tutup Eksternal hardisk kajian video islam
cashflow laporan keuangan software akutansi terbaik
Pernikahan

menikahlah

‎”Silahkan Nikah Dengan Lelaki Lain!”

Jika ketika bertengkar suami mengatakan kepada istrinya, ”Silahkan nikah lagi dengan ‎lelaki lain!” apakah sudah jatuh cerai.

Jawab:‎

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du, ‎

Ditinjau dari nilai ketegasannya, ulama membagi kalimat talak menjadi dua,‎

Pertama, Lafadz talak sharih ‎

Adalah lafadz talak yang sudah bisa dipahami maknanya dari ucapan yang disampaikan ‎suami. Atau dengan kata lain, lafadz talak yang sharih adalah lafadz talak yang tidak bisa ‎dipahami maknanya kecuali perceraian. ‎
Misalnya: Kamu saya talak, kamu saya cerai, kamu saya pisah selamanya, kita bubar…, ‎dan semua kalimat turunannya yang tidak memiliki makna lain selain cerai dan pisah ‎selamanya.‎

Imam as-Syafi’i mengatakan, ‎

‎“Lafadz talak yang sharih intinya ada tiga: talak (arab: ‎الطلاق‎), pisah (arab: ‎الفراق‎), dan ‎lepas (arab: ‎السراح‎). Dan tiga lafadz ini yg disebutkan dalam Alquran.” ‎
‎(Fiqh Sunah, 2/253).‎

Kedua, Lafadz talak kinayah (tidak tegas) ‎

Kebalikan dari yang pertama, lafadz talak kinayah merupakan kalimat talak yang ‎mengandung dua kemungkinan makna. Bisa dimaknai talak dan bisa juga bukan talak. ‎Misalnya pulanglah ke orang tuamu, keluar sana.., jangan pulang sekalian..,‎

Cerai dengan lafadz tegas hukumnya sah, meskipun pelakunya tidak meniatkannya. ‎
Dalam Ensiklopedi Fiqh dinyatakan,‎

واتفقوا على أن الصريح يقع به الطلاق بغير نية

‎“Para ulama sepakat bahwa talak dengan lafadz sharih (tegas) statusnya sah, tanpa ‎melihat niat (pelaku)” (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 29/26)‎

Sementara itu, cerai dengan lafadz tidak tegas (kinayah), dihukumi dengan melihat niat ‎pelaku. Jika pelaku melontarkan kalimat itu untuk menceraikan istrinya, maka status ‎perceraiannya sah.‎

‎”Silahkan Nikah Dengan Lelaki Lain!” Apakah Jatuh Cerai?‎

Ketika suami menyuruh istrinya menikah lagi, digolongkan Imam as-Syafii sebagai talak ‎kinayah. Sehingga keabsahannya dikembalikan kepada niat suami. ‎

Jika suami berniat menceraikannya maka jatuh cerai satu. Sebaliknya, jika tidak berniat ‎menjatuhkan cerai maka tidak jatuh cerai. ‎

Dalam kitabnya al-Umm, Imam as-Syafii menyatakan, ‎

ولو قال لها اذهبي وتزوجي، أو تزوجي من شئت لم يكن طلاقاً حتى يقول أردت به الطلاق‎ ‎

Jika suami mengatakan kepada istrinya, ’Silahkan nikah lagi’ atau dia mengatakan, ‎‎”Silahkan nikah dengan lelaki lain yang kamu cintai!” kalimat ini tidak termasuk talak, ‎sampai dia mengakui bahwa dia ucapkan itu karena keinginan untuk cerai. (al-Umm, ‎‎5/279)‎.

Meskipun kalimat semacam ini tidak selayaknya diucapkan oleh suami. Bisa jadi itu dusta. Dia menyuruh istrinya menikah lagi, padahal dia masih cinta.
Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

memandikan bayi

Janin Keguguran Tidak Perlu Dimandikan?

Assalam…bagaimana cara memandikan janin dan apa hukum memandikan dan menyolatkan janin yang usia 5 bulan atau kurang atau lebih?

Dari: ahmad (Dikirim melalui Aplikasi Tanya Ustadz untuk Windows Phone)

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Pertama, bayi yang terlahir dalam keadaan hidup, kemudian dia meninggal, ulama sepakat, disyariatkan untuk dimandikan, dikafani, dishalatkan, dan dimakamkan.

Ibnu Qudamah menyebutkan,

السقط الولد تضعه المرأة ميتا أو لغير تمام فأما إن خرج حيا واستهل فإنه يغسل ويصلى عليه بغير خلاف قال ابن المنذر :  أجمع أهل العلم على أن الطفل إذا عرفت حياته واستهل يصلى عليه

Janin keguguran adalah janin yang dilahirkan ibunya dalam keadaan telah meninggal atau tidak sempurna. Namun jika dia lahir hidup dan bisa menangis, kemudian mati, maka dia dimandikan dan dishalati, berdasarkan kesepakatan ulama. Ibnul Mundzir mengatakan, “Ulama sepakat bahwa bayi yang terlahir dalam keadaan hidup, dengan dia menangis, maka dia dishalati.” (al-Mughni, 2/393).

Kedua, janin yang meninggal dalam kandungan

Ulama berbeda pendapat di sana.

Menurut Imam Malik, janin yang meninggal di dalam kandungan, atau lahir dalam kondisi meninggal, tidak dishalati. Dalam kitab al-Mudawwanah dinyatakan,

لا يصلى على المولود ولا يحنط ولا يسمى ولا يرث ولا يورث حتى يستهل صارخا بالصوت. يعني ينزل حيا

Bayi tidak perlu dishalati, tidak diberi wewangian (dikafani), tidak diberi nama, tidak mendapat warisan maupun memberi warisan, kecuali jika dia terlahir dengan menangis (mengeluarkan suara) terlahir dalam keadaan hidup. (al-Mudawwanah, 1/255)

Beliau berdalil dengan hadis Jabir Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الطِّفْلُ لاَ يُصَلَّى عَلَيْهِ وَلاَ يَرِثُ وَلاَ يُورَثُ حَتَّى يَسْتَهِلَّ

Bayi tidak perlu dishalati, tidak menerima warisan atau menurunkan warisan, sampai terlahir dalam keadaan hidup. (HR. Turmudzi 1049 dan dishahihkan al-Albani).

Pendapat Imam Malik juga sejalan dengan pendapat Sufyan at-Tsauri dan as-Syafii.

Pendapat kedua menyatakan bahwa janin meninggal di kandugan, yang usianya 4 bulan ke atas, dia dimandikan dan dishalati. Ini merupakan pendapat madzhab hambali.

Ibnu Qudamah menyebutkan keterangan Imam Ahmad,

قال الإمام أحمد رحمه الله : ” إذا أتى له أربعة أشهر غُسّل وصلي عليه ، وهذا قول سعيد بن المسيب ، وابن سيرين ، وإسحاق ، وصلى ابن عمر على ابن لابنته ولد ميتاً “

Imam Ahmad mengatakan, ‘Jika janin telah berusia 4 bulan, dia dimandikan dan dishalati. Ini merupakan pendapat Said bin Musayib, Ibnu Sirin, dan Ishaq bin Rahuyah. Ibnu Umar menyalati cucunya yang terahir dalam keadaan telah meninggal.’ (al-Mughni, 2/393).

Diantara dalil yang mendukung pendapat ini adalah hadis dari Mughirah bin Syu’bah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَالسِّقْطُ يُصَلَّى عَلَيْهِ وَيُدْعَى لِوَالِدَيْهِ بِالْمَغْفِرَةِ وَالرَّحْمَةِ

Bayi keguguran itu dishalati, dan didoakan kedua orang tuanya dengan ampunan dan rahmat.

(HR. Ahmad 18665, Abu Daud 3182, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Imam Ahmad memberikan batasan usia janin 4 bulan, karena sejak usia itu, janin telah ditiupkan ruh. Sebagaimana disebutkan dalam hadis dari Ibnu Mas’ud yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim.

Kemudian Ibnu Qudamah menjelaskan tentang hadis Jabir dia atas. Beliau mengarahkan bahwa hadis itu dipahami untuk janin yang meninggal sebelum ditiupkan ruh. Meninggal sebelum berusia 4 bulan dalam kandungan. Karena itu, sama sekali tidak memiliki hak waris.

Ibnu Qudamah juga menegaskan, mengapa dianjurkan untuk menshalati jenazah yang telah meninggal dalam kandungan,

أن الصلاة عليه دعاء له ولوالديه وخير فلا يحتاج إلى الاحتياط واليقين لوجود الحياة بخلاف الميراث

Bahwa menshalati jenazah merupakan doa untuk janin dan untuk kedua orang tuanya, dan itu kebaikan. Sehingga tidak butuh memperhatikan kehati-hatian dan yakin bahwa dia pernah hidup. Berbeda dengan hukum warisan. (al-Mughni, 2/393).

Sehingga pendapat kedua inilah yang lebih kuat.

Mengenai tata caranya, sama dengan tata cara memandikan jenazah pada umumnya.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

sunda dan jawa

Orang Sunda tidak Boleh Menikah dengan Orang Jawa?

Assalamualaikum ustadz.. bagaimana menyikapi orang tua yg percaya mitos bahwa org jawa dan sunda dilarang menikah? Mohon penjelasannya ustadz mngenai mitos ini dlam islam. jazakumullah khoiron

Dari X via Tanya Ustadz for Android

Jawaban:

Wa’alaikumus salam

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Ada beberapa keterangan ahli sejarah tentang latar belakang mitos itu. Barangkali para pembaca sudah pernah menyimaknya. Yang pada intinya adalah pengkhianatan yang dilakukan Majapahit terhadap Pajajaran, hingga terjadilah peristiwa perang Bubat. Hingga mereka membuat aturan larangan estri ti luaran (beristri dari luar), yang isinya diantaranya tidak boleh menikah dari luar lingkungan kerabat Sunda, atau sebagian lagi mengatakan tidak boleh menikah dengan pihak Majapahit. Peraturan ini kemudian ditafsirkan lebih luas sebagai larangan bagi orang Sunda untuk menikahi orang Jawa

Untuk mempertahankan aturan itu, mereka menciptakan mitos, jika orang jawa yang menikah dengan orang sunda akan terancam keselamatan dan keutuhan keluarganya. Mereka tidak akan bahagia, selalu melarat, tidak langgeng dan hal tidak baik lainnya bakal menimpa orang yang melanggar aturan itu.

Terlepas dari kesahihan sejarah itu, sejatinya mitos ini didasari permusuhan, dendam sejarah dan fanatisme kesukuan. Ketika ini dipertahankan, hakekatnya adalah mempertahankan fanatisme kesukuan.

Ada dua tinjauan dalam melihat kasus ini,

Pertama, tentang mitos jika orang sunda menikah dengan orang jawa, kehidupan keluarganya akan sengsara.

Apapun mitos tetap mitos, sekalipun orang menyebutnya ada nilai filosofis. Ketika semua itu dikaitkan dengan takdir, atau diyakini menjadi sebab sial, maka pelakunya terjerumus dalam kesyirikan.

Meyakini sesuatu sebagai sebab sial bagi kehidupan manusia, padahal tidak ada hubungannya, disebut tiyaroh. Dan itu kesyirikan.

Dalam hadis dari sahabat Ibn Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الطِّيَرَةُ شِرْكٌ، الطِّيَرَةُ شِرْكٌ، ثَلَاثًا

“Thiyarah itu syirik…, Thiyarah itu syirik…, (diulang 3 kali)” (HR. Ahmad 3759, Abu Daud 3912, dan yang lainnya. Syuaib Al-Arnauth mengatakan, Sanadnya shahih).

Dakwah menuju kesyirikan dengan doktrin semacam ini, sejatinya adalah melanjutkan tradisi kaum musyrikin jahiliyah. Bahkan alat yang mereka gunakan untuk mengancam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum muslimin adalah ancaman kutukan. Allah berfirman,

أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ وَيُخَوِّفُونَكَ بِالَّذِينَ مِنْ دُونِهِ

”Bukankah Allah mencukupi hamba-hamba-Nya (dengan melindungi mereka). Sementara mereka menakut-nakuti kamu dengan (sembahan-sembahan) yang selain Allah.” (QS. Az-Zumar: 36).

Untuk melawan ancaman-ancaman kualat itu, Allah ajarkan kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum muslimin untuk menjadi hamba yang tawakkal dan pasrah kepada-Nya. Pada ayat di atas, Allah awali dengan ajaran untuk bertawakal kepada-Nya. Allah mengajarkan satu prinsip agar orang bisa menjadi bertawakal, “Bukankah Allah mencukupi hamba-hamba-Nya (dengan melindungi mereka)…”

Dan metode semacam ini juga diterapkan para sahabat. Ibnu Mas’ud pernah mengatakan,

وَمَا مِنَّا إِلاَّ وَلَكِنَّ اللَّهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ

Dan tidak ada satupun diantara kami yang bersih dari perasaan tiyaroh. Namun Allah menghilangkannya dengan tawakkal. (HR. Ahmad 3759, Abu Daud 3912, dan dishahihkan Syuaib Al-Arnauth)

Ketika keyakinan terhadap mitos ini dituruti, perasaan takut itu akan semakin membesar, dan bisa tidak terbendung. Karena itu, seharunya dibuang jauh-jauh.

Kedua, mempertahankan fanatisme kesukuan

Allah menegaska bahwa tujuan Dia menciptakan manusia dengan sekian perbedaan suku dan golongan, bukan untuk menciptakan kesenjangan dan perbedaan. Namun agar mereka saling mengenal.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. (QS. al-Hujurat: 13)

Anda bisa bayangkan, andaikan semua manusia memiliki ciri yang sama. Kulit mereka sama, ciri muka mereka sama. Kita akan sulit mengenal identitasnya. Agar kita menciptakan kesan ada yang lebih mulia karena suku, Allah menegaskan, “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa.”

Tak terkecuali perbedaan antara jawa dan sunda. Jawa tidak lebih mulia dari pada sunda, maupun sebaliknya.

Kita akan simak sejarah tentang kaum anshar.

Kaum Anshar terdiri dari dua suku besar: Aus dan Khazraj. Mereka menetap di Madinah (Yatsrib) ratusan tahun sebelum islam datang. Sebagaimana umumnya tradisi jahiliyah, dua klan besar ini sering terjadi sengketa dan perang. Setidaknya ada 4 pertempuran yang pernah terjadi diantara mereka,

Perang Sumir, perang Ka’b, perang Hathib, dan yang terakhir perang Bu’ats, yang dimenangkan suku Aus. Dalam perang Bu’ats, suku Aus bersekutu dengan dua marga Yahudi, Bani Quraizhah dan Bani Nadzir. Mulanya klan Khazraj menang, tetapi setelah pemimpinnya, Amr bin Nu’man terbunuh, kaum Khazraj pun kalah habis-habisan. Kebun dan rumah-rumah mereka dibakar. Hampir saja klan Khazraj ini punah. Sejak itu, kedua suku bersaudara ini hidup saling tegang, dan penuh kecurigaan, serta dendam kesumat.

Lima tahun setelah peristiwa Bu’ats, islam datang ke Madinah, baik Aus maupun Khazraj, mereka menerima dakwah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat antusias untuk mempersaudarakan mereka. Persaudaraan karena ikatan iman.

Suasana rukun, damai antar-kaum muslimin, jelas sangat tidak disukai musuh islam, terutama orang yahudi. Akhirnya mereka berusaha membangkitkan dendam kesumat masa jahiliyah. Hingga suatu ketika upaya yahudi itu hampir berhasil. Masing-masing Aus dan Khazraj terbakar semangatnya dan saling tegang. Bahkan mereka telah  siap mengeluarkan senjatanya. Ketika berita itu sampai kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau angkat suara,

أبِدَعْوَى الجَاهِلِيَّةِ وأَنَا بَيْنَ أظْهُرِكُمْ؟

“Apakah kalian akan membangkitkan semangat jahiliyah, sementara aku berada di tengah kalian?”

Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan ayat,

وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا

“Ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara.” (QS. Ali Imran: 103).

Mendengar ayat ini, mereka langsung luluh, membuang senjatanya dan saling meminta maaf. Indahnya persaudaraan.

Peristiwa serupa juga sempat terjadi antara Muhajirin dan Anshar. Mereka pernah perang tabok sandal. Masing-masing saling mencari pendukung. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,

مَا بَالُ دَعْوَى جَاهِلِيَّةٍ؛ دَعُوهَا فَإِنَّهَا مُنْتِنَةٌ

“Mengapa ada orang yang mengobarkan semangat jahiliyah. Tinggalkan itu, karena itu bangkai.” (HR. Bukhari 4905 & Muslim 6748)

Anda bisa perhatikan, mengungkit-ungkit permusuhan masa silam, sejatinya adalah membangun kembali semangat jahiliyah yang sangat ditentang dalam islam.

Dendam memang terkadang tidak bisa sirna. Karena hati tidak bisa lupa ketika dia disakiti. Namun bukan berarti manusia boleh mengumbarnya. Bahkan sampai menjadi aturan untuk seluruh keturunannya. Bukankah ini mengobarkan semangat permusuhan jahiliyah?? Kecuali jika orang itu lebih mencintai adat dan budayanya dari pada kecitaannya pada agamanya.

Allahu  a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

nikah beda usia

Menikah Beda Usia (Usia Perempuan Lebih tua 5 Tahun)

Assalamualaikum wr db.
saya pria berusia 29 tahun, dan mempunyai kenalan seorang wanita yang usianya(34thn) jauh diatas saya (5 Thn), kami mempunyai niat utk menikah, bagaimana hukumnya jika menikah dengan wanita yang lebih tua dari kita, dan apakah pernikahan usia yg berbeda akan rentan dengan perceraian ? terima kasih.

Jawaban:

Wa ‘alaikumus salam

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Pernikahan, usia istri lebih tua dari pada suami, memang terhitung jarang. Karena umumnnya, lelaki lebih tua dibandingkan wanita.

Meskipun demikian, hal ini sah-sah saja dalam islam. Karena di masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ada banyak pernikahan, dimana usia istri lebih tua dibandingkan suami. Bahkan yang menjalani hal ini adalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri.

Menurut keterangan mayoritas ahli sejarah, usia Khadijah ketika menikah dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sekitar 40 tahun. Ada juga yang mengatakan 45 tahun. Sementara menurut riwayat al-Baihaqi dan al-Hakim, usia Khadijah 35 tahun. Sementara Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam berusia sekitar 25 tahun.

Al-Hafidz Ibnu Katsir menukil keterangan az-Zuhri,

قال الزهري: وكان عمر رسول الله صلى الله عليه وسلم يوم تزوج خديجة إحدى وعشرين سنة، وقيل خمسا وعشرين سنة، زمان بنيت الكعبة، وقال الواقدي وزاد: ولها خمس وأربعون سنة

Az-Zuhri mengatakan, “Usia Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menikah dengan Khadijah adalah 21 tahun. Ada juga yang mengatakan 25 tahun. Di zaman pembangunan ulang Ka’bah. Sementara kata al-Waqidi, ada tambahan, “Usia Khadijah 45 tahun.” (as-Sirah an-Nabawiyah, Ibnu Katsir, 4/581).

Setelah Khadijah Radhiyallahu ‘anha meninggal, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi Saudah bintu Zam’ah. Beliau Usia Saudah?

Beliau janda yang sudah tua. Saudah dinikahi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di usia sekitar 66 th.

Muhammad Abu Zahrah dalam kitabnya Khatam an-Nabiyin mengatakan,

تزوج النبي صلى الله تعالى عليه وسلم من بعدها قبل الهجرة سودة بنت زمعة، وكانت نحو سن خديجة، أي في ست وستين من عمرها

Setelah meninggalnya Khadijah, sebelum Hijrah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi Saudah bintu Zam’ah. Usianya seperti Khadijah, kurang lebih 66 tahun. (Khatam an-Nabiyin, 3/1097)

Demikian pula yang terjadi pada sebagian sahabat. Diantaranya Zaid bin Haritsah Radhiyallahu ‘anhu. Beliau adalah mantan budak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Usia beliau 10 tahun lebih muda dari pada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Zaid bin Haritsah dinikahkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Ummu Aiman.

Siapa Ummu Aiman?

Beliau adalah mantan budak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam warisan dari ayahnya, Abdullah. Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam masih kecil, Ummu Aiman sempat mengasuh beliau. Hingga setelah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dewasa, beliau memanggilnya, Ummi (ibuku).

Zaid menikah dengan Ummu Aiman di waktu ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapatkan wahyu dan diangkat jadi nabi. Itu berarti usia Zaid sekitar 30 tahun.

Berapa usia Ummu Aiman?

Dalam Fatwa Syabakah Islamiyah pernah dibahas usia Zaid dengan Ummu Aiman. Kesimpulan yang disampaikan,

ولم نطلع على من ذكر تاريخ ولادتها، ولا كم تكبر زيداً، ولا كم عاشت، ولكن فارق السن بينها وبين زيد فارق كبير، فقد كانت حاضنة رسول الله صلى الله عليه وسلم، وزيد أصغر من رسول الله صلى الله عليه وسلم بعشر سنوات

Kami tidak mengetahui orang yang menyebutkan tahun kelahiran Ummu Aiman, tidak juga kami jumpai berapa selisih usia beliau dengan Zaid. Namun yang jelas, ada selisih jauh antara usia Ummu Aiman dengan usia Zaid. Ummu Aiman mengsuh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sementara Zaid 10 tahun lebih muda dibandingkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Fatwa Syabakah Islamiyah, no. 19436)

Masalah Rentan Perceraian

Masalah rentan perceraian, sebenarnya ini kembali kepada sikap. Memang umumnya lelaki diharapkan jauh lebih dewasa dari pada wanita. Karena dia yang akan menjadi kepala keluarga. Sehingga dengan posisi usia yang lebih tua, diharapkan dia bisa lebih dewasa dari pada istrinya.

Meskipun dalam banyak kasus, usia tidak menjamin.

Kita mengakui, Rumah tangga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama Khadijah adalah rumah tangga sangat bahagia. Meskipun Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam jauh lebih muda dari pada Khadijah.

Jangan pernah lepa untuk belajar segala persiapan nikah. Karena ilmu menjadi modal utama semua pelaku rumah tangga. Anda bisa pelajari ini: Amalan Menjelang Pernikahan

Demikian, allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

persiapan ketika nikah dalam islam

Menjelang Pernikahan

Assalamualaikum ustadz .saya akAn menikah pada bulan mei..saya ingin melakukan tirakat dan amalan doa….supaya di beri kemudahan dan kelancaran di pernikahan saya nanti..tolong berikan solusinya kepada saya ustadz..terimakasih.wassalamualaikum wr.wb

Dari: Liya Saniyatul Adyan

Jawaban:

Wa ‘alaikumus salam Wa rahmatullah

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Yang kami tahu, tidak ada amalan dalam bentuk ibadah khusus yang disyariatkan menjelang pernikahan. Istilah tirakat, mandi kembang, poso mutih, dst., hanyalah tradisi yang kemungkinan besar merupakan warisan budaya yang tidak jelas asal-usulnya. Terlebih semua ritual ini biasanya tidak lepas dari keyakinan dan mitos. Sudah selayaknya bagi anda seorang muslim yang beriman kepada Allah, agar anda menghindarinya sejauh-jauhnya.

Hanya saja, di sana ada beberapa yang bisa kami sarankan sebagai persiapan bagi anda yang hendak melangkah ke jenjang pernikahan,

Pertama, tanamkan niat yang baik ketika menikah

Nilai amal seorang mukmin, salah satunya ditentukan dari kualitas niatnya. Semakin baik niatnya, semakin sempurna nilai amalnya. Dari Umar bin Khatab Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

Amal itu ada karena niat, dan pahala yang diperoleh seseorang sesuai apa yang dia niatkan. (HR. Bukhari no. 1, Muslim 5036, dan yang lainnya)

Tanamkan dalam diri anda, anda menikah dalam rangka mengikuti sunah para rasul. Karena Allah berfirman,

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِنْ قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ أَزْوَاجًا وَذُرِّيَّةً

Sungguh Aku telah mengutus para rasul sebelum kamu, dan Aku jadikan untuk mereka istri dan keturunan. (QS. ar-Ra’du: 38).

Tanamkan pula bahwa anda menikah untuk mengikuti ajakan dan motivasi Rasul Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang telah bersabda,

النِّكَاحُ مِنْ سُنَّتِى فَمَنْ لَمْ يَعْمَلْ بِسُنَّتِى فَلَيْسَ مِنِّى وَتَزَوَّجُوا فَإِنِّى مُكَاثِرٌ بِكُمُ الأُمَمَ

“Nikah itu sunahku.. siapa yang tidak mengamalkan sunahku, bukan bagian dariku. Menikahlah, karena saya merasa bangga dengan banyaknya jumlah kalian di hadapan seluruh umat.” (HR. Ibnu Majah 1919 dan dihasankan al-Albani).

Juga jangan lupa untuk menanamkan dalam diri anda, bahwa anda menikah dalam rangka memilih yang halal, menjaga kehormatan diri dan pasangan. Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi jaminan yang berharga untuknya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثَةٌ حَقٌّ عَلَى اللَّهِ عَوْنُهُمُ الْمُجَاهِدُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمُكَاتَبُ الَّذِى يُرِيدُ الأَدَاءَ وَالنَّاكِحُ الَّذِى يُرِيدُ الْعَفَافَ

Ada 3 orang yang berhak mendapatkan pertolongan dari Allah, (1) Orang yang berjihad di jalan Allah, (2) Budak mukatab yang ingin menebus dirinya untuk merdeka, dan (3) Orang yang menikah, karena ingin menjaga kehormatannya. (HR. Nasai 3133, Turmudzi 1756, dan dihasankan al-Albani).

Kedua, pelajari fiqh nikah

Semua orang butuh ilmu. Karena ini merupakan modal terbesar hamba untuk bisa menjalani hidup dengan selamat dan sukses. Dengan ilmu, orang akan terbimbing, apa saja yang harus dia kerjakan, dan apa yang harus dia tinggalkan.

Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan,

العلم خير من المال؛ العلم يحرسك و أنت تحرس المال

Ilmu lebih baik dari pada harta, ilmu menjagamu dan harta, kamu yang jaga. (Adab ad-Dunya wad Din hlm. 48 oleh al-Mawardi)

Alhamdulillah, saat ini telah banyak karya-karya para ulama tentang panduan pernikahan. Banyak yang sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia.

Diantaranya, anda bisa pelajari buku-buku berikut,

  1. Buku panduan nikah lengkap: Panduan lengkap nikah dari A sampai Z
  2. Buku panduan keluarga Sakinah
  3. Buku Bingkisan untuk Pengantin
  4. Buku Kado Pernikahan

Terutama bagian penting yang harus dikenali masing-masing, diantaranya,

  1. Syarat sah dan rukun akad nikah. Sehingga anda yakin bahwa pernikahan anda sah
  2. Kenali tanggung jawab masing-masing suami istri. Sehingga keluarga tidak menjadi sumber dosa bagi anda
  3. Kenali fiqh perceraian. Bukan untuk diamalkan, namun agar orang tahu batasan kata-kata cerai, apa itu khulu’, dan bagaimana konsekuensi masing-masing. Betapa banyak mereka yang terjerumus pada perpecahan keluarga, sementara mereka tidak menyadarinya.

Ketiga, belajar untuk mulai dewasa

Setelah menikah, status anda telah berubah. Berapapun usia anda ketika menikah, anda dituntut untuk lebih cepat dewasa. Mulai pembelajaran diri itu sejak sebelum menikah. Tinggalkan kebiasaan kekanak-kanakan. Mulai belajar bangun subuh, atau bahkan sebelum subuh.

Belajar meninggalkan kebiasaan buruk, seperti bergadang bareng temen semalaman

Belajar meninggalkan hal yang tidak manfaat, seperti main PS

Termasuk calon istri, belajar dengan kesibukan rumah tangga

Belajar untuk tidak banyak jajan.

Pahami bahwa setelah anda menikah, orang yang anda hormati bertambah. Disamping orang tua, anda juga harus menghormati mertua. Posisikan masing-masing dengan benar, sehingga anda tidak akan mengecewakan pasangan anda karena gara-gara menyakiti orang tuanya.

Anda juga harus siap dengan benturan kepentingan. Hampir tidak ada rumah tangga yang bebas dari masalah. Menuntut anda untuk mulai belajar mengalah. Mengalah tidak sama dengan kalah. Mengalah berarti memberi kesempatan orang lain untuk mengambil hak anda. Agar anda lebih siap mengalah, yakini bahwa Allah akan membalas setiap kebaikan yang anda lakukan kepada keluarga anda. Sehingga anda tidak merasa itu sia-sia.

Keempat, merawat fisik untuk kebahagiaan rumah tangga, dianjurkan

Sekalipun ini bukan hal yang wajib, tapi ini bisa sangat ditekankan jika ini menjadi sebab keluarga makin harmonis. Karena islam menganjurkan terbentuknya keluarga yang harmonis, bahagia.

Karena itulah, masing-masing diajarkan agar bersikap romantis.

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَزَوَّجُوا الْوَدُوْدَ الْوَلُوْدَ

Nikahilah wanita yang subur dan romantis (HR. Ahmad 12613, Abu Daud 2052 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menganjurkan agar lelaki menjadi suami yang penyayang bagi istri dan keluarganya,

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِى

“Manusia terbaik di tengah kalian adalah orang yang sikapnya paling baik kepada keluarganya. Saya orang yangn sikapnya paling baik kepada keluargaku.” (HR. Turmudzi 4269, Ibnu Majah 2053, dan dishahihkan al-Albani).

Sebagaimana wanita dituntut merawat fisiknya untuk membahagiakan suami, lelaki juga diajurkan merawat dirinya dalam rangka membahagiakan istri.

Sahabat Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma mengatakan,

إنِّي أُحِبُّ أَنْ أَتَزَيَّنَ لِلْمَرْأَةِ , كَمَا أُحِبُّ أَنْ تَتَزَيَّنَ لِي الْمَرْأَةُ

Saya suka berhias di hadapan istri, sebagaimana saya suka istri saya berhias di depan saya. (HR. Ibnu Abi Syaibah 19608).

Kelima, iringi semua dengan doa dan tawakkal

Banyak orang yang merasa sangat resah menjelang pernikahan. Setumpuk kekahwatiran berjubel di hatinya.

Kami hanya menasehatkan, tanamkan rasa tawakkal kepada Allah, agar anda tidak dihantui dengan perasaan takut yang berlebihan. Kedepankan tawakkal ketika anda menghadapi kenyataan yang tidak pasti. Pasrahkan kepada Allah, dalam setiap upaya untuk kebahagiaan anda.

Dan inilah yang diajarkan oleh para sahabat, terutama bagi orang yang tidak PD ketika menikah.

Abu Said mantan budak Abi Usaid menceritakan,

Aku menikah, sementara aku berstatus seorang budak. Akupun mengundang beberapa orang sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diantaranya Ibnu Mas’ud, Abu Dzar, dan Hudzaifah. Ketika datang waktu shalat, mereka mempersilahkan diriku untuk menjadi imam. Seusai shalat, mereka mengajariku,

إذا دخل عليك أهلك فصل ركعتين ثم سل الله من خير ما دخل عليك وتعوذ به من شره ثم شأنك وشأن أهلك

Apabila kamu bertemu pertama dengan istrimu, lakukanlah shalat 2 rakaat, kemudian mintalah kepada Allah kebaikan dari semua yang datang kepadamu, dan berlindunglah dari keburukannya. Kemudian lanjutkan urusanmu dengan istrimu. (HR. Ibn Abi Syaibah 30352 dan dishahihkan al-Albani dalam Adab az-Zifaf).

Jangan lupa, perbanyak memohon kepada Allah agar Dia memberikan kebaikan bagi pernikahan anda. Kelancaran ketika akad nikah dan resepsi, dan ini yang paling menyita pikiran banyak orang.

Keberkahan setelah menikah, berkah di waktu senang maupun berkah di waktu susah.

Demikian, semoga bermanfaat.

cara aqiqah dan mencukur bayi

Aqiqah Untuk Janin Keguguran

Assalamualaikum, selamat pagi. ustad, saya pernah keguguran pada usia janin baru 3,5 bulan gara2 janin tidak berkembang. yang ingin saya tanyakan. apakah janin itu harus di aqikah dan d beri qurban seperti. pada umunya. karena detak jantung janin sudah terdengar walaupun janin baru brukuran beberapa cm.

Dari Leely Vita Pirdiah via Tanya Ustadz for Android

Jawaban:

Wa ‘alaikumus salam

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Berikut fatwa yang disampaikan Lajnah Daimah terkait hukum yang berlaku untuk janin keguguran,

إذا كان الجنين سقط قبل أربعة أشهر، فلا يسمى، وليس له عقيقة، إنما العقيقة والتسمية لمن سقط في الخامس، أو بعد ما نفخت فيه الروح؛ لأنه يكون آدميًّا له حكم الأفراط، فيذبح عنه ويسمى ويغسل ويصلى عليه إذا سقط في الخامس وما بعده، بعد نفخ الروح فيه

Apabila janin keguguran sebelum usia 4 bulan, tidak perlu diberi nama, tidak ada aqiqah. Karena aqiqah dan diberi nama hanya bagi keguguran di usia masuk 5 bulan atau setelah ditiupkan ruh ke janin. Karena dia dihukumi manusia, menjadi al-Afrath (anak yang akan menolong orang tuanya). Sehingga dia diberi aqiqah, diberi nama, dimandikan, dan dishalati. Ini jika keguguran di bulan kelima atau setelahnya, setelah ditiupkan ruh.

أما ما يسقط في الرابع أو في الثالث فهذا ليس له حكم الأفراط، لكن إذا كانت الخلقة قد بينت فيه صفات آدمي من رأس أو يد أو رجل أو نحو ذلك يكون له حكم النفاس، يكون للأم حكم النفاس، لا تصلي ولا تصوم، وأما هو فليس له حكم الأطفال، وليس له حكم الأجنة، بل يدفن في أي مكان ويكفي، ولا يغسل، ولا يصلى عليه، أي لا يكون آدميًّا

Sementara keguguran di usia belum genap 4 bulan atau baru masuk 3 bulan, tidak dihukumi al-Afrath. Akan tetapi jika wujud janin seperti manusia, ada kepalanya, tangannya, kaki, atau organ lainnya, maka sang ibu berlaku hukum nifas. Dia tidak boleh shalat, atau puasa. Sementara janinnya, tidak dianggap sebagai anak kecil. Namun dia bisa dikuburkan dimanapun, tidak perlu dimandikan, atau dishalati, karena tidak dihukumi manusia. (Fatawa Lajnah Daimah, 18/249)

Berdasarkan fatwa di atas, janin anda tidak perlu diaqiqahi karena keguguran yang terjadi sebelum usia 4 bulan atau belum ditiupkan ruh.

Apakah sang ibu harus mengalami nifas, bisa dipelajari di: Hukum Shalat Wanita yang Mengalami Keguguran

Demikian, Allah a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

makna zina

Pernikahan Anak Hasil Zina

Ada anak gadis yang mau menikah, anak gadis tersebut adalah anak pertama dari sepasang suami istri yang sebelum menikah sudah melakukan hubungan suami istri (berzina) sehingga mengandung anak tersebut. Kemudian mereka menikah, dan pernikahan baru berjalan 4 bulan anak tersebut lahir berjenis kelamin perempuan. Pertanyaan saya adalah :
1. Syah kah pernikahan tersebut jika yang menjadi wali nikah adalah ayah biologisnya tersebut ?
2. Siapakah seharusnya yang boleh menikahkannya sehingga halal dalam islam.??
3. Solusi apa yang bisa di sampaikan kepada gadis tersebut dan calon suaminya ??

Terima kasih atas jawabannya!!

Dari Z. E.

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Untuk kesekian kalinya kami menekankan bahwa anak yang sah, adalah anak yang dihasilkan dari hubungan karena ikatan pernikahan yang sah. Bukan semata hasil hubungan biologis. Jika anak biologis diaku sebagai keturunan, tidak ada beda antara manusia dengan binatang.

Karena itulah, kami menegaskan bahwa anak hasil zina, tidak punya ayah. Dia hanya punya ibu. Sehingga dia dinasabkan ke ibunya. Sebagaimana Nabi Isa yang terlahir tanpa ayah. Beliau dinasabkan ke Ibunya, wanita suci, Maryam Radhiyallahu ‘anha. Kita menyebut beliau Isa bin Maryam.

Dari Abdullah bin Amr bin Ash, beliau mengatakan,

قَضَى النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ مَنْ كَانَ مِنْ أَمَةٍ لَمْ يَمْلِكْهَا ، أَوْ مِنْ حُرَّةٍ عَاهَرَ بِهَا فَإِنَّهُ لا يَلْحَقُ بِهِ وَلا يَرِثُ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memutuskan bahwa anak dari hasil hubungan dengan budak yang tidak dia miliki, atau hasil zina dengan wanita merdeka tidak dinasabkan ke bapak biologisnya dan tidak mewarisinya… (HR. Abu Daud 2267, dihasankan al-Albani).

Kemudian dalam riwayat lain, dari Aisyah radhiallahu’anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الولد للفراش وللعاهر الحجر

“Anak itu menjadi hak pemilik firasy (suami), dan bagi pezina dia mendapatkan kerugian.” (HR. Bukhari 6749, Muslim 3686 dan yang lainnya)

Imam Ibnu Utsaimin menjelaskan hadis ini,

وأما الولد الذي يحصل من الزنا ، يكون ولدا لأمه ، وليس ولدا لأبيه ؛ لعموم قول الرسول صلى الله عليه وسلم : (الولد للفراش وللعاهر الحجر) العاهر : الزاني ، يعني ليس له ولد . هذا معنى الحديث . ولو تزوجها بعد التوبة فإن الولد المخلوق من الماء الأول لا يكون ولدا له ، ولا يرث من هذا الذي حصل منه الزنا ولو ادعى أنه ابنه ، لأنه ليس ولدا شرعيا

Anak yang dihasilkan dari hubungan zina adalah anak bagi ibunya, bukan anak bapaknya. Berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Anak itu menjadi hak suami, dan bagi pezina dia mendapatkan kerugian.” Artinya, si pezina, dia tidak memiliki hak anak. Itulah makna hadis ini. Sekalipun si lelaki menikahi ibunya setelah bertaubat, anak yang dihasilkan dari hubungan yang pertama, bukan anaknya. Tidak ada hubungan waris dengan anak hasil zina, sekalipun dia mengklaim itu anaknya. Karena dia bukan anak syar’i. (Fatawa Islamiyah, 3/370)

Kedua, karena anak hasil zina tidak memiliki ayah, maka dia tidak memiliki ashabah (kerabat lelaki dari pihak ayah).

Al-Qadhi  Zakariya al-Anshari – ulama Syafiiyah – (w. 926 H) menyatakan,

ولا عصبة لولد الزنا.. لانقطاع نسبه من الأب

Tidak ada ashabah bagi anak hasil zina.., karena terputusnya nasab dari ayah. (Asna al-Mathalib, 3/20)

Sementara hak perwalian dalam pernikahan, ditetapkan berdasarkan jalur ashabah dari ayah. Ketika dia dihukumi tidak memiliki ayah, berarti dia tidak memiliki kakek dari ayah, tidak memiliki saudara kandung dari ayah, atau paman dari ayah. Karena dia tidak memiliki hubungan nasab dengan ayahnya. Sehingga orang-orang di kanan-kiri ayah, tidak ada hubungan dengannya.

Karena itulah, anak zina tidak memiliki wali dari nasab.

Dalam al-Iqna’ dinyatakan,

أن مولد الزنا لا يثبت له نسب من جهة الأبوة …وعلى ذلك فلا عصبة له من جهة الأبوة حتى ولا مع توامه…ولا يثبت لهم ولاية التزويج ولا غيره

Anak hasil zina tidak memiliki nasab dari pihak ayah… karena itu, tidak ada ashabah dari pihak ayah, sekalipun dengan saudara kembarnya (saudara kembarnya adalah saudara seibu). Dan tidak ada hak perwalian untuk ayah dan lainnya. (al-Iqna’, 3/86)

Ketiga, selanjutnya, mengingat anak zina tidak memiliki wali dari pihak keluarga, maka  hak perwalian berpindah ke hakim (pemerintah) atau pejabat KUA yang resmi ditunjuk pemerintah.

Dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ السُّلْطَانَ وَلِىُّ مَنْ لاَ وَلِىَّ لَه

Sesungguhnya hakim menjadi wali bagi orang yang tidak memiliki wali.

(HR. Ahmad 26068 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Demikian,

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

cara aqiqah dan mencukur bayi

Bolehkah Kakek Mengaqiqahi Cucunya?

Bolehkah kakek mengaqiahi cucunya tanpa seizin suami? 

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Pada dasarnya, aqiqah anak merupakan tanggungan orang tua. Ini bagian dari kewajiban nafkah anak yang menjadi tanggung jawab orang tuanya. Hanya saja, terdapat beberapa dalil yang menunjukkan bahwa kakek boleh mengaqiqahi cucunya. Diantaranya,

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan,

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَقَّ عَنِ الْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ كَبْشًا كَبْشًا

Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengaqiqahi Hasan dan Husain, masing-masing dengan kambing jantan. (HR. Abu Daud 2843 dan dishahihkan al-Albani)

Dalam riwayat lain, Ibnu Abbas menyatakan,

عَقَّ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنِ الْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ رضى الله عنهما بِكَبْشَيْنِ كَبْشَيْنِ

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengaqiqahi Hasan dan Husain Radhiyallahu ‘anhuma, masing-masing dengan dua ekor kambing. (HR. Nasai 4236 dan dishahihkan al-Albani).

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengaqiqahi cucu beliau, Hasan dan Husain, putra Ali bin Abi Thalib dengan Fatimah bintu Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Pendekatan Fiqhiyah

Ada beberapa pendekatan yang disampaikan ulama terkait alasan fiqh, sehingga kakek boleh mengaqiqahi anaknya,

Pertama, bahwa ibadah maliyah, yang bentuknya mengeluarkan harta, seperti zakat, sedekah atau qurban, boleh diwakilkan orang lain, setelah mendapat izin dari pihak pertama.

Dalam Fatwa Dar al-Ifta Mesir dinyatakan,

والحكم في هذه المسألة أن الأب هو المخاطب أصالة بالعقيقة، أما إذا كان الأب معسرًا ففعلها الجد فلا بأس به، بل هو مستحب. وأما إذا فعلها الجد ابتداء دون إذن من الأب فأقره الأب جاز، وإلا دفع إليه ثمنها إن شاء

Hukum dalam masalah ini, bahwa ayah, dialah yang utama mendapat beban aqiqah. Jika ayah tidak mampu, kemudian digantikan oleh kakek, hukumnya boleh. Bahkan dianjurkan. Namun jika langsung dilakukan kakek tanpa izin dari ayah, kemudian si ayah menyetujuinya, hukumya boleh. Jika tidak, dia bisa ganti seharga kambing, jika bersedia. (Fatwa Dar al-Ifta Mesir: http://www.dar-alifta.org/ViewResearch.aspx?ID=197)

Kedua, sesungguhnya kakek termasuk bapak. Dia posisinya layaknya bapak.

Nabi Yusuf ‘alaihis shalatu was salam pernah menyebutkan kebanggaanya sebagai ahli tauhid,

وَاتَّبَعْتُ مِلَّةَ آَبَائِي إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ

Aku mengikuti agama ayah-ayahku, Ibrahim, Ishaq, dan Ya’qub… (QS. Yusuf: 38)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyebut Hasan sebagai anak beliau,

إِنَّ ابْنِي هَذَا سَيِّدٌ ، وَإِنَّ اللَّهَ يُصْلِحُ بِهِ بَيْنَ فِئَتَيْنِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ عَظِيمَتَيْنِ

Sesungguhnya putraku ini (Hasan) adalah pemimpin. Allah ta’ala akan mendamaikan dua kelompok besar di kalangan kaum mukminin. (HR. Bukhari 2704, Ahmad 20929 dan yang lainnya).

Karena statusnya layaknya orang tua, kakek berhak mengaqiqahi cucunya, sekalipun tidak mendapat izin dari ayahnya.

Dalam Fatwa Dar al-Ifta Mesir dinyatakan,

وإن كان بغير إذنه جاز لأنه والد في الجملة؛ ولأن بينهما ميراثًا، ولو أعسر الوالد لوجبت النفقة على الجد الموسر

Jika aqiqah ini dilakukan tanpa seizin ayahnya, hukumnya boleh, karena statusnya sama dengan ayah secara umum, dan karena ada hubungan saling mewarisi. Jika ayah tidak punya harta, kakek yang memiliki kelonggaran, dia wajib memberi nafkah. (Fatwa Dar al-Ifta Mesir: http://www.dar-alifta.org/ViewResearch.aspx?ID=197)

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

tamu laki-laki

Jangan Menerima Tamu Lelaki Ketika Suami tidak di Rumah

Tanya tadz, bagaimana sikap istri kalau ada tamu pria ke rumah sedangkan suami lagi tidak ada?

Dari Yusuf

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Rumah keluarga adalah rumah kemuliaan dan kehormatan. Allah perintahkan kedua suami istri saling menjaganya. Terutama istri, yang secara khusus Allah perintahkan agar menjaga amanah di rumah suaminya. Karena istri adalah rabbatul bait (ratu di rumah suaminya), yang bertugas menjaga rumah suaminya.

Diantara ciri wanita shalihah, Allah sebutkan dalam al-Quran,

فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ

Sebab itu wanita yang salehah, adalah yang taat kepada Allah dan menjaga diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara mereka. (QS. an-Nisa: 34).

Dan upaya wanita menjaga kehormatan dirinya, harta suaminya, dan rumahnya, merupakan hak suami yang menjadi kewajiban istri.

Jabis Radhiyallahu ‘anhu menceritakan, dalam haji wada’, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan pesan dalam khutbahnya,

فَاتَّقُوا اللَّهَ فِي النِّسَاءِ ، فَإِنَّكُم أَخَذتُمُوهُنَّ بِأَمَانِ اللَّهِ ، وَاستَحلَلتُم فُرُوجَهُنَّ بِكَلِمَةِ اللَّهِ ، وَلَكُم عَلَيهِنَّ أَلَّا يُوطِئنَ فُرُشَكُم أَحَدًا تَكرَهُونَهُ ، فَإِن فَعَلنَ ذَلك فَاضرِبُوهُنَّ ضَربًا غَيرَ مُبَرِّحٍ ، وَلَهُنَّ عَلَيكُم رِزقُهُنَّ وَكِسوَتُهُنَّ بِالمَعرُوفِ

Bertaqwalah kepada Allah terkait hak istri-istri kalian. Kalian mengambil mereka dengan amanah dari Allah, dan kalian halal berhubungan dengan mereka karena Allah halalkan melalui akad. Hak kalian yang menjadi kewajiban mereka, mereka tidak boleh memasukkan lelaki di rumah. Jika mereka melanggarnya, pukullah mereka dengan pukulan yang tidak menyakitkan. Sementara mereka punya hak disediakan makanan dan pakaian dengan cara yang wajar, yang menjadi kewajiban kalian. (HR. Muslim 1218).

Dalam al-Mausu’ah al-Fiqhiyah,

من حقّ الزّوج على زوجته ألاّ تأذن في بيته لأحد إلاّ بإذنه ، لما ورد عن أبي هريرة رضي الله تعالى عنه أنّ رسول اللّه صلى الله عليه وسلم قال : ( لَا يَحِلُّ لِلْمَرأَةِ أَن تَصُومَ وَزَوجُهَا شَاهِدٌ إِلاَّ بِإِذنِهِ ، وَلَاْ تَأْذَن فِي بَيتِهِ إِلاّ بِإِذنِهِ ) رواه البخاري ( 4899 ) ومسلم ( 1026 ) .

Hak suami yang menjadi kewajiban istrinya, dia tidak boleh mengizinkan seorangpun masuk rumah, kecuali dengan izin suaminya. Berdasarkan hadis dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidak halal bagi wanita untuk puasa sunah, sementara suaminya ada di rumah, kecuali dengan izin suaminya. Dan istri tidak boleh mengizinkan orang lain masuk ke rumahnya kecuali dengan izin suaminya.” (HR. Bukhari 4899 & Muslim 1026).

ونقل ابن حجر عن النّوويّ قوله : “في هذا الحديث إشارة إلى أنّه لا يُفتات على الزّوج بالإذن في بيته إلاّ بإذنه ، وهو محمول على ما لا تعلم رضا الزّوج به ، أمّا لو علمت رضا الزّوج بذلك فلا حرج عليها

Ibnu Hajar menukil keterangan dari an-Nawawi mengenai hadis ini,

Bahwa dalam hadis ini terdapat isyarat, bahwa istri tidak boleh memutuskan sendiri dalam memberi izin masuk rumah, kecuali dengan izin suami. Dan ini dipahami untuk kasus yang dia tidak tahu apakah suami ridha ataukah tidak. Namun jika dia yakin suami ridha dengan keputusannya, tidak menjadi masalah baginya. (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 30/125).

Sebagai contoh, tamu yang tidak perlu izin dari suami, tamu dari kerabat suami atau kerabat istri. Mereka bisa dipersilahkan masuk, selama masih mahram dengan istri.

Untuk tamu asing,

Ketika datang tamu asing, bukan keluarga suami maupun istri, sementara suami tidak ada di rumah, istri tidak boleh mengizinkan masuk tamu itu.

Jika tamu menyampaikan salam, istri cukup menjawab salamnya dengan pelan dari dalam tanpa membukakan pintu.

Jika tamu menyadari  ada penghuni di dalam, dan dia minta izin masuk, cukup sampaikan bahwa suami tidak di rumah dan tidak boleh diizinkan masuk.

Semoga Allah menjaga keluarga kaum muslimin.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

SOCIAL

9,418FansLike
4,525FollowersFollow
32,165FollowersFollow
61,951SubscribersSubscribe

RAMADHAN