tutup Eksternal hardisk kajian video islam
cashflow laporan keuangan software akutansi terbaik
FIKIH

jam 11-30

Jumatan Sebelum Jam 12:00

Saya shalat jumat di masjid di daerah Lamongan Jawa Timur, ternyata khatib naik mimbar sebelum jam 12. Bahkan seingat saya jam 11.45. apakah jumatannya sah? Terima kasih ustad.

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Ada dua catatan untuk membahas kasus ini,

Pertama, ulama berbeda pendapat tentang batas waktu paling awal untuk memulai jumatan.

Pendapat pertama, waktu mulai jumatan sama dengan waktu shalat dzuhur, yaitu zawal as-Syams, ketika matahari tergelincir ke barat. Dan tidak boleh jumatan sebelum waktu zawal.

Ini merupakan pendapat mayoritas ulama, diantaranya Hanafiyah, Malikiyah, dan Syafiiyah. Imam an-Nawawi menyebutnya sebagai pendapat mayoritas sahabat, tabiin, serta ulama generasi setelahnya. Bahkan Imam as-Syafii mengatakan,

ولا اختلاف عند أحد لقيته أن لا تصلى الجمعة حتى تزول الشمس

Tidak ada perbedaan diantara ulama yang pernah aku temui, tidak boleh mengerjakan jumatan hingga matahari tergelincir. (al-Umm, 1/223)

Diantara dalil yang mendukung pendapat ini,

  1. Hadis dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

أَنَّ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يُصَلِّى الْجُمُعَةَ حِينَ تَمِيلُ الشَّمْسُ

Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat jumat ketika matahari telah tergelincir. (HR. Bukhari 904).

  1. Hadis dari Salamah bin Akwa Radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

كُنَّا نُجَمِّعُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا زَالَتْ الشَّمْسُ ثُمَّ نَرْجِعُ نَتَتَبَّعُ الْفَيْءَ

Kami mengikuti jumatan bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika matahari telah tergelilncir, kemudian kami pulang berjalan mencari bayangan bangunan. (HR. Muslim 860)

Pendapat kedua, jumatan boleh dimulai sebelum zawal. Artinya jumatan bisa dilakukan sebelum masuk waktu dzuhur. Ini merupakan pendapat Ishaq bin Rahuyah, Imam Ahmad, dan mayoritas ulama hambali.

Dalam kitab al-Inshaf dinyatakan,

“ويشترط لصحة الجمعة أربعة شروط أحدها الوقت وأوله أول وقت صلاة العيد”. هذا المذهب وعليه أكثر الأصحاب ونص عليه قال في الفروع: اختاره الأكثر قال الزركشي: اختاره عامة الأصحاب

Sahnya jumatan ada 4 syarat, yang pertama terkait waktu. Waktu memulainya jumatan, seperti waktu shalat id (sebelum dzuhur). Inilah pendapat madzhab hambali, dan yang dipilih mayoritas ulama hambali dan yang ditegaskan Imam Ahmad. Dalam kitab al-Furu’ dinyatakan, ‘Pendapat ini dipilih oleh mayoritas ulama’. Kata az-Zarkasyi, ‘Dipilih oleh mayoritas ulama hambali.’ (al-Inshaf, 2/263).

Diantara dalil yang mendukung pendapat ini,

  1. Hadis dari Ja’far bin Muhammad, dari ayahnya, dari sahabat Jabir,

كُنَّا نُصَلِّي مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ نَرْجِعُ فَنُرِيحُ نَوَاضِحَنَا، قَالَ حَسَنٌ : فَقُلْتُ لِجَعْفَرٍ : فِي أَيِّ سَاعَةٍ تِلْكَ ؟ قَالَ : زَوَالَ الشَّمْسِ

Kami shalat jumat bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian kami pulang dan mengistirahatkan onta-onta kami.

Hasan bertanya kepada Ja’far, ‘Kapan itu dilakukan?’

Jawab Ja’far, “Ketika matahari tergelincir.” (HR. Muslim 2026, Nasai 1401 dan yang lainnya).

  1. Hadis dari Sahl bin Sa’d, beliau mengatakan,

مَا كُنَّا نَقِيلُ وَلَا نَتَغَدَّى إِلَّا بَعْدَ الْجُمُعَةِ

Kami terbiasa tidak tidur siang dan tidak makan siang kecuali setelah jumatan. (HR. Bukhari 6248, Muslim 2028 dan yang lainnya).

  1. Hadis dari Salamah bin al-Akwa Radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

كُنَّا نُصَلِّي مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْجُمُعَةَ فَنَرْجِعُ وَمَا نَجِدُ لِلْحِيطَانِ فَيْئًا نَسْتَظِلُّ بِهِ

Kami shalat jumat bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu kami pulang, dan kami tidak menemukan bayangan tembok yang bisa kami gunakan untuk berteduh. (HR. Bukhari 4168 & Muslim 860).

Tarjih Pendapat

Dari dua pendapat di atas, pendapat yang mendekati kebenaran adalah pendapat pertama, pendapat yang dipilih mayoritas ulama. Dengan alasan,

Dalil pendapat mayoritas ulama lebih tegas menunjukkan jumatan dilakukan setelah tergelincir matahari. Sementara dalil yang dibawakan pendapat hambali tidak tegas mendukung pendapatnya. Justru dalil itu mendukung pendapat pertama. Untuk menjawab beberapa dalil pendapat kedua, kita simak keterangan An-Nawawi dalam al-Majmu’,

وتفصيل الجواب ان يقال حديث جابر فيه اخبار أن الصلاة والرواح الي جمالهم كانا حين الزوال لا ان الصلاة قبله. (والجواب) عن حديث سلمة انه حجة لنا في كونها بعد الزال لانه ليس معناه انه ليس للحيطان شئ من الفى وانما معناه ليس لها في كثير بحيث يستظل به المار

Rincian jawabannya bahwa hadis Jabir merupakan informasi bahwa shalat dan mengurus onta yang mereka lakukan dilakukan sekitar waktu ketika matahari tergelincir, bukan shalat jumat dikerjakan sebelum matahari tergelincir.

Sementara jawaban untuk hadis Salamah bin Akwa, justru itu dalil yang mendukung pendapat kami, bahwa jumatan dilakukan setelahzawal (tergelincir matahari). Karena makna hadis bukan ‘tidak ada bayangan tembok sama sekali’, namun makna yang benar adalah tidak ada bayangan yang cukup banyak, sehingga membuat orang yang jalan bisa berteduh. (al-Majmu’ Syarh Muhadzab, 4/512)

Kemudian, Imam Ahmad sendiri dalam sebagian riwayat, beliau menganjurkan agar jumatan dilakukan setelah masuk waktu dzuhur. Al-Hafidz Ibnu Rajab mengatakan,

ونقل أبو طالب، عنه، قال: ما ينبغي أن يصلي قبل الزوال

Abu Thalib menukil dari Imam Ahmad, bahwa beliau mengatakan, “Tidak selayaknya shalat jumat dilakukan sebelum zawal.” (Fathul Bari, 8/176).

Yang Penting Shalatnya

Sekalipun adzan jumat dimulai sebelum jam 12.00, namun kita pastikan, shalatnya dilakukan setelah zawal.

Imam Ibnu Baz mengatakan,

الأفضل بعد زوال الشمس خروجا من خلاف العلماء ؛ لأن أكثر العلماء يقولون لا بد أن تكون صلاة الجمعة بعد الزوال ، وهذا هو قول الأكثرين

Yang paling afdhal, dilakukan setelah zawal, dalam rangka menghindari perbedaan pendapat. Karena mayoritas ulama mengatakan, shalat jumat harus dilakukan setelah zawal (masuk waktu dzuhur). (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 12/391).

Catatan Kedua, bahwa jadwal masuknya waktu dzuhur di Indonesia berbeda-beda, artinya tidak bisa diseragamkan dengan jam 12.00. Di wilayah jakarta, waktu dzuhur yang paling siang sekitar pukul 12.10. itu di sekitar bulan Januari. Sementara waktu dzuhur yang paling awal sekitar pukul 11.35.

Untuk wilayah Lamongan Jawa Timur, tentu saja jatuhnya lebih awal. Selisih sekitar 20 menit.

Sementara selisih waktu shalat jogja jakarta, sekitar 10 menit.

Karena itu, untuk jumatan yang dimulai sebelum jam 11.45, insyaaAllah tidak sampai dilaksanakan sebelum dzuhur. Dan jumatannya sah.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Mada'in Saleh di Arab Saudi

Wisata ke Daerah yang Pernah Diadzab Allah

Ustad. Mau tanya. Ana pernah dengar kajian bahwa kita tidak di perkenankan wisata ke kota seperti Petra, Jordan, Mada’in Saleh di Arab Saudi dan Pyramid di Egypt karena kota kota tersebut adalah kota kota yang Allah membinasakan kaumnya karena mengingkari dakwah para Nabi di masanya. Apakah ini benar? Adakah dalil dalil dari Al Qur’an dan hadist yang menyatakan demikian dan apa yang harus kita lakukan jika kita ke kota kota tersebut?

Syukron. بارك الله فيك

Abu Aryan – Singapore

Jawaban;

Wa ‘alaikumus salam

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Berkunjung ke Daerah ini, Wajib Sambil Menangis?

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika melakukan perjalanan menuju Tabuk, beliau melewati Hajar (Madain Soleh), satu daerah yang dulu ditempati kaum tsamud, umatnya Nabi Soleh ‘alaihis salam. Puing-puing rumah mereka masih banyak tersisa. Beliau memerintahkan agar para sahabat mempercepat langkahnya dan berusaha menangis.

Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma, menceritkan,

لَمَّا مَرَّ بِالْحِجْرِ قَالَ « لاَ تَدْخُلُوا مَسَاكِنَ الَّذِينَ ظَلَمُوا إِلاَّ أَنْ تَكُونُوا بَاكِينَ ، أَنْ يُصِيبَكُمْ مَا أَصَابَهُمْ » . ثُمَّ قَنَّعَ رَأْسَهُ وَأَسْرَعَ السَّيْرَ حَتَّى أَجَازَ الْوَادِىَ

Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati daerah Hajar, beliau bersabda,

“Janganlah kalian memasuki tempat tinggal orang-orang yang dzalim, kecuali sambil menangis. Karena apa yang menimpa mereka bisa menimpa kalian.”

Lalu beliau menutup kepala beliau dengan kain selendangnya, dan mempercepat perjalanannya, hingga berhasil melewati daerah itu. (HR. Ahmad 5466 dan Bukhari 4419)

Dalam riwayat lain, beliau secara tegas melarang untuk memasuki tempat seperti itu, kecuali sambil menangis.

Beliau bersabda,

لاَ تَدْخُلُوا عَلَى هَؤُلاَءِ الْمُعَذَّبِينَ إِلاَّ أَنْ تَكُونُوا بَاكِينَ ، فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا بَاكِينَ فَلاَ تَدْخُلُوا عَلَيْهِمْ ، لاَ يُصِيبُكُمْ مَا أَصَابَهُمْ

Janganlah kalian memasuki daerah umat yang diadzab itu kecuali sambil menangis. Jika kalian tidak bisa menangis, jangan memasuki daerah mereka. Jangan sampai adzab yang menimpa mereka, menimpa kalian. (HR. Bukhari 433).

Tentu saja saran beliau itu tidak hanya berlaku untuk sahabat di masa itu. Peringatan ini berlaku untuk semua umat beliau.

Karena itulah, hadis ini menjadi landasan para ulama, tentang larangan berkunjung ke tempat umat-umat masa silam yang diadzab oleh Allah karena kedurhakaannya, hanya karena ingin tahu atau piknik atau sebatas mengambil gambar. Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi peringatan,

“Jangan sampai adzab yang menimpa mereka, menimpa kalian”.

Imam Ibnu Utsaimin pernah ditanya,

هل يجوز زيارة مدائن صالح للعظة؟

Bolehkah mendatangi Madain Sholeh untuk mengambil pelajaran dari kejadian itu?

Jawaban beliau,

يجوز بشرط: ألا يدخلها الإنسان إلا وهو يبكي.

لأن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ( لا تدخلوا على هؤلاء المعذبين إلا وأنتم باكون ) أما أن يذهب إليها لينظر مدى قوة القوم فيما سبق فهذا لا يجوز، والفرق ظاهر، لأن هذا الذي يذهب إليها من أجل أن ينظر قوة هؤلاء ذهابه إليها نزهة وترف ولا كأنه وقع بهم من العذاب ما وقع، أما الذي يذهب إليها وهو يبكي ويخاف فهذا لا حرج فيه.

ولهذا لما مر النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم بهذه الديار في سفره إلى تبوك قنع رأسه وأسرع في السير.

Ya boleh, dengan syarat, seseorang tidak memasuki daerah itu kecuali dalam kondisi menangis.

Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian memasuki daerah umat yang diadzab itu kecuali sambil menangis.”

Adapun mendatangi tempat-tempat itu hanya melihat betapa kuatnya kaum Tsamud di masa silam, maka ini tidak boleh.

Perbedaannya jelas. Orang ini berangkat untuk mengukur kekuatan kaum Tsamud, tujuannya hanya untuk rekreasi, jalan-jalan. Dan tidak membayangkan bagaimana adzab itu menimpa mereka.

Sedangkan orang yang pergi ke sana sambil menangis dan takut kepada Allah, ini tidak masalah.

Untuk itu, ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati perkampungan mereka dalam perjalanannya menuju tabuk, beliau menutup kepalanya dan mempercepat langkahnya. (Liqaat Bab al-Maftuh, volume 224, no. 14).

Petra dan Laut Merah

Sabab wurud pada hadis Ibnu Umar di atas terkait Madain Soleh (Hajar). Namun ini dipahami melebar. Sehingga larangan ini juga berlaku untuk semua pemukiman umat masa silam yang dibinasakan Allah karena kedurhakaannya.

Ketika menjelaskan hadis ini, Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan,

وهذا يتناول مساكن ثمود وغيرهم ممن هو كصفتهم وإن كان السبب ورد فيهم

Hadis ini mencakup tempat tinggal Tsamud dan kaum selain mereka, yang kondisinya seperti Tsamud. Meskipun sebab adanya hadis itu adalah pemukiman Tsamud. (Fathul Bari, 6/380).

Kami tidak tahu, apakah petra dan laut merah termasuk daerah umat yang diadzab ataukah tidak. Hanya saja, ada pernyataan dari sebagian ulama bahwa tepi laut merah di Yordan merupakan tempat umatnya Nabi Luth yang dibinasakan.

Ibnu Asyura mengatakan,

والقوم الذين أُرسل إليهم لوط عليه السّلام هم أهل قرية ” سدوم ” و ” عمُّورة ” ، من أرض كنعان ، وربّما أطلق اسم ” سدوم ” و ” عمُّورة ” على سكّانهما ، وهو أسلاف الفنيقيين ، وكانتا على شاطىء السديم ، وهو ” بحر الملح ” ، كما جاء في التّوراة ، وهو البحر الميّت المدعو ” بحيرة لوط “

Umat yang didatangi kaum Luth adalah penduduk negeri Sodom dan Gomora, di daerah Kan’an. Terkadang nama daerah Sodom dan Gomora digunakan menyebut penduduknya. Mereka nenek moyang bangsa Fenisia. Sodom dan Gomora berada di pesisir pantai Sadim, laut garam, sebagaimana yang disebutkan dalam Taurat. Itulah laut mati, yang dinamakan dengan laut Luth. (at-Tahrir wa at-Tanwir, 8/230).

Sementara untuk Petra, kami tidak menjumpai keterangan asal muasal tempat itu. Apakah dia termasuk tempat yang penduduknya pernah diadzab oleh Allah atau tidak?

Terdapat keterangan dari Lembaga Fatwa Syabakah Islamiyah,

بالنسبة للبتراء إذا لم يثبت بالدليل الشرعي أنها من ديار المعذبين، فنهي النبي  صلى الله عليه وسلم  إنما ورد عن دخول الأماكن التي عذب فيها الكفار إلا أن يكون المسلم باكيا خاشعا معتبرا بما أصابهم

Terkait daerah Petra, kita tidak memiliki dalil yang mendukung bahwa itu termasuk kampung yang penduduknya disiksa. Sementara larangan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya berlaku untuk memasuki daerah yang dulu orang kafir disiksa di sana, kecuali sambil menangis dengan khusyu, merenungkan adzab yang Allah berikan kepada mereka. (Fatwa Syabakah Islamiyah, no. 123400)

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

memerangi isis

Memerangi ISIS

Maaf ustad, itu ada seminar internasional tentang terorisme dan isis yang dihadiri beberapa negara kafir, seperti amerika, singapura, dan yang lainnya. Di sana ada seorang ulama senior, Syaikh Ali al-Halabi. Bagaimana pandangannya, orang islam bekerja sama dengan negara kafir untuk menumpas isis, apa ini dibolehkan?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Ada dua permasalahan yang dibicarakan sebagian masyarakat terkait acara itu,

Pertama, duduk bersama orang kafir untuk menjalin kesepakatan

Mereka menganggap ini keanehan. Bagaimana bisa seorang ulama ahlus sunah, duduk bersama orang fasik, ornag liberal, orang kafir, untuk membuat kesepakatan bersama?

Sebenarnya komentar ini tidak perlu kita bahas terlalu lebar. Karena dalam sejarah perjuangan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat, mereka sering membuat kesepakatan damai dengan orang kafir. Baik orang musyrikin Quraisy, maupun orang yahudi sekitar Madinah. Terutama ketika kekuatan kaum muslimin belum bisa menandingi kekuatan musuh.

Anda yang membaca sejarah tentu mengenal piagam Madinah, perjanjian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Yahudi sekitar Madinah, atau perjanjian Hudaibiyah. Ini semua dilakukan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan karena ridha dengan orang kafir, atau menaruh kepercayaan besar kepada orang kafir. Jelas bukan itu tujuan beliau. Namun sebagai bentuk rahmat bagi kaum muslimin. Dengan adanya perjanjian ini, akan lebih menguntungkan kaum muslimin dan jaminan keamanan bagi umat islam.

Benar kaum muslimin di Indonesia mayoritas. Sayangnya, agama mayoritas ini sebagian besar tidak memiliki kepedulian serius terhadap kondisi umat islam. Ditambah, mereka berpecah belah karena perbedaan prinsip dan aqidah. Sehingga kondisi mereka jelas lebih lemah dibandingkan keadaan para sahabat ketika itu.

Kedua, kaum muslimin meminta bantuan orang kafir untuk menumpas isis

Anda tentu sepakat dengan dampak buruk isis bagi umat islam. Sejak daulah ini berdiri dan memiliki sedikit kekuatan dan senjata, ratusan umat islam tidak berdosa telah dibantai. Betapa banyak warga muslim dunia yang menjadi korban kebiadabannya.

Sementara belum pernah kita saksikan mereka memberi manfaat bagi umat. Kita belum pernah mendengar info isis melawan yahudi israel, atau melawan syiah iran. Rata-rata yang diserang adalah kaum muslimin dan negara-negara islam yang mayoritas warganya ahlus sunah. Apa-apaan ini? Inikah negara islam??

Dampak burukyna tidak hanya masalah pencitraan terhadap dunia tentang islam. Namun sudah menghalalkan banyak nyawa kaum muslimin.

Mereka tak ubahnya tumor ganas yang ada di tubuh kaum muslimin.

Fatwa Ulama Meminta Bantuan Orang Kafir   

Kita harus memahami, masalah meminta bantuan orang kafir untuk membantu kaum muslimin dalam hal yang menguntungkan mereka, merupakan masalah fiqhiyah. Sehingga perbedaan pendapat dalam masalah ini, tidak memberikan konsekuensi keluar dari aqidah atau manhaj yang benar.

Al-Muwafaq Ibnu Qudamah mengatakan,

فصل : ولا يستعان بمشرك وبهذا قال ابن المنذر و الجوزجاني وجماعة من أهل العلم وعن أحمد ما يدل على جواز الاستعانة به وكلام الخرقي يدل عليه أيضا عند الحاجة وهو مذهب الشافعي لحديث الزهري الذي ذكرناه وخبر صفوان بن أمية ويشترط أن يكون من يستعان به حسن الرأي في المسلمين فان كان غير مأمون عليهم لم تجزئه الاستعانة به

Pasal:

Tidak boleh meminta bantuan orang musyrik, ini merupakan pendapat Ibnul Mundzir, al-Juzajani, dan sekelompok ulama. Dan diriwayatkan dari Imam Ahmad yang menunjukkan bolehnya meminta bantuan kepada orang musyrik. Keterangan al-Kharqi juga menunjukkan hal ini, boleh meminta bantuan mereka jika dibutuhkan, dan ini merupakan pendapat as-Syafii. Ini berdasarkan hadis dari az-Zuhri yang telah kami singgung, dan peristiwa yang terjadi pada Shafwan bin Umayah. Dan dipersyaratkan, orang yang dimintai bantuan, memiliki cara pandang yang baik terhadap kaum muslimin. Jika dia tidak bisa dipercaya, maka tidak boleh meminta bantuan mereka. (al-Mughni, 10/447).

Selanjutnya kita simak keterangan Imam as-Syafii. Dalam kitab al-Umm beliau menyatakan,

وإن كان مشرك يغزو مع المسلمين وكان معه في الغزو من يطيعه من مسلم أو مشرك وكانت عليه دلائل الهزيمة والحرص على غلبة المسلمين وتفريق جماعتهم لم يجز أن يغزو به … ومن كان من المشركين على خلاف هذه الصفة فكانت فيه منفعة للمسلمين القدرة على عورة عدو أو طريق أو ضيعة أو نصيحة للمسلمين فلا بأس أن يغزي به

Jika ada orang musyrik ikut berperang bersama kaum muslimin, sementara dia punya pengaruh terhadap muslim yang lain atau orang musyrik. Dan ada tanda-tanda keinginannya untuk menguasai kaum muslimin dan memecah belah persatuan mereka, maka tidak boleh berperang bersama orang musyrik…

Jika orang musyrik kondisinya tidak seperti ini, dan keberadaannya memberi manfaat bagi kaum muslimin, mampu menyingkap kekurangan musuh, atau sebagai penunjuk jalan, atau sebagai pengarah untuk mencari daerah terpencil, atau memberikan kebaikan bagi kaum muslimin, tidak masalah berperang bersama mereka. (al-Umm, 4/166).

Dan inilah yang menjadi landasan para ulama kontemporer, terkait fenomena ISIS. Komplotan ISIS, masalah dunia, masalah hampir semua negara. Sementara kaum muslimin paling berkepentingan di sana. Sementara melibatkan orang kafir untuk membasmi mereka akan sangat menguntungkan kaum muslimin. Itulah yang mendasari Syaikh Ali al-Halabi merelakan waktunya untuk memberikan pengarahan dalam konferensi itu.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

saksi jenazah

Saksi untuk Jenazah

Assalmu’alaikum… Pak ustadz. mau tanya apakah ada dalil yang shahih mengenai kesaksian kepada jenazah. Misalnya, ada pak kiai yang mamberi sambutan dalam rangka memamitkan jenasah dengan mengatakan: “jenasah ini baik apa jelak hadirin?” Otomatis para hadirin serempak menjawab “ “baik”. Jazakumullah khoiron…

Dari Nurhadi

Jawaban:

Wa ‘alaikumus salam  

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,

Suatu ketika para sahabat melihat seorang jenazah yang diangkat menuju pemakamannya. Merekapun memuji jenazah ini. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَجَبَتْ، وَجَبَتْ، وَجَبَتْ

”Wajib.., wajib.., wajib.”

Tidak berselang lama, lewat jenazah lain. Kemudian para sahabat langsung mencelanya.

Seketika, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَجَبَتْ، وَجَبَتْ، وَجَبَتْ

”Wajib.., wajib.., wajib.”

Umarpun keheranan dan bertanya,

”Apanya yang wajib?”

Jawab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

هَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ خَيْرًا، فَوَجَبَتْ لَهُ الجَنَّةُ، وَهَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ شَرًّا، فَوَجَبَتْ لَهُ النَّارُ، أَنْتُمْ شُهَدَاءُ اللَّهِ فِي الأَرْضِ

”Jenazah pertama kalian puji dengan kebaikan, maka dia berhak mendapat surga. Jenazah kedua kalian cela, maka dia berhak mandapat neraka. Kalian adalah saksi Allah di muka bumi.” (HR. Bukhari 1367 & Muslim 949).

Hadis ini merupakan dalil bahwa pujian yang disampaikan masyarakat kepada mayit, menjadi bukti status keshalehan seseorang ketika di dunia. Hanya saja, ini sifatnya alami. Artinya tidak bisa dikondisikan atau dibuat suasana agar masyarakat memujinya. Karena pujian atau celaan yang menjadi bukti baik dan buruk seseorang adalah pujian yang jujur, tidak dibuat-buat.

Karena itulah, kita tidak menjumpai adanya satupun riwayat bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap kali mengunjungi jenazah, beliau bertanya kepada para sahabat yang lain tentang status jenazah ini. Apakah dia orang baik atauah orang jahat. Sehingga kebiasaan seperti yang anda sebutkan, tidak pernah diajarkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam maupun para sahabat.

Menjadi Buah Bibir Setelah Mati

Pujian orang yang disampaikan langsung di hadapan kita, sarat dengan tendensi dan kepentingan. Pujian orang yang disampaikan ketika kita tiada, itulah pujian yang sebenarnya.

Diantara doa Ibrahim yang Allah sebutkan dalam al-Quran, beliau memohon agar beliau menjadi buah bibir setelah beliau meninggal,

وَاجْعَلْ لِي لِسَانَ صِدْقٍ فِي الْآخِرِينَ

Jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian (QS. As-Syu’ara: 84).

Arti doa ini, Ibrahim memohon kepada Allah, agar beliau diberi taufik untuk menjadi sumber kebaikan, sumber keberkahan bagi masyarakat dan dunia, sehingga semua orang memuji beliau, hingga hari kiamat.

Karena pujian manusia adalah kesaksaian mereka atas perbuatan dan perilaku kita di dunia.

Jadilah manusia yang menebar kebaikan bagi lingkungannya, semoga pujian mereka menjadi saksi atas kebaikan kita.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

suami pecandu narkoba

Menjadi Kurir Narkoba untuk Melunasi Hutang Riba

Assalamu’alaikum
saya bekerja sebagai seorang kurir narkoba, gmna kah hukum nya, gaji yg saya terima dari pekerjaan tersebut halal atau kah haram, pekerjaan ini saya lakukan demi membayar hutang riba saya sebesar 10jt, dan tidk akn saya lakukan lagi untuk meminjam uang riba.
Trims

Dari Hamba Allah

Jawaban

Wa ‘alaikumus salam

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Dalam agama apapun, narkoba diharamkan. Masyarakat selamanya tidak pernah menerimanya. Karena benda ini bisa menjadi sumber kerusakan bagi umat.

Bahkan islam memberikan acaman yang sangat keras, dalam bentuk hukuman bunuh atau minimal penjara bagi orang yang terlibat dalam pengedaran narkoba, sesuai tingkat keparahannya.

Selengkapnya, anda bisa pelajari di: Hukuman Mati untuk Pengedar Narkoba 

Terkait masalah penghasilan, uang yang anda dapatkan statusnya uang haram. Uang yang dihasilkan dari upaya tolong menolong untuk menyebarkan barang haram. Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنَّ الله إذا حرَّم شيئاً حرَّم ثمنه

Sesungguhnya Allah ketika mengharamkan sesuatu, Allah akan haramkan uang hasil penjualan benda itu. (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf, 5/46).

Sehingga sebesar apapun penghasilan anda dari jasa kurir narkoba, anda tidak berhak menikmatinya sepeserpun. Statusnya sebagaimana uang riba. Berikan uang itu Pak RT agar digunakan untuk dana umum masyarakat. Anda bisa pelajari keterangan selengkapnya di: Cara Halal Memanfaatkan Bunga Bank

Saat Bertaubat, Agar tidak Kena Laknat

Sekalipun anda tidak turut mengkonsmsi narkoba, bukan berarti anda bebas dari dosa. Semua orang yang terlibat dalam penyebaran benda haram, mendapatkan dosa sebagaimana orang yang menikmatinya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat banyak orang hanya gara-gara khamr. Dari Ibnu Umar radhiallahu anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“لَعَنَ اللَّهُ الْخَمْرَ وَشَارِبَهَا وَسَاقِيَهَا وَبَائِعَهَا وَمُبْتَاعَهَا وَعَاصِرَهَا وَمُعْتَصِرَهَا وَحَامِلَهَا وَالْمَحْمُولَ إِلَيْهِ . زَادَ جَعْفَرٌ فِى رِوَايَتِهِ : وَآكِلَ ثَمَنِهَا

“Allah melaknat khamr (minuman keras), peminumnya, penuangnya (penlayannya), penjualnya, pembelinya, pemerasnya (pabriknya), orang yang minta diperaskan (agen), pembawanya (distributor), dan orang yang dibawakan kepadanya.” Ja’far dalam riwayatnya menambahkan “Dan pemakan hasil penjualannya.” (Hadis Ibnu Umar dikeluarkan oleh Abu Dawud no. 3674 —dishahihkan oleh Al-Albani—, Al-Hakim no. 7228, ia berkata sanadnya shahih, dan Al-Baihaqi no. 10828, lafal ini bagi Al-Baihaqi).

Orang yang menikmati khamr itu bisa jadi hanya satu. Tapi semua yang menjadi perantara orang ini minum khamr, dilaknat oleh Allah Ta’ala. Dalam hadis tersebut, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan 9 orang yang terkena laknat.

Utang Riba Bukan Alasan

Tanggungan utang riba bukan alasan untuk menghalalkan usaha yang jelas terlarang. Usaha haram tetap haram, sekalipun anda menggunakannya untuk melepaskan diri dari utang riba.

Jika ini dipahami kondisi darurat, sehingga anda beralasan boleh menjadi kurir narkoba untuk menebusnya, jelas ini pemahaman yang salah.

Pertama, utang bukan kondisi darurat yang membolehkan orang untuk melanggar yang diharamkan agama atau merugikan orang lain. Karena itu, kami tidak pernah menjumpai ada ulama yang memfatwakan bolehnya mencuri untuk melunasi utang.

Kedua, solusi melepaskan diri dari kondisi darurat, tidak boleh dengan cara merugikan orang lain atau bahkan masyarakat luas. Ini jika kita menerima bahwa utang riba termasuk darurat. Orang yang kelaparan sekalipun, dia tidak boleh melepaskan diri dari kelaparannya dengan cara menjual khamr, sementara masih ada solusi lain untuk melepaskan dirinya dari kelaparan.

Ketiga, dalam islam, orang yang berutang untuk memenuhi kebutuhan pokok, haknya dilindungi.

Mereka berhak mendapatkan zakat untuk melunasi utangnya. Karena itu, anda bisa mendatangi LAZIS terdekat, tentu saja dengan membawa rekomendasi dari pihak yang berwenang, seperti pak RT atau tokoh masyarakat setempat.

Bergabunglah dengan komunitas yang baik, insyaaAllah mereka bisa mempengaruhi anda.

Jangan lupa banyak berdoa kepada Allah. Tunjukkan bahwa anda orang yang beriman kepada-Nya dalam doa anda. Tunjukkan bahwa anda yakin bahwa Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Semoga Allah memudahkan anda dan memberkahi anda.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

makna zina

Pernikahan Anak Hasil Zina

Ada anak gadis yang mau menikah, anak gadis tersebut adalah anak pertama dari sepasang suami istri yang sebelum menikah sudah melakukan hubungan suami istri (berzina) sehingga mengandung anak tersebut. Kemudian mereka menikah, dan pernikahan baru berjalan 4 bulan anak tersebut lahir berjenis kelamin perempuan. Pertanyaan saya adalah :
1. Syah kah pernikahan tersebut jika yang menjadi wali nikah adalah ayah biologisnya tersebut ?
2. Siapakah seharusnya yang boleh menikahkannya sehingga halal dalam islam.??
3. Solusi apa yang bisa di sampaikan kepada gadis tersebut dan calon suaminya ??

Terima kasih atas jawabannya!!

Dari Z. E.

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Untuk kesekian kalinya kami menekankan bahwa anak yang sah, adalah anak yang dihasilkan dari hubungan karena ikatan pernikahan yang sah. Bukan semata hasil hubungan biologis. Jika anak biologis diaku sebagai keturunan, tidak ada beda antara manusia dengan binatang.

Karena itulah, kami menegaskan bahwa anak hasil zina, tidak punya ayah. Dia hanya punya ibu. Sehingga dia dinasabkan ke ibunya. Sebagaimana Nabi Isa yang terlahir tanpa ayah. Beliau dinasabkan ke Ibunya, wanita suci, Maryam Radhiyallahu ‘anha. Kita menyebut beliau Isa bin Maryam.

Dari Abdullah bin Amr bin Ash, beliau mengatakan,

قَضَى النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ مَنْ كَانَ مِنْ أَمَةٍ لَمْ يَمْلِكْهَا ، أَوْ مِنْ حُرَّةٍ عَاهَرَ بِهَا فَإِنَّهُ لا يَلْحَقُ بِهِ وَلا يَرِثُ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memutuskan bahwa anak dari hasil hubungan dengan budak yang tidak dia miliki, atau hasil zina dengan wanita merdeka tidak dinasabkan ke bapak biologisnya dan tidak mewarisinya… (HR. Abu Daud 2267, dihasankan al-Albani).

Kemudian dalam riwayat lain, dari Aisyah radhiallahu’anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الولد للفراش وللعاهر الحجر

“Anak itu menjadi hak pemilik firasy (suami), dan bagi pezina dia mendapatkan kerugian.” (HR. Bukhari 6749, Muslim 3686 dan yang lainnya)

Imam Ibnu Utsaimin menjelaskan hadis ini,

وأما الولد الذي يحصل من الزنا ، يكون ولدا لأمه ، وليس ولدا لأبيه ؛ لعموم قول الرسول صلى الله عليه وسلم : (الولد للفراش وللعاهر الحجر) العاهر : الزاني ، يعني ليس له ولد . هذا معنى الحديث . ولو تزوجها بعد التوبة فإن الولد المخلوق من الماء الأول لا يكون ولدا له ، ولا يرث من هذا الذي حصل منه الزنا ولو ادعى أنه ابنه ، لأنه ليس ولدا شرعيا

Anak yang dihasilkan dari hubungan zina adalah anak bagi ibunya, bukan anak bapaknya. Berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Anak itu menjadi hak suami, dan bagi pezina dia mendapatkan kerugian.” Artinya, si pezina, dia tidak memiliki hak anak. Itulah makna hadis ini. Sekalipun si lelaki menikahi ibunya setelah bertaubat, anak yang dihasilkan dari hubungan yang pertama, bukan anaknya. Tidak ada hubungan waris dengan anak hasil zina, sekalipun dia mengklaim itu anaknya. Karena dia bukan anak syar’i. (Fatawa Islamiyah, 3/370)

Kedua, karena anak hasil zina tidak memiliki ayah, maka dia tidak memiliki ashabah (kerabat lelaki dari pihak ayah).

Al-Qadhi  Zakariya al-Anshari – ulama Syafiiyah – (w. 926 H) menyatakan,

ولا عصبة لولد الزنا.. لانقطاع نسبه من الأب

Tidak ada ashabah bagi anak hasil zina.., karena terputusnya nasab dari ayah. (Asna al-Mathalib, 3/20)

Sementara hak perwalian dalam pernikahan, ditetapkan berdasarkan jalur ashabah dari ayah. Ketika dia dihukumi tidak memiliki ayah, berarti dia tidak memiliki kakek dari ayah, tidak memiliki saudara kandung dari ayah, atau paman dari ayah. Karena dia tidak memiliki hubungan nasab dengan ayahnya. Sehingga orang-orang di kanan-kiri ayah, tidak ada hubungan dengannya.

Karena itulah, anak zina tidak memiliki wali dari nasab.

Dalam al-Iqna’ dinyatakan,

أن مولد الزنا لا يثبت له نسب من جهة الأبوة …وعلى ذلك فلا عصبة له من جهة الأبوة حتى ولا مع توامه…ولا يثبت لهم ولاية التزويج ولا غيره

Anak hasil zina tidak memiliki nasab dari pihak ayah… karena itu, tidak ada ashabah dari pihak ayah, sekalipun dengan saudara kembarnya (saudara kembarnya adalah saudara seibu). Dan tidak ada hak perwalian untuk ayah dan lainnya. (al-Iqna’, 3/86)

Ketiga, selanjutnya, mengingat anak zina tidak memiliki wali dari pihak keluarga, maka  hak perwalian berpindah ke hakim (pemerintah) atau pejabat KUA yang resmi ditunjuk pemerintah.

Dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ السُّلْطَانَ وَلِىُّ مَنْ لاَ وَلِىَّ لَه

Sesungguhnya hakim menjadi wali bagi orang yang tidak memiliki wali.

(HR. Ahmad 26068 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Demikian,

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

shalat jumat

Jumatan

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Allah ta’ala memuliakan umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah menegaskan dalam al-Quran,

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ

“Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, melakukan amar  ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. (QS. Ali Imran: 110)

Kemudian melalui hadisnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga banyak menegaskan bahwa umat beliau adalah umat terbaik. Dalam hadis dari Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أُعْطِيتُ مَا لَمْ يُعْطَ أَحَدٌ مِنَ الأَنْبِيَاءِ …وَجُعِلَتْ أُمَّتِى خَيْرَ الأُمَمِ

Aku diberi keistimewaan yang tidak diberikan nabi-nabi yang lain.., (diantaranya) umatku dijadikan sebagai umat terbaik. (HR. Ahmad 774 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth)

Kemudian, dalam hadis lain, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

إِنَّكُمْ تُتِمُّونَ سَبْعِينَ أُمَّةً أَنْتُمْ خَيْرُهَا وَأَكْرَمُهَا عَلَى اللَّهِ

Kalian melengkapi 70 umat, dan kalian adalah umat terbaik dan paling mulia di sisi Allah. (HR. Turmudzi 3271 dan dihasankan al-Albani)

Hari Istimewanya di Hari Terbaik

Setiap umat memiliki hari istimewa. Hari yang mereka jadikan sebagai kesempatan untuk berkumpul dalam rangka beribadah bersama. Ada yang memilih hari sabtu, seperti Yahudi, ada yang memilih hari ahad, seperti Nasrani. Dan semua itu atas pilihan pribadi mereka. Padahal manusia tidak pernah tahu, apakah hari yang terbaik dalam hidupnya.

Allah memberikan hidayah kepada ummat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Untuk ummat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah pilihkan hari jumat. Allah tetapkan hari jumat sebagai hari terbaik mereka. Hari bagi mereka untuk berkumpul bersama dalam rangka beribadah.

Dalam hadis dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

نَحْنُ الآخِرُونَ وَنَحْنُ السَّابِقُونَ ، بيد أَنَّهُمْ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِنَا ، وَأُوتِينَاهُ مِنْ بَعْدِهِمْ ، فَهَذَا الْيَوْمَ الَّذِي اخْتَلَفُوا فِيهِ ، فَهَدَانَا اللَّهُ لَهُ ، فَالنَّاسُ لَنَا فِيهِ تَبَعٌ ، الْيَهُودُ غَدًا ، وَالنَّصَارَى بَعْدَ غَدٍ

Kita yang terakhir, namun yang terdepan. Padahal mereka (yahudi dan nasrani) telah mendapatkan al-kitab sebelum kita, sementara kita diberi kitab setelah mereka. Inilah hari (jumat), mereka menyimpang, tidak menjauhinya, kemudian Allah memberi petunjuk kepada kita untuk mengistimewakan hari jumat. Semua manusia mengikuti kita (umat Muhammad), orang yahudi besok (hari sabtu) dan orang nasrani besok lusa (hari ahad). (HR. Bukhari 876, Muslim 2015 dan yang lainnya).

Demikianlah cara Allah memuliakan umat islam. Hingga Allah pilihkan hari istimewa untuk mereka, jatuh pada hari paling mulia, yaitu hari jumat.

Pertama, karena hari jumat berada di urutan pertama. Sementara yahudi dan nasrani setelah kita

Kedua, hari jumat merupakan hari terjadinya peristiwa-peristiwa besar dalam kehidupan ini.

Diantara peristiwa besar yang terjadi pada hari jum’at,

  • Hari Allah menciptakan Nabi Adam ‘alaihissallam dan mewafatkannya.
  • Hari Nabi Adam ‘alaihissallam dimasukkan ke dalam surga.
  • Hari Nabi Adam ‘alaihissallam diturunkan dari surga menuju bumi.
  • Hari akan terjadinya kiamat.

Dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ فِيهِ خُلِقَ آدَمُ وَفِيهِ أُدْخِلَ الْجَنَّةَ وَفِيهِ أُخْرِجَ مِنْهَا وَلاَ تَقُومُ السَّاعَةُ إِلاَّ فِى يَوْمِ الْجُمُعَةِ

“Hari paling baik dimana matahari terbit pada hari itu adalah hari jumat, pada hari itu Adam diciptakan, dan pada hari itu pula Adam dimasukkan ke dalam surga, serta diturunkan dari surga, pada hari itu juga kiamat akan terjadi, pada hari tersebut terdapat suatu waktu dimana tidaklah seorang mukmin shalat menghadap Allah mengharapkan kebaikan kecuali Allah akan mengabulkan permintannya.” (HR. Muslim 2014)

Sebagai mukmin, kita patut bangga dengan hari jumat…

Allahu a’lam.

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

puasa 1 muharam

5 Catatan Tentang Puasa Senin-Kamis

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Berikut empat permasalahan yang sering ditanyakan di situs Konsultasi Syariah, terkait puasa senin kamis plus satu motivasi untuk merutinkan amal.

Pertama, keutamaan puasa senin kamis

Puasa senin kamis, termasuk puasa sunah yang menjadi kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَرَّى صَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَالخَمِيسِ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melakukan puasa di hari senin dan kamis. (HR. Turmudzi 745 dan dishahihkan Al-Albani).

Kemudian disebutkan dalam hadis dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terbiasa puasa setiap senin dan kamis. Ketika beliau ditanya alasannya, beliau bersabda,

إِنَّ أَعْمَالَ الْعِبَادِ تُعْرَضُ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ

“Sesungguhnya amal para hamba dilaporkan (kepada Allah) setiap senin dan kamis.” (HR. Abu Daud 2436 dan dishahihkan Al-Albani).

Inilah yang menjadi alasan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merutinkan puasa senin dan kamis. Beliau ingin, ketika amal beliau dilaporkan, beliau dalam kondisi puasa.

Kedua,  apakah niat puasa senin kamis harus dimulai sejak sebelum subuh?

Ada dua pendapat ulama terkait niat posisi niat puasa sunah, apakah wajib dilakukan sebelum subuh, ataukah boleh baru dihadirkan di siang hari.

Kita simak keteragan di Ensiklopedi Fiqh,

ذهب جمهور الفقهاء – الحنفية والشافعية والحنابلة – إلى أنه لا يشترط تبييت النية في صوم التطوع، لحديث عائشة رضي الله تعالى عنها قالت: دخل علي رسول الله صلى الله عليه وسلم ذات يوم فقال: هل عندكم شيء؟ فقلنا: لا، فقال: فإني إذا صائم . وذهب المالكية إلى أنه يشترط في نية صوم التطوع التبييت كالفرض. لقول النبي صلى الله عليه وسلم: من لم يبيت الصيام من الليل فلا صيام له. فلا تكفي النية بعد الفجر، لأن النية القصد، وقصد الماضي محال عقلا

Mayoritas ulama – Hanafiyah, Syafiiyah, dan Hambali – berpendapat bahwa tidak disyaratkan, niat puasa sunah harus dihadirkan sebelum subuh. Berdasarkan hadis Aisyah Radhiyallahu ‘anha, beliau menceritakan,

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menemuiku pada suatu hari. Lalu beliau bertanya, “Apakah kamu memiliki makanan?” Kami jawab, ‘Tidak.’

Lalu beliau mengatakan, “Jika demikian, saya puasa saja.”

Sementara Malikiyah berpendapat bahwa dalam puasa sunah disyaratkan harus diniatkan sejak sebelum subuh, sebagaimana puasa wajib. Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapa yang tidak berniat puasa di malam hari (sebelum subuh) maka tidak ada puasa baginya.” Sehingga tidak boleh niat setelah subuh. Karena inti niat adalah keinginan untuk beramal. Sementara menghadirkan keinginan amal yang sudah lewat itu mustahil. (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 28/88)

Sebagai contoh kasus, ketika hari senin, si A tidak ada keinginan untuk puasa. Sehingga dia tidak sahur. Namun sampai jam 7.00, dia belum mengkonsumsi makanan maupun minuman apapun. Ketika melihat istrinya puasa, si A ingin puasa. Bolehkah si A puasa?

Jawab: Jika kita mengambil pendapat jumhur, si A boleh puasa. Karena sejak subuh dia belum mengkonsumsi apapun.

Ketiga, Bolehkah puasa senin saja atau puasa kamis saja

Berdasarkan hadis Aisyah Radhiyallahu ‘anha, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam merutinkan puasa hari senin dan kamis.

Lalu apakah ini satu kesatuan, dua ibadah puasa yang berbeda?.

Para ulama menegaskan, puasa di dua hari ini bukan satu kesatuan. Artinya, orang boleh puasa senin saja atau kamis saja. Karena tidak ada perintah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bahwa dua hari itu harus dipasangkan, demikian pula tidak ada larangan dari beliau untuk puasa senin saja atau kamis saja.

Dalam Fatwa Syabakah Islamiyah dinyatakan,

ويستحب صيام الخميس من كل أسبوع في المحرم وغيره، وليس استحباب صيامه مرتبطا بصيام الاثنين قبله , بل يشرع لك أن تصومه وإن لم تصم الاثنين؛ لأن الأعمال تعرض يوم الخميس، وقد روى أبو داود في سننه: أن نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَصُومُ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ، وَسُئِلَ عَنْ ذَلِكَ؟ فَقَالَ: إِنَّ أَعْمَالَ الْعِبَادِ تُعْرَضُ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ . اهــ

Dianjurkan untuk berpuasa sunah hari kamis di setiap pekan, baik ketika bulan muharram maupun di luar muharram. Dan anjuran puasa hari kamis tidak ada kaitannya dengan puasa senin sebelumnya. Bahkan anda dianjurkan untuk puasa hari kamis, sekalipun anda tidak puasa hari senin. Karena amal manusia dilaporkan di hari kamis. Diriwayatkan Abu Daud dalam sunannya, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam terbiasa puasa setiap senin dan kamis. Ketika beliau ditanya alasannya, beliau bersabda, “Sesungguhnya amal para hamba dilaporkan (kepada Allah) setiap senin dan kamis.”

(Fatwa Syabakah Islamiyah, no. 192137)

Keterangan lain juga disampaikan Syaikh Abdul Aziz ar-Rajihi,

لا بأس يفرد الاثنين أو الخميس، فالمنهي عن إفراده الجمعة لقول النبي صلى الله عليه وسلم: “لا تخصوا ليلة الجمعة بقيام من بين الليالي ولا يومها بصيام من بين الأيام” رواه مسلم

Tidak masalah puasa senin saja atau kamis saja. Karena yang dilarang adalah puasa hari jumat saja, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Janganlah kalian khususkan malam jumat dengan shalat tahajud sementara di malam-malam lain tidak, dan jangan khususkan hari jumat dengan puasa, sementara di hari-hari lainnya tidak puasa.” HR. Muslim

Selanjutnya beliau kembali menegaskan,

أما الاثنين لا بأس تفرد الاثنين تفرد الخميس تفرد الأربع لا بأس، هذا إنما خص بالجمعة

“Adapun hari senin, tidak masalah senin saja atau kamis saja, puasa empat hari saja tidak masalah. Larangan ini hanya khusus untuk puasa hari jumat saja.”

Sumber: http://ar.islamway.net/fatwa/15111/إفراد-يوم-الاثنين-بصيام

Keempat, Bolehkah niat puasa senin kamis digabungkan dengan puasa sunah lain

Para ulama membahas masalah ini dalam kajian at-Tasyrik bin Niyat ‘menggabungkan niat’.

Batasannya, apa ada amal yang statusnya laisa maqsudan li dzatih, tidak harus ada wujud khusus, artinya dia hanya berstatus sebagai wasilah atau bisa digabungkan dengan yang lain, maka niatnya bisa digabungkan dengan amal lain yang sama.

Dalam Fatawa Syabakah Islamiyah dinyatakan,

فجمع أكثر من نية في عمل واحد هو ما يعرف عند أهل العلم بمسألة التشريك، وحكمه أنه إذا كان في الوسائل أو مما يتداخل صح، وحصل المطلوب من العبادتين، كما لو اغتسل الجنب يوم الجمعة للجمعة ولرفع الجنابة فإن جنابته ترتفع ويحصل له ثواب غسل الجمعة

Menggabungkan beberapa niat ibadah dalam satu amal, dikenal para ulama dengan istilah ‘at-Tasyrik’. Hukumnya, jika amal itu terkait wasilah, atau bisa digabungkan, maka dia boleh digabungkan. Dan dia bisa mendapatkan dua ibadah.

Seperti orang yang mandi junub pada hari jumat, untuk mandi jumat dan sekaligus untuk menghilangkan hadats besarnya, maka status hadats besar junubnya hilang, dan dia juga mendapatkan pahala mandi jumat.

Selanjutnya, tim Fatwa Syabakah menyatakan,

فإذا تقرر هذا فاعلم أنه لا حرج في الجمع بين صيام الإثنين والخميس وبين أي صوم آخر، لأن الصوم يوم الإثنين والخميس إنما استحب لكونهما يومين ترفع فيهما الأعمال

Dengan memahami ini, anda bisa menyatakan bahwa tidak masalah menggabungkan antara puasa senin kamis dengan puasa sunah lainnya. Karena puasa senini kamis, dianjurkan karena posisinya di dua hari yang menjadi waktu dilaporkannya amal kepada Allah. (Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 103240).

Kelima, Pahala tetap mengalir, sekalipun tidak puasa

Bagian ini untuk memotivasi kita agar istiqamah dalam menjalankan amal sunah.

Ketika anda memiliki kebiasaan amalan sunah tertentu, baik bentuknya shalat, puasa, atau amal sunah lainnya, dan anda tidak bisa melakukannya karena udzur sakit atau safar, maka anda akan tetap mendapatkan pahala dari rutinitas amal sunah yang anda kerjakan.

Dari Abu Musa al-Asy’ari Radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا

“Jika seorang hamba itu sakit atau bepergian maka dicatat untuknya (pahala) sebagaimana (pahala) amalnya yang pernah dia lakukan ketika di rumah atau ketika sehat.” (HR. Bukhari 2996).

Al Hafidz al-‘Aini mengatakan,

هذا فيمن كان يعمل طاعة فمنع منها، وكانت نيته لولا المانع أن يدوم عليها

”Hadis ini bercerita tentang orang yang terbiasa melakukan amal ketaatan kemudian terhalangi (tidak bisa)

mengamalkannya karena udzur, sementara niatnya ingin tetap merutinkan amal tersebut seandainya

tidak ada penghalang.” (Umdatul Qori, 14/247)

Dan itulah keistimewaan orang yang beriman. Pahala rutinitas amal baiknya diabadikan oleh Allah.

Al Muhallab mengatakan,

“Hadis ini sesuai dengan apa yang ada dalam Al-Qur’an, Allah berfirman,

إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ

”Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh mereka mendapatkan pahala yang tidak pernah terputus.” (QS. At Tin:6)

maksudnya mereka (orang-orang yang beriman) mendapatkan pahala ketika mereka sudah tua dan lemah

sesuai dengan amal yang dulu pernah mereka kerjakan ketika masih sehat, tanpa terputus. Oleh karena itu,

setiap sakit yang menimpa, selain yang akut dan setiap kesulitan yang dialami ketika safar dan sebab lainnya, yang menghalangi seseorang untuk melakukan amal yang menjadi kebiasaannya, maka Allah telah memberikan kemurahannya dengan tetap memberikan pahala kepada orang yang tidak bisa melakukan amal tersebut karena kondisi yang dialaminya.” (Syarh Shaih Al Bukhari oleh Ibn Batthal, 3/146).

Untuk itu, carilah amal sunah yang ringan, yang memungkinkan untuk anda lakukan secara istiqamah sampai akhir hayat, selama fisik masih mampu menanggungnya. Karena amal yang istiqamah meskipun sedikit, lebih dicintai Allah, dari pada banyak namun hanya dilakukan sekali dua kali.

Dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ خُذُوا مِنَ الأَعْمَالِ مَا تُطِيقُونَ ، فَإِنَّ اللَّهَ لاَ يَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوا ، وَإِنَّ أَحَبَّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ مَا دَامَ وَإِنْ قَلَّ

“Wahai para manusia, beramal-lah sesuai dengan kemampuan kalian. Karena sesungguhnya Allah tidak

akan bosan sampai kalian bosan. Sesungguhnya amal yang paling dicintai oleh Allah adalah amal yang paling rutin dikerjakan meskipun sedikit.” (HR. Bukhari 5861 )

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

cara aqiqah dan mencukur bayi

Bolehkah Kakek Mengaqiqahi Cucunya?

Bolehkah kakek mengaqiahi cucunya tanpa seizin suami? 

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Pada dasarnya, aqiqah anak merupakan tanggungan orang tua. Ini bagian dari kewajiban nafkah anak yang menjadi tanggung jawab orang tuanya. Hanya saja, terdapat beberapa dalil yang menunjukkan bahwa kakek boleh mengaqiqahi cucunya. Diantaranya,

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan,

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَقَّ عَنِ الْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ كَبْشًا كَبْشًا

Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengaqiqahi Hasan dan Husain, masing-masing dengan kambing jantan. (HR. Abu Daud 2843 dan dishahihkan al-Albani)

Dalam riwayat lain, Ibnu Abbas menyatakan,

عَقَّ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنِ الْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ رضى الله عنهما بِكَبْشَيْنِ كَبْشَيْنِ

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengaqiqahi Hasan dan Husain Radhiyallahu ‘anhuma, masing-masing dengan dua ekor kambing. (HR. Nasai 4236 dan dishahihkan al-Albani).

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengaqiqahi cucu beliau, Hasan dan Husain, putra Ali bin Abi Thalib dengan Fatimah bintu Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Pendekatan Fiqhiyah

Ada beberapa pendekatan yang disampaikan ulama terkait alasan fiqh, sehingga kakek boleh mengaqiqahi anaknya,

Pertama, bahwa ibadah maliyah, yang bentuknya mengeluarkan harta, seperti zakat, sedekah atau qurban, boleh diwakilkan orang lain, setelah mendapat izin dari pihak pertama.

Dalam Fatwa Dar al-Ifta Mesir dinyatakan,

والحكم في هذه المسألة أن الأب هو المخاطب أصالة بالعقيقة، أما إذا كان الأب معسرًا ففعلها الجد فلا بأس به، بل هو مستحب. وأما إذا فعلها الجد ابتداء دون إذن من الأب فأقره الأب جاز، وإلا دفع إليه ثمنها إن شاء

Hukum dalam masalah ini, bahwa ayah, dialah yang utama mendapat beban aqiqah. Jika ayah tidak mampu, kemudian digantikan oleh kakek, hukumnya boleh. Bahkan dianjurkan. Namun jika langsung dilakukan kakek tanpa izin dari ayah, kemudian si ayah menyetujuinya, hukumya boleh. Jika tidak, dia bisa ganti seharga kambing, jika bersedia. (Fatwa Dar al-Ifta Mesir: http://www.dar-alifta.org/ViewResearch.aspx?ID=197)

Kedua, sesungguhnya kakek termasuk bapak. Dia posisinya layaknya bapak.

Nabi Yusuf ‘alaihis shalatu was salam pernah menyebutkan kebanggaanya sebagai ahli tauhid,

وَاتَّبَعْتُ مِلَّةَ آَبَائِي إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ

Aku mengikuti agama ayah-ayahku, Ibrahim, Ishaq, dan Ya’qub… (QS. Yusuf: 38)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyebut Hasan sebagai anak beliau,

إِنَّ ابْنِي هَذَا سَيِّدٌ ، وَإِنَّ اللَّهَ يُصْلِحُ بِهِ بَيْنَ فِئَتَيْنِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ عَظِيمَتَيْنِ

Sesungguhnya putraku ini (Hasan) adalah pemimpin. Allah ta’ala akan mendamaikan dua kelompok besar di kalangan kaum mukminin. (HR. Bukhari 2704, Ahmad 20929 dan yang lainnya).

Karena statusnya layaknya orang tua, kakek berhak mengaqiqahi cucunya, sekalipun tidak mendapat izin dari ayahnya.

Dalam Fatwa Dar al-Ifta Mesir dinyatakan,

وإن كان بغير إذنه جاز لأنه والد في الجملة؛ ولأن بينهما ميراثًا، ولو أعسر الوالد لوجبت النفقة على الجد الموسر

Jika aqiqah ini dilakukan tanpa seizin ayahnya, hukumnya boleh, karena statusnya sama dengan ayah secara umum, dan karena ada hubungan saling mewarisi. Jika ayah tidak punya harta, kakek yang memiliki kelonggaran, dia wajib memberi nafkah. (Fatwa Dar al-Ifta Mesir: http://www.dar-alifta.org/ViewResearch.aspx?ID=197)

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

tamu laki-laki

Jangan Menerima Tamu Lelaki Ketika Suami tidak di Rumah

Tanya tadz, bagaimana sikap istri kalau ada tamu pria ke rumah sedangkan suami lagi tidak ada?

Dari Yusuf

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Rumah keluarga adalah rumah kemuliaan dan kehormatan. Allah perintahkan kedua suami istri saling menjaganya. Terutama istri, yang secara khusus Allah perintahkan agar menjaga amanah di rumah suaminya. Karena istri adalah rabbatul bait (ratu di rumah suaminya), yang bertugas menjaga rumah suaminya.

Diantara ciri wanita shalihah, Allah sebutkan dalam al-Quran,

فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ

Sebab itu wanita yang salehah, adalah yang taat kepada Allah dan menjaga diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara mereka. (QS. an-Nisa: 34).

Dan upaya wanita menjaga kehormatan dirinya, harta suaminya, dan rumahnya, merupakan hak suami yang menjadi kewajiban istri.

Jabis Radhiyallahu ‘anhu menceritakan, dalam haji wada’, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan pesan dalam khutbahnya,

فَاتَّقُوا اللَّهَ فِي النِّسَاءِ ، فَإِنَّكُم أَخَذتُمُوهُنَّ بِأَمَانِ اللَّهِ ، وَاستَحلَلتُم فُرُوجَهُنَّ بِكَلِمَةِ اللَّهِ ، وَلَكُم عَلَيهِنَّ أَلَّا يُوطِئنَ فُرُشَكُم أَحَدًا تَكرَهُونَهُ ، فَإِن فَعَلنَ ذَلك فَاضرِبُوهُنَّ ضَربًا غَيرَ مُبَرِّحٍ ، وَلَهُنَّ عَلَيكُم رِزقُهُنَّ وَكِسوَتُهُنَّ بِالمَعرُوفِ

Bertaqwalah kepada Allah terkait hak istri-istri kalian. Kalian mengambil mereka dengan amanah dari Allah, dan kalian halal berhubungan dengan mereka karena Allah halalkan melalui akad. Hak kalian yang menjadi kewajiban mereka, mereka tidak boleh memasukkan lelaki di rumah. Jika mereka melanggarnya, pukullah mereka dengan pukulan yang tidak menyakitkan. Sementara mereka punya hak disediakan makanan dan pakaian dengan cara yang wajar, yang menjadi kewajiban kalian. (HR. Muslim 1218).

Dalam al-Mausu’ah al-Fiqhiyah,

من حقّ الزّوج على زوجته ألاّ تأذن في بيته لأحد إلاّ بإذنه ، لما ورد عن أبي هريرة رضي الله تعالى عنه أنّ رسول اللّه صلى الله عليه وسلم قال : ( لَا يَحِلُّ لِلْمَرأَةِ أَن تَصُومَ وَزَوجُهَا شَاهِدٌ إِلاَّ بِإِذنِهِ ، وَلَاْ تَأْذَن فِي بَيتِهِ إِلاّ بِإِذنِهِ ) رواه البخاري ( 4899 ) ومسلم ( 1026 ) .

Hak suami yang menjadi kewajiban istrinya, dia tidak boleh mengizinkan seorangpun masuk rumah, kecuali dengan izin suaminya. Berdasarkan hadis dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidak halal bagi wanita untuk puasa sunah, sementara suaminya ada di rumah, kecuali dengan izin suaminya. Dan istri tidak boleh mengizinkan orang lain masuk ke rumahnya kecuali dengan izin suaminya.” (HR. Bukhari 4899 & Muslim 1026).

ونقل ابن حجر عن النّوويّ قوله : “في هذا الحديث إشارة إلى أنّه لا يُفتات على الزّوج بالإذن في بيته إلاّ بإذنه ، وهو محمول على ما لا تعلم رضا الزّوج به ، أمّا لو علمت رضا الزّوج بذلك فلا حرج عليها

Ibnu Hajar menukil keterangan dari an-Nawawi mengenai hadis ini,

Bahwa dalam hadis ini terdapat isyarat, bahwa istri tidak boleh memutuskan sendiri dalam memberi izin masuk rumah, kecuali dengan izin suami. Dan ini dipahami untuk kasus yang dia tidak tahu apakah suami ridha ataukah tidak. Namun jika dia yakin suami ridha dengan keputusannya, tidak menjadi masalah baginya. (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 30/125).

Sebagai contoh, tamu yang tidak perlu izin dari suami, tamu dari kerabat suami atau kerabat istri. Mereka bisa dipersilahkan masuk, selama masih mahram dengan istri.

Untuk tamu asing,

Ketika datang tamu asing, bukan keluarga suami maupun istri, sementara suami tidak ada di rumah, istri tidak boleh mengizinkan masuk tamu itu.

Jika tamu menyampaikan salam, istri cukup menjawab salamnya dengan pelan dari dalam tanpa membukakan pintu.

Jika tamu menyadari  ada penghuni di dalam, dan dia minta izin masuk, cukup sampaikan bahwa suami tidak di rumah dan tidak boleh diizinkan masuk.

Semoga Allah menjaga keluarga kaum muslimin.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

SOCIAL

8,270FansLike
3,940FollowersFollow
30,090FollowersFollow
61,553SubscribersSubscribe

RAMADHAN