah orang yang tidak memberi apa-apa. Sebagian anak-anak masih menjahili rumah orang yang pelit dengan cara menghiasi pohon di depan rumah mereka dengan tisu toilet atau menulisi jendela dengan sabun.</p>
<p>Halloween identik dengan <strong>setan</strong>, penyihir, hantu goblin dan makhluk-makhluk menyeramkan dari kebudayaan Barat. <strong>Halloween</strong> disambut dengan menghias rumah dan pusat perbelanjaan dengan simbol-simbol Halloween. [<a title="Halloween" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Halloween" target="_blank" rel="nofollow"><em>http://id.wikipedia.org/wiki/Halloween</em></a>]
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.konsultasisyariah.com/perayaan-hari-halloween/perayaan-halloween/" rel="attachment wp-att-14660"><img class="aligncenter  wp-image-14660" title="perayaan halloween" src="http://www.konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2012/11/perayaan-halloween.jpg" alt="perayaan halloween" width="411" height="309" /></a></p>
<p>Terlepas dari siapa pencetusnya dan bagaimana sejarahnya, keterangan di atas memberikan kesimpulan kepada kita bahwa:</p>
<p>1. Hari helloween murni dari tradisi orang kafir.<br />
2. Hari helloween dimeriahkan secara berkala setiap tahun oleh orang kafir.<br />
3. Acaranya hanya sebatas main-main, tanpa ada unsur ritual ibadah.</p>
<p>Kaidah baku yang berlaku dalam syariat bahwa segala sesuatu yang diperingati secara berkala maka itu termasuk <a title="hari raya" href="http://www.konsultasisyariah.com/kesimpulan-hukum-untuk-hari-raya-di-hari-jumat/" target="_blank"><strong>hari raya</strong></a>, meskipun di sana tidak ada unsur ibadah atau <strong>ritual kesyirikan</strong>. Bahkan meskipun isinya hanya main-main dan iseng. Terlebih ketika perayaan semacam ini dihiasi dengan gambar yang melambangkan pasukan iblis, yang jelas-jelas itu adalah musuh kita semua.<br />
Beberapa catatan yang bisa kami berikan tentang fenomena semacam ini:</p>
<p><strong>Pertama,</strong> turut merayakan hari raya sekelompok umat, sama dengan meniru kebiasaan mereka. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> melarang kita untuk meniru kebiasaan orang jelek, termasuk orang kafir. Beliau bersabda,</p>
<p class="arab">من تشبه بقوم فهو منهم</p>
<p><em>“Siapa yang meniru kebiasaan satu kaum maka dia termasuk bagian dari kaum tersebut.”</em> (Hadis shahih riwayat Abu Daud)</p>
<p>Abdullah bin Amr bin Ash mengatakan,</p>
<p class="arab">من بنى بأرض المشركين وصنع نيروزهم ومهرجاناتهم وتشبه بهم حتى يموت خسر في يوم القيامة</p>
<p><em>“Siapa yang tinggal di negeri kafir, ikut merayakan Nairuz dan Mihrajan (hari raya orang majusi), dan meniru kebiasaan mereka, sampai mati maka dia menjadi orang yang rugi pada hari kiamat.”</em></p>
<p><strong>Kedua,</strong> mengikuti hari raya mereka termasuk bentuk loyalitas dan menampakkan rasa cinta kepada mereka. Padahal Allah melarang kita untuk menjadikan mereka sebagai kekasih (baca: memberikan loyalitas) dan menampakkan cinta kasih kepada mereka. Allah berfirman,</p>
<p class="arab">يا أيها الذين آمنوا لا تتخذوا عدوي وعدوكم أولياء تلقون إليهم بالمودة وقد كفروا بما جاءكم من الحق … …</p>
<p><em>“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (rahasia), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu..”</em> (QS. Al-Mumtahanan: 1)</p>
<p>Terlebih, dalam perayaan helloween diiringi dengan membangga-banggakan setan. Memasang semua gambar setan di setiap asesoris mereka.</p>
<p><strong>Ketiga,</strong> meskipun tidak ada unsur ritual peribadatan, perayaan orang kafir tidak boleh dimeriahkan orang mukmin.<br />
Ketika Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> datang di kota Madinah, penduduk kota tersebut merayakan dua hari raya, Nairuz dan Mihrajan. Beliau pernah bersabda di hadapan penduduk madinah,</p>
<p class="arab">قدمت عليكم ولكم يومان تلعبون فيهما إن الله عز و جل أبدلكم بهما خيرا منهما يوم الفطر ويوم النحر</p>
<p><em>“Saya mendatangi kalian dan kalian memiliki dua hari raya, yang kalian jadikan sebagai waktu untuk bermain. Padahal Allah telah menggantikan dua hari raya terbaik untuk kalian; idul fitri dan idul adha.”</em> (HR. Ahmad, Abu Daud, dan Nasa’i).</p>
<p>Perayaan Nairuz dan Mihrajan yang dirayakan penduduk madinah, isinya hanya bermain-main dan makan-makan. Sama sekali tidak ada unsur ritual sebagaimana yang dilakukan orang majusi, sumber asli dua perayaan ini. Namun mengingat dua hari tersebut adalah perayaan orang kafir, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarangnya. Sebagai gantinya, Allah berikan dua hari raya terbaik:<a title="idul fitri dan idul adha" href="http://www.konsultasisyariah.com/?s=idul+fitri#axzz2AlZCOUIC" target="_blank"><em> Idul Fitri dan Idul Adha</em></a>.</p>
<p>Untuk itu, turut bergembira dengan perayaan orang kafir, meskipun hanya bermain-main, tanpa mengikuti ritual keagamaannya, termasuk perbuatan yang telarang, karena termasuk turut mensukseskan acara mereka.</p>
<p><strong>Keempat,</strong> Allah berfirman menceritakan keadaan ‘ibadur rahman (hamba Allah yang pilihan),</p>
<p class="arab">و الذين لا يشهدون الزور …</p>
<p><em>“Dan orang-orang yang tidak turut dalam kegiatan az-Zuur…”</em></p>
<p>Sebagian ulama menafsirkan kata ‘az-Zuur’ pada ayat di atas dengan hari raya orang kafir. Artinya berlaku sebaliknya, jika ada orang yang turut melibatkan dirinya dalam hari raya orang kafir berarti dia bukan orang baik.</p>
<p>Allahu a&#8217;lam</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a title="konsultasi syariah agama islam dan rubrik kesehatan" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">Konsultasi Syariah.com</a>)</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/hukum-perayaan-halloween-dalam-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Warga NU Shalat di Masjid Muhammadiyah</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/warga-nu-shalat-di-masjid-muhammadiyah/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/warga-nu-shalat-di-masjid-muhammadiyah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Sep 2012 00:14:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Firqoh]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=14034</guid>
		<description><![CDATA[Sahkah Shalat Orang NU di Masjid Muhammadiyah Pertanyaan: Assalamu’alaikum Ustad. Saya adalah pengikut golongan NU. Yang saya mau tanyakan, apa boleh seorang NU shalat di mushola/masjid Muhammadiyah? Terima kasih. Dari:..]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2>Sahkah Shalat Orang NU di Masjid Muhammadiyah</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Assalamu’alaikum Ustad.</p>
<p>Saya adalah pengikut <strong>golongan NU</strong>. Yang saya mau tanyakan, apa boleh seorang <strong>NU</strong> shalat di mushola/masjid <strong>Muhammadiyah</strong>?</p>
<p>Terima kasih.</p>
<p>Dari: Anas<br />
<span id="more-14034"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Wa’alaikumussalam</p>
<p>Kita semua sepakat, baik muhammadiyah maupun NU, mereka semua adalah muslim. Untuk itu, amal ibadah mereka sah selama memenuhi syarat dan rukunnya, serta memungkinkan diterima oleh Allah <em>ta&#8217;ala</em>.</p>
<p>Terdapat satu kaidah yang masyhur terkait masalah shalat jamaah. kaidah itu menyatakan:</p>
<p class="arab">من صحت صلاته صحت إمامته</p>
<p>&#8220;Orang yang shalatnya sah, maka shalat dengan bermakmum di belakangnya juga sah&#8221;</p>
<p>Oleh karena itu, selama sang imam shalat adalah orang yang aqidahnya lurus, tidak melakukan perbuatan yang menyebabkan syahadatnya batal, alias masih muslim, syarat, rukun, dan wajib shalat dikerjakan maka shalatnya sah. Meskipun ada perbedaan pendapat antara imam dan makmum dalam masalah rincian shalat.</p>
<p>Kita akui dalam masalah fikih shalat, ada beberapa perbedaan antara Muhammadiyah dengan NU. Bahkan tidak hanya dua organisasi ini. Perbedaan ini juga terjadi antar-madzhab dalam fikih. Kendatipun demikian, shalat mereka tetap sah, selama syarat, rukun dan wajib shalat terpenuhi.</p>
<p>Sejatinya NU dan Muhammadiyah hanyalah ormas dalam Islam. Mereka memiliki AD/ART agar ormas bisa turut menghasung gerakan dakwah Islam. Namun sayangnya, sebagian kaum muslimin anggota ormas-ormas tersebut kurang bijak dalam memahami hakikat ormas, mereka memunculkan sikap fanatik golongan, sampai menjadikan ormas sebagai sumber syariat atau minimal standar teman adalah anggota ormas. Siapapun dia, selama dia sama-sama anggota ormas, maka dia adalah teman dekat. Sebaliknya, sebaik apapun orang, jika bukan sama-sama anggota ormas maka dia tidak layak untuk dijadikan teman dekat, ini sebagian contohnya. Sehingga ketika muncul sedikit masalah, bisa menjadi sumber ketegangan.</p>
<p>Semacam ini pernah terjadi diantara Muhajirin dan Anshar. Suatu ketika ada orang Anshar yang tersakiti hatinya oleh sikap orang Muhajirin. Diapun marah besar, kemudian memanggil teman-teman Anshar: &#8220;Wahai masyarakat Anshar..!!&#8221; Spontan orang Muhajirin langsung memanggil temannya juga: &#8220;Wahai masyarakat Muhajirin..!!&#8221; Mendengar teriakan-teriakan itu, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> langsung keluar menyelai:</p>
<p class="arab">مَا بَالُ دَعْوَى الجَاهِلِيَّةِ</p>
<p>&#8220;<em>Apa yang kalian lakukan denagn meneriakkan nama kelompok kalian&#8230;</em>&#8221;</p>
<p>Beliaupun diberi tahu, bahwa ada orang Muhajirin dan Anshar yang saling memukuli pantatnya. Selanjutnya Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p class="arab">دَعُوهَا فَإِنَّهَا خَبِيثَةٌ</p>
<p>&#8220;<em>Tinggalkan teriakan itu, karena itu sesuatu yang buruk</em>.&#8221; (HR. Bukhari 4905 dan Muslim 1059)</p>
<p>Selanjutnya kita perlu mewaspadai segala godaan setan yang hendak memecah belah umat. Kita jadikan usaha dakwah kita untuk mengagungkan nama Allah, bukan untuk membesarkan organisasi dan kelompok.</p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a title="NU dan Muhammadiyah" href="http://konsultasisyariah.com/warga-nu-shalat-di-masjid-muhammadiyah" target="_blank" rel="nofollow">KonsultasiSyariah.com</a>)</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/warga-nu-shalat-di-masjid-muhammadiyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Melawan Ideologi (teroris) dengan Ideologi (islam)</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/melawan-ideologi-teroris-dengan-ideologi-islam/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/melawan-ideologi-teroris-dengan-ideologi-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Sep 2012 06:28:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>
		<category><![CDATA[Firqoh]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=14030</guid>
		<description><![CDATA[Ideologi Teroris Vs Ideologi Islam Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, wa ba’du Di masa khalifah rasyidin terakhir, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu &#8216;anhu, muncul sekelompok kaum muslimin yang..]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2>Ideologi Teroris Vs Ideologi Islam</h2>
<p><em>Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, wa ba’du</em></p>
<p>Di masa khalifah rasyidin terakhir, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu &#8216;anhu, muncul sekelompok kaum muslimin yang menolak kesepakatan antara Ali dengan Muawiyah. Dalam posisi ekstrim, mereka mengkafirkan semua sahabat yang berpihak di kubu Ali maupun Muawiyah. Jadilah mereka kubu ketiga. Itulah kelompok khawarij.<br />
<span id="more-14030"></span><br />
Mereka bukan orang munafik. Mereka bukan orang yang malas beribadah. Sebaliknya banyak diantara mereka yang hafal Al-Quran. Dan hampir semuanya menghabiskan waktu malamnya hanya untuk membaca Al-Quran, berdzikir dan tahajud.</p>
<p>Peristiwa tahkim, kesepakatan damai antara Ali dengan Muawiyah radhiyallahu &#8216;anhuma, yang diwakilkan kepada dua sahabat Abu Musa Al-Asy’ari dan Amr bin Ash radhiyallahu &#8216;anhuma, menjadi pemicu sebagian masyarakat yang sok tahu dengan dalil untuk mengkafirkan Ali bin Abi Thalib. Karena peristiwa ini, pada saat Ali bin Abi Thalib berkhutbah, banyak orang meneriakkan:</p>
<p class="arab">لَا حُكْمَ إِلَّا لِلَّهِ</p>
<p>“Tidak ada hukum, kecuali hanya milik Allah.”</p>
<p>Mereka beranggapan, Ali telah menyerahkan hukum kepada manusia (Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu &#8216;anhu)</p>
<p>Mendengar celoteh banyak orang yang memojokkan beliau dengan kalimat di atas, Ali hanya memberikan komentar:</p>
<p class="arab">كَلِمَةُ حَقٍّ أُرِيدَ بِهاَ بَاطِل</p>
<p>“Kalimat yang benar, namun maksudnya batil”</p>
<p>Ali bin Abi Thalib tidak mengingkari kalimat tersebut. Tapi beliau menyalahkan tafsir yang menyimpang dari mereka yang sok tahu dengan dalil (Khawarij). [Simak Huqbah min At-Tarikh, Syaikh Utsman Al-Khamis, hlm. 122 – 124]
<p>Terjadilah perang ideologi antara Ali bin Abi Thalib dengan orang Khawarij. Masing-masing membawa dalil. Bagaimana politik Amirul Mukminin, Ali bin Abi Thalib?</p>
<p>Bukan pedang yang maju lebih dulu. Beliau juga tidak membentuk pasukan khusus untuk memberangus mereka. Tidak juga ada badan intelegen untuk mengintai mereka. Tapi, Ali mengajak mereka untuk untuk berdialog. Meluruskan kesalah-pahaman tentang Al-Quran yang mereka yakini. Ideologi dilawan dengan ideologi.</p>
<p>Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya (no. 656), dari Abdullah bin Syaddad. Dalam riwayat yang panjang itu diceritakan:</p>
<p class="arab">فَبَعَثَ إِلَيْهِمْ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَبْدَ اللهِ بْنَ عَبَّاسٍ , فَخَرَجْتُ مَعَهُ حَتَّى إِذَا تَوَسَّطْنَا عَسْكَرَهُمْ قَامَ ابْنُ الْكَوَّاءِ فَخَطَبَ النَّاسَ فَقَالَ: يَا حَمَلَةَ الْقُرْآنِ إِنَّ هَذَا عَبْدَ اللهِ بْنَ عَبَّاسٍ , فَمَنْ لَمْ يَكُنْ يَعْرِفُهُ فَأَنَا أَعْرِفُهُ مِنْ كِتَابِ اللهِ , هَذَا مَنْ نَزَلَ فِيهِ وَفِي قَوْمِهِ {بَلْ هُمْ قَوْمٌ خَصِمُونَ} [الزخرف: 58] , فَرُدُّوهُ إِلَى صَاحِبِهِ , وَلَا تُوَاضِعُوهُ كِتَابَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، قَالَ: فَقَامَ خُطَبَاؤُهُمْ فَقَالُوا: وَاللهِ لَنُوَاضِعَنَّهُ كِتَابَ اللهِ , فَإِذَا جَاءَنَا بِحَقٍّ نَعْرِفُهُ اتَّبَعْنَاهُ , وَلَئِنْ جَاءَنَا بِالْبَاطِلِ لَنُبَكِّتَنَّهُ بِبَاطِلِهِ , وَلَنَرُدَّنَّهُ إِلَى صَاحِبِهِ , فَوَاضَعُوهُ عَلَى كِتَابِ اللهِ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ , فَرَجَعَ مِنْهُمْ أَرْبَعَةُ آلَافٍ , كُلُّهُمْ تَائِبٌ</p>
<p>Ali bin Abi Thalib radhiyallahu &#8216;anhu mengutus Abdullah bin Abbas. Akupun (Abdullah bin Syaddad) ikut bersama beliau. Setelah kami sampai di tengah-tengah pasukan mereka, datanglah Ibnul Kawa’ (gembong khawarij), dan berceramah:</p>
<p>“Wahai para ahli Al-Quran, inilah Abdullah bin Abbas. Siapa yang belum mengenalnya, sungguh saya telah mengenalnya dari Al-Quran. Dia adalah orang, dimana Allah menurunkan ayat tentang dirinya dan kaumnya,</p>
<p class="arab">بَلْ هُمْ قَوْمٌ خَصِمُونَ</p>
<p><em>“Mereka adalah orang yang suka berdebat (ngeyel).”</em> (QS. Az-Zukhruf: 58).</p>
<p>Usir dia untuk kembali ke temannya (Ali) dan jangan diajak diskusi tentang kitab Allah.”</p>
<p>Namun tokoh khawarij lainnya bersikap sebaliknya, mereka mengatakan: “Demi Allah, sungguh kami akan berdiskusi dengannya tentang kitab Allah. Jika dia datang dengan membawa kebenaran yang kami kenal maka kami akan mengikutinya. Tapi jika dia datang dengan membawa kebatilan, akan kami lemparkan dia dengan kebatilannya, dan kami usir kembali ke temannya (Ali bin Abi Thalib).”<br />
Merekapun berdiskusi dengan Ibnu Abbas tentang Al-Quran selama tiga hari (untuk mencari titik tengah mengenai peristiwa tahkim), akhirnya ada 4000 orang diantara mereka yang insaf, dan semuanya bertaubat. (HR. Ahmad, Tahqiq Ahmad Syakir, no. 656 dan beliau mengatakan: Sanadnya shahih).</p>
<p>Seperti yang kita pahami, mereka yang mengkafirkan pemerintah, bukan orang yang buta huruf Al-Quran. Para calon pengantin bidadari dengan bom bunuh diri, bukan orang yang benci islam. Mereka belajar, bahkan mereka menulis buku-buku tebal untuk membela ideologinya. Mereka melakukan teror itu, 100% atas dasar mengamalkan Al-Quran dan sunah. Itulah ideologi.</p>
<p>Memang kita tidak sehebat Ali dan Ibnu Abbas. Dan bahkan tidak perlu untuk dibandingkan. Namun setidaknya sikap mereka bisa kita tiru. Ideologi tidak tepat jika hanya dilawan dengan peluru. Ideologi tidak bisa dipenjarakan. Ideologi tidak bisa dilawan dengan kekerasan. Betapa banyak preman-preman mendekam di penjara yang menjadi calon-calon teroris baru. Setelah keluar dari penjara, sasaran mereka selanjutnya adalah pemerintah. Memenjarakan ideologi bisa jadi menularkan ideologi di penjara.</p>
<p><em>Allahu a’lam</em></p>
<p><strong>Oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a title="ideologi teroris" href="http://konsultasisyariah.com/melawan-ideologi-teroris-dengan-ideologi-islam" target="_blank" rel="nofollow">KonsultasiSyariah.com</a>)</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/melawan-ideologi-teroris-dengan-ideologi-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Siapakah Ja’far ash-Shadiq</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/siapakah-jafar-ash-shadiq/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/siapakah-jafar-ash-shadiq/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Sep 2012 22:44:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>
		<category><![CDATA[Firqoh]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=13030</guid>
		<description><![CDATA[Mengenal Imam Ja’far ash-Shadiq Pertanyaan: Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh Ustadz, siapakah imam Ja`far ash-Shadiq dan apakah beliau termasuk Ahlu Sunnah? Syukron Dari: Iwan Jawaban: Wa&#8217;alaikumussalam Ia adalah seorang ulama besar yang..]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2>Mengenal Imam Ja’far ash-Shadiq</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh</p>
<p>Ustadz, siapakah <strong>imam Ja`far ash-Shadiq</strong> dan apakah beliau termasuk Ahlu Sunnah?</p>
<p>Syukron</p>
<p>Dari: Iwan<br />
<span id="more-13030"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
Wa&#8217;alaikumussalam</p>
<p>Ia adalah seorang ulama besar yang masih keturunan Ahli Bait, yang dicatut oleh ahli bid’ah (baca: <a title="syiah" href="http://www.konsultasisyariah.com/alquran-menurut-syiah/" target="_blank"><strong>Syiah</strong></a>) sebagai tokohnya. Padahal jauh panggang dari api. Aqidahnya sangat berbeda jauh dengan aqidah yang selama ini diyakini orang-orang <em>Syiah</em>.</p>
<p><strong>Nasab dan Kepribadiannya</strong><br />
Ia adalah Ja’far bin Muhammad bin Ali Zainal Abidin bin al-Husein bin Ali bin Abi Thalib, keponakan Rasulullah dan suami dari putri beliau Fathimah <em>radhiallahu ‘anha</em>. Lahir di kota Madinah pada tahun 80 H dan wafat di kota yang sama pada tahun 148 H dalam usia 68 tahun.</p>
<p>Ash-Shadiq merupakan gelar yang selalu menetap tersemat padanya. Kata ash-Shadiq itu, tidaklah disebutkan kecuali mengarah kepadanya. Karena ia terkenal dengan kejujuran dalam hadis, ucapan-ucapan dan tindakan-tindakannya. Kedustaan tidak dikenal padanya. Gelar ini pun masyhur di kalangan kaum muslimin. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah acapkali menyematkan gelar ini padanya.</p>
<p><em>Laqab</em> lainnya, ia mendapat gelar al-Imam dan al-Faqih. Gelar ini pun pantas ia sandang. Meski demikian, ia bukan manusia yang <em>ma’shum</em> seperti yang diyakini sebagian ahli bid’ah. Ini dibuktikan, ia sendiri telah menepisnya, bahwa <em>al</em>-‘<em>Ishmah</em> (<em>ma’shum</em>) hanyalah milik Nabi.</p>
<p>Imam Ja’far ash-Shadiq dikaruniai beberapa anak. Mereka adalah: Ismail (putra tertua, meninggal pada tahun 138 H, saat ayahnya masih hidup), Abdullah (dengan namanya, <em>kun</em>-<em>yah</em> ayahnya dikenal), Musa yang bergelar al-Kazhim, Ishaq, Muhammad, Ali, dan Fathimah.</p>
<p>Dia dikenal memiliki sifat kedermawanan dan kemurahan hati yang begitu besar. Seakan merupakan cerminan dari tradisi keluarganya, sebagai kebiasaan yang berasal dari keturunan orang-orang dermawan. Sebagaimana Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> adalah orang yang paling murah hati.</p>
<p>Dalam hal kedermawanan ini, ia seakan meneruskan kebiasaan kakeknya, Zainal Abidin, yaitu bersedekah dengan sembunyi-sembunyi. Dengan sifat kedermawanannya pula, ia melarang terjadinya permusuhan. Dia rela menanggung kerugian yang harus dibayarkan kepada pihak yang dirugikan, untuk mewujudkan perdamaian antara kaum muslimin.</p>
<h2>Perjalanan Keilmuannya</h2>
<p>Imam Ja’far ash-Shadiq, menempuh perjalanan ilmiyahnya bersama dengan ulama-ulama besar. Ia sempat menjumpai sahabat-sahabat Nabi yang berumur panjang, misalnya Sahl bin Sa’id as-Sa’idi dan Anas bin Malik <em>radhiallahu</em> ‘<em>anhum</em>. Dia juga berguru kepada pemuka tabi’in Atha` bin Abi Rabah, Muhammad bin Syihab az-Zuhri, Urwah bin az-Zubair, Muhammad bin al-Munkadir, dan Abdullah bin Abi Rafi’ serta Ikrimah maula Ibnu Abbas. Dia pun meriwayatkan dari kakeknya, al-Qasim bin Muhammad bin Abi Bakr.</p>
<p>Mayoritas ulama yang ia ambil ilmunya berasal dari Madinah. Mereka adalah ulama-ulama kesohor, terpercaya, memiliki ketinggian dalam amanah dan kejujuran.</p>
<p>Sedangkan murid-muridnya yang paling terkenal, yaitu Yahya bin Sa’id al-Anshari, Aban bin Taghlib, Ayyub as-Sakhtiyani, Ibnu Juraij, dan Abu Amr bin al-Ala`. Juga Imam Darul Hijrah, Malik bin Anas al-Ashbahi, Sufyan ats-Tsauri, Syu’bah bin al-Hajjaj, Sufyan bin Uyainah, Muhammad bin Tsabit al-Bunani, Abu Hanifah, dan masih banyak lagi.</p>
<p>Para imam hadis -kecuali al-Bukhari- meriwayatkan hadis-hadisnya pada kitab-kitab mereka. Sementara Imam al-Bukhari meriwayatkan hadisnya di kitab lainnya, bukan di <em>Shahih</em>.</p>
<p>Berkat keilmuan dan kefaqihannya, sanjungan para ulama pun mengarah kepada Imam Ja’far ash-Shadiq.</p>
<p>Abu Hanifah berkata,”Tidak ada orang yang lebih faqih dari Ja’far bin Muhammad.”</p>
<p>Abu Hatim ar-Razi di dalam <em>al-Jarh wa at-Ta’dil</em> 2:487 berkata,”(Dia) <em>tsiqah</em>, tidak perlu dipertanyakan orang sekaliber dia.”</p>
<p>Ibnu Hibban berkomentar: “Dia termasuk tokoh dari kalangan Ahli Bait, ahli ibadah dari kalangan atba’ tabi’in dan ulama Madinah”.</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah memujinya dengan ungkapan: “Sesungguhnya Ja’far bin Muhammad termasuk imam, berdasarkan kesepakatan Ahli Sunnah”. (<em>Minhaju as-Sunnah</em>, 2:245).</p>
<p>Demikian sebagian kutipan pujian dari para ulama kepada Imam Ja’far ash-Shadiq.</p>
<h2>Ja’far ash-Shadiq Tidak Mungkin Mencela Abu Bakar dan Umar</h2>
<p>Adapun <u>Syiah</u>, berbuat secara berlebihan kepada Imam Ja’far ash-Shadiq. Golongan Syiah ini mendaulatnya sebagai imam keenam. Pengakuan mereka, sebenarnya hanya kamuflase. Pernyataan-pernyataan dan aqidah beliau berbeda 180 derajat dengan apa yang diyakini oleh kaum Syiah.</p>
<p>Sebut saja, sikap Imam Ja’far ash-Shadiq terhadap Abu Bakr dan Umar bin al-Kaththab. Kecintaannya terhadap mereka berdua tidak perlu dipertanyakan. Bagaimana tidak, mereka berdua adalah teman dekat kakeknya (yaitu Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>), dan sebagai penggantinya.</p>
<p>Abdul Jabbar bin al-Abbas al-Hamdani berkata, “Sesungguhnya Ja’far bin Muhammad menghampiri saat mereka akan meninggalkan Madinah. Ia berkata, ‘Sesungguhnya kalian, <em>Insya</em> <em>Allah</em> termasuk orang-orang shalih dari Madinah. Maka, tolong sampaikan (kepada orang-orang) dariku, barangsiapa yang menganggap diriku imam <em>ma’shum</em> yang wajib ditaati, maka aku berlepas diri darinya. Barangsiapa menduga aku berlepas diri dari Abu Bakr dan Umar, maka aku pun berlepas diri darinya’.”</p>
<p>Ad-Daruquthni meriwayatkan dari Hanan bin Sudair, ia berkata: “Aku mendengar Ja’far bin Muhammad, saat ditanya tentang Abu Bakr dan Umar, ia berkata, ‘Engkau bertanya tentang orang yang telah menikmati buah dari surga’.”</p>
<p>Pernyataan beliau ini jelas sangat bertolak belakang dengan keyakinan orang-orang Syiah yang menjadikan celaan dan makian kepada Abu Bakr, Umar, dan para sahabat pada umumnya sebagai sarana untuk mendapatkan pahala dari Allah.</p>
<p>Imam Ja’far ash-Shadiq, sangat tidak mungkin mencela mereka berdua. Pasalnya, ibunya, Ummu Farwa adalah putri al Qasim bin Muhammad bin Abi Bakr ash Shiddiq. Sementara neneknya dari arah ibunya adalah, Asma bintu Abdir Rahman bin Abi Bakr. Apabila mereka adalah paman-pamannya, dan Abu Bakr termasuk kakeknya dari dua sisi, maka sulit digambarkan, jika Ja’far bin Muhammad -yang jelas berilmu, berpegang teguh dengan agamanya, dan ketinggian martabatnya, serta memiliki hubungan kekerabatan dengan Nabi- melontarkan cacian dan celaan terhadap kakeknya, Abu Bakr ash-Shiddiq. Ja’far sendiri berkata : “Abu Bakar melahirkan diriku dua kali”.</p>
<p>Apalagi, bila menengok kapasitas keilmuan dan keteguhan agama dan ketinggian martabatnya, sudah tentu akan menghalanginya untuk mencaci-maki orang yang tidak pantas menerimanya.</p>
<h2>Klaim Bohong Syiah atas Ja’far ahs-Shadiq</h2>
<p>Pada masanya, bid’ah Ja’d bin Dirham dan pengaruh Jahm bin Shafwan tengah menyebar. Sebagian kaum muslimin sudah terpengaruh dengan aqidah Alquran sebagai makhluk. Akan tetapi, Ja’far bin Muhammad menyatakan: “Bukan Khaliq (Pencipta), juga bukan makhluk, tetapi Kalamullah”. Aqidah dan pemahaman seperti ini bertentangan dengan golongan Syiah yang mengamini Mu’tazilah, dengan pemahaman aqidahnya, Alquran adalah makhluk.</p>
<p>Artinya, prinsip aqidah yang dipegangi oleh Imam Ja’far ash-Shadiq merupakan prinsip-prinsip yang diyakini para imam Ahli Sunnah wal Jama’ah, dalam penetapan sifat-sifat Allah. Yaitu menetapkan sifat-sifat kesempurnaan bagi Allah sebagaimana yang ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya, serta menafikan sifat-sifat yang dinafikan Allah dan Rasul-Nya.</p>
<p>Ibnu Taimiyyah berkata, “Syiah Imamiyah, mereka berselisih dengan Ahli Bait dalam kebanyakan pemahaman aqidah mereka. Dari kalangan imam Ahli Bait, seperti Ali bin al Husein Zainal Abidin, Abu Ja’far al-Baqir, dan putranya, Ja’far bin Muhammad ash-Shadiq, tidak ada yang mengingkari ru`yah (melihat Allah di akhirat), dan tidak ada yang mengatakan Alquran adalah makhluk, atau mengingkari takdir, atau menyatakan Ali merupakan khalifah resmi (sepeninggal Nabi n), tidak ada yang mengakui para imam dua belas <em>ma’shum</em>, atau mencela Abu Bakr dan Umar.”</p>
<p>Tokoh-tokoh Syiah tempo dulu mengakui, bahwa aqidah tauhid dan takdir (yang mereka yakini) tidak mereka dapatkan, baik melalui Kitabullah, sunah atau para imam Ahli Bait. Sebenarnya, mereka mendapatkannya dari Mu’tazilah. Mereka (kaum Mu’tazilah) itulah guru-guru mereka dalam tauhid dan al-adl”.</p>
<p>Klaim kaum Syiah yang menyatakan pemahaman aqidah mereka berasal dari Ja’far ash-Shadiq atau imam Ahli Bait lainnya, hanyalah merupakan kedustaan, dan mengada-ada belaka. Sehingga tidak salah jika dianggapnya sebagai dongeng-dongeng fiktif, dan bualan kosong yang mereka nisbatkan kepada orang-orang yang mulia itu.</p>
<p>Contoh kedustaan yang dilekatkan kepada beliau, yaitu ucapan “Taqiyah adalah agamaku dan agama nenek-moyangku”. Orang Syiah menjadikannya sebagai prinsip aqidah mereka.</p>
<p>Kedustaan lainnya, keyakinan mereka bahwa Ja’far ash-Shadiq akan kekal abadi, dan tidak meninggal. Ini juga merupakan kesalahan yang parah. Kematian adalah milik setiap orang, dan pasti terjadi. Tidak ada orang, baik dari kalangan Ahli Bait atau lainnya yang mendapatkan hak istimewa hidup abadi di dunia ini.</p>
<p>Bentuk kedustaan mereka merambah buku dan tulisan-tulisan yang diklaim telah ditulis oleh Ja’far ash-Shadiq. Para ulama telah menetapkan kedustaan itu. Ditambah lagi, eranya (80-148 H) termasuk masa yang kering dengan karya tulis. Yang ada, perkataan-perkataan yang diriwayatkan dari mereka saja, tidak sampai dibukukan.</p>
<p>Kaidah yang mesti kita pegangi dalam masalah ini, tidak menerima satu perkataan pun dari ash-Shadiq dan imam-imam lain, juga dari orang lain, kecuali dengan sanad yang bersambung, berisikan orang-orang yang terpercaya dan dikenal dari kalangan para perawi, atau bersesuaian dengan kebenaran dan didukung oleh dalil, maka baru bisa diterima. Selain dari yang itu, tidak perlu dilihat.</p>
<p>Di antara buku yang dinisbatkan kepadanya dengan kedustaan, yaitu kitab <em>Rasailu Ikhawni ash-Shafa</em>, al-Jafr (kitab yang memberitakan berbagai peristiwa yang akan terjadi), <em>‘Ilmu al Bithaqah, Ikhtilaju al A’dha`</em> (menjelaskan pergerakan-pergerakan yang ada di bawah tanah), <em>Qira`atu Alquran Fi al Manam</em>, dan sebagainya.</p>
<p>Golongan Syiah memperkuat kedustaan mereka tentang keotentikan kitab-kitab tersebut, dengan mengambil keterangan dari Abu Musa Jabir bin Hayyan ash-Shufi ath-Tharthusi. Dia ini adalah pakar kimia yang terkenal, meninggal tahun 200 H. Mereka berdalih, bahwa Abu Musa Jabir bin Hayyan telah menyertai Ja’far ash-Shadiq dan menulis berbagai risalah yang berjumlah 500 buah dalam seribu lembar kertas.</p>
<p>Namun, pernyataan ini masih sangat diragukan. Sebab, Jabir ini termasuk muttaham (tertuduh, dipertanyakan) dalam agama dan amanahnya, dan juga kesertaannya bersama Ja’far ash-Shadiq yang meninggal tahun 148 H. Menurut keterangan yang masyhur, Jabir bukan menyertai Ja’far ash-Shadiq, tetapi ia menyertai Ja’far bin Yahya al-Barmaki.</p>
<p>Alasan lainnya yang semakin menjadikan kita ragu akan pernyataan tersebut, Imam Ja’far ash-Shadiq berada di Madinah, sementara itu Jabir bermukim di Baghdad. Kedustaan tersebut semakin jelas jika melihat kesibukan Jabir dengan ilmu-ilmu alamnya, yang tentu sangat berbeda dengan yang ditekuni Imam Ja’far ash-Shadiq.</p>
<p>Oleh karena itu, tulisan-tulisan di atas, tidak bisa dibenarkan penisbatannya kepada Ja’far ash-Shadiq. Ringkasnya, Syiah berdiri di atas kedustaan dan kebohongan. Andaikan benar miliknya, sudah tentu akan diketahui anak-anaknya dan para muridnya, dan kemudian akan menyebar ke berbagai pelosok dunia. <em>Wallahul musta’an.</em></p>
<p>Fakta ini semakin membuktikan bahwa Syiah berdiri di atas gulungan kedustaan dan kebohongan. Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah</em> menyimpulkan:</p>
<p>“Adapun syariat mereka, tumpuannya berasal dari riwayat dari sebagian Ahli Bait seperti Abu Ja’far al-Baqir, Ja’far bin Muhammad ash-Shadiq dan lainnya”.</p>
<p>Tidak diragukan lagi, bahwa mereka adalah orang-orang pilihan milik kaum muslimin dan imam mereka. Ucapan-ucapan mereka mempunyai kemuliaan dan nilai yang pantas didapatkan orang-orang semacam mereka. Tetapi, banyak nukilan dusta ditempelkan pada mereka.</p>
<p><strong>Kaum Syiah</strong> tidak memiliki kemampuan penguasaan dalam aspek <em>isnad</em> dan penyeleksian antara perawi yang <em>tsiqah</em> dan yang tidak. Dalam masalah ini, mereka laksana Ahli Kitab. Semua yang mereka jumpai dalam kitab-kitab, berupa riwayat dari pendahu-pendahulu mereka, langsung diterima. Berbeda dengan Ahli Sunnah, mereka mempunyai kemampuan penguasaan isnad, sebagai piranti untuk membedakan antara kejujuran dengan kedustaan. (<em>Minhaju as-Sunnah</em>, 5:162).</p>
[Diadaptasi dari muqaddimah tahqiq Kitab <em>al Munazharah</em> (Munazharah Ja'far bin Muhammad ash-Shadiq Ma'a ar Rafidhi fi at Tafdhili Baina Abi Bakr wa 'Ali), karya Imam al Hujjah Ja'far bin Muhammad ash-Shadiq, tahqiq 'Ali bin 'Abdul 'Aziz al 'Ali Alu Syibl, Dar al Wathan Riyadh, Cet. I, Th. 1417 H].</p>
<p>(Disalin dari <strong>majalah As-Sunnah</strong> Edisi 05/Tahun X/1427H/2006M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016)</p>
<p><strong>Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/siapakah-jafar-ash-shadiq" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/siapakah-jafar-ash-shadiq/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Benarkah Bom Bunuh Diri Mati Syahid?</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/benarkah-bom-bunuh-diri-mati-syahid/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/benarkah-bom-bunuh-diri-mati-syahid/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Sep 2012 04:51:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ustadz Sufyan Baswedan</dc:creator>
				<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>
		<category><![CDATA[Firqoh]]></category>
		<category><![CDATA[Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=13680</guid>
		<description><![CDATA[Fenomena Bom Bunuh Diri Bismillah… Saya pernah membaca di sebuah pertanyaan di suatu website, yang intinya tentang hukum bom bunuh diri, atau bom syahid(?).  Masalah ini memang bukan masalah sepele,..]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2>Fenomena Bom Bunuh Diri</h2>
<p><em>Bismillah…</em></p>
<p>Saya pernah membaca di sebuah pertanyaan di suatu website, yang intinya tentang<strong> hukum bom bunuh diri</strong>, atau bom syahid(?).  Masalah ini memang bukan masalah sepele, karena fatwa-fatwa yang beredar isinya kontradiktif, yang satu mengharamkan dan menganggapnya sebagai <em>bunuh diri</em> yang pelakunya terancam siksaan berat, sedangkan yang lain membolehkan, atau bahkan menganggapnya sebagai  <em>syahadah fi sabilillah.</em><br />
<span id="more-13680"></span><br />
Lantas bagaimana jawaban dari pemilik website tersebut? Ia mencoba untuk mengkaji masalah tersebut secara historis. Ia mengatakan yang intinya bahwa penggunaan bom di zaman Nabi belum ada, tapi ada beberapa perbuatan yang dilakukan oleh sejumlah sahabat dan tabi’in, yang ‘mengarah’ ke aksi ‘<u>bunuh diri</u>’ mirip <strong>bom bunuh diri</strong> tersebut. Ia mencontohkan dengan kisah Bara’ bin Malik yang melemparkan dirinya ke dalam benteng musuh seorang diri dsb.</p>
<p>Kemudian ia sempat menukil dua jenis fatwa ulama dalam hal ini, yang mengharamkan dan yang membolehkan. Tapi sayang ia tidak menyebut nama mereka, namun sekedar mengatakan bahwa mereka yang mengharamkan kebanyakan adalah ulama-ulama yang tidak berada di medan jihad, sedangkan mereka yang membolehkan kebanyakan adalah ulama-ulama yang berada di medan jihad.</p>
<p><strong>Mari Kita Renungkan Sejenak:</strong></p>
<p>1- Hendaknya dibedakan antara membunuh diri sendiri dengan tangan pribadi, seperti meledakkan bom yang dililit di badan, atau menabrakkan kendaraan berisi peledak yang dikendarainya ke lokasi musuh, atau aksi-aksi sejenis yang 100% berakibat kematian bagi pelakunya; dengan tindakan yang dilakukan oleh para sahabat dan tabi’in, seperti menjatuhkan diri ke tengah-tengah musuh dan berperang sendirian, atau menyeruak ke dalam barisan musuh yang banyak dan semisalnya, yang belum tentu berakibat kematian bagi pelakunya.</p>
<p>Kedua hal di atas jelas beda dari segi cara maupun hasilnya. Yang pertama jelas mendatangkan kematian dan dilakukan oleh tangan sendiri, sedangkan yang kedua tidak mesti menyebabkan pelakunya mati, dan kalaupun mati maka matinya di tangan musuh karena senjata musuh, bukan karena perbuatan dirinya.</p>
<p>2- Klasifikasi ulama ke dalam ulama yang berada di medan jihad dengan yang tidak berada di medan jihad, adalah klasifikasi yang kurang tepat. Sebab, yang menjadi sandaran dalam hal ini adalah dalil mereka, bukan pengalaman mereka. Memang ulama-ulama kelas dunia macam Syaikh Bin Baz, Ibnu Utsaimin, al-Albani, dsb. tidak memiliki pengalaman di medan jihad, tapi bukan berarti mereka tidak mengerti hukum-hukum Jihad.</p>
<p>Kalau boleh kita bertanya: “Saudara-saudara kita yang ada di medan jihad tersebut, seandainya ada pertanyaan tentang masalah jihad, apakah mereka berfatwa dengan semata-mata melihat kondisi di lapangan, ataukah tetap merujuk ke referensi-referensi fiqih dan perkataan para ulama sebelumnya? Kami kira mereka tidak akan berfatwa lewat <em>waqi’</em> (realita), tapi tetap merujuk ke dalil-dalil yang ada dalam referensi-referensi fiqih. Nah, kalau memang demikian halnya, berarti tidak ada bedanya antara mereka yang di lapangan atau yang tidak di lapangan selama yang tidak dilapangan mendapat informasi tentang realita di lapangan.</p>
<p>Intinya, hati-hatilah dalam mengamalkan sebuah fatwa, jangan sampai kita main perasaan dan mengabaikan akal sehat, atau dalil syar’i. Jihad seseorang bukanlah tolok ukur kebenaran fatwa yang dikeluarkannya, mengingat rancunya pemahaman jihad yang berkembang di tengah umat Islam akhir-akhir ini. Apalagi jika mereka yang dianggap tidak pernah berjihad lantas diabaikan fatwanya dalam masalah ini, dan dituding sebagai ulama haidh dan nifas, yang hanya paham masalah seputar celana dalam wanita –<em>naudzu billah</em>–, hingga fatwa mereka hanya berlaku dalam masalah haidh dsb, tapi tidak dalam masalah jihad.</p>
<p>Subhanallah!! Kalaulah kita mengakui mereka sebagai ulama dalam masalah <em>thaharah </em>(bersuci), mengapa kita menafikan keilmuan mereka dalam masalah Jihad? bukankah keduanya adalah bagian dari Syariat? Bukankah keduanya telah dikaji tuntas oleh para fuqaha?</p>
<p>Tapi, demikianlah jika obyektivitas telah tergeser oleh hawa nafsu… semoga Allah membimbing kita ke jalan yg benar, Amin.</p>
<p><strong>Sumber artikel: Basweidan.com</strong></p>
<p><strong>Publish ulang oleh <a title="hukum bom bunuh diri" href="http://konsultasisyariah.com/bom-bunuh-diri-syahid" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/benarkah-bom-bunuh-diri-mati-syahid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apa itu Israiliyat?</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/pengertian-israiliyat/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/pengertian-israiliyat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Jun 2012 23:15:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Firqoh]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[israiliyat]]></category>
		<category><![CDATA[isroil. bani israil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=11701</guid>
		<description><![CDATA[Apa Itu Israiliyat? Pertanyaan: Israiliyat itu apa Ustadz? Dari: Maher Said Jawaban: Bismillah wa shalatu was salamu ‘ala rasulillah Berikut keterangan dalam kitab Ushul fi Tafsir: Israiliyat adalah berita yang..]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2>Apa Itu Israiliyat?</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><strong>Israiliyat</strong> itu apa Ustadz?</p>
<p>Dari: Maher Said<br />
<span id="more-11701"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
<em>Bismillah wa shalatu was salamu ‘ala rasulillah</em></p>
<p>Berikut keterangan dalam kitab <em>Ushul fi Tafsir</em>:</p>
<p>Israiliyat adalah berita yang dinukil dari orang Bani Israil, baik yang beragama Yahudi atau Nasrani. Dan umumnya berasal dari masyarakat Yahudi.</p>
<h3><strong>Ditinjau dari statusnya, israiliyat dibagi menjadi 3:</strong></h3>
<p><strong>Pertama</strong>, berita yang diakui kebenarannya dalam Islam. Berita israiliyat semacam ini boleh dibenarkan. Dan yang menjadi standar dalam hal ini adalah dalil Alquran atau hadis shahih.</p>
<p>Di antara contohnya adalah hadis dari Ibnu Mas’ud, bahwa ada seorang pendeta Yahudi yang mendatangi Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, dan mengatakan,</p>
<p class="arab">يا محمد، إنا نجد أن الله يجعل السماوات على إصبع، وسائر الخلائق على إصبع فيقول: أنا الملك</p>
<p>“Wahai Muhammad, kami mendengar bahwa Allah menjadikan langit di satu jari dan semua makhluk juga di salah satu jari. Lalu Allah berfirman: “<em>Sayalah Raja</em>.”</p>
<p>Mendengat hal ini, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> langsung tertawa, sehingga terlihat gigi geraham beliau, karena membenarkan ucapan si pendeta. Kemudian Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> membaca firman Allah,</p>
<p class="arab">وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعاً قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ</p>
<p>“<em>Mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan</em>.” (QS. Az-Zumar: 67)</p>
<p>(HR. Bukahri no. 4811 dan Muslim 2786)</p>
<p><strong>Kedua</strong>, berita yang didustakan dalam Islam; berita semacam ini statusnya batil, dan wajib diingkari. Misal, Nabi Isa adalah putra Allah, atau seperti yang disebutkan dalam hadis Jabir berikut:</p>
<p class="arab">كانت اليهود تقول إذا جامعها من ورائها، جاء الولد أحول</p>
<p>“<em>Orang Yahudi mengatakan, jika seorang suami mendatangi istrinya dari belakang maka anaknya nanti juling</em>.”</p>
<p>Kemudian Allah dustakan anggapan orang Yahudi ini dengan menurunkan firman-Nya:</p>
<p class="arab">نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ</p>
<p>“<em>Istri kalian addalah ladang bagi kalian, maka datangilah ladang kalian, dari mana saja yang kalian inginkan</em>.” (QS. Al-Baqarah: 223)</p>
<p>(HR. Bukhari 4528 dan Muslim 1435)</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, berita yang tidak dibenarkan dan tidak didustakan dalam Islam. Status berita semacam ini disikapi pertengahan (tawaquf), tidak boleh didustakan, karena bisa jadi itu benar, dan tidak dibenarkan, karena bisa jadi itu dusta.</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiallahu ‘anhu</em>, beliau mengatakan, “Orang ahli kitab membaca Taurat dengan bahasa ibrani dan menafsirkannya dengan bahasa Arab kepada kaum muslimin.”</p>
<p>Kemudian Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">لا تصدقوا أهل الكتاب ولا تكذبوهم، وقولوا: آمَنَّا بِالَّذِي أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَأُنْزِلَ إِلَيْكُمْ</p>
<p>“<em>Janganlah kalian membenarkan ahli kitab dan jangan pula mendustakannya, namun ucapkan: Kami beriman dengan kitab yang diturunkan kepada kami (alquran) dan kitab yang diturunkan kepada kalian</em>.” (HR. Bukhari, 4485)</p>
<p>Hanya saja, dalam syariat kita, dibolehkan menceritakan berita Bani Israil, tanpa untuk tujuan diimani dan dibenarkan atau didustakan.</p>
<p>Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p class="arab">بلغوا عني ولو آية، وحدثوا عن بني إسرائيل ولا حرج، ومن كذب على متعمدا فليتبوأ مقعده م النار</p>
<p>“<em>Sampaikanlah dariku meskipun hanya satu ayat. Sampaikan kabar dari Bani Israil, dan tidak perlu merasa berat. Siapa yang berdusta atas namaku, hendaknya dia siapkan tempatnya di neraka</em>.” (HR. Bukhari 3461)</p>
<p>Dan umumnya, kabar israiliyat ini tidak memiliki banyak manfaat penting dalam agama. Hanya sebatas cerita atau dongeng, seperti warna bulu anjing Ashabul Kahfi, siapa namanya, kisah tentang keluarga nabi-nabi masa silam, yang itu jika diketahui, tidak menambah amal kita.</p>
<h3>Sikap Ulama Terkait Israiliyat</h3>
<p>Berita <strong>israiliyat</strong> ini banyak kita jumpai di berbagai buku tafsir, sebagai pelengkap tafsir yang mereka sampaikan. Hanya saja, para ulama tidak sekata dalam menyikapi israiliyat. Ada ulama yang banyak membawakan berita israiliyat, dengan sanadnya; semacam Ibnu Jarir At Thabari. Ada juga ulama yang banyak membawakan berita ini, namun umumnya tidak menyebutkan sanadnya. Sebagaimana orang yang mencari kayu bakar di malam hari.</p>
<p>Di antara yang bisa dijadikan contoh adalah Al-Baghawi. Dalam <em>Majmu’</em> <em>Fatawa</em>, Syaikhul Islam (13/304) mengatakan tentang <em>Tafsir Al Baghawi</em>: “Tafsir ini adalah ringkasan dari <em>Tafsir</em> <em>At</em> <em>Tsa’labi</em>, hanya saja dibuang bagian hadis-hadis palsu dan pemikiran-pemikiran menyimpang.” Beliau juga menjelaskan tentang <em>Tafsir</em> <em>At</em> <em>Tsa’labi</em>: “Dia bak pencari kayu bakar di malam hari, mengumpulkan semua yang dia dapatkan dalam buku tafsir, baik shahih, dhaif, maupun maudhu’.”</p>
<p>Ada ulama yang banyak menyebutkan israiliyat, kemudian beliau memberikan komentar tentang statusnya yang dhaif atau bahkan mengingkarinya. Metode ini yang sering dilakukan Al-Hafidz Ibnu Katsir. Bahkan ada juga ulama yang sangat keras dalam mengingkarinya dan tidak menyebutkannya dalam buku tafsirnya. Semacam Muhammad Rasyid Ridha.</p>
<p><em>Allahu a’lam</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)</strong><br />
<strong> Artikel <a title="israiliyat" href="http://www.konsultasisyariah.com/pengertian-israiliyat" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/pengertian-israiliyat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Syiah Indonesia = Bom Waktu !!!</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/syiah-indonesia-bom-waktu/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/syiah-indonesia-bom-waktu/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Jun 2012 06:37:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator 2</dc:creator>
				<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>
		<category><![CDATA[Firqoh]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=11750</guid>
		<description><![CDATA[Syiah Indonesia = Bom Waktu !!! Sungguh benar apa yang menjadi prediksi MUI Jatim, Syiah di indonesia seperti bom waktu. Tinggal menunggu masa, untuk kemudian mereka melakukan aksi. Bagaimana tidak,..]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2>Syiah Indonesia = Bom Waktu !!!</h2>
<p>Sungguh benar apa yang menjadi prediksi <strong>MUI Jatim</strong>, <strong>Syiah di indonesia</strong> seperti bom waktu. Tinggal menunggu masa, untuk kemudian mereka melakukan aksi. Bagaimana tidak, mereka telah mendeklarasikan, musuh utamanya adalah sunni (baca: <em>Ahlus Sunah wal Jamaah</em>). Jihad yang mereka teriakkan, bukan jihad melawan kaum yahudi, tapi jihad melawan sunni. Lagi-lagi, kedok yang mereka gunakan adalah atas nama <strong>cinta ahlul bait</strong>.</p>
<p>Saat ini mereka masih dalam tahap mengumpulkan kekuatan. Mereka mengedepankan slogan cinta ahlul bait dan sikap ‘mengalah’, tidak lain dalam rangka mencari simpati masyarakat. Hanya saja, ada satu hal yang sangat disayangkan, media tidak jujur dan sangat terkesan berpihak.</p>
<p>Tidak perlu jauh untuk mengambil peristiwa sebagai contoh, kamis, tanggal 31 Mei kemarin, ada satu berita yang tidak dirilis media ‘umum’. Tapi Alhamdulillah, masih ada media lain yang masih sanggup menyuarakannya.</p>
<h3>Berikut cuplikan beritanya:</h3>
<p><strong>Pengikut  Syi’ah</strong> kembali memancing kerusuhan. Tak senang diselenggarakan sebuah kajian yang membahas tentang <strong>kesesatan Syi’ah</strong> di Puger, Jember, Jawa Timur, pengikut <strong>Syi’ah</strong> memaksa menggagalkan kajian tersebut hingga berujung pada tindakan anarkis.<br />
Ketua Rois Syuriah PCNU Kencong, KH. Khoir Zad Maddah menyampaikan kronologis aksi anarkis yang terjadi pada Rabu malam (30/5/2012).</p>
<p>Hari Kamis tanggal 7 Juni 2012 rencananya akan diselenggarakan acara pengajian di rumah salah seorang tokoh di Puger, Jember. Isi pengajian itu adalah dialog tentang Syi’ah, sebab di Puger sudah marak penyebaran ajaran Syi’ah yang diantaranya diajarkan oleh Habib Ali, hanya saja Habib Ali tidak pernah mengakui kalau dirinya Syi’ah.</p>
<p>Menurut sumber lain, korban pembacokan itu bernama Eko dan sumber lain menyebutkan bahwa pelaku pembacokan berjumlah 8 orang.</p>
<p>Dalam pengajian yang diselenggarakan bulan Juni nanti, akan dihadirkan pembicara Habib Muhdhor Al Hamid yang dikenal tegas terrhadap Syi’ah. Pihak Syi&#8217;ah ternyata ingin menggagalkan pengajian tersebut dengan mendatangi rumah salah satu tokoh masyarakat bernama ustadz Fauzi dan melakukan tindakan anarkis.</p>
<p>“Ada tujuh orang yang memaksa supaya kegiatan itu diurungkan pada tanggal tujuh itu. Dalam dialog itu agak panas sehingga terjadi saling pukul, akhirnya salah satu muridnya ustadz Fauzi terkena bacokan di kening, tapi tidak lebar,” kata KH. Khoir Zad Maddah saat dihubungi voa-islam.com, Kamis (31/5/2012).</p>
<p>Setelah terjadi ribut-ribut warga pun berdatangan, lalu tujuh orang itu melarikan diri. Kyai Khoir, sapaan akrabnya, menengarai salah satu dari tujuh orang tersebut ada keluarga Habib Ali.  “Salah satu dari tujuh orang itu ada keluarga Habib Ali,” ujarnya.<br />
Masalah ini sekarang sudah ditangani pihak Polres Jember dan keluarga Habib Ali pun sudah hadir di Polres Jember untuk dimintai keterangan. Menurut informasi sudah ada dua orang yang diamankan di Polres Jember.</p>
<p>KH. Khoir Zad Maddah menyampaikan bahwa ia sudah berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk mencegah agar hal itu tidak terjadi kembali. Karena ajaran Syi’ah sudah difatwakan sesat oleh MUI Jawa Timur  ia meminta aparat bertindak tegas terhadap kegiatan Syi’ah yang telah meresahkan warga Jember.</p>
<p>Jika masih sedikit saja mereka  berani beringas bagaimana kalau besar? kita berlindung kepada allah dari kejahatan dan kekejian yang dipertontonkan oleh <em>syiah</em> di Iran, Irak, Suria, Libanon, dan Yaman.</p>
<p>“Kami akan terus berkoordinasi dengan teman-teman di PCNU Kencong untuk mengupayakan agar peristiwa itu tidak terjadi. Tentunya kami memohon terhadap aparat, karena <strong>keberadaan Syi’ah</strong> itu membikin resah, sesuai keputusan MUI bahwa Syi’ah Imamiyah itu dinyatakan sesat, sebisa mungkin aparat merespon masyarakat supaya kegiatan Syi’ah paling tidak di Puger itu ditutup,” ungkapnya<br />
<strong>[voa-islam/gensyiah]</strong></p>
<p><strong>Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/syiah-indonesia-bom-waktu" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/syiah-indonesia-bom-waktu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berita Kerusuhan di Suriah</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/berita-suriah/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/berita-suriah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Mar 2012 02:32:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Firqoh]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=10777</guid>
		<description><![CDATA[Berita Suriah Pertanyaan: Assalamu’alaikum Saya beberapa kali membaca di internet tentang kerusuhan di Suriah. Apa sebenarnya yang terjadi di sana? Dari: Ray Jawaban: Wa’alaikumussalam Kejadian di Suriah Pergolakan di Suriah..]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2>Berita Suriah</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Assalamu’alaikum</p>
<p>Saya beberapa kali membaca di internet tentang kerusuhan di <strong>Suriah</strong>. Apa sebenarnya yang terjadi di sana?</p>
<p>Dari: Ray<br />
<span id="more-10777"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
Wa’alaikumussalam</p>
<h3>Kejadian di Suriah</h3>
<p>Pergolakan di Suriah sudah terjadi lebih dari satu tahun, sejak 15 Maret 2011 sampai saat ini lebih dari 11.000 orang tewas dan ribuan bangunan hancur. Peristiwa ini merupakan akumulasi dari tindakan represif pemerintah Suriah sejak dahulu.</p>
<p>Pada masa pemerintahan Hafiz al Asad, -ayah dari presiden sekarang, Basyar al Asad- rakyat Suriah khususnya dari kalangan Ahlussunnah ditindas dan dibantai:</p>
<ul>
<li>12 April 1980, pemerintahan Al Asad membunuh ratusan orang di kota Hamah.</li>
<li>27 Juni 1980 sekitar 1500 orang-orang yang ditawan pemerintah terdiri dari pihak oposisi, dosen, cendekiawan, dan ulama tewas di penjara kota Tadmur.</li>
<li>11 Agustus 1980 serangan terhadap penduduk kota Halb menewaskan 100 orang.</li>
<li>Tahun 1982 tentara Suriah di bawah kendali presiden Hafidz Al Assad dan saudaranya Raf’at Al Assad kembali melakukan pembantaian terhadap Ahlussunnah di kota Hama. Dalam penyerangan selama 1 bulan mereka berhasil menguasai kota dan membantai 70.000 penduduk kota hama. Mereka menculik lebih dari 20.000 penduduk, melakukan pemerkosaan terhadap wanita, menghancurkan rumah, bangunan, masjid, gereja serta pasar. Dalam penyerangan tersebut lebih dari 10.000 penduduk terpaksa mengungsi keluar kota Hama.</li>
</ul>
<p>Terlalu panjang untuk diceritakan kebiadaban rezim Al Asad ini dan sangat sulit diterima oleh akal kekejaman yang mereka lakukan terhadap rakyatnya, namun inilah realitanya. Kita bisa saksikan video-video pembantaian seperti itu.</p>
<p><iframe width="622" height="350" src="http://www.youtube.com/embed/liKp7K2DhGU?feature=oembed&#038;wmode=opaque" frameborder="0" allowfullscreen></iframe></p>
<p>Setelah menyaksikan video di atas, tentu membuat kita bertanya-tanya, apa yang membuat prajurit-prajurit dan orang-orang yang pro pemerintahan Suriah begitu tega membantai orang-orang dengan cara yang keji demi menuruti kehendak dinasti Asad dan tetap menjaga langgenggnya kekuasaan mereka. Video berikut ini jawabannya</p>
<p><iframe width="622" height="467" src="http://www.youtube.com/embed/wZoEOQsxt8w?feature=oembed&#038;wmode=opaque" frameborder="0" allowfullscreen></iframe></p>
<h3>Siapa Basyar al Asad dan Mengapa Ia Membunuh Ahlussunnah?</h3>
<p>Basyar al Asad adalah pemimpin partai Bath di Suriah yang berideologi sosialis. Namun secara pribadi ia berideologi Syiah Nushiariyah, salah satu sekte Syiah yang ekstrim. Dengan demikian tidak heran Rusia yang berpaham komunis dan Iran yang merupakan manifestasi ajaran Syiah, membantu pemerintahan Baysar al Asad memerangi umat Islam dan para oposisi, tujuannya agar Baysar al Asad tetap langgeng di tanah Arab dan cita-cita revolusi Iran untuk mensyiahkan Arab pun tercapai.</p>
<p>Apabila pembahasan ini dibicarakan dari kaca mata politik saja, tentu kita tidak akan mencapai substansi permasalahan dan pembahasan pun akan simpang siur dikarenakan ketidakpastian berita dan banyaknya kepentingan. Agar lebih menyentuh substansi permasalahan, pembahasan ini haruslah dibahas dari kaca mata ideologi, yang mana merupakan penggerak utama aktivitas seseorang atau kelompok.</p>
<p>Syiah merupakan ajaran yang sudah sangat lama ada, jauh sebelum keberadaan Amerika dan negara-negara Barat lainnya. Ajaran ini dicetuskan oleh Abdullah bin Saba, seorang Yahudi yang berpura-pura masuk Islam untuk memecah belah Islam dari dalam. Keberadaan mereka di tengah kaum mulimin selalu menimbulkan kerugian dan pertumpahan darah. Bagi orang-orang yang mempelajari sejarah tentunya akan tahu apa yang menyebabkan jutaan umat Islam tewas di Baghdad oleh tentara Mongol dan mengapa pula Timur Lang membantai sekian banyak umat Islam pada masanya berkuasa. Semua itu karena pengaruh Syiah. Lalu apa ideologi Basyar al Asad dan Timur Lang yang membuat mereka yakin mengobarkan peperangan dan tega untuk membunuh melakukan pembantaian. Berikut ini kami kutipkan dari buku-buku Syiah, bagaimana mereka memandang Ahlussunnah.</p>
<p>Dari Daud bin Farqad, dia berkata, saya berkata kepada bapakku, Abdullah ‘<em>alaihissalam</em> “Apa pendapatmu tentang pembunuhan terhadap pembangkang?” Dia menjawab, “Halal darahnya, tetapi saya merasa khawatir kepadamu. Jika kamu mampu menimpakan dinding atau menenggelamkannya ke dalam air agar tak ada seorang pun yang melihatnya, maka lakukanlah.” (<em>Wasail Asy Syiah</em>, 18:436, <em>Bihar Al Anwar</em>, 27:231). Khomeini –pemimpin revolusi Iran- mengatakan, “Jika kamu mampu untuk mengambil hartanya, maka ambillah dan berikan kepada kami seperlimanya.”</p>
<p>Sayid Ni’matullah Al Jazairi berkata, “Sesungguhnya Ali bin Yaqthin, pembantu Rasyid berkumpul di dalam penjara yang dihuni oleh sekelompok pembangkang (Ahlussunnah), maka dia menyuruh budak-budaknya untuk meruntuhkan atap agar menimpa orang-orang yang ada di penjara sehingga mereka semuanya mati dan jumlah mereka adalah lima ratus orang laki-laki.” (<em>Al Anwar anNu’maniyah</em>, 3:308)</p>
<p>Ni’matullah al Jazairi mengatakan, “Mereka (Ahlussunnah) adalah orang-orang kafir yang najis berdasarkan kesepakatan ulama Syiah Imamiyah. Mereka lebih jahat daripada Yahudi dan Nashrani. Dari tanda orang yang membangkang adalah lebih mengutamakan selain Ali dalam imamah.” (<em>Al Anwar an Nu’maniyah</em>, 206-207).</p>
<p>Oleh karena itulah, Basyar dan tentaranya tega melakukan kekejaman sedemikian rupa karena ada motivasi ideologi yang menuai pahala (jihad). Demikian juga selogan pasukan Iran ketika membantu pasukan Suriah memerangi Ahlussunnah, mereka mengatakan, “<em>Uqtulul sunnah dakhola al jannah</em>.” Bunuhilah orang-orang Ahlussunnah maka akan masuk surga.  Ketika diwawancari di stasiun televisi, saat ditanya apakah ia (Basyar) merasa bersalah melakukan pembantaian tersebut, ia mengatakan “Saya telah melakukan hal yang terbaik untuk melindungi orang-orang (menurut dia), jadi mengapa harus merasa bersalah.”</p>
<p><strong>Dijawab oleh Nurfitri Hadi (Tim <a href="http://konsultasisyariah.com/berita-suriah" target="_blank" rel="nofollow">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/" rel="nofollow" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Tags: <strong>Berita Suriah</strong>, <strong>Syiah Suriah.</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/berita-suriah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Adzan dan Tata Cara Shalat Syiah [Video]</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/adzan-dan-tata-cara-shalat-syiah/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/adzan-dan-tata-cara-shalat-syiah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Feb 2012 09:53:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Firqoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=10589</guid>
		<description><![CDATA[Sunni dan Syiah &#8211; Adzan dan shalat merupakan dua ibadah yang agung. Shalat merupakan rukun Islam yang kedua. Shalat merupakan pembeda antara keimanan dan kekafiran. Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam..]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Sunni dan Syiah</strong> &#8211; Adzan dan shalat merupakan dua ibadah yang agung. Shalat merupakan rukun Islam yang kedua. Shalat merupakan pembeda antara keimanan dan kekafiran. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya batasan antara seseorang dengan kekafiran dan kesyirikan adalah shalat. Barangsiapa meninggalkan shalat, maka ia kafir.</em>&#8220;(HR Muslim no. 978). Beliau juga menjelaskan parameter baiknya amalan seseorang itu dengan shalat,<br />
<span id="more-10589"></span><br />
<em>“Amalan seorang hamba yang pertama kali dihisab pada hari Kiamat adalah shalat. Jika shalatnya baik maka baiklah seluruh amalannya dan jika buruk maka buruklah seluruh amalannya.”</em> (HR. Thabraani)</p>
<p>Oleh karena itu, menunaikan shalat secara baik dan berkualitas harus menjadi perhatian bagi kaum muslimin. Baik dan berkualitas di sini maksudnya adalah sejauh mana shalat tersebut menyontoh tata cara shalat Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>; baik kekhusyuannya, gerak-geriknya, bacaannya, waktunya, dsb.</p>
<p>“<em>Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.</em>” (HR. Al-Bukhari no.628, 7246 dan Muslim no.1533)</p>
<p>Demikian juga dengan adzan, adzan juga merupakan syiar Islam yang agung, tidak sedikit orang-orang kafir yang tertarik dan bergetar hatinya ketika mendengar seruan adzan kemudian memeluk Islam. Rangkaian kalimat adzan bukanlah sesuatu yang tidak memiliki makna, ia merupakan cerminan akidah seseorang, yang ia yakini dan pegang teguh.</p>
<p>Setelah mengetahui kedudukan adzan dan shalat dalam Islam, pada kesempatan kali ini kami akan menunjukkan tata cara shalat orang-orang <strong>Syiah</strong>. Dengan mengetahui kalimat adzan dan tata cara shalat mereka, kita akan melihat gambaran akidah mereka.</p>
<h2>Adzan Syiah</h2>
<p><iframe width="622" height="467" src="http://www.youtube.com/embed/sc-TCzZk70c?feature=oembed&#038;wmode=opaque" frameborder="0" allowfullscreen></iframe></p>
<p>Setelah mengucapkan <em>Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah</em>, adzan tersebut diikuti dengan <em><strong>Asyhadu anna &#8216;Aliyan Waliyullah</strong></em></p>
<p>Aku bersaksi bahwasanya Ali adalah wali Allah</p>
<p>Kemudian dilanjutkan <em><strong>Asyhadu anna Aliyan Amirol Mukminina wa Awladahu Al Ma&#8217;shumina Hujajullah</strong></em><br />
Aku bersaksi bahwa Ali pemimpin orang-orang beriman dan anak-anaknya yang makshum (para imam <em>Syiah</em> <em>pen.</em>) adalah hujah-hujah Allah.</p>
<p>Inilah gambaran tentang keyakinan <u>Syiah</u> yang sangat jauh berbeda dengan Ahlussunnah. Ahlussunnah mengagungkan Ali bin Abi Thalib, beliau memiliki banyak keutamaan yakni sebagai; sahabat nabi, ahlul baitnya, orang yang pertama-tama masuk Islam, dll. Namun Ahlussunnah tidak mengatakan beliau dan keturunannya makshum, terjaga dari kesalahan dan dosa. Orang-orang Syiah menjadikan persaksian ini sebagai <em>ushul</em> (pokok) agama.</p>
<p>Kemudian pula ada tambahan <em><strong>Hayya &#8216;ala Khoiril &#8216;amal</strong>,</em> artinya marilah berbuat sebaik-baik amal perbuatan. <em>Khoiril &#8216;amal</em> di sini bukanlah sebagai penguat untuk mengajak orang-orang shalat, di antara orang-orang Syiah menjelaskan bahwa sebaik-baik amalan adalah menaati Fathimah dan keturunannya yang suci.</p>
<h3>Tata Cara Shalat Syiah</h3>
<p>Berikut ini tata cara shalat Syiah:</p>
<p><iframe width="420" height="315" src="http://www.youtube.com/embed/GdMewQV-If8?rel=0" frameborder="0" allowfullscreen></iframe></p>
<p>Shalat berjamaah:</p>
<p><iframe width="420" height="315" src="http://www.youtube.com/embed/Ipl8nVWJQLo?rel=0" frameborder="0" allowfullscreen></iframe></p>
<p>Nabi Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p>“<em>Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat</em>.” (HR. Al-Bukhari no. 628, 7246 dan Muslim no. 1533)</p>
<p>Nabi juga mengajarkan agar membaca Al Fatihah dalam setiap rakaat,</p>
<p class="arab">لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ</p>
<p><em>“Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca al-fatihah.” </em>(HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Dan menjadikan imam untuk diikuti</p>
<p class="arab">إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ، فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا وَلاَ تُكَبِّرُوا حَتَّى يُكَبِّرَ، وَإِذَا رَكَعَ فَارْكَعُوا وَلَا تَرْكَعُوا حَتَّى يَرْكَعَ</p>
<p>“<em>Hanyalah imam itu dijadikan untuk diikuti. Maka bila ia bertakbir, bertakbirlah kalian dan jangan kalian bertakbir hingga ia bertakbir. Bila ia ruku’ maka ruku’lah kalian dan jangan kalian ruku’ sampai ia ruku’ …</em>” (HR. Abu Dawud no. 603, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud)</p>
<p>Mudah-mudahan pemaparan yang singkat ini dapat memberikan kita pengetahuan bahwasanya perselisihan antara Ahlussunnah dan Syiah bukanlah permasalahan <em>furu&#8217;iyah</em> atau permasalahan fiqh, akan tetapi permasalahan tersebut adalah permasalahan akidah. Kita semua menginginkan persatuan tetapi bersatu bukanlah saling menoleransi kesalahan dan kemaksiatan, bersatu itu saling menasihati dan memperbaiki dari kesalahan.</p>
<p><strong>Disusun oleh Nurfitri Hadi (Tim <a href="http://konsultasisyariah.com/" rel="nofollow" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/adzan-dan-tata-cara-shalat-syiah" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait Syiah:</h3>
<p>1.<a href="../memberi-kelapangan-untuk-keluarga-di-hari-asyura" rel="nofollow" target="_blank">Pandangan Kelompok pada Hari Asyuro</a>.<br />
2. <a href="../peringatan-kematian-imam-husein" rel="nofollow" target="_blank">Peringatan Kematian Imam Husein oleh Syiah</a>.<br />
3. <a href="../kisah-nikah-mutah-sebuah-ironi" rel="nofollow" target="_blank">Kisah Nikah Mut’ah</a>.<br />
4. <a href="../nikah-mutah-ajaran-syiah" rel="nofollow" target="_blank">Nikah Mut’ah Menurut Syiah</a>.<br />
5. <a href="../nikah-mutah-dalam-syiah" rel="nofollow" target="_blank">Kerusakan <strong>Nikah Mut’ah</strong></a>.<br />
6. <a href="../media-pembela-syiah-indonesia" rel="nofollow" target="_blank">Media Pembela <strong>Ajaran Syiah</strong></a>.<br />
7. <a href="../ajaran-syiah" rel="nofollow" target="_blank">Hakikat Ajaran Syiah (1)</a>.<br />
8. <a href="../hakikat-ajaran-syiah-2" rel="nofollow" target="_blank">Hakikat Ajaran Syiah (2)</a>.<br />
9. <a href="../hakikat-ajaran-syiah-3" rel="nofollow" target="_blank">Hakikat Ajaran Syaih (3)</a>.<br />
10. <a href="../hakikat-ajaran-syiah-4" rel="nofollow" target="_blank">Hakikat Ajaran Syiah (4)</a>.<br />
11. <a href="../ajaran-syiah-dan-ahlul-bait" rel="nofollow" target="_blank">Ajaran Syiah dan Ahlul Bait</a>.<br />
12. <a href="../ahlul-bait-menurut-ahlussunnah" rel="nofollow" target="_blank">Ahlul Bait Menurut Syiah</a>.<br />
12. <a href="http://konsultasisyariah.com/alquran-menurut-syiah" target="_blank" rel="nofollow">Alquran Menurut Syiah</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/adzan-dan-tata-cara-shalat-syiah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Dynamic page generated in 0.354 seconds. -->
<!-- Cached page generated by WP-Super-Cache on 2013-06-19 10:25:55 -->
